ISTINJA

 

A. Hukum Istinja

Keluar kerikil atau cacing yang tidak basah

Istinja sebelum berwudhu dan tayammum

B. Syarat Istinja

1. Tiga batu

2. Menghilangkan bentuk najis

Debu

Tidak dimuliakan

1. Makanan

2. Tulang

3. bagian tubuh binatang

Wol

3. Belum digunakan

4. Suci

Kulit disamak

5. Tidak melampaui tempat keluarnya

6. Datang najis lain

C. Menggabungkan batu dan air

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ISTINJA

 

A. Hukum Istinja

Imam Asy Syafii berkata : Tak ada kewajiban istinja atas seseorang yang wajib berwudhu kecuali karena ia buang air besar atau kencing, sehingga ia harus beristinja dengan batu atau air.

[] Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rosululloh SAW berkata, Sesungguhnya aku seperti orang tua bagi kalian, karena itu bila salah seorang dari kalian pergi untuk buang air besar, maka janganlah menghadap qiblat dan jangan pula membelakanginya dengan buang air besar atau kencing. Beristinjalah dengan tiga batu. Beliau melarang beristinja dengan tahi dan tulang basah dan juga melarang beristinja dengan tangan kanannya.

[] Dari Tsabit dari bapaknya bahwasanya Rosululloh SAW memerintahkan istinja dengan tiga batu dan melarang dari tahi dan tulang basah, melarang istinja dengan tangan kanan. Tiga batu tersebut tak ada tahinya.

Fukaha Syafi'iyyah : Istinja wajib karena kencing, tinja dan segala najis yang keluar dari salah satu dua jalan. Itu merupakan syarat sahnya sholat, berdasarkan :

() hadits Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bersihkan dari kencing, karena umumnya adzab kubur karena kencing"

() Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rosululloh SAW berkata, Sesungguhnya aku seperti orang tua bagi kalian, karena itu bila salah seorang dari kalian pergi untuk buang air besar, maka janganlah menghadap qiblat dan jangan pula membelakanginya dengan buang air besar atau kencing. Beristinjalah dengan tiga batu. Beliau melarang beristinja dengan tahi dan tulang basah dan juga melarang beristinja dengan tangan kanannya.

() Dari Salman berkata : Rosululloh SAW melarang kami beristinja kurang dari tiga batu.

() Dari Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, "Bila salah seorang di antara kalian pergi buang air, maka bawalah tiga bantu untuk beristinja, karena itu mencukupi"

() Dari Ibn Abad bahwa Nabi SAW melewati du kuburan, lalu bersabda, "Keduanya sedang disiksa, tetapi keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Orang pertama suka mengadu domba, sedangkan yang lain tidak membersihkan diri dari kencingnya"

Karena kencing merupakan najis yang umumnya tidak diikuti dengan kesukaran dalam menghilangkannya, sehingga tidak sah sholat dengan ada kencing seperti juga najis-najis lain.

Abu Hanifah menyatakan bahwa istinja itu sunnah. Itu juga merupaka riwayat dari Malik dan diceritakan oleh Al Qodhi Abuth Thoyyib, Abush Shobbagh, Al Abdari dan lain-lain dari AL Muzanni. Abu Hanifah menjadikan ini prinsip untuk semua najis, sehingga segala najis yang besarnya sedirham, maka dimaafkan. Bila lebih, maka tidak dimaafkan. Demikian pula dalam hal istinja. Bila sesuatu yang keluar lebih dari sedirham, maka istinja dengan air dan tidak boleh dengan batu. Hujjahnya adalah :

() Dari Abu Hurairoh bahwa Nabi SAW bersabda, "Barang siapa beristinja, maka ganjillah. Siapa yang lakukan, maka ia telah berbuat baik, tetapi siapa yang tidak lakukan, maka tidak apa-apa"

Diriwayatkan oleh Ad Darimi, Abu Dawud dan Ibn Majjah dan merupakan hadits hasan.

Karena itu merupakan najis yangtidak wajib dihilangkan bekasnya, maka demikian juga bentuknya seperti juga darah nyamuk. Karena itu tidak wajib dihilangkan dengan air, maka tidak wajib pule dengan lainnya. Al Muzanni berkata : Kita sepakat bolehnya mengusap dengan batu, sehingga tidak wajib menghilangkannya seperti mani.

Jawaban untuk hujah mereka dengan hadits adalah bahwa tidak apa-apa meninggalkan bilangan ganjil dan itu dibawa pemahamannya pada ganjil yang lebih dari tiga batu, dengan menggabungkan antara hadits ini dan hadits-hadits lain. Adapaun terhadap qiyas mereka dengan darah nyamuk adalah bahwa itu merupakan kesulitan yang besar, lain halnya dengan istinja. Karena inilah hadits-hadits saling menguatkan perintah beristinja, tetapi tidak ada hadits perintah mengholangkan darah nyamuk. Qiyas Al Muzanni dengan mani juga tertolak, karena mani suci sedangkan kencing najis.

