KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PANDANGAN PARA PEMBARU TENTANG FIQH PRIORITAS  (2/2)



TIMBANGAN YANG TETAP ITU ADALAH TIMBANGAN ALLAH SWT.

Apa   yang   akan  terjadi  kalau  masyarakat  tidak  mengenal kekuasaan Allah? Dan  apa  yang  terjadi  kalau  mereka  tidak menetapkan hukum berdasarkan syari'ah-Nya? Dan bahkan apa yang akan terjadi  kalau  masyarakat  menghina,  mencemoohkan,  dan mengingkari  orang  yang  mengajaknya  kepada jalan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT?

Jangan sampai ada perjuangan yang sia-sia, tidak  berguna  dan hampa.  Yakni  jangan  ada  masyarakat  yang  menyuruh  kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dalam perkara-perkara kecil di  dalam  kehidupan mereka berdasarkan pertimbangan dan nilai yang berbeda-beda, dan diperselisihkan oleh pendapat dan  hawa nafsu mereka.

Oleh  sebab  itu,  pertama-tama  harus  ada  kesepakatan  yang prinsipil terhadap masalah hukum,  timbangan,  dan  kekuasaan, yang  dapat  dijadikan  sebagai  rujukan bagi orang-orang yang berselisih pendapat dalam pandangan dan hawa nafsu mereka.

Mau tidak mau, harus  ada  amar  ma'ruf  kepada  perkara  yang paling  besar.  Yaitu  pengakuan  terhadap kekuasaan Allah dan jalan  hidup  yang  ditentukan  oleh-Nya;   serta   pencegahan terhadap   kemungkaran  yang  paling  besar,  yaitu  penolakan terhadap ketuhanan Allah, penolakan terhadap syari'ah-Nya bagi kehidupan  ini...  Setelah  kita  membangun landasan itu, kita dapat mendirikan bangunan di atasnya. Oleh sebab itu, kekuatan yang  terpecah-pecah  sekarang  ini  harus  disatukan semuanya menuju kepada satu  arah  untuk  membangun  landasan  yang  di atasnya dapat didirikan bangunan.

Kadang-kadang  manusia  terlalu memuji dan kagum kepada orang- orang yang baik, yang berjuang dengan gigih untuk melaksanakan amar  ma'ruf  dan  nahi  mungkar,  dalam  hal-hal  yang kecil, padahal dasar yang menjadi landasan hidup  masyarakat  Muslim, dan tegakaya amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terlupakan.

Lalu, apakah ada artinya engkau melarang manusia untuk memakan makanan yang  haram,  misalnya,  pada  suatu  masyarakat  yang ekonominya  didasarkan  kepada  riba,  sehingga  seluruh harta kekayaan yang ada di dalam masyarakat itu menjadi  haram,  dan tidak  ada  lagi  seseorang  yang  dapat  memakan makanan yang halal... Semua itu karena aturan  sosial  dan  ekonomi  mereka tidak  didasarkan  kepada  syari'ah  Allah, atau karena mereka menolak ketuhanan Allah dengan menolak penerapan  syari'ah-Nya dalam kehidupan ini.

Apa  artinya  kalau kita melarang manusia melakukan kefasikan, misalnya, dalam suatu masyarakat yang  undang-undangnya  tidak menganggap  perzinaan  sebagai suatu kejahatan --kecuali dalam kondisi yang sangat terpaksa--  dan  tidak  mengenakan  sanksi terhadap pelakunya yang sesuai dengan syari'ah Allah SWT. Jika demikian, hal itu  dianggap  menolak  ketuhanan  Allah  dengan menolak penerapan syari'ah-Nya dalam kehidupan ini.

Apa artinya kalau kita melarang manusia untuk bermabuk-mabukan dalam masyarakat yang undang-undangnya  membolehkan  peredaran minuman  keras, dan tidak memberikan sanksi kepada orang-orang yang jelas mabuk di tengah-tengah keramaian manusia. Ia  tidak diberi sanksi dengan hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah, karena masyarakat itu tidak mengakui prinsip kekuasaan Allah.

