BERSUCI

 

 

 

AIR

 

A. Air Mutlak

Definisi air mutlak

B. Suci menyucikan

C. Air yang dijemur di terik matahari (air musyammasy)

Air dipanaskan

Air musyammasy

Apakah air musyammasy makruh digunakan?

Pendhoifan hadits tentang air musyammasy

Ketentuan kemakruhan air musyammasy

Perbedaan pendapat fukaha Syafi'iyyah tentang air musyammasy

Makruh bersifat syar'i atau bimbingan?

D. Air yang bercampur dengan benda suci

Air berubah

Perubahan air bersifat perkiraan

E. Air yang terkena najis

Najis yang jatuh ke dalam air

1. Sesuatu yang haram

2. Bangkai

Ikan dan belalang

Binatang yang tidak hidup di air

Binatang yang darahnya tidak mengalir

3. Najis yang tidak terlihat

Sisa minuman

Keringat dan air liur

Najis-najis yang dimaafkan jatuh ke dalam air

F. Dua qullah

G. Menyucikan air yang najis

Menuangkan air lain hingga menjadi dua qullah

H. Air mengalir

Dua air mengalir

Bagian rendah di aliran air

I. Air Musta'mal

J. Keraguan tentang air

K. Kesamaran antara air yang suci dan najis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AIR

 

A. Air Mutlak

"Dan Kami turunkan dari langit air yang suci menyucikan" (Al Furqon :

48)

"Wahai orang-orang beriman, bila kalian ingin mendirikan sholat, basuhlah wajah dan kedua tangan kalian sampai siku, usaplah (sebagian) kepala, dan (basuhlah) kaki kalian sampai kedua mata kaki" (Al Maidah : 6)

Imam Asy Syafii berkata: Adalah jelas dalam ayat bahwa basuhan hanya dapat dilakukan dengan air. Penyebutan air mempunyai arti umum. Air sungai, air sumur, air laut, baik yang tawar maupun yang asin dapat digunakan untuk berwudhu dan mandi. Lahiriah Al Quran menunjukkan bahwa semua air suci, baik air laut dan lainnya. Telah diriwayatkan sebuah hadits yang sesuai dengan lahiriah Al Quran, di dalam isnadnya ada orang yang tidak aku kenal.

[1] Dari Abu Hurairoh berkata : "Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, katanya, 'Wahai Rosululloh, kami berlayar di lautan sedangkan di kami hanya ada sedikit air, bila kami berwudhu dengan air tersebut, maka kami akan kehausan, lalu apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?', maka jawab Nabi SAW, '(Air laut) itu suci (thohur) airnya dan halal bangkainya'"[1]

Imam Asy Syafii berkata: Semua air suci menyucikan selama tidak bercampur dengan najis. Semua air sama, baik berupa air dingin, air salju yang mencair, baik air dipanaskan atau tidak, karena air menyucikan api, sedangkan api tidak dapat membuat air najis.

 

Definisi air mutlak

Imam Asy Syafii berkata: Air itu suci dan tidak najis kecuali karena adanya najis yang bercampur dengannya. Matahari dan api tidak najis. Najis hanyalah sesuatu yang diharamkan. Adapun yang diperas dari pohon mawar atau lainnya, maka bukanlah air yang suci menyucikan. Demikian juga air dari sesuatu yang mempunyai ruh bukanlah air yang suci menyucikan. Karena tak satupun dari hal-hal tersebut disebut air. Hal-hal itu disebut air dalam arti air mawar atau air pohon anu atau air dengan keterangan anu. Demikian juga bila menyembelih unta dan mengambil ususnya, lalu diperas airnya, maka ini bukanlah air suci menyucikan, karena sebutan air tidak sesuai untuk hal seperti ini kecuali bila disambungkan dengan lainnya, sebagaimana air (dari) usus dan air yang dirinci seperti air mawar dan air (dari) pohon begini dan begitu. Karena itu tidak mencukupi berwudhu dengan sesuatu dari hal-hal tersebut.

Bila diambil air, lalu dicampuri susu, tepung atau madu dan air melarutkannya, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Air-air ini disebut air tepung, air susu atau air madu. Bila dilemparkan ke dalam air sesuatu dalam jumlah sedikit berupa roti, susu dan madu yang melarut, tetapi warna air jelas dan tak ada rasa dari sesuatu itu, maka boleh berwudhu dengannya. Air ini tetap dalam keadaanya.

Demikian juga bila dituangkan ter, lalu jelas bau ter di dalam air, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Namun bila tidak jelas, maka boleh berwudhu dengannya. Karena ter dan air mawar bercampur dengan air, sehingga tidak dapat dibedakan dari air itu. Bila dituangkan ke dalam air minyak wangi atau dilemparkan ke dalamnya kayu atau sesuatu yang berbau yang tidak bercampur dengan air, lalu jelas baunya, maka boleh berwudhu dengannya, karena tak ada sesuatu dari hal-hal tersebut ada di dalam air. Bila dituangkan misik, parfum, atau sesuatu yang melarut ke dalam air sehingga air tak dapat dibedakan darinya, lalu jelas baunya, maka tak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut sekarang menjadi air campuran itu. Air itu disebut air bercampur misik, air bercampur parfum atau air campuran. Demikian juga segala makanan yang dilemparkan ke dalam air berupa roti, tepung, kuah dan lain-lainnya, bila jelas rasa dan bau dari sesuatu yang bercampur itu, maka tidak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut dihubungkan dengan apa yang mencampurinya.

Fukaha Syafiiyyah : Diperselisihkan definisi air mutlak. Ada yang mengatakan bahwa air mutlak adalah air tanpa ada batasan-batasan dan keterangan-keterangan yang lazim. Ini merupakan definisi dalam Ar Roudhoh dan Al Muharror, dan telah dinyatakan oleh Asy Syafi'i. Ada juga yang mengatakan air mutlak adalah air yang tetap sesuai dengan sifat aslinya. Ada juga yang mengatakan bahwa disebut air dan disebut mutlak adalah karena air bila dimutlakkan, maka itulah yang dimaksudkan. Ini yang disebutkan oleh Ibnush Sholah ([2]) dan dikuti oleh An Nawawi ([3]) dalam Syarh Al Muhazzab.

Setiap air yang turun dari langit, yang memancar dari bumi, baik yang tawar maupun yang asin, baik yang dipanaskan ataupun tidak, selama tetap sesuai dengan sifat aslinya, disebut air mutlak. Air mutlak bisa disebut air saja, tanpa menambahkan keterangan di belakangnya.

Termasuk air mutlak adalah :

1.       Air hujan

"Dan Kami turunkan dari langit air yang suci menyucikan" (Al Furqon : 48)

2.       Air laut

(1) Dari Abu Hurairoh berkata : "Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, katanya, 'Wahai Rosululloh, kami berlayar di lautan sedangkan di kami hanya ada sedikit air, bila kami berwudhu dengan air tersebut, maka kami akan kehausan, lalu apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?', maka jawab Nabi SAW, '(Air laut) itu suci (thohur) airnya dan halal bangkainya

Berkata An Nawawi : Beberapa faidah hadits ini adalah ;

1.               Ini merupakan salah satu pilar dalam bersuci. Penulis Al Hawi Al Mawardi ([4]) menyebutkan dari Al Humaidi guru Al Bukhori dan sahabat Asy Syafii bahwa Asy Syafii berkata : Hadits ini merupakan setengah dari ilmu bersuci.

2.               Arti thohur adalah menyucikan

3.               Bolehnya bersuci dengan air laut

4.               Air yang berubah karena sesuatu yang susah menjaganya tetap suci menyucikan

5.               Bolehnya naik kapal laut, selama tidak begelombang.

6.               Bangkai laut seluruhnya halal kecuali binatang tertentu, yaitu kodok dan kepiting.

7.               Bangkai binatang laut yang mengapung halal.

8.               Bagi seorang alim dan mufti bila ditanya tentang sesuatu dan ia tahu bahwa si penanya memerlukan hal lain yang berkaitan dengan yang ditanyakan itu, ia dianjurkan untuk menyebutkan hal lain tersebut dan memberitahukannya, karena si penanya bertanya tentang air laut, lalu dijawab tentang airnya dan hukum bangkainya, karena orang-orang akan memerlukan makanan seperti juga air.

3.       Air sungai

4.       Air sumur

5.       Mata air

6.       Air salju

7.       Air dingin

 

B. Suci menyucikan

"Dan Kami turunkan dari langit air yang suci menyucikan" (Al Furqon : 48)

[2] Dari Sa'id Al Khudri bahwasanya seseorang bertanya kepada Rosululloh SAW tentang sumur Budho'ah, yang ke dalamnya dibuang daging anjing dan kain yang digunakan oleh wanita haidh, sabdanya, "Sesungguhnya air tak dapat dinajisi oleh sesuatupun"[5]

Fukaha Syafiiyyah : Air mutlak dapat menghilangkan najis inderawi, seperti tinja dan air seni, dan dapat pula mengangkat najis maknawi, seperti bisa digunakan untuk berwudhu untuk mengangkat hadas kecil.

Dalam Al Majmu An Nawawi berkata : Berkata sahabat-sahabat kami : Hadits Budhoah tidak menyelisihi hadits dua qullah, karena airnya banyak yang tidak berubah dengan adanya hal-hal tersebut.

 

C. Air yang dijemur di terik matahari (air musyammasy)

Air dipanaskan

Imam Asy Syafii berkata : Semua air suci menyucikan selama tidak bercampur dengan najis. Tak ada yang suci menyucikan kecuali air dan tanah. Sama saja semua air, baik air dingin, salju, air yang dipanaskan atau tidak dipanaskan, karena air menyucikan api, sedangkan api tidak dapat membuat air najis.

Semua air berupa air laut yang tawar atau asin, air sumur, air langit, air dingin, air salju, dipanaskan atau tidak dpanaskan, maka sama saja. Bersuci dengan itu boleh.

[3] Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya bahwa Umar bin Al Khottob memanaskan air, lalu mandi dengan air itu dan berwudhu dengannya[6]

 

Air musyammasy

Imam Asy Syafii berkata: Aku tidak memakruhkan air musyammasy kecuali dari aspek medis.

[4] Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Umar bin Al Khottob memakruhkan mandi dengan Air musyammasy, katanya, "karena sesungguhnya air musyammasy bisa menyebabkan penyakit sopak"[7]

Fukaha Syafiiyyah : Air musyammasy hukumnya suci dan menyucikan, yaitu dapat digunakan untuk mengangkat hadats dan menghilangkan najis, karena tetapnya kemutlakan air.

 

Apakah air musyammasy makruh digunakan?

Imam Asy Syafii berkata: Aku tidak memakruhkan air musyammasy kecuali dari aspek medis.

Dalam hal kemakruhannya, ada perbedaan pendapat, namun yang paling shohih menurut Ar Rofi'I ([8]) adalah makruh. Ar Rofi'I berhujjah dengan hadits Rosululloh SAW.

(2) Rosululloh SAW melarang Aisyah menggunakan air musyammasy dan sabda beliau, "Karena itu dapat menyebabkan penyakit sopak"([9])

(3) Dari Ibnu Abbas bahwa Rosululloh SAW, "Siapa yang mandi dengan air musyammasy, lalu terkena penyakit, maka janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri".([10])

Umar memakruhkannya dan katanya, "Karena itu dapat menyebabkan penyakit sopak".

An Nawawi mengatakan dalam Al Majmu : Hadits bahwa Nabi SAW bersabda kepada Aisyah, "Sungguh engkau telah memanaskan air dengan matahari. Ya Humaira, jangan engkau lakukan itu, karena itu dapat menyebabkan penyakit sopak" dhoif dengan kesepakatan para ahli hadits. Hadits telah diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari berbagai jalur dan menjelaskan kedhoifannya seluruhnya. Di antara ulama ada yang menyatakan kepalsuannya. Asy Syafi'i telah meriwayatkan dalam Al Umm dengan isnadnya dari Umar bin Al Khottob bahwa ia memakruhkan mandi dengan air musyammasy, katanya, "karena sesungguhnya air musyammasy bisa menyebabkan penyakit sopak". Ini dhoif juga dengan kesepakatan para ahli hadits, karena ini dari riwayat Ibrohim bin Muhammad bin Abi Yahya. Mereka telah sepakat mendhoifkannya dan menilainya cacat. Mereka menjelaskan sebab-sebab cacatnya, tetapi Asy Syafi'i menilainya tsiqoh.

 

Pendhoifan hadits tentang air musyammasy

Al Kifayah : Anggapan An Nawawi tentang sepakatnya mendhoifkan Ibrohim bin Muhamad, salah satu perowinya tidak diterima, karena Asy Syafii telah mentsiqohkannya. Penilaian tsiqoh oleh Asy Syafii sudah mencukupi. Ia juga telah ditsiqohkan oleh lebih dari satu hafaidz. Ad Darquthni telah meriwayatkan dengan sanad lain yang shohih.

Abdul Mutholib dalam ta'liq Al Umm : Di dalam isnad Asy Syafii di dalam atsar ini dan di dalam kebanyakan hadits-hadits dan atsar-atsar berikutnya ada Ibrohim bin Muhammad bin Abi Yahya. Kebanyakan pengritik mendhoifkan Ibrohim bin Muhammad dari aspek keyakinannya yang ghulat, ada yang mengatakan dia adalah seorang penganut Qodariyyah, ada juga yang mengatakan ia seorang mu'tazilah. Sebagian mereka menuduhnya suka berdusta. Umumnya keyakinannyalah yang membuat para imam mengatakan apa yang mereka katakan.

Namun sebaik-baiknya jawaban tentang riwayat Asy Syafii tentang Ibrohim bin Muhammad adalah bahwa Asy Syafii memandang ia dan haditsnya tsiqoh dan menganggap riwayat-riwayatnya benar. Tidak diragukan bahwa Asy Syafii, yang merupakan pengritik yang teliti, telah meneliti riwayat-riwayatnya dan ketika ia temukan di dalam riwayat-riwayat itu ada konsisitensi, maka ia ambil.

Al Baihaqi ([11]) telah menjelaskan hal itu, lalu ia riwayatkan dari Yahya bin Zakariyya dari Ar Robi' bahwa Asy Syafii berkata : Ibrohim bin Abi Yahya adalah seorang Qodariyyah. Aku bertanya kepada Ar Robi', " Lalu apa yang membuat Asy Syafii meriwayatkan darinya?", jawabnya, "Dia tsiqoh dalam hadits". Sebagaimana dinukil oleh Al Baihaqi dari Ibn Addi bahwasanya ia berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad bin Said, kataku kepadanya, "Apakah engkau tahu ada seseorang yang lebih bagus perkataannya tentang Ibrohim bin Abi Yahya selain Asy Syafii?", jawabnya, "Ya. Telah berbicara kepadaku Ahmad bin Yahya Al Audi katanya : Aku bertanya kepada Hamdan bin Al Isbahani, yaitu Muhammad, kataku, 'Apakah engkau berpegang dengan hadits Ibrohim bin Abi Yahya?', maka jawabnya, 'Ya'. Berkata Abu Ahmad : berkata kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Said : Aku telah lihat banyak hadits Ibrohim bin Abi Yahya, ia bukanlah munkarul hadits."

 

Ketentuan kemakruhan air musyammasy

Berdasarkan hal ini, air musyammasy makruh dengan dua ketentuan :

1.             Penjemuran dilakukan di bejana-bejana logam yang ditempa, seperti timah, besi, tembaga dan lain-lain, selain emas dan perak, karena penjemuran berefek pada bejana, maka akan keluar lapisan tipis berbau menyengat di permukaan air yang dapat menyebabkan penyakit kulit.

