YANG MEWAJIBKAN WUDHU

 

1.       Segala yang keluar dari 2 jalan

Kentut dan buang air besar

Madzi dan kencing

Semua hal yang keluar dari dua jalan

Jalan yang biasa buntu

Darah wasir

Keluar cacing

Injeksi

2.       Tidur

Tidur Berbaring

Tidur dengan posisi duduk

Tidur berdiri

Sunnah berwudhu karena tidur duduk

Tidur di atas tunggangan

Tidur Nabi SAW

Pemberitahuan seorang yang adil

3. Hilang akal

4. Menyentuh perempuan

Apakah batal wudhu dari orang yang disentuh?

Syarat persentuhan membatalkan wudhu :

1.       antara jenis kelamin berbeda, perempuan dan laki-laki

2.       dengan kulit, bukan dengan rambut, kuku atau gigi

3.       tanpa penghalang

4.       keduanya telah dewasa dengan yakin

5.       bukan mahram walaupun kemungkinan

5. Menyentuh kemaluan

Dengan telapak tangan bagian dalam

Menyentuh qubul atau dubur orang lain

Menyentuh qubul atau dubur binatang

Menyentuh dengan punggung telapak tangan

Menyentuh dengan jari-jari

Menyentuh buah pelir

 

 

 

 

 

 

YANG MEWAJIBKAN WUDHU

 

Imam Asy Syafi'i berkata : Hal yang mewajibkan wudhu adalah buang air besar; kencing; tidur, baik berbaring, berdiri, ruku, sujud atau berubah dari posisi duduk sempurna, baik tidurnya sedikit atau banyak; hilang akal karena gila atau sakit, baik berbaring atau tidak, angin yang keluar dari dubur; laki-laki bersentuhan dengan perempuan, bersentuhan adalah menjulurkan bagian badannya ke badan perempuan, atau perempuan menjulurkan ke laki-laki tanpa penghalang antara keduanya, atau menciumnya; menyentuh dengan telapak tangan (bagian dalam) kemaluan sendiri, orang lain, kecil, besar, hidup, mati, laki-laki dan perempuan, baik kemaluan itu berupa qubul atau dubur, atau menyentuh lobang duburnya sendiri, tetapi tidak usah wudhu karena menyentuh kemaluan binatang; segala yag keluar dari dubur atau qubul berupa cacing, darah, madzi, wadi, basahan atau lain-lainnya.

Fukaha Syafi'iyyah : Seseorang yang akan mendirikan sholat atau melakukan perbuatan yang membutuhkan wudhu, bila wudhunya telah batal maka dia wajib berwudhu terlebih dahulu. Berkata Asy Syaikh Asy Syirazi dalam Al Muhazzab : Hadats-hadats yang membatalkan wudhu ada lima, yaitu segala yang keluar dari dua jalan, tidur dan hilang akalnya karena selain tidur, menyentuh perempuan dan menyentuh kemaluan.

 

3.       Segala yang keluar dari 2 jalan

Kentut dan buang air besar

Imam Asy Syafii berkata : Siapa yang buang air, maka wajib atasnya berwudhu.

[] Dari Ibad bin Tamim dari pamannya Abdullah bin Zaid katanya, "seseorang yang dikhayalkan mengeluarkan sesuatu di dalam sholat mengadu kepada Rosululloh SAW, maka jawab beliau, "Jangan berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium bau"[1]

Imam Asy Syafii berkata : Ketika sunnah menunjukkan bahwa seseorang berpaling dari sholatnya karena kentut, maka kentut adalah salah satu jalan buang air besar dan buang air besar lebih dari kentut.

[] Dari Ibn Shummah bahwa Rosululloh SAW kencing lalu tayammum. "[2]

 

Madzi dan kencing

[] Dari Al Miqdad bahwasanya Ali bin Abi Tholib memerintahkannya bertanya kepada Rosululloh SAW tentang seorang laki-laki yang mendekati istrinya lalu mengeluarkan madzi, apa yang wajib dia lakukan. Ali berkata, "Di sisiku ada putri Rosululloh SAW, sehingga aku malu bertanya kepada beliau". Lalu aku bertanya kepada Rosululloh SAW, jawab beliau, "Bila seseorang mendapati hal itu, maka hendaklah ia memerciki kemaluannya dengan air dan berwudhulah".[3]

Imam Asy Syafii berkata : Sunnah menunjukkan wajibnya wudhu karena madzi dan kencing.

 

Semua hal yang keluar dari dua jalan

Imam Asy Syafii berkata : Tidak boleh tidak bahwa semua hal yang keluar dari dzakar dan dubur laki-laki atau keluar dari qubul wanita, yang merupakan jalan hadas, mewajibkan wudhu. Demikian juga hal yang masuk dzakar atau dubur berupa alat yang dimasukkan untuk mengetahui luka atau injeksi, lalu keluar seperti aslinya atau bercampur dengan lain, maka wajib berwudhu, karena ini keluar dari jalan hadats.

Demikian pula ulat yang keluar darinya, kerikil dan semua yang keluar dari salah satu kemaluan, maka wajib berwudhu.

Demikian pula angin yang keluar dari dzakar laki-laki atau qubul wanita, maka wajib berwuhu, seperti juga wajib berwudhu karena air yang keluar dari dubur.

Orang-orang tidak berselisih tentang ludah yang keluar dari mulut, ingus dan nafas yang keluar dari hidung, yang tidak mewajibkan wudhu. Hal itu menunjukkan bahwa tak ada kewajiban wudhu karena muntah, tidak juga karena mimisan, bekam dan sesuatu yang keluar dari tubuh.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkata Asy Syaikh Asy Syirazi dalam Al Muhazzab : Adapun segala yang keluar dari dua jalan, maka itu membatalkan wudhu berdasarkan firman Alloh :

"Bila kalian sakit atau dalam perjalanan, atau salah seorang di antara kalian datang dari buang air, atau bersentuhan dengan perempuan, lalu tidak menemukan air, maka bertayammumlah"

() Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Tak wajib wudhu kecuali karena suara dan angin"

() Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang dari kalian mendapati di perutnya ada sesuatu, lalu timbul ragu apakah keluar sesuatu atau tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid hingga mendengar suara atau mendapati bau"

() Dari Abdullah bin Zaid katanya, "Seseorang yang dikhayalkan mengeluarkan sesuatu di dalam sholat mengadu kepada Rosululloh SAW, maka jawab beliau, "Jangan berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium bau"

() Dari Ibn Abbas bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Wudhu itu karena sesuatu yang keluar, bukan karena sesuatu yang masuk"

() Dari Ibnu Abbas berkata, "Wadi mewajibkan wudhu"

() Dari Ibn Masud berkata, "Wadi yang keluar setelah kencing mewajibkan wudhu"

An Nawawi dalam Al Majmu : Segala yang keluar dari dua jalan membatalkan wudhu, baik berupa tinja, kencing, angin, cacing, nanah, darah, kerikil atau lain-lainnya. Tak ada perbedaan antara hal biasa atau jarang. Tidak dikecualikan sesuatupun yang keluar kecuali mani, karena mani tidak membatalkan wudhu menurut pendapat shohih yang masyhur, yang telah ditetapkan oleh mayoritas. Namun sekelompok ulama di antaranya Al Qodhi Abuth Thoyyib mengatakan bahwa mani juga membatalkan wudhu. Kemutlakan perkataan Asy Syafi'i juga menyatakan demikian, karena Asy Syafi'i berkata : Tidak boleh tidak bahwa semua hal yang keluar dari dzakar dan dubur laki-laki atau keluar dari qubul wanita, yang merupakan jalan hadas, mewajibkan wudhu.

