KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

KEMAKSIATAN BESAR YANG DILAKUKAN OLEH HATI MANUSIA  (2/2)


 
CINTA HARTA, KEHORMATAN DAN KEDUDUKAN
 
Cinta  dunia  itu  berbentuk  cinta  harta   kekayaan,   cinta kehormatan  dan  kedudukan,  dengan  disertai rasa tamak untuk memperoleh dua jenis kehidupan dunia itu, sehingga orang  yang hendak mencarinya mengorbankan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kehidupannya asal dapat mencapai apa  yang  diidam-idamkannya, sehingga  agama  dan imannya hilang dari dirinya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
 
"Dua ekor serigala yang lapar, kemudian dilepaskan di  tengah kawanan kambing, kerusakan yang ditimbulkannya  tidak separah kerusakan yang menimpa keagamaan seseorang  akibat ketamakannya dalam mencari kekayaan dan  kehormatan." 41
 
Ketamakan memang diperlukan oleh manusia, tetapi  dalam  kadar yang  wajar.  Kalau  ketamakan  sudah tidak terkendalikan, dan anginnya berhembus, kemudian hawa nafsunya  juga  sudah  tidak terkendali,  maka  ia  akan menimbulkan kerusakan; sebagaimana yang dilakukan  oleh  dua  ekor  serigala  yang  sedang  lapar kemudian  berjumpa  dengan  seekor  kambing  yang  hilang dari tuannya. Kerusakan itu disebabkan oleh adanya rasa tamak  yang menyebabkan  kesombongan dan kerusakan yang sangat dicela oleh agama itu. Allah SWT berfirman:
 
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (al-Qashas: 83)
 
Di antara tanda-tanda cinta dunia  adalah  ketamakan  terhadapkedudukan,   kerakusan   terhadap   kepemimpinan,  dan  senangmenampakkan diri, padahal ia dapat menghancurkan kehidupan.
 
Nabi saw sangat mengkhawatirkan keadaan ini pada umatnya,  dan bersabda,
 
"Sesungguhnya kamu kelak akan tamak kepada kepemimpinan, padahal ia akan menyebabkan penyesalan dan kerugiankelak pada hari kiamat. Maka alangkah bahagianya orang yang menyusui dan betapa ruginya orang yang disapih." 42
 
Nabi saw menyamakan  antara  manfaat  yang  diperoleh  melalui kepemimpinan  dan  orang yang menyusui, serta menyamakan orang yang disapih dengan pemimpin yang sudah lepas dari jabatannya, karena mati atau dicopot. Kepemimpinan itu memang mendatangkan manfaat dan kenikmatan tetapi  cepat  sekali  menghilang,  dan akan  berakhir  dengan  kerugian.  Oleh karena itu, orang yang berakal tidak akan tamak  terhadap  kenikmatan  yang  sifatnya sementara, yang banyak menimbulkan kerugian.
 
Di  antara  kemaksiatan  hati  yang  dianggap besar ialah rasa putus asa dari rahmat Allah SWT.
 
"... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf 87)
  
"Ibrahim berkata, "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat." (al-Hijr: 56)
 
Termasuk dalam kemaksiatan hati yang besar juga  ialah  merasa aman dan azab Allah SWT. Allah SWT berfirman:
 
"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang
tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 99)
 
Kemaksiatan besar lainnya ialah merasa senang apabila kekejian menyebar di dalam kaum Mukmin. Allah SWT berfirman:
 
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat..." (an-Nur: 19)
 
Itulah sebagian kemaksiatan besar  yang  dilakukan  oleh  hati manusia atau hal-hal yang dapat membinasakan kehidupannya, dan hanya sedikit sekali  orang  yang  peduli  terhadapnya  karena mereka  lebih  memperhatikan  kepada  amalan-amalan  lahiriah, berupa ketaatan yang dianjurkan dan kemaksiatan yang dilarang. Kemaksiatan  hati  itulah  yang  oleh  Imam  Ghazali dinamakan dengan hal-hal yang merusak (al-muhlikat).  Dia  mengkhususkan pembahasan mengenai hal ini tiga perempat bukunya, Ihya' 'Ulum al-Din. Maka betapa indahnya bila pemeluk agama ini  dan  para dainya  memberikan  perhatian  kepada apa yang diutamakan oleh agama  ini,  sehingga  mereka  mau  mengerahkan  pikiran   dan perasaannya kepada pendidikan dan pengajaran.
 
