KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PRIORITAS PERKARA POKOK ATAS PERKARA CABANG

 

PERHATIAN utama yang harus kita  berikan  dalam  perkara  yang diperintahkan  ini  ialah  memberikan prioritas kepada perkara pokok atas cabang. Yaitu mendahulukan  perkara-perkara  pokok, mendahulukan  hal-hal  yang  berkaitan  dengan iman dan tauhid kepada  Allah,  iman  kepada  para  malaikatNya,   kitab-kitab suci-Nya,  rasul-rasul-Nya,  dan  hari  akhir;  yang dikatakan sebagai rukun iman sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur'an:

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi..."(al-Baqarah:177)
  
"Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami tobat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."" (al-Baqarah: 285)
  
"... Barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan lari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (an-Nisa': 136)

Tidak ada ayat yang menyebutkan iman kepada  takdir  sekaligus memasukkannya  ke dalam pokok aqidah, karena sesungguhnya iman kepada takdir ini sudah termasuk di dalam  iman  kepada  Allah SWT.  Iman  kepada  takdir  merupakan  bagian dari iman kepada kesempurnaan  Ilahi,   ilmu-Nya   yang   meliputi   segalanya, kehendak-Nya yang luas, dan kekuasaan-Nya yang pasti

Aqidah  adalah  masalah  pokok, sedang syari'ah adalah perkara cabang.

Iman adalah perkara pokok, sedangkan amalan merupakan  perkara
cabang.

Kami  tidak  ingin  memperpanjang  perbincangan para ahli ilmu kalam di sekitar hubungan amal dan iman, apakah amal merupakan bagian  dari  iman, ataukah dia merupakan buah darinya? Apakah iman merupakan syarat bagi terwujudnya  amal  sekaligus  bukti bagi kesempurnaannya?

Keimanan  yang  benar harus membuahkan amalan. Sejauh keimanan yang dimiliki oleh seseorang, maka akan sejauh itu  pula  amal perbuatannya,  dan sejauh itu pula dia melakukan perintah yang diberikan kepadanya, serta menjauhi larangannya.

Amal perbuatan yang tidak dilandasi  dengan  iman  yang  benar tidak  akan  ada  nilainya  di  sisi  Allah  SWT;  sebagaimana digambarkan oleh al-Qur'an berikut ini:

"... bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepatperhitungan-Nya." (an-Nur: 39)

Oleh karena itu, perkara paling utama  untuk  didahulukan  dan harus diberi perhatian yang lebih daripada yang lainnya adalah meluruskan aqidah, memurnikan tauhid, memberantas  kemusyrikan dan  khurafat,  mengokohkan  benih-benih  keimanan dalam hati, sehingga membuahkan hasil yang bisa dinikmati dengan izin dari tuhannya,  yang  akhirnya kalimat tauhid "La ilaha illa Allah" dapat  bersemayam  di  dalam  jiwa,  menjadi   cahaya   hidup, menerangi    gelapnya    pemikiran   manusia   dan   kegelapan perilakunya.

Al-Muhaqqiq Ibn al-Qayyim berkata, "Ketahuilah bahwa  pancaran sinar 'La ilaha illa Allah' akan dapat menghancurkan noda-noda dosa sesuai  dengan  kadar  kekuatan  dan  kelemahan  pancaran cahaya   itu.  Orang  yang  memiliki  pancaran  cahaya  inipun bermacam-macam kekuatan dan kelemahannya, dan tidak  akan  ada orang  yang  dapat  menghitungnya kecuali Allah SWT. Di antara manusia terpadat orang  yang  memiliki  cahaya  itu  di  dalam hatinya  bagaikan  matahari;  ada yang cahaya di dalam hatinya itu bagaikan  bintang;  ada  cahaya  yang  bagaikan  api  yang membara;  ada  yang  seperti lentera; dan yang terakhir sekali bagaikan lampu yang sangat lemah sinarnya."