Apa artinya, kita melarang manusia menghina agama dalam  suatu masyarakat  yang  tidak  mengakui  kekuasaan  Allah, dan tidak menyembah-Nya. Masyarakat yang menyembah pelbagai tuhan selain Dia.     Masyarakat     yang     menurunkan    syari'ah    dan undang-undang-Nya,   tatanan   dan   aturan-Nya,   nilai   dan timbangan-Nya.  Orang  yang menghina dan yang dihina sama-sama bukan berada dalam agama Allah SWT,  karena  mereka  sama-sama menurunkan   syari'ah   dan   undang-undang-Nya,   dan   tidak meletakkannya sebagai satu nilai dan timbangan.

Apa artinya menyuruh orang melaksanakan kebaikan dan  mencegah kemungkaran   dalam  kondisi  seperti  ini?  Dan  apa  gunanya melarang  orang  untuk  melakukan  dosa-dosa  besar  dan  juga dosa-dosa  kecil  lainnya,  kalau dosa yang sangat besar tidak ada larangan... yakni kufur terhadap Allah dan  menolak  jalan hidup yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Sesungguhnya  persoalannya  lebih besar, lebih luas, dan lebih dalam daripada apa yang telah diperjuangkan  oleh  orang-orang yang  "berhati  baik" itu. Sesungguhnya dalam masa seperti ini kita tidak perlu memberikan perhatian  kepada  perkara-perkara furu'iyah  bagaimanapun  besarnya masalah itu, walaupun sampai melanggar   batas   yang   ditetapkan   oleh   Allah,   karena sesungguhnya   batas   yang  telah  ditetapkan  oleh-Nya  pada prinsipnya adalah mengakui kekuasaan-Nya tanpa kekuasaan  yang lainnya.  Apabila  pengakuan  itu  belum ada dan belum menjadi kenyataan,  di  mana  syari'ah  Allah   SWT   diakui   sebagai satu-satunya  sumber  dalam  penetapan  hukum,  dan  Allah SWT merupakan satu-satunya sumber kekuasaan... Segala  usaha  yang diupayakan  dalam  perkara  cabang dianggap sia-sia, dan semua usaha dalam masalah furu'iyah tidak ada gunanya... Kemungkaran yang  paling  besar lebih utama untuk diberantas dan ditangani daripada segala bentuk kemungkaran yang lain. 3

USTADZ MUHAMMAD AL-MUBARAK

Di antara tokoh pembaru  Islam  yang  tergerak  hatinya  untuk menerapkan  fiqh  prioritas  ialah seorang tokoh pemikir Islam dari Syria yang terkenal. Ia adalah Ustadz  Muhammad  Mubarak. Ia  berbicara  tentang  satu  sisi  yang  sangat penting dalam perkara ini dengan mendalam dalam bukunya,  al-Fikr  al-Islami al-Hadits  fi  Muwajahah  al-Afkar  al-Gharbiyyah,  yang  pada hakikatnya merupakan kumpulan kajian dan kuliah yang ia  tulis atau ia sampaikan pada berbagai kesempatan.

Dalam  bukunya  itu,  dia  banyak  berbicara  tentang  "Aturan Peringkat  Kerja  dalam  Islam"  yang  saya   kutipkan   dalam baris-baris berikut ini mengingat pentingnya masalah ini:

"Ciri khas kesatuan aturan Islam harus disertai dengan kesatuan lain yang tidak kalah pentingnya dengan hal itu; yaitu kesatuan aturan peringkat kerja yang mengatur berbagai sektor kehidupan manusia dan nilainya. Harta kekayaan, kenikmatan, pekerjaan, akal pikiran, pengetahuan, kekuatan, ibadah, kekerabatan, kemanusiaan adalah nilai-nilai kehidupan. Islam menempatkan perkara-perkara di atas pada tempat tertentu dalam tatanan hidup dan tingkatan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh manusia sehingga tidak ada nilai yang terabaikan.
  
Sesungguhnya salah satu bentuk penyimpangan dalam Islam ialah menggantikan tingkat kedudukan nilai-nilai tersebut dengan cara menambah atau menguranginya kepada nilai yang lain; sebagaimana yang terjadi pada akhir-akhir ini. Sesungguhnya penggantian nilai-nilai yang berlaku di dalam tatanan kehidupan ini dapat berupa perubahan peringkat amalan dengan acak, tanpa aturan, yang memberikan petunjuk yang samar kepada manusia, atau dengan cara bersenda gurau. Tindakan seperti itu adalah seperti mencampurkan berbagai obat, tanpa aturan, sehingga menyebabkan kerusakan, dan perubahan sifat dan karakteristik obat tersebut. Dan bahkan obat itu dapat berubah menjadi suatu bahan yang berbahaya dan mengandung racun.
  
