HAJI WANITA

  1. Apakah syarat bagi wanita yang akan berhaji?
    Bagi wanita yang akan berhaji, selain harus memenuhi syarat umum disyaratkan pula harus ada suami atau mahram yang menyertainya.

  2. Siapakah yang dimaksud dengan mahram itu?
    Mahram ialah pria lain yang dilarang menikah dengan wanita yang akan berhaji itu.

  3. Apakah wanita boleh pergi haji tanpa suami atau mahram?
    Pada dasarnya wanita tidak boleh pergi haji tanpa suami atau mahram, akan tetapi dalam keadaan aman boleh pergi haji dengan teman wanita lainnya yang dapat dipercaya. Sebaiknya mereka tidak kurang dari tiga orang.

  4. Apakah wanita boleh pergi haji tanpa ijin suami ?
    Dalam hal ini ada dua pendapat, bagi Imam Syafi'i harus ijin suami, akan tetapi Imam Hambali berpendapat suami tidak boleh melarang istrinya melaksanakan haji wajibnya kecuali haji sunat.

  5. Apakah ada ketentuan khusus yang berlaku bagi wanita yang melaksanakan ibadah haji/umrah?
    Beberapa ketentuan khusus yang berlaku bagi wanita yang melaksanakan ibadah haji/umrah adalah :

    1. Wanita harus terbuka muka dan telapak tangannya

    2. Wanita tidak mengeraskan suaranya pada waktu membaca talbiyah/ berdo'a

    3. Wanita tidak perlu lari-lari kecil (ramal) ketika tawaf pada 3 (tiga) putaran yang pertama dan ketika melintas 2 (dua) pilar hijau waktu sa'i

    4. Wanita tidak mencukur rambutnya ketika bertahallul, tetapi cukup memotong sedikitnya 3 (tiga) helai atau memotong ujung rambut

  6. Apakah wanita haid/nifas boleh melaksanakan ihram?
    Wanita haid/nifas boleh melakukan ihram.

  7. Bagaimana wanita yang belum tawaf ifadah karena haid, sedangkan rombongannya akan segera pulang ke Tanah Air?

    1. Wanita yang belum tawaf ifadah karena haid, ia harus menunggu sampai suci dan melapor kepada ketua kloternya (TPHI) untuk diusulkan pindah ke kloter lain, sehingga dapat melakukan tawaf ifadah

    2. Meskipun demikian, dalam keadaan uzur syar'I, menutut pendapat Imam Ibnu Qoyyim dari mazhab Hambali yang ditulis dalam kitab "I'lamul Muwaqqi'in" juz 3 halaman 31, bahwa wanita haid atau nifas dibolehkan dan dipandang sah melakukan tawaf ifadah dan tidak membayar dam. Sedangkan menurut Abu Hanifah membayar dam seekor unta.