KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


MENYURUH SI SAKIT BERBUAT MA'RUF DAN MENCEGAHNYA DARI YANG MUNGKAR


 
Sudah selayaknya bagi seorang yang menjenguk saudaranya sesama muslim  yang  sakit  untuk  memberinya  nasihat  dengan jujur, menyuruhnya berbuat ma'ruf dan  mencegahnya  dari  kemunkaran, karena  ad-Din itu adalah nasihat, dan amar ma'ruf nahi munkar merupakan suatu kewajiban, sedangkan sakitnya  seorang  muslim tidak  membebaskannya  dari  menerima  perkataan yang baik dan nasihat yang tulus. Dan  semua  yang  dituntut  itu  hendaklah dilakukan   oleh   si  pemberi  nasihat  dengan  memperhatikan kondisinya, yaitu hendaklah dilakukan dengan lemah lembut  dan jangan    memberatkan,    karena    Allah    Ta'ala   menyukai kelemahlembutan dalam segala hal dan terhadap  semua  manusia, lebih-lebih terhadap orang sakit. Dan tidaklah kelemahlembutan itu  memasuki  sesuatu  melainkan  menjadikannya  indah,   dan tidaklah   ia   dilepaskan   dari   sesuatu   melainkan   akan menjadikannya buruk.
 
Kelemahlembutan semakin  ditekankan  apabila  si  sakit  tidak mengerti   terhadap   kebajikan   yang   ditinggalkannya  atau kemunkaran  yang  dilakukannya,  seperti  terhadap  kebanyakan putra kaum muslim yang tidak mengerti keunggulan Islam.
 
Oleh  sebab  itu,  seseorang  yang  menjenguk orang sakit yang kebetulan tidak mau  melaksanakan  shalat  karena  malas  atau karena  tidak  mengerti,  yang  mengira tidak dapat menunaikan shalat, karena tidak dapat berwudhu, atau karena  tidak  dapat berdiri,  ruku',  sujud,  atau  tidak  dapat menghadap ke arah kiblat,   atau   lainnya,   maka   wajiblah   si    pengunjung mengingatkannya.  Dia  harus  menjelaskan  bahwa  shalat wajib dilaksanakan oleh orang yang sakit sebagaimana diwajibkan atas orang  yang  sehat, dan kewajibannya itu tidak gugur melainkan bagi orang yang hilang  kesadarannya.  Dijelaskan  juga  bahwa orang  sakit yang tidak dapat berwudhu boleh melakukan tayamum dengan  tanah  jenis  apa  pun,  dan  boleh   dibantu   dengan diambilkan  pasir/tanah  yang bersih yang ditempatkan di dalam kaleng atau tempat lainnya, juga bisa dengan batu atau  lantai tergantung  mazhab  yang  memandang  hal itu sebagai permukaan bumi yang bersih.
 
Begitu pula si sakit, ia boleh melaksanakan shalat dengan cara bagaimanapun  yang  dapat  ia  lakukan,  dengan duduk kalau ia tidak mampu berdiri, atau dengan berbaring di atas lambungnya, atau  telentang  di  atas  punggungnya  (yakni  punggungnya di bawah),  jika  ia  tidak  dapat  duduk,   dan   cukup   dengan berisyarat. Nabi saw. bersabda kepada Imran bin Hushain:
 
"Shalatlah engkau dengan berdiri. Jika tidak dapat, maka hendaklah dengan duduk; dan jika tidak dapat (dengan duduk) maka hendaklah dengan berbaring."49
 
Demikian pula jika  ia  tidak  dapat  menghadap  kiblat,  maka gugurlah   kewajiban   menghadap  kiblat  itu,  dan  boleh  ia menghadap ke arah mana saja. Maka, setiap syarat  shalat  yang tidak   dapat   ditunaikan  menjadi  gugur,  dan  Allah  telah berfirman:

"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah ..." (al-Baqarah: 115)

Apabila tampak si sakit merasa kesal terhadap penyakitnya atau merasa  sempit  dada  karenanya,  maka hendaklah ia diingatkan akan besarnya pahala bagi si sakit di sisi Allah. Selain  itu, sebaiknya  diingatkan  bahwa  Allah  hendak menyucikannya dari dosa-dosanya dengan penyakit tersebut, dan  bahwa  orang  yang paling  berat  ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang dibawahnya, kemudian yang dibawahnya lagi, dan ujian  itu akan  senantiasa  menimpa  seseorang sehingga ia hidup di muka bumi  dengan  tidak   menanggung   suatu   dosa,   sebagaimana dinyatakan dalam beberapa hadits sahih.
 
