SHOLAT JAMAAH

 

Imam Asy Syafi段 berkata : Alloh menyebutkan adzan untuk sholat, firman-Nya 'Bila kalian menyeru untuk mengerjakan sholat, mereka menjadikannya ejekan dan permainan' dan 'Bila diseur untuk sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Alloh dan tinggalkan jual beli'.

Alloh mewajibkan mendatangi Jumat dan Rosululloh memerintahkan adzan untuk sholat-sholat wajib, maka kemungkinan diwajibkan mendatangi sholat jamaah pada selain sholat jumat, sebagaimana diperintahkan mendatangi sholat jumat dan meninggalkan jual beli, dan kemungkinan juga diserukan adzan supaya sholat ditunaikan pada waktunya. Sungguh Rosululloh SAW telah menjama dalam keadaan musafir dan mukim, baik takut atau tidak takut, dan Alloh berfirman 'Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu'.

Rosululloh SAW memerintahkan orang yang mendatangi sholat untuk mendatanginya dengan tenag dan memberikan rukhshoh untuk meninggalkan jamaah karena ada halangan.

[] Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Demi Zat yang diriku berada dalam genggamanNya (di bawah kekuasaan-Nya). Sungguh aku bermaksud untuk memerintahkan mengumpulkan kayu bakar dan aku memerintahkan untuk shalat lalu diazani shalat, kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami manusia dan aku mendatangi rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat jamaah, lalu aku bakar rumah mereka. Demi Zat yang diriku berada dalam genggamanNya, seandainya seseorang mengetahui bahwa dia mendapat tulang yang gemuk (banyak dagingnya) atau mendapat dua paha kambing yang baik, niscaya ia menyaksikan (ikut berjamaah) isya."

[] Dari Abdurrahman bin Harmalah bahwa rosululloh SAW bersabda, "Perbedaan antara kita dan kaum munafik adalah dalam hal menyaksikan (ikut berjamaah) isya dan subuh. Mereka tidak mampu menyaksikan keduanya.

Imam Asy Syafi段 berkata : Diserupakan apa yang Rosululloh sabdakan berupa maksud untuk membakar rumah-rumah mereka dengan sabda beliau berkaitan dengan kaum yang ketinggalan sholat isya karena nifaq. Karena itu aku tidak memberikan rukhshoh bagi orang yang mampu sholat jamaah untuk meninggalkannya kecuali karena ada halangan. Namun bila salah seorang ketinggalan, lalu ia kerjakan sendirian, maka tidak wajib mengulanginya.

Tiap sholat jamaah yang dikerjakan seseorang di rumahnya atau di masjid kecil, baik jamaahnya sedikit atau banyak, maka mencukupi. Masjid besar dan sekiranya banyak jamaahnya lebih aku sukai. Bila seseorang mempunyai masji yang biasa digunakan untuk jamaah, lalu sholat di dalmnya terlewat, kemudian ia mendatangi masjid jamaah lain, maka itu lebih aku sukai, tetapi bila ia tidak mendatanginya dan sholat di masjid sendirian, maka itu baik. Bila masjid mempunyai imam teratur, lalu sholat terlewat bagi seorang atau banyak orang, maka mereka sholat sendiri-sendiri dan aku tidak suka mereka sholat jamaah di dalamnya. Bila mereka melakukannya, maka jamaah itu mencukupi mereka. Aku memaksruhkan itu bagi mereka hanyalah karena tidak dilakukan oleh salaf sebelum kita, bahkan sebagian mereka mencelanya.

 

Keutamaan Jamaah

[] Dari Ibn Umar bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Sholat jamaah melebihi sholat sendirian dengan 27 derajat"

[] Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Sholat jamaah lebih utama dari sholat sendiran dengan 25 bagian"

Imam Asy Syafi段 berkata : Tiga orang atau lebih bila salah seorang mengimami mereka, maka itu jamaah. Aku harap bila ada dua orang, maka salah satunya mengimami yang lain dan aku tidak suka salah seorang meninggalkan jamaah, walaupun ia sholat dengan istrinya, budak lelakinya, budak perempuannya atau sebagian anaknya di rumah.

