KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


MENGINGATKAN PENDERITA AGAR BERTOBAT DAN BERWASIAT
 
 

Disukai bagi keluarga si sakit, teman-temannya, dan orang yang menjenguknya  dari kalangan ahli kebaikan dan kebajikan, untuk mengingatkan  si  sakit  agar  segera  bertobat  kepada  Allah Ta'ala.   Supaya   si   sakit  menyesali  kekurangannya  dalam melaksanakan  ajaran  Allah,  bertekad  untuk  menaati  Allah, membersihkan  diri  dari  menganiaya  hamba-hamba  Allah,  dan mengembalikan hak-hak  mereka  bagaimanapun  kecilnya,  karena hak-hak Allah itu didasarkan pada toleransi, dan hak-hak hamba itu  didasarkan  pada  kesungguhan,  serta  karena  tobat  itu dituntut dari seluruh orang mukmin sebagaimana firman Allah:

"... Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orarg-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." (an-Nur: 31)

Adapun tobat bagi  orang  sakit  lebih  wajib  lagi  hukumnya, disamping   ia   lebih   membutuhkannya  karena  memang  besar keuntungannya, sedangkan bagi orang yang  mengabaikannya  akan mendapatkan   kerugian   yang   amat  besar.  Dan  orang  yang berbahagia adalah orang yang  segera  bertobat  sebelum  habis waktunya:

"Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang...'" (an-Nisa': 18)

Disamping  itu,  seyogianya  kita  ingatkan  si   sakit   agar berwasiat jika ia belum berwasiat. Rasulullah saw. bersabda:
 
"Tidak ada hak seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang pantas diwasiatkan, sesudah bermalam selama dua malam, melainkan hendaklah wasiatnya tertulis di sisinya."66
 
Apabila si sakit ditakdirkan Allah sembuh dari sakitnya,  maka sebaiknya  ia  dinasihati  dan  diingatkan agar menunaikan apa yang  telah  dijanjikannya  kepada  Allah  sewaktu  dia  sakit sebagai tanda syukur kepada Allah dan untuk memenuhi janjinya. Sudah seharusnya si sakit menjaga hal itu. Allah berflrman:

"... dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya." (al-Isra': 34)

Allah juga telah memuji ahli kebajikan dan ahli  takwa  dengan firman-Nya:

"... dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji..." (al-Baqarah: 177)

Para ulama berkata, "Seharusnya si sakit  mempunyai  keinginan keras  untuk  memperbaiki  akhlaknya,  menjauhi pertikaian dan pertentangan mengenai urusan  dunia,  merasa  bahwa  saat  ini merupakan  saat  terakhirnya  di ladang amal sehingga ia harus mengakhirinya   dengan   kebajikan.   Hendaklah   ia   meminta kelapangan    dan    maaf   kepada   istrinya,   anak-anaknya, keluarganya,  pembantunya,  tetangganya,  teman-temannya,  dan semua   orang   yang   punya   hubungan  muamalah,  pergaulan, persahabatan, dan sebagainya, serta meminta  keridhaan  mereka sedapat  mungkin. Selain itu, hendaklah ia menyibukkan dirinya dengan membaca Al-Qur'an, dzikir, kisah-kisah orang saleh  dan keadaan   mereka  ketika  menghadapi  kematian.  Hendaklah  ia memelihara   shalatnya,   menjauhi   najis,   dan    mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Janganlah ia menghiraukan perkataan orang yang mencela atas apa yang ia  lakukan,  sebab ini  merupakan  ujian  baginya,  dan orang yang mencelanya itu adalah teman yang bodoh dan musuh yang terselubung.  Disamping itu,  hendaklah  ia  berpesan kepada keluarganya agar bersabar jika ia menghadap-Nya dan jangan meratapinya,  karena  meratap termasuk   perbuatan   jahiliah,  demikian  pula  memperbanyak menangis. Hendaklah ia juga berpesan kepada  keluarganya  agar menjauhi   tradisi-tradisi   bid'ah   terhadap   jenazah,  dan hendaklah mereka bersungguh-sungguh mendoakannya,  karena  doa orang-orang  yang  hidup  itu  berguna  bagi  orang yang telah mati."67
 
Diantara indikasi kebaikan ialah jika seseorang diberi  taufiq oleh Allah untuk melakukan amal saleh sebelum meninggal dunia, untuk mengakhiri kehidupannya, sebab amal-amal itu  tergantung pada kesudahannya. Dan di antara doa yang ma'tsur ialah:
 