Kalau kita berasumsi membagi kehidupan ini menjadi seratus bagian, maka kita akan menemukan bahwa kekhususan ibadah dalam Islam itu terbagi menjadi beberapa bagian. Begitu pula halnya dengan perkara yang berkaitan dengan infaq, pencarian rizki, jihad, dan menikmati berbagai kelezatan hidup lainnya. Semuanya memiliki bagian tersendiri. Kalau masing-masing bagian itu kita ubah, lalu kita kurangi bagian jihad, dan kita tambah bagian ibadah, kemudian kita kurangi juga mencari rizki dan memberikan infaq, lalu kita menangkan penikmatan hidup sehingga kita menjadi orang yang lalai, maka berarti kita telah keluar dari aturan yang hakiki, keluar dari aturan Islam, dan kita juga dianggap menghilangkan keseimbangan nilai-nilai kehidupan yang telah ditetapkan olehnya (Islam).
  
Maka orang Muslim yang "sempurna" pada beberapa kurun waktu terakhir ini adalah orang yang melakukan ibadah dengan maknanya yang sempit dan tidak memiliki kesibukan lainnya, yang senantiasa melakukan i'tikaf di masjid/mushalla dan senantiasa berdzikir dan membaca wirid. Sesungguhnya gambaran seperti ini sama sekali tidak sama dengan gambaran yang dahulu pernah dilakukan oleh Rasulullal saw yang mulia serta para sahabatnya yang mengikutinya. Walaupun ibadah merupakan bagian yang sangat mendasar dalam kehidupan mereka, tetapi jihad tetap memenuhi hati mereka. Jihad di jalan Allah untuk membebaskan masyarakat dari berbagai aqidah yang rusak dan menanamkan aqidah yang benar dalam hati mereka, serta membebaskan kezaliman orang-orang yang zalim, dan kediktatoran para diktator untuk memberikan perlindungan kepada orang-orang yang lemah dan menegakkan keadilan di tengah-tengah manusia. Begitu pula kehidupan orang Muslim yang menyibukkan diri dalam perjuangan dan perbaikan masyarakat akan dianggap kurang apabila tidak disertai dengan ibadah sehingga hubungannya dengan Allah SWT tidak begitu erat.
  
   Para ahli fiqh kita terdahulu telah menyadari pemikiran ini, pemikiran mengenai adanya perbedaan tingkat dan persentase dalam amal perbuatan manusia, sehingga mereka meminta kepada kaum Muslimin untuk melakukan berbagai fardu dengan tertib sesuai dengan tingkat permintaan yang diajukan kepada mereka. Begitu pula pandangan mereka kepada perkara-perkara yang dilarang dan diharamkan. Mereka menempatkan tingkat pelarangan dan pengharamannya secara berperingkat-peringkat. Oleh sebab itu, tidaklah sama dosa yang dilakukan oleh seorang pejuang yang meninggalkan barisan perangnya sehingga dia membuka celah bagi masuknya musuh Islam dengan dosa meminum khamar dan memakan daging babi, padahal kedua perkara tersebut adalah haram. Banyak sekali ayat al-Qur'an dan hadits Nabi saw mengisyaratkan kepada pemikiran tersebut. Misalnya firman Allah SWT:
  
"Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah..." (at-Taubah: 19)
  
Begitu pula halnya dengan sabda Rasulullah saw ketika beliau ditanya tentang suatu amalan yang menyamai tingkat jihad di jalan Allah. Orang yang bertanya itu mengulangi dua atau tiga kali Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Mereka tidak dapat menyamainya." Lalu beliau saw bersabda lagi, "Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah, adalah seperti orang yang berpuasa, lalu melakukan qiyamul lail kemudian dia membaca ayat-ayat Allah dan tidak menghentikan puasa dan shalatnya sehingga orang yang berjuang itu kembali lagi ke rumahnya." 4

