SUNNAH-SUNNAH WUDHU

 

1. Siwak

Kesunnahan siwak

Saat-saat sangat dianjurkan untuk bersiwak

2. Tasmiyah

3. Mencuci kedua tangan sebelum wudhu

Kesunnahan mencuci kedua tangan sebelum wudhu

Keraguan telah menyentuh najis

4. Berkumur dan menghirup air ke hidung

Kesunnahan berkumur dan menghirup air ke hidung

Cara berkumur dan menghirup air ke hidung

5. Mencuci mata

6. Mengusap seluruh kepala

7. Mengusap telinga

Telinga merupakan anggota tersendiri

Kesunnahan mengusap kedua telinga

Dengan air baru

Cara mengusap kedua telinga

8. Tiga kali

Kesunnahan melakukan tiga kali

Lebih dari tiga kali

9. Menyela-nyela jari tangan dan kaki

Cara menyela-nyela jari

10. Berkesinambungan (muwalat)

11. Mengusap leher

12. Menyela-nyela jenggot

13. Tidak meminta tolong orang lain

14. Berdoa setelah berwudhu

15. Tidak mengibaskan kedua tangan

16. Tidak mengeringkan anggota-anggota wudhu

           

SUNNAH-SUNNAH WUDHU

 

1. Siwak

Kesunnahan siwak

[] Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW berkata, "Bila tidak karena aku memberatkan umatku, sungguh aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap-tiap wudhu dan untuk mengakhirkan sholat Isya"

[] Dari Aisyah bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Siwak itu membersihkan mulut dan mendatang keridhoan Tuhan"

Imam Asy Syafi’i berkata : Dalam hadits-hadits ini ada dalil bahwa siwak tidaklah wajib. Itu hanya pilihan. Karena bila itu wajib, Rosul SAW akan memerintahkannya, baik itu memberatkan atau tidak.

Fukaha Syafi'iyyah : Siwak sunah berdasarkan :

() Dari Aisyah bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Siwak itu membersihkan mulut dan mendatang keridhoan Tuhan"

() Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW berkata, "Bila tidak karena aku memberatkan umatku, sungguh aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap-tiap wudhu dan untuk mengakhirkan sholat Isya"

            Berlaku pada siwak empat hukum, yaitu :

1.       wajib, bila berkaitan dengan membuang najis atau bau yang tidak sedap untuk melakukan sholat jumat

2.       haram, bila siwak milik orang lain tanpa izin

3.       makruh, bagi orang yang berpuasa setelah tergelincir matahari

4.       sunnah di setiap saat

Apakah dimakruhkan bagi orang yang berpuasa setelah tergelincir matahari? Dalam hal ini ada perbedaan. Pendapat yang rajih dalam Ar Rofi'i dan Ar Roudhoh adalah makruh, berdasarkan sabda Rosululloh SAW :

() "Berubahnya bau mulut dari orang yang berpuasa di sisi Alloh lebih wangi dibandingkan bau misk"

Dikhususkan pada waktu setelah tergelincir adalah karena pada saat itu perubahan mulut yang disebabkan oleh puasa jelas. Bila mulutnya berubah karena sebab lain seperti tidur lalu bersiwak maka tidak makruh. Ada yang mengatakan tidak makruh bersiwak secara mutlak. Demikian yang dikatakan oleh tiga Imam dan dirajihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu. Berkata Al Qodhi Husain : Dimakruhkan dalam puasa fardhu tidak dalam puasa sunnah karena khawatir iya.

Faidah-faidah siwak dintaranya :

1.       menyucikan mulut

2.       mentangkan ridho Alloh

3.       memutihkan gusi

4.       menegakkan punggung

5.       menguatkan gusi

6.       memperlambat tumbuhnya uban

7.       membersihkan rupa

8.       mencerahkan pikiran

9.       meredakan pening

10.   menghilangkan penyakit dan lendir di dalam kepala

11.   menguatkan gigi

12.   menajamkan pendengaran

13.   menambah kebaikan

14.   menghibur dalam kubur

15.   menambah harta dan anak

16.   Malaikat datang ketika mencabut nyawa dengan rupa yang indah

17.   Malaikat bersukacita dan menyambutnya karena cahaya wajahnya saat keluar untuk sholat

18.   melipatgandakan pahal

19.   mengingat syahadat ketika mati

20.   membiasakan bersiwak menyebabkan keluasaan, kekayaan dan gampangnya rizki

21.   mewangikan mulut

Dan masih banyak faidah lain. Demikian disebutkan dalam Al I'anah.

 

Saat-saat sangat dianjurkan untuk bersiwak

Imam Asy Syafi’i berkata : Siwak dianjurkan pada semua hal saat bau mulut berubah, saat bangun tidur, lama diam, makan dan minum sesuatu yang merubah bau mulut dan ketika sholat. Siapa yang meninggalkannya dan sholat, maka ia tidak usah mengulangi sholatnya dan tidak wajib berwudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Siwak sangat dianjurkan pada beberapa kondisi, yaitu :

1.      berubah bau mulut karena lama diam atau hal lainnya

Termasuk hal lainnya adalah makan sesuatu yang berbau tidak sedap, seperti bawang putih, bawang merah dan kucai.

2.      bangun tidur

() Adalah Rosululloh SAW bila bangun dari tidur, maka beliau bersiwak.

() Beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.

Sisi sangat dianjurkannya siwak ketika bangun tidur adalah bahwa tidur meniscayakan diam lama yang merupakan salahs atu sebab berubahnya bau mulut.

3.      hendak mendirikan sholat

() Rosululloh SAW bersabda, " Bila tidak karena aku memberatkan umatku, sungguh aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap-tiap sholat"

() Dari Aisyah dari Nabi SAW bersabda, "Dua rokaat dengan siwak lebih utama dibandingkan tujuh puluh rokaat tanpa siwak"

Siwak ditekan ketika hendak mendirikan sholat walaupun bau mulutnya tidak berubah. Tak ada perbedaan antara sholat fardhu dan sholat sunnah, bahkan bila sholat yang mengucapkan salam tiap dua rokaat, seperti sholat dhuha, sholat tarawih dan tahajjud, maka dianjurkan bersiwak tiap dua rokaat. Tak ada perbedaan antara sholat dengan wudhum tayammum atau ketika tak ada air dan debu. Dianjurkan juga dengan sangat ketika wudhu walaupun tidak sholat, berdasrakan sabda Rosululloh SAW :

() "Bila tidak karena aku memberatkan umatku, sungguh aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap-tiap wudhu"

 

2. Tasmiyah

Imam Asy Syafi’i berkata : Aku lebih suka seseorang membaca bismillah pada permulaan wudhu. Bila ia lupa, ia baca ketika ingat, walaupun menjelang waudhunya selesai. Bila ia meninggalkan bismillah dengan sengaja atau lupa, wudhunya tidak rusak.

Fukaha Syafi'iyyah : Sedikitnya tasmiyah adalah

بسم الله

sedangkan sempurnanya adalah :

بسم الله الرحمن الرحيم

Al Ghozali dalam Bidayah Al Hidayah menambahkan sesudah tasmiyah :

رَبِّ أَعُوذُ بِك مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِك رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Kesunnahannya berdasarkan hadits Rosululloh SAW yang diriwayatkan oleh An Nasai dengan isnad jayyid.

() Sahabat-sahabat Nabi SAW mencari-cari air untuk berwudhu, tetapi mereka tidak menemukannya, maka bersabda Rosululloh SAW, "Apakah ada air di antara kalian?", maka diberikan air, lalu beliau meletakkan tangan beliau ke dalam bejana yang berisi air tersebut, lalu bersabda, "berwudhulah kalian dengan nama Alloh". Aku lihat air memancar dari sela-sela jari beliau hingga dapat berwudhu lebih dari 70 orang.

