KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


PENDERITA SAKIT JIWA


Diantara hal yang perlu diingatkan disini ialah yang berkenaan dengan  penderita  gangguan  jiwa, karena dalam hal ini banyak orang --hingga keluarganya sendiri bahkan  orang  yang  palingdekat   dengannya--   melupakannya   dan  tidak  memperhatikan hak-haknya, sebab mereka tidak melihat wujud penyakit ini pada organ  tubuh.  Maka  mereka menganggapnya sebagai orang sehat, padahal anggapan demikian tidak benar.
 
Oleh karena penyakitnya yang tidak  tampak  --sebab  berkaitan dengan  perasaan,  pikiran,  dan pandangannya terhadap manusia dan kehidupan-- maka ia harus dipergauli secara baik. Ia harus disikapi  dengan  lemah  lembut  dalam  berbicara  dan menilai  sesuatu, dan diperlakukan dengan kasih sayang.
 

BIAYA PENGOBATAN SI SAKIT
 
Diantara hak terpenting bagi si sakit  yang  harus  ditunaikan oleh  keluarga  dan  kerabatnya  --yang memiliki kemampuan dan kelapangan untuk itu-- ialah  menanggung  biaya  pengobatannya jika  si sakit tidak mempunyai harta. Misalnya memeriksakan si sakit kedokter spesialis, membeli obat, biaya opname di  rumah sakit,  biaya  operasi, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan dan  kebutuhan,  tanpa  israf  (berlebih-lebihan)  dan   tanpa bersikap kikir. Allah berfirman:

"... Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula) ..." (al-Baqarah: 236)
 
"... Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya ..." (ath-Thalaq: 7)

Namun, hal ini  tidak  menjadi  keharusan  bagi  setiap  jenis penyakit,  melainkan  untuk  penyakit  yang sangat parah, atau yang dikhawatirkan akan bertambah parah,  juga  penyakit  yang dapat menjadikan penderita mengabaikan kewajibannya. Sedangkan dalam hal ini terdapat obat yang mujarab  dan  manjur,  sesuai dengan sunnah Allah pada manusia.
 
Bila  penyakitnya benar-benar berat dan obatnya lebih mujarab, sementara penderita benar-benar membutuhkan  pengobatan,  maka memberi  biaya  untuk  pengobatannya merupakan pendekatan diri kepada  Allah   yang   sangat   mulia.   Karena   orang   yang menghilangkan  suatu  kesusahan  seorang muslim di dunia, maka akan dihilangkan oleh Allah kesusahannya pada hari kiamat, dan Allah   senantiasa   menolong  hamba-Nya  selama  ia  menolong saudaranya:

"... Dan barangsiapa yangmemelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya ..." (al-Ma'idah: 32)

Namun begitu,  tidak  lazim  bagi  kerabat  atau  teman  untuk memikul seluruh biaya pengobatannya sendirian, melainkan harus berbagi dengan yang lain:

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula." (az-Zalzalah: 7)

Boleh jadi biaya itu dibutuhkan sebelum berobat  atau  sesudah berobat,  yaitu  ketika  si sakit keluar dari rumah sakit yang membutuhkan biaya sangat besar sehingga tidak  dapat  dipenuhi olehnya.
 
Maka barangsiapa yang menolong menghilangkan kesulitannya padasaat yang kritis ini niscaya dia  akan  mendapatkan  kedudukantersendiri di sisi Allah.
 
Pada  kenyataannya, keluarga si sakit --dalam kaitannya dengan biaya pengobatan-- dapat dikelompokkan dalam dua golongan:
 
1. Orang-orang bakhil yang tidak mau membantu memenuhikebutuhan si sakit, baik untuk biaya pengobatan, makan,  maupun segala sesuatu yang diperlukan si sakit demi memulihkan kesehatannya, meskipun yang sakit adalah ibunya sendiri yang telah melahirkannya, atau ayahnya yang telah mendidik dan memeliharanya, atau anaknya yang menjadi buah hatinya, atau istri dan ibu anak-anaknya. Bagi orang seperti ini harta lebih berharga daripada keluarga dan kerabatnya.
 