Dalam Al I'anah dinyatakan : Bila seseorang mendapati ada basah di dzakarnya, maka tidak batal wudhunya dengan ketentuan ada kemungkinan darang dari luar. Bila taka da kemungkinan demikian, maka batallah wudhunya.

 

Jalan yang biasa buntu

Bila tidak keluar dari jalan biasa, maka dalam hal ini ada empat bentuk :

1.       jalan biasa buntu dan dibuka jalan keluar di bawah pusar

Bila jalan yang biasa buntu dan dibuka jalan keluar di bawah pusar, maka batallah wudhunya bila sesuatu keluar darinya. Demikian yang ditetapkan oleh ashab kecuali penulis Al Hawi.

2.       jalan biasa buntu dan dibuka jalan di atas pusar

Bila jalan yang biasa buntu dan dibuka jalan di atas pusar, maka dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur. Pendapat yang shohih menurut mayoritas adalah tidak membatalkan wudhu.

3.       jalan biasa tidak buntu dan dibuka jalan di bawah pusar

Bila jalan yang biasa tidak buntu dan dibuka jalan di bawah pusar, maka dalam hal batalnya wudhu ada perbedaan pendapat, namun pendapat yang paling shohih adalah tidak batal. Demikian yang diputuskan oleh Al Jurjani dalam At Tahrir.

4.       jalan biasa tidak tertutup dan terbuka jalan di atas pusar

Bila jalan yang biasa tidak tertutup dan dibuka jalan di atas pusar, maka menurut mayoritas tidak membatalkan. Ulama yang mengatakan ini di antaranya Asy Syaikh Asy Syirazi, Al Mawardi, Asy Syaikh Abu Muhammad, Al Qodhi Husain, Al Furani dan lain-lain.

Bila dinyatakan batal karena sesuatu yang keluar dari jalan yang terbuka, maka dalam hal kencing atau tinja tidak ada perbedaan pendapat tentang batalnya. Namun bila yang keluar selain kedua hal tersebut, seperti darah, nanah, kerikil atau lain-lainnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat yang paling shohih adalah batal. Demikian yang diputuskan oleh Al Mutawalli. Karena jalan yang dibuka dianggap seperti jalan yang asli dan tak ada perbedaan antara hal yang keluar itu biasa atau tidak.

 

Darah wasir

Bila keluar darah dari wasir, maka harus dilihat. Bila wasirnya ada di dalam dubur, maka batallah wudhunya, namun bila ada di luar dubur, maka tidak batal. Demikian Ash Shoimari dan lain-lain. Bila wasir yang ada di dalam dubur keluar, lalu seeorang berwudhu, kemudian keluar darah dari wasir itu, maka tidak batal wudhunya. Demikian juga bile keluar darah dari wasir yang ada di luar dubur. Namun Al Allamah Al Kamal Ar Roddad berfatwa bahwa tidak batal wudhu karena keluarnya wasir itu sendiri, tetapi karena sesuatu yang keluar dari wasir seperti darah.

 

Keluar cacing

Bila cacing mengelurkan kepalanya dari salahs atu dua jalan, lalu kembali masuk sebelum terlepas dari dubur, maka dalam hal batalnya wudhu ada dua pendapat. Pendapat yang paling shohih adalah batal karena telah keluar, sedangkan pendapat kedua adalah tidak batal karena tidak terlepas.

 

Injeksi

Imam Asy Syafi'i berkata : Demikian juga hal yang masuk dzakar atau dubur berupa alat yang dimasukkan untuk mengetahui luka atau injeksi, lalu keluar seperti aslinya atau bercampur dengan lain, maka wajib berwudhu, karena ini keluar dari jalan hadats.

Fukaha Syafi'iyyah : Para ashab sepakat bahwa bila seseorang memasukkan ke qubul atau dubur sesuatu berupa kayu, alat yang dimasukkan untuk mengetahui luka, injeksi, benang, jari atau lainnya, lalu keluar, maka batallah wudhunya, baik bercampur dengan benda lain atau tidak, baik terpisah semuanya atau hanya sepotong, karena itu keluar dari jalannya. Adapun semata-mata memasukkan, maka tidak batal wudhunya.

4.       Tidur

Imam Asy Syafii berkata : Alloh SWT berfirman,

 

"

 

Bila kalian ingin mendirikan sholat, maka basuhlah wajah kalian, kedua tangan sampai siku, usaplah sebagaian kepala dan (basuhlah) kaki sampai kedua mata kaki

Lahiriah ayat menyatakan bahwa barang siapa yang akan mendirikan sholat, maka wajib atasnya berwudhu. Ada kemungkinan ayat ini turun pada hal khusus. Aku mendengar orang yang kelimuannya tentang Al Quran aku percaya (yaitu Imam Malik) menyatakan bahwa ayat ini turun tentang orang yang bangun dari tidur. Sunnah menunjukkan bahwa wajib berwudhu orang yang bangun dari tidurnya.

[46] Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW, "Bila salah satu kalian bangun dari tidur, maka janganlah mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia mencucinya 3 kali, karena dia tidak tahu di mana tangannya menginap"[4]

 

Tidur Berbaring

Imam Asy Syafii berkata : Barang siapa tidur berbaring, maka wajib atasnya berwudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila tidur dengan berbaring, menyungkurkan wajah atau bertelekkan, maka batallah wudhunya, berdasarkan :

() Dari Ali bin Abi Tholib Bawa Nabi SAW bersabda, "Kedua mata merupakan pengikat dubur, karena itu barang siapa tidur, maka hendaklah berwudhu"

() Dari Ibn Abbas berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Wudhu hanyalah bagi orang yang tidur dengan berbaring, karena barang siapa berbaring, maka mengendurlah persendiannya"

() Dari Huzaifah bahwa ia tidur dengan duduk, lalu ia bertanya kepada Rosululloh SAW, "Wahai Rosululloh, apakah karena ini wajib wudhu?", maka jawab beliau, "Tidak, hingga engkau letakkan lambungmu ke bumi"

Bila seseorang tidur dengan terlentang pada lehernya dan menempelkan kedua pantatnya ke bumi, maka itu jauh dari kemungkinan keluarnya hadats, tetapi ashab sepakat bahwa itu membatalkan wudhu, karena ia bukanlah seperti orang yang duduk yang mantap. Bila ia menyumpalkan atau mengikatkan sesuatu ke lubang duburnya, maka menurut pendapat yang shohih batal wudhunya juga. Demikian yang diputuskan oleh Imam Al Haramain.