() Rosululloh SAW bersabda, "Barang siapa berwudhu dan menyebut nama Alloh, maka itu adalah penyuci untuk semua badannya, tetapi bila tidak menyebut nama Alloh, maka hanya menyucikan anggota-anggota wudhunya. ([1])

Namun Ahmad menyatakan wajib berdasarkan hadits :

() Rosululloh SAW bersabda, "Tak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Alloh" ([2])

Syafi'iyyah menolaknya dengan kedhoifan hadits dan membawa pemahaman pada kesempurnaan. Tasmiyah tidak wajib karena ayat wudhu yang menjelaskan kewajiban-kewajiban wudhu dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh At Turmudzi.

 () Rosululloh SAW bersabda kepada arab badui, "Berwudhulah sebagaimana Alloh perintahkan kepadamu"

Di dalamnya tak ada perintah membaca tasmiyah.

            Disunnahkan bagi orang yang meninggalkan tasmiyah di permulaan untuk membacanya di pertengahan, tetapi tidak disunnahkan setelah selesai wudhu. Demikian juga untuk semisal makan, minum, mengarang buku dan bercelak, yang termasuk sesuatu yang disunnahkan mengucapkan bismillah. Ini yang diberlakukan oleh Ibn Hajar dalam At Tuhfah dan Fathul Jawad. Namun yang mutamad menurut Syaikhul Islam adalah sunnahnya membaca setelah selesai makan dan minum berdasarkan perintah dalam hadits At Turmudzi.

() Bersabda Rosululloh SAW, "Bila salah seorang di antara kalian makan, maka sebutlah nama Alloh. Lalu bila lupa menyebut nama Alloh di permulaan, maka ucapkan :

بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Wudhu diqiaskan dengan makan.

Ketentuan melakukan di pertengahan adalah pada selain perbuatan yang dimakruhkan berbicara di dalamnya, seperti jima.

 

3. Mencuci kedua tangan sebelum wudhu

Kesunnahan mencuci kedua tangan sebelum wudhu

Imam Asy Syafi’i berkata : Alloh menyebut wudhu, dimulai dengan membasuh wajah, ini menunjukkan bahwa wudhu diperintahkan bagi orang yang bangun dari tidur, bukan orang yang kencing, buang air besar. Aku suka membasuh kedua tangan sebelum memasukkan keduanya ke dalam bejana untuk melakukan wudhu karena kesunahan bukan karena fardhu.

[] Dari Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka basuhlah kedua tangannya sebelum memasukkan ke dalam bejana wudhu, karena ia tidak tahu di mana tangannya menginap"

[] Dari Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka jangan dia celupkan tangannnya ke dalam bejana hingga dia membasuhnya 3 kali, karena ia tidak tahu di mana tangannya menginap"

 

Keraguan telah menyentuh najis

Imam Asy Syafi’i berkata : Bila ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya dalam keadaan tidak yakin ia telah menyentuh najis, maka wudhunya tidak rusak. Demikian pula bila ia ragu tentang menyentuh najis. Bila tangan telah menyentuh najis, lalu ia memasukkannya ke dalam bejana, maka jika air yang digunakan berwudhu kurang dari 2 qullah, rusaklah airnya, ia harus menumpahkan airnya, mencuci bejana dan berwudhu dengan air lain. Bila air ada 2 qullah atau lebih, air tidak menjadi rusak, ia boleh berwudhu dan tangannya menjadi suci dengan masuk ke dalam bejana itu dengan ketentuan tak ada bekas najis. Bila ada bekas najis, ia harus mengeluarkan tangannya, mencucinya hingga bekasnya hilang, kemudian baru berwudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam hal mencuci kedua tangan sebelum wudhu ada beberapa kondisi, yaitu :

1.      yakin kenajisannya, maka haram mencelupkan kedua tangan ke dalam bejana sebelum mencucinya tiga kali, karena itu akan merusak air

2.      ragu kenajisannya seperti orang yang tidur, tetapi tidak tahu di mana tangannya menginap, maka makruh mencelupkan kedua tangan ke dalam bejana sebelum mencucinya tiga kali, berdasarkan hadits.

() Dari Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka jangan dia celupkan tangannnya ke dalam bejana hingga dia membasuhnya 3 kali, karena ia tidak tahu di mana tangannya menginap"

3.      yakin kesuciannya, maka tidak dimakruhkan mencelupkan kedua tangan ke dalam bejana, tetapi hanya dianjurkan.

Sebagian ulama berpendapat wajibnya mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkan ke dalam bejana ketika bangun dari tidur, berdasarkan larangan yang nampak, tetapi tidak membedakan antara tidur malam dan siang. Imam Ahmad berpendapat wajibnya hal itu karena tidur malam bukan siang berdasarkan sabda Rosululloh SAW, "di mana tangannya menginap" dan menginap ada di malam hari.

Berkata An Nawawi : Faidah-faidah yang terkandung dalam hadits tersebut di atas :

1.       air sedikit bila najis mengenainya, maka akan menajisi air, walaupun tidak berubah.

2.       perbedaan antara air yang mengalir ke najis dan air yang dikenai najis.

3.       mencuci tujuh kali hanya khusus dengan najis anjing, babi dan keturunannya. Demikian Al Khotthobi menyebutkan. Namun pendalilan seperti ini harus ditinjau kembali.

4.       kesunnahan mencuci naji tigakali, baik nyata atau disangkakan.

5.       najis yang disangkakan disunnahkan untuk dicuci dan tidak cukup memerciki. Ini merupakan madzhab Asy Syafi'i dan madzhab mayoritas.

6.       kesunnahan berihtiyath dalam ibadah dan lain-lain sekiranya tidak berujung pada waswas.

7.       kesunnahan menggunakan kata kinayah, berdasarkan sabda Rosululloh SAW, " ia tidak tahu di mana tangannya menginap". Beliau tidak mengatakan, "mungkin tangannya ada di duburnya atau dzakarnya". Untuk hal ini terdapat banyak contoh dalam Al Quran dan Sunnah. Hal ini bila diketahui bahwa pendengar memahami yang dimaksud dengan pemahaman yang jelas. Bila tidak, maka wajib menyatakan engan jelas untuk menghindari ketidakjelasan dan jatuh ke dalam perselisihan dalam hal yang diharapkan.

 

4. Berkumur dan menghirup air ke hidung

Kesunnahan berkumur dan menghirup air ke hidung

Imam Asy Syafi’i berkata : Aku tidak tahu hal yang menyelisihi bahwa wajah yang wajib dibasuh dalam wudhu adalah apa yang tampak, bukan yang tersembunyi. Seseorang tidak wajib membasuh kedua matanya dan tidak pula memerciki air ke dalamnya. Berkumur dan menghirup air ke hidung lebih tampak dibandingkan kedua mata, tetapi aku tidak memandang berkumur dan menghirup air ke hidung itu fardhu. Aku tidak mengetahui perselisihan bahwa orang yang berwudhu bila meninggalkan keduanya, baik sengaja atau lupa dan sholat, maka ia tidak usah mengulangi.

Aku menekankan berkumur dan menghirup air ke hidung bukan membasuh kedua mata hanya karena sunnah. Sesungguhnya mulut berubah baunya. Demikian juga dengan hidung. Air akan memutus perubahan itu. Namun tidak demikian dengan kedua mata. Bila seseorang meninggalkan berkumur dan menghirup air ke hidung dan ia sholat, maka tak ada kewajiban mengulang.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkumur dan menghirup air ke hidung itu sunnah berdasarkan perbuatan Rosululloh SAW.  Ahmad menyatakan kewajiban kedua hal itu. Argumen Asy Syafi'i adalah :

() Rosululloh SAW bersabda, "Sepuluh termasuk sunnah. Di antaranya adalah berkumur dan menghirup air ke hidung".

            Ashab berhujjah dengan firman Alloh 'Basuhlah wajah kalian' dan 'Bila kalian junub, maka bersucilah'. Aspek pendalilannya adalah bahwa Alloh memerintahkan untuk membasuh wajah, yaitu menurut orang Arab adalah segala sesuatu yang tercapai dengan berhadap-hadapan, bukan bagian dalam mulut dan hidung.

