ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 1

HIKMAH KAYA

Kekayaan Yang Dapat Memperluas Makna Hidup

 

K

etika berbicara religiusitas sebagian orang merasa bahwa kekayaan seringkali dimaknai negatif. Kekayaan diidentikkan dengan kesombongan, egoisme, kikir, pelit, dsb. Sehingga banyak orang yang merasa tabu untuk membicarakan mengenai kekayaan. Dalam buku yang sama disebutkan kaya bisa juga dimaknaai dalam banyak hal ; sebagai kaya hati, kaya ilmu, kaya teman, dan tentu saja kaya harta.

Selain mereka yang melihat kekayaan dari sudut yang negative ada banyak pihak juga yang menganggap kekayaan justru sebagai sebuah sarana untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Dunia akhirat. Rosulullah salah satunya.

Beliau mencontohkan hidup kaya. Beliau sama sekali tidak mencontohkan hidup dengan menjadi peminta-minta atau bermental miskin. Berbeda dengan umumnya raja yang meminta upeti, beliau justru mengkitalkan tangannya sendiri untuk memperoleh penghidupan. Lebih dari itu, beliau mengajari bahwa Seorang pemberi (tangan di atas) jauh lebih baik dari peminta-minta (tangan di bawah). Beliau benar-benar seorang yang enterprise alias giat.

Rosulullah sendiri adalah seorang yang kaya dan terutama bermental kaya. Beliau kaya dengan mengawali sebagai seorang qororit atau penggembala kambing yang menerima upah yang kecil tapi karena etos kerja Beliau kemudian menjadikannya berkembang menjadi lebih baik lagi. Rosulullah kemudian menjadi betul-betul kaya. Menjadi seorang pedagang tangguh dan ulung. Istri beliau (Khadijah) juga seorang pebisnis yang paling sukses dan paling kaya saat itu

Beliau juga selalu mensupport orang-orang di sekitarnya untuk hidup lebih kaya, seperti kisah si pelayan kecil Anas contohnya.

Dia meminta Rosulullah untuk berdo'a untuknya dan Rosulullah pun mendoakannya dengan do'a berikut : Ya Allah , tambahkanlah kepadanya rizki dan anak keturunan dan berkahilah atas apa yang Engkau berikan kepadanya. Anas belakangan bercerita bahwa antara lain berkat do'a Rosulullah di antara anak keturunannya terdapat orang-orang berkepribadian unggul yang tidak ketinggalan dalam jihad bersama Rosululloh.

Kalau untuk seorang pelayannya saja beliau mensupport agar kaya apalagi untuk yang bukan pembantunya.

Meski kaya, Rosulullah tidak sombong. Tidak lupa diri. Rumahnya biasa saja, pakaian sedehana, tidak glamour, kendaraannya (onta) juga tidak sering berganti-ganti.

 

Jadi, ke mana beliau mengalokasikan kekayaannya ?

 

Ternyata untuk fiisabilillah.

 

Tidak jarang beliau menghabis-kan seluruh hartanya diberikan untuk jalan totalitas penghambaan kepada Allah kecuali menyisakan secukupnya untuk keluarga. Diberi lagi oleh Allah , dihabiskan lagi untuk jalan menuju Allah . Demikian seterusnya. Membantu yang miskin, membantu yang membutuhkan dan utamanya untuk kepentingan da'wah meninggikan kalimah Allah . Seolah Beliau menunjukkan kepada kita bahwa hakekatnya kekayaan itu memang sarana untuk menyembah-Nya. Bukankah salah satu ayat di dalam Al-Quran memang menyebut demikian ?

 

 

Dan tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

 

Banyak hadits dan do'a yang dicontohkan Rosululloh agar terhindar dari kemiskinan. Misalnya do'a berikut ini :

 

 

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan dan aku berlindung kepada-Mu dari aku berbuat dzalim atau didzalimi. (HR. Abu Dawud)

 

Dalam beberapa riwayat Rosulullah disebut-sebut terbiasa setiap usai sholat lima waktu dengan do'a berikut : Ya Allah , karuniakanlah kepadaku ilmu, rizqi yang halal dan amal perbuatan yang (Engkau) ridhai.

Inilah istimewanya Rosulullah, selalunya beliau mengkaitkan do'a tentang dunia dengan keridhoan Allah yang tentu saja terkait kebahagiaan akhirat. Mengkaitkan kekayaan dengan urusan akhirat tidak saja akan membuat kita bahagia dan membahagiakan keluarga namun juga menyampaikan kita ke dalam kebahagiaan hakiki. Rosulullah mencontohkan ini sehingga kehidupan beliau terasa demikian mulia dan elegan. Bukan sejenis kekayaan yang menjadikan manusia hanya berkutat dengan urusan dunia. Alih-alih bahagia malah diperbudak oleh hartanya.

Satu ayat menjamin berkahnya kekayaan jika diniatkan untuk mencari ridho Allah . Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari ridho Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai).

 

 

Dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

(QS. Al-Baqoroh : 265).

 

The Miracle of Giving, menyebutkan bahwa jika kita menggunakan harta kita untuk kepentingan di jalan Allah , jumlahnya bukannya berkurang namun justru semakin berlipat. Sepuluh, tujuh puluh atau tujuh ratus kali. Beliau menggunakan surat Al-An'Am ayat 160 sebagai patokan perhitungan matematika sedekah.

Matematika sedekah adalah sebuah gambaran agar kita lebih mudah untuk mengeluarkan harta di jalan Allah . Keyakinan bahwa dengan memberi apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi.

 

 

Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Anam : 160).

Jika sudah punya kebiasaan untuk mengeluarkan sodaqoh, infaq dan zakat maka Insya Allah tidak akan merasa berat pula ketika harus mengeluarkan sebagian hartanya untuk pembayaran ongkos naik haji.

Sebagai salah satu ibadah yang diperintahkan bagi kita untuk menunaikannya, tentunya haji ini memiliki banyak kemaslahatan. Antara lain :

 

Haji momentum mendekat pada Sang Maha Kuasa

 

Haji sebagai sebuah ibadah memiliki prasarat yang serupa dengan ibadah lainnya. Adanya keiklasan dalam niat dan ittiba' nabi. Setiap amalan di dalam Islam harus diniati dengan niat yang benar karena mencari ridho Allah SWT bukan karena sesuatupun yang lainnya.

 

 

Tidak sampai kepada Allah daging dan darah qurban itu, tetapi yang sampai kepada Allah ialah jalan taqwamu (QS. Al-Hajj : 37).

 

 

Sesungguhnya sambutan orang-orang mu'min apabila diajak kembali kepada Allah dan Rosulullah untuk menghukumi di antara mereka, ialah berkata; Kami mendengar dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur : 51).

 

Dengan kondisi yang demikian maka pelaksanaan yang betul-betul sesuai dengan cara Rosul melakukan akan membuat kita Insya Allah lebih dekat pada yang Maha Kuasa.

 

Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-An'am : 160).

 

Supaya mereka menghadiri beberapa manfaat untuk mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah . (QS. Al-Hajj : 28).

Rosullullah telah bersabda :

 

 

Artinya : Ambillah dariku manasik (haji)mu. (HR. Baihaqi). Maka kalau yang kita ikuti adalah kekasih Allah , masa sih kita ditunjukkan yang tidak benar sehingga jauh dari Allah ?

Di dalam proses manasik seperti yang dicontohkan Rosulullah, penekanan yang diberikan terutama adalah dalam hal menjaga hati dan menjaga niat serta keihlasan. Pembiasaan untuk berlaku sabar, saling menjaga ukhuwah, memperbaiki ibadah harian kita adalah juga hal-hal yang dapat mengantarkan kita kepada kedekatan pada Allah bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum kita berperjalanan untuk menunaikan ibadah haji.

 

Haji saat yang tepat untuk memohon ampunan

 

 

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Kami mendengar Rosululloh s.a.w. bersabda : "Barangsiapa mengerjakan haji karena Allah semata, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak pula mengerjakan dosa (yakni kemaksiatan besar atau yang kecil tetapi berulang kali), maka ia akan kembali (dari ibadah hajinya itu) sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya ( yakni tidak ada dosa dalam dirinya samasekali)." (HR. Bukhori - Muslim)

Esensi dari permohonan ampunan sesungguhnya adalah bersihnya dosa pada seseorang. Pinta orang yang memohon ampun adalah mengenai terhapusnya dosa-dosa yang sudah pernah diperbuatnya. Dan haji memberikan kesempatan terhapusnya dosa itu sebagaimana termuat pada hadits di atas.

Hampir seluruh rangkaian prosesi haji mengedepankan pada do'a dan pinta agar dihilangkan semua dosa. Diampuni seluruh salah. Maka, semoga dengan itu pulalah terhapus semua dosa para hujjaj yang mengikuti petunjuk Rosul-Nya dan mengikuti syari'at yang dibawanya. Terlebih-lebih prosesi Wukuf. Wukuf secara bahasa berarti berhenti. Secara istilah artinya berada atau berhenti di Arofah dalam keadaan ikhrom pada waktu tertentu.

Wukuf adalah saat tepat untuk memohon ampunan-Nya. Tersedia kesempatan istimewa selama sekian jam antara waktu dhuhur sampai menjelang maghrib untuk meohon ampunan. Ditambah lagi jaminan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang memohon ampunan di hari 'Arofah ini. Dia adalah saat yang sangat istimewa jika kerangkanya adalah permohonan ampun seorang hamba. Dari Aisyah radhiAllah u 'anha pula bahwasanya Rosululloh s.a.w. bersabda:

 

 

"Tiada suatu haripun yang di situ Allah lebih banyak memerdekakan hambaNya dari siksa api neraka daripada hari Arafah." (HR. Muslim)

 

Wukuf ini merupakan prosesi penting di antara prosesi haji lainnya. Wukuf di 'Arofah adalah moment terpenting sampai-sampai menjadikan Rosululloh menyebutkan bahwa belumlah dikatakan menunaikan ibadah haji jika tidak melakukan wukuf di 'Arofah.

 

 

Haji itu di Arafah. Barang siapa mendapatkan (wukuf) di Arafah sebelum terbitnya fajar maka ia mendapatkan haji. (HR. Al-Hakim)

 

Tidak sah haji seseorang kecuali melaksanakan wukuf di Arofah. Itu sebabnya saat wukuf semua hujjaj dalam kondisi apapun dan dalam keadaan apapun harus berada di 'Arofah.

Dikenal juga istilah safari wukuf oleh petugas haji karena pada hari itu, semua hujjaj bahkan yang sedang sakitpun akan dibawa serta ke 'Arafah. Apapun jenis sakit dan kondisinya. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk mengevakuasi jama'ah yang sedang sakit akan tetap dipersiapkan untuk sempurnanya pelaksanaan wukuf yang sekaligus menjadi penyempurna rangkaian ibadah haji.

 

 

Haji adalah prosesi ittiba' Rosul dan merasai refleksi ketaatan seorang Nabi

Sebagaimana diketahui, kisah seputar Haji adalah kisah ketaatan seorang Nabi yang sangat mencintai keluarganya. Dan cinta kepada Allah ternyata melebihi cintanya pada keluarganya. Maka Allah pun mencintainya dan menjadikannya penghulu para nabi. Dialah Nabiyullah Ibrahim A.S yang berhasil mendidik keluarganya untuk menempatkan Allah di atas semua urusan.

 

Demikianlah perintah Allah . Dan barang siapa megagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik bagi Tuhannya di sisi Tuhannya. (QS. Al-Hajj : 30)

 

Merenungi prosesi haji dengan memahami kisah yang melatarbelakanginya akan membuat kita mampu merasai refleksi ketaatan Ibrahim AS. Merasakan bagaimana cintanya pada Rabbnya melebihi semua cintanya pada keluarganya. Dan justru cinta itu yang akhirnya mengantarkannnya menjadi manusia yang dicintai oleh Rabb-Nya. Sementara dengan mengambil manasik dari Rosululloh SAW, kita akan merasakan kedekatan pada beliau. Memahami jalan-jalan yang beliau lalui, menjalani proses-proses yang beliau contohkan.

 

Haji adalah saat terjadinya kongres atau konferensi international ummat Islam sedunia

 

Tidak ada pertemuan ummat Islam sedunia semegah dan semeriah ibadah haji. Berbagai bangsa dan bahasa dapat saling berkomunikasi hanya dengan bahasa 'tarzan' atau isyarat. Semua menyatu dalam cinta pada Rabb-Nya. Semua dibanggakan oleh Rabb-Nya di hadapan penduduk langit. SubhanAllah ..

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj : 27)

 

Semua orang dari berbagai penjuru datang meskipun dengan unta kurus sebagai pengibaratan meskipun dengan kondisi yang minimal, mestinya muslim yang sudah mampu datang ke tanah suci sehingga seolah terjadilah konferensi ummat islam sedunia ini.

Bahasa universal yang dipakai dalam konggres tersebut adalah bahasa cinta. Cinta pada-Nya dan cinta-Nya pada setiap hambanya.Semuanya. Semua hamba-Nya satu demi satu. Tidak ada yang terlewatkan.

Hal tersebut dapat disaksikan pada thowaf sya'i seputar ka'bah, jamarot, wukuf, mina, muzdalifah. Tidak ada yang dibedakan dalam hal tersebut kecuali tempat tinggal saja yang diatur tersendiri. Selain hal tersebut, maka berbaurlah semua ummat untuk melaksanakan prosesi yang sama. Bandingkan suasananya dengan perhelatan international dunia muslim apapun di seluruh dunia, niscaya kita akan merasakan bedanya.

 

Haji menjaga dari perbuatan dosa

 

Saat prosesi haji Al-Quran menyebutkan :

 

Musim haji adalah beberapa bulan yang ditentukan, barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan ini akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat rafats, fasiq dan bertengkar di dalam mengerjakan haji )QS. Al-Baqoroh : 197)

 

Sedangkan sesudahnya seorang hujjaj dituntut untuk selalu terus demikian agar terjaga kemabrurannya. Haji bagi kita terutama di Indonesia, biasanya merupakan suatu predikat yang istimewa, mempunyai tanggung jawab moral yang lebih besar dan dituntut untuk menjadi contoh tauladan dalam segala hal. Akibat dari penempelan predikat istimewa tersebut menjadikan sang penykitang predikat akan berhati-hati dalam bertindak. Sisi baiknya, hal tersebut akan membuat yang bersangkutan enggan berbuat dosa karena pastinya akan mengotori corps-nya.

Salah satu tujuan dibentuknya Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia adalah agar sebagai wadah para hujjaj untuk membentuk wadah yang dapat melestarikan kemabruran hajinya. Sedangkan tkita-tkita kemabruran adalah meningkatnya segala sisi kehidupan muslim, peduli social, menebarkan kedamaian, dan bijak dalam berucap dan bertindak. (Pedoman Tugas Ket Regu dan Rombongan, 2009). Sehingga semua upaya itu ditujukan agar dapat terhindar dari perbuatan dosa baik saat menjalankan ibadah haji maupun sesudahnya.

