KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PENGAKUAN TERHADAP KONDISI DARURAT


 
DI ANTARA kemudahan  yang  sangat  dianjurkan  ialah  mengakui kondisi darurat yang muncul dalam kehidupan manusia, baik yang bersifat individual maupun sosial.  Syariat  agama  ini  telah menetapkan hukum yang khusus untuk menghadapi kondisi darurat; yang membolehkan kita melakukan sesuatu yang biasanya dilarang dalam  kondisi  biasa;  dalam  hal  makanan, minuman, pakaian, perjanjian, dan muamalah. Lebih daripada  itu,  syariat  agama kita  juga menurunkan ketetapan hukum dalam kasus tertentu dan pada masa-masa  tertentu  --yang  berlaku  bagi  orang  khusus maupun  orang  awam--  yang  sama  dengan  hukum darurat, demi memudahkan umat dan untuk menghindarkan mereka dari kesulitan.
 
Yang menjadi dasar bagi hal itu ialah penjelasan yang terdapat di  dalam  al-Qur'an  setelah menyebutkan tentang makanan yang diharamkan  pada  empat  tempat  di  dalam   al-Qur'an,   yang menyatakan  bahwa tidak berdosa orang-orang yang dalam keadaan terpaksa untuk memakan makanan tersebut:
 
"... tetapi barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al-Baqarah: 173)
 
Selain itu, terdapat juga penjelasan dari sunnah Nabi saw yang memperbolehkan  penggunaan  sutera  bagi  kaum  lelaki setelah beliau  mengharamkannya  untuk  mereka.  Yaitu  riwayat   yang mengatakan  bahwasanya  Abdurrahman  bin  'Auf  dan Zubair bin 'Awwam sama-sama mengadukan hal mereka kepada Nabi  saw  bahwa mereka  terserang  penyakit  gatal,  kemudian  Rasulullah  saw mengizinkan mereka untuk memakai pakaian terbuat  dari  sutera karena adanya kasus tersebut.
 

 

 


MENGUBAH FATWA KARENA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT

<< Kembali ke Daftar Isi >>

 


PENGAMBILAN tindakan yang  mudah  juga  dianjurkan  dalam  hal berikut  ini. Pentingnya pengetahuan tentang perubahan kondisi manusia,  baik   yang   terjadi   karena   perjalanan   waktu, perkembangan   masyarakat,   maupun  terjadinya  hal-hal  yang sifatnya  darurat,  sehingga  para  ahli  fiqh  yang  biasanya mengeluarkan  fatwa harus mengubah fatwa yang telah lalu untuk disesuaikan  dengan  perubahan  zaman,  tempat,  tradisi   dan kondisi  masyarakatnya;  berdasarkan petunjuk para sahabat dan apa yang pernah dilakukan oleh  para  khulafa  rasyidin,  suri tauladan  yang  kita  disuruh  untuk  mengambil  petunjuk dari 'sunnah' mereka dan berpegang teguh  kepadanya.  Yaitu  sunnah yang  sesuai  dengan  sunnah  Nabi saw dan dapat diterima oleh al-Qur'an; sebagaimana yang pernah kami jelaskan dalam risalah kecil  kami  yang  berjudul  'Awamil al-Sa'ah wa al-Murunah fi al-Syari'ah   al-Islamiyyah   (Faktor-faktor   Keluasan    dan Keluwesan dalam Syariat Islam).

Itulah yang antara lain yang mengharuskan kita untuk melakukan peninjauan kembali terhadap pandangan dan pendapat para  ulama terdahulu.  Karena boleh jadi, pandangan tersebut hanya sesuai untuk zaman dan kondisi pada masa itu, dan tidak  sesuai  lagi untuk  zaman  kita  sekarang ini yang telah mengalami pelbagai pembaruan  yang  belum  pernah   terpikirkan   oleh   generasi terdahulu.  Pendapat  dan  pandangan  ulama terdahulu itu bisa jadi membawa kondisi yang tidak baik  kepada  Islam  dan  umat Islam, serta menjadi halangan bagi da'wah Islam.

