ADZAN

Disyariatkan adzan

            Alloh ta'ala berfirman : "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan" dan firman-Nya : "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli". Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Alloh ta'ala menyebutkan adzan untuk sholat dan juga menyebutkan hari Jumat, maka adalah jelas bahwa Dia menghendaki sholat wajib dengan kedua ayat itu bersamaan.

Imam Asy Syafi’i berkata : Rosululloh SAW memerintahkan adzan untuk sholat-sholat wajib dan tidak diketahui dari seorang pun bahwa beliau memerintahkan adzan untuk selain sholat wajib, tetapi Zuhri hafal bahwa beliau memerintahkan muazzin dalam dua hariraya untuk berseru : Ash Sholat Jami'ah. Tak ada adzan kecuali untuk sholat wajib. Begitu juga tak ada iqomah (kecuali untuk sholat wajib). Adapun hariraya, khusuf dan qiyam Romadhon, maka aku lebih suka diserukan : Ash Sholat Jami'ah. Namun bila tidak diserukan, maka tak ada apapun bagi yang meninggalkannya, hanya saja ia meninggalkan yang lebih utama.

Sholat untuk jenazah dan semua sholat sunnah selain hariraya dan khusuf tak ada adzan. Juga tak ada seruan Ash Sholat Jami'ah.

[] Dari Abdul aziz bin Abdul Malik bin Abi Mahzuroh bahwa Abdullah bin Muhairiz mengabarkan kepadanya dan ia adalah yatim dalam perlindungan Abi Mahzuroh ketika menuju ke Syam. Katanya : Aku berkata kepada Abi Mahzuroh, "Wahai paman, sungguh aku akan keluar menuju Syam, tetapi aku takut aku ditanya tentang adzan, karena itu beritahukan kepadaku!", jawabnya, "Aku keluar dalam suatu rombongan, lalu kami di suatu jalan di Hunain, Rosululloh SAW kembali dari Hunain, lalu kami bertemu Rosululloh SAW di suatu jalan, lalu muazzin Rosululloh SAW mengumandangkan adzan sholat di samping Rosululloh SAW. Kami mendengar suara muazzin, lalu kami berteriak-teriak menirukan perbuatannya dan menertawakannya. Rosululloh SAW mendengar suaranya, lalu menyuruh kami untuk berdiri di hadapan beliau. Sabda Rosululloh SAW, "Mana di antara kalian yang aku dengar suaranya keras?". Orang-orang menunjuk kepadaku, lalu beliau melepaskan mereka dan menahanku. Kata beliua, "Berdirilah dan kumandangkanlah adzan untuk sholat!", lalu aku berdiri dan tak ada sesuatu yang lebih aku benci dibanding Rosululloh SAW dan tidak juga dibanding dengan apa yang beliau perintahkan. Lalu aku berdiri di hadapan Rosululloh SAW, kemudian beliau mengajarkan sendiri kalimat adzan kepadaku. Kata beliau, "Ucapkan :

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

Sabda belia kepadaku, "Ulangi dan keraskan suaramu", lalu beliau berkata,

أشهد أن لا اله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

حى على الصلاة حى على الصلاة

حى على الفلاح حى على الفلاح

الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله

Lalu beliau memanggilku ketika adzan telah selesai. Aku berkata, "Ya Rosululloh, perintahkan aku adzan di Makkah", jawab beliau, "Sungguh aku telah perintahkan kamu", maka hilanglah semua kebencian kepada Rosululloh Saw dan berganti mahabbah kepada Rosululloh SAW, lalu aku maju ke Attab bin Usaid karyawan Rosululloh SAW, lalu aku mengumandangkan adzan dengan perintah Rosululloh SAW.

            Berkata Ibn Juraij : telah mengabarkan kepadaku seorang yang aku temui dari keluarga Abi Mahzuroh seperti yang dikabarkan oleh Ibn Muhairiz. Dan aku mendapati Ibrohim bin Abdul Aziz bin Abdul Malik bin Abi Mahzuroh mengumandangkan adzan seperti yang diceriatakan Ibn Muhairiz.

            [] Imam Asy Syafi’i berkata : Aku mendengarnya bercerita dari bapaknya, dari Ibn Muhairiz dari Abi Mahzuroh dari Nabi Nabi SAW seperti apa yang diceritakan oleh Ibn Juraij.

            Imam Asy Syafi’i berkata : Aku mendengarnya melakukan iqomah,

الله أكبر الله أكبر

أشهد ان لا إله الا الله

أشهد أن محمدا رسول الله

حى على الصلاة

حى على الفلاح

قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة

الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله

Fukaha Syafi'iyyah : Adzan dan iqomah termasuk kekhususan umat ini, sebagaimana dikatakan oleh As Suyuthi. Keduanya disyariatkan pada tahun awal hijriah. Adzan lebih utama daripada iqomah walaupun bergabung dengan keimamahan sholat. Bila ditanyakan : Nabi SAW mengimami tetapi tidak beradzan, maka jawabnya : Karena Nabi SAW disibukkan dengan hal-hal yang lebih urgen, atau bila beliau beradzan, maka wajib hadir bagi yang mendengarnya.  Adzan lebih utama dibandingkan imamah sholat, karena ada hadits bahwa muazzin adalah pemegang amanah, sedangkan imam adalah orang yang menjamin, dan pemegang amanah lebih utama.

Adzan dan iqomah lebih utama dibandingkan imamah. Dasarnya adalah firman Alloh 'Siapakah yang lebih baik perkataannya dibandingkan orang yang menyeru kepada Alloh'. Aisyah berkata, "Maksud menyeru kepada Alloh adalah muezzin". At Tuhfah menyatakan : Ini tidak bertentangan dengan perkataan Ibn Abbas, "Dialah Nabi SAW", karena dialah yang terbaik secara mutlak, dialah yang terbaik sesudahnya. Tidak juga bertentangan dengan dengan keberadaan ayat yang Makkiyyah, padahal adzan disyariatkan setelah hijrah di Madinah, karena tak ada yang menghalangi ayat Makkiyyah mengisyaratkan pada sesuatu yang disyariatkan setelahnya di Madinah.  Dalam hasyiah Al Jamal disebutkan : Seruan kepada Alloh mempunyai 4 tingkatan : pertama, seruan para Nabi kepada Alloh dengan mukjizat, hujjah, bukti dan dengan pedang. Kedua, seruan para ulama kepada Alloh dengan hujjah dan bukti saja. Ketiga, seruan mujahid kepada Alloh dengan pedang. Mereka berjihad melawan kafirin hingga memasukkan kafirin ke dalam agama Alloh dan taat kepada-Nya. Keempat, seruan muazzin menuju sholat, maka mereka juga menyeru kepada Alloh, yaitu taat kepada-Nya.