Hal ini tidak berlaku pada bejana emas dan perak, namun tetap haram menggunakan keduanya. Bila air musyammasy dituangkan dari bejan emas dan perak ke bejana lain yang boleh digunakan, maka tidak makruh, karena tak ada lapisan tipis berbau menyengat.

2.             Penjemuran di negeri-negeri yang sangat panas, bukan di negeri-negeri yang dingin atau sedang, karena efek penjemuran pada kedua negeri tersebut lemah.

Ar Rofi'I mengatakan 3 Imam tidak memakruhkannya secara mutlak. An Nawawi mengatakan bahwa dari segi dalil inilah yang rajih dan merupakan madzhab mayoritas ulama. Tak ada dalil yang bisa dijadikan pegangan (mu'tamad) untuk kemakruhan air musyammasy.

 

Perbedaan pendapat fukaha Syafi'iyyah tentang air musyammasy

An Nawawi berkata : Adapun sahabat-sahabat kami, dalam hal ini ada tujuh pendapat :

1.       tidak makruh secara mutlak

2.       makruh di semua bejana dan negeri dengan ketentuan sengaja menjemurnya. Ini merupakan pendapat yang masyhur menurut orang-orang Iraq. Ini yang diputuskan oleh Asy Syaikh Asy Syirazi dalam At Tanbih dan Al Qodhi Abu Ali Al Hasan bin Umar Al Bandaniji ([12]), salah satu ulama besar Iraq di dalam kitabnya Al Jami.

3.       makruh secara mutlak dan tidak ada ketentuan sengaja. Inilah pilihan dari penulis kitab Al Hawi, Al Mawardi.

4.       makruh di negeri-negeri panas di dalam bejana-bejana logam yang ditempa dan tidak ada ketentuan sengaja dan menutup bagian atas bejana. Ini merupakan pendapat masyhur orang-orang Khurasan. Maksud ditempa ada beberapa pendapat :

  1. semua yang ditempa. Ini merupakan pendapat Asy Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini
  2. khusus timah. Ini adalah pendapat As Shoidalani.
  3. semua yang ditempa, kecuali emas dan perak, karena kemurnian keduanya. Pendapat ini dipilih oleh Imam Al Haramain

5.       makruh di bejana-bejana logam yang ditempa dengan ketentuan menutup bagian atas bejana. Ini ditetapkan oleh Al Qodhi Husain dan penulis At Tatimmah.

6.       bila dua dokter mengatakan air menyebabkan penyakit sopak, maka makruh, namun bila tidak, maka tidak makruh. Ini dinyatakan oleh penulis Al Bayan dan lain-lain, tetapi para ulama mendhoifkannya dan menganggap bahwa hadits tidak membedakannya dan tidak memberikan ketentuan untuk bertanya kepada dokter. Pendhoifan ini salah, bahkan inilah pendapat yang benar bila tidak ditetapkan tidak adanyanya kemakruhan. Inilah yang sesuai dengan teks Al Umm, tetapi ketentuan dua dokter dhoif, bahkan cukup satu.

7.       makruh untuk badan, bukan pakaian. Ini dhoif atau salah, karena memberikan prasangka bahwa pendapat-pendapat di atas untuk badan dan pakaian, padahal tidak demikian, tetapi yang benar yang dikatakan oleh penulis Al Hawi bahwa kemakruhan hanya khusus digunakan untuk badan dalam menyucikan hadats, najis, mendinginkan, membersihkan atau minum. Tidak makruh bila digunakan untuk sesuatu yang tidak bersentuhan dengan badan berupa mencuci pakaian, bejana dan tanah. Bila digunakan untuk makanan dan ingin dimakan, maka bila berbentuk cairan seperti kuah, maka makruh. Bila tidak tetap dalam bentuk cairan seperti roti atau beras yang dimasak, maka tidak makruh.

 

Makruh bersifat syar'i atau bimbingan?

An Nawawi mengatakan : Sekiranya kami menetapkan kemakruhannya, maka itu adalah makruh tanzih. Namun apakah itu bersifat syar'i yang berkaitan dengan pahala bila meninggalkannya dan siksa bila melakukannya, ataukah bersifat bimbingan untuk kemaslahatan duniawi, tak ada pahala dan siksa dalam melakukan atau meninggalkannya. Al Ghozali memilih pendapat bimbingan dan menyatakan bahwa ini merupakan lahiriah teks Asy Syafi'i. Sedangkan penulis Al Hawi, Al Muhazzab dan lain-lain memilih pendapat syari. Pendapat kedua merupakan yang masyhur menurut para sahabat.

 

D. Air yang bercampur dengan benda suci

Air berubah

Imam Asy Syafii berkata : Bila air sedikit atau banyak berubah, lalu berbau busuk atau warnanya berubah bukan karena hal haram yang bercampur, maka air tetap suci. Demikian juga bila seseorang kencing di air tersebut, tapi dia tidak tahu apakah ada najis yang bercampur dengannya atau tidak, padahal air berubah bau, warna atau rasanya, maka air tetap suci, hingga najisnya diketahui.

Bila jatuh ke dalam air sesuatu yang halal, lalu merubah bau atau rasanya, dan air tidak melarutkannya, maka tidak mengapa berwudhu dengan air itu.

Bila diambil air, lalu dicampuri susu, tepung atau madu dan air melarutkannya, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Air-air ini disebut air tepung, air susu atau air madu. Bila dilemparkan ke dalam air sesuatu dalam jumlah sedikit berupa roti, susu dan madu yang melarut, tetapi warna air jelas dan tak ada rasa dari sesuatu itu, maka boleh berwudhu dengannya. Air ini tetap dalam keadaanya.

Demikian juga bila dituangkan ter, lalu jelas bau ter di dalam air, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Namun bila tidak jelas, maka boleh berwudhu dengannya. Karena ter dan air mawar bercampur dengan air, sehingga tidak dapat dibedakan dari air itu. Bila dituangkan ke dalam air minyak wangi atau dilemparkan ke dalamnya kayu atau sesuatu yang berbau yang tidak bercampur dengan air, lalu jelas baunya, maka boleh berwudhu dengannya, karena tak ada sesuatu dari hal-hal tersebut ada di dalam air. Bila dituangkan misik, parfum, atau sesuatu yang melarut ke dalam air sehingga air tak dapat dibedakan darinya, lalu jelas baunya, maka tak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut sekarang menjadi air campuran itu. Air itu disebut air bercampur misik, air bercampur parfum atau air campuran. Demikian juga segala makanan yang dilemparkan ke dalam air berupa roti, tepung, kuah dan lain-lainnya, bila jelas rasa dan bau dari sesuatu yang bercampur itu, maka tidak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut dihubungkan dengan apa yang mencampurinya.

Fukaha Syafiiyyah : Bila air bercampur dengan suatu benda yang suci, lalu berubah rasa, warna atau baunya dengan perubahan besar, hingga tidak diketahui kecuali dengan campuran itu, seperti air sabun dan air mawar, maka jadilah air suci tidak menyucikan. Bila perubahan sedikit, maka menurut pendapat yang paling shohih, air tetap suci menyucikan, karena tetapnya kemutlakan air.

Al Muhazzab :Bila air berubah salah satu sifatnya, rasa, warna atau bau, maka harus dilihat. Bila berubah karena sesuatu yang tidak mungkin menjaga air darinya, seperti lumut dan sesuatu dilewati aliran air air, berupa garam dan lain-lain, maka boleh berwudhu dengannya, karena tidak mungkin menjaga air dari hal-hal itu, sehingga dimaafkan seperti halnya dalam sholat dimaafkan najis ringan dan gerakan sedikit. Bila berubah karena sesuatu yang mungkin menjaganya, maka harus dilihat juga. Bila garam, maka tidak mencegah kesuciannya, karena pada dasarnya itu adalah air, seperti halnya salju bila mencair. Bila debu yang dilemparkan ke dalam air, maka tidak berpengaruh, karena debu sama dengan air dalam hal menyucikan, seperti halnya bila dituangkan air lain, lalu berubah.

Al Muhazzab : Bila ke dalam air jatuh sesuatu yang tidak bercampur, lalu merubah baunya, seperti minyak wangi, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Asy Syafii dalam riwayat Al Buwaithi mengatakan tidak boleh berwudhu dengan air itu, seperti air yang berubah karena zafaran, sedangkan dalam Al Muzanni ([13]) boleh berwudhu dengan air itu, karena perubahannya akibat berdampingan seperti halnya bila ir berubah karena ada bangkai di dekatnya. Dalam Al Majmu : Dua pendapat tersebut masyhur, namun yang shohih berdasarkan kesepakatan sahabat-sahabat kami terhadap riwayat Al Muzanni, bahwa boleh bersuci dengan air tersebut. Ini yang diputuskan oleh mayoritas ulama besar Iraq, di antaranya Asy Syaikh Abu Hamid, Al Mawardi, Al Muhamili dan lain-lain, dan sekelompok ulama Khurasan di antara sahabat-sahabat Al Qoffal ([14]), di antaranya Asy Syaikh Abu Muhammad, Al Qodhi Husain ([15]), Al Furani ([16]) dan lain-lain.

 

Perubahan air bersifat perkiraan

Dalam perubahan cukup salah satu saja yang berubah, yaitu warna, rasa atau bau saja. Tak ada perbedaan antara perubahan yang dapat dilihat atau dengan perkiraan, seperti bila air bercampur dengan sesuatu yang sifat-sifatnya sesuai dengan air, seperti air mawar yang hilang baunya dan air mustamal.

Bila air bercampur dengan sesuatu yang sesuai dalam semua sifatnya dengan air, seperti air mustamal atau hanya dalam sebagian sifatnya, seperti air mawar yang hilang baunya, maka diperkirakan dengan sifat-sifat yang sedikit berbeda, seperti rasa dengan rasa delima, warna dengan warna perasan buah dan bau dengan bau getah karet. Bila yang jatuh ke dalam air sebanyak 1 liter air mawar yang tak berbau, berasa dan berwarna, maka kita katakan : Bila yang jatuh itu sebanyak 1 liter air delima, apakah rasanya berubah atau tidak? Bila berubah, maka berubahlah kesuciannya. Bila tidak berubah, maka kita katakana lagi : Bila yang jatuh 1 liter getah karet, apakah baunya berubah atau tidak? Bila berubah, maka berubahlah kesuciannya. Bila tidak, maka kita katakan lagi : Bila yang jatuh 1 liter perasan anggur, apakah warnanya berubah atau tidak? Bila berubah, maka berubahlah kesuciannya. Bila tidak, maka air tetap suci menyucikan. Hal ini berlaku bila semua sifat telah hilang. Bila yang hilang hanya sebagian, maka hanya perkirakan sifat yang hilang saja. Namun cara perkiraan ini hanya dianjurkan saja, tidak wajib. Bila seseorang tetap menerjang menggunakan air tersebut, maka sudah mencukupi. Tidak mengapa perubahan yang tidak mencegah kemutlakan air karena adanya perubahan sedikit, walaupun hanya perkiraan. Karena kesucian tidak hilang dengan perkiraan, yaitu yang diragukan.

Dalam Syarh Roudhoh : Bila perubahan itu banyak, lalu hilang sebagian dengan sendiri atau dengan air mutlak, kemudian ragu apakah sekarang perubahannya banyak atau sedikit, maka tidak suci berdasarkan kaidah asal.

 

E. Air yang terkena najis

Imam Asy Syafii berkata: Air diam ada 2, sedikit dan banyak. Air banyak adalah air yang banyaknya 5 griba atau lebih, maka najis tidak akan menjadikannya najis, kecuali tampak di dalam air bau, rasa atau warna najis itu. Bila tampak di dalam air rasa, bau atau warna najis, maka air selamanya tidak suci hingga hilang rasa, bau atau warnanya, sehingga kembali ke keadaan semula.

[5] Dari Ibn Umar dari bapaknya, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Bila air ada 2 qullah, maka ia tidak membawa najis atau khubuts"[17]

[6] Rosululloh SAW bersabda, " Bila air ada 2 qullah, maka ia tidak membawa najis atau khubuts". Dikatakan dalam hadit "dengan qullah Hajar. Berkata Ibn Juraij ([18]), "1 qullah sama dengan dua griba lebih"[19]

Fukaha Syafiiyyah : Jika najis mengenai air maka dalam hal ini ada beberapa ketentuan :

1.       Najis itu mengenai air, lalu mengubah rasa, bau atau rasanya. Air tersebut menjadi najis, baik sedikit ataupun banyak.

Al Majmu : Bila ke dalam air diam jatuh najis dan tidak berubah, Ibnul Mundzir dan lain-lain mengatakan dalam hal ini ada 7 mazhab ulama :

1.       Bila air ada dua qulah lebih, maka air tidak najis, tetapi bila kurang dari dua qullah, maka najis. Ini merupakan mazhab kami (mazhab SyafiI) dan mazhab Ibn Umar, Said bin Jubair, Mujahid, Ahmad, Abu Ubaid dan Ishaq bi Rohawaih.

2.       Bila air mencapai 40 qulah, maka sesuatu tidak dapat menajisinya. Para ulama menyatakan ini dari Abdulah bin Amr bin Al Ash dan Muhammad bin Al Munkadir.

3.       Bila air mencapai satu kurr, maka sesuatu tidak menajisinya. Ini diriwayatkan dari Masruq dan Muhammad bin Sirrin.

4.       Bila airmencapai dua timba, maka tidak najis. Ini diriwayatkan dari Ibn Abbas dalam satu riwayat dan berkata Ikrimah ; satu atau dua timba.

5.       Bila air ada 40 timba, maka tidak najis. Ini diriwayatkan dari Abu Hurairoh.

6.       Bila sekiranya satu sisi digerak-gerakkan, maka sisi lain bergera, maka air menjadi najis. Ini merupakan mazhab Abu Hanifah.

7.       Tidak menjadi najis, baik air itu banyak atau sedikit kecuali karena berubah. Para ulama menyatakan dari Ibn Abbas, Ibnul Musayab, Al Hasan Al Bashri, Ikrimah, Said bin Jubair, Atho, Abdurrahman bin Abu Laili, Jabir bin Zaid, Yahya bin Said Al Qoththon dan Abdurrahman bin Mahdi. Berkata sahabat kami : ini merupakan mazhab Malik, Al AuzaI, Sufyan Ats Tsauri dan Dawud. Mereka menukilnya dari Abu Hurairoh dan An Nakhi. berkata Ibnul Mundzir : Inilah mazhab yang kami katakana dan dipilih oleh Al Ghazali dalam Al Ihya, Ar Ruyani ([20]) dalam Al Bahr, katanya : itu merupakan pilihanku dan pilihan sekelompok ulama di Khurasan dan Iraq.

2.       Najis mengenai air sedikit. Dalam hal ini, air tersebut menjadi najis walaupun tidak berubah.

 

Najis yang jatuh ke dalam air

1. Sesuatu yang haram

Imam Asy Syafii berkata: Semua yang haram itu sama hukumnya, bila jatuh ke dalam air yang kurang dari 5 griba, maka akan menjadikan air najis.

Tahi burung, baik yang boleh dimakan dagingnya ataupun yang tidak, bila mencampuri air, maka air menjadi najis.

Bila sesuatu yang haram ada di dalam air, walaupun air banyak, maka air tak akan bisa menjadi suci hingga sesuatu yang haram itu hilang, tak tertinggal sesuatu pun di dalam air. Bila sesuatu yang haram itu tidak ada, maka sucilah airnya. Demikian juga menuangkan ke dalamnya air lain atau mata air mengalir ke dalamnya, lalu air menjadi banyak dan tak ditemukan sesuatu yang haram di dalamnya, maka air menjadi suci.

