KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


HAK & KEWAJIBAN KELUARGA SI SAKIT & TEMAN-TEMANNYA  (1/25)

 
Fakultas Kedokteran Universitas  al-Malik  Faishal  di  Dammam melaksanakan  suatu  kegiatan  yang  bagus  dan  mulia,  yaitu menyusun sebuah buku yang membicarakan  kode  etik  kedokteran dalam Islam.
 
Programnya   disusun  sedemikian  bagus,  masing-masing  topik pembahasan  diserahkan  kepada  sejumlah   pemerhati   masalah kedokteran  dan  syariah,  dari  kalangan  ahli fiqih dan ahli kedokteran.  Pihak  fakultas  menegaskan  bahwa   proyek   ini semata-mata  sebagai  amal  kebajikan  karena  Allah dan untuk mencari ridha-Nya, tidak  ada  tujuan  materiil  sama  sekali. Orang-orang yang ikut andil menyumbangkan tulisannya pun tidak mendapatkan honorarium, pahala mereka hanya  pada  sisi  Allah SWT.
 
Dewan  redaksi  meminta  kepada  saya untuk menulis salah satu dari topik yang berkaitan dengan "Hak dan  Kewajiban  Keluarga Si Sakit dan Teman-temannya." Topik ini membuat beberapa unsur penting yang layak untuk dijelaskan menurut tinjauan dalil dan ushul (prinsip) syar'iyah, antara lain:
 
A. Menjenguk orang sakit;
B. Adab menjenguk orang sakit;
C. Menanggung biaya pengobatan, seluruhnya atau sebagian;
D. Mendermakan (mendonorkan) darah untuk si sakit;
E. Mendonorkan organ tubuh;
F. Hak si sakit yang tidak normal pikirannya (karena terbelakang, karena di bawah ancaman, atau karena hilang akal);
G. Hak-hak si sakit menjelang kematiannya, dan adab bergaul dengannya;
H. Hak-hak si sakit yang mati otaknya, dan hukum kematian otak.
 
Saya meminta pertolongan kepada Allah, dan saya tulis apa yang diminta  oleh  panitia, meskipun kesibukan saya sangat banyak. Tulisan  itu  saya  kirimkan  kepada  saudara   A.D.   Zaghlul an-Najjar untuk disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
 
Oleh  karena  proses penerbitan buku tersebut cukup lama, maka saya memandang perlu memuat pembahasan  tersebut  dalam  kitab ini  agar  manfaatnya  lebih  luas dan merata, disamping dapat segera dimanfaatkan. Segala puji  teruntuk  Allah  yang  telah memberikan taufiq-Nya.
 
Alhamdulillah, segala puji kepunyaan Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, dan  kepada orang- orang yang mengikuti petunjuknya.
 
Amma ba'du.
 
Sesungguhnya perubahan merupakan salah satu gejala  umum  bagi makhluk  di  alam semesta ini, khususnya makhluk hidup. Karena itu, makhluk-makhluk ini senantiasa menghadapi  kondisi  sehat dan sakit, yang berujung pada kematian.
 
Adapun   manusia   adalah   makhluk   hidup   yang   tertinggi peringkatnya, karena itu tidaklah  mengherankan  bila  manusia ditimpa  berbagai  hal. Bahkan ia lebih banyak menjadi sasaran musibah tersebut dibandingkan makhluk lainnya,  karena  adanya faktor    kemauan   dan   faktor   alami   yang   mempengaruhi kehidupannya.
 
Oleh karena itu, syariat Islam menganggap penyakit atau  sakit merupakan  fenomena yang biasa dalam kehidupan manusia, mereka diuji dengan penyakit  sebagaimana  diuji  dengan  penderitaan lainnya,  sesuai dengan sunnah dan undang-undang yang mengatur alam semesta dan tata kehidupan manusia.
 
Sebab itu pula terdapat berbagai macam  hukum  dalam  berbagai bab  dari  fiqih  syariah yang berkaitan dengan penyakit, yang seharusnya diketahui oleh seorang muslim, atau diketahui  mana yang terpenting, supaya dia dapat mengatur hidupnya pada waktu dia sakit --sebagaimana dia  mengaturnya  ketika  dia  sehat-- sesuai  dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah, jauh dari apa yang dibenci dan dimurkai-Nya.
 