() Rosululloh SAW bersabda, "Bila manusia tahu apa yang ada dalam seruan dan shaf pertama, sungguh mereka akan mencita-citakannya"

() Rosululloh SAW, "Imam adalah orang yang menjamin, sedangkan muazzin adalah orang yang diberi amanat. Ya Allloh, tunjukilah para imam dan ampuni para muazzin"

Amanah lebih tinggi dibandingkan jaminan dan ampunan lebih tinggi dibandingkan petunjuk.

Dalam Al Mughni dikatakan : Bila ditanyakan : bagaimana mungkin pengarang Fathul Mu'in mengutamakan adzan padahal ia setuju dengan Ar Rofi'i dalam menshohihkan pendapat bahwa adzan itu sunnah dan kefardhuan jamaah, karena berarti ia mengutamakan sunnah atas fardhu. Jawabnya adalah bahwa tak ada penghalang mengutamakan sunnah atas fardhu, seperti halnya memulai salam lebih uatam daripada menjawabnya, padahal memulai salam itu sunnah sedangkan menjawabnya adalah fardhu.

Namun ada yang mengatakan bahwa imamah lebih uatam dibandingkan adzan dan iqomah, berdasarkan hadits :

() "Hendaklah salah seorang beradzan dan yang terbesar mengimami"

dan karena Nabi SAW dan para khulafa rosyidin setelahnya menekuni imamah bukan adzan, walaupun Nabi SAW beradzan dalam perjalanan sambil berkendaraan dan juga karena menegakkan sesuatu lebih utama dibandingkan menyerunya.

Orang-orang berbeda pendapat tentang hukum adzan dan iqomah. Ada yang mengatakan hukumnya adalah fardhu kifayah, karena keduanya termasuk syiar-syiar lahiriah dan meninggalkan keduanya merupakan perbuatan meremehkan agama dan penduduk negeri yang meninggalkannya harus diperangi. Menurut pendapat yang paling shohih keduanya sunah aini bagi munfarid dan kifayah bagi jamaah.

Berkata Al Qodhi Iyadh : Kalimat yang menggabungkan aqidah iman, mencakup pada kedua jenisnya, yaitu aqliah dan sam'iah. Yang pertama mengitsbatkan dzat Alloh dan kesempurnaan yang Dia miliki dengan ucapan الله أكبر, yaitu Alloh lebih besar dari segala sesuatu ([1]). Lalu kesaksian tentang keesaan Alloh dengan ucapan أشهد ان لا إله الا الله dan dengan risalah Muhammad dengan ucapanأشهد أن محمدا رسول الله , lalu ajakan menuju sholat dengan ucapan حى على الصلاة , yaitu sambutlah dan jangan bermalas-malasan, lalu seruan menuju kemenangan dengan ucapanحى على الفلاح  , termasuk sebab-sebab kemenangan yaitu sholat. Lalu mengulang ucapan takbir yang mengandung pengagungan kepada Alloh dan ditutup dengan kalimat tauhid, karena sumbu putarnya adalah pada kalimat tauhid.

Dasar disyariatkannya adzan adalah ijma yang didahului mimpi Abdullah bin Zaid.

() Dari Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih, ia berkata, tatkala Rasulullah saw. telah mengambil keputusan hendak memukul naqus(lonceng), namun sebenarnya beliau tidak suka karena menyerupai kaum Nashara, maka pada waktu tidur malam aku bemimpi ada yang mengelilingiku, seorang laki-laki mengenakan dua pakaian hijau memegang lonceng lalu aku bertanya kepadanya, "Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?" Jawabnya, "Apa yang akan kamu perbuat dengan lonceng ini?" Maka saya jawab, "Dengannya aku mengajak (orang-orang) untuk shalat (jama'ah)." Kemudian laki-laki itu bertanya, "Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada itu?" Saya jawab, "Ya, tentu" Kata laki-laki itu, "Ucapkanlah:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

حى على الصلاة حى على الصلاة

حى على الفلاح حى على الفلاح

الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله

Abdullah bin Zaid melanjutkan ceritanya: Kemudian ia mundur tidak seberapa jauh, lalu berkata lagi, "Kemudian apabila engkau akan memulai mendirikan shalat, ucapkanlah :

الله أكبر الله أكبر

أشهد ان لا إله الا الله

أشهد أن محمدا رسول الله

حى على الصلاة

حى على الفلاح

قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة

الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله

Kata Abdullah bin Zaid lagi: Tatkala (waktu) shubuh tiba saya datang kepada Rasulullah, lalu kukabarkan kepadanya mimpiku semalam itu. Kernudian Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya mimpi ini adalah benar, insya Allah." Lalu beliau menyuruh (kami) mengumandangkan adzan, maka Bilal bekas budak Abu Bakar mengumandangkan adzan dengan redaksi adzan itu. "

Bila ditanyakan : Mimpi tidak dapat menetapkan hukum, maka jawabnya : Bahwa itu bukan berdasarkan pada mimpi saja, tetapi turunnya wahyu bersesuaian dengan mimpi itu, sehingga hokum ditetapkan dengan wahyu bukan dengan mimpi. Hal itu dikuatkan dengan beberapa hadits, di antaranya :

() Riwayat Abdurrazzaq dalam Al Mushannafnya dan Abu Dawud dalam Al Marosilnya dari Ubaid bin Umair Al Laitsi, salah seorang tabi'in besar, bahwa Umar ketika bermimpi adzan dating untuk mengabari Nabi SAW, lalu ia dapati wahyu telah dating, maka sabda Nabi SAW, "Wahyu telah mendahuluimu".

() Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ibn Juraij dari Atho berkata, "Adzan itu adalah wahyu dari Alloh"

() Al Hakim meriwayatkan dari Sufyan bin Al Lail berkata : Ketika Al Hasan bin Ali masih hidup saya menemuinya di Madinah. Di sampingnya mereka menyebut-nyebut soal adzan. Maka sebagian dari kami berkata, "permulaan adzan adalahj dari mimpi Abdullah bin Zaid", Maka Al Hasan bin Ali berkata, "urusan adzan lebih agung daripara itu. Jibril telah mengumandangkan adzan di langit dua kali dua kali. Ia mengajarkannya kepada Rosululloh SAW. Kemudian ia membaca iqomah satu kali satu kali dan mengajarkannya kepada Rosululloh SAW".

            Hukumnya sunnah kifayah dan tercapai dengan dilakukan oleh sebagian orang seperti halnya memulai salam. Sedikitnya tercapai kesunahan adzan berkaitan dengan penduduk negeri adalah menyebar di suatu negeri, hingga bila negeri itu besar, maka di tiap-tiap sisi ada satu orang yang beradzan. Bila yang melakukan adzan pada satu sisi adalah satu orang saja, maka kesunahannya tidak tercapai kecuali hanya untuk penduduk di sisi itu, bukan di sisi yang lain. Sunnah kifayah berdasarkan sabda Rosululloh SAW, "Bila sholat telah dating, hendaklah salahs eorang dari kalian beradzan".

