KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


DISYARIATKAN MENJENGUK SETIAP ORANG SAKIT


 
Dalam hadits-hadits yang menyuruh dan  menggemarkan  menjenguk orang sakit terdapat indikasi yang menunjukkan disyariatkannya menjenguk setiap orang yang sakit, baik sakitnya berat  maupun ringan.
 
Imam Baihaqi dan Thabrani secara marfu' meriwayatkan:
 
    "Tiga macam penderita penyakit yang tidak harus dijenguk yaitu sakit mata, sakit bisul, dan sakit gigi."
 
Mengenai hadits ini, Imam Baihaqi  sendiri  membenarkan  bahwa riwayat  ini mauquf pada Yahya bin Abi Katsir. Berarti riwayat hadits ini tidak marfu' sampai Nabi saw., dan tidak  ada  yang dapat dijadikan hujjah melainkan yang beliau sabdakan.
 
Al-Hafizh  Ibnu  Hajar berkata, "Mengenai menjenguk orang yang sakit mata terdapat hadits khusus yang membicarakannya,  yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia berkata:
 
    "Rasulullah saw. menjenguk saya karena saya sakit mata."12
 
Menjenguk orang sakit itu  disyariatkan,  baik  ia  terpelajar maupun  awam,  orang  kota  maupun  orang desa, mengerti makna menjenguk orang sakit maupun tidak.
 
Imam Bukhari meriwayatkan dalam "Kitab al-Mardha"  dari  kitab Shahih-nya,  "Bab  'Iyadatul-A'rab,"  hadits  Ibnu  Abbas r.a. bahwa Nabi saw. pernah  menjenguk  seorang  Arab  Badui,  lalu beliau bersabda, "Tidak apa-apa, suci insya Allah." Orang Arab Badui itu berkata, "Engkau katakan  suci?  Tidak,  ini  adalah penyakit  panas  yang  luar  biasa pada seorang tua, yang akan mengantarkannya ke kubur." Lalu Nabi saw.  bersabda,  "Oh  ya, kalau begitu."13
 
Makna  perkataan Nabi saw., "Tidak apa-apa, suci insya Allah," itu adalah bahwa beliau mengharapkan  lenyapnya  penyakit  dan kepedihan  dari  orang  Arab  Badui  itu,  sebagaimana  beliau mengharapkan penyakitnya akan menyucikannya dari  dosa-dosanya dan  menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Jika ia sembuh, maka ia mendapatkan dua macam faedah; dan jika tidak  sembuh,  maka dia  mendapatkan  keuntungan  dengan  dihapuskannya  dosa  dan kesalahannya.
 
Tetapi orang Badui itu sangat  kasar  tabiatnya,  dia  menolak harapan  dan  doa  Nabi  saw.,  lalu Nabi mentolerirnya dengan menuruti jalan pikirannya seraya  mengatakan,  "Oh  ya,  kalau begitu."  Artinya,  jika  kamu tidak mau, ya baiklah, terserah anggapanmu.
 
Disebutkan  juga  dalam  Fathul-Bari  bahwa  ad-Daulabi  dalam al-Kuna  dan  Ibnu Sakan dalam ash-Shahabah meriwayatkan kisah orang Badui itu, dan dalam riwayat tersebut  disebutkan:  Lalu Nabi  saw.  bersabda,  "Apa  yang telah diputuskan Allah pasti terjadi." Kemudian orang Badui itu meninggal dunia.
 
Diriwayatkan dari  al-Mahlab  bahwa  ia  berkata,  "Pengertian hadits  ini adalah bahwa tidak ada kekurangannya bagi pemimpin menjenguk rakyatnya yang sakit,  meskipun  dia  seorang  Badui yang  kasar tabiatnya; juga tidak ada kekurangannya bagi orang yang  mengerti  menjenguk  orang  bodoh   yang   sakit   untuk mengajarinya  dan mengingatkannya akan hal-hal yang bermanfaat baginya, menyuruhnya bersabar  agar  tidak  menggerutu  kepada Allah   yang   dapat   menyebabkan   Allah   benci  kepadanya, menghiburnya  untuk  mengurangi   penderitaannya,   memberinya harapan  akan  kesembuhan penyakitnya, dan lain-lain hal untuk menenangkan hatinya dan hati keluarganya.
 
