BEJANA

A. Yang terbuat dari kulit

Binatang yang tidak boleh dimakan

Syarat menyamak

Mencuci kulit setelah penyamakan

Pemanfaatan kulit yang telah disamak

Apakah boleh dimakan?

Rambut bangkai

Rambut, wol atau bulu binatang yang dicukur

Tulang bangkai

B. Yang terbuat dari selain emas dan perak.

Menyimpan bejana emas atau perak

Bejana bejana logam berharga

Emas yang ditempel

Berwudhu dari bejana emas dan perak

C. Bejana Orang Kafir

BEJANA

 

A. Yang terbuat dari kulit

[41] Dari Ibn Abbas bahwa Nabi SAW melewati kambing mati yang beliau berikan kepada maula Maimunah, lalu beliau bersabda, Kenapa kalian tidak mengambil kulitnya?! Mereka menjawab, Ini adalah bangkai, beliau bersabda, Yang diharamkan hanya memakannya. [1]

[42] Dari Ibnu Abbas mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Jika kulit binatang telah disamak maka ia menjadi suci." [2]

[43] Dari Aisyah bahwa Rosululloh SAW memerintahkan untuk menggunakan kulit bangkai yang sudah disamak. [3]

Imam Asy Syafii berkata : Boleh berwudhu dengan (bejana) kulit bangkai seluruhnya bila telah disamak. Kulit binatang yang haram dagingnya dari jenis binatang buas diqiyaskan padanya, kecuali kulit anjing dan babi. Keduanya tidak bisa suci dengan cara disamak, karena keduanya najis ketika hidupnya. Yang bisa suci dengan disamak hanyalah yang tidak najis ketika hidup.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Semua binatang yang najis karena mati dapat menjadi suci dengan penyamakan, selain anjing dan babi, berdasarkan

() sabda Rosululloh SAW, "Jika kulit binatang telah disamak maka ia menjadi suci".

Penyamakan akan menjaga kulit tetap baik dan layak untuk dimanfaatkan, seperti halnya kehidupan bisa menolak najis dari kulit. Adapun anjing, babi dan keturunannya, maka tidak bisa suci dengan penyamakan, karena penyamakan seperti kehidupan. Kehidupan tidak bias menolak najis dari anjing dan babi, maka demikian juga penyamakan. Al Mutawalli dan Ar Ruyani menceritakan satu pendapat bahwa kulit bangkai tidaklah najis. Berkata Aibnul Qotthon bahwa perintah menyamak hanyalah disebabkan adanya bau busuk yang ada di kulit, karena hal itu najis, sehingga diperintahkan untuk menyamak untuk menghilangkannya, sebagaimana pakaian dicuci dari najis. Pendapat ini sangat lemah dan syadz. Bagaimana mungkin ini benar padahal Nabi SAW bersabda, "Jika kulit binatang telah disamak maka ia menjadi suci". Bila ditanyakan : Dalam hadits tidak dinyatakan bahwa kulit itu najis daztnya, sehingga kesucian di dalam hadits dibawa pemahamannya pada kesucian dari najis yang berdekatan dengan bau busuk, sebagaimana dikatakan pakaian suci bila dicuci dari najis, maka dijawab : Takwil seperti ini jauh dari kebenaran, tak ada dalil yang menguatkannya dan tak ada pula hujjah yang dijadikan pegangan. Pengkhususan kulit bukan anggota dan bagian yang laijn merupakan bukti saling bertentangan.

Dalam hal penyamakan, ada beberapa madzhab.

1.       Tidak suci dengan penyamakan, berdasarkan riwayat Umar, Ibn Umar dan Aisyah. Ini merupakan salah satu pendapat Ahmad yang masyhur. Ahmad berhujjah dengan beberapa hal, di antaranya adalah firman Alloh :

"Diharamkan untuk kalian bangkai"

Ayat ini bersifat umum pada kulit dan lainnya.

() Dari Abdullah bin 'Akim berkata : Rosululloh SAW mendatangi kami sebelum meninggalnya sebulan untuk tidak memnafaatkan kulit bangkai.

Karena kulit termasuk bagian bangkai, sehingga tidak bias suci dengan apapun seperti dagingnya. Penyebab najisnya adalah kematian dan itu meniscayakan tidak hilang dengan penyamakan.

Jawaban terhadap hujjah mereka dengan ayat adalah bahwa ayat bersifat umum dan dikhususkan oleh Sunnah. Adapun hadits Abdullah bin 'Akim, diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Turmudzi, An Nasai dan lain-lain. Berkata At Turmudzi : Ini hadits hasan. Aku mendengar Ahmad bin Al Hasan berkata : Ahmad bin Hambal berpendapat dengan hadits Ibn 'Akim karena perkataannya sebelum wafat Rosululloh SAW dua bulan, dan ia mengatakan bahwa ini merupakan hal terakhir, lalu Ahmad bin Hambal meninggalkan hadits ini karena mereka menganggap mudhthorib sanadnya. Hadits ini diriwayatkan sebelum meninggal sebulan, riwayat lain dua bulan, riwayat lain empat puluh hari dan riwayat lain tiga hari. Berkata Al Baihaqi : Hadits ini mursal dan Ibn 'Akim bukalah sahabat. Berkata Al Khotthobi : madzhab umunya ulama adalah bolehnya menyamak dan mereka melemahkan hadits ini karena Ibn 'Akim tidak bertemu Nabi SAW. Itu hanyalah cerita dari kitab yang sampai kepada mereka dan menyatakan illatnya bahwa itu mudhthorib dan orang-orang majhul yang tidak tsabit sebagai sahabat.

