NAJIS

 

Benda-benda yang merupakan najis

1. Segala yang keluar dari 2 kemaluan adalah najis, kecuali mani

1. Kencing dan tinja manusia.

Menyucikan tanah yang terkena kencing

Najis yang berbetuk

Bahan bangunan dari bahan yang bercampur kencing

2. Rautsah

3. Madzi

4. Wadi

5. Darah haid dan nifas

6. Basahan vagina

Mani tidak najis

Hadits tentang kesucian mani

Secara akal mani tidak najis

Aisyah mencuci mani

2. Bangkai

3. Anjing dan babi

Apakah babi najis?

Cara menyucikan bejana yang bercampur najis anjing dan babi

Bila tidak menemukan debu

Istidlal

1. Membandingkan anjing dan babi dengan bangkai atau darah

2. Membandingkan anjing dan babi dengan keledai dan binatang buas lain

Yang menajiskan pada suatu hal tetap menajiskan, baik di pedalaman atau perkotaan, sedikit atau banyak.

4. Darah

Sedikit darah yang dimaafkan

1. Darah dari binatang yang tidak mengalir darahnya

2. Darah bisul

3. Darah haidh dan mimisan

4. Darah di gusi

5. Segala sesuatu yang keluar dari lambung secara yakin, seperti muntahan walaupun tidak mengalami perubahan

6. Empedu dan susu dari binatang yang tidak boleh dimakan

7. Cairan yang memabukkan

8. Cairan dari cacar

9. Anggota badan binatang yang terpotong

 

 

 

 

 

 

 

NAJIS

Membersihkan najis dari badan, pakaian dan tempat shalat hukumnya adalah wajib berdasarkan firman Allah Taala, Dan pakaianmu maka sucikanlah, (QS. Al-Muddatstsir: 4) dan juga berdasarkan hadits-hadits yang akan datang.

 

Benda-benda yang merupakan najis

Berkata Asy Syaikh Asy Syirazi dalam Al Muhazzab : Najis itu kencing, tinja, muntahan, madzi, wadi, mani dari selain manusia, darah, nanah, cairan dari cacar, segumpal darah, bangkai, khamr, nabidz, anjing, babi, keturunan dari keduanya dan keturunan dari salah satunya, susu dari binatang yang tidak dimakan dagingnya selain manusia, basahan vagina dan segala sesuatu yang terkena najis dengan semua itu.

 

1. Segala yang keluar dari 2 kemaluan adalah najis, kecuali mani

1. Kencing dan tinja manusia.

[20] Dari Abu Hurairoh berkata : Seorang pedalaman masuk masjid, katanya, "Ya Alloh, berilah rahmat kepadaku dan Muhammad, janganlah Engkau berikan rahmat kepada siapapun", maka Rosululloh SAW bersabda, "Sungguh engkau telah menghalangi rahmat yang luas". Tidak lama ia kencing di penjuru masjid. Rosululloh SAW memerintahkan para shahabat untuk mengambil satu timba besar berisi air lalu menuangkannya di atas kencing tersebut. [1]

[21] Dari Yahya bin Sa'id berkata : Aku mendengar Anas bin Malik berkata, "Seorang pedalaman kencing di masjid. Rosululloh SAW bersabda, "Tuangkan padanya setimba air". [2]

 

Menyucikan tanah yang terkena kencing

Imam Asy Syafii berkata : Bila tanah dikencingi, dan tanah tersebut kering, lalu dituangkan air yang menggenanginya hingga kencing meresap ke dalam tanah dan air mengalir ke tempat kencing tersebut dan menghilangkan baunya, sehingga tak ada bentuknya, tak ada pula baunya, maka tanah menjadi suci.

Bila seseorang kencing pada kencing orang lain, maka tidak dapat disucikan kecuali dengan dua timba. Bila ada dua orang bersamanya, maka dapat disucikan dengan tiga timba. Bila mereka banyak, maka tempat kencing tidak dapat disucikan hingga dituangkan padanya air dengan timba yang besar.

Bila pada tempat kencing dituangkan khmar, seperti dituangkan juga kencing, keduanya tidak berbeda dalam jumlah air yang harus dituangkan. Bila warna dan baunya hilang dari tanah, maka sucilah tanah tersebut.

Bila hilang warnanya, namun baunya tidak hilang, maka dalam hal ini ada dua pendapat :

Pertama, tanah tak akan suci hingga hilang baunya. Yaitu bila bau khamr masih ada, maka dia seperti halnya warna dan bentuk, tanah tidak menjadi suci kecuali dituangkan air sampai hilang baunya. Bila hilang baunya tanpa menuangkan air, maka tidak menjadi suci sampai dituangkan air sebanyak air yang dapat menyucikan kencing.

Kedua, bila dituangkan air sekedar bisa menyucikannya dan hilang warna dan bau, maka sucilah tanah itu.

Bila khamr yang dituangkan ke tanah banyak, maka itu seperti banyaknya kencing sebagaimana telah dijelaskan, jumlah air ditambah sebagaimana terhadap kencing bila banyak. Bila ada bangkai di atas tanah, lalu ada yang mengalir dari bangkai itu, sehingga bentuknya hilang, maka dituangkan air pada yang keluar itu seperti halnya pada kencing dan khmar.

Bila dituangkan ke tanah sesuatu yang cair seperti kencing, khamr, nanah dan yang serupa, lalu hilang bekas, warna dan baunya, baik dijemur di bawah matahari atau tidak, maka sama saja, tidak menjadi suci kecuali dtuangkan air padanya. Bila hujan turun mengenai tanah itu dan lebih banyak dari jumlah air yang dapat menyucikannya, maka hujan menyucikannya.

Fukaha Syafi'iyyah : Kencing itu najis berdasarkan :

() Sabda Rosululloh SAW, "Bersihkan diri kalian dari kencing, karena kebanyakan adzab kubur disebabkan kencing"

() Dari Anas bin Malik bahwa seorang pedalaman kencing di masjid, lalu Nabi SAW memerintahkan untuk mengambil setimba pebuh air lalu menyiramnya"

Berkata An Nawawi dalam Al Majmu : Adapun hukum kencing, maka ada empat macam, yaitu kencing manusia dewasa, kencing anak kecil yang belum makan, kencing binatang yang boleh dimakan dan kencing binatang yang tidak boleh dimakan. Semua itu najis menurut kami dan menurut mayoritas ulama. Kencing manusia dewasa najis berdasarkan ijma muslimin yang telah dinukil oleh Ibnul Mundzir, sahabat-sahabat kami dan lain-lain. Dalilnya adalah hadits-hadits. Adapun kencing anak kecil yang belum makan, maka itu najis menurut kami dan menurut mayoritas ulama, tetapi Al Abdari dan penulis Al Bayan menceritakan dari Dawud bahwa ia berkata bahwa itu suci. Dalil kami adalah keumuman hadits-hadits dan qias kepada kencing orang dewasa. Telah tsabit bahwa Rosululloh SAW memerciki pakaian yang terkena kencing anak kecil dan merintahkan untuk memercikinya. Bila itu tidak najis, maka tidak akan diperciki.

() Nabi SAW bersabda, Kencing anak lelaki disirami air dan kencing anak perempuan dicuci.

() Dari Abus Samah berkata : Aku melayani Nabi SAW, lalu diberikan kepada beliau Al Hasan atau Al Husain, lalu kencing di dada beliau, maka datang untuk mencucinya, tetapi beliau bersabda: "Bekas air kencing anak perempuan harus dicuci dan bekas air kencing anak laki-laki cukup diperciki".

() Dari Ali bin Abi Tholib berkata : Rosululloh SAW bersabda tentang bayi yang masih menyusu, "Bekas air kencing anak laki-laki diperciki dan bekas air kencing anak laki-laki cukup dicuci".

() Berkata Ibn Syihab : Telah berlaku Sunnah memerciki kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan.

Asy Syaikh Al Bantani dalam Al Kasyifah berkata : Najis ringan (mukhoffafah) adalah kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan kecuali susu dan belum memcapai usia dua tahun. Kencing anak kecil disucikan dengan memercikan air ke najis itu dan menghilangkan bentuknya, namun mencuci lebih utama. Ketentuannya adalah bila najis itu tidak bercampur dengan basahan di tempat najis itu. Bila tidak demikian, maka wajib mencuci karena basahan tersebut menjadi najis dan itu bukanlah kencing. Dalam percikan disyaratkan mengenai semua tempat kencing, meratai dan mengalahkan kencing, tetapi tidak disyaratkan mengalir. Mengalir dan menetas merupakan pembeda antara mencuci dan memerciki. Karena itu tidak cukup dengan percikan yang tidak meratai dan tidak mengalahkan najis. Bersamaan dengan percikan itu wajib menghilangkan sifat-sifat najis seperti juga najis-najis lain setelah menghilangkan bentuknya. Wajib memeras tempat najis atau mengeringkannya hingga tidak tersisa basahan yang masih dapat diperas.

Bila terkena kencing anak kecil, tetapi ragu apakah belum dua tahun atau sudah, maka wajib mencucinya, karena memerciki merupakan rukhshoh, sehingga tidak diberikan kecuali dengan yakin.

 

Najis yang berbetuk

Imam Asy Syafi'i berkata : Adapun semua najis yang berbentuk, seperti bangkai, darah, tahi dan yang serupa, maka tanah tidak menjadi suci kecuali dibuang lalu dituangkan air pada yang basah. Bila bentuknya hilang dari tanah hingga bercampur, sehingga tidak dapat dibedakan seperti halnya kuburan, maka tidak boleh sholat di atasnya dan tidak suci, karena tanah tidak bisa dibedakan dari sesuatu yang haram yang bercampur.

Fukaha Syafi'iyyah : Tinja manusia itu najis berdasarkan :

() Sabda Rosululloh SAW kepeda Ammar, "Engkau hanyalah harus mencuci pakaianmu karena tinja, kencing, mani, darah dan nanah"([3])

Dan ijma tentang kenajisan tinja. Tak ada perbedaan antara tinja orang dewasa dan tinja anaka kecil berdasarkan ijma

 

Bahan bangunan dari bahan yang bercampur kencing

Bila dibuat batu bata dari bahan yang di dalamnya ada kencing, maka tidak boleh sholat di atasnya, hingga dituangkan air padanya, seperti halnya tanah yang dikencingi. Aku memakruhkan masjid dibangun dengan bahan itu. Bila dibangun masjid dengan itu atau temboknya, maka aku memakruhkannya. Namun bila seseorang sholat menghadapnya, aku tidak memakruhkannya dan tidak wajib mengulangi.

 

2. Rautsah

[22] Ibnu Masud, Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi tempat buang hajat. Maka beliau memerintahkan saya mengambil tiga batu untuknya. Maka saya hanya mendapatkan dua batu dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya mengambil rautsah, maka beliau mengambil kedua batu tersebut dan melemparkan rautsah dan berkata: Ini adalah riksun (najis).

Imam Asy Syafii berkata : Tahi burung, baik yang boleh dimakan dagingnya ataupun yang tidak, bila mencampuri air, maka air menjadi najis.

Fukaha Syafi'iyyah : Rautsah dan kencing najis walaupun berasal dari burung, ikan, belalang dan binatang yang darahnya tidak mengalir, atau dari binatang yang dagingnya boleh dimakan. Berdasarkan hadits Ibnu Masud.

[23] Ibnu Masud, Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi tempat buang hajat. Maka beliau memerintahkan saya mengambil tiga batu untuknya. Maka saya hanya mendapatkan dua batu dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya mengambil rautsah, maka beliau mengambil kedua batu tersebut dan melemparkan rautsah dan berkata: Ini adalah riksun (najis).

Dan berdasarkan perintah untuk menuangkan air ke kencing dalam hadits tentang orang badui yang kencing di pojok masjid. Diqiaskan dengan ini semua kencing, namun dikecualikan kencing Nabi SAW, karena kencing Nabi SAW itu suci, sebagaimana ditetapkan oleh Al Baghowi dan dishohihkan oleh Al Qodhi dan lain-lain.

Al Istokhri dan Ar Ruyani mengatakan bahwa rautsah dan kencing dari binatang yang halal dimakan itu suci. Dalam Al Majmu dinyatakan : Kencing binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya itu najis menurut kami, Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan sekalian ulama, tetapi Asy Syasyi dan lain-lain menceritakan dari An Nakh'I perihal kesuciannya. Adapun kencing binatang yang boleh dimakan dan rautsahnya, maka itu najis menurut kami, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan lain-lain. Berkata Atho', An Nakh'I, Az Zuhri, Malik, Sufyan Ats Tsauri, Zufar dan Ahmad bahwa kecning dan rautsahnya suci. Ini juga merupakan suatu pendapat di antara sahabat-sahabat kami, yaitu Al Istokhri, Ar Ruyani, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Orang yang mengatakan suci berhujjah dengan hadits Anas katanya, "Orang-orang dari kabilah Ukl dan Urainah dating karena merasa tidak sehat, lalu Nabi SAW memerintahkan mereka untuk meminum kencing unta dan susunya", hadits marfu dari Al Baro bahwa tidak apa-apa dengan kecing binatang yang dimakan dagingnya dan hadits marfu dari Anas semisalnya. Jawaban terhadap hadits Anas adalah bahwa itu untuk berobat dan hal itu boleh dengan semua najis selain khamr. Adapun hadits Al Baro dan Anas, maka keduanya dhoif.

