RUKUN WUDHU

 

1.       Niat

Hukum niat

Waktu niat

Bentuk niat

2.       Membasuh wajah

Batas wajah

Naz'ah

Tahzif

Pelipis (shudgh)

Dua kepala

Jenggot

Rambut di wajah

Kesimpulan tentang rambut wajah

           

3.       Membasuh kedua tangan sampai siku

Siku termasuk dibasuh

Cara membasuh

Tangan terpotong

Dua tangan           

4.       Mengusap kepala

Bagian kepala yang diusap

Rambut yang keluar dari tempat tumbuhnya rambut kepala

Mengusap sorban

Cara yang sempurna

Tiga kali dalam mengusap 

5.       Membasuh kedua kaki

Kedua mata kaki

Cara membasuh

6.       Tertib

Mandi dengan berniat wudhu

RUKUN WUDHU

 

إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤسكم وأرجلكم إلى الكعبين


"Bila kalian ingin mendirikan sholat, maka basuhlah wajah kalian, kedua tangan sampai siku, usaplah kepala kalian dan (basuhlah) kedua kaki sampai mata kaki"

 

1.       Niat

Imam Asy Syafi’i berkata : Wudhu tidak mencukupi kecuali dengan niat. Niat cukup dengan berniat bersuci dari hadats atau bersuci untuk sholat fardhu atau sunnah, membaca Mushaf, sholat jenazah atau semisalnya yang dikerjakan harus dengan bersuci.

Fukaha Syafi'iyyah : Ibnu Hajar Al Asqalani berkata :

Tujuh syarat berkenaan dengan niat

Cukup bagi yang laksanakan tanpa lalai

Hakikat, hukum, tempat dan zaman

Cara, syarat dan maksud baik

Niat secara bahasa adalah menyengaja dan ketetapan hati, sedangkan secara syar'i adalah menyengaja sesuatu dengan dibarengi melakukan sesuatu itu. Tempatnya adalah hati selama maknanya adalah menyengaja, hingga bila meluncur dari lisan sesuatu yang berbeda dengan niat yang ada dalam hati, maka tidak diperhatikan. Bila seseorang berniat dengan lisannya untuk mendinginkan, tetapi berniat di hati mengangkat hadats atau sebaliknya, maka yang diperhatikan adalah niat yang ada di hati. Maksud dari niat adalah membedakan ibadah dengan kebiasaan.

 

Hukum niat

Imam Asy Syafi’i berkata : Bersuci dengan cara mandi tidak mencukupi tanpa adanya niat, tidak juga wudhu dan tayammum. Argumen atas orang yang membolehkan wudhu tanpa niat adalah :

[] sabda Rosululloh SAW, "Amal-amal itu hanyalah disertai niat"

Tidak boleh juga tayammum tanpa niat. Keduanya adalah bersuci, lalu bagaimana mungkin keduanya dibedakan?

Fukaha Syafi'iyyah : Hukumnya adalah fardhu dalam menyucikan hadats, tetapi tidak wajib dalam menghilangkan najis, berdasarkan pendapat shohih. Dalil-dalil kefardhuan niat adalah :

1. Firman Alloh

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين

"Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Alloh dengan mengikhlaskan agamanya" (Al Bayyinah : 5)

Karena wudhu itu ibadah, maka wajib di dalamnya untuk ikhlas karena Alloh, yang merupakan pekerjaan hati, yaitu niat.

Dan firman Alloh :

إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤسكم وأرجلكم إلى الكعبين


"Bila kalian ingin mendirikan sholat, maka basuhlah wajah kalian, kedua tangan sampai siku, usaplah kepala kalian dan (basuhlah) kedua kaki sampai mata kaki"

Mempunyai konsekuensi bahwa wudhu adalah hal yang diperintahkan untuk sholat. Inilah makna niat.

() Dan hadits umar bin Al Khotthob bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Amal-amal hanyalah dengan niat. Seseorang hanyalh mendapatkan apa yang ia niatkan"

yaitu bahwa amal-amal bukanlah bernilai syariat yang tergantung pada pahala dan dosa kecuali dengan niat dan wudhu termasuk amal-amal yang disyariatkan, sehingga wajib di dalamnya niat. Bila tidak niat berwudhu, maka tidak tercapai.

Berkata Al Fasyni : Taklif-taklif syariah yang bersifat badan, baik berupa perbuatan atau perkataan yang keluar dari orang-orang mukmin diperhitungkan hanyalah bila dilakukan dengan niat. Bagi tiap orang hanyalah mendapatkan balasan apa yang ia niatkan. Bila baik, maka akan mendapatkan baik dan bila buruk, maka buruk.

2. Wudhu merupakan ibadah yang mengandung rukun-rukun, sehingga wajib niat di dalamnya sebagaimana wajib dalam sholat.

 

Waktu niat

Imam Asy Syafi'I berniat : Bila ia sedang berwudhu tanpa niat, lalu niat untuk sisanya maka tidak boleh, kecuali ia harus mengulangi wudhu yang tanpa niat, lalu ia berniat, maka wudhunya sudah cukup.

Robi' berkata : Bila ia membasuh wajahnya tanpa niat bersuci untuk sholat, lalu ia membasuh kedua tangannya, mengusap kepalanya dan membasuh kedua kakinya, kemudian  ia niat bersuci, maka wajib baginya mengulangi membasuh wajah sambil niat bersuci dan membasuh sesudahnya bagian yang dibasuh tanpa niat bersuci, hingga ia menunaikan wudhu seperti apa yang disebutkan Alloh. Bila ia membasuh wajah sambil niat bersuci, membasuh kedua tangan, mengusap, lalu membasuh kedua kaki tanpa niat bersuci, maka ia hanya wajib membasuh kedua kaki yang dikerjakan tanpa niat bersuci.

Fukaha Syafi'iyyah : Waktu niat wajib ketika membasuh wajah. Bila orang yang berwudhu lupa niat atau menunaikan itu setelah membasuh wajah, maka tidak sah. Seperti itu juga bila ia niat ketika membaca Bismilah atau membasuh kedua telapak tangan, lalu niatnya hilang sebelum membasuh bagian wajah, maka tidak sah wudhunya. Cara yang paling sempurna adalah berniat dua kali, sekali ketika memuali wudhu dengan mengatakan : Aku niat mengerjakan sunnah-sunnah wudhu dan sekali ketika membasuh wajah dengan mengatakan aku niat fardhu-fardhu wudhu.

 

Bentuk niat

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila seseorang berwudhu karena sholat sunnah, membaca Mushaf, sholat jenazah atau sujud (tilawah) Al Quran, maka hal itu mencukupi, walaupun ia sholat fardhu dengan niat itu.

Fukaha Syafi'iyyah : Caranya bila orang yang melakukan wudhu itu sehat, tidak mempunyai penyakit, maka ia berniat dengan salah satu :

1.       niat untuk membolehkan sholat dan lain-lainnya yang tidak dibolehkan kecuali dengan bersuci

Berkata An Nawawi : Bila berniat bersuci untuk sholat atau bersuci karena hal lain yang tergantung pada wudhu, maka itu mencukupi.

2.       niat mengangkat hadats atau bersuci dari hadats

3.       niat fardhu wudhu atau menunaikan wudhu, walalupun yang niat itu anak kecil.

Tidak mencukupi berniat bersuci secara mutlak, karena bersuci kadang dari hadats dan kadang dari najis, sehingga tidak sah niat secara mutlak. Berkata An Nawawi dalam Al Majmu : Bila ia berniat berwudhu tanpa dari hadats, maka tidak mencukupi, berdasarkan pendapat shohih, karena bersuci bias dari hadats dan bias dari najis, sehingga wajib membedakannya. Bila ia niat berwudhu saja, maka sah berdasarkan pendapat yang paling shohih, berbeda dengan mandi. Bila ia berniat mandi saja karena junub, maka tidak sah. Dalam satu pendapat dinyatakan bahwa mencukupi niat bersuci secara mutlak dan pendapat itu kuat, karena niat bersuci untuk anggota-anggota wudhu dengan tertib tertentu tidaklah mungkin dari najis.

Bila niat bersuci mengangkat hadats, mendinginkan dan membersihkan atau niat mengangkat hadats dan menghilangkan najis hukmiah yang ada di salah satu anggota wudhu, maka sah wudhunya, karena ia niat mengangkat hadats dan digabungkan dengan sesuatu yang tidak menafikannya. Ini juga sah dalam mandi. Berbeda halnya bila ia niat dengan benar lalu mengubah niat pada sebagian anggota wudhu dengan niat mendinginkan saat mencuci kaki dan tidak menghadirkan niat wudhu, maka tidak sah dalam hal mencuci kedua kakinya. Adapun bila tidak menghadirkan niat wudhu bersaman dengan niat mendinginkan, maka wudhunya sah. Bila memisah-miahkan niat untuk anggota-anggota wudhu, dengan niat mengangkat hadats dari wajah ketika membasuh wajah, mengangkat hadts dari kedua tangan ketika membasuh kedua tangan dan demikian seterusnya ketika membasuh kepala dan kedua kaki, maka sah wudhunya. Bila salah dalam niat wudhu dengan niat mengangkat hadats karena tidur, padahal hadatsnya bukan tidur, maka sah berdasarkan kesepakatan, tetapi bila sengaja, maka tidak sah.

Adapun orang yang mempunyai penyakit, seperti orang yang selalu berhadats, dengan selalu kencing atau istihadhoh, maka ia niat membolehkan fardhu sholat berdasarkan pendapat shohih. Tidak sah niat mengangkat hadats, karena hadatsnya terus ada. Tidak sah dengan wudhu seperti ini menunaikan sholat fardhu lebih dari satu, walaupun fardhu itu qodho, tetapi sah mengikutkannya dengan sholat-sholat sunnah. Bila ia tidak menentukan dalam niatnya bahwa ia berwudhu untuk fardhu, maka niatnya untuk sholat sunnah bukan fardhu.

Syarat niat adalah kepastian. Bila seseorang ragu apakah ia berhadats lalu berwudhu karena ihtiyath, kemudian ternyata ia yakin bahwa ia telah berhadats, maka wudhunya tidak dianggap berdasarkan pendapat shohih, karena ia berwudhu dengan ragu. Bila ia yakin berhadats, tetapi ragu apakah ia telah bersuci, lalu ternyata ia masih berhadats, maka sudah mencukupi, karena asalnya tetap dalam keadaan hadats dan ia telah bersuci, sedangkan keraguannya tidak apa-apa.