Bila mereka katakan : Hadits kami lebih akhir, sehingga didahulukan, maka dijawab dari beberapa segi. Pertama, kami tidak menerima itu lebih akhir, karena itu mutlak, sehingga boleh sebagian sebelum wafat Nabi SAW kurang dari sebulan dan sebulan. Kedua, hadits diriwayatkan terkadang sebelum meninggal sebulan, dua bulan, empat puluh hari dan juga tiga hari. Ketiga, bila diterima juga bahwa itu lebih akhir, maka tak ada dalil di dalamnya, karena itu bersifat umum, sedangkan hadits-hadits kami bersifat khusus. Khusus didahulukan atas umum, baik lebih dahulu atau akhir.

Adapun qiyas terhadap daging, maka dijawab dari dua segi. Pertama, itu merupakan qiyas berhadapan dengan nash-nash, sehingga tidak perlu diperhatikan. Kedua, penyamakan daging tidak mungkin dan tak ada maslahatnya, bahkan merusaknya.

2.       suci dengan penyamakan terhadap kulit binatang yang boleh dimakan dagingnya. Ini merupakan madzhab Al Auza'i, Ibnul Mubarok, Abu Dawud dan Ishaq bin Rahawaih. Hujjahnya adalah :

() Dari Amir bin Utsamah dari bapaknya bahwa Rosululloh SAW melarang kulit binatang buas.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Turmudzi, An NAsai dan lain-lain dengan sanad shohih. Dalam riwayat At Tumudzi dan lain-lain disebutkan bahwa Rosululloh SAW melarang kulit binatang buas untuk dijadikan hamparan.

Bila bias suci dengan penyamakan, maka Nabi SAW tidak akan melarang untuk menjadikan hamparan secara mutlak.

() Dari Salamah bin Al Muhabbiq bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Penyamakan kulit bangkai adalah menyembelihnya"

Penyembelihan binatang yang tidak boleh dimakan tidak akan menyucikannya. Karena itu merupakan binatang yang tidak boleh dimakan, maka kulitnya tidak akan suci dengan penyamakan seperti halnya anjing.

Ashab berhujjah dengan hadits Ibn Abbas dan lain-lain. Hadits-hadits ini bersifat umum untuk semua kulit dan dikhususkan anjing dan babi dengan ijma ashab.

Hadit pertama dijawab dari dua segi. Terbaik dan tershohih adalah bahwa larangan untuk menjadikan kulit binatang buas hamparan hanyalah karena secara adat kulitnya tidak dihilangkan. Bila disamak, maka rambut tetap najis, karena rambut tidak menjadi suci dengan penyamakan menurut madzhab shohih, sehingga dilarang. Kedua, larangan dibawa pemahaman pada kulit sebelum disamak, tetapi jawaban ini dhoif, karena tidak ada artinya mengkhususkan binatang buas, bahkan semua kulit dalam hal ini sama.

Adapun hadits Salamah, maka dijawab bahwa maksud dari menyamak kulit adalah menyucikan dan membolehkan menggunakannya seperti sembelihan.

Adapun qiyas terhadap anjing, maka jawabannya bahwa anjing najis saat hidupnya, sehinga penyamakan tidak melebihi kehidupan.

3.       Semua kulit bangkai bias suci dengan penyamakan kecuali anjing dan babi dan keturunannya. Ini merupakan madzhab Asy Syafi'i.

4.       Semua bisa suci, tetapi hanya suci bagian luarnya saja bukan dalamnya, sehingga boleh dipakai saat kering bukan basah dan boleh sholat di atasnya bukan dengan memakainya. Ini merupakan madzhab Malik. Hujjahnya adalah bahwa penyamakan hanya berpengaruh pada bagian luar.

Ashab berhujjah dengan keumuman hadits-hadits shohih terdahulu. Ini umum dalam hal kesucian bagian luar dan dalam. Juga dengan hadits Saudah berkata, "Kambing kami mati, maka kami menyamak kulitnya, lalu kami selalu membuat perasan buah di dalamnya hingga menjadi griba". Ini jelas menunjukkan bahwa itu digunakan untuk cairan, padahal merreka tidak membolehkannya walaupun membolehkan minum air darinya, karena air tidak najis menurut mereka kecuali dengan adanya perubahan.

Ashab mengatakan bahwa sesuatu yang bagian luarnya suci, maka suci pula bagian dalamnya, seperti penyembelihan. Adapun perkataan mereka bahwa penyamakan hanya berpengaruh pada bagian luar, maka dijawab dari dua segi. Pertama, kami tidak terima, bahkan penyamakan berpengaruh pula pada bagian dalam juga dengan tercabutnya sisa-sisa daging dan keringnya basan yang bisa menyebabkan busuk. Kedua, itu menyalahi nash-nash shohih yang jelas.

5.       semua bisa suci dengan penyamakan kecuali kulit babi. Ini merupakan madzhab Abu Hanifah.

6.       Bisa suci dengan penyamakan semua kulit bangkai, baik bagian luar maupun dalam. Ini merupakan pendapat Dawud dan ahli dzahir.

