KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PRIORITAS HAK MASYARAKAT ATAS HAK INDIVIDU



SUATU  prioritas  yang  mesti  kita  berikan  perhatian  ialah kewajiban yang  berkaitan  dengan  hak orang ramai  yang harus kita  dahulukan  atas  kewajiban  yang  berkaitan  dengan  hak individu.  Sesungguhnya  seorang  individu  tidak  akan  dapatmempertahankan dirinya tanpa orang ramai, dan dia  juga  tidakdapat  hidup  sendirian;  karena  sesungguhnya  manusia adalah makhluk  yang  memiliki  kecenderungan  untuk   bermasyarakat; seperti  yang  dikatakan  oleh  para ilmuwan Muslim terdahulu. Manusia  adalah  makhluk  sosial  sebagaimana  dikatakan  oleh ilmuwan  modern.  Seseorang  akan  sedikit  nilainya kalau dia sendirian, dan akan banyak  nilainya  kalau  dia  bersama-sama orang  ramai.  Bahkan dia dianggap tiada ketika dia sendirian, dan baru dianggap ada ketika dia dengan kumpulannya.

Atas dasar itu, kewajiban  yang  berkaitan  dengan  hak  orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu.

Oleh  karena  itu,  para  ulama  menetapkan  apabila   terjadi pertentangan antara kewajiban berperang --yang hukumnya fardhu kifayah--  dengan  berbakti  kepada  orangtua,  maka  berbakti kepada orangtua harus didahulukan, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits-hadits shahih yang telah kami  sebutkan  di  atas. Akan  tetapi,  apabila  perang berubah hukumnya menjadi fardhu ain, yaitu apabila orang-orang  kafir  menyerang  negeri  kaum Muslimin,  maka  perang  diwajibkan atas semua penduduk negara itu untuk mempertahankan negara mereka. Jika  ada  bapak  atau ibu  --karena  alasan-alasan emosional-- menolak keikutsertaan anaknya dalam perang mempertahankan negara, maka  sesungguhnya penolakan itu tidak dibenarkan oleh agama.

Memang   benar,   sesungguhnya  berbakti  dan  mentaati  kedua orangtua  merupakan  fardhu  ain,  dan  perang  dalam  keadaan seperti  itu  juga fardhu ain; namun kefardhuan perang di sini adalah untuk mempertahankan umat secara  menyeluruh,  termasuk kedua  orangtua  itu.  Kalau  tidak, maka negara akan jatuh ke tangan musuh,  atau  seluruh  penduduknya  terbunuh,  termasuk kedua  orang itu. Oleh karena itu, perang pada kondisi seperti ini adalah untuk kemaslahatan orang banyak.

Perang dalam hal ini merupakan hak Allah, dan berbakti  adalah hak  kedua  orangtua, dan hak Allah harus didahulukan atas hak makhluk-Nya.

Uraian  tersebut  merupakan  penegasan   terhadap   apa   yang dikatakan   sebelumnya.   Kebanyakan,   kalimat   'hak  Allah' dipergunakan sebagai ungkapan yang mewakili hak  orang  banyak atau  umat,  karena  sesungguhnya  Allah  SWT tidak memperoleh keuntungan di balik semua hukum tersebut. Hukum-hukum itu pada awal dan akhirnya adalah untuk kepentingan hamba-hamba-Nya.

Sebagai penerapan terhadap kaidah ini, kita harus mendahulukan hak umat  atas  hak  individu.  Imam  al-Ghazali  dan  lainnya membolehkan  penembakan  terhadap kaum Muslimin apabila mereka dijadikan  sebagai  benteng  musuh   (yaitu   apabila   mereka dipergunakan   sebagai  benteng  musuh  yang  diletakkan  pada barisan terdepan) dengan syarat-syarat tertentu; padahal tidak diperselisihkan  lagi  bahwa  menjaga  pertumpahan  darah kaum Muslimin adalah wajib, dan kita tidak boleh menumpahkan  darah mereka dengan cara yang tidak benar. Lalu bagaimana al-Ghazali membolehkan penembakan terhadap orang-orang Muslim yang  tidak bersalah  itu ketika mereka berada di barisan terdepan tentara musuh?