 

Keluar kerikil atau cacing yang tidak basah

Imam Asy Syafi'i berkata : Tidak wajib istinja bagi orang yang tidur atau keluar angin dari dirinya.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila keluar kerikil atau cacing yang tidak basah, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama wajib beristinja, karena tidak mungkin terhindar dari basah. Kedua, tidak wajib, dan inilah yang paling shohih, karena itu keluar tanpa nasah sehingga diserupakan denga angin. Ashab sepakat bahwa tidak wajib istinja karena angin, tidur, bersentuhan dengan perempuan dan menyentuh dzakar. Berkata Asy Syaikh Nashr bahwa bila bersitinja karena ini, maka itu bid'ah. Berkata Al Jurjani : Dimakruhkan istinja karena angin.

 

Istinja sebelum berwudhu dan tayammum

Imam Asy Syafi'i berkata : Boleh beristinja dengan batu dalam wudhu bagi orang yang mendapatkan air atau tidak. Bila seseorang buang air, namun tidak mendapatkan air dan ia termasuk orang yang boleh melakukan tayammum, maka tidak boleh kecuali beristinja lalu bertayammum. Bila ia bertayammum lalu beristinja, maka tidak boleh sampai tayammum dikerjakan setelah istinja.

Robi berkata : Ada pendapat Asy Syafii yang kedua bahwa boleh bertayammum sebelum istinja dengan ketentuan bila ia beristinja sesudah tayammum, ia tidak boleh menyentuh dzakar dan juga duburnya dengan tangannya.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila ia berwudhu atau tayammum sebelum beristinja, lalu beristinja dengan batu atau air, dan pada tangannya ada kain atau lainnya sekiranya tidak menyentuh kemaluannya, maka dalam hal ini ada tiga pendapat.

Pertama, Asy Syafi'i menyatakan dalam Al Buwaithi bahwa sah wudhunya, tetapi tidak sah tayammumnya. Ar Robi' mengatakan dari Asy Syafi'i dalam Al Umm bahwa tayammumnya tidak sah.

Alasannya adalah bahwa tayammum tidak mengangkat hadats, tetapi hanya membolehkan sholat karena najis buang air, sehingga tidak dibolehkan dengan tetap ada penghalang. Tayammum berbeda dengan wudhu, karena wudhu mengangkat hadats, sehingga boleh mengangkat hadats, padahal penghalang masih ada.

Kedua, tidak wudhunya dan tayammumnya.

Ketiga, sah wudhunya dan tayammumnya.

Ar Robi menyatakan pendapat lain dari Asy Syafi'i bahwa tayammunya sah. Al Muzanni dalam Al Mantsur menukil dari Asy Syafi'I tentang sahnya tayammum dan wudhu, karena menggabungkan dua pendapat.

Pendapat pertama merupakan pendapat shohih menurut Ashab dan telah ditetapkan oleh kebanyakan mutaqoddimin dan mutakhirin. Abu Ishaq mengatakan bahwa pendapat yang disebutkan oleh Ar Robi' tentang sahnya tayammum tidak dinyatakan oleh Asy Syafi'i, tetapi hanya pendapat dirinya. Al Muhamili berkata : Ashab keliru memahami Ar Robi dalam hal ini. Berkata Al Qodhi Abuth Thoyyib : Kelirulah orang yang menyebutkan ada perselisihan pendapat dalam hal wudhu.

 

B. Syarat Istinja

Penuhi syarat beristinja dengan bebatuan

Ada dua belas tanpa ada keingkaran

(1) dengan batu suci, (2) menghilangkan, (3) tidak dimuliakan

(4) bersih, (5) basan ditiadakan

(6) yang keluar tidak kering, (7) tidak pula berpindah

(8) tidak datang najis lain, (9) tidak juga melampaui tempatnya

(10) tiga usapan, (11) kemaluan asal

(12) seterusnya bersih tempatnya

 

1. Tiga batu

Imam Asy Syafii berkata : Barang siapa pergi ke WC atau kencing, tidak boleh baginya kecuali ia mangusapnya dengan tiga batu tiga kali atau apa saja yang bersih suci yang dapat membersihkan seperti halnya batu, misal debu, rumput, kain dan lain-lain.

