HAL YANG DIANJURKAN WUDHU

 

1.  Muntah dan keluar darah dari badan

2.  Makan Daging

Minum susu

           

3.  Berbicara

4.  Cukur

 

 

 

 

 

 

 

 

HAL YANG DIANJURKAN WUDHU

 

1. Muntah dan keluar darah dari badan

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila seseorang muntah, maka ia cuci mulutnya dan apa yang terkena muntahan itu. Selain itu tidak mencukupi. Demikian pula bila ia mimisan, maka ia cuci bagian hidung dan lainnya yang tersentuh darah itu. Selain itu tidak mencukupi. Tidak wajib atasnya berwudhu.

Fukaha Syafi'iyyah :  Dalam Al Muhazzab : Selain kelima hal di atas tidak membatalkan wudhu, seperti darah dari penyedotan darah, bekam dan muntah, berdasarkan hadits :

() Dari Anas bahwa Nabi SAW berbekam, sholat tanpa berwudhu dan hanya mencuci tempat bekamnya.

Berkata An Nawawi : Menurut madzhab kami wudhu tidak batal karena keluarnya sesuatu dari selain dua jalan, seperti darah dari penyedotan darah, bekam, muntah dan mimisan, baik sedikit atau banyak.

() Dari Jabir bahwa dua orang sahabat Rosululloh SAW berjaga-jaga di suatu malam pada perang Dzat Ar Riqo'. Salah seorang berdiri untuk menunaikan sholat, lalu datang seseorang dari kaum kafir, lalu membidikanya dengan anak panah, lalu dicabut, kemudian dibidik lagi sampai tiga kali, lalu ia ruku dan sujud, padahal darahnya mengalir.

Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad hasan. Sisi pendalilannya adalah bahwa keluar darah banyak, tetapi tetap melanjutkan sholt. Bila darah membatalkan, maka tidak boleh sesudahnya ruku, sujud dan menyelesaikan sholatnya. Nabi SAW mengetahui hal itu dan tidak mengingkarinya.

 

2. Makan Daging

[] Dari Amr bin Umayyah Ad Dhomri dari bapaknya bahwasanya Rosululloh SAW makan belikat kambing, lalu sholat, namun tidak berwudhu.

Imam Asy Syafi’i berkata : Demikian kami berpendapat. Barang siapa memakan sesuatu, baik tersentuh api atau tidak, maka tidak ada kewajiban wudhu baginya. Demikian juga bila ia terpaksa makan bangkai, maka tidak wajib baginya berwudhu. Dia hanya wajib mencuci tangan, mulutnya dan apa yang tersentuh bangkai. Tidak mencukupi selain hal itu. Bila dia tidak melakukannya, dia harus mencuci dan mengulangi semua sholat yang dikerjakan setelah ia makan bangkai itu dan sebelum mencuci apa ayang tersentuh bangkai. Demikian juga semua yang haram yang dia makan. Dia tidak boleh sholat hingga ia mencuci apa yang tersentuh sesuatu yang haram itu, kedua tangan, mulut dan lain-lainnya. Semua yang halal yang dia makan atau minum, tidak ada kewajiban wudhu atasnya.

[] Ibn Abbas minum susu, namun tidak berkumur-kumur, katanya, "Aku tidak peduli"

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Memakan daging tidak membatalkan wudhu. Ibnul Qosh menyatakan bahwa makan daging unta membatalkan wudhu, tetapi pendapat ini tidak masyhur. Dalil bahwa itu tidak membatalkan wudhu adalah :

() Berkata Jabir, "Hal terakhir yang dipilih oleh Rosululloh SAW dari dua hal adalah tidak usah wudhu karena sesuatu yang telah diubah oleh api"

Bila wudhu tidak batal karena memakan daging babi, padahal itu haram, maka tidak batalnya wudhu karena selain daging babi lebih utama.