Hujjah Abu Hanifah yang mengatakan kulit anjing suci dengan penyamakan kulit dan Dawud yang mengatakan babi juga adalah dengan keumuman hadits-hadits terdahulu dan dengan qiyas terhadap keledai dan lainnya. Ashab berhujjah bahwa kehidupan lebih kuat dibandingkan penyamakan dengan bukti bahwa itu menjadi sebab kesucian secara global, sedangkan penyamakan hanya menyucikan kulit. Bila kehidupan tidak bisa menyucikan anjing dan babi, maka penyamakan lebih lagi. Najis hilang hanyalah dengan menghilangkan bila najis mengenai sesuatu seperti pakaian yang terkena najis. Adapun bila itu najis dzatnya, maka tidak bisa hilang, seperti tinja dan tahi, maka demikian pula anjing.

Adapun hujjah mereka dengan hadits-hadits, maka ashab menjawab bahwa hadits bersifat umum yang dikhususkan dengan binatang selaian anjing dan babi. Jawaban lain untuk Abu Hanifah adalah bahwa kita sepakat mengeluarkan babi dari keumuman, sedangkan anjing semakna. Adapun qiyas mereka terhadap keledai, maka perbedaannya adalah bahwa keledai suci ketika hidupnya, maka penyamakan dikembalikan kepada aslinya.

7.       kulit binatang bias dimanfaatkan tanpa penyamakan dan boleh digunakan saat kering atau basah. Ini merupakan pendapat Az Zuhri. Hujjahnya adalah dengan riwayat Ibn Abbas, "Tidakkah kalian mengambil kulitnya, lalu kalian manfaatkan" tanpa menyebut penyamakan. Ashab menjawab bahwa riwayat ini bersifat mutlak, sehingga dibawa pemahamannya pada riwayat-riwayat shohih yang masyhur.

 

Binatang yang tidak boleh dimakan

Imam Asy Syafi'i berkata : Kulit binatang buas dan lain-lain yang tidak boleh dimakan dagingnya sama hukumnya, baik disembelih atau mati, karena penyembelihan tidak menghalalkannya. Bila semua itu telah disamak, maka menjadi suci, karena itu searti dengan kulit bangkai, kecuali anjing dan babi, karena keduanya tidak akan menjadi suci dengan kondisi apapun selamanya.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkata Imam Al Haramain : Tidak bersandar pada pemeriksaan mendalam kecuali mdzhab Asy Syafi'i, karena orang yang berpendapat bahwa penyamakan hanya berpengaruh pada binatang yang boleh dimakan bergantung pada kekhususan sebab dalam hadits Kambing Maimunah, padahal hal itu tidak shohih, karena lafadznya umum. Abu Hanifah mengarahkan madzhabnya dalam hal babi karena mengamalkan keumuman dan tidak nampak membedakan antara anjing dan babi.

Adapun Asy Syafi'i, maka ia melihat apa yang diperintahkan oleh syara' berupa penggunaan benda-benda yang boleh seperti daun salam dan menyelami maknanya bahwa sebab kenajisan kulit karena mati adalah bahwa hal itu karena terputusnya kehidupan yang menyebabkan membusuk dan berbau, sehingga bila disamak, maka tidak akan mengalami perubahan. Membawa pemahaman lafadz pada kekhususan sebab adalah tidak benar. Penyamarataan juga tidak boleh berdasarkan apa yang telah disebutkan dalam hal babi. Penyamakan mengarahkan pada makna yang menyamakan binatang yang disamak dengan binatang ketika hidupnya, karena kehidupan menghalangi pembusukan, sedangkan kematian menyebabkannya. Penyamakan mengembalikannya pada persamaan dengan kehidupan dalam hal terhindar dari perubahan. Semua binatang yang saat hidupnya itu suci maka dengan penyamakan kulitnya kembali suci, sedangkan semua yang najis tidak akan bisa disucikan. Lalu telah pasti kenajisan anjing karena kenajisan liurnya.

 

Syarat menyamak

Imam Asy Syafi'i berkata : Penyamakan dilakukan dengan segala sesuatu yang digunakan oleh orang arab untuk menyamak, berupa daun salam, pohon syabb ([4]) dan segala sesuatu fungsinya sama untuk menyamak, berupa segala sesuatu yang menyebabkan kulit tidak berubah hingga menghilangkan sisa-sisanya, menjadikannya wangi dan mencegah dari kerusakan bila terkena air. Kulit bangkai tidak menjadi suci dengan penyamakan kecuali seperti yang aku jelaskan. Bila rambutnya rontok, maka rambutnya najis. Bila kulit disamak, tetapi meninggalkan rambut ada pada kulit, lalu air mengenai rambut itu, maka air manjadi najis. Bila air ada di bagian dalam, sedangkan rambut di bagian luar, maka air tidak menjadi najis bila air tidak menyentuh rambut itu. Adapun kulit dari semua binatang sembelihan yang boleh dimakan dagingnya, maka tidak apa-apa digunakan untuk minum dan berwudhu bila belum disamak, karena suci karena penyembelihan ada padanya.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Penyamakan boleh dilakukan dengan segala benda yang menghilangkan sisa-sisa kulit, membuat wangi da mencegah kerusakan kulit, seperti syats, daun salam dan lain-lain yang fungsinya sama, karena :

() Nabi SAW bersabda, "Bukankah air dan daun salam dapat menyucikannya?"