Dalam riwayat shahih disebutkan bahwa ada seorang sahabat yang bertanya  kepada  Rasulullah  saw,  "Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling utama?" Beliau saw menjawab, "Orang mu'min yang  berjihad dengan jiwa dan harta bendanya di jalan Allah." Kemudian beliau saw ditanya lagi, "Lalu  siapa  setelah  itu?" Beliau  menjawab,  "Seseorang yang berada di suatu bangsa yang bertaqwa  kepada  Allah,  kemudian  dia  meninggalkan  manusia karena takut kejahatan mereka." 5

Ahmad  meriwayatkan  sabda  Rasulullah  saw  dengan sanad yang shahih,

"Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang sedangkadia mengetahuinya, maka dosanya lebih berat daripadtiga puluh enam kali berzina." 6

Maka riba  adalah  jenis  kezaliman  dalam  harta  benda  yandosanya lebih berat daripada melakukan zina.

Kalau  kita  berusaha  mengumpulkan hadits-hadits seperti iniyang memberikan nilai suatu amalan dibandingkan dengan  amalalainnya,  maka  kita  akan menemukan berbagai peringkat amalaitu secara matematis antara pelbagai nilai hidup.  Sebagaimansabda  Nabi  saw,  "Satu  hari yang dijalani oleh seorang Imayang adil adalah lebih utama daripada ibadah selama enam pulutahun." 7

"Kelebihan seorang yang berilmu atas orang yanberibadah adalah seperti kelebihan diriku atas oranyang paling hina di antara kamu." 8
  
"Seorang ahli fiqh adalah lebih berat bagi setadaripada seribu orang ahli ibadah." 9

Dari uraian tersebut jelaslah kesalahan orang yang  menumpukan perhatiannya  kepada  satu perkara yang kadang-kadang dituntut atau dilarang dalam Islam, tetapi dia tidak menghadapi perkara yang jauh lebih penting daripada itu. Negara-negara Islam pada zaman  ini  ditimpa  dua  bahaya  yang  sangat  besar;   yaitu imperialisme  dan  atheisme;  atau penguasaan atas bumi mereka sekaligus aqidah mereka. Harta kekayaan  material  musnah  dan kehidupan  spiritual mereka terampas. Apabila negara itu telah dapat dikuasai sepenuhnya dan aqidah mereka dapat dihancurkan, maka  mereka  tidak  mungkin lagi mendirikan syiar-syiar agama dan  melaksanakan   segala   perintahnya,   serta   menerapkan hukum-hukumnya.  Oleh  sebab  itu,  para  penjajah mengalihkan pikiran kaum Muslimin  kepada  persoalan-persoalan  yang  lain sehingga  mereka memusatkan perhatian dan perjuangan mereka ke sana sehingga melalaikan  persoalan  yang  lebih  penting  dan mendasar;  dan  dengan cara seperti itu mereka dapat menguasai negara-negara  Islam  secara  langsung  atau  tidak  langsung, menghancurkan  aqidah Islam melalui berbagai cara, menyebarkan pemikiran   dan   mazhab-mazhab   atheisme   dengan   berbagai bentuknya.  Apakah  dalam keadaan seperti ini kita masih perlu membagi-bagi kaum Muslimin kepada  kelompok  yang  berpendapat bahwa   shalat   tarawih  delapan  rakaat  dan  kelompok  yang berpendapat  dua  puluh  rakaat?  Dan  membagi  mereka  kepada kelompok  yang berpendapat boleh mengulang-ulang shalat jamaah dan  yang  tidak  mengatakannya?  Ataukah  kita  masih   perlu melayani pertarungan antara sunnah dan bid'ah yang sama sekali tidak menyentuh masalah aqidah?

