DAM

  1. Apakah dam itu?
    Dam menurut bahasa artinya darah, sedangkan menurut istilah adalah mengalirkan darah (menyembelih ternak, yaitu: kambing, unta atau sapi) dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji.

  2. Apakah dam boleh dilakukan di tanah air?
    Dam tidak boleh dilakukan di tanah air.

  3. Kapankah binatang dam boleh disembelih?
    Binatang dam boleh disembelih sejak amalan yang menyebabkan dam itu (illat hukumnya) terlaksana. Sehingga bagi haji tammatu', damnya boleh disembelih sejak selesai tahallul umrah.

  4. Apakah yang dimaksud nafar awal?
    Yang dimaksud nafar awal ialah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 12 Zulhijjah.

  5. Apakah perbedaan antara qurban dan penyembelihan dam?
    Sembelihan qurban adalah sembelihan yang berkaitan dengan hari qurban dan hari tasyriq disunatkan untuk seluruh umat Islam, baik yang sedang melaksanakan ibadah haji atau tidak. Sedangkan dam adalah sembelihan yang berkaitan dengan amalan haji, apakah karena ketentuan manasik, seperti tamattu' dan qiran atau karena denda.

  6. Apa yang harus dilakukan apabila tidak sanggup membayar dam?
    Yang harus dilakukan:

    1. Bila jamaah haji tamattu' dan qiran tidak sanggup membayar dan, maka wajib mengganti dengan puasa 10 hari (3 hari dilakukan selama dalam ibadah haji dan 7 hari dilakukan sesudah kembali ke Tanah Air). Bila tidak mampu puasa 3 hari semasa haji, maka harus melaksanakan puasa 10 hari di Tanah Air dengan ketentuan sebagai berikut : 3 hari pertama dilakukan sebagai pengganti kewajiban berpuasa 3 hari diwaktu melaksanakan hajinya (Makkah), kemudian berpuasa 7 hari sebagai kewajiban setelah kembali dari hajinya dengan memisahkan antara kedua puasa tersebut minimal 4 hari.

    2. Bila dengan sengaja melanggar larangan ihram, seperti mencukur rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian, memakai pakaian biasa bagi laki-laki, manutup muka atau memakai sarung tangan bagi wanita, boleh memilih membayar fidyah, bersedekah kepada 6 orang miskin masing masing ½ sha' (2 mud; 1 ½ kg) berupa makanan pokok atau berpuasa 3 hari.

    3. Bila melanggar larangan membuhuh hewan buruan dan tidak sanggup membayar dam, wajib membayar dengan makanan pokok seharga binatang tersebut. Bila benar-benar tidak mampu, harus diganti puasa dengan perbandingan 1 hari = 1 mud makanan (3/4 kg beras).

    4. Bila melanggar larangan bersetubuh dengan suami/istri baik sebelum tahallul awal maupun sesudah tahallul awal, maka harus bayar kifarat seekor unta, apabila tidak sanggup maka harus menyembelih sapi, bila tidak mampu menyembelih 7 ekor kambing, apabila tidak mampu memberi makan seharga unta kepada fakir miskin di tanah haram, kalau juga tidak mampu berpuasa dengan hitungan 1 hari untuk setiap mud dari harga unta. Pendapat lain mengatakan bahwa jika pelanggaran dilakukan sesudah tahallul awal damnya seekor kambing.

  7. Apakah perbedaan akibat pelanggaran bersetubuh dengan istri/suami yang dilakukan sebelum tahallul awal dan sesudah tahallul awal ?
    Pelanggaran yang dilakukan sebelum tahallul awal mengakibatkan hajinya tidak sah, dan wajib membayar kifarat, pelanggaran yang dilakukan setelah tahallul awal hajinya sah namun harus bayar kifarat.

  8. Kapankah waktu mengerjakan puasa tiga hari ?
    Waktunya ialah selama berada di Makkah atau Mina dalam bulan haji. Dalam keadaan benar-benar tidak mampu berpuasa 3 hari di Mekkah atau Mina dalam bulan haji, maka dapat diqada (diganti) setelah kembali ke tanah air.

  9. Kapankah waktu mengerjakan puasa 7 hari ?
    Puasa 7 hari dianjurkan (diutamakan) secepatnya setelah kembali ke Tanah Air.

  10. Bolehkah menyembelih qurban di tanah air atas nama haji yang sedang di Makkah?
    Boleh (tidak ada larangan).