Bila bejana yang berisi air sedikit, tanah atau sumur yang berisi air banyak menjadi najis karena sesuatu yang haram yang mencampurinya dan ada di dalamnya, lalu dialirkan air lain hingga sesuatu yang haram itu hilang, namun air itu sedikit, maka tetap najis. Kemudian dialirkan air lain hingga air tidak menjadi najis dan di dalamnya tak ada sesuatu yang haram, maka air menjadi suci. Bejana dan tanah yang di dalamnya ada air tersebut juga suci, karena keduanya menjadi najis akibat najisnya air tersebut. Bila hukum air menjadi suci, maka suci pula sesuatu yang tersentuh air.

2. Bangkai

Ikan dan belalang

Imam Asy Syafii berkata: Bila ikan atau belalang yang mati jatuh ke dalam air sedikit, maka air tidak menjadi najis, karena keduanya adalah dua bangkai yang halal. Demikian juga binatang yang hidup di air.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkata An Nawawi dalam Al Majmu : Binatang yang hidup di laut yang termasuk binatang yang tidak mempunyai darah mengalir, bila boleh dimakan, maka bangkainya suci dan tak ada keraguan bahwa itu tidak menajisi air. Dan binatang yang tidak boleh dimakan seperti katak, bila kami katakan tidak boleh dimakan, lalu bila mati di dalam air sedikit atau cairan, baik sedikit atau banyak, maka menajisi air. Demikian dinyatakan oleh sahabat-sahabat kami.

 

Binatang yang tidak hidup di air

Imam Asy Syafii berkata: Binatang yang tidak hidup di air, bila jatuh ke dalam air sebagai bangkai, akan menjadikan air najis, dengan syarat binatang itu termasuk binatang yang mengalir darahnya.

Fukaha Syafi'iyyah : Ulat yang ada di makanan dan air, seperti ulat di buah tin, apel, keju, cuka dan lain-lain tidak menajisi air bila mati di dalamnya. Demikian yang dinyatakan oleh ashab (Al Majmu')

 

Binatang yang darahnya tidak mengalir

Imam Asy Syafii berkata: Adapun binatang yang darahnya tidak mengalir seperti lalat, maka dalam hal ini ada dua pendapat :

Pertama : bahwa yang mati dari binatang-binatang ini di air, baik sedikit atau banyak tidak akan menajiskan. Orang yang berpendapat demikian berkata : Bila seseorang bertanya : Ini adalah bangkai, lalu bagaimana engkau menganggapnya tidak menajiskan?, maka ia menjawab : Air tidak berubah karena keadaan ini. Bila ia bertanya lagi : Apakah yang engkau katakan ada dalilnya?, maka jawabnya : Ya, yaitu :

[7] Rosululloh SAW memerintahkan untuk menenggelamkan lalat yang jatuh ke dalam air. [21]

Demikian juga beliau memerintahkan ini bila jatuh ke dalam makanan. Kadang-kadang karena ditenggelamkan, lalat itu mati. Rosululloh tidak akan memerintahkan untuk menenggelamkan ke dalam air dan makanan, sedangkan itu akan menajiskannya bila mati di dalamnya, karena hal itu berarti sengaja merusak air dan makanan.

Kedua :Bila mati di dalam sesuatu yang najis, maka najis, karena itu adalah sesuatu yang diharamkan. Beliau memerintahkan untuk menenggelamkan karena adanya obat di dalamnya, sedangkan pada umumnya itu tidak mati.

Mencelupkan lalat ke dalam bejana tidak akan membunuhnya dan lalat tidak boleh dimakan. Bila lalat dan sejenisnya mati di dalam bejana, maka itu akan menajiskannya.

Segala sesuatu yang haram dimakan bila jatuh ke dalam air dan tidak mati, maka tidak menajiskan air. Namun bila mati, maka air menjadi najis. Itu seperti lalat, nyamuk, kutu dan yang semisalnya.

Fukaha Syafiiyyah : Dalam Al Muhazzab dinyatakan : Bila najis itu adalah bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir seperti lalat dan lain-lainnya yang serupa, maka dalam hal ini ada dua pendapat :

Pertama : itu seperti bangkai-bangkai lain, karena itu merupakan binatang yang tidak boleh dimakan setelah matinya bukan karena kemuliaannya, sehingga seperti binatang yang darahnya mengalir.

Kedua : itu tidak merusak air, berdasarkan sabda Rosululloh SAW :

() "Bila lalat jatuh ke dalam bejana kalian, maka celupkan, karena di salah satu sayapnya ada obat dan yang lain ada penyakit"

Kadang-kadang makanan masih panas, sehingga lalat akan mati dengan dicelupkan. Bila itu merusak air, maka tidak akan diperintahkan untuk mencelupkannya supaya menjadi penawar untuk kita bila kita memakannya.

Berkata An Nawawi : Kedua pendapat tersebut merupakan dua pendapat yang masyhur dalam madzhab dan telah dinyatakan oleh Asy Syafi'I dalam Al Umm dan Al Mukhtashor. Pendapat yang shohih adalah tidak menajisi air. Demikian yang dishohihkan oleh mayoritas dan ditetapkan oleh Abul Fath Salim bin Ayyub Ar Rozi, Abul Fath Nashr Al Maqdisi dan lain-lain. Al Muhamili dan Ar Ruyani mempunyai pendapat syadz yang merajihkan kenajisannya. Sekelompok ulama menganggap Asy Syafi'i menyalahi ijma dengan perkataan tentang kenajisannya. Dalam Al Ijma Ibnul Mundzir menyatakan bahwa para ulama sepakat bahwa air tidak najis karena hal itu, kecuali salah satu pendapat Asy Syafi'i. Al Khottobi menukil dari Yahya bin Abu Katsir bahwa ia berkata : Air menjadi najis karena matinya kalajengking di dalamnya. Sebagian ashab menukilnya dari Muhammad bin Al Munkadir. Kedua imam ini merupakan dua imam besar dari kalangan tabiin, sehingga Asy Syafi'i tidak menyalahi ijma.

Bila kita mengikuti pendapat yang dhoif, yaitu bahwa bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir menajisi air, maka jawaban terhadap hadits adalah jawaban yang dikemukakan oleh Asy Syafi'i dan ashab, bahwa penenggelaman tidak meniscayakan matinya. Bila ditanyakan : Mati tidak terhindar terutama bila itu berupaka makanan yang panas, maka kami jawab : Tidak ada masalah bermaksud maslahat walaupun boleh jadi binasa, sebagaimana bermaksud dengan sengaja dan meminum obat untuk kemaslahatan, tetapi malah mengantar pada kematian. Bila ditanyakan : Nabi SAW tidak melarang memakannya karena telah memperkirakan kematiannya, maka dijawab : telah ditetapka kenajisan bangkai dan apa yang mati di dalam air, sehingga tidak perlua menyebutkannya di tiap hadits.

Dalam Al Muhazzab : Bila bangkainya banyak yang merubah air, maka dalam hal ini ada dua pendapat :

Pertama : air menjadi najis, karena itu merupakan air yang berubah karena najis.

Kedua : air tidak menjadi najis, karena sesuatu yang tidak menajisi air yang kurang dari dua qullah tidak akan menajisi air, walaupun berubah karenanya, seperti ikan dan belalang.

Pendapat yang dipilih oleh penulis Al Muhazzab adalah air menjadi najis. Dalam Al I'anah dinyatakan : Ketentuan lain adalah jatuh sendiri ke dalam air, jatuh karena tiupan angin atau binatang itu hidup di dalam air, seperti cacing yang hidup di dalam air dan diqiaskan pada ulat buah, sehingga dimaafkan jatuh ke dalam air, dan juga air tidak berubah warna, rasa atau baunya. Bila bangkai itu dilemparkan ke dalam air walaupun oleh anak kecil atau binatang, atau jumlahnya banyak hingga airnya berubah, maka air menjadi najis, baik air itu sedikit atau banyak, berdasarkan hadits Abu Hurairoh.

() Bersabda Rosululloh SAW, "Bila lalat jatuh ke dalam bejana minuman, maka tenggelamkan lalat itu lalu buang, karena pada salah satu sayapnya ada obat dan sayap lain ada penyakit"

Adapun binatang-binatang itu sendiri najis, karena itu termasuk bangkai. Bangkainya tidak menajisi air hanyalah karena susah menghindarinya. Hukum ini berlaku pada semua cairan dan makanan berdasarkan hadits tersebut, sering terjadi dan susah menghindarinya.

 

3. Najis yang tidak terlihat

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila ke dalam air jatuh setitik khamr, kencing, darah atau najis apapun yang termasuk dapat dilihat oleh mata, maka rusaklah airnya dan tidak mencukupi bersuci dengan itu.

Berkata Al Mawardi : Najis ada dua macam, yaitu najis sedikit yang dimaafkan dan najis sedikit yang tidak dimaafkan. Adapun najis sedikit yang tidak dimaafkan adalah seperti kencing, khamr dan tinja, sehingga menjauhkan diri dari najis sedikit atau banyak merupakan kewajiban. Bila demikian, maka hal itu tidak tertutup kemungkinan salah satu dari dua hal :

1.      kemungkinan dapat dilihat

Bila termasuk najis yang dapat dilihat, maka menjadi najis karena najis yang meragukan ini mengenainya, baik sedikit atau banyak, baik mengenai pakaian, badan atau air yang kurang dari dua qullah.

2.      kemungkinan tidak dapat dilihat

Bila termasuk najis yang tidak dapat dilihat, seperti lalat jatuh ke najis, lalu ada kemugkinan di kaki atau sayapnya ada najis yang tidak dapat dilihat karena sedikitnya, lalu jatuh ke dalam air atau pakaian, maka berdasarkan perkatan Imam Asy Syafi'i yang dinukil oleh Al Muzanni air menjadi najis, karena ia mengatakan : najis apapun yang termasuk dapat dilihat oleh mata, maka rusaklah airnya dan tidak mencukupi bersuci dengan itu, sehingga berdasarkan mafhum, ini menunjukkan bahwa najis yang tidak dapat dilihat tidak merusak air. Dalam Al Imla berkata Imam Asy Syafi'i : Segala yang mengenai pakaian berupa tinja basah, kencing, darah, khamr atau yang diharamkan, dan pemakainya yakin, baik terlihat atau tidak, maka ia wajib mencucinya. Bila ia tidak dapat memastikan tempatnya, tidak boleh kecuali ia mencuci pakaian seluruhnya dan dalam tempat lain dan dalam Al Umm ia berkata : Bila lalat jatuh ke kencing atau cuka cair, lalu jatuh ke pakaian, maka ia wajib mencuci tempatnya. Ia menyamakan dalam hal menajiskan pakaian antara najis yang dapat dilihat dan yang tidak, sehingga sahabat-sahabat kami berbeda pendapat tentang najis yang tidak dapat dilihat, atas empat metode :

1.                metode mutaqoddimin. Di antara mereka ada yang membawa pemahaman perkataan Asy Syafi'i pada lahiriahnya, sehingga mereka katakan bahwa air tidak najis karena najis yang tidak dapat dilihat, tetapi pakaian menjadi najis karena najis yang tidak dapat dilihat. Mereka membedakan antara keduanya dengan mengatakan bahwa air lebih kuat hukumnya dalam mengangkat najis dari dirinya dibandingkan pakaian, karena dua hal :

pertama : air menghilangkan najis, namun tidak demikian dengan pakaian

kedua : air menolak banyaknya najis dari dirinya bila airnya banyak, namun tidak demikian dengan pakaian.

Maka dengan demikian pakaian menjadi najis karena najis yang dapat dilihat atau tidak, tetapi air tidak najis kecuali karena najis yang dapat dilihat oleh mata.

2.                metode Abul Abbas bin Suraij bahwa air dan pakaian semuanya menjadi najis karena najis yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dalil perkataan Asy Syafi'i tentang air ditinggalkan karena adanya teks yang jelas dari Asy Syafi'i sendiri tentang pakaian. Najis yang dapat dilihat adalah bila yakin dan tidak diragukan, sehingga diibaratkan dengan penglihatan mata untuk hal yang yakin

3.                metode Abu Ishaq Al Marwazi bahwa dalam hal najisnya pakaian dan air karena najis yang tidak dapat dilihat ada dua pendapat berdasarkan perbedaan perkataan Asy Syafi'i. Salah satunya adalah bahwa air dan pakaian menjadi najis karena najis yang tidak dapat dilihat oleh mata, karena itu merupakan najis yang mungkin dihindari, sehingga konsekuensinya sesuatu yang bersentuhan dengan najis itu menjadi najis karena qias pada najis yang dapat dilihat. Ini merupakan teks yang jelas dalam hal pakaian. Air dan pakaian suci tidak menjadi najis karena najis yang tidak dapat dilihat, karena itu merupakan najis yang susah menghindarinya, walaupun mungkin menghindarinya, sehingga serupa dengan darah kutu yang dimaafkan. Ini merupakan dalil untuk air.

4.                metode Abu Ali bin Abu Hurairoh bahwa air lebih berat hukumnya dibandingkan pakaian, sehingga air menjadi najis. Apakah pakaian menjadi najis atau tidak ada dua pendapat. Perbedaan antara air dan pakaian dari tiga segi :

pertama : pakaian tidak mungkin dihidarkan dari terkena najis ini, sedangkan air tidak mungkin dihidarkan.

kedua : sedikit darah kutu dimaafkan pada pakaian, tetapi tidak dimaafkan pada air, sehingga diputuskan bahwa hukum pakaian lebih ringan dibanding hukum air.

ketiga : Lalat bila terbang dari najis, maka kering sebelum jatuh ke pakaian, sehingga hal menajiskan pakaian diragukan, tetapi bila jatuh ke dalam air, maka terlepaslah najisnya sehingga hal menajiskan air merupakan keyakinan.

Dalam Al Majmu dinyatakan : pendapat yang shohih dan terpilih adalah tidak menajisi air dan juga pakaian. Inilah yang diputuskan oleh Al Muhamili ([22]) dalam Al Muqni, karena susahnya menghindari.

Dalam Al Muhazzab dinyatakan bahwa pendapat yang kuat adalah bila ke dalam air jatuh najis, maka ada beberapa kemungkinan, air itu diam, mengalir, atau sebagian diam dan sebagian mengalir. Pada air diam, bila najis tersebut dapat dilihat oleh mata berupa khamr, kencing, atau bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir, maka bila berubah salah atu sifatnya berupa rasa, warna atau baunya karena najis, maka air menjadi najis.

 

Keringat dan air liur

Imam Asy Syafi'I berkata : Keringat orang Nasrani, keringat junub dan haidh suci. Demikian juga orang Majusi dan keringat binatang suci. Sisa minuman binatang dan hewan buas juga suci, kecuali anjing dan babi.

Bila seseorang meletakkan air, lalu dia bersiwak dan menenggelamkan siwak ke dalam air, kemudian dia keluarkan, maka dia boleh berwudhu dengan air tersebut, karena kebanyakan yang tertinggal di siwak berupa air liur, dan bila dia meludah atau mengeluarkan ingus di dalam air, maka air tidak menjadi najis. Binatang sendiri minum air dan kadang-kadang air ludahnya bercampur dengan air, maka air tidak najis, kecuali anjing dan babi.

Demikian pula bila seseorang berkeringat, lalu keringat tersebut menetes ke dalam air, maka air tidak najis. Karena keringat manusia dan binatang tidaklah najis, dari mana saja keringat itu (menetes), dari ketiaknya atau tempat lain.