 

Haji adalah ajang silaturrahiim yang sangat indah

 

Ini bicara tentang silaturrahiim skala jamaah kita. Jama'ah haji di Indonesia dikelompokkan ke dalam kloter(kelompok terbang), dibagi lagi menjadi rombongan dan dikelompokkan lagi secara ekslusive dalam regu.

Kedekatan secar fisik dan hati selama lebih dari 10 bulan (8 bulan di tanah air ketika bimbingan manasik haji, dan 40-42 hari ketika menunaikan ibadah haji) tentunya akan membangun kedekatan silaturrahiim yang indah. Menjadikan kedekatan yang lebih dari sekedar sahabat, bahkan mungkin lebih dekat dari saudara sekandung.

Beberapa bukti ikatan yang indah ini dapat kita saksikan dari adanya pertemuan rutin ikatan persaudaraan haji Indonesia. Tujuan utamanya memang untuk menjaga kemabruran, agar senantiasa merasakan suasana ketika bersama-sama melaksanakan ibadah haji namun bisa juga dilihat efek positif yang lain. Banyak yang kemudian berlanjut menjadi saling berbesanan, saling mengikatkan diri dalam perjanjian usaha, mengikatkan diri dalam persaudaraan yang lebih akrab dsb.

 

Benar-benar ajang silaturrahiim yang Insya Allah

diberkahi.!!!!.

 

Maka jika sudah bisa melaksanakan haji , berarti Insya Allah orang tersebut sudah bisa mengaplikasikan kaya yang tidak biasa kan? Artinya kekayaan yang dimilikinya bisa memperluas makna hidupnya kan? Tidak sekedar kaya biasa

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

````````````````````````````

 

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang amal, manakah yang paling utama ? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya". Lalu ditanya lagi: "Lalu apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah). Lalu ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Jawab Beliau : "Haji Mabrur".

(HR. Bukhori)

 

 

````````````````````````````

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 2

IBADAHNYA ORANG TERPILIH

Haji Ibadahnya Orang-orang Sukses Dunia dan Akhirat

 

I

badah haji adalah sebuah syari'at yang diperintahkan oleh Allah SWT sejak Nabi Ibrohim hingga Rosulullah SAW. Banyak sekali ayat di dalam AlQur'an dan sabda Rosulullah yang menyebutkan tentang ibadah haji beserta semua prosesinya. Beberapa di antaranya adalah :

Allah Ta'alaberfirman :

 

 

"Allah mewajibkan atas semua manusia melakukan ibadat haji Baitullah, yaitu kepada orang yang kuasa mengadakan perjalanan ke situ Barangsiapa yang kafir, maka sesungguhnya Allah itu Maha kaya (yakni tidak membutuhkan) dari alam semesta." (QS. Ali lmran : 97) .

 

Menilik dari perintahnya yang ditujukan sebagai sebuah kewajiban, maka menjadi satu hal yang tidak ditawar lagi. Begitu terpenuhi semua persyaratannya mestinya memang segera ditindaklanjuti dengan keberangkatan. Lagi pula sebenarnya manusialah yang membutuhkan Allah . Ia sama sekali tidak butuh sesuatupun dari manusia. Kitalah yang akan mendapatkan semua manfaatnya seperti yang tercantum dalam firman-Nya :

 

Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka. (QS. Al-Hajj : 28)

 

:

Dari Ibnu Umar radhiAllah u 'anhuma, bahwasanya: "Rosululloh s.a.w. bersabda : "Islam didirikan atas lima perkara, yaitu menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan." (HR. Bukhori).

Kalau diibaratkan sebuah bangunan maka rukun Islam adalah pondasinya, maka pastinya pondasi yang kuat akan jauh lebih berfungsi sebagai penopang dibandingkan yang lemah.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya: "Rosululloh s.a.w. berkhutbah kepada kita lalu bersabda :

 

"Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk menunaikan ibadah haji. Karena itu, tunaikanlah ibadah haji." Kemudian seorang laki-laki bertanya, "Apakah setiap tahun ya Rosululloh?" beliau terdiam beberapa saat, hingga laki-laki itu mengulanginya hingga tiga kali. Maka beliau pun bersabda: "Sekiranya aku menjawab, 'Ya' niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun dan kalian tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena itu, biarkanlah apa adanya masalah yang kutinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu mendapat celaka karena mereka banyak tanya dan suka mendebat para Nabi mereka. karena itu, bila kuperintahkan mengerjakan sesuatu, laksanakanlah sebisa-bisanya, dan apabila kularang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera." (HR. Muslim).

Hadits di atas memperlihatkan bahwa sedemikian penting-nya haji untuk dilaksanakan hanya saja Rosulullah memang tidak ingin ummatnya merasa sangat terbebani. Beban tentu akan terasa semikin berat jika haji ini wajib dilaksanakan satu tahun sekali sebagaimana yang ditanyakan sahabat tadi. Sungguh Rosulullah SAW sangat mencintai kita ya ?

 

:

Sungguh Rosululloh s.a.w. ditanya: "Amalan manakah yang paling utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Beriman kepada Allah , Jihad fi-sabilillah azza wajalla dan haji mambrur. (HR. Ahmad)

 

Mabrur artinya ialah orang yang mengerjakan haji itu tidak melakukan sesuatu kemaksiatan di dalamnya. Ada juga sebuah hadits yang menukilkan betapa kemuliaan akan diperoleh bagi yang melaksanakan ibadah yang satu ini.

 

Dari Abu Hurairah r.a. katanya : Kami mendengar Rosululloh s.a.w. bersabda : "Barangsiapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak pula mengerjakan dosa (yakni kemaksiatan besar atau yang kecil tetapi berulang kali), maka ia akan kembali (dari ibadat hajinya itu) sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya (yakni tidak ada dosa dalam dirinya samasekali)". [HR. Bukhori - Muslim]

 

Bersih Suci. Seperti bayi baru lahir.

Siapa coba yang tidak mau ?

 

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rosululloh s.a.w. bersabda :

 

 

"Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan syurga." (HR. Thobroni).

 

Sebuah iming-iming yang paling baik dan indah yaitu SYURGA

 

: :

 

Dari Aisyah radhiAllah u 'anha, katanya: "Kami berkata: "Ya Rosululloh, kita mengetahui bahwa jihad adalah seutama-utama amalan. Maka dari itu, apakah kita (kaum wanita) tidak baik mengikuti jihad ? " Beliau s.a.w. lalu menjawab: "Bagi engkau semua - kaum wanita, maka sebaik-baiknya jihad ialah mengerjakan haji yang mabrur". (HR. Bukhori). Lihat Hadits lain tentang arti mabrur.

Kalau kita seorang wanita, kita pasti merasa tersanjung dengan hadits tersebut. Betapa sebuah ibadah yang kita idamkan selama ini bisa mengantarkan kita kepada derajat kesyahidan. SubhanAllah ....

 

Dari Aisyah radhiAllah u 'anha pula bahwasanya Rosululloh s.a.w. bersabda :

 

 

"Tiada suatu haripun yang di situ Allah lebih banyak memerdekakan hambaNya dari siksa api neraka daripada hari Arafah." (HR. Muslim).

 

Padahal hari 'Arofah ini tidak akan ada ketika bukan di musim haji. Hanya satu hari dalam satu tahun. Ini benar-benar sebuah keistimewaan. Bahkan dikatakan, Allah pada hari itu begitu membanggakan ummatnya yang sedang berhaji pada penduduk langit. SubhanAllah .

Sementara mengenai kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji dapat dilihat pada beberapa hadits berikut.

Dari Ibnu Abbas r.a. pula bahwasanya ada seorang wanita berkata:

 

 

"Wahai Rosululloh, kewajiban yang Allah tetapkan buat para hambaNya tentang haji sampai kepada bapakku ketika dia sudah berusia lanjut sehingga dia tidak mampu untuk menempuh perjalanannya, apakah terpenuhi kewajiban untuknya bila aku menghajikannya?. Beliau menjawab: "Ya". (HR. Bukhori - Muslim)

 

Dari as-Saib bin Yazid r.a., katanya :

 

 

"Aku diajak menunaikan haji bersama Rosululloh shallAllah u 'alaihi wasallam padahal saat itu usiaku baru tujuh tahun". (HR. Bukhori)

Dari Ibnu Abbas radhiAllah u 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bertemu sekelompok para penaik kendaraan di Rawha', lalu beliau s.a.w. bertanya :

 

 

"Siapakah kaum ini?" Mereka menjawab: "Kita kaum Muslimin." Mereka bertanya: "Siapakah kita ?". Beliau s.a.w. menjawab: "Kami Rosululloh." Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang anak bayi lalu bertanya: Apakah anak ini boleh beribadat haji (maksudnya : Kalau beribadat haji, apakah sudah dapat pahala) Rosululloh s.a.w. lalu menjawab: "Ya dan untukmu juga ada pahalanya." (HR. Muslim)

 

Maka tidak salah jika dikatakan ibadah haji ini adalah cermin kesuksesan dunia akhirat. Seperti yang disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur'an :

 

 

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah , yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imron : 97).

Kata-kata yang sanggup" dalam keterangan ayat Terjemah Al-Qur'an terbitan Toha Putra tahun 1989 menunjukkan sebuah ukuran kemampuan. Dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan yang sanggup adalah mendapatkan perbekalan, alat pengangkutan, sehat jasmani, dan keamanan perjalanan.

Mampu atau sanggup dapat diartikan mampu secara fisik, mental maupun spiritualnya. Sebuah dimensi yang bisa multi persepsi. Dan inilah hakikat kesuksesan itu. Ukuran kesuksesan yang dimaksud dapat coba diuraikan menjadi sukses duniawi maupun ukhrowi.

Sukses Duniawi

 

Orang yang melaksanakan ibadah haji minimal memiliki ukuran kesuksesan duniawi yaitu materi atau uang dan fisik atau kesehatan. Lazimnya seorang berhaji dari tanah air saat ini melalui cara apapun juga pastilah membutuhkan dua hal tersebut. Selalu ada cara untuk bisa ke sana jika kita memohon kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. (Insya Allah nanti dapat kita baca di halaman-halaman berikutnya).

Ukuran sukses duniawi yang kedua adalah berupa fisik yang sehat. Kita pasti tahu bahwa untuk melakukan perjalanan selama sekitar 20 sampai 42 hari ini (tergantung, apakah haji reguler atau Plus) kita harus melewati beberapa kali pemeriksaan kesehatan. Sebagai ilustrasi, dalam tahun yang sama dengan keberangkatan kami, ada kasus jama'ah yang mengalami mata merah sempat harus dikarantina sebelum akhirnya diperkenankan berangkat ke tanah suci.

Dan bohong kalau mau pergi haji tidak perlu mengeluarkan uang. Entah sedikit atau banyak yang jelas pastilah membutuhkan kesiapan secara materi dalam bentuk uang. Anif Sirsaeba menulis dalam buku Berani Kaya Berani Taqwa bahwa uang atau harta penting agar kita bisa beribadah dengan tenang. Perut lapar, anak menangis minta susu, dan sejenisnya adalah gangguan beribadah terkait dengan ketiadaan kekayaan berupa uang. Belum lagi jika terkait bershodaqoh, menyantuni fakir miskin, menyekolahkan anak dan perjalanan ke Baitullah. Jadi meskipun kita berhaji dengan biaya dinas atau memenangkan hadiah sekalipun pastilah kita tetap membutuhkan uang. Bisa jadi untuk anak dan keluarga yang ditinggal di tanah air ataupun untuk bekal perjalanan kita sendiri.

Hanya saja dengan keyakinan yang penuh kepada Allah SWT kita dapat memperoleh semua itu tanpa menjadikan alasan bahwa berhaji hanya bisa dilakukan oleh mereka yang secara kuantitatif memiliki ongkos sejumlah yang harus dikeluarkan sebagai ONH (Ongkos Naik Haji) tersebutAda lagi jama'ah yang gagal berangkat karena setelah sampai embarkasi ternyata mengalami stroke sehingga terpaksa harus dipulangkan kembali oleh tim haji kabupaten. Belum lagi kasus ibu hamil muda yang dengan alasan kesehatan terpaksa harus menunda perjalanan ibadahnya. Kloter kami bahkan harus membersamai beberapa pasang keluarga yang ternyata jama'ah kloter terdahulu yang terpaksa ditinggal di asrama haji karena alasan kesehatan.

Ini menunjukkan bahwa hanya yang benar-benar memiliki fisik yang sehat yang diperkenankan menunaikan ibadah haji (dalam sudut pkitang tenaga kesehatan, tentu). Dan itulah kesuksesan duniawi yang menjadi alasan logis memungkinkannya seorang jama'ah dapat sukses berhaji.

 

Sukses Ukhrowi

 

Sukses ukhrowinya orang yang berhaji sih berdasarkan klaim langsung oleh Rosulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan HR. Tirmidzi, Ahmad, Nasai : ikutilah antara haji dan umroh, karena baik haji dan umroh menghapuskan kemiskinan dan dosa-dosa seperti tungku api yang panasyang membrsihkan besi, emas dan perak yang kotor. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga.

SubhanAllah !, tentunya kita harus yakin dengan janji Allah melalui rosul-Nya ini kan ? Hanya saja ada syaratnya seperti yang terdapat di hadits berikut :

 

 

Barang siapa menunaikan haji dalam keadaan tidak berbuat rafats dan fusuq maka akan disucikan dirinya dari dosa-dosa, seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. (HR. Bukhori Muslim)

Maka ini benar-benar ukuran sebuah kesuksesan ukhrowi jika parameternya terpenuhi. Belum lagi bonus-bonus ukhrowi yang sudah bisa dipetik di dunia seperti rasa tenang dan semakin mencintai Allah . Sungguh, jika kita merasakan sendiri perjalanan ruhiyah ini, rasanya Allah SWT sangat memuliakan kita terutama selama kita berperjalanan menunaikan ibadah haji ini. Dan akhirnya kita akan melihat bahwa Allah -lah yang memperjalankan hamba-Nya untuk sampai ke tanah suci. Ia yang memanggil kita ke sana dan ia pula yang mencukupkan semua kebutuhan kita.

Berbagai persiapan dan penyambutan dilakukan untuk menyambut tamu-tamu Allah SWT. Belakangan dari membaca buku Pedoman Tugas Ketua Regu dan Ketua Rombongan Jama'ah Haji kami bisa melihat betapa segala sesuatunya sudah sangat dipersiapkan untuk memberi yang terbaik untuk jama'ah haji. Misalnya saja termuat di sana stkitard rumah yang akan dipakai jama'ah, stkitard catering, stkitard penerbangan, dsb.

Hal tersebut menurut kami adalah keni'matan-keni'matan ukhrowi yang dipercepat sejak masih di dunia. Masih akan berlanjut sebagai keni'matan akhirat nanti ketika pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan yang sudah diperintahkan. SubhanAllah .!.

Maka cukuplah dua hal tersebut menjadikan kita menyatakan bahwa haji adalah ibadahnya orang-orang sukses kan ? Dunia akhirat lho ukuran suksesnya..