Kadang-kadang si sakit membutuhkan obat yang berkualitas sesuai resep yang diberikan dokter spesialis, atau perlu menjalani operasi, perlu opname di rumah sakit, atau perlu dikarantina selama beberapa waktu untuk mendapatkan pemeliharaan dan perawatan secara sempurna, yang semua itu membutuhkan biaya. Tetapi hati familinya tidak ada yang merasa iba, tangan mereka pun tidak ada yang terulur memberikan bantuan, karena mereka benar-benar telah dilanda penyakit syuhh (bakhil dan kikir), suatu penyakit hati yang merusak. Didalam hadits sahih Rasulullah saw. bersabda:
 
"Jagalah dirimu dari penyakit syuhh, karena penyakit syuhh ini telah membinasakan orang-orang sebe1um kamu, mendorong mereka untuk melalcukan pertumpahan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka."61
 
2. Keluarga si sakit yang berlebih-lebihan dalam membiayai si sakit untuk sesuatu yang layak ataupun tidak layak, yang dibutuhkan maupun yang tidak diperlukan, demi memamerkan kekayaan, menunjukkan bahwa mereka berharta banyak, dan berharap mendapatkan sanjungan orang lain.
 
Anda lihat mereka memindah-mindahkan si sakit dari dokter yang satu kepada dokter yang lain, dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dari satu negara ke negara lain, padahal penyakitnya sudah diketahui dan diagnosisnya sudah jelas, bahkan para dokter sudah mencurahkan segenap kemampuannya secara maksimal dan optimal, sehingga tinggal terserah pada keputusan Allah yang tidak dapat ditolak, apakah sembuh atau meninggal dunia. Di dalam pemindahan ini sudah barang tentu menambah beban dan kepayahan bagi si sakit, padahal pemindahan itu sendiri tidak mendesak, belum lagi beban-beban di balik itu semua.
 
Selain itu, sering juga kondisi si sakit sudah lebih dekat kepada kematian, dan dia lebih utama mati di kampung halamannya, di tengah-tengah keluarganya, familinya, dan handai tolannya. Tetapi sikap berlebihan pihak famili untuk menampakkan bantuannya, ketidakbakhilannya, dan demi menunjukkan kemampuannya membiayai betapapun besarnya, hal itulah yang terkadang mendorong mereka melakukan tindakan berlebihan.
 
Padahal dalam kondisi seperti itu lebih utama jika dia menginfakkan harta tersebut --atas namanya sendiri-- di jalan kebaikan, khususnya untuk rumah-rumah sakit, untuk biaya pengobatan fakir miskin yang penghasilannya sangat terbatas. Pemberian sedekah seperti ini kadang-kadang mendorong orang-orang yang mendapatkan bantuan itu untuk mendoakan si sakit agar diberi kesembuhan oleh Allah, lalu Allah mengabulkannya. Untuk ini Rasulullah saw. bersabda:
 
"Obatilah orang-orang sakitmu dengan sedekah."62
 
Seandainya uang yang dihambur-hamburkan itu disedekahjariahkan, niscaya ia akan terus mendapatkan pahala selama sedekah jariahnya itu dimanfaatkan orang sampai hari kiamat.