 

Sisa minuman

Imam Asy Syafii berkata: Dan tidak najis sesuatu yang hidup yang sedikit menyentuh air dengan cara minum darinya atau memasukkan salah satu anggota badannya ke dalamnya, kecuali anjing dan babi.

[8] Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rosululloh SAW ditanya, "Apakah boleh berwudhu dengan sisa keledai?", jawab Rosul SAW, "Ya boleh. Boleh juga (berwudhu) dengan air sisa binatang buas""[23]

[9] Dari Kabsyah binti Ka'ab bin Malik bahwa Abu Qotadah masuk menuangkan air wudhu, lalu masuk kucing minum dari air wudhu itu, katanya : Ia melihat aku memandangi kucing, maka kata bu Qotadah, "Apakah engkau heran wahai anak saudaraku?, sungguh Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya kucing tidak najis, karena dia termasuk binatang yang mengelilingi kalian"[24]

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Mughni, Mughnil Muhtaj dan Al Majmu :

1.       Sisa minuman manusia suci, baik muslim atau kafir. Ini disepakati oleh para ulama, sebagaimana jelas dalam sabda Rosululloh SAW :

() Mukmin itu tidak najis.

2.       sisa minuman dari binatang yang dagingnya boleh dimakan suci.

Berkata Ibnul Mundzir : Seluruh ahli ilmu sepakat bahwa sisa minuman dari binatang yang boleh dimakan boleh diminum dan digunakan untuk berwudhu.

3.      sisa minuman kucing, tikus dan binatang-binatang melata, seperti ular dan cecak, suci, boleh diminum dan digunakan untuk berwudhu, dan tidak makruh menurut mayoritas ahli ilmu dari para sahabat dan tabiin, kecuali Abu Hanifah, karena ia memakruhkan wudhu dengan sisa minuman kucing, tetapi bila dilakukan juga, maka mencukupi.

4.      sisa minuman semua binatang berupa kuda, baghol, keledai, binatang buas yang dagingnya boleh dimakan dan tidak boleh dimakan, suci, karena berdasarkan hadits Jabir bahwa Nabi SAW ditanya, "Apakah kami boleh berwudhu dengan sisa keledai?", jawabnya, "Ya, boleh. Boleh juga dengan sisa binatang buas seluruhnya", karena itu merupakan binatang yang boleh dimanfaatkan tanpa adanya darurat, maka itu suci seperti halnya kambing dan karena Nabi SAW dan para sahabat menunggangi baghol dan keledai. Bila keduanya najis, maka Nabi SAW pasti menjelaskannya dan karena keduanya tidak mungkin dihindari dengan adanya kebutuhan pada keduanya.

5.      sisa minuman anjing dan babi dan yang dilahirkan dari keduanya atau salah satunya, najis, berdasarkan sabda Rosululloh SAW tentanh anjing :

() Bila anjing menjilati bejana, maka cucilah tujuh kali, salah satunya dengan debu.

Babi seperti halnya anjing, karena babi lebih buruk keadaannya dari anjing.

Dalam Al I'anah dinyatakan : Sisa minuman semua binatang yang suci adalah suci, sedangkan sisa minuman binatang yang najis, yaitu anjing dan babi adalah najis. Bila mulutnya terkena najis lalu menjilati air sedikit atau cairan, maka bila sebelum menjilati pergi dan ada kemungkinan menjadi suci dengan menjilati air banyak, maka air tidak menjaid najis, walaupun itu kucing. Dalam Ar Roudh : Bila mulut binatang terkena najis, lalu pergi dan ada kemungkinan mendatangi air banyak, lalu menjilati air yang suci, maka air tersebut tidak menjadi najis. Pada air mengalir, yang diperhatikan adalah aliran pertama. Bila binatang menjilat ke dalam air mengalir itu dan airnya banyak mencapai dua qullah, maka mulutnya menjadi suci. Bila airnya sedikit kurang dari dua qullah, maka mulutnya tidak menjadi suci, karena itu malah menyebabkan najisnya air dengan semata-semata menjilat dan sampainya mulut ke air. Ini pada aliran pertama. Adapun hukum aliran-aliran berikutnya, maka bila binatang terus meletakkan mulutnya ke dalam air, sedangkan rupa najis masih tetap ada di mulutnya, maka mulutnya tidak menjadi suci, seperti halnya najis padat yang ada di dalam air. Bila rupa najis hilang pada aliran pertama, maka menjadi suci. Bila tidak kemungkinan suci setelah pergi, maka binatang dapat menajisi air. Namun pendapat yang mutamad adalah hal itu dimaafkan secara mutlak walaupun tidak pergi.

Berkata Ibnul Imad dalam Manzhumahnya :

Sedikit asap najis, rambut, debu dan najis

Dimulut kucing yang datang setelah pergi

Dan boleh jadi kucing minum air mengalir

Atau air diam dalam jumlah banyak

Bila kucing makan karena lapar

Maka syaratnya pergi dan airnya ada di telaga

Bila binatang buas pergi juga seperti kucing

Dengan syarat bercampur dengan manusia

Seperti juga kucing bila orang gila makan

Datang setelah pergi di saat gilanya

Ayam yang dilihat najisnya

Mereka samakan juga dengan angsa

Dua qoul Malik tentang ayam yang mendatangi

Makanan karena takut menyiakannya

Menurut kami bila pergi setelah makan najis

Maka hukumnya seperti kucing

Mulut burung juga demikian dan menurut Ibnush Shollah

Mulut bayi juga dimaafkan liurnya

 

 

Najis yang dimaafkan adalah sedikit asap najis, sedikit rambut dari binatang selain anjing dan babi, sedikit debu najis, najis yang ada di mulut kucing setelah pergi dan ada kemungkinan minum air mengalir atau air diam yang banyak. Sisa minuman binatang buas sama dengan kucing setelah pergi, tetapi disyaratkan binatang itu bercampur dengan manusia. Orang gila juga sama hukumnya dengan kucing setelah pergi. Ayam yang diduga najisnya juga hukunya sama dengan kucing bila telah pergi setelah makan najis. Paruh burung juga demikian. Ibnush Sholah memandang mulut anak kecil juga dimaafkan air lurnya. Asy Syaikh Al Jamal ketika menjelaskan kata-kata Ibnul Imad 'bila pergi setelah memakan najis' mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang dhoif. Pendapat yang mutamad adalah dimaafkan secara mutlak walaupun tidak pergi, karena kesulitan menghindari dari hal-hal ini.

 

Najis-najis yang dimaafkan jatuh ke dalam air

Najis-najis yang dimaafkan jatuh ke dalam air, yaitu:

1.       bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir, seperti kutu, nyamuk, lebah, lalat, semut dan lain-lain

2.       bangkai binatang yang hidup di air

3.       najis yang tidak dapat dilihat dengan mata, seperti najis yang ada di kaki lalat. Bila lalat terbang ke najis basah lalu jatuh ke air sedikit atau cairan lain, maka itu tidaka menajisi, padahal di kaki lalat menggantung najis yang tidak terlihat.

4.       mulut kucing yang terkena najis, lalu pergi dan ada kemungkinan menjilat air banyak.

Kucing sendiri bukanlah binatang najis, berdasrkan hadits Kabsyah binti Ka'ab bin Malik bahwa Abu Qotadah masuk menuangkan air wudhu, lalu masuk kucing minum dari air wudhu itu, katanya : Ia melihat aku memandangi kucing, maka kata bu Qotadah, "Apakah engkau heran wahai anak saudaraku?, sungguh Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya kucing tidak najis, karena dia termasuk binatang yang mengelilingi kalian"

5.       makanan yang dikeluarkan dari mulut oleh binatang memamah biak untuk dimakan kedua kalinya.

Ini dimaafkan sehingga tidak menajisi air yang dimimum. Dalam An Nihayah dinyatakan : dimaafkan sesuatu yang menetes dari air liurnya.

6.       anak kecil yang terkena najis, lalu pergi dan ada kemungkinan menjadi suci.

7.       sedikit asap dari najis

8.       uap dari najis, kecuali meninggalkan bekas seperti warna, bau atau rasa.

9.       tahi ikan yang tidak merubah air

10.   tahi burung di air walaupun bukan termasuk burung air

11.   tahi burung dan najis yang ada diparuhnya

12.   najis yang ada di anus selain manusia

Bila di anus selain manusia ada najis, lalu binatang itu jatuh ke dalam air, maka air tidak menjadi najis, karena susahnya menghindari. Demikian Ar Rofi'i menyebutkan di dalam syarat-syarat sholat. Hal ini berbeda dengan orang yang beristinja dengan batu, karena ini akan menajisi air. Dalam Al Majmu dinyatakan : karena orang yang beristinja dengan batu dan semisalnya dapat dihindari.

13.   tahi dan lainnya yang ditinggalkan oleh tikus di kamar kecil

Dengan ketentuan bila itu ada di dalam air, air tidak berubah. Berkata Al Bujairimy : Tahi dan lain-lain yang ditinggalkan tikus di kamar kecil dikembalikan kepada urf. Bila urf menyatakan sedikit, maka dimaafkan, namun bila tidak, maka tidak dimaafkan. Ketentuannya bila tidak berubah salah satu sifat air. Bila berubah, maka tidak dimaafkan. Bila ragu apakah itu dari tikus atau bukan, maka pada prinsipnya itu dari tikus, sehingga dimaafkan.

14.   sedikit rambut yang terpisah dari binatang yang tidak boleh dimakan selain mugholladzoh (anjing, babi dan keturunan keduanya) dan juga rambut banyak dari binatang yang ditunggangi.

Rambut dan bulu dari binatang yang dimakan dagingnya itu suci bila masing-masing dibuang saat masih hidup atau setelah disembelih. Bila ragu tentang rambut dan lainnya apakah berasal dari binatang yang boleh dimakan atau tidak, atau apakah terpisah dari binatang hidup atau mati, maka dalam semua hal ini suci. Demikian juga dengan tulang, bila ragu apakah berasal dari binatang sembelihan yang boleh dimakan atau tidak, maka hukumnya suci.

Berkata imam Malik : Air sedikit tidak menjadi najis kecuali dengan adanya perubahan seperti halnya air banyak. Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab kami (mazhab Asy Syafi'i) dan dipilih oleh Ar Ruyani. Dalam qoul qodim bahwa air mengalir tidak menjadi najis kecuali dengan adanya perubahan. Ini dipilih oleh sekelompok ulama, di antaranya Al Ghozali ([25]) dan Al Baidhowi ([26]).

 

F. Dua qullah

[10] Dari Sa'id Al Khudri bahwasanya seseorang bertanya kepada Rosululloh SAW tentang sumur Budho'ah, ke dalamnya dibuang daging anjing dan kain yang digunakan oleh wanita haidh, sabdanya, "Sesungguhnya air tak dapat dinajisi oleh sesuatupun"[27]

[11] Dari Abdullah bin Umar dari bapaknya bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila air mencapai dua qullah, maka ia tidak menanggung najis"[28]

[12] Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Janganlah seseorang kencing di air diam, lalu mandi darinya"[29]

[13] Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing menjilati bejana kalian, maka cucilah 7 kali"[30]

[14] Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing minum dari bejana kalian, maka cucilah 7 kali"[31]

[15] Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing menjilati bejana kalian, maka cucilah 7 kali, yang pertama atau yang terakhir dengan debu"[32]

Imam Asy Syafii berkata : Dengan hadits-hadits inilah kami berpegang. Tak satupun dari hadits-hadits tersebut menyelisihi yang lain. Adapun hadits sumur Budho'ah, maka sumur Budho'ah itu airnya banyak dan luas, ke dalamnya dibuang berbagai najis yang tidak merubah warna, rasa dan baunya, sehingga ditanyakan kepada Rosululloh SAW, "Apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budho'ah, sedangkan ia merupakan sumur tempat membuang hal begini dan begini?", maka jawab Rosululloh, "Air tidak dapat dinajisi oleh sesuatupun", merupakan kemungkinan bahwa semua air walapun sedikit seperti halnya air sumur Budho'ah, sehingga ketika Abu Hurairoh meriwayatkan dari Nabi SAW untuk membasuh bejana dari jilatan anjing sebanyak tujuh kali, menunjukkan bahwa jawaban Rosululloh SAW berkenaan dengan sumur Budhoa'h berlaku pada semisalnya atau lebih banyak. Hadits sumur Budho'ah tidak menunjukkan semata-mata bahwa air yang kurang darinya tidak najis, sedangkan bejana itu kecil, sehingga dikatakan dalam hadits Abu Hurairoh, bila anjing menjilati bejana, maka cucilah tujuh kali, yang menunjukkan bahwa kadar banyaknya air bejana menjadi najis dengan bercampur dengan najis, walaupun tidak berubah rasa, bau dan warnanya. Namun tidak ada penjelasan di dalamnya bahwa najis yang bercampur dengannya, walaupun tidak mencapai kadar air sumur Budho'ah, tidak menajiskannya. Penjelasan yang ada yang dapat dijadikan hujjah adalah tentang perbedaan antara air yang najis dan yang tidak najis, walaupun air tidak berubah. Keraguan hilang dengan hadits :

[16] Rosululloh SAW bersabda, "Bila air mencapai dua qullah, maka ia tidak menanggung najis"[33]

[17] Rosululloh SAW bersabda, "Bila air mencapai dua qullah, maka ia tidak menanggung najis" dan dalam hadits ini dengan qullah Hajar. Ibn Juraij berkata bahwa 1 qullah Hajar mencapai dua griba atau dua griba lebih. [34]

Imam Asy Syafii berkata : Griba Hijaz dahulu dan sekarang cukup besar untuk menampung air. Bila air ada 5 griba banyaknya, maka ia tidak menanggung najis. Di dalam hadits dua qullah ada dua petunjuk, pertama, bahwa air yang mencapai dua qullah atau lebih tidak menjadi najis, karena dua qullah saja bila tidak menjadi najis, maka demikian juga yang lebih banyak. Ini sesuai dengan kemungkinan hadits sumur Budho'ah. Kedua, bila air kurang dari dua qullah, maka ia menjadi najis. Karena sabda beliau 'bila air mencapai demikian, maka air tidak menjadi najis menunjukkan bahwa bila tidak demikian, maka air menjadi najis. Air yang kurang dari dua qullah sesuai dengan kemungkinan pada hadits Abu Hurairoh untuk mencuci bejana dari jilatan anjing. Adapun hadits "Janganlah seseorang kencing di air diam, lalu mandi darinya", maka tak ada dalil di dalamnya pada sesuatu yang menyelisihi hadits sumur Budho'ah, juga tidak pada hadits dua qullah dan hadits jilatan anjing. Hadits dua qullah dan sumur Budho'ah menunjukkan bahwa larangan kencing di air diam adalah karena pilihan, bukan karena kencing akan menajisi air, seperti halnya larangan buang air besar di jalan, naungan dan tempat-tempat yang dihuni manusia, karena akan menyakiti orang, bukan karena bumi itu dilarang dan bukan pula karena buang air besar itu diharamkan.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkata Al Mawardi : Asy Syafi'I meriwayatkan dari Ibn Juraij bahwa 1 qullah Hajar mencapai dua griba atau dua griba lebih, lalu Asy Syafi'I mengatakan bahwa ihtiyath dua qullah itu lima griba. Ini bukanlah tqlid kepada ibn Juraij, tetapi hanya menerima berita darinya. Asy Syafi'I tidak mengemukakan dengan kati, karena ia mencukupkan pada pengetahuan orang-orang pada zamannya dalam hal griba yang telah dikenal itu, sebagaimana Nabi SAW mencukupkkan dengan qullah yang telah dikenal.