 

 

lN;

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 3

HAJI DAN KEKAYAAN

Menyegerakan Haji adalah Menyegerakan Kekayaan

 

I

kutilah antara haji dan umroh, karena baik haji dan umroh menghapuskan kemiskinan dan dosa-dosa seperti tungku api yang panas yang membersihkan besi, emas dan perak yang kotor. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga. (HR. Tirmidzi, Ahmad, Nasai)

Kita menyadari bahwa manusia memiliki banyak keterbatasan. Namun di balik keterbatasan itulah tersimpan kelebihan. Bila saja berpikir positif, sesungguhnya dengan keterbatasan itulah seseorang bisa bersyukur untuk meledakkan-nya menjadi luar biasa.

Seperti diuraikan di awal, bahwa kekayaan atau uang sebenarnya sangat diperlukan untuk menuai hidup yang lebih mulia. Kaitannya dengan mensegerakan haji sama dengan mensegerakan kekayaan adalah karena sudah dipastikan bahwa dengan berani taqwa lah rizki kita akan semakin ditambah.

Taqwa adalah melakukan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Imam Al-Raghib Al Isfahani memaknai taqwa sebagai keberanian untuk menjaga diri dari perbuatan dosa sedangkan Mujahid Ibnu Jarir menyatakan ; Kita mematuhi Allah dan tidak mengingkarinya. Kita sadar pada Allah dan tidak menentangnya. Kita bersyukur pada Allah dan tidak mengingkarinya. Kita menyembah Allah berdasar ilmu darinya dan mengharap pula pahala dari-Nya. Kita meninggalkan larangan Allah berdasarkan ilmu dari-Nya karena kita takut akan hukuman-Nya.

Sering pula di dalam Al-Qur'an Allah mengkaitkan taqwa dengan tambahan berupa rizki yang tidak disangka-sangka arahnya. Seperti di tuliskan dalam Al-Quran :

 

 

Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS. At-Tholaq : 2 - 3)

 

Haji adalah perbuatan ketaatan maka pastilah Allah akan memberikan dua hal terkait dengan pelaksanaannya yaitu : pertama Allah akan memberikan jalan keluar terhadap segala masalah dan kesulitan. Menggantinya dengan kemudahan yang tidak disangka sebelumnya. Kedua, Allah akan memberikan sejumlah rizki yang tidak disangka-sangka. Maka, dapatlah dikatakan bahwa dengan mensegerakan haji Insya Allah akan berimbas pada disegerakannya kekayaan yang kita inginkan.

 

Mensegerakan haji sama dengan mensegerakan kekayaan adalah karena beberapa hal berikut :

Allah Ta'ala berfirman :

 

 

"Maka barangsiapa memberi (untuk kebaikan) dan bertaqwa, serta membenarkan (mempercayai) apa-apa yang baik, maka Kami akan memudahkannya untuk menempuh jalan yang mudah (yaitu mengerjakan kebaikan, keimanan dan akhirnya ke syurga)."

(QS. Al-Lail : 5 - 7)

Kekayaan yang pertama dan utama yang akan disegerakan adalah Syurga

 

Allah Ta'ala berfirman pula :

 

 

"Dan akan dihindarkan dari neraka itu orang yang bertaqwa, yang memberikan hartanya - untuk kebaikan, agar menjadi bersih -jiwanya. Dan tiada seorang pun dari kenikmatan yang ada padanya akan diberi pembalasan, melainkan kerana mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.Dan orang itu nantinya akan mendapat kepuasan." (QS. Al-Lail: 17-21)

 

Kekayaan kedua yang akan diperoleh adalah kepuasan

 

Allah Ta'ala juga berfirman :

 

 

"Jikalau engkau memberikan sedekah dengan terang-terangan, maka itu adalah baik, tetapi jikalau engkau semua menyembunyikannya - yakni tidak dengan cara terang-terangan dilihat orang lain, kepada orang-orang fakir, maka hal itu adalah lebib baik lagi untukmu semua dan dapat menghapuskan sebahagian dari kesalahan-kesalahanmu dan Allah adalah Maha mengetahui apa-apa yang engkau semua lakukan." (QS. Al-Baqoroh : 271)

 

 

Kekayaan yang disegerakan ketiga adalah terhapus semua kesalahan

 

Allah Ta'ala berfirman lagi :

 

 

"Tidak sekali-kali engkau semua akan memperoleh kebajikan sehingga engkau semua suka menafkahkan sebahagian dari apa yang engkau semua cintai. Dan apa saja yang engkau semua nafkahkan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (QS. Ali lmran : 92)

 

Kekayaan keempat adalah memperoleh kebajikan

 

Banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan keutamaan menafkahkan harta di jalan Allah atau untuk ketaatan. Buku-buku seperti The Miracle of Giving ustadz Yusuf Mansur dan Berani Kaya Berani Taqwa Anif Sirsaeba dapat kita baca untuk mendapat ulasan lengkap dalam bahasa yang mudah dicerna. Silahkan kita baca dan cermati isinya serta melaksanakannya.

Beberapa hadits terkait dengan hal di atas antara lain :

 

 

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya : Rosululloh s.a.w. bersabda :

"Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain". (HR. Bukhori)

 

Dari Ibnu Umar radhiAllah u 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya :

 

 

"Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu; Seorang yang diberi karunia Alquran oleh Allah sehingga ia membacanya (shalat dengannya) di pertengahan malam dan siang. Dan seseorang yang diberi karunia harta oleh, sehingga ia menginfakkannya pada malam dan siang hari." (HR. Bukhori)

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah RA di katakan :

 

 

Bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rosululloh shallAllah u 'alaihi wasallam sambil berkata; "Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi." Rosululloh shallAllah u 'alaihi wasallam bertanya: "Maksud kalian?" Mereka menjawab: "Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya." Maka Rosululloh shallAllah u 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan?" Mereka menjawab; "Baiklah wahai Rosululloh?" Beliau bersabda: "Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali." Abu shalih berkata; "Tidak lama kemudian para fuqara' Muhajirin kembali ke Rosululloh shallAllah u 'alaihi wasallam dan berkata; "Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu!" Rosululloh shallAllah u 'alaihi wasallam bersabda: "Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya!" (HR. Muslim)

Semua hal di atas adalah pernyataan bahwa kemampuan atau kekayaan itu diutamakan daripada kemiskinan. Dan dengan berhaji segera (yang berarti mensegerakan berbuat kebajikan) maka Insya Allah akan cepat sampailah kita kepada kaya yang sesungguhnya.

Saudaraku, kita lihat ? Semua itu adalah karunia dari Allah untuk kita yang bersegera dalam berbuat kebajikan. Termasuk haji. Itu berarti kalau kita bersegera menunaikan haji pada hakekatnya kita mensegerakan kekayaan bukan ?.

 

 

 

lN;

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 4

TAKUT, TAKUT DAN TAKUT

Ketakuatan Yang Harus Diperangi dalam Niat Berhaji

 

S

ekarang kita sudah tahu bahwa haji itu memang wajib dan harus diupayakan. Sudah tahu keistmewaan dan kemuliaan orang yang melaksanakan. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo segera berangkat ke Bank penerima setoran ONH dan daftarkan diri kita ! Kenapa belum berangkat juga..?

O..la..la.. ternyata ada yang menjawab : Takut..

Takut apa yaa ?

 

Berikut adalah beberapa ketakutan yang sering melkita para calon jama'ah yang sebenarnya sudah sangat harus bersegera ini. Antara lain :

Takut kehidupan keluarga yang ditinggal, kekhawatiran tentang kehidupannya jika hartanya terkurangi untuk membayar biaya haji

ketakutan sulit menjaga diri setelah memperoleh predikat haji, ketakutan jika ternyata di sana, terbalaslah perbuatan-perbuatan tidak baik kita, Kekuatiran tidak mampu menjamu tamu (sebelum dan sesudah pulang).

Aduh..banyak banget ya ketakutannya ?. Mari kita coba urai masalahnya satu persatu, semoga nanti bisa dicari solusinya. Kita kan sudah sepakat.

Barang siapa bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan.

 

Maaf sebelumnya, untuk memperjelas kasusnya kami akan menggunakan contoh kasus. Jika ada di antara kita yang merasa sama dengan yang kami maksudkan di sini, maafkan kami. Sama sekali tidak dimaksudkan untuk keburukan. Ini untuk sekedar ilustrasi saja sehingga memperjelas kita melihat sudut pkitangnya. Semoga Allah meridhoi langkah ini.

 

Masalah takut keluarga yang ditinggal

 

Ini alasan sebuah keluarga berada, yang penulis tahu secara materi Insya Allah jauh di atas. Alasan si ibu adalah; Anak kami masih kecil sementara orang tua sudah sepuh (tua). Jadi haji belum kewajiban kan buat kami ?, tanyanya ragu. kami yakin beliau ragu karena di sisi hatinya yang terdalam barangkali ada keinginan yang sangat kuat untuk bersegera menunaikan ibadah yang satu ini. Bagi beliau, biaya bagi keluarga yang ditinggal tidak menjadi masalah. Insya Allah hartanya benar-benar cukup untuk itu. Akhirnya beliau urung memproses perjalanan hajinya. Nunggu nanti anak sudah besar, nunggu ini dan itu.

Kekhawatiran yang lain tentang keluarga yang ditinggal. Salah satu keluarga yang kami kenal memiliki putra yang sudah dewasa dalam arti usia namun sangat kekanakan jika dikaitkan dengan tanggung jawab. Salah satu alasan bapak dan ibunya belum berangkat haji hingga tahun ini (padahal semua persyaratan secara materi maupun mental Insya Allah sudah cukup) adalah ketakutan sang ibu terkait anaknya. Beliau sangat mengkuatirkan putranya akan berkembang liar jika beliau tinggal 42 hari.

 

Kekhawatiran jika harta terkurangi untuk membayar haji

Ini kisah keluarga muda yang memiliki bisnis yang sedang bagus-bagusnya. Repeat ordernya sangat cepat sehingga pemakaian modal dalam usahanya menjadi sangat mutlak diperlukan. Kekuatiran yang muncul adalah jika uang dipakai untuk berhaji (berdua=sekitar 60-70 juta) akan mengurangi pertumbuhan usaha mereka. Pertimbangan-pertimbangan tentang resiko pemakaian modal untuk biaya atau ongkos naik haji menjadikan mereka urung pergi.

Terus terang waktu itu kami sempat tercenung dan tersipu. Boro-boro untuk itu untuk biaya ONH nya pun kami masih harus berusaha lebih keras. Jadi sempat ada rasa ragu saat itu.

 

Kesulitan menjaga diri setelah mendapat predikat haji

 

Ini cerita tentang seornag pesenam yang hatinya sangat memiliki kecenderugan tinggi untuk berhaji. Kekuatiran sulit menjaga diri mengingat profesinya membuatnya maju mundur merealisasikan niatnya. Kisah lain adalah tentang seorang ibu rumah tangga yang sudah menabung dalam jumlah cukup besar dari gaji suaminya yang bekerja di kapal pesiar namun karena usia mudanya muncul keraguan akankah mampu menjaga dirinya kelak setelah berhaji?

 

Ketakutan jika di Mekah atau Madinah terbalas perbuatan buruknya

 

Ini kisah seorang bapak sepuh yang di masa mudanya terbiasa meminjamkan uangnya untuk mendapat hasil (bahasa kasarnya, maaf, rentenir). Hidayah dan taufiq dari Allah membuatnya tersadar dan ingin memperbaiki diri serta bertaubat. Uangnya lebih dari cukup sebagai ongkos naik haji, bahkan kalau kuatir syubhat karena perolehannya, anaknya yang saat ini sudah menjadi seorang pengusaha mendorongnya dan bersedia membiayai ONH sang ayah. Namun ada keraguan dan ketakutan pada beliau. Beliau takut perilaku buruknya di masa lampau akan terbalaskan di sana.

 

Ketidakmampuan menjamu tamu

 

Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan seorang sahabat pada kami di suatu masa di saat yang lampau. Beliau bertanya apakah dalam proses berhaji kami juga menyiapkan uang untuk persediaan biaya untuk menjamu tamu.

Padahal ada hal-hal penting yang harusnya menjadikan kita perlu untuk bersegera melaksanakan ibadah haji ini lho.. Antara lain :

 

Terkait dengan masalah usia dan kesehatan

 

Pada umumnya, orang dengan usia yang relative muda akan memiliki stamina yang jauh lebih fit dibanding mereka yang usianya lebih tua. Erat juga berkaitan dengan daya tahan terhadap serangan penyakit karena virus ataupun sakit degenerative. Usia yang semakin tua menjadikan kecenderungan pola makan yang lebih sulit pula. Sehingga dapat dikatakan semakin muda justru semakin baik. Hal ini terkait dengan prosesi haji yang sebagian besar memang memerlukan fisik yang prima. Sehingga bersegera selagi masih sehat tentu lebih diutamakan daripada sebaliknya.

Sebagaimana surat al-Ashr menyajikan tatanan tentang esensi kehidupan adalah waktu. Hal ini erat juga terkait dengan waktu.

 

 

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan nasihat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.(QS. Al-Ashr)

Sebagaimana tadi diungkapkan bahwa segala yang diperintahkan Allah tentu mengandung kebaikan. Dan sesungguhnya merugilah orang yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.

Budaya di Indonesia, berhaji dilakukan ketika usia menjadi semakin tua. Banyak alasan dikemukakan tapi alasan terbesar adalah karena biasanya kearifan dimiliki seiring dengan merambatnya usia. Padahal banyak kemanfaatan justru ketika kita berhaji selagi muda.

Selain itu juga kita tidak pernah tahu, sampai kapan hayat ini akan dikandung badan. Kita juga masih perlu bertanya. Yakinkah kita bahwa dengan semakin bertambahnya usia akan membuat kita menjadi semakin arif ?, Yakinkah kita bila semakin tua kita juga teap sehat

 

Terkait masalah Ekonomi atau keuangan

 

Sebagian orang merasa tidak yakin dengan kelangsungan hidupnya sesudah menunaikan ibadah haji. Pada keluarga muda yang pas-pasan bahkan mungkin mengkuatirkan ketika sekian juta dananya yang semestinya masih sangat produktif untuk diputar dalam roda perekonomian harus direlakan untuk ongkos haji. Ada kecenderungan untuk memilih memutarkan uang tersebut menjadi modal yang kembang berkembang. Namun sesungguhnya kita tidak tahu apakah kelapangan akan senantiasa bersama kita di episode hidup sesudahnya (memang kita harus berharap dan berdo'a agar hidup terus membaik dari waktu ke waktu, namun kita juga diperintahkan untuk menggunakan 5 hal sebelum 5 hal , antara lain menggunakan kayamu sebelum miskinmu). Yakinkah kita bahwa semakin bertambah usia dan waktu masih akan berada dalam kelapangan seperti saat ini ?

 

Karena itu mari kita coba cari solusi dari masalah-masalah tersebut !

 

a. Ketakutan akan kehidupan keluarga yang ditinggal

 

Cara mengatasi :

Lihat ayat Al-Qur'an yang menjamin tentang rizki setiap binatang melata di muka bumi.