() Sabda Rosululloh SAW kepada arab badui, "Berwudhulah seperti yang Alloh perintahkan"

Tidak ada dalam perintah Alloh berkumur dan menghirup air ke hidung, karena semua itu adalah anggota badan bagian dalam, sehingga tidak wajib memcucinya seperti halya mata.

Sunnah tercapai dengan menyampaikan air ke mulut dan hidung baik mengguncang-guncang air di mulut atau tidak. Inilah pendapat yang rajih, tetapi Asy Syafi'I menyatakan untuk mengguncang-guncangnya di mulut. Tidak disyaratkan untuk mendapatkan kesunnahannya mengeluarkan air, sehingga bila meelannya, maka kesunnahannya telah tercapai. Demikian An Nawawi dalam Al Majmu mengatakan. Sekelompok ulama berpendapat tentang syarat mengeluarkan air untuk mendapatkan kesunnahannya.

            Disunnahkan bersungguh-sunnguh dalam berkumur dan menghirup air ke hidung bagi selain orang yang berpuasa. Adapun orang yang berpuasa, maka dikatakan haram berkaitan dengan dirinya oleh Al Qodhi Abuth Thoyyib, namun dikatakan makruh oleh Al Bandaniji dan lain-lain.

() Dari Ashim bin Laqith bin Shoburoh dari bapaknya berkata, "Ya Rosululloh, beritahu aku tentang wudhu!", jawab Rosul SAW, "sempurnakan wudhu, basuhlah sela-sela jari dan bersungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali engkau sedang berpuasa!"

 

Cara berkumur dan menghirup air ke hidung

Imam Asy Syafi'I berkata : Aku lebih suka setelah membasuh kedua tangan seseorang berkumur dan menghirup air ke hidung tiga kali, ia mengambil seciduk air dengan telapak tangannya untuk mulut dan hidungnya, memasukkan air ke hidungnya dan bersungguh-sungguh sekedar air sampai ke batang hidungnya, tidak lebih dari itu dan pelan-pelan dalam menghirup agar tidak masuk ke kepala.

Fukaha Syafi'iyyah :  Disunnahkan bersungguh-sungguh dalam berkumur dan menghirup air ke hidung, kecuali bagi orang yang berpuasa.

() Dari Ashim bin Laqith bin Shoburoh dari bapaknya berkata, "Ya Rosululloh, beritahu aku tentang wudhu!", jawab Rosul SAW, "sempurnakan wudhu, basuhlah sela-sela jari dan bersungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali engkau sedang berpuasa!"

() Dari Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, "Barangsiapa berwudhu, hendaklah ia menghirup air ke hidung, dan barangsiapa yang melakukan istinja, hendaklah melakukannya dengan ganjil."

            Disunnahkan melakukan keduanya bersama-sama dengan satu cidukan air. Asy Syafi'I menyatakan dalam Al Umm dan Mukhtashor Al Muzanni bahwa menggabungkan berkumur dan menghirup air ke hidung lebih utama, namun dalam Al Buwaithi memisahkan keduanya lebih utama. Asy Syaikh Asy Syirazi dan ashab pendapat tentang menggabungkan lebih banyak perkataan Asy Syafi'i dan juga lebih banyak dalam dalam hadist-hadits, bahkan ada dalam hadits-hadits shohih. Di antaranya :

() Dari Ali bin Abi Tholib tentang cara wudlu : Kemudian Rasulullah SAW berkumur dan menghisap air melalui hidung dengan telapak tangan yang digunakan untuk mengambil air.

() Dari Abdullah bin Zaid tentang cara berwudlu : Kemudian beliau memasukkan tangannya, lalu berkumur, dan menghisap air melalui hidung satu tangan. Beliau melakukannya tiga kali.

 

Dalam hal ini ada tiga cara :

1.       berkumur dan menghirup air ke hidung dengan tiga cidukan, yaitu berkumur dulu dari masing-masing cidukan lalu menghirup air ke hidung.

2.       berkumur dan menghirup air dengan satu cidukan, yaitu berkumur tiga kali dari satu cidukan lalu menghirup air ke hidung tiga kali juga.

3.       berkumur dan menghirup air ke hidung dengan satu cidukan, yaitu berkumur dari cidukan itu satu kali lalu menghirup satu kali juga dan demikian seterusnya dari satu cidukan itu.

Cara-cara tersebut merupakan cara-cara yang paling utama, namun sunnah sudah tertunaikan tanpa menggabungkan keduanya.

() Dari Thalhah Ibnu Musharrif  dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Aku melihat Rasululloh SAW memisahkan antara berkumur dan menghirup air ke hidung.

Dalam hal ini juga ada tiga cara:

1.       berkumur dan menghirup air dengan dua cidukan, yaitu berkumur dari cidukan pertama tiga kali lalu menghirup air ke hidung dari cidukan kedua tiga kali.

2.       berkumur dan menghirup air ke hidung dengan enam cidukan, yaitu tiga cidukan pertama berkumur dan tiga cidukan kedua menghirup air.

3.       berkumur dan menghirup air ke hidung dengan enam cidukan, yaitu satu cidukan untuk berkumur, lalu satu cidukan untuk menghirup air dan demikian seterusnya sampai enam cidukan.

 

5. Mencuci mata

Imam Asy Syafi’i berkata : Seseorang tidak wajib membasuh kedua matanya dan tidak pula memerciki air ke dalamnya.

Fukaha Syafi'iyyah : Tidak wajib mencuci bagian dalam mata sesuai kesepakatan. Dalam hal dianjurkan mencucinya ada dua pendapat. Namun yang paling shohih menurut mayoritas adalah tidak dianjurkan. Di antara ulama yang menyatakan demikian adalah Asy Syaikh Asy Syirazi, Al Mawardi, Al Qodhi Abuth Thoyyib, Al Mutawalli, Ar Rofi'i dan lain-lain.

Adapun sisi mata dekat hidung (saluran air mata), maka disunnahkan untuk dibasuh. Bila ada kotoran di sana yang menghalangi sampainya air ke tempat wajib dari wajah, maka wajib mengusapnya dan membasuh bagian bawahnya.

() Dari Abu Umamah bahwa Rosululloh SAW mengusap kedua sisi mata dekat hidung dalam wudhunya.

 

6. Mengusap seluruh kepala

Imam Asy Syafi’i berkata : Yang lebih baik adalah mengambil air dengan kedua tangannya, lalu mengusap kepala ke depan ke belakang, dimulai dari bagian depan kepala, lalu mengusapkan sampai tengkuk, lalu mengembalikan ke tempat semula. Aku suka bila ia mengusap kepalanya tiga kali, namun satu kali sudah mencukupi.

            [] Dari Amr bin Yahya Al Mazini dari bapaknya katanya, "Aku berkata kepada Abdullah bin Zaid Al Anshori, 'bisakah engkau perlihatkan kepadaku bagaimana Rosululloh SAW berwudhu?', jawab Abdullah, 'Ya'. Lalu ia berwudhu, mengalirkan air ke kedua tangannya, mamnasuh keduanya dua kali dua kali, berkumur dan menghirup air ke hidung tiga kali tiga kali, lalu membasuh wajahnya tiga kali, lalu membasuh kedua tangannya dua kali dua kali sampai kedua siku, lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan ke belakang, mengusap sampai tengkuknya lalu mengembalikan ke tempat semula, kemudia membasuh kedua kaki'.

 

7. Mengusap telinga

            Imam Asy Syafi’i berkata : Dan aku suka dia mengusap bagian yang tampak dan yang tersembunyi dari kedua telinganya dengan air baru, bukan air yang digunakan untuk (mengusap) kepala. Ia ambil air dengan dua jarinya untuk kedua telinga, lalu ia masukkan kedua jari itu ke bagian yang tampak dari celah yang menjulur ke lobang telinga. Bila ia tinggalkan mengusap kedua telinga, tidak usah mengulangi, karena keduanya bila memang termasuk wajah, maka akan terbasuh bersama wajah, atau bila termasuk kepala, maka akan terusap bersama kepala, atau bila sendiri, maka mencukupi.