HAL-HAL KECIL YANG DIHARAMKAN
 
Setelah berbicara tentang dosa-dosa  besar  yang  sama  sekali diharamkan   oleh  agama  ini,  maka  ada  baiknya  kita  juga berbicara tentang dosa-dosa kecil,  yang  oleh  agama  disebut dengan istilah lamam (remeh) dan muhaqqarat (hina)
 
Hampir  tidak  ada  orang yang luput dari dosa kecil ini. Oleh karena  itu,  dosa-dosa  kecil  ini  sangat   berbeda   dengan dosa-dosa  besar.  Dosa-dosa  kecil  ini dapat dihapuskan oleh shalat lima waktu, shalat  Jumat,  puasa  Ramadhan  dan  qiyam lail, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
 
"Shalat lima waktu, shalat Jumat kepada shalat Jumatberikutnya, puasa Ramadhan hingga puasa Ramadhanberikutnya dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, apabilaseseorang menjauhkan diri dari dosa-dosa yang besar." 43
 
Dalam as-Shahihain, disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
 
"Apakah pendapatmu apabila ada sebuah sungai berada di depan pintu rumah salah seorang di antara kamu, kemudian dia mandi setiap dan sebanyak lima kali; maka apakah masih ada lagi sesuatu kotoran di badannya? Begitulah perumpamaan shalat lima waktu itu, dimana Allah SWT menghapuskan kesalahan-kesalahan kecil hamba-Nya." 44
 
Dalam kitab yang sama disebutkan,
 
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keyakinan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu."
  
"Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan penuh perhitungan, maka akan diampuni dosa-dosanya terdahulu."45
 
Bahkan  al-Qur'an  menyebutkan  bahwa  hanya  dengan   sekadar menjauhi  dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecil akan diampuni. Allah SWT berfirman: "Jika kamu menjauhi  dosa-dosa  besar  di antara  dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, maka Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan  Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (an-Nisa': 31)
 
Adapun  dosa-dosa  besar  tidak  akan  diampuni kecuali denganmelakukan tobat yang benar.
 
Sedangkan dosa-dosa kecil, hampir dilakukan oleh setiap  orang awam.  Oleh  sebab  itu,  ketika Allah memberikan sifat kepada orang yang suka berbuat baik di  antara  para  hamba-Nya,  Dia tidak  memberikan sifat kepada mereka kecuali dengan "menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan yang keji."
 
"... dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf." (as-Syura: 36-37)
  
"Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya..." (an-Najm: 31-32)
 
Itulah sifat orang-orang yang  suka  melakukan  kebaikan,  dan memiliki  sifat  yang  baik.  Mereka menjauhkan diri dari dosa besar, dan kekejian, kecuali dosa-dosa kecil  (al-lamam).  Ada beberapa  riwayat  dari  para ulama terdahulu berkaitan dengan penafsiran kata "al-lamam" dalam ayat tersebut. Ada di  antara mereka  berkata,  "Artinya,  mereka  tahu  bahwa perbuatan itu merupakan suatu dosa, kemudian mereka tidak mengulanginya lagi walaupun itu dosa besar."
 
Abu  Salih  berkata,  "Aku pernah ditanya tentang firman Allah 'al-laman' kemudian aku berkata, 'Yaitu  dosa  yang  diketahui oleh   seseorang   kemudian  dia  tidak  mengulangi  dosa  itu kembali.' Kemudian aku  menyebutkan  jawaban  itu  kepada  Ibn Abbas.  Maka  dia  berkata, 'Sungguh engkau telah dibantu oleb malaikat yang mulia dalam menafsirkan kata itu.'"
 
Jumhur ulama berkata bahwa sesungguhnya al-lamam adalah berada di  bawah  tingkatan  dosa-dosa  besar. Begitulah riwayat yang paling shahih diantara riwayat yang berasal  dari  Ibn  Abbas, sebagaimana  disebutkan  dalam  Shahih  al-Bukhari: "Aku tidak melihat hal yang lebih serupa dengan al-lamam kecuali apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw:
 
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian-bagian zina
terhadap anak Adam. Dia pasti melakukan hal itu. Mata berzina dengan melakukan penglihatan, lidah berzina dengan melakukan percakapan, hawa nafsu melakukan zina dengan berkhayal dan mengumbar syahwat, kemudian farji membenarkan atau mendustakannya.'" (Diriwayatkan oleh Muslim). Dalam riwayat itu juga disebutkan: "Kedua mata melakukan zina dengan pandangan, kedua telinga melakukan zina dengan pendengaran, lidah melakukan zina dengan percakapan, dan tangan melakukan zina dengan memukul, serta kaki melakukan zina dengan melangkah."
 