Misalnya,  pendapat  mengenai pembagian dunia kepada Dar Islam dan Dar Harb. Yaitu suatu konsep yang pada dasarnya menganggap hubungan  kaum  Muslimin  dengan  orang  bukan  Muslim  adalah peperangan, dan sesungguhnya perjuangan  itu  hukumnya  fardhu kifayat atas umat... dan lain-lain.

Pada  kenyataannya,  sebetulnya  pendapat-pendapat seperti itu tidak sesuai untuk zaman kita sekarang ini, di  samping  tidak ada   nash   hukum  Islam  yang  mendukung  terhadap  pendapat tersebut; bahkan yang ada adalah nash-nash yang menentangnya.

Islam sangat menganjurkan perkenalan  sesama  manusia,  antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, secara menyeluruh:

"... dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..." (al-Hujurat: 13)

Islam  juga  menganggap  perdamaian  dan  pencegahan  terhadap terjadinya   peperangan   sebagai  suatu  kenikmatan.  Setelah terjadinya Perang Khandaq, Allah SWT berfirman:

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejenglelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan..." (al-Ahzab: 25)

Al-Qur'an menganggap Perjanjian Hudaibiyah sebagai  kemenangan yang nyata yang diberikan kepada Rasulullah saw; dan pada masa yang sama turun surat al-Fath:

"Sesunggguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (al-Fath: 1)

Dalam surat ini juga dijelaskan bahwa Rasulullah saw dan  kaum Muslimin  juga  diberi  anugerah  berupa  batalnya  peperangan antara kedua belah pihak; di mana Allah SWT berfirman:

"Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka..." (al-Fath: 24)

Rasulullah  saw  sendiri  berusaha  untuk  tidak   mengucapkan perkataan  "perang," sampai beliau bersabda, "Nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam,  sedangkan  nama  yang  paling buruk ialah Harb (perang) dan Murrah (pahit)."

Peperangan  yang  disyariatkan  oleh  Islam  pada  zaman-zaman dahulu memiliki suatu tujuan yang jelas. Yaitu,  menyingkirkan penghalang yang bersifat material di tengah jalan da'wah. Para penguasa dan raja-raja pada masa itu membuat  penghalang  yang sulit  ditembus  oleh  da'wah  Islam kepada bangsa mereka. Dan oleh karena  itu  Rasulullah  saw  mengirimkan  surat-suratnya kepada   mereka   untuk   mengajak  mereka  masuk  Islam,  dan menimpakan dosa serta tanggung jawab kesesatan umat mereka  di pundak mereka, karena mereka sengaja menghalangi bangsa mereka untuk mendengarkan segala suara dari  luar,  karena  raja-raja itu  khawatir  bahwa  suara  itu akan membangunkan keterlenaan mereka, membangkitkan  hati  nurani  mereka,  sehingga  mereka terjaga   dari  tidur  panjang  mereka,  kemudian  memberontak terhadap kezaliman yang dilakukan oleh raja-raja mereka.  Oleh karena  itu,  kita  menemukan para raja itu membunuh para juru da'wah, atau segera memerangi kaum Muslimin,  menghalangi  dan mengacaukan kehidupan mereka yang tenang.

Pada  saat  ini,  tidak  ada  lagi  halangan  bagi  kita untuk melakukan da'wah, khususnya di negara-negara yang terbuka yang menganut  aliran  pluralisme. Kaum Muslimin dapat menyampaikan da'wah mereka melalui tulisan, suara, dan juga gambar.  Mereka dapat  menyampaikan  da'wah  melalui  radio  yang gelombangnya dipancarkan ke seluruh dunia. Mereka  dapat  berbicara  kepada semua   bangsa   dengan  bahasa  kaum  itu  agar  ajaran  yang disampaikan dapat diterima dengan jelas.