 

2.       Membasuh wajah

Batas wajah

Imam Asy Syafi’i berkata : Firman Alloh "basuhlah wajah kalian", karena itu rasional bahwa wajah adalah bagian selain tempat tumbuhnya rambut sampai dua telinga, kedua rahang bawah dan janggut, bukan bagian yang melampaui tempat tumbuhnya rambut kepala, yaitu ghomam  ([1])  di dua naz'ah ([2]). Demikian juga botak di bagian depan kepala bukanlah termasuk wajah, tetapi aku lebih suka bila kedua sisi dahi dibasuh beserta wajah. Bila ia meninggalkannya, maka tidak apa-apa.

Fukaha Syafi'iyyah :  Membasuh wajah merupakan wajib dalam wudhu berdasarkan Al Kitab, Sunnah dan ijma. Dalam Al Muhazzab : Wajah adalah segala sesuatu antara tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu dan akhir dua rahang secara vertikal dan dari telinga satu ke telinga lain secara horizontal. Yang diperhatikan adalah tempat tumbuhnya rambut yang biasa bukan orang yang botak rambutnya di ubun-ubunnnya dan tidak pula orang yang rambutnya tumbuh di dahinya. Batasan yang disebutkan ini benar yang telah dikatakan oleh ashab dan Asy Syafi'I  dalam Al Umm. Dalam Mukhtashor Al Muzanni telah disebutkan batasan wajah dengan perkataan panjang yang rusak, yang telah diingkari oleh ashab. Imam Al Haramain menukil dari ashab tentang batasannya dengan ungkapan yang bagus. Ia berkata : Batasannya adalah secara vertikal segala sesuatu yang turun dari lingkaran kepala atau dari puncak dahi sampai bagian di depan dagu, secara horizontal dari telinga ke telinga.

Bila kepala botak di ubun-ubun, maka tidak wajib membasuh bagian itu, karena itu termasuk kepala. Bila rambut turun dari tempat tumbuhnya yang biasa ke dahi, maka dilihat. Bila meratai, maka wajib membasuh seluruhnya, Namur bila sebagiannya menutup, maka dalam hal ini ada dua thoriq. Thoriq yang shohih dan telah ditetapkan oleh ulama Iraq adalah wajib membasuh bagian yang tertutup itu. Al Qodhi Husain menukil bahwa Asy Syafi'i menyatakan demikian dalam Al Jami Al Kabir.

Bila hidungnya atau bibirnya terpotong, apakah wajib membasuh bagian yang tampak karena potongan itu dalam wudhu dan mandi? Dalam hal ini ada dua pendapat, Namur pendapat paling shohih wajib membasuhnya, sebagaimana bila kulit wajah atau tangannya terkelupas.

 

Naz'ah

            Asy Syafi'i dan ashab mengatakan bahwa disunnahkan membasuh dua naz'ah bersama wajah, karena sebagian ulama menjadikan keduanya termasuk wajah, sehingga disunnahkan keluar dari perselisihan pendapat.

 

Tahzif ([3])

Dalam Al Muhazzab : Dalam masalah tahzif ada dua pendapat. Abul Abbas mengatakan bahwa itu termasuk wajah, karena mereka menjadikannya termasuk wajah. Sedangkan Abu Ishaq mengatakan itu termasuk kepala, karena Alloh menciptakannya termasuk kepala, sehingga tidak menjadi wajah karena perbuatan manusia. Kedua pendapat itu telah dinukil dari teks Asy Syafi'i. Imam Al Haramain dalam An Nihayah mengatakan : Asy Syafi'i mengatakan bahwa tempat tahzif termasuk wajah. Berkata Abu Ishaq : Asy Syafi'I menyatakannnya dalam Al Imla bahwa itu termasuk kepala. Para ulama berselisih tentang pendapat yag paling shohih. Al Mawardi, Al Bandaniji, Al Ghozali menshohihkan pendapt bahwa itu termasuk wajah. Mayoritas menshohihkan itu termasuk kepala. Itulah yang sesuai dengan pernyataan Asy Syafi'i tentang batasan kepala.

 

Pelipis (shudgh)

Seyogyanya membasuh kedua pelipis. Dua pelipis bukan termasuk wajah berdasarkan pendapat paling shohih di syarh Ar Roudhoh, namun dalam Al Muharrar dirajihkan termasuk wajah. Berkata An Nawawi : Ashab berselisih tentang pelipis. Mayoritas menyatakan bahwa itu termasuk kepala. Di antara ulama yang menyatakan demikian adalah Asy Syaikh Abu Hamid, Al Bandaniji, Al Muhamili, Al Qodhi Husain dan lain-lain. Al Mawardi menceritakan bahwa dalam hal ini ada tiga pendapat. Pertama, termasuk kepala, kedua, termasuk wajah, dan ketiga, bagian yang di atas kedua telinga, maka itu termasuk kepala, sedangkan bagian yang rendah dari kedua telinga, maka itu termasuk wajah. Berkata Ar Ruyani : Pendapat ketigalah yang shohih, tetapi penulis Al Mustadzhiri mengatakan pendapat ketiga jelas salahnya. Asy Syaikh Abu Amr mengingkari pendapat mayoritas. Ia mengatakan bahwa pernyataan jelas oleh Asy Syafi'I dalam Mukhtashor Ar Robi' dan Mukhtashor Al Buwaithi pelipis itu termasuk wajah. As Sarokhsi mentakwil bahwa yang dimaksudkan dengan pelipis adalah 'adzar. Berkata Abul Abbas bin Suraij, Ibnul Qosh dan Al Qoffal bahwa dua pelipis termasuk wajah, namun lahiriah perkataan mereka adalah bahwa yang mereka maksudkan adalah 'adzar. Berkata Ibnul Qosh : Bila air tidak sampai ke kulit wajahnya, maka mencukupi dengan ketentuan rambutnya banyak, kecuali di empat tempat, yaitu dua alis, dua kumis, rambut di bawah bibir dan dua pelipis. Al Qoffal menyatakan hal yang sama dan menambahkan : Wajah mencakup dua pelipis, karena bagian tak berambut di belakang pelipis sampai telinga termasuk wajah. Ini merupakan pernyataaan yang jelas bahwa maksud mereka dengan pelipis adalah 'adzar. Adapun pernyataan Asy Syafi'I dalam Al Buwaithi, maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksudkan pelipis adalah 'adzar, sebagaimana dikatakan oleh As Sarokhsi, karena Asy Syafi'I berkata :

Bila seorang pemuda yang belum tumbuh jenggotnya membasuh wajahnya, maka ia wajib membasuh semuanya, jenggotnya dan kedua pelipis sampai kedua telinga. Bila orang yang berjenggot membasuh wajahnya, maka ia basuh bagian dari rambut jenggot yang menghadap wajahnya dan mengalirkan air ke pelipis dan bagian di belakang pelipis sampai telinga. Bila ia tinggalkan seseuatu dari semua ini, maka ia harus mengulangi.

Berkata Ar Ruyani : Ashab mengatakan bahwa yang Asy Syafi'i maksudkan pelipis adalah 'adzar. Aku katakan (An Nawawi) : Ini merupakan takwil yang shohih. Itulah yang tampak. Mungkin sebab perselisihan ini adalah perbedaan dalam mendefinisikan pelipis dan batasannya. ([4])

 

Dua kepala

            Bila seseorang mempunyai dua wajah pada dua kepalnya, maka wajib membasuh kedua wajah itu, tetapi cukup mengusap salah satu kepala. Mungkin juga wajib mengusap sebagian dari masing-masing kepala.

 

Jenggot

Imam Asy Syafi’i berkata : Bila jenggot seseorang melampaui, tetapi tidak banyak hingga menutupi bagian wajahnya, maka ia wajib membasuh wajah seperti sebelum tumbuh. Bila banyak hingga menutupi tempatnya di wajah, maka ihtiyath membasuh semuanya. Setahuku tidak wajib membasuh semuanya. Aku katakan setahuku tidak wajib membasuh semuanya hanyalah berdasarkan pendapat mayoritas orang yang aku jumpai dan diceritakan dari Ahli ilmu bahwa wajah sendiri adalah bagian yang bukan rambut kecuali rambut alis, bulu mata, kumis dan rambut di bawah bibir. 

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila ia berjenggot, maka dilihat. Bila jenggotnya tipis tidak menutup kulit, maka dibasuh rambut dan kulitnya berdasarkan ayat. Bila tebal yang menutupi kulit, maka wajib mengalirkan air ke rambutnya, karena arti berhadapan berlaku padanya, tetapi tidak wajib membasuh apa yang ada di bawahnya, berdasarkan :

() Dari Ibn Abbas bahwa Nabi SAW berwudhu, maka beliau menciduk satu cidukan dan membasuh wajahnya dengan cidukan itu.

Satu cidukan tidak akan menyampaikan air ke bagian bawah rambut yang jenggotnya tebal. Disunnahkan menyela-nyela jenggotnya, berdasarkan hadits :

() bahwa Nabi SAW menyela-nyela jenggotnya. ([5])

Bila sebagian tipis dan sebagiannya tebal, maka hanya wajib membasuh bagian di bawah rambut yang tipis dan mengalirkan air ke rambut yang tebal. Berkata An Nawawi : Ini merupakan madzhab shohih yang masyhur yang telah dinyatakan oleh As Syafi'I dan telah ditetapkan oleh mayoritas ashab dengan seluruh thoriqnya. Ar Rofi'I menceritakan pendapat lain bahwa wajib membasuh kulit. Ini merupakan madzhab Al Muzanni dan Abu Tsaur. Berkata Asy Syaikh Abu Hamid : Sebagian ashab keliru, sehingga menyangka Al Muzanni menyebutkan ini dari madzhab Asy Syafi'I, padahal tidak demikian. Ia hanya menceritakan pendapat pribadinya. Ia dan Abu Tsaur sendirian dengan pendapat itu dan tidak didahului oleh seorangpun salaf.

            Berkata Al Mawardi : Bila bagian yang tebal terpisah-pisah antara yang tipis, tidak bisa dibedakan dan tidak sendirian, maka wajib menyampaikan air ke semua rambut dan kulit. Al Imam Abu Sahl Ash Sho'luki menyampaikan pernyataan Asy Syafi'I  bahwa barang siapa dua sisi jenggotnya tipis, tetapi antara keduanya tebal, maka wajib membasuh seluruh kulitnya seperti alis. Namun ini merupakan pernyataan yang sangat asing. Kriteria tebal adalah seperti dinyatakan oleh Asy Syafi'I, yaitu jenggot yang menutup kulit, maka itu tebal dan yang tidak menutupi, maka itu tipis.

