KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT



HUKUM MENGOLEKSI PATUNG


Pertanyaan:
 
Bagaimana  hukum  patung  menurut  pandangan   Islam?   Saya mempunyai  beberapa buah patung pemuka Mesir tempo dulu, dansaya hendak memajangnya di rumah sebagai  perhiasan,  tetapi ada  beberapa orang yang mencegahnya dengan alasan bahwa hal itu haram. Benarkah pendapat itu?
 
Jawaban:
 
Islam mengharamkan patung dan semua  gambar  yang  bertubuh, seperti  patung  manusia dan binatang. Tingkat keharaman itu akan bertambah bila patung tersebut merupakan  bentuk  orang yang  diagungkan, semisal raja, Nabi, Al Masih, atau Maryam; atau berbentuk sesembahan para  penyembah  berhala,  semisal sapi  bagi  orang  Hindu.  Maka  yang  demikian  itu tingkat keharamannya semakin kuat sehingga kadang-kadang sampai pada tingkat  kafir  atau  mendekati  kekafiran,  dan  orang yang menghalalkannya dianggap kafir.
 
Islam sangat menaruh perhatian dalam memelihara tauhid,  dan semua hal yang akan bersentuhan dengan aqidah tauhid ditutup rapat-rapat.
 
Sebagian orang berkata, "Pendapat seperti ini berlaku  hanya pada  zaman berhala dan penyembahan berhala, adapun sekarang tidak ada lagi berhala dan penyembah  berhala."  Ucapan  ini tidak  benar,  karena pada zaman kita sekarang ini masih ada orang  yang  menyembah  berhala  dan  menyembah  sapi   atau binatang  lainnya.  Mengapa  kita mengingkari kenyataan ini? Bahkan di Eropa banyak kita jumpai orang yang tidak  sekadar menyembah  berhala.  Anda  akan  menyaksikan  bahwa pada era teknologi canggih ini mereka  masih  menggantungkan  sesuatu pada  tapal kudanya misalnya, atau pada kendaraannya sebagai tangkal.
 
Manusia pada setiap zaman selalu saja ada  yang  mempercayai khurafat.   Dan   kelemahan   akal   manusia   kadang-kadang menyebabkan  mereka  menerima  sesuatu  yang  tidak   benar, sehingga  orang  yang  mengaku berperadaban dan cendekia pun dapat terjatuh ke dalam lembah  kebatilan,  yang  sebenarnya hal  ini  tidak  dapat  diterima  oleh akal orang buta huruf sekalipun.
 
Islam  jauh-jauh  telah  mengantisipasi  hal  itu   sehingga mengharamkan  segala sesuatu yang dapat menggiring kebiasaan tersebut kepada  sikap  keberhalaan,  atau  yang  didalamnya mengandung  unsur-unsur  keberhalaan.  Karena  itulah  Islam mengharamkan patung. Dan patung-patung  pemuka  Mesir  tempo dulu termasuk ke dalam jenis ini.
 
Bahkan  ada orang yang menggantungkan patung-patung tersebut untuk  jimat,  seperti  memasang  kepala  "naqratiti"   atau lainnya  untuk  menangkal  hasad,  jin,  atau  'ain.  Dengan demikian,  keharamannya  menjadi   berlipat   ganda   karena bergabung antara haramnya jimat dan haramnya patung.
 
Kesimpulannya,   patung  itu  tidak  diperbolehkan  (haram), kecuali patung (boneka) untuk permainan anak-anak kecil, dan setiap muslim wajib menjauhinya.

 



HUKUM MENONTON TELEVISI


Pertanyaan:
 
Saya seorang pemuda yang berusia  delapan  belas  tahun  dan mempunyai  beberapa  orang  adik. Setiap hari adik-adik saya pergi ke rumah  tetangga  untuk  menonton  televisi.  Tetapi ketika  saya  meminta  kepada  ayah  untuk  membelikan  kami televisi, beliau berkata, "Televisi itu haram." Beliau tidak memperbolehkan saya memasukkan televisi ke rumah.
 