 

 

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah -lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata [Lauh Mahfuzh]. (QS. Hud : 6)

 

Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa. Sedang menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat, dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

Jangankan anak manusia yang tahu dan mengerti serta bisa diajari untuk survival. Binatang melata sekecil dan selemah bakteri pun telah disediakan rizkinya. SubhanAllah . Bagaimana kita tidak yakin dengan janji Allah yang satu ini?

Kita juga diajari untuk berdo'a dan menitipkan keluarga kita pada Allah . Siapa sih yang lebih bisa dipercaya dalam merawat ketimbang Allah SWT?

Berikut antara lain isi do'anya :

 

 

Aku menitipkan kamu kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya. (HR. Ahmad)

b.      Kekuatiran tentang kehidupannya jika hartanya terkurangi untuk membayar haji

Cara mengatasi :

Perhatikan ayat Al-Qur'an yang menjanjikan ghonimah. Menjanjikan kembalian 700 kali, 100 kali, 10 kali dsb.

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rizki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba' : 39)

 

Bukti-bukti di masa lalu dan masa-masa sekarang banyak sekali. Sufi besar Ibrahim bin Adham pernah memberi nasehat kepada seseorang yang risau . Di antara nasehatnya ia mengatakan, aku tahu rizkiku tak akan di makan oleh orang lain, karenanya aku tidaklah risau. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain maka akupun sungguh-sungguh mengerjakannya. (Majalah Tarbawi Edisi 54).

 

c. Ketakutan sulit menjaga diri setelah memperoleh predikat haji

 

Cara mengatasi :

Yakinlah bahwa sesungguhnya niatan itu akan dijaga oleh Allah SWT. Kewajiban kita adalah berusaha.

Kita selalu berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa (sholih) maka insyAllah Dia akan menjadikan kita benar-benar menjadi sholih. Sudah menjadi ilmu bahwa kita akan menarik apa yang ada pada pusaran keyakinan kita.

 

Ada sebuah anekdot dari buya HAMKA (Haji Muhammad Abdul Karim Amrulloh)

 

Seorang pemuda terpelajar pernah menyatakan kesan-pesannya kapadaku ( Hamka- pen) demikian katanya Didekat rumah kami tinggal seorang pak haji yang sangat taat beragama. Tidak ada waktu berputik bahkan sudah dipetiknya ( Maksudnya baru saja sholat ia bahkan sudah sholat artinya beramal tepat waktu), tetapi pak haji itu sangat pemarah terutama kepada kami pemuda-pemuda yang lalai melakukan sembahyang. Tidak beberapa jauh dari rumah pak haji tinggal pula seorang dokter membuka praktek. Hati dokter itu sangat baik. Orang kaya atau orang miskin yang berobat kepadanya diobatinya dengan penuh cinta. Dari pasiennya yang miskin ia tidak minta bayaran. Kaming dokter itu tidak pernah sholat.

Pada suatu saat anjing dokter itu masuk kedalam pekarangan rumah Pak Haji. Sangatlah murka pak haji melihat anjing itu sebab menurut pelajaran agama yang diterimanya suatu rumah yang ada anjingnya malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah itu.

 

Dengan tidak berpikir lagi diambilnya sekerat kayu dipukulnya anjing itu sekuat-kuatnya sehinggga patah kakinya. Anjing itu lari terkangkeng-kangkeng. Kembali ke pekarangan rumah tuannya. Melihat anjingnya lari dengan kaki yang patah sambil menggoyang-goyangkan ekornya di hadapan tuannya dokter itu memeluk anjingnya dengan menggeleng-geleng kepala sambil melihat kerumah pak Haji. Pak Haji masuk ke rumahnya sambil menutup pintu !.

 

Pemuda itu bertanya kepadaku ( HAMKA Pen). Manakah yang lebih baik antara pak haji yang taat sholat 5 waktu tetapi begitu kasar budinya di banding dokter yang tidak sembahyang tetapi mempunyai rasa kasian kepada manusia bahkan binatang sekalipun.

Kami sambut pertanyaan itu : Lebih dahulu kami hendak bertanya: Sholat itu baik atau tidak? Pemuda terpelajar itu menjawab : Sholat tentu baik. Maka kami beri jawaban tentang masalah pak haji dan dokter itu Pak haji akan bertambah jahat hatinya kalau dia tidak sembahyang dan berhaji. Dan pak dokter akan bertambah tinggi budinya dan baik hatinya kalau dia menjalankan sholat. (Lembaga Budi Prof. HAMKA).

 

d. Ketakutan jika ternyata di sana, terbalaslah perbuatan-perbuatan tidak baik kita

 

Cara Mengatasi :

Ingat satu hal !! Mekah dan Madinah bukan akhirat tempat semua amal akan dihisab. Justru kesempatan ini adalah untuk memohon ampunanNya sebelum datangnya hari kiamat. Ada satu kesempatan istimewa yang tidak bakalan diperoleh kecuali oleh mereka yang bersegera menunaikan haji, yaitu wukuf.

Dengan selesainya prosesi wukuf dan memohon ampun, Insya Allah semua dosa terampuni. Syaratnya tentu saja harta yang kita pakai untuk menabung atau menyetorkan dana haji adalah harta yang halal.

Memang ada saja mungkin mitos yang satu ini merebak di masyarakat. Kenapa dikatakan mitos karena belum pernah mendengar satu lkitasan ayatpun bahwa haji adalah hari pembalasan dari dosa yang diperbuat dihari yang lalu.

Maka perkuat keyakinan jika kerisauan yang satu ini muncul menghinggapi . Dan ingat kerisauan yang lebih besar apabila kita tidak mensegerakan ibadah ini.

 

e. Kekhawatiran tidak mampu menjamu tamu (sebelum dan sesudah pulang)

 

Cara Mengatasi :

Tanamkan keyakinan. Sekali lagi ini berkaitan dengan bahwa masing-masing orang telah diatur rizki nya. Orang yang mempunyai niatan baik untuk bisa memberikan hal yang terbaik untuk para tamunya, Allah akan mempermudah terjadinya. Demikian pula halnya tamunya. Masing-masing tamu ini juga telah diatur rizkinya oleh Allah sehingga hattapun dia bertamu ke rumah kita, Insya Allah dia akan memperoleh rizkinya sendiri sesuai jatahnya. Sehingga cukupkanlah doamu atas kekuatiran itu.

 

 

Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku ini dekat. Aku dapat mengabulkan permohonan orang yang berdoa pada-Ku jikalau ia telah memohonkan itu pada-Ku.... (QS. Al-Baqoroh : 186).

 

Itu jawaban dari Allah untuk semua masalah tadi. Jadi benar-benar semua alasan ketakutan kita terjawab hanya dengan ayat 186 surat Al-Baqoroh.

 

 

Selesai kan sampai di sini kenapa kita tidak perlu takut untuk bersegera melaksanakan haji ? Benar-benar tidak ada alasan yang perlu ditakutkan kan ? Ada Allah yang dekat.

Aduhada lagi yang jawab ya? (tapi..kami belum tahu caranya untuk bisa bersegera menunaikan haji..harus pake cara apa ??)

Maka pada halaman-halaman berikutnya kita akan menemukan Insya Allah cara (tentunya atas ijin Allah ) untuk bisa segera menunaikan haji plus metodenya. Ada beberapa hal dan pertama sekali kita harus punya mental kaya sebagaimana yang dicontohkan Rosulullah. Kami akan mencoba mensarikan dari beberapa buku tentang bagaimana memperoleh mental kaya kemudian dengan itu segera siapkan diri untuk segera berhaji ya..!!

 

 

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 5

MENTAL KAYA

Meniatkan Haji Sama Dengan Menyiapkan Mental Untuk Kaya

 

S

atu hal yang harus penulis pastikan terlebih dahulu. Kita barus sepakat terlebih dahulu saat ini, bahwa Kita harus yakin banget haji itu wajib dan kita wajib segera berangkat !!

Ini penting!!

Jadi kami ulangi! Kita harus yakin mulai saat ini haji itu wajib hukumnya bagi kita dan kita wajib segera berangkat!!

Baik! Kami percaya saat ini kita sudah mengulang hal tersebut berkali kali untuk diri kita sendiri.

 

Haji wajib hukumnya dan Kita wajib berangkat Haji!! Segera!!

 

Sepertinya yang penting sekali adalah bagaimana menumbuhkan mental kaya pada diri kita. Mental yang sudah dibekalkan Allah sejak awal usia kita, namun karena lingkungan atau tradisi tempat bertumbuh menjadikan kita kehilangan sensitivitas akan hal tersebut.

Saudaraku, Beruntunglah kita karena sekarang ini sangat banyak literature dan lingkungan yang akan bisa mendorong kita untuk kembali menemukan mental kaya yang sudah ada pada diri kita. Sekarang ini, di Indonesia, di posisi kita yang sekarang. Kita tidak perlu harus pergi ke manapun untuk mendapatkan kembali mental kaya kita!

Kita awali dulu menemukan mental kaya yang ada pada diri kita dengan pertanyaan berikut..

Apakah kita merasa untuk menjadi benar-benar kaya kita harus memiliki uang sangat banyak?,

 

Jika jawaban kita tidak

mungkin kita akan menyatakan ; kan bisa kaya hati, kaya teman, kaya ilmu dsb (seperti yang diuraikan Pak Putu ya? )

 

Jika jawaban kita ya,

mungkin kita sudah berpikir tentang kaya uang.

Baiklah kami akan mencoba mengajak kita merenungkan ilustarasi berikut :

Pak X baru saja memenangkan kuis senilai 1 milyar (uang ini untuk ukuran kita masih besar kan? He..he..). Dari uang tersebut, setelah terpotong pajak 10%, beliau menggunakan uang tersebut untuk beragam kebutuhan keluarga. Terutama adalah hal-hal yang menyenangkan anak dan istrinya, mengingat selama ini mereka memang hidup dalam keterbatasan. Beli Mobil. Beli motor sekaligus untuk 3 anaknya. Jalan-jalan. Merenovasi rumahnya. Dan tepat 6 bulan setelah itu pak X sudah menghabiskan seluruh uangnya.

 

Jadi, kayakah Pak X tadi ? Selama 6 bulan ini ?

 

Kan uangnya banyak?

Mungkin kita sudah mulai menjawab tidak selalu ya?

Ya. Itulah jawaban yang betul. Tidak selalu harus memiliki uang banyak untuk bisa disebut kaya.

Mungkin sudah ada yang bertanya.

Kalau begitu apa syaratnya?

Saudaraku, sesungguhnya kaya itu tidak membutuhkan syarat yang terlalu banyak. Percayalah Kita bisa menjadi kaya mulai saat ini juga !

Definisi kekayaan sebenarnya diawali dengan mental kaya. Seseorang yang merasa saat ini sudah dalam keadaan kaya itulah yang sebenarnya akan mendapatkan kekayaan selanjutnya. Kita pasti ingat pepatah yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin ?, menurut Kiyosaki (2005) hal itu berbeda pada pola pikir saja sebenarnya.

Banyak orang mengatakan Jika aku punya banyak uang, masalah keuanganku akan selesai. Mereka tidak menyadari bahwa mempunyai terlalu banyak uang juga sama besar masalahnya dengan tidak memiliki uang. Hanya sedikit orang yang sadar mempunyai uang terlalu banyak bisa menjadi masalah sangat besar. Memiliki uang sangat besar justru akan menimbulkan masalah baru jika kita belum siap atau belum memiliki kepintaran financial untuk mengelola uang itu. tidak atau belum bernilai menjadi bernilai.

 

Mental kaya sesungguhnya adalah bagaimana mengubah sesuatu tidak atau belum bernilai menjadi bernilai.

Mental kaya yang dahsyat akan mampu menjadikan sampah menjadi uang. (seperti pemulung dong ??, bisa jadi!!). Padahal sebagai seorang insan yang lengkap kita pastinya telah dibekali otak dan kemampuan untuk menjadi lebih kaya kan? .

 

Diri kita sendirilah modal yang sangat besar sebenarnya.

 

Coba saja kita hitung berapa rupiah harga otak kita, paru-paru, jantung, hidung kita, tangan kita bahkan dengkul kita?. Kita bisa mendapat gambaran yang lebih jelas dengan berkunjung ke sebuah rumash sakit. Mintalah waktu untuk bertemu dengan dokter kemudian bertanyalah. Berapa kira-kira uang yang harus kita bayar jika tiba-tiba saja hidung atau paru-paru kita tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Seorang pebisnis yang saat ini memiliki jaringan toko buku Social Agency Baru secara ekstrim malah mengatakan, Bisa kok sukses itu modal dengkul.

Modal dengkul ? Betul Benar-benar modal dengkul. Maka kalau hari ini kita masih memiliki dengkul, bisa dipastikan kita punya jalan untuk menjadi lebih sukses atau kaya. !!

Ini memang hanya sekedar perumpamaan. Konotasi yang secara ekstrim sering diungkapkan dengan modal dengkul artinya mulai dari kecil atau mulai dari apa yang sudah ada dan sedang dimiliki saja. Jadi harus kita pahami bahwa untuk menjadi sukses atau kaya benar-benar tidak perlu modal atau uang. Justru kaya atau sukses itulah yang akan menghasilkan uang.

 

Jadi, sekarang juga harus merasa sukses dan kaya !

 

Caranya ?

Kutipan, apa yang dituliskan Trump (Donald Trump yang terkenal sebagai pengusaha kelas satu di negaranya) dalam bukunya Think Big and Kick Ass. Banyak orang yang bertanya Bagaimana kita menjadi Kaya?Jawabnya adalah : sikap, tindakan, keteguhan hati, gairah dan banyak kualitas lain yang membedakan antara pemenang dan pecundang.

Sikap, tindakan, keteguhan hati, gairah adalah yang membedakan akan jadi apakah kita. Sepertinya semua itu adalah hal-hal sederhana ya?, Kita juga dapat menemukan hal-hal kecil lainnya yang akan bisa mengubah hidup kita kok. Lagipula hal-hal seperti inilah yang bisa kita kendalikan sebagai apapun kita saat ini kan? Cuma sikap, tindakan, keteguhan hati dan gairah Pak..Bu..!

Bernie B dan David R merangkaikan semua itu untuk kita dalam buku Kenali Hal-hal kecil yang akan Mengubah Hidup Kita (2009) dan kami mengambil sedikit untuk kita. Antara lain :

1. Kesuksesan dimulai dari menjadi diri sendiri.

2. Tuhan tidak butuh bantuan kita, kita harus meminta.

3. Jangan Takut pada Takut.

Dalam buku Memang Tuhan Menghendaki Kami Kaya (2007) Bambang Irfanudin menekankan kejujuran sebagai kunci untuk kaya. Hanya orang yang benar-benar jujur dalam melaksanakan segala sesuatunya yang benar-benar kaya. Meskipun kita punya harta berlimpah, ketika kita tidak jujur, kita belum bisa disebut kaya. Betul ?, coba sajakita gelisah kan kalau uang banyak ini hasil dari ketidakjujuran ?.

Selain menyiapkan mental kaya ala pengusaha-pengusaha tersebut, kita juga harus tahu juga seperti apa Rosululloh mempersiapkan kita untuk punya mental kaya ini. Juga beberapa ayat yang diberikan Allah untuk memantapkan mental kaya pada kita.