 

 

 

Hal yang menghalangi aku mengatakan : sholat seseorang tidak boleh dilakukan sendirian ketika ia mampu berjamaah adalah karena Nabi SAW mengutamakan sholat jamaah di atas sholat sendirian dan tidak mengatakan sholat sendirian tidak mencukupi.

Sholat jamaah hanyalah orang-orang yang mengerjakan sholat mengikuti seseorang. Bila salah satu mengikuti seseorang, maka itu adalah sholat jamaah. Tiap kali jamaah bertambah dengan imam, maka itu lebih aku sukai dan lebih dekat pada keutamaan.

 

Halangan jamaah

[] Dari Ibn Umar bahwa ia beradzan di malam yang dingin dan berangin, lalu ia katakan : Ingatlah, sholatlah kalian di tempat tinggal kalian, kemudian ia berkata : Sungguh Rosululloh SAW memerintahkan muazzin bila malam dingin dan hujan untuk berseru : Ingatlah, sholatlah kalian di tempat tinggal kalian

[] Dari Ibn Umar bahwa Rosululloh SAW memerintahkan muazzinnya pada malam hujan dan malam dingin berangin untuk berseru : Ingatlah, sholatlah kalian di tempat tinggal kalian.

[] Dari Abdillah bin Al Arqom bahwa ia suatu hari mengimami para sahabatnya, lalu ia pergi untuk buang air, lalu kembali, katanya : Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang dari kalian merasakan ingin buang air, maka dahulukanlah buang air sebelum sholat"

 

Sholat dengan pemegang otoritas

[] Dari Sahl bin Saad bahwa Rosululloh SAW pergi ke Bani Amr bin Auf untuk mendamaikan di antara mereka dan datanglah waktu sholat, maka datang muazzin kepada Abu Bakar, katanya, "Apakah engkau akan sholat dengan orang-orang?, jawab, "Ya". Maka sholatlah Abu Bakar, lalu datang Rosululloh SAW ketika orang-orang sedang sholat, maka beliau berdiri di shaf, orang-orang pun bertepuk tangan, tetapi Abu Bakar tidak menoleh dalam sholatnya. Ketika semakin banyak orang yang bertepuk tangan, ia lihat Rosululloh SAW, maka Rosululloh SAW berisyarat kepada Abu Bakar untuk tetap ditempatnya, lalu Abu Bakar mengangkat kedua tangannya, bertahmid karena apa yang Rosululloh SAW perintahkan, lalu Abu Bakar mundur dan Rosululloh SAW maju sholat dengan orang-orang. Ketika selesai, beliau bersabda, "Wahai Abu Bakar, apa yang mencegahmu tetap ketika aku memerintahkanmu?, maka jawab Abu Bakar, "Tidak pantas bagi Ibn Abi Quhafah sholat di hadapan Rosululloh SAW", lalu Rosululloh SAW bersada, "Mengapa aku lihat kalian memperbanyak bertepuk tangan. Barang siapa dalam sholatnya terjadi sesuatu, maka bertasbihlah. Tepuk tangan hanyalah untuk perempuan"

Imam Asy Syafi段 berkata ; Mencukupi bagi seorang laki-laki memajukan laki-laki lain, atau ia maju, lalu sholat dengan suatu kaum tanpa perintah pemegang otoritas sholat, sholat apapun itu berupa sholat jumat, wajib, atau sunnah, bila tak ada pemegang otoritas di negeri itu. Demikian pula bila pemegang otoritas itu sibuk, sakit, tidur atau terlambat sholat, karena Rosululloh SAW sungguh-sungguh telah pergi untuk mendamaikan antara Bani Amr bin Auf, lalu datang muazzin kepada Abu Bakar, maka ia maju untuk sholat.