           

Telinga merupakan anggota tersendiri

Fukaha Syafi'iyyah : Dalam hal dua telinga, madzhab Asy Syafi'i menyatakan bahwa kedua telinga bukan termasuk wajah dan bukan juga termasuk kepala, tetapi dua anggota tersendiri yang disunnahkan untuk mengusap secara sendiri, tetapi tidak wajib. Demikian yang dikatakan oleh sekelompok salaf.

Az Zuhri mengatakan bahwa kedua telinga termasuk wajah, sehingga dibasuh bersama wajah, karena Nabi SAW dalam sujud membaca :

سجد وجهي للذى خلقه وشق سمعه وبصره

"Wajahku sujud kepada Dzat yang menciptakannya, membuka pendengarannya dan penglihatannya"

Beliau menghubungkan pendengaran pada wajah, sebagaimana beliau menghubungkan penglihatan pada wajah.

Kebanyakan ulama menyatakan bahwa keduanya termasuk kepala, berdasarkan :

() hadits Syahr bin Hausyab dari Abu Umamah bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Dua telinga termasuk kepala".

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Turmudzi, Ibn Majjah, Al Baihaqi dan lain-lain. Diriwayatkan juga dari Ibn Abbas, Ib Umar, Anas, Abdullah bin Zaid, Abu Hurairoh dan Aisyah.

() Dari Ibn Abbas bahwa Rosululloh SAW berwudhu, maka beliau mengambil satu cidukan air untuk berkumur dan menghirup air ke hidung, lalu menciduk satu cidukan air untuk membasuh wajahnya, lalu menciduk satu cidukan air untuk membasuh tangan kanannya, lalu mengambil satu cidukan air untuk membasuh tangan kirinya, lalu mengambil sedikit air untuk mengusap kepalanya dengan dua jari tengah di kedua telinga yang tersembunyi dan dua ibu jari di belakang kedua telinga, lalu mengambil satu cidukan air untuk mmebasuh kaki kanan, lalu mengambils satu cidukan air untuk membasuh kaki kiri.

Berkata Asy Sya'bi dan Al Hasan bin Sholih : Bagian dua telinga yang menghadap wajah termasuk wajah, dan bagian yang membelakangi wajah termasuk kepala. Hujjahnya adalah :

() Dari Ali bahwa ia mengusap kepalanya dan bagian belakang kedua telinga.

Wajah terjadi dengan berhadap-hadapan. Hal itu tercapai dengan bagian telinga yang menghadap wajah.

            Ashab berhujjah dengan beberapa hal. Yang terbaik adalah :

() Dari Abdullah bin Zaid berkata : Aku lihat Rosululloh SAW berwudhu, lalu beliau mengambil air untuk kedua telinganya bukan dengan air untuk mengusap kepala.

Ini jelas bahwa kedua telinga bukan termasuk kepala, karena bila keduanya termasuk kepala, maka beliau tidak akan mengambil air baru untuk keduanya, seperti bagian kepala yang lain. Ini juga menolak orang yang mengatakan bahwa keduanya termasuk wajah. Hadits shohih ini menggabungkan dalil bagi madzhab dan menolak orang yang menyelisihinya. Ashab berhujjah kepada orang yang mengatakan bahwa kedua telinga termasuk wajah bahwa Nabi SAW mengusap keduanya dan tidak dinukil membasuh keduanya, padahal terdapat banyak perowi tentang sifat wudhu NAbi SAW dengan perbedaan-perbedaannya. Berkata Al Qodhi Abuth Thoyyib : Al Ashmu'i dan Al Mufadhdhol bin Salamah mengatakan bahwa kedua telinga bukan termasuk kepala. Mereka berdua merupakan dua di antara imam bahasa terbesar. Referensi dalam bahasa adalah kepada ahlinya.

            Jawaban untuk Az Zuhri adalah :

Pertama, maksud wajah adalah secara global dan zatnya, seperti firman Alloh :

كل شئ هالك الا وجهه

"Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya"

Kedua, sesuatu itu dihubungakan pada apa yang dekat dengannya, walaupun bukan darinya.

Jawaban untuk orang yang mengatakan bahwa keduanya termasuk kepala adalah bahwa semua hadits tersebut dhoif, disepakati kedhoifannya, kecuali hadits Ibn Abbas, karena isnadnya jayyid. Di dalamnya tidak terdapat dalil yang menjukkan apa yang mereka dakwakan, karena beliau mengusap kedua telinga dengan air yang digunakan untuk kepala. Berkata Al Baihaqi : Seolah-olah beliau memisahkan dua jari dari masing-masing tangan, lalu bile telah selesai mengusap kepala, maka beliau mengusap kedua telinga dengan dua jari itu.

Hujjah Asy Sya'bi dengan perbuatan Ali dapat dijawab dari beberapa segi.

Pertama,  bahwa itu riwayat dhoif yang tidak dikenal.

Kedua, tak ada dalil di dalamnya tentang perbedaan antara telinga bagian belakang dan bagian depan.

Ketiga, itu dibawa pemahamannya pada mengusap secara menyeluruh, sehingga terbasuh bagian telinga belakang, karena umumnya menyeluruh tidak akan tercapai kecuali dengan cara itu.

Keempat, bila memang itu shohih dari Ali dan tidak sanggup mentakwilnya, maka perbuatan Nabi SAW dan yang masyhur dari Ali lebih utama.

 

Kesunnahan mengusap kedua telinga

Disunnahkan mengusap kedua telinga setelah mengusap kepala, baik bagian yang nampak maupun yang tersembunyi. Bagian yang nampak adalah bagian telinga di dekat kepala, sedangkan bagian yang tersembunyi adalah di dekat wajah, karena telinga berlapis-lapis seperti telur.

            Kesunnahannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad hasan :

() Dari Abdullah bin Zaid berkata : Aku lihat Rosululloh SAW berwudhu, lalu beliau mengambil air untuk kedua telinganya bukan dengan air untuk mengusap kepala.

 () Rosululloh SAW dalam wudhunya mengusap kepala dan kedua telinga, baik yang nampak maupun yang tersembuyi dan memasukkan kedua jari ke dalam lubang telinga.

            Mengusap kedua telinga dilakukan setelah mengusap kepala. Bila mendahulukan mengusap kedua telinga, maka lahiriah perkataan ashab tidak tercapai kesunnahan mengusap kedua telinga, karena dilakukan sebelum waktunya.

 

Dengan air baru

            Mengusap kedua telinga dilakukan dengan air baru, bukan air yang digunakan untuk mengusap kepala. Kedua telinga merupakan anggota yang berbeda dari kepala dalam nama dan penciptaan, sehingga tidak mengikuti kepala dalam bersuci, seperti anggota-anggota lain. Berkata Asy Syafi'I dalam Al Umm dan Al Buwaithi :

Ia ambil untuk kedua lobang telinga air baru, bukan air yang digunakan untuk mengusap kepala.

Berkata ashab : Tidak disyaratkan mengambil lagi air untuk kedua telinga, bahkan bila seseorang mengambil air untuk mengusap kepala dengan jari-jarinya, lalu ia usap sebagian kepala dengan sebagian air dan menahan sebagiannya lagi, lalu mengusap kedua telinga dengan air yang ia tahan, maka itu sah, karena ia mengusap keduanya bukan dengan air kepala.