 

Tidur dengan posisi duduk

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila seseorang tidur dalam posisi duduk mantap, menurutku tidak wajib atasnya berwudhu, berdasarkan atsar-atsar yang telah aku sebutkan. Telah diketahui bahwa ayat yang turun berkenaan dengan orang-orang yang tidur adalah orang yang tidur dengan berbaring. Orang dikatakan tidur bila dia berbaring. Sebutan tidur tidak berlaku mutlak kecuali tidur berbaring.

Bila berubah dari kedudukan mantapnya, maka wajib atasnya berwudhu, karena orang yang tidur duduk tidak akan keluar sesuatu darinya kecuali dia akan bangun.

Bila seseorang tidur duduk, aku lebih suka ia berwudhu

[] Dari Anas bin Malik berkata, "Para sahabat menunggu sholat isya, lalu mereka tidur dalam posisi duduk, hingga kepala mereka terkulai, lalu mereka sholat tanpa berwudhu lagi. [5]

[] Dari Ibn Umar bahwasanya dia tidur duduk, lalu sholat tanpa berwudhu lagi. [6]

[] Dari Ibn Umar katanya, "Barang siapa tidur berbaring, maka wajib atasnya berwudhu. Namun yang tidur duduk tidak wajib berwudhu" [7]

Fukaha Syafi'iyyah : Bila tidur dengan duduk dan tempat keluarnya hadats mantap di bumi, maka dalam Al Buwaithi dikatakan batal wudhunya dan itu merupakan pilihan Al Muzanni berdasarkan hadits Ali dan karena segala yang membatalkan wudhu dalam keadaan berbaring juga membatalkan wudhu ketika duduk, seperti hadats.

Berkata Al Muzanni dalam Al Mukhtashor : Diriwayatkan dari Shofwan bin Assal bahwa ia berkata, "Nabi SAW pernah menyuruh kami jika kami sedang bepergian untuk tidak menanggalkan khuf kami selama tiga hari tiga malam lantaran buang air besar, kencing, dan tidur kecuali karena janabah". Ketika Nabi SAW menjadikan semua itu searti dengan hadats, maka hadats sama untuk semuanya, baik berbaring atau duduk. Bila hadats tidur berbeda-beda karena perbedaan sikap orang yang tiudr, maka berbeda juga hadast buang air besar dan kencing dan pasti Nabi SAW menjelaskannya seperti halnya Nabi SAW menjelaskan bahwa makan saat puasa dengan sengaja membatalkan, sedangkan karena lupa tidak membatalkan.

() Rosululloh SAW bersabda, "Dua mata adalah pengikat mata, maka siapa saja yang tidur dua matanya, maka terlepas ikatannya, karena itu siapa yang tidur, maka hendaklah berwudhu"

Namun yang dinyatakan dalam kitab-kitab hal ini tidak membatalkan wudhu, berdasarkan hadits :

() Dari Anas bin Malik berkata, "Para sahabat menunggu sholat isya, lalu mereka tidur dalam posisi duduk, lalu mereka sholat tanpa berwudhu lagi"

() Dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi SAW bersabda, "Barang siapa tidur dengan duduk, maka tidak wajib wudhu, tetapi barang siapa meletakkan lambungnya, maka wajib wudhu"

() Rosululloh SAW bersabda, "Dua mata adalah pengikat mata, maka siapa saja yang tidur dua matanya, maka terlepas ikatannya, karena itu siapa yang tidur, maka hendaklah berwudhu"

Dan menyalahi hadats, karena hadats membatalkan wudhu adalah karena hadatsnya itu sendiri, sedangkan tidur membatalkan karena itu disertai keluarnya sesuatu. Hal itu tidak terasa bila tidur dengan posisi berubah dari duduk sempurna dan terasa bila tidur dengan duduk.

Bila seseorang tidur dengan duduk, lalu kedua pantatnya atau salah satunya berubah sebelum bangun, maka batal wudhunya, karena terlewat sekejap dalam keadaan tidur tanpa memantapkan duduknya. Bila berubah setelah bangun, bersamaan atau tidak tahu mana di antara keduanya yang mendahului, maka tidak batal wudhunya, karena pada dasarnya ia suci.

 

Tidur berdiri

Imam Asy Syafi'I berkata : Barang siapa tidur sambil berdiri, maka wajib atasnya berwudhu, karena ia tidak menyandarkan dirinya ke bumi

Fukaha Syafi'iyyah : Bila tidur dalam posisi ruku, sujud atau berdiri di dalam sholat, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Dalam qoul jadid dikatakan batal wudhunya berdasarkan hadits Ali dan karena ia tidur dengan posisi berubah dari duduk sempurna, sehingga serupa dengan tidur dengan berbaring. Sedangkan dalam qoul qodim tidak membatalkan berdasarkan sabda Rosululloh SAW :

() Bila seorang hamba tidur dalam sholatnya, maka Alloh akan membangga-banggakan dia di hadapan para Malaikat dengan berfirman, "Hamba-Ku ruhnya ada disisi-Ku, sedangkan jasadnya sujud di hadapan-Ku"

Bila wudhunya batal, maka Alloh tidak akan jadikan ia tidur sambil bersujud. Berkata An Nawawi : Pendapat yang shohih batal wudhunya dengan piosisi apapun tidurnya, baik dalam sholat atau lainnya.

Berkata An Nawawi : Kesimpulan tentang tidur ada lima pendapat Asy Syafi'i.

Pendapat pertama : Pendapat yang shohih dari aspek madzhab dan teks dalam kitab-kitabnya serta telah dinukil oleh para ashab bahwa barang siapa tidur dengan memantapkan posisi duduknya di bumi atau lain-lainnya, maka tidak batal wudhunya, tetapi bila tidak memantapkan duduknya, maka batallah wudhunya dengan posisi apapun tidurnya, baik dalam sholat atau lainnya.

Pendapat kedua : Tidur membatalkan wudhu dengan posisi apapun. Ini merupakan teks dalam Al Buwaithi. Teks dalam Al Buwaithi adalah :

Imam Asy Syafi'I berkata : Barang siapa tidur dengan berbaring, sambil ruku atau sujud, maka berwudhulah. Bila tidur berdiri, lalu kedua telapak kakinya berubah dari tempat berdirinya, maka wajib wudhu. Bila tidur dengan duduk, lalu berubah duduknya dari tempat duduknya, sedangkan ia masih tidur, maka wajib wudhu. Barang siapa tidur dengan duduk atau berdiri, lalu bermimpi, maka wajib berwudhu. Barang siapa ragu apakah ia tidur dengan duduk, berdiri atau tidak tidur, maka ia tidak wajib melakukan apapun hinnga ia yakin tidur. Bila ia ingat bahwa ia telah bermimpi tetapi ragu apakah tidur atau tidak, maka wajib berwudhu, karena mimpi tidak ada kecuali karena tidur.