Berkata An Nawawi : Dalam hadits orang pedalaman terdapat penetapan najisnya kencing manusia. Hal itu disepakati. Tak ada perbedaan antara kencing anak kecil dan orang dewasa berdasarkan ijma dari orang yang dipertimbangkan ijmanya.

Adapun tentang tinja, maka hujjahnya berserta ijma adalah sabda Rosululloh SAW.

() sabda Rosululloh SAW kepada Ammar,"Engkau hanya harus mencuci pakaianmu dari kencing, tinja, madzi dan muntahan"

Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan ditakhrij oleh Ad Darquthni dan Al Bazzar.

Bila binatang mengeluarkan biji atau muntah biji, maka bila keras yang sekiranya ditanam akan tumbuh, maka biji itu hanya mutanajjis (terkena najis), dicuci dan boleh dimakan. Tetapi para ulama tidak menjelaskan hukum selain biji, seperti telur, buah pala, buah badam dan lain-lain, yang dikeluarkan atau dimuntahkan. Dalam An Nihayah dinyatakan : diqiaskan pada biji adalah telur bilamkeluar dalam keadaan masih baik yang sekiranya ada potensi menjadi anak burung, maka itu hanya mutanajjis bukan najis. Dalam Fathul Jawad dinyatakan : bila berubah keadaannya dari keadaan sebelum ditelan, maka telur najis. Bila telur tidak berubah, maka hanya mutanajjis.

 

3. Madzi

Robi' bin Sulaiman berkata : Asy Syafii mendiktekan : Semua yang keluar dari kemaluan, berupa kencing, madzi, wadi, sesuatu yang dikenal atau tidak, maka itu semua najis, kecuali mani. Mani adalah sesuatu yang kental yang mempunyai bau seperti bau adonan, tak ada sesuatupun yang keluar dari kemaluan mempunyai bau yang wangi selain mani.

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila seorang laki-laki mendekati istrinya, lalu keluarlah madzi, maka wajib berwudhu, karena itu adalah hadats yang keluar dari dzakarnya. Bila dia menjulurkan tangannya ke badan istrinya, maka wajib berwudhu karena dua hal, tetapi cukup ia wudhu sekali. Demikian juga orang yang wajib berwudhu karena semua hal yang mewajibkan wudhu, lalu ia berwudhu setelah semua itu dengan satu kali wudhu, maka itu mencukupi. Tidak wajib mandi baginya karena madzi.

Fukaha Syafi'iyyah : Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki dan perempuan yang sifatnya tipis, putih, keluar ketika adanya syahwat, tidak terpencar sehingga keluarnya kadang tanpa disadari serta tidak merasa lelah setelah keluarnya. Definisi ini disebutkan oleh An-Nawawi dan Ibnu Hajar . Najisnya berdasarkan kisah Al-Miqdad yang bertanya kepada Nabi tentang madzi.

[24] Dari Al Miqdad, Rosululloh SAW menjawab, Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.

Perintah mencuci kemaluan menunjukkan najisnya, dan yang dicuci hanyalah bagian kemaluan dan bagian pakaian yang terkena madzi saja.

Berkata Ibnush Shollah : Madzi di musim dingin berwarna putih kental, sedangkan di musim panas kuning encer, sering tidak terasa keluarnya, lebih umum pada wanita dibandingkan laki-laki terutama saat bangkitnya syahwat.

 

4. Wadi

Fukaha Syafi'iyyah : Wadi adalah cairan putih kental yang umunya keluar setelah kencing atau membawa sesuatu yang berat.

 

5. Darah haid dan nifas

[25] Fatimah binti Al Mundzir berkata, aku mendengar nenekku Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Rosululloh SAW tentang darah haidh yang mengenai pakaian, jawab Rosul SAW, " Hendaknya dia menggosoknya kemudian mengoreknya kemudian memercikinya dengan air kemudian dia baru boleh shalat dengan pakaian itu. [4]

[26] Dari Asma berkata, "Seorang perempuan bertanya kepada Rosululloh SAW, katanya, 'Ya Rosululloh SAW, bagaimana menurutmu bila salah seorang dari kami pakaiannya terkena darah haidh, apa yang harus diperbuat?', jawab Nabi SAW, 'Bila pakaian kalian terkena darah haidh, hendaklah ia mengoreknya, lalu perciki dengan air dan sholatlah dengan pakaian itu'"[5]

 

6. Basahan vagina

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab dinyatakan : Basahan vagina itu menurut yang dinyatakan oleh Asy Syafi'I najis, karena itu adalah basahan yang terbentuk di dalam tempat najis, sehingga najis. Berkata An Nawawi : Basahan vagina adalah cairan putih antara madzi dan urat, sehingga diperselisihkan. Asy Syiakh Asy Syirazi menyatakan kenajisannya dan dirajihkan oleh Al Bandaniji. Al Baghowi, Ar Rofi'I dan lain-lain mengatakan bahwa pendapat yang paling shohih adalah suci. Penulis Al Hawi berkata : Asy Syafi'I menyatakan di sebagian kitab-kitabnya tentang kesucian basahan vagina. Dapat disimpulkan bahwa ada dua pendapat yang dinyatakan oleh Asy Syafi'I, namun pendapat yang paling shohih adalah suci. Dalam Al I'anah dinyatakan secara terperinci bahwa basahan vagina yang keluar dari bagian dalam vagina yang tidak wajib dicuci itu suci berdasarkan pendapat yang paling shohih. Berbeda dengan basahan yang keluar dari vagina yang wajib dicuci, maka itu suci secara pasti, sedangkan yang keluar dari bagian vagina yang lebih dalam itu najis secara pasti.

Kesimpulannya basahan yang keluar dari vagina ada tiga macam :

1.       pasti suci, yaitu yang keluar dari tempat yang wajib dicuci ketika istinja, yang kelihatan saat duduk

2.       pasti najis, yaitu yang keluar dari bagian vagina yang lebih dalam, yang tidak dapat dicapai oleh penis

3.       suci menurut pendapat yang lebioh shohih, yaitu yang keluar dari tempat yang tidak wajib dicuci, tetapi tidak dapat dicapai oleh penis.

Tidak wajib mencuci penis karena terkena basahan vagina, baik yang najis maupun yang suci, karena hal itu dimaafkan, sehingga tidak menajisi penis dan juga tidak mani istri.

Adapun yang keluar setelah berhentinya haidh, maka lahiriahnya bila jelas keluar dari bagian dalam vagina, maka najis. Namun bila tidak, maka suci. Bila dikatakan najisnya basahan vagina, maka itu juga najis, namun bila dikatakan suci, maka ada dua pendapat, tetapi yang paling shohih itu suci. Berkata Ahmad bin Hambal : Aku bertanya kepada Asy Syafi'I tentang sesuatu yang keluar setelah terputusnya haidh, maka jawabnya : Bila engkau lihat itu, maka itu suci.

 

Mani tidak najis

Imam Asy Syafii berkata : Alloh memulai penciptaan Adam dari air dan tanah dan menjadikan keduanya suci, dan memulai penciptaan keturunannya dari air mani yang memancar, sehingga pada permulaannya Alloh menciptakan Adam dari dua hal yang suci, merupakan dalil bahwa Alloh tidak menciptakan lainnya kecuali dari yang suci, tidak dari yang najis. Sunnah Rosululloh SAW juga menunjukkan hal itu.

[27] Dari Aisyah berkata, "Aku mengerok mani dari pakaian Rosululloh SAW"

Imam Asy Syafii berkata : Mani tidaklah najis, lalu bila ditanyakan, "lalu mengapa dikerok atau diusap?", maka dijawab, "Seperti halnya dikerok ingus, kerok, tanah atau makanan yang menempel di pakaian, karena kebersihan bukan karena menajiskan. Bila sholat sebelum dikerok atau diusap, maka tidak apa-apa.

Robi' bin Sulaiman berkata : Asy Syafii mendiktekan : Semua yang keluar dari kemaluan, berupa kencing, madzi, wadi, sesuatu yang dikenal atau tidak, maka itu semua najis, kecuali mani. Mani adalah sesuatu yang kental yang mempunyai bau seperti bau adonan, tak ada sesuatupun yang keluar dari kemaluan mempunyai bau yang wangi selain mani.

Segala hal yang terkena sesuatu yang keluar dari kemaluan selain mani, maka itu menajiskannya, baik sedikit ataupun banyak. Bila yakin bahwa terkena itu, maka wajib dicuci, selain itu tidak mencukupi. Bila tidak diketahui tempatnya, maka dicuci pakaian seluruhnya. Bila diketahui tempatnya, namun tidak diketahui banyaknya, maka dicuci melebihi tempatnya.

 

Hadits tentang kesucian mani

Aku menyatakan mani tidak najis berdasarkan hadits dari Rosululloh SAW dan akal. Bila seseorang bertanya, "Hadits yang mana?", maka aku jawab :

[28] Dari Aisyah berkata, "Aku mengerok mani dari pakaian Rosululloh SAW, lalu beliau sholat dengan pakaian itu".

[29] Dari Mush'ab bin Sa'ad bin Abi Waqosh dari bapaknya bahwasanya bila pakaiannya terkena mani, bila mani itu basah, ia mengusapnya dan bila kering, ia mengeroknya, lalu sholat dengan pakaian itu.

[30] Dari Ibn Abbas bahwa ia berkata tentang mani yang mengenai pakaiannya, "Singkirkan mani dari pakaianmu dengan kayu atau kapas. Sungguh itu hanya seperti ludah dan ingus".

Fukaha Syafi'iyyah : Mani manusia itu suci menurut kami. Inilah pendapat yang benar yang telah dinyatakan oleh Asy Syafi'i dalam kitab-kitabnya dan telah pula diputuskan oleh mayoritas sahabat-sahabat kami.

() Dari Aisyah ([6]) berkata, "Aku mengerok mani ([7]) dari pakaian Rosululloh SAW, lalu beliau sholat dengan pakaian itu".

() Dari Aisyah berkata, "Aku benar-benar pernah mengerok mani kering dengan kukuku dari pakaian beliau".

Dalam Al I'anah dinyatakan : Ketentuan mani suci adalah bila penis dan vagina tempat keluarnya mani itu suci. Bila tidak suci, maka maninya terkena najis, seperti halnya orang yang beristinja dengan batu bila keluar mani, maka maninya terkena najis dan seperti juga bila keluar madzi yang umunya mendahului keluarnya mani, maka maninya terkena najis disebabkan madzi tersebut, tetapi dimaafkan orang yang terkena itu dikaitkan dengan jima.

Adapun mani dari selain manusia, maka dalam hal ini ada tiga pendapat. Pertama, semuanya suci kecuali mani anjing dan babi, karena mani keluar dari binatang yang suci, sehingga suci seperti halnya telur dan mani manusia. Kedua, semua najis, karena termasuk sisa-sisa makanan yang telah mengalami perubahan. Mani manusia dihukumi suci hanyalah karena kemulian manusia. Ketiga, mani dari binatang yang dagingnya boleh dimakan itu suci seperti juga susunya, sedangkan mani dari binatang yang tidak dimakan dagingnya itu najis seperti juga susunya. Berkata An Nawawi : Pendapat yang paling shohih adalah sucinya semua itu kecuali mani anjing, babi dan keturunannya. Di antara orang yang menyatakan keshohihan ini adalah Asy Syaikh Abu Hamid, Al Bandaniji, Ibnush Sobbagh, Asy Syasyi dan lain-lain. Sedangkan Ar Rofi'i menshohihkan kenajisannya secara mutlak.

 

Secara akal mani tidak najis

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang bertanya : Lalu bagaimana secara akal mani tidak najis?, maka jawabnya : Sesungguhnya Alloh memulai penciptaan Adam dari air dan tanah dan menjadikan keduanya suci. Air suci. Tanah pada kondisi tak ada air juga suci. Ini sudah menunjukkan lebih bahwa bahan dalam penciptaan itu suci. Sungguh Alloh telah menciptakan keturunan Adam dari air mani yang memancar. Karena itu maha suci Alloh dari memulai penciptaan dari najis.

Bila seseorang bertanya : Sesungguhnya sebagian sahabat Nabi SAW berkata, "Cuci apa yang kau lihat dan perciki yang tidak terlihat" Maka jawabnya : Maka kami mencucinya tanpa menganggapnya najis dan juga mencuci kotoran, keringat dan apa yang tidak kami pandang najis. Bila sebagian sahabat Rosul SAW mengatakan bahwa itu najis, maka tak ada dalam perkataan siapapun hujjah dengan adanya sabda Rosululloh SAW dan apa yang telah kami katakan selaian yang masuk akal dan perkataan orang-orang tertentu dari sahabat Rosululloh SAW.