           

Tatswib

Imam Asy Syafi’i berkata :Adzan dan iqomah seperti yang diceritakan dari keluarga Abi Mahzuroh, karena siapa mengurangi sesuatu darinya atau memajukan yang diakhirkan, maka ia harus mengulangi hingga ia menunaikan yang kurang dan segala sesuatu berada di tempatnya. Muazzin awal dan terakhir sama dalam adzan. Aku tidak menyukai taswib pada sholat subuh dan lainnya, karena Abu Mahzuroh tidak menceritakan bahwa Nabi SAW memerintahkannya, sehingga aku membenci penambahan dalam adzan dan juga membenci taswib sesudahnya.

Fukaha Syafi'iyyah : Al Muzani berkata : Imam Asy Syafi’i berkata dalam qoul qodim untuk menambah adzan subuh dengan taswib, yaitu Ash Solatu Khirum Minan naum (الصلاة خير من النوم) dua kali, dan meriwayatkannya dari Bilal, muazzin Rosululloh SAW dan dari Ali bin Abi Tholib, tetapi Imam Asy Syafi’i memakruhkannya karena Abu Mahzuroh tidak menceritakannya dari Nabi SAW.

Berkata Al Mawardi : Tatswib artinya adalah ucapan muazzin Ash Solatu Khirum Minan naum (الصلاة خير من النوم) setelah حي على الفلاح . Asy Syafi'i berpendapat  dalam qoul qodimnya bahwa tatswib itu sunnah pada sholat subuh, sedangkan dalam qoul jadid bukan sunnah karena Abu Mahzuroh tidak menceritakan bahwa Nabi SAW memerintahkannya. Abdurrazzaq meriwayatkan darei Ibn Uyainah dari Mujahid : Saya pernah bersama Ibn Umar, lalu kami mendengar seseorang mengucapkan tatswib di dalam masjid, maka kata Ibn Umar, "Mari kita usir orang yang membuat bid'ah ini". Mazhab qodim lebih shohih, karena termasuk perkataan Asy Syafi'i adalah bahwa riwayat yang tsabit dari Rosululloh SAW merupakan hal yang pertama dijadikan acuan dan dijadikan pegangan. Riwayat tentang tatswib tsabit dari berbagai segi, di antaranya :

() Dari Abu Hurairoh berkata : Bilal datang kepada Nabi SAW untuk beradzan sholat subuh, lalu dikatakan bahwa beliau masih tidur, maka Bilal mengucapkan الصلاة خير من النوم. Bilal kembali beradzan dan menambah الصلاة خير من النوم dalam adzannya, maka bersabda Nabi SAW kepada Bilal, "Apa yang engkau tambahkan dalam adzanmu?", jawab Bilal, "Aku sangka engkau Wahai Rosululloh berat untuk melakukan sholat". Rosululloh SAW pun bersabda, "Tambahkan itu ke dalam adzanmu"

() Riwayat Ibrohim bin Ismail dari Abdullah bin Abu Mahzuroh dari kakeknya Abdul Malik bin Abu Mahzuroh bahwa Nabi SAW mengajarinya adzan, sabda beliau, "Engkau ucapkan الصلاة خير من النوم  dalam sholat fajar"

() Riwayat Suwaid bin Ghoflah berkata, "Bilal diperintahkan untuk mengucapkan tatswib dalam adzan subuh, dan tidak mengucapkan tatswib di sholat lain".

() Riwayat Abdurrahman bin Abu Laili dari Bilal bahwa ia berkata, "Rosululloh SAW memerintahkan aku untuk mengucapkan tatswib pada adzan subuh dan melarangku mengucapkan tatswib pada sholat lain"

            Berkata As Siroj Al Bulqini : Pendapat yang dinyatakan oleh Al Muzanni dari qoul qodim merupakan pendapat mutamad dalam beramal dan fatwa.

Telah berlalu kebiasan penduduik Makkah mengkhususkan tatswib pada adzan kedua untuk membedakan dengan adzan pertama.

            Dalam kalimat الصلاة خير من النوم  tidak ada persamaan antara sholat dan tidur, karena sholat merupakan ibadah sedangkan tidur adalah mubah, kecuali dinyatakan bahwa tidur kadang-kadang menjadi ibadah seperti bila tidur menjadi perantara memperoleh ketaatan atau meninggalkan maksiat, atau karena tidur merupakan kebahagiaan di dunia sedangkan sholat adalah kebahagiaan di akhirat, dan kebahagiaan di akhirat lebih utama. Atau dalam kalimat tersebut ada lafadz yang dibuang, yaitu :

اليقظة للصلاة خير من راحة النوم

(Bangun untuk sholat lebih baik daripada kebahagiaan tidur)

Sehingga perbandingan keutamaan antara bangun dan kebahagiaan, bukan antara sholat dan tidur.

 

Adzan subuh

            [] Dari Salim bin Abdillah bin Umar dari bapaknya bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya Bilal adzan di waktu malam, keran itu makan dan minumlah, hingga kalin mendengar adzan Ibn Ummi Maktum"

            [] Dari Salim bin Abdillah bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya bilal adzan di waktu malam, karena itu makan dan minumlah hingga Ibn Ummu Maktum adzan. Ibn Ummu Maktum adalah seorang lelaki buta yang tidak akan adzan sampai dikatakan kepadanya : Engkau telah masuk waktu Shubuh, engkau telah masuk waktu Shubuh.

Imam Asy Syafi’i berkata : Sunnah adzan subuh di waktu malam, supaya yang tidur terbangun, sehingga bergegas menghadiri sholat. Aku lebih suka bila muazzin beradzan sesudah fajar, namun bila ia tidak melakukannya, aku kira tak apa-apa meninggalkan itu, karena waktu adzan subuh adalah sebelum fajar pada masa Rosululloh SAW. Tidak beradzan untuk selain sholat subuh kecuali setelah datang waktunya, karena aku tidak tahu ada seseorang yang menceritakan dari Nabi SAW bahwa beliau beradzan untuk sholat sebelum waktunya selain fajar. Menurut kami muadzin beradzan untuk tiap-tiap sholat setelah masuk waktunya kecuali fajar.

Aku tidak suka adzan untuk sholat wajib ditinggalkan, baik dikerjakan sendirian atau bersama, juga tidak juga iqomah di masjid jami' baik besar atau kecil. Hendaklah seseorang tidak meninggalkan itu baik di rumah atau dalam safar.

Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan dua adzan untuk sholat subuh, satu sebelum fajar dan yang lain setelah fajar. Bila hanya ingin mencukupkan pada satu adzan, maka lebih utama setelah fajar. Juga disunnahkan dua adzan untuk sholat jumat, satu adzan setelah naiknya khotib ke mimbar dan adzan yang lain dilakukan sebelum itu. Ini dilakukan oleh Utsaman ketika orang-orang mulai banyak.