Akan tetapi, banyak sekali para juru da'wah  yang  mengabaikan sama  sekali  kesempatan dan potensi ini; padahal mereka nanti akan diminta pertanggungan jawabnya di depan Allah SWT  karena mengabaikannya,    dan    dimintai    tanggungjawab   mengenai ketidaktahuan penghuni bumi ini terhadap Islam.
 




MENJAGA SUNNAH PENTAHAPAN (MARHALAH) DALAM DA'WAH

<< Kembali ke Daftar Isi >>


DALAM melakukan pengambilan tindakan yang  mudah  juga  sangat dianjurkan  untuk  menjaga  sunnah  pentahapan dalam melakukan da'wah,  sebagaimana  yang  berlaku  dalam  sunnatullah   pada makhluk-Nya  dan  pada  perintah-Nya; dan juga yang berlaku di dalam penetapan hukum  Islam  yang  berkaitan  dengan  shalat, puasa,  dan  ibadah-ibadah  yang  lainnya,  serta  pengharaman hal-hal yang diharamkan.

Contoh  paling  jelas  yang   kita   ketahui   bersama   ialah pengharaman  khamar,  yang penetapan hukumnya dilakukan secara bertahap.

Ada kemungkinan bahwa karena ada pentahapan  yang  berlaku  di dalam  penetapan  hukum tersebut, maka Islam tetap melanjutkan "sistem perbudakan" yang tidak dihapuskan sama  sekali,  sebab bila sistem yang berlaku di seluruh dunia pada masa kemunculan Islam  dihilangkan  sama  sekali,  maka  akan   mengguncangkan kehidupan  sosial  dan  ekonomi.  Dan  oleh  karena itu, Islam mempersempit ruang gerak sistem ini, dan menyingkirkan  segala hal yang dapat menimbulkannya sejauh mungkin. tindakan seperti ini dapat  dikatakan  sebagai  penghapusan  sistem  perbudakan secara bertahap.

Sunnah  Ilahi  berupa  pentahapan  ini  harus kita ikuti dalam mendidik manusia ketika kita hendak  menerapkan  sistem  Islam dalam  kehidupan  manusia  pada zaman ini, setelah berakhirnya periode perang pendidikan, syariat, dan sosial dalam kehidupan Islam.

Kalau  kita  hendak mendirikan "masyarakat Islam yang hakiki", maka kita jangan  berangan-angan  bahwa  hal  itu  akan  dapat terwujud  hanya  dengan tulisan, atau dikeluarkannya keputusan dari seorang raja, presiden, atau ketetapan  dewan  perwakilan rakyat (parlemen)...

Pendirian  masyarakat Islam akan terwujud melalui usaha secara bertahap;  yakni  dengan  mempersiapkan  rancangan  pem§kiran, kejiwaan,   moralitas,   dan  masyarakat  itu  sendiri,  serta menciptakan hukum alternatif sebagai  ganti  hukum  lama  yang berlaku pada kondisi tidak benar yang telah berlangsung lama.

Pentahapan  ini  tidak berarti hanya sekadar mengulur-ulur dan menunda pelaksanaannya, serta mempergunakan pentahapan sebagai 'racun'    untuk    mematikan    pemikiran   masyarakat   yang terus-menerus hendak menjalankan hukum  Allah  dan  menerapkan syariat-Nya; tetapi pentahapan di sini ialah penetapan tujuan, pembuatan perencanaan, dan periodisasi, dengan penuh kesadaran dan  kejujuran; di mana setiap periode merupakan landasan bagi periode berikutnya  secara  terencana  dan  teratur,  sehingga perjalanan  itu  dapat  sampai kepada tujuan akhirnya... yaitu berdirinya masyarakat Islam yang menyeluruh.

Begitulah metode yang dilakukan oleh Nabi saw  untuk  mengubah kehidupan  masyarakat  Jahiliyah  kepada  kehidupan masyarakat Islam,  sebagaimana  yang  telah  kita   jelaskan   pada   bab sebelumnya.