Maka  apabila  didapati  sesuatu  yang dilarang syara' pada si sakit,  hendaklah  ia  dilarang  dengan   lemah   lembut   dan bijaksana,  dan  dikemukakannya  kepadanya  dalil-dalil syara' yang dapat menghilangkan ketidaktahuan dan kelalaiannya.  Cara yang  dilakukan tidak boleh kasar dan terkesan menyombonginya, khususnya mengenai bencana  yang  banyak  melanda  masyarakat, misalnya    mereka   yang   menggantungkan   jimat-jimat   dan sebagainya.
 
Disini,  hendaklah  ia  memberitahukannya  tentang   ayat-ayat Al-Qur'an  dan  Sunnah Rasulullah saw. yang menuntunnya kepada kebenaran dan membimbingnya ke jalan yang benar, seperti sabda Nabi saw.:
 
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat-jimat, maka sesungguhnya ia telah melakukan perbuatan syirik." (HR Ahmad dan Hakim dari Uqbah bin Amir)50
 
Selain itu, tidak boleh ia (si penjenguk) mengingkari  sesuatu terhadap  si sakit kecuali apa yang telah disepakati oleh para ulama  akan   kemunkarannya.   Adapun   hal-hal   yang   masih diperselisihkan  oleh  para  ahli  ilmu yang tepercaya, antara yang memperbolehkan dan yang  melarang,  maka  dalam  hal  ini terdapat kelonggaran bagi orang yang mengambil salah satu dari kedua pendapat itu, baik ia memilih  melalui  ijtihadnya  atau sekedar  ikut-ikutan.  Dan jangan sampai diperdebatkan seputar pendapat ini mana yang  lebih  tepat  atau  yang  lebih  kuat, karena  kondisi  sakit  tidak mentolerir hal tersebut, kecuali jika  si  sakit  menanyakannya  atau  memang   menyukai   yang demikian.  Misalnya  tentang  hukum  menggantungkan jimat yang terdiri dari ayat-ayat  Al-Qur'an  atau  hadits  syarif,  atau berisi  dzikir  kepada  Allah,  sanjungan  kepada-Nya, dan doa kepada-Nya. Karena masalah ini  masih  diperselisihkan  antara orang yang memperbolehkannya dan yang menganggapnya makruh.
 
Imam  Ahmad  meriwayatkan  dari  Abdullah bin Amr, ia berkata, "Rasulullah saw. mengajari kami  beberapa  kalimat  yang  kami ucapkan apabila terkejut pada waktu tidur:
 
"Dengan nama Allah, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan kemurkaan dan siksa-Nya, dan kejahatan hamba-hamba-Nya, dan gangguan setan, dan dan kehadiran setan."
 
Maka Abdullah mengajarkan  kalimat  ini  kepada  anaknya  yang sudah   balig   untuk   mengucapkannya  ketika  hendak  tidur, sedangkan terhadap anaknya yang masih kecil dan belum mengerti atau  belum  dapat  menghafalkannya,  kalimat  itu  ditulisnya kemudian digantungkan di lehernya.51
 
Akan tetapi, Ibrahim an-Nakhati berkata,  "Mereka  memakruhkan semua  macam  jimat,  baik  dari Al-Qur'an maupun bukan." Yang dimaksud dengan "mereka" disini  adalah  sahabat-sahabat  Ibnu Mas'ud  seperti  al-Aswad, 'Alqamah, Masruq, dan lain-lainnya. Sedangkan makna "makruh" disini adalah "di awah haram."
 
Tidak mengapa diingatkan kepada si sakit dengan  lemah  lembut bahwa yang lebih utama dan lebih hati-hati adalah meninggalkan semua macam jimat, mengingat keumuman larangannya,  dan  untuk menutup  jalan  kepada  yang  terlarang (saddan lidz-dzari'ah, usaha preventif), juga karena khawatir dia membawanya masuk ke kakus  (WC)  dan  sebagainya. Hanya saja janganlah ia bersikap keras dalam masalah ini, karena masih diperselisihkan hukumnya di kalangan ulama.