() Dalam Shohih Al Bukhori disebutkan : Adzan pada masa Rosululloh SAW, Abu Bakar dan Umar dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar, lalu ketika manusia semakin bahyak di masa utsaman, ia perintahkan mereka untuk adzan lain di zaura dan tetaplah hal ini.

Kesunnahannya adalah ketika ada kebutuhan, seperti tergantung pada kehadiran orang-orang karena adzan yang dilakukan oleh Utsman. Bila tak ada kebutuhan untuk melakukan adzan Utsman, maka tidak disunnahkan. Adzan yang dinyatakan sunnah adalah satu adzan, yaitu ketika naiknya khotib ke atas mimbar, sedangkan adzan kedua tak ada seorangpun yang menyatakan kesunnahannya, bahkan dinyatakan bahwa itu diadakan oleh Utsman. Setidak-tidaknya itu hanya mubah, bukan sunnah.

            Berkata Imam Asy Syafi'i : Atho' mengingkari bahwa Utsman yang mengadakannya, dan katanya : Muawiyahlah yang mengadakannya. Manapun di antara kedua adzan itu, hal yang dilakukan pada masa rosululloh SAW lebih aku sukai.

Dalam Fathul Jawad disebutkan : Disunnahkan pada sholat subuh saja ada dua adzan, sebelum fajar dan sesudahnya. Kata subuh saja menunjukkan bahwa tak ada sholat lain , baik sholat jumat atau lainnya. Dalam At Tuhfah bab jumat : Adapun adzan yang dilakukan sebelum itu di atas menara, maka Utsman yang mengadakannya, ada yang mengatakan Muawiyyah yang mengadakan, ketika manusia telahmenjadi banyak. Berdasarkan itu mencukupkan pada ittiba' lebih utama kecuali karena ada keperluan, seperti kehadiran orang-orang yang tergantung pada adzan yang diserukan dari menara-menara.

 

Syarat adzan dan iqomah

1. Setelah masuk waktu

Imam Asy Syafi'i berkata : Bila seseorang memulai adzan sebelum masuk waktu, lalu waktunya masuk, maka ia harus ulang, memulai adzan dari awal. Bila ia menyelsaikan sisa adzan, lalu kembali ke bagian yang telah berlalu sebelum waktunya, maka itu tidak mencukupi.

Fukaha Syafi'iyyah : Adzan harus dilakukan setelah masukanya waktu, selain sholat subuh, karena adzan merupakan pemberitahuan masuknya waktu. Tidak boleh dan tidak sah dilakukan sebelum waktunya.

Bila seseorang menerjang dan beradzan karena tak tahu masuknya waktu, ternyata tepat pada waktunya, maka itu mencukupi. Perbedaan antara adzan dengan  tayammum dan sholat yang tidak sah saat itu walaupun tepat pada waktunya adalah tayammum dan sholat tergantung pada niat, sedangkan adzan dan iqomah berbeda. Adapaun adzan untuk sholat subuh, maka sah dikerjakan sejak tengah malam. Iqomah tidak sah sebelum waktunya walaupun untuk sholat subuh.

() Rosululloh SAW bersabda, "Sungguh Bilal beradzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibn Ummu Maktum beradzan"

Hikmah adzan subuh sebelum waktunya adalah bahwa fajar masuk sedangkan orang-orang masih dalam keadaan junub dan tidur, sehingga diperbolehkan bahkan dianjurkan supaya mereka bergegas untuk mendapatkan keutamaan awal waktu.

 

2. Sinambung dan tertib

Imam Asy Syafi'i berkata : Adzan tidak sempurna hingga ditunaikan dengan sinambung dan setelah masuk waktunya kecuali dalam sholat subuh. Bila seseorang meninggalkan satu bagian adzan, maka ia harus kembali ke bagian yang ia tinggalkan dan meneruskan dari bagian yang ia tinggalkan. Selain itu tidak mencukupi. Demikian juga semua yang ia majukan atau akhirkan, maka ia harus menunaikan sesuai tempatnya. Bila ia ucapkan di awal adzan :

الله أكبر الله أكبر

lalu ia langsung ucapkan :

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

kemudian menyelesaikan adzan, maka ia harus mengulangi

الله أكبر الله أكبر

lalu mengucapkan dua kali : 

أشهد أن لا اله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

sampai ia menyelesaikan adzan.

            Bila ia mengucapkan takbir, lalu mengucapkan

حى على الصلاة حى على الصلاة

maka ia harus kembali ke tasyahhud, lalu mengulangi

حى على الصلاة حى على الصلاة

sampai ia menunaikan adzan seluruhnya, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Apa yang ia letakkan tidak pada tempatnya, harus ia ulangi pada tempatnya.

            Fukaha Syafi'iyyah : Tidak ada jeda antara-antara kalimat-kalimat adzan dengan diam lama atau percakapan yang lama, karena meninggalkan sinambung akan merusak makna pemberitahuan. Bila seseorang meninggalkan sinambung, maka batal adzannya, walaupun lupa. Tidak apa-apa ada jeda dengan diam dan bercakap sebentar dengan sengaja. Demikian juga tidur, pingsan atau gila sebentar, karena semua itu tidak merusak makna pembeitahuan. Disunnahkan memulai adzan dan iqomah dari awal karena tidur, pingsan dan gila sebentar. Adapun karena bercakap dan diam sebentar, disunnahkan memulai iqomah saja dari awal, karena dekatnya iqomah dengan sholat dan ditekannya iqomah tidak memberikan toleransi adanya jeda sama sekali, berbeda dengan adzan.

            Adzan dan iqomah harus dilakukan dengan tertib berdasarkan ittiba'. Bila seseorang membalik dengan mendahulukan bagian kedua dari bagian pertama, maka tidak sah, walaupun ia lupa. Dalam hal ini ia boleh meneruskan urutan adzan dan iaqomah dengan meneruskan ke bagian pertama yang diakhirkan dan melengkapi adzan dan iqomahnya, tetapi memulai dari awal lebih utama. Bolehnya meneruskan sekiranya jedanya tidak lama antara bagian pertama dan bagian yang diteruskan. Bila tidak, maka tidak boleh. Bila ia meninggalkan sebagian, maka ia tunaikan bagian yang tertinggal dengan mengulangi bagian sesudahnya.

 

3. Mengeraskan suara

            [] Dari Abdirrahman bin Abi Sho'sho'ah dari bapaknya bahwa Abu Said Al Khudri berkata kepadanya, "Aku lihat engkau menyukai kambing dan pedalaman, karena itu bila engkau berada di tengah kambingmu dan di pedalaman, maka serukan adzan untuk sholat, keraskan suaramu, karena suara kerasmu tidak terdengar oleh jin dan manusia kecuali bersaksi untukmu di hari qiyamat. Aku mendengarnya dari Rosululloh SAW".