Sesungguhnya  Imam  Ghazali  dan  ulama  yang  sepakat  dengan pendapatnya  membolehkan hal itu adalah untuk melindungi orang banyak, menjaga  umat  dari  kehancuran,  karena  sesungguhnya individu   dapat   diganti,  sedangkan  umat  tidak  akan  ada gantinya.

Para fuqaha mengatakan, "Kalau musuh kita  mempergunakan  kaum Muslimin  sebagai  benteng  pertahanan  mereka,  ketika mereka dijadikan sebagai tawanan; kemudian  mereka  ditempatkan  pada barisan tentara yang terdepan, untuk melindungi tentara mereka sendiri; dan kalau kita tidak  menghancurkan  pasukan  tentara musuh  itu  akan  membahayakan  umat Islam, maka kaum Muslimin yang dijadikan sebagai tameng itu boleh  kita  bunuh.  Pasukan tentara  kaum  Muslimin  boleh membunuh mereka, walaupun darah mereka harus dilindungi karena mereka tidak  berdosa  apa-apa. Sesungguhnya  keadaan  darurat  untuk  memberikan perlindungan kepada umat secara menyeluruh  sangat  memerlukan  pengorbanan orang-orang  yang  dijadikan sebagai benteng itu. Kalau tidak, maka  dikhawatirkan  Islam  akan  tercabut  dari  akarnya  dan dikuasai  oleh  orang-orang  kafir. Dan pahala orang-orang itu kita serahkan kepada Allah." 21

Oleh karena itu, Imam Ghazali menjawab  penolakan  orang-orang yang  tidak  setuju  dengan  praktek  tersebut: "Ini merupakan penumpahan darah orang yang harus  dilindungi  dan  diharamkan darahnya. praktek seperti itu bertentangan dengan hukum agama, karena sesungguhnya bila praktek serupa itu tidak  dijalankan, maka   tidak   akan   terjadi  pertumpahan  darah  yang  tidak dibenarkan. Namun kita mengetahui, bahwasanya agama ini sangat memperhatikan  hak  orang  banyak  daripada hak orang sedikit. Sesungguhnya menjaga kaum Muslimin agar tidak jatuh ke  tangah orang-orang  kafir  adalah lebih penting daripada melaksanakan salah satu tujuan syari'ah agama ini, yaitu  melindungi  darah seorang  Islam. Hal ini lebih penting daripada mencapai tujuan syari'ah itu."22

Pendapat di atas --sebagaimana yang  kami  lihat--  didasarkan atas fiqh pertimbangan.

Contoh  yang  serupa  dengan ini ialah apabila terjadi kondisi darurat  perang  yang   mewajibkan   pembayaran   pajak   atas orang-orang  yang mampu, dan mewajibkan orang-orang kaya untuk membiayai  peperangan.   Sesungguhnya   syari'ah   agama   ini menekankan  dan  mewajibkannya,  sebagaimana  disebutkan dalam pelbagai nas yang ditulis oleh para ahli  fiqh.  Pada  kondisi biasa  (keadaan  damai)  mereka tidak dibebani kewajiban untuk membayar  apa-apa  selain  zakat.  Imam  Ghazali  mengemukakan argumentasi   bagi   pendapatnya   sebagai   berikut:  "Karena sesungguhnya kita mengetahui bahwa apabila ada dua bahaya yang kita  hadapi, maka syari'ah agama ini menganjurkan kepada kita untuk  menolak  bahaya  yang  lebih  besar.  Dan  sesungguhnya bayaran  yang  dikenakan  kepada  setiap orang yang kaya (yang dibebani  tambahan  pembayaran  pajak)  adalah   lebih   kecil bahayanya  atas diri mereka dan harta bendanya daripada bahaya yang timbul apabila negara Islam dikuasai oleh  penguasa  dari luar Islam yang nantinya akan menguasai aturan yang berlaku di negara itu. Dengan adanya tambahan pembayaran pajak  itu  kita dapat  memotong  segala macam kejahatan yang diperkirakan akan timbul." 23

Kasus yang sama  dengan  ini  ialah  pembebasan  tawanan  kaum Muslimin  dari  tangan  orang-orang  kafir, walaupun untuk ini memerlukan biaya yang sangat tinggi. Imam Malik berkata, "Kaum Muslimin  diwajibkan  untuk menebus tawanan yang ada di tangan musuh, walaupun untuk melakukannya diperlukan seluruh kekayaan mereka." 24

Mengapa?  Karena kehormatan para tawanan itu terdiri atas kaum Muslimin,  dan  kehormatan  kaum  Muslimin  berada   di   atas kehormatan  yang  lebih  khusus,  yaitu  harta  kekayaan  yang dimiliki oleh para individu.