Di  antara tindakan seperti itu dan telah menampakkan hasilnya ialah apa yang diriwayatkan oleh  para  ahli  sejarah  tentang kehidupan  Umar bin Abd al-Aziz, yang oleh ulama kaum Muslimin dikatakan sebagai "khalifah rasyidin yang kelima,"  atau  Umar kedua,  karena  dia  meniti  jalan yang pernah diterapkan oleh datuknya, al-Faruq Umar bin Khattab; bahwasanya  anaknya,  Abd al-Malik  --yang  pada  saat  itu  masih  muda,  bertakwa, dan memiliki semangat yang menggelora--  berkata  kepada  ayahnya: "Wahai  ayah,  mengapa  berbagai  hal  tidak engkau laksanakan secara langsung? Demi Allah, aku  tidak  perduli  bila  periuk mendidih yang dipersiapkan untukku dan untukmu dalam melakukan kebenaran."

Pemuda penuh gairah  ini  menginginkan  ayahnya  --yang  telah diangkat  oleh  Allah  SWT untuk memimpin kaum Muslimin-- agar menyingkirkan  berbagai  bentuk  kezaliman,   kerusakan,   dan penyimpangan  sekaligus,  tanpa  harus  menunggu-nunggu  lagi; kemudian tinggal menunggu apa yang terjadi.

Akan tetapi ayahnya yang  bijak  menjawab  pertanyaan  anakya: "Jangan  tergesa-gesa  wahai anakku, karena sesungguhnya Allah SWT mencela khamar dalam al-Qur'an sebanyak dua kali, kemudian mengharamkannya  pada  kali  yang ketiga. Dan sesungguhnya aku khawatir  bila  aku  membawa  kebenaran  atas  manusia  secara sekaligus,   maka  mereka  juga  akan  meninggalkannya  secara sekaligus.  Kemudian  tercipta   orang-orang   yang   memiliki fitnah." 16

Khalifah  yang  bijak  ingin  menyelesaikan pelbagai persoalan umat manusia dengan bijak dan bertahap,  berdasarkan  petunjuk sunnah   Allah   SWT   ketika  Dia  mengharamkan  khamar.  Dia menurunkan kebenaran sedikit demi  sedikit,  kemudian  membawa jalan  hidup  kepada  mereka  selangkah  demi selangkah... Dan memang beginilah fiqh yang sahih. 17

Catatan kaki:

16 Lihat al-syathibi, al-Muwafaqat. 2:94 ^
17 Lihat buku kami, Madkhal li Dirasah al-Syari'ah al-Islamiyyah, bab al-Waqi'iyyah, h. 120-121.
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

 


MELURUSKAN BUDAYA KAUM MUSLIMIN

<< Kembali ke Daftar Isi >>



YANG terpenting dan yang lazim pada hari  ini  dalam  mendidik dan  membekali  pemahaman  ajaran agama terhadap kaum Muslimin ialah memberikan pengetahuan  kepada  mereka  apa  yang  patut mereka  kerjakan  terlebih  dahulu  dan  apa yang mesti mereka akhirkan; serta apa yang seharusnya disingkirkan  dari  budaya kaum Muslimin.

Di   lembaga-lembaga   pendidikan   agama,   universitas   dan fakultas-fakultas  keagamaan,  banyak  sekali  pelajaran  yang menghabiskan  tenaga  dan  waktu  para pelajar untuk melakukankajian terhadap hal itu. Padahal separuh atau seperempat waktu yang dipergunakan untuk itu sebetulnya dapat mereka pergunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi  agama  dan dunia mereka.

Saya dapat menyebutkan, misalnya pada fakultas Usuluddin, kita mengkaji kitab al-Mawaqif karangan al-Iji, berikut  syarah-nya yang  ditulis  oleh  al-Jurjani  beberapa paragraf --dan bukan beberapa bab-- yang berkaitan dengan al-thabi'iyyat dalam buku itu;  atau  bab  al-Muqaddimat.  Dalam  kasus  ini kita sangat lamban memahami dan mencerna kandungan buku itu, dan guru kita juga  lamban dalam memberikan penjelasan dan pemecahan hal-hal yang rumit dan mengungkapkan muatan maknanya.

