KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PRIORITAS BERAMAL PADA ZAMAN FITNAH



PRIORITAS yang sangat dianjurkan ialah tetap bekerja pada saat terjadinya fitnah, cobaan, dan ujian yang sedang menimpa umat. Amal shaleh merupakan dalil kekuatan beragama  seseorang,  dan keteguhannya   dalam   berkeyakinan  dan  memegang  kebenaran. Keperluan untuk melakukan amal shaleh pada  masa  seperti  ini lebih  ditekankan  daripada  masa-masa yang lain. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

"Orang mu'min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu'min yang lemah."26

Hadits ini lebih ditegaskan lagi oleh sabda Nabi saw,

"Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim." 27

Rasulullah saw juga bersabda,

"Penghulu para syahid ialah Hamzah bin Abd al-Muttallib, dan orang yang menghadap kepada penguasa, kemudian dia menyuruh dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya." 28
  
"Seutama-utama orang yang mati syahid adalah orang-orang yang berperang di barisan yang paling pertama dengan tidak memalingkan wajah mereka sama sekali hingga terbunuh. Mereka itu akan berguling-guling di kamar-kamar utama di surga. Rabb-mu tersenyum kepada mereka. Jika Rabb-mu tersenyum kepada seorang hamba disuatu tempat, maka tiada hisab (perhitungan) lagi atasnya." (Ahmad, Abu Ya'la dan Thabrani dari Abu Nu'aim bin Hammad, Shahih al-Jami' as-Shagir, 1107)

Oleh karena itulah, kelebihan dan keutamaan  diberikan  kepada orang  yang  teguh  dalam  memegang  agamanya  pada  masa-masa terjadinya fitnah dan cobaan,  sehingga  ada  beberapa  hadits yang mengatakan bahwa orang yang berpegang teguh kepada ajaran agamanya pada hari-hari yang memerlukan  kesabaran,  maka  dia akan mendapatkan lima puluh pahala sahabatnya.

Abu  Dawud,  Tirmidzi,  dan Ibn Majah meriwayatkan dalam Kitab Sunan mereka.

Dari Abu Umayyah as-Sya'bani berkata, "Aku bertanya kepada Abu Tsa'labah al-Khasyani berkata, 'Hai Abu Tsa'labah, bagaimanakah engkau memahami ayat ini,' ... jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya... (al-Ma'idah, 105)?, Abu Tsa'labah menjawab, 'Demi Allah engkau telah menanyakan hal ini kepada orang yang pernah diberitahu mengenai perkara ini. Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, kemudian beliau Rasulullah menjawab, 'Lakukan amar ma'ruf, dan cegahlah kemungkaran, sehingga apabila engkau melihat kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti. dan dunia yang diutamakan, dan setiap orang membanggakan pemikirannya, 29 maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri, dan tinggalkan orang awam, karena sesungguhnya di belakangmu masih ada hari-hari yang panjang. Kesabaran untuk menghadapi hal itu seperti orang-orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan amal kebaikan pada masa seperti ini akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan perbuatan seperti itu.'" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Tirmidzi) dia berkata, "Hadits ini hasan gharib." Abu Dawud dan Tirmidzi menambahkan, "Dikatakan kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang daripada kami atau mereka?' Rasulullah menjawab, 'Pahala lima puluh orang dari kalian.'""30

Apa yang dimaksudkan oleh hadits ini bukanlah orang-orang yang terdahulu  masuk  Islam,  yang terdiri atas para Muhajirin dan Anshar, para pengikut  Perang  Badar,  orang-orang  yang  ikut serta  dalam  Bai'at  Ridhwan, dan yang semisal dengan mereka, karena  tak  seorangpun  sesudah  mereka  yang  bisa  mencapai derajat  seperti  mereka.  Akan  tetapi,  sasaran  hadits itu: hendak memacu semangat orang-orang yang  bekerja  untuk  Islam pada  hari  di  mana  terjadi  banyak  sekali  ujian  (fitnah) terhadapnya. Allah berjanji melalui lidah Rasulullah saw,  Dia akan  memberikan  pahala  yang berlipat ganda, atau lima puluh kali lipat pahala pada zaman kemenangan dan kejayaan.