Pendapat ketiga : Bila tidur dalam sholat, maka tidak batal wudhunya, dengan posisi apapun tidurnya. Namun bila tidur dalam keadaan selain sholat tanpa memantapkan duduknya, maka batallah wudhunya. Bila tidak demikian, maka tidak batal.

Pendapat keempat : Bila tidur, baik dengan posisi duduk mantap atau tidak, ketika melakukan salah satu bentuk sholat, baik dfalam sholat atau tidak, maka tidak batal wudhunya.

Pendapat kelima : Bila tidur dengan duduk mantap atau sambil berdiri, maka tidak batal wudhunya.

Para ashab mentakwil teks Asy Syafi'I dalam Al Buwaithi bahwa maksudnya adalah tidur tanpa memantapkan duduknya. teks Asy Syafi'I dalam Al Buwaithi 'Bila tidur dengan duduk, lalu berubah duduknya dari tempat duduknya, sedangkan ia masih tidur, maka wajib wudhu' merupakan dalil bahwa orang yang tidak bergeser dari duduknya, maka tidak wajib wudhu, sehingga sisa perkataannya ditakwil dengan orang yang tidur tanpa memantapkan. Berkata Al Adzru'I : Namun takwil ini tidak dapat difahami untuk perkataan 'Bila tidur berdiri, lalu kedua telapak kakinya berubah dari tempat berdirinya, maka wajib wudhu', karena ini mempunyai konsekuensi bahwa tidak wajib wudhu bila kedua telapak kakinya tidak berubah, tetapi ini juga bertentangan dengan perkataan sesudahnya ' Barang siapa tidur dengan duduk atau berdiri, lalu bermimpi, maka wajib berwudhu', karena ini mempunyai konsekuensi bahwa wajib wudhu walaupun tidak berubah kedua telapak kakinya. Metode penggabungan antara kedua perkataan tersebut adalah bahwa berubahnya telapak kaki dan mimpi memberikan konsekuensi lelap dalam tidur, berbeda halnya bila tidak bermimpi dan tidak berubah kedua telapak kakinya, dan dalam keadaan seperti ini tidak terjadi tidur yang membatalkan wudhu, tetapi hanya mengantuk.

 

Sunnah berwudhu karena tidur duduk

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila seseorang tidur duduk, aku lebih suka ia berwudhu

Fukaha Syafi'iyyah : Asy Syafi'i dalam Al Umm dan Al Mukhtashor dan para ashab menyatakan dianjurkan bagi orang yang tidur sambil duduk dengan memantapkan tempat duduknya untuk berwudhu, karena adanya kemungkinan keluarnya hadats dan karena keluar dari perbedaan pendapat ulama.

 

Tidur di atas tunggangan

Imam Asy Syafi'I berkata : Sama saja orang yang naik perahu, unta atau binatang lain, dan orang yang duduk sempurna di bumi, kapan saja berubah dari batas duduk sempurna, atau dalam keadaan ruku, sujud atau berbaring, maka wajib berwudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkata ashab bahwa tak ada perbedaan dalam tidurnya orang yang duduk dengan memantapkan duduknya antara duduk bersila, iftirasy, tawarruk atau keadaan-keadaan lain yang sekiranya tempat duduknya menempel di bumi atau memantapkan duduknya di tempat lain, dan sama juga orang yang duduk di bumi, naik perahu, unta atau binatang lain, sehingga tidak membatalkan wudhunya dengan semua hal tersebut.

 

Tidur Nabi SAW

Termasuk kekhususan Nabi SAW adalah tidak batal wudhunya karena tidur dengan berbaring, berdasarkan hadits shohih, di antaranya :

() Dari Ibn Abbas bahwa Rosululloh SAW tidur hingga terdengar dengkurannya, lalu beliau sholat tanpa berwudhu lagi.

() Rosululloh SAW bersabda, "Kedua mataku tidur, namun hatiku tidak tidur"

 

Pemberitahuan seorang yang adil

Bila seseorang ragu apakah yang tersentuh itu kulit atau rambut, maka tidak batal, sebagaimana bila tangannya mengenai kulit yang tidak diketahui apakah itu kulit perempuan atau laki-laki, atau ragu apakah menyentuh mahram atau bukan, maka menurut syarh Al Ubab bila seorang adil memberitahukan kepadanya bahwa ia telah menyentuh perempuan, atau misalnya keluar angin darinya saat tidur dengan memantapkan duduknya, maka ia wajib mengambil perkataannya. Ibn Abdil Barr dalam syarh Al Muwatho' bercerita : Aku pernah berfatwa bahwa orang yang tidur dengan duduk tidak wajib berwudhu, hingga suatu hari duduk di sebelahku seorang laki-laki di hari jumat, lalu ia tidur dan keluar angin darinya, maka aku berkata, "Bangunlah berwudhu!", jawabnya, "Aku tidak tidur", kataku, "Memang, tetapi telah keluar angin darimu yang membatalkan wudhu", jawabnya lagi, "Bahkan itu keluar darimu", maka berubahlah apa yang aku pernah yakini tentang tidurnya orang yang duduk. Namun pendapat yang mutamad adalah kebalikannya, sehingga wudhunya tidak batal karena pemberitahuan seorang yang adil, karena pemberitahuan seorang yang adil hanya memberikan dugaan dan yakin tidak akan hilang dengan dugaan kebalikannya.

 

3. Hilang akal

Imam Asy Syafii berkata : Tidur itu menguasai akal, karena itu siapa saja yang akalnya dikuasai akibat gila atau sakit, baik berbaring atau tidak, maka wajib atasnya berwudhu. Karena ia berada dalam keadaan yang lebih dari tidur.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Adapun hilangnya akal bukan karena tidur, yaitu gila, pingsan, mabuk atau sakit sehingga hilang akalnya, maka batallah wudhunya, karena bila wudhu batal karena tidur, maka batalnya wudhu karena sebab-sebab ini lebih pantas. Tak ada perbedaan dalam hal ini antara orang yang duduk dan lainnya. Hal ini berbeda dengan tidur karena orang yang tidur bila diajak bicara, ia akan berbicara dan bila dibangunkan, ia akan bangun, sehingga bila keluar sesuatu darinya dalam keadaan duduk, ia akan merasa. Berbeda halnya dengan gila dan mabuk. Umat bersepakat batalnya wudhu karena gila dan pingsan. Ibnul Mundzir dan lain-lain telah menukil kesepatakan tersebut. Para ashab berdalil dengan :

() Dari Aisyah bahwa Nabi SAW pingsan lalu sadar, maka beliau mandi untuk menunaikan sholat, lalu pingsan lagi, lalu sadar, maka mandi lagi.

Ashab sepakat bahwa orang yang hilang akalnya karena gila, pingsan, sakit, mabuk, baik karena khamr, nabidz atau lainnya, atau minum obat karena ada kebutuhan atau lainnya, lalu hilang akalnya, maka batallah wudhunya.

 

4. Menyentuh perempuan

[] Dari Salim bin Abdullah dari bapaknya katanya, "Ciuman seorang suami kepada istrinya, sentuhan tangannya termasuk bersentuhan. Siapa yang mencium istrinya atau menyentuh tangannya, maka wajib atasnya berwudhu"[8]

[] Dari Ibn Mas'ud mendekati makna perkataan Ibn Umar.