[] Rosululloh SAW pergi dalam perang Tabuk untuk buang air, lalu Abdurrahman bin Auf maju sholat dengan mereka satu rokaat subuh dan Rosululloh SAW datang mendapatkan rokaat kedua bersamanya, maka beliau sholat di belakang Abdurrahamn bin Auf, lalu mengganti rokaat yang terlewat. Orang-orang pun terkejut karena itu, maka Rosululloh SAW bersabda, "Sungguh kalian telah berbuat baik", menginginkan mereka sholat pada waktunya, yakni awal waktu.

Imam Asy Syafi段 berkata : Aku suka pada semua ini bila imam itu dekat. Aku suka imam mewakilkan kepada orang untuk sholat dengan orang-orang bila ia terlambat sholat, baik semua ini terjadi pada zaman fitnah atau tidak. Kecuali bila mereka takut kepada penguasa, maka aku suka mereka menyegerakan perintah penguasa sampai mereka takut hilangnya waktu. Bila mereka takut hilangnya waktu, maka tak ada keleluasaan bagi mereka kecuali sholat dengan jamaah atau sendiri-sendiri, baik dalam hal ini adalah jumah, hari raya atau lainnya. Sungguh Ali telah sholat dengan orang-orag ketika Utsman dikepung.

Bila pemegang otoritas masuk ke suatu negeri yang ia kuasai, maka pemegang otoritas lebih berhak untuk menjadi imam.

Tidak boleh seseorang maju atas penguasa dalam daerah kekuasaanya untuk sholat wajib dan sunnah, tidak pula hari raya. Diriwayatkan bahwa penguasa lebih berhak untuk sholat di daerah kekuasaanya. Bila penguasa memajukan orang lain, maka tidak apa-apa dan pada saat ini ia mengimami hanyalah dengan perintah pemegang otoritas.

Bila khalifah masuk ke suatu negeri dan di negeri itu ada pemegang otoritas lain, maka khalifah lebih berhak untuk sholat, karena pemegang otoritas negeri itu mempunyai otoritas karena khalifah. Demikian pula khalifah masuk ke suatu negeri yang dikuasai seseorang, maka khalifah lebih berhak. Bila tak ada khalifah, maka pemegang otoritas suatu negeri lebih berhak untuk sholat.

[] Dari Ibn Masud berkata : termasuk sunnnah tidak mengimami orang-orang kecuali pemilik rumah.

[] Diriwayatkan bahwa segolongan sahabat Nabi Saw ada di rumah salah seorang dari mereka, lalu sholat datang, maka pemilik rumah memajukan salahs eorang di antara mereka, maka katanya, "Majulah, karena engkau lebih berhak menjadi imam di tempat tinggalmu", maka ia pun maju.

Imam Asy Syafi段 berkata : Aku memakruhkan seseorang yang tidak mempunyai kekuasaan mengimami seseorang di tempat tinggalnya, kecuali orang itu memberikan izin. Bila ia mengizinkan, maka ia mengimami hanyalah karena perintahnya, maka tidak apa-apa. Aku hanya memakruhkan ia mengimami tanpa peritahnya. Adapun karena perintahnya, maka itu berarti ia meinggalkan haknya untuk menjadi imam.

Tidak boleh bagi orang yang mempunyai kekuasaan dan tidak juga bagi pemilik tempat tinggal mengimami hingga ia mampu membaca dengan baik apa yang mencukupi sholatnya. Bila ia tidak mampu membaca apa yang mencukupi sholatnya, maka tidak boleh mengimami. Bila ia mengimami, maka sholatnya sempurna, tetapi sholat orang yang ada di belakangnya yang mampu membaca dengan baik itu rusak. Demikianlah bila penguasa atau pemilik tempat tinggal termausk orang yang tidak mampau membaca dengan baik, maka sholat tidak mencukupi orang yang bermakmum dengannya.

Bila seseorang maju atas orang yang mempunyai kekuasaan dan yang mempunyai rumah di dalam rumahnya, tanpa izin dari salah satunya, maka aku memakruhkannya, tetapi tak wajib mengulangi baginya dan bagi orang yang sholat di belakangnya, karena perbuatan untuk maju bila itu salah, maka sholat itu sendiri telah tertunaikan.