Saya tidak berkata bahwa  perkara-perkara  seperti  itu  tidak perlu   dibahas   lagi   secara   ilmiah,  tetapi  saya  hanya mengatakan,  "Kita  hanya  perlu  mengambil  perhatian   kalau seandainya  masalah  tersebut telah menyentuh aqidah kita. Dan kita lebih baik memberikan perhatian kepada  cara  yang  benar dalam   melakukan   ibadah.  Karena  sesungguhnya  ibadah  itu tawqifi, tidak ditambah dan juga tidak dikurangi dari apa yang telah  diperintahkan  oleh  Nabi  saw. Walaupun demikian, jika terjadi suatu fitnah atau pergaduhan antara dua kelompok  kaum Muslimin   maka   kita   wajib   meninggalkannya   karena  ada kemungkaran yang lebih besar yang memecah belah kaum  Muslimin menjadi  beberapa  bagian  dalam  keadaan  tertentu  dan dapat melemahkan  kekuatan  mereka.  Sepatutnya  kita  tidak   perlu menyibukkan  diri  kecuali  kepada persoalan yang mendasar dan besar." 10

SYAIKH AL-GHAZALI

Di antara ulama yang memberikan perhatian  besar  kepada  fiqh prioritas  melalui  pandangan,  pemikiran, dan penjelasan yang diberikannya ialah seorang juru da'wah besar, Syaikh  Muhammad al-Ghazali.  Ia  telah  memberikan perhatian yang sangat besar kepada masalah ini dalam buku-buku yang  ditulisnya,  terutama buku-buku  yang  ditulis  menjelang akhir hayatnya. Hal itu ia lakukan dan  ia  beri  perhatian  karena  pengalamannya  dalam melakukan da'wah di tengah-tengah manusia yang mengaku sebagai orang Islam dan juru  da'wah  Islam,  yang  menjungkirbalikkan pohon  Islam.  Mereka  menjadikan  pohon dan akarnya yang kuat sebagai   ranting-ranting   yang   lemah,    dan    menjadikan ranting-rantingnya  sebagai dedaunan yang menghembuskan angin, dan  menjadikan  daun-daunnya  sebagai  akar,  yang   bertumpu kepadanya seluruh pemikiran, perhatian, dan pekerjaan.

Pada kesempatan ini saya menganggap cukup mengutip sebuah teks dari Syaikh al-Ghazali yang dapat  menggambarkan  sejauh  mana pemahaman   dan  kesadarannya  terhadap  fiqh  prioritas,  dan kesadarannya untuk menciptakan pandangan yang  menyeluruh  dan seimbang   dalam   Islam,   sehingga   setiap  segala  sesuatu mendapatkan  haknya  dan  ditempatkan  pada  tempatnya.  Dalam sebuah  kajiannya  tentang  sebab-sebab  kehancuran  peradaban Islam dan kemunduran ummat Islam setelah ia menjadi ummat yang maju,  dengan  Judul  al-Tashwir  al-Juz'iy li al-Islam, dalam bukunya  yang  berjudul  al-Da'wah   al-Islamiyyah   Tastaqbil Qarnaha al-Khamis 'Asyar.

Dia  mengatakan,  "Iman  itu  ada  enam puluh macam lebih atau tujuh puluh cabang lebih. Apakah  bagian-bagian  ini  tersusun bertindih-tindih  antara  sebagian  dengan  sebagian yang lain dengan begitu saja? Ataukah dia seperti barang  dagangan  yang dibeli  oleh seseorang dari pasar kemudian diletakkan di dalam tasnya  begitu  saja   sehingga   memudahkan   baginya   untuk membawanya?     Tidak!    Sesungguhnya    bagian-bagian    itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kepentingan dan nilainya. Dan setiap bagian mempunyai tempat yang tersendiri dan tidak dapat diganggu oleh yang lainnya.

Bagan yang menggambarkan bagian-bagian iman ini serupa  dengan bagan  organisasi pada suatu kementerian atau satu organisasi. Di sana ada direktur, ada wakil-wakil direktur,  pekerja,  dan ada  pula  pengawasnya.  Di antara bagian-bagian itu ada garis hubungan  secara  timbal-balik,  garis  perintah   dan   garis produktif.

Sesungguhnya bagian-bagian iman yang jumlahnya ada puluhan itu seperti sebuah mobil yang  memiliki  bentuk,  kerangka,  stir, bahan  bakar,  rem, lampu, kursi, dan lain-lain. Setiap bagian darinya memiliki tugas dan nilai tersendiri.

Sejak peradaban Islam mulai muncul  di  permukaan,  telah  ada rukun  iman  dan  perbuatan-perbuatan  sunnah, perkara-perkara pokok dan cabang amalan hati dan amalan badaniah.