Bila seseorang bertanya : Kadang kami diperintahkan untuk mencucinya!, maka kami jawab : Mencuci bukan karena yang keluar najis. Mencuci hanya merupakan sesuatu yang bersifat ta'abbud. Bila seseorang bertanya : Apa dalilnya?, maka jawabnya : Bagaimana menurutmu bila penis masuk ke dalam vagina yang halal, namun tidak mengeluarkan air, lalu apakah engkau mewajibkannnya mandi? Padahal dalam vagina tidak najis. Bila penis masuk ke darah babi, khmar atau tahi, padahal itu semua najis, apakah wajib mandi? Bila dijawab tidak, maka jawabannya : Mandi bila memang hanya karena najis, maka lebih wajib bila dia mandi berkali-kali dibandingkan orang yang memasukkan penis ke sesuatu yang halal dan bersih. Bila hal itu karena kotornya sesuatu yang keluar, maka buang air besar dan kencing lebih kotor darinya, namun tidak wajib membasuh tempat keduanya keluar, cukup baginya mengusapkan batu, sedangkan wajah, kedua tangan, kedua kaki dan kepala tidak cukup kecuali dengan air dan tidak wajib mencuci kedua pahanya dan juga kedua bokongnya. Bila banyaknya air wajib hanya karena kotoran yang keluar, maka ini lebih kotor dan lebih utama untuk mandi berulang-ulang. Tempat keluar keduanya juga lebih utama dicuci dibandingkan wajah. Kami memerintahkan untuk berwudhu karena makna ta'abbud, Alloh menguji ketaatan hamba-nya untuk melihat siapa yang taat dan siapa yang durhaka, bukan karena kotor atau bersihnya sesuatu yang keluar.

 

Aisyah mencuci mani

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila seseorang bertanya : Dari Aisyah bahwasanya dia mencuci mani dari pakaian Rosululloh SAW, maka kami jawab : Hadits ini bila kami anggap tsabit, maka tidaklah menyelisihi perkataan Aisyah 'aku mengeroknya dari pakaian Rosululloh SAW, lalu sholat dengan pakaian itu', sebagaimana basuhan kedua kaki sepanjang umur tidak menyelisihi usapan kedua khuf pada suatu hari. Bila beliau mengusap, maka kami tahu bahwa usapan mencukupi sholat dan juga basuhan. Demikian juga mencukupi sholat dengan mengeroknya dan juga dengan membasuhnya, bukan karena satu hadits menyelisihi yang lain, di samping hadits ini tidak tsabit dari Aisyah. Mereka khawatir di dalam hadits ini ada kesalahan Amr bin Maimun. Sesungguhnya itu hanya pandangan Sulaiman bin Yasar, demikian para hafidz hafal perkataanya bahwa 'mencuci lebih aku sukai'. Riwayat dari Aisyah menyelisihi perkataan ini. Sulaiman tidak mendengar sehuruf pun dari Aisyah. Bila ia memang meriwayatkannya, maka itu mursal.

Bila engkau bertanya : Bila memang mani suci dzatnya, namun di saluran tempat keluarnya ada sesuatu yang menajiskannya, karena tempat keluarnya termasuk tempat keluarnya kencing, padahal engkau katakan bahwa tidak boleh bagiku sholat dengan membawa telur hingga aku mencucinya, tetapi aku tidak mencucinya kecuali ada darahnya. Bila telur keluar tanpa ada darah dan najis-najis lainnya, maka telur suci dan tempat keluarnya telur bila tersembunyi, maka ia suci.

Jawabnya : Dasar pendapat kami bahwa mani suci adalah atsar dari Rosululloh SAW bahwa Aisyah mengerok mani dari pakaian Rosululloh Saw, lalu beliau sholat dengan pakaian itu. Rosululloh SAW tahu bahwa tempat keluarnya mani adalah tempat keluarnya kencing. Aisyah, Ibn Abbas dan Sa'ad bin Abi Waqqosh semuanya tahu hal itu. Dalam qudroh Alloh apa yang keluar dari tempat yang najis adalah suci, karena firman-Nya 'Kami memberikan kalian minun dari sesuatu yang ada di dalam perut yang terletak antara tahi dan darah berupa susu yang murni dan menyegarkan bagi yang meminumnya', sehingga Alloh memberitahu dengan qudroh-Nya bahwa keluar dari antara dua najis sesuatu yang suci dapat dimakan.

Bila engkau bertanya : Kadang kala itu mungkin keluar dari antara keduanya, sedangkan antara keduanya ada sekat yang menghalangi tahi dan darah menyentuh susu, maka jawabannya : Sungguh engkau telah membatalkan arti sesuatu yang diberitahu Alloh bahwa keluar dari dua najis sesuatu yang suci. Kalau memang seperti apa yang engkau katakan, maka tak ada keajaiban di sini, padahal Alloh kuasa atas segala sesuatu.

Fukaha Syafi'iyyah : Mani itu suci menurut kami. Demikian yang dikatakan Said bin Al Musayyab, Atho, Ishaq bin Rohawaih, Abu Tsaur, Dawud dan Ibnul Mundzir. Itu juga merupakan riwayat yang paling shohih dari Ahmad. Ats Tsauri, Al Auza'I, Malik dan Abu Hanifah bahwa mani itu najis, tetapi menurut Abu Hanifah cukup mengeroknya saat kering, sedangkan Al Auza'i dan Malik mewajibkan untuk mencucinya baik kering atau basah. Orang yang mengatakan najisnya mani berhujjah dengan hadits Aisyah bahwa Rosululloh SAW mencuci mani, dalam suatu riwayat berkata, "Aku mencuci mani dari pakaian Rosululloh SAW" dan dalam riwayat lain Aisyah berkata kepada seseorang yang pakaiannya terkena mani lalu ia mencuci seluruhnya, "Bila engkau melihatnya, cukup bagimu mencuci tempatnya itu, tetapi bila engkau tidak melihatnya, maka engkau perciki sekelilingnya, seperti engkau lihat aku mengerok mani dari pakaian Rosululloh SAW, lalu beliau sholat dengan memakai pakaian itu". Sahabat-sahabat kami berhujjah dengan hadits mengerok mani. Bila mani itu najis, maka tidak cukup mengeroknya seperti halnya darah, madzi dan lain-lain. Mengerok mani merupakan kebersihan dan anjuran. Demikian juga mencucinya karena kebersihan dan anjuran. Adapun perkataan Aisyah 'cukup bagimu', maka walaupun secara lahiriah menunjukkan wajib, maka jawabnya adalah membawa pemahaman pada anjuran, karena Aisyah berhujjah dengan mengerok. Bila wajib mencucinya, maka perkataan Aisyah itu merupakan hujjah untuk dirinya juga. Ia hanya ingin mengingkari dalam hal mencuci seluruh pakaian

 

 

2. Bangkai

[31] Dari Ibn Abbas, Nabi SAW bersabda tentang manusia, Seorang mukmin tidaklah najis, ketika hidup dan setelah matinya.

[32] Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung."

Fukaha Syafi'iyyah : Bangkai adalah yang hilang kehidupannya tidak dengan penyembelihan syar'i. Termasuk di dalamnya adalah yang mati dari binatang yang boleh dimakan dan tidak, sembelihan yang tidak boleh dimakan dan sembelihan tanpa memenuhi syarat-syaratnya.

Berkata Asy Syaikh Asy Syirazi : Bangkai selain ikan, belalang dan manusia itu najis, karena itu haram dimakan tanpa darurat, sehingga najis seperti darah. Bangkai ikan dan belalang itu suci karena keduanya halal dimakan. Bila keduanya najis, maka tidak halal. Berkata An Nawawi : Ikan dan belalang bila mati, maka suci berdasarkan nas-nas dan ijma. Alloh berfirman, "Telah dihalalkan untuk kalian binatang buruan laut dan makanannya", Dialah yang telah menundukkan untuk kalian laut supaya kalian makan daging yang segar darinya" dan hadits tsabit dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda berkenaan dengan laut,

() "Suci airnya halal bangkainya"

() Dari Abdullah bin Abi Aufa berkata, "Kami berperang bersama Rosululloh SAW tujuh kali peperangan dengan memakan belalang"

Bagi kami sama binatang yang mati karena diburu atau mati, ikan yang mengapung dan yang tidak mengapung. Sama juga apakah kepala belalang terpotong atau tidak. Demikian juga bangkai-bangkai laut lain bila kami katakana sesuai pendapat yang paling shohih bahwa semuanya halal, sehingga bangkainya suci.

Berkata Al Imrithi :

Segala binatang di laut halal

Walau mengapung, mati atau dibunuh

Bila hidup di darat juga hindari

Mutlak seperti kepiting dan katak

Adapun bangkai manusia, dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, najis, karena itu bangkai yang tidak halal dimakan, sehingga najis seperti halnya bangkai-bangkai lain. Kedua, suci, berdasarkan hadist :

() Rosululloh SAW bersabda, "Janganlah kalian najiskan orang-orang mati, karena mukmin tidak najis, baik hidup ataupun mati"([8])

Berkata An Nawawi : Pendapat yang shohih adalah tidak najis, yang telah disepakati oleh ashab keshohihannya. Al Bandaniji menyatakan bahwa pendapat sucinya bangkai manusia merupakan nas perkataan Asy Syafi'i dalam Al umm, sedangkan pendapat najis merupakan nas perkataan Asy Syafi'i yang diriwayatkan dalam Al Buwaithi.

Bangkai itu najis walaupun bangkai lalat yang termasuk binatang yang darahnya tidak mengalir. Berbeda dengan Al Qoffal yang menyatakan kesuciannya karena tak adanya darah yang membuat busuk. Demikian juga rambut, tulang dan tanduknya najis, karena itu semua termasuk bagian-bagian bangkai. Berkata An Nawawi : Adapun bangkai-bangkai lain, maka najis. Dalilnya adalah ijma, tetapi dikecualikan oleh penulis Al Hawi dan lain-lain. Mereka katakan : Bangkai najis kecuali lima macam, yaitu bangkai ikan, belalang, buruan bila terbunuh oleh panah atau anjing yang telah dilatih yang dikirim untuk menyembelih, dan janin bila keluar dalam kondisi mati setelah induknya disembelih. Al Qoffal menambahkan binatang yang tidak mengalir darahnya. Penulis Al Hawi dan Asy Syasyi menyebutkan dua pendapat tentang najisnya katak karena mati. Adapun buruan dan janin, maka bukanlah najis, tetapi syariat menetapkan ini adalah cara menyembelih keduanya dan karena itualh Nabi SAW bersabda,

() "Sembelihan janin adalah sembelihan induknya"

sehingga dinyatakan bahwa itu merupakan binatang yang telah disembelih secara syariat, walaupun tidak tersentuh pisau secara langsung. Adapun tambahan Al Qoffal dan penulis Al Hawi, maka itu dhoif. Pendapat yang shohih adalah najisnya bangkai binatang yang tidak mengalir darahnya.

 

3. Anjing dan babi

Imam Asy Syafii berkata : Bila bejana berisi air sedikit, lalu bercampur dengan najis, maka air ditumpahkan dan bejananya dicuci. Aku lebih suka bila dicuci 3 kali, namun bila dicuci cuma sekali, maka jadilah (bejana) suci. Hal ini berlaku untuk segala sesuatu yang bercampur dengan air, kecuali anjing atau babi minum air dalam bejana tersebut, maka tidak akan menjadi suci kecuali dengan mencuci tujuh kali.

 

Apakah babi najis?

Imam Asy Syafii berkata : Kami katakan tentang anjing karena adanya perintah Rosululloh SAW. Babi bilapun tidak lebih buruk keadaannya dari , namun tidak lebih baik dari anjing. Kami katakan tentang babi berdasarkan qiyas terhadap anjing.

 

Fukaha Syafi'iyyah : Anjing itu najis berdasarkan hadits Muslim.

() Rosululloh SAW bersabda, "Sucinya bejana salah seorang di antara kalian bila dijilati anjing adalah mencucinya tujuh kali, salah satunya dengan debu"

segi pendalilannya adalah bahwa bersuci bila karena hadats, najis atau kemuliaan. Tak ada hadats di dalam bejana dan tak ada pula kemuliaa, maka jelaslah itu bersuci karena najis, sehingga teguhlah kenajisan mulutnya, padahal itu merupakan tempat yang terbaik, maka bagian-bagian yang lain lebih-lebih lagi.

Babi juga najis karena babi lebih buruk keadaannya dibandingkan anjing, ketika tidak boleh memanfaatkannya dalam keadaan apapaun dan tidak boleh memeliharanya, dan juga karena dianjurkan membunuhnya tenpa ada bahaya, bahkan ada yang mengatakan wajib membunuhnya.

Al Muhazzab : Adapun babi, maka najis, karena babi lebih buruk keadaannya dibandingkan anjing, dengan danjurkan untuk membunuhnya tanpa adanya bahaya dan dinyatakan keharamannya. Bila anjing najis, maka babi lebih-lebih lagi.

An Nawawi dalam Al Majmu : Ibul Mundzir menukil dalam kitab Al Ijma adanya ijma tentang kenajisan babi. Itu merupakan hujjah yang paling utama bila memang ijma tersebut tsabit, tetapi mazhab Malik berpendapat sucinya babi selama masih hidup. Adapun yang dijadikan hujjah oleh Asy Syaikh Asy Sirazi, maka demikian juga yang dijadikan hujjah oleh orang lain, tetapi tak ada dalalah di dalamnya dan tak ada dalil yang jelas tentang najisnya babi saat hidup.

Keturunan masing-masing dengan yang lain juga najis walaupun dengan manusia, karena dominasi najis, yaitu karena cabang mengikuti kedua induk yang terendah dalam hal kenajisan, haramnya sembelihan, saling menikahi, haramnya makanan, tidak bolehnya kurban dan tidak wajibnya zakat, tetapi cabang mengikuti yang termulian dalam tiga hal, yaitu agama, kewajiban mengganti dan jizyah.