Imam Ibn al-Qayyim berkata, "Yang benar adalah pendapat Jumhur ulama  yang  mengatakan  bahwa al-lamam ialah dosa-dosa kecil, seperti melihat, mengedipkan  mata,  mencium,  dan  lain-lain. Pendapat  ini  berasal  dan  Jumhur  sahabat  dan  orang-orang setelah mereka; seperti Abu Hurairah  r.a.,  Ibn  Mas'ud,  Ibn Abbas,  Masruq,  dan  al-Sya'bi.  Pendapat ini tidak menafikan pendapat Abu Hurairah r.a. dan Ibn Abbas  dalam  riwayat  yang lainnya:  'Yakni  seseorang mengetahui dosa besar itu kemudian dia tidak mengulanginya lagi.'  Karena  sesungguhnya  al-lamam sama-sama  mencakup  keduanya. Ini bermakna bahwa Abu Hurairah r.a.  dan  Ibn  Abbas  bermaksud  bahwa  ada  seseorang   yang melakukan   dosa   besar   satu   kali,   kemudian  dia  tidak mengulanginya lagi,  dan  hanya  sekali  itu  dilakukan  dalam hidupnya,  dan  ini  dinamakan  al-lamam. Kedua orang ini juga berpandangan bahwa al-lamam juga dapat berarti dosa-dosa kecil yang   lama  kelamaan  menjadi  besar  karena  sering  diulang berkali-kali. Dan itulah  yang  dipahami  dari  pendapat  para sahabat r.a., dari kedalaman ilmu mereka. Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah SWT  membedakan  toleransi  kepada  hamba-Nya satu  atau  dua kali, atau tiga kali. Yang dikhawatirkan ialah kesalahan kecil yang  seringkali  dilakukan  sehingga  menjadi kebiasaan.  Dan  bila  sering  dilakukan  maka  akan bertumpuk menjadi dosa yang banyak." 46
 
Walaupun syariah agama ini memberikan toleransi dan menganggap enteng  dosa-dosa  kecil  dan  ringan,  tetapi  dia memberikan peringatan   agar   tidak   mengentengkannya,   dengan   terus melakukannya. Karena semua perkara yang kecil apabila ditambah dengan perkara  yang  kecil  secara  terus-menerus  maka  akan menjadi besar. Sesungguhnya dosa-dosa yang kecil dapat menjadi dosa besar, dan dosa  besar  mengakibatkan  kepada  kekufuran. Kebanyakan api yang besar asalnya adalah api yang kecil.
 
Sehubungan  dengan  hal  ini  Sahl bin Sa,ad meriwayatkan dari Nabi saw,
 
"Jauhilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil adalah sama dengan perumpamaan suatu kaum yang turun ke sebuah lembah. Kemudian ada seorang di antara mereka membawa satu batang kayu, lalu ada lagi orang lain yang membawa sebatang kayu lagi, sampai batang kayu itu dapat dipergunakan untuk memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bila dilakukan secara terus-menerus, dapat membinasakan orang yang melakukannya."47
 
Ibn Mas'ud  meriwayatkan  dengan  lafal:  "Jauhilah  dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil yang berkumpul pada diri seseorang akan dapat menghancurkannya." Dan  sesungguhnya Rasulullah  saw  mengambil  satu  perumpamaan  dosa  kecil ini bagaikan suatu kaum yang tinggal di suatu lembah, lalu  datang seorang  pembuat roti, kemudian dia menyuruh orang untuk pergi mencari  batang  kayu;  kemudian  orang-orang  datang  membawa batang  kayu  itu  sampai jumlahnya sangat banyak. Lalu mereka menyalakan api dan memasak  apa  yang  mereka  berikan  kepada tukang roti itu."48
 
Ringkasan    perumpamaan    itu    adalah   sebagai   berikut: "Sesungguhnya  ranting-ranting  kayu  yang  kecil  itu  ketika dikumpulkan   akan   dapat   membuat   api   yang   besar  dan menyala-nyala. Begitu pula dosa-dosa kecil dan remeh."
 