Imam Asy Syafi’i berkata : Aku suka kerasnya suara muazzin. Anjuran untuk mengeraskan suara menunjukkan pada tartilnya adzan. Aku suka tartilnya adzan, jelas, tidak melagukan dan tidak terburu-buru. Aku suka dalam iqomah bertahap dan jelas.

Bagaimanapun cara adzan dan iqomah ditunaikan, itu sudah mencukupi, hanya saja ihtiyath seperti yang aku jelaskan.

 

Jumlah Muazzin

            Imam Asy Syafi’i berkata : Aku suka mencukupkan dua orang muazzin, karena sehafal kami ada dua orang yang beradzan untuk Rosululloh SAW, namun tidak apa-apa lebih adri dua. Bila hanya mencukupkan pada satu orang juga sudah mencukupi.

            Aku suka muazzin berazan setelah muazzin lain, tetapi tidak adzan dengan jamaah bersama-sama. Bila masjidnya besar, boleh mempunyai muazzin banyak, karena itu tidak mengapa ada seorang muazzin beradzan di tiap menara, sehingga orang yang di dekatnya mendengar pada satu waktu.

Fukaha Syafi'iyyah : Syarat mengeraskan suara disebutkan dalam hadits. Dalam Fathul Jawad dinyatakan : Karena itu tidak mencukupi memelankan suara adzan walaupun sebagian, selain tarji', karena hal itu akan menghilangkan makna pemberitahuan. Seyogyanya memperdengarkan semua kalimat kepada satu orang. Adapun sisanya cukup mereka mendengar secara potensi sekiranya mereka mendengarkan adzan, mereka akan mendengarnya. Hal ini dikaitkan dengan asal sunnah. Adapun kesempurnaan sunnah, maka tidak dapat tercapai kecuali dengan memdengarnya semua orang secara praktek. Ketentuan ini untuk selain hal yang menghasilkan syiar. Adapun untuk hal yang menghasilkan syiar, maka syaratnya adalah syiar tampak di suatu negeri sekiranya sampai pada semua penduduk neegri secara praktek. Cukup di desa kecil adzan ada di satu tempat dan di desa yang besar di beberapa tempat, yang sekiranya syiar tampak di sana. Bila seseorang adzan di satu sisi saja, maka kesunnahannya hanya dicapai di satu sisi saja, bukan sisi yang lain.

 

Sifat Muazzin

            Imam Asy Syafi’i berkata : Tidak beradzan kecuali orang yang adil dan tsiqoh karena karena penghormatan mereka pada aurat dan amanah mereka dalam waktu.

            Bila yang dimajukan dari antara muazzin dapat melihat masuknya waktu, aku tidak makruhkan orang buta bersamanya. Bila orang buta itu menjadi muazzin sendirian dan bersamanya ada orang yang memberitahukan waktu, maka aku tidak memakruhkannya. Bila tak ada seorangpun bersamanya, maka aku memakruhkannya, karena ia tidak bias melihat waktu.

            Aku tidak suka seseorang beradzan kecuali setelah mencapai baligh, namun bila muazzzin belum mencapai baligh, maka itu mencukupi. Siapa yang melakukan adzan, hamba, mukatab dan merdeka, itu mencukupi. Demikian juga orang yang ajam bila fasih dalam adzan dan mengetahui waktu. Aku lebih suka untuk semua ini muazzinnya merupakan orang-orang pilihan.

 

Perempuan beradzan

            Imam Asy Syafi'i berkata : Seorang perempuan tidak beradzan. Bila ia beradzan untuk para lelaki, maka adzannya tidak mencukupi mereka. Tidak ada adzan bagi wanita, walaupun mereka menjama' sholat. Bila mereka adzan lalu iqomah, maka tidak apa-apa. Seorang perempuan tidak mengeraskan suaranya, ia adzan untuk dirinya sendiri dan hanya didengar oleh teman-teman perempuannya bila ia beradzan. Demikian juga dengan iqomah bila ia iqomah. Bila ia meninggalkan iqomah, aku tidak memakruhkannya seperti halnya aku memakruhkan para lelaki meninggalkannya, walaupun aku suka ia beriqomah.

            Adzan seorang di rumah dan iqomahnya sama, seperti halnya ia tidak di rumah, baik ia mendengar para muazzin sekitarnya atau tidak. Aku tidak suka ia meninggalkan adzan dan juga iqomah. Bila ia masuk masjid ketika sholat telah selesai ditegakkan, maka aku suka ia beradzan dan iqomah untuk dirinya sendiri.

            Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan iqomah bagi perempuan, yaitu untuk dirinya sendiri dan perempuan lain, bukan untuk laki-laki atau banci. Tidak disunnahkan adzan bagi perempuan secara mutlak. Perbedaan antara adzan dan iqomah seperti yang disebutkan dalam syarh Al Minhaj adalah bahwa iqomah untuk meminta para hadirin bangkit, sehingga tidak perlua mengeraskan suara, sedangkan adzan untuk pemberitahuan orang-orang yang belum hadir sehingga perlua mengeraskan suara. Adzan untuk perempuan ditakutkan timbulnya fitnah karena mengeraskan suara. Bila perempuan melakukan iqomah untuk mereka saja, maka ia boleh mengeraskan suara sekedar bisa terdengar oleh mereka, dengan ketentuan di sana tak ada non mahram. Dalam Fathul Jawad dinyatakan : Perempuan beriqomah untuk para perempuan bila non mahram tidak mendengar. Bila perempuan beradzan untuk para perempuan dengan sekedar bisa didengar oleh mereka asa, maka tidak makruh. Dengan demikian adzan hanya boleh tidak makruh dan tidak pula disunnahkan. Bila perempuan beradzan untuk para perempuan dengan suara keras, maka haram. Batasan keharaman dinyatakan dalam syarh Ar Roudh, Al Mughni dan At Tuhfah adalah bila di sana ada orang lain yang bisa mendengar. Al Bujairimi menukil bahwa pendapat yang mutamad adalah haram, walaupun di sana tak ada orang lain yang bisa mendengar, karena mengeraskan suara termasuk taklif laki-laki, karena itu dalam hal mengeraskan suara perempuan akan menyerupai laki-laki, yang merupakan perbuatan haram.

 

Sunnah-sunnah dalam adzan

1. Berdiri menghadap qiblat

            Imam Asy Syafi’i berkata : Aku tidak suka muazzin melakukan bagian adzan kecuali menghadap qiblat, kedua telapak kaki dan wajahnya tidak berubah dari qiblat, karena menyeru untuk melakukan sholat, sedangkan dalam sholat orang-orang menghadap ke kiblat. Bila ia berubah dari qiblat dengan seluruh badannya atau memalingkan wajahnya seluruhnya atau hanya sebagiannya, maka aku memakruhkannya, namun tak ada kewajiban mengulangi.

            Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan menghadap qiblat, karena qiblat merupakan arah yang paling mulia dan menghadapnya telah dinukil baik oleh salaf maupun khalaf. Ibnu mundzir berkata sesuatu yang telah menjadi ijma' bahwa berdiri ketika adzan termasuk sunnah Nabi karena suara bisa lebih keras, dan termasuk sunnah juga ketika adzan menghadap ke arah kiblat, sebab para muadzin Rasullullah mengumandangkan adzan sambil menghadap kearah kiblat.

            Disunnahkan berdiri berdasarkan hadits :

() Rosululloh SAW bersabda, "Wahai Bilal, berdirilah dan lakukan adzan!"

karena itu makruh dilakukan dengan duduk.

 

2. Dalam keadaan suci

            Imam Asy Syafi'i berkata : Aku suka muazzin dalam keadaan suci untuk sholat. Bila ia beradzan dalam keadaan junub atau tidak berwudhu, maka aku memakruhkannya, namun ia tidak usah mengulang. Demikian juga aku perintahkan menghadap qiblat dalam iqomah dan dalam keadaan suci. Bila dalam kedua hal itu tidak dalam keadaan suci, maka aku memakruhkannya, lebih-lebih dalam iqomah, karena ia melakukan iqomah, lalu orang-orang melakukan sholat, tetapi ia malah berpaling dari mereka, sedikitnya ia akan dituduh meremehkan. Aku memakruhkan adzan dalam keadaan junub. Bila ia memulai adzan dalam keadaan suci, lalu batal, maka ia meneruskan adzannya dan tidak memutusnya, lalu bersuci setelah selesai. Bila ia memutusnya, lalu bersuci, kemudian kembali meneruskan adzannya, maka tidak ada apa-apa, tetapi bila ia memulai dari awal itu lebih aku sukai.

Fukaha Syafi'iyyah : Makruh adzan dan iqomah oleh orang yang berhadats, anak kecil dan orang fasiq. Kemakruha untuk orang junuh lebih berat. Tidak sah menunjuk orang fasiq karena ia tidak mempunyai amanah melakukan adzan dan iqomah pada waktunya.

() Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: "Tidak diperkenankan adzan kecuali orang yang telah berwudlu."

 

3. Tarji

Disunnahkan tarji'. An Nawawi dalam syarh Muslim : Tarji' ialah mengulangi bacaan syahadatain, dua kali pertama dengan suara pelan dan dua kali kedua dengan suara keras. Dalam Al Adzkar An Nawawi berkata : Tarji' menurut kami sunnah, yaitu bila seseorang mengucapkan dengan suara keras :

الله أكبر الله أكبر

الله أكبر الله أكبر

maka ia ucapkan dengan pelan sekiranya bisa didengar sendiri atau orang di dekatnya :

أشهد أن لا اله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

lalu kembali dengan keras keras ia ucapkan :

أشهد أن لا اله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

Para ulama berbeda pendapat dalam hal yang disebut tarji', apakah mengucapkan dengan pelan, mengucapkan denga keras atau keduanya bersama-sama. Ada yang mengatakan pendapat pertama seperti An Nawawi. Dalil disunnahkan tarji' adalah hadits Rosululloh SAW.

() Dalam Shohih Muslim dari Abu Mahdzurah r.a. bahwa Rasulullah pernah rnengajarinya adzan ini:

الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا اله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

Kemudian beliau mengulangi dengan mengucapkan (lagi):

أشهد أن لا اله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله

أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله

حى على الصلاة حى على الصلاة

حى على الفلاح حى على الفلاح

الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله

 

4. Memasukkan dua jari ke dalam telinga

Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam kedua telinga dalam adzan, bukan iqomah, karena hal itu akan lebih membuat suara keras. Bila jari telunjuk terganggu, maka dengan jari lain, karena adanya kesamaan alasan untuk mengeraskan suara.

() Berkata Abu Juhaifah: Saya melihat Bilal adzan dan berputar serta mengarahkan mulut ke sini dan ke sini, sedangkan dua jarinya berada ditelinganya."

 

5. Memalingkan wajah

Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan memalingkan wajah, bukan dada, ke kanan sekali pada kalimat :

حى على الصلاة حى على الصلاة

lalu kembali menghadap ke qiblat, kemudian ke kiri pada kalimat :

حى على الصلاة حى على الصلاة

lalu kembali ke qiblat. Hal ini disunnahkan karena Bilal melakukannya. Dikhususkan pada kalimat Hai'alatain, karena kedua kalimat tersebut merupakan pembicaraan yang ditujukan kepada orang lain.

() Menurut Riwayat Abu Dawud: Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ketika sampai pada ucapan "hayya 'alash sholaah", dan dia tidak memutar tubuhnya. Asal hadits tersebut dari Bukhari-Muslim.

           

Berbicara dalam adzan

            Imam Asy Syafi’i berkata : Aku suka muazzin tidak berbicara hingga ia menyelesaikan adzan. Bila ia berbicara saat adzan, maka ia tidak harus mengulangi bagian sebelum ia bicara.

            Apa yang aku makruhkan berupa berbicara dalam adzan, juga aku makruhkan dalam iqomah. Bila ia berbicara dalam iqomah, ia tidak harus mengulangi.

            Bila seseorang beradzan sebagian, lalu tidur atau akalnya terganggu, kemudian bangun atau akalnya kembali normal, maka aku suka ia memulai dari awal. Bila ia tidak lakukan itu, maka ia boleh meneruskan adzannya. Demikian juga beradzan sebagian, lalu hilang akalnya, kemudian kembali, maka aku suka ia memulai dari awal, namun bila ia meneruskan adzannya, maka itu sah.

            [] Dari Abdullah bin Umar berkata : Rosululloh SAW memerintahkan muazzin saat malam dingin berangin untuk berseru, "Ingat, sholatlah di tempat tinggal kalian"

Imam Asy Syafi’i berkata : Aku suka imam memerintahkan ini bila muazzin selesai adzan, namun bila ia mengatakan itu di dalam adzan, maka tidak apa-apa. Bila ia mengatakan sesuatu yang serupa dengan ini setelah adzan selesai untuk manfaat orang banyak, maka tidak apa-apa. Aku tidak suka perkataan dalam adzan yang tidak bermanfaat untuk orang banyak, namun bila ia mengatakannya, ia tidak harus mengulangi adzan. Demikian bila ia mengatakan dalam iqomah, maka aku memakruhkannya, tetapi ia tidak harus mengulangi iqomahnya.

 

Adzan dan iqomah dilakukan oleh orang berbeda

            Imam Asy Syafi’i berkata : Bila seseorang beradzan, aku suka ia meneruskan iqomah juga, berdasarkan hadits yang diriwayatkan :

            [] Barang siapa beradzan, maka ia juga iqomah.

