KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT



APAKAH MEMAKAI CADAR ITU WAJIB? ( 3/3 )

 

SYUBHAT TERAKHIR
 
Akhirnya saya kemukakan juga  di  sini  suatu  syubhat  yang ditimbulkan  oleh  sebagian orang yang peduli terhadap agama yang  ingin  mempersempit  ruang  kebebasan   wanita,   yang ringkasnya sebagai berikut:
 
"'Kami  menerima  argumentasi  yang  Anda  kemukakan tentang disyariatkan (diperbolehkan)-nya  wanita  membuka  wajahnya, sebagaimana  kami  juga  menerima  bahwa  kaum  wanita  pada periode pertama - masa Nabi dan Khulafa ar-Rasyidin -  tidak memakai  cadar  melainkan  pada  keadaan  tertentu saja yang sedikit jumlahnya.
 
Tetapi kita harus mengerti bahwa zaman itu  merupakan  zaman yang  ideal,  akhlaknya  bersih,  rohaniahnya tinggi, wanita aman  membuka  wajahnya   tanpa   ada   seorang   pun   yang mengganggunya.  Berbeda  dengan  zaman kita dimana kerusakan sudah  merajalela,  dekadensi  moral  terjadi   dimana-mana, fitnah  menimpa  manusia  dimana-mana,  maka  tidak ada yang lebih utama bagi wanita daripada menutup wajahnya,  sehingga tidak menjadi mangsa serigala-serigala lapar yang senantiasa mengintainya di setiap penjuru."
 
Terhadap syubhat ini dapat saya  kemukakan  jawaban  sebagai berikut:
 
PERTAMA:  bahwa meskipun periode awal merupakan periode yang ideal, yang tidak ada tandingannya dalam hal kesucian akhlak dan  ketinggian  rohaninya,  tetapi  mereka  masih  termasuk periode manusia juga, yang didalamnya  ada  kelemahan,  hawa nafsu,  dan kesalahan. Karena itu di antara mereka ada orang yang berbuat zina, ada yang dijatuhi hukuman had,  ada  yang melakukan  tindakan-tindakan  yang  masih  dibawah zina, ada orang-orang yang durhaka, dan ada pula orang-orang gila  dan sinting  yang  suka  mengganggu kaum wanita dengan melakukan ulah-ulah yang menyimpang. Dan telah turun ayat (dalam surat al-Ahzab)  yang  menyuruh  wanita-wanita beriman mengulurkan jilbab ke tubuh mereka agar  mereka  dapat  dikenal  sebagai wanita-wanita  merdeka  yang  sopan  dan menjaga diri hingga tidak diganggu:

"... Yang demikian  itu  supaya  mereka  lebih  mudah  untuk dikenal,  karena  itu  mereka tidak diganggu ..." (Al-Ahzab: 59)

Selain itu, telah  turun  pula  beberapa  ayat  dalam  surat al-Ahzab  yang mengancam kaum durhaka dan "sinting" itu jika mereka tidak mau meninggalkan  perbuatan  mereka  yang  hina itu. Allah berfirman:

"Sesungguhnya   jika  tidak  berhenti  orang-orang  munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, d n orang- orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya  kami  perintahkan  kamu  (untuk  memerangi)  mereka kemudian   mereka  tidak  menjadi  tetanggamu  (di  Madinah) melainkan  dalam  waktu  yang   sebentar,   dialam   keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya." (al-Ahzab: 60-61)

KEDUA: bahwa dalil-dalil syariah -  apabila  telah  sah  dan jelas-bersifat  umum  dan  abadi.  Ia bukan dalil untuk satu atau dua periode saja, kemudian berhenti dan tidak dijadikan dalil  lagi.  Sebab,  jika  demikian, maka syariat itu hanya bersifat temporal, tidak abadi,  dan  hal  ini  bertentangan dengan predikatnya sebagai syariat terakhir.
 