Diriwayatkan  dari  Ibn  Mas'ud:  "Orang  Mukmin  itu  melihat dosanya  bagaikan  gunung sehingga dia takut tertimpa olehnya; sedangkan  orang  munafiq  melihat  dosanya   bagaikan   lalat sehingga  dia selalu terjerumus ke dalam dosa. Dengan dosa itu dia begini dan begitu." 49 (Sambil memberikan  isyarat  dengan tangannya yang terombang-ambing).
 
Imam Ghazali mengatakan dalam bab at-Taubah, di dalam bukunya, al-Ihya',  tentang  adanya  sejumlah  perkara   besar   karena perkara-perkara  yang  kecil,  dan  perkara yang besar menjadi lebih besar. Antara  lain:  Menganggap  kecil  dosa-dosa  yang kecil  dan  meremehkan  kemaksiatan,  sehingga  sebagian orang salaf berkata,  "Sesungguhnya  dosa  yang  dikhawatirkan  oleh pelakunya  untuk  tidak diampuni ialah yang dikatakan olehnya: 'Alangkah  baiknya  bila  seluruh  dosa  yang   saya   lakukan dikhawatirkan  seperti  ini.'  Dosa lainnya ialah yang sengaja ditampakkan  oleh  pelakunya.  Dalam  sebuah   hadits   shahih dikatakan,  'Seluruh  umatku  akan diampuni kecuali orang yang sengaja melakukan dosa-dosa secara demonstratif.'
 
Ibn al-Qayyim berkata, "Di  situlah  kita  mesti  berhati-hati dalam  melangkah.  Karena  sesungguhnya dosa besar itu apabila disertai  dengan  malu,  rasa  takut,  dan  anggapan  terhadap sesuatu  yang besar padahal sebetulnya sesuatu itu kecil, maka dia tidak akan  melakukan  perbuatan  dosa.  Sebaliknya,  dosa kecil  apabila  tidak disertai dengan rasa malu, tidak peduli, tidak takut, dan meremehkannya, maka  dia  akan  menjadi  dosa besar.  Dan bahkan akan menduduki peringkat yang paling tinggi di antara dosa-dosa tersebut."50
 
Begitu  pula  halnya  dengan  satu  kemaksiatan  akan  berbeda dosanya   sesuai   dengan   tingkat  perbedaan  individu  yang melakukannya dan keadaannya. Zina yang dilakukan oleh  seorang bujang  tidak  sama dengan zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Dosa zina yang dilakukan oleh pemuda yang belum menikah  dengan  orang  tua  yang  sudah  menikah  tidak dapat disamakan  begitu  pula  zina  yang  dilakukan  dengan   istri tetangga  atau  istri  orang yang sedang pergi berperang, atau dengan mahramnya, atau zina pada siang Ramadhan. Dosa zina itu tidak  dapat  disamakan.  Setiap  keadaan  akan dinilai secara tersendiri oleh Allah SWT.
 
Allamah Ibn Rajab pernah mengatakan sesuatu yang sangat  baik, dan ada baiknya bila saya kutipkan di sini.
 
Perkara  yang  diharamkan telah disebutkan dengan sangat jelas di dalam al-Qur'an; seperti firman Allah SWT:
 
"Katakanlah: 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orangtua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan...'" (al-An'am: 151)
 
Hingga tiga ayat berikutnya.
 
"Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.'" (al-A'raf: 33)
 
Selain itu,  al-Qur'an  dalam  beberapa  ayatnya  mengharamkan secara   khusus,   beberapa  jenis  makanan  sebagaimana  yang disebutkan di dalam beberapa tempat.  Misalnya,  firman  Allah SWT:
 
"Katakanlah: 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi --karena sesungguhnya semua itu kotor-- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah...'" (al-'An'am: 145)
  
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) di sebut nama selain Allah..." (al-Baqarah: 173)
  
"... dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain nama Allah ..." (an-Nahl: 115)
  
"Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah..." (al-Ma'idah: 3)
 
Al-Qur'an juga menyebutkan perkara-perkara yang ada  kaitannya dengan nikah:
 
"Diharamkan atas kamu mengawini ibumu, anak-anakmu yang perempuan ... (an-Nisa': 23)
 
Ia juga menyebutkan  hasil  kerja  yang  diharamkan,  misalnya dalam firman-Nya:
 
"... padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (al-Baqarah: 270)
 
Sedangkan sunnah Nabi saw yang  menyebutkan  beberapa  perkara yang diharamkan ialah:
 
"Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamar,bangkai, babi, berhala." 51
"Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan harganya." 52
"Setiap yang memabukkan adalah haram." 53
"Sesungguhnya darah, harta kekayaan, dan kehormatan kamuadalah diharamkan atas kamu." 54
 
Perkara yang telah dijelaskan di dalam  al-Qur'an  dan  sunnah sebagai sesuatu yang haram, maka ia adalah tetap haram.
 