Catatan kaki:

21 Lihat Imam al-Ghazali, al-Mustashfa, 1: 294-295^
22 Ibid., 1:303 .^
23 Imam al-Ghazali, al-Mustashfa, 1: 303-304; lihat as-Syathibi, al-I'tisham, 2: 121-122, cet. Syirkah al-I'lanat as-Syarqiyyah.^
24 Abu Bakar Ibn 'Arabi, Ahkam al-Qur'an, 59-60.
^

 

:: bookmark: pakdenono ::
 

 


PRIORITAS WALA' (LOYALITAS) KEPADA UMAT ATAS WALA' TERHADAP KABILAH DAN INDIVIDU

<< Kembali ke Daftar Isi >>


MAKNA ungkapan tersebut ditegaskan dalam al-Qur'an dan  Sunnah Nabi  saw  yang  menganjurkan  kepada  kita untuk mendahulukan wala'  kepada  jamaah,  serta  memberikan   ikatan   emosional terhadap  umat,  daripada memberikan wala' kepada kelompok dan keluarga. Sesungguhnya dalam Islam tidak  ada  individualisme, fanatisme kelompok, dan pemisahan dari jamaah Islam.

Dahulu  konsep kabilah/kelompok/suku pada masyarakat jahiliyah merupakan dasar loyalitas dan  poros  pemberian  Perlindungan. Wala'  yang  diberikan  oleh seseorang kepada kabilahnya harus diberikan pada  saat  kabilahnya  melakukan  kebenaran  maupun kesalahan; sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:

Mereka  tidak  bertanya  terlebih dahulu kepada saudara mereka ketika mereka jatuh ke dalam  suatu  perkara,  dan  menjadikan jawabannya sebagai bukti.

Motto   setiap   orang  di  antara  mereka  ialah:  "Tolonglah saudaramu, baik dia zhalim atau dizhalimi,"  yang  benar-benar mereka laksanakan.

Setelah  datang  Islam,  maka Islam menetapkan bahwa pembelaan itu hanya milik Allah, RasulNya, dan kaum Muslimin, yakni Umat Islam. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang." (al-Ma'idah: 55-56)

Mereka kemudian dididik oleh al-Qur'an  dan  sunnah  Nabi  saw untuk  menjadi  saksi  keadilan  bagi Allah, dengan melepaskan ikatan emosional dan cinta kepada sanak kerabat,  serta  tidak didasarkan  kepada  kebencian  kepada musuh-musuhnya. Keadilan harus diletakkan di atas emosi  dan  ditujukan  kepada  Allah, sehingga seseorang tidak melakukan pemihakan kepada orang yang dicintai olehnya dan merugikan orang  yang  tidak  dia  sukai. Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum Muslimin kerabatmu. . ." (an-Nisa': 135)
  
"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah..." (al-Ma'idah: 8)

Rasulullah  saw  memakai   sebagian   ungkapan   yang   pernah dipergunakan  pada  zaman  Jahiliyah, dan memberi muatan makna yang baru pada ungkapan itu, yang belum pernah dilakukan  oleh seseorang  sebelumnya.  Rasulullah  saw  bersabda,  "Tolonglah saudara,  baik  dia  zhalim  atau  dizhalimi."  Para   sahabat kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, kita boleh menolong kalau dia  dizhalimi,  lalu  bagaimana   mungkin   kami   memberikan pertolongan   kalau   dia   berlaku  zhalim?"  Rasulullah  saw bersabda, "Cegahlah  dia  untuk  tidak  melakukan  kezhaliman, karena  sesungguhaya hal itu merupakan pertolongan baginya."25 Dengan cara seperti  itu  benarlah  konsep  pemberian  bantuan terhadap orang yang zhalim, sehingga yang perlu ditolong ialah hawa  nafsunya,  menyingkirkan  setannya,   dan   kita   perlu menggandeng  tangannya  sehingga  dia  tidak  jatuh  ke jurang kezhaliman, yang menjadi malapetaka di dunia dan kegelapan  di akhirat kelak.