[] Dari Abdullah berkata, "Ciuman termasuk bersentuhan. Padanya ada kewajiban wudhu"

Robi' berkata : Aku mendengar Asy Syafii berkata bahwa menyentuh adalah dengan telapak tangan. Tidakkah engkau perhatikan bahwa Rosululloh SAW melarang menyentuh.

Fukaha Syafi'iyyah :

"Bila kalian sakit atau dalam perjalanan, atau salah seorang di antara kalian datang dari buang air, atau bersentuhan dengan perempuan, lalu tidak menemukan air, maka bertayammumlah"

athaf kata bersentuhan dengan perempuan adalah dengan kata datang dari buang air, dan mengatur keduanya dengan perintah tayammum ketika tidak mendapatkan air, sehingga ia menunjukkan bahwa bersentuhan dengan perempuan adalah hadats seperti datang dari buang air.

Sahabat-sahabat kami berhujjah dengan firman Alloh, Atau kalian menyentuh perempuan dan sentuhan dimutlakkan pada jamahan dengan tangan. Alloh berfiman, Maka mereka menyentuhnya dengan tangan mereka. Rosululloh SAW berkata kepada Maiz, Mungkin engkau hanya menciumnya atau menyentuhnya. Berkata ahli bahasa : Sentuhan bisa dengan tangan dan lainnya, bisa juga dengan jima. Berkata Ibn Duraid sentuhan asalnya adalah dengan tangan untuk diketahuai ia menyentuh sesuatu. Asy Syafii, sahabat kami dan ahli bahasa mendendangkan syair :

Aku sentuhan tanganku ke tangannya mencari kaya

Ku tak tahu kedermawanan dari tangannya yang memberi

 

Sahabat-sahabat kami berkata : Kami berpendapat berdasarkan konsekuensi arti sentuhan secara mutlak, sehingga kapan saja dua kulit bertemu, maka batallah wudhunya, baik dengan tangan atau jima. Malik, lalu Asy Syafii dan sahabat-sahabat keduanya berdalil dengan hadits Malik dari Ibn Syihab dari Salim bin Abdullah bin Umar dari bapaknya berkata, Ciuman seorang laki-laki kepada istrinya termasuk bersentuhan, karena itu siapa yang menyentuh istrinya atau menjamah dengan tangannya, maka ia wajib berwudhu. Isnad hadits ini merupakan puncak keshohihan.

Orang yang mengatakan tidak batal secara mutlak berhujjah dengan :

() Hadits Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah bahwa Nabi SAW mencium sebagian istri-istri beliau, lalu keluar untuk sholat tanpa berwudhu.

() Hadits Abu Rauq dari Ibrohim At Taimi dari Asiyah bahwa Nabi SAW mencium setelah wudhu kemudian tidak mengulangi wudhu.

() Hadits Aisyah bahwa tangannya mengenai telapak kaki Rosululloh SAW ketika sedang sujud

() Hadits yang disepakati keshohihannya bahwa Nabi SAW menggendong Umamah binti Zainab, maka bila sujud, beliau meletakkannya dan bila berdiri, mengangkatnya.

Jawaban terhadap hadits Habib bin Abu Tsabit dari dua segi. Yang terbaik dan termasyhur adalah bahwa itu hadits dhoif sesuai kesepakatan para hafidz, di antaranya Sufyan Ats Tsauri, Yahya bin Said Al Qotthon, Ahmad bin Hambal, Abu Dawud, Abu Bakar An Naisaburi, Abul Hasan Ad Darquthni, Abu Bakar AlBaihaqi dan lain-lain ulama mutaqoddimin dan mutakhirin. Berkata Ahmad bin Hambal, Abu Bakar An Naisaburi dan lain-lain : Habib keliru . Berkata Abu Dawud Tidak menceritakan kepada kami Habib kecuali dari Urwah Al Muzanni, yaitu bukan Urwah bin Az Zubair, sedangkan Urwah Al Muzanni adalah majhul. Hadits yang sah hanyalh dari hadits Aisyah bahwa Nabi SAW mencium ketika berpuasa. Jawaban kedua adalah bila sah, maka dibawa pemahamannya pada ciuman dengan penghalang karena menggabungkan dalil-dalil.

Jawaban terhadap hadits Abu Rauq adalah dengan dua segi yang telah lalu. Para ulama mendhoifkan hadits degan dua segi. Pertama, dhoifnya Abu Rauq, telah didhoifkan oleh Yahya bin Main dan lain-lain. Kedua, Ibrohim At Taimi tidak mendengar Aisyah. Demikian para hafidz menyatakannya.

Berkata Al Bantani dalam Al Kasyifah : Batal wudhu masing-masing baik karena nikmat atau tidak, sengaja, lupa atau terpaksa, dengan anggota sehat atau lumpuh, walaupun salah satunya mayat, namun tidak batal wudhu mayat, atau salah satunya jin walaupun tidak dalam bentuk manusia sekiranya jelas laki-laki dan perempuannya. Berbeda halnya bila terlahir antara manusia dan binatang selain jin seperti anjing, maka wudhu tidak batal karena menyentuhnya, walaupun dalam bentuk manusia.

Berkata An Nawawi dalam Al Majmu : Menurut madzhab kami persentuhan dua kulit laki-laki dan perempuan asing membatalkan wudhu, baik dengan syahwat atau tidak, sengaja atau tidak. Tetapi tidak batal dengan adanya penghalang walaupun tipis. Ini yang dikatakan oleh Umar bin Al Khotthob, Abdullah bin Masud, Abdullah bin Umar, Zaid bin Aslam, Makhul, Asy Sya'bi, An Nakh'I, Atho' bin As Saib, Az Zuhri, Yahya bin Said Al Anshori, Robiah dan Said bin Abdul Aziz.

 

Apakah batal wudhu dari orang yang disentuh?

Dalam Al Muhazzab dinyatakan bahwa yang batal adalah yang menyentuh. Dinyatakan : Tentang orang yang disentuh, dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, batal wudhunya, karena itu adalah sentuhan antara laki-laki dan perempuan, yang membatalkan wudhu orang yang menyentuh, sehingga membatalkan wudhu orang yang disentuh seperti jima. Asy Syafi'I dalam riwayat Harmalah menyatakan tidak batal, karena :

() Aisyah berkata : Aku kehilangan Rosululloh SAW di pembaringan, lalu aku berdiri mencari beliau, lalu tanganku jatuh ke atas dua telapak kaki beliau. Ketika telah selesai sholat, beliau bersabda, "Apakah syaitan telah mendatangimu?".

Bila batal bersucinya, maka beliau pasti akan memutus sholat. Dan karena itu adalah sentuhan yang membatalkan wudhu, sehingga batallah wudhu orang yang menyentuh bukan yang disentuh, sebagaimana bila menyentuh kemaluan orang lain.