 

Adzan dan Iqomah untuk beberapa sholat

[] Dari Jabir bin Abdullah dalam haji islam berkata : Nabi SAW pergi ke suatu tempat di Arafah, lalu berkhutbah pertama, lalu Bilal beradzan, lalu Nabi SAW berkhutbah kedua, lalu Nabi SAW selesai berkhutbah dan Bilal selesai adzan, kemudian Bilal iqomah dan sholat dzuhur, lalu iqomah lagi dan sholat asar.

[] Dari Abi Said Al Khudri berkata : Kami terhalang dari sholat pada hari Khandaq sampai sesaat dari waktu malam setelah terbenam, hingga kami dihindarkan dari perang, dengan ayat 'Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa', lalu Rosululloh SAW memanggil Bilal dan memerintahkannya iqomah untuk dzuhur, lalu mengerjakan sholat dan membaguskan sholatnya seperti dikerjakan pada waktunya, terus iqomah untuk asar lalu mengerjakan sholat seperti itu juga, lalu iqomah untuk magrib, lalu mengerjakannya seperti itu juga, kemudian iqomah untuk isya dan mengerjakan seperti itu juga.

Imam Asy Syafi’i berkata : Ayat itu turun sebelum Alloh menurunkan ayat tentang sholat khouf, yaitu 'Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui'.

Dengan hadits inilah kami berpegang. Di dalamnya ada dalil bahwa semua orang yang menjama' antara dua sholat di waktu yang pertama, maka ia iqomah untuk tiap-tiap sholat, adzan pada waktu pertama dan di waktu yang terakhir iqomah tanpa adzan. Demikian juga semua sholat yang dikerjakan tidak pada waktunya.

Dalam hal muazzin tidak adzan ketika menjama' di Muzdalifah dan Khandaq ada dalil bahwa bila seseorang sholat tidak mencukupi kecuali dengan adzan, maka Nabi SAW tidak akan meninggalkan adzan, padahal itu memungkinkan.

[] Bersabda Nabi SAW dalam hal sholat, "Maka apa yang kalian dapatkan, maka kerjakan sholat dan apa yang terluput, maka gantilah"

Siapa yang mendapatkan akhir sholat, maka ia telah luput menyaksikan adzan dan iqomah dan ia tidak beradzan untuk diri sendiri dan juga tidak iqomah. Aku tidak tahu ada yang menyelisihi bahwa bila seseorang dating ke masjid ketika Imam telah selesai sholat, maka ia mengejakan sholat tanpa adzan dan juga tanpa iqomah. Bila seseorang meninggalkan adzan dan iqomah dalam sholat sendirian atau jamaah, maka aku memakruhkannya, tetapi tak ada kewajiban mengulangi sholat yang dikerjakan tanpa adzan dan tanpa iqomah. Demikian juga sholat yang dikerjakan dengan jama' atau terpisah.

Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan adzan pada sholat yang pertama dari sholat-sholat yang sinambung, seperti beberapa sholat yang terlewat, sholat-sholat jama dan sholat yang terlewat dan sholat sekarang (empunya waktu) yang masuk waktu sebelum dilakuka adzan. Bila jeda antara masing-masing sholat lama, maka adzan untuk masing-masing. Apakah sunnah-sunnah rowatib membatalkan kesinambungan? Berdasarkan perkataan Ibn Hajar bahwa jeda denagn rowatib tidak apa-apa, karena rowatib itu sunnah. Dalam hal sholat yang terlewat dan sholat sekarang, baik sholat yang terlewat mendahului sholat sekarang atau sebaliknya, maka cukup dengan satu adzan dengan ketentuan, yaitu sinambung dan adzan dilakukan setelah masuknya waktu sholat sekarang. Bila bersinambung antara sholat yang terlewat dan sholat sekarang, maka adzan dilakukan pada sholat yang pertama, kecuali mendahulukan yang terlewat, lalu setelah adzan untuk sholat yang terlewat masuklah waktu sholat sekarang, maka adzan juga untuk sholat sekarang. Untuk semua hal di atas iqomah dilakuka untuk masing-masing sholat.

() Dari Ibnu Mas'ud ra ia berkata, "Sesungguhnya kaum musyrikin pernah membuat sibuk Rasulullah SAW dan empat shalat ketika perang Khandaq hingga sebagian malam berlalu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Beliau menyuruh Bilal (adzan), lalu ia adzan kemudian iqamah, lantas Beliau sholat dzuhur kemudian iqamah lalu shalat asarr kemudian iqomah, lalu sholat magrib, kemudian iqomah lantas sholat isya."

() Dari Jabir bahwa Nabi SAW menjama antara magrib dan isya di Muzdalifah dengan satu adzan dan dua iqomah.

 

Cukup dengan adzan dan iqomah orang lain

            [] Dari Umar bin Khottob berkata : Nabi SAW mendengar seseorang beradzan untuk magrib, lalu Nabi SAW mengucapkan apa yang diucapkannya, lalu Nabi SAW sampai ke orang itu dan sholat akan didirikan, maka kata Nabi SAW, "turun dan sholatlah", maka beliau sholat magrib dengan iqomah dari hamba itu.

            Imam Asy Syafi’i berkata : Hadits inilah yang kami ambil. Kami katakan : Seseorang yang sholat dengan adzan orang lain, ia tidak harus adzan. Dengan adzan dan iqomah orang lain, baik orang pedalaman, hitam, hamba atau tidak faqih, bila ia telah melakukan adzan dan iqomah. Aku suka para muazzin merupakan orang-orang terbaik, karena penghormatan mereka pada aurat dan amanah mereka dalam waktu.

[] Dari Al Hasan bahwa Nabi SAW bersabda, "Para muazzin adalah pemegang amanah kaum muslimin untuk sholat mereka.

[] Dari Abu Hurairoh bahwa Nabi SAW bersabda, "Para imam adalah orang-orang yang menjamin, sedangkan para muazzin adalah para pemegang amanah, maka Alloh memberi petunjuk kepada para imam dan mengampuni para muazzin.

 

Menirukan ucapan muazzin

            [] Dari Abu Said Al Khudri bahwa Rosululloh Saw bersabda, "Bila kalian mendengar seruan adzan, maka ucapkan seperti apa yang diucapkan muazzin"

            [] Dari Ibn Syihab bahwa ia mendengar Muawiyyah berkata : Aku mendengar Rosululloh Saw bila muazzin mengucapkan : Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Alloh, beliau mengucapkan : Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Alloh, dan bila mengucapkan : Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, beliau mengucapkan, "Dan aku juga bersaksi", lalu diam.

