KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PRIORITAS AMAL YANG KONTINYU ATAS AMAL YANG TERPUTUS-PUTUS



Al-Qur'an menjelaskan, sebagaimana yang dijelaskan oleh sunnah Nabi  saw,  bahwa sesungguhnya perbuatan manusia di sisi Allah itu memiliki berbagai tingkatan.  Ada  perbuatan  yang  paling mulia  dan  paling  dicintai oleh Allah SWT daripada perbuatan yang lainnya. Allah SWT berfirman:

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajadnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (at-Taubah: 19-20)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, "Sesungguhnya iman  itu ada  enam  puluh  lebih cabang --atau tujuh puluh lebih-- yang paling tinggi di antaranya ialah la ilaha illa Allah, dan yang paling  rendah  ialah  menyingkirkan  penghalang  yang  ada di jalan."  Hal  ini   menunjukkan   bahwa   jenjang   iman   itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.

Penjenjangan   ini   tidak  dilakukan  secara  ngawur,  tetapi didasarkan atas nilai-nilai  dan  dasar-dasar  yang  dipatuhi. Inilah yang hendak kita bahas.

Di  antara  ukurannya  ialah  bahwa  jenis pekerjaan ini harus pekerjaan yang paling langgeng (kontinyu); di  mana  pelakunya terus-menerus  melakukannya  dengan  penuh  disiplin. Sehingga perbuatan seperti  ini  sama  sekali  berbeda  tingkat  dengan perbuatan  yang  dilakukan  sekali-sekali  dalam  suatu  waktu tertentu.

Sehubungan  dengan  hal  ini  dikatakan  dalam  sebuah  haditsshahih:

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling langgeng walaupun sedikit."2

Bukhari dan  Muslim  meriwayatkan  dan  Masruq  berkata,  "Aku bertanya   kepada  Aisyah  r.a.,  Amalan  apakah  yang  paling dicintai  oleh  Nabi  saw?,  Aisyah  menjawab:  "Amalan   yang langgeng."3

Diriwayatkan  dari  'Aisyah  r.a.  bahwa sesungguhnya Nabi saw masuk ke rumahnya, pada saat itu 'Aisyah sedang bersama dengan seorang  perempuan.  Nabi saw bertanya, "Siapakah wanita ini?" Aisyah  menjawab,  "Fulanah  yang   sangat   terkenal   dengan shalatnya  (yakni  sesungguhnya  dia  banyak  sekali melakukan shalat)." Nabi saw bersabda, "Aduh, lakukanlah apa  yang  kamu mampu melakukannya. Demi Allah, Allah SWT tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan."

'Aisyah berkata, "Amalan agama yang paling dicintai olehnya ialah yang senantiasa dilakukan oleh pelakunya." 4

Perkataan "aduh" dalam hadits tersebut  menunjukkan  keberatan beliau atas beban berat dalam beribadah, dan membebani diri di luar batas kemampuannya. Yang  beliau  inginkan  ialah  amalan yang  sedikit tapi terus-menerus dilakukan. Melakukan ketaatan secara terus-menerus sehingga  banyak  berkah  yang  diperoleh akan berbeda dengan amalan yang banyak tetapi memberatkan. Dan boleh jadi, amalan yang  sedikit  tapi  langgeng  akan  tumbuh sehingga  mengalahkan  amalan yang banyak yang dilakukan dalam satu waktu. Sehingga  terdapat  satu  peribahasa  yang  sangat terkenal  di  kalangan  masyarakat, "Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tapi terus  berlangsung  adalah  lebih  baik  daripada amalan yang banyak tetapi terputus."

Itulah  yang  membuat Nabi saw memperingatkan orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menjalankan agamanya dan sangat kaku; karena  sesungguhnya  Nabi  saw  khawatir bahwa orang itu akan bosan  dan  kekuatannya  menjadi  lemah,  sebab  pada  umumnya begitulah  kelemahan yang terdapat pada diri manusia. Dia akan putus di tengah jalan. Ia menjadi orang yang tidak  jalan  dan juga tidak berhenti.

Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda,

"Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak bosan sehingga kamu menjadi bosan sendiri."5

Beliau saw juga bersabda,

"Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) karena orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya."6

Sebab wurud hadits ini adalah seperti  apa  yang  diriwayatkan oleh  Buraidah yang berkata, "Pada suatu hari aku keluar untuk suatu keperluan, dan kebetulan  pada  saat  itu  aku  berjalan bersama-sama  dengan  Nabi  saw . Dia menggandeng tangan saya, kemudian kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan  kami  ada seorang  lelaki  yang  memperpanjang  ruku' dan sujudnya. Maka Nabi  saw  bersabda,  Apakah  kamu  melihat  bahwa  orang  itu melakukan riya'?, Abu berkata, 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Kemudian beliau melepaskan  tanganku,  dan  membetulkan kedua  tangan  orang  itu  dan  mengangkatnya sambil bersabda, 'Ikutilah petunjuk yang pertengahan...'7

Diriwayatkan  dari  Sahl  bin  Hunaif  bahwa  Rasulullah   saw bersabda,

"Janganlah kamu memperketat diri sendiri, karena orang-orang sebelum kamu binasa karena mereka memperketat dan memberatkan diri mereka sendiri. Dan kamu masih dapat menemukan sisa-sisa mereka dalam biara-biara mereka." 8

Catatan kaki:

1 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Jama'ah dari Abu Hurairah; al-Bukhari meriwayatkannya dengan lafal "enam puluh macam lebih"; Muslim meriwayatkannya dengan lafal "tujuh puluh macam lebih" dan juga dengan lafal "enam puluh macam lebih"; Tirmidzi meriwayatkannya dengan "tujuh puluh macam lebih" dan begitu pula dengan an-Nasa'i. semuanya terdapat dalam kitab al-Iman; sedangkan Abu Dawud meriwayatkannya dalam as-Sunnah; dan Ibn Majah dalam al-Muqaddimah.  ^
2 Muttafaq 'Alaih, dari 'Aisyah (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 163) ^
3 Muttafaq 'Alaih, ibid., dalam al-Lu'lu' wa al-Marjan (429) ^
4 Muttafaq 'Alaih, ibid., (449) ^
5 Muttafaq 'Alaih, yang juga diriwayatkan dari 'Aisyah: Shahih al-Jami' as-Shaghir (4085). ^
6 Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dan Baihaqi dari Buraidah, ibid., (4086). ^
7 Disebutkan oleh al-Haitsami dalam al-Majma', 1: 62 kemudian dia berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad dan orang-orang yang tsiqah." ^
8 al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Awsath dan al-Kabir, di dalamnya ada Abdullah bin Shalih, juru tulis al-Laits, yang dianggap tsiqat oleh Jama'ah dan dilemahkan oleh yang lainnya. (Al-Majma', 1:62)
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

 


PRIORITAS AMALAN YANG LUAS MANFAATNYA ATAS PERBUATAN YANG KURANG BERMANFAAT

<< Kembali ke Daftar Isi >>


DI ANTARA prioritas yang sebaiknya diterapkan dalam  pekerjaan manusia   ialah   prioritas  terhadap  perbuatan  yang  banyak mendatangkan manfaat kepada orang lain. Sebesar  manfaat  yang dirasakan  oleh  orang  lain,  sebesar  itu pula keutamaan dan pahalanya di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu,  jenis  perbuatan jihad  adalah lebih afdal daripada ibadah haji, karena manfaat ibadah haji hanya dirasakan pelakunya, sedangkan manfaat jihad dirasakan  oleh  umat.  Sehubungan  dengan  hal ini, Allah SWT berfirman:
 
"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk; kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (at-Taubah: 19-20)
 
Berjuang di jalan Allah yang manfaatnya lebih  dirasakan  oleh umat  adalah  lebih  afdal  di  sisi  Allah  dan  lebih  besar pahalanya daripada  ibadah  yang  kita  lakukan  berkali-kali, tetapi kemanfaatannya hanya untuk kita sendiri.
 