"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik usiaku pada bagianakhirnya."68
 
Mengenai  hal  ini   telah   diriwayatkan   beberapa   hadits, diantaranya adalah hadits Anas:
 
"Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka dipekerjakan-Nyalah orang itu." Ditanyakan kepada beliau, "Bagaimana mempekerjakannya?" Beliau menjawab, "Memberinya taufiq (pertolongan) untuk melakukan amal saleh sebelum meninggal dunia, lalu Dia (Allah) mematikannya atas amal saleh itu."69
 
Dalam sebagian jalannya diriwayatkan  dengan  lafal:  [tulisan Arab]   sebagai   pengganti   lafal   [tulisan   Arab]   yakni 'memperbagus pujiannya diantara manusia.'
 
Diantaranya lagi adalah hadits Abu Umamah:
 
"Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka disucikan-Nya orang itu sebelum meninggal dunia." Para sahabat bertanya, "Apa yang buat menyucikan hamba itu?" Beliau menjawab, "Amal saleh yang diilhamkan Allah kepada orang itu, lantas dimatikannya orang itu atas amal saleh tersebut." (HR Thabrani)70

 


RUKHSHAH BAGI SI SAKIT UNTUK MENGELUARKAN DERITANYA
 

Tidak mengapa bagi si sakit untuk mengeluhkan rasa  sakit  dan penderitaannya  kepada  dokter  atau  perawatnya, kerabat atau temannya, selama hal itu  dilakukan  tidak  untuk  menunjukkan kebencian  kepada  takdir,  atau untuk menunjukkan keluh kesah dan kekesalannya.
 
Hal  ini  disebabkan  orang  yang  dijadikan  tempat  mengaduh --lebih-lebih  jika  ia  dokter  atau  perawat-- kadang-kadang punya  obat  yang  dapat  menghilangkan  rasa  sakitnya,  atau minimal  meringankannya.  Disamping  itu, menyampaikan keluhan kepada  orang  yang  dipercayainya  dapat  meringankan   beban psikologis,  lebih-lebih  jika  orang  itu  mau menanggapinya, merasa  iba  padanya,  dan  ikut  merasakan  penderitaan  yang dialaminya. Seorang penyair kuno mengatakan:
 
"Aku mengaduh dan mengeluh Padahal mengeluh seperti ini tak biasa kulakukan Tapi memang Bila gelas sudah penuh isinya Ia akan tumpah keluar."
 
Pujangga lain mengatakan:
 
"Tak apalah engkau mengaduh Kepada orang yang berbudi luhur Agar ia iba padamu Atau menenangkan jiwamu Atau turut merasakan penderitaanmu."
 
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu  Mas'ud  r.a.  bahwa  Nabi saw. pernah berkata:
 
 "Aku demam yang panasnya setinggi yang dialami dua orang dari kalian."
 
Diriwayatkan dari al-Qasim  bin  Muhammad  bahwa  Aisyah  r.a. pernah   berkata,   "Aduh,  kepalaku  sakit."  Dan  Nabi  saw. menimpali, "Aduh, kepalaku juga sakit!"
 
Dan diriwayatkan dari  Sa'ad,  ia  berkata,  "Rasulullah  saw. datang  menjenguk  saya  ketika  penyakit saya bertambah berat pada waktu haji wada',  lalu  saya  berkata,  'Saya  menderita sakit sebagaimana yang engkau lihat ..."71
 
Imam  Bukhari  meriwayatkan  dalam al-Adabul-Mufrad dari Urwah bin Zuber, ia berkata, Saya  dan  Abdullah  bin  Zuber  pernah menjenguk  Asma'  --binti  Abu Bakar yang nota bene ibu mereka sendiri-- lalu  Abdullah  bertanya  kepada  Asma',  'Bagaimana keadaan Ibunda?' Asma' menjawab, 'Sakit.'"72
 
Riwayat-riwayat  ini  menolak  anggapan  sebagian  ulama  yang mengatakan bahwa orang  sakit  dimakruhkan  mengeluh/mengaduh. Imam  Nawawi  mengomentari  pendapat  sebagian  ulama tersebut dengan mengatakan, "Ini adalah pendapat yang lemah atau batil, karena  sesuatu  yang makruh ditetapkan dengan adanya larangan yang  dimaksud,  sedangkan  yang  demikian  tidak   didapati." Kemudian  beliau berhujjah dengan hadits Aisyah dalam bab ini, lalu berkata, "Barangkali yang mereka  maksud  dengan  karahah (makruh)  disini  adalah khilaful-aula (menyalahi sesuatu yang lebih utama),  sebab  tidak  diragukan  lagi  bahwa  melakukan dzikir lebih utama (daripada mengaduh/mengerang)."73
 