Diantara  hukum-hukum  ini  adalah  yang  berhubungan   dengan pengobatan    orang   sakit,   hukum   berobat,   siapa   yang melakukannya, bagaimana hubungannya dengan masalah kedokteran, pengobatan,  dan  obat itu sendiri, bagaimana bentuk kemurahan dan keringanan yang diberikan kepada si sakit berkenaan dengan kewajiban  dan  ibadahnya, dan bagaimana pula yang berhubungan dengan perkara-perkara yang dilarang dan diharamkan.
 
Misalnya yang berhubungan dengan hak dan kewajiban  si  sakit, serta  hak  dan  kewajiban  orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga, sanak kerabat, dan teman-temannya.
 
Orang yang memperhatikan Al-Qur'anul  Karim  niscaya  ia  akan menjumpai  kata  al-maradh  (penyakit/sakit)  dengan kata-kata bentukannya yang disebutkan sebanyak lima belas kali, sebagian berhubungan  dengan  penyakit hati, dan kebanyakan berhubungan dengan penyakit tubuh. Sebagaimana Al-Qur'an juga  menyebutkan kata-kata  syifa'  (obat)  beserta  variasi bentuknya sebanyak enam kali, yang kebanyakan berhubungan dengan penyakit hati.
 
Masalah ini juga mendapat perhatian dari para ahli hadits  dan ahli  fiqih,  sehingga  dapat  kita  jumpai  dalam kitab-kitab hadits yang disusun menurut bab dan maudhu' (topik)-nya,  yang di  antaranya  ialah "Kitab ath-Thibb" (obat/pengobatang)1 dan di antaranya --seperti  Shahih  al-Bukhari--  terdapat  "Kitab al-Mardha"  (orang-orang  sakit).  Ini  berkaitan  dengan "Bab ar-Ruqa"  (mantra-mantra/jampi-jampi)  jimat,  penyakit  'ain, sihir,  dan  lain-lainnya.  Kemudian  ada  pula  masalah  yang berkaitan dengan penyakit yang dimuat di dalam kitab al-Janaiz (jenazah).
 
Dalam  kehidupan  kita  pada  zaman  modern  ini  telah timbul berbagai persoalan dan permasalahan dalam dunia  penyakit  dan kedokteran yang belum dikenal oleh para fuqaha kita terdahulu, bahkan tidak pernah terpikir dalam benak  mereka.  Karena  itu fiqih  modern  harus  dapat  memahaminya dan menjelaskan hukum syara' yang berkaitan dengannya, sesuai dengan dalil-dalil dan prinsip-prinsip syariat.
 
Diantara  ketetapan  yang sudah disepakati ialah bahwa syariat menghukumi semua perbuatan orang mukallaf, yang besar  ataupun yang  kecil,  dan tidak satu pun perbuatan mukallaf yang lepas dari bingkainya. Karena itu  setiap  perbuatan  mukallaf  yang dilakukan  dengan  sadar,  pasti  terkena kepastian hukum dari lima macam hukumnya, yaitu  wajib,  mustahab,  haram,  makruh, atau mubah.
 
Pada   halaman-halaman   berikut   ini   akan  saya  kemukakan hukum-hukum syara' yang terpenting  dan  pengarahan-pengarahan Islam   yang   berhubungan   dengan  kedokteran  (pengobatan), kesehatan,  dan  penyakit,  dengan  mengacu   pada   nash-nash Al-Qur'an, As-Sunnah, dan maksud syariat juga dengan mengambil sebagian  dari  perkataan  ulama-ulama  umat   yang   mendalam ilmunya,  dengan mengaitkannya dengan kenyataan sekarang. Kita mohon kepada Allah semoga  Dia  menjadikannya  bermanfaat  ...


amin.
 
 


MENJENGUK ORANG SAKIT DAN HUKUMNYA


Orang  sakit  adalah  orang  yang   lemah,   yang   memerlukan perlindungan   dan   sandaran.   Perlindungan   (pemeliharaan, penjagaan) atau  sandaran  itu  tidak  hanya  berupa  materiil sebagaimana  anggapan  banyak  orang,  melainkan  dalam bentuk materiil dan spiritual sekaligus.
 
