KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


MENJENGUK ORANG NON-MUSLIM


Dijadikannya  menjenguk  orang  sebagai  hak  seorang   muslim terhadap   muslim   lainnya,   sebagaimana   disebutkan  dalam hadits-hadits  itu,  tidak  berarti  bahwa  orang  sakit  yang nonmuslim  tidak  boleh  dijenguk. Sebab menjenguk orang sakititu,  apa  pun  jenisnya,  warna  kulitnya,   agamanya,   atau negaranya,  adalah  amal  kemanusiaan  yang oleh Islam dinilai sebagai ibadah dan qurbah (pendekatan diri kepada Allah).
 
Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika  Nabi  saw.  menjenguk anak  Yahudi  yang  biasa melayani beliau ketika beliau sakit. Maka Nabi saw. menjenguknya dan  menawarkan  Islam  kepadanya, lalu  anak  itu  memandang  ayahnya, lantas si ayah berisyarat agar dia mengikuti Abul Qasim  (Nabi  Muhammad  saw.;  Penj.), lalu  dia  masuk  Islam sebelum meninggal dunia, kemudian Nabi saw. bersabda:
 
"Segala puji kepunyaan Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka melalui aku." (HR Bukhari)
 
Hal ini menjadi  semakin  kuat  apabila  orang  nonmuslim  itu mempunyai  hak  terhadap  orang  muslim  seperti hak tetangga, kawan, kerabat, semenda, atau lainnya.
 
Hadits-hadits yang telah disebutkan  hanya  untuk  memperkokoh hak  orang muslim (bukan membatasi) karena adanya hak-hak yang diwajibkan  oleh  ikatan  keagamaan.  Apabila  si  muslim  itu tetangganya,  maka  ia  mempunyai  dua  hak: hak Islam dan hak tetangga. Sedangkan jika yang bersangkutan masih kerabat, maka dia mempunyai tiga hak, yaitu hak Islam, hak tetangga, dan hak kerabat. Begitulah seterusnya.
 
Imam Bukhari membuat satu bab tersendiri  mengenai  "Menjenguk Orang  Musyrik"  dan  dalam  bab itu disebutkannya hadits Anas mengenai anak Yahudi yang dijenguk oleh Nabi saw. dan kemudian diajaknya  masuk Islam, lalu dia masuk Islam, sebagaimana saya nukilkan tadi.
 
Beliau juga menyebutkan  hadits  Sa'id  bin  al-Musayyab  dari ayahnya,  bahwa  ketika  Abu Thalib akan meninggaldunia, Nabi saw. datang kepadanya.21
 
Diriwayatkan juga dalam Fathul-Bari dari Ibnu  Baththal  bahwa menjenguk  orang  nonmuslim  itu  disyariatkan  apabila  dapat diharapkan dia akan masuk Islam, tetapi jika tidak ada harapan untuk itu maka tidak disyariatkan.
 
Al-Hafizh  berkata,  "Tampaknya  hal itu berbeda-beda hukumnya sesuai dengan tujuannya. Kadang-kadang menjenguknya juga untuk kemaslahatan lain."
 
Al-Mawardi  berkata,  "Menjenguk  orang dzimmi (nonmuslim yang tunduk pada pemerintahan Islam) itu boleh,  dan  nilai  qurbah (pendekatan  diri  kepada  Allah)  itu  tergantung  pada jenis penghormatan  yang  diberikan,  karena  tetangga  atau  karena kerabat."22



MENJENGUK AHLI MAKSIAT


Apabila  menjenguk  orang  nonmuslim  itu  dibenarkan syariat, bahkan kadang-kadang bernilai qurbah dan  ibadah,  maka  lebih utama  pula  disyariatkan  menjenguk  sesama  muslim yang ahli maksiat. Sebab, hadits-hadits yang  menyuruh  menjenguk  orang sakit  dan  menjadikannya  hak  orang  muslim  terhadap muslim lainnya, tidak mengkhususkan untuk  ahli  taat  dan  kebajikan saja tanpa yang lain, meskipun hak mereka lebih kuat.
 
Imam  al-Baghawi  mengatakan  didalam Syarhus- Sunnah, setelah menerangkan  hadits  Abu  Hurairah  mengenai  enam  macam  hak seorang  muslim  terhadap  muslim lainnya dan hadits al-Barra' bin Azib mengenai  tujuh  macam  perkara  yang  diperintahkan, "Semua yang diperintahkan ini termasuk hak Islam, yang seluruh kaum muslim sama kedudukannya terhadapnya, yang  taat  ataupun yang  durjana. Hanya saja untuk orang yang taat perlu disikapi dengan  wajah  yang  ceria,  ditanya  keadaannya,  dan  diajak berjabat  tangan,  sedangkan  orang  yang  durjana yang secara terang-terangan   menampakkan   kedurjanaannya   tidak   perlu diperlakukan seperti itu."23
 
Dalam  hal ini, sebagian ulama mengecualikan ahli-ahli bid'ah, bahwa mereka  tidak  perlu  dijenguk  untuk  menampakkan  rasa kebencian mereka karena Allah.
 
Tetapi,   menurut   pentarjihan   saya,   bahwa   bid'ah  atau kemaksiatan mereka tidaklah mengeluarkan  mereka  dari  daerah Islam  dan  tidak  menghalangi  mereka  untuk  mendapatkan hak sebagai seorang muslim  atas  muslim  lainnya.  Dan  menjenguk mereka  yang  tanpa  diduga-duga  sebelumnya itu --lebih-lebih oleh seorang muslim yang saleh, orang alim, atau juru dakwah-- dapat  menjadi  duta kebaikan dan utusan kebenaran kepada hati mereka, sehingga hati mereka terbuka untuk menerima  kebenaran dan  mendengarkan tutur kata yang bagus, karena manusia adalah tawanan  kebaikan.  Sebagaimana   Islam   mensyariatkan   agar menjinakkan  hati  orang  lain  dengan  harta,  maka  tidaklah mengherankan jika Islam juga menyuruh menjinakkan  hati  orang lain  dengan  kebajikan,  kelemahlembutan,  dan pergaulan yang baik. Hal ini pernah dicoba oleh juru-juru dakwah yang  benar, lalu Allah membuka hati banyak orang yang selama ini tertutup.
 