Satu hal yang terjadi pada sebagian manusia ialah  bahwa  satu bagian   tertentu  dari  Islam  itu  menjalar  memakan  kepada bagian-bagian  yang  lain  sebagaimana  luka  di  badan   yang menjalar  dan menjangkiti bagian yang lain, sehingga tubuh itu hancur semuanya.

Kelompok Khawarij merupakan kelompok yang pertama kali terkena penyakit  pemikiran  ini,  dan  tidak  memahami Islam sehingga mereka memerangi  Ali  atau  melepaskan  diri  dari  peristiwa tahkim,  dan memerangi Umar bin Abd al-Aziz atau melaknat para nenek moyangnya, para penguasa bani Umayyah.

Penguasaan pemikiran  tertentu  atas  manusia,  yang  memenuhi kekosong  dirinya, akan menguasai dirinya dan tidak memberikan tempat kepada pemikiran yang lain.

Saya  pernah  berjumpa  dengan  seorang  lelaki  yang  dikenal sebagai  orang  yang  baik.  Dia bertanya kepada saya: "Apakah engkau percaya dengan karamah Syaikh Fulan?" Saya menjawabnya: "Saya  belum  pernah  membaca  riwayat  hidup Syaikh itu." Dia berkata, "Saya akan membawakan kepadamu buku  yan  menjelaskan riwayat   hidupnya."   Tidak   lama   kemudian  saya  berjumpa dengannya, dan dia bertanya kepada saya,  "Bagaimana  pendapat kamu?"  Saya  menjawab,  "Saya  lupa  membaca  buku  itu." Dia bertanya, "Bagaimana?" Dengan tegas saya katakan: "Perkara itu tidak  penting...  Apabila saya meninggal dunia dan saya tidak tahu  sahabatmu  itu,  maka  sesungguhnya  Allah  tidak   akan bertanya  kepadaku  tentang  dirinya dan karamahnya." Kemudian dia  pergi  dariku  karena  aku  dianggap  tidak   mempercayai berbagai karamah itu.

Saya  berjumpa  dengan  orang lain yang berkata: "Bagaimanakah pendapatmu  tentang  musik?"  Saya  jawab:  "Kalau  musik  itu patriotik,   membangkitkan  semangat  dan  pengorbanan,  tidak apa-apa. Kalau musik sentimental yang  membangkitkan  semangat atau  kasih  sayang  tidak  apa-apa...  Tetapi kalau musik itu membangkitkan kesia-siaan dan pornografi, maka  tidak  boleh." Orang itu kemudian pergi menjauh dari diri saya dan menganggap bahwa saya menghalalkan untuk mendengarkan hal-hal yang haram.

Kedua orang itu beriman kepada sesuatu yang menjadi salah satu bagian  agama  yang  menyeluruh. Dia menghukumi orang lain dan keadaan orang lain berdasarkan ukuran dirinya.

'Luka' seperti inilah yang menjangkiti sebagian sisi  tertentu dari  agama  ini.  Itulah sebabnya mengapa ada sejumlah fuqaha yang  memiliki  pemikiran  cemerlang,  tetapi   mereka   tidak mempunyai  'hati  ahli  ibadah'; atau orang sufi yang memiliki 'perasaan halus' tetapi tidak memiliki 'akal pikiran'  seperti para fuqaha.

Itulah  sebabnya  mengapa  ada sejumlah ahli hadits yang hanya menghalalkan nash-nashnya, tetapi mereka tidak meletakkan pada proporsinya dan tidak pandai mengambil suatu kesimpulan hukum.

Itulah   pula  sebabnya  mengapa  ada  orang-orang  yang  yang memiliki pemikiran cemerlang, tetapi  mereka  tidak  memiliki, sandaran nash, untuk itu.

Itulah  pula  sebabnya mengapa ada sejumlah hakim yang bekerja --sesuai  dengan  syarat-syarat  tertentu--  sebagai  pengayom rakyat,   yang  sangat  rendah  kadar  ketaqwaan  mereka,  dan orang-orang awamnya khusyu' dalam melakukan ibadah individual, tetapi  apabila  sampai kepada suatu persoalan yang melibatkan pemberian nasehat, perintah, larangan, dan  pertentangan  yang menyebabkan  kemarahan  para penguasa itu, maka mereka berdiam diri saja.