 


ORANG SAKIT YANG MATI OTAKNYA DIANGGAP MATI MENURUT SYARA'


Sekarang sampailah pembahasan kita pada kondisi tertentu  bagi sebagian  orang yang sakit, yang belum meninggal dunia, tetapi otak dan sarafnya sudah mati, tidak berfungsi, dan tidak dapat kembali  normal  menurut  analisis  para  dokter  ahli.  Dalam kondisi seperti ini keluarga dan  familinya  harus  merawatnya dengan  mempergunakan  instrumen-instrumen  tertentu  misalnya untuk  memasukkan   makanan,   pernapasan,   dan   kontinuitas peredaran darahnya. Kadang-kadang kondisi seperti ini dijalani berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan biaya yang besar dan harus  menunggunya  secara  bergantian.  Mereka  mengira bahwa dengan cara demikian mereka  telah  memelihara  si  sakit  dan tidak  mengabaikannya.  Padahal  dalam kondisi seperti itu, si sakit tidak  dianggap  berada  di  alam  orang  sakit,  tetapi menurut  kenyataannya  dia  telah  berada  di alam orang mati, semenjak otak atau pusat sarafnya  mengalami  kematian  secara total.
 
Karena   itu   meneruskan   pengobatan   dengan  mempergunakan instrumen-instrumen  seperti  tersebut   di   atas   merupakan perbuatan sia-sia, membuang-buang tenaga, uang, dan waktu yang tidak keruan ujungnya, dan  yang  demikian  ini  tidak  sesuai dengan ajaran Islam.
 
Kalau  keluarga  si sakit memahami agama dengan baik dan benar serta mengerti hakikat masalah yang sebenarnya,  niscaya  akan timbul keyakinan dalam hati mereka bahwa yang lebih utama bagi mereka dan lebih mulia bagi si mayit --yang mereka kira  masih dalam keadaan sakit-- adalah menghentikan penggunaan peralatan tersebut. Maka ketika itu akan  berhentilah  aliran  darahnya, dan  dengan  demikian  semua  orang tahu bahwa dia benar-benar sudah meninggal dunia.
 
Dengan begitu, keluarga si sakit dapat  menghemat  tenaga  dan biaya.   Disamping  itu,  tempat  tidur  bekas  si  sakit  dan peralatan-peralatan tersebut --yang biasanya  sangat  terbatas jumlahnya--  dapat  dimanfaatkan pasien lain yang memang masih hidup.
 
Apa yang saya katakan  ini  bukanlah  pendapat  saya  seorang, tetapi  merupakan  keputusan  Lembaga  Fiqih  Islami  al-Alami (Internasional), sebuah lembaga  milik  Organisasi  Konferensi Islam,  yang  telah  mengkaji  masalah  ini  dengan cermat dan serius dalam  dua  kali  muktamar  --setelah  terlebih  dahulu diadakan  presentasi  dari  para  pembicara dari kalangan ahli fiqih dan dokter-dokter ahli. Melalui berbagai pembahasan  dan diskusi  --termasuk  menyelidiki  semua  segi  yang  berkaitan dengan peralatan medis tersebut  dan  menerima  pendapat  dari para  dokter  ahli-- Lembaga Fiqih Islam akhirnya menghasilkan keputusannya   yang    bersejarah    dalam    muktamar    yang diselenggarakan  di  kota  Amman,  Yordania, pada tanggal 8-13 Shafar 1407  H/11-16  Oktober  1986  M.  Diktum  itu  berbunyi demikian:
 
"Menurut   syara',   seseorang   dianggap   telah   mati   dan diberlakukan atasnya semua hukum syara' yang berkenaan  dengan kematian,  apabila  telah  nyata  padanya  salah satu dari dua indikasi berikut ini:
 
1. Apabila denyut jantung  dan  pernapasannya  sudah  berhenti secara   total,   dan   para  dokter  telah  menetapkan  bahwa keberhentian ini tidak akan pulih kembali.
2. Apabila  seluruh  aktivitas  otaknya  sudah  berhenti  sama sekali, dan para dokter ahli sudah menetapkan tidak akan pulih kembali, otaknya sudah tidak berfungsi.
 
Dalam    kondisi    seperti    ini    diperbolehkan    melepas instrumen-instrumen  yang  dipasang pada seseorang (si sakit), meskipun sebagian organnya seperti jantungnya masih  berdenyut karena kerja instrumen tersebut.
 