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak cahaya-cahaya itu akan tampak   sesuai  dengan  kadar  keimanan  yang  dimiliki  oleh manusia. Cahaya itu akan memancar sesuai dengan ilmu dan amal, makrifat  dan  keadaan  cahaya kalimat yang memancar dari hati manusia.

Semakin besar  pancaran  cahaya  kalimat  itu  di  dalam  hati manusia,  maka ia akan membakar segala bentuk syubhat dan hawa nafsu sesuai dengan kekuatannya. Sehingga kadar pembakaran itu sampai   kepada   tingkat  pembersihan  yang  sangat  sempurna terhadap syubhat dan syahwat; yang  pada  akhirnya  tidak  ada dosa  kecuali  dosa  itu  akan dibakar olehnya. Itulah keadaan orang  yang  tauhidnya  benar,  yang   tidak   mempersekutukan sesuatupun dengan Allah SWT.

Siapa  yang  memahami  makna  uraian  tersebut,  maka dia akan mengetahui makna sabda Nabi saw,

"Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah, semata-mata untuk mencapai keridhaan-Nya."
  
"Tidak akan masuk api neraka orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah,"

dan juga sabda-sabda beliau yang lainnya yang  banyak  membuat kemusykilan   bagi  manusia,  sehingga  mereka  menduga  bahwa hadits-hadits itu telah dihapuskan. Ada  pula  yang  menyangka bahwa  hadits-hadits  itu diturunkan sebelum turunnya perintah dan larangan, serta mapannya syari'ah ini. Sebagian yang  lain mengartikannya  api  kaum musyrik dan kafir. Dan ada pula yang mentakwilkan dengan masuk selama-lamanya ke dalam neraka,  dan berkata,   "Maknanya  ialah  tidak  memasuki  neraka  tersebut selama-lamanya."  Dan  lain-lain   pentakwilan   yang   kurang menyenangkan.

Penetap  syari'ah  agama ini --Nabi saw-- tidak menjadikan hal itu bisa dicapai dengan hanya mengucapkan melalui lidah  saja. Dan  inilah yang sepatutnya diketahui oleh orang banyak ketika mereka  menjalankan  ajaran  agama  ini.  Kalimat  itu   harus diucapkan  melalui  hati  dan  lidah.  Ucapan melalui hati ini mencakup pengetahuan, pembenaran  terhadap  kalimat  tersebut, dan  pengetahuan  terhadap hakikat yang dikandungnya. Ada yang dinafikan dan ada yang ditetapkan. Seseorang mesti  mengetahui hakikat Ilahiah yang harus dinafikan dari selain Allah, karena ia hanya  kbusus  bagi-Nya;  serta  ada  sesuatu  yang  sangat mustahil  dimiliki  oleh  sesuatu  selain  Allah SWT. Wujudnya makna seperti ini  di  dalam  hati  --secara  ilmu,  ma'rifah, keyakinan  dan  kenyataan--  sudah  pasti  dapat menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari api neraka.

Orang yang mengucapkan  kalimat  ini  dengan  lidahnya,  tidak memperhatikan  maknanya,  dan  tidak menghayatinya, dan ucapan lidahnya tidak sampai kepada hatinya, tidak  mengetahui  kadar dan  hakikatnya,  tetapi dia mengharapkan pahala darinya, maka dia hanya akan diperhitungkan berdasarkan apa yang terdapat di dalam  hatinya. Karena sesungguhnya semua amal perbuatan tidak akan  diberi  keutamaan   dari   segi   bentuk   luarnya   dan kuantitasnya.  Amal buatan manusia akan diperhitungkan menurut keyakinan yang telah ada di dalam hatinya. Dua hal ini (bentuk luar  dan  keyakinan  dalam  hati)  akan dihitung sebagai satu kesatuan. Perbedaan di antara kedua hal  ini  adalah  bagaikan langit dan bumi. Sebagaimana adanya dua orang yang shalat pada satu baris, tetap  kedudukan  shalat  mereka  berbeda  seperti langit dan bumi. [Madarij al-Salikin, 1:329-331]

 

 


PRIORITAS FARDHU ATAS SUNNAH DAN NAWAFIL

<< Kembali ke Daftar Isi >>
 

SEBAGAIMANA   diketahui   --dalam   perkara-perkara   cabang-- sesungguhnya  amalan  yang  dilakukan oleh manusia ini terdiri atas bermacam-macam tingkatan  yang  harus  dilakukan,  dengan perbedaan tingkatan yang telah dijelaskan oleh syari'ah agama.