 

Cara mengusap kedua telinga

            Cara mengusap kedua telinga, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Haramain, Al Ghozali dan lain-lain adalah mengambil air dengan kedua tangannya dan memasukkan kedua telunjuk ke dua lobang telinga, memutar keduanya dan menjalankan kedua ibu jari di bagian telinga yang nampak. Asy Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini dan lain-lain menambahkan : dan menempelkan kedua telapak tangannya yang basah di kedua telinganya supaya tampak menyeluruh dalam mengusap. Berkata Al Bantani : Perkataan 'menempelkan kedua telapak tangannya yang basah di kedua telinganya supaya menyeluruh dalam mengusap' bukanlah termasuk menyempurnakan usapan, namun sunah tersendiri, yang disebut istidzhar. Disunnahkan membasuh kedua telinga tiga kali bersama wajah, karena dikatakan bahwa itu termasuk wajah, mengusap keduanya tiga kali bersama dengan mengusap kepala, karena dikatakan itu termasuk kepala, mengusap tiga kali tersendiri karena keduanya merupakan anggota tersendiri berdasarkan pendapat yang raji, dan tiga kali sebagai istidzhar, sehingga jumlahnya dua belas kali. Penulis Al Hawi menceritakan dari Ibn Suraij bahwa ia membasuh kedua telinga tiga kali bersama wajah sebagiamana dikatakan oleh Az Zuhri, mengusap keduanya tiga kali bersama kepala sebagaimana dikatakan oleh ulama lain dan mengusap keduanya sendirian sebagaimana dikatakan Asy Syafi'i. Namun Ibn Suraij tidak melakukan itu karena wajib, tetapi karena ihtiyath untuk keluar dari perselisihan.

 

8. Tiga kali

Kesunnahan melakukan tiga kali

[] Dari Ibn Abbas berkata, "Rosululloh SAW berwudhu. Beliau masukkan tangannya ke dalam bejana, menghirup air ke hidung dan berkumur satu kali, lalu memasukkan tangannya, kemudian menuangkan ke wajah satu kali, menuangkan ke kedua tangan satu kali, mengusap kepalanya dan kedua telinga satu kali.

[]  Dari Utsman bin Affan bahwasanya ia berwudhu tiga kali tiga kali, lalu katanya, "Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, 'Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, maka keluarlah dosa-dosanya dari wajah, kedua tangan dan kedua kaki.

Imam Asy Syafi’i berkata :  Tak ada perselisihan dalam hal ini. Tetapi Rosululloh SAW berwudhu kadang tiga kali dan kadang satu kali.Yang sempurna dan baik adalah tiga kali, walaupun satu kali mencukupi. Aku lebih suka seseorang membasuh wajah, kedua tangan dan kedua kaki tiga kali tiga kali, mengusap kepala juga tiga kali dan menyeluruh dalam mengusap kepala. Bila dia hanya membasuh wajah, kedua tangan dan kedua kaki satu kali, itu sudah mencukupi. Bila dia hanya sekali mengusap kepala, itu juga mencukupi. Bila dia membasuh satu anggota wudhu satu kali dan yang lain dua kali dan yang lain lagi tiga kali, maka itu mencukupi.

[] Dari Abdullah bin Zaid bahwasanya Rosululloh SAW berwudhu, membasuh wajahnya tiga kali, kedua tangan tiga kali, mengusap kepala dengan kedua tangannya ke depan ke belakang, dimulai dari bagian depan kapalanya lalu mengusapkan sampai ke tengkuk kemudian kembali ke tempat semula, dan membasuh kakinya.

Fukaha Syafi'iyyah : Kesunnahan melakukan tiga kali disebutkan dalam hadits Utsman bahwa Rosululloh SAW berwudhu tiga kali tiga kali. Tak ada perbedaan dalam hal ini antara kepala dan lain-lainnya. Sebagian ashab menganjurkan mengusap kepala sekali dan berargumen bahwa hadits Utsman yang shohih menunjukkan mengusap kepala satu kali dan dalam Muslim saat menyifati wudhu Rosululoloh SAW oleh Abdullah bin Zaid bahwa beliau mengusap kepala satu kali.

() Humran, bekas hamba sahaya Utsman, mengatakan bahwa ia melihat Utsman bin Affan minta dibawakan bejana (air). (Dan dalam satu riwayat darinya, ia berkata : Aku membawakan Utsman air untuk bersuci, sedang dia duduk di atas tempat duduk, lalu dia berwudhu dengan baik). Lalu ia menuangkan air pada kedua belah tangannya tiga kali, lalu ia membasuh keduanya. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya di bejana, lalu ia berkumur, menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, dan membasuh kedua tangannya sampai ke siku tiga kali, lalu mengusap kepalanya, lalu membasuh kedua kakinya sampai ke dua mata kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, "Aku melihat Nabi saw. berwudhu di tempat ini dengan baik, kemudian beliau bersabda, 'Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian datang ke masjid, lalu sholat dua rokaat, yang antara kedua shalat itu ia tidak berbicara kepada dirinya tentang sesuatu, kemudian duduk, maka diampunilah dosanya yang telah lampau".

Berkata Abu Dawud di dalam Sunannya dan imam-imam lain bahwa yang benar dalam hadits-hadits Utsman dan lain-lain adalah mengusap kepala satu kali. Al Baihaqi mengakui hal ini dan tidak mewajibkannya, padahal ia terkenal membela madzhab Asy Syafi'i.

At Turmudzi menceritakan dari teks Asy Syafi'i dan yang masyhur dalam madzhab Asy Syafi'i, dan itulah yang ditetapkan oleh mayoritas bahwa dianjurkan mengusap kepala tiga kali. Hujjahnya adalah hadits Utsman.

() Dalam riwayat Abu Dawud dari Utsman bahwa Rosululloh SAW mengusap kepala tiga kali.

Memang dalam sanadnya ada Amir bin Syaqiq. Al Hakim berkata : Aku tidak tahu ada celaan pada diri Amir. Berkata Asy Syaikh Abu Amr bin Sholah bahwa itu hadits hasan dan kadang naik dari hasan menjadi shohih karena adanya banyaknya syahid dan jalurnya, karena Al Baihaqi dan lainnya meriwayatkan dari jeluar-jalur yang banyak selain jalur Abu Dawud.

() Dalam riwayat Muslim bahwa Nabi SAW berwudhu tiga kali tiga kali.

Aspek pendalilannya adalah bahwa kata berwudhu mencakup membasuh dan mengusap. Namun Al Baihaqi dan lain-lain menolak pendalilan dengan hadits ini, karena ini merupakan riwayat yang bersifat mutlak dan telah datang riwayat-riwayat tsabit yang secara jelas menyatakan bahwa membasuh anggota-anggota wudhu tiga kali tiga kali, tetapi mengusap kepala hanya sekali, sehingga mereka menyatakan bahwa tiga kali selain kepala.

() Dari Ali bahwa ia berwudhu tiga kali tiga kali dan mengusap kepala tiga kali, lalu berkata, "Inilah wudhu Rosululloh SAW".

Al Baihaqi meriwayatkan dari berbagai jalur dan berkata : Kebanyakan perowi yang meriwayatkan dari Ali tidak menyebut ulangan. Sebaik-baik hadits yang diriwayatkan dari Ali adalah yang diriwayatkan oleh anaknya Al Hasan bin Ali yang menyebutkan mengusap kepala tiga kali.

() Dari Abu Rofi dan Ibn Abi Aufa dari Nabi SAW bahwa beliau mengusap kepala tiga kali.

Ashab menjawab orang yang mengatakan sunnah sekali dengan banyak jawaban. Namun yang terbaik adalah bahwa telah dinukil dari perowi-perowinya mengusap tiga dan satu kali, maka wajib menggabung antara keduanya, sehingga dikatakan bahwa satu kali untuk menjelskan kebolehan, dua kali untuk menjelaskan kebolehan dan tambahan keutamaan untuk satu kali dan tiga kali untuk kesempurnaan dan keutamaan.

            Adapun perkataan Abu Dawud dan lain-lain, maka dijawab dari dua segi. Pertama, bahwa ia mengatakan hadits-hadits shohih, sedangkan ini merupakan hadits hasan yang tidak masuk dalam perkataannya. Kedua, keumuman pemutlakannya dikhususkan dengan hadits-hadits hasan dan lainnya. Ketiga, Abu Dawud sendiri meriwayatkan hadits Utsman yang menyatakan mengusap kepala tiga kali dan dinyatakan oleh shohih oleh Ibn Khuzaimah dan hasan shohih oleh Al Albani.