Tidak peduli berapapun harta kita, pada kenyataannya kita hanya mengambil sedikit dari harta itu. Seorang sahabat yaitu Abdullah bin Syakhir menceritakan kisah berikut ini :

 

 

Aku mendatangi nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dan beliau tengah membaca : "Bermegah-megahan telah melalaikanmu." (QS. At-Takaatsur : 1), beliau bersabda: "Anak cucu Adam berkata : 'Hartaku, hartaku'." Beliau meneruskan : "Hartamu wahai anak cucu Adam tidak lain adalah yang kau makan lalu kau habiskan, yang kau kenakan lalu kau usangkan atau yang kau sedekahkan lalu kau habiskan." (HR. Muslim).

 

Ketiga hal itu saja sebenarnya yang kita miliki. Karena faktor itulah, Rosulullah ajarkan pada kita untuk merasa puas dengan yang kita miliki kemudian menggunakannya untuk berjuang demi mendapatkan kebahagiaan abadi di akhir nanti.

Jadi kekayaan atau kesuksesan itu ditemukan pada rasa puas dan rasa damai yang dihasilkan dari iman dan amal perbuatan yang ikhlas.

Rosulullah ajari untuk mensyukuri semua ni'mat yang diberikan Allah kepada kita. Ingat Barangsiapa mensyukuri keni'matan maka akan ditambahkan kepadanya keni'matan itu, tapi barangsiapa ingkar maka siksa Allah sangat pedih.

 

Dengarlah

 

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-KU. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. 58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adzariyat : 56-58)

Dan perhatikan ayat ini selanjutnya

 

. .

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thoha : 130-132)

 

Kedua ayat ini tentang penjaminan rizqi dari Allah . Allah menjamin rizqi tiaptiap hamba-Nya sehingga tidak akan ditemui kesulitan sedikitpun ketika kita sudah meyakini hal ini.

Allah dalam kedua ayat itu memberi tahu kepada kita tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita adalah menyembah Allah . Allah tidak meminta harta kita atau kekayaan kita. Ia tidak minta rizqi kita. Sama sekali tidak. Justru kita yang meminta kepada-Nya.

Dia yang memenuhi segala sesuatu yang kita pinta. Karena memang Allah lah Maha Pemberi Rizqi.

Jadi saat ini penulis yakin kita sudah memastikan bahwa saat ini kita sudah berada dalam posisi sebagai orang kaya atau paling tidak kita sudah bisa merasakan kaya.

 

Kita sudah kaya !!

 

Cobalah sejenak kita melihat betapa karunia yang diberikan Allah kepada kita sungguh sangat banyak. Kita ingat ada anak teman kita yang saat ini sedang terbaring sakit ?. Kita tahu kan kalau saat ini ada rekan kita yang sedang terlibat kasus di pengadilan ? Kita ingat ada yang untuk bernafas hari ini harus membayar jutaan rupiah (dengan tabung oksigen karena asma atua penyakit jantungnya membuatnya harus dirawat di rumah sakit ? )

Bahkan kalau saat ini kita sedang dalam kondisi demikian, kita pasti ingat ada orang tua sepupu kita yang sudah meninggal sehingga tidak sempat berbahagia bersama kita saat ini ? Kita pasti juga ingat ada pengemis di emperan toko yang sering kita lewati ketika berbelanja tidak punya tangan yang lengkap ?. Paling tidak hari ini kita tidak sedang kebanjiran, kebakaran, atau mengalami kesulitan secara fisik.

Itulah kekayaan yang sudah diberikan Allah pada kita.

 

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

(QS. Ar-Rahman : 13)

 

Lagi pula kekayaan kita yang terbesar sudah kita peroleh. Yaitu mental kaya. Selamat!! Ini adalah langkah sukses kita yang pertama untuk menuju kaya yang sesungguhnya. Kaya Dunia akhirat

 

 

 

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 6

BERNIAGALAH DENGAN ALLAH SWT

Allah Akan Selalu Menghitung Segala Apa Yang Diusahakan dengan Ikhlas

 

S

etelah kita mendapatkan mental kaya. Saat ini kita mendapat bonus ilmu untuk melangkah lebih dekat lagi menuju realitas berangkat haji. Perangkat-perangkatnya sudah disiapkan special untuk kita yang sedang membaca buku ini. Insya Allah (atas ijin Allah ..)

 

Simaklah ayat berikut !

 

 

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah , pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah ), Maka Allah akan melipat gkitakan pembayaran kepadanya dengan lipat gkita yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqoroh : 245)

 

 

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah di jalan Allah sebagian dari rizki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqoroh : 254)

 

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari ridho Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqoroh : 265).

 

Ini adalah rumus untuk bisa berhaji dengan segera. Beberapa ayat di atas itu adalah metode untuk segera menunaikan haji kita lho.!!

 

Sudah kita cermati ?

 

Berniagalah dengan Allah .

 

Pinjami dengan harta kita !!

Yakinlah !!

Berniaga dengan Allah SWT tidak akan pernah ada ruginya. Bahkan beruntung. Sungguh !! Dunia akhirat !!

Kita pernah ditipu mitra usaha kita? Pernah dikhianati sahabat atau rekan bisnis kita? Pernah berbisnis tapi tidak ada hasilnya? Atau bahkan semua baik-baik saja?

Cobalah yang satu ini !!

 

Berbisnis dengan Allah !!

 

Bagaimana caranya berbisnis dengan Allah ?. Ustadz Yusuf Mansur dan Anif Sirsaeba telah mengupas berbisnis dengan Allah di buku-buku beliau. Kita harus membacanya lebih lengkap di buku itu. Kami sedikit menukilkannya di sini untuk kita.

 

a.    Berbisnis dengan penuh ketaqwaan

Artinya tidak menempatkan ketaqwaan hanya ketika sholat saja. Ingat Allah dalam setiap transaksi bisnis kita atau setiap menuntaskan pekerjaan kita. Itu berarti kejujuran, amanah, tekun, dan tidak melupakan hak-hak fakir miskin untuk menerima sisa hasil usaha kita.

 

b.   Tawakkal

Kita hanya harus berusaha. Hasilnya serahkan pada-Nya. Karena memang urusan Dia untuk memberikan hasilnya untuk kita.

c.    Bersilaturrahiim

Adalah salah satu cara kita untuk berbisnis dengan Allah . Salah satu riwayat hadits menyebutkan :

 

 

Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka binalah tali silaturrahiim. (HR. Bukhori)

 

Berikut adalah beberapa keuntungan berbisnis dengan Allah berdasarkan ulasan ayat tadi :

 

1.       Di akhirat jelas, keuntungan terbesar ketika berniaga dengan Allah . Syurga. Tempat di mana tidak ada yang kita mau kecuali telah tersedia. Tempat di mana keabadian bergelimang dalam cinta. Tempat di mana kasih kaming bertumbuh subur dengan lebatnya. Tempat di mana pohon keimanan akan berbuah keni'matan.

 

2. Di dunia ? Semua penjelasan yang sudah diuraikan sejak awal buku ini telah jelas untuk kita cermati. Kenikmatan ukhrowi yang dipercepat!!

 

Tidak ada orang yang berangkat ke tanah suci kemudian menjalaninya dengan ikhlas kecuali Allah SWT memberinya kemuliaan. Tanyakan pada siapapun orang ikhlas yang pernah ke sana. Insyaalah jawaban-Nya adalah sama. Tiada yang memuliakan tamunya semulia Allah SWT memuliakan tamunya.

 

Berhemat dalam rangka alokasi biaya haji

 

Jangan serupakan hemat dengan bakhil karena orang yang hemat memperhitungkan perbelanjaanya, uang yang masuk dan uang yang keluarnya dengan tujuan apabila perlu dapat membelanjakan harta itu menurut sepatutnya. Tetapi orang yang bakhil mengumpulkan harta dengan tujuan semata-mata mengumpul. Orang yang hemat mengatur hartanya. Orang yang bakhil diatur oleh hartanya. (HAMKA).

Kami sekarang semakin yakin bahwa kita pasti telah semakin mantap untuk segera berhaji. Kami yakinkan kita untuk segera mengalokasikan sebagian dari rizki yang kita miliki untuk pergi haji.

 

Saat ini juga !!.

 

Stop baca buku ini dan segera kumpulkan uang yang kita miliki sampai sejumlah setoran awal minimal rekening haji. Bawa ke Bank penerima setoran ONH terdekat. Kenapa harus ke sana? Mereka memang siap membantu kita untuk menerima setoran-setoran kita. Berapapun jumlahnya. Memang biasanya di awal setoran, minimal 500 rb tapi sesudahnya seratus ribupun tidak masalah. Sah dan boleh kok..(mungkin ada yang bertanya; Masa untuk pembayaran ONH 35 juta [hitungan tahun 2009] diawali dari 500 ribu?)

 

Tidak percaya ? Buktikan sendiri saja !!

 

Dan mereka akan membantu kita untuk tetap komitmen dengan cita-cita kita untuk pergi haji. Mereka biasanya akan menahan kita untuk mengambil kembali tabungan haji kita untuk keperluan yang lain. Mereka memang dipersiapkan untuk memudahkan kita.

Kita ingat ?

Waktu itu kita pernah sangat ingin bisa pergi haji ? Kita siap mengalokasikan harta kita seberapapun jumlahnya asal kelak bisa berangkat haji ? Ternyata uang yang kita sisihkan terpakai untuk keperluan yang kita pikir lebih penting bukan? Kenapa ?, karena kita belum memasukkannya ke rekening haji, Saudaraku.

Ini memang hanya satu cara dan kebetulan regulasi haji Indonesia memudahkan kita untuk melakukan ini semua.

Maka, kalau saat ini kita sudah betul-betul kepengen naik haji, bismillah, berhematlah dan alokasikan untuk ongkos naik haji.

Ini tepat sekali dengan bunyi ayat berikut yang meminta kita untuk berbekal.

 

Dan sesunguhnya sebaik-baik bekal adalah bekal Taqwa

 

 

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[1], Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[2], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. BerbekAllah , dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa[3] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqoroh : 197)

-------------------------------------------------------------

[1] Ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.

[2] Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.

[3] Maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

 

 

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 7

BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH

Bersungguh-Sungguh Dalam Suatu Urusan adalah kunci Sukses Cita-cita

 

B

eberapa ayat di surat Al-Insyirah bisa kita jadikan panduan untuk memperoleh keyakinan bahwa setelah upaya kita bersungguh-sungguh untuk berhaji maka kemudahanlah yang akan kita peroleh.

 

. ﴿١ ﴿٢﴾ ﴿٣﴾ ﴿٤﴾ ﴿٥﴾ ﴿٦﴾ ﴿٧﴾ ﴿٧﴾ .

Bismillahirrohmaanirrohiim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1.     Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu ?

2.    Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,

3.    Yang memberatkan punggungmu?

4.   Dan Kami tinggikan sebutan namamu?

5.    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

6.   Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan,

7.    Maka apabila telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

8.   Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Berikut adalah ayat-ayat yang dapat kita jadikan penguat hati mengenai hadiah dari kesungguhan.

 

Ayat-ayat yang memotivasi untuk Bersungguh-sungguh

 

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Quran :

 

 

"Dan orang-orang yang berjihad dalam membela agama Kami, maka pasti akan Kami tunjukkan mereka itu akan jalan Kami dan sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang berbuat kebagusan." (QS. Al-Ankabut : 69)

 

 

"Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datanglah keyakinan (kematian ) itu padamu. (QS. Al-Hijr : 99)

 

"Dan ingatlah akan nama Tuhanmu serta beribadatlah kepada-Nya dengan sepenuh hati [yakni hentikanlah segala pemikiran, untuk semata-mata menghadap kepadaNya]." (QS. Al-Muzzammil : 8)

 

"Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat timbangan debu, Dia pun pasti akan mengetahuinya." (QS. Az-Zalzalah : 7)

 

"Dan apa saja (perbuatan baik) yang engkau sekalian berikan untuk dirimu sendiri, nanti pasti akan engkau sekalian dapati di sisi Allah , keadaannya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya." (QS. Al-Muzzammil : 20)

 

"Dan apa saja kebaikan yang engkau sekalian kerjakan, maka sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqoroh : 215)

 

Hadits-hadits yang memotivasi untuk bersungguh-sungguh

Dan tidaklah seseorang hamba-Ku itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku lah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku lah matanya yang ia gunakan untuk melihat, Aku lah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Aku lah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Kitaikata ia meminta sesuatu pada Ku, pastilah Ku beri dan kitaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Ku lindungi." (HR. Bukhori)

Dari Abu Huroiroh r.a. dari Nabi s.a.w. dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Tuhannya 'Azzawajalla, firman-Nya :

 

" Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. " (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Abbas radhiAllah u 'anhuma, katanya : Rosululloh s.a.w. bersabda :

 

"Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhori).

 

Diriwayatkan dari sahabat Mughiroh bin Syubah r.a. :

 

. : ǿ . :

Bahwasanya Rosululloh s.a.w. berdiri untuk beribadat dari sebahagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Maka nabi ditanya : "Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rosululloh, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang akan datang ? Rosululloh s.a.w. bersabda : "Tidak bolehkah kami menjadi hamba yang banyak bersyukur. " (HR. Muslim)

Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena oleh sesuatu musibah, maka janganlah engkau berkata: "Kitaikata kami mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu." Tetapi berkatalah : "Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki oleh-Nya tentu Dia melaksanakannya," sebab sesungguhnya ucapan "kitaikata" itu membuka pintu godaan syaitan." (HR. Muslim)

Saudaraku, ternyata kalau kita menginginkan Jannatul Firdausy di sisi Rosulullah maka kita memang harus memperbanyak sujud. Rosulullah akan membantu kita, Allah pun akan memberikan jalannya.

Dari Abu Abdillah, juga dikatakan dengan nama Abu Abdir Rahman yaitu Tsauban, hamba sahaya Rosululloh s.a.w. r.a., katanya: "Kami mendengar Rosululloh s.a.w. bersabda:

 

"Hendaklah engkau memperbanyak bersujud, sebab sesungguhnya engkau tidaklah bersujud kepada Allah sekali sujud, melainkan dengannya itu Allah mengangkatmu sedarajat dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan dari dirimu." (HR. Muslim).

 

Coba bandingkan dengan apapun di manapun, tidak ada tawaran setinggi ini. Benar-benar hebat ya efek berniaga sama Allah .

Dari Anas r.a., katanya:

Bapak saudaraku, yaitu Anas bin an-Nadhr r.a. tidak mengikuti peperangan Badar, kemudian ia berkata : Ya Rosululloh, kami tidak mengikuti pertama-tama peperangan yang Tuan lakukan untuk memerangi kaum musyrikin. Jikalau Allah mempersaksikan kami (menakdirkan kami ikut menyaksikan) dalam memerangi kaum musyrikin pada waktu yang akan datang, niscayalah Allah akan memperlihatkan apa yang akan kami perbuat.