Diantara faedah lain hadits itu ialah bahwa  seharusnya  orang yang  sakit  itu  menerima  nasihat orang lain dan menjawabnya dengan jawaban yang baik."14

 


MENJENGUK ANAK KECIL DAN ORANG YANG TIDAK SADAR


Menjenguk orang sakit bukan  berarti  semata-mata  membesarkan penderita,   tetapi   hal  itu  juga  merupakan  tindakan  dan perbuatan baik kepada  keluarganya.  Oleh  karena  itu,  tidak apalah  menjenguk  anak  kecil yang belum mumayyiz (belum bisa membedakan antara satu hal dengan lainnya) yang  jatuh  sakit, karena  yang  demikian  itu akan menyenangkan hati keluarganya dan menyebabkannya terhibur. Demikian  pula  dengan  menjenguk orang  sakit yang tidak sadarkan diri, karena menjenguknya itu dapat menyenangkan  hati  keluarganya  dan  meringankan  beban mentalnya.  Kadang-kadang  setelah  yang  sakit  itu sadar dan diberi  kesembuhan  oleh   Allah,   maka   keluarganya   dapat menceritakan  kepadanya  siapa  saja  yang datang menjenguknya ketika ia tidak sadar, dan dengan  informasi  itu  dia  merasa senang.
 
Didalam  kitab  Shahih  al-Bukhari,  "Bab 'Iyadatush-Shibyan," disebutkan hadits Usamah bin Zaid r.a. bahwa putri  Nabi  saw. mengirim  utusan  kepada beliau --pada waktu itu Usamah sedang bersama Nabi saw., Sa'ad, dan Ubai-- untuk menyampaikan  pesan yang  isinya:  "Saya  kira  anak  perempuan  saya sudah hampir meninggal dunia, oleh karena  itu  hendaklah  Ayahanda  datang kepada   kami  --dalam  satu  riwayat  menggunakan  kata-kata: hendaklah Ayahanda datang  kepadanya."  Lalu  beliau  mengirim utusan  kepada putri beliau untuk menyampaikan salam dan pesan yang  isinya:   "Sesungguhnya   kepunyaan   Allah   apa   yang diambil-Nya  dan  apa  yang  diberikan-Nya, dan segala sesuatu bergantung pada ajal yang telah ditentukan di sisiNya,  karena itu  hendaklah  ia rela dan sabar." Lalu putrinya itu mengirim utusan lagi  sambil  bersumpah  agar  Rasulullah  saw.  datang kepadanya.  Lalu  pergilah Nabi saw. bersama kami ... Kemudian dibawalah anak yang sakit  itu  ke  pangkuan  Rasulullah  saw. dengan  nafas  yang tersendat-sendat. Maka meneteslah air mata beliau. Lalu Sa'ad bertanya, "Apakah ini,  wahai  Rasulullah?" Beliau menjawab:
 
"Ini adalah rahmat yang diletakkan Allah di dalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Dan Allah tidak memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya kecuali yang penyayang."15
 
Diriwayatkan juga  dalam  Shahih  al-Bukhari,  "Bab  'Iyadatil Mughma  'alaihi,"  hadits Jabir bin Abdullah r.a., ia berkata, "Saya pernah jatuh sakit, lalu Rasulullah saw. menjenguk  saya bersama  Abu  Bakar  dengan  berjalan kaki. Lalu beliau berdua mendapati saya dalam keadaan tidak  sadar,  lantas  Nabi  saw. berwudhu,  kemudian menuangkan bekas air wudhunya kepada saya, kemudian saya sadar, ternyata beliau adalah  Nabi  saw.,  lalu saya  bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang harus saya lakukan terhadap harta saya? Bagaimana saya memperlakukan harta  saya? Maka  beliau  tidak  menjawab  sedikit pun sehingga turun ayat tentang waris."16
 