Berkata As Suyuthi :

Cabang ikuti bapak dalam penasaban

Dan ibu dalam perbudakan dan kemerdekaan

Zakat ikuti pokok yang terendah dan agama pokok yang tinggi

Ikuti yang besar dalam hukuman dan diyat

Ikuti yang terendah dalam najis dan sembelihan

Nikah, makanan dan kurban

 

Kata 'Dan ibu dalam perbudakan dan kemerdekaan', yaitu dalam perbudakan bila bapaknya merdeka dan ibunya budak, dan dalam kemerdekaan bila bapaknya budak dan ibunya merdeka. 'Zakat ikuti pokok yang terendah' , yaitu kewajiban zakat mengikuti pokok yang terendah. Bila terlahir binatang antara sapi dan unta, maka zakatnya adalah zakat sapi, karena sapi adalah yang terendah. Bila terlahir antara binatang yang dizakati dan binatang yang tidak dizakati, seperti kijang dan kambing, maka tidak wajib zakat, karena memperhatikan yang terendah. 'agama pokok yang tinggi, yaitu dalam hal agama, cabang mengikuti yang tertinggi. Bila terlahir antara muslim dan wanita kafir, maka dia muslim, dengan ketentuan bukan karena zina, karena Islam itu unggul dan tidak bisa diungguli. Bila karena zina, maka ia kafir. Berkata Al Bajuri : Bila muslim berzina dengan wanita dzimmi, lalu lahir anak, maka anak itu kafir mengikuti ibunya dan tidak diikutkan kepada bapak karena ia terputus nasabnya dari bapak. Sebagaimana juga difatwakan oleh Asy Syihab Ar Romli. 'Ikuti yang besar dalam hukuman', yaitu mengikuti yang terbesar dalam hal wajibnya hukuman. Bila terlahir antara binatang darat yang buas yang boleh dimakan dan lainnya, lalu orang yang melakukan ihrom membunuhnya, maka ia harus menanggungnya. 'Diyat', yaitu mengikuti yang terbesar dalam hal diyat. Bila terlahir antara Ahlul Kitab dan Majusi, lalu seseorang membunuhnya, maka diyatnya adalah diyat Ahlul Kitab. 'Ikuti yang terendah dalam najis', yaitu seperti di sini. 'Sembelihan', yaitu bila terlahir antara orang yang halal sembelihannya, seperti Ahlul Kitab dan orang yang tidak halal sembelihannya, seperti penyembah berhala, maka tidak halal sembelihannya. 'Nikah', yaitu bila terlahir antara orang yang boleh dinikahi, seperti Ahlul Kitab dan orang yang tidak boleh dinikahi, seperti penyembah berhala, maka tidak boleh dinikahi. 'Makan', yaitu bila terlahir antara binatang yang halal dimakan dan yang tidak halal, maka tidak halal memakannya. 'Kurban', yaitu bila terlahir antara binatang yang boleh dijadikan kurban dan yang tidak, maka tidak boleh berkurban dengannya. Seperti itu juga aqiqah.

Dalam At Tuhfah dinyatakan : Konsekuensi dari hukum mengikuti yang terendah adalah bahwa manusia yang terlahir antara manusia dan mugholladzoh mempunyai hukum mugholladzoh dalam semua hukuknya. Hal itu jelas dalam hal kenajisan dan lain-lainnya. Berbeda dalam hal taklif, karena dasarnya adalah akal dan ini tidak dinafikan oleh najis dzatnya karena dimaafkan berkaitan dengan dirinya, bahkan juga dengan yang lain, seperti juga tato walaupun dengan mugholladzoh bila susah menghilangkannya, sehingga ia boleh masuk masjid, disentuh oleh orang walaupun basah dan mengimami karena ia tidak wajib mengulangi sholatnya. Dalam Al Kasyifah dinyatakan : Bila terlahir manusia antara mugholladzoh dan manusia dan ia mempunyai bentuk manusia walaupun bagian atas saja bukan bagian bawahnya, maka ia dihukumi suci dalam ibadah berdasarkan pendapat ulama tentang kemutlakan sucinya manusia dan berlaku padanya hukum-hukum syariat karena ia baligh dan berakal, sedangkan akal adalah dasar taklif, sehingga ia boleh sholat, mengimami orang-orang, masuk masjid, bergaul dengan manusia lain dan tidak menajisi mereka dengan sentuhannya ketika basah, tidak menajisi air sedikit dan juga cairan lain, tetapi tidak boleh menikahinya, tidak halal sembelihannya dan tidak saling mewarisi antara ia dan manusia lain berdasarkan pendapat mutamad. Adapun bila dalam bentuk anjing misalnya disertai adanya akal dan bisa berbicara, maka ia najis berdasarkan pendapat mutamad dan ia mempunyai hukum mugholladzoh dalam semua hukum. Berkata Ibnu Qosim : tetapi ia tidak dikenai taklif, walaupun bisa berbicara, mumayyiz dan mencapai baligh.

 

 

Cara menyucikan bejana yang bercampur najis anjing dan babi

Imam Asy Syafii Berkata : Bila dicuci tujuh kali, yang pertama atau yang terakhir dengan debu. Tidak akan menjadi suci kecuali dengan itu.

Fukaha Syafiiyyah : An Nawawi dalam Al Majmu : Sahabat-sahabat kami dan mayoritas ulama berpendapat wajibnya mencuci tujuh kali berdasarkan hadits Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Sucinya bejana salah seorang dari kalian bila dijilati oleh anjing adalah dengan mencuci tujuh kali, yang pertama dengan debu", diriwayatkan oleh Muslim dan dalam suatu riwayat lain dari Abu Hurairoh dari Nabi Saw bersabda, "Bila anjing minum dari bejana kalian, maka cucilah tujuh kali", diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim. Adapun dalil untuk Al Auzai dan Malik adalah hadits Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing menjilati bejana kalian, maka tumpahkan, lalu cucilah tujuh kali", diriwayatkan oleh Muslim. Ini merupakan nash tentang wajibnya menumpahkan bejana. Itu adalah jelas menunjukkan najisnya anjing, karena bila bukan karena najis, maka tidak boleh menumpahkannya. Demikian juga sabda Rosululloh SAW : sucinya bejana salah seorang dari kalian jelas menunjukkan najisnya anjing sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah najisnya anjing.

Bila babi menjilati, maka berkata Ibnul Qosh : berkata Imam Asy Syafii dalam qoul qodimnya cukup dicuci sekali, sedangkan sahabat-sahabat kami mengatakan perlu dicuci tujuh kali. Pendapat Imam Asy Syafii dalam qoul qodimnya bersifat mutlak, karena ia mengatakan mencuci, padahal yang dikehendaki adalah tujuh kali. Dalilnya adalah babi lebih buruk keadaannya dibandingkan anjing. An Nawawi : Mayoritas ulama mengatakan wajib tujuh kali dan mereka mentakwil pernyataan Imam Asy Syafii dalam qoul qodimnya seperti yang diisyaratkan oleh Asy Syaikh Asy Syirazi. Ketahuilah bahwa yang rajih dari segi dalil adalah cukup satu kali cucian tanpa debu. Demikian yang dikatakan oleh mayoritas ulama yang mengatakan najisnya babi. Ini merupakan pendapat yang pilihan, karena pada dasarnya tak ada kewajiban hingga syariat memerintahkannya, terutama dalam masalah yang didasarkan pada taabbud.

Dalam Al I'anah dinyatakan : Mugholladzoh dapat disucikan dengan tujuah kali cucian setelah menghilangkan bantuknya. Tujuh kali cucian ini bersifat taaabud. Bila tidak emikian, maka cukup dari segi hilangnya najis dengan satu kali cucian sekiranya sifat-sifatnya hilang. Berkata Ibnul Hajar dalam Al Manhaj Al Qowim dan As Sayyid Al Marghani dalam Miftah Falah Al Mubtadi : Dihitung tujuh hanyalah setelah menghilangkan bentuknya, sehingga cucian yang menghilangkan bentuknya walaupun berkali-kali dihitung satu dan cukup dengan tujuh kali cucian walaupun jilatannya berkali-kali atau ada najis lain bersamanya. Pendapat yang dijadikan pegangan oleh para ulama adalah pendapat yang dishohihkan oleh An Nawawi. Mereka menyatakan bila bentuk najis tidak hilang kecuali dengan enam kali cucian misalnya, maka dihitung satu. Tetapi Ar Rofi'i menshohihkan pendapat bahwa itu dihitung enam kali cucian dan dikuatkan dalam Muhimmah Al Muhtaj. Al Bajuri berkata : Adapun sifat-sifanya, maka bila tidak hilang kecuali dengan enam kali cucian misalnya, maka dihitung enam kali cucian.

Salah satu dari tujuh cucian adalah dengan debu, walaupun yang terakhir, tetapi yang lebih utama adalah yang pertama. Dalam Al Majmu dinyatakan : Paling utamanya mencuci adalah menjadikan debu bukan di cucian yang ketujuh, namun di cucian manapun boleh, karena keumuman hadits. Ini merupakan hal yang telah disepakati menurut kami. Al Qodhi Abut Thoyyib menukil bahwa Asy Syafii menyatakan di dalam Harmalah bahwa disunnahkan menjadikan debu di cucian yang pertama. Demikian yang dikatakan oleh sahabat-sahabat kami dan ini sesuai dengan riwayat Muslim yang telah kami kemukakan. Dalam Al Kasyifah dinyatakan : Pencampuran debu ada tiga cara :

1.       Dicampur air dan ebu bersama-sama lalu diletakkan pada tempat najis. Ini merupakan cara yang paling utama, bahkan Al Asnawi melarang selain cara ini. Dalam hal ini bila sifat-sifat najis masih ada tanpa bentuknya dan dialirkan air bercampur debu, maka bila hilang dengan cucian itu, maka dihitung.

2.       Diletakkan debu di atas tempat najis, lalu letakkan air ke debu dan keduanya dicampur sebelum mencuci. Dalam hal ini ada syarat hilangnya bentuk najis dan sifat-sifatnya berupa rasa, bau dan warna sebelum diletakkan.

3.       Kebailikan cara kedua, yaitu dengan diletakkan air dahulu lalu debu dan keduanya dicampur sebelum mencuci. Dalam hal ini tidak disyaratkan hilangnya sifat-sifat najis dan juga tidak bentuknya karena air lebih kuat, bahkan air dapat menghilangkan, sedangkan debu hanyalah syarat.

Dalam kedua hal ini tidak mengapa tempat najis tetap basah walaupun najis karena sarana menyucikannya yang mengalir ke tempat najis tetap suci disebabkan air yang mengalir mempunyai kekuatan.

Tidak cukup menyebarkan debu ke tempat najis tanpa diikuti dengan air, tidak cukup juga mencampur dengan selain air dan tidak cukup mencampur dengan selain debu suci, seperti debu najis, debu yang pernah digunakan untuk tayammum, debu cucian anjing dan asynan. Hal yang wajib dari debu adalah sekedar membuat keruh air dan menjangkau dengan perantara air itu ke semua bagian najis.

Bila mencelupkan benda yang terkena najis mugholladzaoh ke dalam air banyak yang diam dan menggerak-gerakkanya tujuh kali dan mencampurnya dengan debu, maka sucilah benda itu. Gerakan bolak-balik dihitung dua kali. Bila tidak menggerak-gerakkanya maka dihitung satu. Atau bila benda itu dicelupkan ke dalam air mengalir dan mengalir pada benda itu tujuh aliran, maka dihitung tujuh kali. Adapun mendiamkan di air banyak yang diam, maka diohitung satu kali. Bila diam dalam waktu lama dan buminya berdebu baik asli atau karena tiupan angin, maka tidak perlu mencampurkannya dengan debu lagi, karena tak ada artinya mencampurkan debu dengan debu. Tidak termasuk bumi berebu adalah bumi yang berbatu atau berkerikil yang tak ada debunya, sehingga wajib mencampurkannya dengan debu. Bila sesuatu berpindah dari bumi berdebu yang terkena najis mugholladzoh ke tempat lain, lalu ingin menyucikan tanah yang berpindah itu, maka tidak wajib mencampurkan dengan debu.

Bila tidak menemukan debu

Imam Asy Syafii berkata : Bila ada di lautan yang tidak ditemukan debu, maka dicuci dengan sesuatu yang bisa menggantikan kedudukan debu dalam hal membersihkan. Dalam hal ini ada 2 pendapat, pendapat pertama tidak menjadi suci kecuali dengan debu dan pendapat kedua suci dengan sesuatu yang menggantikan debu.

Fukaha Syafiiyyah : Bila menggantikan debu dengan kapur, Asynan dan benda-benda lain yang serupa, maka dalam hal ini, berkata An Nawawi dalam Al Majmu : ada empat pendapat. Salah satunya merupakan pendapat yang adzhar menurut Ar Rofi'I dan muhaqqiq lain bahwa selain debu tidak bisa menggantikannya. Kedua, bisa menggantikan dan dishohihkan oleh Asy Syaikh Asy Syirazi dalam At Tanbih dan Asy Syasyi. Ketiga, bisa menggantikan ketika tak ada debu, bukan ketika ada. Keempat, bisa menggantikan pada benda yang dapat dirusakkan oleh debu, seperti pakaian, bukan bejana dan lain-lain.

 

Istidlal

1. Membandingkan anjing dan babi dengan bangkai atau darah

Bila ada yang bertanya : Bagaimana mungkin bila anjing dan babi minum dari sutu bejana, bejana tidak akan menjadi suci kecuali dengan 7 kali cucian, padahal bila bangkai atau darah jatuh ke dalam bejana, cukup mencucinya satu kali, dengan ketentuan tidak meninggalkan bekas dalam bejana? Jawabnya adalah karena mengikuti Rosululloh SAW.