Apa  yang  pernah  diberitahukan  oleh  Rasulullah  saw  telah menjadi  kenyataan.  Orang-orang  yang bekerja untuk agamanya, yang terus bersabar dalam  pekerjaannya  bagaikan  orang  yang hendak  mati.  Mereka  menghadapi serangan dari dalam dan juga serangan  dari  luar.  Semua  kekuatan  kafir   bersatu   padu menyerang   dan   memperdaya  dirinya,  walaupun  berbeda-beda bentuknya, padahal Allah  SWT  sedang  mengepung  mereka  dari belakang.  Allah  akan  memberikan  bantuan kepada orang-orang yang teguh  dalam  menghadapi  tipu  daya  musuh  yang  hendak menghancurkan  Islam.  Allah  akan  mempersempit  ruang  gerak mereka, dan akan memporak-porandakan mereka,  sehingga  mereka sama sekali tidak menemukan jalan ke luar.

Diriwayatkan  dari Ma' qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,

"Ibadah yang dilakukan pada walau terjadinya fitnah pembunuhan (al-haraj), adalah sama dengan hijrah kepadaku.'31

Al-Haraj pada hadits ini  berarti  perselisihan  pendapat  dan fitnah.  Ada  pula  yang menafsirkan dengan pembunuhan, karena sesungguhnya fitnah dan perselisihan pendapat merupakan  sebab timbulnya pembunuhan tersebut.

Catatan kaki:

26 Diriwayatkan oleh Ahmad. Muslim, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 6650) ^
27 Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Abu Sa'id; dan juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah, Thabrani, dan Baihaqi dalam as-Syu'ab dari Abu Umamah, Ahmad, Nasai, dan Baihaqi dari Thariq bin Syihab, ibid. 1100. ^
28 Diriwayatkan oleh Hakmin dan Dhiya' dari Jabir, dan di-hasan-kan olehnya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir, 3676 ^
29 Ibn Majah menambahkan, "Dan engkau melihat suatu perkara yang kamu tidak dapat disalahkan karenanya." Artinya, engkau melihat kerusakan yang tiada tandingannya dan tidak ada kemampuan bagimu untuk menyingkirkannya. Ini merupakan tambahan yang sangat penting dalam hadits ini, yang menunjukkan bahwa seorang manusia tidak boleh meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar kecuali ketika dia merasa lemah, karena untuk bisa mengubahnya dia memerlukan kekuatan dan usaha yang lebih besar. ^
30 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam al-Malahim (4341) dan Tirmidzi dalam al-Tafsir (3060) dan dia berkata: "Hadits ini hasan gharib." Dan juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam al-Fitan (4014) ^
31 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Ibn Majah (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 3974)
^


:: bookmark: pakdenono ::
 

 

 


PRIORITAS AMALAN HATI ATAS AMALAN ANGGOTA BADAN

<< Kembali ke Daftar Isi >>


DI ANTARA amalan yang sangat dianjurkan  menurut  pertimbangan agama  ialah amalan batiniah yang dilakukan oleh hati manusia. Ia lebih diutamakan daripada amalan  lahiriah  yang  dilakukan oleh anggota badan, dengan beberapa alasan.

Pertama,  karena  sesungguhnya  amalan yang lahiriah itu tidak akan diterima oleh Allah  SWT  selama  tidak  disertai  dengan amalan  batin  yang  merupakan  dasar  bagi diterimanya amalan lahiriah itu, yaitu niat;  sebagaimana  disabdakan  oleh  Nabi saw:

"Sesungguhnya amal perbuatan itu harus disertai denganniat." 32

Arti niat ini ialah niat yang terlepas  dari  cinta  diri  dan dunia.  Niat  yang  murni  untuk  Allah  SWT.  Dia  tidak akan menerima amalan seseorang kecuali amalan itu murni  untuk-Nya; sebagaimana difirmankan-Nya:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..." (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw bersabda,
  
"Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang murni, yang dilakukan hanya untuk-Nya."33

Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT berfirman,

"Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian dia mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain, maka Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya." Dalam riwayat yang lain disebutkan: "Maka dia akan menjadi milik sekutunya dan Aku berlepas diri darinya." 34

Kedua,  karena  hati  merupakan  hakikat  manusia,   sekaligus menjadi  poros kebaikan dan kerusakannya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi saw bersabda,

"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati."35

Nabi saw. menjelaskan bahwasanya hati  merupakan  titik  pusat pandangan  Allah,  dan  perbuatan  yang dilakukan oleh hatilah yang  diakui  (dihargai/dinilai)  oleh-Nya.  Karenanya,  Allah hanya  melihat hati seseorang, bila bersih niatnya, maka Allah akan menerima amalnya: dan bila kotor hatinya  (niatnya  tidak benar),  maka otomatis amalnya akan ditolak Allah, sebagaimana disabdakan oleh baginda,

"Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu." 36

Yang dimaksudkan di sini ialah  diterima  dan  diperhatikannya amalan tersebut.