Kadangkala  pengharaman  itu diungkapkan melalui larangan yang disertai dengan ancaman yang keras, seperti firman Allah SWT:
 
"... sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat, Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu dan mengerjakan pekerjaan itu." (al-Ma'idah: 90-91)
 
Adapun yang  berkaitan  dengan  ungkapan  yang  hanya  sekadar melarang, maka orang-orang berselisih pendapat, apakah hal itu menunjukkan pengharaman ataukah tidak? Ada satu  riwayat  dari Ibn  Umar  yang  menyebutkan  bahwa  hal itu tidak menunjukkan pengharaman. Ibn al-Mubarak berkata bahwa dia diberitahu  oleh Salam  bin  Abi  Muthi',  dari  Ibn Abu Dakhilah, dari ayahnya berkata, "Dahulu aku  pernah  bersama  dengan  Ibn  Umar  yang berkata,  'Rasulullah  saw  melarang mencampurkan antara kurma basah dan kurma kering.' Kemudian seorang lelaki di belakangku berkata, 'Apa yang dia katakan?' Aku menjawab: 'Rasulullah saw telah mengharamkan pencampuran antara kurma  basah  dan  kurma kering.'  Maka  Abdullah  ibn Umar berkata, 'Bohong.' Lalu aku berkata, 'Tidakkah engkau telah  mengatakan,  'Rasulullah  saw melarangnya',  maka  apakah  itu tidak menunjukkan keharaman?' Ibn Umar menjawab: 'Engkaukah yang menjadi saksi  untuk  itu?' Salam  kemudian  berkata,  'Seakan-akan  dia  berkata bahwa di antara larangan Nabi saw adalah termasuk adab.'"55
 
Telah kami sebutkan di muka tentang para ulama wara',  seperti Ahmad  dan  Malik  yang  sangat berhati-hati dalam menggunakan kata "haram" untuk perkara yang belum  diyakini  keharamannya, karena   mungkin   perkara   itu  adalah  syubhat  atau  masih diperselisihkan.
 
Al-Nakha'i  berkata,  "Dahulu  mereka  tidak   suka   terhadap beberapa  hal  yang  tidak  mereka haramkan." Ibn Aun berkata, "Makhul berkata kepadaku, 'Bagaimanakah pendapat kamu  tentang buah  yang dilemparkan ke tengah-tengah kaum Muslimin kemudian mereka mengambilnya?'  Aku  menjawab  'Sesungguhnya  buah  itu menurut   pendapat  kami  adalah  makruh.'  Dia  berkata,  'Ia termasuk hal yang haram.' Aku berkata, 'Sesungguhnya buah  itu menurut  pendapat  kami  adalah  makruh."  Dia  berkata,  'Ia termasuk hal yang haram.'" Ibn  Aun  berkata,  "Kami  kemudian menjauhinya karena ucapan Makhul itu."
 
Ja'far bin Muhammad berkata, "Saya mendengarkan seorang lelaki bertanya kepada  Qasim  bin  Muhammad:  'Apakah  nyanyian  itu haram?' Qasim kemudian diam, lalu lelaki itu kembali bertanya, dan Qasim tetap diam, ia kembali bertanya, lalu Qasim  berkata kepadanya:  'Sesungguhnya haram itu adalah apa yang diharamkan di dalam al-Qur'an dan Sunnah. Apakah engkau  melihat  apabila musik   (nyanyian)   itu   dikaitkan   dengan   kebenaran  dan kebathilan, maka ke bagian manakah nyanyian itu lebih  dekat?' Lelaki  itu  kemudian  menjawab:  'Kepada  kebathilan.'  Qasim kemudian berkata,  'Begitulah  seharusnya  kamu,  dan  berilah fatwa kepada dirimu sendiri.'"
 