Telah disebutkan bahwa menyela-nyela jenggot itu sunnah, namun mayoritas tidak menyebutkan caranya. Berkata As Sarakhsi : Menyela-nyela dengan jari-jarinya dari arah bawah. Bila ia ambil air lain untuk menyela-nyela, maka itu lebih baik.

() Dari Anas bahwa Nabi SAW bila berwudhu, beliau ambil seciduk air dengan telapak tangan, lalu beliau masukkan ke bawah mulut, lalu menyela-nyela jenggotnya.

            Berkata An Nawwai : Bila jenggot keluar dari batas wajah, baik secara vertikal atau horizontal, atau rambut 'adzar atau jambang keluar, maka apakah wajib mengalirkan air ke bagian yang keluar itu? Dalam hal ini ada dua pendapat masyhur. Ini merupakan masalah pertama yang dinukil oleh Al Muzanni dalam Al Mukhtashornya. Pendapat yang shohih menurut ashab adalah wajib. Pendapat kedua, tidak wajib, tetapi disunnahkan.

 

Rambut di wajah

Imam Asy Syafi'I berkata : Setahuku tidak wajib membasuh semuanya. Aku katakan setahuku tidak wajib membasuh semuanya hanyalah berdasarkan pendapat mayoritas orang yang aku jumpai dan diceritakan dari Ahli ilmu bahwa wajah sendiri adalah bagian yang bukan rambut kecuali rambut alis, bulu mata, kumis dan rambut di bawah bibir. Aku katakan rambut alis, bulu mata, kumis, rambut di bawah bibir dan yang terdapat rambut sebagai wajah hanyalah karena semua itu terbatas dari bagian atas dan bawahnya di bagian wajah yang terbuka.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Majmu : Ada delapan rambut wajah yang wajib dibasuh dan juga kulit di bawahnya, baik tipis atau tebal, yaitu alis, kumis, rambut di bawah bibir, 'adzar, yaitu rambut yang tumbuh di dekat telinga (jawa = godeg), jenggot perempuan, jenggot banci, bulu mata dan rambut pipi.

Adapun rambut jambang, yaitu rambut yang ada di bawah 'adzar dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat shohih yang telah diputuskan oleh mayoritas adalah bahwa itu seperti hukum jenggot, sehingga dibedakan antara tipis dan tebal. Asy Syafi'I menyatakannya dalam Al Umm dan dishohihkan oleh Al Qodhi Husain.

 

Kesimpulan tentang rambut wajah

            Dalam An Nihayah : (Rambut yang tumbuh di wajah ada dua macam, yaitu tidak keluar dari batas wajah dan keluar dari batas wajah). Bila tidak keluar dari batas wajah, kemungkinan tebalnya jarang terjadi dan kemungkinan juga tebalnya sering. Bila tebalnya jarang terjadi seperti bulu mata, kumis, rambut di bawah bibir, jenggota perempuan da banci, maka wajib membasuhnya bagian dalam dan luar, baik tebal maupun tipis. Bila tebalnya sering terjadi, yaitu jenggot laki-laki dan jambangnya, maka harus dilihat. Bila tipis dengan terlihat kulit di bawahnya saat bercakap-cakap, maka wajib membasuh bagian dalam dan luar. Bila tebal, maka wajib membasuh bagian luarnya saja. Bila sebagian tips dan sebagiannya tebal, maka bagi masing-masing ada hukumnya, dengan ketentuan dapat dibedakan. Bila tidak dapat dibedakan, maka wajib membasuh seluruhnya. Maksud dapat dibedakan adalah mungkin untuk membasuhnya sendiri-sendiri.

            Bila rambut keluar dari dari batas wajah dan tebal, maka wajib membasuh bagian luarnya saja. Bila tebalnya jarang terjadi, walaupun tipis, maka wajib membasuh bagian luar dan dalam.

Berkata ashab : Wajib bagi orang yang berwudhu untuk membasuh bagian dari kepalanya, lehernya dan bagian di bawah dagunya bersama wajah, karena ia tidak mungkin membasuh wajah menyeluruh kecuali dengan cara itu.

 

3.       Membasuh kedua tangan sampai siku

Siku termasuk dibasuh

Imam Asy Syafi’i berkata : Firman Alloh "(basuhlah) kedua tangan kalian sampai ke siku", sehingga aku tidak mengetahui hal yang menyelisihi bahwa siku termasuk yang harus dibasuh, seolah mereka berpendapat "maka basuhlah wajah kalian dan kedua tangan kalian sampai engkau membasuh siku"

Fukaha Syafi'iyyah : Membasuh kedua tangan merupakan fardhu berdasarkan firman Alloh "(basuhlah) kedua tangan kalian sampai siku". Wajib memasukkan kedua siku ke dalam basuhan, berdasarkan hadits :

() Dari Jabir berkata, "Adalah Nabi SAW bila berwudhu, maka beliau alirkan air ke kedua siku"

() Dari Abu Zar'ah berkata, "Aku masuk bersama Abu Hurairoh ke rumah Marwan, lalu ia meminta air wudhu, lalu berwudhu, lalu ketika membasuh kedua lengannya, ia melampaui kedua siku dan ketika membasuh kdua kaki, ia lampaui kedua mata kaki sampai kedua betis".

Ini merupakan madzhab Asy Syafi'i dan madzhab seluruh ulama, kecuali pendapat yang disampaikan oleh Ashab dari Zufar, Abu Bakar bin Dawud bahwa keduanya berkata tidak wajib membasuh kedua siku dan kedua mata kaki.

            Ashab berhujjah dengan "(basuhlah) kedua tangan kalian sampai ke siku". Ibn Qutaibah, Al Azhari dan ahli bahasa dan para fukaha lain menyatakan cara pendalilan dari ayat tersebut dengan kalimat yang singkatnya adalah sekelompok ahli bahasa, di antaranya Abul Abbas Tsa'lab mengatakan bahwa إلى  (sampai ke) mempunyai arti مع  (beserta). Sedangkan Abul Abbas Al Mubarrod, Az Zujjaj dan lain-lain mengatakan bahwa إلى berfungsi untuk menunjukkan akhir. Inilah pendapat shohih yang masyhur, sehingga bila artinya adalah beserta, maka masuknya siku ke dalam basuhan adalah jelas, sedangkan lengan atas tidak masuk karena adanya ijma.

            Bila إلى berfungsi untuk menunjukkan akhir, maka batasnya masuk dengan ketentuan pembatasn itu mencakup batas dan yang dibatasi, seperti perkataan :

قطعت اصابعه من الخنصر إلى المسبحة

Aku potong jari-jarinya dari kelingking sampai ke telunjuk

بعتك هذه الاشجار من هذه إلى هذه

Aku beli pohon-pohon ini dari sini ke sini, maka dua jari dan dua pohon masuk dalam pemotongan dan pembelian. Maksud pembatasan adalah mengeluarkan apa yang di belakang batas dengan tetap masuknya batas itu. Demikian sebutan tangan mencakup dari ujung-ujung jari sampai ketiak, namun faidah pembatasan dengan siku mengeluarkan bagian di atas siku dengan tetap beserta siku.

           

Cara membasuh

Imam Asy Syafi'i berkata : Tidak mencukupi dalam membasuh kedua tangan bila tidak dilakukan pada bagian antara ujung-ujung jari sampai siku. Dan juga tidak mencukupi bila tidak dibasuh bagian luar dan dalam dari kedua tangan, juga ujung-ujungnya, hingga sempurna membasuhnya. Bila meninggalkan suatu bagian dari hal-hal tersebut, walaupun sedikit, maka tidak boleh. (Membasuh kedua tangan) dimulai dengan tangan kanan sebelum tangan kiri. Bila dimulai dengan tangan kiri sebelum tangan kanan, aku memakruhkannya, namun menurutku tidak harus mengulangi.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Disunnahkan memulai dengan tangan kanan lalu tangan kiri, berdasarkan :

() Dari Abu Hurairoh bahwa Nabi SAW bersabda, "Bila kalian berwudhu mulailah dengan sebelah kanan"

Bila seseorang memulai dengan tangan kiri, maka boleh, berdasarkan firman Alloh 'kedua tangan kalian". Bila wajib tertib antara kedua tangan, niscaya tidak akan menggabungkan keduanya. Memulai tangan kanan sunnah berdasarkan ijma. Berkata Ibnul Mundzir : Para ulama sepakat bahwa tidak usah mengulangi bagi orang yang memulai dengan tangan kirinya. Ashab menyatakan Syiah bahwa mendahulukan tangan kanan merupakan wajib, tetapi Syiah tidak dperhatikan dalam hal ijma.

() Dari Ali bawa ia ditanya tentang mendahulukan tangan, maka ia meminta bejana, lalu berwudhu dan memulai dengan tangan kiri. Dalam suatu riwayat berkata, "Aku tidak peduli bila aku mulai dengan tangan kiri"

() Dari Ibn Masud bahwa ia memberikan rukhshoh dalam hal mendahulukan tangan kiri.

Namun mendahulukan tangan kiri itu makruh dengan makruh tanzih, sebagaimana dinyatakan oleh Asy Syafi'i dalam Al Umm : Bila dimulai dengan tangan kiri sebelum tangan kanan, aku memakruhkannya, namun menurutku tidak harus mengulangi.

            Disunnahkan mendahulukan kanan dalam berwudhu hanyalah pada kedua tangan dan kedua kaki. Adapun kedua telapak tangan, kedua pipi dan kedua telinga, maka sunnah menyucikan keduanya bersama-sama. Berkata Abul Qosim Ash Shoimari dan penulis Al Hawi disunnahkan membasuh kedua tangan dari ujung-ujung jarinya, lalu air mengalir di tangan dan mengedarkan telapak tangan lain di atasnya dengan mengalirkan air sampai ke sikunya. Tidak cukup mengalirnya air sesuai sifatnya. 