Berkata An Nawawi : Dua pendapat yang disebutkan merupakan dua pendapat yang masyhur. Berkata Al Mawardi, Al Qodhi Husain, Al Mutawalli dan lain-lain menyebutkan bahwa dua pendapata tersebut didasarkan pada dua macam qiroah. Orang yang membaca (kalian menyentuh), maka tidak batal orang yang disentuh, karena ia tidak menyentuh. Sedangkan orang yang membaca (kalian saling menyentuh), maka batal juga orang yang disentuh, karena itu merupakan kata yang mempunyai arti timbal balik. Namun dasar yang mereka sebutkan tidaklah jelas dan diperselisihkan mana pendapat yang paling shohih. Ar Ruyani, Asy Syasyi dan segolongan kecil menshohihkan pendapat tidak batal. Mayoritas menshohihkan batal, di antaranya Asy Syaikh Abu Hamid, Al Muhamili, Al Mawardi, Al Jurjani, Ar Rofi'i dan lain-lain. Abu Abdillah Az Zubairi, Al Muhamili, Asy Syaikh Nashr Al Maqdisi dan lain-lain, bahwa itu adalah yang dinyatakan di sebagian besar kitab-kitab Asy Syafi'i. Al Qodhi Abuth Thoyyib dan lain-lain menukil bahwa Asy Syafi'i dalam riwayat Harmalah menyatakan dua pendapat, yaitu batal dan tidak. Mereka menjawab hadits Aisyah bahwa boleh jadi sentuhan itu di atas penghalang.

 

Syarat persentuhan membatalkan wudhu :

Berkata Al Bantani dalam Al Kasyifah : Persentuhan membatalkan wudhu dengan lima syarat :

1.      antara jenis kelamin berbeda, perempuan dan laki-laki

2.      dengan kulit, bukan dengan rambut, kuku atau gigi.

3.      tanpa penghalang

4.      keduanya telah dewasa dengan yakin

5.      bukan mahram walaupun kemungkinan

 

6.       antara jenis kelamin berbeda, perempuan dan laki-laki

[] Dari Abdullah berkata, "Ciuman termasuk bersentuhan. Padanya ada kewajiban wudhu"

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang menyentuhkan tangannya pada istrinya, atau salah satu anggota badannya ke anggota badan istrinya tanpa penghalang, dengan syahwat atau tidak, maka wajib atas keduanya berwudhu.

 

7.       dengan kulit, bukan dengan rambut, kuku atau gigi

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang menyentuhkan tangannya ke rambut istrinya, namun tidak menyentuh kulitnya, maka tidak wajib berwudhu.

Bila dia berihtiyath, lalu berwudhu bila dia menyentuh rambut istrinya, maka hal itu lebih aku sukai.

Fukaha Syafi'iyyah : Menyentuh rambut atau kuku tidak membatalkan wudhu, karena hal itu tidak menimbulkan nikmat dengan sentuhan itu. Hal itu menimbulka nikmat hanyalah dengan pandangan.

Seseorang yakin telah menyentuh perempuan, namun ragu apakah ia menyentuh rambutnya atau lainnya, apakah menyentuhnya dengan jari, rambut atau lainnya, maka tidak batal, karena pada dasarnya tetap suci, tetapi disunnahkan berwudhu.

Bila anggota badan yang disentuh itu lumpuh atau bertambah, atau sentuhan terjadi tanpa sengaja dan tanpa syahwat, maka batal wudhunya karena sentuhan merupakan hadats berdasarkan lahiriah ayat.

Bila menyentuh anggota badan yang terpotong, seperti tangan, telinga dan lain, maka wudhunya tidak batal. Ini yang diputuskan oleh ulama Iraq dan Al Baghowi.

 

8.       tanpa penghalang

Imam Asy Syafii berkata : Bila menyentuhkan tangannya pada bagian tubuh yang diinginkan dengan pakaian dan istrinya melakukan itu juga, maka tidak wajib berwudhu atas salah satu dari keduanya, karena keduanya tidak menyentuh pasangannya, hanya menyentuh pakaian pasangannya.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila dengan penghalang walaupun tipis, maka tidak batal. Termsuk penghalang adalah bila banyak kotoran debu yang mengeras di kulit. Berbeda halnya dengan kulit, sehingga bila menyentuhnya, maka batal wudhunya, karena itumenjadi bagian dari badan.

 

9.       keduanya telah dewasa dengan yakin

Fukaha Syafi'iyyah : Bila menyentuh bagian badan perempuan yang terpotong atau menyentuh anak perempuan kecil yang belum mencapai batas menimbulkan syahwat, maka tidak batal wudhunya, berdasarkan pendapat yang rajih, karena itu tidak termasuk hal yang disangkakan timbulnya syahwat, seperti halnya mahram.

Bila menyentuh anak kecil atau manula yang tidak menimbulkan syahwat, maka menurut pendapat yang shohih menyentuh anak kecil tidak batal, sedangkan menyentuh manula menurut pendapat shohih batal.

 

10.   bukan mahram walaupun kemungkinan

Fukaha Syafi'iyyah : Bila menyentuh mahram karena nasab, susuan atau perkawinan, maka apakah membatalkan wudhu? Dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama adalah batal berdasarkan keumuman ayat, namun pendapat yang rajib adalah tidak batal, karena mahram bukan termasuk yang disangkakan timbulnya syahwat, sehingga diserupakan dengan sentuhan laki-laki kepada laki-laki atau perempuan kepada perempuan. Boleh beristimbath dari nash suatu makna yang mengkhususkan keumumannya. Makna batalnya wudhu adalah keberadaan bukan mahram termasuk yang disangkakan timbulnya syahwat. Hal ini tidak ada pada mahram.

Mahram adalah orang-orang yang diharamkan dinikahi dengan ketentuan keharaman itu bersifat selamanya, dengan sebab yang dibolehkan, bukan karena memuliakan dan bukan karena adanya penghalang yang bisa hilang. Bersifat selamanya mengeluarkan saudara perempuan dari istri dan bibi, karena mereka merupakan mahram karena penggabungan saja. Sebab yang dibolehkan mengeluarkan anak perempuan dan ibu dari perempuan yang disenggamai karena adanya syubhat, karena senggama secara syubhat tidak dinyatakan boleh, tidak juga haram, dan juga mengeluarkan li'an. Bukan karena memuliakan mengeluarkan istri Nabi SAW, karena keharaman mereka adalah karena memuliakan. Bukan penghalang yang bisa hilang mengeluarkan orang yang disenggamai saat haidh misalnya, perempuan majusi, penyembah berhala dan murtad, karena keharaman mereka disebabkan oleh penghalang yang bisa hilang, sehingga mungkin menjadi halal bagi laki-laki pada suatu waktu. Demikian Al Bantani dalam Al Kasyifah. Berkata An Nawawi : Perempuan mahram yang bersifat selamanya karena li'an, senggama syubhat, penggabungan seperti saudaranya istri dan anaknya sebelum disenggamai dan mahram karena ada maksud di dalamnya, seperti perempuan murtad, majusi dan dalam masa iddah, maka batal karena menyentuhnya tanpa ada perbedaan pendapat.