Bila ia mendapatkan batu, batu bata atau batu yang keras dengan tiga sisi, lalu ia mengusap dengan tiap sisinya, maka itu seperti tiga batu

Fukaha Syafi'iyyah : Wajib dengan tiga usapan, berdasarkan :

() Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Salman, "Nabimu mengajarkan kepada kalian segala hal hingga buang air?", jawabnya, "Benar, beliau melarang kami beristinja kurang dari tiga batu"

Bila beristinja dengan batu yang mempunyai tiga sisi, maka mencukupi, karena maksudnya adalah jumlah usapan.

Wajib dengan tiga usapan walaupun dapat bersih dengan satu usapan. Asy Syafi'i menyatakan ini dalam Al Umm dan disepakati oleh mayoritas ashab. Namun Al Hannathi, penulis Al Bayan dan Ar Rofi'i menceritakan pendapat lain bahwa bila dapat bersih hanya dengan dua batu atau satu, maka cukup. Ini adalah pendapat syadz dhoif. Pendapat yang benar adalah wajibnya tiga usapan mutlak. Boleh pilih antara usapan dengan tiga batu atau satu batu dengan tiga sisi.

Asy Syafi'i dan ashab mengatakan bahwa mengusap dengan tiga batu lebih utama dibadingkan tiga sisi bati, berdasarkan hadits, "beristinjalah dengan tiga batu". Berkata Al Muhamili: Bila kencing dan buang air besar, maka disunnahkan mengusap dengan enam batu. Bila mengusap keduanya dengan satu batu yang bersisi enam, maka mencukupi, karena tercapainya usapan. Ibnush Shobbagh berkata : Demikian juga perca yang tebal yang bila mengusap dengan salah satu sisinya, lalu basahan tidak sampai ke sisi lain, maka boleh mengusap dengan kedua sisinya dan dihitung dua usapan. Ashab berkata : Bila dapat bersih dengan tiga batu, maka tidak usah menambah batu. Bila tidak bersih dengan tiga batu, maka wajib batu keempat. Bila bersih dengan batu keempat, disunnahkan dengan batu kelima, tetapi tidak wajib. Bila tidak bersih, maka wajib dengan batu kelima. Bila bersih dengan batu kelima, maka tidak usah menambah. Bila tidak bersih, maka dengan batu keenam. Bila bersih, disunnahkan dengan batu ketujuh, tetapi tidak wajib. Bila tidak bersih, maka wajib. Demikian seterusnya, kapan saja bersih dengan tiga batu atau lebih, maka tidak wajib menambahnya. Bila dapat bersih dengan batu ganjil, maka tidak disunnahkan menambah, tetapi bila tidak bersih, maka disunnahkan mengganjilkan, berdasarkan :

() Dari Abu Hurairoh bahwa Nabi Saw bersabda, "Barang siapa beristinja, hendaklah mengganjilkan"

Penulis Al Bayan menceritakan pendapat lain bahwa mengganjilkan dengan batu kelima wajib berdasarkan keumuman perintah untuk mengganjilkan. Ini merupakan pendapat syadz, karena perintah untuk mengganjilkan setelah tiga batu adalah untuk kesunnahan.

 

2. Menghilangkan bentuk najis

Imam Asy Syafii berkata : Bila ia mendapatkan batu, batu bata atau batu yang keras dengan tiga sisi, lalu ia mengusap dengan tiap sisinya, maka itu seperti tiga batu. Bila ia mengusap dengan tiga batu, lalu ia tahu bahwa itu menyisakan bekas, maka tidak boleh kecuali ia tidak menyisakan bekas dengan pengusapan itu. Adapun bekas yang menempel yang tidak dapat hilang kecuali dengan air, maka tak ada kewajiban membersihkan atasnya, karena bila ia bersungguh-sungguh untuk membersihkannya, maka ia tidak akan dapat membersihkannya kecuali dengan air.

Fukaha Syafi'iyyah : Harus menghilangkan bentuk najis hingga tidak tersisa bekas menempel yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan air. Ini dinyatakan oleh Asy Syafi'i dalam Al Umm dan Mukhtashor Al Muzanni. Demikian yang dikatakan oleh ashab kecuali Ash Shoimari dan penulis Al Hawi. Katanya : Bila tersisa sesuatu yang tidak bisa hilang dengan batu tapi bisa hilang dengan tembikar lembut atau perca, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, ini merupakan lahiriah madzhab Asy Syafi'i dan pendapat kebanyakan ashab, yaitu wajib menghilangkannya, karena hal itu mungkin tanpa air. Kedua, ini merupakan pendapat sebagian mutaqoddimin, yaitu tidak wajib, karena yang wajib adalah hilang dengan batu. Ar Ruyani merajihkan pendapat kedua. Itualah yang benar, karena syariat tidak membebani padanya selain batu dan hadits-hadits shohih yang saling menguatkan menyatakan cukupnya dengan batu.