KETIGA:  kalau  kita  buka  pintu  ini,  maka kita bisa saja menasakh   (menghapus)   syariat   dengan   pikiran    kita, orang-orang  yang ketat dapat saja menasakh hukum-hukum yang mudah dan ringan dengan  alasan  wara'  dan  hati-hati,  dan orang-orang  yang  longgar  dapat  menasakh hukum-hukum yang telah baku dengan alasan perkembangan zaman dan sebagainya.
 
Yang benar, bahwa syariat adalah yang menghukumi bukan  yang dihukumi,  yang diikuti bukan yang mengikuti, dan kita wajib tunduk kepada hukum syariat, bukan hukum syariat yang tunduk kepada peraturan kita:

"Andaikata  kebenaran  itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit  dan  bumi  ini,  dan  semua  yang  ada  di dalamnya ..." (al-Mu'minun: 71 )

BEBERAPA PERNYATAAN YANG MENGUATKAN PENDAPAT JUMHUR
 
Saya  percaya bahwa persoalan ini telah begitu jelas setelah saya kemukakan argumentasi kedua belah  pihak,  dan  semakin jelas  bagi  kita  bahwa pendapat jumhurlah yang lebih rajih (kuat) dalilnya, lebih mantap pendapatnya, dan lebih lempang jalannya.
 
Namun demikian, perlu kiranya saya tambahkan disini beberapa pernyataan yang menambah kuatnya pendapat jumhur, dan  dapat melegakan  hati  setiap  muslimah  yang  taat  dan mengikuti pendapat ini tanpa merasa kesulitan, insya Allah.
 
PERTAMA: Tidak Ada Penugasan & Pengharaman Kecuali  dg Nash yang Sahih & Sharih
 
Bahwa pada dasarnya manusia itu terbebas dari tanggungan dan taklif (beban tugas), dan tidak ada  taklif  kecuali  dengan nash   yang   pasti.  Karena  itu,  masalah  mewajibkan  dan mengharamkan dalam ad-Din itu merupakan  suatu  urusan  yang serius,   bukan  urusan  sembarangan,  sehingga  kita  tidak mewajibkan kepada manusia apa  yang  tidak  diwajibkan  oleh Allah,   atau  kita  mengharamkan  kepada  mereka  apa  yang dihalalkan  oleh  Allah,  atau  kita  membuat  syariat  atau peraturan dalam ad-Din yang tidak diizinkan oleh Allah.
 
Karena itu, para imam salaf dahulu sangat berhati-hati dalam mengucapkan kata haram kecuali terhadap sesuatu  yang  sudah diketahui   pengharamannya  secara  pasti  sebagaimana  yang dikemukakan Imam Ibnu Taimiyah dan saya sebutkan dalam kitab saya al-Halal wal-Haram fil-Islam.
 
Disamping  itu,  pada  asalnya  segala  sesuatu  dan  segala tindakan yang merupakan adat kebiasaan  adalah  mubah.  Maka apabila    tidak    didapati   nash   yang   shahih   tsubut (periwayatannya)  dan  sharih   (jelas)   petunjuknya   yang menunjukkan   keharamannya,   tetaplah  hal  itu  pada  asal kebolehannya.  Dan  orang   yang   memperbolehkannya   tidak dituntut dalil, karena apa yang ada menurut hukum asal tidak perlu  ditanyakan  'illat-nya,  justru  yang  dituntut  agar mengemukakan dalil ialah orang yang mengharamkan.26
 
Sedangkan  mengenai  masalah  membuka wajah dan tangan tidak saya jumpai nash yang  sahih  dan  sharih  yang  menunjukkan keharamannya. Andaikata Allah hendak mengharamkannya niscaya sudah diharamkan-Nya dengan nash yang jelas dan qath'i  yang tidak meragukan, karena Dia telah berfirman:

"...  sesunguhnya  Allah  telah  menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang  terpaksa  kamu memakannya..." (al-An'am: 119)

