KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PRIORITAS FARDHU 'AIN ATAS FARDHU KIFAYAH



TIDAK  diperselisihkan  lagi  bahwa   perkara   fardhu   mesti didahulukan   atas   perkara   yang  hukumnya  sunnah;  tetapi perkara-perkara yang  fardhu  itu  sendiri  memiliki  berbagai tingkatan.

Kita  yakin  betul  bahwa  fardhu  ain  harus didahulukan atas fardhu kifayah. Karena fardhu  kifayah  kadangkala  sudah  ada orang  yang melakukannya, sehingga orang yang lain sudah tidak menanggung dosa karena tidak  melakukannya.  Sedangkan  fardhu ain tidak dapat ditawar lagi, karena tidak ada orang lain yang boleh  menggantikan  kewajiban  yang  telah  ditetapkan   atas dirinya.

Banyak   hadits   Nabi   yang  menunjukkan  bahwa  kita  harus mendahulukan fardhu ain atas fardhu kifayah.

Contoh yang paling jelas untuk  itu  ialah  perkara  yang  ada kaitannya  dengan  berbuat  baik  terhadap  kedua orangtua dan berperang membela agama Allah, ketika perang merupakan  fardhu kifayah,  karena  peperangan  untuk  merebut suatu wilayah dan bukan mempertahankan wilayah sendiri; yaitu  peperangan  untuk merebut  suatu  wilayah  yang  diduduki oleh musuh. Kita harus melakukan peperangan ketika tampak tanda-tanda musuh mengintai kita  dan  hendak  merebut  wilayah yang lebih luas dari kita. Dalam hal seperti ini hanya sebagian orang saja yang  dituntut untuk  melakukannya, kecuali bila pemimpin negara menganjurkan semua rakyatnya untuk pergi berperang.

Dalam peperangan seperti ini, berbakti kepada  kedua  orangtua dan berkhidmat kepadanya adalah lebih wajib daripada bergabung kepada  pasukan  tentara  untuk  berperang.  Dan  inilah  yang diingatkan oleh Rasulullah saw.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin Ash r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada  Nabi saw.  Dia  meminta  izin untuk ikut berperang. Maka Rasulullah saw bertanya kepadanya, "Apakah kedua orangtuamu  masih  hidup ?"  Dia  menjawab, "Ya." Rasulullah saw bersabda, "Berjuanglah untuk kepentingan mereka." 10

Dalam riwayat Muslim disebutkan,  ada  seorang  lelaki  datang kepada  Rasulullah  saw kemudian berkata, "Aku hendak berjanji setia  untuk  ikut  hijrah  bersamamu,  dan  berperang   untuk memperoleh pahala dari Allah SWT." Nabi saw berkata kepadanya: "Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih hidup?" Dia  menjawab,  "Ya.  Bahkan  keduanya  masih hidup." Nabi saw bersabda, "Engkau  hendak  mencari  pahala  dari  Allah  SWT?" Lelaki   itu  menjawab,  "Ya."  Nabi  saw  kemudian  bersabda, "Kembalilah kepada kedua  orangtuamu,  perlakukanlah  keduanya dengan sebaik-baiknya."

Diriwayatkan  dari  Muslim  bahwa  ada  seorang  lelaki datang kepada Rasulullah saw seraya  berkata,  "Aku  datang  ke  sini untuk  menyatakan  janji  setia  kepadamu untuk berhijrah, aku telah meninggalkan kedua orangtuaku yang menangis  karenanya." Maka  Nabi  saw bersabda, "Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka  tertawa  sebagaimana  engkau  telah   membuat   mereka menangis."

Diriwayatkan  dari  Anas r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw sambil berkata, "Sesungguhnya aku sangat  ingin  ikut  dalam  peperangan, tetapi aku tidak mampu melaksanakannya." Nabi saw bersabda, "Apakah salah seorang  di antara  kedua  orangtuamu masih ada yang hidup?" Dia menjawab, "Ibuku." Nabi saw bersabda, "Temuilah Allah  dengan  melakukan kebaikan kepadanya. Jika engkau melakukannya, maka engkau akan mendapatkan pahala yang sama  dengan  orang  yang  mengerjakan ibadah haji, umrah, dan berjuang di jalan Allah." 12

Diriwayatkan  dari  Mu'awiyah  bin  Jahimah bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi saw kemudian  berkata,  "Wahai  Rasulullah, aku ingin ikut berperang, dan aku datang ke sini untuk meminta pendapatmu." Maka  Rasulullah  saw  bersabda,  "Apakah  engkau masih mempunyai ibu?" Dia menjawab, "Ya." Rasulullah bersabda, "Berbaktilah kepadanya, karena sesungguhnya  surga  berada  di bawah kakinya." 13

Thabrani  meriwayatkan  hadits  itu dengan isnad yang baik, 14 dengan lafalnya sendiri bahwa  Jahimah  berkata,  "Aku  datang kepada  Nabi  saw  untuk meminta pendapat bila aku hendak ikut berperang. Maka Nabi saw bersabda,  'Apakah  kedua  orangtuamu masih  ada?'  Aku  menjawab,  'Ya.'  Maka  Nabi  saw bersabda, 'Tinggallah bersama mereka, karena sesungguhnya  surga  berada di bawah telapak kaki mereka.'"