 


MENDONORKAN DARAH UNTUK SI SAKIT


Diantara  hal  paling  utama yang diberikan oleh keluarga atau sahabat kepada si sakit ialah mendonorkan darah untuknya  bila diperlukan  ketika  ia  menjalani operasi, atau untuk membantu dan  mengganti  darah  yang  dikeluarkannya.   Ini   merupakan pengorbanan  yang  paling besar dan sedekah yang paling utama, sebab memberikan darah pada saat seperti itu kedudukannya sama dengan  menyelamatkan hidupnya, dan Al-Qur'an telah menetapkan dalam menjelaskan nilai jiwa manusia:

"... bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya ..." (al-Ma'idah: 32)

Apabila  bersedekah  dengan  harta  memiliki  kedudukan   yang demikian  tinggi  dalam  agama  dan  mendapatkan  pahala  yang demikian  besar  di  sisi  Allah   --sehingga   Allah   Ta'ala menerimanya  dengan  tangan  kanan-Nya  dan melipatgandakannya hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan entah sampai berapa kali lipat  menurut yang dikehendaki Allah-- maka mendermakan darah lebih tinggi kedudukannya  dan  lebih  besar  lagi  pahalanya. Karena  orang  yang mendermakan darah menjadi sebab kehidupan, dan  darah  juga  merupakan  bagian  dari  manusia,  sedangkan manusia  jauh  lebih  mahal  daripada harta. Selain itu, orang yang mendonorkan darahnya seakan-akan  menyumbangkan  sebagian wujud  materiil  dirinya  kepada  saudaranya  karena cinta dan karena mengalah.
 
Disisi lain, bentuk  amal  saleh  yang  memiliki  nilai  lebih tinggi  lagi  dari  nilai  tersebut  ialah memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan  pertolongan  dan  menghilangkan kesusahan   orang   yang   dilanda  kesusahan.  Ini  merupakan kelebihan lain yang menambah  pahala  di  sisi  Allah  Ta'ala. Dalam suatu hadits Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Sesungguhnya Allah mencintai perbuatan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan." (HR Abu Ya la, ad-Dailami, dan Ibnu Asakir dari Anas)52
 
Di dalam kitab sahih juga diriwayatkan hadits Rasulullah  saw. yang berbunyi:
 
"Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang muslim suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan dari orang itu suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat." (HR Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar)53
 
Bahkan  terdapat  hadits  sahih  dari  Rasulullah  saw.  bahwa menolong  binatang  yang  membutuhkan makanan atau minuman itu juga mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah,  sebagaimana disebutkan  dalam  hadits  yang menceritakan tentang seseorang yang memberi minum anjing yang tengah kehausan. Anjing itu  ia dapatkan  menjulur-julurkan  lidahnya  menjilati  tanah karena sangat kehausan, maka orang itu mengambil air ke sumur  dengan sepatunya  dan  digigitnya  sepatu itu dengan giginya kemudian diminumkannya kepada anjing tersebut hingga  puas.  Nabi  saw. bersabda, "Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya."  Lalu  para  sahabat  bertanya   keheranan,   "Wahai Rasulullah,  apakah  kami  mendapatkan  pahala  dalam menolong binatang?" Beliau menjawab:
 
"Benar, (berbuat baik) kepada tiap-tiap (sesuatu yang memiliki) jantung yang basah (makhluk hidup) itu berpahala." (HR Muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah)54
 
Tampaknya para sahabat beranggapan bahwa berbuat  baik  kepada makhluk  (binatang) ini tidak mendapatkan pahala di sisi Allah dan bahwa ad-Din tidak memperhatikannya. Maka Rasulullah  saw. menjelaskan  kepada  mereka  bahwa berbuat baik kepada makhluk hidup yang mana pun akan mendapatkan pahala,  meskipun  berupa binatang  semisal  anjing.  Maka  bagaimana  lagi berbuat baik kepada manusia? Betapa lagi terhadap manusia yang beriman?
 
Mendermakan darah itu mendapatkan  pahala  yang  besar  secara umum,  dan  bersedekah  kepada  kerabat  akan  dilipatgandakan pahalanya  secara  khusus,  karena  yang  demikian  itu   akan memperkuat   hubungan   kekerabatan  dan  memperkokoh  jalinan kekeluargaan. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:
 
"Bersedekah kepada orang miskin itu mendapatkan pahala satu sedekah; sedang kepada keluarga itu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung kekeluargaan." (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Hakim dari Salman bin Amir)55
 