[33] Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing menjilati bejana kalian, maka cucilah 7 kali"

[34] Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing minum dari bejana kalian, maka cucilah 7 kali"

[35] Dari Abu Hurairah, Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing menjilati bejana kalian, maka cucilah 7 kali, yang pertama atau yang terakhir dengan debu"([9])

Imam Asy Syafii berkata : Kami katakan tentang anjing karena adanya perintah Rosululloh SAW. Babi bilapun tidak lebih buruk keadaannya, namun tidak lebih baik dari anjing. Kami katakan tentang babi berdasarkan qiyas terhadap anjing.

Tentang najis selain keduanya berdasarkan :

[36] Fatimah binti Al Mundzir berkata, aku mendengar nenekku Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Rosululloh SAW tentang darah haidh yang mengenai pakaian, jawab Rosul SAW, " Hendaknya dia menggosoknya kemudian mengoreknya kemudian memercikinya dengan air kemudian dia baru boleh shalat dengan pakaian itu. [10]

[37] Dari Asma berkata, "seorang perempuan bertanya kepada Rosululloh SAW, katanya, 'Ya Rosululloh SAW, bagaimana menurutmu bila salah seorang dari kami pakaiannya terkena darah haidh, apa yang harus diperbuat?', jawab Nabi SAW, 'Bila pakaian kalian terkena darah haidh, hendaklah ia mengoreknya, lalu perciki dengan air dan sholatlah dengan pakaian itu'"[11]

Rosululloh SAW memerintahkan untuk mencuci darah haidh dan tidak menentukan apapun. Sebutan cuci terjadi hanya dengan cuci satu kali atau lebih, sebagaimana Alloh berfirman, 'Cucilah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku', maka satu kali sudah mencukupi, karena untuk tiap hal ini sudah cukup disebut cucian.

Semua najis diqiyaskan pada darah haidh karena persesuaian makna cuci dan wudhu dalam Al Quran, juga akal. Kami tidak qiyaskan pada anjing karena hal ini adalah ta'abbudi. Tidakkah engkau perhatikan bahwa sebutan cuci sudah berlaku pada satu kali cucian atau lebih dari 7 kali cucian dan bahwasanya bejana dibersihkan dengan satu kali dan kurang dari 7 kali. Dalam hal menyentuh air, sesudah 7 kali seperti sebelum 7 kali.

2. membandingkan anjing dan babi dengan keledai dan binatang buas lain

Tak ada najis pada suatu yang hidup yang menyentuh air sedikit dengan cara meminumnya atau memasukan sebagian anggota badan ke dalam air kecuali anjing dan babi. Najis hanyalah pada suatu yang mati. Tidakkah engkau perhatikan seseorang menaiki keledai dan keledai berkeringat, padahal dia ada di atasnya dan halal menyentuhnya? Bila seseorang bertanya, "Apa dalilnya?", maka jawabnya :

[38] Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rosululloh SAW ditanya, "apakah boleh berwudhu dengan sisa minuman keledai?", jawab Rosul SAW, "Ya boleh, juga dengan sisa minuman binatang buas"[12]

[39] Rosululloh SAW bersabda, "sesungguhnya kucing tidak najis. Dia termasuk binatang yang ada di sekelilingmu"

Imam Asy Syafii berkata : Rosululloh SAW melarang makan binatang buas yang bertaring dan keledai jinak, namun membolehkan kita berwudhu dari sisa minumannya. Bila seseorang bertanya, "Bagaimana engkau mengqiyaskan pada hal ini, bukan pada anjing?", jawabnya, "ini lebih dari anjing dan babi. Logikanya adalah bahwa yang hidup tidaklah najis, walaupun daging tidak boleh dimakan. Najisnya hanyalah karena kematian. Tidakkah engkau perhatikan bahwa tidak haram untuk menunggangi keledai dengan pakaian menyentuhnya, tetapi tidak menajiskannya dan Rosululloh SAW pun sholat sunah di atas keledai ketika melakukan safar. Sesuatu yang masuk akal lebih pantas diqiyaskan dibandingkan sesuatu yang haram karena ta'abbud, bukan karena makna yang diketahui.

Bila ditanyakan : Apakah pada anjing ada sesuatu yang membedakan antara anjing dan selainnya?, jawabnya : Ya, ada. Rosululloh SAW melarang orang mengambil harga anjing dan memeliharanya dan sabda beliau, "Barang siapa memelihara anjing, maka tiap hari amalnya berkurang 2 qiroth. Sabda beliau juga, "Malaikat tidak akan memasuki rumah yang terdapat anjing di dalamnya" dan beliau memerintahkan untuk membunuh anjing. Namun beliau tidak mengharamkan harga binatang buas dan juga keledai, tidak melarang memeliharanya karena suatu keadaan dan tidak memerintahkan untuk membunuhnya.

Robi' berkata : Aku bertanya kepada Asy Syafii tentang anjing yang menjilat bejana yang kurang dari dua qullah atau (menjilat) susu atau kuah. Jawab Asy Syafii : ditumpahkan air, susu dan kuah tersebut, tidak memanfaatkannya. Bejana dicuci tujuh kali dan pakaian yang tersentuh air dan susu wajib dibasuh, karena ia najis. Robi' berkata lagi : Apa argumentasinya? Jawab Asy Syafii :

[40] Dari abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila anjing minun dari bejan kalian, maka cucilah tujuh kali"

Imam Asy Syafii berkata : Jelas dalam sunnah Rosululloh SAW bahwa bila anjing minum air dari bejana, maka najislah bejana itu, sampai dicuci tujuh kali.

 

Yang menajiskan pada suatu hal tetap menajiskan, baik di pedalaman atau perkotaan, sedikit atau banyak.

Kata Robi' : Kami menganggap bahwa bila anjing minum dari bejana yang ada susunya di daerah pedalaman, susunya diminum dan bejana dicuci tujuh kali, karena anjing selalu berkeliaran di daerah pedalaman. Asy Syafii berkata : Pendapat ini mustahil. Anjing menajiskan sesuatu yang diminum dan tidak halal meminum najis dan juga memakannya. Apa yang wajib bagi orang pedalaman berkaiatan dengan najis juga berlaku bagi orang perkotaan. Ini menyalahi sunnah, qiyas dan rasio dan merupakan illat yang lemah. Perkataan anjing selalu berkeliaran di pedalaman merupakan hujjah untuk kalian. Bila sunnah memerintahkan untuk mencuci bejana dari jilatan anjing tujuh kali, sedangkan anjing selalu berkeliaran di pedalaman dari dulu sampai hari ini, maka apakah kalian menganggap bahwa itu berlaku hanya untuk orang perkotaan bukan pedalaman atau untuk pedalaman bukan perkotaan, atau apakah salah satu pemimpin muslimin menganggap demikian, atau Alloh membedakan antara yang najis di pedalaman dan di perkotaan atau bila seorang dari orang pedalaman bertanya, 'apakah fiqih diambil dari penduduk pedalaman, sehingga kalian menyatakan illatnya karena anjing bersama penduduk pedalaman', lalu bagaimana bila orang bodoh berkata hal yang sama, 'Tikus, kelelawar dan binatang lebih mulia bagi penduduk kota dibandingkan anjing bagi penduduk pedalaman, penduduk perkotaan lebih terhindar dari tikus dan binatang rumah dibandingkan penduduk pedalaman terhindar dari anjing dan bila tikus atau binatang mati di air sedikit, minyak, susu atau kuah, maka itu tidak menajiskannya'. Tak ada hujjah kecuali bahwa yang menajiskan pada suatu hal tetap menajiskan, baik di pedalaman atau perkotaan, sedikit atau banyak.

 

4. Darah

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila seseorang sholat dengan memakai pakaian yang ada najis berupa darah atau nanah, tetapi sedikit seperti halnya darah nyamuk dan yang dimaafkan, maka ia tidak usah mengulangi sholat. Bila darah atau nanah itu banyak atau ada sedikit kencing, tinja atau khamr dan yang searti dengan itu, maka ia harus mengulangi sholatnya, baik di dalam waktunya atau di luar waktu.

Fukaha Syafi'iyyah : Darah itu najis walaupun mengalir dari ikan, limpa dan jantung, berdasarkan firman Alloh, "atau darah yang mengalir" dan hadits, "cucilah darahnya dan sholatlah". Dalam Al Muhazzab dinyatakan : Tentang darah ikan ada dua pendapat, salah satunya adalah najis seperttiyang lain, dan kedua, suci, karena darah tidak lebih dari bangkai, padahal bangkai ikan itu suci, maka demikian juga darahnya. Dua pendapat tersebut merupakan dua pendapat yang masyhur. Tentang darah belalang juga ada dua pendapat seperti darah ikan. Berkata An Nawawi : pendapat yang paling shohih adalah semuanya najis. Adapun darah kutu, kepinding dan lain-lain yang termasuk binatang yang tidak mengalir darahnya, maka itu najis menurut kami seperti juga darah-darah lain, tetapi dimaafkan mengenai pakaian dan badan karena kebutuhan.

Tidak termasuk mengalir adalah limpa dan jantung karena keduanya suci. Bila keduanya diremuk dan menjadi darah, maka najis.

Berkata Asy Syaikh Al Bantani dalam Al Kasyifah : berkata Asy Syarqowi : darah, yaitu walaupun dari limpa dan jantung. Termasuk juga darah yang tersisa di daging dan tulang, tetapi bila dagingnya dimasak dengan air dan airnya berubah warnanya kerana darah yang tersisa itu, maka tidak apa-apa. Dalam hal ini tak ada perbedaan antara air mengalir ke daging atau daging dimasukkan ke air. Namun dengan ketentuan tidak dicuci sebelum diletakkan di dalam periuk untuk dimasak. Bila dicuci sebelumnya dan air berubah karena darah yang tersisa itu, maka tidak boleh, karena syarat menghilangkan najis walaupun dimaafkan adalah hilangnya sifat-sifat najis, karena itu wajib mencucinya sebelum diletakkan ke dalam periuk hingga air bekas cuciannya bersih. Berkata guru kami Athiyyah : dimaafkan darah yang ada di daging bila tidak bercampur dengan air. An Nawawi dalam Al Majmu menyatakan bahwa darah yang tersisa did aging itu suci. As Subki memberlakukan demikian juga. Hadits yang menunjukkan hal ini adalah perkataan Aisyah.

() Berkata Aisyah : Kami memasak daging di dalam periuk pada masa Rosululloh SAW dengan kuningnya darah mengambang di permukaan air, lalu Rosululloh SAW memakannya dan tidak mengingkarinya.

Pendapat yang mutamad adalah pendapat yang pertama dan tidak bertentangan dengan hadits tersebut, karena hadits tersebut dibawa pemahamannya pada kemaafan dan telah diketahui bahwa kemaafan tidak menafikan kenajisan.

Berkata Ibnul Imad dalam Manzhumahnya:

Darah di daging itu dimaafkan

Sebelum dicuci tidak mengapa dimasak

Tetapi Syaikh Syirazi tidak membolehkan

Bahkan wajib disucikan dagingnya

Dimaafkan karena tidak termasuk darah mengalir dan sukar menghindarinya.

Para ulama mengencualikan darah yang najis :

1.       limpa dan jantung

Berdasarkan sabda Rosululloh SAW,

() "Dihalalkan untuk kami dua bangkai dan dua darah, yaitu bangkai ikan dan belalang, limpa dan jantung"

2.       misk

Berdasarkan hadits riwayat Muslim,

() Rosululloh SAW bersabda, "Misk adalah sebaik-baik minyak wangi"

Walaupun misk itu diambil dari kijang mati. Ini berbeda dengan fa'rotul misk, karena bila fa'rotul misk diambil dari kijang yang mati, maka najis, sedangkan bila diambil dari yang hidup, maka suci. Perincian tersebut antara misk dan fa'rotul misk merupakan hokum yang diberlakukan oleh Ibn Hajar. Syaikhul Islam dalam syarh Ar Roudh menyatakan bahwa tak ada perbedaan antara keduanya. Bila keduanya diambil dari kondisi hidup, maka keduanya suci, tetapi bila tidak hidup, maka najis. Lahiriah perkataan penulis Al I'anah adalah bahwa misk itu suci secara mutlak. Az Zarkasyi juga memberlakukan demikian. Pendapat yang beralasan adalah seperti anfihah berdasarkan kaidah prinsip bahwa segala sesuatu yang terpisah dari bangkai yang najis adalah najis.

Dalam Al Muhazzab : Adapun segumpal darah, dalam hal ini ada dua pendapat. Berkata Abu Ishaq bahwa itu najis, karena itu adalah darah yang keluar dari rahim, sehingga seperti haidh. Namun Abu Bakar Ash Shoirofi berkata bahwa itu suci karena bukan darah yang memancar, sehingga seperti limpa dan jantung. Berkata An Nawawi : Pendapat yang paling shohih adalah suci. Adapun segumpal daging, maka menurut madzhab itu suci seperti anak.

Dalam Al I'anah dinyatakan : Dikecualikan juga segumpal darah, segumpal daging, susu dan telur yang belum rusak yang sekiranya tidak akan mejadi anak burung. Bila telur sudah rusak, maka najis. Dalam An Nihayah dinyatakan : Bila telur berubah menjadi darah dan masih layak menjadi anak burung, maka suci. Bila tidak, maka najis.