Dalam Al I'anah : Tidak mencukupi melakukan tiga kali sebelum menyempurnakan kewajiban membasuh dan juga tidak sesudah seslesai wudhu, karena syarat mendapatkan kesunnahan tiga kali adalah melakukan hal yang wajib dahulu. Bila seseorang berwudhu sekali sekali sampai selsai membasuh anggota-anggota wudhu lalu mengulangi sepeti itu untuk kedua dan ketiga kalinya, maka tidak tercapai kesunnahan melakukan tiga kali tiga kali. Bila ditanyakan : telah ditetapkan bahwa bila hal itu dilakukan dalam berkumur dan menghirup air ke hidung, maka telah tercapai kesunnahan melakukan tiga kali, maka dijawab bahwa mulut dan hidung seperti satu anggota, sehingga hal itu boleh. Sebagian ulama mengatakan : Konsekuensi hal tersebut adalah bahwa bila membasuh tengan atau kaki kanan sekali lalu membasu kiri dan seterusnya untuk basuhan kedua dan ketiga, maka keutamaan melakukan tiga kali telah tercapai, karena dua tangan dan dua kaki seperti satu anggota.

 

Lebih dari tiga kali

Imam Asy Syafi’i berkata : Aku tidak suka seorang yang berwudhu melebihi tiga kali, walapun bila melebihkannya, aku tidak membencinya. Bila seseorang berwudhu, mambasuh wajah dan kedua tangannya, lalu ia berhadats, ia harus memulai wudhunya lagi

Fukaha Syafi'iyyah : Makruh kurang dari tiga kali seperti juga lebih, karena Nabi SAW berwudhu tiga kali tiga kali dan bersabda :

() Dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya berkata : Seorang arab badui datang kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW memperlihatkannya wudhu dengan tiga kali tiga kali, kemudian Nabi SAW bersabda, "Demikianlah wudhu, maka barang siapa yang menambah lebih dari ini (lebih dari tiga kali) maka dia telah berbuat buruk dan melampaui batas dan berbuat zalim.

Dalam Al Manzhumah dinyatakan :

Tidak Allloh jadikan dalam agama ini kesempitan

Jika aku perintahkan lakukan sesuai kemampuan

Aku diutus dengan kehanifan dan toleran

Sebagai kasih syang dan kebaikan untuk semua ciptaan

Berlebih-lebihan merupakan bujukan yang datang

Dari makar Iblis jauhi keburukan fitnahnya

Jikalau engkau dengarkan bujukan yang ia bisikan

Atau nasihat yang ia berikan maka engkau kembali merugi

Sederhana itu baik dan sebaik-baik hal adalah pertengahan

Tinggalkan berlebihan dan hindari penyakit yang ia timpakan

 

Adapun beliau berwudhu satu kali dan dua kali, maka itu hanya untuk menjelaskan kebolehan. Dalam Bidayah Al Hidayah dinyatakan : Tidak boleh lebih dari tiga kali dalam membasuh. Tidak boleh banyak menuangkan air tanpa ada kebutuhan hanya karena semata-mata waswas, karena syaitan akan mempermainkan orang yang waswas. Berkata Al Bukhori : Nabi SAW telah menjelaskan bahwa wajibnya wudhu adalah sekali sekali, dan Nabi SAW juga pernah berwudhu dua kali dua kali dan tiga kali tiga kali dan Nabi SAW tidak menambah lebih dari tiga kali.

Dalam Hasyiah Ar Rosyidi untuk Fathul Jawad dinyatakan ; Ketahuilah bahwa pintu terbesar iblis masuk pada manusia adalah kebodohan, sehingga ia bisa masuk pada orang bodoh dengan aman sedangkan pada orang alim dengan mencuri-curi. Sungguh ia telah menipu kebanyakan orang-orang yang beribadah karena sedikitnya ilmu mereka, mereka sibuk beribadah sebelum mendapatkan ilmu. Berkata Robi' bin Khutsaim : Carilah ilmu dan beribadahlah. Awal ia menipu mereka adalah mereka memilih ibadah daripada ilmu, padahal ilmu lebih utama daripada sunnah-sunnah. Aku perhatikan bahwa maksud ilmu adalah amal, namun mereka tidak memahami amal kecuali amal anggota badan. Mereka tidak tahu bahwa yang diharapkan dari amal adalah amal hati dan amal hati lebih utama dibadingkan amal anggota badan. Ketika mereka mantap meninggalkan ilmu, mereka malah masuk ke dalam seni-seni ibadah. Di antaranya membersihkan diri dan hadats, sehingga ia perintahkan mereka untuk berlama-lama diam di kamar kecil, padahal itu akan menyebabkan penyakit limpa, karena itu seyogyanya sekedar kebutuhan. Di antaranya lagi membagus-baguskan dalam menggunakan air banyak, padahal hanya diwajibkan menghilangkan rupa najis. Di antaranya lagi tertiup dalam niat wudhu, sehingga engkau lihat seseorang berniat : aku niat mengangkat hadats dan mengulang-ulang berkali-kali. Sebabnya adalah mungkin karena bodoh terhadap ilmu syariat atau rusak akalnya. Karena niat itu ada di hati bukan dilafazkan, sehingga dia terbebani dengan pelafazan, hal yang tidak diperlukan. Di antaranya lagi tertipu dalam memperbanyak menggunakan air dalam berwudhu, padahal itu menggabungkan empat hal yang dibenci, yaitu

1.       berlebihan-lebihan dalam air bila air itu dimiliki dan mubah. Bila air itu wakaf, maka haram.

2.       menyiakan-nyiakan umur yang tak ada manfaatnya pada sesuatu yang bukan wajib dan bukan pula sunnah.

3.       tak ada ketetapan hati terhadap syariat ketika ia tidak merasa cukup dengan apa yang telah diajarjan syariat.

4.       masuk pada sesuatu yang dilarang oleh syariat, yaitu lebih dari tiga kali.

Sering orang berlama-lama dalam berwudhu sehingga terlewat waktu sholat, awal waktu atau jamaah, dan syaitanpun berkata kepadanya : Engaku sedang beribadah yang tidak sah sholat tanpa dengan itu. Bila ia pikirkan urusannya, ia akan tahu bahwa ia berlebihan dan berlawanan dengan syariat.

Diceritakan dari Ibn Aqil bahwa ia bertemu seseorang, katanya, "Aku sungguh-sungguh telah membasuh suatu anggota, namun aku katakan bahwa aku belum membasuhnya, aku telah bertakbir, namun aku katakan aku belum bertakbir", maka jawab Ibn Aqil, "Tinggalkan sholat, karena sholat tidak wajib atasmu". Orang-orang pun bertanya kepada Ibn Aqil, "Bagaimana mungkin demikian?", jawabnya, "Karena Rsoululloh SAW bersabda, "Qolam terangkat dari orang gila hingga sembuh". Siapa yang bertakbir tetapi dia katakan belum bertakbir, maka ia gila, dan orang gila tidak wajib sholat.

 

9. Menyela-nyela jari tangan dan kaki

Imam Asy Syafi’i berkata : Tidak mencukupi bila ia tidak membasuh sela-sela jari kecuali dia tahu bahwa air telah sampai ke semua bagian antara jari-jari.

[] Dari Ashim bin Laqith bin Shoburoh dari bapaknya berkata, "Ya Rosululloh, beritahu aku tentang wudhu!", jawab Rosul SAW, "sempurnakan wudhu, basuhlah sela-sela jari dan bersungguhlah dalam menghirup air ke hidung kecuali engkau sedang berpuasa!"

Fukaha Syafi'iyyah : Sunnah menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki, berdasarkan :

() Dari Ibn Abbas bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila engkau hendak mendirikan sholat, maka sempurnakan wudhu dan jadikan air di antara jari-jari tanganmu dan kakimu"

Kriteria kesunnahannya telah dikemukakan di muka.