Sedangkan  dari apa-apa yang telah dijelaskan-Nya tidak kita dapati masalah haramnya membuka wajah  dan  telapak  tangan. Maka   tidak   perlulah  kita  mempersukar  apa  yang  telah dimudahkan Allah, sehingga kita  tidak  tergolong  ke  dalam kaum  yang disinyalir oleh Allah karena mengharamkan makanan yang halal:

"...  Katakanlah:  'Apakah  Allah  telah   memberikan   izin kepadamu   (tentang   ini)  atau  kamu  mengada-adakan  saja terhadap Allah?'" (Yunus: 59)

KEDUA: Perubahan Fatwa karena Perubahan Zaman
 
Diantara ketetapan yang  tidak  diperselisihkan  lagi  ialah bahwa  fatwa itu bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman, tempat, adat kebiasaan, serta situasi dan kondisi.
 
Saya percaya bahwa zaman kita yang telah memberikan  sesuatu kepada  kaum  wanita  ini  telah  menjadikan  kita  menerima pendapat-pendapat yang mudah,  yang  menguatkan  posisi  dan kepribadian kaum wanita.
 
Sungguh,  musuh-musuh  Islam  baik dari kalangan misionaris, Marxis, orientalis, atau lainnya, telah  mengekspos  kondisi buruk  kaum  di  beberapa  negara Islam, dan menyandarkannya kepada   Islam   itu   sendiri.   Mereka    juga    berusaha menjelek-jelekkan    hukum-hukum   syariat   Islam   beserta ajarannya  mengenai  wanita,   dan   digambarkannya   dengan gambaran  yang  tidak  cocok dengan hakikat yang dibawa oleh Islam.
 
Karena itu  saya  melihat  bahwa  keunggulan  pendapat  dari sebagian  orang pada zaman kita sekarang ialah pendapat yang menyadarkan kaum wanita dan peran serta  kaum  wanita  serta kemampuannya   menunaikan   hak-hak  fitrahnya  dan  hak-hak syar'iyahnya, sebagaimana yang  telah  saya  jelaskan  dalam kitab saya al-Ijtihad fi asy-Syari'ati Islamiyyah.

KETIGA: Bencana Umum
 
Saya   persilakan   wanita   muslimah   yang   sedang  sibuk menjalankan dakwah agar tidak memakai  cadar,  supaya  tidak terjadi   pemisahan   antara   mereka  dengan  wanita-wanita muslimah lainnya, karena kemaslahatan  dakwah  disini  lebih penting  daripada  melaksanakan  pendapat  yang dipandangnya lebih hati-hati.
 
Diantara hal  yang  tidak  diperdebatkan  lagi  ialah  bahwa terjadinya  "bencana  umum"  (meratanya bencana) di kalangan masyarakat  ialah  disebabkan  oleh  sikap  meringankan  dan mempermudah   urusan   sebagai  yang  sudah  diketahui  oleh orang-orang yang  sibuk  menggeluti  ilmu  fiqih  dan  ushul fiqih, dan untuk ini terdapat banyak fakta dan data.
 
Dan  bencana telah merajalela pada hari ini dengan keluarnya kaum wanita ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, tempat-tempat kerja,   rumah-rumah  sakit,  pasar-pasar,  dan  sebagainya. Mereka sudah tidak betah lagi tinggal di  rumah  sebagaimana pada  masa-masa  sebelumnya. Semua ini menuntut mereka untuk membuka  wajah  dan  tangannya  agar  memudahkan  gerak  dan pergaulan  mereka  dengan kehidupan dan makhluk hidup, dalam mengambil dan memberi, menjual  dan  membeli,  memahami  dan memberikan pemahaman.
 
