KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT



HUKUM MEMPERGUNAKAN ZAKAT UNTUK MEMBANGUN MASJID


Pertanyaan:
 
Saya seorang muslim yang diberi banyak  karunia  oleh  Allah yang  saya tidak mampu mensyukurinya dengan sepenuhnya meski apa pun yang saya lakukan, karena apa yang saya lakukan  itu sendiri   juga   merupakan  nikmat  dari  Allah  yang  harus disyukuri.
 
Diantara karunia  yang  Allah  berikan  kepada  saya  adalah kekayaan  yang  -  alhamdulillah  -  cukup  banyak, dan saya mengeluarkan zakatnya setiap  tahun.  Saya  juga  menerapkan pendapat  Ustadz  untuk  menzakati penghasilan gedung-gedung yang saya peroleh setiap  bulan  tanpa  menunggu  perputaran satu  tahun,  dengan  besar  zakat seperdua puluh dari total penghasilan.
 
Pertanyaan yang saya lontarkan kepada Ustadz sekarang adalah mengenai  penggunaan  zakat  untuk  pembangunan  masjid yang digunakan untuk mengerjakan  shalat  didalamnya,  mengadakan majelis taklim, dan mengumpulkan kaum muslim untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala.
 
Kami - yang berdomisili di negara Teluk -  sering  didatangi saudara-saudara  dari  negara-negara miskin yang ada di Asia dan Afrika yang mengeluhkan berbagai penderitaan, sedikitnya penghasilan,  banyaknya  jumlah  penduduk, seringnya ditimpa bencana alam, disamping tekanan dari kelompok-kelompok  yang memusuhi  Islam, baik dari negara-negara Barat maupun Timur, dari golongan salib, komunis, dan lainnya.
 
Bolehkah kami memberikan zakat kepada  saudara-saudara  kami kaum  muslim  yang  miskin  yang  tertekan  dalam  kehidupan beragama dan dunia mereka, ataukah tidak boleh?  Fatwa  yang pernah  diberikan  para  mufti berbeda-beda mengenai masalah ini, ada yang melarang dan ada yang  membolehkan.  Dan  kami tidak merasa puas melainkan dengan fatwa Ustadz.
 
Semoga  Allah  meluruskan langkah Ustadz, memuliakan Ustadz, dan menjadikan yang lain mulia karena Ustadz.
 
Jawaban:
 
Semoga Allah memberikan berkah kepada saudara  penanya  yang terhormat   mengenai   apa   yang   telah   dikaruniakan-Nya kepadanya.      Mudah-mudahan      Allah      menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya atasnya dan menolongnya untuk selalu ingat kepada-Nya dan bersyukur kepada-Nya serta memperbaiki ibadah kepada-Nya. Saya merasa gembira bahwa dia telah mengeluarkan zakat  dari  penghasilan  gedung-gedungnya   sesuai   dengan pendapat  yang saya pandang kuat, tanpa menunggu berputarnya masa satu tahun. Mudah-mudahan saja dia menginfakkan seluruh hasilnya atau sebagiannya.
 
Adapun  menyalurkan  zakat untuk pembangunan masjid sehingga dapat digunakan untuk  mengagungkan  nama  Allah,  berdzikir kepada-Nya,  menegakkan  syiar-syiar-Nya, menunaikan shalat, serta menyampaikan pelajaran-pelajaran dan  nasihat-nasihat, maka hal ini termasuk yang diperselisihkan para ulama dahulu maupun sekarang. Apakah yang  demikian  itu  dapat  dianggap sebagai  "fi  sabilillah"  sehingga termasuk salah satu dari delapan sasaran zakat sebagaimana yang  dinashkan  di  dalam Al-Qur'anul Karim dalam surat at-Taubah:
 
"Sesungguhnya  zakat-zakat  itu  hanyalah  untuk orang-orang fakir, orang-orang  miskin,  pengurus-pengurus  zakat,  para muallaf  yang  dibujuk  hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang  yang   berutang,   untuk   jalan   Allah,   dan orang-orang  yang  sedang  dalam  perjalanan,  sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah  Maha  Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (at-Taubah: 60)
 
Ataukah  kata  "sabilillah itu artinya terbatas pada "jihad" saja sebagaimana yang dipahami oleh jumhur?
 