 

Cara menyela-nyela jari

            Cara menyela-nyela tangan adalah dengan tasybik (menyilang-nyilang jari), yaitu yang utama adalah untuk tangan kanan dengan menjadikan telapak tangan kiri di atas punggung telapak tangan kanan dan untuk tangan kiri kebalikannya, karena menghindari cara menyilang-nyilang jari menurut kebiasaan. Ini memberikan faidah menyela-nyela dilakukan untuk tiap tangan saja, namun syarh Al Ubab menyatakan menyela-nyela kedua tangan, bukan mendahulukan tangan kanan, karena hal itu dilakukan dengan tasybik.

Sedangkan cara menyela-nyela jari-jari kaki adalah dengan jari kelingking tangan kiri dari arah bawah kaki dimulai dari kelingking kaki kanan dan diakhiri dengan kelingking kanan.

() Dari Al Mustaurid bin Syaddad berkata, "Aku lihat Rosululloh SAW bile berwudhu, maka beliau menggosok sela-sela jari kaki dengan kelingkingnya"

Cara ini dikemukakan oleh Al Qodhi Husain, Al Ghozali, Al Baghowi, Al Mutawalli dan lain-lain. Sedangkan Al Qodhi Abuth Thoyyib mengatakan disunnahkan dengan kelingking tangan kanan dari arah bawah kaki. Kedua cara tersebut sama, namun yang mutamad adalah cara pertama. Cara ini yang dirajihkan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh.

 

10. Berkesinambungan (muwalat)

Imam Asy Syafi’i berkata : Bila seseorang berwudhu pada sebagian anggota wudhu, namun belum menyelesaikan wudhu sampai bagian yang telah dibasuh menjadi kering, maka Abu Hanifah berpendapat bahwa ia menyelesaikan bagian yang tersisa dan tidak usah mengulangi yang telah lewat, sedangkan Ibn Abi Laili berpendapat bila dia dalam kondisi mencari air atau kondisi wudhu, maka ia cukup menyelesaikan yang tersisa, namun bila ia melakukan pekrjaan lain, maka ia harus mengulangi bagian yang kering.

Aku melihat muslimin menunaikan wudhu berturut-turut bersambung sebagaimana contoh Rosululloh SAW. Karena itu siapa saja yang menunaikan seperti itu, tidak memotongnya karena adanya uzur berupa terputusnya air dan mencarinya, maka ia teruskan wudhunya. Namun bila ia memotongnya tanpa ada uzur sampai waktu yang lama, berarti ia melakukan perbuatan lain, maka aku lebih suka ia memulai dari awal. Bila ia menyelesaikan yang tersisa, itu sudah mencukupi.

Fukaha Syafi'iyyah :  Berkesinambungan adalah melaksanakan wudhu pada tiap anggota wudhu sebelum anggota sebelumnya kering. Menurut qoul qodim berksinambungan itu wajib berdasarkan hadits Abu Dawud bahwa ia melihat seorang laki-laki sholat dan di punggung kakinya ada sebesar dirham bagian yang tidak terkena air, maka Rosululloh SAW memerintahkannya untuk mengulangi wudhunya. Hadits ini dhoif mursal. Sedangkan qoul jadid berdasarkan hadits bahwa Rosululloh SAW berwudhu di pasar, membasuh wajah dan kedua tangan, kepala lalu diseur untuk sholat jenazah, maka beliau mendatangi masjid, lalu mengusap dua khuf dan sholat. Asy Syafi'I berkata : Antara kedua hal tersebut ada jeda yang lama.

Jeda yang pendek antara anggota-anggota wudhu tidak apa-apa berdasarkan ijma kaum muslimin. Adapun jeda yang lama, maka dalam hal ini ada dua pendapat masyhur. Pendapat yang shohih sesuai kesepakatan ashab adalah tidak apa-apa. Kriteria jeda yang lama dan sedikit yang shohih adalah bila antara dua anggota berlalu waktu yang membuat anggota yang dibasuh kering dengan waktu dan keadaan personal yang sedang, maka itu merupakan jeda lama. Tidak diperhitungkan terlambatnya mengering karena sangat dingin dan juga tidak cepatnya mengering karena sangat panas. Jeda dihitung dari sejak perbuatan terakhir.

 

11. Mengusap leher

            Fukaha Syafi'iyyah : Berkata Al Qodhi Abuth Thoyyib bahwa mengusap leher tidak disebutkan oleh Asy Syafi'i, juga tidak dikatakan oleh seorangpun ashab dan juga tak ada Sunnah yang tsabit berkenaan dengan itu. An Nawawi menyatakan tidak sunnah mengusap leher karena tidak ada hadits apapun yang tsabit dan karena itulah Asy Syafi'I dan para ashab terdahulu tidak menyebutkannya. Berkata An Nawawi : Adapun hadits yang diriwayatkan dari Tholhah bin Mushorrif dari bapaknya dari kakeknya bahwa ia melihat Rosululloh SAW mengusap kepalanya hingga bagian belakang kepala dan bagian depan leher yang di dekatnya, maka itu hadits dhoif berdasarkan kesepakatan. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi dari riwayat Laits bin Abi Muslim, dan ia dhoif. Namun Al Adzru'i menyanggah perkataan An Nawawi : Bila kedhoifannya tidak ada kecuali karena dari riwayat Laits, maka itu hanya dhoif yang mungkin, karena Muslim meriwayatkan darinya dengan dibarengi dengan lainnya dan haditsnya ada kitab Sunan yang empat, yaitu At Turmudzi, An Nasai, Abu Dawud dan Ibn Majjah. Al Bukhri juga meriwayatkan darinya dalam At Tarikh dan ada sedikit kedhoifan dari segi hafalannya. Adz Dzahabi mengatakannya di dalam Al Kasyif : Ia berpuasa, sholat dan mempunyai ilmu yang banyak. Berkata Abu Dawud : Ia tidak apa-apa. Berkata Ibn Addi : Ia mempunyai hadits-hadits yang baik., meriwayatkan darinya Syu'bah, Ats Tsauri dan lain-lain, termasuk tsiqoh, walaupun doif ia menulis hadits-haditsnya. Berkata Ad Darquthni : Al Bukhori menjadikannya syahid dalam Shohihnya. Bila hadits ini tidak mempunyai illat kecuali karena riwayat Laits, maka itu hasan dan menguatkan pendapat kesunnahan mengusap leher. Demikian Al Adzru'i.

Ar Rofi'I juga menshohihkan dalam Asy Syarh Al Kabir bahwa hal itu sunnah dan berargumen dengan hadis :

() "Mengusap leher adalah pengaman dari belenggu" ([3])

 

12. Menyela-nyela jenggot

Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan menyela-nyela jenggotnya, berdasarkan :

() Dari Utsman berkata : Sesungguhnya Nabi SAW menyela-nyela jenggotnya ketika berwudhu.

Kriteria kesunnahan menyela-nyela jenggot telah dibahas di muka. Berkata As Sarakhsi : Menyela-nyela dengan jari-jarinya dari arah bawah. Bila ia ambil air lain untuk menyela-nyela, maka itu lebih baik.

() Dari Anas bahwa Nabi SAW bila berwudhu, beliau ambil seciduk air dengan telapak tangan, lalu beliau masukkan ke bawah mulut, lalu menyela-nyela jenggotnya.

 

 

13. Tidak meminta tolong orang lain

            Dalam Al Muhazzab : Disunnahkan tidak meminta tolong orang lain dalam berwudhu, berdasarkan :

() Nabi SAW bersabda, "Kami tidak meminta tolong untuk berwudhu kepada seseorang" ([4])

Bila meminta tolong orang lain, maka boleh, berdasarkan :

() Usamah, Al Mughiroh dan Ar Rubi' binti Muawwidz bin Afra menuangkan air untuk Nabi SAW, maka beliau berwudhu.