Dua qullah adalah 500 kati Baghdad karena telah diriwayatkan dalam hadits dengan qullah Hajar. Berkata Ibn Juraij bahwa 1 qullah Hajar mencapai dua griba atau dua griba lebih, lalu Asy Syafi'I menjadikan kata lebih dengan setengah sebagai ihtiyath. Griba Hijaz besarnya mencapai 100 kati, sehingga jadilah semuanya 500 kati. Apakah ini pasti atau pendekatan? Dalam hal ini ada dua pendapat :

Pertama adalah pendekatan, sehingga bila kurang sedikit, maka tidak apa-apa, karena kata sesuatu menurut kebiasaan digunakan pada hal yang kurang dari setengah.

Kedua adalah pasti, sehingga bila kurang, maka air menjadi najis, karena ketika menjadikan kata lebih itu setengah sebagai ihtiyath, maka wajib memenuhinya seperti halnya ketika wajib membasuh bagian dari kepala sebagai ihtiyath karena membasuh wajah, maka jadilah itu kewajiban.

Berkata Imam Al Haramain : Ashab berkata bahwa pendapat yang lebih shohih adalah pasti dan dishohihkan oleh Al Qodhi Abuth Thoyyib, Ar Ruyyani dan Ibn Kajj. Ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al Marwazi. Mayoritas ashab menshohihkan pendapat bahwa itu pendekatan. Di antaranya adalah Al Ghozali dan Ar Rofi'i. Pendapat yang shohih terpilih adalah pendekatan. Bila kami katakan itu pasti, maka sahabat-sahabat kami mengatakan bila kurang, maka najislah airnya karena kejatuhan najis. Bila kami katakan pendekatan, maka kekurangan itu tidak apa-apa.

 

G. Menyucikan air yang najis

Imam Asy Syafii berkata: Sebagai kehati-hatian 1 qullah adalah dua setengan griba, maka bila air banyaknya 5 griba, maka tidak menjadi najis. Bila air kurang dari 5 griba bercampur dengan bangkai, maka air menjadi najis dan najis pula wadahnya. Wadahnya tidak akan menjadi suci kecuali dengan mencucinya. Bila air kurang dari 5 griba bercampur dengan najis yang tidak merubahnya, maka air menjadi najis.

Fukaha Syafi'iyyah : Air diam dan air mengalir sama dalam hal perbedaan antara sedikit dan banyak. Air yang kurang dari dua qullah adalah air sedikit, yang menjadi najis dengan semata-mata bersentuhan dengan najis, walaupun tidak berubah. Adapau air banyak, yaitu air dua qullah atau lebih, tidak najis dengan bersentuhan dengan najis padat atau cairan bila tidak merubah air. Bila merubahnya, maka najis.

 

Menuangkan air lain hingga menjadi dua qullah

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila dituangkan ke dalamnya air lain hingga menjadi 5 griba atau lebih, maka air menjadi suci. Demikian juga bila air yang najis itu dituangkan ke dalam air yang lebih sedikit atau lebih banyak darinya, hingga kedua air menjadi lebih dari 5 griba, maka satu air tidak menajiskan yang lainnya. Bila keduanya menjadi 5 griba, maka keduanya suci.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila ingin menyucikan air yang najis, maka bila najisnya karena adanya perubahan, sedangkan airnya lebih dari dua qullah, maka suci dengan hilangnya perubahan itu, disambungkan dengan air lain, diambil sebagiannya, karena najisnya disebabkan oleh perubahan dan telah hilang.

Bila dilemparkan ke dalam air itu debu atau kapur, lalu hilanglah perubahannya, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Asy Syafi'I mengatakan dalam Al Umm bahwa air tidak menjadi suci sebagaimana air tidak menjadi suci bila dilemparkan ke dalamnya kapur atau misik lalu bau najisnya hilang, sedangkan dalam riwayat Harmalah air menjadi suci dan inilah pendapat yang paling shohih, karena perubahan itu telah hilang, sehingga jadilah seperti hilang sendiri atau dengan air lain.

 

H. Air mengalir

Imam Asy Syafii berkata: Air itu ada 2 macam, yaitu air mengalir dan air diam. Semua najis yang bercampur dengan air mengalir, lalu air itu mengalir dan datang setelahnya air yang tidak bercampur dengan najis, maka air itu suci.

Imam Asy Syafii berkata: Air itu ada 2 macam, yaitu air mengalir dan air diam. Adapun air mengalir, bila jatuh ke dalamnya bangkai, darah atau lainnya, maka :

-          bila di dalamnya ada bagian yang berhenti, maka itu seperti air diam yang najis. Bila tempat yang ada bangkainya kurang dari 2 qullah, maka air menjadi najis dan bila tempat itu lebih dari 2 qullah, maka tidak najis kecuali berubah rasa, warna atau baunya.

-          bila airnya mengalir, bangkai atau sesuatu yang bercampur dengan air itu melewatinya, seseorang boleh berwudhu dengan air yang ditinggalkan bangkai tersebut, karena air tersebut itu bukanlah tempat jatuhnya bangkai, yang tidak bercampur dengan najis. Bila air mengalir itu sedikit dan di dalamnya ada bangkai, maka seseorang tidak boleh berwudhu dari air di sekitar bangkai itu, bila air di sekitarnya kurang dari 2 qullah seperti halnya air diam, tetapi ia boleh berwudhu dengan air yang mengalir sesudahnya, karena masuk akal dalam hal air mengalir bahwa semua air yang telah lewat bukanlah air yang datang dan bahwa itu bukanlah satu bagian yang saling bercampur satu bagian dengan bagian lain, sehingga bila hal yang diharamkan di suatu bagian mengandung najis, maka najislah bagian itu.

Adapun air diam dalam hal ini berbeda, karena ia bercampur seluruhnya, lalu diam, sehingga air yang datang bercampur dengan air sebelumnya, tidak terpisah.

Fukaha Syafi'iyyah : Air diam dan air mengalir sama dalam hal perbedaan antara sedikit dan banyak. Air yang kurang dari dua qullah adalah air sedikit, yang menjadi najis dengan semata-mata bersentuhan dengan najis, walaupun tidak berubah. Adapau air banyak, yaitu air dua qullah atau lebih, tidak najis dengan bersentuhan dengan najis padat atau cairan bila tidak merubah air. Bila merubahnya, maka najis.

Dalam Al Muhazzab dinyatakan : Bila air mengalir dengan ada najis di dalamnya yang mengalir pula seperti bangkai dan aliran itu berubah, maka air yang sebelumnya suci, karena air itu belum sampai ke najis, sehingga itu seperti air yang dituangkan ke najis dari teko, dan air yang sesudahnya juga suci, karena najis belum sampai ke air tersebut. Adapun air yang mengelilingi najis, di atas, di bawah, di kanan dan di kiri najis, maka bila airnya ada dua qullah dan tidak berubah, maka air itu suci, tetapi bila kurang dari dua qullah, maka air itu najis seperti halnya air diam. Berkata Abul Abbas bin Al Qosh : Dalam hal ini ada pendapat lain dalam qoul qodim bahwa najis tidak menajisi air mengalir kecuali karena perubahan, karena air itu merupakan air yang mengalir ke najis sehingga tidak menajisinya tanpa ada perubahan, seperti air yang digunakan untuk menghilangkan najis.

 

Dua air mengalir

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila air mengalir bercampur dengan najis, lalu berubah bau, rasa atau warna, maka air menjadi najis. Bila aliran air melewati sesuatu yang berubah karena najis, lalu berubah, kemudian aliran lain yang tidak berubah melewatinya, maka aliran yang tidak berubah itu suci, sedangkan yang berubah itu najis.

 

Bagian rendah di aliran air

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila pada air yang mengalir ada bagian yang rendah, lalu air diam di bagian itu dan air itu menyimpang dari jalur aliran air dengan menggenang, lalu membawa najis, sehingga hal yang haram bercampur dengannya, maka najislah air itu, karena itu merupakan air diam. Demikian pula bila air mengalir memasuki bagian itu, dengan ketentuan air yang memasuki bagian itu tidak membuat air banyak, hingga menjadi lima griba dan tidak mengalir. Bila pada jalur air mengalir ada bagian yang rendah, lalu jatuh sesuatu yang diharamkan dan air itu mengalirkannya, maka berarti seluruhnya air mengalir, tidak menjadi najis kecuali karena sesuatu yang menajisi air mengalir. Bila air mangalir ke suatu bagian yang diam, maka itu seperti halnya air diam, dapat dinajisi oleh sesuatu yang menajisi air diam.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila sebagian air mengalir dan sebagiannya diam, yaitu dengan adanya bagian yang rendah di sungai di mana air diam dan air mengalir di sampingnya, sedangkan air yang diam menyimpang dari jalur aliran, lalu ke dalam air diam itu jatuh najis dan air itu kurang dari dua qullah, maka bila air itu dengan aliran yang sejajar mencapai dua qullah, maka air itu suci, tetapi bila tidak mencapai dua qullah, maka najislah air itu dan najis pula semua aliran yang ada di sampingnya sampai berkumpul di suatu tempat menjadi dua qullah lalu menjadi suci.

 

I. Air Musta'mal

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang berwudhu dengan sisa orang lain, maka sudah mencukupi.

Bila ia berwudhu dengan air yang telah digunakan berwudhu oleh orang lain yang tak ada najis di tubuhnya, maka tidak boleh, karena air telah digunakan untuk berwudhu. Demikian juga bila ia berwudhu dengan air yang digunakan untuk mandi, sedangkan air kurang dari dua qullah, maka tidak boleh. Bila air ada 5 griba atau lebih, lalu seseorang yang tidak najis tenggelam ke dalamnya, kemudian ia berwudhu dengan air itu, maka sudah mencukupi, karena hal ini tidak merusak air.

[18] Sesungguhnya Rosululloh SAW mengambil air baru untuk tiap-tiap anggota badan

Fukaha Syafiiyyah : Al Majmu dinyatakan : para ulama berbeda pendapat tentang air mustamal apakah merupakan air mutlak atau tidak? Pendapat yang paling shohih adalah yang diputuskan oleh As Syaikh Asy Syirazi dan para ulama muhaqqiq bahwa itu bukan air mutlak, sedangkan pendapat kedua adalah mutlak. Ini dikatakan oleh Ibnul Qosh dan Al Qoffal. Penulis At Taqrib Ibnul Qoffal Asy Syasyi mengatakan bahwa pendapat yang shohih adalah tetap mutlak, dilarang menggunakannya karena taabbud. Berkata Al Qoffal : Kondisinya sebagai air mustamal tidak menghilangkannya dari kemutlakan, karena mustamal merupakan sifat seperti halnya panas dan dingin.

Mughnil Muhtaj dan Al Muhazzab : Air musta'mal adalah air yang digunakan dalam bersuci wajib dari hadats, seperti basuhan pertama. Menurut pendapat yang paling shohih dalam mazhab jadid untuk basuhan kedua dan ketiga, air tetap suci menyucikan.

Air yang digunakan untuk menghilangkan najis tetap suci bila memenuhi 3 syarat :

1.       air mengalir ke tempat najis bila airnya sedikit menurut pendapat yang paling shohih, bukan air banyak, supaya air tidak menjadi najis. Bila dilakukan sebaliknya, yaitu najis dimasukkan ke air sedikit, maka air menjadi najis, karena air akan menjadi najis dengan semata-mata kejatuhan najis.

2.       Air terpisah dari tempat najis dengan tidak berubah salah sifat air dan tempat air telah menjadi suci.

3.       Air tidak bertambah beratnya

Bila airnya berubah, atau bertambah beratnya atau tempatnya tidak menjadi suci dengan masih tersisa warna najis dan baunya bersama-sama atau rasanya saja dan tidak susah membuangnya, itu menunjukkan bahwa rupa najis masih tersisa.

Air musta'mal suci tidak menyucikan dalam mazhab jadid, sehingga tidak bisa digunakan untuk berwudhu dan mandi, tidak untuk menghilangkan najis. Di dalam As h Shohihain disebutkan bahwa Nabi SAW menjenguk Jabir ketika sakit yang menyebabkan matinya, lalu beliau berwudhu dan menuangkan air wudhunya ke Jabir. Orang-orang dengan sedikitnya air mereka tidak mengumpulkan air yang telah digunakan untuk digunakan kedua kalinya, bahkan mereka berlalih ke tayammum. Mereka juga tidak mengumpulkannya untuk minum, karena itu kotor.

Dimaafkan sedikit air musta'mal yang jatuh ke dalam air. Bila air musta'mal dikumpulkan, lalu mencapai dua qullah, maka suci menyucikan menurut pendapat yang paling shohih.

 

J. Keraguan tentang air

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang melakukan perjalanan dengan membawa air, lalu dia mengira ada najis bercampur dengannya, sehingga air menjadi najis dan dia tidak yakin, maka air tetap dalam keadaan suci. Dia boleh menggunakannya untuk berwudhu dan minum. Bila dia katakan air itu najis, maka dia tidak boleh berwudhu dengannya dan wajib bertayammum bila tidak mendapatkan selainnya, tetapi bila terpaksa dia boleh meminumnya, karena dalam hal minum ada keterpaksaan khawatir mati, namun tidak demikian halnya dengan wudhu. Alloh telah jadikan debu suci bagi yang tidak mendapatkan air.

Bila seseorang dalam perjalanan dengan membawa air, dia yakin salah satunya najis dan yang lain tidak, maka dia tumpahkan yang najis berdasarkan sangkaan yang lebih kuat bahwa itu najis dan berwudhu dengan yang lain. Namun bila ia takut kehausan, maka ia tahan yang menurut sangkaan yang lebih kuat bahwa itu najis dan berwudhu dengan yang suci.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila anda yakin tentang kesucian air, lalu ragu tentang kenajisannya, maka boleh berwudhu dengan air tersebut, karena pada asalnya air itu suci, sedangkan kemungkinan lain masih diragukan. Manusia sesuai kodratnya jika meyakini sesuatu, maka dia akan tetap bersandar pada keyakinannya semula, tanpa memperdulikan kemungkinan lain yang belum pasti. Keyakina hanya dapat dihilangkan dengan keyakinan pula. Keraguan tidak dapat menghilangkan keyakinan. Prinsip ini disebut istishhab (penyertaan), karena seseorang tetap beserta keyakinan semula sampai muncul keyakinan sebaliknya.

Hal yang sama juga berlaku bila yakin tentang kenajisannnya, lalu ragu tentang kesuciannya, maka tidak boleh berwudhu dengannnya, karena pada asalnya tetap dalam keadaan najis. Bila tidak yakin tentang kesuciannya dan juga kenajisannya, maka boleh berwudhu dengannnya, karena pada asalnya suci.

