Ahmad sarwat, lc

FIQIH

kuliner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DU CENTER


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul Buku

Fiqih Kuliner

 

Penulis

Ahmad Sarwat

 

Penerbit

DU CENTER

 

Cetakan

Pertama
Kedua
Ketiga

Keempat


 


 

 

 

 

Pengantar


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

Daftar Isi

 

Pengantar....................................................................... 5

Daftar Isi.......................................................................... 7

Kapan Makanan Menjadi Haram?............................. 9

Makanan Halal........................................................ 13

Kenapa Babi Haram?............................................... 17

Anjing...................................................................... 23

Membeli Daging Halal di Jepang............................. 29

Hewan yang Disetrum............................................. 33

Daging Buaya.......................................................... 37

Bekicot.................................................................... 41

Kodok dan Kepiting................................................ 47

Daging Biawak........................................................ 51

Kurma Nabi............................................................. 55

Khamar dan Alkohol............................................... 59

Minuman Bebas Alkohol......................................... 69

Marsmallow............................................................. 73

Tissue Pembersih Galon Air Minum........................ 79

Rokok dan Kopi...................................................... 81

Kepiting................................................................... 87

Sembelihan dan daging halal.................................... 89

Makanan di Tempat Takziah................................... 91

Tape dan Khamar.................................................... 95

Daun Ganja............................................................. 99

Sushi & Sashimi..................................................... 103

Masakan Natal....................................................... 107

Diundang Makan Non Muslim.............................. 111

Mengundang Makan Non-Muslim......................... 115

Makan Sambil Berdiri............................................ 119

Minum Sambil Berdiri............................................ 125

 

7


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Kapan Makanan Menjadi Haram?

 

 

 

 

 

 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebab apa saja yang menyebabkan makanan yang secara zat bersifat halal akhirnya menjadi haram?

Yang halal itu jelas dan yang haram itu kan jelas seperti yang terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah nabi. Tetapi banyak sekali fatwa ulama yang makin mempersempit batasan halal dan makin memperluas batasan haram. Padahal yang pernah saya baca dl kitab Halal dan Haram karya Ust. Yusuf Qardhawi bahkan sebaliknya? Gimana nich?

Jazakallah,

Wassalam,

 

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keharaman makanan itu bisa terjadi karena dua hal. Pertama, haram karena zatnya yang memang haram. Kedua, haram bukan karena zatnya, tetapi karena unsur-unsur luar.

 

Haram karena Zat

Misalnya daging babi, darah, bangkai serta hewan yang disembelih dan ditujukan untuk persembahan selain Allah. Sebagaimana firman Allah SWT:

 

 

9


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala...(QS Al-Maidah: 3)

Termasuk ke dalam kategori ini adalah makanan yang zatnya halal, tetapi kemudian mengalami proses tertentu sehingga zatnya itu berubah menjadi haram.

Contohnya adalah perasan buah anggur, atau tape singkong
atau air beras. Wujudnya semula adalah makanan halal, namun
ketika mengalami fermentasi atau peragian, lama kelamaan
zatnya akan berubah menjadi khamar yang memabukkan.
Ketika sudah menjadi khamar, maka hukumnya haram.

Contoh lainnya adalah hewan ternak yang halal dimakan
seperti kambing, sapi atau ayam. Hukumnya bisa berubah
menjadi haram ketika tidak disembelih dengan prosedur
penyembelihan yang memenuhi aturan syariah. Misalnya
dengan cara dipukul, dibanting, dicekik, ditanduk atau diterkam
binatang buas. Semuanya dalam kasus tidak sempat untuk
disembelih. Hukumnya berubah dari halal menjadi haram.

 

Haram karena Hukum

Selain zatnya yang haram, makanan bisa juga menjadi haram meski secara zatnya tidak haram. Tetapi karena ada suatu kejadian atau kondisi tertentu. Yaitu makanan halal yang dibeli dengan menggunakann uang yang haram.

Misalnya makan harta anak yatim secara zhalim dan di luar
batas kewajaran. Meski jenis makanannya halal, namun hukum
memakannya haram, karena bersumber dari harta yang haram.

Semua makanan yang asalnya halal, tapi bila dibeli dengan
menggunakan uang yang haram, maka hukumnya ikut menjadi

10


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

haram. Terutama berlaku buat pelakunya langsung atau pun orang lain yang tahu persis asal usulnya.

Sedangkan hukum haram ini tidak berlaku buat orang lain
yang tidak tahu menahu asal usulnya. Seperti makan pemberian
seseorang yang kita tidak kenal, ternyata dia adalah seorang
koruptor yang memberi subangan. Dalam kasus seperti ini, kita
pun tidak bisa langsung main vonis bahwa semua harta yang
dimiliki oleh seorang koruptor itu pasti haram. Yang haram
hanya yang hasil korupsi, sedangkan yang bukan hasil korupsi,
tentu tidak haram.

Dalam hal ini yang lebih tetap hukumnya adalah syubhat,
yaitu di luar hukum halal dan haram, tetapi ada di antara
keduanya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum

warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Makanan Halal

 

 

 

 

 

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Seorang teman saya berkata bahwa ia pernah mendengar
seorang ustadz berceramah bahwa "jika kita ragu terhadap
kehalalan makanan yang akan kita makan maka ucapkanlah
bismillah tiga kali dan makanan itu menjadi halal." Ragu di sini
misalnya ketika kita tidak tahu apakah ayam, sapi atau hewan
ternak lainnya dipotong sesuai ketentuan syariah. Dan ada satu
pendapat lagi bahwa "jika hewan ternak (ayam, sapi, kambing)
dipotong oleh ahlul kitab maka makanan tersebut halal juga."
Benarkah hal-hal yang dikemukakannya tersebut Ustadz?
Mohon jawabannya. Terima kasih.

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kehalalan sembelihan ahli kitab adalah sebuah ketentuan yang telah Allah SWT tetapkan di dalam Al-Quran al-Kariem. Secara sharih dan jelas sekali bahwa Allah SWT berfirman tentang kehalalan sembelihan ahli kitab.

"Hari ini dihalalkan yang baik-baik buat kamu dan begitu juga
makanan orang-orang yang pernah diberi kitab (ahli kitab)

adalah halal buat kamu, dan sebaliknya makananmu halal buat mereka." (QS. Al-Maidah: 5)

Maksud ayat di atas secara ringkas: bahwa semua yang baik
hukumnya halal.Dan sembelihan ahli kitab pun halal dan
sebaliknya sembelihan ummat Islam pun halal buat mereka. Jadi

13


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

umat Islam boleh makan binatang yang disembelih dan diburu oleh ahli kitab, dan sebaliknya.

Sebenarnya syariat Islam tidak mensyaratkan dalam
penyembelihan hewan membaca basmalah. Kalau ada yang
berpendapat demikian, maka bukan pendapat yang mutlak. Tapi
pendapat sebagian mazhab seperti mazhab Imam Malik dan
lainnya seperti Ibnu Sirin dan sebagian para mutakallimin.

Imam As-Syafi`i tidak mensyaratkan membaca basmalah dalam penyembelihan hewan, asalkan penyembelihnya ahli dalam masalah itu. Sedangkan Imam Abu Hanifah membolehkan tidak membaca basmalah bila karena lupa dan bila disengaja tidak boleh. Dalil yang mendasari tidak harus membaca basmalah adalah hadits berikut:

Dari Aisyah ra. bahwa suatu kaum bertanya, Wahai Rasulullah, ada orang yang memberi kami daging dan kami tidak tahu apakah disembelih dengan basmalah atau tidak? Rasulullah SAW menjawab, "Bacalah basmalah dan makanlah." (HR. Bukhari dan lainnya).

Karena itu silahkan anda membaca basmalah dan makanlah daging itu sebagaimana mazhab Imam As-Syafi`i dan lainlainnya yang tidak mensyaratkan basmalah dalam menyembelihnya.

Bahkan bila kita tinggal di negeri mayoritas Kristen pun kita
bisa memakan daging sembelihan mereka karena mereka adalah
Ahli kitab, di mana sembelihan mereka halal dimakan oleh umat
Islam dan sebaliknya sesuai dengan firman Allah SWT:

Dan makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagimu dan
makanan (sembelihanmu) halal bagi mereka. (QS. Al-Maidah:

5).