Bila ia perintahkan orang lain untuk mewudhukannya dan ia berniat, maka mencukupi, karena perbuatannya dalam bersuci tidak wajib. Tidakkah engkau perhatikan bila ia berdiri di bawah kran lalu air mengalir kepadanya dan ia berniat bersuci, mak mencukupi.

Berkata An Nawawi : Bila meminta tolong orang lain untuk mengambilkan air wudhu, maka tidak apa-apa dan tidak dikatakan bahwa hal itu menyalahi keutamaan, karena hal itu tsabit dari Nabi SAW. Bila meminta tolong untuk menuangkan air, maka tidak apa-apa dengan ketentuan ada halangan. Bila tidak ada halangan, maka menurut pendapat paling shohih tidak makruh, tetapi menyalahi keutamaan

 

14. Berdoa setelah berwudhu

            Dalam Al Muhazzab : Disunnahkan setelah selesai berwudhu membaca :

أشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله

 

() berdasarkan hadits Umar bahwa Nabi SAW bersabda, "Barang siapa berwudhu dengan membaguskan wudhunya, lalu ia ucapkan :

أشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله

 

jujur dari hatinya, maka Alloh bukakan delapan pintu jannah yang ia masuki dari pintu mana saja".

Disunnahkan juga mengucapkan :

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد أن لا إله الا أنت أستغفرك وأتوب اليك

() berdasarkan hadits Abu Said Al Khudri bahwa Nabi Saw bersabda, "Barang siapa berwudhu dan mengucapkan :

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد أن لا إله الا أنت أستغفرك وأتوب اليك

Maka akan ditulis dalam sebuah kertas lalu disegel, sehingga tidak akan dibuka sampai hari kiamat".

Dalam Fathul Muin : Adapun doa-doa yang dibaca pada tiap membasuh atau mengusap anggota wudhu, yaitu :

ketika mencuci kedua telapak tangan

اللهم احفظ يدي عن معاصيك

ketika berkumur

اللهم أعني على ذكرك وشكرك

ketika menghirup air ke hidung

اللهم لا تحرمنى رائحة نعيمك وجناتك

ketika membasuh wajah

اللهم بيض وجهي يوم تبيض وجوه وتسود وجوه

ketika membasuh tangan kanan

اللهم أعطني كتابي بيميني وحاسبني حسابا يسيرا

ketika membasuh tangan kiri

اللهم لا تعطني كتابي بشمالي ولا من وراء ظهري

ketika mengusap kepala

اللهم حرم شعري وبشري على النار

ketika mengusap kedua telinga

اللهم اجعلني من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه

ketika membasuh kedua kaki

اللهم ثبت قدمي على الصراط يوم تزل الاقدم

tidak ada asalnya. Bila pun ada, hanya riwayat dari jalur-jalur dhoif dalam Tarikh Ibn Hibban dan lain-lain. Berkata An Nawawi : Doa-doa tersebut tidak ada asalnya, disebutkan oleh banyak ashab, tetapi tidak disebutkan oleh mutaqoddimin.

 

15. Tidak mengibaskan kedua tangan

            Imam Asy Syafi'I berkata : Disunnahkan baginya bila ia berwudhu untuk tidak mengibaskan kedua tangannya.

Fukaha Syafi'iyyah : Berkata An Nawawi : Ashab berselisih tentang mengibaskan tangan.

Pertama, disunnahkan tidak mengibaskan, tetapi tidak dikatakan bahwa mengibaskan itu makruh. Demikian pendapat Abu Ali Ath Thobari, Asy Syaikh Asy Syirazi, Al Ghozali dan lain-lain.

Kedua, makruh. Ini pendapat yang ditetapkan oleh Ar Rofi'i, Al Mawardi, Al Qodhi Abuth Thoyyib dan lain-lain.

Ketiga, boleh, sama saja apakah melakukan atau meninggalkan. Inilah pendapat yang shohih.

 

 

16. Tidak mengeringkan anggota-anggota wudhu

            Dalam Al Muhazzab : Disunnahkan tidak mengeringkan anggota-anggota wudhunya dari basahan wudhu, berdasarkan :

() Dari Maimunah berkata, "Aku memberikan sapu tangan kapada Rosululloh SAW, tetapi beliau menolaknya"

Karena basahan wudhu merupakan bekas Ibadan, sehingga tidak mengeringkannnya lebih utama. Bila seseorang mengeringkannnya, maka boleh, berdasarkan :

() Dari Qois bin Saad berkata, "Rosululloh SAW mendatangi kami, lalu kami letakkan air untuk mandi, maka beliau mandi, lalu kami berikan kepada beliau selimut yang dicelup, lalu beliau berselimut dengannya".

 

 

 

 



[1]           Berkata An Nawawi :  Hadits ini dhoif menurut para imam hadits. Al Baihaqi telah mejelaskan segi-segi kedhoifannya. Berkata Ahmad bin Hambal : Aku tidak mengetahui hadits yang tsabit tentang tasmiyah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad Darquthni, Al Baihaqi dan lain-lain.

[2]           Berkata An Nawawi :  Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairoh. Demikian juga At Turmudzi dari riwayat Said bin Zaid, dan diriwayatkan oleh Ibn Maja dari riwayat Said bin zaid, Abu Said Al Khudri. Berkata At Turmudzi : Dalam bab ini ada hadits dari Aisyah, Abu Hurairoh, Abu Said, Sahl bin Saad dan Anas. Sanad-sanad untuk hadits-hadits ini semuanya dhoif.

[3]           Ibnu Iraq dalam Tanzih Asy Sar'iyyah mengemukakan hadits ini dan berkata : Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam Tarikh Ishbahan dari Ibn Umar dengan lafadz, "Siapa yang berwudhu dan mengusap lehernya, maka tidak akan dibelenggu dengan belenggu-belenggu hari kiamat". Di dalam hadits ini ada Abu Bakar Al Mufid, yaitu guru Abu Nuaim. Al Hafidz Al Iraqi berkata : Dialah penyakitnya. Memang telah ada kesunnahan mengusap leher dari hadits Wail bin Hujr tentang sifat wudhu Nabi SAW, yang dikelurkan oleh Ath Thabrani dan Al Bazzar dengan sanad yang tidak ada masalah. An Nawawi telah mendahului Ibnush Sholah dalama mengingkari kesunnahannya dan berkata : Tidak diketahu sebagai marfu'. Itu hanyalh perkataan sebagian salaf. Dalam At Talkhis dinyatakan : Sesungguhnya apa yang disebutkan oleh Ibnush Shollah bahwa itu perkataan sebagian salaf, yang ia kehendaki adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam kitab Ath Thohur dari Abdurrahman bin Masud dari Al Masudi dari Al Qosim bin Abdurrahman dari Musa bin Tholhah berkata, "Siapa yang mengusap tengkuknya bersamaan dengan kepala, maka akan dijaga dari belenggu pada hari kiamat". Boleh jadi dikatakan : Ini walaupun mauquf, hukumnya adalah marfu', karena hal ini tidak dikatakan dari segi pemikiran. Ibnur Rifah menyanggah An Nawawi yang menyatakan kepalsuan hadits ini bahwa Al Baghowi termasuk imam hadits dan ia telah nyatakan kesunnahannya dan tak ada dasar untuk kesunnahannya kecuali hadist atau atsar. Berkata Ibnul Ustadz : Ar Ruyani berkata : Aku lihat dalam karangan Asy Syaikh Abul Hasan Ahmad bin Faris denga isnadnya dari Falih bin Sulaiman dari Nafi' bahwa Nabi SAW bersabda, "Barang siapa berwudhu dan emngusapkan kedua tangannya ke tengkuknya, maka akan divaga dari belenggu di hari kiamat". Hadits ini shohih.

[4]           Berkata An Nawawi : Hadits "Kami tidak meminta tolong untuk berwudhu kepada seseorang" itu batil tidak ada asalnya. Yang dimaksudkan hádala hadits-hadits soy yang masyhur bahwa Rosululloh SAW berwudhu tanpa minta tolong.