[19] Dari Ibad bin Tamim dari pamannya bahwasanya dia mengadukan kepada Rosululloh SAW tentang seorang lelaki yang dikhayalkan sesuatu dalam sholatnya, maka jawab Rosululloh SAW, "Jangan berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium bau"

Bila seseorang menemukan air berubah, tetapi ia tidak tahu karena apa air berubah, maka ia boleh berwudhu dengan air itu, karena boleh jadi perubahan itu karena lama diam. Bila ia melihat binatang kencing di air lalu ia dapati air berubah dan boleh jadi perubahan itu karena kencing itu, maka ia tidak boleh berwudhu dengan air itu, karena lahiriahnya perubahan itu karena kencing. Bila ia lihat kucing memakan najis, lalu mendatangi air sedikit untuk minum, maka dalam hal ini ada tiga pendapat. Pertama, kucing itu menajisi air, karena kita meyakini najis ada di mulutnya. Kedua, bila kucing itu pergi lalu kembali lagi, maka kucing tidak menajisi air, karena boleh jadi kucing itu mendatangi air, lalu mulutnya menjadi suci, sehingga air yang kita yakini kesuciannya tidak menjadi najis karena adanya keraguan. Ketiga, Tidak najis dengan kondisi apapun, karena tidak mungkin menghindari itu, sehingga dimaafkan, karena itulah Nabi SAW bersabda, "Kucing termasuk binatang yang mengelilingi kalian"

 

K. Kesamaran antara air yang suci dan najis

Imam Asy Syafii berkata : Bila tersamar antara 2 air, dia tidak tahu mana di antara keduanya yang najis dan dia tidak mempunyai sangkaan yang kuat tentang keduanya, maka katakan kepadanya, "bila engkau tidak menemukan air selain keduanya, maka wajib bagimu bersuci menurut sangkaan yang kuat dan tidak boleh bertayammum.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila tersamar antara 2 air, satu suci dan yang lain najis, seseorang boleh berijtihad dan bersuci dengan air yang ia anggap suci dengan tanda perubahan warna, rasa atau bekas. Dalam hal ini dianjurkan baginya menumpahkan yang lain sebelum menggunakan yang suci, sehingga ijtihadnya tidak berubah dan supaya tidak keliru, sehingga menggunakan air yang najis atau tersamar untuk yang kedua kalinya. Bila dia berwudhu dari salah satu air sebelum berijtihad, ternyata air yang digunakan memang suci, maka tidak sah wudhunya, karena dia tidak berijtihad.

Bila yang tersamar tentang kedua air itu dua orang, maka masing-masing menunaikan sesuai ijtihadnya, tetapi salah satunya tidak boleh bermakmum ke yang lain, karena ia meyakini bahwa sholat imamnya itu batal.

 

 

 

 



(1) Al Atsari : shohih.

Imam Asy Syafii meriwayatkan hadits ini dari Imam Malik bin Anas dari Shofwan bin Salim dari Sa'id bin Salamah, seorang dari keluarga Ibnul Azroq bahwa Al Mughiroh bin Abi Burdah, dia adalah dari Bani Abdid Dar, mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar Abu Hurairoh.

Shofwan bin Salim Al Madani adalah Abu Abdillah, ada yang mengatakan Abul Harits, Al Qurosyi Az Zuhri, tsiqoh, seorang mufti, ahli ibadah, dituduh penganut Qodariyyah. Said bin Salamah Al Makhzumi termasuk keluarga Ibnul Azroq, dipandang tsiqoh oleh An Nasai dan Ibn Hibban. Meriwayatkan darinya Shofwan bin Salim dan Al Julah Abul Katsir. Al Mughiroh bin Abi Burdah dipandang tsiqoh oleh Nasai.

v  Musnad Asy Syafii : Kitab Thoharoh, Bab 1. Air dari jalur Malik.

v  Al Muwatho' : Kitab Thoharoh, Bab wudhu dari jalur Malik.

Berkata Az Zarqoni : Hadits ini merupakan salah satu pilar Islam, yang telah diterima oleh umat dan telah diberlakukan olah para fukaha pada semua zaman di seluruh pelosok negeri dan diriwayatkan oleh para imam besar.

v  Sunan Abu Dawud : Kitab Thoharoh, Bab wudhu dengan air laut dari jalur Abdullah bin Maslamah dari Malik.

v  Sunan An Nasai : Kitab Thaharoh, Bab air laut dari jalur Qutaibah dari Malik.

v  Sunan Ibn Majjah : Kitab Thoharoh dan sunnah-sunnahnya, Bab wudhu dengan air laut dari jalur Malik.

v  Sunan At Turmudzi : Bab-bab Thoharoh, Bab berkenaan dengan air laut bahwa aitu suci menyucikan dari jalur Qutaibah dari Malik.

Berkata Abu Isa At Turmudzi : Di dalam bab ini ada dari Jabir dan Al Firosi. Ini merupakan hadits hasan shohih. Itu merupakan pendapat mayoritas fukaha sahabat Nabi SAW, di antaranya Abu Bakar, Umar dan Ibn Abbas. Menurut mereka tidak apa-apa dengan air laut. Namun sebagian sahabat Nabi SAW memakruhkan air laut, di antaranya Ibn Umar dan Abdullah bin Amr.

v  Shohih Ibn Khuzaimah : Bab rukhshoh dalam mandi dan wudhu dengan air laut karena air nya suci dan bangkianya halal dari jalur Abu Thohir dari Abu Bakar dari Yunus bin Abul A'la dari Abdulllah bin Wahb dari Malik.

v  Shohih Ibn Hibban : Kitab Thoharoh, Bab air dari jalur Al Fadhl bin Al Habbab Al Jamhi dari Al Qo'nabi dari Malik.

v  Sunan Ad Darimi : Kitab Thoharoh, Bab wudhu dengan air laut dari jalur Muhammad bin Al Mubarok dari Malik.

Dan dari jalur Al Hasan bin Ahmad Al Harrani dari Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abu Habib dari AL Julah dari Abdullah bin Said Al Makhzumi dari Al Mughiroh bin Abu Burdah dari bapaknya dari Abu Hurairoh, dengan lafadz : berwudhulah dengan air laut, karena airnya suci dan halal bangkainya.

v  Sunan Al Kubro Al Baihaqi : Kitab Thoharoh, Bab bersuci dengan air laut dari jalur Al Husain bin Muhammad bin Muhammad bin Ali Ar Rudzbari dari Muhammad bin Bakr bin Abdurrazzaq dari Abu Dawud dari Abdullah bin Maslamah dari Malik.

Berkata Al Baihaqi : Al Julah Abu Katsir telah mentabi Shofwan bin Salim pada riwayatnya dari Said bin Salamah.

Al Baihaqi di dalam Al Marifah : Ini merupakan hadits yang telah dipercayakan oleh Malik bin Anas di dalam kitabnya Al Muwatho' dan telah ditakhrij oleh Abu Dawud Sulaiman bin Al Asyats As Sijistani dan para imam hadits di dalam kitab-kitab mereka dengan berhujjah dengannya. Berkata Abu Isa At Turmudzi : Aku bertanya kepada Muhammad bin Ismail Al Bukhori tentang hadits ini, maka jawabnya : Itu hadits shohih.

Al Bukhori dan Muslim tidak mentakhrijnya dalam shohih hanyalah karena adanya perselisihan pada nama Said bin Salamah dan Al Mughiroh bin Abi Burdah. Karena itu Asy Syafii berkata : di dalam isnadnya ada orang yang tidak aku kenal. Sungguh Malik bin Anas telah memastikan isnadnya dari Shofwan bin Salim dan dengan mutabaah Al Laits bin Said dari Yazid dari Al Julah Abu Katsir, lalu dari Amr Ibnul Harits dari Al Julah, keduanya dari Said bin Salamah dari Al Mughiroh bin Abi Burdah dari Abu Hurairoh dari Nabi SAW, maka jadilah hadits shohih, sebagaimana dikatakan oleh Al Bukhori dalam riwayat Abu Isa At Turmudzi.

v  Al Muntaqo' Minas Sunnan Al Musnadah Ibnul Jarud : Kitab Thoharoh, Bab kesucian air dari jalur Muhammad bin Yahya dari Bisyr bin Umar dari Malik.

v  Al Mustadrok Al Hakim : Kitab Thoharoh dari jalur-jalur dari Malik.

Berkata Al Hakim : Telah diriwayatkan dalam mutabaat Malik bin Anas jalur-jalur hadits ini dari tiga orang yang bukan termasuk syarat kitab ini, yaitu Abdurrahman bin Ishaq, Ishaq bin Ibrohim Al Muzanni dan Abdullah bin Muhammad Al Qoddami.

Berkata Ibnul Mulaqqin dalam takhrij hadits ini : At Turmudzi berkata : Aku bertanya kepada Al Bukhori tentang hadits ini, maka jawabnya : Hadits shohih, dan dishohihkan oleh Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban dan dirajihkan keshohihannya oleh Ibn Mandah.

Berkata Asy Syaikh Taqiyuddin bin Daqiq Al "id : Hadits ini mempunyai empat ilat :

1.        Kemajhulan Said bin Salamah dan Al Mughiroh bin Salim, karena tidak diriwayatkan dari Said bin Salamah kecuali Shofwan bin Salim, sedangkan Al Mughiroh kecuali Said bin Salamah. Jawabannya adalah telah diriwayatkan dari Said oleh Al Julah, sedangkan Al Mughiroh telah diriwayatkan oleh Yahya bin Said dan Yazid Al Qurasyi dan Hammad.

2.        Perselisihan pada nama Said bin Salamah, ada yang mengatakan dia adalah Abdullah bin Said, ada juga yang mengatakan Salamah bin Said. Jawabannya dengan merajihkan riwayat Malik bahwa ia adalah Said bin Salamah. Dua nama yang akhir merupakan riwayat Muhammad bin Ishaq.

3.        Kemursalan, karena Yahya bin Said memursalkannya.

Berkata Ibn Abil Barr : Ini merupakan mursal yang tidak bisa dijadikan hujjah. Yahya bin Said lebih hafidz dibandingkan Shofwan bin Salim dan lebih tsabit dibandingkan Said bin Salamah. Jawabannya : Ini didasarkan pada prinsip mendahulukan kemursalan yang lebih hafidz pada isnad dibandingkan lainnya. Hal ini merupakan prinsip yang masyhur.

4.        Mudthorib. Jawabannya dengan mentarjihkan riwayat Malik sebagaimana ditetapkan oleh Ad Darquthni dan lain-lainnya.

Al Albani dalam Al Irwa' : Shohih. Isnadnya shohih dengan rijalnya semua tsiqoh. Telah dishohihkan oleh selain At Turmudzi, di antaranya Al Bukhori, Al Hakim, Ibn Hibban, Ibnul Mundzir, Al Baghwi, Al Khottobi dan lain-lainnya. Aku telahs ebutkan mereka di Shohih Abu Dawud.

Al Atsari berkata : Karena itu hadits ini dengan semua jalurnya adalah shohih, Wallohu A'lam. Telah dishohihkan oleh ulama, dintaranya Al Bukhori, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, Ibnul Mundzir, Al Khottobi, Ibn Madah, Al Hakim, Ibn Hazm, Al Baihaqi, Abdul Haq Al Isybili, Ibn Hajar dan Al Albani.

Berkata Al Humaidi : berkata Asy Syafii : Hadits ini merupakan setengah ilmu bersuci. Sungguh perkataan ini shohih, karena hadits ini menunjukkan sucinya air yang memancar dari bumi, sedangkan ayat munjukkan sucinya air yang turun dari langit.

[2] Ibnush Sholah adalah Al Imam Al Hafidz Taqiyyuddin Abu Amr Utsman bin Sholahuddin Abdurrahman bin Utsman Al Kurdi Asy Syahrzuri Asy Syafi'i, penulis kitab Ulumul Hadits, syarh Muslim dan lain-lain, belajar di Sholahiyyah Baitul Maqdis dan Darul Hadits Al Asyrafiyyah. Dia termasuk orang yang alim dalam agama, meninggal tahun 643 H.

[3] An Nawawi adalah seorang imam, faqih, hafidz dan syaikhul islam Yahya bin Syaraf bin Mara Al Hazzami Al Haurani Asy Syafii, mendengar dari Ar Ridho bin Al Burhan, An Numan bin Aul Yasr dan lain-lain, telah mengarang berbagai karangan yang bermanfaat dalam bidang hadits, fiqih dan lain-lain, seorang imam yang dermawan dan hafidz yang teliti, meninggal tahun 676 H.

[4] Al Mawardi hádala Ali bin Muhammad bin Habib Al Qodhi Abul Hasan Al Mawardi Al Bashri. Berkata Al Khotib : Dia tsiqoh, termasuk pemuka para faqih Syafi'i dan mempunyai karangan-karangan yang banyak dalam ushul fiqih dan furu'nya dan menjadi qodhi di berbagai negeri. Meninggal tahun 450 H.

(2) Al Atsari : Isnadnya dhoif. Itu karena ketidakjelasan guru Asy Asy Syafii. Hadits ini hasan.

Asy Syafi'I meriwayatkan hadits ini dari orang tsiqoh dari Ibn Abi Dzuaib dari seorang tsiqoh dari orang yang memberitahunya dan dari Ubaidullah bin Abdullah Al Adawi dari Abu Said Al Khudri.

v  Sunan Abu Dawud : Kitab Thoharoh, Bab berkenaan dengan sumur Budhoah dari jalur Abu Usamah dari Al Walid bin Katsir dari Muhammad bin Kaab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Rofi' bin Khudaij dari Abu Said Al Khudri

v  Sunan At Turmudzi : Kitab Thoharoh, bab berkenaan dengan sumur Budhoah dari jalur Abu Usamah

v  An Nasai : Kitab Thoharoh, Bab sumur Budhoah dari jalur Abu Usamah dari Al Walid dari Muhammad bin Kaab dari Ubaidulah bin Abdurrahman.

v  Sunan Ad Darquthni : Kitab Thoharoh, Bab air yang berubah dari jalur Abu Usamah.

Berkata Al Hafidz Ibn Hajar dalam At Talkhish : Hadits diriwayatkan oleh Asy Syafi'I, Ahmad dan Ashabus Sunnan, Ad Darquthni, Al Hakim dan Al Baihaqi dari hadits Abu Said Al Khudri berkata : ditanyakan : Wahai Rosululloh, Apakah kami boleh berwudhu dengan air sumur Budhoah, sebuah sumur yang dibuang ke dalamnya kain yang digunakan wanita haidh, anjing dan bau busuk.

Berkata Ibnul Qothhon setelah mengatakan illat jalur ini karena kamajhulan perowi dari Abu Said Al Khudri dan perbedaan perowi-perowinya dalam hal namanya dan nama bapaknya : Hadits ini mempunyai jalur yang lebih baik dari jalur ini. Berkata Qosim bin Asbagh di dalam mushohhafnya : berbicara kepada kami Muhammad bin Wadhdhoh, berbicara kepada kami Abdush Shomad bin Abu Sakinah Al Halabi, berbicara kepada kami Abdul Aziz bin Abu Hazim dari Sahl bin Saad. Al Atsari : Ini sanadnya lemah, di dalamnya ada Abdush Shomad bin Abu Sakinah Al Halabi. Berkata Al Hafidz : berkata Ibn Abdul Barr dan lain-lain : ia majhul dan kami tidak dapatkan perowi darinya kecuali Muhammad bin Wadhdhoh, padahal Ibn Hazm menganggap ia tsiqoh masyhur.

Berkata Ibn Mandah tentang hadits Abu Said ini : Isnadnya masyhur.

Al Atsari : Hadits Abu Said telah dishohihkan oleh Ahmad bin Hambal, Ibn Ma'in, Ibn Hazm, lalu Al Albani dalam Al Irwa. Berdasarkan itulah hadits ini menjadi hasan.

(3) Abdul Mutholib : Shohih

Hadits ini diriwayatkan oleh Asy Syafii dari Ibrohim bin Muhammad dari Zaid bin Aslam dari bapaknya.

Berkata Ibn Hajar dalam At Talkhish : Kebanyakan ahli hadits mendhoifkan Muhammad bin Ibrohim bin Abu Yahya, tetapi Asy Syafii mengatkan bahwa ia shoduq. Al Ijli berkata : Ia seorang penganut qodariyyah, mu'tazilah dan rofidhoh. Segala bid'ah ada padanya. Ia termasuk orang yang paling hafidz, tetapi tidak tsiqoh. Berkata Ibn Addi : Aku lihat haditsnya, tetapi tidak aku temukan munkar. Ia mempunyai hadits yang banyak.