Nabi SAW menyatakan daun salam, karena daun salam dapat memperbaiki kulit dan membuat wangi, sehingga boleh dengan segala sesuatu yang berfungsi sama.

Berkata An Nawawi : Asy Syafi'I mengatakan dengan syabb. Ada yang mengatakan keduanya, namun dengan apapun itu, penyamakan boleh. Al Qodhi Abuth Thoyyib dan lain-lain menyatakan bahwa boleh dengan syabb dan syats. Tak ada perselisihan dalam hal ini. Syabb dan syats tidak ada dalam hadits penyamakan, tetapi itu hanyalah perkataan Asy Syafi'I, karena Asy Syafi'I berkata : Penyamakan dilakukan dengan segala sesuatu yang digunakan oleh orang arab untuk menyamak, berupa daun salam, pohon syabb dan segala sesuatu fungsinya sama untuk menyamak. Inilah yang benar, tetapi penulis Al Hawi dan lainnya mengatakan bahwa dalam hadits ada pernyataan syats dan daun salam.

Berkata Al Qodhi Abuth Thoyyib : Penyamakan boleh dengan segala sesuatu yang fungsinya sama dengan syabb dan daun salam, seperti kulit delima dan lain-lain, dengan ketentuan dapat membersihkan sisa-sisa, mengeluarkannya dari bagian dalam kulit, menghindarkan kulit dari kerusakan. Inilah madzhab yang benar, yang telah dinyatakan oleh Asy Syafi'i.

Penyamakan tidak tercapai dengan menjemur kulit, juga tidak dengan debu. Berkata Abu Ali Ath Thabari : Asy Syafi'i menyatakan bahwa penyamakan tidak tercapai dengan debu dan abu. Namun Al Qodhi menyanggahnya dan mengatakan bahwa Asy Syafi'i tidak menyatakannya.

Bila penyamakan dilakukan dengan benda najis, seperti tahi burung, atau dengan benda yang terkena najis, seperti daun salam yang terkena najis, atau dengan air najis, maka apakah penyamakan itu tercapai? Dalam hal ini ada dua pendapat masyhur. Pendapat yang paling shohih adalah tercapai, karena tujuannya adalah membuat wangi kulit dan membuang sisa-sisa. Tujuan ini tercapai dengan benda najis, seperti juga dengan benda suci. Namun wajib mencucinya estela penyamakan tercapai.

 

Mencuci kulit setelah penyamakan

Apakah perlu dicuci setelah penyamakan? Dalam hal ini ada dua pendapat masyhur.

Pertama, tidak perlu, karena kesuciannya tergantung pada perubahan dan hal itu terlah tercapai sehingga menjadi suci seperti khamr bila berubah menjadi cuka. Di antara ashab yeng berpendapat seperti ini adalah Ibnul Qosh dan Al Baghowi.

Kedua, berkata Abu Ishaq : tidak suci hingga dicuci dengan air, karena benda yang digunakan untuk menyamak terkena najis dengan bersentuhan dengan kulit. Bila kenajisan kulit hilang, maka kenajisan benda yang digunakan untuk menyamak masih, sehingga wajib mencuci hingga suci. Wajib mencucinya setelah menyamak bila disamak dengan benda najis. Demikian juga bila disamak dengan benda suci menurut pendapat paling shohih.

Wajibnya penggunaan air di tengah-tengah penyamakan ada dua pendapat, namun menurut pendapat yang paling shohih tidak perlu. Berkata Imam Al Haramain : Ini merupakan pendapat para muhaqqiq.

 

Pemanfaatan kulit yang telah disamak

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila kulit telah suci, maka boleh sholat dengan memakainya dan menjadikannya hamparan.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila kulit telah disamak, maka boleh dimanfaatkan, berdasarkan :

() sabda Rosululloh SAW, "Tidakkah kalian mengambil kulitnya, lalu menyamakanya, kemudian kalian manfaatkan"

Dalam Al Kifayah : Bila kulit telah disamak, maka suci bagian luarnya dan demikian juga bagian dalamnya menurut qoul jadid yang masyhur, sehingga boleh dipakai untuk sholat dan untuk hamparan, boleh digunakan untuk segaala sesuatu yang basah dan kering, boleh menjualnya, menghibahkan dan mewasiatkan, namun apakah boleh memakannya bila termasuk binatang yang boleh dimakan?

 

Apakah boleh dimakan?

Dalam Al Muhazzab : Bila termasuk binatang yang boleh dimakan, maka ada dua pendapat. Dalam qodim dinyatakan tidak boleh berdasarkan sabda Rosululloh SAW, "Bangkai hanya diharamkan memakannya", sedangkan dalam jadid boleh karena itu kulit yang suci dari binatang yang boleh dimakan, sehingga serupa dengan kulit sembelihan. Berkata An Nawawi : Dua pendapat ini masyhur. Paling shohih menurut mayoritas adalah qoul qodim, yaitu haram berdasarkan hadits. Sekelompok ulama menshohihkan pendapat jadid, yaitu halal dimakan. Di antaranya Al Qoffal, Al Furani, Ar Ruyani dan Al Jurjani.

Adapun kulit binatang yang tidak boleh dimakan, maka menurut madzhab haram dimakan. Ini yang diputuskan oleh Al Qodhi Abuth Thoyyib, Al Muhamili, Ad Darimi, Al Baghowi dan lain-lain.

