KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


MENDOAKAN SI SAKIT


Cara  seorang  muslim  menjenguk saudaranya yang sakit berbeda dengan cara yang dilakukan orang lain (selain  Islam),  karena disertai  dengan  jampi dan doa. Maka diantara sunnahnya ialah si penjenguk mendoakan si sakit  dan  menjampinya  (membacakan bacaan-bacaan  tertentu)  yang  ada riwayatnya dari Rasulullah saw..
 
Imam Bukhari menulis "Bab Du'a al-'Aa'id lil-Maridh" (Bab  Doa Pengunjung  untuk  Orang Sakit), dan menyebutkan hadits Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. apabila menjenguk orang sakit  atau si sakit yang dibawa kepada beliau, beliau mengucapkan:
 
"Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."27
 
Dan Nabi saw. pernah menjenguk Sa'ad bin Abi  Waqash  kemudian mendoakannya:
 
"Ya Allah sembuhkanlah Sa'ad, dan sempurnakanlah hijrahnya."28
 
Ada  suatu  keanehan  sebagaimana  dikemukakan  dalam  al-Fath (Fathul-Bari),  yaitu  adanya  sebagian  orang yang menganggap musykil mendoakan kesembuhan si sakit. Mereka beralasan  bahwa sakit   dapat   menghapuskan  dosa  dan  mendatangkan  pahala, sebagaimana disebutkan dalam beberapa  hadits.  Maka  terhadap kemusykilan   ini  al-Hafizh  Ibnu  Hajar  memberikan  jawaban demikian, "Sesungguhnya doa itu adalah  ibadah,  dan  tidaklah saling  meniadakan  antara  pahala dan kafarat, sebab keduanya diperoleh  pada  permulaan  sakit  dan  dengan   sikap   sabar terhadapnya.  Adapun  orangyang  mendoakan  akan  mendapat dua macam kebaikan,  yaitu  mungkin  berhasil  apa  yang  dimaksud --atau  diganti  dengan  mendapatkan  kemanfaatan  lain-- atau ditolaknya suatu bahaya, dan semua itu merupakan karunia Allah Ta'ala."29
 
Memang,  seorang  muslim harus bersabar ketika menderita sakit atau ditimpa musibah, tetapi hendaklah ia meminta  keselamatan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
 
"Janganlah kamu mengharapkan bertemu musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tetapi apabila kamu bertemu musuh, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwasanya surga itu di bawah bayang-bayang pedang."30
 
Di dalam hadits lain beliau bersabda:
 
"Mintalah ampunan dan keselamatan kepada Allah, sebab tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah keyakinan, yang lebih baik daripada keselamatan."31
 
Juga dalam hadits Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda
 
 "Perbanyaklah berdoa memohon keselamatan."32
 
Salah satu doa beliau saw. adalah:
 
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu penjagaan dari yang terlarang dan keselamatan dalam urusan dunia dan agamaku, keluarga dan hartaku."33
 
Di antara doa yang ma'tsur  lainnya  ialah  yang  diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
 
"Apabila seseorang menjenguk orang sakit, maka hendaklah ia mendoakannya dengan mengucapkan, "Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu, agar dia dapat membunuh musuh-Mu, atau berjalan kepada-Mu untuk melakukan shalat."34
 
Artinya, dalam kesembuhan orang mukmin itu  terdapat  kebaikan untuk  dirinya  dengan  dapatnya  ia melaksanakan shalat, atau kebaikan untuk umatnya karena mampu menunaikan jihad.
 
Sedangkan  yang  dimaksud  dengan  "musuh"  di  sini   mungkin orang-orang  kafir  yang  memerangi umat Islam, atau iblis dan tentaranya. Maka  dengan  kesehatannya  seorang  muslim  dapat menumpas   mereka   dengan   serangan-serangannya,  dan  dapat mematahkan  argumentasi  mereka  dengan  hujjah   yang   dapat dipercaya.35
 
Selain  itu, ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:
 
"Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, lalu ia mengucapkan doa ini disampingnya sebanyak tujuh kali: (Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan bag§ 'arsy yang agung, semoga la berkenan menyembuhkanmu), niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut."36

 

 


MENGUATKAN HARAPAN SEMBUH KETIKA SAKIT


Apabila  seorang  muslim  menjenguk  saudaranya  yang   sakit, sebaiknya   ia   memberikan  nasihat  agar  dapat  menumbuhkan perasaan  optimisme  dan  harapan  akan  sembuh.  Selain  itu, seyogianya ia memberikan pengertian bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dan berputus harapan terhadap rahmat  Allah dan  kasih  sayang-Nya  karena  Dzat  yang telah menghilangkan penyakit Nabi Ayub dan mengembalikan penglihatan  Nabi  Ya'qub pasti  berkuasa  menghilangkan  penyakitnya  dan mengembalikan kesehatannya, kemudian Dia mengganti penyakit dengan kesehatan dan kelemahan dengan kekuatan.
 