Sama saja keimamahan seseorang di rumahnya, hamba dan merdeka, kecuali majikannya ada, maka rumah itu adalah rumah majikannya dan ia lebih berhak untuk menjadi imam.

Bila penguasa ada di rumah seseorang, maka penguasa itu lebih berhak untuk menjadi imam, karena rumahnya itu dari penguasa. Bila ada kota yang mempunyai masjid jami' tanpa ada penguasa, maka mana saja ahli fiqih dan Al Quran mengimami mereka, maka tidak aku makruhkan.

 

Kedudukan yang sama

[] Dari Malik bin Al Huwairits berkata : rosululloh SAW bersabda kepada kami, "Sholatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku sholat. Bila waktu sholat telah datang, hendaklah salah seorang dari kalian beradzan dan yang tertua mengimami"

Imam Asy Syafi段 berkata : Mereka adalah kaum yang datang bersama-sama, maka qiroah dan fiqih mereka dianggap sama, sehingga mereka diperintahkan untuk diimami oleh orang yang tertua. Berdasarkan itulah kami perintah mereka dan ini yang kami pergang. Kami perintahkan suatu kaum yang berkumpul di suatu tempat yang tak ada pemegang otoritasnya dan bukan di tempat tinggal dari salah seorang, untuk mendahulukan orang yang paling pandai dalam qiroah, paling faham fiqih dab paling tua umurnya. Bila semua itu tidak berkumpul pada salah seorang, lalu mereka mendahulukan orang yang paling faham fiqih yang dapat membaca Al Quran, sehingga ia membaca sesuatu yang mencukupi sholatnya, maka itu baik. Bila mereka mendahulukan orang yang paling pandai membaca dan yang mengetahui bagian fiqih yang wajib dalam sholat, maka itu baik. Mereka boleh mendahulukan keduanya atas orang yang paling tua umurnya. Dikatakan orang yang paling pandai dalam qiroah mengimami mereka hanyalah bahwa para imam yang telah lalu berislam ketika mereka besar, lalu mereka belajar fiqih sebelum mereka dapat membaca Al Quran, sedangkan generasi setelah mereka orang-orang yang mampu membaca Al Quran ketika masih kecil sebelum mereka belajar fiqih, maka orang yang faham fiqih dan mampu membaca sesuatu dari Al Quran lebih berhak untuk menjadi imam, karena kadang-kadang terjadi dalam sholat sesuatu yang diketahui bagaimana memecahkannya berdasarkan fiqih, tetapi tidak diketahui oleh orang yangtidak faham fiqih. Bila mereka sama dalam fiqih dan qiroah, maka yang paling tua umurnya mengimami mereka. Nabi SAW memerintahkan orang yang paling tua untuk mengimami mereka berdasarkan pandanganku bahwa mereka serupa dalam qiroah dan ilmunya, sehingga beliau perintahkan orang yang paling tua untuk mengimami mereka.

Bila di antara mereka ada yang bernasab, lalu mereka mendahulukan orang yang tidak bernasab, maka itu mencukupi mereka.

[] Rosululloh SAW bersabda, "Dahulukan Quraisy dan jangan kalian dahului mereka.

Aku suka mendahulukan orang yang hadir dari mereka karena mengikuti Rosululloh SAW.

[] Dari Ibn Juraij berkata : Aku bertanya kepada Atho', "Suatu kamum berkumpul di dalam safar, ada quraisy, arab, maula, hamba dan orang arab badui, manakah di antara mereka yang mengimami sahabat-sahabatnya?", jawab : "Orang yang mengimami mereka adalah orang yang paling faham fiqih. Bila mereka sama dalam fiqih, maka yang paling pandai qiroah. Bila mereka sama dalam hal qiroah dan fiqih, maka yang paling tua". Aku bertanya lagi, "Bila mereka sama dalam hal fiqih dan qiroah, sedangkan yang tertau adalah hamba, apakah ia boleh mengimami mereka karena sunnah? sehinga ia mengimami quraisy dan lain-lain", jawab, "Ya, mengapa mereka tidak diimami oleh orang yang paling faham fiqih, paling pandai dalam qiroah dan yang paling tua?"