 

Tangan terpotong

Imam Asy Syafi’i berkata : Bila orang yang berwudhu terpotong tangannya, maka dia membasuh yang tersisa sampai kedua sikunya. Bila terpotong dari sikunya dan tak tersisa sedikitpun dari kedua siku itu, maka terangkatlah kewajiban membasuh kedua tangan darinya. Aku lebih suka bila dia membasuh apa yang tersisa dari kedua tangannya atau pundaknya. Namun bila ia tidak melakukannya, maka tidak apa-apa.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila tangannya terpotong dan tidak tersisa sedikitpun tempat fardhu, maka tidak kewajiban membasuhnya, tetapi disunnahkan membasuhkan  air ke bagian tangan yang tersisa, hingga tak ada anggota yang tidak suci. Kesunnahan ini tsabit dari bagian manapun tangan terpotong di atas tempat fardhu, hingga pun bila terpotong dari pundak, maka disunnahkan membasuhkan air ke bagian yang terpotong. Ini dinyatakan oleh Asy Syafi'i dalam Al Umm.

 

Dua tangan

            Bila seseorang mempunyai jari tambahan atau telapak tangan tambahan, maka wajib membasuhnya, karena itu ada di dalam tempat yang wajib dibasuh. Bila ia mempunyai dua tangan pada satu pundak atau satu siku, maka wajib membasuh keduanya, kerena berlakukanya sebutan tangan pada keduanya. Bila salah satu kurang dan yang lain sempurna, maka yang sempurna itulah yang asli, sedangkan yang kurang ditinjau. Bila ada di tempat wajib, maka wajib membasuhnya seperti jari tambahan. Bila ada di lengan atas, tetapi tidak sejar dengan tempat wajib, maka tidak wajib membasuhnya. Bila sebagian sejajar tempat wajib, maka wajib membasuh bagian yang sejajar tempat wajib.

 

4.       Mengusap kepala

Imam Asy Syafi’i berkata : Firman Alloh "dan usaplah kepala kalian", barang siapa yang mengusap bagian dari kepalanya, maka berarti dia telah mengusap kepala. Tak ada kemungkinan dalam ayat kecuali ini. Ini adalah makna yang paling jelas. Atau dia mengusap kepala seluruhnya. Sunnah menunjukkan bahwa tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk mengusap kepala seluruhnya. Bila Sunnah menunjukkan arti demikian, maka arti ayat adalah bahwa orang yang mengusap bagian dari kepala, maka itu mencukupi.

Fukaha Syafi'iyyah : Mengusap kepala merupakan wajib berdasarkan Al Kitab, Sunnah dan Ijma. Kepala adalah bagian yang mencakup tempat tumbuhnya rambut yang biasa. Dua naz'ah termasuk kepala. Demikian juga pelipis termasuk kepala, karena pelipis termasuk tempat tumbuhnya rambut kepala. Berkata Al Mawardi : Orang arab sepakat bahwa naz'ah termasuk kepala dan itu yang tampak dalam syair-syair mereka. Asy Syafi'i menyatakan dalam Al Umm kesunnahan membasuh dua naz'ah bersama wajah.

Berkata Asy Syafi'i dalam Mukhtashor Al Muzanni :

Dua naz'ah termasuk kepala.

Aku suka ia  memeriksa seluruh kepalanya dan kedua pelipisnya, dengan memulai  dari bagian depan kepala lalu mengusapkan kedua tangan ke tengkuknya lalu kembali ke tempat semula.

Berkata Al Mawardi dan ulama yang menjadikan kedua pelipis termasuk kepala : Asy Syafi'i mengatakan demikian untuk megusap kepala secara menyeluruh. Ulama yang mengatakan kedua pelipis termasuk wajah mengatakan bahwa Asy Syafi'i mengatakan demikian supaya dimulai dari keduanya karena bercampur dengan masuknya bagian-bagian kepala, karena bila tidak melakukan seperti itu, maka ia telah meninggalkan bagian dari awal kepala.

() Dari Ar Rubi' binti Mu'awwidz berkata, "Aku lihat Rosululloh Saw berwudhu, beliau usap kepala dengan mengusap ke depan dan ke belakang dan kedua pelipisnya dan kedua telingannya sekali".

 

Bagian kepala yang diusap

Imam Asy Syafi’i berkata : Bila seseorang mengusap bagian kepala mana saja yang ia ingini bila tidak berambut dan bagian rambut kepala mana saja yang ia ingini, dengan satu jari, beberapa jari atau telapak tangannya, maka sudah mencukupi. Demikian juga bila ia mengusap dua naz'ahnya, salah satunya atau sebagiannya, maka mencukupi, karena itu termasuk kepala.

 

[] Dari Mughiroh bin Syu'bah bahwa Rosululloh SAW berwudhu dan mengusap ubun-ubun, sorban dan kedua khufnya.

[] Dari Atho bahwa Rosululloh SAW berwudhu, lalu membuka sorban di atas kepalanya dan mengusap bagian depan kepalanya atau ubun-ubunnya dengan air.

[]  Dari Mughiroh bin Syu'bah bahwa Rosululloh SAW mengusap ubun-ubunnya atau bagian depan kepalanya

Fukaha Syafi'iyyah : Wajibnya adalah mengusap bagian kepala sekedar berlaku padanya sebutan mengusap, walaupun sedikit. Berkata Ibnul Qosh : Sedikitnya adalah tiga rambut. Namun pendapat masyhur dalam madzhab Asy Syafi'i yang telah ditunjukan dengan teks-teks Asy Syafi'i dan telah diputuskan oleh mayoritas ashab adalah bahwa mengusap kepala tidak ditentukan kadarnya, tetapi cukup mengusap bagian yang mungkin, hingga pun bila mengusap sebagian dari satu rambut, maka mencukupi. Gambaran mengusap sebagian rambut adalah semua rambut kepala disemir dengan inai sekiranya tidak tersisa rambut yang tamnpak kecuali satu rambut, maka usapkan tangan ke satu rambut itu pada rambut kepalanya yang disemir.

Orang yang mewajibkan mengusap seluruh kepala berhujjah dengan firman Alloh :

و امسحوا برؤوسكم

"dan usaplah kepala kalian".

Mereka katakan bahwa ba' pada برؤوسكم  adalah sebagai tambahan yang berfungsi penguat,  seperti firman Alloh :

وليطوفوا بالبيت

"Berthowaflah di Al Bait".

Karena tsabit bahwa Nabi SAW mengusap kepala seluruhnya dan berdasarkan qias terhadap tayammum dalam firman Alloh :

فامسحوا بوجوهكم

"Maka usaplah wajahmu"

Wajib menyeluruh dalam mengusap wajah dalam tayammum.

            Sedangkan ashab berhujjah bahwa usapan terjadi pada sedikit dan banyak, dan telah tsabit dalam hadits shohih bahwa Nabi SAW mengusap ubun-ubun, sehingga ini menghalangi wajibnya menyeluruh dan juga mencegah penentuan dengan seperempat, sepertiga dan setangah, karena ubun-ubun bukanlah seperempat, sehingga jelaslah bahwa wajibnya adalah sekedar berlaku sebutan usapan. Pendapat yang dijadikan sandaran oleh Imam Al Haramain dalam kitabnya Al Asalib fil Khilaf bahwa usapan bila dimutlakkan maka mafhumnya usapan tanpa persyaratan menyeluruh.

() Dari Ibnu Umar bahwa ia mengusap bagian depan kepalanya satu kali.

() Dari Ibn Umar bahwa bila ia mengusap kepalanya, maka ia angkat penutup kepalanya dan mengusap bagian depan kepalanya.

() Dari Atho bahwa Rosululloh SAW berwudhu, maka beliau mengangkat sorbannya, lalu mengusap bagian depana kepalanya.

() Dari Anas bin Malik berkata, "Adalah Rosululloh SAW berwudhu dengan memakai sorban, maka beliau masukkan tangannya dari bawah sorban, lalu mengusap bagian depan kepalanya dan tidak menanggalkan sorbannya.

            Adapun perkataan bahwa ba' berfungsi sebagai penguat, maka ashab berkata : Kami tidak menerima bahwa ba' di sini berfungsi sebagai penguat, tetapi berfungsi untuk tab'idh (menunjukkan sebagian) ([6]). Hal itu dinukil dari sebagian ahli bahasa arab. Bila ba' diikutkan dengan fi'il (kata kerja) yang muta'addi (transitif) dengan sendirinya, maka itu berarti ba' berfungsi sebagai tab'idh, seperti friman Alloh :

وامسحوا برؤوسكم

"dan usaplah kepala kalian"

Kata usap adalah kata kerja transitif dengan sendirinya. Bila bukan kata kerja transitif, maka ba' berfungsi sebagai penguat, seperti firman Alloh :

وليطوفا بالبيت

 Berthowaflah di Al Bait".

Kata thowaflah bukanlah kata kerja transitif dengan sendirinya.

Berdasarkan hal ini, maka tercapailah penggabungan antara ayat dan hadits-hadits, Nabi SAW mengusap seluruh kepala pada sebagian besar waktunya untuk menjelaskan keutamannya dan hanya mencukupkan mengusap sebagian untuk menjelaskan kebolehan.

            Adapun qias terhadap tayammum, maka dijawab dari dua segi :

Pertama, Sunnah menjelaskan bahwa yang dituntut dengan mengusap dalam tayammum adalah keseluruhan, sedangkan dalam kepala sebagian.

Kedua, Asy Syafi'I membedakan antara keduanya dalam Mukhtashor Al Muzanni. Asy Syafi'I berkata : Kepala itu pokok, sehingga diperhatikan hukum lafadznya, tetapi tayammum adalah pengganti dari membasuh wajah, sehingga yang diperhatikan hukum yang digantikan. Bila ditanyakan : pembedaan ini tidak sah dengan mengusap khuf, maka jawabnya : Pemberian alasan ini memberikan konsekuensi mengusap khuf secara keseluruhan, tetapi ditinggalkan karena dua segi. Pertama, ijma bahwa tidak wajib menyeluruh . Kedua, itu akan merusak khuf, padahal itu didasarkan untuk meringankan, karena itulah boleh walaupun mampu membasuh kaki, berbeda halnya dengan tayammum.

 

Rambut yang keluar dari tempat tumbuhnya rambut kepala

Imam Asy Syafi’i berkata : Bila kepalanya ada tempat berkumpulnya rambut, lalu ia mengusap bagian yang keluar dari tempat tumbuhnya rambut kepala, maka tidak mencukupi. Tidak mencukupi kecuali bila ia mengusap kepala itu sendiri atau rambut yang ada di atas kepala itu, bukan (rambut) yang keluar dari kepala.

Bila ia mengumpulkan rambutnya, mengikatnya di tengah-tengah kepala, lalu ia mengusap tempat itu, sedangkan yang dia usap adalah rambut yang keluar dari tempat tumbuhnya, maka tidak boleh.