Rambut bangkai

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila rambutnya rontok, maka rambutnya najis. Bila kulit disamak, tetapi meninggalkan rambut ada pada kulit, lalu air mengenai rambut itu, maka air manjadi najis.

Fukaha Syafi'iyyah : Madzhab menyatakan najisnya rambut bangkai selain manusia dan sucinya rambut manusia. Berkata Al Qodhi Abuth Thoyyib dan lainnya : Rambut, bulu, wol, tulang, tanduk dan kuku adalah bagian yang dilalui kehidupan dan najis karena mati. Ini yang diriwayatkan oleh Al Buwaithi, Al Muzanni, Ar Robi' dan Harmalah. Ibrohim Al Balidi meriwayatkan dari Al Muzanni dari Asy Syafi'i bahwa ia menarik pendapat najisnya rambut manusia. Ini yang dinyatakan dalam qoul jadid. Ini berkaitan dengan rambut bangkai manusia. Bila rambut manusia terlepas saat hidup, maka suci menurut pendapat yang paling shohih karena kemuliaan manusia, sering terjadi dan susah menghindari. Adapun bagian tubuh manusia yang terpisah seperti tangan dan kukunya, maka menurut pendapat shohih adalah suci.

Dalam Al Muhazzab : Bila kulit bangkai telah disamak, tetapi ada rambutnya, maka kata Asy Syafi'i dalam Al Umm : tidak suci, karena penyamakan tidak berpengaruh dalam menyucikan rambut. Ar Robi' bin Sulaiman meriwayatkan dari Asy Syafi'i bahwa itu suci, karena itu merupakan rambut yang tumbuh di kulit, sehingga seperti kulit dalam hal kesucian. Berkata An Nawawi : Pendapat yang paling shohih menurut mayoritas adalah tidak suci. Namun menurut Al Qodhi Husain, Al Jurjani dan lainnya dimaafkan rambut sedikit yang tersisa di kulit dan dihukumi suci karena mengikuti. Dalam Al Manzhumah :

Sedikit rambut di kulit yang disamak

Dihukumi suci dalam teks dalam Ar Roudhoh

Hujjah yang menunjukkan najisnya rambut adalah :

() Dari Abul Malih Amir bin Suma dari bapaknya bahwa Rosululloh SAW melarang kulit binatang buas.

() Dari Al Miqdam bin Ma'dikarib bahwa ia berkata kepada Muawiyyah, "Apakah engkau tahu bahwa Rosululloh SAW melarang memakai kulit binatang buas da menungganginya?", jawabnya, "Ya"

() Dari Muawiyyah bahwa ia berkata kepada pera sahabat Nabi SAW, "Apakah kalian tahu bahwa Rosululloh SAW melarang menunggangi kulit singa?", mereka menjawab, "Ya".

Hadits-hadits ini dan lainnya dijadikan hujjah oleh sekelompok ashab bahwa rambut tidak suci dengan penyamakan, karena larangan terjadi setelah penyamakan dan tidak boleh larangan dikembalikan pada kulit, karena kulit telah suci dengan penyamakan berdasarkan dalil-dalil yang lalu. Larangan itu hanya dikembalikan pada rambut.

Bila seseorang lihat rambut yang tidak diketahui suci atau najis, maka kata Al Mawardi : Bila ia tahu itu dari binatang yang boleh dimakan makan suci berdasarkan asal, tetapi bila ia tahu itu dari binatang yang tidak boleh dimakan, maka najis, karena tidak ada kemungkinan kesuciannya. Bila ragu, maka ada dua pendapat berdasarkan perselisihan ashab apakah asal segala sesuatu itu boleh atau haram. Ada kemungkinan najisnya binatang yang boleh dimakan, karena ia tidak tahu apakah diambil ketika hidup atau setelah mati. Berkata An Nawawi : Namun kemungkinan ini salah, karena kita yakini kesuciannya dan tidak bertentangan dengan asal dan juga lahiriah. Perkataan bila ragu ada dua pendapat, maka pendapat yag terpilih adalah suci, karena kita yakin kesuciannya saat hidup dan tidak bertentangan dengan asal dan juga lahiriah. Adapun kemungkinan itu rambut anjing atau babi, maka itu dhoif, karena sangat jarang.

Rambut, wol atau bulu binatang yang dicukur

Bila rambut, wol atau bulu dicukur dari binatang yang boleh dimakan, maka itu suci berdasarkan nash Al Quran dan ijma ummat. Berkata Imam Al Haramain : Qiyas menyatakan najisnya seperti bagian-bagian tubuh lain yang terpisah saat masih hidup, tetapi ummah sepakat tentang kesuciannya, karena adanya kebutuhan untuk pakaian dan hamparan.

Bila rambut, wol atau bulu binatang yang boleh dimakan terpisah sendiri atau dicabut saat masih hidup, maka dalam hal ini ada beberapa pendapat. Pendapat yang shohih dan telah diputuskan oleh Imam Al Haramain, Al Baghowi dan mayoritas adalah suci. Kedua, najis, baik terpisah sendiri atau dicabut, karena sesuatu yang terpisah saat hidup itu bangkai. Ini merupakan pendapat Ar Rofi'i dan lain-lain. Ketiga, bila jatuh sendiri, maka suci, tetapi bila dicabut, maka najis, karena itu beralih dari cara yang disyariatkan dan bila di dalamnya mengandung unsur menyakiti binatang, maka itu seperti mencekiknya. Ini merupakan pendapat Al Qodhi Husain, Al Mutawalli, Ar Ruyani dan lain-lain. Pendapat terbaik adalah yang diputuskan oleh mayoritas, yaitu suci secara mutlak, karena hal itu searti dengan mencukur.