Ibnul Munir berkata, "Faedah  terjemah  --maksudnya  pemberian judul  bab--  ialah  agar tidak dipahami bahwa menjenguk orang yang  tidak  sadar  itu  gugur  (tidak  perlu)   karena   yang bersangkutan   tidak   mengetahui  orang  yang  menjenguknya." Al-Hafizh  berkata,  "Disyariatkannya  menjenguk  orang  sakit tidak  semata-mata  bergantung  pada  tahunya  si sakit kepada orang yang menjenguknya,  karena  menjenguk  orang  sakit  itu dapat  juga  menghibur  hati  keluarganya,  dan  diharapkannya berkah doa orang yang menjenguk, usapan dan belaian  tangannya ke  tubuh si sakit, tiupannya ketika memohon perlindungan, dan lain-lainnya."17




WANITA MENJENGUK LAKI-LAKI YANG SAKIT


Disyariatkannya menjenguk  orang  sakit  meliputi  penjengukan wanita   kepada   laki-laki,  meskipun  bukan  muhrimnya,  dan laki-laki kepada wanita.
 
Diantara  bab-bab  dalam   Shahih   al-Bukhari   pada   "Kitab al-Mardha"  terdapat judul "Bab 'Iyadatin-Nisa' ar-Rijal" (Bab Wanita Menjenguk      Laki-laki).   Dalam   hal   ini   beliau meriwayatkan  suatu  hadits secara mu'allaq (tanpa menyebutkan rentetan  perawinya):  Bahwa  Ummu  Darda'  pernah   menjenguk seorang laki-laki Anshar dari ahli masjid. Tetapi Imam Bukhari memaushulkan (meriwayatkan secara bersambung sanadnya) didalam al-Adabul-Mufrad dari jalan al-Harits bin Ubaid, ia berkata:
 
"Saya melihat Ummu Darda' di atas kendaraannya yang ada tiangnya tetapi tidak bertutup, mengunjungi seoranglaki-laki Anshar di masjid."18
 
Bukhari juga meriwayatkan hadits Aisyah r.a., ia berkata:
 
"Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal r.a. jatuh sakit, lalu aku datang menjenguk mereka, seraya berkata, Wahai Ayahanda, bagaimana keadaanmu? Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?" Aisyah berkata, "Abu Bakar apabila terserang penyakit panas, beliau berkata: 'Semua orang berada di tengah keluarganya, sedang kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya.' Dan Bilal apabila telah hilang demamnya, ia berkata:
 
'Wahai, merinding bulu romaku Apakah aku akan bermalam di suatu lembah Yang dikelilingi rumput-rumput idzkhirdan jalil Apakah pada suatu hari aku menginginkan air Majnah Apakah mereka akan menampakkan kebagusandan kekeruhanku?"
 
Aisyah  berkata,  "Lalu  aku  datang  kepada  Rasulullah  saw. memberitahukan  hal  itu,  lantas  beliau  berdoa,  Ya  Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti kami mencintai Mekah atau melebihinya."19
 
Yang  menjadi dalil kebolehan wanita menjenguk laki-laki dalam hadits tersebut ialah masuknya Aisyah  menjenguk  ayahnya  dan menjenguk   Bilal,  serta  perkataannya  kepada  masing-masing mereka, "Bagaimana engkau dapati dirimu?"  Yang  dalam  bahasa kita  sekarang  sering  kita  ucapkan: "Bagaimana kesehatanmu? Bagaimana keadaanmu?" Padahal  Bilal  ini  bukan  mahram  bagi Aisyah Ummul Mukminin.
 