Bila ia usap bagian dari rambut di atas tempat tumbuhnya setelah diurai dari tempat tumbuhnya, maka tidak mencukupi, karena itu merupakan rambut yang bukan di tempat tumbuhnya, sehingga seperti sorban. Tidak mencukupi mengusap rambut hingga ia usap rambut yang ada di tempat tumbuhnya, sehingga bersuci terjadi padanya sebagaimana terjadi pada kepala itu sendiri.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Bila di kepalanya ada rambut, lalu ia usap rambutnya, maka mencukupi. Bila ia usap kulitnya, juga mencukupi, karena semuanya disebut kepala. Pilihan antara mengusap rambut dan kulit merupakan pendapat shohih yang masyhur dan telah diputuskan oleh mayoritas, seperti Al Qodhi Husain, Al Furani, Imam Al Haramain, Al Ghozali dan lain-lain.

Bila seseorang mempunyai gelung rambut di kepala yang keluar dari kepala, lalu ia usap yang keluar itu, maka itu tidak mencukupi, karena tidak berlaku padanya sebutan kepala. Bila ia mempunyai rambut yang terurai dari tempat tumbuhnya, tetapi tidak keluar dari bagian yang wajib, lalu ia usap ujung-ujungnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, pendapat yang shohih berdasarkan kesepakatan ashab bahwa itu mencukupi, karena sebutan kepala tercapai. Kedua, tidak mencukupi. Ini merupakan lahiriah teks dalam al Umm, karena dikatakan :

Bila ia usap bagian dari rambut di atas tempat tumbuhnya setelah dihilangkan dari tempat tumbuhnya, maka tidak emncukupi, karena dalam keadaan seperti ini, itu merupakan rambut yang bukan di tempat tumbuhnya, sehingga seperti sorban. Tidak mencukupi mengusap rambut hingga ia usap rambut yang ada di tempat tumbuhnya, sehingga bersuci terjadi padanya sebagaimana terjadi pada kepala itu sendiri.

Asy Syaikh Abu Hamid dan Al Muhamili mentakwil teks ini yaitu bila rambut itu terurai keluar dari tempat wajib, lalu mengikatnya di tengah kepala. Ini merupakan takwil yang jelas.

 

Mengusap sorban

            Imam Asy Syafi'I berkata : Ketika Alloh perintahkan mengusap kepala, lalu Rosululloh SAW memakai sorban, lalu membuka sorbannya, maka ini menunjukkan bahwa mengusap kepala pada bagian di bawah sorban. Aku suka mengusap sorban bersama kapala, tetapi bila ia tinggalkan itu, maka tidak apa-apa. Bila mengusap sorban bukan kepala, maka tidak mencukupi. Demikian pula bila ia mengusap cadar atau kedua sarung tangan bukan wajah dan kedua lengan, maka tidak mencukupi.

            Fukaha Syafi'iyyah : Berkata An Nawawi : Berkata sahabat-sahabat kami bahwa bila ada sorban di kepalanya, tetapi ia tidak ingin mencabutnya baik karena ada halangan atau tidak, maka ia usap ubun-ubunnya semuanya, namun disunnahkan menyempurnakan usapan dengan mengusap sorbannya, baik dipakai dalam keadaan suci atau berhadats.

() Dari Al Mughiroh bahwa Nabi SAW berwudhu dengan mengusap ubun-ubunnya dan sorbannya.

Bila di kepalanya ada penutup kepala, tetapi ia tidak ingin menanggalkannya, maka itu seperti sorban, maka ia usap ubun-ubunnya dan disunnahkan menyempurnakan dengan mengusap penutup kepala itu. Demikian juga hukum pada kepala perempuan. Bila ia hanya mencukupkan mengusap sorbannya dan tidak mengusap apapun dari kepalanya, maka tidak mencukupi. Ini merupakan madzhab mayoritas ulama.

Berkata Al Bantani dalam Al Quut: Bila tidak ingin menanggalkan sesuatu yang ada di kepalanya berupa sorban dan semisalnya, maka ia sempurnakan usapan pada sesuatu yang ada di kepalanya itu, walaupun tidak dipakai dalam keadaan suci, dengan tiga ketentuan :

1.       Tidak berlebihan dalam memakainya dari segi pemakaian itu sendiri, seperti bila orang yang melakukan ihram memakainya tanpa ada halangan.

2.       Tidak mengangkat tangan setelah mengusap sebagian kepala, yaitu usapan ke sesuatu yang ada di kepala bersambung dengan usapan kepala, sehingga tidak cukup mengusapnya sendirian dengan air baru atau mengusapnya sebelum mengusap bagian kepala.

Berkata Umairoh : Lahiriahnya hukum sorban adalah seperti kepala dalam hal musta'malnya air. Bila ia mengusap kepala dan mengangkat tangannya lalu mengulangi mengusap sorban untuk menyempurnakan usapan, maka jadilah air itu musta'mal dengan terpisahnya tangan dari kepala. Namun kebanyakan melalaikannnya ketika menyempurnakan usapan ke sorban.

3.       Tidak ada pada sesuatu yang ada di kepala itu najis yang dimaafkan seperti darah kutu.

            Sekelompok ulama mengatakan boleh hanya mengusap sorbannya. Demikian pendapat Sufyan Ats Tsauri, Al Auza'I, Ahmad, Abu Tsaur, Ishaq, Muhammad bin Jarir dan Dawud. Hujjahnya adalah :

() Dari Bilal berkata, "Aku lihat Rosululloh SAW mengusap kedua khuf dan penutup kepala"

() Dari Amr bin Umayyah berkata, "Aku lihat Rosululloh SAW mengusap sorbannya dan kedua khufnya"

() Dari Tsauban berkata, "Rosululloh SAW mengutus sariyyah, lalu mereka tertimpa dingin, maka ketika mereka datang kepada Rosululloh SAW, beliau perintahkan mereka mengusap sorban dan khuf"

() Dari Bilal bahwa Rosululloh SAW keluar untuk buang air, lalu aku berikan kepada beliau air, lalu beliau berwudhu dan mengusap sorbannya dan kedua khuf.

            Ashab berhujjah dengah firman Alloh 'Usaplah kepala kalian". Sorban bukanlah kepala. Kepala adalah anggota badan yang sucinya dilakukan dengan mengusap, sehingga tidak boleh mengusap penghalang, seperti halnya wajah dan tangan ketika tayammum. Hal ini disepakati. Kepala adalah anggota yang secara umum tidak diikuti kesulitan dalam mengalirkan air kepadanya, sehingga tidak boleh mengusap penghalang yang terpisah dari kepala seperti halnya tangan dengan sarung tangan dan wajah dengan cadar.

            Jawaban terhadap hadits-hadits yang mereka kemukakan adalah yang dikemukakan oleh Al Khottobi, Al Baihaqi dan muhaddits dan ashab lain bahwa ada peringkasan dalam hadits-hadits tersebut. Maksudnya adalah mengusap ubun-ubun dan sorban untuk menyempurnakan sunnah menyeluruh. ([7]) Keshohihan takwil ini ditunjukan oleh hadits Al Mughiroh.

() Dari Anas bin Malik berkata, "Adalah Rosululloh SAW berwudhu dengan memakai sorban, maka beliau masukkan tangannya dari bawah sorban, lalu mengusap bagian depan kepalanya dan tidak menanggalkan sorbannya.

Bila ditanyakan bagaimana mungkin takwil seperti ini sah dan bagimana mungkij menyangka perowi telah membuang hal seperti ini?, maka jawabnya : bahwa tsabit berdasarkan Al Quran kewajiban mengusap kepala. Hadist-hadits shohih menyatakan mengusap ubun-ubun bersama sorban dan di sebagian hadits mengusap sorban tanpa menyebut ubun-ubun, sehingga boleh jadi sesuai dengan hadits-hadits sisanya dan bisa juga bertentangan, maka membawa pemahaman pada kesepakatan dan persesuaian dengan Al Quran lebih utama. Sebagian perowi membuang sebutan ubun-ubun hanyalah karena mengusap ubun-ubun telah diketahui dan hal yang penting adalah penjelasan mengusap sorban. Berkata Al Khottobi : Prinsipnya adalah bahwa Alloh mewajibkan mengusap kepala, sedangkan hadits mungkin ditakwil, sehingga tidak meningglkan yakin karena kemungkinan.

 

Cara yang sempurna

Imam Asy Syafi’i berkata : Yang lebih baik adalah mengambil air dengan kedua tangannya, lalu mengusap kepala ke depan ke belakang, dimulai dari bagian depan kepala, lalu mengusapkan sampai tengkuk, lalu mengembalikan ke tempat semula.

            [] Dari Amr bin Yahya Al Mazini dari bapaknya katanya, "Aku berkata kepada Abdullah bin Zaid Al Anshori, 'Bisakah engkau perlihatkan kepadaku bagaimana Rosululloh SAW berwudhu?', jawab Abdullah, 'Ya'. Lalu ia berwudhu, mengalirkan air ke kedua tangannya, membasuh keduanya dua kali dua kali, berkumur dan menghirup air ke hidung tiga kali tiga kali, lalu membasuh wajahnya tiga kali, lalu membasuh kedua tangannya dua kali dua kali sampai kedua siku, lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan ke belakang, mengusap sampai tengkuknya lalu mengembalikan ke tempat semula, kemudia membasuh kedua kaki'.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Disunnahkan mengusap seluruh bagian kepala, yaitu mengambil air dengan kedua telapak tangannya, lalu menempelkan ujung telunjuk kanan dengan ujung telunjuk kiri, lalu meletakkan keduanya di bagian depan kepala dan meletakkan kedua ibu jari di kedua pelipis, lalu menjalankan kedua tangan ke tengkuknya, kemudian mengembalikan ke tempat mulai, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid yang mensifati wudhu Rosululloh SAW : Lalu beliau mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, maka beliau mengusap ke belakang dan ke depan dimulai dengan bagian depan kepala lalu menjalankan kedua tangan ke tengkuk.

Berkata ashab : Disunnahkan mengembalikan ke tempat mulai hanya bagi orang yang mempunyai rambut terurai. Adapun orang yang tidak mempunyai rambut, mencukur rambutnya atau hanya tumbuh sedikit, maka tidak usah mengusap kembali ke tempat semula, karena tidak ada faidahnya. Demikian juga tidak disunnahkan bagi orang yang mempunyai rambut banyak yang digelung.