[] Dari Nafi berkata : Sholat ditegakkan di masjid suatu kelompok di Madinah dan Ibn Umar mempunyai tanah di dekat masjid itu, sedangkan imam masjid itu adalah maulanya dan tempat tinggal maulanya dan para sahabatnya di sana. Ketika Abdullah bin Umar mendengar adzan, ia datang untuk menyaksikan sholat bersama mereka, maka berkata maulanya kepadanya, "Maju dan sholatlah!", maka berkata Abdullah, "Engkau lebih berhak sholat di masjidmu dibandingkan aku", maka sholatlah maula pemilik masjid itu.

Imam Asy Syafi段 berkata : Pemilik masjid adalah seperti pemilik tempat tinggal, sehingga aku makruhkan seseorang mendahuluinya kecuali penguasa.

Barang siapa di antara para lelaki ada orang yang mengimami, yang termasuk aku nmakruhkan keimamahannya, lalu sholat ditegakkan, maka keimamahannya mencukupi. Namun yang terbaik adalah seperti yang telah aku jelaskan berupa mendahulukan ahli fiqih, Al Quran, tua umurnya dan nasab.

Barang siapa di antara orang yang baligh muslim mengerjakan sholat, maka sholatnya mencukupi dan sholat orang yang di belakangnya juga mencukupi, walaupun ia tidak terpuji keadaan agamanya. Para sahabat Nabi SAW di belakang orang yang tidak terpuji perbuatannya berupa penguasa dan lain-lain.

[] Dari Nafi bahwa Abdullah bin Umar menyendiri di Mina pada saat peperangan Ibnuz Zubair dan Al Hajjaj pun di Mina, maka ia sholat bersama Al Hajjaj.

 

Sholat di belakang orang yang tidak mengimaminya

Imam Asy Syafi段 berkata : Bila seseorang memulai sholat untuk dierinya sendiri tanpa niat mengimami orang lain, lalu datang jamaah atau satu orang sholat dengan sholatnya, maka sholatnya mencukupi mereka dan ia sebagai imam mereka. Tak ada perbedaan antara ia dan seseorang yang niat sholat untuk mereka.

 

Imam yang dibenci oleh suatu kaum

Imam Asy Syafi段 berkata : Dikatakan bahwa Alloh tidak menerima sholatnya orang yang mengimami suatu kaum dalam keadaan mereka membencinya, tidak juga sholatnya istri dalam keadaan suaminya marah kepadanya dan tidak juga sholatnya budak yang lari dari tuannya hingga kembali. Yang dimaksud adalah seseorang selain pemegang otoritas mengimami jamaah yang membencinya, maka aku makruhkan itu untuk menjadi imam. Tetapi itu tidak apa-apa bagi makmum, karena makmum tidak mengadakan sesuatu yang makruh untuknya dan sholat makmum dalam kondisi seperti ini mencukupi dan setahuku imam tidak wajib mengulangi, karena ketidakbaikannya dalam hal maju menjadi imam tidak menghalangi ditunaikannya sholat, walaupun aku takut dalam hal majunya itu.

Demikian juga istri yang dimarahi oleh suaminya. Demikian juga hamba yang lari yang aku takuti dalam perbuatan mereka, tetapi tidak wajib bagi salah satu mereka untuk mengulangi sholat yang dikerjakan pada kondisi seperti itu.

Demikian juga seseorang yang keluar untuk merampok, meminum khamr atau keluar untuk bermaksiat, yang aku takuti dalam perbuatannya. Bila ia sholat pada waktunya, maka aku tidak wajibkan ia untuk mengulanginya. Bila secara sukarela mengulanginya, bila ia meninggalkan perbuatan itu, maka tidak aku makruhkan.

