<KUMPULAN BUKU>
Hukum-hukum Zakat

- DR. Yusuf Al-Qardhawi -
Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur'an dan Hadis

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


HARTA PENGHASILAN MENURUT PARA SAHABAT DAN TABI'IN

1. IBNU ABBAS
 
Abu Ubaid  meriwayatkan  dari  Ibnu  Abbas  tentang  seorang laki-laki   yang  memperoleh  penghasilan  "Ia  mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya."
 
Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah  dari  Ibnu Abbas.   Hadis  tersebut shahih dari Ibnu Abbas, sebagaimana ditegaskan  Ibnu  Hazm.  Hal   itu   menunjukkan   ketiadaan ketentuan  satu  tahun  bagi harta penghasilan, menurut yang difahami dari perkataan Ibnu Abbas. Tetapi Abu Ubaid berbeda pendapat  mengenai  itu, "Orang menafsirkan bahwa Ibnu Abbas memaksudkan penghasilan Itu berupa emas dan perak  sedangkan saya  menganggapnya  tidak  demikian.  Menurut  saya ia sama sekali tidak mengatakan demikian karena tidak sesuai  dengan pendapat  umat. Ibnu Abbas sesungguhnya memaksudkannya zakat tanah, karena penduduk Madinah menamakan tanah harta  benda. Bila  Ibnu Abbas tidak memaksudkan demikian, maka saya tidak tahu apa maksud hadis tersebut.
 
Abu Ubaid adalah imam dan ahli dalam persoalan  zakat  harta benda  dan  ini  tidak  bisa diragukan. Ia memiliki beberapa ijtihad dan tarjih yang cemerlang, yang sering  saya  kutip, namun  saya  menilai  pendapatnya  dalam  masalah ini lemah; karena tidak sesuai dengan apa yang  difahami  dengan  serta merta oleh umat dan dengan apa yang difahami oleh para ulama sebelumnya. Bila memang yang salah itu yang dimaksudkan maka ia  tidak  akan  dipandang  istimewa  oleh  Ibnu Abbas, yang banyak meriwayatkan darinya.
 
Pada dasarnya hadis tersebut harus difahami menurut zahirnya tanpa   penafsiran,   kecuali  bila  terdapat  sesuatu  yang menghambat  pemahaman  menurut  zahirnya   tersebut   tetapi penghambat itu tidak ada.
 
Pendapat Abu Ubaid yang menyatakan terdapat penghambat untuk menerima  pengertian  zahir  hadis  tersebut   tidak   dapat diterima karena:
 
1. Ibnu Abbas tidak pernah menyendiri dari pendapat umat. Yaitu yang telah disepakati oleh Ibnu Mas'ud, Mu'awiyah, yang kemudian diikuti orang-orang sesudahnya seperti Umar bin Abdul Aziz, Hasan, Zuhri dan lain-lainnya.
 
2. Tidak merupakan keharusan bagi seorang sahabat yang mujtahid dalam masalah-masalah yang tidak ada nashnya, untuk menunggu pendapat ulama yang lain, kemudian mengumumkan pendapat dan ijtihadnya bila sesuai dan tidak mengumumkannya bila tidak sesuai dengan ulama yang lain. Bila demikian, maka tentu tak seorang mujtahid pun mau mengeluarkan pendapatnya. Yang benar adalah seorang- mujtahid harus mengeluarkan pendapatnya baik sesuai dengan pendapat yang lain atau tidak, yang kadang-kadang betul terjadi kesepakatan secara konkrit tetapi kadang-kadang tidak terjadi.
 
3. Sahabat yang mempunyai pendapat sendiri merupakan hal yang tak dapat dielakkan, dan hal tersebut tidak jarang terjadi dalam warisan hukum fikih kita. Ibnu Abbas misalnya mempunyai pendapat sendiri tentang perkawinan mut'ah, daging himar peliharaan, dan lain-lain. Pendapat Ibnu Abbas tersebut-bila benar-tidak bisa dibawa keluar dari zahirnya untuk disesuaikan dengan pendapat sahabat lainnya.
 
Abu Ubaid sendiri  tidak  mengharuskan  penafsiran  tersebut mesti  diumumkan,  tetapi  mengatakan  saya  duga  atau saya mengira, dan dalam penutup ia  mengatakan;  "Bila  ia  (Ibnu Abbas)  tidak  memaksudkan,  maka saya tidak tahu apa maksud hadis tersebut?"
 
2. IBNU MAS'UD
 
Abu  Ubaid  meriwayatkan  pula  dari  Hubairah  bin  Yaryam, Abdullah  bin  Mas'ud  memberikan  kami  keranjang-keranjang kecil kemudian menarik zakatnya.  Abu Ubaid menafsirkan lain hal itu bahwa zakatnya ditarik karena memang benda itu sudah wajib  dikeluarkan  zakatnya   waktu   itu,   bukan   karena diberikan.
 