Sesuatu yang tidak bisa menghilangkan bentuk najis tidak boleh untuk istinja, seperti kaca dan arang, berdasarkan :

() Dari Ibn Masud berkata : Utusan jin datang kepada Nabi SAW, lalu mereka berkata, "Ya Muhammad, laranglah umatmu untuk beristinja dengan tulang, tahi atau arang, karena Alloh telah jadikan di dalamnya rejeki untuk kami", maka Nabi SAW melarangnya.

karena itu tidak bisa menghilangkan bentuk najis.

Ashab sepakat bahwa syarat benda yang digunakan untuk istinja adalah benda yang dapat menghilangkan bentuk najis. Mereka sepakat bahwa kaca, bambu yang tidak beruas dan yang serupa tidak mencukupi. Adapun arang, ulama Iraq menetapkan bahwa itu mencukupi. Ulama Khurasan mengatakan : Teks Asy Syafi'i tentang hal ini berbeda-beda. Pendapat yang shohih adalah dengan dirinci tergantung pada dua keadaan, karena hadits yang melarang tidak shohih. Bila padat tidak terpecah-pecah, maka mencukupi, tetapi bila berongga dan terpecah-pecah, maka tidak mencukupi.

 

Debu

Asy Syafi'I menyatakan dalam Al Buwaithi dan Mukhtashor Ar Robi' bolehnya istinja dengan debu. Ashab mengatakab bahwa yang ia maksudkan adalah bila debunya berbatu yang bias menghilangkan. Bila debunya lembut yang tidak dapat menghilangkan najis, maka tidak mencukupi. Demikian yang dinyatakan oleh mayoritas, di antaranya Al Mawardi, Al Furani dan Imam Al Haramain.

 

Tidak dimuliakan

1. Makanan

Benda yang dimuliakan berupa makanan, seperti roti dan tulang tidak boleh digunakan untuk istinja, karena Nabi SAW melarang istinja dengan tulang dan bersabda :

() "itu adalah bekala saudara-saudara kalian dari jin"

Bila melanggar dan beristinja dengan tulang, maka tidak mencukupi, karena istinja dengan selain air itu merupakan rukhshoh, sedangkan rukhshoh tidak didapatkan dengan maksiat.

Ashab mengatakan bahwa termasuk benda-benda yang dimuliakan adalah kitab-kitab yang terkandung ilmu-ilmu syariat. Bila beristinja dengan itu dalam keadaan tahu, maka berdosa, namun dalam hal gugurnya kewajiban, ada dua pendapat. Pendapat yang benar adalah tidak mencukupi. Berdasarkan pendapat ini, setelahnya boleh beristinja dengan batu.

 

2. Tulang

Imam Asy Syafi'I berkata : Tidak boleh juga dengan tulang, karena walaupun tulang tidak najis, namun tidak bersih. Bersuci hanya dengan yang bersih suci.

Imam Asy Syafi'I berkata dalam Al Buwaithi : Tidak boleh beristinja dengan tulang binatang sembelihan dan juga tidak boleh dengan tulang bangkai, karena adanya larangan dengan tulang secara mutlak.

Imam Asy Syafi'I berkata dalam Al Mukhtashor : Perbedaan antara mencukupi beristinja dengan tangan kanan dan tidak mencukupi beristinja dengan tulang adalah bahwa tangan kanan merupakan alat dan larangan dengan kanan merupakan adab, dan istinja itu untuk bersuci, sedangkan tulang tidak suci.

Fukaha Syafi'iyyah : Ashab berselisih tentang perkataan dalam Al Mukhtashor.

Pertama, ini merupakan kekeliruan Al Muzanni, padahal Asy Syafi'i hanyalah mengatakan bahwa tulang itu tidak bersih, sebagaimana dalam Al Umm. Ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al Marwazi dan ditetapkan oleh Al Qodhi Abuth Thoyyib.

Kedua, nukilan dari Al Muzanni shohih. Perkataan tidak suci maksudnya adalah tidak menyucikan. Ini merupakan takwil Abu Ali bin Abu Hurairoh.

Ketiga, Asy Syafi'I menyebutkan dua alasan tentang tulang yang najis, karena tulang yang najis tidak boleh digunakan untuk istinja karena dua alas an. Pertama, tulang itu najis dan lain dimakan. Tulang yang suci tidak boleh hanya karena tulang dimakan. Berkata Al Mawardi : Ini merupakan takwil Abu Hamid Al Isfaraini. Al Azhari memilih pendapat pertama, yaitu kekeliruan Al Muzanni, dan menjelaskan bahwa perbedaan antara bersih dan suci adalah sesuatu yang mengeluarkan bau menyengat itu suci bukan bersih, yaitu seperti tulang dan kulit binatag semelihan sebelum disamak.