BEBERAPA TINGKAT FARDHU KIFAYAH

Saya  ingin  menjelaskan  di  sini  bahwa  sesungguhnya fardhu kifayah juga mempunyai beberapa tingkatan. Ada fardhu  kifayah yang  cukup  hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, dan ada pula fardhu kifayah yang dilakukan oleh orang banyak. Ada pula fardhu-fardhu  kifayah  yang  tidak  begitu  banyak orang yang telah  melakukannya,  bahkan   tidak   ada   seorangpun   yang melakukannya.

Pada  zaman  Imam  Ghazali, orang-orang merasa aib bila mereka tidak menuntut ilmu pengetahuan di  bidang  fiqh,  padahal  ia merupakan  fardhu  kifayah,  dan  pada  masa  yang sama mereka meninggalkan wajib kifayah yang lain; seperti ilmu kedokteran. Sehingga  di suatu negeri kadangkala ada lima puluh orang ahli fiqh, dan  tidak  ada  seorangpun  dokter  kecuali  dari  ahli dzimmah.  Padahal  kedokteran pada saat itu sangat diperlukan, di samping ia juga dapat dijadikan sebagai  pintu  masuk  bagi hukum-hukum dan urusan agama.

Oleh  karena  itu,  fardhu kifayah yang hanya ada seorang yang telah melakukannya adalah lebih utama daripada fardhu  kifayah yang  telah  dilakukan oleh banyak orang; walaupun jumlah yang banyak ini belum menutup semua keperluan. Fardhu kifayah  yang belum  cukup  jumlah  orang yang melakukannya, maka ia semakin diperlukan.

Kadangkala fardhu kifayah dapat meningkat  kepada  fardhu  ain untuk kasus Zaid atau Amr, karena yang memiliki keahlian hanya dia seorang, dan dia mempunyai kemungkinan untuk melakukannya, serta  tidak  ada  sesuatupun  yang menjadi penghalang baginya untuk melakukannya.

Misalnya,  kalau  negara   memerlukan   seorang   faqih   yang ditugaskan  untuk  memberi  fatwa,  dan dia seorang yang telah belajar fiqh, atau  dia  sendiri  yang  dapat  menguasai  ilmu tersebut.

Contoh  lainnya  ialah  guru,  khatib,  dokter,  insinyur, dan setiap orang  yang  memiliki  keahlian  tertentu  yang  sangat diperlukan  oleh manusia, dan keahlian ini tidak dimiliki oleh orang lain.

Misal yang lain  ialah  apabila  ada  seorang  yang  mempunyai pengalaman  di  bidang  kemiliteran  yang  sangat  khusus, dan tentara  kaum  Muslimin  memerlukannya,   yang   tidak   dapat digantikan   oleh   orang   lain,  maka  wajib  baginya  untuk mengajukan diri melakukan tugas tersebut.

Catatan kaki:

10 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Jihad; dan Muslim dalam al-Birr. hadits no. 2549^
11 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dalam al-Jihad (2528): Ibn Majah (2782); dan disahihkan oleh Hakim. 4:152-153, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.^
12 Al-Mundziri berkata dalam kitab ar-Targhib wat-Tarhib: "Abu Ya'la dan Thabrani meriwayatkan dalam as-Shaghir dan al-Awsath, dengan isnad yang baik, Maimun bin Najih yang dikuatkan oleh Ibn Hibban, dan rawi-rawi yang masyhur (al-Muntaqa, 1474). Al-Haitsami mengatakan: "Orang-orang yang meriwayatkannya adalah shahih, selain Maimun bin Najih tetapi telah dikuatkan oleh Ibn Hibban." (Al-Majma', 8:138)^
13 Diriwayatkan oleh Nasai dalam al-Jihad. 6: 111; Ibn Majah (2781); Hakim men-shahih-kannya dan disepakati oleh al-Dzahabi. 4:151.^
14 Begitulah yang dikatakan aleh al-Mundziri (lihat al-Muntaqa, 1475); al-Haitsami berkata: "Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini semuanya tsiqat." (Al-Majma', 8:138)
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

 


PRIORITAS HAK HAMBA ATAS HAK ALLAH SEMATA-MATA
<< Kembali ke Daftar Isi >>
 

KALAU fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.
 
Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  "Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat."
 
Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.
 
Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini --khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda--  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.
 