Ketika pada hari peperangan Uhud, kaum Muslimin menderita kekalahan, lalu Anas bin an-Nadhr berkata: Ya Allah , kami mohon keuzuran (pengampunan) padaMu daripada apa yang dilakukan oleh mereka itu (yang dimaksudkan ialah kawan-kawannya karena meninggalkan tempat-tempat yang -

sudah ditentukan oleh Nabi s.a.w.) juga kami berlepas diri (maksudnya tidak ikut campur tangan) pada-Mu daripada apa yang dilakukan oleh mereka (yang dimaksudkan ialah kaum musyrikin yang memerangi kaum Muslimin).

Selanjutnya ia pun majulah, lalu Sa'ad bin Mu'az menemuinya. Anas bin an-Nadhr berkata: "Hai Sa'ad bin Mu'az, marilah menuju syurga. Demi Tuhan yang menguasai Ka'bah (Baitullah), sesungguhnya kami dapat menemukan bau harum syurga itu dari tempat di dekat Uhud."

Sa'ad berkata: "Kami sendiri tidak sanggup melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas itu, ya Rosululloh."

Anas (yang merawikan Hadits ini yakni Anas bin Malik anak saudara Anas bin an-Nadhr ) berkata; "Maka kami dapat menemukan dalam tubuh Anas bin an-Nadhr itu delapan puluh buah lebih pukulan pedang ataupun tusukan tombak ataupun lemparan panah. Kita menemukannya telah terbunuh dan kaum musyrikin telah pula mencabik-cabiknya. Oleh sebab itu seorang pun tidak dapat mengenalnya lagi, melainkan saudara perempuannya saja, kerana mengenal jari-jarinya."

Anas (perawi Hadits ini) berkata: "Kita sekalian mengira atau menyangka bahawasanya ayat ini turun untuk menguraikan hal Anas bin an-Nadhr itu atau orang-orang yang seperti dirinya, yaitu ayat yang artinya:

"Di antara kaum mu'minin itu ada beberapa orang yang menempati apa yang dijanjikan olehnya kepada Allah ," sampai seterusnya ayat tersebut. (Muttafaq 'alaih)

Lafaz LayuriannAllah , diriwayatkan dengan dhammahnya ya' dan kasrahnya ra', artinya : Niscayalah Allah akan memperlihatkan yang sedemikian itu (apa-apa yang dilakukannya) kepada orang banyak. Diriwayatkan pula dengan fathah keduanya - ya' dan ra'nya -dan maknanya sudah jelas - iaitu: Niscayalah Allah akan melihat apa-apa yang dilakukan olehnya. Jadi membacanya ialah: Layara-yannAllah . WAllah u alam.

 

Dari Abu Mas'ud iaitu 'Uqbah bin 'Amr al-Anshari al-Badri r.a., katanya: "Ketika ayat sedekah turun, maka kita semua mengangkat sesuatu di atas punggung-punggung kita -untuk memperolehi upah dari hasil mengangkatnya itu untuk disedekahkan.

Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak benar jumlahnya. Orang-orang berkata: "Orang itu adalah sengaja pamer saja - memperlihatkan amalannya kepada sesama manusia dan tidak kerana Allah Ta'ala melakukannya. Ada pula orang lain yang datang kemudian bersedekah dengan barang satu sha' - dari kurma. Orang-orang sama berkata: "Sebenarnya Allah pastilah tidak memerlukan makanan satu sha'nya orang ini."

Selanjutnya turun pulalah ayat yang artinya :

"Orang-orang yang mencela kaum mu'minin yang memberikan sedekah dengan sukarela dan pula mencela orang-orang yang tidak mendapatkan melainkan menurut kadar kekuatan dirinya," dan seterusnya ayat itu { yakni firman-Nya : "Lalu mereka memperolok-olokkan mereka. Allah akan memperolok-olokkan para pencela itu dan mereka yang berbuat sedemikian itu akan memperolehi siksa yang pedih." [QS. at-Taubah: 79] }. (Muttafaq 'alaih)

Barangkali kalau diterjemahkan dengan realita kita saat ini, kita bekerja dengan penghasilan hasil keringat kita (menjadi employee atau self employee) atau hasil usaha kita (menjadi bisnis owner atau investor) dan hasil itu yang kita sedekahkan di jalan Allah . Atau hasil itu yang kita alokasikan untuk ONH kita. (Dipetik dari Riyadhus Shalihin Al-Imam An-Nawawi, http://hikmah.sitesled.com)

 

Setelah kita tahu semua hal mengenai pentingnya bersungguh-sungguh, apa sih yang kita susahkan lagi ? Pastilah Allah kan yang akan mengatur semua jalannya untuk kita. Di titik ini kita hanya perlu bersungguh-sungguh.

Kami kembali menukilkan surat al-Insyirah untuk menjadi motivasi bagi kami dan juga kita, saudaraku.

 

 

. ﴿١ ﴿٢﴾ ﴿٣﴾ ﴿٤﴾ ﴿٥﴾ ﴿٦﴾ ﴿٧﴾ ﴿٧﴾ .

 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

  1. Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu ?
  2. Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,
  3. Yang memberatkan punggungmu?
  4. Dan Kami tinggikan sebutan namamu?
  5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
  6. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan,
  7. Maka apabila telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
  8. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

 

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

 

 

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 8

HAJI MUDA = KAYA WAKTU MUDA

 

D

i antara kita (kami kok hampir yakin kita adalah orang muda ya ?, atau kalaupun tua secara usia, kita memiliki semangat muda !) kami rasa ada yang mengira bahwa berhaji itu sebaiknya setelah usia tua ya?

Sahabat, semakin muda usia kita saat berhaji rasanya semakin mudah untuk menikmati manisnya ibadah yang satu ini lho. Jadi tidak harus nunggu sampai tua lho

Kalau kita muda dan kita segera berhaji minimal ada dua hal kenikmatan yang akan kita peroleh :

 

Sehat

Haji adalah rangkaian ibadah yang banyak menggunakan kekuatan fisik lho. Mulai dari awal perjalanan dari tempat tinggal kita menuju asrama haji, dari asrama haji menuju bkitara dan seterusnya hingga terbang ke Jeddah. Semua itu akan terasa lebih nikmat dengan mudanya usia kita lho. Benar !!

(Maaf) tanpa bermaksud untuk membicarakan yang sudah sepuh, kita bisa bayangkan mana lebih ni'mat duduk 11 jam saat tubuh dalam keadaan bugar dan fit karena usia muda atau saat tubuh sudah mulai renta.? , Bukan berarti yang sepuh tidak lagi bisa menikmati perjalanannya, namun kami rasa nikmatnya akan terasa beda lho. Nggak percaya?

Silahkan langsung saja kita rasakan sendiri !!

Bedakan haji kita yang sekarang dengan haji kita nanti saat usia sudah semakin tua ya..(Kami anjurkan kita tetap mendahulukan kepergian yang sekarang ya..).

 

Akhlaq terjaga sejak dini

 

Ini ada kaitannya dengan tujuan dibentuknya IPHI (ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) yaitu agar para hujjaj terjaga kemabrurannya. Insya Allah minimal ada rasa malu ketika (meskipun muda) kita melakukan perbuatan tercela. Karena itu semakin muda usia kita berhaji, justru semakin baik. Insya Allah akan lebih terjaga.

Ada juga yang memang sebenarnya sudah merasa siap secara material tetapi selalu tidak siap secara moril (banyak orang muslim yang kaya, namun lebih sedikit yang kaya dan bersegera menunaikannya), Ada juga yang sudah mantap dengan semua syarat kecuali terkendala masalah biaya.

Berikut adalah kiat khusus untuk mengatasi masalah yang terakhir tadi.

SAAT BIAYA menjadi KENDALA,

lakukan saja beberapa tips berikut, Insya Allah tiba-tiba saja tanpa kita sadari kita telah akan sampai di depan KA'BAH (Baitullah nan mulia) dan dalam kondisi yang kaya pula!!

 

1.          Bercita-citalah untuk bisa berhaji

 

Cita-cita adalah bagian dari kesuksesan , karena segala sesuatunya berawal dari gambaran cita-cita. Sebuah bangunan yang tinggi tentu tidak akan terwujud kalau sebelumnya tidak ada yang mengangankannya, tidak ada yang menggambarnya dan tidak ada yang membangunnya. Sehingga betul yang dikatakan Stephen Covey dalam Seven Habits segalanya tercipta dua kali. Minimal realita adalah hasil ciptaan kedua setelah pertama tercipta di angan atau cita-cita.

Maka, Bercita-citalah untuk bisa berhaji. Kelak segala sesuatunya (atas ijin Allah ) akan terjadi

 

2. Niatkan hanya karena Allah semata

 

Perintahnya adalah untuk berhaji jika mampu (bukan jika kaya). Kita harus yakin bahwa kita mampu. Bahwa kita Sanggup. Tepiskan semua bayangan ketakutan dan kekuatiran kita dengan membaca dan melakukan hal-hal yang sudah tertulis di halaman sebelumnya di buku ini.

Kita harus yakin dan benar-benar yakin kita Bisa!

Niat memiliki banyak fungsi dan arti yang berdampak pada bernilai tidaknya suatu amal.

 

3. Bekerjalah, Raihlah yang Halal saja

 

Rosululloh bersabda : Wahai umatku, Allah itu Maha Suci, Dia tidak menerima kecuali hanya yang suci

Rosulullah SAW suatu saat pernah tidak dapat tidur miring ke sana kemari semalaman. Istrinya pun bertanya, ada apa gerangan yang menggelisahkan?. Beliau pun menjawab :, Aku menemukan sebiji buah kurna di tempat tidur ini tadi malam dan memakannya. Kemudian aku teringat bahwa kita memiliki (di rumah kita) beberapa biji buah kurma untuk disedekahkan. Maka aku takut bahwa kurma yang aku makan itu adalah salah satu dari kurma-kurma yang akan kita sedekahkan itu. (H.R Ahmad).

Saudaraku, kita lihat.!! Rosul mencontohkan kepada kita bagaimana beliau sangat berhati-hati dengan apa yang beliau masukkan ke dalam mulut beliau. Beliau sangat takut jika sampai mengkonsumsi sesuatu yang bukan menjadi hak-nya. Padahal ini di rumah bahkan kamar beliau sendiri??

Ini menunjukkan pada kita bahwa demikian pentinglah untuk menjaga hanya yang halal saja yang kita peroleh untuk memenuhi hajat dunia akhirat.

Ada lagi kisah sahabat yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran. Adalah seorang yang do'anya selalu dikabulkan oleh Allah . Saad bi Abi Waqqosh. Do'a papaun yang ia pinta selalu saja Allah kabulkan. Dari do'a minta kesembuhan atas sakitnya seseorang sahabat sampai do'a minta hujan. Sahabat yang lain pun kemudian penasaran dengan amalan apa yang sudah diperbuatknya sehingga Allah begitu mencintainya.

Ia pun menjawab. Aku tidak memasukkan secuilpun makanan ke dalam mulutku kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan dari mana makanan itu keluar.

 

Rupanya audit keuangan adalah sesuatu yang islami ,bukan? dan telah ada dalam dunia Islam sejak sekian abad yang lalu. Allah tidak akan menerima sedikitpun dari shodaqoh dan amalan kita jika itu bukan berasal dari zat yang betul-betul halal.

Allah tidak ridho dengan pemberian/shodaqoh yang banyak jika berasal dari harta yang tidak suci. Apalagi banyak, sedikit tercampur saja tidak akan diterima.

Coba lihat pada hadits berikut yang diriwayatkan At-Tirmizi, Imam Muslim, dan Imam Ahmad mengenai musafir yang berpakaian compang-comping dengan rambut berdebu dan menadahkan pinta kepada Allah . Rosulullah berkomentar dengan itu, Musafir itu makan dari harta yang haram, minum dari harta yang haram dan ia makan dari nafkah yang haram. Bagaimana do'anya bisa dikabulkan?

 

Hal ini dikarenakan cara memperoleh dan membelanjakan harta sangat diperhatikan dalam Islam. Misalnya saja harta yang diperoleh dengan korupsi atau ngemplang, meskipun dibelikan makanan yang sehat dan bergizi selalu saja tidak halal dan toyyib. Begitu juga sebaliknya, uang yang kita peroleh dari kerja keras hasil keringat atau bekerja otak kita tapi kita belikan daging babi atau wiski. Kedua-duanya sama-sama tidak dapat diterima oleh Allah .

 

Allah benar-benar hanya menerima yang halal dan dengan ridho Allah , maka harta yang suci akan menjadi rizki yang baik untuk keluarga, dan memudahkan terkabulnya do'a-doa' kita.Dunia ini berkelimpahan saudaraku. Allah berikan jalan dan hamparan yang luas dari ujung ke ujung dan semuanya untuk dimanfaatkan manusia untuk memakmurkan bumi.

 

4. Berangkatlah meskipun dengan unta kurus saja

 

Salah satu bunyi ayat Surat di surah al-Hajj ayat 27 menyebutkan mengenai mendatangi seruan haji ini meskipun dengan unta kurus.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj : 27)

 

Unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji, sehingga meskipun dengan kesulitan tinggi orang akan berdatangan untuk menunaikan ibadah haji.

Berangkatlah meskipun kita tidak membawa sepeserpun uang dari rumah. Uang pembayaran haji kita (ONH) insya Allah akan cukup untuk membiayai kehidupan kita sejak di tanah air hingga di tanah suci. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah Indonesia untuk memberikan living cost bagi jama'ah sesaat sebelum diberangkatkan (saat ada di Embarkasi/Debarkasi Haji/Asrama Haji).

Saudaraku, kalau saat ini kita masih berusia muda, yakinlah bahwa semua itu bukan kendala. Kita tetapkan hati untuk tetap tunaikan haji meski kita masih sangat muda. Karena pada hakekatnya justru dengan mudanya usia semua masalah menjadi lebih mudah ditunaikan.

Kita bisa baca kisah si Fulan dan istrinya dalam Inspirasi Kaya dengan Haji. Mereka tetap merasa kaya dan memang betul-betul jauh lebih kaya dibanding sebelumnya. Hanya orang kaya yang mau menyisihkan hartanya untuk keperluan akhiratnya. Maka..Siapapun kita, berapapun usia kita, bagaimanapun kondisi keuangan dan kesehatan kita,

 

BERNIATLAH HAJI, INSYA ALLAH AKAN KAYA !!

ALLAH U AKBAR !!ALLAH al-Ghoniy wa Mughniy.

Allah Maha Kaya dan yang mengkayakan hamba-Nya. SubhanAllah!

lN;

 

 

 

 

 

 

 

````````````````````````````

 

 

Dari 'Aisyah Ummul Mukminin radliallahu 'anha ia berkata: "Wahai Rasulullah, kami memkitang bahwa jihad adalah sebaik-baiknya amal, maka apakah kami tidak boleh berjihad?". Beliau bersabda: "Tidak, namun sebaik-baik jihad bagi kalian (para wanita) adalah haji mabrur".

(HR. Bukhori)

 

 

````````````````````````````

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 9

INSPIRASI KEKAYAAN DENGAN HAJI

 

B

ismillahirrohmaanirrohiim Dua tahun yang lalu.

Si Fulan, seorang laki-laki muda yang telah berkeluarga dengan 2 orang putra menengok saudaranya yang baru saja pulang haji. Sebut saja Hasan namanya. Hasan berangkat haji tahun ini bersama istrinya. Wajah mereka kelihatan berseri menkitakan betapa bahagia hatinya.