Tidak   baik  menyebut-nyebut  orang  yang  sakit  yang  telah meninggal dunia  di  hadapan  orang  sakit  yang  dijenguknya. Sebaliknya,  sebutlah  orang-orang  yang  telah  sehat kembali setelah menderita sakit  yang  lama,  atau  setelah  menjalani operasi   yang   membahayakan.   Hal   ini  dimaksudkan  untuk menguatkan jiwanya, dan merupakan bagian dari cara  pengobatan menurut dokter-dokter ahli pada zaman dulu dan sekarang, sebab antara jiwa dan tubuh tidak dapat  dipisahkan,  kecuali  dalam pembahasan  secara teoretis atau filosofis. Karena itulah Nabi saw. apabila menjenguk orang sakit, beliau  mengatakan  "tidak apa-apa,  bersih (sembuh) insya Allah," sebagaimana disebutkan dalam kitab sahih.
 
Adapun makna perkataan laa ba'sa (tidak apa-apa) ialah  'tidak berat'   dan   'tidak   mengkhawatirkan.'   Ucapan  ini  untuk menimbulkan optimisme sekaligus doa semoga hilang penyakit dan penderitaannya,    serta    kembali   kepadanya   kesehatannya --disamping   itu   dapat    menyucikan    dan    menghapuskan dosa-dosanya.
 
Imam  Tirmidzi  dan  Ibnu  Majah  meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id al-Khudri secara marfu':
 
"Apabila kamu menjenguk orang sakit, maka hendaklah kamu beri harapan akan panjang umur. Karena yang demikian itu meskipun tidak dapat menolak takdir sedikit pun, tetapi dapat menyenangkan hatinya."37
 
Maksud perkataan naffisuu  lahu  (berilah  harapan  kepadanya) yakni  berilah  harapan  kepadanya  untuk  hidup  dan  berumur panjang, seperti mengucapkan perkataan kepadanya, "insya Allah engkau  akan  sehat kembali," "selamat sejahtera," "Allah akan memberikan kamu umur panjang dan aktivitas  yang  bagus,"  dan ungkapan  lainnya.  Karena  ucapan-ucapan  seperti  itu  dapat melapangkan  hatinya  dari  kesedihan  yang   menimpanya   dan sekaligus  dapat  menenangkannya. Imam Nawawi berkata, "Itulah makna perkataan Nabi saw.  kepada  orang  Arab  Badui:  'Tidak apa-apa.'"38
 
Disamping itu, diantara hal yang dapat menghilangkan kepedihan si sakit dan menyenangkan  hatinya  ialah  menaruh  tangan  ke badannya   atau   ke   bagian   tubuhnya   yang  sakit  dengan mendoakannya, khususnya oleh orang yang dianggap ahli kebaikan dan  kebajikan,  sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. terhadap Sa'ad bin Abi Waqqash. Beliau pernah mengusap wajah dan  perut Sa'ad  sambil  mendoakan  kesembuhan  untuknya. Sa'ad berkata, "Maka aku selalu merasakan dinginnya tangan beliau di  jantung saya, menurut perasaan saya, hingga saat ini." (HR Bukhari).
 
Sementara  itu,  terhadap  orang  sakit  yang kondisinya sudah tidak dapat diharapkan sembuh,  --menurut  sunnatullah--  maka hendaklah   si   pengunjung  memohon  kepada  Allah  agar  Dia memberikan  kasih  sayang   dan   kelemahlembutan   kepadanya, meringankan  penderitaannya, dan memilihkan kebaikan untuknya. Tetapi hal itu hendaknya diucapkan  dalam  hati  saja,  jangan sampai  diperdengarkan kepada si sakit agar tidak mempengaruhi pikiran dan perasaannya.




MENJAMPI SI SAKIT DAN SYARAT-SYARATNYA


Diantara hal yang berdekatan dengan bab ini ialah  jampi-jampi syar'iyah  yang bersih dari syirik, terutama yang diriwayatkan dari Rasulullah saw., dan khususnya jika dilakukan oleh  orang muslim yang saleh.
 