 

3. bagian tubuh binatang

Bagian tubuh binatang seperti ekor keledai tidak boleh untuk istinja. Di antara ashab, yaitu Al Mawardi dan Asy Syasyi mengatakan boleh, karena kemuliaan binatang terlaetak pada larangan menyakitinya bukan larangan menggunakannya. Pendapat yang dishohihkan oleh mayoritas adalah pendapat pertama, karena itu dimuliakan seperti makanan.

Adapun istinja dengan tangan manusia, maka dalam hal ini ada empat pendapat.

Pertama, tidak mencukupi, baik dengan tangannya atau tangan orang lain. Ini yang ditetapkan oleh Al Mutawalli dan lain-lain, karena itu merupakan anggota yang dimuliakan.

Kedua, Mencukupi dengan tangannya dan tangan orang lain.

Ketiga, Boleh dengan tangannya, tetapi tidak boleh dengan tangan orag lain. Ini yang ditetapkan oleh Imam Al Haramain dan lain-lain.

Keempat, mencukupi dengan tangan orang lain, bukan tangannya, sebagaimana boleh bersujud di atas tangan orang lain, bukan tangannya. Ini merupakan pilihan AL Mawardi. Ini dhoif atau keliru.

Pendapat paling shohih adalah pendapat pertama.

 

Wol

Imam Asy Syafi'I berkata : Bila wol dicabut dari domba dan beristinja dengan itu, maka aku memakruhkannya, tetapi membolehkannya.

Fukaha Syafi'iyyah : Ashab berkata : Asy Syafi'I memakruhkannya, karena itu mengandung penyiksaan binatang. Adapun istinja dengan wol tidaklah makruh. Bila diambil dari domba setelah disembelih atau mencukurnya saat hidup, maka tidak makruh.

 

3. Belum digunakan

Imam Asy Syafii berkata : Ia tidak boleh mengusap dengan batu yang telah digunakan sekali, kecuali ia tahu ada air yang menyucikannya. Bila ia tidak tahu bahwa air telah menyucikannya, maka tidak boleh mengusap dengan batu itu, walaupun tak ada bekasnya. Demikian pula bila ia cuci dengan air dari tumbuhan hingga hilang bekasnya, maka tidak mencukupi mengusap dengannya dan tidak bisa mnyucikannya kecuali air yang bisa menyucikan najis.

Fukaha Syafi'iyyah : Ashab sepakat bahwa bila istinja dengan batu, lalu dicuci dan kering, maka boleh untuk istinja untuk kedua kali. Bila dicuci lagi dan kering, maka boleh untuk ketiga kali. Demikian seterusnya dan itu tidak dimakruhkan sebagaimana tidak makruh sholat dengan satu pakaian berkali-kali.

Bila melihat batu dan ragu apakah telah digunakan, maka boleh menggunakannya, karena pada prinsipnya suci, tetapi disunnahkan meninggalkannya atau mencucinya. Bila ia tahu bahwa itu telah digunakan dan ragu apakah telah dicuci, maka tidak boleh menggunakannya, karena pada prinsipnya tetap ada najis.

 

4. Suci

Imam Asy Syafii berkata : Ia tidak boleh beristinja dengan tahi, karena tahi itu najis. Tidak boleh juga dengan tulang, karena walaupun tulang tidak najis, namun tidak bersih. Bersuci hanya dengan yang bersih suci. Aku tidak tahu suatu yang semakna dengan tulang kecuali kulit sembelihan yang belum disamak, karena itu tidak bersih, walaupun suci. Adapun kulit yang disamak, maka bersih suci, sehingga tidak mengapa digunakan untuk beristinja.

Fukaha Syafi'iyyah : Boleh beristinja dengan batu dan segala yang bisa menggantikannya, yaitu semua yang keras, suci, menghilangkan bentuk, tidak dimuliakan, dan bukan bagian dari binatang. Hal ini disepakati oleh ashab. Ashab berhujjah dengan :

() Dari Abu Hurairoh berkata : Aku mengikuti Nabi SAW untuk buang air, lalu bersabda, "Bawakan untukku batu atau semisalnya, dan jangan engkau berikan tulang dan tahi"

() Dari hadits Abu Hurairoh lain Rosululloh SAW bersabda, "beristinjalah dengan tiga batu" dan beliau melarag dengantahi dan tulang.

Larangan dengan tahi dan tulang menunjukkan bahwa selain batu dapat menggantikannya. Bila tidak demikian, tidak ada artinya pengkhususan larangan kedua benda itu.