Ada  perkara  yang  diperintahkan  dalam  bentuk  sunnah   dan mustahab.
Ada   perkara  yang  diperintahkan  dalam  bentuk  fardhu  dan kewajiban.

Dan ada pula perkara yang berada  di  antara  kedua  hal  itu, yakni  perkara yang berada di atas mustahab, tetapi dia berada di bawah fardhu; yang oleh para fuqaha disebut dengan wajib.

Perkara yang termasuk di dalam fardhu ini terbagi lagi menjadi fardhu   kifayah,   yaitu  suatu  fardhu  yang  apabila  telah dilakukan oleh seorang atau beberapa orang,  maka  orang  yang lain  tidak  berdosa  bila tidak melakukannya; dan fardhu ain, yaitu suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh  setiap  orang yang  telah  memenuhi  syarat  untuk  diberi  beban  kewajiban (mukallaf).

Fardhu ain ini sendiri terbagi lagi  menjadi  beberapa  macam. Ada  yang kita namakan fardhu rukun (al-fara'idh al-rukniyyah) yang berkaitan dengan rukun Islam,  yaitu  syiar  ibadah  yang terdiri  atas  empat  macam:  Shalat,  zakat, puasa, dan haji. Serta fardhu lainnya yang tidak termasuk dalam kategori fardhu ini.

Al-'Allamah   Ibn   Rajab,   ketika   menjelaskan  hadits  ini (Sesungguhnya Allah memfardhukan berbagai macam  fardhu,  oleh karena  itu  janganlah  kamu  sia-siakan...) mengatakan, "Para ulama berselisih pendapat apakah wajib  dan  fardhu  itu  satu makna  ataukah  tidak? Di antara mereka ada yang berkata bahwa kedua hal itu sama.  Setiap  kewajiban  yang  didasari  dengan dalil  syar'i  dari al-Qur'an, sunnah, ijma', dan dalil syar'i lainnya adalah fardhu. pendapat ini dikenal  sebagai  pendapat para pengikut mazhab Syafi'i; dan diriwayatkan dari Ahmad yang mengatakan: 'Setiap  hal  yang  ada  di  dalam  shalat  adalah fardhu.'"

Di  antara  ulama  itu ada yang berkata, "Yang termasuk fardhu adalah sesuatu  yang  ditetapkan  dengan  dalil  yang  qath'i. Sedangkan  yang  termasuk wajib adalah sesuatu yang ditetapkan dengan dalil yang tidak qath'i."  Pendapat  ini  berasal  dari para pengikut mazhab Hanafi.

Kebanyakan  nas  yang  berasal  dari  Ahmad  membedakan antara fardhu dan wajib. Para pengikut  mazhab  Hanbali  meriwayatkan darinya  bahwa  dia  berkata, "Sesuatu itu tidak dimasukkan ke dalam fardhu kecuali apabila dia terdapat di dalam kitab Allah SWT."  Dia  berkata,  "Berkaitan  dengan  zakat  fitrah,  saya memberanikan diri untuk mengatakan  bahwa  sesungguhnya  zakat fitrah  adalah  fardhu  walaupun  Ahmad  mengatakan  bahwa dia wajib."  Di  antara  para   pengikut   mazhab   ini   berkata, "Maksudnya,   sesungguhnya   fardhu  itu  ialah  sesuatu  yang ditetapkan melalui al-Qur'an  sedangkan  wajib  ialah  sesuatu yang ditetapkan melalui sunnah Nabi saw." Ada pula mereka yang berkata, "Sesungguhnya  Ahmad  bermaksud  bahwa  sesuatu  yang fardhu  itu  ditetapkan  melalui  dalil  naqli yang mutawatir; sedangkan wajib ialah sesuatu yang ditetapkan melalui ijtihad; sehingga   banyak   sekali  pandangan  yang  berkaitan  dengan kewajiban ini."2