Itulah  pula  sebabnya  mengapa  ada  orang-orang  yang  tekun beribadah,  yang tidak pernah lalai sedetikpun dalam melakukan ketaatan dalam beribadah itu, tetapi  mereka  tidak  menyadari setitik   pun   hikmah   dari   ibadah   tersebut   dan  tidak memanfaatkannya  sebagai  bagian  dari  perilakunya.  Padahal, shalat  dapat  menimbulkan  keteraturan dan kebersihan, tetapi mereka tidak teratur dan kotor.

Padahal haji merupakan pengembaraan  yang  memenuhi  hati  dan tubuh  manusia  dengan  rasa tenteram dan kasih sayang, tetapi mereka di tengah-tengah melakukan ibadah haji  dan  sesudahnya bersikap garang dan buruk.

Sesungguhnya da'wah Islam mengambil duri dari orang-orang yang sedikit  pemahamannya,   tetapi   banyak   semangatnya,   yang berangkat dengan akal pemikirannya yang tumpul kemudian mereka tidak melakukan  pekerjaan  yang  baik,  dan  hanya  melakukan perbuatan buruk.

Apakah  peranan yang dapat dimainkan oleh Islam pada diri para pemuda yang sangat kaku terhadap masyarakat Eropa dan  Amerika itu?  Mereka  mengenakan  jubah  putih,  duduk  di atas tanah, memakan makanan dengan  tangan  mereka  kemudian  membersihkan ujung  jemari  mereka  dengan mulut. Menurut pandangan mereka, begitulah petunjuk dari Rasulullah saw yang mulia tentang cara makan,  dan  sunnah  yang  harus  mereka lakukan sebagai upaya penentangan Islam terhadap orang-orang Barat.

Apakah itu tata cara makan yang diajarkan oleh Islam?

Ketika orang-orang Eropa melihat seorang  lelaki  yang  hendak minum,  mengambil  gelas, kemudian dia duduk --sebelum itu dia berdiri-- untuk mengikuti tata cara minum, apakah  pemandangan yang aneh ini yang menarik hati mereka untuk masuk Islam?

Mengapa  perkara-perkara  yang  remeh  ini ditampilkan padahal perkara  ini  malah  dapat  menghalangi   jalan   Allah,   dan menampilkan   Islam   dengan   cara  seperti  itu  akan  lebih menggambarkan Islam berwajah garang?

Sesungguhnya    da'wah    kepada    Islam    tidak    menerima perkara-perkara  khilafiyah  walaupun  hal itu dianggap sangat penting oleh sebagian juru da'wah. Makan di atas  tanah,  atau makan  dengan tangan merupakan masalah biasa dan bukan masalah ibadah. Itulah yang  mereka  tampilkan  sebagai  wajah  Islam. Kemudian  meletakkan  tutup  wajah  di  muka  perempuan adalah perkara yang masih diterima dan ditolak, dan jangan  dijadikan hal itu sebagai penampilan agama Allah kepada para hamba-Nya.

Renungkanlah  hadits  yang  diriwayatkan  oleh Bukhari tentang metoda da'wah Islam sebagaimana  yang  ditetapkan  oleh  Tuhan yang  Maha Agung; yang diriwayatkan dari Yusuf bin Mahik, yang berkata, "Sesungguhnya aku berada di sisi ' Aisyah ketika  ada orang  Irak  yang  datang  dan bertanya kepadanya: 'Kain kafan manakah yang lebih baik?'

'Aisyah menjawab, 'Celaka, apa yang engkau anggap  penting  di situ.'

Dia berkata lagi, 'Wahai Umm al-Mu'minin, perlihatkan kepadaku Mushafmu.'

'Aisyah berkata, 'Kenapa?'

Dia berkata: 'Barangkali aku dapat menyusun al-Qur'an  seperti itu, karena al-Qur'an yang aku baca tidak tersusun.'