Al-Qur'an menjelaskan bahwasanya keselamatan di akhirat kelak, dan perolehan surga di sana, hanya dapat  dicapai  oleh  orang yang   hatinya   bersih   dari  kemusyrikan,  kemunafikan  dan penyakit-penyakit hati yang menghancurkan.  Yaitu  orang  yang hanya  menggantungkan  diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang Dia firmankan melalui lidah nabi-Nya, Ibrahim al-Khalil a.s.

"Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (as-Syu'ara': 87-89)
  
"Dan didekatlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat." (Qaf: 31-33)

Keselamatan  dari  kehinaan  pada  hari  kiamat  kelak   hanya diberikan  kepada  orang  yang  datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih. Dan surga hanya diberikan kepada orang  yang datang kepada Tuhannya dengan hati yang pasrah.

Taqwa  kepada  Allah  --yang merupakan wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang terkemudian, merupakan dasar perbuatan yangutama, kebajikan, kebaikan di dunia dan akhirat-- pada hakikat dan intinya merupakan persoalan hati. Oleh karena itu Nabi saw bersabda,  "Taqwa itu ada di sini," sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. Beliau mengatakannya  sebanyak  tiga  kali sambil  memberikan  isyarat  dengan  tangannya ke dadanya agar dapat dipahami oleh akal dan jiwa manusia.

Sehubungan dengan hal ini,  al-Qur'an  memberi  isyarat  bahwa ketaqwaan itu dilakukan oleh hati manusia:

   "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." (al-Hajj: 32)

Semua tingkah laku dan perbuatan yang mulia,  serta  tingkatan amalan  rabbaniyah  yang menjadi perhatian para ahli suluk dan tasawuf, serta para penganjur pendidikan  ruhaniah,  merupakan perkara-perkara  yang  berkaitan dengan hati; seperti menjauhi dunia, memberi perhatian yang lebih kepada akhirat, keikhlasan kepada  Allah,  kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, tawakkal kepada   Allah,   mengharapkan   rahmat-Nya,   takut    kepada siksaan-Nya,  mensyukuri  nikmatNya,  bersabar  atas  bencana, ridha terhadap ketentuan-Nya, selalu mengingat-Nya,  mengawasi diri  sendiri...  dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan inti dan ruh agama, sehingga barangsiapa yang  tidak  memiliki perhatian   sama  sekali  terhadapnya  maka  dia  akan  merugi sendiri, dan juga rugi dari segi agamanya.

Siapa  yang  mensia-siakan  umurnya,  maka  dia   tidak   akan mendapatkan apa-apa

Anas meriwayatkan dari Nabi saw,

"Tiga hal yang bila siapapun berada di dalamnya, maka dia dapat menemukan manisnya rasa iman. Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; hendaknya ia mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka." 37
  
"Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya, serta manusia seluruhnya." 38

Diriwayatkan dari Anas bahwa ada seorang lelaki yang  bertanya kepada  Nabi  saw, "Kapankah kiamat terjadi wahai Rasulullah?" Beliau balik bertanya: "Apakah yang telah engkau  persiapkan?" Dia  menjawab,  "Aku  tidak  mempersiapkan  banyak  shalat dan puasa,  serta  shadaqah,  tetapi  aku  mencintai   Allah   dan Rasul-Nya."  Rasulullah  saw  kemudian  bersabda, "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai."39

Hadits ini dikuatkan oleh hadits Abu Musa bahwa ada  seseorang berkata  kepada  Nabi  saw, "Ada seseorang yang mencintai kaum Muslimin,  tetapi  dia  tidak  termasuk  mereka."   Nabi   saw menjawab,  "Seseorang  akan  bersama  dengan  orang  yang  dia cintai."40

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa  cinta  kepada  Allah SWT  dan  Rasulullah,  serta cinta kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh merupakan cara pendekatan yang paling baik kepada Allah SWT; walaupun tidak disertai dengan tambahan shalat, puasa dan shadaqah.

Hal ini tidak lain adalah karena cinta  yang  murni  merupakan salah satu amalan hati, yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.