Pahala menyumbangkan darah ini lebih  berlipat  ganda  apabila pada  asalnya  hubungan  antara  penyumbang dan si sakit tidak harmonis,  mengikuti  bujukan  setan   yang   menyalakan   api permusuhan  dan  pertentangan  di antara mereka. Apabila salah seorang  dari  mereka  berhasil   mengalahkan   nafsunya   dan setannya,  lalu  menyingkirkan dan membuang sikap yang tercela menurut pandangan Allah dan pandangan manusia ini,  lantas  ia menyumbangkan   harta   atau   darahnya  kepada  kerabat  yang membutuhkannya (yang sebelumnya  bermusuhan  dengannya),  maka tindakan demikian oleh Rasulullah saw. dinilai sebagai sedekahyang paling utama bila dinisbatkan kepada  siapa  yang  diberi  sedekah. Beliau bersabda:
 
    "Sedekah yang paling utama ialah kepada keluarga yang memusuhi (al-kaasyih)." (HR Ahmad dan Thabrani dari Abi Ayyub dan Hakim bin Hizam)56
 
Yang dimaksud  dengan  dzir-rahmi  al-kaasyih  (keluarga  yang memusuhi)  ialah  yang  menyembunyikan  rasa  permusuhan dalam hati,  tidak   terang-terangan,   dan   tidak   cinta   kepada kerabatnya.

 


KEUTAMAAN KESABARAN KELUARGA SI SAKIT


Keluarga  si  sakit  wajib  bersabar terhadap si sakit, jangan merasa sesak dada karenanya  atau  merasa  bosan,  lebih-lebih bila  penyakitnya itu lama. Karena akan terasa lebih pedih dan lebih sakit dari penyakit itu sendiri  jika  si  sakit  merasa menjadi  beban bagi keluarganya, lebih-lebih jika keluarga itu mengharapkan dia segera dipanggil ke  rahmat  Allah.  Hal  ini dapat  dilihat  dari  raut wajah mereka, dari cahaya pandangan mereka, dan dari gaya bicara mereka.
 
Apabila kesabaran si sakit atas penyakit yang dideritanya akan mendapatkan pahala yang sangat besar --sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadits  sahih--  maka  kesabaran  keluarga  dan kerabatnya  dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak kalah  besar  pahalanya.  Bahkan  kadang-kadang   melebihinya, karena  kesabaran si sakit menyerupai kesabaran yang terpaksa, sedangkan  kesabaran  keluarganya  merupakan  kesabaran   yang diikhtiarkan   (diusahakan).  Maksudnya,  kesabaran  si  sakit merupakan kesabaran karena ditimpa cobaan, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran untuk berbuat baik.
 
Diantara  orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah  suami  atas  istrinya,  atau  istri  atas suaminya.  Karena  pada  hakikatnya kehidupan adalah bunga dan duri, hembusan angin sepoi  dan  angin  panas,  kelezatan  dan penderitaan,  sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah  orang  yang  beragama dan  berakhlak  hanya  mau  menikmati istrinya ketika ia sehat tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit.  Ia  hanya  mau memakan  dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya ketika masih muda lalu  membuang  kulitnya  ketika  lemah  dan layu.  Sikap  seperti  ini  bukan  sikap  setia tidak termasuk mempergauli  istri  dengan  baik,  bukan  akhlak  lelaki  yang bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.
 
Demikian   juga   wanita,  ia  tidak  boleh  hanya  mau  hidup bersenang-senang  bersama  suaminya  ketika  masih  muda   dan perkasa,  sehat  dan kuat, tetapi merasa sempit dadanya ketika suami jatuh sakit dan  lemah.  Ia  melupakan  bahwa  kehidupan rumah  tangga  yang  utama ialah yang ditegakkan di atas sikap tolong-menolong dan bantu-membantu pada waktu manis dan ketika pahit, pada waktu selamat sejahtera dan ketika ditimpa cobaan.
 
Seorang  penyair  Arab  masa  dulu  pernah  mengeluhkan  sikap istrinya "Sulaima" ketika merasa bosan terhadapnya  karena  ia sakit,  dan  ketika  si istri ditanya tentang keadaan suaminya dia menjawab, "Ia tidak hidup sehingga  dapat  diharapkan  dan tidak  pula mati sehingga patut dilupakan." Sementara ibu sang penyair sangat sayang kepadanya, berusaha untuk kesembuhannya, dan  sangat  mengharapkan  kehidupannya. Lalu sang penyair itu bersenandung duka:
 
"Kulihat Ummu Amr tidak bosan dan tidak sempit dada Sedang Sulaima jenuh kepada tempat tidurku dan tempat tinggalku Siapakah gerangan yang dapat menandingi bunda nan pengasih Maka tiada kehidupan kecuali dalam kekecewaan dan kehinaan Demi usiaku, kuingatkan kepada orang yang tidur Dan kuperdengarkan kepada orang yang punya telinga."
 