MENGANGGAP MUDAH TERHADAP HAL-HAL YANG SUNNAH DAN MUSTAHAB

Berkaitan dengan fiqh prioritas ini, kita  harus  mendahulukan hal  yang  paling  wajib atas hal yang wajib, mendahulukan hal yang wajib atas mustahab,  dan  kita  perlu  menganggap  mudah hal-hal  yang  sunnah dan mustahab serta harus mengambil berat terhadap hal-hal yang fardhu dan wajib. Kita mesti  menekankan lebih  banyak  terhadap  perkara-perkara  fardhu yang mendasar daripada perkara yang lainnya; khususnya shalat dan zakat yang merupakan  dua  macam fardhu yang sangat mendasar, yang selalu digandengkan penyebutannya di dalam al-Qur'an pada  dua  puluh delapan tempat; dan juga banyak sekali hadits yang menyebutkan kedua hal ini. Antara lain:

Diriwayatkan dari Ibn  Umar  r.a.  bahwasanya  Rasulullah  saw bersabda,

"Islam itu dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan berpuasa di hari Ramadhan." 3

Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah  r.a.  berkata,  "Ada seorang  lelaki  penduduk  Najed yang datang kepada Rasulullah saw dengan kepala terbuka. Kami mendengar  suara  dengungannya tetapi  tidak  dapat  menangkap apa yang dia katakan. Sehingga kami mendekatkan diri  kepada  Rasulullah  saw.  Ternyata  dia bertanya  tentang Islam. Maka Rasulullah saw bersabda, "Shalat lima waktu sehari semalam." Dia  bertanya  lagi,  "Apakah  ada kewajiban  lain  atas  diriku  selain  itu?"  Beliau menjawab, "Tidak, kecuali bila engkau hendak melaksanakan yang  sunnah." Kemudian  Rasulullah saw menyebutkan zakat kepadanya, lalu dia bertanya lagi: "Apakah ada kewajiban lain atas  diriku  selain itu?"  Beliau  menjawab,  "Tidak,  kecuali  bila engkau hendak melaksanakan yang sunnah." Kemudian lelaki itu kembali lagi ke tempat  asalnya  sambil  berkata,  "Demi Allah, aku tidak akan menambah dan menguranginya."  Maka  Rasulullah  saw  bersabda, "Dia akan mendapatkan keberuntungan kalau yang dia katakan itu benar."" (Muttafaq 'Alaih) 4

Diriwayatkan dari Ibn Abbas r. a. berkata bahwasanya Nabi  saw mengutus Mu'adz r.a. untuk pergi ke Yaman, beliau saw bersabda kepadanya, "Ajaklah mereka  untuk  bersaksi  bahwa  tidak  ada Tuhan  selain  Allah  dan  sesungguhnya aku adalah Rasulullah. Apabila  mereka  mematuhi  dirimu  dalam  perkara  ini,   maka beritakanlah kepada mereka bahwasanya Allah telah memfardhukan shalat lima waktu sehari semalam. Dan apabila mereka  mentaati dirimu  dalam  perkara  ini,  maka  beritakanlah kepada mereka bahwa  Allah  SWT  telah  memfardhukan  kepada  mereka   untuk membayar  zakat  yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka." 5

Diriwayatkan dari Ibn Umar r. a. berkata bahwa Rasulullah  saw bersabda, "Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang-orang sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain  Allah,  dan sesungguhnya  Muhammad  adalah  Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat. Jika mereka telah melaksanakan perkara-perkara itu,  berarti  mereka  telah  melindungi darah dan harta benda mereka dari diriku. Dan Allah SWT  akan  menghitung  apa  yang telah mereka lakukan." 6