Karena  itulah  menjenguk  orang  sakit  termasuk  dalam   bab tersebut.  Menjenguk  si  sakit ini memberi perasaan kepadanya bahwa  orang  di  sekitarnya   (yang   menjenguknya)   menaruh perhatian   kepadanya,   cinta  kepadanya,  menaruh  keinginan kepadanya,  dan   mengharapkan   agar   dia   segera   sembuh. Faktor-faktor  spiritual  ini  akan  memberikan kekuatan dalam jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah.  Oleh  sebab itu,   menjenguk   orang  sakit,  menanyakan  keadaannya,  dan mendoakannya  merupakan   bagian   dari   pengobatan   menurut orang-orang  yang  mengerti.  Maka pengobatan tidak seluruhnya bersifat materiil (kebendaan).
 
Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan "menjenguk orang sakit"  dengan  bermacam-macam  metode  dan dengan menggunakan bentuk targhib  wat-tarhib  (menggemarkan  dan  menakut-nakuti yakni  menggemarkan  orang yang mematuhinya dan menakut-nakuti orang yang tidak melaksanakannya).
 
Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq  'alaih  dari  Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:
 
"Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya ketika bersin."2
 
Imam  Bukhari  meriwayatkan  dari  Abu  Musa  al-Asy'ari,   ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
 
"Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan tolonglah orang yang kesusahan."3
 
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari  al-Barra'  bin  Azib,  ia berkata:
 
"Rasulullah saw. menyuruh kami melakukan tujuh perkara  ... Lalu ia menyebutkan salah satunya adalah menjenguk orang sakit."4
 
Apakah perintah dalam hadits di  atas  dan  hadits  sebelumnya menunjukkan  kepada  hukum  wajib ataukah mustahab? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.
 
Imam Bukhari berpendapat  bahwa  perintah  disini  menunjukkan hukum  wajib,  dan beliau menerjemahkan hal itu di dalam kitab Shahih-nya dengan mengatakan:  "Bab  Wujubi  'Iyadatil-Maridh" (Bab Wajibnya Menjenguk Orang Sakit).
 
Ibnu  Baththal  berkata, "Kemungkinan perintah ini menunjukkan hukum wajib dalam arti wajib kifayah,  seperti  memberi  makan orang yang lapar dan melepaskan tawanan; dan boleh jadi mandub (sunnah),  untuk  menganjurkan  menyambung  kekeluargaan   dan berkasih sayang."
 
Ad-Dawudi memastikan hukum yang pertama (yakni fardhu kifayah; Penj.). Beliau berkata, "Hukumnya adalah fardhu, yang  dipikul oleh sebagian orang tanpa sebagian yang lain."
 
Jumhur  ulama berkata, "Pada asalnya hukumnya mandub (sunnah), tetapi kadang-kadang bisa menjadi wajib bagi orang tertentu."
 
Sedangkan ath-Thabari menekankan bahwa menjenguk  orang  sakit itu  merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkahnya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya,  dan  mubah bagi orang selain mereka.
 
Imam  Nawawi  mengutip kesepakatan (ijma') ulama tentang tidak wajibnya, yakni tidak wajib 'ain.5
 
Menurut zhahir hadits, pendapat yang  kuat  menurut  pandangan saya  ialah  fardhu  kifayah,  artinya jangan sampai tidak ada seorang pun yang menjenguk si sakit.  Dengan  demikian,  wajib bagi   masyarakat   Islam   ada  yang  mewakili  mereka  untuk menanyakan  keadaan   si   sakit   dan   menjenguknya,   serta mendoakannya agar sembuh dan sehat.
 
Sebagian  ahli  kebajikan dari kalangan kaum muslim zaman dulu mengkhususkan  sebagian  wakaf  untuk  keperluan   ini,   demi memelihara sisi kemanusiaan.
 
Adapun masyarakat secara umum, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan kadang-kadang bisa  meningkat  menjadi  wajib  bagi  orang tertentu  yang  mempunyai  hubungan  khusus dan kuat dengan si sakit. Misalnya, kerabat, semenda, tetangga yang  berdampingan rumahnya, orang yang telah lama menjalin persahabatan, sebagai hak guru dan kawan akrab,  dan  lain-lainnya,  yang  sekiranya dapat   menimbulkan  kesan  yang  macam-macam  bagi  si  sakit seandainya mereka tidak menjenguknya,  atau  si  sakit  merasa kehilangan    terhadap    yang    bersangkutan   (bila   tidak menjenguknya).
 