Saya  mohon Ustadz berkenan memberikan bimbingan kepada kami mengenai masalah ini.
 
Jawaban:
 
Saya telah membicarakan hukum televisi ini dalam  pembahasan terdahulu.  Hal  itu saya sampaikan pada kesempatan pertama, dan saya kemukakan kepada para pemirsa melalui acara "Hadyul Islam" di televisi Qathar.
 
Pada  waktu  itu  saya  katakan  bahwa  televisi sama halnya seperti radio, surat kabar, dan majalah. Semua itu  hanyalah alat  atau  media  yang  digunakan untuk berbagai maksud dan tujuan sehingga Anda tidak  dapat  mengatakannya  baik  atau buruk,  halal  atau  haram. Segalanya tergantung pada tujuan dan  materi  acaranya.  Seperti  halnya  pedang,  di  tangan mujahid  ia  adalah  alat untuk berjihad; dan bila di tangan perampok, maka pedang itu  merupakan  alat  untuk  melakukan tindak  kejahatan. Oleh karenanya sesuatu dinilai dari sudut penggunaannya, dan sarana atau media dinilai  sesuai  tujuan dan maksudnya.
 
Televisi   dapat   saja   menjadi   media   pembangunan  dan pengembangan pikiran, ruh, jiwa, akhlak, dan kemasyarakatan. Demikian  pula  halnya  radio,  surat kabar, dan sebagainya. Tetapi di  sisi  lain,  televisi  dapat  juga  menjadi  alat penghancur  dan  perusak.  Semua  itu  kembali kepada materi acara dan pengaruh yang ditimbulkannya.
 
Dapat  saya  katakan  bahwa   media-media   ini   mengandung kemungkinan  baik,  buruk,  halal,  dan  haram. Seperti saya katakan sejak semula bahwa seorang  muslim  hendaknya  dapat mengendalikan   diri   terhadap   media-media  seperti  ini, sehingga dia menghidupkan radio atau televisi jika  acaranya berisi  kebaikan,  dan  mematikannya  bila berisi keburukan. Lewat media ini seseorang dapat menyaksikan dan mendengarkan berita-berita   dan   acara-acara   keagamaan,   pendidikan, pengajaran, atau acara lainnya yang  dapat  diterima  (tidak mengandung  unsur  keburukan/keharaman).  Sehingga dalam hal ini anak-anak dapat menyaksikan gerakan-gerakan lincah  dari suguhan   hiburan   yang  menyenangkan  hatinya  atau  dapat memperoleh  manfaat  dari  tayangan  acara  pendidikan  yang mereka saksikan.
 
Namun  begitu,  ada  acara-acara  tertentu  yang tidak boleh ditonton, seperti tayangan film-film Barat yang pada umumnya merusak  akhlak.  Karena  didalamnya  mengandung unsur-unsur budaya dan kebiasaan yang bertentangan dengan  aqidah  Islam yang lurus. Misalnya, film-film itu mengajarkan bahwa setiap gadis harus mempunyai teman kencan dan suka berasyik masyuk. Kemudian  hal itu dibumbui dengan bermacam-macam kebohongan, dan  mengajarkan  bagaimana  cara  seorang  gadis   berdusta terhadap  keluarganya,  bagaimana  upayanya agar dapat bebas keluar rumah,  termasuk  memberi  contoh  bagaimana  membuat rayuan  dengan  kata-kata  yang  manis.  Selain  itu,  jenis film-film  ini  juga  hanya  berisikan  kisah-kisah  bohong, dongeng-dongeng  khayal,  dan  semacamnya.  Singkatnya, film seperti ini hanya menjadi  sarana  untuk  mengajarkan  moral yang rendah.
 
Secara objektif saya katakan bahwa sebagian besar film tidak luput dari  sisi  negatif  seperti  ini,  tidak  sunyi  dari adegan-adegan  yang merangsang nafsu seks, minum khamar, dan tari telanjang. Mereka bahkan berkata, "Tari dan dansa sudah menjadi  kebudayaan dalam dunia kita, dan ini merupakan ciri peradaban yang tinggi. Wanita yang  tidak  belajar  berdansa adalah  wanita  yang tidak modern. Apakah haram jika seorang pemuda duduk  berdua  dengan  seorang  gadis  sekadar  untuk bercakap-cakap serta saling bertukar janji?"
 