Di samping itu, Rasulullah saw juga memperingatkan kepada kita agar tidak menganjurkan fanatisme, atau  melakukan  peperangan di  bawah  panji fanatisme. Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera   fanatisme   itu,   dia   dianggap   terbunuh   dalam kejahiliyahan.

Dalam   sebuah  hadits  shahih  diriwayatkan  bahwa  Nabi  saw bersabda,

"Barangsiapa terbunuh di bawah bendera kebutaan (perkara yang tidak jelas hukumnya), menganjurkan fanatisme, dan mendukung fanatisme, maka dia mati dalam kejahiliyahan."26

Dalam hadits yang lain disebutkan,

"Barangsiapa memisahkan diri dari ketaatan dan meninggalkan jamaah, kemudian dia meninggal dunia, maka dia mati dalam kejahiliyahan. Dan barangsiapa berperang di bawah bendera kebutaan, marah karena rasa fanatik, atau menganjurkan orang untuk fanatik, dan mendukung fanatisme, kemudian dia terbunuh, maka dia terbunuh dalam keadaan jahiliyah."27

Dalam  sebuah  hadits  yang  diriwayatkan   oleh   Abu   Dawud dikatakan,   "Tidak   termasuk   golongan   kami   orang  yang menganjurkan fanatisme, dan juga tidak termasuk golongan  kami orang yang berperang karena fanatisme, dan juga tidak termasuk golongan kami orang yang meninggal dunia dalam fanatisme."28

"Diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa', aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksudkan dengan fanatisme itu?" Beliau menjawab, "Memberikan pertolongan kepada kaummu yang melalaikan kezhaliman." 29

Ibn Mas'ud meriwayatkan secara mauquf dan marfu',

"Barangsiapa menolong kaumnya yang melakukan sesuatu yang tidak benar, maka dia bagaikan keledai yang digantung, dengan ikatan pada ekornya." 30

Imam al-Khattabi berkata, "Artinya, orang itu telah  jatuh  ke dalam  dosa  dan  hancur, sebagaimana keledai yang terjatuh ke dalam perigi kemudian ia diambil dengan ditarik ekornya,  yang akhirnya tidak dapat diselamatkan."

Nabi  saw sangat membenci fanatisme dan berlepas diri darinya, orang-orang yang menganjurkannya, orang-orang  yang  berperang karenanya,  dan  orang yang meninggal dunia karena membelanya. Beliau menganjurkan hidup berjamaah, dan menegaskannya  dengan sabda,  perbuatan,  dan  ketetapannya. Dia memperingatkan agar orang tidak memisahkan diri darinya, berselisih pendapat,  dan menyimpang dari jamaah tersebut. Di antara sabda Nabi saw yang berkaitan dengan perkara ini ialah:

"Tangan Allah berada di atas jamaah." 31
  
"Berjamaah itu adalah rahmat, dan berpecah-belah adalah azab." 32

Dalam lafaz yang lain disebutkan,

"Berjamaah itu adalah berkah dan berpecah-belah adalah azab."33
  
"Hendaklah kamu hidup berjamaah, dan janganlah kamu hidup berpecah-belah, karena sesungguhnya setan akan bersama orang yang sendirian, dan dia akan berada lebih jauh dari dua orang. Barangsiapa yang ingin merasakan hembusan angin surga, maka hendaklah dia melazimkan hidup berjamaah."34

MENANAMKAN SEMANGAT BERJAMAAH TERHADAP UMAT

Ketika kita berbicara  tentang  pemberian  wala'  kepada  kaum Muslimin,  umat  Islam,  ada  baiknya kita juga melanjutkannya dengan pembicaraan yang berkaitan dengan urusan masyarakat dan umat,   pemberian  prioritas  dalam  tangga  kemaslahatan  dan tuntutannya.

Kalau kita mau memperhatikan, maka sesungguhnya syari'ah Islam ini  sama sekali tidak melalaikan urusan masyarakat, dari segi ibadah,  muamalah,  sopan  santun,  dan  segala   hukum   yang berkaitan dengannya.

Semua  aturan  itu  tidak  lain adalah untuk menyiapkan setiap individu agar menjadi 'bagian' dalam bangunan masyarakat, atau 'anggota tubuh' dalam struktur badan yang hidup.