Diriwayatkan  dan  Abu  Hurairah  r.a.   berkata,   "Ketika Rasulullah  saw wafat dan Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, ada di antara orang-orang Arab  yang  menjadi  kafir  kembali, maka  Umar  r.a.  berkata,  'Bagaimanakah kalau kita memerangi orang-orang itu karena Rasulullah  saw  telah  bersabda,  'Aku telah   diperintakkan  untuk  memerangi  orang-orang  sehingga mereka  mengucapkan  bahwa  tiada  tuhan  selain  Allah.  Maka barangsiapa yang mengatakannya maka dia telah melindungi harta dan jiwanya dari diriku, dan Allah akan memperhitungian segala amal  perbuatannya.'?'  Maka  Abu  Bakar menjawab 'Demi Allah, sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan  zakat.  Karena sesungguhnya zakat adalah hak harta benda. Demi Allah, kalau mereka enggan memberikan  seekor  unta  yang dahulu  pernah  mereka  berikan kepada Rasulullah saw maka aku akan memerangi mereka, karena keengganan itu.'  Umar  berkata, 'Demi  Allah,  itu  tidak lain kecuali bahwa aku telah melihat Allah melapangkan hati Abu Bakar  untuk  melakukan  peperangan itu, dan aku betul-betul mengetahuinya.'" 7

Diriwayatkan dari Abu Ayyub r.a., ia berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw kemudian dia berkata kepada Nabi saw, "Beritahukanlah  kepadaku  amalan  yang  dapat  membuatku masuk  surga."  Nabi saw bersabda, "Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu selain Dia, dirikan shalat, bayar zakat dan jalinlah silaturahim."8

Diriwayatkan dari Abu Hurairah  r.a.,  ia  berkata  bahwa  ada seorang  lelaki  Arab  Badui  datang  kepada  Nabi  saw sambil berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amalan  yang apabila  aku  melakukannya,  aku akan masuk surga." Rasulullah saw menjawab, "Sembahlah Allah dan jangan  mempersekutukan-Nya dengan  sesuatupun.  Dirikan  shalat  fardhu,  bayarlah  zakat fardhu, dan berpuasalah pada bulan Ramadhan." Kemudian  lelaki itu berkata, "Demi yang diriku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atau menguranginya. "Ketika  orang  itu  kembali lagi  ke  tempat asalnya, Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin  melihat  lelaki  penghuni  surga,  maka  hendaklah  dia melihat orang ini." 9

Hadits  ini  dan  hadits  Thalhah  di  atas  menunjukkan bahwa perkara-perkara  fardhu  ini  adalah   dasar   amalan   agama. Barangsiapa     mengerjakannya    dengan    sempurna,    tidak menguranginya sedikitpun,  berarti  dia  telah  membuka  pintu surga,  walaupun dia tidak mengerjakan amalan-amalan sunnah di luar fardhu itu. Ajaran yang diterapkan oleh Nabi  saw  ketika beliau  mengajar  para  sahabatnya  ialah memusatkan perhatian terhadap rukun  dan  dasar,  dan  bukan  menekankan  perhatian terhadap  perkara-perkara  kecil, parsial, yang tidak akan ada habisnya.

KESALAHAN MENYIBUKKAN DIRI DALAM PERKARA SUNNAH DENGAN MENINGGALKAN PERKARA FARDHU

Di  antara  kesalahan  yang  dilakukan oleh banyak orang ialah memberikan perhatian yang  berlebihan  terhadap  perkara  yang hukumnya sunnah, yang berkaitan dengan shalat, puasa, dan haji daripada perhatian yang diberikan kepada hal-hal yang hukumnya wajib.