Wallahu a'lam."
 
Dari  diktum  ini  dapat  dihasilkan sejumlah hukum syar'iyah, antara lain:
 
Pertama: boleh melepas alat-alat pengaktif (perangsang)  organ dan pernapasan dari si sakit, karena tidak berguna lagi.
 
Bahkan saya katakan wajib melepas atau menghentikan penggunaan alat-alat ini, karena tetap mempergunakan  alat-alat  tersebut bertentangan  dengan ajaran syariah dalam beberapa hal, antara lain:
 
Menunda  pengurusan  mayit  dan  penguburannya  tanpa   alasan darurat,  menunda pembagian harta peninggalannya, mengundurkan masa iddah istrinya, dan lain-lain hukum yang berkaitan dengan kematian.
 
Diantaranya    lagi    adalah    menyia-nyiakan    harta   dan membelanjakannya  untuk  sesuatu  yang  tidak   ada   gunanya, sedangkan tindakan seperti ini terlarang.
 
Selain  itu,  diantara  akibat  yang ditimbulkannya lagi ialah memberi mudarat kepada orang lain  dengan  menghalangi  mereka memanfaatkan  alat-alat  yang  sedang  dipergunakan orang yang telah mati otak dan sarafnya  itu.  Hadits  Nabawi  menetapkan sebuah kaidah qath'iyah yang berbunyi:
 
"Tidak boleh memberi mudarat kepada diri sendiri dan tidak boleh memberi mudarat kepada orang lain."63
 
Kedua: boleh mendermakan (mendonorkan) sebagian organ tubuhnya pada  kondisi  seperti  ini, yang akan menjadi sedekah baginya dan kelak ia akan memperoleh pahala, meskipun  ia  (si  sakit) tidak  mewasiatkannya  Disebutkan  dalam  hadits  sahih  bahwa seseorang itu akan mendapatkan pahala karena  buah  tanamannya yang  dimakan oleh orang lain, burung, atau binatang lain, dan yang demikian itu merupakan sedekah baginya, meskipun ia tidak bermaksud bersedekah:
 
"Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman atau menabur benih, lantas buahva dimakan burung, manusia,atau binatang melainkan yang demikian itu menjadi  sedekah baginya."64
 
Bahkan disebutkan juga dalam hadits sahih bahwa  orang  mukmin mendapatkan pahala karena ditimpa kepayahan, sakit, kesusahan, duka cita, gangguan, atau bala bencana, hingga  tertusuk  duri sekalipun, semuanya dapat menghapuskan dosa-dosanya.
 
Maka  tidaklah  mengherankan  bila  seorang muslim mendapatkan pahala jika ia mendermakan sebagian  organ  tubuh  keluarganya ketika  telah  mati otaknya kepada pasien lain yang memerlukan organ tubuh tersebut untuk  menyelamatkan  kehidupannya,  atau untuk  mengembalikan  kesehatannya.  Maka seorang muslim tidak
perlu meragukan betapa utamanya amal ini dan  betapa  besarnya nilai dan pahalanya di sisi Allah Ta'ala.
 
Apabila  pemberian  derma  (donor)  ini sudah dipastikan, maka bolehlah mengambil organ yang dibutuhkan itu sebelum peralatan yang  dipasang  pada  tubuhnya  dilepaskan,  karena jika tidak dernikian berarti mengambil organ dari orang yang  sudah  mati bila  ditinjau  dari  segi  aktivitasnya  menurut keputusan di atas. Sebab pengambilan  organ  setelah  dilepas  peralatannya tidaklah   berguna   untuk  dicangkokkan  kepada  orang  lain, dikarenakan organ itu telah kehilangan daya hidup,  dan  telah menjadi organ mati.