            [] Dari Abdillah bin Alqomah bin Waqqosh berkata : Akuada di samping Muawiyyah ketika muazzin beradzan, lalu Muawiyyah mengucapkan seperti yang diucapkan muazzin, hingga ketika muazzin mengucapkan :

حى على الصلاة

ia mengucapkan :

لا حول ولا قوة إلا بالله

Dan ketika muazzin mengucapkan :

حى على الفلاح

Muawiyyah mengucapkan :

لا حول ولا قوة إلا بالله

Setelah itu ia mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazzin, lalu berkata, "Aku dengar Rosululloh SAW mengucapkan seperti itu".

            Imam Asy Syafi’i berkata : Kami berpendapat berdasarkan hadits Muawiyyah dan itu sesuai dengan hadits Abu Said Al Khudri, tetapi di dalamnya ada tafsir yang tidak terdapat di hadits Abu Said Al Khudri.

            Maka disukai bagi tiap orang yang yang di luar sholat, baik ia sedang membaca, berdzikir atau diam, untuk mengucapkan seperti yang diucapkan muazzin. Dan pada kalimat :

حى على الصلاة

dan :

حى على الفلاح

ia ucapkan :

لا حول ولا قوة إلا بالله

 

Namun bila ia sedang mengerjakan sholat wajib atau sunnah, maka aku lebih sukai meneruskannya dan aku suka bila selesai sholat, ia mengucapkan seperti yang aku perintahkan kepada orang yang di luar sholat. Bila seseorang yang sholat mengucapkannya, maka itu tidak merusak sholat, namun sebagai pilihan ia tidak mengucapkannya.

            Fukaha Syafi'iyyah : Disunnahkan bagi yang mendengar adzan dan iqomah untuk menirukan walaupun dalam kondisi tidak berwudhu, haidh dan junub, berdasarkan :

() Hadits Thabrani, bersabda Rosululloh SAW, "Bila seseorang perempuan menirukan adzan atau iqomah, maka baginya tiap huruf 1000.000 derajat dan bagi laki-laki dilipatgandakan"

() Hadits Muslim, Rosululloh SAW bersanda, "bila kalian mendengar muezzin, maka ucapkan seperti apa yang dia ucapkan, lalu bersholawatlah kepadaku"

            Dari sabda beliau 'ucapkan' berarti ucapan dilakukan tiap kalimat setelah selesai dari tiap kalimat itu, dan dari sabda 'seperti apa yang ia ucapkan' bukan 'seperti apa yang kalian dengar' berarti menjawab tarji' juga walaupun tidak emndengarnya.

Dalam Al Ubab dinyatakan : Bila seorang hanafi mengucapkan iqomah dua kali dua kali maka juga dijawab dua kali dua kali. Dalam syarhnya dinyatakan : karena dialah yang melakukan iqomah, sehingga urusan berporos pada apa yang dia lakukan.

            Dalam Al Kurdi dinyatakan : Mengucapkan segera setelah selesainya tiap kalimat lebih utama. Bila seseorang diam hingga selesai seluruh adzan, lalu ia menjawabnya sebelum jeda lama menurut urfi, maka cukup dalam hal kesunnahan menjawab.

            Bila seseorang hanya mendengar sebagian, maka ia disunnahkan menjawab yang ia dengar dan juga yang tidak didengar, baik yang ia dengar dari awal atau akhir. Dalam Al Imdad dinyatakan : dengan dimulai dari awal walaupun yang ia dengar bagian akhir.

            Bila para muazzin berturut-turut melakukan adzan setelah adzan yang lain, maka dijawab semuanya, walaupun setelah sholat. Makruh meninggalkan jawaban untuk adzan pertama. Al Izz bin Abdissalam berkata : Sesungguhnya menjawab adzan pertama lebih utama kecuali dua adzan subuh, sehingga tak ada yang lebih utama dalam kedua adzan itu, karena majunya adzan yang pertama dan terjadinya adzan kedua di waktunya, dan kecuali dua adzan jumat, karena majunya yang pertama dan disyariatkannya yang kedua di masa Rosululloh SAW.

            Bila mereka beradzan berturut-turut, maka cukup satu kali jawaban. Demikian dinyatakan dalam Fathul Jawad. Dalam An Nihayah dinyatakan : Bila para muazzin beradzan dan suara-suara mereka terdengar bercampur, satu suara mendahului suara lain, maka tidak disunnahkan menjawab mereka, namun yang difatwakan oleh Asy Syaikh Izzuddin adalah disunnahkan menjawab mereka, yaitu satu kali jawaban. Al Mawardi berkata : Bila pendengar sedang membaca, berdzikir atau berdoa, maka disunnahkan menjawab adzan dan memutus apa yang sedang dikerjakan. Bila orang yang sholat sedang membaca Al Fatihah, lalu ia menjawab adzan, maka itu memutus kesinambungan Al Fatihah dan wajib memulai lagi dari awal membaca Al Fatihah. Bila ia mendengar muazzin ketika sedang berthowaf, maka ia jawab dalam thowafnya.

            Berkata Al Quthb Asy Sya'roni dalam Al Uhud Al Muhammadiyyah : Berlaku perjanjian umum dari Rosululloh SAW atas kita untuk menjawab muazzin sesuai denga apa yang diperintahkan oleh Sunnah dan tidak melalaikannya sama sekali dengan percakapan sia-sia dan tidak juga dengan lainnya sebagai adab kepada Rosululloh SAW, karena untuk tiap sunnah ada waktu tertentu, sehingga untuk menjawab muazzin ada waktunya, untuk ilmu ada waktunya, untuk tasbih ada waktunya, dan untuk membaca Al Quran ada waktunya, sebagaimana tidak boleh bagi seorang hamba menggantikan posisi Al Fatihah dengan istighfar, tidak juga posisi ruku dan sujud dengan membaca, tidak juga tasyahhud dengan lainnya. Demikian seterusnya, fahamilah. Perjanjian ini tidak ditunaikan oleh kebanyakan penuntut ilmu, apalagi selain mereka, sehingga mereka meninggalkan jawaban muezzin, bahkan sering mereka meninggalkan sholat berjamaah hingga orang-orang selesai dari sholat jamaah ketika mereka masih mempelajari ilmu nahwu, ushul atau fiqih dan mereka berkata : Ilmu didahulukan secara mutlak, padahal bukan demikian, karena dalam hal ini ada perincian. Tidaklah tiap ilmu didahulukan saat itu atas sholat jamaah sebagaimana hal itu telah dimengerti oleh tiap orang yang telah mencium aroma tingkatan-tingkatan perintah syariat. Adalah Ali Al Khowwash bila mendengar muazzin mengucapkan حي على الصلاة, maka bergetarlah dan hampir meleleh karena keagungan Alloj dan menjawab muazzin dengan sepenuh hati dan kekhusyukan yang sempurna.

           

           

 



[1]           Makna yang benar adalah Alloh lebih besar dari apa yang kita pikirkan, kita bayangkan dan kita tahu, karena Alloh tidak bisa dibandingkan dengan makhluknya.