Al-Qurthubi  berkata, "Sebenarnya tidak seorang pun yang dapat menolak rasa sakit, dan memang jiwa manusia  diciptakan  untuk dapat  merasakan yang demikian, maka apa yang telah diciptakan Allah pada manusia tidaklah dapat diubah. Hanya saja,  manusia dibebani  tugas  untuk melepaskan diri dari sesuatu yang dapat ditinggalkan  apabila  ditimpa  musibah,  misalnya  berlebihan dalam  mengeluh dan mengaduh, karena orang yang berbuat begitu berarti telah keluar dari artian sebagai  ahli  sabar.  Adapun semata-mata mengaduh tidaklah tercela, kecuali ia membenci apa yang ditakdirkan atas dirinya."74
 
Bahkan Imam Muslim meriwayatkan  dari  Utsman  bin  Abil  'Ash bahwa   dia   mengeluhkan  rasa  sakit  pada  tubuhnya  kepada Rasulullah saw., lalu beliau bersabda kepadanya:
 
"Letakkan tanganmu pada badan tubuhmu yang sakit, dan ucapkan 'bismillah' (dengan nama Allah) tiga kali, dan ucapkan doa ini sebanyak tujuh kali: 'Aku berlindung dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya dari apa yang aku derita dan aku khawatirkan.'"75
 
Para ulama mengatakan,  "Dari  riwayat  ini  dirumuskan  hukum sunnahnya   menyampaikan   keluhan   kepada  orang  yang  bisa memohonkan berkah, karena mengharapkan keberkahan doanya"76
 
Imam Ahmad biasanya memuji Allah terlebih dahulu, baru setelah itu  beliau  memberitahukan  apa  yang  dideritanya, mengingat riwayat dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Apabila menyampaikm syukur  terlebih  dahulu  sebelum  menyampaikan  keluhan, maka tidaklah dia dinilai berkeluh kesah."77
 
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari perkataan  Nabi  saw.  dalam hadits Aisyah ("kepala saya juga sakit") dengan mengatakan:
 
"Riwayat ini menunjukkan bahwa mengatakan sakit tidak termasuk berkeluh kesah. Sebab betapa banyak orang yang hanya berdiam tetapi hati mereka merasa jengkel (marah), dan betapa banyak orang yang mengadukan sakitnya tetapi hatinya merasa ridha. Maka yang perlu diperhatikan di sini adalah amalan hati, bukan amalan lisan.78 Wallahu a'lam.
 
Disisi lain, bagi orang yang  menerima  keluhan  hendaklah  ia berusaha  meringankan  penderitaan si sakit dengan membelainya atau menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, dengan  perkataan yang  menyejukkan hati, dan dengan doa yang baik, sebagg§imana yang dilakukan Rasulullah saw. terhadap  Sa'ad.  Aisyah  binti Sa'ad  meriwayatkan  bahwa  ayahnya bercerita, "Ketika saya di Mekah, saya mengadukan sakit yang  berat,  kemudian  Nabi  saw menjenguk  saya.  Kemudian  beliau  menaruh  tangan beliau dan mengusapkannya pada muka dan perut saya, seraya berdoa:
 
"Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad, dan sempurnakanlah hijrahnya."
 
Sa'ad  berkata,  "Maka  saya  senantiasa  merasakan  dinginnya tangan  beliau  di  hati saya --menurut perasaan saya-- hingga hari kiamat."79
 
Ibnu  Mas'ud  juga  berkata,  "Saya  pernah  masuk  ke  tempat Rasulullah  saw.  ketika  beliau sedang sakit parah, lalu saya belai  beliau  dengan  tangan  saya  sembari  berkata,  'Wahai Rasulullah,  sakitmu  sangat  berat.' Beliau menjawab, 'Benar, sebagaimana yang diderita oleh dua orang diantara kamu.'  Saya berkata,  'Hal  itu karena engkau mendapat dua pahala?' Beliau menjawab, 'Benar.' Kemudian beliau bersabda:
 
"Tidak seorang muslim yang ditimpa suatu gangguan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya."80
 