 

Sedikit darah yang dimaafkan

Imam Asy Syafi'I berkata : Segala yang mengenai pakaian berupa tinja basah, kencing, darah, khamr atau yang diharamkan, dan pemakainya yakin, baik terlihat atau tidak, maka ia wajib mencucinya.

Bila ia tidak dapat memastikan tempatnya, tidak boleh kecuali ia mencuci pakaian seluruhnya, selain darah, nanah dan cairan koreng. Bila tetesan darah berkumpul, walaupun besarnya kurang dari sedirham, maka wajib mencucinya, karena Nabi SAW memerintahkan mencuci darah haidh. Sedikit-dikitnya darah haidh adalah setetes. Bila darah hanya sedikit seperti darah kutu dan semisalnya, maka tidak usah dicuci. Nanah dan cairan koreng lebih ringan dari itu dan tidak usah dicuci kecuali ada setetes.

Fukaha Syafi'iyyah : Dimaafkan sedikit darah. Berkata Asy Syaikh Asyi Syirazi : Adapun darah, maka harus dilihat. Bila darah itu adalah darah kutu, nyamuk dan lain-lainnya, maka dimaafkan dalam jumlah sedikit, karena susah menghindarinya. Bila tidak dimaafkan, maka akan sukar dan sempir, padahal Alloh berfirman :

"Dan tidaklah Ia jadikan untuk kalian kesukaran dalam agama". Dalam jumlah banyak ada dua pendapat. Berkata Abu Said Al Istokhri tidak dimaafkan karena itu hal yang jarang yang tidak susah mencucinya, tetapi yang lain berkata dimaafkan, dan itulah pendapat yang paling shohih, karena ini merupakan jenis yang pada umumnya susah dihindari. Bila darah itu darah lain dari berbagai binatang, maka dalam hal ini ada tiga pendapat. Berkata Asy Syafi'i dalam Al Umm dimaafkan dalam jumlah sedikit, yaitu kadar yang dimaafkan oleh manusia menurut kebiasaan, karena manusia tidak mungkin menghindar dari jerawat dan kudis yang keluar darinya sebanyak kadar ini, sehingga dimaafkan. Tetapi dalam Al Imla dikatakan tidak dimaafkan dalam jumlah sedikit dan tidak juga banyak, karena itu merupakan najis yang tidak susah menghidarinya sehingga tidak dimaafkan seperti halnya kencing. Dalam qoul qodim dikatakan bahwa dimaafkan darah yang kurang dari satu telapak tangan. Pendapat yang paling shohih adalah yang pertama.

 

1. Darah dari binatang yang tidak mengalir darahnya

Berkata An Nawawi : Darah kutu, nyamuk dan lain-lain yang termasuk binatang yang tidak mengalir darahnya itu najis menurut kami, sebagaimana telah dijelaskan. Sahabat-sahabat kami sepakat bahwa itu dimaafkan dalam jumlah sedikit. Sedangkan dalam jumlah banyak, menurut pendapat yang paling shohih dengan kesepakatan ashab adalah dimaafkan. Berkata Asy Syaikh Abu Hamid dan Al Muhamili : Sedikit adalah kadar yang dimaafkan dan diremehkan oleh manusia, sedangkan bayak adalah kadar yang mendominasi pakaian dan lipatannya. Dalam qoul qodim sedikit adalah kadar satu dinar, tetapi dalam qoul qodim lain adalah kurang dari satu telapak tangan. Dalam qoul jadid ada dua pendapat, salah satunya adalah bahwa banyak itu kadar yang tampak bagi orang yang melihatnya tanpa berpikir. Pendapat yang paling shohih adalah dikembalikan kepada kebiasaan. Bila ragu dalam hal sedikit atau banyak, menurut pendapat yang rajih adalah sedikit.

Bila darah sedikit, lalu terkena keringat dan tersebar, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Menurut Asy Syaikh Abu Ashim dimaafkan, sedangkan menurut Al Qodhi Husain tidak dimaafkan. Dalam Al I'anah dinyatakan : Darah dari binatang yang darahnya tidak mengalir dimaafkan, namun kulitnya tidak diamafkan pada badan dan pakaian. Darah ini dimaafkan walaupun jumlahnya banyak dan tersebar melalui keringat dan melampaui badan sampai mengenai pakaian, dengan ketentuan tidak sengaja dilakukan dan tidak melampaui tempatnya. Bila melampaui tempatnya, maka hanya dimaafkan untuk jumlah sedikit. Adapun ketentuan tidak bercampur dengan sesuatu yang lain merupakan ketentuan untuk jumlah sedikit dan banyak. Bila darah bercampur dengansesuatu lain, maka tidak dimaafkan. Dikecualikan dari sesuatu yang lain itu adalah air untuk bersuci, karena dimaafkan darah itu terkena air untuk bersuci, bila tidak secara sengaja meletakkannya di darah itu. Bila sengaja, maka tidak dimaafkan. Berkata Al Khotib : Seyogyanya diikutkan dengan air untuk bersuci adalah air yang berjatuhan ketika meminumnya, makanan ketika memakannya, atau memberikan obat pada lukanya.

 

2. Darah bisul

Adapun darah dari binatang yang darahnya mengalir, berupa manusia dan binatang-binatang lain, maka dalam hal ini ada tiga pendapat yang disebutkan oleh Asy Syaikh Asy Syirazi. Pendapat yang paling shohih berdasarkan kesepakatan adalah pendapat Asy Syafi'i dalam Al Umm bahwa itu dimaafkan dalam jumlah sedikit, yaitu kadar yang dimaafkan oleh manusia menurut kebiasaan. Sebagian sahabat kami membatasi dengan setetes. Ini tentang darah dari yang lain, baik dari manusia atau binatang lain.

Dalam Al I'anah dinyatakan : Termasuk darah dari yang lain adalah darah yang menetes dari badan seseorang lalu kembali mengenainya. Darah seperti ini dimaafkan untuk jumlah sedikit. Berkata Al Kurdi : Seperti itu juga adalah darah yang melampaui tempat keluarnya darah berupa darah bekam dan darah fashd.

Adapun darah dari diri sendiri, maka ada dua, yaitu :

1.      Sesuatu yang keluar dari dari jerawat, berupa darah, nanah dan cairan bercampur darah, maka hukumnya seperti darah kutu sesuai kesepakatan, dimaafkan dalam jumlah sedikit. Namun dalam jumlah banyak ada dua pendapat dan yang paling shohih adalah dimaafkan. Bila seseorang memencet bisul, lalu keluar darah sedikit, maka dimaafkan berdasarkan pendapat yang paling shohih.

2.      Sesuatu yang keluar bukan dari jerawat, tetapi dari bisul, cacar dan tempat pengambilan darah dan berbekam, dan lain-lain.

Dalam hal ini ada dua metode. Salah satunya adalah bahwa itu seperti halnya darah kutu dan cacar, sehingga dimaafkan dalam jumlah sedikit. Sedangkan dalam jumlah banyak, menurut pendapat yang paling shohih dan telah dipilih oleh Ibn Kajj, Asy Syaikh Abu Muhammad dan Imam Al Haramain, yaitu lahiriah perkataan Asy Syaikh Syirazi dan Ulama Iraq bahwa itu seperti darah lain.

Dalam Al I'anah dinyatakan : Darah bisul dimaafkan walaupun banyak dan tersebar karena keringat dengan ketentuan tidak secara sengaja dilakukan. Bila banyak karena secara sengaja, seperti membunuh kutu di pakaian atau memencet bisul, dan dipakai untuk sholat atau sebagai hamparan, maka tidak dimaafkan, kecuali hanya untuk jumlah sedikit.

Hal ini hanya berkaitan dengan sholat, bukan dengan air sedikit. Bila ini mengenai air sedikit, maka tidak dimaafkan. Tidak pengaruh karena bersentuhan dengan badan yang basah dan tidak pula diperintahkan untuk mengelap badannya karena adanya kesukaran.

Berkata dalam Al Mughni : Diperselisihkan bila seseorang memakai pakaian yang ada darah nyamuk, padahal badannya basah. Al Mutawalli berpendapat boleh, sedangkan Asy Syaikh Abu Ali berpendapat tidak boleh. Pendapat pertama dibawa pemahamannya bila basah karena air wudhu, karena sukarnya menghindari hal itu, seperti juga bila basah karena keringat. Sedangkan pendapat kedua dibawa pemahamannya pada selain itu.

 

3. Darah haidh dan mimisan

Dalam Al I'anah dinyatakan : Diqiaskan pada kedua darah tersebut adalah darah yang keluar dari semua lubang pengeluaran, seperti mata, hidung dan kedua telinga, kecuali yang keluar dari sumber najis. Dalam At Tuhfah dinyatakan : telah diketahui bahwa kemaafan dari sedikit darah dari semua luibang pengeluaran merupakan pendapat yang dinukil oleh para sahab-sahabat kami.

4. Darah di gusi

Sah sholat orang yang gusinya berdarah sebelum mencuci mulutnya dengan ketentuan tidak menelan liur yang bercampur dengan darah itu, karena darah yang ada di gusi dimaafkan berkaitan dengan liur.

Bila najis-najis yang dimaafkan ada di beberapa tempat dan bila dikumpulkan akan menjadi banyak, maka menurut Asy Syafi'i hukumnya adalah sedikit, sehingga dimaafkan. Ini tidak menafikan ketentuan bahwa bila najis yang tidak dapat dilihat terpisah-pisah dan bila dikumpulkan akan terlihat, maka tidak dimaafkan, karena kemaafan dalam hal darah lebih luas dibandingkan kemaafan dalam hal lain. Namun menurut Al Mutawalli, Al Ghozali dan lain-lain dianggap banyak dan telah dirajihkan oleh sebagian ulama.

 

5. Segala sesuatu yang keluar dari lambung secara yakin, seperti muntahan walaupun tidak mengalami perubahan

Fukaha Syafi'iyyah : Adapun muntahan sebelum sampai ke lambung, maka itu bukanlah najis, bukan pula mutanajjis, baik yakin atau hanya kemungkinan. Berbeda dengan pendapat Al Qoffal yang menyatakan bahwa makanan yang dimuntahkan sebelum sampai lambung itu mutanajjis.

Bila yang dimuntahkan beruapa biji yang keras yang sekiranya ditanam akan tumbuh, maka itu mutanajjis. Bila sekiranya ditanam tidak tumbuh, maka najis. Adapun telur yang ditelan oleh binatang dan dimuntahkan, lalu bila dipelihara akan menjadi anak burung, maka suci. Bila tidak demikian, maka najis.

Bila anak kecil muntah berturut-turut, maka dimaafkan payudara ibunya yang menyusukannya. Syaikh kita Ibn Hajar ditanya : Apakah dimaafkan sesuatu yang mengenai payudara orang yang menyusukan bayi berupa air liur bayi yang terkena najis karena muntahan atau menelan najis?, maka jawabnya : Dimaafkan mulut orang lain walaupun jelas kenajisannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnush Shollah : Dimaafkan sesuatu yang berhubungan dengan bagian mulut anak kecil walaupun jelas kenajisannya. Demikian juga mulut orang gila. Demikian yang ditetapkan oleh Az Zarkasyi, dikuatkan dengan sesuatu yang dinukil dari Ibnush Shobbagh dan dijadikan pegangan bahwa dimaafkan makanan yang dikeluarkan lagi oleh unta, sehingga tidak menajisi air yang diminum. Dan dimaafkan juga tetesan air liurnya yang terkena najis. Diikutkan juga hokum mulut binatang memamah biak berupa anak sapid an domba yang menyusu kepada induknya, karena adanya kesukaran menghindarinya, terutama berkaitan dengan orang-orang yang bergaul engan binatang-binatang tersebut. Bila seseorang mencium mulut anak kecil yang terkena muntahan berturut-turut atau menyentuhnya tanpa mencium, maka tidak dimaafkan, sehingga wajib dicuci. Namun jawaban pada fatwa di atas menunjukkan bahwa tak ada perbedaan dalam hal dimaafkannya mulut bayi antara payudara ibunya yang menyusukannya dan orang lain yang mencium dan menyentuhnya. Di dalam fatwa tidak ada pengkhususan untuk payudara ibunya. Telah dinukil bahwa bila mulut anak kecil terkena najis karena muntahan misalnya, tidak pergi dan masih memungkinkan menyucikannya, bahkan terus diketahui kenajisannya, maka dimaafkan karena susah menghindarinya, seperti halnya anak kecil yang menyusu ke payudara ibunya, sehingga tidak wajib mencucinya, dan seperti juga mencium mulut anak kecil karena kasih sayang padahal mulutnya basah, sehingga tidak wajib menyucikan mulutnya.

 

Cairan yang keluar dari manusia ketika tidur

Adapun yang keluar dari dada atau tenggorokan, yaitu dahak, dan yang turun dari otak, yaitu lendir, maka keduanya suci seperti ingus dan ludah.

Cairan yang keluar dari manusia ketika tidur, emnurut Al Mutawalli bila keluar mengalami perubahan, maka najis, tetapi bila tidak mengalami perubahan, maka suci. Namun berkata Asy Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini bahwa cairan yang mengalir dari lidah itu suci, sedangkan yang mengalir dari lambung itu najis berdasarkan ijma. Cara membedakannya adalah dengan memperhatikan kebiasaan. Bila di permulaan tidur mengalir dari mulut sesuatu yang basah tetapi terhenti, sehingga bila tidurnya lama, sesuatu yang basah itu akan terhenti dan bibirnya kering, maka itu dari mulut bukan dari lambung. Bila tidurnya lama dan merasakan ada sesuatu yang basah, maka itu dari lambung. Bila timbul keraguan, sehingga tidak tahu dari mana, maka ihtiyath mencucinya. Para dokter mengingkari cairan itu dari lambung dan mengingkari orang yang mewajibkan mencucinya. Pendapat yang terpilih adalah tidak wajib mencucinya, tetapi hanya dianjurkan sebagai ihtiyath.