Beberapa hal yang berkaitan dengan mengusap kepala :

1.       Perempuan seperti halnya laki-laki dalam sifat mengusap kepala berdasarkan apa yang dinyatakan oleh Asy Syafi'i dalam Al Buwaithi dan disebutkan oleh ashab. Berkata Asy Syafi'i dalam Al Buwaithi :

Ia masukkan tangannya di bawah kerudungnya hingga usapan terjadi pada rambut.

Bila ia letakkan tangannya yang basah pada kerudungnya, maka berkata ashab : bila basahan itu tidak sampai ke rambut, maka tidak mencukupi. Bila sampai ke rambut, maka ia seperti laki-laki bila meletakkan tangannya yang basah di kepala untuk mengusapkannya, maka mencukupi. Bila tidak, maka ada dua pendapat, nemun pendapat yang shohih mencukupi.

2.       Bila mempunyai dua kepala, maka cukup ia usap salah satunya.

3.       Berkata ashab : Tidak ditentukan tangan yang mengusap kepala. Boleh mengusap dengan jari-jarinya, satu jari, kayu, kain atau lain-lain, atau boleh juga diusapkan oleh orang lain. Berkata Abu Hamid dan lain-lain : Boleh juga ia berdiri di bawah hujan, lalu air mengenainya dan ia berniat mengusap, maka semua itu mencukupi.

Bila ia teteskan air ke kepalanya, tetapi tidak mengalir, atau ia letakkan tangannya yang basah, tetapi tidak mengusapkannya, atau ia basuh kepalanya sebagai ganti mengusap, maka mencukupi, berdasarkan pendapat shohih. Demikian yang diputuskan oleh mayoritas, karena itu dalam arti mengusap. Imam Al Haramain menukil kesepakatan tentang cukupnya membasuh, karena membasuh lebih dari mengusap, sehingga cukupnya mengusap didasarkan pada cukupnya membasuh.

 

Tiga kali dalam mengusap

            Imam Asy Syafi’i berkata : Aku suka bila ia mengusap kepalanya tiga kali, namun satu kali sudah mencukupi. Dan aku suka dia mengusap bagian yang tampak dan yang tersembunyi dari kedua telinganya dengan air baru, bukan air (mengusap) kepala.

 

5.       Membasuh kedua kaki

Imam Asy Syafi’i berkata : Alloh berfirman "kaki kalian sampai kedua mata kaki"

Kami membaca "kaki kalian" dengan arti "basuhlah wajah kalian, kedua tangan dan kaki kalian, dan usaplah kepala kalian"

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Membasuh kedua kaki merupakan fardhu, berdasarkan hadits :

() Dari Jabir berkata, "Rosululloh SAW memerintahkan kami bila berwudhu untuk membasuh kaki-kaki kami"

Berkata An Nawawi : Kaum muslimin sepakat tentang wajibnya membasuh kedua kaki. Berkata Syiah bahwa yang wajib adalah mengusap kedua kaki. Ashab menceritakan dari Ibn Jarir bahwa boleh pilih antara membasuh dan mengusap kedua kaki. Sebagian ahli dzahir mewajibkan membasuh dan mengusap semuanya.

            Ulama yang berpendapat wajibnya mengusap berhujjah dengan firman Alloh :

وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم

'Usaplah kepala kalian dan kaki-kaki kalian' dengan bacaan jar berdasarkan dua macam qiroah dalam qiroah sab'ah, sehingga mengathafkan bagian yang diusap ke bagian yang diusap dan membagi anggota-anggota yang empat menjadi dua bagian, dua anggota dibasuh dan dua anggota diusap.

() Dari Anas bahwa sampai kepadanya bahwa Al Hajjaj berkhutbah, katanya, "Alloh telah perintahkan membasuh wajah, kedua kaki dan juga membasuh kedua kaki", maka kata Anas, "Maha benar Alloh dan dustalah Al Hajjaj :

فامسحوا برؤوسكم وأرجلكم

Anas membaca dengan jar.

() Dari Ibn Abbas bahwa wudhu itu dua basuhan dan dua usapan.

() Dari Ibn Abbas berkata, "Alloh perintahkan mengusap, namun manusia enggan kecuali dengan membasuh"

() Dari Rifa'ah dalam hadits orang yang buruk sholatnya, berkata kepadanya Nabi SAW, "Sesungguhnya tidak sempurna sholat salah seorang di antara kalian hingga ia sempurnakan wudhunya sebagaimana diperintahkan oleh Alloh", lalu beliau membasuh wajah dan kedua tangan, mengusap kepala dan kedua kakinya.

() Dari Ali bin Abi Tholib bahwa ia berwudhu, maka ia ambil satu ciduk air lalu memercikan ke kaki kanannya yang memakai sandal, lalu ia buat seperti itu juga dengan kaki kirinya.

            Ashab berhujjah dengan hadits-hadits shohih yang mustafidh tentang sifat wudhu Nabi SAW bahwa beliau membasuh kedua kaki. Di antaranya :

() Rosululloh SAW melihat sekelompok orang yang berwudhu, tetapi masih tersisa tumit-tumit mereka yang tidak tersentuh air, maka beliau bersabda, "Celakalah tumit-tumit karena neraka"

Dalam hadits ini terdapat pernyataan yang jelas bahwa menyeluruh basuhan kaki merupakan kewajiban.

() Dari Umar bin Al Khotthob bahwa seorang laki-laki berwudhu, lalu ia tinggalkan seluas kuku di telapak kaki, lalu Nabi SAW melihatnya, kata beliau, "Kembali perbaiki wudhumu"

()  Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW, lalu berkata, "Wahai Rosululloh SAW, bagaimana cara bersuci?", maka beliau minta air dalam bejana, lalu beliau basuh kedua telapak tangan tiga kali, lalu membasuh wajah tiga kali, lalu membasuh legan tiga kali, lalu mengusap kepala, lalu membasuh kedua kaki tiga kali, kemudian sabda beliau, "Inilah wudhu, maka barang siap menambah atau mengurangi, maka ia telah berbuat buruk dan zalim"

() Dari Amr bin Abasah di dalam hadits yang panjang bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang di antara kalian melakukan wudhu dengan berkumur dan menghirup air ke hidung lalu menghembuskannya, maka keluar dosa-dosa wajahnya, mulutnya dan lubang hidungnya bersama air, lalu bila ia basuh wajahnya sebagaimana Alloh perintahkan kepadanya, maka keluar dos-dosa wajahnya dari ujung-ujung jenggotnya bersama air, lalu ia basuh kedua tangannya sampai kedua siku, maka keluar dosa-dosa tangannya dari kuku-kukunya bersama air, lalu ia usap kepalanya, maka keluar dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung rambutnya bersama air, lalu ia basuh kedua telapak kakinya sampai kedua mata kaki, maka keluar dosa-dosa kedua kakinya dari kuku-kukunya bersama air, lalu bila berdiri untuk menunaikan sholat, lalu bertahmid, memuji Alloh, mengagungkan-Nya dengan hal-hal yang memang pantas bagi-Nya dan mengosongkan hatinya hanya untuk Alloh, maka ia meninggalkan dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya". Berkata Amar bin Abasah, "Aku mendengar itu dari Rosululloh SAW lebih dari tujuh kali"

Berkata Al Baihaqi : Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Alloh memerintahkan untuk emmbasuh kedua kaki.

Berkata ashab : Karena kedua kaki merupakan dua anggota badan yang dibatasi, maka kewajiban keduanya adalah membasuh seperti kedua tangan.

            Adapun jawaban untuk hujjah mereka dengan firman Alloh (وأرجلكم)  , maka sungguh kata itu telah dibaca engan nashab dan jar. Nashab jelas menyatakan membasuh dan ma'thufnya adalah wajah dan kedua tangan. Adapun jar, maka dijawab dengan beberapa jawaban. Jawaban yang termasyhur adalah bahwa jar berdekatan dengan kepala, padahal kata kaki (وأرجل)  dinashabkan. Hal ini masyhur dalam bahasa arab. Di dalam bahasa arab terdapat banyak syair yang masyhur dan banyak kata-kata. Di antaranya :

هذا جحر ضب خرب

Dengan jar kata خرب  karena berdekatan dengan ضب, padahal itu dibaca rafa' sebagai sifat untuk جحر . Dan dalam Al Quran :

اني اخاف عليكم عذاب يوم اليم

"Aku khawatir kalian mendapatkan azab di suatu hari yang pedih"

Dengan jar kata اليم karena berdekatan dengan kata يوم, padahal itu dinashab sebagai sifat untuk kata عذاب.

Bila dikatakan : Ikut kata yang terdekat sah hanyalah bila di sana tidak ada huruf wawu. Bila ada, maka tidak sah. Ayat tersebut terdapat wawu, maka kami katakan : Ini keliru, karena ikut kata terdekat adalah bersama wawu. Ini masyhur dalam syair-syair mereka. Di antaranya :

لم يبق الا اسير غير منفلت * وموثق في عقال الاسر مكبول

موثق  dibaca jar karena berdekatan dengan kata منفلت padahal itu dirafa' sebagai ma'thuf pada kata أسير.

Bila mereka katakan : Ikut kata terdekat hanyalah bila di sana tidak ada ketidakjelasan, padahal di dalam ayat terdapat ketidakjelasan, maka kami jawab : Tidak ada ketidakjelasan di dalam ayat, karena ayat membatasi dengan kata kedua mata kaki, padahal mengusap tidak sampai kedua kaki berdasarkan kesepakatan.

Jawaban kedua adalah bahwa qiroah dengan jar dan nashab sebanding dan Sunnah menjelaskan dan merajihkan membasuh, maka menjadi jelas.

Jawabab ketiga telah disebutkan oleh sekelompok sahabat kami, di antaranya Asy Syaikh Abu Hamid, Ad Darimi, Al Mawardi dan lain-lain bahwa dibaca jar dibawa pemahamannya pada mengusap khuf, sedangkan nashab pada membasuh bila tidak ada khuf.

Jawaban keempat adalah bila memang tsabit bahwa maksud ayat adalah mengusap, maka usapan itu dibawa pemahamannya pada membasuh dengan menggabungkan antara dalil-dalil dan dua qiroah, karena mengusap dimutlakkan pada membasuh. Berkata Abu Ali Al Farisi : Orang arab menyebut basuhan ringan dengan usapan.