Inilah  yang  menyebabkan orang yang konsisten pada agamanya dan menaruh perhatian terhadap akhlak anak-anaknya  melarang memasukkan  media-media  seperti  televisi dan sebagainya ke rumahnya.   Sebab   mereka   berprinsip,   keburukan    yang ditimbulkannya   jauh  lebih  banyak  daripada  kebaikannya, dosanya lebih besar daripada  manfaatnya,  dan  sudah  tentu yang  demikian  adalah  haram.  Lebih-lebih  media  tersebut memiliki  pengaruh  yang  sangat  besar  terhadap  jiwa  dan pikiran,  yang  cepat  sekali  menjalarnya, belum lagi waktu yang tersita olehnya dan menjadikan kewajiban terabaikan.
 
Tidak diragukan lagi bahwa hal inilah  yang  harus  disikapi dengan  hati-hati,  ketika  keburukan  dan  kerusakan  sudah demikian dominan. Namun cobaan ini telah begitu merata,  dan tidak   terhitung  jumlah  manusia  yang  tidak  lagi  dapat menghindarkan diri darinya, karena memang segi-segi  positif dan  manfaatnya  juga ada. Karena itu, yang paling mudah dan paling layak dilakukan dalam menghadapi kenyataan ini adalah sebagaimana   yang  telah  saya  katakan  sebelumnya,  yaitu berusaha memanfaatkan yang baik dan menjauhi yang  buruk  di antara film bentuk tayangan sejenisnya.
 
Hal   ini   dapat  dihindari  oleh  seseorang  dengan  jalan mematikan radio atau televisinya, menutup  surat  kabar  dan majalah  yang memuat gambar-gambar telanjang yang terlarang, dan menghindari membaca media yang memuat berita-berita  dan tulisan yang buruk.
 
Manusia  adalah  mufti  bagi  dirinya sendiri, dan dia dapat menutup pintu kerusakan dari dirinya. Apabila ia tidak dapat mengendalikan  dirinya  atau  keluarganya, maka langkah yang lebih utama adalah jangan memasukkan media-media tersebut ke dalam rumahnya sebagai upaya preventif (saddudz dzari'ah).
 
Inilah  pendapat  saya  mengenai  hal ini, dan Allahlah Yang Maha Memberi Petunjuk  dan  Memberi  Taufiq  ke  jalan  yang lurus.
 
Kini tinggal bagaimana tanggung jawab negara secara umum dan tanggung jawab produser serta seluruh pihak  yang  berkaitan dengan  media-media informasi tersebut. Karena bagaimanapun, Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada mereka terhadap semua  itu.  Maka  hendaklah mereka mempersiapkan diri sejak sekarang.

 


HUKUM FOTOGRAFI


Pertanyaan:
 
Saya mempunyai kamera untuk memotret ketika saya  berekreasi atau pada acara-acara tertentu lainnya, apakah yang demikian itu berdosa atau haram?
 
Di kamar saya juga ada foto beberapa tokoh, selain itu  saya mempunyai   beberapa   surat  kabar  yang  di  dalamnya  ada foto-foto  wanita,  apakah  yang  demikian  itu   terlarang? Bagaimana hukumnya menurut syariat Islam?
 