Saya telah menjelaskan masalah ini secara terinci  di  dalam kitab  saya Fiqh az-Zakah, dan di sini tidaklah saya uraikan lagi masalah tersebut.
 
Dalam buku itu saya memperkuat pendapat jumhur ulama, dengan memperluas  pengertian  "jihad"  (perjuangan)  yang meliputi perjuangan bersenjata (inilah  yang  lebih  cepat  ditangkap oleh  pikiran),  jihad  ideologi  (pemikiran), jihad tarbawi (pendidikan), jihad da'wi (dakwah), jihad  dini  (perjuangan agama),   dan   lain-lainnya.  Kesemuanya  untuk  memelihara eksistensi Islam dan menjaga  serta  melindungi  kepribadian Islam  dari  serangan  musuh yang hendak mencabut Islam dari akar-akarnya, baik  serangan  itu  berasal  dari  salibisme, misionarisme,  marxisme,  komunisme,  atau dari Free Masonry dan zionisme, maupun dari antek dan  agen-agen  mereka  yang berupa  gerakan-gerakan  sempalan  Islam  semacam  Bahaiyah, Qadianiyah, dan Bathiniyah (Kebatinan), serta  kaum  sekuler yang terus-menerus menyerukan sekularisasi di dunia Arab dan dunia Islam.
 
Berdasarkan hal ini maka saya  katakan  bahwa  negara-negara kaya  yang  pemerintahnya  dan  kementerian  wakafnya  mampu mendirikan masjid-masjid yang diperlukan oleh umat,  seperti negara-negara  Teluk,  maka  tidak  seyogianya  zakat disana digunakan  untuk  membangun  masjid.   Sebab   negara-negara seperti  ini  sudah  tidak  memerlukan  zakat untuk hal ini, selain itu masih ada sasaran-sasaran  lain  yang  disepakati pendistribusiannya  yang  tidak  ada penyandang dananya baik dari uang zakat maupun selain zakat.
 
Membangun sebuah masjid  di  kawasan  Teluk  biayanya  cukup digunakan  untuk  membangun  sepuluh  atau  lebih  masjid di negara-negara muslim yang  miskin  yang  padat  penduduknya, sehingga  satu  masjid  saja  dapat  menampung  puluhan ribu orang.  Dari  sini   saya   merasa   mantap   memperbolehkan menggunakan  zakat  untuk  membangun masjid di negara-negara miskin  yang  sedang   menghadapi   serangan   kristenisasi, komunisme,    zionisme,    Qadianiyah,    Bathiniyah,    dan lain-lainnya. Bahkan  kadang-kadang  mendistribusikan  zakat untuk  keperluan  ini  -  dalam  kondisi seperti ini - lebih utama daripada didistribusikan untuk yang lain.
 
Alasan saya memperbolehkan hal ini ada dua macam:
 
Pertama, mereka adalah kaum yang fakir, yang harus  dicukupi kebutuhan  pokoknya  sebagai  manusia  sehingga  dapat hidup layak  dan  terhormat  sebagai  layaknya   manusia   muslim. Sedangkan  masjid  itu merupakan kebutuhan asasi bagi jamaah muslimah.
 
Apabila mereka tidak memiliki dana untuk mendirikan  masjid, baik dana dari pemerintah maupun dari sumbangan pribadi atau dari para  dermawan,  maka  tidak  ada  larangan  di  negara tersebut  untuk  mendirikan  masjid  dengan menggunakan uang zakat. Bahkan masjid itu wajib didirikan dengannya  sehingga tidak ada kaum muslim yang hidup tanpa mempunyai masjid.
 