Aku makruhkan seseorang yang memegang otoritas untuk suatu kaum, sedangkan mereka membencinya. Bila ia memegang otoritas atas mereka dan kebanyakan dari mereka tidak membencinya, tetapi sedikit yang membencinya, maka tidak aku makruhkan, kecuali dari aspek kemakruhan otoritas secara global, yaitu tidak tertutup kemungkinan seseorang yang memegang otoritas, sedikit atau banyak di antara mereka membencinya, tetapi pertimbangan dalam hal ini hanyalah pada orang umum yang banyak bukan pada orang khusus yang sedikit.

Secara global, aku makruhkan otoritas pada semua kondisi. Bila seseorang memegang otoritas atas suatu kaum, maka ia tidak menerima kesetiaan mereka hingga ia bertanggung jawab terhadap otoritas pada semua kondisi, memegang amanat atas orang yang ia pegang otoritasnya untuk memihaknya ketika musuhnya menimpakan sesuatu yang tidak hak kepadanya, waspada, tidak menipu, menjaga diri dari harta dan hukum mereka dengan melaksanakan yang hak. Bila salah satu dari ini kurang, maka tidak boleh memegang otoritas, dan tidak pula bagi orang yang mengenalnya untuk memberinya otoritas.

 

Kewajiban Imam

[] Dari Abu Umamah berkata : Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, "Tidak boleh imam sholat dengan suatu kaum, lalu ia khususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa mereka"

Demikian yang aku sukai untuk imam. Bila ia tidak lakukan, tetapi ia tunaikan sholat pada waktunya, maka itu mencukupinya dan mereka. Pada imam ada kekurangan dalam hal mengkhususkan dirinya sendiri tanpa mereka dan meninggalkan untuk memelihara sholat di awal waktunya dengan sempurna ruku dan sujudnya.

[] Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Bila salah seorang dari kalian sholat dengan orang-orang, maka ringankan, karena di antara mereka ada yang sakit dan lemah. Bila ia sholat untuk dirinya sendiri, maka panjangkan sesuai kehendaknya"

[] Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau merupakan orang yang paling ringan sholatnya untuk orang-orang dan paling panjang sholatnya untuk diri sendiri.

[] Dari Anas bin Malik berkata : Aku tidak pernah sholat di belakang seseorang yang lebih ringan dan tidak lebih sempurna sholatnya dibandingkan Rosululloh SAW.

Imam Asy Syafi段 berkata : Aku suka imam meringankan sholat dan menyempurnakannya seperti yang dikatakan Anas dan orang selainnya. Bila imam buru-buru dari menunaikan hal yang aku sukai berupa menyempurnakan atau melebihi hal yang aku sukai berupa menyempurnakan dengan memberatkan, maka aku makruhkan, tetapi ia tidak wajib mengulangi dan juga tidak atas orang yang di belakangnya bila imam melakukan kewajiban yang paling sedikit dari sholatnya.

 

Sifat para imam

[] Dari Ibn Syihab bahwa sampai kepadanya Rosululloh SAW bersabda, "Dahulukanlah Quraisy dan jangan kalian dahului mereka. Belajarlah dari Quraisy dan jangan kalian ajari mereka"

[] Dari Hakim bin Abi Hakim bahwa ia mendengar Umar bin Abdul Aziz dan Ibn Syihab berkata : Rosululloh SAW bersabda, "Barang siapa menghinakan Quraisy, maka akan Alloh hinakan"

[] Dari Al Harits bin Abdirrahman bahwa sampai kepadanya Rosululloh SAW bersabda, "Jikalau tidak Quraisy akan sombong, maka akan aku kabarkan apa yang ada di sisi Alloh"

[] Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh SAW bersabda, "Jikalau tidak karena hijrah, sungguh aku termasuk orang Anshor. Jikalau manusia melewati suatu lembah, sungguh aku lewati lembah Anshor"

[] Berkata Al Jurjani di dalam haditsnya bahwa Rosululloh Saw berdoa, "Ya Alloh, ampunilah Anshor, anak-anak Anshor dan anak-anak dari anak-anak Anshor"

 

Musafir mengimami orang-orang mukim

[] Dari Salim dari bapaknya bahwa Rosululloh Saw sholat di Mina dua rokaat, Abu Bakar dan Umar juga.