Yang diharamkan adalah sembelihan musyrikin seperti penyembah berhala dan Majusi.

 

14


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Kenapa Babi Haram?

 

 

 

 

 

 

Assalamu 'alaikum wr.wb

Bapak Ust.Ahmad Sarwat,Lc yang dimuliakan Alloh,
Saya mempunyai kesulitan untuk menjawab pertanyaan anak
saya yang baru berumur 6 tahun, dia menanyakan kenapa orang
Islam diharamkan memakan daging babi sedangkan non
muslim tidak. Saya memberikan jawaban karena banyak
mengandung penyakit dan binatang menjijikan tapi anak
bertanya lagi, temennya banyak yang non muslim makan juga
tidak sakit. Saya sudah tidak bisa jawab lagi. Mohon bantuannya
pak Ustadz untuk jawaban terhadap pertanyaan anak saya.
Terima kasih.

Wassalam wr. wb.
jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kesempatan berdialog dengan anak anda seperti ini, justru anda
bisa memanfaatkannya untuk menambah dan mengoreksi
kesalahan dalam memahami agama kita dan agama lainnya.

Selama ini kita seringkali beranggapan bahwa agama lain membolehkan pemeluknya memakan daging babi. Padahal yang benar tidak demikian. Yang benar adalah bahwa daging babi itu termasuk makanan yang diharamkan buat pemeluk agama lain itu. Yaitu agama samawi yang turun dari Allah SWT untuk umat terdahulu, Kristen dan Yahudi.

 

17


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Jadi sekalian saja dikoreksi pemahaman keliru anak anda,
jelaskan bahwa babi itu bukan hanya haram buat umat Islam,
tetapi juga haram buat umat Kristiani (Nasrani) dan juga

Yahudi.

Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. An-Nahl: 118)

Kalaupun sekarang mereka memakan babi, ketahuilah bahwa mereka sedang melakukan maksiat dan kemungkaran kepada Allah SWT. Sebab kitab suci yang turun kepada mereka dahulu, secara tegas mengharamkan babi. Lalu para pendeta dan rahib mereka melakukan tindakan jahat yang dicatat dalam tinta sejarah, yaitu mengubah ayat-ayat Allah SWT itu dan digadaikan dengan harga yang murah sekali.

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang
menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu
dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk

memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.
Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang
ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi
mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah:
79)

Para rahib dan pendeta mereka telah mengubah ayat-ayat Taurat dan Injil yang turun dari langit dengan selera mereka sendiri. Apa yang telah dihalalkan Allah SWT, mereka haramkan. Sebaliknya, apa yang telah Allah SWT haramkan, justru mereka halalkan.

Lalu hasil penyelewengan terhadap perintah dan ayat-ayat
Allah SWT kemudian diikuti secara takqlid buta oleh para
pemeluk agamanya. Meski pun para pendeta dan rahib itu jelas-
jelas merusak kesucian kitab suci, mengubah isinya, memutar-

 

18


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

balikkan hukumnya bahkan menghapusnya dan menggantinya
sesuai dengan hawa nafsu mereka sendiri. Peristiwa ini tercatat
dalam sejarah dan hingga hari ini masih bisa dibaca oleh umat
manusia.

Maka tindakan diam saja dari pemeluk agama itu, serta sikap
mereka yang tidak mau menolak penyelewengan para pendeta
itu, dikomentari oleh Nabi terakhir yang diutus kepada umat
manusia, Rasulullah SAW, sebagai sikap "menyembah pendeta"
dan menjadikan mereka sebagai "tuhan." Jadi para pemeluk
agama Kristen dan Yahudi dikatakan sebagai penyembah
pendeta dan rahib mereka sendiri, meski tidak melakukan ruku'
dan sujud. Tetapi Allah SWT telah menyebutkan bahwa
tindakan mereka itu tidak ada bedanya dengan menjadikan para
rahib dan pendeta itu sebagai tuhan tandingan selain Allah
SWT.

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka

mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Salah seorang shahabat nabi SAW yang dahulu pernah
memeluk agama itu penasaran. Sebab sepanjang
pengetahuannya, mereka memang tidak menyembah pendeta
dan rahib. Maka Rasulullah SAW mengatakan bahwa sikap
taqlid membabi buta atas penyelewengan para rahib adalah
bentuk penuhanan kepada mereka. Ketika mereka mengubah isi
Taurat dan Injil dengan hawa nafsu, itulah hakikat peribadatan
kepada pemuka agama.

Kembali kepada pertanyaan anak anda, jawablah bahwa babi
itu diharamkan oleh tiga agama: Islam, Yahudi dan Kristen.
Tetapi para pendeta kedua agama itu memalsukan larangannya
dan menggantinya dengan kehalalan versi mereka sendiri.

19


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Tetapi keharamannya tetap tidak berubah. Dan setiap pemeluk
Kristen atau Yahudi yang memakan babi, tetap berdosa dan
tetap disiksa di neraka atas semua pelanggaran syariat yang
mereka lakukan.

Mengapa babi diharamkan oleh tiga agama?

Kalau kita mau konsekuen dengan sistem aqidah Islam
sekaligus mengembalikan cara beraqidah yang benar, inilah
kesempatannya. Sampaikan sejelas-jelasnya kepada anak anda,
bahwa haram tidaknya suatu makanan atau perbuatan, sama
sekali tidak ada kaitannya dengan alasan logis yang dipahami
manusia. Kalau pun ada hikmah, sifatnya hanya tambahan,
sama sekali tidak berpengaruh kepada substansi hukumnya.

Inilah kesempatan bagi anda untuk menanamkan aqidah yang
benar kepada anak anda. Katakan padanya, bahwa babi itu
haram karena Allah SWT telah menetapkan keharamannya.
Bukan hanya semata-mata karena mengandungcacing pita,
bakteri, virus atau alasan apapun. Tetapi karena kita percaya
kepada Allah SWT, juga karena kita percaya keaslian kitab suci,
juga karena kita percaya kepada Rasulullah SAW, bahwa
haramnya itu karena Allah SWT mengharamkannya.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah...(QS. Al-Maidah: 3)

Kalau alasan kita tidak makan babi hanya semata-mata alasan
ilmiyah dan kesehatan, maka babi itu sudah halal hukumnya.
Sebab di zaman sekarang ini sudah banyak ditemukan teknis
memasak babi yang bisa mematikan semua jenis virus, bakteri
dan cacing pita.

Demikian pula secara pisik, tidak ada bedanya antara ayam
yang disembelih dengan mengucapkan basmalah dengan yang
disembelih dengan menyebut nama tuhan selain Allah. Secara
fisik, keduanya bersih, suci, tidak kotor, bahkan tidak ada racun

20


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

apapun. Tetapi di pandang dari sudut syariat, hukum keduanya berbeda. Yang satu halal karena disembelih dengan basmalah, sedangkan yang satunya haram, karena disembelih dengan menyebut nama tuhan selain Allah.

Kalau agama yang kita jalani ini harus selalu dikembalikan
kepada alasan-alasan yang bersifat kebendaan, ilmiyah atau
aspek fisik semata, maka bubarlah agama ini. Padahal landasan
agama itu adalah iman, yang berarti percaya kepada Allah SWT.
Kalau Allah bilang merah, maka kita ikut bilang merah.
Sebaliknya, kalau Allah bilang hitam, maka kita pun bilang
hitam. Kita tidak akan memilih merah atau hitam, kecuali
karena Allah yang menetapkan.

Mengapa kita harus bersikap demikian? Jawabnya adalah
karena Allah SWT itu tuhan. Sebagai tuhan, tentu saja semua
apapun yang ditetapkannnya harus kita patuhi tanpa reserve,
tanpa ditunda, tanpa ditanya-tanyai sebabnya dan tanpa dimintai
alasannya.

Sesungguhnya jawaban oran-orang mu'min, bila mereka
dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum di
antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami
patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS.
An-Nuur: 51)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum

warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Anjing

 

 

 

 

 

 

Asslaamulaikum Warohmatullahi wabarokatuh.