Bila rambut, wol dan bulu binatang yang tidak boleh dimakan dicukur, jatuh sendiri atau dicabut, maka ashab sepakat bahwa itu seperti hukum rambut bangkai, karena sesuatu yang terpisah saat hidup adalah bangkai.

 

Tulang bangkai

Imam Asy Syafii berkata : Tidak boleh berwudhu dan minum pada tulang bangkai dan juga tulang binatang sembelihan yang dagingnya tidak boleh dimakan, seperti tulang gajah, singa dan semisalnya, karena samak dan mencuci tidak dapat menyucikan tulang.

[44] Dari Abdullah bin Dinar bahwa dia mendengar Ibn Umar memakruhkan berminyak dari tulang gajah, karena itu bangkai.

Fukaha Syafi'iyyah : Adapun tulang, gigi dan kuku, maka menurut ashab najis. Ashab berhujjah dengan friman Alloh :

 

"Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan melupakan penciptaannya. Ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?"

Ayat menetapkan kehidupan bagi tulang, lalu menunjukan kematiannya, sedangkan bangkai adalah najis. Asy Syafi'I berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Dinar dari Ibn Umar bahwa ia memakruhkan berminyak dari tulang gajah, karena itu adalah bangkai. Salaf memutlakan arti makruh, padahal yang mereka maksudkan adalah haram.

B. Yang terbuat dari selain emas dan perak.

Imam Asy Syafii berkata : Aku tidak membenci berwudhu dari bejana batu, besi, timah atau lainnya, kecuali bejana emas dan perak.

[44] Dari Ummu Salamah, bahwa Nabi SAW bersabda, Orang yang minum dengan bejana dari perak sungguh ia hanyalah memasukkan api jahannam ke dalam perutnya"[5]

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Dimakruhkan menggunakan bejana emas dan perak, berdasarkan :

() hadits Hudzaifah bin Al Yaman bahwa Nabi Saw bersabda, "Janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak. Jangan pula kalian makan dari piring keduanya, karena itu bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat"

Apakah kemakruhan itu tanzih atau haram? Dalam hal ini ada dua pendapat. Asy Syafi'i dalam qoul qodim mengatakan makruh tanzih, karena larangan itu hanya disebabkan sikap menghambur-hamburkan, kesombongan dan meniru orang-orang Ajam, dan ini tidak meniscayakan keharaman. Sedangkan dalam qoul jadid makruh haram. Inilah yang shohih, berdasarkan :

() sabda Rosululloh SAW, "Orang yang minum dari bejana emas dan perak hanyalah telah memasukkan api neraka ke dalam perutnya"

Nabi SAW mengancam dengan neraka, maka itu menunjukakn bahwa itu haram.

Berkata An Nawawi : Penggunaan bejana dari emas atau perak itu haram menurut madzhab shohih masyhur. Demikian yang ditetapkan oleh mayoritas ulama. Penulis Al Muhazzab menceritakan pendapat qodim bahwa itu dimakruhkan dengan makruh tanzih, tetapi tidak haram. Namun kebanyakan ulama Khurasan mengingkari qoul ini. Sebagian mereka mentakwil bahwa yang Asy Syafi'i maksudkan adalah bahwa yang diminum itu sendiri tidaklah haram. Penulis At Taqrib menyebutkan bahwa maksud konteks perkataan Asy Syafi'i dalam qoul qodimnya adalah emas dan perak yang dijadikan bejana tidaklah diharamkan dan karena inilah maka hiasan tidak haram bagi perempuan. Orang yang memastikan adanya aoul qodim mengakui kedhoifannya dan hal naql dan dalil. Cukuplah kedhoifannya dengan pertentangan terhadap hadits-hadits shohih, seperti hadits Ummu Salamah dan lain-lain. Perkataan larangan itu hanya disebabkan sikap menghambur-hamburkan dan kesombongan, dan ini tidak meniscayakan keharaman tidaklah benar, bahkan itu meniscayakan keharaman. Berapa banyak dalil yang menunjukkan haramnya kesombongan.

Ashab menceritakan pendapat Dawud bahwa yang diharamkan hanyalah minum, bukan makan, bersuci dan lain-lain. Pendapat ini sangat keliru, karena dalam hadits Ummu Salamah dan Hudzaifah terdapat pernyataan yang jelas tentang larangan makan dan minum. Ummah sepakat tentang keharaman makan, minum dan lain-lain penggunaan bejana emas atau perak, kecuali pendapat Dawud dan qoul qodim Asy Syafi'i.

Adapun sabda Rosululloh SAW, "Orang yang minum dari bejana perak", tetapi tidak menyebutkan makan, maka dijawab dengan beberapa hal. Pertama, makan disebutkan dalam hadits Hudzaifah. Kedua, larangan minum merupakan peringatan terhadap penggunaan untuk segala hal, karena searti, sebagaimana firman Alloh :

"Janganlah kalian makan riba"

Semua jenis penguasaan searti dengan makan berdasarkan ijma dan peringatan dengan makan hanyalah karena makan merupakan hal yang umum.