Misalnya   waktu   itu   kita   pergunakan   untuk   mengikuti perkembangan    aliran    filsafat   modern   dan   memberikan tanggapannya yang ilmiah dan obyektif, atau  mengikuti  sumber rujukan  dasar  dan  syarah  para  imam  besar,  atau menggali pemikiran dan pemahaman yang orisinal dalam  kajian  pembaruan di  dalam  Islam, maka insya Allah banyak kebaikan dan manfaat yang kita peroleh darinya.

Masih banyak lagi kelemahan yang terjadi dalam lembaga-lembaga dan  institusi  pendidikan  tersebut; karena di sana masih ada kelebihan waktu yang dipergunakan untuk mengkaji suatu  materi tertentu,  sedangkan  materi yang lain tidak mendapatkan waktu untuk dikaji.

Sebetulnya "ilmu kalam" yang dipelajari  mengikuti  metodologi yang kuno sangat memerlukan sentuhan pembaruan, agar dia dapat menyampaikan pesan al-Qur'an kepada fitrah manusia, serta akal dan  hati  mereka secara bersamaan. Sepatutnya dia sudah tidak lagi memakai metodologi filsafat  Yunani;  di  mana  Imam  Ibn al-Wazir  pernah  menulis  sebuah  buku  yang  sangat berharga dengan judul Tarjih Asalib al-Qur'an ala Asalib al-Yunan.

Ilmu kalam perlu juga diasah dengan ilmu dan peradaban modern, berikut  bukti-bukti  dan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ada di alam semesta ini, untuk memperkuat keimanan,  dan  mengikis kemusyrikan;  sebagaimana  buku-buku  yang sangat terkenal dan telah ditulis dalam bidang ini; seperti  buku:  al-'Ilm  Yad'u ila  al-Iman  (Ilmu  Pengetahuan  Mendorong  kepada Keimanan); Allah Yatajalla fi 'Ashr al-'Ilm (Allah Menjelma di  Era  Ilmu Pengetahuan);   Ma'a  Allah  fi  al-Sama'  (Bersama  Allah  di langit);  Allah  wa  al-'Ilm   al-Hadits   (Allah   dan   Ilmu Pengetahuan Modern), dan lain-lain.

Ilmu  fiqh  sudah masanya dipermudah bagi umat manusia, dengan penampilan yang baru, dengan  penekanan  terhadap  kepentingan manusia  pada  abad  ini;  yang  mencakup  pembahasan  tentang perseroan, transaksi, perbankan, perjanjian-perjanjian modern, hubungan  internasional,  dan  penerjemahan  ukuran nilai mata uang, takaran, timbangan,  ukuran  panjang  yang  lama  kepada bahasa modern.

Di samping itu, kita mesti memperhatikan peradaban yang hendak kita berikan kepada kaum Muslimin, dan pentingnya  menciptakanvariasi  terhadap  peradaban  tersebut.  Dan  harus  dibedakan peradaban  yang  diberikan  kepada  orang  yang  terdidik  dan masyarakat  awam  yang  terdiri  atas  para buruh, petani, dan lain-lain.

Kebanyakan para juru da'wah dan para guru  --serta  kebanyakan para  penulis-- hanya mengisi otak masyarakat dengan pemikiran dan pengetahuan agama yang diulang-ulang,  dan  dihafal,  yang tidak  didukung  dengan  dalil  yang diturunkan oleh Allah SWT serta  dalil-dalil  hukum  agama.  Mereka  hanya  menyampaikan tafsir  Israiliyat,  dan  hadis-hadis  lemah  dan maudhu, yang tidak ada sumbernya.

Misalnya pembicaraan mengenai "Hakikat dan Syariah";  "Hakikat Muhammad"  atau  sesungguhnya  Nabi  adalah makhluk Allah yang pertama kali; atau pembahasan yang berlebihan di seputar dunia "Para  Wali", "Keramat": yang tidak didasari dengan dalil dari ajaran agama, dan bukti ilmiah, serta logika yang benar.