() Dari Ibn Masud berkata : Nabi SAW akan buang air, lalu memerintahkan aku untuk membawakan tiga batu, maka aku temukan dua batu dan aku cari batu ketiga, tetapi tidak aku temukan, lalu aku ambil tahi, lalu aku berikan kepada beliau, maka beliau ambil dua batu dan membuang tahi, dan bersada, "Ini kotor"

Sisi pendalilannya adalah bahwa Nabi SAW memberikan alasan pelarangan istinja dengan tahi karena tahi itu kotor, tetapi tidak memberikan alasan karena itu bukan batu.

Cairan selain air tidak boleh untuk istinja, karena itu menjadi najis dengan bersentuhan dengan najis, sehingga menambah najis. Sesuatu yang tidak suci seperti tahi dan batu suci tidak boleh untuk istinja, karena itu najis. Bila istinja dengan itu, maka setelahnya wajib beristinja dengan air, karena tempatnya telah menjadi najis, sehingga wajib mencucinya dengan air. Ini yang ditetapkan oleh Imam Al Haramain, Al Ghozali, Al Baghowi dan lai-lain, dan telah dishohihkan oleh mayoritas, tetapi Al Muhamili berbeda dengan mereka. Ia berkata : Ashab berkata bila istinja dengan najis, maka wajib beristinja dengan tiga batu suci, hingga bila istinja dengan kulit anjing, maka setelah itu batu mencukupi, karena najis yang datang mengikuti najis buang air.

 

Kulit disamak

Imam Asy Syafi'I berkata : Aku tidak tahu suatu yang semakna dengan tulang kecuali kulit sembelihan yang belum disamak, karena itu tidak bersih, walaupun suci. Adapun kulit yang disamak, maka bersih suci, sehingga tidak mengapa digunakan untuk beristinja.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila beristinja dengan kulit binatang sembelihan yang boleh dimakan, tetapi belum disamak, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Dalam Al Umm dan Harmalah tidak boleh, sedangkan dalam Al Buwaithi boleh. Bila beristinja dengan kulit yang disamak, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Dalam Harmalah tidak boleh, karena itu seperti tulang, tetapi dalam Al Umm boleh. Pendapat paling shohih menurut Ashab adalah boleh dengan kulit yang telah disamak, bukan dengan lainnya. Itu merupakan teks dalam Al Umm.

 

5. Tidak melampaui tempat keluarnya

Imam Asy Syafi'i berkata : Beristinja boleh dengan batu dan segala sesuatu yang bisa menggantikannya, selama tinja tidak melampaui tempat keluarnya, yaitu bagian di depan bagian dalam dua pantat. Bila keluar dari bagian itu, maka hanya mencukupi untuk bagian antara dua pantat dengan beristinja dengan batu, tetapi tidak mencukupi untuk tinja yang menyebar keluar dari dua pantat kecuali dengan air.

Beristinja dari kencing sama dengan istinja dari tinja, tidak berbeda. Bila kencing menyebar ke bagian di depan lobang, maka istinja mencukupi. Bila menyebar hingga melampaui itu, maka tidak emncukupi untuk kencing yang melampaui itu kecuali dengan air. Orang yang kencing beristibra dari kencing supaya kencing tidak menetes. Aku lebih suka ia bersitibra dari kencing dan berdiri sejenak sebelum wudhu, lalu mengurut dzkarnya sebelum istinja, lalu berwudhu.

Fukaha Syafi'iyyah : Ashab berkata : Bila keluar tinja, maka ada empat kondisi.

Pertama, tidak melampaui tempat keluarnya, maka mencukupi istinja dengan batu tanpa ada perselisihan.

Kedua, melampaui tempat keluar, tetapi tidak melampaui kadar yang biasa pada kebanyakan orang, maka mencukupi dengan batu juga, karena itu susah dihindari.

Al Muzanni menukil dari Asy Syafi'i bahwa bila melampaui tempat keluarnya, maka mesti dengan air. Al Buwaithi juga menukil demikian. Di antara ashab ada yang mengatakan pendapat lain, tetapi mayoritas menetapkan bahwa itu bukan seperti lahiriahnya, bahkan cukup dengan adanya kesukaran. Di antara mereka ada yang menganggap Al Muzanni keliru. Ini merupakan pendapat ulam Iraq dan sekelompok ulama Khurasan. Al Bandaniji dan Al Muhamili menukil kesepakatan ashab tentang kekeliruan Al Muzanni. Di antara mereka ada yang mentakwil bahwa ada percatan yang hilang dan yang benar adalah bila melampaui tempat keluarnya dan sekelilingnya. Ini walaupun disebut takwil, tetapi searti dengan menganggap keliru. Mayoritas ashab mengatakan bahwa yang diperhatikan adalah kebiasan umumnya orang-orang. Ad Darimi menyebutkan dua pendapat tentang hal yang diperhatikan, yaitu dengan kebiasaan orang-orang atau kebiasannya.