Penggambaran  seorang  individu  yang  menjadi  'bagian'  dari bangunan, atau 'anggota tubuh' dalam badan  manusia,  bukanlah berasal  dari  pemikiran  saya.  Tetapi  gambaran  yang pernah dikemukakan oleh Nabi saw dalam sebuah hadits yang shahih.

Diriwayatkan dari Abu  Musa  al-Asy'ari  bahwasanya  Nabi  saw bersabda,

"Orang mukmin dengan mukmin yang lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya." 35

Dari  Nu'man  bin  Basyir  diriwayatkan  bahwasanya  Nabi  saw bersabda,

"Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah bagaikan sebuah tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuhnya yang mengadu kesakitan, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya, tidak dapat tidur dan merasa demam." 36

Sesungguhnya Islam, dengan al-Quran dan Sunnah Nabinya,  telah menanamkan  dalam  jiwa  kaum  Muslimin  semangat  untuk hidup berjamaah melalui setiap hukum dan ajarannya.

Dalam shalat, kita dianjurkan shalat berjamaah, shalat  Jumat, shalat  Id.  Ada  adzan  dan  ada masjid-masjid yang dibangun. Rasulullah tidak memberikan keringanan kepada orang buta untuk shalat   di  rumahnya  selama  dia  masih  dapat  mendengarkan panggilan adzan untuk melakukan shalat. Beliau  bahkan  pernah hendak  membakar  rumah  suatu  kaum  Muslimin,  karena mereka meninggalkan shalat berjamaah.

Di masjid, seorang Muslim  tidak  boleh  shalat  sendirian  di belakang  barisan  orang  yang sedang shalat berjamaah, karena hal itu menunjukkan bentuk  pemisahan  diri  dan  penyimpangan dari jamaah; walaupun itu hanya bentuk yang tampak saja.

Diriwayatkan  dari Wabishah bin Mu'abbad bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang lelaki shalat sendiri di belakang  barisan orang   yang   sedang   shalat   berjamaah,   kemudian  beliau memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. 37

Diriwayatkan dari Ali bin Syaiban r.a. berkata,  "Kami  keluar sehingga   kami   berjumpa   dengan  Nabi  saw  kemudian  kamj menyatakan janji setia kepadanya. Kami shalat di  belakangnya, kemudian kami shalat di belakangnya shalat yang lain. Kemudian shalat itu selesai. Setelah itu beliau melihat seorang  lelaki shalat  sendirian  di  belakang barisan. Lalu Nabi saw berdiri ketika beliau  hendak  kembali  sambil  bersabda,    "Betulkan shalatmu,  karena  sesungguhnya  tidak  ada shalat di belakang barisan." 38

Oleh sebab itu, orang Muslim yang masuk masjid,  kemudian  dia menemukan  ada suatu jamaah yang sedang melakukan shalat, maka hendaklah  dia  mencari  celah-celah  di  antara  jamaah   itu kemudian dia masuk ke dalamnya. Jika tidak ada, maka hendaklah dia menarik salah seorang di antara  mereka  untuk  shalat  di sampingnya.  Dia  tidak boleh shalat sendirian, dan orang yang ditarik itu hendaklah mengikutinya; karena untuk kasus ini dia akan mendapatkan pahala tersendiri.

Sebagian    imam    mazhab   mengambil   pengertian   lahiriah hadits-hadits tersebut, sehingga mereka menganggap batal orang yang  shalat sendirian; sedangkan imam yang lainnya menganggap bahwa hal itu hukumnya makruh.

Arti dari apa yang telah kami sebutkan di  atas  ialah  betapa gigihnya  Islam hendak mewujudkan persatuan dan kesatuan, baik dari segi kandungannya  maupun  bentuknya,  dari  inti  maupun penampakan luarnya.

Kalau  ada  seorang Muslim yang shalat sendirian, tidak sedang berjamaah, maka dia  dianggap  mewakili  kaum  Muslimin  dalam memanjatkan  doa  kepada Tuhannya. Dia menyebut dirinya dengan mengatasnamakan jamaah (kesatuan kaum Muslimin)  sehingga  dia membaca:

"Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Berilah petunjuk kepada kami untuk meniti jalan yang lurus." (al-Fatihah: 5-6)

Dia tidak memohon pertolongan  untuk  dirinya  sendiri  bahkan memohon untuk dirinya dan jamaahnya dalam saat yang sama.