Keharaman menggunakan bejana emas dan perak sama untuk laki-laki dan perempuan. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah dalam hal hiasan untuk tujuan berhias dan mempercantik diri di hadapan suami. Keharaman juga sama untuk semua macam penggunaan, baik bejana kecil atau besar. Haram menghiasi toko, rumah dan majlis dengan bejana emas dan perak berdasarkan madzhab shohih masyhur.

 

Menyimpan bejana emas atau perak

Apakah boleh mengambil bejana emas atau perak dan menyimpannya tanpa menggunakan? Dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, boleh, karena syariat hanya melarang menggunakan bukan menyimpan. Kedua, tidak boleh, karena seuatu yang tidak boleh digunakan tidak boleh juga menyimpannya. Inilah pendapat yang paling shohih.

 

Bejana bejana logam berharga

Apakah boleh menggunakan bejana dari logam berharga seperti yaqut, fairuzaj, aqiq dan lain-lain? Dalam hal ini ada dua pendapat. Harmalah meriwayatkan bahwa itu tidak boleh, karena itu melebihi emas dan perak dalam hal sikap menghambur-hamburkan, sehingga keharamannya lebih sesuai. Al Muzanni meriwayatkan bahwa itu boleh. Inilah pendapat paling shohih sesuai kesepakatan ashab. Bila dikatakan tidak haram, maka itu makruh.

 

Emas yang ditempel

Imam Asy Syafi'i berkata : Aku memakruhkan bejana yang ditempel dengan perak.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Adapun bejana yang ditempel dengan emas, maka itu haram, baik sedikit maupun banyak, berdasarkan sabda Rosululloh SAW tentang emas dan sutera :

() "Dua benda ini haram untuk laki-laki, tetapi halal untuk perempuan"

Adapun bejana yang ditempel dengan perak, ashab berselisih.

Pertama, bila sedikit karena ada kebutuhan, maka tidak makruh, berdasarkan :

() Dari Anas bahwa gelas SAW pecah, lalu bagian yang pecah ditempeli dengan perak"

Bila untuk perhiasan, maka makruh, karena hal itu tidak dibutuhkan, tetapi tidak haram.

() Dari Anas bahwa pegangan pedang Rosululloh SAW dari perak.

Bila banyak karena ada kebutuhan, maka makruh karena banyaknya, tetapi tidak haram karena ada kebutuhan. Bila banyak untuk perhiasan, maka haram, berdasarkan :

() Ibn Umar berkata, "Tidak boleh berwudhu dan tidak boleh juga minum dari gelas yang terdapat perak atau dotempeli perak"

() Dari Aisyah bahwa ia melarang menempeli gelas dengan perak.

Kedua, haram pada tempat mimum, karena berlaku arti penggunaan, tetapi tidak haram untuk selain itu, karena tidak berlaku arti penggunaan. Ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al Marwazi.

Ketiga, makruh tetapi tidak haram berdasarkan hadits Anas tentang pedang Rosululloh SAW. Ini adalah pendapat Abu Ali Ath Thobari dan lain-lain.

Keempat, haram untuk semua kondisi berdasarkan riwayat dari Ibn Umar dan Aisyah di atas.

Pendapat yang paling shohih adalah pendapat pertama, yang merupakan pendapat masyhur menurut ulama Iraq dan telah ditetapkan oleh mayoritas, seperti Asy Syaikh Abu Hamid, Al Muhamili, Al Mawardi, Asy Syaikh Nashr Al Maqdisi dan lain-lain. Mereka membawa pemahaman teks Asy Syafi'I pada pendapat pertama.

Kriteria banyak menurut pendapat masyhur adalah yang menyeluruh satu bagian bejana, seperti bagian atasnya, atau bawahnya. Sedikit adalah yang kurang dari itu. Ini yang ditetapkan oleh Al Furani, Al Mutawalli, Al Baghowi dan lain-lain.

Bila bejana dari emas atau perak disepuh dengan timah di bagian dalam dan luarnya, maka ada dua pendapat masyhur. Pendapat yang paling shohih adalah tidak haram. Ini didasarkan pada kaidah bahwa emas dan perak haram karena bendanya atau karena kesombongan. Bila dikatakan karena bendanya, maka haram, tetapi bila tidak, maka tidak haram. Berkata Imam Al Haramain : Bila ditutup bagian dalam dan luarnya, maka menurutku pasti boleh menggunakannya, karena itu adalah bejana timah di permukaan dan emas tersembunyi.

 

Berwudhu dari bejana emas dan perak

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang berwudhu atau minum dari bejana itu, maka aku membencinya, namun tidak aku perintahkan untuk mengulangi wudhu. Aku tidak menganggap air yang diminum dan juga makanan yang dimakan dari bejana itu haram, hanya saja perbuatan minum dari bejana itu maksiat.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila berwudhu dari bejana itu, maka sah wudhunya, karena wudhu adalah mengalirkan air ke anggota-anggota badan dan hal itu bukanlah maksiat, tetapi maksiat hanyalah karena menggunakan peralatan itu. Bila makan atau minum dari bejana itu, maka makanan dan minuman itu tidaklah haram, karena larangan untuk peralatan itu bukan apa yang ada di dalamnya.