Ketiga, menyebar dan keluar dari tempat biasa, tetapi tidak melampaui bagian dalam pantat, maka apakah mesti dengan air atau batu mencukupi? Dalam hal ini ada dua pendapat. Paling shohih adalah batu mencukupi. Itu merupakan tekas Al Umm, Harmalah dan Al Imla. Demikian dikatakan oleh Al Bandaniji da dishohihkan oleh ashab. Kedua, mesti dengan air. Dinyatakan dalam Al Mukhtashor dan qoul qodim.

Keempat, menyebar ke bagian luar pantat. Bila bersambung, maka wajib dengan air untuk semuanya, seperti halnya najis-najis lain, karena jarang terjadi dan susah membedakan antara satu bagian dengan bagian lain. Bila terputus sebagian dengan bagian lain, maka wajib dengan air untuk yang ada di luar pantat. Adapun yang tidak jelas dan tidak bersambung, maka ada perselisihan pendapat.

Perincian di atas bila tidak melampaui kebiasaan, maka batu mencukupi. Bila melampaui kebiasaan, maka ada dua pendapat. Paling shohih adalah mencukupi.

Adapun kencing, bila tersebar dan keluar dari penis dengan bersambung, maka wajib dengan air, tetapi bila tidak keluar, maka ada dua thoriq. Berkata Abu Ishaq : Bila melampaui tempat keluar hingga kembali ke dzakar bagian atas atau bawah, maka tidak boleh kecuali dengan air, karena sesuatu yang keluar dari kencing tidak menyebar kecuali jarang. Lain halnya dengan sesuatu yang keluar dari dubur, karena pasti menyebar. Di antara ashab ada yang mempunyai dua pendapat. Pertama, tidak boleh kecuali dengan air. Dinyatakan dalam Al Buwaithi dengan alasan yang dikemukakan oleh Abu Ishaq. Kedua, boleh dengan batu selama tidak melampaui penis. Ini dinyatakan dalam Al Umm, karena ketika boleh dengan batu pada tinja selama tidak melampaui bagian dalam pantat karena susah memastikannya, maka mesti boleh untuk kencing selama tidak melampaui penis karena susah memastikannya. Ashab berselisih mana yang rajih. Asy Syaikh Abu Hamid dan Al Mawardi menetapkan wajib dengan air karena jarangnya. Al Muhamili menetapkan bolehnya dengan batu selama tidak melampuai penis, dan telah dishohihkan oleh Ar Rofi'i. Berkata Al Bandaniji : Itulah lahiriah teks Asy Syafi'I dalam Harmalah. Inilah yang paling shohih, karena kencing menyebar juga dan susah memastikannya.

 

6. Datang najis lain

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang menderita wasir dan koreng di dekat tempat duduknya atau lobangnya, lalu mengalir darah, nanah, maka tidak boleh baginya kecuali istinja dengan air dan batu tidak mencukupi. Air dapat menyucikan najis seluruhnya. Kemudahan dalam istinja dengan batu terbatas pada tempat keluarnya. Demikian buang air besar dan kencing bila melampaui tempatnya, lalu mengenai bagian tubuh lain, maka tidak dapat menyucikannya kecuali dengan air.

 

C. Menggabungkan batu dan air

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang beristinja dengan sesuatu selain air, maka tidak boleh kurang dari tiga batu, walaupun bersih. Istinja sudah cukup, namun bila seseorang menggabungkannya lalu mencuci dengan air, maka itu lebih aku sukai.

[] Sesungguhnya ada suatu kaum dari Anshor beristinja dengan air, lalu turunlah ayat berkaitan dengan mereka, yaitu :

'Di dalamnya ada orang-orang yang suka bersuci dan Alloh mencintai orang yang bersuci'

Imam Asy Syafii berkata : Bila seseorang hanya beristinja dengan air tanpa batu, maka itu mencukupi, karena air lebih membersihkan dibandingkan batu. Bila ia beristinja dengan air, maka tidak ada jumlah ulangan dalam beristinja, kecuali sampai ia benar-benar telah membersihkan apa yang ada.