Ustadz, saya mohon penjelasan tentang dasar hukum haramnya anjing, karena dalam QS Al-Maidah ayat ke 3 hanya menjelaskan tentang daging babi. Lalu bagaimana halnya dengan kisah Ashhabul Kahfi yang membawa anjing dalam persembunyiannya. Demikian pertannyaan saya. Jazakallah khoiron katsiro atas jawaban Ustadz.

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Hukum yang terkait dengan najisnya air liur anjing bukan
didasarkan pada ayat Al-Quran tetapi didasarkan dari sunnah
nabawiyah. Kalau anda cari di dalam Al-Quran, tidak akan
didapat dalilnya.

Tetapi di luar Al-Quran, kita punya sumber syariah yang lain,
yaitu Sunnah Nabawiyah. Sunnah nabawiyah adalah semua
perbuatan, perkataan dan hal yang didiamkan oleh Rasulullah
SAW.

Sama dengan Al-Quran, kedudukan sunnah nabawiyah pada hakikatnya adalah wahyu dari Allah juga, tetapi beda format dibandingkan dari Al-Quran. Tidak boleh kita membedakan dalil yang terdapat yang ada di dalam Al-Quran dengan dalil yang terdapat di dalam hadits.

 

 

23


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

Bukankah di dalam Al-Quran tidak pernah disebutkan bahwa
dalam sehari semalam kita wajib shalat sebanyak lima kali dan

17 rakaat? Bukankah di dalam Al-Quran juga tidak disebutkan
najisnya (maaf) kotoran manusia dan juga air kencing? Lalu
kalau tidak disebutkan di dalam Al-Quran, apakah kita akan
bilang bahwa air kencing dan kotoran manusia itu suci boleh
dimakan? Dan apakah kita akan mengatakan bahwa kalau
seseorang habis buang air kecil dan besar, boleh langsung solat
hanya karena di dalam Al-Quran tidak disebutkan kenajisannya?

Dalam memahami syariah Islam, kita diharamkan hanya berdalil pada Al-Quran saja tanpa melihat kepada sunnah nabawiyah. Kufur kepada sunnah nabawiyah sama saja artinya dengan kufur kepada Al-Quran. Karena sunnah nabawiyah itu bersumber dari wahyu Allah SWT juga.

Dalil Najisnya Air Liur Anjing

Adapun dalil dari sunnah yang telah diterima semua ulama tentang najisnya air liur anjing adalah sebagai berikut:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW
bersabda,`Sucinya wadah kalian yang dimasuki mulut anjing
adalah dengan mencucinya 7 kali." Dan menurut riwayat

Ahmad dan Muslim disebutkan salahsatunya dengan tanah." (HR Muslim 279, 91, Ahmad 2/427)

Maka seluruh ulama sepakat bahwa air liur anjing itu najis, bahkan levelnya najis yang berat (mughallazhah). Sebab untuk mensucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

Siapa yang menentang hukum ini, maka dia telah menentang Allah dan rasul-Nya. Sebab Allah SWT dan Rasulullah SAW telah menegaskan kenajisan air liur anjing itu.

24


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Khilaf Dalam Penetapan Najisnya Tubuh Anjing

Seluruh ulama telah membaca hadits-hadits di atas, tentunya mereka semua sepakat bahwa air liur anjing itu najis berat.

Namun yang disepakati adalah kenajisan air liurnya. Lalu
bagaimana dengan kenajisan tubuh anjing, dalam hal ini
umumnya ulama mengatakan bahwa karena air liur itu
bersumber dari tubuh anjing, maka otomatis tubuhnya pun
harus najis juga. Sangat tidak masuk akal kalau kita mengatakan
bahwa wadah air yang kemasukan moncong anjing hukumnya
jadi najis, sementara tubuh anjing sebagai tempat munculnya air
liur itu kok malah tidak najis.

Namun kita akui bahwa ada satu pendapat menyendiri yang
mengatakan bahwa tubuh anjing itu tidak najis. Yang najis
hanya air liurnya saja. Karena hadits-hadits itu hanya menyebut
air liurnya saja, tidak menyebutkan bahwa badan anjing itu najis.
Pendapat ini dikemukakan oleh para ulama kalangan mazhab
Malikiyah. Meski kurang masuk akal, namun kita hormati
pendapat mereka dengan alur logika berfikirnya.

Namun yang pasti, ulama kalangan mazhab Maliki tidak
pernah menolak dalil dari sunnah nabawiyah. Mereka bukan
ingkarussunnah yang hanya memakai Quran lalu kafir kepada
hadits. Mereka adalah mazhab fiqih yang beraliran ahlussunnah
wal jamaah juga.

Lebih dalam tentang bagaimana perbedaan pendapat di
kalangan ulama tentang kenajisan anjing ini, kita bedah satu
persatu sesuai apa yang terdapat dalam kitab-kitab fiqih rujukan
utama.

a. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini sebagaimana yang kita dapat dikitab
Fathul Qadir jilid 1 halaman 64, kitab Al-Badai` jilid 1 halaman

63, disebutkan bahwa

 

25


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

yang najis dari anjing ada tiga, yaitu: air liur, mulut dan kotorannya.

Sedangkan tubuh dan bagian lainnya tidak dianggap najis.
Kedudukannya sebagaimana hewan yang lainnya, bahkan
umumnya anjing bermanfaat banyak buat manusia. Misalnya
sebagai hewan penjaga atau pun hewan untuk berburu.
Mengapa demikian?

Sebab dalam hadits tentang najisnya anjing, yang ditetapkan
sebagai najis hanya bila anjing itu minum di suatu wadah air.
Maka hanya bagian mulut dan air liurnya saja (termasuk

kotorannya) yang dianggap najis.

b. Mazhab Al-Malikiyah

Seperti sudah disebutkan di atas, nazhab inimengatakan bahwa badan anjing itu tidak najis kecuali hanya air liurnya saja. Bila air liur anjing jatuh masuk ke dalam wadah air, wajiblah dicuci tujuh kali sebagai bentuk ritual pensuciannya.

Tetapi karena dalil sunnah nabawiyah tidak menyebutkan
najisnya tubuh anjing, maka logika fiqih mereka mengantarkan
mereka kepada pendapat bahwa tubuh anjing tidak najis.

Silahkan periksa kitab Asy-Syarhul Kabir jilid 1 halaman 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 halaman 43.

c. Mazhab As-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah

Kedua mazhab ini sepakat mengatakan bahwa bukan hanya air liurnya saja yang najis, tetapi seluruh tubuh anjing itu hukumnya najis berat, termasuk keringatnya. Bahkan hewan lain yang kawin dengan anjing pun ikut hukum yang sama pula. Dan untuk mensucikannya harus dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Logika yang digunakan oleh mazhab ini adalah tidak
mungkin kita hanya mengatakan bahwa yang najis dari anjing
hanya mulut dan air liurnya saja. Sebab sumber air liur itu dari

26


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

badannya. Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. Termasuk air yang keluar dari tubuh itu juga,air kencing, kotoran dan juga keringatnya.

Pendapat tentang najisnya seluruh tubuh anjing ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya antara lain:

Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Di kala lainya, kaum yang lain mengundangnya dan beliau tidak mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tidak mendatangi undangan yang kedua, beliau bersabda,"Di rumah yang kedua ada anjing sedangkan di rumah yang pertama hanya ada kucing. Dan kucing itu itu tidak najis." (HR Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny).

Dari hadits ini bisa dipahami bahwa kucing itu tidak najis, sedangkan anjing itu najis. Lihat kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 78, kitab Kasy-syaaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 52.

Anjing Ashabul Kahfi

Kisah ashabul kafi yang menghuni gua dan memiliki anjing, sama sekali tidak ada kaitannya dengan hukum najisnya anjing. Ada dua alasan mengapa kami katakan demikian.

Pertama, mereka bukan umat nabi Muhammad SAW. Maka
syariat yang turun kepada mereka tidak secara otomatis berlaku
buat kita. Kecuali ada ketetapan hukum dari Rasulullah SAW.

Kedua, kisah itu sama sekali tidak memberikan informasi tentang hukum tubuh anjing, apakah najis atau tidak. Kisah itu hanya menceritakan bahwa di antara penghuni gua, salah satunya ada anjing.

