IHRAM DAN MIQAT

  1. IHRAM

    1. Apakah yang dimaksud dengan ihram?
      Ihram menurut istilah ialah mengharamkan (menghindari) segala sesuatu yang ditentukan selama melaksanakan ibadah haji/umrah.

    2. Dimanakah di mulai ihram haji dan umrah bagi jamaah haji Indonesia?

      1. Bagi Jamaah Haji Gelombang Haji Gelombang I, miqat ihramnya di Bir Ali.

      2. Bagi Jamaah Haji Gelombang Haji Gelombang II, miqat ihramnya :

        1. Di atas pesawat udara garis sejajar denangn Qarnul Manazil, atau

        2. Di Airrport King Abdul Azis Mekkah, atau

        3. Asrama Haji Embarkasi di Tanah Air.

    3. Bagaimanakah pakaian ihram bagi lelaki dan wanita?
      Pakaian ihram bagi laki-laki adalah dua helai kain, satu helai dipakai sebagai sarung dan satu helai sebagai selendang. Sedangkan bagi wanita adalah pakaian biasa yang menutup seluruh badan tetapi harus terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Pakaian ihram tersebut disunatkan berwarna putih.

    4. Bolehkah menyembelih hewan ternak untuk keperluan makan dalam keadaan ihram
      Boleh, karena yang dilarang adalah berburu dan membunuh binatang buruan dan binatang lain yang tidak membahayakan.

    5. Apa sajakah yang dilarang selama dalam keadaanihram?

      1. Bagi pria dilarang:

        1. Memakai pakaian biasa

        2. Memakai sepatu yang menutupi mata kaki

        3. Menutup kepala yang melekat seperti topi. Kalau tidak melekat boleh, seperti payung

      2. Bagi wanita dilarang:

        1. Berkaus tangan

        2. Menutup muka (memakai cadar)

      3. Larangan selama ihram bagi pria dan wanita adalah:

        1. Memakai wangi-wangian, kecuali yang sudah dipakai sebelum ihram

        2. Memotong kuku dan mencukur atau mencabut rambut badan

        3. Memburu atau menganiaya/membunuh binatang dengan cara apapun (kecuali binatang yang membahayakan boleh dibunuh)

        4. Kawin, mengawinkan atau meminang wanita untuk dinikahi

        5. Bercumbu atau bersetubuh

        6. Mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor

        7. Memotong pepohonan di tanah haram (baik dalam keadaan ihram maupun tidak)

    6. Ibadah apa saja yang boleh dilakukan oleh wanita selama haid ?
      Semua Ibadah boleh dilakukan kecuali shalat dan thawaf.

    7. Apakah jamaah haji pria/wanita yang sedang berihram boleh melepas pakaian ihramnya?
      Boleh melepas pakaian ihram di tempat tertutup, seperti untuk mandi, berhajat atau menggantinya karena kotor. Apabila membuka pakaian ihram di tempat terbuka hukumnya haram, tetapi tidak kena dam.

    8. Bolehkah berihram haji/umrah sebelum sampai miqat?
      Boleh berihram haji/umrah sebelum sampai miqat.

    9. Bagaimana hukumnya jika jamaah haji melewati miqat makani tanpa berihram umrah atau haji
      Apabila jamaah haji melewati miqat makani tanpa ihram umrah atau haji, wajib membayar dam isa'ah (dam kesalahan) atau mengambil cara lain, yaitu:

      1. Kembali lagi ke miqat yang dilewati tadi, sebelum melaksanakan salah satu kegiatan ibadah umrah/haji.

      2. Mengambil miqat haji yang terdekat dengan tanah haram.

    10. Bagaimana hukumnya orang yang sakit yang dibawa ke kota Mekkah, padahal sebelumnya dia melaksanakan keinginan melaksanakan ibadah haji/ umrah ?
      Wajib memasuki kota Mekkah dalam keadaan ihram, akan tetapi dianjurkan isytiray (ihram bersyarat).
      Apabila karena penyakitnya terpaksa harus tidak dapat menyelesaikan hajinya, maka boleh ia bertahalul (melepas ihramnya) tanpa menyembelih dam, dan apabila akan melaksanakan hajinya nanti dia mengambil miqat dari rumah sakit atau rumah kediaman.

      Niat ihram beristirat adalah niat ihram dengan tambahan niat :

      " Fain hasabani haabisun famahilli haitsu habastani".

      artinya :
      Apabila aku terhalang maka tahallulku di tempat Engkau membuat aku terhalang.

    11. Bagaimana hukumnya membuka kain ihram jamaah sakit karena alasan perawatan tanpa membatalkan niat (ihramnya)
      Boleh karena darurat, dan pada saat sudah memungkinkan wajib mengenakan kembali kain ihramnya tanpa dam, dan tidak perlu niat (ihram) lagi, dan apabila tidak memungkinkan memakai kain ihram boleh melaksanakan hajinya tanpa kain ihram, akan tetapi dikenakan dam.