 


MELEPAS PERALATAN DARI PENDERITA YANG TIDAK ADA HARAPAN SEMBUH
 

Lebih  dari itu, bahwa orang sakit yang telah lama menggunakan peralatan untuk membantu kehidupannya (seperti infus, oksigen, dan  sebagainya)  namun  tidak  membawa  kemajuan sama sekali, bahkan  para   dokter   yang   merawatnya   menetapkan   bahwa kesembuhannya   --menurut   sunnatullah--   tidak  lagi  dapat diharapkan, sehingga meneruskan penggunaan peralatan  tersebut sudah  tidak  ada  manfaatnya,  dan  bahwa  yang menjadikannya tampak hidup adalah ketergantungannya pada peralatan tersebut, yang  jika dilepas tentu tidak lama lagi meninggal dunia, maka saya katakan bahwa menurut syara' tidak terlarang  keluarganya melepas  peralatan  tersebut  dari  si sakit dan membiarkannya menurut kadar kemampuannya sendiri tanpa campur  tangan  orang lain.
 
Tindakan ini tidak termasuk kategori qatlur-rahmah (eutanasia) sebab kita  tidak  membunuhnya.  Yang  kita  lakukan  hanyalah menghentikan pengobatannya melalui peralatan buatan.
 
Tidak  seorang  pun  ahli  fiqih  yang  dapat mengatakan bahwa pengobatan dengan  menggunakan  peralatan  tersebut  merupakan kewajiban  syara'  yang  tidak  boleh diabaikan, sehingga jika dihentikan bertentangan dengan hukum syara'. Bahkan  ketetapan yang  sudah  dimaklumi  di kalangan ulama-ulama syariat adalah bahwa  berobat  --menurut  mazhab  empat  dan  jumhur  ulama-- hukumnya  mubah,  bukan  kewajiban  yang pasti. Sedikit sekali fuqaha yang berpendapat mustahab, dan lebih sedikit lagi  yang mewajibkannya.65  Dalam  kaitan  ini  Imam Ghazali menulis bab tersendiri dalam al-Ihya' untuk menyangkal pendapat orang yang mengatakan  bahwa  "meninggalkan  berobat  lebih  utama  dalam segala kondisi."
 
Tetapi, yang saya pandang kuat ialah pendapat yang  mewajibkan berobat  bila penyakitnya parah dan obatnya manjur (berfaedah) menurut kebiasaannya. Adapun jika  harapan  untuk  sembuh  itu tipis  --bahkan  kadang-kadang  sudah tidak ada harapan sembuh menurut para ahlinya-- maka tidak ada alasan untuk  mengatakan wajib atau sunnah dalam hal berobat.
 
Karena  itu,  menghentikan  penggunaan peralatan dari si sakit yang keadaannya seperti  itu  tidak  lebih  dari  meninggalkan perkara  mubah,  kalau  tidak lebih utama sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan  lainnya.  Bahkan,  saya  lihat  pendapat  yang terkuat ialah yang mewajibkan penghentian penggunaan peralatan tersebut.

 

61 HR Muslim dalam "Kitab al-Birr wash-Shilah" dari hadits Jabir. Shahih Muslim, hadits nomor 2578. ^
62 HR Abu Syaikh dalam ats-Tsawab dari Abu Umamah. Dihasankan (oleh al-Albani) dalam Shahih Jami'ush-Shaghir.^
63 HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, dan Ibnu Majah meriwayatkannya pula dari Ubadah. Sahih dengan semua jalannya. Lihat, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, karya al-Albani, nomor 250. Dan lihat pula al-Asybah wan-Nazhair karya Ibnu Najim, Kaidah Kelima "adh-Dhararu Yuzalu" dan cabang-cabangnya, hlm. 8542, terbitan al-Halabi.^
64 Muttafaq 'alaih dari hadits Anas. Al-Lu'lu' wal-Marjan. nomor 1001.^
65 Lihat, al-Hidayah ma'a Takmilati Fat-hil Qadir, 8: 164; al-Majmu', 5: 106; al-Mabdi', 2: 213-214; dan al-Inshaf, 2: 463.^

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com