Sebagaimana  setiap orang muslim membutuhkan makan dan minum untuk  kelangsungan  kehidupan   jasmaninya,   maka   jamaah muslimah  juga membutuhkan masjid untuk menjaga kelangsungan kehidupan rohani dan iman mereka.
 
Karena itu, program  pertama  yang  dilaksanakan  Nabi  saw. setelah  hijrah  ke  Madinah  ialah mendirikan Masjid Nabawi yang mulia yang menjadi pusat kegiatan Islam pada zaman itu.
 
Kedua, masjid di negara-negara yang sedang menghadapi bahaya perang  ideologi  (ghazwul  fikri)  atau yang berada dibawah pengaruhnya,  maka  masjid  tersebut  bukanlah   semata-mata tempat  ibadah,  melainkan  juga  sekaligus  sebagai  markas perjuangan dan benteng untuk  membela  keluhuran  Islam  dan melindungi syakhshiyah islamiyah.
 
Adapun  dalil  yang  lebih  mendekati  hal ini ialah peranan masjid dalam membangkitkan harakah umat Islam  di  Palestina yang  diistilahkan dengan intifadhah (menurut bahasa berarti mengguncang/ menggoyang; Penj.) yang pada awal  kehadirannya dikenal  dengan  sebutan  "Intifadhah  al masajid." Kemudian oleh media informasi diubah menjadi "Intifadhah  al-Hijarah" batu-batu   karena   takut  dihubungkan  dengan  Islam  yang penyebutannya  itu  dapat  menggetarkan  bangsa  Yahudi  dan orang-orang yang ada di belakangnya.
 
Kesimpulan: menyalurkan zakat untuk pembangunan masjid dalam kondisi seperti itu termasuk infak zakat fi sabilillah  demi menjunjung   tinggi  kalimat-Nya  serta  membela  agama  dan umat-Nya. Dan setiap infak harta untuk semua  kegiatan  demi menjunjung   tinggi   kalimat  (agama)  Allah  tergolong  fi sabilillah (di jalan Allah).
 
Wa billahit taufiq.

 


MENGGUNAKAN UANG SUMBANGAN (ZAKAT) UNTUK KEPERLUAN ADMINISTRASI DAN PERKANTORAN


Pertanyaan:
 
Kami kirimkan surat ini kepada Anda  dengan  memohon  kepada Allah  Azza  wa  Jalla  semoga Dia memberikan manfaat kepada kami melalui Anda dan memberikan kebenaran kepada  Anda.  Wa ba'du.
 
Lembaga Bantuan Islam di Inggris merupakan lembaga kebajikan yang didirikan  untuk  menghimpun  sumbangan-sumbangan  dari Inggris  dan  dari  luar  Inggris,  kemudian  menyalurkannya kepada kaum  muslim  di  pelbagai  wilayah  Islam  khususnya Afghanistan, Lebanon, Palestina, Afrika, dan Bangladesh.
 
Lembaga  ini  memerlukan  bangunan  (kantor)  untuk mengatur segala  kegiatannya.  Tetapi,  terlebih  dahulu  kami  ingin mengetahui  pandangan  syara'  tentang masalah ini. Bolehkah kami  membeli  gedung  dengan  menggunakan  uang   sumbangan tersebut   tanpa   konsultasi   lebih   dahulu  dengan  para penyumbangnya? Lebih-lebih diantara penyumbang itu ada  yang telah   menentukan  kegunaan  sumbangan  yang  diberikannya, disamping  ada  yang  sepenuhnya  menyerahkan  penyalurannya kepada kami (lembaga).
 
Selain  itu,  kami  juga  ingin  tahu  sampai  dimana  batas kebolehan kami membeli bangunan (gedung) itu jika tidak  ada larangan syara'.
 
Mohon jawaban, dan semoga Allah membalas Anda dengan balasan yang sebaik-baiknya.
 