Penafsiran   lain   itu   kadang-kadang   dilakukan   takwil serampangan yang berbeda maksudnya dengan makna  yang  dapat langsung  difahami,  dan  berbeda  pula dengan pendapat yang berasal dari Ibnu Mas'ud bahwa maksud penarikan zakat diatas adalah  penarikan  zakat  atas pemberian Hubairah mengatakan bahwa lbnu  Mas'ud  mengeluarkan  zakat  pemberian  yang  ia terima sebesar dua puluh lima dari seribu. Ibnu Abi Syaibah, dan at  Tabrani,    juga  meriwayatkan  demikian.   Hubairah sendiri sebenarnya mengakui riwayat pertama yang ditakwilkan oleh Abu Ubaid. Pemotongan sebesar tertentu itu hampir  sama dengan  apa  yang disebut oleh para ahli perpajakan sekarang dengan Pengurangan Sumber,  bukan  diambil  karena  kekayaan asal  memang sudah wajib bayar pajak karena sudah lewat masa setahunnya. Bila Ibnu Mas'ud mengambil zakat dari  pemberian lain  tentu  ia tidak akan mengeluarkan zakat dari pemberian yang dikenakan dari kekayaan asalnya sebesar dua puluh  lima dari  setiap  seribu  yang  mungkin lebih sedikit atau lebih banyak  dari  seharusnya.   Barangkali   Abu   Ubaid   belum mengetahui  riwayat  itu,  sehingga  dia  memberikan  takwil tersebut.
 
3. MU'AWIYAH
 
Malik dalam al-Muwaththa dari Ibnu Syihab bahwa  orang  yang pertama   kali   mengenakan   zakat  dari  pemberian  adalah Mu'awiyah bin Abi Sufyan.    Barangkali  yang  ia  maksudkan adalah  orang  yang  pertama mengenakan zakat atas pemberian dari khalifah, karena sebelumnya sudah ada  yang  mengenakan zakat  atas  pemberian  yaitu  Ibnu Mas'ud sebagaimana sudah kita jelaskan. Atau barangkali dia belum mendengar perbuatan Ibnu  Mas'ud  tersebut,  karena Ibnu Mas'ud berada di Kufah, sedangkan Ibnu Syihab berada di Madinah.
 
Yang jelas adalah  bahwa  Mu'awiyah  mengenakan  zakat  atas pemberian  menurut  ukuran  yang berlaku dalam negara Islam, karena ia adalah khalifah dan penguasa umat Islam. Dan  yang jelas  adalah  bahwa  zaman  Mu'awiyah penuh dengan kumpulan para  sahabat  yang  terhormat,   yang   apabila   Mu'awiyah melanggar    hadis    Nabi    atau    ijmak    yang    dapat dipertanggungjawabkan para sahabat tidak  begitu  saja  akan mau  diam.  Para  sahabat  pernah tidak menyetujui Mu'awiyah tentang masalah lain,  ketika  Mu'awiyah  memungut  setengah sha'  gandum  zakat  fitrah  untuk  imbalan  satu sha' bukan gandum,  seperti  diberitakan  hadis  Abu   Said   al-Khudri sedangkan   Mu'awiyah   sendiri  - meski  dikatakan  bahwa ucapannya terlalu berlebih-lebihan dan banyak salah- tidak bermaksud  menyanggah  sunnah  yang  tegas  dari  Rasulullah s.a.w.
 
4. UMAR BIN ABDUL AZIZ
 
Empat periode Mu'awiyah,  datanglah  pembaru  seratus  tahun pertama  yaitu  khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pandangan baru yang diterapkannya adalah pemungutan zakat  dari  pemberian, hadiah, barang sitaan, dan lain
 
Abu  Ubaid  menyebutkan  bahwa  bila  Umar  memberikan  gaji seseorang  ia  memungut  zakatnya,  begitu  pula   bila   ia mengembalikan   barang   sitaan.   Ia  memungut  zakat  dari pemberian bila telah berada di tangan penerima.
 
Dengan  demikian  ucapan  ('Umalah)  adalah   sesuatu   yang diterima seseorang karena kerjanya, seperti gaji pegawai dan karyawan pada masa sekarang. Harta  sitaan  (mazalim)  ialah harta  benda yang disita oleh penguasa karena tindakan tidak benar  pada  masa-masa  yang  telah  silam  dan   pemiliknya menganggapnya  sudah  hilang  atau tidak ada lagi, yang bila barang tersebut  dikembalikan  kepada  pemiliknya  merupakan penghasilan  baru  bagi  pemilik  itu.  Pemberian  (u'tiyat) adalah  harta  seperti  honorarium  atau  biaya  hidup  yang dikeluarkan   oleh   Baitul  mal  untuk  tentara  Islam  dan orang-orang yang berada dibawah kekuasaannya.
 
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwa  Umar  bin  Abdul  Aziz memungut zakat  pemberian  dan  hadiah.  Itu adalah pendapat Umar.  Bahkan  hadiah-hadiah  atau  bea-bea  yang  diberikan kepada  para  duta  baik  sebagai pemberian, tip, atau kado, ditarik zakatnya. Hal itu sama  dengan  apa  yang  dilakukan oleh  banyak  negara  sekarang  dalam  pengenaan  pajak atas hadiah-hadiah tersebut.


 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

HUKUM ZAKAT
- DR. Yusuf Al-Qardhawi -
Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur'an dan Hadis
Litera AntarNusa dan Mizan, Jakarta Pusat Cetakan Keempat 1996


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com


pakdenono@yahoo.com