Bila dikatakan tidak batal menyentuh perempuan mahram, maka menyentuh mahram dengan syahwat juga tidak batal. Demikian yang dinyatakan oleh Al Qodhi Husain dan Al Baghowi. Karena perempuan mahram seperti laki-laki, sehingga menjadi seperti seorang laki-laki menyentuh laki-laki dengan syahwat, karena itu tidak membatalkan wudhu.

 

5. Menyentuh kemaluan

[] Dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm bahwasanya dia mendengar Urwah bin Zubair berkata, "Aku mendatangi Marwan bin Hakam, lalu dia bertukar pikiran dengan kami tentang hal yang mewajibkan wudhu. Kata Marwan, 'Siapa yang menyentuh dzakar, maka wajib wudhu', kata Urwah, 'Aku tidak tahu tentang hal itu', maka jawab Marwan, 'Busroh binti Shofwan telah memberitahu aku bahwasanya dia mendengar Rosululloh SAW bersabda, 'Bila salah satu di antara kalian menyentuh dzakarnya, maka hendaklah ia berwudhu'."[9]

[] Dari Abu Hurairoh dari Nabi SAW bersabda, "Bila salah satu dari kalian menjulurkan tangannya ke dzakar tanpa ada penghalang, hendaklah ia berwudhu".

[10][] Dari Muhammad bin Abdur Rahman bin Tsauban bahwasanya Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah satu di antara kalian menjulurkan tangannya ke dzakarnya, maka hendaklah ia berwudhu". Ibn Nafi menambahkan, katanya : Dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban dari Jabir dari Nabi SAW semisalnya.

Imam Asy Syafi'i berkata : Aku mendengar lebih dari seorang hafidz meriwayatkannya tanpa menyebut Jabir.[11]

[] Dari Aisyah berkata, "Bila seorang perempuan menyentuh kemaluannya, maka ia harus berwudhu" [12]

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang menjulurkan telapak tangan bagian dalam ke dzakarnya tanpa ada pembatas, maka wajib atasnya berwudhu. Sama saja dia sengaja atau tidak, karena semua yang mewajibkan wudhu dengan sengaja, juga mewajibkan tanpa sengaja.

Menjulurkan tanganlah () hanyalah dengan telapak tangan bagian dalam, sebagaimana dikatakan :

Menjulurkan tanganku untuk membaiat,

Menjulurkan tanganku ke bumi untuk sujud, atau

Menjulurkan ke kedua lutut untuk ruku.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam, maka batal wudhunya. Kemaluan meliputi qubul dan dubur. Sahabat-sahabat kami berhujjah dengan hadits-hadits :

() Dari Busroh binti Shofwan Bahwa Nabi SAW bersabda, "Bila salah seorang di antara kalian menyentuh dzakarnya, maka berwudhulah"

() Hadits Ummu Habibah berkata : Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, Barang siapa menyentuh kemaluan, maka hendaklah berwudhu Berkata At Turmudzi : Aku bertanya kepada Abu Zarah tentang hadits Ummu Habibah, maka ia menganggap itu hasan.

() Dari Zaid bin Kholid bahwa Nabi SAW bersabda, Barang siapa menyentuh dzakarnya, maka berwudhulah

() Dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, "Celaka bagi orang-orang yang menyentuh kemaluan mereka lalu sholat tanpa berwudhu". Aku bertanya, "Ini bagi laki-laki, lalu bagaimana menurutmu dengan perempuan?", maka jawab beliau, "Bila salah seorang perempuan di antara kalian menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah"

Berkata Al Qodhi Abuth Thoyyib : sahabat-sahabat kami meriwayatakn hadits wudhu karena menyentuh kemaluan lebih dari 10 sahabat dari Rosululloh SAW. Bila dikatakan : Berkata Yahya bin Main : Tiga hadits yang tidak sah, salah satunya adalah hadits wudhu karena menyentuh kemaluan. Maka jawabnya : Sesungguhnya mayoritas ulama berpendapat sebaliknya, karena mayoritas para imam yang hafidz menshohihkannya dan telah dijadikan hujjah oleh Al Auzai, Malik, Asy Syafii dan Ahmad. Mereka adalah alim-alim hadits dan fiqih. Bila hadits itu batil, maka mereka pasti tidak akan berhujjah dengannya. Bila mereka katakan : Hadits Busroh diriwayatkan oleh seorang pembantu Marwan dari Busroh. Dia tidak diketahui keadaannya. Jawabnya : Ini ada pada sebagian riwayat, tetapi tsabit dari riwayat lain selain pembantu itu. Al Baihaqi meriwayatkan dari imamnya para imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata : Asy Syafii mewajibkan wudhu karena hadits Busroh berdasarkan hadits Busroh. Dengan pendapat Asy Syafiilah aku berpendapat, karena Urwah mendengar hadits Busroh darinya. Bila mereka berkata lagi : Wudhu di sini adalah mencuci tangan, maka kami katakan : Ini salah, karena wudhu bila dimutlakkan dalam syariat, maka kan dibawa pemahamannya pada mencuci anggota-anggota badan yang telah diketahui dan tidak dialihkan dari hakikatnya kecuali dengan dalil.

Adapun hadits Tholq bin bahwa Nabi SAW ditanya tentang menyentuh dzakar ketika sholat, maka jawab beliau, Tidak ada itu kecuali hanya sepotong daging dari kamu, maka dijawab dari beberapa segi. Pertama, Hadits tersebut dhoif berdasarkan kesepakatan para hafidz dan Al Baihaqi telah menjelaskan beberapa segi kedhoifannya. Kedua, hadits tersebut telah dihapus, karena jadinya Tholq sebagai utusan kepada Nabi SAW di tahun pertama hijriah ketika Rosululloh SAW sedang mmebangun masjid beliau, sedangkan periwayat kami adalah Abu Hurairoh dan lain-lain. Abu Hurairoh datang kepada Nabi SAW tahun 7 H. Ketiga, itu dibawa pemahamannya pada sentuhan dengan penghalang, karena ia bertanya kepada Nabi SAW tentang menyentuh dzakar ketika sholat dan lahiriahnya manusia tidak menyentuh dzakar ketika sholat tanpa penghalang. Keempat, esungguhnya hadits kami paling banyak perowinya sehingga didahulukan. Kelima, Dalam hal ini ada ihtiyath untuk ibadah, sehingga didahulukan.

 

Dengan telapak tangan bagian dalam

Menjulurkan tangan tidak terjadi kecuali dengan telapak tangan bagian dalam. Berkata Asy Syafi'i : Menjulurkan () tanganlah hanyalah dengan telapak tangan bagian dalam, sebagaimana dikatakan : Aku julurkan tanganku untuk membaiat, aku julurkan tanganku ke bumi untuk sujud, atau aku julurkan ke kedua lutut untuk ruku. Ini merupakan teks perkataan Asy Syafi'i dalam Al Umm dan semisalnya juga dalam Al Buwaithi dan Mukhtashor Ar Robi'. Hal yang disebutkan oleh Asy Syafi'i masyhur juga dalam kitab-kitab bahasa. Berkata Ibn Faris secara global

menjulurkan tangan ke bumi adalah menyentuhkan telapak tangan bagian dalam dalam sujudnya.