    12. Apakah perbedaan antara jamaah sakit yang memasuki kota Makkah untuk alasan pengobatan dalam keadaan ihram dan tidak.
      Apabila jamaah sakit memasuki kota Mekkah dengan keadaan ihram dan mati dalam keadaan ihram, maka ia telah mendapatkan pahala hajinya, dan apabila memasuki kota Mekkah tanpa ihram, maka dia mati bukan dalam keadaan berhaji (hadits dari Ibnu Abbas).

    13. Bagaimana hukumnya orang yang sudah ihram dari miqat, akan tetapi karena sesuatu hal terpaksa membatalkan ihramnya.
      Wajib membayar dam seekor kambing

    14. Bacaan apa yang dianjurkan setelah berihram dari miqat ?
      Setelah berihram dianjurkan membaca talbiah.

    15. Bolehkah membaca talbiyah sejak dari rumah kediaman, di perjalanan dan di Asrama Haji Embarkasi ?
      Boleh, hanya saja tidak disertai niat/ ihram haji/ umrah, pendapat lain mengatakan belum boleh karena talbiyah merupakan bagian dari ihram.

    16. Manakah yang lebih afdhol (utama) membaca talbiyah, do'a dan dzikir dengan suara keras atau pelan (sir).
      Dengan membaca talbiyah, do'a dan dzikir diutamakan dengan sir (suara tidak nyaring) , membaca talbiyah bagi pria diutamakan dengan bersuara keras/ nyaring (jahr) sedangkan bagi wanita dengan sir.

    17. Bolehkah jamaah haji yang dalam keadaan ihram memotong/mencukur/mencabut rambut, memotong kuku atau memakai wangi-wangian?
      Jamaah haji yang dalam keadaan ihram tidak diperbolehkan memotong/mencukur/ mencabut rambut, memotong kuku atau memakai wangi-wangian.

    18. Apa hukumnya memotong/mencukur/mencabut rambut, memotong kuku memakai wangi-wangian dalam keadaan ihram?
      Hukum memotong/mencukur/mencabut rambut, memotong kuku atau memakai wangi-wangian wajib membayar fidyah (denda), yaitu dengan memilih menyembelih seekor kambing atau bersedekah kepada 6 (enam) orang fakir miskin masing-masing ½ sha' (=2 mud - 1 ½ kg) beras/makanan pokok atau berpuasa tiga hari.

    19. Bolehkah berbicara dengan kata-kata kotor (keji), berbuat fasiq dan berdebat sewaktu melakukan ibadah haji?
      Tidak diperbolehkan, kalau dilakukan akan menggugurkan pahala haji.

    20. Apakah laki-laki yang sedang berihram boleh menutupi kepala dengan sorban atau payung?
      Menutupi kepala dengan sorban atau apa saja yang menempel di kepala tidak boleh. Sedangkan yang tidak menempel di kepala, seperti payung, itu boleh.

    21. Apakah jamaah haji yang berihran boleh memakai jam tangan, cicin atau sabuk?
      Jamaah haji yang sedang berihram boleh boleh memakai jam tangan, cincin dan sabuk, karena tidak termasuk pakaian ihram.

    22. Bolehkah jamaah haji dalam keadaan ihram memakai pasta gigi, sabun mandi dan membunuh nyamuk dan binatang lain yang membahayakan?
      Boleh dan tidak kena dam, karena bertujuan untuk kebersihan gigi dan perawatan kesehatan, demikian juga diperbolehkan membunuh nyamuk dan binatang lain yang membahayakan.

    23. Bagaimana hukumnya menyisir rambut dalam keadaan ihram?
      Boleh, asal dengan keyakinan tidak akan merontokkan rambut.

    24. Bolehkah suami istri yang sedang menunaikan ibadah haji bersetubuh ?
      Boleh, apabila tidak sedang dalam keadaan ihram dan sudah tahallul.

  2. MIQAT

    1. Apakah yang dimaksud miqat makani ?
      Miqat makani ialah tempat yang dijadikan batas untuk memulai ihram haji/umrah.

    2. Dimana saja miqat makani itu ?
      Miqat makani ada 5 tempat, yaitu:

      1. Zululaifah (Bir Ali), miqatnya bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya.

      2. Juhfah, miqatnya penduduk Syam dan yang melewatinya.

      3. Qarnul manazil (as-Sail), miqatnya penduduk Najad dan yang melewatinya

      4. Yalamlam, miqatnya penduduk Yaman dan yang melewatinya.

      5. Zatu Irqin, miqatnya penduduk Iraq dan yang melewatinya.

    3. Dimanakah miqat makani jamaah haji Indonesia ?
      Jamaah haji Indonesia gelombang I yang memasuki kota Madinah terlebih dahulu sebelum ke Mekkah, maka miqat makaninya adalah Bir Ali (Zulhulaifah).
      Jamaah haji Indonesia gelombang II yang langsung ke Mekkah, miqat makaninya adalah di atas udara sejajar dengan Qarnul Manazil . Apabila dianggap sulit, dapat dilaksanakan sebelum sampai Qarnul Manazil, (sejak di Asrama Haji), atau setelah sampai di Airport King Abdul Aziz (KAAIA) Jeddah.