Dan memelihara anjing dalam Islam tidak diharamkan,
terutama bila digunakan untuk hal-hal yang berguna. Seperti
untuk berburu, mencari jejak dan sebagainya. Bahkan kita

27


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

dibolehkan memakan hewan hasil buruan anjing telah diajar. Al-Quran mengistilahkannya dengan sebutan: mukallab.

Mereka menanyakan kepadamu, "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah, "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.(QS. Al-Maidah: 4)

Menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan binatang
buas yang telah diajar dengan melatihkan untuk berburu di
dalam ayat ini adalah anjing pemburu. Tentu bekas gigitannya
pada tubuh binatang buruan tidak boleh dimakan. Tapi selain
itu, hukumnya boleh dimakan dan tidak perlu disembelih lagi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum

warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

28


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Membeli Daging Halal di Jepang

 

 

 

 

 

 

 

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kesediaan pak
Ustadz menjeguk kami yang sedang belajar di negeri sakura.

Saya salah satu peserta Daurah yang diadakan oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia di Tokyo yang sekarang sedang berlangsung (2-4 Mei 2008).

Begini ustadz, ada satu hal pertanyaan yang belum tuntas ketika sesi tanya jawab kemarin yang ingin saya tanyakan. Pak Ustadz kemarin mengatakan bahwa sembelihan orang kafir yang bukan ahli kitab hukumnya haram.

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana dengan kami
yang tinggal di Jepang ini? Apakah kami tidak boleh makan
daging sapi atau ayam yang dijual di negeri ini? Sebab ustadz
bilang bahwa orang Jepang bukan termasuk ahli kitab.

Sebenarnya daging halal itu bukannya tidak ada, tapi harganya sangat mahal. Bahkan kalau kita mau makan, harus pesan dulu tiga hari sebelumnya. Tentu ini sangat menyusahkan, terutama buat kami pelajar yang harus hidup hemat.

Kebetulan ada beberapa tempat yang menjual daging import dari negeri yang notabene beragama ahli kitab, seperti yang dijula di Hanamasa. Kami menemukan daging sapi Australia yang dijual cukup murah.

Pertanyaan kami, apakah kami boleh memakan daging impor dari Australia itu, pak Ustadz?

 

 

29


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih dan selamat berdakwah di negeri Sakura. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kekuatan, karena perjalanan ustadz masih panjang, karena akan terus ke Nagoya, Kobe, Hiroshima dan kota-kota lainnya di Jepang.

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang kami temukan sedikit masalah dalam mengkonsumsi
daging sembelihan di Jepang. Dalam diskusi dan tanya jawab
acara Daurah kemarin, memang ada pertanyaan yang belum
secara tegas terjawab, yaitu tentang hukum memakan daging
import Australia.

Sesuai dengan karakter hukum syariah, dalam membedakan mana makanan halal dan mana makanan haram, ada metodologi yang ditetapkan Allah SWT.

Pertama, Allah SWT menetapkan bahwa semua makanan itu halal hukumnya. Dan ketika Allah mengharamkan makanan itu, maka Allah menyebutkan dengan tegas keharamannya.

Kedua, di antara makanan yang haram adalah hewan yang disembelih oleh orang yang bukan muslim dan bukan pula ahli kitab. Jadi sembelihan orang Jepang adalah sembelihan yang haram dimakan oleh kita yang muslim ini.

Namun bila hewan itu disembelih oleh seorang muslim, atau
ahli kitab, maka hukumnya halal. Tinggal masalahnya, ada
sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang siapakah
ahli kitab.

Apakah mereka yang semata-mata secara statistik beragama
kristen dan yahudi, ataukah harus keturunan dan berdarah
yahudi?

 

 

30


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Kami cenderung kepada pendapat mayoritas ulama yang
mengatakan bahwa ahli kitab adalah mereka yang secara status
disebut sebagai yahudi dan kristen. Pembahasan tentang
masalah ini sudah sering kali kami tuliskan di rubrik ini.
Silahkan cari sendiri.

Jadi sebagai orang yang tinggal di Jepang, maka upayakan
terlebih dahulu untuk mendapatkan daging yang halal. Dan
alhamdulillah, dalam daurah kemarin ada salah satu peserta
yang memberikan alamat homepage yang menyediakan daging
halal. Dan menurut beliau, harganya pun tidak semahal yang
dibayangkan. Beliau memberi jaminan bahwa bila kita pesan
pakai internet hari ini, ditanggung besok sudah bisa diterima di
rumah.

Daging Impor

Alternatif lain apabila kita tidak mendapatkan daging halal, sebenanya ada peluang, yaitu kita membeli daging impor dari negara yang mayoritas beragama ahli kitab.

Memang ada perbedaan dalam menetapkan siapa ahli kitab itu, namun setidaknya ini merupaka aliternatif kedua yang bisa diambil, pada saat misalnya kita tidak bisa menggunaka alternatif pertama.

Sebab kita memang harus membiasakan punya beberapa
alternatif dalam hidup ini. Dan sebelum sampai ke upaya
terakhir yang berdasarkan kedaruratan, masih ada alternatif
mendapatkan daging sembelihan yang halal. Di mana kita
membeli daging impor dari negeri seperti Australi, yang nota
bene penduduknya beragama kristen, walau pun hanya sebatas
status.

Setidaknya, ini masih lebih baik dari pada membeli daging yang disembelih oleh orang Jepang.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum

warahmatullahi wabarakatuh,

31


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

32


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Hewan yang Disetrum

 

 

 

 

 

 

Assalamualaikum wr. wb.

Ada dua pertanyaan yang ingin saya tanyakan.

1. Seiring dengan perkembangan teknologi, metode
penyembelihan hewan pun sudah berkembang sedemikian rupa.
Bahkan di negara-negara maju, sudah banyak hewan-hewan
yang tidak disembelih lagi sebelum dimasak, melainkan
disetrum. Metode ini dinilai lebih praktis dan efisien. Yang ingin
saya tanyakan, apa hukumnya memakan daging hewan yang
mati karena disetrum?

2. Apabila kita diundang makan oleh nonmuslim di negara
yang menerapkan penyetruman hewan, sehingga ada
kemungkinan daging yang disajikan merupakan daging
setruman, apakah kita boleh memakannya (kalau memang

daging setruman hukumnya haram)? Karena setahu saya, kita boleh memakan daging sembelihan ahli kitab. Bagaimana hukum memakan daging tersebut kalau kita tidak mengetahui apakah daging itu disembelih atau disetrum?

Terima kasih atas jawabannya.

Wassalam

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Prinsip dasar penyembelihan adalah penumpahan darah hewan
hingga mati. Dan tempat yang paling tepat untuk

33


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

menumpahkan darah adalah di leher. Maka syariat yang Allah SWT turunkan sejak dari dulu para nabi adalah penyembelihan di leher hingga darah tumpah membasahi bumi.

Hanya dengan cara penyembelihan saja hewan menjadi halal
dimakan. Ada pun hewan yang mati dengan cara lain, seperti
mati dipukul, mati tercekik, mati tertanduk, mati karena jatuh
dari ketinggian dan sebab-sebab lainnya, haram untuk dimakan.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang
tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang
diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih
untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan
anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah
kefasikan. (QS. Al-Maidah: 3)

Yang kami ketahui setruman terkadang digunakan untuk melemahkan perlawanan sapi yang hendak disembelih. Atau terkadang digunakan gas bius dan beberapa cara lainnya. Namun penyembelihan di leher tetap dilakukan dan prinsip darah mengalir keluar tetap terjadi.

Di berbagai rumah potong hewan di Australia misalnya,
penyembelihan secara prinsip tetap dilakukan, walau pun
dengan mesin otomatis, di mana sebelumnya hewan itu
dilemahkan dengan gas tertentu sehingga memudahkan
penyembelihan. Dan cara ini hukumnya halal dan
diperbolehkan dalam syariat Islam. Karena masih tetap ada
prinsip penyembelihan.

Boleh dibilang bahwacara penyembelihan seperti ini sudah diakui oleh semua orang, meski kalangan orang tidak beragama dan tidak percaya kepada tuhan sekalipun.

Dan semua itu tetap relevan di masa modern ini berkat para
ahli yang mengatakan bahwa dengan keluarnya darah dari tubuh

34


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

hewan karena disembelih, maka resiko daging itu mengandung penyakit menjadi semakin kecil.