Bila menyentuh kemaluan yang lumpuh atau dengan tangan yang lumpuh, maka batal wudhunya berdasarkan madzhab. Demikian yang dinyatakan mayoritas, karena itu menyentuh kemaluan.

Bila menyentuh lobang dubur, maka batal wudhunya. Dalil bahwa itu membatalkan wudhu adalah karena itu salah satu dua jalan sehingga diserupakan dengan qubul.

 

Menyentuh qubul atau dubur orang lain

Imam Asy Syafi'i berkata : Demikian juga bila dia menyentuh duburnya, menyentuh qubul atau dubur istrinya, atau menyentuh milik anak kecil, maka itu mewajibkan wudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila menyentuh kemaluan orang lain, berupa anak kecil, orang dewasa, orang hidup atau mati, maka batal wudhunya, karena bila karena menyentuh kemaluan sendiri tanpa menanggalkan rasa malu saja batal, maka batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan orang lain dengan menanggalkan rasa malu lebih sesuai. Inilah pendapat shohih yang masyhur. Tak ada kriteria untuk usia anak kecil, sehingga bila menyentuh kemaluan anak kecial yang berumur satu hari, maka batal wudhunya. Demikian yang dinyatakan oleh Abu Hamid, Abu Muhammad, Imam Al Haramain dan lain-lain.

 

Menyentuh qubul atau dubur binatang

Imam Asy Syafii berkata : Bila dia menyentuh kemaluan binatang, maka tidak wajib wudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila menyentuh kemaluan binatang, maka tidak wajib berwudhu, tetapi Ibn Abdil Hakim menyatakan pendapat lain dari Asy Syafi'i bahwa ia wajib berwudhu. Di antara ashab ada yang mengingkari ini sebagai perkataan Asy Syafi'I. Berkata Ar Rofi'i : Pendapat batalnya wudhu hanya berkaitan dengan qubul. Adapun dubur binatang, maka tidak batal secara pasti, karena menurut qoul qodim dubur manusia tidak diikutkan pada qubul manusia, karena itu dubur binatang lebih pantas lagi. Tidak batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan binatang merupakan pendapat yang masyhur dalam teks-teks Asy Syafi'i.

Bila dikatakan menurut madzhab bahwa menyentuh kemaluan binatang tidak membatalkan wudhu, lalu seseorang memasukkan tangannya ke dalam kemlauan binatang, maka dalam hal batalnya ada dua pendapat yang masyhur. Pendapat yang paling shohih sesuai kesepakatan adalah tidak batal

 

Menyentuh dengan punggung telapak tangan

Imam Asy Syafii berkata : Bila dia menyentuh dzakarnya dengan punggung telapak tangan atau lengannya atau sesuatu selain telapak tangan, maka tidak wajib berwudhu.

Imam Asy Syafii berkata : Semua hal yang aku katakan mewajibkan wudhu bagi laki-laki yang menyentuh dzakarnya juga mewajibkan (wudhu) bagi wanita bila ia menyentuh kemaluannya atau ia menyentuh kemaluan suaminya.

[] Dari Aisyah katanya, "Bila seorang wanita menyentuh kemaluannya, ia harus berwudhu"

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila dengan punggung telapak tangan, maka tidak batal, berdasarkan :

() Dari Abu Hurairoh bahwa Nabi SAW bersabda, "Bila salah seorang di antara kalian menjulurkan tangannya ke kemaluannya tanpa ada penghalang, maka berwudhulah layaknya seperti wudhu untuk sholat".

Menjulurkan tangan tidak terjadi kecuali dengan telapak tangan bagian dalam.

 

Menyentuh dengan jari-jari

Imam Asy Syafi'i berkata dalam Al Buwaithi : Bila menyentuh dengan tepi tangan, maka tidak batal.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila menyentuh dengan bagian antara jari-jari tangan, maka ada dua pendapat. Pertama, menurut madzhab itu tidak membatalkan, karena itu bukanlah telapak tangan bagian dalam. Kedua, batal.

Bila menyentuh dengan ujung-ujung jari, bagian antara jari-jari, tepi-tepi jari atau tepi-tepi telapak tangan, maka ada dua pendapat yang masyhur, namun pendapat yang shohih menurut mayoritas adalah tidak batal. Berkata Ar Rofi'i : Orang yang berpendapat bahwa menyentuh dengan ujung-ujung jari membatalkan mengatakan bagian dalam telapak tangan adalah bagian-bagian antara kuku dan pergelangan tangan secara memanjang, sedangkan orang yang berpendapat tidak batal mengatakan bahwa bagian dalam telapak tangan adalah kadar yang tertutup bila satu telapak tangan di tepukkan ke telapak tangan lain dengan sedikit menekan.

 

Menyentuh buah pelir

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila seseorang menyentuh kedua buah pelirnya, pantatnya atau kedua lututnya, tetapi tidak menyentuh dzakar, maka tidak wajib wudhu atasnya.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Majmu : Sahabat-sahabat kami berpendapat bahwa wudhu tidak batal karena menyentuh kedua buah pelir, rambut kemaluan laki-laki atau perempuan, tempat tumbuhnya rambut, bagian antara qubul dan dubur dan sela-sela pantat. Batal wudhu hanyalah karena menyentuh dzakar itu sendiri, lobang dubur dan perlekatan dua bibir vagina perempuan.

Adapun hadits Urwah bin Az Zubair, berkata, "Barang siapa menyentuh dzakaranya, dua buah pelir atau pangkal pahany, maka hendaklah berwudhu" merupakan hadits batil maudhu'. Itu hanyalah perkataan Urwah.

 



()

()

()

()

() Al Atsari : Dalam isnadnya ada mubham, tetapi shohih.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari tsiqoh dari Humaid dari Anas bin Malik.

() Al Atsari : mauquf, shohih.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Malik dari Nafi dari Ibn Umar.

() Al Atsari : mauquf, isnadnya dhoif karena kemubhaman tsiqoh.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari tsiqoh dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi dari Ibn Umar.

() Al Atsari : mauquf, sanadnya shohih.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Malik dari Ibn Syihab dari Salim dari bapaknya.

() Al Atsari : shohih.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Malik dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm.

() Al Atsari : hasan.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Sulaiman bin Amr dan Muhammad bin Abdullah, dari Yzid bin Abdul Malik Al Hasyimi dari Said bin Abu Said dari Abu Hurairoh.

() Al Atsari : dhoif, tetapi shohih maknanya seperti hadits sebelumnya.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Abdullah bin Nafi dan Ibn Abu Fudaik dari Ibn Abi Dzi'b dari Uqbah bin Abdurrahman dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban.

() Al Atsari : shohih, mauquf dari Aisyah.

Imam Asy Syafi'i meriwayatkan hadits ini dari Al Qosim bin Abdullah dari Ubaidullah bin Umar dari Al Qosim bin Muhammad dari Aisyah.