"Abu Hurairah r.a. berkata, 'Ada salah seorang sahabat Rasulullah saw yang berjalan di suatu tempat yang memilih sumber mata air kecil, yang airnya tawar, dan dia merasa kagum kepadanya kemudian berkata, 'Amboi, seandainya aku dapat mengucilkan diri dari manusia kemudian tinggal di tempat ini! (Yakni untuk beribadah). Namun, aku tidak akan melakukannya sebelum aku meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah saw.' Maka Nabi saw bersabda, 'Jangan lakukan, karena sesungguhnya keterlibatanmu dalam perjuangan di jalan Allah adalah lebih utama daripada shalat selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kamu senang apabila Allah SWT mengampuni dosamu, dan memasukkan kamu ke surga. Berjuanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang menyingsinglan lengan baju untuk berjuang di jalan Allah, maka wajib baginya surga."" 9
 
Atas dasar itulah, dalam  beberapa  hadits,  ilmu  pengetahuan dianggap  lebih  utama  daripada ibadah, karena manfaat ibadah hanya  kembali  kepada  pelakunya   sedangkan   manfaat   ilmu pengetahuan  adalah  untuk  manusia yang lebih luas. Di antara hadits itu adalah:
 
"Keutamaan ilmu pengelahuan itu ialah lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan agamamu yang paling baik adalah sifat wara'."10
  
"Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang gemintang." 11
  
"Kelebihan orang yang berilmu alas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan diriku atas orang yang paling rendah di antara kamu." 12
 
Kelebihan ilmu pengetahuan itu  akan  bertambah  lagi  apabila orang  yang  berilmu itu mau mengajarkannya kepada orang lain. Sebagai pelengkap hadits tersebut, ada baiknya  kami  sebutkan juga hadits berikut ini:
 
"Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada pada lubangnya, dan ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan shalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." 13
 
Dalam Shahih disebutkan,
 
"Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar al-Qur'an dan mau mengajarkannya." 14
 
Atas dasar itu, para fuqaha mengambil keputusan: "Sesungguhnya orang  yang  hanya menyibukkan diri untuk beribadah saja tidak dibenarkan  mengambil  zakat,  berbeda   dengan   orang   yang menyibukkan  diri  untuk  mempelajari ilmu pengetahuan. Karena sesungguhnya tidak ada konsep kerahiban di  dalam  Islam,  dan orang  yang  menyibukkan  dirinya  dalam  ibadah  hanya  untuk kepentingan dirinya sendiri. Sedangkan orang yang  menyibukkan diri  dalam mencari ilmu pengetahuan adalah untuk kemaslahatan umat."
 
Sementara  orang   yang   ilmu   pengetahuan   dan   da'wahnya dimanfaatkan,  ia  akan mendapatkan pahala dan balasan di sisi Allah SWT atas kemanfaatan ilmunya tersebut.
 
Rasulullah saw bersabda,
 
"Barangsiapa mengajar orang lain kepada suatu petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan petunjuk itu, tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali."
 
Begitu pula pekerjaan yang paling utama adalah pekerjaan  yang paling bermanfaat untuk orang lain.
 
Dalam sebuah hadits disebutkan,
 
"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh akuberjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk suatu keperluan (da'wah), adalah lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid selama satu bulan."
 
Begitulah  pekerjaan  yang  berkaitan  dengan  perbaikan   dan kepentingan  masyarakat  adalah lebih utama daripada pekerjaan yang dimanfaatkan oleh diri sendiri. Dalam hal ini  Rasulullah saw bersabda,
 
"Tidakkah pernah kuberitahukan kepada kamu sesuatu yang derajatnya lebih tinggi daripada shalat, puasa dan shadaqah? Yakni, memperbaiki silaturahmi dengan sanak kerabat kita. Karena rusaknya sanak kerabat kita adalah sama dengan pencukur." 17
 
Diriwayatkan, "Aku tidak mengatakan, mencukur  rambut,  tetapi mencukur agama. "
 
Atas  dasar  itulah,  pekerjaan  yang  dilakukan  oleh seorang pemimpin yang adil lebih  utama  daripada  ibadah  orang  lain selama  sepuluh  tahun;  karena  dalam  satu  hari  kadangkala pemimpin   itu   mengeluarkan    berbagai    keputusan    yang menyelamatkan  beribu-ribu bahkan berjuta orang yang dizalimi, mengembalikan hak yang hilang kepada pemiliknya, mengembalikan senyuman  ke  bibir  orang  yang tidak mampu tersenyum. Selain itu, dia juga mengeluarkan keputusan yang dapat memotong jalan orang-orang  yang  berbuat  jahat,  dan  mengembalikan  mereka kepada asalnya, atau membuka pintu petunjuk dan tobat.
 