Perbuatan yang serupa dengan ini ialah  kesibukan  orang-orang terhadap  masalah-masalah khilafiyah antara satu mazhab dengan mazhab yang lain; atau menyulut  pertarungan  bersama  gerakan tasawuf,  atau  pelbagai  kelompok  tasawuf,  dengan  berbagai persoalannya yang termasuk sunnah dan bid'ah, yang  betul  dan yang menyimpang. Kita mesti membuat prioritas terhadap masalah ini dan tidak boleh  membuat  generalisasi  dalam  hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah tersebut.




UKURAN YANG BENAR:
PERHATIAN TERHADAP ISU-ISU YANG DISOROT OLEH AL-QUR'AN

<< Kembali ke Daftar Isi >>


DI  ANTARA  ukuran  yang  perlu  kita  rujuk   kembali   dalam menjelaskan  apa  yang  paling benar untuk kita perhatikan dan dahulukan ialah perhatian terhadap isu-isu  yang  diperhatikan oleh al-Qur'an .

Kita  selayaknya  mengetahui  apa yang sangat dipedulikan oleh al-Qur'an  dan  sering  diulang-ulang  di  dalam   surat   dan ayat-ayatnya,  dan apa pula yang ditegaskan dalam perintah dan larangannya,  janji  dan   ancamannya.   Itulah   yang   harus diprioritaskan,   didahulukan,   dan   diberi  perhatian  oleh pemikiran, tingkah laku, penilaian, dan penghargaan kita.

Yaitu seperti keimanan kepada Allah SWT, kepada para nabi-Nya, hari akhirat, pahala dan siksaan, surga dan neraka.

Contoh  lainnya  yaitu  pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat  dan  membayar  zakat,  puasa,  haji,  zikir kepada  Allah,  bertasbih,  tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut  terhadap  azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam  ketuhanan  yang tinggi.

Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik,  kejujuran,  kebenaran,  kesederhanaan,  ketulusan, kelembutan,  rasa  malu,  rendah  hati,  pemurah,  rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga,  memelihara orang   miskin,   anak  yatim  dan  orang  yang  sedang  dalam perjalanan.

Kita juga perlu mengetahui isu-isu yang  tidak  begitu  diberi perhatian  oleh Islam kecuali sangat sedikit, misalnya masalah Isra' Nabi saw. Al-Qur'an  hanya  membicarakannya  dalam  satu ayat  saja,  berbeda  dengan  peperangan yang dibicarakan oleh al-Qur'an di dalam satu surat penuh.

Adapun maulid (istilah yang benar adalah milad) Rasul saw sama sekali  tidak  dibicarakan oleh al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa perkara ini tidak begitu penting dalam kehidupan  Islam, karena  hal  ini  tidak berkaitan dengan mukjizat; sebagaimana keterkaitan  kelahiran  al-Masih  terhadap  ajaran   agamanya. Maulid  tidak  berkaitan  dengan  amalan dan ibadah yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin atau sesuatu yang dianjurkan.

Itulah  sebenarnya  ukuran  yang  benar,  karena  sesungguhnya al-Qur'an  merupakan  tiang  agama, landasan dan sumber Islam; dengan  sunnah  Nabi  saw  yang  berfungsi   sebagai   pemberi penjelasan dan keterangannya. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya al-Qu'ran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal salih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (al-Isra,:9)
  
"... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (al-Ma'idah: 15-16)
  
"... Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri." (an-Nahl: 89)

Artinya, sesungguhnya al-Qur'an memberikan penjelasan mengenai pokok  ajaran  agama  yang  kokoh. Tidak ada satu pokok ajaran agama yang sifatnya sangat umum dan diperlukan oleh  kehidupan Islam  kecuali  pokok  ajaran  ini  telah ditanamkan kuat oleh al-Qur'an, baik secara langsung maupun  tidak.  Khalifah  kita yang  pertama  pernah  berkata, "Kalau aku kehilangan 'kendali unta' maka aku dapat menemukannya di dalam kitab Allah."

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com