Tetapi suatu hal yang tidak diragukan ialah bahwa menjenguknya itu  terikat  dengan   syarat-syarat   tertentu   yang   telah ditetapkan  syara',  bersopan  santun  sebagai  muslimah dalam berjalan, gerak-gerik, memandang,  berbicara,  tidak  berduaan antara  seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa ada yang lain,  aman  dari  fitnah,  diizinkan  oleh  suami  bagi  yang bersuami, dan diizinkan oleh wali bagi yang tidak bersuami.
 
Dalam  hal  ini, janganlah suami atau wali melarang istri atau putrinya  menjenguk  orang  yang  punya  hak  untuk   dijenguk olehnya,  seperti  kerabatnya  yang  bukan  muhrim, atau besan (semenda), atau gurunya,  atau  suami  kerabatnya,  atau  ayah kerabatnya,  dan  sebagainya dengan syarat-syarat seperti yang telah disebutkan di atas.




LAKI-LAKI MENJENGUK PEREMPUAN YANG SAKIT
 

Sebagaimana  terdapat  beberapa  hadits  yang   memperbolehkan perempuan  menjenguk  laki-laki  dengan syarat-syaratnya, jika diantara mereka terjalin hubungan, dan laki-laki itu punya hak terhadap  wanita  tersebut,  maka  laki-laki juga disyariatkan untuk menjenguk wanita dengan syarat-syarat yang sama. Hal ini jika  diantara  mereka  terjalin  hubungan yang kokoh, seperti hubungan  kekerabatan  atau   persemendaan,   tetangga,   atau hubungan-hubungan  lain  yang  menjadikan  mereka memiliki hak kemasyarakatan yang lebih banyak daripada orang lain.
 
Diantara   dalilnya   ialah   keumuman   hadits-hadits    yang menganjurkan  menjenguk  orang  sakit,  yang  tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan.
 
Sedangkan diantara dalil  khususnya  ialah  yang  diriwayatkan oleh  Imam  Muslim  dalam  Shahih-nya  dari Jabir bin Abdullah r.a.:
 
"Bahwa Rasulullah saw. pernah menjenguk Ummu Saib --atau Ummul Musayyib-- lalu beliau bertanya, 'Wahai Ummus Saib, mengapa engkau menggigil?' Dia menjawab, 'Demam, mudah-mudahan Allah tidak memberkatinya.' Beliau bersabda, 'Janganlah engkau memaki-maki demam, karena dia dapat menghilangkan dosa-dosa anak Adam seperti ububan (alat pengembus api pada tungku pandai besi) menghilangkan karat besi.'"20
 
Padahal, Ummus Saib tidak termasuk salah seorang  mahram  Nabi saw. Meskipun begitu, dalam hal ini harus dijaga syarat-syarat yang  ditetapkan  syara',  seperti  aman   dari   fitnah   dan memelihara  adab-adab  yang  sudah  biasa  berlaku  (dan tidak bertentangan  dengan  prinsip  Islam;  Penj.),   karena   adat kebiasaan itu diperhitungkan oleh syara'.

 

 

12 HR Abu Daud dan disahkan oleh Hakim. Diriwayatkan juga oleh Bukhari dengan susunan redaksional yang lebih lengkap, sebagaimana terdapat dalam Fathul-Bari, juz 10, hlm. 113. Lihat juga al-Adabul-Mufrad, karya Imam Bukhari, "Bab al-'Iyadah minar-Ramad," hadits no. 532. ^
13 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5656. ^
14 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 119. ^
15 Diriwayatkan oleh Bukhari sebagaimana tertera dalam Fathul-Bari, juz 10, hlm. 118, hadits 5655. Beliau juga meriwayatkannya dalam al-Jana'iz.5651. ^
17 Ibid. ^
18 Al-Adabul-Mufrad, karya al-Bukhari "Bab 'Iyadatin-Nisa' ar-Rijal al-Maridh," hadits nomor 530. ^
19 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5654. ^
20 Muslim dalam "Kitab al-Birr," hadits nomor 4575. ^

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com