Selain itu, pemimpin yang adil juga memberi  kesempatan  untuk membukakan  berbagai  pintu  bagi  orang-orang yang menjauhkan diri dari Allah,  memberi  petunjuk  kepada  orang-orang  yang tersesat  dari  jalannya,  dan  membantu orang yang menyimpang dari jalan yang benar.
 
Pemimpin yang adil juga kadang-kadang mendirikan proyek-proyek pembangunan   dan   berguna   sehingga   tindakan   ini  dapat menciptakan lapangan kerja bagi para penganggur,  mendatangkan roti  bagi orang yang lapar, obat bagi orang yang sakit, rumah bagi orang gelandangan, dan pertolongan bagi orang yang sangat memerlukannya.
 
Itulah  antara  lain yang membuat para ulama salaf mengatakan, "Kalau kami mempunyai do'a yang  lekas  dikabulkan  maka  kami akan  mendo'akan  penguasa.  Karena  sesungguhnya  Allah dapat melakukan perbaikan terhadap banyak makhluknya dengan kebaikan penguasa tersebut."
 
Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibn 'Abbas bahwasanya saw bersabda,
 
"Satu hari dari imam yang adil adalah lebih afdal daripada ibadah enam puluh tahun." 18
 
Akan  tetapi  al-Haitsami  menentangnya,19   walaupun   hadits tersebut didukung oleh hadits Tirmidzi dari Abu Said,
 
"Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil." Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.20
 
Hadits di atas juga dikuatkan oleh riwayat Abu  Hurairah  r.a. dari  Ahmad,  dan Ibn Majah yang dianggap sebagai hadits hasan oleh Tirmidzi, dan dishahih-kan oleh  Ibn  Khuzaimah  dan  Ibn Hibban,
 
"Juga kelompok yang do'a mereka tidak ditolak ialah: orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan do'a orang yang teraniaya." 21
 
Dan haditsnya dalam as-Shahihain,
 
"Tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan dari Allah SWT pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil..."
 
Catatan kaki:
 
9 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dianggap sebagai hadits hasan olehnya (1650), beserta Hakim yang menganggapnya sebagai hadits shahih berdasarkan syarat Muslim, dan juga disepakati oleh adz-Dzahabi, 2:68 ^
10 Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Thabrani di dalam al-Awsath, dan al-Hakim dari Hudzaifah, dan dari Sa'ad, yang di-shahih-kan olehnya dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim; serta disepakati oleh adz-Dzahabi, 1:92. Serta disebutkan di dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (4214). ^
11 Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari Mu'adz (Shahih al-Jami' as-shaghir, (4212); yang juga merupakan sebagian dari hadits Abu Darda, mengenai keutamaan ilmu pengetahuan, yang diriwayatkan oleh Ahmad dan para penyusun kitab Sunan, serta Ibn Hibban dari sumber yang sama (6297).^
12 Merupakan bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah, Turmudzi berkata "Ini adalah hadits hasan shahih gharib" (2686) yang juga terdapat dalam Shahih al-Jami' as-shaghir (4213)^
13 Merupakan bagian dari hadits Abu Umamah di atas.^
14 Diriwayatkan oleh Bukhari dari 'Utsman.^
15 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah^
16 Diriwayatkan oleh Ibn Abu al-Dunya dalam Qadha' al-Hawa'ij, dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn Umar, dan dianggap sebagai hadits hasan olehnya. (Shahih al-Jami' as-Shagir, 176)^
17 Diriwayatkan oleh Ahmad Abu Dawud Tirmidzi, dan Ibn Hibban. ibid., (2595)^
18 al-Mundziri mengatakan dalam at-Targhib, diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir dan at-Awsath, dan isnad al-Kabir dianggap hasan.^
19 Lihat Majma' az-Zawa'id, 5:197; 6:263.^
20 Diriwayatkan dalam al-Ahkam (1329).^
21 Dianggap sebagai hadits hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajar, dishahihkan oleh Syaikh Syakir dalam Takhrij Sanad dengan no. 8030, yang diperkuat oleh tiga hadits lainnya, dengan ketiga sanad-nya yang berbeda. Lihat buku kami, al-Muntaqa min at-Targhib wat-Tarhib, hadits no. 513, cet. Dar al-Wafa'.
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

 


PRIORITAS TERHADAP AMAL PERBUATAN YANG LEBIH LAMA MANFAATNYA DAN LEBIH LANGGENG KESANNYA

<< Kembali ke Daftar Isi >>



KALAU manfaat suatu pekerjaan lebih  luas  jangkauannya,  maka hal  itu  lebih  dikehendaki dan diutamakan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Begitu pula halnya dengan pekerjaan yang lebih lama dan  kekal  pengaruhnya. Setiap kali suatu perbuatan itu lebih lama manfaatnya maka  pekerjaan  itu  lebih  utama  dan  lebih dicintai oleh Allah SWT.