            Jawaban untuk hujjah mereka dengan hadits Anas dari berbagi segi. Jawaban paling masyhur menurut ashab adalah bahwa Anas mengingkari keberadaan ayat menunjukkan penentuan membasuh, sedangkan ia berkeyakinan bahwa basuhan hanyalah diketahui kewajibannya dengan penjelasan Sunnah, sehingga itu bersesuaian dengan Al Hajjaj dalam hal membasuh berselisih dalam hal dalil. Jawaban kedua telah disebutkan oleh Al Baihaqi dan lain-lain bahwa Anas tidak mengingkari membasuh, ia hanya mengingkari qiroah. Takwil ini dikuatkan dengan hadits yang Anas nukil dari Nabi SAW yang menunjukkan membasuh dan Anas sendiri membasuh kedua kakinya. Jawaban ketiga : Bila beralasan dengan hadits Anas, maka yang kami dahulukan adalah perbuatan dan perkataan Nabi SAW, juga perbuatan para sahabat Nabi SAW.

            Adapun hadits Ibn Abbas, maka dijawab dari dua segi. Segi yang terbaik adalah itu tidak shohih dan tidak diketauhi, walaupun telah diriwayatkan oleh Ibn Jarir dalam kitab Ikhtilaf Al Ulama, tetapi isnadnya dhoif, bahkan yang shohih tsabit dari Ibn Abbas bahwa ia membaca وأرجلكم dengan nashab dan mengatakan athaf terhadap bagian yang dibasuh. Demikianlah yang diriwayatkan oleh para imam hafidz, di antaranya Abu Ubaid Al Qosim bin Salam, sekelompok qurro', Al Baihaqi dan lain-lain dengan sanad-sanad mereka dan telah tsabit dalam Al Bukhori dari Ibn Abbas bahwa ia berwudhu dengan membasuh kedua kaki dan berkata, "Demikianlah aku lihat Rosululloh SAW berwudhu". Segi kedua seperti jawaban terhadap hadits Anas.

Adapun hadits Rifa'ah, maka berdasarkan lafadz ayat, sehingga dikatakan apa yang dikatakan dalam ayat.

            Adapun hadits Ali, maka dijawab dari beberapa segi. Terbaik adalah bahwa itu dhoif, telah didhoifkan oleh Al Bukhori dan para hafidz lain, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah bila tidak bertentang dengan lainnnya, lalu bagaimana mungkin padahal itu berlawanan dengan Sunnah yang saling menjelaskan dan dalil-dalil yang jelas. Kedua, bila memang tsabit, maka membasuh didahulukan atasnya, karena basuhan tsabit dari Rosululloh SAW. Ketiga, jawaban Al Baihaqi dan ashab bahwa itu dibawa pemahamannya pada membasuh kedua kaki di kedua sandalnya, karena telah tsabit dari hadits Ali membasuh kedua kaki, sehingga wajib membawa riwayat yang mengandung kemungkinan ke riwayat shohih yang jelas.

 

Kedua mata kaki

Imam Asy Syafi'i berkata : Aku tidak pernah mendengar hal yang menyelisihi bahwa kedua mata kaki yang Alloh sebut dalam ayat wudhu adalah kedua mata kaki yang menonjol, yaitu pertemuan sendi betis dan telapak kaki dan bahwa keduanyalah yang wajib dibasuh. Tidak mencukupi bila ia tidak  membasuh bagian luar dan dalam telapak kakinya dan kedua mata kaki, hingga ia mencakup semua yang menonjol dari kedua mata kakinya.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Wajib memasukkan kedua mata kaki dalam basuhan, berdasarkan firman Alloh 'kedua kaki sampai ke kedua mata kaki'. Ahli tafsir berkata artinya adalah bersama kedua mata kaki. Mata kaki adalah dua tulang menonjol yang ada di pertemuan batis dan telapak kaki. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh An Nu'man bin Basyir :

() Nabi SAW menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda, "Luruskan shaf-shaf kalian", mak sungguh kami lihat seorang di antara kami menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya, pundaknya dengan pundak temannya. ([8])

Ini menunjukkan bahwa mata kaki adalah seperti apa yang kami katakan.

            Berkata An Nawawi : Mata kaki adalah dua tulang menonjol yang ada di pertemuan batis dan telapak kaki. Ini merupakan mazhab kami dan telah dikatakan oleh mufassir, ahlul hadits, ahli bahasa dan fukaha, namun Syiah mengatakan bahwa mata kaki adalah dua tulang di punggung telapak kaki. Menurut mereka pada tiap orang ada satu mata kaki. Dalil kami adalah :

وأرجلكم الي الكعبين

Berkata ashab : Ini memberi konsekuensi bahwa pada tiap orang ada dua mata kaki.

() Dari Utsman tentang sifat wudhu Rosululloh SAW, beliau membasuh kaki kanan sampai kedua mata kaki, lalu kaki kiri demikian juga.

Berkata Al Mawardi dari Quraisy dan Nizar bahwa mata kaki adalah sebutan untuk tulang yang menonjol antara betis dan telapak kaki. Lebih utama mempertimbangkan bahasa mereka dalam hokum dibandingkan penduduk Yaman, karena Al Quran turun dengan bahasa Quraisy.

 

Cara membasuh

Imam Asy Syafi’i berkata :  Ia mulai dengan menegakkan kedua telapak kakinya, lalu menuangkan air dengan tangan kanannya atau orang lain dan membasuh sela-sela jari kaki hingga air sampai pada bagian antara jari-jari. Tidak mencukupi bila  meninggalkan membasuh sela-sela jari kaki, kecuali ia tahu bahwa air telah sampai ke seluruh bagian di sela-sela jari.

Bila di jari-jarinya ada sesuatu yang diciptakan menempel, maka ia masukkan air ke dua anggota itu, hingga air sampai ke kulit yang tampak. Selain itu tidak mencukupi. Tidak boleh ia membelah apa yang diciptakan melekat.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Disunnahkan memulai dengan kaki kanan sebelum kaki kiri, seperti yang telah disebut dalam hal membasuh tangan. Bila jari-jari kakinya renggang, maka disunnahkan membasuh sela-sela jari, berdasarkan :

() Sabda Rosululloh SAW kepada Laqith, "Dan basuhlah sela-sela jari kalian.

Bila jari-jarinya melekat, air tidak sampai kecuali dengan membasuh sela-selanya, maka wajib melakukannya, berdasarkan :

() Sabda Rosululloh SAW, "Sela-selalah jari kalian, maka Alloh tidak akan menyela-nyelanya dengan neraka"

Berkata An Nawawi : Namun tidak harus menyampaikan air dengan menyela-nyela, bahkan dengan cara apapun menyampaikan air tertunaikan kewajibannya.

      Para ulama berselisih tentang cara membasuh kedua kaki yang disunnahkan. Asy Syafi'I berkata : Ia mulai dengan menegakkan kedua telapak kakinya, lalu menuangkan air dengan tangan kanannya atau orang lain dan membasuh sela-sela jari kaki hingga air sampai pada bagian antara jari-jari. Tidak mencukupibila  meninggalkan membasuh sela-sela jari kaki, kecuali ia tahu bahwa air telah sampai ke seluruh bagian di sela-sela jari. Demikian yang dikatakan oleh Al Baghowi dan lain-lain. Al Baghowi menambahkan : Dan menggosok keduanya dengan tangan kiri dan bersungguh-sungguh dalam menggosok tumit. Berkata Ash Shoimari dan Al Mawardi : Bila ia tuangkan air untuk diri sendiri, maka ia mulai dengan jari-jari kanan, sebagaimana telah dinyatakan olehAsy Syafi'i. Bila orang lain yang menuangkan, maka ia mulai dari kedua mata kaki hingga jari-jariya. Pendapat terbaik adalah apa yang dinyatakan oleh Asy Syafi'i dan diikuti oleh mayoritas berupa kesunnahan memulai dari jari-jari secara mutlak.

Berkata Asy Syafi'I dalam Al Umm dan ashab : bila jari-jarinya melekat satu sama lain, maka tidak wajib membelahnya, bahkan tidak boleh, tetapi ia basuh bagian yang tampak. Berkata ashab : Bila di kaki ada robekan, maka wajib menyampaikan air ke dalam robekan itu. Bila ia melelehkan lemak, lilin atau adonan ke dalam robekan itu, atau ia mewarnai dengan inai dan masih tersisa bentuknya, maka wajib menghilangkan bentuknya, karena itu menghalangi sampainya air ke kulit. Bila masih tersisa warna inai bukan bentuknya, maka tidak apa-apa dan sah wudhunya.

Disunnahkan membasuh bagian di atas kedua siku dan mata kaki, berdasarkan hadits :

() Rasululloh SAW bersabda, "Akan datang umatku pada hari kiamat dengan keadaan ghurrah dan tahjil (cahaya akibat wudhu yang nampak pada wajah, kaki, dan tangan) karena bekas-bekas wudhu. Barang siapa yang mampu memanjangkan ghurrahnya, maka lakukanlah"

() Dari Nuaim berkata : Aku lihat Abu Hurairoh berwudhu, ia membasuh wajahnya, sempurnakan wudhunya, lalu membasuh tangan kanannya hingga sampai lengan atas, lalu membasuh tangan kirinya sampai lengaan atas, lalu mengusap kepala, lalu membasuh kaki kanan hingga sampai betis, lalu kaki kiri sampai betis, lalu ia berkata, "Demikianlah aku lihat Rosululloh SAW berwudhu. Rosululloh SAW bersabda, 'Kalian pada hari kiamat dalam keadaan ghurrah dan tahjil karena menyempurnakan wudhu. Siapa yang mampu, maka panjangkan ghurrah dan tahjilnya'".

() Dari Abu Hazim berkata, "Aku di belakang Abu Hurairoh ketika berwudhu, maka ia basuh tangannya sampai kedua ketiaknya".

() Dari Nuaim bahwa ia melihat Abu Hurairoh berwudhu, ia membasuh wajah da kedua tangan hingga hamper sampai ke kedua pundak, lalu membasuh kedua kaki hingga sampai ke dua betis.

 

6.       Tertib

Imam Asy Syafi’i berkata : Rosululloh SAW berwudhu seperti apa yang diperintahkan Alloh dan mendahulukan apa yang didahulukan Alloh. Barang siapa yang memulai dari tangannya sebelum wajahnya atau kepala sebelum kedua kakinya atau kakinya sebelum kepalanya, maka menurutku wajib atasnya mengulangi hingga ia membasuh seluruhnya sesuai tempatnya. Menurutku tidak mencukupi bila selain itu. Bila ia telah sholat, ia harus mengulangi sholatnya setelah ia mengulangi wudhunya. Mengusap kepala dan lainnya dalam hal ini sama, karena itu bila ia lupa mengusap kepala hingga ia mebasuh kedua kaki, ia harus mengulangi, mengusap kepala kemudian membasuh kedua kaki. 