Maka kami tidak tahu kalau seandainya ada di suatu tempat, orang tidak melakukan penyembelihan, tapi malah menyetrumnya hingga mati. Agak tidak masuk akal memang, sebab para ahli mengatakan bahwa cara seperti itu tidak higienis dan beresiko tinggi pada kesehatan.

Kalau memang benar apa yang anda katakan itu, rasanya kita
perlu bukti otentik yang merupakan realita, bukan sekedar
dugaan atau berita dari mulut ke mulut. Tidak cukup sebuah
dugaan untuk mengubah hukum suatu yang asalnya halal
menjadi haram.

Kalau memang ada negeri pengekspor daging sapi dan tidak dengan cara disembelih, melainkan disetrum sampai mati, boleh anda kirimkan data dan beritanya kepada kami.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum

warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

35


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Daging Buaya

 

 

 

 

 

 

Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz, saya mau bertanya haramkah memakan daging
buaya? Saya pernah dengar hewan yang hidup di 2 alam yakni
air maupun darat haram hukumnya? Bila haram, apakah bila
daging tersebut dimakan fungsinya sebagai obat, apakah
menjadi halal atau tetap haram? Karena sepengetahuan saya bila
makanan yang haram bila dijadikan obat hukumnya akan tetap
haram, terima kasih.

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Buaya termasuk hewan yang haram dimakan, selain karena hidup di dua alam, yang utama alasannya karena buaya adalah binatang buas. Binatang buas pemakan daging termasuk kelompok hewan yang haram dimakan.

Sedangkan kebolehan memakan sesuatu yang haram hanya
berlaku dalam kondisi darurat yang terkait dengan keselamatan
jiwa, harta dan agama. Misalnya, di tengah gurun pasir saat tidak
ada makanan untuk menyambung hidup, kita dibolehkan
memaka ular gurun yang kebetulan kita temukan. Meski ular itu
haram dimakan pada dasarnya, tetapi dengan alasan darurat,
untuk saat itu saja, boleh dimakan sekedar untuk menyambung
hidup.

 

 

 

37


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Ular itu langsung berubah menjadi haram kalau tiba-tiba ada jenis makanan lain yang halal, meski harus berjalan jauh untuk mendapatkannya.

Semua ini menganut pada asas dan kaidah bahwa kedaruratan itu bisa menghalalkan yang haram, namun keharaman akan segera kembali bila kedaruratan itu hilang.

Adapun untuk pengobatan, sebenarnya tidak ada istilah
darurat, apalagi bila tidak terkait dengan kepentingan
pertolongan pertama yang bersifat darurat. Tapi hanya sekedar
alternatif biasa. Maka prinsip dasar yang telah ditetapkan syariah
adalah bahwa Allah telah menurunkan penyakit dan juga
obatnya. Dan obat yang Allah turunkan itu bukan pada
makanan yang diharamkan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW
berikut ini:

Dari Ummi Salamah ra bahwa Nabi SAW bersabda,"Sesungguhnya Allah SWT tidak menjadikan obat untuk kamu pada hal-hal yang telah diharamkannya." (HR AlBaihaqi dan Ibnu Hibban menshahihkan hadits ini).

Karena itu, pengobatan dengan menggunakan khamar tetap diharamkan, lantaran khamar adalah minuman yang diharamkan Allah. Maka tidak mungkin Allah SWT menjadikannya sebagai obat untuk suatu penyakit. Minum khamar tetap haram meski tujuannya untuk obat.

Dari Wail Al-Hadhrami bahwa Thariq bin Suwaid ra. bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukum khamar yang dijadikan obat. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Khamar itu bukan obat melainkan racun" (HR. Muslim)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya juga.

Maka pandangan anda benar, makanan yang haram bila
dijadikan obat hukumnya akan tetap haram. Tidak dibenarkan
memakan bagian dari tubuh buaya, karena buaya termasuk
binatang buas yang hukumnya haram dimakan. Keharamannya

38


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

ditambah lagi dengan satu hal, yaitu buaya itu mati sebagai bangkai, karena tidak pernah mati dengan cara disembelih sesuatu syariah. Kita tidak pernah mendengar ada buaya mati dengan cara disembelih, kan?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum

warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

39


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Keenam

Bekicot

 

 

 

 

 

 

Di Perancis ada masakan yang kondang disebut escargot yang
berbahan baku daging bekicot. Di Jepang pun bekicot juga
digemari. Kedua negara itu banyak mengimpor daging bekicot.

Beberapa negara lain juga selalu mengimpor daging bekicot, seperti Hongkong, Belanda, Taiwan, Yunani, Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat.

Dan Indonesia termasuk salah satu negara eksportir bekicot.
Tapi volume dan kontinuitasnya belum memenuhi kebutuhan
pasar importir. Sehingga mengekspor bekicot memang sebuah
peluang tersendiri yang bepotensi mendatangkan devisa.

Di daerah Kediri, banyak

penduduk yang

membudidayakan bekicot ini. Ada

yang mengolah jadi keripik

bekicot, sate bekicot,

rempeyek bekicot, dan

sebagainya.

 

41


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Kandungan Gizi

Ada beberapa penelitian yang umumnya menyebutkan bahwa bekicot mengandung protein yang tinggi. Sedangkan cangkang bekicot kaya kalsium, dan dalam daging tersebut masih terdapat banyak asam-asam amino.

Sumber data lain menunjukkan, protein yang terkandung
sekitar 12 gram per 100 gram dagingnya. Kandungan lain adalah
lemak 1%, hidrat arang 2%, kalsium 237 mg, fospor 78 mg, Fe
1, 7 mg serta vitamin B komplek terutama vitamin B2.

Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup menonjol. Dalam 100 gr daging bekicot kering antara lain terdiri atas leusin 4, 62 gr, lisin 4, 35 gr, arginin 4, 88 gr, asam aspartat 5, 98 gr, dan asam glutamat 8, 16 gr.

Temuan di Kediri, menurut mereka yang biasa makan daging bekicot, daging itu dapat menyembuhkan penyakit gatal-gatal, batuk, kudis dan sebagainya. Tidak jelas sumbernya, karena belum diteliti secara ilmiyah.

Hukum Bekicot

Lepas dari masalah kandungan gizi, khasiat atau pun peluang bisnis mengekspor bekicot, sebagai muslim kita harus berhadapan terlebih dahulu dengan hukum halal haram.

Apakah hukum bekicot itu? Halalkah atau haram? Bagaimana dalil yang terkait dengan masalah ini.

Jawabnya, ternyata terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang hukum makan bekicot. Ada sebagian kalangan ulama yang tegas mengharamkannya. Namun setelah diteliti, ternyata ada sebagian lainnya yang berpedapat tidak cukup dalil untuk mengharamkannya.

Kenapa bisa begitu?

 

 

42


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Penjelasannya, ternyata perbedaan pendapat ini dipicu dari tidak ditemukannya dalil yang tegas menyebutkan bahwa hewan yang namanya bekicot itu haram.

Seandainya ada ayat yang mengharamkan dengan menyebut
nama bekicot sebagai hewan yang haram dimakan, tentu saja
tidak akan terjadi perbedaan pendapat. Seperti ketika Allah
SWT mengharamkan babi, yang secara tegas disebut di dalam
Al-Quran.

Namun kita memang tidak menemukan kata 'bekicot' baik di dalam Al-Quran maupun di dalam hadits nabawi. Walhasil, masalah ini menyisakan ruang buat para mujtahid untuk berbeda pendapat.

1. Pendapat Yang Mengharamkan

Sebagian ulama mengharamkan bekicot dengan dasar bahwa
hewan itu menjijikkan. Dan secara umum memang setiap orang
akan merasakan hal yang sama, yaitu perasaan jijik kalau melihat
bekicot.

Coba saja seandainya di dalam rumah kita ada sepuluh
bekicot nempel di dinding ruang tamu, pasti kesan jorok, kotor
dan jijik langsung muncul. Perasaaan inilah yang kemudian
dijadikan landasan untuk mengharamkan makan bekicot.