Alangkah  baiknya  kalau  semua persoalan itu hanya berhenti pada yang  mubah  atau  yang  diperselisihkan  saja  seperti mengenai   membuka   wajah   dan   telapak   tangan.  Tetapi persoalannya sudah  melaju  kepada  yang  sudah  jelas-jelas haram,  seperti  membuka  bahu dan betis, kepala, leher, dan kuduk, dan wanita-wanita muslimah juga  ada  yang  melakukan bid'ah-bid'ah  Barat  (mode-mode)  itu.  Disisi  lain,  kita jumpai pula wanita-wanita muslimah  yang  berpakaian  tetapi telanjang,   yang   bergaya  dan  berlenggak-lenggok  dengan dandanan dan mode rambut  sedemikian  rupa,  persis  seperti yang  disinyalir  dalam  hadits sahih dengan sinyalemen yang sangat jitu dan tepat.
 
Bagaimana  kita  akan  bersikap  ketat  dalam  masalah  ini, sedangkan kebebasan dan kebinalan ini sudah terjadi di depan mata kita?
 
Sesungguhnya peperangan ini tidak hanya seputar  "wajah  dan telapak  tangan":  apakah boleh dibuka ataukah tidak? Tetapi peperangan yang sebenarnya ialah dengan mereka  yang  hendak menjadikan  wanita muslimah sebagai potret wanita Barat, dan hendak   melepaskan   identitasnya   dan   melucuti   ghirah islamiyahnya,  lantas  mereka keluar rumah dengan berpakaian tetapi telanjang, dengan berlenggak-lenggok miring ke  kanan dan ke kiri.
 
Karena   itu  tidak  boleh  bagi  saudara-saudara  kita  dan putri-putri  kita   yang   "bercadar"   serta   ikhwan   dan putra-putra   kita   yang   "menyerukan  cadar"  membidikkan panahnya  kepada  saudara-saudara  mereka  yang   "berhijab" (dengan  tidak  bercadar) dan ikhwan mereka "yang menyerukan hijab," yang merasa  mantap  dengan  pendapat  jumhur  umat. Tetapi   hendaklah   mereka   membidikkan   panahnya  kepada orang-orang yang menyerukan budaya  buka-bukaan,  telanjang, dan melepaskan adab Islam.
 
Sesungguhnya  wanita  muslimah  yang mengenakan hijab syar'i itu   sendiri   sering   berperang   (berjuang)   menghadapi lingkungannya,   keluarganya,   dan  masyarakatnya  sehingga mereka dapat melaksanakan perintah  Allah  untuk  mengenakan hijab,  maka  bagaimanakah  kita  akan mengatakan kepadanya: "Sesungguhnya Anda melakukan dosa dan maksiat,  karena  Anda tidak memakai cadar"?
 
KEEMPAT: Masyaqqah (Kesulitan) Mendatangkan Kemudahan
 
Sesungguhnya  mewajibkan  wanita muslimah - lebih-lebih pada zaman kita sekarang ini - untuk menutup wajah dan  tangannya berarti memberikan kesulitan dan kesukaran serta kemelaratan kepada  mereka.  Padahal  Allah  Ta'ala   telah   meniadakan kesulitan,  kesukaran,  dan  kemelaratan  dalam melaksanakan agama-Nya, bahkan ditegakkan-Nya agama-Nya itu diatas  dasar kelapangan,  kemudahan, keringanan, dan rahmat kasih sayang. Allah berfirrnan:

"... dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan ..."
(al-Hajj: 78)

 
"...   Allah   menghendaki   kemudahan   bagimu   dan  tidak menghendaki kesukaran bagimu..."
(al-Baqarah: 185)

 
"...Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah."
(an-Nisa': 28)

Rasulullah saw. bersabda:
 
"Aku  diutus  dengan  membawa  agama  yang lembut dan lapang (toleran). ,' (HR Imam Ahmad dalam Musnadnya)
 
Maksudnya,  lurus   dalam   aqidahnya   dan   lapang   dalam hukum-hukumnya.
 
Sedangkan  para  fuqaha  telah  menetapkan  dalam kaidahnya: "Kesukaran itu menarik kemudahan."
 