Fukaha Syafi'iyyah : Bila seseorang beristinja, maka harus diperhatikan. Bila najisnya itu kencing atau tinja dan tidak melampaui tempat yang biasanya, maka boleh dengan air atau batu. Lebih utama menggabungkan keduanya, karena :

() Alloh memuji penduduk Quba, dengan firman-Nya :

'Di dalamnya ada orang-orang yang suka bersuci dan Alloh mencintai orang yang bersuci'

Lalu Nabi Saw bertanya kepada mereka apa yang mereka perbuat, maka mereka menjawab bahwa mereka mengikutkan air pada batu. [1]

Bila ingin mencukupkan pada salah satunya, maka lebih utama dengan air, karena air lebih membersihkan. Tetapi bila ingin mencukupkan diri dengan batu, maka boleh.

 

 



() Berkata An Nawawi : Hadits penduduk Quba diriwayatkan oleh Abu Hurairoh dari Nabi SAW bersabda, "Ayat ini diturunkan berkaitan denga penduduk Quba :

'Di dalamnya ada orang-orang yang suka bersuci dan Alloh mencintai orang yang bersuci'

Mereka beristinja dengan air, sehingga diturunkan ayat ini berkaitan engan mereka. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Turmudzi, Ibn Majjah, Al Baihaqi dan lain-lain, dan tidak didhoifkan oleh Abu Dawud, tetapi isnadnya dhoif. Di dalamnya ada Yunus bin Al Harts yang didhoifkan oleh kebanyakan ulama, dan Ibrohim bin Abu Maimunah. Dari uwaim bin Saidah bahwa Nabi SAW mendatangi mereka di masjid Quba, lalu bersabda, "Alloh telah memuji kalian dalam hal bersuci. Bersuci seperti apa yang lakukan itu?", mereka menjawab, "ya Rosululloh, kami tidak tahu apapaun kecuali kami mempunyai tetangga Yahudi yang mencuci dubur mereka, maka kami cuci seperti mereka cuci". Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dalam musnadnya dan Ibn Khuzaimah dalam shohihnya. Dari Anas, Jabir dan Abu Ayyub berkata, "Ayat ini turun :

 

Lalu Rosululloh SAW bersabda, "Wahai kaum Anshar, Alloh telah memuji kalian dalam hal bersuci, bersuci seperti apa itu?", mereka menjawab, "Kami berwudhu untuk sholat, mandi karena janabah dan beristija dengan air", maka beliau bersabda, "itu dia!". Diriwayatkan oleh Ibn Majjah, Ad Darquthni dan Al Baihaqi. Dalam riwayat Al Baihaqi, "Bersuci seperti apa itu?", mereka menjawab, "Kami berwudhu untuk sholat dan mandi dari janabah". Rosululloh SAW bertanya lagi, "Apakah ada lainnya?", mereka menjawab, "Tidak ada lainya, hanya saja bila salah seorang kami keluar dari buang air, ia suka beristinja dengan air", beliau bersabda, "itu dia!". Isnad riwayat ini, riwayat Ib Majjah dan lainnya shohih, kecuali Atabah bin Abu Hakim. Ulama berselisih dalam mentsiqohkanya. Mayoritas mentsiqohkannya dan orang yang mendhoifkannya tidak menjelaskan sebab kedhoifanya. Riwayat yang aku sebutkan telah diketahui dalam kitab-kitab hadits bahwa mereka beristinja dengan air, tetapi tidak menyebutkan menggabungkan air dan batu. Adapun perkataan bahwa mereka mengikutkan air pada batu, maka demikia yang dikatakan oleh ashab dan lain-lain dalam kitab-kitab fiqih dan tafsir, tetapi tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits. Demikian juga dikatakan oleh Abu Hamid bahwa ashab meriwayatkannya. Aku tidak mengenalnya. Bila telah diketahui bahwa tidak ada asalnya dari segi riwayat, maka mungkin menshohihkannnya dari segi istimbath, karena istinja dengan batu telah diketahu oleh mereka tetapi dilalaikan oleh semuanya. Adapun istinja dengan batu, maka itu yang mereka tersendiri melakukannya, sehingga ini disebut, tetapi tidak disebut dengan batu, karena itu sama antara mereka dan lainnya. Dan karena keberadaan itu telah diketahui, maka maksudnya adalah menjelaskan keutamman mereka yang dipuji oleh Alloh karena sebab itu. Ini diperkuat dengan perkataan mereka : Bila salah seorang kami keluar dari buang air, ia suka beristinja dengan air. Ini menunjukkan bahwa istinja mereka dengan air dilakukan setelah keluar dari WC, sedangkan kebiasaan berlaku bahwa tidak keluar dari WC kecuali setelah mengusap dengan air atau batu. Demikian disunnahkan beristija dengan batu di tempat buang air dan mengakhirkan air sampai berpindah ke tempat lain.