Pendapat ini dikuatkan oleh penjelasan dalam kitab 'kuning',
yaitu Kitab Hayatu al-Hayawan al-Kubra juz 1 halaman 237:

(bekicot) (dan hukumnya) di haramkan karena menjijikkan. Ar Rafii sungguh telah berkata dalam masalah kepiting: Sesungguhnya bekicot itu haram karena di dalammnya terdapat kemudaratan, dan karena bekicot itu masuk dalam ke umuman dari keharaman rumah kerang.

Dengan menggunakan pendapat dari Ar-Rafi'i, kalangan Nahdliyyin di Jawa Timur dalam Bahtsul Masail tahun 1997 menetapkan keharaman bekicot.

43


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan

Sementara kalangan ulama yang tidak mengharamkan bekicot berangkat dari kaidah fiqih, bahwa segala sesuatu termasuk makanan, punya hukum asal, yaitu halal.

Dan kedudukan hukum halal ini tidak bisa berubah kecuali
bila telah datang dalil yang tegas untuk mengharamkannya. Dalil
itu bisa saja berupa ayat Quran ataupun hadits nabawi yang
menyebutkan keharamannya secara langsung, namun bisa juga
secara tidak langsung, kecuali hanya dengan menyebutkan
kriterianya saja.

Nah, menurut mereka, tidak ada satu pun ayat atau hadits
yang menyebutkan keharaman bekicot secara langsung. Dan
ternyata dalil yang mengharamkan secara tidak langsung pun
juga tidak ditemukan. Tidak ada satu pun kriteria keharaman
makanan yang termasuk di dalamnya daging bekicot

Kriteria Hewan Yang Haram Dimakan

Bangkai, yaitu hewan berkaki empat atau dua (al-an'am) yang tidak matinya tidak disembelih secara syar'i.

Hewan yang diharamkan untuk membunuhnya.
Hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya.

Hewan yang bercakar dan berkuku, di mana cakar dan kukunya digunakan untuk memangsa buruannya.

Al-Jallaalah, yaitu hewan yang makanan pokoknya benda najis dan kotoran

Hewan yang hidup di dua alam (ini pun masih khilafiyah) Hewan Yang Menjijikkan

Dari keenam kriteria di atas, ada satu kriteria yang
diperdebatkan oleh para ulama, yaitu tentang hewan yang
menjijikkan.

 

44


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Masalah pertama, manakah dalil yang menyebutkan bahwa bila seseorang merasa jijik atas suatu hewan, maka hewan itu hukumnya haram.

Masalah kedua, bila memang benar ada dalil yang menyebutkan bahwa rasa jijik = haram, lalu rasa jijik menurut standar siapa?

Sebab tiap orang ternyata punya standar rasa jijik yang
berbeda-beda. Apakah standar untuk memberikan batasannya?

Karena itu pada akhirnya urusan bekicot ini tetap menjadi polemik di kedua belah pihak, masing-masing bersikeras untuk mempertahankan pendapatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

45


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Ketujuh

Kodok dan Kepiting

 

 

 

 

 

 

Dari segi dalil, kita menemukan sebuah hadits yang menyebutkan tentang memakan hewan kodok.

Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy bahwanya
seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW,
tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka
Rasulullah SAW melarang membunuhnya. (Ditakharijkan oleh
Ahmad dan dishahihkan Hakim, ditakhrijkannya pula Abu
Daud dan NasaI).

Dari hadits ini, para ulama umumnya mengatakan bahwa memakan daging kodok itu halal. Sebab Rasulullah SAW melarang untuk membunuhnya.

Sementara di kalangan ulama berkembang sebuah kaidah bahwa hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, hukumnya haram dimakan. Meski pun tidak tidak disebutkan bahwa hewan itu najis atau haram dimakan.

 

 

47


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Demikian juga dengan hewan yang dilarang untuk membunuhnya, hukumnya pun haram dimakan, meski tidak ada keterangan bahwa dagingnya najis atau haram dimakan.

Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk
membunuhnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud,
Ahmadn Ishaq, Alhakim dari Abdurrahman bin Utsman at-
Tamimi. Silahkan periksa kitab Al-Lubab Syarhil Kitab jilid 3
halaman 230, juga kitab Takmilatul Fathi jilid 8 halaman 62,
kitab Mughni Al-Muhtaj jilid
4 halaman 298 dan kitab Al-

Muhazzab jilid 1 halaman 250.

Mereka yang mengharamkan kodok juga mendasarkan larangan ini dengan dalil bahwa kodok itu termasuk hewan yang menjijikkan secara umum.

Walhasil, kecenderungan jumhur ulama berpendapat bahwa
kodok itu tidak halal dimakan berdasarkan dalil dan kaidah di
atas.

Mereka yang Menghalalkan

Mereka yang menghalalkan adalah kalangan mazhab Maliki.
Sebagaimana sudah seringkali dijelaskan, umumnya pendapat
mazhab ini merujuk kepada dalil secara apa adanya. Bila di
dalam dalil itu tidak tertuang secara eksplisit tentang najis atau
haramnya suatu hewan, maka mereka akan bersikukuh untuk
tidak mengharamkannya.

Mereka berpendapat bahwa memakan kodok dan hewan semacamnya seperti serangga, kura-kura dan kepiting (cancer) hukumnya boleh selama tidak ada nash atau dalil yang secara jelas mengharamkannya.

Dan mengkategorikan hewan-hewan itu sebagai khabaits
(kotor), bagi mereka dianggap tidak bisa dengan standar
masing-masing individu, karena pasti akan bersifat subjektif.

 

 

48


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Ada orang yang tidak merasa bahwa hewanb itu menjijikkan
atau kotor dan juga ada yang sebaliknya. Sehingga untuk
mengharamkannya tidak cukup dengan itu, tapi harus ada nash
yang jelas.

Dan menurut Al-Malikiyah, tidak ada nash yang melarang secara tegas memakan hewan-hewan itu. Silahkan periksa kitab Bidayatul Mujtahid jilid 1 halaman 656 dan kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 172.

Hukum Kepiting

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, kepiting itu boleh dimakan karena sebagai binatang laut yang bisa hidup di darat, kepiting tidak punya darah, sehingga tidak butuh disembelih. Sedangkan bila hewan dua alam itu punya darah, maka untuk memakannya wajib dengan cara menyembelihnya.

Silahkan periksa kitab Al-Mughni jilid 8 halaman 606 dan kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 6 halaman 202.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

49


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Daging Biawak

 

 

 

 

 

 

 

Assalamu''alaikum wr. wb.

 

Ustadz, langsung saja. Apa hukumnya memakan daging biawak? Syukron,
Ustadz.

 

Wassalamu''alaikum wr. wb.

 

jawaban

 

Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam menjawab pertanyaan ini, ada dua hal penting yang perlu

diperhatikan. Pertama, masalah biawak yang oleh sebagian kalangan

dianggap sebagai terjemahan dari kata dhabb. Kedua, hukum dhabb sendiri
yang ternyata menjadi bahan perbedaan pendapat para ulama, karena
terdapatnya beberapa hadits yang berbeda hukumnya tentang hewan itu.

 

1. Masalah Pertama: Apakah Biawak terjemahan kata Dhabb?

 

Banyak orang di masa lalu menerjemahkan kata dhab (ض) dengan
biawak. Sementara para peneliti kemudian mengkritisi lebih lanjut dan
menemukan bahwa ternyata hewan yang dimaksud itu bukan biawak.

 

Memang gambarnya mirip dengan biawak, namun setelah diteliti lebih lanjut, terbukti memang bukan biawak. Sehingga pada penerjemahan berikutnya, lebih sering ditulis dengan: hewan mirip biawak. Walhasil, karena memang bukan biawak, maka hukumnya tidak terkait dengan masalah dhabb
sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits nabawi.

 

 

 

51


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

Maksudnya, biawak adalah nama jenis binatang tertentu, sedangkan dhabb adalah nama jenis binatang yang lain. Keduanya tidak ada kaitannya, kecuali ada kemiripan bentuk.

 

2. Masalah Kedua: Perbedaan Ijtihad Ulama tentang Hukum Dhabb.

 

Ada beberapa hadits yang saling berbeda terkait dengan hukum memakan
daging
dhabb. Sebagian dari matan hadits itu menunjukkan kebolehan
memakan
dhabb, namun sebagian lainnya menunjukan ketidak-halalannya.