Berkata Ibnul Imad :

Bila tidur mengalir cairan dari mulut

Dengan perubahan maka najis

Kata Al Juwaini segala dari peruta itu najis

Tetapi suci bila dari anak lidah

Kapan saja kuning kau dapati

Maka itu dari lambung

Cairan peruta tetap ada

Terlihat mengalir saat tidur lama

Cairan lidah kebalikannya

Basah vivir lalu kering karena liur

Tidur dengan kepala terangkat

Di atas bantal, maka suci seperti liur

Dokter ingkari perut keluarkan cairan

Abul Laits Al Janafi nyatakan sucinya

Kebalikan Al Muzanni menajiskan

Karena dahak baginya najis seperti muntahan

Siapa yang terkena ini padahal najis

Dimaafkan seperti bisul

 

 

Mufti Muhammad Sholih ditanya tentang cairan yang keluar dari mulut orang yang tidur, yaitu iler, apakah najis atau tidak? Bila najis, bagaimana menghindarinya bagi yang mengalaminya? Jawabnya sekiranya tidak jelas bahwa cairan itu berasal dari lambung, maka itu suci. Bila jelas berasal dari lambung, maka najis, tetapi orang yang mengalaminya dimaafkan.

 

Makanan yang dikeluarkan oleh binatang memamah biak untuk dimakan kedua kalinya

Muhibbuddin Ath Thobari menukil dari Ibnush Shobbagh dan dijadikan pegangan bahwa makanan yang dikeluarkan oleh binatang memamah biak untuk dimakan kedua kalinya dimaafkan, sehingga tidak menajisi air yang diminum, padahal mulutnya dihukum najis karena hal itu. Dalam An Nihayah dinyatakan : Dimaafkan sesuatu yang menetes dari air liurnya yang terkena najis.

() Dari Amr bin Khorijah berkata : Rosululloh SAW berkhutbah di Mina sambil menunggang unta, sedangkan liur unta menetes ke pundakku.

 

6. Empedu dan susu dari binatang yang tidak boleh dimakan

Fukaha Syafi'iyyah : Adapun kantong empedu, maka hanya mutanajjis yang dapat disucikan dengan mencucinya, sehingga boleh dimakan dengan ketentuan binatangnya boleh dimakan.

Susu dari binatang yang boleh dimakan dagingnya itu suci, berdasrkan firman Alloh, "Susu murni yang melegakan orang yang meminumnya"

Susu dari manusia walaupun dari anak kecil yang mati itu suci, berdasarkan firman Alloh, "Kami telah muliakan anak keturunan Adam" dan tidak sesuai dengan kemuliaan bila keturunan Adam itu najis.

 

7. Cairan yang memabukkan

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila ke dalam air jatuh setitik khamr, kencing, darah atau najis apapun yang termasuk dapat dilihat oleh mata, maka rusaklah airnya dan tidak mencukupi bersuci dengan itu.

Fukaha Syafi'iyyah : Termasuk juga peragiannya, karenanya perasan anggur najis ketika meragikannya saja sampai menjadi cuka dan jadilah suci.

Dasar kenajisannya adalah :

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Al Maidah : 90).

() Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Tiap yang memabukkan adalah khamr dan tiap khamr adalah haram"

Termasuk juga nabidz yang dihasilkan dari peraman benda-benda yang mengandung glukosa, seperti kurma dan gandum, karena dalam pemeraman itu melewati tahapan peragian dan menjadi nabidz, maka ini najis. Adapun yang tidak terlalu dan tidak menjadi sesuatu yang memabukkan seperti cairan yang diambil dari biji-bijian kurma, gandum, madu atau lain-lain, sehingga menjadi manis, maka ini bukanlah najis.

 

8. Cairan dari cacar

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab dinyatakan : Adapun cairan dari cacar, maka bila berbau, maka itu najis seperti halnya nanah, tetapi bila tidak berbau, maka suci seperti basahan yang keluar dari badan.

 

9. Anggota badan binatang yang terpotong

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Majmu dinyatakan : Anggota badan binatang hidup yang terpotong, seperti punuk unta, ekor sapid an lain-lainnya najis berdasarkan ijma. Di antara dalil yang digunakan dari Sunnah adalah hadits Abu Waqid Al Laitsi bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bagian yang terpotong dari binatang ketika masih hidup adalah bangkai".



(20) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Sufyan Ibn Uyainah dari Az Zuhri dari Said bin Al Musayyab dari Abu Hurairoh.

v  Abu Dawud : Kitab Thoharoh, Bab Bumi yang terkena kencing dari jalur Ahmad bin Amr bin As Sarh dan Ibn Abdah dari Sufyan.

v  At Turmudzi : Kitab Thoharoh, Bab berkaitan tentang kencing mengenai bumi dari jalur Ibn Abi Umar dan Said bin Abdurrahman Al Makhzumi dari Sufyan.

Berkata At Turmudzi : Di dalam bab ini ada juga dari Abdullah bin Masud, Ibn Abbas dan Watsilah bin Al Asqo'. Ini adalah hadits hasan shohih. Yunus telah meriwayatkan hadits ini dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Abu Hurairoh.

v  An Nasai : Kitab tentang lupa, Bab berbicara dalam sholat dari jalur Sufyan.

Berkata Al Baihaqi untuk menta'liq hadits ini menurut Asy Syafii : Demikian diriwayatkan Ali bin Al Madini dan Al Humaidi dari Sufyan dan diriwayatkan oleh Syuaib bin Abu Hamzah dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Atabah dari Abu Hurairoh dalam kisah kencing di masjid. Dan dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairoh dalam kisah doa. Dari sisi ini Al Bukhori telah mentakhrijnya :

v  Al Bukhori : Kitab wudhu, Bab menuangkan air ke kencing di masjid dari jalur Abul Yaman dari Syuaib dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Atabah dari Abu Hurairoh tentang kisah kencing. Dan dari jalur Abdan dari Abdullah dari Yahya bin Said dari Anas. Hadits dari Abu Hurairoh merupakan riwayat Al Bukhori secara sendirian.

(21) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Sufyan Ibn Uyainah dari Yahya bin Said berkata : Aku mendengar Anad bin Malik berkata....

Muslim : Kitab Thoharoh, Bab wajibnya mencuci kecing dan najis-najis lain bila ada di masjid dan bahwa bumi disucikan dengan air tanpa perlu menggalinya, dari jalur Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas dengan ringkas. Dan dari jalur Yahya bin Said Al Anshori dari Anas dengan ringkas. Dan dari jalur Ikrimah bin Ammar dari Ishaq bin Abu Tholhah dari Anas. Di dalamnya ada sabda Nabi SAW, "Sesungguhnya masjid ini tidak baik untuk sesuatu berupa kencing dan kotoran. Ini hanyalah untuk dzikir kepada Alloh, sholat dan membaca Al Quran".

Kisah orang badui ini juga diriwayatkan oleh Ibn Majjah, Kitab Thoharoh, Bab bumi yang terkena kencing,dari jalur Ubaidullah Al Hadzli dari Abul Malih dari Watsilah bin Al Asqo, tetapi isnadnya dhoif karena kesepakatang pada dhoifnya Ubaidullah Al Hadzli.

[3] Berkata An Nawawi dalam Al Majmu : Hadits Ammar ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la Al Maushuli, Ad Darquthni dan Al Baihaqi. Berkata Al Baihaqi : Ini hadits batil tak ada asalnya. Ad Darquthni dan Al Baihaqi telah menjelaskan kelemahannya.

(25) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dari Hasyim bin Urwah bahwa mendengar istrinya Fatimah binti Al Mundzir berkata .

v  Musnad Asy Syafii : Kitab Thoharoh, Bab 2. Najis-najis dan menyucikannya dari jalur Sufyan bin Uyainah.

v  Sunan An Nasai : Kitab Thoharoh, Bab darah haidh yang mengenai pakaian dari jalur Yahya bin Habib bin Arabi dari Hammad bin Zaid dari Hasyim bin Urwah.

v  Sunan At Turmudzi : Kitab Thoharoh, Bab berkenaan dengan mencuci darah haidh dari pakaian dari jalur Ibn abi Umar dari Sufyan bin Uyainah.

Berkata Abu Isa : Di dalam bab ini ada juga dari Abu Hurairoh dan Ummu Qois binti Mihshon. Hadits Asma tentang mencuci darah merupakan hadits hasan shohih. Ahli ilmu berselisih tentang darah haidh yang ada di pakaian, lalu sholat dengan pakaian itu sebelum memcucinya. Sebagian ahli ilmu dari tabiin mengatakan : Bila darah sebesar satu dirham, lalu tidak mencucinya dan sholat dengan memakainnya, maka ia harus mengulangi sholatnya. Sebagian mereka mengatakan bila darah lebih dari satu dirham, maka ia harus mengulangi sholatnya. Ini merupakan pendapat Sufyan bin Uyainah dan Ibul Mubarok. Sebagian ahli imu tabiin dan lain-lain tidak mewajibkan mengulangi sholatnya, walalupun lebih besar dari satu dirham. Hal ini dikatakan oleh Ahmad dan Ishaq. Asy Syafii mengatakan : wajib dicuci, walaupun lebih kecil dari satu dirham.

v  Sunan Ad Darimi : Kitab Thoharoh, Bab perempuan haidh sholat dengan pakaiannya bila telah suci dari jalur Amr bin Aun dari Sufyan bin Uyainah, dengan lafadz : Keroklah, lalu perciki dengn air.

v  Sunan Al Kubro Al Baihaqi : Kitab Thoharoh, Bab menghilangklan najis dengan air bukan cairan lain dari jalur Abu Zakariyya bi Abu ishaq dari Muhammad bin Yaqub dari Ar Robi dari Asy Asy Syafii.

Dan dari jalur Yahya bin Muhammad bin Yahya Al Isfaraini dari Muhammad bin Al Hasan dari Bisyr bin Musa dari Al Humaidi dari Sufyan bin Uyainah.

v  Al Muntaqo : Kitab Thoharoh, Bab haidh dari jalur Ibnul Muqri dan Mahmud bin Adam dari Sufyan.

(26) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Malik dari Hasyim bin Urwah dari Fatimah binti Al Mundzir dari Asma.

v  Sunan Abu Dawud : Kitab Thoharoh, Bab perempuan mencuci pakaian yang dipakai saat haidh dari jalur Abdullah bin Salamah dari Malik.

v  Sunan An Nasai : Kitab Thoharoh, Bab darah haidh yang mengenai pakaian dari jalur Yahya bin Habib bin Arabi dari Hammad bin Zaid dari Hasyim bin Urwah.

Berkata Ibul Mulaqqin : Hadits ini diriwayatkan dari dua jalur shohih :

1.        Dari Asma bahwa seorang perempuan bertanya.

2.        Bahwa Asma bertanya.

Berkata Al Baihaqi dalam kitab Al Marifah dan Bayan Khotho' Man Akhthoa Alasy Syafii : Demikianlah Ar Robi meriwayatkan hadits ini dari Asy Syafii dalam kitab thoharoh dan diriwayatkan oleh Harmalah bin Yahya di kitab Sunan dari Asy Syafii dengan isnadnya dari neneknya Asma binti Abu Bakar bahwa seorang perempuan bertanya kepada Nabi SAW tentang darah haidh yang mengenai pakaian. Ini merupakan hadits shohih. Demikianlah diriwayatkan oleh Al Humaidi dan lain-lain dari Sufyan bin Uyainah. Demikian juga diriwayatkan oleh Malik, Yahya bin Said, Abdullah bin Numair, Waki dan lain-lain dari Hisyam. Itu ditakhrih dalam Shohihain dari hadits Malik.

Berkata Ibnul Mulaqqin : Sanad-sanad ini yang telah Asy Syafii sebutkan tambahanya, yaitu bahwa Asmalah yang bertanya, merupakan sanad-sanad shohih, tak ada celaan pada seorangpun dalam hal muttasilnya, tsiqoh para perowinya, seluruhnya para imam yang alim, yang menitakhrij dalam Shohih, sehingga ini merupakan isnad shohih berdasarkan syarat ahli ilmu seluruhnya. Aku heran terhadap perkataan Muhyiddin An Nawawi dalam syarh Al Muhazzab bahwa Asy Syafii meriwayatkan di dalam Al Umm bahwa Asma yang bertanya dengan isnad dhoif.