Selain itu, hendaklah ia berusaha meringankan  penderitaan  si sakit  dengan  mengingatkannya  akan  keutamaan sabar terhadap cobaan Allah dan  ridha  menerima  qadha-Nya,  mengingatkannya akan  pahala  orang  yang mendapatkan ujian lantas ia bersabar dan rela menerimanya. Hendaklah ia mengingatkan bahwa penyakit yang   menimpanya   adalah   untuk   menyucikan   dan  menebus dosa-dosanya,   untuk   menambah   kebaikannya,   atau   untuk meninggikan  derajatnya.  Disamping  itu!  ia  juga  sebaiknya diberi pengertian bahwa  orang  yang  paling  berat  cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang yang memiliki derajat di bawahnya, dan  seterusnya.  Perlu  juga  diingatkan  kepadanya tentang  ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi, serta biografi para shalihin yang  sekiranya  dapat  menenangkan  dan  memantapkan hatinya,   tidak   menjadikannya  jenuh  dan  berat.  Kemudian sebaiknya ia diajari dengan  sesuatu  yang  dapat  meninggikan jiwanya,  sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. terhadap Utsman bin Abil 'Ash.
 
Adapun mengenai  pengaduan  kepada  Sang  Pencipta  Yang  Maha Luhur,  maka  Al-Qur'an  telah mengisahkan beberapa orang Nabi a.s. yang mulia. Diantaranya Al-Qur'an mengisahkan Nabi Ya'qub a.s. yang mengatakan:

"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukankesusahan dan kesedihanku ..." (Yusuf: 86)

Demikian pula ketika mengisahkan Nabi Ayub a.s.:

"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (al-Anbiya': 83)

Ayat-ayat ini sekaligus menyangkal anggapan golongan sufi yang mengatakan  bahwa  berdoa  merusak keridhaan dan penyerahan.81Dalam  hal  ini  sebagian  mereka  berkata,   "Pengetahuan-Nya tentang keadaanku tidak memerlukan aku meminta kepada-Nya."
 
Tetapi  yang  perlu ditegaskan disini bahwa berdoa dan memohon kepada  Allah  adalah  ibadah,  sebagaimana  yang   disabdakan Rasulullah saw.
 
Sebenarnya,  menurut  kesepakatan  para  ulama, yang tergolong makruh dalam hal ini ialah berkeluh kesah  terhadap  Tuhannya, yaitu  menyebut-nyebut  penderitaannya  kepada  manusia dengan jalan memaki-maki.82 Inilah yang dilakukan oleh sebagian orang yang  melupakan  nikmat Allah, yang mereka ingat hanyalah bala dan bencana semata.




SI SAKIT MENGHARAPKAN KEMATIAN


Apabila  si  sakit  diperbolehkan  mengeluhkan  penderitaannya sebagaimana   saya   sebutkan,   maka  tidaklah  baik  baginya mengharapkan kematian atau meminta kematian karena penderitaan yang  dialaminya, mengingat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bahwa Nabi saw. bersabda:
 
"Jangan sekali-kali seseorang diantara kamu mengharapkan kematian karena penderitaan yang dialaminya. Jika ia harus berbuat begitu, maka hendaklah ia mengucapkan, 'Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik bagiku; dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku."83
 
Hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan  oleh  Bukhari  dan lainnya  menjelaskan  hikmah  larangan  ini,  maka  Nabi  saw. bersabda:
 
"Dan jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu mengharapkan kematian, karena kalau ia orang baik maka boleh jadi akan menambah kebaikannya; dan jika ia orang yang jelek maka boleh jadi ia akan bertobat dengan tulus."84
 
Makna kata yasta'tibu ialah kembali dari segala  sesuatu  yang menjadikannya  tercela,  caranya  ialah dengan melakukan tobat nashuha (tobat yang tulus).
 
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya  dari  Abu  Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda:
 
"Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa memohon kematian sebelum datang waktunya. Sesungguhnya kematian itu apabila datang kepada salah seorang diantara kamu maka putuslah amalnya, dan sesungguhnya tidak bertambah umur orang mukmin itu melainkan hanya menambah kebaikan baginya."85
 
Para ulama mengatakan, "Sebenarnya dimakruhkannya mengharapkan kematian  itu  hanyalah  apabila  berkenaan dengan kemudaratan atau  kesempitan  hidup  duniawi,  tetapi  tidak   dimakruhkan apabila  motivasinya  karena  takut  fitnah terhadap agamanya, karena kerusakan zaman, sebagaimana dipahami dari hadits  Anas di   atas.   Banyak  diriwayatkan  dari  kalangan  salaf  yang mengharapkan kematian  ketika  mereka  takut  fitnah  terhadap agamanya."86
 