Yang lebih wajib lagi daripada  kesabaran  suami-istri  ketika teman  hidupnya  sakit ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua orang tuanya. Sebab hak mereka  adalah  sesudah hak  Allah  Ta'ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang  diajarkan  oleh  seluruh risalah  Ilahi.  Karena  itu  Allah  menyifati Nabi Yahya a.s. dengan firman-Nya:
 

"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka." (Maryam: 14)

Allah menjadikannya  --yang  masih  bayi  dalam  buaian  itu-- berkata menyifati dirinya:

"Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka." (Maryam: 32)

Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia  lebih  berhak memelihara  dan  merawat  kedua  orang tuanya, dan lebih mampu melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya  rasa  kasih dan  sayang  yang  melimpah,  yang tidak dapat ditandingi oleh anak laki-laki.
 
Al-Qur'an sendiri menjadikan  kewajiban  berbuat  baik  kepada kedua  orang  tua  ini dalam urutan setelah mentauhidkan Allah Ta'ala, sebagaimana difirmankan-Nya:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak..." (an-Nisa': 36)
 
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya ..." (al-lsra': 23)

Dalam ayat  yang  mulia  ini  Al-Qur'an  mengingatkan  tentang kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan bakti dan perbuatan baik  seorang  anak  kepada  orang  tuanya semakin  kokoh.  Yaitu, ketika keduanya telah lanjut usia, dan pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap perkataan  yang  keluar  dari  anak-anak  mereka,  yang sering rasakan sebagai bentakan  atau  hardikan  terhadap  keberadaan mereka.  Kata-kata  yang  mempunyai konotasi buruk inilah yang dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:

"... Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai ke umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'" (al-Isra': 23-24)

Diriwayatkan  dari  Ali  bin  Abi  Thalib  r.a.  bahwa  beliau berkata,  "Kalau  Allah  melihat  ada  kedurhakaan  yang lebih rendah daripada perkataan 'uff (ah), niscaya diharamkan-Nya."
 
Ungkapan   Al-Qur'an   "sampai   ke    usia    lanjut    dalam pemeliharaanmu"  menunjukkan  bahwa  si anak bertanggung jawab atas  kedua   orang   tuanya,   dan   mereka   telah   menjadi tanggungannya.  Sedangkan  bersabar terhadap keduanya --ketika kondisi mereka telah lemah atau  tua--  merupakan  pintu  yang paling  luas  yang  mengantarkannya  ke surga dan ampunan; dan orang  yang   mengabaikan   kesempatan   ini   berarti   telah mengabaikan  keuntungan  yang besar dan merugi dengan kerugian yang nyata.
 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:
 
"Merugi, merugi, dan merugi orang yang mendapat kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau kedua-duanya, lantas ia tidak masuk surga."57 (HR Ahmad dan Muslim)58
 
Juga diriwayatkan dalam hadits lain dari Ka'ab bin  Ujrah  dan lainnya  bahwa  Malaikat  Jibril pembawa wahyu mendoakan buruk untuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, dan doa Jibril ini diaminkan oleh Nabi saw.59
 
Sedangkan  yang  sama  kondisinya  dengan  usia  lanjut  ialah kondisi-kondisi sakit yang menjadikan  manusia  dalam  keadaan lemah  dan  memerlukan perawatan orang lain, serta tidak mampu bertindak sendiri untuk menyelenggarakan keperluannya.
 
Jika demikian sikap umum terhadap kedua orang tua, maka secara khusus   ibu   lebih   berhak   untuk  dijaga  dan  dipelihara berdasarkan penegasan Al-Qur'an dan pesan Sunnah Rasul.
 