Oleh   karena   itu,   shadaqah  yang  lama  manfaatnya  lebih diutamakan.

Misalnya  memberikan  domba   yang   mengandung,   unta   yang mengandung,   dan  lain-lain,  di  mana  orang  yang  menerima shadaqah itu dan juga keluarganya dapat  memanfaatkan  susunya selama bertahun-tahun.

Dalam  peribahasa Cina kita kenal: "Memberi jala untuk mencari ikan kepada orang miskin adalah lebih baik daripada memberikan ikan kepadanya."

Disebutkan dalam sebuah hadits,

"Shadaqah, yang paling utama ialah memberikan tenda, atau memberikan seorang pembantu, atau seekor unta untuk perjuangan di jalan Allah SWT." 22
  
"Empat puluh sifat, yang paling tinggi tingkatannya ialah memberikan kambing. Tidak ada seorang hambapun yang melalaikannya, untuk mengharapkan pahala yang dijanjikan kepadanya kecuali dia akan dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam surga."23

Di situlah letak kelebihan shadaqah jariyah,  yang  manfaatnya terus dirasakan walaupun orang yang memberikannya sudah tiada. Seperti harta wakaf, yang telah  dikenal  oleh  kaum  Muslimin sejak  zaman  Nabi  saw;  di  mana  ketika itu peradaban Islam memiliki  keunggulan  karena  kekayaannya  yang  melimpah  dansangat   banyak,   sehingga  Islam  menguasai  seluruh  bidang kebajikan   dalam   kehidupan   manusia,    yang    memberikan perkhidmatan  kepada  seluruh  umat  manusia,  bahkan terhadap binatang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

"Apabila seorang manusia meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, anak shaleh yang berdo'a kepadanya." 24

Ada hadits lain yang menjelaskan contoh shadaqah  jariyah  ini sebanyak tujuh macam. Yaitu dalam sabda Nabi saw,

"Sesunggguhnya amalan dan perbuatan baik yang akan menyusul seorang mu'min setelah dia meninggal dunia kelak ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak shaleh yang dia tinggalkan, mushaf al-Qur'an yang dia wariskan, masjid yang dia bangun, rumah tempat singgah musafir yang dia bangun, sungai yang dia alirkan, dan shadaqah yang dia keluarkan ketika dia sehat dan masih hidup. Semua ini akan menyusul dirinya ketika dia meninggal dunia kelak."25

Misalnya umur manusia pendek dan terbatas, maka dengan karunia Allah yang diberikan kepadanya, ia dapat memperpanjang umurnya dengan melakukan amalan yang mengalir pahalanya (jariyah). Dia terus  dianggap  hidup walaupun dia telah meninggal dunia, dia tetap  ada  dengan  amal  shaleh  yang  pernah   dilakukannya, walaupun  jasadnya  telah  tiada.  Maka benarlah Syauqi ketika mengatakan syairnya berikut ini:

"Degup jantung seseorang berkata kepadanya. Sesungguhnya hidup ini hanya beberapa menit dan beberapa detik. Buatlah suatu kenangan yang namamu akan terus diingat setelah kematianmu. Karena kenangan bagi manusia adalah umur yang kedua."

Catatan kaki:
  
22 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Umamah; dan  juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari 'Adiy bin Hatim, dan  dihasankan olehnya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (1109) ^
23 Diriwayatkan oleh Bukhari, dan Abu Dawud dari Abdullah bin 'Amr, 791 ^
24 Diriwayatkan oleh Muslim dan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad; dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai dari Abu Hurairah r.a., ibid., 793 ^
25 al-Hafizh al-Mundiri berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Baihaqi dengan isnad hasan; dan juga diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah di dalam Shahih-nya seperti itu. (Lihat buku kami, al-Muntaqa min at-Targhib wat-Tarhib, hadits no. 75)
^


:: bookmark: pakdenono ::

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com