Para  ulama  mengatakan,  "Disunnahkan  menjenguk  orang sakit secara umum, teman atau lawan, orang yang dikenalnya atau yang tidak dikenalnya, mengingat keumuman hadits."24

 


BERAPA KALI MENJENGUK ORANG SAKIT?


Apabila  menjenguk  orang  sakit  itu  wajib  atau sunnah bagi keluarganya, tetangganya, dan teman-temannya,  maka  sebaiknya berapa  kalikah  hal  itu  dilakukan?  Dan  berapa  lama waktu menjenguk itu?
 
Dalam hal ini, saya yakin  bahwa  hal  itu  diserahkan  kepada kebiasaan,  kondisi  penjenguk, kondisi si sakit, dan seberapa jauhnya hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.
 
Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari  waktu  ke waktu, dalam hal ini tidak terdapat batas waktu yang tertentu.
 
Sebagian  ulama  mengatakan,  "Hendaknya menjenguk orang sakit itu dilakukan secara berkala, jangan setiap hari, kecuali bagi yang  sudah  terbiasa."  Sebagian  lagi  mengatakan, "Seminggu sekali."
 
Imam Nawawi mengomentari hal ini sebagai berikut:
 
    "Ini bagi orang lain. Adapun bagi kerabat si sakit atau teman-temannya dan lainnya, yang kedatangannya menenangkan dan menggembirakan hati si sakit, atau menjadikan si sakit rindu kepadanya jika tidak melihatnya setiap hari, maka hendaklah orang itu selalu menjenguknya asalkan tidak dilarang, atau ia tahu bahwa si sakit sudah tidak menyukai hal itu.
 
Selain itu, tidak disukai duduk berlama-lama ketika  menjenguk orang  sakit,  karena  hal demikian dapat menyebabkan si sakit merasa jenuh, merasa repot,  dan  merasa  kurang  bebas  untuk berbuat sesuatu."25
 
Namun  begitu,  hal  ini tidak berlaku bagi setiap pengunjung, karena ada kalanya  si  sakit  menyukai  orang-orang  tertentu untuk  berlama-lama  berada  di sisinya --khususnya bagi orang yang  telah  lama  sakit--  dan   kunjungan   orang   tersebut menyenangkan  dan  meringankannya,  apalagi  jika si sakit itu sendiri yang memintanya.
 
Al-Hafizh berkata, "Adab menjenguk orang sakit ada sepuluh, di antaranya ada yang tidak khusus untuk menjenguk orang sakit;

  1. Jangan meminta izin masuk dari depan pintu (tengah-tengah).

  2. Jangan mengetuk pintu terlalu pelan.

  3. Jangan menyebutkan identitas diri secara tidak jelas, misalnya dengan mengatakan "saya," tanpa menyebut namanya.

  4. Jangan berkunjung pada waktu yang tidak layak untuk berkunjung, seperti pada waktu si sakit minum obat, atau waktu mengganti pembalut luka, waktu tidur, atau waktu istirahat.

  5. Jangan terlalu lama (kecuali bagi orang yang mempunyai hubungan khusus dengan si sakit seperti yang saya sebutkan di atas).

  6. Menundukkan pandangan (apabila di tempat itu terdapat wanita yang bukan mahramnya).

  7. Jangan banyak bertanya, dan hendaklah menampakkan rasa belas kasihan.

  8. Mendoakannya dengan ikhlas.

  9. Menimbulkan optimisme kepada si sakit.

  10. Menganjurkannya berlaku sabar, karena sabar itu besar pahalanya, dan melarangnya berkeluh kesah, karena berkeluh-kesah itu dosa."26

Sebagian adab-adab tersebut akan dijelaskan lebih lanjut.
 
Cara menjenguk orang sakit yang jauh tempatnya  --yang  memang mempunyai   hak   untuk  dijenguk--  ialah  dengan  menanyakan keadaannya melalui telepon,  bagi  orang  yang  punya  pesawat telepon, maupun lewat telegram atau surat. Lebih-lebih jika si sakit baru saja menjalani operasi dengan selamat.
 
Saya masih ingat ketika  saya  ditakdirkan  menjalani  operasi tulang-  rawan  di  Bonn, Jerman, pada musim panas tahun 1985, dan ketika saya melewati masa perawatan sebagaimana  biasanya, betapa   telepon  selalu  berdering  dari  saudara-saudara  di Dauhah, Kairo, Eropa, dan  Amerika,  yang  menanyakan  keadaan saya  dan  mendoakan saya. Hal ini ternyata mempunyai pengaruh yang  baik  dalam  hati  saya,  meringankan  penderitaan,  dan mempercepat kesembuhan.

 

21 Al-Bukhari dalam Fathul-Barin, hadits, nomor 5657. ^
22 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 119 ^
23 Syarhus-Sunnah, terbitan al-Maktab al-Islami, dengan tahqiq Syu'aib al-Arnauth, juz 5, hlm. 211-212. ^
24 Al-Majmu', kalya an-Nawawi, juz 5. hlm. 111-112. ^
25 Ibid., hlm. 112. ^
26 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 126, "Bab Qaulil-Maridh: 'Quumuu 'Annii'." ^
 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com