Abdullah  bin  Imam  Ahmad  berkata,  "Aku  mendengar  bapakku berkata, 'Adapun berkaitan dengan hal-hal yang  dilarang  oleh Rasulullah  saw  maka  ada  beberapa  perkara yang diharamkan. Seperti sabdanya, Seorang wanita dilarang untuk dinikahi  atas saudara  perempuan  bapaknya  atau saudara perempuan ibunya.56 Untuk hal  seperti  ini  adalah  haram.  Rasulullah  saw  juga melarang  penggunaan  kulit binatang buas,57 maka larangan ini menunjukkan kepada sesuatu yang  haram.  Tetapi  ada  larangan dari  Nabi  saw  yang  menunjukkan bahwa larangan itu hanyalah sebagai adab.58

 
Catatan kaki:
 

41 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ka'ab bin Malik, 3: 456, 460; dan diriwayatkan oleh Tirmidzi az-Zuhd. Dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih (2377); al-Manawi menukilnya dalam al-Faidh dari al-Mundziri yang mengatakan bahwa Isnad hadits ini hasan (5:446) ^
42 Diriwayatkan oleh Bukhari dan Nasa'i dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami,as-Shaghir, 2304) ^
43 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. ^
44 Muttafaq Allaih dari Abu Hurairah r.a., al-Lu'lu' wal-Marjan (435); al-Muntaqa min at-Targhib wat-Tarhib, 514. ^
45 Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah r.a. al-Lu'lu' wal-Marjan (435); al-Muntaqa min at-Targhib 514. Yang dimaksudkan dengan dosa-dosa di sini ialah dosa-dosa kecil dan bukan dosa-dosa besar. ^
46 Lihat Ibn al-Qayyim. Madarij ai-Salikin, 1:316-318, cet. Al-Sunnah al-Muhammadiyyah, yang ditahqiq oleh Muhammad Hamid al-Faqi. ^
47 al-Haitsami mengatakan dalam al-Majma', 10:190: "Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan rijal yang shahih; dan diriwayatkan oleh Thabrani sebanyak tiga kali melalui dua rangkaian sanad, dengan rijal hadits yang shahih selain Abd al-Wahhab bin al-Hakam. Dia adalah seorang tsiqat. Dia menyebutkannya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (2686), kemudian dia menisbatkannya kepada Baihaqi dalam al-Syu'ab wa al-Dhiya'" ^
48 al-Haitsami mengatakan dalam al-Majma', 10:189: "Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dengan rijal yang shahih selain Imrah al-Qattan, tetapi dia dianggap tsiqat. Al-Manawi mengutip dari al-Hafiz al-Iraqi bahwa isnad hadits ini shahih." Al-Alai berkata, "Hadits ini baik, sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim." Ibn Hajar berkata, "Sanad hadits ini hasan." (Al-Faidh, 3:128)  `^
49 Diriwayatkan oleh Bukhari ^
50 Madarij al-Salikin, 1: 328 ^
51 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir, 3:324,326,340; dan Bukhari (2236), dan (42961; Muslim (1581); Abu Dawud (3486); Tirmidzi (1298); Nasai, 7:177,309; dan Ibn Majah (2167)  ^
52 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3488) dari hadits Ibn Abbas dengan isnad yang shahih. ^
53 Diriwayatkan oleh Muslim (2003); Abu Dawud (3679); Tirmidzi (1864); dan Nasai, 8:297 dari hadits Ibn Umar. ^
54 Sudah pernah disebutkan periwayatan haditsnya dari Abu Bakrah. ^
55 Ibn Abu Dakhilah dan ayahnya adalah dua orang yang tidak diketahui. ^
56 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a. (1109), (1110); Muslim (1408); Abu Dawud (2065) dan (2066); Nasai, 7:97; Ibn Majah (1929). ^
57 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4132); Tirmidzi (1770) dan (1771); Nasa'i, 7:167; Hakim, 1:144 dari Sa'id bin Abu Urubah; kemudian diriwayatkan dari Syu'bah, dari Yazid al-Rusyk, dari Abu al-Malih, dan Nabi saw dengan cara mursal. Dia berkata, "Ini lebih shahih." Lihatlah al-Baghawi, Syarh as-Sunnah. 2:99-100.
^
58 Ibn Rajab, Jami, al-'Ulum wa al-Hukm, yang di-tahqiq oleh Syu'aib al-Arnauth, yang takhrij haditsnya ada yang telah kita pergunakan, 2:157-160, cet. ar-Risalah.
^

 

:: bookmark: pakdenono ::

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com