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,
 
"Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya."15
 
Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, "Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, "Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri."  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  "Apa  yang  engkau  katakan  tadi?" Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  "Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu."16
 
Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,
 
"Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya." 17
 
Satu hukum yang ketatnya serupa dengan ini  ialah  orang  yang tamak  dengan  barang  pampasan, ketika dia sedang berjuang di jalan Allah (yaitu mengambil  pampasan  perang  untuk  dirinya sendiri  padahal  dia  adalah  milik  semua  tentara yang ikut berperang). Kalau  dia  mengulurkan  tangannya  kepada  barang pampasan  sebelum barang itu dibagi-bagikan, walaupun nilainya sangat kecil, maka dia tidak akan menerima pahala berperang di jalan  Allah  sebagai seorang pejuang. Jika dia terbunuh dalam peperangan itu, maka  dia  tidak  berhak  menerima  kehormatan sebagai seorang syahid, dan pahala yang diberikan kepada orang syahid.
 
Pernah di antara barang pampasan Rasulullah  saw  ada  seorang lelaki  bernama  Karkarah,  dia  terbunuh; maka Rasulullah saw bersabda, "Dia akan masuk neraka." Para sahabat kemudian pergi melihat orang itu, ternyata mereka menemukan baju panjang yang telah dia ambil. 18
 
Ada lagi seorang lelaki yang  terbunuh  pada  Perang  Khaibar. Maka   para   sahabat   memberitahukan   kejadian  itu  kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda, "Shalatlah atas  sahabat kamu."  Maka  berubahlah  wajah  semua orang yang ada di situ, kemudian  beliau  bersabda,  "Sesungguhaya  kawan  kamu  telah mengambil  sesuatu  ketika  berjuang di jalan Allah." Kemudian para sahabat  memeriksa  barang-barang  lelaki  itu,  ternyata mereka  menemukan  permata  orang  Yahudi  yang harganya tidak sampai dua dirham. 19
 
Hanya karena sesuatu yang tidak sampai  dua  dirham  harganya, Nabi  saw  menolak  untuk  shalat atas orang itu; agar hal itu dijadikan pelajaran bagi mereka bahwa beliau sangat tidak suka terhadap  kerakusan  terhadap  barang milik orang banyak, baik yang nilainya sedikit maupun banyak.
 
Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ia berkata bahwasanya Umar  telah memberitahukan kepadaku seraya berkata, "Ketika terjadi Perang Khaibar,  ada  beberapa  orang  sahabat  Nabi  yang  menghadap kepadanya  sambil  berkata,  'Fulan syahid, dan Fulan syahid,' sampai mereka melewati  seorang  lelaki  dan  berkata,  'Fulan syahid.'  MakaRasulullah  saw  bersabda,  'Sekali-kali  tidak, sesungguhnya aku telah melihatnya di dalam neraka, karena  ada purdah  yang  diambilnya  atau  baju panjang yang diambilnya.' Kemudian Nabi saw bersabda, 'Wahai  anak  Khattab,  pergi  dan beritahukan  kepada  semua  orang bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman.'"20
 
Apa sebenarnya  yang  hendak  ditunjukkan  oleh  hadits-hadits tersebut?  Sesungguhnya  hadits-hadits  ini menunjukkan betapa besar hak orang lain apa lagi  untuk  perkara  yang  berkaitan dengan  harta  benda,  baik  milik perorangan atau milik umum. Seseorang tidak boleh mengambil hak  orang  lain  dengan  cara yang  tidak  halal, dan memakan makanan dengan cara yang tidak benar, walaupun nilainya sangat  rendah,  karena  sesungguhnya yang  paling  penting  adalah prinsip yang mendasari perbuatan kita itu. Barangsiapa yang memberanikan diri  untuk  mengambil barang  yang sedikit, maka tidak diragukan lagi bahwa dia juga mau mengambil yang  lebih  besar.  Sesungguhnya  sesuatu  yang kecil  akan  membawa kepada sesuatu yang besar. Api yang besar itu kebanyakan berasal dari api yang kecil.
 
Catatan kaki:
 
15 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Amr dalam al-Imarah (1886).^
16 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Qatadah dalam al-Imarah(1885).^
17 Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa'i, dan Hakim, dari Muhammadbin Majasy, yang di-hasan-kan olehnya dalam Shahih al-Jami'as-Shaghir (3600). ^
18 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Amr.^
19 Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Jihad, h. 458; Ahmad, 4: 114; Abu Dawud (2710); Nasai. 4: 64; Ibn Majah (2848); Hakim yang menganggapnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, 2:127, yang disepakati oleh adz-Dzahabi. Semuanya meriwayarkan dari Zaid bin Khalid.^
20 Diriwayatkan oleh Muslim dari Ibn Abbas, dari Umar, dalam kitab al-Iman (182)
^

 

:: bookmark: pakdenono ::


 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com