 

a. Hadits-hadits yang Melarang Makan Dhabb

 

Bahwa Rasulullah SAW melarang (makan) dhabb. (HR Abu Daud)

 

Dari Abduurahman bin Hasnah bahwa para shahabat memasak dhabb, lalu nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya satu umat dari bani Israil diubah menjadi hewan melata di tanah, aku khawatir mereka itu adalah hewan ini, jadi buanglah." (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Ath-Thahawi)

 

Ibnu Hibban dan Ath-Thahawi menshahihkan hadits ini dengan sanad sesuai syarat dari Bukhari.

 

b. Hadits yang Menghalalkan Dhabb

 

Dari Ibnu Abbas ra berkata,"Aku makan dhabb pada hidangan Rasulullah SAW." (HR Bukhari Muslim)

 

Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang hukum dhabb, maka beliau menjawab, "Aku tidak memakannya namum tidak mengharamkannya." Beliau juga ditanya tentang hukum makan belalang, maka beliau menjawab,
"Hukumnya sama." (HR An-Nasa''i)

 

Rasulullah SAW bersabda, "Makanlah hewan itu karena hukumnya halal. Namun hewan itu bukan makananku." (HR Muslim)

 

Ijtihad Para Ulama

 

 

 

52


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

Dengan adanya perbedaan sekian hadits tentang dhabb di atas, maka para
ulama pun berbeda pendapat tentang hukum memakannya. Sebagian dari
mereka mengharamkannya dan sebagian lainnya menghalalkannya.

 

a. Mereka yang Mengharamkan

 

Pengharaman mereka berangkat dari adanya hadits-hadits di atas yang

esensinya mengharamkan seorang muslim memakan daging dhabb. Bahkan
Rasulullah SAW sampai memerintahkan untuk membuangnya, karena beliau
khawatir hewan itu adalah penjelmaan dari umat terdahulu yang dikutuk jadi
hewan.

 

Perintah untuk membuangnya berarti makanan itu haram. Karena kalau
halalatau sekedar makruh, tidak mungkin beliau perintahkan untuk
membuangnya. Sebab membuang makanan, meski tidak doyan, hukumnya
haram.

 

b. Mereka yang Menghalalkan

 

Mereka yang menghalalkan makan daging dhabb tentu saja berhujjah dengan hadits-hadits yang membolehkan. Yaitu Rasululah SAW membolehkan makan dagingnya, meski beliau sendiri tidak memakannya.

 

Sedangkan terhadap hadits-hadits yang membolehkannya, mereka

mengatakan bahwa kedudukan hadits-hadits itu lemah dan bermasalah, sebagaimana hasil peniliaian para ulama berikut ini:

 

Ibnu Hazam mengatakan bahwa hadits riwayat Abu Daud tentang

Rasulullah SAW melarang (makan) dhabb itu adalah hadits yang bermasalah pada isnadnya. Beliau mengatakannya perawinya dhaif (lemah) dan majhul (tidak diketahui).

 

Demikian juga dengan Al-Baihaqi, beliaumengatakan bahwa dalam isnad
hadits ini ada perawi yang bernama Ismail bin Ayyash. Menurut beliau
perawi ini termasuk kategori: laisa bihujjah (tidak bisa dijadikan dasar
argumen).

 

Mereka juga mengatakan bahwa hadits yang melarang makan dhabb karena
Rasulullah SAW khawatir hewan itupenjelmaan manusia yang dikutuk, tidak

 

53


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

bisa diterima. Sebab bertentangan dengan hadits lainnya yang menyebutkan
bahwa Allah SWT tidak mengutuk orang jadi hewan lalu hewan itu bisa
beranak pinak dan berketurunan. Kemungkinan saat itu Rasulullah SAW
belum menerima wahyu lebih lanjut bahwa umat terdahulu yang dikutuk
menjadi hewan tidak akan punya keturunan, bahkan setelah jadi hewan, tidak
lama kemudian mereka mati.

 

Dari Ibnu Mas''ud ra. bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang kera dan babi,

apakah hewan itu penjelmaan (orang yang dikutuk di masa lalu)? Beliau menjawab,

"Sesungguhnya Allah SWT tidak menghancurkan suatu kaum atau mengutuknya jadi hewan sehingga mereka punya keturunan."

 

Asal hadits ini dari riwayat Imam Muslim, sebagaimana ditulis oleh Ashshan''ani di dalam kitab beliau, Bulughul Maram.

 

Wallahu a''lam bishshabwab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

54


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Kedelapan

Kurma Nabi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masalah itu memang ada dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Ash-Shahih pada kitab Ath-`Imah bab al-`Ajwah.

Lengkapnya sbb :

Hadatsana Jum`ah bin Abdillah, hadastana Marwan,
akhbarana Hasyim ibnu Hasyim, akhbarana Ibnu Sa`d dari
ayahnya berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,Barang
siapa yang pada setia pagi hari memakan 7 kurma `ajwah, maka
dia tidak akan terkena bahaya racun dan sihir pada hari itu.
(HR. Bukhari bab kitab Ath-`Imah bab al-`Ajwah).

Hadits ini oleh Bukhari juga dikeluarkan dalam masalah Tibb (pengobatan) dari Ali bin Abdillah.

 

 

 

55


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

Selain itu Muslim pun meriwayatkan hadits ini dalam bab Ath-`Imah dari hadits Abi Bakar bin Abi Syaibah.

Juga diriwatkan pula oleh Abi Daud dalam bab pengobatan dari hadits Utsman bin Abi Syaibah.

Juga diriwayatkan pula oleh An-Nasai dalam bab walimah dari hadits Ishaq bin Ibrahim.

Ad-Daruquthuny juga meriwayatkan hadits ini dengan matan yang sedikit berbeda :

Siapa yang makan 7 kurma dari kedua perbatasan Madinah
maka dia tidak akan terkena bahaya racun dan sihir pada hari
itu.

Juga ada hadits dari Aisyah ra,Dalam kurma `ajwah itu ada penyembuhan (obat).

Juga dari Abi Hurairah,Kurma `Ajwah itu berasal dari surga dan mengnadung obat penawar racun.

Selain itu juga ada hadits-hadits dhaif dan lemah tentang
kurma `ajwah ini, seperti : Siapa yang makan kurma ajwah

Madinah 7 kali dan memakannya selama tujuh hari maka akan terhindar dari penyakit juzam.

Hadits ini tidak dikenal perawinya dan asing. PENJELASAN HADITS :

Para ulama berbeda pendapat dalam mengistimbath hadits ini. Sebagian menerimanya sebagai bagian dari syariat yang resmi. Namun sebagian lagi menerima namun tidak dikategorikan dari hukum syariah secara resmi.

Imam An-Nawawi berkomentar atas hadits ini bahwa kita
wajib mengimaninya secara apa adanya karena merupakan
sabda Rasulullah SAW yang bernilai syar`i. Dan tidak perlu
nalar atau logika dalam menerimanya, karena masalah ini sama
kasusnya dengan masalah jumlah bilangan shalat atau nishab

56


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

zakat. Jadi sudah merupakan ketentuan baku yang sudah pasti datangnya dari Allah.

Sedangkan Imam Ibnul Qayyim sedikit berbeda dalam
mengomentari masalah hadits-hadits Nabi yang berkaitan
dengan masalah kesehatan atau kedokteran. Beliau
mengomentari hadits ini,Hadits ini merupakan teks nash yang
konotasinya khusus ditujukan kepada penduduk tertentu saja,
seperti penduduk Madinah dan wilayah sekitarnya saja.
Beberapa tempat tertentu memiliki tanaman yang bisa
dimanfaatkan untuk obat-obatan, yang mungkin tidak dijumpai
di negara lain. Sehingga tanaman di sekitar situ bisa digunakan
untuk menyembuhkan penyakit, tetapi tidak dapat
dimanfaatkan ketika tumbuh di tempat lain. Karena pengaruh
tanah, udara atau keduanya.

Dan sebaliknya, banyak sekali tumbuhan yang di suatu negara
menjadi obat eapi di negeri lain malah menjadi racun yang
mematikan.