Ini hari kesekian dari suasana ramai tetamu di rumah keluarga Hasan. Hasan seorang yang berhidmat pada sebuah sekolah menengah pertama, sedangkan isterinya pengajar juga di sebuah sekolah di kotanya. Mereka memiliki 4 orang anak yang semuanya masih sekolah.

Yang terbesar SMP kelas 1 sedangkan yang terkecil masih berusia 2 tahun. Bahkan belum bisa banyak bercerita seperti kakak-kakaknya. Fulan baru saja sampai di depan pintu, ketika istri Hasan menunjuk kearah mukanya sambil berucap, De, Wajib haji ini kau tunaikan. Wajib untuk kamu de...

Fulan tentu saja terhenyak mendengar kata-kata saudara perempuannya itu. Selama ini dia telah tahu bahwa haji ini sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang yang mampu sebagaimana bunyi firman Allah SWt di surat Ali Imron ayat 97.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah , yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Kata sanggup inilah yang menjadikan Fulan selama ini merasa belum wajib berhaji. Karena Fulan mengartikannya dengan kata mampu. Terutama mampu secara materi dalam persepsinya. Usahanya memang telah beromzet puluhan juta, namun hutangnya juga tidak sedikit.

Fulan kemudian dipersilahkan duduk dan bicara ke sana kemari sebagaimana wajarnya seorang yang bertamu pada saudaranya, namun berkali-kali kata-kata itu teulang kembali. Bahwa menurut istri Hasan, wajib bagi Fulan untuk segera menunaikan ibadah haji.

Mau tidak mau Fulan jadi kepikiran dengan kata-kata itu. Fulan memang telah pernah terpikir untuk menunaikan ibadah haji. Tapi itu nanti. Nanti setelah kira-kira umurnya 40 tahun. Menurut perkiraannya bersama isterinya beberapa tahun yang lalu, hasil dari usahanya selama ini baru akan cukup jika selama sekitar 10 tahun mereka mengumpulkan uang. Ditambah lagi anak-anaknya yang sekarang masih kelas 2 SD dan Playgroup tentu akan lebih nyaman jika ditinggalkan orang tuanya saat mereka sudah sedikit lebih besar. Itu perkiraan Fulan dan istrinya, namun begitu mendengar kata-kata yang ditujukan langsung padanya tadi membuat Fulan kembali berpikir ulang. Saudara perempuannya itu mengatakan bahwa wajib bagi Fulan bukan tanpa alasan. Menurutnya jika dihitung total, uang dan usaha Fulan pasti lebih banyak dari harta Hasan dan istrinya. Membuat Fulan jadi merasa harus bersegera menunaikaqn ibadah haji ini.

Sampai di rumah Fulan menceritakan kejadian tadi pada istrinya. Istrinya yang memang sudah sangat berharap mereka bisa segera berhaji tentu saja senang sekali. Masalahnya baik Fulan maupun istrinya saat ini tidak memiliki uang dalam jumlah besar sebagaimana yang dipersyaratkan untuk mendapat porsi haji. Saat itu sekitar 20 juta per orang. Jadi mereka harus menyetorkan uang 40 juta kalau mereka mau berangkat bersamaan seperti halnya Hasan dan istri. Istrinya mengusulkan agar mereka mengumpulkan berapapun uang yang ada untuk dimasukkan ke rekening bank khusus haji.

Fulan tersenyum kecut. Baru saja uang yang tidak seberapa besarnya itu berpindah tangan ke tangan rekan kerjanya. Mereka baru saja membeli beberapa barang keperluan usahanya

Istrinya dengan mata berbinar-binar bercerita bahwa uang belanja yang diberi oleh Fulan belum terpakai dan ditambah sedikit yang ada di tabungan. Keyakinan istrinya tentang penggunaan uang itu membuat mereka kemudian sampai pada kata sepakat bahwa berapapun uang yang mereka miliki akan segera mereka setorkan ke bank..

Ola..la..rupanya sudah semua dikumpulkan tetap saja belum cukup. Bahkan kalau hanya untuk porsi 1 orang. Maka kemudian mereka memutuskan bahwa mereka akan menggunakan uang yang ada itu (sekitar 2,5 juta) untuk membuka rekening haji dulu saja. Menurut informasi yang diterimanya, uang pemukaan rekening haji cukup dengan 500 ribu.

Singkat kata, setelah Fulan menyetorkan uang ke Bank untuk buka rekening haji (2,5 juta dibagi berdua) maka lambat laun uang itu bertambah dan bertambah. Hingga saatnya kemudian Fulan mendapatkan panggilan dari pihak bank untuk melunasi jika mau berangkat di tahun kedua setelah mereka mulai berniat. Saat itu usia Fulan baru 35 tahun lebih cepat 5 tahun dari perhitungannya semula. Tentu saja ini menjadi bukti bahwa ketika kita sudah pancangkan niat. Allah lah yang akan membuat kita menjadi lebih kaya sehingga bisa memiliki prasarat untuk berkunjung ke sana. Bahkan saat ini Alhamdulillah semua hutang Fulan yang sebelumnya terasa sangat berat menjadi lebih ringan.. Fulan semakin yakin bahwa Allah -lah yang akan melunaskan hutang-hutangnya. Keyakinan-keyakinan ini tidak akan bersambut tangan kosong. Menurut Rosulullah, Allah SWT malu jika ada hamba-Nya yang menadahkan pinta kok tidak diberi.

 

SubhanAllah

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

````````````````````````````

 

 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Amalan yang paling utama di sisi Allah adalah beriman kepada-Nya tanpa disertai dengan keraguan, jihad dengan tidak mengambil harta ghonimah dan haji yang mabrur." Abu Hurairah berkata: haji yang mabrur dapat menghapus dosa pada tahun tersebut."

(H.R. Muslim)

 

````````````````````````````

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 10

INSPIRASI HAJI DENGAN KEKAYAAN

 

M

ardhotillah namanya. Orang mengenalnya dengan panggilan Lala. Lala baru berusia 17 tahun ketika membaca tentang kesungguhan niat haji. Belakangan, 13 tahun berikutnya tulisan ustadz Yusuf Mansur juga banyak menginspirasinya. Untuk bersedekah dan berdo'a pada Allah SWT dijadikan metode meraih semua cita-citanya. Terekam dalam benak Lala, berhaji itu bukan hanya milik orang kaya atau berpunya saja. Siapapun boleh, tua muda, miskin kaya, asalkan Islam dan telah baligh. Dia juga mendengar, haji hanya akan sampai pada orang yang memang telah betul-betul meniatkan dan berdoa pada Allah SWT untuk dimudahkan pergi ke Baitullah dalam rangka haji.

Lala hanya punya niat. Sebagai seorang mahasiswa tentu bisa diukurlah pendapatannya. Tapi Lala nekat. Lala menuliskan dalam amlop-amplop kecil sederet keperluannya. Uang makan, uang transport, uang foto copy dan semacamnya. Lala juga menambahkan amplop bertuliskan infaq, shodaqoh dan haji di antara amlop-amplop itu. Isinya kurang lebih sama dengan amlop-amplop yang lain, bahkan lebih kecil.

Menurut hitungan Lala, dia baru akan bisa berangkat haji jika amplop itu diisinya dengan rutin dan bertahap selama sekitar 33 tahun. Tidak masalah, toh saat itu usia Lala baru akan menginjak 50 tahun. Insya Allah masih akan kuat. Masih prima fisiknya. Yang penting niatnya dikukuhkan.

SubhanAllah 15 tahun kemudian tanpa Lala sadari Allah SWT telah mempermudahnya untuk berangkat haji. Itu berarti lebih cepat 18 tahun dari perkiraannya semula. Lala benar-benar diperkaya oleh Allah setelah kukuh niatnya. Belum lagi kini setelah Lala pulang. Omzet usahanya terus membubung tinggi, semakin berkah, dan bahkan Insya Allah karena semangat berbaginya

Lala meniatkan akan berusaha menghajikan saudara atau karyawannya secara bergiliran pada tahun-tahun mendatang. Insya Allah . Kita do'akan.

 

Rupanya syarat Allah berlaku di sini.

 

Dengan niat dan berdo'a, Allah ternyata juga akan menjaganya terhindar dari hal-hal yang kurang bermanfaat. Seperti misalnya Lala. Sebagiamana wajarnya anak kuliahan sekali waktu tentu kepengen juga yang namanya hang-out, clubbing atau semacamnya. Namun niatnya berhaji menghalanginya dengan mengatakan bahwa alangkah naifnya jika prosesnya untuk meraih kesucian dan ridho ilahi terhalang oleh acara-acara alih-alih kurang bermanfaat kadang malah merusak.

Maka Allah SWT akan memberikan ampunan dan rizki yang mulia untuk orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam dua surat yang berbeda :

 

 

 

 

Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, bagi mereka ampunan dan rizqi yang mulia. (Quran Surat Al-Hajj ayat 50)

 

 

Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rizqi yang mulia. (QS. Saba' : 4)

 

Maka, yakinlah (beriman=yakin) kalau Allah SWT yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Rizqi yang akan mengkayakan kita. Allah telah memanggil kita melalui syariat Ibrohim. Dan kita disuruh mengerjakan dengan manasik Rosulullah SAW.

Maka ketika Allah SWT memanggil, Dia pula yang akan mencukupkan kita. Kita tinggal meniatkan dan penuhi panggilannya Labbaik Allah umma labbaika Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah ...

 

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

````````````````````````````

 

 

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Umrah demi 'umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga". (H.R. Bukhori)

 

````````````````````````````

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 11

RICH HAJJ, POOR HAJJ

Haji Kaya dan Haji Miskin Sebuah Pilihan Sikap

 

S

ampailah kita akhirnya pada penghujung lembaran akhir buku ini. Kalau definisi kaya sudah kita dapatkan. Maka kini sebagai pelengkap dari semua pembahasan ini akan coba kita bicarakan mengenai seperti apa sebenarnya haji miskin. Hal ini semata-mata untuk kehati-hatian. Jika kita sudah mengetahui hakekat keduanya, Insya Allah kami yakin kita hanya akan berusaha meraih predikat haji kaya saja.

Dua hal ini tidak mungkin bersatu seperti halnya pencampuran warna. Hitam atau tidak akan pernah bisa menjadi satu. Sebab jika bercampur kemungkinan akan menjadi abu-abu. Padahal Allah menghendaki agar kita meninggalkan perkara-perkara yang sifatnya abu-abu alias syubhat.

Pada hakekatnya dua hal ini (haji kaya dan haji miskin) erat kaitannya dengan keikhlasan. Haji kaya dan benar-benar akan menjadi lebih kaya adalah jika syaratnya terpenuhi.

Hanya yang benar-benar sesuai Kriteria yang akan memperoleh kekayaan tidak saja di dunia namun juga akhirat. Bahkan sampai kepada kekayaan tingkat tertinggi yaitu perjumpaan dengan Sang Maha Kaya.

 

 

Katakanlah : Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi : 110)

 

Allah SWT memastikan bahwa ketika ada sedikit saja niatan ingin dipuji atau semacamnya muncul di hati kita, maka dalam kadar kecil kita akan sudah dianggap menyekutukan Ia.

Ia Maha Pencemburu sehingga sedikit saja niatan kita melenceng maka jatuhlah kita menjadi menyekutukan Ia dengan yang lain. Padahal dalam genggaman-Nya lah totalitas nasib kita. Astaghfirullah, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kami yang insyAllah tidak sengaja kami lakukan.

 

 

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al Mulk : 2)

 

Karena Ia Maha Pengampun, segeralah bertaubat. Taubat bersungguh-sungguh dan berjanjilah pada diri kita sendiri bahwa kita tidak akan mengulangi satu kalipun perilaku menyekutukan Allah .

 

Tanda Tanda Haji Kaya

 

A. Giat dan sungguh-sungguh di waktu sendiri atau bersama orang lain, dipuji atau dicela baginya sama saja

 

Pada hakikatnya sama saja bagi seorang yang hajinya betul, apakah akan dipuji atau tidak. Artinya kalaupun kita mampu pergi ke masjidil harom dan beribadah penuh di dalamnya setiap hari pastikan bukan karena ingin mendapat predikat si tekun atau si taat. Tidak akan mempedulikan apakah rekan-rekan sesama jama'ah memuji kita atau tidak.

 

Bahkan cenderung sepi, yaitu tidak mempedulikan apa komentar orang mengenai kebaikan-kebaikan yang kita perbuat. Perbuatan baik apapun yang kita lakukan saat proses perjalanan ibadah haji, pastikan ditujukan hanya untuk meraih ridho Allah semata

 

B. Takut akan kemasyhuran dan popularitas sehingga ia berusaha menyembunyikan amal-amal kebaikannya.

 

Di sinilah nikmatnya iman dalam Islam saudaraku.

Betapa untuk membuat diri kita aman dari kecenderungan hati suka kemasyhuran atau kepopuleran kita diperkenankan untuk menyembunyikan amal-amal kebaikan.

Terkait dengan kepergian kita untuk berhaji, kita diperkenankan untuk tidak mengabarkan kepergian kita kok. Bahkan kita boleh saja tidak menceritakan kebaikan-kebaikan yang kita peroleh selama melaksanakan ibadah haji kecuali dengan niat ta'adduts binnni'mat, menceritakan kenikmatan sebagai perwujudan syukur.

 

Tahaduts binni'mah atau menceritakan ni'mat ini memang boleh kita lakukan mengingat bahwa sebagian besar saudara kita akan menjadi lebih termotivasi insya Allah ketika mendengar semua keni'matan yang diperoleh selama menjalankan ibadah yang satu ini.

Namun pastikan bahwa ketika menceritakan kenikmatan tersebut ada rasa takut akan popularitas atau kemasyhuran di hati kita. Kita harus betul-betul menghadirkan rasa takut populer ini saat menceritakan tentang kenikmatan berhaji.

 

C. Lebih mengutamakan keridhoan Allah dari pada Keridhoan manusia

 

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah (QS. At-Taubat : 58).

 

Ayat di atas menyiratkan cinta dan marah karena Allah . Sejauh ini kita pasti telah yakin bahwa keridhoan Allah lah yang kelak akan menjadikan kita lebih ni'mat dalam menjalankan segala sesuatu .

Hal itulah yang harus terus kita pupuk mengingat ini adalah salah satu tkita mabrurnya haji kita dan predikat haji kaya pun akan kita skitang. Kaya dunia akhirat lho ya, bukan sekedar kaya kata kita atau saudara dan rekan-rekan kita. Benar-benar kaya dalam dua dimensi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi kita.

Kita diperkenankan untuk tidak mengacuhkan komentar saudara atau rekan kita jika kita tahu apa yang mereka mau berseberangan dengan apa yang diperbolehkan oleh Allah .

Sebagaimana dalam ayat berikut, bahwa kadang-kadang apa yang kita lakukan dalam rangka meraih ridho Allah sering disalahtafsirkan buruk oleh orang lain atau bahkan dicela.