Jawaban:
 
Mengenai  foto  dengan kamera, maka seorang mufti Mesir pada masa lalu,  yaitu  Al  'Allamah  Syekh  Muhammad  Bakhit  Al Muthi'i  -  termasuk  salah seorang pembesar ulama dan mufti pada zamannya - didalam risalahnya yang berjudul "Al Jawabul Kaafi  fi Ibahaatit Tashwiiril Futughrafi" berpendapat bahwa fotografi itu hukumnya mubah. Beliau berpendapat bahwa  pada hakikatnya   fotografi   tidak  termasuk  kedalam  aktivitas mencipta  sebagaimana  disinyalir  hadits   dengan   kalimat "yakhluqu  kakhalqi"  (menciptakan  seperti  ciptaanKu ...), tetapi  foto  itu  hanya  menahan  bayangan.  Lebih   tepat, fotografi  ini diistilahkan dengan "pemantulan," sebagaimana yang diistilahkan  oleh  putra-putra  Teluk  yang  menamakan fotografer  (tukang  foto)  dengan sebutan al 'akkas (tukang memantulkan), karena ia memantulkan bayangan seperti cermin. Aktivitas ini hanyalah menahan bayangan atau memantulkannya, tidak  seperti  yang  dilakukan  oleh  pemahat  patung  atau pelukis.  Karena  itu,  fotografi  ini  tidak diharamkan, ia terhukum mubah.
 
Fatwa Syekh Muhammad Bakhit ini disetujui oleh banyak ulama,dan  pendapat ini pulalah yang saya pilih dalam buku saya Al Halal wal Haram.
 
Fotografi ini tidak terlarang dengan syarat objeknya  adalah halal.   Dengan   demikian,   tidak  boleh  memotret  wanita telanjang atau hampir telanjang, atau  memotret  pemandangan yang  dilarang syara'. Tetapi jika memotret objek-objek yang tidak terlarang, seperti teman atau  anak-anak,  pemandangan alam, ketika resepsi, atau lainnya, maka hal itu dibolehkan.
 
Kemudian  ada  pula  kondisi-kondisi tertentu yang tergolong darurat sehingga  memperbolehkan  fotografi  meski  terhadap orang-orang  yang diagungkan sekalipun, seperti untuk urusan kepegawaian, paspor, atau foto identitas. Adapun  mengoleksi foto-foto  para  artis  dan  sejenisnya,  maka hal itu tidak layak bagi seorang muslim yang memiliki  perhatian  terhadap agamanya.
 
Apa  manfaatnya  seorang  muslim mengoleksi foto-foto artis? Tidaklah  akan  mengoleksi  foto-foto  seperti  ini  kecuali orang-orang  tertentu  yang  kurang pekerjaan, yang hidupnya hanya disibukkan dengan foto-foto dan gambar-gambar.
 
Adapun jika  mengoleksi  majalah  yang  didalamnya  terdapat foto-foto atau gambar-gambar wanita telanjang, hal ini patut disesalkan. Lebih-lebih  pada  zaman  sekarang  ini,  ketika gambar-gambar  dan  foto-foto  wanita dipajang sebagai model iklan, mereka dijadikan perangkap untuk  memburu  pelanggan. Model-model  iklan  seperti  ini  biasanya  dipotret  dengan penampilan yang seronok.
 
Majalah dan surat kabar juga menggunakan cara  seperti  itu, mereka  sengaja  memasang  foto-foto  wanita pemfitnah untuk menarik  minat  pembeli.  Anehnya,  mereka  enggan  memasang gambar pemuda atau orang tua.
 
Bagaimanapun   juga,   apabila  saudara  penanya  mengoleksi majalah tertentu karena berita  atau  pengetahuan  yang  ada didalamnya  - tidak bermaksud mengumpulkan gambar atau foto, bahkan menganggap hal itu  sebagai  sesuatu  yang  tidak  ia perlukan  - maka tidak apalah melakukannya. Namun yang lebih utama ialah membebaskan diri  dari  gambar-gambar  telanjang yang  menyimpang  dari  tata  krama  dan kesopanan. Kalau ia tidak  dapat  menghindarinya,  maka  hendaklah  disimpan  di tempat  yang  tidak  mudah  dijangkau dan dilihat orang, dan hendaklah ia hanya membaca isinya.
 
Sedangkan menggantungkan atau memasang foto-foto  itu  tidak diperbolehkan,    karena    hal    itu   dimaksudkan   untuk mengagungkan. Dan  yang  demikian  itu  bertentangan  dengan syara',  karena  pengagungan hanyalah ditujukan kepada Allah Rabbul 'Alamin.

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com