Imam Asy Syafi段 berkata : Demikianlah aku suka imam sholat dalam keadaan safar atau mukim, tidak mewakilkan ke selainnya dan memerintahkan orang-orang mukim di belakangnya untuk menyempurnakan sholat, kecuali mereka telah faham, maka cukuplah dengan pemahaman mereka.

Bila para musafir dan orang-orang yang mukim berkumpul, lalu ada pemegang otoritas di antara kedua kelompok itu, maka ia sholat dengan mereka baik dalam keadaan safar atau mukim. Bila ia mukim, lalu ia menunjuk orang lain, maka ia sholat dengan mereka. Aku lebih suka ia memerintahkan orang mukim dan tidak tidan menyerahkan keimamahan kecuali kepada orang yang tidak mengqoshor. Bila ia perintahkan musafir, maka aku makruhkan, bila orang yang sholat di belakangnya itu mukim dan orang mukim itu meneruskan sholatnya musafir, tetapi ia tidak wajib mengulangi. Bila di antara mereka tidak ada pemegang otoritas, maka aku lebih suka orang mukim mengimami mereka, supaya sholat mereka semua dengan imam. Para musafir mengakhirkan jamaah dan menyempurnakan bilangan sholat. Bila mereka mendahulukan musafir mengimami mereka, maka itu mencukupi mereka dan orang-orang yang mukim meneruskan sholatnya musafir bila diqoshor dan bila sempurna, maka sholat mereka mencukupi. Bila musafir mengimami orang-orang yang mukim dengan menyempurnakan sholat, maka itu mencukupinya dan sholatnya orang-orang mukim dan para musafir yang ada di belakangnya juga mencukupi mereka.

 

Seseorang imam yang tidak dikenal

Imam Asy Syafi段 berkata : Bila suatu kaum dalam safar atau di rumah, menjadikan seseorang yang tidak mereka kenal sebagai imam lalu ia mendirikan sholat, maka sholat mereka mencukupi. Bila mereka ragu apakah ia muslim atau non muslim, maka sholat mereka mencukupi. Bila ia mendirikan sholat, maka ia lahiriahnya adalah muslim hingga ia tahu bahwa ia non muslim. Bila mereka mengetahuinya non muslim dan mereka termasuk yang mengetahui dengan pengetahuan yang umumnya keislamannya tidak tersembunyi bagi mereka, dan bila memeluk islam, lalu sholat, kemudian mereka sholat di belakangnya di masjid jamaah atau di lapangan, maka sholat mereka bersamanya tidak mencukupi, kecuali mereka bertanya kepadanya : apak engkau memeluk islam sebelum sholat atau orang yang mereka percaya memberitahu mereka bahwa ia muslim sebalum sholat. Bila ia memberitahu bahwa ia muslim sebelum sholat, maka sholat mereka mencukupi.

Bila mereka sholat bersamanya berdasarkan pengetahuan mereka tentang kesyirikannya, tetapi mereka tidak tahu keislamannya sebelum sholat, lalu ia memberitahu mereka bahwa ia telah memeluk islam sebelumnya, maka sholat mereka tidak mencukupi, karena tidak boleh mereka mengikutinya berdasarkan pengetahuan mereka tentang kekafirannya dan tidak tahu keislamannya sebelum mengikutinya.

Bila mereka sholat dengan seseorang berkali-kali, lalu ia memberitahu mereka bahwa ia bukan muslim, atau mereka tahu dari orang lain, maka mereka ulangi semua sholat yang dikerjakan di belakangnya. Demikian juga bila ia memeluk islam, lalu murtad dari islam dan sholat bersama mereka dengan kemurtadannya sebelum kembali lagi ke islam, maka mereka ulangi sholat yang dikerjakan bersamanya.