Imam Muslim meriwayatkan dari Auf bin Malik, ia berkata:
 
"Kami menggunakan jampi-jampi pada zaman jahiliah, lalukami tanyakan, Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmumengenai hal itu?' Beliau menjawab, 'Tunjukkanlahkepadaku jampi-jampimu itu. Tidak mengapa menggunakanjampi-jampi, asalkan tidak mengandung kesyirikan.'"39
 
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir, katanya:
 
"Rasulullah saw. pernah melarang jampi-jampi Kemudian datanglah keluarga Amr bin Hazm seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, kami mempunyai jampi-jampi yang biasa kami pergunakan kalau disengat kala.' Jabir berkata, 'Lalu mereka menunjukkannya kepada Rasulullah.' Kemudian beliau bersabda, 'Saya lihat tidak apa-apa, barangsiapa yang dapat memberikan manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia memberikan manfaat kepadanya.'"40
 
Al-Hafizh berkata, "Suatu kaum berpegang  pada  keumuman  ini, maka mereka memperbolehkan semua jampi-jampi yang telah dicoba kegunaannya, meskipun tidak masuk akal maknanya. Tetapi hadits Auf   itu   menunjukkan   bahwa  jampi-jampi  yang  mengandung kesyirikan dilarang. Dan  jampi-jampi  yang  tidak  dimengerti maknanya  yang  tidak  ada  jaminan  keamanan dari syirik juga terlarang,  sebagai  sikap  kehati-hatian,   disamping   harus memenuhi persyaratan lainnya."41
 
Kebolehan  menggunakan jampi-jampi ini sudah ada dasarnya dari sunnah qauliyah (sabda Nabi saw.), sunnah fi'liyah  (perbuatan beliau),  dan  sunnah  taqririyah  (pengakuan  atau pembenaran beliau terhadap jampi-jampi yang dilakukan orang lain).
 
Bahkan  Nabi  saw.  sendiri  pernah  menjampi  beberapa  orang sahabat,  dan beliau pernah dijampi oleh Malaikat libril a.s.. Beliau  juga  menyuruh  sebagian  sahabat   agar   menggunakanjampi-jampi,   dan   menasihati   sebagian  sanak  keluarganya dengannya. Dan beliau membenarkan sahabat-sahabat beliau  yang menggunakan jampi-jampi.
 
Diriwayatkan  dari  Aisyah  bahwa  Rasulullah saw. apabila ada seseorang  yang  mengeluhkan  sesuatu  kepada   beliau,   atau terluka,  maka  beliau  berbuat demikian dengan tangan beliau. Lalu  Sufyan  --yang  meriwayatkan  hadits--  meletakkan  jari telunjuknya  ke  tanah,  kemudian mengangkatnya kembali seraya mengucapkan:
 
"Dengan menyebut nama Allah, debu bumi kami, dengan ludah sebagian kami, disembuhkan dengannya orang sakit dari kami dengan izin Tuhan kami."42
 
Dari keterangan hadits ini dapat  kita  ketahui  bahwa  beliau mengambil  ludah  beliau  sedikit dengan jari telunjuk beliau, lalu ditaruh di atas tanah (debu), dan debu  yang  melekat  di jari  tersebut  beliau usapkan di tempat yang sakit atau luka, dan beliau  ucapkan  perkataan  tersebut  (jampi)  pada  waktu mengusap.
 
Diriwayatkan juga dari Aisyah, dia berkata, "Adalah Rasulullah saw. apabila beliau  jatuh  sakit,  Malaikat  Jibril  menjampi beliau."43
 
Juga dari Abu Sa'id bahwa Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi saw. dan bertanya, "Wahai Muhammad, apakah  Anda  sakit?" Beliau menjawab, "Ya." Lantas Jibril mengucapkan:
 
"Dengan menyebut nama Allah, saya jampi engkau dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan semua jiwa atau mata pendengki. Allah menyembuhkan engkau. Dengan menyebut narna Allah saya menjarnpi engkau."44
 
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw. apabila sakit membaca dua  surat al-Mu'awwidzat (Qul A'uudzu bi Rabbil-Falaq dan Qul A'uudzu bi Rabbin-Naas) untuk diri beliau sendiri  dan  beliau meniup  dengan  lembut  tanpa  mengeluarkan  ludah. Dan ketika sakit beliau berat, aku (Aisyah) yang membacakan  atas  beliau dan  aku  usapkannya dengan tangan beliau, karena mengharapkan berkahnya.45
 