Jawaban:
 
Segala puji  kepunyaan  Allah,  shalawat  dan  salam  semoga tercurahkan  kepada Rasulullah, keluarganya, dan orang-orang yang setia kepadanya. Amma ba'du.
 
Tidak diperbolehkan  mendirikan  bangunan  (gedung,  kantor) untuk  lembaga tersebut dengan menggunakan uang bantuan yang oleh  para  penyumbangnya  telah  ditentukan  penggunaannya, seperti  untuk  menolong  orang-orang  yang  perlu ditolong, orang-orang yang sengsara, orang-orang yang dilanda  bencana alam,  peperangan,  dan sebagainya. Dalam hal ini, niat para penyumbang wajib  dipelihara,  lebih-lebih  kebanyakan  dana yang  masuk  adalah  dari  zakat,  sedangkan zakat itu telah mempunyai  sasaran  sendiri  sebagaimana   yang   ditetapkan syara', yang tidak boleh dipergunakan untuk selain itu.
 
Kalaupun sebagian penyumbang ada yang sepenuhnya menyerahkan kepada lembaga bagaimana mempergunakan dana bantuan tersebut -sebagaimana   dikatakan   dalam   pertanyaan   itu  -  maka sebenarnya ia telah menentukan penggunaannya, meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit. Karena penyerahan mereka kepada lembaga  (pengelola)  itu  disebabkan  mereka  percaya  akan amanah, keikhlasan, dan pengelolaan para pengurusnya.
 
Hal  ini  mengandung  pengertian  bahwa mereka percaya kalau lembaga yang Anda kelola dapat menyalurkan bantuan  tersebut ke  Palestina,  Afghanistan,  Bangladesh,  Afrika,  atau  ke negara    lainnya    dengan    syarat    disalurkan    untuk orang-orangyang membutuhkannya.
 
Sedangkan  urusan  administrasi - yang tak dapat dihindari - untuk  memperlancar  penyampaian   sumbangan-sumbangan   itu kepada  yang  berhak  menerimanya,  maka  tidak mengapa jika diambilkan dari sumbangan secara umum. Hal ini mengacu  pada ketetapan   Al-Qur'an   mengenai   penyaluran   zakat   yang diantaranya "memberikan bagian  kepada  amil/pengurus"  yang diambilkan dari hasil zakat itu sendiri, dan didasarkan pada kaidah bahwa:
 
"Suatu  kewajiban  tidak  dapat  terlaksana  dengan  sempuma melainkan dengan sesuatu (sarana), maka sesuatu itu hukumnya adalah wajib."
 
Hanya  saja  penggunaannya  hendaklah  dipersempit   sedapat mungkin,  demi  menjaga  uang  para  penyumbang supaya tidak digunakan untuk perlengkapan kantor, peralatan administrasi, dan  sebagainya  yang  merupakan suatu cacad yang dikeluhkan oleh orang-orang bijak (hukama) dan orang-orang yang jujur.
 
Adapun untuk mendirikan  bangunan  tersendiri  yang  menjadi milik   lembaga   -  apabila  sangat  dibutuhkan  dan  telah disepakati oleh para ahli pikir dan orang-orang yang jujur - hendaklah  menghimpun  dana  tersendiri  dengan maksud untuk tujuan tersebut. Sehingga orang  yang  hendak  menyumbangnya mengetahui  dengan  jelas  kegunaan  dan  tujuannya.  Dengan demikian, para  donatur  tersebut  akan  mendapatkan  pahala karenanya,   sebab   amal  itu  tergantung  pada  niat,  dan seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.
 
Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita keselamatan dalam menentukan  tujuan,  manhaj  yang tepat, sasaran yang mulia, dan jalan yang lurus.