 

 

 

 

 

 

Tanda-Tanda Haji Miskin

 

Hati-hatilah dengan amalan yang diawali adanya kekayaan dan akan berakhir dengan bertambahnya kekayaan ini, sebab jika tidak dimanaje dengan baik amalan yang satu ini justru akan membuat kita bangkrut alias jadi haji miskin.

 

Berikut adalah perusak keikhlasan yang akan berakibat membangkrutkan kita dunia akhirat. Alias miskin semiskin-miskinnya.

 

A. Suka Pujian (ingin disebut Pak/Bu Haji, disebut sebagai orang sholih, disebut atau dibicarakan sebagai orang baik, dsb. )

 

Jika kita pergi haji dengan keinginan demikian, percayalah bahwa kita akan segera mengalami kemiskinan sistemik. Kita tidak saja akan mengalami kebangkrutan amal tapi juga kebangkrutan jiwa. Pikirkanlah bahwa sekian rupiah yang kita kumpulkan atau kita bayarkan untuk biaya haji kita hanya akan ditukar dengan sebutan pak/bu haji atau sebutan baik yang lain.

Jiwa kita akan jadi kering dan selanjutnya kering pulalah kehidupan kita berikutnya.

Hal paling remeh yang sering terikut dalam niatan haji adalah sebutan ini. Maka jika kita berhaji dengan niatan ini, naudzubillah min dzalik, niscaya akan turun derajat menjadi haji miskin. Semoga Allah hindarkan kita dari sikap ingin dipuji ini. Amiinn.

 

B. Takut Celaan (Tidak mau disebut kaya tapi pelit, pengecut, pecundang, dll)

 

Nah yang satu ini memang terasa lebih berat dibanding yang pertama tadi. Orang cenderung lebih suka tidak berkonflik sehingga betul kata pepatah teman seribu orang masih kurang tapi musuh hanya seorang sudah berlebih. Artinya kita pasti ingat rasanya dicela orang. Satu celaan saja bisa membebani kita dan terasa terbebani sebesar gunung. Lebih lanjut lagi akan sangat berbekas. Jikakita tidak hati-hati bisa jadi perasaan takut dicela inilah yang mendorong kita untuk berangkat haji.

Harta kita yang berlimpah, kehidupan keluarga yang baik, putra-putra yang sudah tercukupi kebutuhannya dan semacamnya bisa jadi membuat kita takut dicela ketika tidak segera melaksanakan haji. Namun jika ini yang membuat kita bersegera ingin pergi haji, koreksilah dengan segera.

 

Sekali lagi berhati-hatilah dengan rasa takut dicela ini. Bisa-bisa kita akan lebih tercela di hadapan Allah dan membuat kita bangkrut amal.

Naudzubillah mindzaalik..

 

C. Riya' (Beramal untuk diliat orang lain, ingin mendapatkan posisi, kedudukan, harta)

 

Yang ini lebih parah lagi bapak ibu dan saudaraku! Allah benar-benar menghapus seluruh amalan yang disertai riya dan syum'ah.

Pengibaratan ibadah dengan riya' adalah seperti segelas air minum yang tercampur dengan kotoran burung yang sudah kering. Bahkan ketika kotoran burung itu telah diangkat dari gelas minum kita, tidak menampakkan tnada-tkita sedikitpun bahwa ada perubahan warna dan rasa di sana, sudikah kita minum air ini sekarang.?? Maka, kalau kita tidak sudi meminum air tersebut apakah kita masih berharap Allah akan berkenan menerima amalan kita yang tercemar dengan riya' ini ?

 

Wallahu a'lam bi showab..Mari kita berusaha enyahkan jauh-jauh rasa ini dalam setiap langkah kita. Sebab dengan munculnya rasa tersebut bisa dipastikan tertolaklah semua amalan kita dan ini akan mengakibatkan kebangkrutan total/ Tidak ada yang diterima sedikutpun dari seluruh proses yang telah kita lewati untuk bisa menunaikan ibadah haji dengan segala perjuangan yang dilampauinya.

 

 

 

 

USAHA UNTUK MERAIH RICH HAJJ ALIAS HAJI KAYA

 

Kunci terbesar dan tertinggi dari semua proses ini ternyata adalah keikhlasan. Keikhlasan memang menjadi pondasi dari semua amalan kita. Termasuk dalam beribadah haji ini. Beberapa ayat dan hadits tentang keikhlasan.

 

Bagiamana keikhlasan ini akan bisa mewarnai seluruh tindakan kita berikut adalah upaya-upaya yang bisa dilakukan.

 

  1. Ilmu yang benar, mendalam dan manfaat

 

Amal ikhlas yang sempurna adalah jika pelaksanaannya dilkitasi dengan ilmu yang benar.

Kita tentu ingat kisah si dungu, keledai dan anaknya.

Awalnya mereka menuntun keledainya. Orang kemudian berkomentar alangkah bodohnya ia, punya fasilitas kok tidak dimanfaatkan semestinya maka kemudian ia dan anaknya menunggangi keledai yang kecil itu berdua dengan anaknya. Orang berkomentar teganya ia terhadap keledainya, maka kemudian ia turun dan menaikkan anaknya. Orang kembali berkomentar bahwa anaknya tidak tahu sopan santun. Maka setelah berbagai posisi tidak mendapat sambutan tepat ia malah menggendong keledai dan anaknya.

Hal tersebut adalah contoh orang yang tidak tahu ilmu dengan tepat. Segera setelah kita tahu ilmu yang benar dalam menunaikan haji maka kita akan segera dapat melihat betapa banyak sekali hal-hal pokok mengenai ibadah haji yang belum kita ketahui. Kami sarankan kita bergabung dengan salah satu kelompok manasik haji yang diketahui menggunakan ilmu yang benar dalam pelaksanaan proses manasiknya. Ini benar-benar modal awal untuk mencapai rich hajj sesungguhnya

 

  1. Bergaul dengan orang-orang yang ikhlas

 

Luar biasa sekali aura orang-orang yang ikhlas menjalani kehidupan ini dengan semua konsekuensinya. Apapun yang dihadapinya ia terima dengan penuh keikhlasan. Kami sendiri merasakan aura yang berbeda ketika bertemu dengan orang-orang seperti ini. Selalu berpikir positif apapun yang Allah berikan. Saat ini begitu banyak club atau grup yang mengedepankan hal ini dalam menyelesaikan permasalahan pelik hidupnya. Kami merasakan bergaul intens dengan orang-orang seperti ini menjadikan kami lebih mudah juga tertulari menjadi lebih ikhlas.

Jangan dikira grup atau club yang mengedepankan keikhlasan ini beranggotakan orang-orang kumuh dengan etos kerja seadanya lho. Justru biasanya berisikan orang-orang sukses dan sebagian yang kepengen menjadi lebih sukses lagi lho..!

 

Jika kita berminat silahkan bergabung lho.. dan dapatkan kesuksesan yang sesungguhnya..!!

 

Belum lagi berkahnya silaturrahiim karena terus menjalinnya dengan orang-orang ikhlas. Silaturrrahiim ini, dilakukan oleh orang yang jahat saja Allah langsung berikan berkahnya, apalagi pada orang yang baik. Dapat dilihat pada hadits berikut :

 

ǡ

Perbuatan taat yang paling cepat mendapat pahala adalah membina tali silaturrahhim, bahkan meskipun anggota keluarga itu jahat, maka harta dan jumlah mereka akan bertambah jika mereka membina tali silaturrahmi. Dan tidak ada keluarga yang membina tali silaturrahim melainkan membutuhkan orang lain. (HR. Ibnu Hibban)

 

Ada pula beberapa hadits yang dapat mendorong kita untuk lebih mempererat silaturrahiim ini. Misal hadits di bawah :

 

Barangsiapa yang merasa senang dengan nikmatnya yang bertambah, dan lamanya hidup yang diperpanjang. Maka biasakanlah membina tali silaturrahiim. (HR Bukhori)

 

Pelajarilah (yang cukup) silsilahmu, agar kamu dapat membina tali silaturrahim karena membina tali silaturrahiim menambah jalinan kasih kaming di antara keluarga-keluarga, memperbanyak kekayaan, dan memperpanjang umur. (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

 

  1. Bersungguh-sungguh melawan nafsu yang mengajak tidak ikhlas

 

Aduhyang ini benar-benar berat deh. Nafsu yang mengajak untuk tidak ikhlas. Kita pernah merasakan bagaimana sebagai seorang yang berusaha untuk ikhlas dan ternyata akhirnya kita merasa menjadi korban.? , Kami pernah dan itu sangat menyakitkan. Maka kemudian ketika timbul nafsu untuk mengajak tidak ikhlas akan sangat mudah sekali untuk tergelincir. Berhati-hatilah..

 

  1. Membaca biografi orang-orang ikhlas dan diteladani

 

Saat ini banyak sekali ditemui buku atau bacaan dan artikel tentang orang-orang ikhlas. Sejauh yang kami temui, rata-rata buku mereka menyebutkan bahwa orang-orang ini telah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Apapun kondisinya mereka selalu bisa dengan tepat mensikapinya. Kita perlu belajar banyak untuk menjadi orang sekualitas mereka.

Lebih pas lagi apabila biografi ini adalah mengenai beberapa sahabat yang sudah dijamin masuk syurga termasuk di antaranya 20 sahabat yang dijamin masuk syurga. Ada sebuah buku yang menuliskan tentang kisah-kisah ini.

 

  1. Berdo'a kepada Allah , agar diberi keikhlasan dan dijauhkan dari riya'.

 

Sesungguhnya puncak dari kepasrahan yang dalam pada diri seorang muslim apabila ia bisa menykitarkan sesuatunya kepada Allah ta'ala. Usaha apapun yang sedang dilakukan seorang muslim untuk menjadikan dirinya lebih baik dari waktu ke waktu akan menjadi lebih sempurna dengan do'a. Allah berfirman :

 

 

Dan berfirmanlah Tuhanmu : Berdoalah kepadaku, niscaya akan kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyom-bongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Mu'min : 60)

 

Para rosul yang dimuliakan pun selalu tidak pernah lupa untuk berdo'a. Kisahkisah di dalam Al Qur'an menceritakan mengenai hal ini. Nabi Ibrohim, Nabi Yusuf, Nabi, Isa, Nabi Musa, Nabi Muhammad dan semua nabi yang disebutkan di dalam Al Qur;an. Semuanya menadahkan pinta, maka enggankah kita untuk berdo'a.

 

Lagi pula do'a yang kita pinta ini Insya Allah do'a memohon dihindarkan dari riya dan diberikan keikhlasan. Di mana kita tahu bahwa riya dapat menghabiskan amalan seseorang sebagaimana api melalap kayu baker. Naudzubillah min dzaalik. Berdo'alah dan selalu sertakan doa dalam setiap tindakan kita, Insya Allah Dia akan selalu menjaga.

 

lN;

ioooooooop

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

BAB 12

RENUNGAN TERAKHIR

 

H

aji miskin dan haji kaya adalah sebuah tema yang menggambarkan bagaimana islam menginspirasi umatnya untuk menjadi kaya. Bukannya dengan sebuah idealisme materialistik yang menuhankan harta sebagai pangkal sebab orang hidup, namun kesuksesan dunia (harta) adalah sebuah efek samping dari nilai ketakwaan.

 

Islam tidak pernah menjadikan kekayaan sebagi hal yang pokok dalam hidup ini namun dengan kekayaan lah bagimana orang islam dapat memaksimalkan tujuan hidupnya.

Derajat orang islam tidak pernah di sangkut pautkan dengan hartanya dalam islam harta di jadikan sebagai ujian

Bahkan tingkat harta tidak pernah bisa di bandingkan dengan nilai sebuah ketakwaan

Harta dalam Islam di jadikan sebagai prasyarat suatu ibadah.

Dari suatu yang sunah antara lain shodakoh, infak, wakaf

sampai suatu yang di wajibkan oleh Allah yaitu Zakat dan Haji

Ibadah ini memilki prasyarat yang mutlak dalam masalah kepemilikan harta seorang muslim.

Dan seruan berhaji dekat dalam prasyarat berharta ini.

 

Yach seruan berhaji adalah seruan secara tidak langsung kepada kita untuk hidup kaya atau secara halus islam memberi syarat jika mampu, namun kekayaan itu bukanlah tujuan dalam islam

 

Seruannya berhajilah jika mampu

 

Dengan seruan itu maka dapat dipahami bahwa spirit haji adalah pendorong bagi orang untuk mampu

 

Insya Allah dengan kata ini

akan dapat mensegerakan Haji

Ia tidak takut akan miskin karena hartanya habis oleh perjalanannya saat berhaji, sedangkan bagi seorang haji akan menambah spirit dalam mencari kekayaan

 

Ia tidak pernah merasa kaya karena kekayaan adalah alat ibadah

itulah makna yang penulis maksudkan

 

Rich Hajj

Poor Hajj

Orientasi pencarian kekayaannya akan fokus kepada ibadah dan tidak menganggap biaya perjalanan hajinya adalah harta sisa

 

Aaaamiiiiiin....

 

lN;

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur'an dan Terjemahnya. 1989. Toha Putra. Semarang.

Sirsaeba, Anif. 2005. Berani Kaya Berani Taqwa. Basmala. Semarang.

Depag RI, 2004. Tuntunan Keselamatan Dalam Perjalanan Ibadah Haji. Dirjen BMIPH. Jakarta.

Abdul Azis, Najwa Husein. 2008. Membentuk Akhlaq Anak, Belajar dari Mu'jizat Para Nabi. Gema Insani Press. Jakarta.

Putrayasa, Putu. 2009. Kaya & Bahagia Modal Ngobrol. Galang Press. Yogyakarta.

Mansur, Yusuf. 2008. The Miracle of Giving. Zikrul Hakim, Jakarta.

KBIH UNWAMA, 2005. Bimbingan Praktis Ibadah Haji & Umroh. Semarang.

Abu Izzuddin, 2008. Zero to Hero. Pro-U Media. Yogyakarta.

KBIH Ar-Roudhoh. 2008. Materi Bimbingan Haji. Temanggung.

Kiyosaki, Robert. 2005. Rich Dad's Guide To Investing. Gramedia. Jakarta.

Chasan, Mas'ud. 2006. Sukses Bisnis Modal Dengkul. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Trump, Donald. Zanker, Bill. 2008. Think Big and Kick Ass. Gramedia Pustaka Utama

B, Bernie. R, David. 2009. Kenali Hal-Hal Kecil yang Akan Mengubah Hidup Kita. Gara ilmu. Jogyakarta.

HAMKA, 2001. Lembaga Budi. Pustaka panji Mas. Jakarta

http://hikmah.siteled.com/ Riyadhus shalihin. 2007.

 

 

 

lN;

 

 

 

 

 

 

 

````````````````````````````

 

 

 

Aku penuhi panggilan-Mu Yaa Allah , Aku penuhi panggilan-Mu, Aku penuhi panggilan-Mu Tiada sekutu bagi-Mu, Aku penuhi panggilan-Mu, Sesungguhnya segala puji dan nikmat itu hanya milik-Mu, begitu juga kerajaan,

Tiada sekutu bagi-Mu.

(HR. Malik)

 

 

````````````````````````````