Pada  bulan  puasa,  dia juga tidak berpuasa sendirian. Ketika seseorang melihat bulan sabit pada akhir bulan  Ramadhan,  dia juga  tidak  berbuka  sendiri; yaitu ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bulan sabit yang menunjukkan kedatangan bulan  Syawal  itu.  Dia  berpuasa  bersama orang-orang Muslim lainnya, dan juga berbuka puasa  bersama-sama  dengan  mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih.

Begitu pula halnya dengan wukuf di Arafah. Dia melakukan wukuf bersama jamah kaum Muslimin yang sangat banyak.

Ibn Taimiyah pernah ditanya oleh penduduk  desa  yang  melihat bulan  sabit  Dzulhijjah,  tetapi  penguasa  di  Madinah tidak melihatnya. Apakah mereka boleh melakukan puasa  9  Dzulhijjah berdasarkan   perhitungan   orang   desa  itu,  walaupun  pada hakikatnya hari itu  adalah  10  Dzulhijjah  menurut  pendapat penguasa mereka. Dia menjawab, "Ya, mereka boleh berpuasa pada 9 Dzulhiljah berdasarkan penglihatan mereka, walaupun  menurut penghitungan  penguasa  hari  itu  10  Dzulhijjah;  karena ada hadits dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa  Nabi  saw bersabda,

"Puasa kamu adalah puasa ketika kamu semua berpuasa, dan hari raya kamu adalah ketika kamu semua berhari raya, dan Id al-Adha-mu adalah ketika kamu semua berhari raya Id al-Adha." 39
 
Diriwayatkan dari 'Aisyah r.a. berkata  bahwa  Rasulullah  saw bersabda,

"Hari raya Id al-Fitri ialah ketika semua orang berhari raya Id al-Fitri, dan hari raya Id al-Adha ialah ketika semua orang berhari raya Id al-Adha." 40

Demikianlah amalan menurut pendapat para imam  kaum  Muslimin. Karena   sesungguhaya,   apabila   semua   orang  tidak  tepat tarikh-nya berada di Arafah pada tanggal  sepuluh  Dzulhijjah, maka  semua imam sepakat bahwa mereka akan tetap diberi pahala wuquf di Arafah. Dan itulah Hari Arafah menurut mereka. 41

Catatan kaki:
  
25 Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi dari Anas; dan juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir dengan makna hadits yang sama (lihat Shahih al-Jami' as-Shaghir, 1501, 1502) ^
26 Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-Imarah, no. 1850, dari Jundub bin Abdullah al-Bajali.^
27 Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. hadits no. 1848^
28 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Adab min al-Sunan (5121)^
29 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5119)^
30 Hadits mauquf yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (5117) dan marfu' (5118)^
31 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibn Abbas, Ibn Ashim; dan Hakim dari Ibn Umar, Ibn Abi Ashim, dari Usamah bin Syarik, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (8065)^
32 Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad; dan Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Nu'man bin Basyir; sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir.^
33 Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman juga dari Nu'man; sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3014)^
34 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dalam al-Jihad (2528). Ibn Majah (2782). di-shahihkan oleh Hakim. 4: 152-153, yang disepakati oleh adz-Dzahabi.^
35 Muttafaq 'Alaih, dari Abu Musa. Lihat al-Lu'lu' wa al-Marjan (1670)^
36 Muttafaq 'Alaih, dari Nu'man bin Basyir, lihat al-Lu'lu' wal-Marjan (1671)^
37 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (682); Tirmidzi yang menganggapnya sebagai hadits hasan (230); dan Ibn Majah (1004)^
38 Diriwayalkan olch Ibn Majah ( 1003), dan disebutkan dalam az-ZIwa tid bahwa isnad hadits ini shahih, danpara perawinya tsiqah (dapat dipercaya).^
39 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibn Majah, dan Tirmidzi yang men-shahih-kan hadits ini.^
40 Diriwayatkan oleh Tirmidzi .^
41 Syarh Ghayah al-Muntaha fi al-Fiqh al-Hanbali, 2: 217-218.
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com