Abdul Mutholib : Di dalam isnad Asy Syafii di dalam atsar ini dan di dalam kebanyakan hadits-hadits dan atsar-atsar berikutnya ada Ibrohim bin Muhammad bin Abi Yahya. Kebanyakan pengritik mendhoifkan Ibrohim bin Muhammad dari aspek keyakinannya yang ghulat, ada yang mengatakan dia adalah seorang penganut Qodariyyah, ada juga yang mengatakan ia seorang mu'tazilah. Sebagian mereka menuduhnya suka berdusta. Umumnya keyakinannyalah yang membuat para imam mengatakan apa yang mereka katakan.

Namun sebaik-baiknya jawaban tentang riwayat Asy Syafii tentang Ibrohim bin Muhammad adalah bahwa Asy Syafii memandang ia dan haditsnya tsiqoh dan menganggap riwayat-riwayatnya benar. Tidak diragukan bahwa Asy Syafii, yang merupakan pengritik yang teliti, telah meneliti riwayat-riwayatnya dan ketika ia temukan di dalam riwayat-riwayat itu ada konsisitensi, maka ia ambil.

Al Baihaqi telah menjelaskan hal itu, lalu ia riwayatkan dari Yahya bin Zakariyya dari Ar Robi' bahwa Asy Syafii berkata : Ibrohim bin Abi Yahya adalah seorang Qodariyyah. Aku bertanya kepada Ar Robi', " Lalu apa yang membuat Asy Syafii meriwayatkan darinya?", jawabnya, "Dia tsiqoh dalam hadits".

Sebagaimana dinukil oleh Al Baihaqi dari Ibn Addi bahwasanya ia berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad bin Said, kataku kepadanya, "Apakah engkau tahu ada seseorang yang lebih bagus perkataannya tentang Ibrohim bin Abi Yahya selain Asy Syafii?", jawabnya, "Ya. Telah berbicara kepadaku Ahmad bin Yahya Al Audi katanya : Aku bertanya kepada Hamdan bin Al Isbahani, yaitu Muhammad, kataku, 'Apakah engkau berpegang dengan hadits Ibrohim bin Abi Yahya?', maka jawabnya, 'Ya'. Berkata Abu Ahmad : berkata kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Said : Aku telah lihat banyak hadits Ibrohim bin Abi Yahya, ia bukanlah munkarul hadits."

(4) Hasan

Asy Syafii meriwayatkan dari Ibrohim bin Muhammad dari Shodaqoh bin Abdullah dari Abuz Zubair dari Jabir bin Abdullah.

v  Sunan Al Kubro Al Baihaqi : Kitab Thoharoh, Bab berrsuci dengan air laut dari jalur Asy Syafii

v  Al Marifah : Kitab Thoharoh, Bab wudhu dengan air yang dipanaskan dan air musyammasy dari jalur Asy Syafii dan Ismail bin Ayyasy dari Shofwan bin Amr dari

v  Sunan Ad Darquthni : Kitab Thoharoh, Bab air yang dipanaskan dari jalur Ismail bin Ayyasy

Berkata Ad Darquthni : Riwayat Ismail bin Ayyasy dari orang-orang Syam shohih dan ditabi' dengan Al Mughiroh bin Al Quddus dari Shofwan dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban di dalam kitab Ats tsiqot pada biografi Hassan bin Azhar, Wallhu A'lam.

Berkata Ibn Hajar dalam At Talkhish : Shodaqoh dhoif.

Untuk hadits Umar yang mauquf ini ada jalur lain yang diriwayatkan oleh Ad Darquthni dari hadits Ismail bin Ayyasy dari Shofwan bin Amr dari Hasan bin Azhar dari Umar berkata, Janganlah kalian mandi dengan air musyammasy, karena akan menyebabkan sopak. Ismail bin Ayyasy shoduq pada hadits yang diriwayatkan dari orang-orang Syam. Di samping itu tidak sendirian, ada tabi oleh Abul Mughiroh dari Shofwan, yang dikeluarkan oleh Ibn Hiban dalam Ats Tsiqot pada biografi Hassan.

Juga diriwayatkan dari Anas dan di dalamnya terdapat Sawadah. Dia majhul. Berkata Al Uqaili dalam Adh Dhuafa Al Kabir pada biografi Sawadah : Sawadah majhul, haditsnya tidak terjaga. Tak ada satupun hadits shohih berkaitan dengan air musyammasy. Ini hanya diriwayatkan dari Umar. Berkata Syaikhul islam dalam Lisan Al Mizan pada biografi Sawadah : Beritanya dusta berkenaan dengan air musyammasy.

Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, Kitab Thoharoh, Bab berwudhu dengan air musyammasy :Ath Thobroni meriwayatkannya dalam Al Awsath dan di dalamnya terdapat Muhammad bin Marwan As Suddi. Para ulama sepakat tentang kedhoifannya. Tidak diriwayatkan dari Nabi SAW kecuali dengan isanad ini. Kami juga telah meriwayatkannya dari Ibn Abbas.

Al Maqdisi juga mengemukakan dalam Tadzkiroh Al Maudhuat hadits Aisyah, katanya : Di dalamnya terdapat Abul Bukhturi Wahb bin Wahb. Ia pembohong.

Ibn Iraq mengemukakannya dan berkata menangapai perkataan Al Uqaili : Tak ada satupun hadits shohih berkaitan dengan air musyammasy : Hadits tersebut walaupun lemah dari semua jalur periwayatan, perkataan Umar menjadi syahid. Asy Syafii telah mengeluarkan dalam Al Umm perkataan Umar dengan sanad yang para perowinya tsiqoh, kecuali Ibrohim bin Abu Yahya, karena ia diperselisihkan dan gurunya Shodaqoh bin Abdullah dhoif. Ad Darquthni telahmeriwayatkan dari jalur lain, yang dihasankan oleh Al Mundziri dan lain-lain.

[8] Ar Rofi'I adalah Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul KArim bin Al Fadhl, Al Imam Abul Qosim, Imamuddin Ar Rofi'I Al Qozwaini Asy Syafi'I, pemilik kitab "Asy Syarh Al Kabir". Al Isfaraini berkata : Ia adalah satu-satunya ulama pada zamannya dalam ilmu-ilmu agama, baik ushul maupun furu', mujtahid madzhab zamannya. Wafat 624 H di Qozwain.

[9] Ibnul Jauzi meriwayatkan dalam Al Maudhuat, Kitab Thoharoh, Bab memanaskan air dengan matahari dari empat jalur.

1.        Di dalamnya terdapat Kholid bin Sulaiman

Berkata Ibn Hiban : Tidak bias djadika hujjah.

Berkata Ibn Addi : membuat hadits palsu atas nama para tsiqoh.

2.        Di dalamnya terdapat Al Haitsam bin Addi

Berkata Yahya : ia suka berdusta

Berkata An Nasai dan Ar Rozi : ditinggalkan haditsnya

3.        Di dalamnya terdapat Amr bin Al Asam

Berkata Ad Darquthni : tidak diriwayatkan dari Falih selain dia, mungkar haditsnya

Berkata Ibn Hibban : meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari para tsiqoh, membuat-buat hadits, tidakboleh dijadikan hujah.

4.        Di dalamnya terdapat Wahb bin Wahb

Ia termasuk pemimpin para pembohong.

[10] Al Hafidz dalam At Talkhish Al Habir : Kami telah meriwayatkan dalam juz 5 masyikhoh Qodhi Maristan dari jalur Umar bin Shubh dari Muqotil dari Adh Dhohhak dari Ibn Abbas. Umar bin Shubh pembohong dan Adh Dhohak tidak bertemu Ibn Abbas.

[11] Al Baihaqi adalah seorang imam, hafidz yang sangat alim, syaikh Khurasan, Abu Bakar Ahmad bin AL Husain bin Ali bin Musa Al Khusrawwajarradi, penulis berbagai karangan, kitab-kitab hadits, tersendiri dalam ketelitian, ketepatan dan hafalan, menulis kitab yang belum pernah sebelumnya, seperti As Sunan Al Kubro, As Sunan Ash Shughro, Syu'ab Al Iman dan lain-lain, meninggal tahun 458 H..

[12] Al Bandaniji adalah Abu Ali Hasan bin Abdullah bin Yahya, salah seorag imam syafi'iyyah, termasuk murid Abu Hamid, tak ada di antara sahabat-sahabatnya yang seperti dirinya, belajar fiqih dan berfatwa, seorang yang teguh agamanya dan wara, meninggal tahun 415 H.

[13] Al Muzanni adalah Abu Ibrohim Ismail bin Yahya bin Ismail Al Muzanni Al Mishri, seorang imam yang wara', zuhud, diijabah doanya, sedikit harta dunianya, orang besar di antara sahabat-sahabat Asy Syafi'i. Berkata Asy Syafi'I berkaitan dengan dirinya, "Bila ia mendebat syaitan, maka pasti ia akan mengalahkannya". Ia mengarang kitab Al Mabshuth, Al Mukhtashor, Al Mantsur dan lain-lain, meinggal tahun 264 H.

[14] Al Qoffal adalah Abu Bakar Abdullah bin Ahmad bin Abdullah Al Mawarzi dikenal dengan Al Qoffal, syaikh untuk kalangan Marw, mempunyai pegetahuan, hal yang ajaib dan mendalam, pada awalnya membuat kunci lalu menyibukkan diri dalam fiqih hingga menjadi satu-satunya di zamannya, meninggal pada Jumadil akhir 417 H di umur 90 tahun..

[15] Al Qodhi Husain adalah seorang imam, muhaqqiq dan mudaqqiq, Abu Ali Al Husain bin Muhammad bin Ahmad Al Mawarzi, termasuk sahabat besar Al Qoffal. Berkata Abdul Ghofir : Dia adalah seorang faqih di Khurasan. Berkata Ar Rofi'I dalam Ad Datwin : Dia adalah orang besar, dijuluki dengan tinta umat, meingggal 462 H.

[16] Al Furani adalah Abdurrahman bin Muhammad bin Furan Abul Qosim Al Mawarzi, belajar fiqih kepada Al Qoffal dan unggul hingga menjadi syaikh syafi'iyyah di Marw, mengarang Al Ibanah dan Al Umdah, mengambil darinya AL Mutawalli dan sekelompok ulama, meninggal pada Romadhon 461 H di Marw.

(5) Al Atsari : Isnadnya lemah, karena ketidak jelasan orang yang tsiqoh. Hadits ini shohih.

Asy Syafii meriwayatkan ini dari orang yang tsiqoh dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ibad bin Ja'far dari Abdullah bin Abullah bin Umar dari bapaknya.

Al Hakim dalam Al Mustadrok berkata : Ini merupkan hadits shohih berdasarkan syarat Al Bukhori dan Muslim. Mereka berdua telah berhujjah dengan semua perowinya, tetapi tidak mengeluarkannya. Demikian Asy Syafii meriwayatkan dari orang yang tsiqoh, yaitu Abu Usamah, tanpa diragukan. Al Bukhori dan Muslim telah berhujjah dengan Al Walid bin KAtsir dan Muhammad bin Ibad bin Ja'far.

Al Albani dalam Al Irwa' berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Asy Asy Syafii, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, Al Hakim, Ad Darquthni dan Al Baihaqi. Ibn Mandah berkata : Isnad hadits dua qullah berdasarkan syarat Muslim. Pokok bahasannya adalah Al Walid bin Katsir, dinyatakan dari dia dari Muhammad bin Ja'far bin Az Zubair, dinyatakan juga dari dia dari Muhammad bin Ibad bin Ja'far, dan kali lain dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar dan kali lain dari Abdullah bin Abdullah bin Umar. Jawabnya : Ini bukanlah mudthorib yang tercela. Yang benar adalah bahwa itu dari Al Walid bin Katsir dari Muhammad bin Ibad bin Ja'far dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dan dari Muhammad bin Ja'far bin Az Zubair dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar.

Berkata Al Khttobi : Sebagian ahli ilmu membicarakan isnadnya dari segi sebagian perowinya, katanya : dari Abdullah bin Abdullah, dan sebagian lain berkata : Ubaidillah bin Abdullah, tetapi ini bukanlah perbedaan yang melemahkannya, karena hadits ini telah diriwayatkan oleh Ubaidillah dan Abdullah bersama-sama.

Berkata Ibnul Daqiq Al Id : hadits ini telah dishohihkan oleh sebagian ulama, karena walaupun isnadnya mudthorib dengan perbedaan dalam sebagaian lafadznya, namun dijawab dengan jawaban yang shohih bahwa ada kemungkinan menggabungkan antara riwayat-riwayat itu.

Ibnul Qoyyim berkata : Walaupun shohih sanadnya, namun tidak shohih matannya, karena shohihnya sanad tidak meniscayakan shohihnya matan, selama syadz-syadz dan ilatnya tidak hilang darinya. Kedua hal itu tidak hilang dari hadits ini. Adapun syadz-syadznya, maka sesungguhnya hadits ini dengan adanya kebutuhan yang sangat dari umat kepada hadits ini untuk memisahkan antara yang halal dan yang haram, antara yang suci dan najis, tidak diriwayatkan selain Ibn Umar, tidak juga dari Ibn Umar selain bapaknya, di mana Nafi, Ayyub, dan Said bin Jubair? Di mana Penduduk Madinah? Ulama-ulama mereka tidak mengetahui Sunnah ini, padahal mereka orang-orang yang paling membutuhkan hadits ini untuk air ada pada mereka.

Al Atsari berkata : Jawabannya seperti yang dikatakan oleh Asy Syafii : Bukanlah syadz berarti seorang tsiqoh meriwayatakn hadits yang tidak diriwayatkan oleh orang lain, namun seorang tsiqoh meriwayatkan hadits yang menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang. Sendirinya seorang sahabat dalam meriwayatkan hadits tidak menunjukkan pada kesyadzannya. Bila tidak demikian, maka akan gugur banyak hadits-hadits shohih yang diriwayatkan sendirian oleh kebanyakan sahabat.

Ibnul Qoyyim berkata : Adapun ilat, maka perbedaan di dalamnya pada Abdullah secara marfu dan mauquf. Al Mizzi dan Ibn Taymiyyah merajihkan kemauqufannya dan menunjukkan kemauqufannya bahwa Mujahid meriwayatkan darinya secara mauquf, sebaigimana dibenarkan oleh Ad darquthni dalam Sunannya, dan Al Baihaqi merajihkan kemauqufanya dari jakur Mujahid dan menjadikannya shohih.

Al atsari : Rajihkan kemauqufannya dari jalur Mujahid. Adapun jalur lain, maka itu shohih, Wallohu A'lam. Hadits ini telah dishohihkan oleh Al Baihaqi, Ad Darquthni, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban dan Al Hakim. Dan dishohihkan juga oleh Al Albani dari ulama modern.

[18] Ibn Juraij adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, salah seorang alim, meriwayatkan dari bapaknya, Mujahid, Atho dan orang-orang lain, dan meriwayatkan darinya kedua anaknya Abdul Aziz dan Muhammad, Yahya Al Anshori dan orang-orang lain. Meninggal tahun 150 H.

(6) Al Atsari : Shohih tanpa tambahan dengan qullah Hajar, karena sanadnya dhoif dengan kedhoifan Muslim bin Kholid dan kemajhulan sanad yang tidak disenut oleh Asy Asy Syafii.