Kita seringkali melihat pemeluk agama ini yang melakukan qiyam al-lail, kemudian dia  pergi  ke  tempat  kerja  di  mana  dia mendapatkan  gaji  setiap  bulan,  dengan  keadaan  loyo tidakmempunyai kekuatan, sehingga dia tidak  dapat  bekerja  dengan baik.  Kalau  dia  mengetahui  bahwa  bekerja  dengan baik itu hukumnya  wajib   berdasarkan   hadits   "Sesungguhnya   Allah mewajibkan   ihsan  atas  segala  sesuatu";  mengetahui  bahwa mengabaikannya  berarti  pengkhianatan  terhadap  amanat  yang diberikan  kepadanya;  dan  mengetahui bahwa dia memakan harta --setiap akhir bulan-- dengan cara yang tidak benar, maka  dia tidak  akan memperbanyak qiyam lail-nya untuk dirinya sendiri, karena hal itu tidak lebih daripada amalan sunnah, yang  tidak diwajibkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Satu  hal  yang  serupa  dengan  itu ialah orang yang berpuasa sunnah Senin dan Kamis,  habis  kekuatannya  karena  berpuasa, khususnya pada hari-hari di musim panas. Akhirnya dia pergi ke tempat kerja dengan tubuh  yang  lemas  dan  tidak  bergairah. Dengan  demikian dia banyak mengesampingkan kemaslahatan orang banyak karena dia mendahulukan puasa. Puasa sunnah  dan  tidak wajib  bagi  dirinya. Padahal pada masa yang sama melaksanakan kemaslahatan orang banyak itu merupakan suatu  kewajiban  atas dirinya.

Nabi  saw  melarang wanita untuk melakukan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah, tidak bepergian jauh, kecuali dengan izin suaminya.

Karena sesungguhnya suami  mempunyai  hak  atas  dirinya  yang lebih wajib dia Iakukan daripada puasa sunnah.

Perkara  yang  serupa  dengan ini adalah ibadah haji dan umrah yang hukumnya sunnah. Banyak sekali orang Islam yang melakukan ibadah  haji untuk yang kelima kalinya, kesepuluh, keduapuluh, bahkan keempatpuluh. Dia senantiasa melaksanakan ibadah  umrah pada  bulan  Ramadhan,  mengeluarkan  biaya yang sangat besar. Padahal pada masa yang sama banyak sekali kaum  Muslimin  yang meninggal dunia karena kelaparan --betul-betul dan tidak hanya kiasan-- di beberapa negeri. Misalnya  di  Somalia;  sedangkan kaum   Muslimin  yang  lainnya  sedang  menghadapi  pembunuhan massal, sebagaimana yang kita saksikan di Bosnia  Herzegovina, Palestina,  Kasymir  dan  negeri-negeri lainnya. Mereka sangat memerlukan bantuan dari saudara-saudara mereka, untuk  memberi makanan  kepada  orang-orang  yang  kelaparan, memberi pakaian kepada orang-orang  yang  telanjang,  mengobati  orang  sakit, memberi  tempat  tinggal  kepada  orang yang kehilangan tempat tinggal, untuk memelihara anak yatim,  memelihara  orang  tua, para  janda,  dan  orang-orang  cacat  karena perang, dan juga untuk membeli senjata agar mereka dapat mempertahankan diri.

Sedangkan  kaum  Muslimin  yang  lainnya   menghadapi   perang terhadap  kristenisasi  yang berlaku di daerah mereka, di mana mereka tidak memiliki sekolah sebagai tempat  belajar,  masjid untuk  shalat,  rumah  untuk  mendidik anak, rumah sakit untuk menyembuhkan  orang-orang  sakit,  gedung  pusat  dakwah,  dan buku-buku  sebagai  bahan  bacaan...  Pada masa yang sama kita menemukan 70% jamaah  haji  setiap  tahun  adalah  orang  yang pernah   melakukan   ibadah   haji  sebelumnya.  Mereka  hanya melakukan  ibadah  haji  sunnah,   yang   untuk   ini   mereka mengeluarkan ratusan juta untuk keperluan diri mereka sendiri.