'Aisyah  berkata, 'Apa yang engkau anggap penting di situ. Dan apa yang engkau baca  sebelumnya?  Sesungguhnya  yang  pertama kali  diturunkan  ialah  golongan  surat-surat Mufashshal yang menyebutkan sorga dan neraka kemudian ketika orang-orang sudah mulai  cenderung  kepada Islam diturunkanlah perkara halal dan haram.  Seandainya  yang  pertama   kali   diturunkan   ialah: 'janganlah kamu meminum khamar,' niscaya mereka berkata, 'Kami tidak akan meninggalkan khamar.' Seandainya yang pertama  kali turun  adalah  ayat  tentang  larangan  untuk berzina, niscaya mereka  akan  berkata,  'Kam  tidak  akan  meninggalkan   zina selama-lamanya.'  Sungguh ayat-ayat ini turun di Makkah kepada Muhammad dan ketika itu aku masih kecil dan suka bermain.

   "Sebenarnya hari kiamat itulah adalah hari yang dijanjikan kepada mereka; dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit" (al-Qamar: 46)

Surat al-Baqarah dan  surat  an-Nisa'  tidak  turun  kepadanya kecuali  saya  bersama dengannya. Setelah itu 'Aisyah berkata, 'Kemudian saya keluarkan mushaf  untuknya  dan  saya  diktekan surat itu kepadanya." 11

Akan  tetapi,  masih  banyak orang yang menyibukkan diri dalam dunia  da'wah,  tetapi  mereka   tidak   memiliki   fiqh   dan pengetahuan untuk itu, sehingga mereka menampilkan wajah agama ini dengan buruk dan tidak baik. Di  antara  mereka  ada  yang mencampuradukkan kekurangan itu dan kekurangan orang lain.

Kekurangan dalam da'wah terus berkembang sehingga saya melihat para pengajar yang semu, yang menggambarkan Islam  dari  empat sudut  saja, yaitu orang lelaki harus berjenggot, wanita harus menutup wajahnya, penolakan untuk menggambar walaupun di  atas kertas,   larangan  terhadap  lagu  dan  musik  walaupun  pada munasabah (acara) yang sangat mulia dengan rangkaian kata-kata yang sangat baik.

Saya  tidak ingin memutuskan hukum tertentu dalam perkara ini, tetapi saya hanya ingin  agar  tindakan  itu  tidak  melampaui batas,   dan   jangan  sampai  orang-orang  yang  melakukannya menyangka bahwa itulah puncak pengabdian dalam agama,  padahal perkara  itu  sebenarnya  adalah  perkara  kecil dan terbatas, dimana peperangan untuk membelanya justru akan mematikan Islam dan memporakporandakan ummatnya.

Demikianlah  kajian tentang fiqh prioritas yang saya ungkapkan secara mendasar, komprehensif, dan terperinci sebagaimana yang dianjurkan  oleh  para  tokoh  pembaruan  Islam. Saya berharap bahwa  pemikiran  ini  menjadi  salah  satu  sumbangan   dalam perkembangan  pemikiran Islam di zaman modern ini. Segala puji bagi Allah di awal dan di akhir kajian ini.

"Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kamlupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlaengkau bebankan kepada kami beban yang berasebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang yansebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkakepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Bermaaflah kami; ampunilah kami, dan rahmatilah kamiengkau Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kauyang kafir" (al-Baqarah: 286).

Catatan kaki:


3 Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an, juz 6, h. 949-951, cet. Dar as-Syuruq. ^
4 Muttafaq  'Alaih. ^
5 Muttafaq Alaih ^
6 Periwayatan hadits ini telah kita sebutkan pada bab-bab terdahulu. ^
7 Periwayatan hadits ini telah kita sebutkan pada bab-bab terdahulu. ^
8 Periwayatan hadits ini telah kita sebutkan pada bab-bab terdahulu. ^
9 Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Tirmidzi yang berkata, "Ini adalah hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari al-Walid bin Muslim. Ibn al-Jawzi berkata dalam al-'Ilal, "Hadits ini tidak shahih." Al, Iraqi berkata, "Isnad hadits ini lemah." Al-Albani berkata, "Hadits ini dha'if." Al-Jami' al-Shaghir, "Mawdhu'" ^
10 al-Fikr al-Islami al-Hadits, 65-69, Penerbit Dar al-Fikr. ^
11 Dikutip dari buku al-Da'wah al-Islamiyyah, h. 68-71 ^


:: bookmark: pakdenono ::

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com