Asy Syafii meriwayatkan dari Muslim bin Kholid dari Ibn Juraij dengan isnad yang tidak disebutkan.

Berkata Ibnul Mulaqqin dalam Al Badr : Muslim bin Kholid, walaupun diperbicangkan, namun telah ditsiqohkan oleh Yahya bin Main, Ibn Hibban dan Al Hakim. Keduanya, yaitu Ibn Hibban dan Al Hakim, telah mentakhrijnya di shohih. Berkata Ibn Addi : Baik haditsnya. Orang yang mendhoifkannya tidak menjelaskan sebabnya, padahal kaidah yang telah mantap bahwa kedhoifan tidak diterima kecuali dengan disertai penjelasan.

Berkata Ar Rofi'I dalam Syarhul Musnad : Isnad yang tidak disebutkan berdasarkan keterangan Ahli ilmu hadits adalah bahwa Ibn Juraij berkata : telah mengabarkan kepadaku Muhammad bahwa Yahya bin Aqil mengabarinya bahwa Yahya bin Ya'mar mengabarinya bahwa Nabi SAW bersabda, "Bila air ada dua qullah, maka tidak membawa khubuts dan tidak apa-apa". Berkata Muhammad : Aku bertanya kepada Yahya bin Aqil, "Dengan qullah Hajar?", jawabnya, "Ya, dengan qullah Hajar"

Berkata Ibn Hajar dalam At Talkhish seperti yang dikatakan oleh Ibnul Mulaqqin. Abu Ahmad : Muhammad adalah guru Ibn Juraij, yaitu Muhammad bin Yahya. Ia mempunyai riwayat dari Yahya bin Abu Katsir juga. Berkata Ibn Hajar : Lalu bagaimana ia tidak dikenal?

Berkata Ar Rofi'I dalam Syarhul Musnad : Hadits Ini mursal, karena Yahya bin ya'mar seorang Tabi' yang masyhur, meriwayatkan dari Ibn Umar dan Ibn Abbas, maka boleh jadi hadits yang ia riwayatkan ini termasuk hadits yang masyhur dan Ibn ya'mar telah meriwayatkannnya dari Ibn Umar dan boleh juga dari orang lain, karena ia telah riwayatkannya dari selain Ibn Umar.

Aku katakan : Walaupun mursal, namun telah dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Addi dari riwayat Ibn Umar bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila air mencapai dua qullah dengan qullah Hajar, maka tak akan dinajisi oleh sesuatupun"

Dalam isnadnya tidak ada selain Al Mughiroh bin Suqlab. Ibn Hatim berkata : Baik haditsnya.

Ibn Hajar berkata : Tentang batasan qullah. Para ashab Asy Syafii menguatkan bahwa yang dimaksud adalah qullah Hajar, karena banyak digunakan dalam syair-syair arab. Al Baihaqi berkata : Qullah hajar telah terkenal di kalangan meraka dan karena itu Rosululloh SAW serupakan apa yang beliau lihat pada malam Mi'roj berupa buah Sidrotul Muntaha dengan qullah Hajar. Ini menunjukkan bahwa itu telah diketahui di kalangan mereka. Berkata Al Azhari : Qullah berbeda-beda di desa-desa arab dan qullah Hajar merupakan yang terbesar. Al Khottobi berkata : Qullah Hajar telah terkanal dan diketahui kadarnya, sekiranya dibuat perumpamaan besarnya.

[20] Ar Ruyani hádala Abdul Wahid bin Ismail Ar Ruyani Ath Thobari Asy Syafi'i, penulis berbagai karangan yang tersebar di bebgai negeri. Dialah yang mengatakan : Bila terbakar kitab-kitab Asy Syafi'i, maka aku akan mengacu pada hafalanku. Meninggal syahid tahun 521 H.

(7) Shohih

Asy Syafii mengemukakan hadits ini tanpa menyebutkan sanadnya.

v  Shohih Al Bukhori : Kitab awal penciptaan, Bab bila lalat jatuh ke dalam minuman dari jalur Kholid bin Mukhollad bin Bilal dari Atabah bin Muslim dari Ubaid bin Hunain dari Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Bila lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka celupkan, lalu buanglah lalt itu, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit, sedangkan yang lain ada penawarnya"

v  Sunan Abu Dawud : Kitab makanan, Bab tentang lalat yang jatuh ke dalam makanan dari jalur Ahmad bin Hambal dari Bisyr dari Ibn Ajlan dari Said Al Maqbari dari Abu Hurairoh

v  Sunan Ad Darimi : Kitab makanan, Bab lalat yang jatuh ke dalam makanan dari jalur Sulaiman bin Harb dari Hammad bin Salamah dari Tsumamah bin Abdullah bin Anas dari Abu Hurairoh

v  Sunan Al Khubro Al Baihaqi : Kitab Thoharoh, Bab binatang yang darahnya tidak mengalir bila mati di air sedikit dan semua binatang yang darahnya tidak mengalir yang mati di air, maka tidak najis karena matinya berdasarkan ijma, dari jalur Muhammad bin Abdullah dan Abu Said bin Abu Amr dari Muhammad bin Ya'qub dari Ar Robi bin Sulaiman dari Abdullah bin Wahab dari Sulaiman bin Bilal dari Atabah bin Muslim bahwa Ubaid bin Hunain mengabarinya bahwa ia mendengar Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda..........

Dari jalur Abu Abdillah Al husain bin Umar bin Burhan dan Abul Hasan bin AL Fadhl dari Ismail bin Muhammad Ash Shoffar dari Al Hasan bin Arafah dari Biysr bin Al Mufaddhol dari Muhammad bin Ajlan dari Said bin Abu Said dari Abu Hurairoh

v  Shohih Ibn Khuzaimah : Kitab wudhu, Bab-bab tentang air yang tidak najis dan najis bila bercampur dengan najis, Bab dalil bahwa jatuhnya lebah ke air tidak menajisinya dari jalur Ziyad bin Yahya Al Hassani dari Bisyr bin Al Mufaddhol dari Muhammad bin Ajlan dari Said bin Abu Said Al Maqbari dari Abu Hurairoh

v  Shohih Ibn Hibban : Bab air-air, tentang hal yang dilakukan seseorang ketika jatuh binatang yang darahnya tidak mengalir ke dalam air atau kuah dari jalur Ibn Khuzaimah.

v  Al Muntaqo Ibnul Jarud : Kitab Thoharoh, Bab sucinya air dan kotorang yang najis dan tidak najis dari jalur Muhammad bin Yahya dan Allan bin Al Mughiroh dari Ibn Abu Maryam Muhammad bin Abu Hafshah dan Sulaiman bin Bilal dari Atabah bin Muslim dari Ubaid bin Hunain dari Abu Hurairoh.

[22] Al Muhamili adalah Abu Abdillah Al Husain bin Ismail bin Mjhammad Adh Dhobbi Al Baghdadi Al Muhamili, guru dan ahli hadits Baghdad, seorang faqih Syafi'i. Dia shoduq, seorang faqih dan ahli hadits, memegang jabatan qodhi di Kufah 60 tahun dan meninggal tahun 330 H.

(8) Al Atsari : Dhoif.

Asy Syafii telah meriwayatkan dari :

1.        Ibrohim bin Muhammad dari Dawud bin Al Hushain dari bapaknya dari Jabir bin Abdullah.

2.        Said bin Salim dari Ibn Abi Habibah dari Dawud bin Al Hushain dari Jabir bin Abdullah.

Al Atsari : Said bin Salim Al Qoddah terpercaya, ditudah penganut Murjiah. Dalam hadits ini ada yang gugur. Ad Darquthni telah meriwayatkan dari jalur Asy Asy Syafii, di dalamnya Dawud bin Al Hushain dari bapaknya, dengan tambahan dari bapaknya. Ad Darquthni berkata : Ibn Abi Habibah dhoif.

v  Sunan Al Kubro Al Baihaqi : Kitab Thoharoh, Bab sisa minumam binatang lain selain anjing dan babi dari jalur Asy Asy Syafii

Berkata Al Baihaqi dalam AL Marifah : Bila kita kumpulkan sanad-sanad ini sebagian dengan sebagiannya, maka akan menjadi kuat. Dan semakna adalah hadits Abu Qotadah dengan isnad shohih dan dijadikan pegangan. Dan hadits semakna diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ibrohim. Ibrohim bin Abu Yahya Al Aslami diperselisihkan ketsiqohannya dan didhoifkan oleh mayoritas ahli ilmu hadits dan mereka mencelanya, tetapi Asy Syafii menjauhkan kemungkinan ia berbohong.

v  Sunan Ad Darquthni : Kitab Thoharoh, Bab semua makanan yang terkena binatang yang tidak mempunyai darah, dari jalur Ismail Al Farisi dari Ishaq bin Ibrohim Ash Shon'ani dari Abdurrazzaq dari Ibrohim bin Muhammad dari Dawud bin Husain dari bapaknya dari Jabir bin Abdullah bahwa Rosululloh Saw berwudhu dengan air sisa binatang buas. Ibrohim, yaitu Ibn Abu Yahya dhoif. Namun tabi'nya dalah Ibrohim bin Ismail bin Abu Habibah, tetapi ia tidak kuat dalam hadits.

Dan dari jalur Abu Bakar An Naisaburi dari Ar Robi dari Asy Asy Syafii. Ad Darquthni berkata : Ibn Abu Habibah dhoif juga. Dia adalah Ibrohim bin Ismail bin Abu Habibah.

v  Mushonnaf Aburrazzaq : Kitab Thoharoh, Bab air yang didatangi anjing dan binatang buas dari jalur Ibrohim bin Muhammad dari Dawud bin Hushain dari bapaknya dari Jabir.

(9) Al Atsari : Hasan.

Asy Syafii telah meriwayatkan dari Malik dari Ishaq bin Abdullah dari Humaidah binti Ubaid bin Rifaah dari Kabsyah binti Ka'ab bin Malik.

v  Al Muwatho : Kitab Thoharoh, Bab air suci untuk wudhu dari jalur Malik

v  Musnad Asy Syafii : Kitab Thoharoh, Bab 2. Air dari jalur Malik

v  Sunan Abu Dawud : Kitab Thoharoh, Bab sisa minuman kucing dari jalur Abdullah bin maslamah Al Qo'nabi dari Malik.

v  Sunan An Nasai : Kitab Thoharoh, Bab sisa minuman kucing dari jalur Qutaibah dari Malik.

v  Sunan At Turmudzi : Kitab Thoharoh, Bab berkenaan tentang sisa minuman kucingan dari jalur Malik.

Berkata Abu Isa At Turmudzi : Dalam bab ini ada dari Aisyah dan Abu Hurairoh

Ini adalah hadits hasan shohih. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama sahabat Nabi SAW, para tabiin dan generasi sesudahnya, seperti Asy Asy Syafii, Ishaq, Ahmad. Menurut mereka tidak apa-apa sisa minuman kucing.

v  Mushonnaf Ibn Abu Syaibah : Kitab Thoharot, Termasuk rukhshoh-rukhshoh berwudhu dengan sisa kucing dari jalur Zaid bin Al Habbab dari Malik.

v  Sunan Ibn Majjah : Kitab Thoharoh dan sunah-sunahnya, Bab wudhu dengan sisa kucing dan rukhshoh dalam hal itu, dari jalur Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Zaid bin Habbab dari Malik.

v  Shohih Ibn Hibban : Kitab Thoharoh, Bab sisa-sisa minuman, berkaiatan dengan khabar yang menunjukkan bahwa sisa minuman binatang buas semuanya suci dari jalur Al Fadhl bin Al Habbab dari Al Qo'nabi dari Malik.

v  Shohih Ibn Khuzaimah : Kitab Wudhu, dari jalur Yunus bin Abdula A'la dari Ibn wahab dari Malik.

v  Sunan Ad Darimi : Kitab Thoharoh, Bab kucing bila menjilati bejana dari jalur Al Hakam bin Al Mubarok dari Malik.

v  Mushonnaf Abdurrazzaq : Kitab Thoharoh, Bab sisa minuman kucing dari jalur Malik.

Dari Juraij dari Hisyam bin Urwah dari ishaq bin Abdullah dari istrinya dari ibunya bahwa ibunya mengabarinya bahwa Abu Qotadah mengunjungi mereka, lalu mereka menuangkan air wudhu untuknya, lalu mendekatlah kucing, maka ia miringkan bejana yang berisi air wudhunya, lalu kucingpun minum darinya, kemudian ia berwudhu dengan sisanya, maka mereka heran. Berkatalah Abu Qotadah : Sungguh aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya kucing tidaklah najis, karena termsuk binatang yang ada di sekeliling kalian".

v  Al Mustadrok : Kitab Thoharoh, dari jalur Abul Abbas dari Al Hasan bin Ali bin Affan dari Zaid bin Al habbab dari Malik.

Berkata Al Hakim : Ini adalah hadits shohih, tetapi Al Bukhori dan Muslim tidak mentakhrijnya, padahal keduanya menjadi syahid untuk Malik, bahwa ia adalah hakam dalam hal hadits orang-orang Madinah. Hadits ini termasuk yang dishohihkan oleh Malik dan dijadikan hujjah dalam Muwatho'nya. Hadits ini mempunyai syahid dengan isnad shohih.

[25] Al Ghozali adalah Zainuddin Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi'i, salah seorang alim, murid Imam Al Haramain, mengaranag berbagai karangan, disertai dengan ketelitian dan kecerdasan yang sangat dan secara global dinyatakan tidak ada seorang pun seperti dirinya. Meninggal tahun 505 H

[26] Al Baidhowi adalah Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Abul Khair, qodhi dari para qodhi, Nashiruddin Al Baidhowi. Dia adalah imam yang Sangay alim, mengerti fiqih, tafsir, bahasa arab, solí dan seorang yang zuhud dengan madzhab Syafi'i. meninggal tahun 685 H.

(10) Telah lalu derajat dan takhrijnya.

(11) Telah lalu derajat dan takhrijnya.

(12) Telah lalu derajat dan takhrijnya.

(13) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dari Abuz Zunad dari Al A'roj dari Abu Hurairoh.

Al Atsari : tak seorangpun penulis kutubus sittah yang meriwayatkan dengan sanad ini, yaitu dari jalur Sufyan bin Uyainah. Ahmad telah meriwayatkan dengan lafadz tujuh cucian sebagai ganti tujuh kali.

(14) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Malik dari Abuz Zunad dari Al A'roj dari Abu Hurairoh.

Al Atsari : Isnadnya musalsal dengan para tsiqoh. Abuz Zunad adalah Abdullah bin Dzakwan Al Qurasyi Abu Abdirrahman Al Madani adalah tsiqoh dan seorang faqih. Al A'roj Abdurrahman bin Hurmuz Abu Dawud Al Madani adalah tsiqoh, tsabit dan seorang alim. Isnad ini, yaitu Abuz Zunad dari Al A'roj dari Abu Hurairoh termasuk sanad yang tershohih. Al Hakim menukil dari Al Bukhori.

(15) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dari Ayyub bin Abu Tamimah dari Ibn Sirrin dari Abu Hurairoh.

Al Atsari : Mungkin keraguan di dalam riwayat Asy Syafii adalah dari Ayyub, karena Hisaym bin Hassan meriwayatkan dari Ibn Sirrin seperi dalam Muslim tanpa keraguan, sedangkan Hisyam bin Hassan lebih tsabit dibandingkan Ayyub dalam hal Ibn Sirrin. Al Hafidz dalam Al Fath mengatakan : Itu merupakan riwayat mayoritas dari Ibn Sirrin.

(16) Telah lalu derajat dan takhrijnya.

(17) Telah lalu derajat dan takhrijnya.