 

Imamah perempuan

Imam Asy Syafi段 berkata : Bila seorang perempuan sholat mengimami para lelaki, para perempuan dan anak laki-laki, maka sholatnya para perempuan mencukupi, tetapi sholatnya para lelaki dan anak laki-laki tidak, karena Alloh menjadikan para lelaki sebagai pemimpin atas para perempuan. Tidak boleh perempuan menjadi imam untuk para lelaki selamanya. Demikian bila di antara orang yang sholat dengan perempuan itu khuntsa musykil, maka sholatnya tidak mencukupi bersama perempuan itu. Bila khuntsa musykil sholat bersama perempuan dan ia tidak menunaikan sholatnya hingga jelas bahwa dia itu adalah perempuan, maka aku suka ia mengulangi sholatnya dan aku kira sholatnya tidak mencukupi, karena ketika ia sholat bersama perempuan, ia tidak termasuk orang yang boleh menjadikan dia imam.

[] Dari Ammar Ad Duhni dari seorang perempuan kaumnya yang bernama Hujairoh bahwa Ummu Salamah mengimami mereka dengan berdiri di tengah.

[] Dari Aisyah bahwa ia sholat asar dengan para wanita dengan berdiri di tengah.

[] Dari Shofwan berkata : Termasuk sunnah seorang perempuan sholat dengan para perempuan untuk berdiri di tengah.

Imam Asy Syafi段 berkata : Perempuan boleh mengimami para perempuan baik di sholat wajib atau lainnya. Aku perintahkan ia berdiri di tengah barisan (shaf). Bila bersamanya ada banyak perempuan, maka aku perintahkan barisan kedua didirikan di belakang barisannya. Demikian seterusnya barisan-barisan lain dan ia bariskan mereka pada barisan-barisan para lelaki bila jumlah perempuan banyak, tidak berbeda dengan para lelaki untuk barisan-barisan perempuan, kecuali perempuan berdiri di tengah, merendahkan suara takbir dan dzikir yang dikeraskan dalam sholat berupa Al Quran dan lainnya.

Bila perempuan berdiri di di depan para perempuan, maka sholatnya mencukupi dan juga sholat orang di belakangnya.

Aku lebih suka para perempaun tidak diimami kecuali oleh perempuan merdeka, karena ia sholat dengan menutup kepalanya. Bila budak perempuan mengimami para perempuan merdeka dengan tertutup atau terbuka kepalanya, maka sholatnya dan sholat mereka mencukupi, karena ini merupakan kewajibannya dan itu kewajiban mereka.

 

Imamah orang buta

[] Dari Mahmud bin Ar Robi bahwa Itban bin Malik mengimami kaumnya padahal ia buta. Ia katakan kepada Rosululloh SAW, "Sungguh gelap, hujan dan banjir, sedangkan saya merupakan laki-laki buta. Ya Rosululloh, sholatlah di rumahku di suatu tempat yang akan aku jadikan musholla!" Rosululloh SAW datang, sabdanya, "Di mana engkau suka mengerjakan sholat?, lalu ia memberikan isyarat pada suatu tempat di rumahnya, maka Rosululloh SAW pun sholat di sana.

[] Dari Mahmud bin Ar Robi bahwa Itban bin Malik mengimami kaumnya, padahal ia buta.

[] Imam Asy Syafi段 berkata ; Aku mendengar sejumlah ahli ilmu menyebutkan bahwa Rosululloh SAW menjadikan Ummu Maktum imam, padahal ia buta, lalu ia dholat dengan orang-orang pada sejumlah peperangan.

Imam Asy Syafi段 berkata : Aku suka imamah orang buta. Orang buta bila ditunjukkan ke arah qiblat dengan tepat, maka lebih pantas ia tidak disibukkan dengan sesuatu yang terlihat oleh kedua matanya. Siapa yang mengimami orang yang sehat matanya atau orang buta, lalu ia dirikan sholat, maka sholatnya mencukupi.

Aku tidak pilih imamah orang buta untuk orang yang sehat matanya, karena kebanyakan orang yang dijadikan imam oleh Rosululloh SAW adalah bisa melihat, dan aku juga tidak pilih imamah orang yang sehat matanya untuk orang buta, karena Rosululloh SAW mendapatkan sejumlah orang-orang yang sehat matanya yang beliau perintahkan untuk menjadi imam lebih banyak dibandingkan jumlah orang nuta yang beliau perintah.