Nabi saw. telah menyuruh kita untuk memberikan kemudahan dan jangan  memberikan  kesukaran,  memberikan  kegembiraan  dan jangan menjadikan orang lari. Kita ditampilkan untuk memberi kemudahan bukan untuk memberi kesulitan.
 
BEBERAPA PERINGATAN:
 
Ada  beberapa  peringatan  penting  yang  perlu  dikemukakan disini untuk kita perhatikan:
 
1. Bahwa membuka wajah disini tidak dimaksudkan agar si wanita memolesnya dengan bermacam-macam bedak dan parfum yang berwarna-warni. Begitupun membuka tangan disini tidak dimaksudkan agar mereka memanjangkan kukunya dan mengecatnya dengan apa yang mereka namakan manukir. Tetapi hendaklah diakeluar dengan sopan, tidak bersolek dan ber-make-upwarna-warni, dan tidak tabarruj (menampakkan aurat,berpakaian mini, atau berpakaian yang tipis, atau yang membentuk lekuk tubuh). Semua yang diperbolehkan disiniadalah perhiasan yang ringan-ringan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lainnya, yaitu celak dimata dan cincin di jari.
  
2. Pendapat yang mengatakan tidak wajib bercadar tidak berarti mereka berpendapat bahwa memakai cadar itu tidak boleh. Maka barangsiapa diantara kaum wanita yang ingin memakai cadar, tidak ada larangan, bahkan hal yang demikian terkadang disukai - menurut pandangan sebagian orang yang cenderung bersikap hati-hati, apabila wanita itu cantik yang dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah, lebih-lebih jika memakai cadar itu tidak menyulitkannya dan tidak menimbulkan pergunjingan orang banyak. Bahkan banyak ulama yang mengatakannya wajib jika kondisinya demikian (bisa menimbulkan fitnah). Tetapi saya tidak menemukan dalil yang mewajibkan menutup wajah ketika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Sebab ini merupakan masalah yang tidak ada ukurannya, dan kecantikan itu sendiri sifatnya relatif, ada wanita yang oleh sebagian orang dianggap sangat cantik, tetapi oleh sebagian yang lain dianggap biasa-biasa saja, dan oleh yang lain lagi dianggap tidak cantik.
  
Beberapa penulis bahkan mengemukakan, hendaklah wanita menutup wajahnya apabila ada laki-laki ingin berlezat-lezat memandangnya atau mengkhayalkannya. Namun masalahnya, dari mana wanita tersebut mengetahui bahwa ada laki-laki ingin berlezat-lezat dengannya atau mengkhayalkannya (sehingga ia wajib menutup mukanya)?
  
Oleh karena itu, yang lebih utama daripada menutup muka ialah hendaknya wanita tersebut menjauhi lapangan yang bisa menimbulkan fitnah, jika ia menaruh perhatian terhadap masalah itu.
  
3. Bahwa tidak ada kaitan antara membuka wajah dengan kebolehan melihatnya. Maka diantara ulama ada yang memperbolehkan membuka wajah tetapi tidak memperbolehkan melihatnya, kecuali pada pandangan pertama yang selintas. Ada pula yang memperbolehkan melihat apa yang diperbolehkan melihatnya itu, apabila tidak disertai dengan syahwat; jika disertai dengan syahwat atau dimaksudkan untuk membangkitkan syahwat, maka haram melihatnya, dan pendapat inilah yang saya pilih.
  
Allah-lah yang memberi pertolongan dan petunjuk ke jalan yang lurus.
 
Catatan kaki:

 
26 Berbeda dengan masalah ibadah yang pada asalnya tidak boleh (haram/batil) sehingga ada dalil yang memerintahkannya. Maka orang yang tidak memperbolehkan melakukan suatu bentuk ibadah tidak dituntut dalilnya, tetapi yang dituntut mengemukakan dalil ialah orang yang mendakwakan adanya ibadah tersebut. (Penj.) ^


 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com