Hal  ini  diperkuat  oleh hadits Mu'adz bin Jabal mengenai doa Nabi saw.:
 
"Ya Allah, aku mohon kepada-Mu (agar Engkau menolongku untuk) melakukan kebaikan, meninggalkan kemunkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Dan apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah aku untuk menghadapMu tanpa terkena fitnah."87
 
Selain  itu,  juga  disebutkan  dalam  beberapa  hadits   yang membicarakan  tanda-tanda  hari  kiamat  bahwa  kelak akan ada seseorang yang melewati kubur saudaranya, lalu ia  mengatakan, "Alangkah   baiknya   kalau   aku   yang  menempati  tempatnya (kuburnya)."
 
Tidak disukainya (dimakruhkannya)  mengharapkan  kematian  ini dengan  ketentuan  apabila hal itu dilakukan sebelum datangnya pendahuluan kematian; namun jika setelah pendahuluan  kematian itu  datang,  maka  tidak terlarang dia mengharapkannya karena merasa rela bertemu Allah, dan tidak terlarang pula bagi orang yang meminta kematian karena kerinduannya untuk bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.
 
Karena itu, dalam bab ini pula Imam  Bukhari  mencatat  hadits Aisyah  yang  mengatakan,  "Saya  mendengar  Nabi saw., sambil bersandar pada saya, berdoa:
 
"Ya Allah, ampunilah aku dan kasih sayangilah aku, dan pertemukanlah aku dengan teman yang luhur."88
 
Hal ini sebagai isyarat bahwa larangan tersebut  khusus  untuk keadaan sebelum datangnya pendahuluan kematian.89

 

66 Muttafaq 'alaih dari hadits Ibnu Umar. Al-Lu'lu' wal-Marjan fii Maa ittafaqa 'alaihi asy-Syaikhaani, hadits nomor 1052.^
67 Al-Majmu karya Imam Nawawi, juz 5, hlm. 118-119.^
68 HR Thabrani dalam al-Ausath. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Malik an-Nakha'i, sedangkan dia itu lemah. (Majma'uz-Zawaid, karya al-Haitsami, juz 10, hlm. 113).^
69 HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim. Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 305.^
70 Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 306.^
71 Periksa hadits ini dan dua hadits sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari dan Fathul-Bari: "Kitab al-Mardha." "Bab Maa Rakhkhisha lil Maridh an Yaquula: 'Inni waja'un, au waara'saahu, au isytadda bii al-waja'u'." Hadits nomor 5666, 5667, 5668.^
72 Al-Adabul-Mufrad, karya Imam Bukhari, hadits no. 509.^
73 Fathul-Bari, juz 10., hlm. 124.^
74 Ibid.^
75 Muslim dalam "as-Salam," hadits no. 2202; Abu Daud no. 3891, dan Tirmidzi no 2081.^
76 Al-Allamah al-Qari dalam Mirqatul-Mafatih Syarah Misykatil-Mashabih, juz 2, hlm. 298.^
77 Al-Mubdi' fi Syarh al-Muqni, juz 2, hlm. 215.^
78 Fathul-Bari, juz 10, hlm 125 dan 126.^
79 Al-Adabul-Mufrad, karya al-Bukhari, hadits nomor 509.^
80 Al-Bukhari, hadits nomor 5660.^
81 Lihat, Fathul-Bari, juz 10, hlm. 124.^
82 Ibid.^
83 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5671, "Bab Tamanni al-Maridh al-Mauta;" dan Muslim dalam "adz-Dzikir wad-Du'a," hadits nomor 2680.^
84 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, nomor 5673.^
85 HR Muslim dalam "adz-Dzikr wad-Du'a wat-Taubah," hadits nomor 2662.^
86 Lihat, Syarh as-Sunnah, karya al-Baghawi, juz 5, hlm. 259. dan al-Majmu', karya an-Nawawi, juz 5, hlm. 106-107.^
87 HR Tirmidzi dan beliau berkata, "Hasan sahih." Hadits nomor 3235. Diriwayatkan juga dalam Musnad Ahmad dan disahkan oleh Hakim, sebagaimana juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu Abbas, nomor 3233, dan Imam Ahmad yang disahkan oleh Syakir, hadits nomor 3484. ^
88 Al-Bukhari, hadits nomor 5674.^
89 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 130. ^

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com