 


ZAKAT UTK MEMBANGUN ISLAMIC CENTER
 

Pertanyaan:
 
Semoga Allah senantiasa melindungi Ustadz. Kami harap Ustadz berkenan  memberikan fatwa kepada kami mengenai masalah yang sangat penting bagi kami dan bagi kaum muslim di Amerika dan di  negara-negara  Barat  umumnya.  Persoalan ini menyangkut pembangunan islamic centre dan masjid-masjid di Barat  serta masalah-masalah   urgen   yang   berkaitan  langsung  dengan kehidupan kaum muslim.
 
Para imigran Islam yang bermukim di negara-negara Barat  dan para mahasiswa yang sedang belajar di sana dalam batas waktu tertentu sangat membutuhkan pusat  kegiatan  Islam  (islamic centre) di kota mereka. Keberadaan islamic centre ini sangat mereka perlukan sekaligus memiliki peranan yang besar  untuk menjaga agama para imigran dan mahasiswa.
 
Pertanyaan   penting   yang   sering   kali   muncul  selama penghimpunan  sumbangan  -  yang  merupakan   sumber   utama pendanaan   proyek-proyek   tersebut   -   adalah   bolehkah menggunakan uang zakat untuk  membangun  islamic  centre  di negara-negara Barat? Karena kebanyakan penderma mensyaratkan pemberiannya, sebagaimana halnya para  pengurus  proyek  ini pun merasa keberatan menerima uang zakat karena mereka tidak yakin  akan  kebolehan  membelanjakannya   untuk   keperluan (membangun islamic centre) ini.
 
Nah,  menurut  pendapat  Ustadz,  apakah pembangunan islamic centre ini  dapat  dimasukkan  sebagai  salah  satu  sasaran penyaluran zakat? Mengingat markas (islamic centre) tersebut meliputi masjid - ruang untuk  shalat  -  dan  kadang-kadang juga terdapat perpustakaan, ruangan khusus untuk shalat kaum wanita, tempat imam rawatib,  dan  keperluan-keperluan  lain yang relevan. Selain itu, mengingat bahwa pemegang peraturan bagi sebagian markas  di  Amerika  adalah  Waqaf  Islami  di Amerika Utara (NAIT) yang menginduk pada "Persatuan Islam di Amerka  Utara"  (ISNA).  Kedua  lembaga  tersebut  merupakan lembaga Islam yang dipercaya karena amanah dan kecakapannya.
 
Kami  mohon  kepada  ustadz  yang  terhormat  untuk menjawab permohonan fatwa kami ini, lebih-lebih kami sekarang  sedang giat  menghimpun  dana untuk memulai pembangunan markas kami yang memang memerlukan dana sangat besar. lika tidak - kalau Allah tidak melonggarkan - niscaya kami akan merugi, padahal asetnya sangat besar untuk menyelesaikan proyek ini.
 
Semoga Allah memberi taufiq kepada Ustadz, melindungi Ustadz dan memberi manfaat melalui Ustadz.
 
Jawaban:
 
Telah saya terirna surat Anda yang terhormat yang menanyakan seputar masalah pembangunan islamic centre di kota  Thousand Oaks,  Amerika  Serikat,  dan  sampai  sejauh mana kebolehan menggunakan uang zakat untuk keperluan itu.
 
Mengingat pentingnya masalah ini, khususnya mengenai kondisi di  kota  Anda, maka saya segera menulis jawaban untuk Anda, meskipun kesempatan saya sangat sempit karena kesibukan yang amat banyak.
 
Saya   ingin   menjelaskan  disini  bahwa  diantara  sasaran penggunaan zakat menurut nash  Al-Qur'anul  Karim  ialah  fi sabilillah.  Sedangkan  para  fuqaha  berbeda pendapat dalam menafsirkan pengertian fi sabilillah (di jalan  Allah)  ini. Sebagian   berpendapat   bahwa   yang   dimaksud  dengan  fi sabilillah adalah "jihad" (perjuangan/perang)  saja,  karena itulah  makna  yang  segera  ditangkap apabila kata tersebut diucapkan, dan ini adalah pendapat  jumhur  ulama.  Sebagian lagi  mengatakan bahwa fi sabilillah meliputi semua ketaatan atau kemaslahatan bagi kaum muslim yang termasuk  didalamnya membangun masjid, madrasah, jembatan, membelikan kafan untuk orang-orang fakir yang meninggal  dunia,  dan  hal-hal  lain yang  dikategorikan  qurbah  (pendekatan  diri kepada Allah) atau maslahat.
 