Berkata An Nawawi : Menurut madzhab kami wudhu tidak batal karena makanan, baik yang tersentuh oleh api atau tidak, selain daging unta. Tentang daging unta ada dua pendapat. Qoul jadid yang masyhur menyatakan tidak batal. Itulah pendapat yang shohih menurut ashab. Qoul qodim menyatakan batal. Ini dhoif menurut ashab, tetapi kuat atau shohih dari segi dalil. Inilah yang aku yakini kerajihannya.

Para ulama telah berselisih dalam masalah ini menjadi tiga madzhab.

Pertama, tidak wajib wudhu karena makan sesuatu, baik yang disentuh api, daging unta dan lain-lainnya. Ini yang dikatakan oleh mayoritas ulama, yang merupakan pendapat yang diketahui dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibn Masud, Ubayy bin Ka’ab, Abu Tholhah, Abud Darda, Ibn Abbas, Amir bin Robiah dan Abu Umamah.

Kedua, wajib wudhu karena apa yang disentuh oleh api. Ini merupakan pendapat Umar bin Abdul Aziz, Al Hasan, Az Zuhri, Abu Qilabah, Abu Majaz.

Ketiga, wajib karena makan daging unta saja. Ini merupakan pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan Yahya bin Yahya. Di antara sahabat kami yang memilih pendapat ini adalah Abu Bakar bin Khuzaimah, Ibnul Mundzir dan Al Baihaqi.

Orang yang mewajibkan wudhu karena apa yang disentuh api berhujjah dengan hadits-hadits shohih. Di antaranya hadits Zaid bin Tsabit, Abu Hurairoh dan Aisyah dari Nabi SAW bersabda, ”Berwudhulah karena apa yang disentuh oleh api”. Diriwayatkan oleh Muslim.

            Sahabat-sahabat kami berhujjah dengan hadits-hadits shohih. Di antaranya :

() Hadits Ibn Abbas bahwa Nabi SAW makan belikat kambing, lalu sholat tanpa berwudhu lagi”. Diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim

() Dari Amr bin Umayyah Adh Dhomri berkata, ”Aku lihat Nabi SAW memotong daging dari belikat kambing yang akan beliau makan, lalu sholat, tetapi tidak berwudhu”. Diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim dari berbagai jalur.

() Dari Maimunah bahwa Nabi SAW memakan belikat kambing di sampingnya, lalu sholat, tetapi tidak berwudhu”. Diriwayatkan oleh Muslim

() Dari Abu Rofi berkata, ”Aku bersaksi sungguh aku pernah memanggangkan perut kambing untuk Rosululloh SAW, lalu beliau sholat, tetapi tidak berwudhu”. Diriwayatkan oleh Muslim.

            Ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena makan daging unta berhujjah dengan :

() Hadits Jabir bin Samurah bahwa seseorang bertanya kepada Rosululloh SAW, ”Apakah kami harus berwudhu karena makan daging kambing?”, jawab beliau, ”Bila ingin, silahkan berwudhulah dan bila ingin, boleh tidak berwudhu”. Katanya lagi, ”Apakah kami harus berwudhu karena makan daging unta?”, jawab beliau, ”Ya, berwudhulah karena makan daging unta”.

() Hadits dari Al Baro bahwa Nabi SAW ditanya tentang wudhu karena makan daging unta, maka beliau perintahkan untuk berwudhu.

Berkata Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawaih : Dua hadits tersebut sah dari Nabi SAW. Berkata imam dari para imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah : Kami tidak melihat ada perselisihan antara ulama hadits tentang keshohihan hadits ini. Al Baihaqi memenangkan madzhab ini.

            Para ashab menjawab hadits Jabir dan Al Baro dengan dua jawaban.

Pertama, penghapusan dengan hadits Jabir tentang hal terakhir yang dipilih oleh Rosululloh SAW dari dua hal.

Kedua, membawa pemahaman wudhu pada mencuci tangan dan berkumur. Dikhususkan dengan unta karena ada tambahan bau yang sangat di dagingnya dan telah dilarang bermalam dengan tangan atau mulut yang masih ada bekas lemak, karena khawatir disengat kalajengking dan lain-lainnya.