 

C. Bejana Orang Kafir

Imam Asy Syafi'i berkata : Tidak apa-apa berwudhu dari air orang musyrik dan sisa air wudhunya, selama tidak diketahui ada najis di dalamnya, karena air itu suci hingga diketahui ada najis yang mencampurinya.

[45] Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya bahwa Umar bin Al Khotthob berwudhu dari air Nasrani di dalam bejana.

Fukaha Syafi'iyyah : Dimakruhkan menggunakan bejana orang musyrik dan pakaian mereka, berdasarkan riwayat :

() Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani berkata : Aku bertanya kepada Rosululloh SAW, "Ya Rosululloh, kami berada di tempat tinggal Ahlul Kitab dan kami makan dari bejana mereka", maka jawab Rosululloh SAW, "Jangan kalian makan dengan bejana mereka kecuali kalian tidak mendapatkan lain, maka cucilah dengan air lalu makanlah dengan bejana mereka"

Karena mereka tidak menjauhi najis, sehingga dimakruhkan. Bila berwudhu dari bejana mereka, maka ditinjau. Bila mereka termasuk orang-orang yang tidak melakukan ritual keagamaan dengan menggunakan najis, maka sah wudhunya, karena :

() Dari Imron bahwa Nabi SAW berwudhu berwudhu dari kantong perbekalan orang musyrik.

() Umar berwudhu dari bejana Nasrani.

Pada dasarnya bejana mereka itu suci. Bila mereka termasuk orang-orang yang melakukan ritual keagamaan dengan najis, maka ada dua pendapat. Pertama, sah wudhunya karena pada dasarnya bejana mereka suci. Kedua, tidak sah, karena mereka melakukan ritual keagamaan dengan menggunakan najis, sebagaimana kaum muslim melakukan ritual dengan air suci, sehingga lahiriahnya bejana dan pakaian mereka itu najis. Pendapat yang shohih sesuai kesepakatan ashab adalah sah wudhunya. Ini dinyatakan oleh Asy Syafi'i dalam Al Umm, Harmalah dan qoul qodim.

Ashab menceritakan dari Ahmad dan Ishaq bahwa bejana orang kafir najis, berdasarkan :

"Orang-orang musyrik itu najis"

dan hadits Abu Tsa'labah dan sabda Rosululloh SAW, "cucilah".

Ashab berhujjah dengan firman Alloh :

"Dan makanan orang-orang yang diberikan Al Kitab halal bagi kalian"

telah diketahui bahwa makanan mereka dimasak di periuk mereka dan disentuh dengan tangan mereka.

Dan hadits Imron dan Umar yang lalu. Rosululloh SAW mengizinkan orang kafir masuk masjid. Bila mereka najis, maka beliau tidak akan mengizinkan. Ashab menjawab hujjah Ahmad dan Ishaq dengan ayat :

Pertama, maksudnya orang-orang musyrik itu najis adalah agama dan keyakinan mereka, bukan maksudnya badan dan bejana mereka, dengan dasar bahwa Nabi SAW mengizinkan mereka masuk masjid, menggunakan bejana mereka dan memakan makanan mereka.

Adapun hadits Abu Tsa'labah maka dijawab bahwa pertanyaan berkaitan tentang bejana yang digunakan untuk memasak daging babi dan minum khamr. Jawaban lain adalah dibawa pemahamannya pada kesunnahan. Hal ini dibuktikan dengan larangan Nabi SAW menggunakannya padalah ada bejana lainnya.

 

 

 

 

 

 



(41) Al Atsari : shohih.

Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Ibn Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibn Abbas.

(42) Al Atsari : hasan.

Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Sufyan bin Uyainah dari Zaid bin Islam bahwa ia mendengar Ibn Wa'lah mendengar dari Ibn Abbas.

(43) Al Atsari : doif.

Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Malik dari Ibn Qusaith dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban dari ibunya dari Aisyah.

[4] Berkata Ibnul Mulaqqin : Diperlisihkan tentang syabb dana perkataan Asy Syafi'i, apakah dengan ba' atau dengan tsa'. Maka kata Al Azhari : itu dengan ba', yaitu termasuk jauhar yang dijadikan Alloh di bumi yang digunakan untuk menyamak dan menyerupai asam belerang. Mnurut sima'i adalah dengan ba', tetapi sebagian orang salah menulis dengan tsa', yaitu pon yang pahit rasanya, tetapi aku tidak tahu apakah digunakan untuk menyamak atau tidak. Dalam Ash Shohhah : Syats dengan tsa', yaitu tumbuhan yang wangi baunya pahit rasanya digunakan untuk menyamak. (Al Badrul Munir)

Berkata An Nawawi dalam Al Majmu : Imam Abul Faraj Ad Darimi menyebut dengan tsa'. Pada ta'liq Asy Syaikh Abu Hamid berkata ashab : Syats dengan tsa'. Asy Syafi'I mengatakan dengan syabb. Ada yang mengatakan keduanya, namun dengan apapun itu, penyamakan boleh. Al Qodhi Abuth Thoyyib dan lain-lain menyatakan bahwa boleh dengan syabb dan syats. Tak ada perselisihan dalam hal ini.

(44) Al Atsari : shohih.

Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini Malik dari Nafi dari Zaid bin Abdullah bin Umar dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar dari Ummu Salamah.