Al Albani dalam As Silsilah : Seluruh orang yang meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah sepakat dalam hal ketiadaan menyebut nama penanya, kecuali Sufyan bin Uyainah di dalam riwayat Asy Syafii dan Amr bin Aun pada Ad Darimi, karena keduanya mengatakan : Dari Asma berkata : Aku bertanya kepada Rosululloh SAW, sehingga keduanya menjadikan riwayat Asmalah yang bertanya, tetapi berbeda dengan keduanya Al Humaidi menurut Al Baihaqi dan Ibn Abi Umar menurut At Turmudzi, maka mereka berdua berkata : Dari Sufyan bin Uyainah seperti riwayat jamaah. Tak ada keraguan bahwa itualh yang mahfudzoh. Riwayat Asy Syafii dan Ibn Aun syadz, karena berbeda dengan riwayat jamaah dari Hisyam dan riwayat Al Humaidi dan Ibn Abi Amr dari Sufyan. Karena itu An Nawawi mendhoifkannya, maka ia benar, tetapi ia tidak menjelaskan ilatnya, lalu ia mewahamkan apa yang tidak ia inginkan. Karena itulah Al Hafidz dalam Al Fath menyalahkannya, katanya setelah menyebutkan riwayat Asy Syafii ini : Paling aneh An An Nawawi, sehingga ia mendhoifkan riwayat ini tanpa dalil, padahal itu shohih isnadnya tak ada ilat.

[6] Penggunaan hadits ini sebagai dalil tidak najisnya mani tidak sah, karena mani dan buangan-buangan lain dari Nabi SAW itu suci. Dijawab bahwa mani yang dikerok oleh Aisyah adalah mani yang bercampur dengan wanita istrinya karena jima. Di antara dalil yang menunjukkan kesucian mani adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi bahwa Rosululloh SAW ditanya tentang mani yang mengenai pakaian, maka bersabda, "Itu hanyalah seperti ludah dan liur". (Ta'liq Al I'anah)

[7] Mani yang dikerok oleh Aisyah adalah mani Aisyah atau mani yang bercampur natar nabi Nabi SAW dan mani Aisyah. (Ta'liq Al I'anah)

[8] Berkata An Nawawi : Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim Abu Abdillah dan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas. Al Kami berkata di akhir Kitab Al Mustadrok : Ini adalah hadits shohih menurut syarat Al Bukhori dalam Kitab Al Janaiz secara ta'liq dari Ibnu Abbas : Muslim tidak najis, baik hidup ataupun mati.

[9] Abdul Mutholib : Hadits diriwayatkan dengan jalur dan lafadz yang bermacam-macam :

1.        Bila anjing minum dari bejana kalian, maka cucilah 7 kali

v  Bukhori dalam Kitab wudhu, Bab air yang digunakan untuk memncuci rambut manusiaa meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Yusuf dari Malik.

v  Muslim dalam Kitab Thoharoh, Bab jilatan anjing meriwayatkan dari jalur Yahya bin Yahya dari Malik.

Jelas bahwa riwayat dalam shohihain adalah dari hadits Malik.

Berkata Ibn Abdil Barr dalam Al Istidzkar : Demikian Malik katakan dalam hadits ini : bila minum, sedangkan perowi lain mengatakan : Bila menjilati.

Berkata Ibnul Mulaqqin : Demikian lafadz ini dianggap ghorib oleh dua hafidz, yaitu Abu Bakar Al Ismaili dan Abu Abdillah bin Mandah. Tabi untuk Malik dengan lafadz : Bila minum adalah Abdurrahman dan Warqo bin Umar dari Abuz Zunad. Jalur pertama diriwayatkan oleh Abus Syaikh Al Hafidz, sedang jalur kedua oleh Abu Bakar Al Jauzaqi.

Diriwayatkan juga oleh Hisyam bin Hassan dari Muhammad bin Sirrin dari Abu Hurairoh dengan lafadz : Bila minum.

Berkata Al Hafidz Al Baihaqi dalam Al Marifah : Hadits ini shohih. Diriwayatkan oleh Al Bukhri dari Abdullah bin Yusuf dari Malik dan diriwayatkan oleh Muslim dari Yahya bin Yahya dari Malik, keduanya mentakhrijnya juga dari hadits Hammam, Abu Sholih dan Abu Rizzin dari Abu Hurairoh, hanya saja dalam hadits Abu Sholih dan Abu Rizzin ada tambahan : maka tumpahkan. Di dalam lafadz hadits : maka tumpahkan merupakan dalil najisnya sisa minuman anjing.

2.        Bila anjing menjilati bejana kalian, maka tumpahkan dan cucilah 7 kali

Muslim dalam Kitab Thoharoh, Bab Jilatan anjing, dari jalur Ali bin Hujr As Sa'di dari Ali bin Mashar dari Al A'masy dari Abu Rizzin dan Bu Sholih dari Abu Hurairoh.

Berkata Ibn Mandah : Tambahan ini, yaitu tumpahkan, diriwayatkan secara sendiri oleh Ali bin Mashar dan tidak dikatahui dari Nabi SAW kecuali dari riwayat ini.

Menyusul Ibnul Mulaqqin berkata : Tidak apa-pa secara sendiri, karena Ali bin Mashar merupakan Imam Hafidz yang disepakati kredibilitasnya ('adalah) dan dijadikan hujjah. Karena itu setelah mantakhrij hadits ini berkata Ad Darquthni : Isnadnya hasan dan para perowinya tsiqoh.

3.        Bila anjing menjilati bejana kalian, maka cucilah 7 kali, yang pertama dengan debu

Muslim dalam Kitab Thoharoh, Bab Jilatan anjing, dari jalur Zuhair bin Harb dari Ismail bin Ibrohim dari Hisaym bin Hassan dari Juhammad bin Sirrin dari Abu Hurairoh.

Berkata Al Baihaqi dalam Al Marifah : Muhammad sendirian dalam menyebut debu dalam hadits Abu Hurairoh.

Dari jalur Muhammad bin Rofi dari Abdur Razzaq dari Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairoh, tetapi tak ada lafadz : yang pertama dengan debu.

4.        Bila anjing menjilati bejana, maka cucilah tujuh kali, yang ketujuh dengan debu.

Abu Dawud dalam Kitab Thoharoh, Bab berwudhu dengan sisa minuman anjing dari jalur Musa bin Ismail dari Abban dari Qotadah dari Ibn Sirrin dari Abu Hurairoh.

Ibnul Mulaqqin berkata : Rijalnya tsiqoh, sebagaiman dikatakan oleh penulis kitab Al Imam.

5.        Bila anjing menjilati bejana kalian, maka cucilah tujuh kali, yang pertama atau yang terakhir dengan debu.

Ini merupakan riwayat Asy Syafii No. 34. Berkata Ibnul Mulaqqin : riwayat yang shohih. Diriwayatkan demikian :

v  At Turmudzi : Kitab Thoharoh, Bab berkenaan tentang sisa minuman anjing dari jalur Siwar bin Abdillah Al Anbari dari Al Mu'tamar bin Sulaiman dari Ayyub dari Muhammad bin Sirrin dari Abu Hurairoh, dengan tambahan : Bila kucing menjilati, maka cuci sekali.

Berkata At Turmudzi : Ini adalah hadits hasan shohih dan merupakan pendapat Asy Asy Syafii, Ahmad dan Ishaq.

6.        Tentang anjing yang menjilati bejana, dicuci tiga, lima atau tujuh kali.

v  Sunan Ad Darquthni : Kitab Thoharoh, Bab jiltan anjing dari jalur Abdul Wahhab bin Ad Dhohhak dari Ismail bin Ayyasy dari Hisyam bin Urwah dari Abuz Zunad dari Al A'roj dari Abu Hurairoh.

Berkata : Abdul Wahhab sendiri dari Ismail dan dia matruk hadits, sedangkan orang lain meriwayatkan dari Ismail dengan isnad ini : cucilah tujuh kali. Itulah yang benar.

Berkata Al Baihaqi dalam As Sunnan: Ismail tidak dijadikan hujjah khususnya bila ia meriwayatkan dari penduduk Hijaz. Dan menukil dari Ad Darquthni di Al Marifah : Abdul Wahhab bin Najdah meriwayatkan dari Ismail dari Hisyam dari Abuz Zunad dengan lafadz : cucilah tujuh kali, sebagaimana diriwayatkan oleh para tsiqoh. Diriwayatkan oleh Al Hasan bin Syaqiq dari Abdul Wahhab bin Ad Dhohhak. Dalam matannya dikatakan : Bila anjing menjilati bejan, maka cucilah tujuh kali.

7.        Bila anjing menjilati bejana, maka cucilah tujuh kali dan lumuri yang kedelapan dengan debu.

v  Muslim dari jalur Ubaidullah bin Muadz dari bapaknya dari Syu'bah dari Abut Tayyah dari Muthorrif bi Abdullah dari Abdullah bin Al Mughoffal dari Rosululloh SAW. Hadits Abdullah bin Al Mughoffal diriwayatkan sendiri oleh Muslim dan tidak ditakhrij oleh Al Bukhori.

Berkata Ibn Madah : Isnadnya disepakati keshohihannya.

Berkata Al Baihaqi dalam Al Marifah : Boleh jadi melumuri dengan debu pada salah satu dari tujuh kali cucian merupakan hitungan kedelapan.

8.        Bila anjing menjilati bejana, maka tumpahkan dan cucilah tujuh kali, salah satunya dengan debu.

Abu Ubaid di dalam kitabnya At Thohur dari Ismail bin Ibrohim dari Ayyub dari Ibn Sirrin dari Abu Hurairoh. Sanad hadits ini seperti sanad Asy Syafii No. 34.

9.        Bila anjing menjilati bejana, maka cucilah tujuh kali, salah satunya dengan lumpur.

v  Ad Darquthni : Kitab Thoharoh, Bab jilatan anjing di bejana dari jalur Mahmud bin Muhammad Al Marwazi dari Al Khidr bin Ashrom dari Al Jarud dari Israil dari Abu Ishaq dari Hubairoh bin Yarim dari Ali bin Abu Tholib bahwa Rosululloh SAW.....

Berkata An Nawawi dalam syarh Al Muhazzab : Riwayat ini tidak ada di dalam kitab Shohih, tidak juga di dalam kitab-kitab yang dijadikan pegangan, diriwayatkan oelh Ad Darquthni dan gohrib.

Berkata Al Haitsami dalam Al Majma : Ath Thobroni meriwayatkan dalam Al Awsath dari jalur Al Jarud dari Israil, sedangkan Al Jarud tidak aku kenal.

10.      Bila anjing menjilati bejana, hendaklah cuci tujuh kali, salah satunya dengan debu.

Berkata Al Haitsami dalam Al Majma dan menisbahkannya ke Al Bazzar : Itu ada dalam kitab Shohih, selain perkataan : salah satunya. Rijalnya merupakan rijal shohih kecuali guru Al Bazzar.

Jalur Al Bazzar sebagaiman dijelaskan oleh Ibnul Mulaqqin adalah : Abu hilal Ar Rosibi dan Yazid bin Ibrohim dari Muhammad dari Abu Hurairoh, tetapi Abu Hilal Ar Rosibi diperselisihkan.

Dan menurut Al Bazzar juga adalah :

11.      Bila anjing menjilati bejana, maka cucilah tujuh kali. Aku kira beliau bersabda : salah satunya dengan debu.

Ini menurut Al Bazzar dari Ibad bin Yaqub dari Al Walid bin Abu Tsaur dari As Suddi dari bapaknya dari Abu Hurairoh. Hadits ini dhoif.

Telah dirajihkan oleh Ibn Hajar di dalam Al Fath riwayat : yang pertama, dari segi lebih banyak dan lebih hafidz, dan dari segi makna juga.

12.      Bila anjing menjilati bejana, maka tumpahkan, lalu cucilah tiga kali.

Berkata Al Baihaqi di dalam Al Marifah : Diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atho dari Abu Hurairoh secara mauquf. Tidak diriwayatkan oleh selain Abdul Malik, padahal Abdul Malik tidak diterima haditsnya yang berbeda dengan para tsiqoh. Telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Fudhail dari Abdul Malik dengan menyandarkan pada perbuatan Abu Hurairoh, bukan perkataannya. Kami telah riwayatkan dari orang yang kami sebutkan dari orang yang tidak kami sebutkan dari abu Huraroh secara marfu seperti yang kami riwayatkan (yaitu riwayat tujuh kali).

Diriwayatkan dari Ali, Ibn Umar dan Ibn Abbas secara marfu tentang perintah mencuci tujuh kali, sedangkan yang dijadikan pegangan adalah hadits Abu Hurairoh, karena keshohihan jalurnya dan kautnya isnad.

Berkata Imam Ahmad : At Thohawi menyangka ia telah meneliti atsar-atsar, lalu meriwayatkan hadits-hadits shohih berkaitan tentang jilatan anjing, tetapi meninggalkan perkataan jumlah yang ada dalam menyucikan bejana dan penggunaaan debu dan menjadikannya sandingan dengan hadits-hadits berkaitan tentang mencuci kedua tangan sebelum memasukkan ke dalam bejana, padahal ia mewajibkan mencuci bejana dari jilatan, tetapi tidak mewajibkan mencuci kedua tangan sebelum memasukkan ke dalam bejana. Lalu bagaiman keduanya serupa? Lalu ia kemukakan hadits Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atho' dari Abu Hurairoh tentang bejana yang dijilat oleh anjing atau kucing yang dicuci tiga kali, bersandar kepada hadits untuk meninggalkan hadits-hadits yang tsabit dari Nabi SAW tentang jilatan dan berdalil dengan dinasakhnya tujuh kali, berdasarkan prasangka baik kepada Abu Hurairoh bahwa ia tidak akan menyelisihi Nabi SAW pada yang ia riwayatkan.

(36)

(37)

(38) Al Atsari : Shohih

Asy Syafii meriwayatkan dari Malik dari Hasyim bin Urwah dari Fatimah binti Al Mundzir dari Asma.