Kedua jawaban ini dhoif. Al Baihaqi meriwayatkan dari Al Imam Al Hafidz Utsman bin Said Ad Darimi berkata : Diperselisihkan hadits yang awal dan akhir, sehingga tidak diketahui mana di antara hadits yang menghapus dengan suatu penjelasan yang dapat dijadikan hukum, sehingga berdasarkan ijma Khulafa Rosyidin dan para sahabat alim, kami ambil rukhshoh dalam hal meninggalkan wudhu disertai hadits-hadits rukhshoh. Adapun membawa pemahaman wudhu pada arti bahasa, maka itu dhoif, karena membawa pemahaman pada arti syar’i didahulukan dibandingkan arti bahasa, sebagaimana telah diketahui dalam kitab ushul. Adapun penghapusan, maka itu juga dhoif atau batil, karena hadits meninggalkan wudhu karena apa yang disentuh api bersifat umum, sedangkan hadits wudhu karena makan daging unta bersifat khusus. Kekhususan didahulukan atas keumuman, baik terjadi sebelum atau sesudahnya. Hal yang paling menentramkan adalah perkataan Khulafa Rosyidin dan mayoritas sahabat.

 

Minum susu

            Madzhab kami dan madzhab ulama seluruhnya adalah tidak harus wudhu karena minum susu unta. Dalilnya adalah pada dasarnya adalah suci dan tidak tsabit sesuatu yang membatalkan.

 

3. Berbicara

            Imam Asy Syafi’i berkata : Tak ada wudhu karena berbicara, tidak juga karena tertawa di dalam sholat dan lain-lain.

[] Dari Abu Hurairoh dari Nabi SAW bersabda, "Barang siapa bersumpah dengan Latta, maka katakan Laa ilaha illalloh. Ibn Syihab berkata, "Dia tidak menyebutkan harus berwudhu karena hal itu"

Tak ada wudhu karena hal itu, juga tidak karena menyakiti seseorang, menuduh zina dan lain-lain, karena semua itu bukan termasuk hadats.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Dianjurkan berwudhu karena tertawa dalam sholat dan berbicara jelek, berdasarkan :

() Dari Abdullah bin Masud berkata, "Berwudhu karena berbicara kotor lebih aku sukai dibandingkan berwudhu karena makanan yang baik"

() Dari Ibn Abbas berkata, "Hadats itu ada dua, hadats lisan dan hadats kemaluan, tetapi yang paling berat adalah hadats lisan"

Asy Syaikh Asy Syirazi membawa pemahaman atsar-atsar ini pada wudhu syar'i, yaitu membasuh anggota-anggota tertentu. Demikian juga yang dilakukan Ibnul Mundzir dan sekelompok sahab-sahabat kami. Namun Ibnush Shobbagh berpendapat bahwa yang paling pas adalah mereka maksudkan mencuci mulut. Asy Syasyi menceritakan pendapat Ibnush Shobbagh ini lalu mengatakan bahwa kemungkinan ini jauh, bahkan lahiriah perkataan Asy Syafi'I menyatakan bahwa yang ia maksudkan adalah wudhu syar'i. Maknanya juga menunjukkan hal itu, karena mencuci mulut tidak berpengaruh pada perkataan yang meluncur, namun hanya wudhu syar'ilah yang berpengaruh. Tujuannya adalah melebur dosa-dosa sebagaimana telah tsabit dalam hadits-hadits shohih.

 

4. Cukur

            [] Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rosululloh SAW bersabda, "Biarkan jenggot, cukur kumis, ubahlah warna ubanmu dan jangan kalian menyerupai Yahudi"

Imam Asy Syafi’i berkata : Siapa yang berwudhu, lalu memotong kuku, mencukur rambut kepala, jenggot dan kumisnya, tak ada kewajiban mengulang wudhunya.