Diriwayatkan dari Aisyah juga  bahwa  Rasulullah  saw.  pernah menyuruhnya meminta jampi karena sakti mata.46
 
Juga  diriwayatkan  dari Jabir bahwa Nabi saw. pernah bertanya kepada Asma' binti Umais:
 
"Mengapa saya lihat tubuh anak-anak saudaraku kurus-kurus, apakah mereka ditimpa kebutuhan?" Asma' menjawab, 'Tidak tetapi penyakit 'ain yang menimpa mereka.' Nabi bersabda, 'Jampilah mereka.' Asma' berkata, 'Lalu saya menolak.' Kemudian beliau bersabda, "Jampilah mereka."47
 
Disamping itu, pernah salah seorang  sahabat  menjampi  pemuka suatu  kaum  --ketika  mereka  sedang  bepergian  dengan surat al-Fatihah, lalu pemuka kaum  itu  memberinya  seekor  kambing potong,  tetapi  sahabat  itu  tidak  mau  menerimanya sebelum menanyakannya kepada Nabi saw.. Lalu  ia  datang  kepada  Nabi saw.   dan  menginformasikan  hal  itu  kepada  beliau  seraya berkata, "Demi Allah, saya tidak  menjampinya  kecuali  dengan surat   al-Fatihah."   Lalu  Nabi  saw.  bersabda,  "Terimalah  pemberian mereka itu, dan berilah  saya  sebagian  untuk  saya makan bersama kamu."48

 

27 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5675. ^
28 Ibid., hadits nomor 5659.^
29 Ibid., juz 10, hlm. 132^
30 Muttafaq 'alaih dari hadits Abdullah bin Abi Aufa.^
31 HR Ahmad dan Tirmidzi dari hadits Abu Bakar, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 3632.^
32 Ath-Thabrani dan adh-Dhiya', dan dihasankan dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir, nomor 1198.^
33 HR al-Bazzar dari Ibnu Abbas, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 1274.^
34 HR Abu Daud dalam al-Jana'iz (2107), Ibnu Hibban, dan al-Hakim. Beliau mengesahkannya menurut syarat Muslim, dan adz-Dzahabi menyetujuinya (1: 344).^
35 Syarah al-Misykat, juz 2, hlm. 307.^
36 HR Abu Daud dalam al-Jana'iz (hadits nomor 3106), at-Tirmidzi dalam ath-Thibb (hadits nomor 2083) dan beliau berkata, "Hasan gharib." Juga dihasankan oleh al-Hafizh dalam Syarah al-Adzkar karya Ibnu 'Allan, juz 4, hlm. 61-62, dan diriwayatkan oleh al-Hakim serta disahkan olehnya menurut syarat Bukhari, dan disetujui oleh adz-Dzahabi dalam juz 1, hlm. 342.^
37 Ibnu Majah dalam "al-Jana'iz," hadits nomor 1438, dan at-Tirmidzi dalam "ath-Thibb" nomor 2087 dan beliau menilainya gharib. Al-Hafizh berkata, "Dalam sanadnya terdapat kelemahan." (Fathul-Bari, 10: 121).^
38 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 121-122.^
39 Muslim, "Kitab as-Salam," "Bab Laa Ba'sa bir-Ruqa Maa lam Yakun fihi Syirkun," hadits no. 2200.^
40 Ibid., "Bab Istihbabur-Ruqyah minal-'Ain wan-Namlah wal-Hummah wan-Nazhrah," hadits nomor 2199.^
41 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 195-196.^
42 Muttafaq 'alaih, sebagaimana disebutkan dalam al-Lu'lu' wal-Marjan fii Maa Ittafaqa 'alaihi asy-Syaikhaani, hadits no. 1417.^
43 Muslim, "Bab ath-Thibb wal-Maradh war-Ruqa," hadits no. 2185.^
44 Muslim, hadits nomor 2186.^
45 Muttafaq 'alaih, hadits nomor 1415.^
46 Muttafaq 'alaih, hadits nomor 1418.^
47 Muslim, hadits nomor 2198. Yang dimaksud "mereka" di sini ialah anak-anak dari putra paman beliau Ja'far.^
48 Muttafaq 'alaih, hadits nomor 1420.^

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com