Alloh menyebut kedua tangan dan kedua kaki bersamaan, karena itu aku suka memulai dari kanan sebelum kiri. Bila ia memulai kiri sebelum kanan, maka itu tidak baik, namun tidak ada kewajiban mengulangi.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam Al Muhazzab : Wajib tertib dalam wudhu, yaitu membasuh wajah, lalu kedua tangan, lalu mengusap kepala, lalu membasuh kedua kaki. Ibnul Qosh menceritakan satu pendapat lain bahwa bila lupa tertib, maka tidak apa-apa, namun yang masyhur adalah pendapat pertama. Dalilnya adalah :

فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق

Perintah usapan dimasukkan antara dua basuhan, maka ini menunjukkan bahwa itu dimaksudkan kewajiban tertib. Wudhu adalah ibadah yang mencakup perbuatan-perbuatan berbeda-beda, yang bertalian satu sama lain, maka wajib tertib dalam wudhu, seperti sholat dan haji.

            Sekelompok ulama mengatakan tidak wajib tertib. Ibnul Mundzir menceritakannya dari Ali dan Ibn Masud. Itulah yang dikatakan oleh Said bin Al Musayyab, Al Hasan, Atho', Makhul, An Nakh'i, Az Zuhri, Robiah, Al Auza'i, Abu Hanifah, Malik Al Muzanni dan Dawud. Di antara ashab yang memilih pendapat ini adalah Abu Nashr Al Bandaniji. Hujjah mereka adalah dengan ayat wudhu. Wawu (dan) tidak memberi pengertian tertib, karena itu bagaimana caranya seseorang anggota-anggota wudhunya, maka ia telah mematuhi perintah.

() Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Nabi SAW berwudhu, maka beliau basuh wajah, lalu kedua tangan, lalu kedua kaki, lalu mengusap kepala.

Wudhu adalah bersuci, sehingga tidak wajib tertib seperti halnya janabah dan seperti mendahulukan kanan dibanding kiri dan siku dibanding mata kaki. Bila seseorang yang berhadats mandi sekaligus, maka terangkatlah hadatsnya, sehingga ini menunjukkan bahwa tertib tidak wajib.

            Ashab berhujjah dengan ayat. Mereka katakan ada dua dalil dalam ayat.

Pertama, seperti yang disebutkan dalam Al Muhazzab, yaitu Alloh menyebutkan bagian yang diusap di antara bagian-bagian yang dibasuh. Adat orang arab bila menyebutkan suatu yang sama jenisnya dan tidak sam jenisnya, maka disebutkan suatu yang jenisnya sama berurutan, lalu mengathafkan lainnya. Mereka tidak menyelisihi kaidah ini kecuali ada faidah. Bila ditanyakan : Faidahnya adalah kesunnahan tertib, maka dijawab dari dua segi. Pertama, perintah menunjukkan kewajiban berdasarkan pendapat pilihan yang merupakan madzhab mayoritas fukaha. Kedua, ayat merupakan penjelasan untuk wudhu yang wajib bukan sunnah, sehingga tidak ada di dalamnya satupun yang termasuk sunnah-sunnah wudhu.

Kedua, menurut pandangan orang arab, bila menyebut suatu yang banyak dan mengathafkan satu dengan lainnya, maka dimulai dengan suatu yang terdekat, lalau yang dekat. Hal itu tidak dilanggar kecuali karena ada maksud. Ketika Alloh memuali dengan wajah, lalu kedua tangan, lalu kepala, lalu kedua kaki, maka ini menunjukkan perintah untuk tertib. Bila tidak demikian, maka akan dikatakan : Basuhlah wajah kalian, usaplah kepala kalian, basuhlah kedua kaki dan kedua kaki kalian.

Ashab juga menyebutkan dua dalil lain yang dhoif, yaitu :

Pertama, wawu (dan) berfungsi untun menunjukkan tertib. Mereka menukil dari Al Farro' dan Tsa'lab. Al Mawardi menyangka bahwa ini merupakan pendapat mayoritas ashab. Mereka juga memberikan bukti dengan banyak hal yang semuanya dhoif. Berkata Imam Al Haramain dalam kitab Al Asalib : Pastinya adalah bahwa wawu tidak memberikan konsekuensi tertib. Barang siap mendakwakan demikian, maka itu berlebihan.

Kedua, ashab menukil dari Abu Ali bin Abu Hurairoh dan dinukil oleh Imam Al Haramain dari ulama sahabat-sahabat kami bahwa Alloh berfirman :

إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم

"Bila kalian hendak mendirikan sholat, maka basuhlah wajah kalian"

Alloh mengikutkan kata mendirikan dengan membasuh wajah dengan huruf fa' (maka) dan fa' berfungsi untuk menunjukkan tertib. Kapan saja wajib mendahulukan wajib, maka pastilah tertib, karena tidak ada seorangpun mengatakan tertib pada hal lain. Istidlal ini batil. Segi batilnya adalah bahwa fa' walaupun memberi konsekuensi tertib, tetapi ma'thuf pada bagian yang ada di dalamnya dengan huruf wawu, padahal bagian yang ada di dalamnya seperti satu bagian, sebagaimana konsekuensi huruf wawu, sehingga makna ayat : Bila kalian hendak mendirikan sholat, maka basuhlah anggota-anggota, sehingga fa' memberikan faidah tertib membasuh anggota-anggota terhadap kata mendirikan, bukan tertib satu anggota dengan anggota lainnya. Tak ada keraguan bahwa bila seseorang mengatakan : Bila engkau masuk pasar, maka belilah roti dan kurma, maka tidak wajib mendahulukan roti, tetapi bagaimana pun caranya ia beli keduanya, maka ia telah mematuhi perintah, dengan ketentuan pembelian dilakukan setelah masuk pasar.

Ashab berhujjah dari Sunnah dengan hadits-hadits shohih mustafidh dari banyak kelompok sahabat Nabi SAW tentang sifat wudhu Nabi SAW. Mereka mensifatinya dengan tertib, padahal mereka banyak, di berbagi tempat dan banyaknya perbedaan dalam hal sekali, dua kali, tiga kali dan lain-lain, namun tidak disebutkan tanpa tertib. Perbuatan Nabi SAW merupakan penjelasan untuk wudhu yang diperintahkan. Bila boleh meninggalkan tertib, maka beliau akan meninggalkannya di beberapa kondisi untuk menjelaskan kebolehan.

Al Baihaqi berhujjah dengan hadits shohih :

() Rosululloh SAW bersabda, "Mulailah apa yang dimulai Alloh"

Hadits ini walaupun dinyatakan karena sebab khusus, yaitu haji, namun yang diperhatikan adalah keumuman lafadznya tidak dengan kekhususan sebabnya. ([9])

            Adapun jawaban untuk hujjah mereka mendahulukan kanan dibanding kiri, maka dijawab dari dua segi. Pertama, Alloh mengurutkan anggota-anggota yang empat dan memutlakkan tangan dan kaki. Bila wajib tertib antara keduanya, maka akan dikatakan :tangan kanan kalian. Kedua, kedua tangan seperti satu anggota, karena berlakunya sebutan tangan pada keduanya, sehingga tidak wajib tertib pada keduanya berbeda dengan anggotaa-nggota yang empat.

            Adapun jawaban perkataan mareka : Bila seseorang yang berhadats mandi sekaligus, maka terangkatlah hadatsnya, sehingga ini menunjukkan bahwa tertib tidak wajib, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Di antara ashab ada yang mengatakan terangkat hadatsnya dan yang lain tidak.

 

Mandi dengan berniat wudhu

            Dalam Al Muhazzab : Bila seseorang mandi dalam keadaan berhadats tanpa tertib dan berniat wudhu, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, itu mencukupi, karena bila itu boleh pada hadats yang lebih tinggi, maka bolehnya pada hadats yang lebih kecil lebih utama. Kedua, tidak mencukupi. Inilah pendapat yang paling shohih, karena ia telah menggugurkan tertib yang wajib dengan melakukan perbuatan yang bukan wajib.

 

 

 

 



[1]           Ghomam (sinom) adalah turunnya rambut hingga mempersempit dahi dan tengkuk.

[2]           Naz'ah adalah tempat rontoknya rambut dari salah satu sisi dahi.

[3]           Berkata Al Ghozali dalam Al Wasith bahwa tahzif adalah kadar bila diletakkan satu ujung garis di telinga bagian atas dan ujung lain di pojok dahi yang ada di sisi wajah.

[4]           Pelipis adalah bagian antara mata dan telinga, namun yang dimaksudkan di sini bagian rambut di pelipis yang bersambung dengan ‘adzar. Jadi maksud pelipis di sini bukan keseluruhan pelipis, namun hanya bagian yang berambut itu, karena bagian pelipis yang tidak berambut termasuk batas wajah secara horizontal, yaitu dari telinga satu ke telinga lain. (penulis)

[5]           Hadits diriwayatkan oleh At Turmudzi dari riwayat Utsman bin Affan. Berkata At Turmudzi : hasan shohih.

[6]           Berkata Ibn Rusyd Dalam Bidayah Al Mujtahid : Ba' bisa menunjukkan arti tab'idh, seperti uacapan :

أخذت بثوبه وبعضده

            Aku pegang (sebagian) pakaiannya dan lengannya

Tak ada artinya mengingkari hal ini dalam perkataan orang Arab, yaitu keberadaan ba' sebagain tab'idh. Ini merupakan pendapat ahli nahwu Kufah.

[7]           Takwil ini tidak perlu, karena sahnya mengusap sorban dengan ketentuan basahan air itu atau ada tetesan air sampai ke kepala. (penulis)

[8]           Berkata An Nawawi : Hadits An Nu'man hasan, telah diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al Baihaqi dan lain-lain dengan sanad-sanad jayyid, dan telah disebutkan oleh Al Bukhori dalam shohihnya secara ta'liq dengan bentuk penetapan. Ta'liq-ta'liq oleh Al Bukhri bila dengan bentuk penetapan, maka itu shohih.

[9]           Hadits ini dikemukakan untuk menyatakan kewajiban tertib untuk wudhu tidaklah tepat, karena ibadah haji disyariatkan secara Islam setelah sholat. (penulis)