Barangkali  orang-orang  macam  inilah  yang  dimaksud  dengan perkataan  haq  (hak) dalam hadits: "Hak orang muslim terhadap muslim lainnya ada lima," karena tidaklah  tergambarkan  bahwa seluruh  kaum  muslim harus menjenguk setiap orang yang sakit. Maka yang dituntut ialah orang yang memiliki  hubungan  khusus dengan si sakit yang menghendaki ditunaikannya hak ini.
 
Disebutkan  dalam  Nailul-Authar:  "Yang dimaksud dengan sabda beliau (Rasulullah saw.) 'hak orang muslim' ialah tidak  layak ditinggalkan,  dan  melaksanakannya ada kalanya hukumnya wajib atau  sunnah  muakkadah  yang  menyerupai   wajib.   Sedangkan menggunakan  perkataan  tersebut  --yakni  haq  (hak)-- dengan kedua arti di atas termasuk bab  menggunakan  lafal  musytarik dalam   kedua   maknanya,   karena   lafal  al-haq  itu  dapat dipergunakan dengan arti 'wajib', dan dapat juga  dipergunakan dengan arti 'tetap,' 'lazim,' 'benar,' dan sebagainya."6
 
 


KEUTAMAAN DAN PAHALA MENJENGUK ORANG SAKIT


Diantara yang  memperkuat  kesunnahan  menjenguk  orang  sakit ialah  adanya  hadits-hadits  yang  menerangkan  keutamaan dan pahala orang yang melaksanakannya, misalnya:
 
1. Hadits Tsauban yang marfu' (dari Nabi saw.):
 
"Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam khurfatul jannah."7
 
Dalam riwayat lain ditanyakan kepada Rasulullah saw.:
 
"Wahai Rasulullah, apakah khurfatul jannah itu?" Beliau menjawab, "Yaitu taman buah surga."
 
2. Hadits Jabir yang marfu':
 
"Barangsiapa yang menjenguk orang sakit berarti dia menyelam dalam rahmat, sehingga ketika dia duduk berarti dia berhenti disitu (didalam rahmat)."8
 
3. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
 
"Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah seorang penyeru dari langit (malaikat), 'Bagus engkau, bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan tempat tinggal di dalam surga."9
 
4. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
 
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, 'Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.' Orang itu bertanya, 'Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?' Allah menjawab, 'Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya?Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?' 'Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.' Orang itu menjawab, 'Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?' Allah menjawab, 'Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?' 'Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.' Orang itu bertanya, 'Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?'Allah menjawab, 'Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?"10
 
5. Diriwayatkan dari Ali  r.a.,  ia  berkata:  Saya  mendengar Rasulullah saw. bersabda:
 
"Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga." (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, "Hadits hasan.")11
 

Catatan kaki:
 
1 Seperti dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, dan Sunan lbnu Majah.  ^
2 Al-Lu'lu' wal-Marjan. nomor 1397. ^
3 Shahih al-Bukhari, "Kitab al-Mardha," "Bab Wujubi 'Iyadatil-Maridh," hadits nomor 5649. Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, terbitan Darul-Fikri, al-Mushawwirah 'an as-Salafiyah, Kairo, 10: 122.  ^
4 Fathul-Bari bi Syarhi Shahihil-Bukhari, juz 10, hlm. 112-113.  ^
5 Ibid hadits nomor 5650.  ^
6 Nailul-Authar, karya Asy-Syaukani, juz 4, hlm. 43-44.  ^
7 Riwayat Muslim dalam "Kitab al-Birr," hadits nomor 2568, dengan tahqiq Fuad Abdul Baqi, dan diriwayatkanoleh Tirmidzi dalam al-Jana'iz, hadits nomor 967, dan beliau berkata, "Hasan sahih." Terbitan Himsh, dengan ta'liq Azat Da'as.  ^
8 Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad, nomor 522, Ahmad dan al-Bazzar, dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan ini. Lafal mereka berbeda-beda, dan Ahmad meriwayatkan seperti ini dari hadits Ka'ab bin Malik dengan sanad hasan. Al-Fath, 10: 113.  ^
9 Ibnu Majah dalam al-Jana'iz, 1442; Tirmidzi no. 1006.  ^
10 HR Muslim, hadits nomor 2569.  ^
11 HR Tirmidzi, nomor 969. Beliau berkata, "Hasan gharib."  ^
 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com