Allah berfirman:
 
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan ..." (al-Ahqaf: 15)
 
"Dan Kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Luqman: 14)
 
Imam Thabrani  meriwayatkan  dalam  al-Mu'jamush-Shaghir  dari Buraidah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata:
 
"Wahai Rasululah, saya telah menggendong ibu saya di pundak saya sejauh dua farsakh melewati padang pasir yang amat panas, yang seandainya sepotong daging dilemparkan ke situ pasti masak maka apakah saya telah menunaikan syukur kepadanya?" Nabi menjawab, "Barangkali itu hanya seperti talak satu."60
 
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada  Umar  bin Khattab,  "Ibuku  sangat  lemah  dan  tua renta sehingga tidak dapat  memenuhi  keperluannya  kecuali  punggungku  ini  telah menjadi  hamparan  tunggangannya  --dia  berbuat  untuk ibunya seperti ibunya berbuat untuk dia  dahulu--  maka  apakah  saya telah   melunasi   utang   saya   kepadanya?"  Umar  menjawab, "Sesungguhnya engkau berbuat  begitu  terhadap  ibumu,  tetapi engkau  menantikan  kematiannya esok atau esok lusa; sedangkan ibumu berbuat begitu  terhadapmu  justru  mengharapkan  engkau berusia panjang."
 
Selain   itu,   tanggung  jawab  keluarga  terhadap  si  sakit bertambah  berat  apabila  ia  tidak  punya  atau   kehilangan kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak kecil --apalagi belum  sampai  mumayiz--  atau  seperti   orang   gila,   yang masing-masing membutuhkan perawatan ekstra dan penanganan yang serius. Karena orang yang mumayiz dan berpikiran normal  dapat meminta  apa  saja yang ia inginkan dapat menjelaskan apa yang ia  butuhkan,  dapat  minta  disegerakan   kebutuhannya   bila terlambat,  dan  dapat  memuaskan  orang  yang  mengobati atau merawatnya.
 
Sedangkan anak kecil, orang gila, dan  yang  sejenisnya,  maka tidak   mungkin  dapat  melakukan  hal  demikian.  Karena  itu berlipatgandalah beban keluarganya.  Dengan  demikian,  mereka harus   benar-benar   menyadari   kondisi   kesehatannya   dan mengusahakan   pengobatannya,   sehingga    terkadang    harus membawanya  ke  dokter,  memasukkannya  ke  rumah  sakit, atau hal-hal lain yang tidak dapat dibatasi.

 

49 HR Bukhari, Ahmad, dan Ashhabus-Sunan sebagaimana disebut dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 3778.^
50 Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 6394. ^
51 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, hadits nomor 6696. dan Syekh Syakir mengesahkan isnadnya, meskipun diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq secara mu'an'an (dengan menggunakan lafal 'an = dari). Juga diriwayatkan oleh Abu Daud dalam "ath-Thibb" (nomor 3843); Tirmidzi dalam "ad-Da'awat" (nomor 3519) dan beliau berkata, "Hasan gharib"; Nasa-i dalam "Amalul-Yaum wal-Lailah," nomor 765 hingga pada lafal: "Wa an yahdhuruuni."^
52 Faidhul-Qadar, juz 2, hlm. 287.^
53 Al-Lu'lu' wa-Marjan, hadits nomor 1667.^
54 Al-Lu'lu' wa-Marjan, hadits nomor 1447.^
55 Dihasankan oleh Tirmidzi, disahkan oleh Hakim, dan disetujui oleh Dzahabi, sebagaimana diterangkan dalam Faidhul-Qadir, karya Imam Munawi, juz 4, hlm. 237.^
56 Diriwayatkan juga oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad dari Abi Sa'id, dan diriwayatkan oleh Thabrani dan Hakim dari Ummu Kultsum bind 'Uqbah, serta disahkan oleh Hakim menurut syarat Muslim dan disetujui Dzahabi (Faidhul-Qadir, juz 2, hlm. 38).^
57 Artinya, dia tidak berbakti kepada mereka yang akan mengantarkannya ke surga (Penj.).^
58 Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 3511.^
59 Doa Malaikat Jibril itu berbunyi demikian: "Jauhlah (dari rahmat Allah) orang yang mendapat kedua orang tuanya atau salah satunya telah berusia lanjut, tetapi dia tidak masuk surga." Diriwayatkan oleh Thabrani dengan perawi-perawi tepercaya, sebagaimana diterangkan dalam Majma'uz-Zawaid, 1: 166. Dan ia mempunyai sejumlah syahid.^
60 HR Thabrani dalam ash-Shaghir. Di dalam sanadnya terdapat al-Hasan bin Abi Ja'far yang lemah tetapi bukan pendusta, dan terdapat Laits bin Abi Sulaim, seorang perawi mudallis (suka menyamarkan hadits). (Majma'uz-Zawaid, karya al-Haitsami, juz 8, hlm. 137).^

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com