Kalau  mereka  betul-betul  memahami  ajaran agama mereka, dan mengetahui sedikit tentang fiqh prioritas,  maka  mereka  akan mendahulukan   penyelamatan   saudara-saudara   Muslim  mereka daripada merasakan kenikmatan ruhani ketika  melakukan  ibadah haji  atau  umrah.  Jika  mereka menghayati perkara ini secara betul-betul maka mereka akan merasakan kenikmatan  yang  lebih dalam  dan  dahsyat  ketika mereka menyelamatkan kaum Muslimin daripada kenikmatan yang mereka  rasakan  ketika  melaksanakan ibadah  tersebut  yang kadang-kadang diliputi dengan keinginan untuk menampakkannya kepada orang  lain  atau  riya'  di  mana orang yang melakukannya tidak merasakan hal itu

Ucapan Imam al-Raghib yang Cemerlang

Para  fuqaha Islam telah menetapkan bahwasanya Allah SWT tidak akan menerima ibadah yang sunnah  sampai  ibadah  yang  fardhu telah dilaksanakan.

Imam   al-Raghib   mengemukakan   pendapat  sehubungan  dengan perbandingan  antara  berbagai  fardhu   dalam   ibadat,   dan perkara-perkara  mulia  yang  hukumnya  sunnah. Dia mengatakan sesuatu yang sangat baik:   "Ketahuilah,  sesungguhnya  ibadah itu  lebih luas daripada kemuliaan (al-makramah). Sesungguhnya setiap perbuatan yang mulia adalah ibadah,  dan  tidak  setiap ibadah  itu  mulia.  Di  antara perbedaan antara kedua hal ini ialah bahwa ibadah mempunyai perkara-perkara fardhu yang telah diketahui, dan batas-batas yang telah ditetapkan. Barang siapa yang  meninggalkannya,  maka  dia  dianggap  melanggar  batas. Sedangkan  perbuatan  yang  mulia  adalah  sebaliknya. Manusia tidak akan sempurna kemuliaannya selama  dia  belum  melakukan kewajiban-kewajiban   dalam   ibadahnya.   Oleh   karena  itu, melaksanakan kewajiban dalam  ibadah  merupakan  sesuatu  yang adil,  sedangkan melaksanakan kemuliaan merupakan sesuatu yang hukumnya sunnah. Perbuatan yang  sunnah  tidak  akan  diterima oleh Allah SWT dari orang yang mengabaikan hal-hal yang wajib. Dan orang yang meninggalkan kewajiban tidak  dianjurkan  untuk mencari  keutamaan  dan  kelebihan,  karena  mencari kelebihan tidak dibenarkan kecuali setelah seseorang melakukan keadilan. Sesungguhaya   keadilan  merupakan  sesuatu  yang  wajib,  dan keutamaan adalah tambahan atas yang wajib.  Bagaimana  mungkin ada  tambahan  terhadap sesuatu yang dia sendiri masih kurang. Oleh karena  itu  benarlah  ucapan:  'Orang  yang  mengabaikan perkara-perkara yang pokok tidak akan sampai kepada tujuan'."

Barangsiapa yang disibukkan dengan perkara fardhu sehingga dia tidak  dapat  mencari  tambahan,  maka  dia   dimaafkan.   Dan barangsiapa  yang  disibukkan  untuk  mencari  tambahan dengan mengabaikan perkara yang fardhu maka dia  tertipu.  Allah  SWT telah  mengisyaratkan  agar keadilan benar-benar dilaksanakan, dan kemuliaan dilakukan dengan baik. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..." (an-Nahl: 90)

Catatan kaki:

2 Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, 2:153 cet. ar-Risalah. ^
3 Muttafaq 'Alaih, lihat al-Lu'lu' wal-Marjan, hadits 9. ^
4 al-Lu'lu' wal-Marjan, hadits 6 ^
5 Muttafaq 'Alaih, ibid., hadits 11. ^
6 Muttafaq 'Alaih, ibid., hadits 15. ^
7 Muttafaq 'Alaih, ibid., hadits 13. ^
8 Muttafaq 'Alaih, ibid., hadits 7. ^
9 Muttafaq Aiaih, ibid.. hadits 13.
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com