Atas dasar itulah beberapa ulama besar berkata,

"Aku cinta kepada orang-orang shaleh walaupun aku tidak termasuk golongan mereka."
  
"Aku berharap hahwa aku bisa mendapatkan syafaat (ilmu, dan kebaikan) dari mereka."
  
"Aku tidak suka terhadap barang-barang maksiat, walaupun aku sama maksiatnya dengan barang-barang itu. "

Cinta kepada Allah, benci karena Allah  merupakan  salah  satu bagian dari iman, dan keduanya merupakan amalan hati manusia.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

"Barangsiapa mencintai karena Allah, marah karena Allah, memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah, maka dia termasuk orang yang sempurna imannya."41
  
"Ikatan iman yang paling kuat ialah berwala' karena Allah, bermusuhan karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah SWT." 42

Oleh sebab itu, kami sangat heran  terhadap  konsentrasi  yang diberikan  oleh  sebagian  pemeluk  agama, khususnya para dai' yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang  berkaitan dengan   perkara-perkara   lahiriah   lebih   banyak  daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak   daripada   intinya;   misalnya  memendekkan  pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab  wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara  lain  yang  berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan  ruhnya.  Perkara-perkara  ini,  bagaimanapun,  tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.

Saya  sendiri memperhatikan --dengan amat menyayangkan-- bahwa banyak  sekali  orang-orang  yang  menekankan  kepada   bentuk lahiriah  ini  dan  hal-hal yang serupa dengannya --Saya tidak berkata  mereka  semuanya--  mereka  begitu  mementingkan  hal tersebut  dan  melupakan  hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya.  Seperti  berbuat  baik  kepada kedua  orangtua,  silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan  hak  kepada orang  yang  harus  memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap  yang  lemah,  menjauhi  hal-hal  yang jelas  diharamkan,  dan  lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam  kitab-Nya, di  awal  surah  al-Anfal, awal surah al-Mu'minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.

Saya tertarik dengan perkataan  yang  diucapkan  oleh  saudara kita,  seorang dai' Muslim, Dr. Hassan Hathout yang tinggal di Amerika, yang sangat tidak suka kepada sebagian  saudara  kita yang  begitu  ketat dan kaku dalam menerapkan hukum Islam yang berkaitan dengan daging halal yang  telah  disembelih  menurut aturan  syariat.  Mereka  begitu  ketat meneliti daging-daging tersebut  apakah  ada  kemungkinan   bahwa   daging   tersebut tercampur    dengan   daging   atau   lemak   babi,   walaupun persentasenya hanya sebesar satu persen, atau  seperseribunya; tetapi  dalam masa yang sama dia tidak memperhatikan bahwa dia memakan bangkai saudaranya setiap hari beberapa  kali  (dengan fitnah   dan   mengumpat/ghibah),  sehingga  saudaranya  dapat menjadi sasaran syubhat dan tuduhan,  atau  dia  sendiri  yang menciptakan tuduhan-tuduhan tersebut.

Catatan kaki:
 
32 Muttafaq Alaih dari Umar (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1245), hadits pertama yang dimuat dalam Shahih al-Bukhari ^
33 Diriwayatkan oleh Nasai dari Abu Umamah, dan dihasankan olehnya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir(1856) ^
34 Muslim meriwayatkannya dari Abu Hurairah r.a. dengan lafal hadits yang pertama, sedangkan lafal yang lainnya diriwayatkan oleh Ibn Majah. ^
35 Muttafaq 'Alaih, dari Nu'man bin Basyir, yang merupakan bagian daripada hadits, "Yang halal itu jelas, dan yang haram itu juga jelas" (Lihat al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1028) ^
36 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)^
37 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu'wa al-Marjan, 26) ^
38 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 27) ^
39 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1693) ^
40 Muttafaq 'Alaih dari Anas (al-Lu'lu' wa al- Marjan, 1694) ^
41 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Sunnah dari Abu Umamah (4681), dan dalam al-Jami' as-Shaghir riwayat ini dinisbatkan kepada Dhiya' (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 5965) ^
42 Diriwayatkan oleh al-Thayalisi, Hakim, dan Thabrani dalam al-Kabir, dan al-Awsath dari Ibn Mas'ud, Ahmad, dan Ibn Abi Syaibah dari Barra" dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn ,Abbas (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 2539)
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com