Menurut  pendapat  saya,   sasaran   penggunaan   zakat   fi sabilillah mencakup kedua pendapat di atas sekaligus. Dengan demikian, sebagian dari  zakat  itu  dapat  digunakan  untuk membangun  islamic  centre  yang menjadi pusat dakwah, pusat pemberian pengarahan, pendidikan, dan  pengajaran,  terutama di  negara-negara  dimana  keberadaan  kaum  muslim terancam serangan agama dan paham lain, seperti  Kristen,  komunisme, dan  sekularisme  yang  berusaha  melucuti  kaum muslim dari akidah mereka atau menyesatkan  mereka  dari  hakikat  agama mereka.  Sebagai  contoh,  kaum  minoritas muslim yang harus menghadapi golongan mayoritas yang memegang kekuasaan ketika mereka  berada di luar dunia Islam, sedangkan kemampuan yang mereka miliki terbatas.
 
Adapun menurut pendapat kedua,  maka  tidak  diragukan  lagi bahwa  membangun  islamic centre merupakan salah satu bentuk jihad Islam (perjuangan Islam) pada zaman kita sekarang ini, yaitu  jihad  dengan lisan, tulisan, dakwah, dan pendidikan. Dan ini merupakan jihad yang tidak boleh  ditinggalkan  demi menghadapi   serangan  sengit  dari  kekuatan-kekuatan  yang memusuhi Islam.
 
Sebagaimana halnya orang  yang  berperang  untuk  menjunjung tinggi  kalimat  (agama)  Allah  dinilai sebagai berjuang fi sabilillah, maka demikian pula halnya orang yang  berdakwah, mengajar, dan memberikan pengarahan-pengarahan dengan maksud untuk menjunjung tinggi kalimat Allah, dia juga berjuang  fi sabilillah.
 
Sesungguhnya  kedudukan islamic centre dalam kondisi seperti ini merupakan benteng pertahanan Islam ... dan masing-masing orang akan memperoleh balasan sesuai dengan niatnya. Hal ini lebih diperkuat oleh kondisi khusus kota Thousand.  Di  kota ini  terdapat markas Rasyad Khalifah, tokoh yang mengingkari sebagian ayat-ayat Al-Qur'an dan  mengingkari  Sunnah  Rasul yang  suci secara total. Hingga pada akhirnya ia mengingkari shalat -  yang  merupakan  sesuatu  yang  dimaklumi  sebagai bagian  dari  ad-Din secara dharuri (pasti) - yang ia anggap sebagai shalat yang sia-sia  dan  ia  sebut  dengan  "shalat orang-orang  musyrik."  Kemudian  kesesatannya ini ia tutupi dengan kebohongan  yang  sangat  besar,  yaitu  dia  mengaku sebagai "Rasul Allah"!!
 
Dengan  demikian, sudah barang tentu gerakan kebenaran harus mempunyai markas (sentral)  untuk  memerangi  kebatilan  dan harus mempunyai benteng Islam demi menghadapi kekafiran yang senantiasa ditegakkan dari dalam dan luar.

"Ingatlah,  kamu   ini   orang-orang   yang   diajak   untuk menafkahkan  (hartamu)  pada jalan Allah. Maka diantara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya  dia hanyalah  kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan  kamulah  orang-orang  yang  membutuhkan (Nya);  dan  jika  kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan  seperti kamu (ini)." (Muhammad: 38)

Semoga  Allah  meluruskan  langkah-langkah Anda dan menolong Anda untuk menampilkan kebenaran dan  membatalkan  kebatilan walaupun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya.

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com