Manfaat kurma `ajwah itu boleh jadi bereaksi pada jenis racun tertentu. Dengan demikian hadits Rasulullah SAW itu adalah bersifat umum yang dikhususkan.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

57


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Kesembilan

Khamar dan Alkohol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khamar atau yang lebih dikenal dengan minuman keras diharamkan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat Al-Quran. Ada empat ayat Al-Quran yang diturnkan dalam waktu yang berbeda dan dengan kandungan hukum yang berbeda. Dari yang sekedar sindiran tentang mudharatnya hingga yang mengharamkan secara total.

 

Tahap 1.

 

59


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

ﺎﻨﺴﺣ ﺎﻗ ﺮﻜﺳ ﻪﻨﻣ ﺬﺨﺘﺗ ﺎﻨﻋﻷ ﻞﻴﺨﻨﻟ ﺮﻤﺛ ﻦﻣ

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl : 67)

 

Tahap 2.

ﺎﻤﻬﻌﻔﻧ ﻦﻣ ﺮﺒ ﺎﻤﻬﻤﺛ ﺎﻨﻠﻟ ﻊﻔﻨﻣ ﺮﻴﺒ ﻢﺛ ﺎﻤﻬﻴﻓ ﻞﻗ ﺮﺴﻴﻤﻟ ﺮﻤﺨﻟ ﻦﻋ ﻚﻧﻮﻟﺄﺴﻳ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi.
Katakanlah,Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan
beberapa manfaat bagi manusia. Tapi dosa keduanya lebih besar

dari manfaatnya..... (QS. Al-Baqarah : 219)

 

Tahap 3.

ﻮﻟﻮﻘﺗ ﺎﻣ ﻮﻤﻠﻌﺗ ﻰﺘﺣ ﺎﻜﺳ ﻢﺘﻧ ﻼﺼﻟ ﻮﺑﺮﻘﺗ ﻻ ﻮﻨﻣﺁ ﻦﻳﺬﻟ ﺎﻬﻳ ﺎﻳ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (QS. An-Nisa : 43)

 

Tahap 4.

ﺎﻄﻴﺸѧﻟ ﻞﻤﻋ ﻦﻣ ﺲﺟ ﻻﻷ ﺎﺼﻧﻷ ﺮﺴﻴﻤﻟ ﺮﻤﺨﻟ ﺎﻤﻧ ﻮﻨﻣﺁ ﻦﻳﺬﻟ ﺎﻬﻳ ﺎﻳ ﻮﺤﻠﻔﺗ ﻢﻜﻠﻌﻟ ﻩﻮﺒﻨﺘﺟﺎﻓ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi,
berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah
perbuatan kejitermasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
(QS. Al-Maidah : 90)

ѧﻋ ﻢﺪﺼѧﻳ ﺮﺴﻴﻤﻟ ﺮﻤﺨﻟ ﻲﻓ ﺎﻀﻐﺒﻟ ﺪﻌﻟ ﻢﻜﻨﻴﺑ ﻊﻗﻮﻳ ﺎﻄﻴﺸﻟ ﺪﻳﺮﻳ ﺎﻤﻧ ﻮﻬﺘﻨﻣ ﻢﺘﻧ ﻞﻬﻓ ﻼﺼﻟ ﻦﻋ ﷲ ﺮ

60


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Sesungguhnya syetan itu bermaksud menimbulkan
permusuhan dan kebencian diantara kamu dengan khamar dan
judi serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat.
Maka berhentilah kamu dari pekerjaan itu. (QS. Al-Maidha : 91)

 

 

 

Pengertian Khamar

Khamar dalam bahasa Arab berasal dari akar kata kamara yang bermakna sesuatu yang menutupi. Disebutkan,Maa Khaamaral aql yaitu sesuatu yang menutupi akal.

 

Sedangkan jumhur ulama memberikan definisi khamar yaitu : segala sesuatu yang memabukkan baik sedikit maupun banyak. Definisi ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW :

 

Dari Ibni Umar RA. bahwa Rasulullah SAW
bersabda,Segala yang memabukkan itu adalah khamar dan
semua jenis khamar itu haram. (HR. Muslim dan Ad-

Daruquthuny).

 

Rasulullah SAW bersabda,Segala yang memabukkan adalah khamar dan segala yang memabukkan hukumnya haram. (HR. Ahmad dan Ashhabussunan).

 

Paling tidak ada lebih dari 26 orang shahabat yang

meriwayatkan hadits seperti ini dengan beragam lafaznya.1.

 

 

 

 

1 Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, jilid 6 hal. 149

61


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Sedangkan Al-Hanafiyah sedikit membedakan antara hukum
mabuk dengan hukum minum khamar. Pembedaan itu
menyangkut urusan bila seseorang minum khamar dan tidak
mabuk, maka tetap dihukum. Dan sebaliknya, bila seseorang
minum sesuatu minuman memabukkan yang bukan termasuk
khamar, tetap dihukum. Hal itu disebabkan mereka mempunyai
definisi tersendiri dalam masalah khamar. Bahwa tidak semua
minuman memabukkan itu termasuk khamar dalam pendapat
mereka.

Dalam mazhab Al-Hanafiyah, definisi khamar adalah air
perasan buah anggur yang telah berubah menjadi minuman
memabukkan. Sedangkan minuman memabukkan lainnya
bukan termasuk khamar dalam pandangan mereka. Namun
demikian, orang yang mabuk karena minum minuman
memabukkan tetap dihukum juga sesuai dengan aturan syariat.

 

 

 

Syarat diberlakukannya hukuman hudud bagi peminum
khamar

Berakal

Peminumnya adalah seorang yang waras atau berakal. Sehingga orang gila bila meminum minuman keras maka tidak boleh dihukum hudud.

Baligh

Peminum itu orang yang sudah baligh, sehingga bila seorang anak kecil di bawah umur minum minuman keras, maka tidak boleh dihukum hudud.

Muslim

Hanya orang yang beragama Islam saja yang bila minum
minuman keras yang bisa dihukum hudud. Sedangkan non

 

62


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

muslim tidak bisa dihukum bahkan tidak bisa dilarang untuk meminumnya.

Bisa memilih

Peminum itu dalam kondisi bebas bisa memilih dan bukan dalam keadaan yang dipaksa.

Tidak dalam kondisi darurat

Maksudnya bila dalam suatu kondisi darurat dimana seseorang bisa mati bila tidak meminumnya, maka pada saat itu berlaku hukum darurat. Sehingga pelakunya dalam kondisi itu tidak bisa dijatuhi hukuman hudud.

Tahu bahwa itu adalah khamar

Bila seorang minum minuman yang dia tidak tahu bahwa itu
adalah khamar, maka dia tidak bisa dijatuhi hukuman hudud.

 

 

 

Bentuk hukuman hudud peminum khamar

Peminum khamar yang telah dijatuhi vonis dan dinyatakan
bersalah oleh sebuah institusi pengadilan (mahkamah syar`iyah)
hukumannya adalah dipukul. Bentuk hukuman ini bersifat
mahdhah. Artinya bentuknya sudah menjadi ketentuan dari
Allah SWT. Sehingga tidak boleh diganti dengan bentuk
hukuman lainnya seperti penjara atau denda uang dan
sebagainya.

Dalam istilah fiqih disebut hukum hudud, yaitu hukum yang
bentuk, syarat, pembuktian dan tatacaranya sudah diatur oleh
Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,Siapa yang minum khamar maka pukullah.

 

 

63


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Hadits ini termasuk jajaran hadits mutawatir, yaitu hadits
yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada tiap
thabawatnya (jenjang) dan mustahil ada terjadi kebohongan
diantara mereka.

Di tingkat shahabat, hadits ini diriwayatkan oleh 12 orang
shahabat yang berbeda. Mereka adalah Abu Hurairah,
Muawiyah, Ibnu Umar, Qubaishah bin Zuaib, Jabir, As-Syarid
bin suwaid, Abu Said Al-Khudhri, Abdullah bin Amru, Jarir bin
Abdillah, Ibnu Mas`ud, Syarhabil bin Aus dan Ghatif ibn
Harits.

Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam
menentukan jumlah pukulan. Jumhur fuqoha sepakat bahwa
peminum khamar yang memenuhi syarat untuk dihukum, maka
bentuk hukumannya adalah dicambuk sebanyak 80 kali.

Pendapat mereka didasarkan kepada perkataan Sayyidina Ali
ra.,Bila seseroang minum khamar maka akan mabuk. Bila
mabuk maka meracau. Bila meracau maka tidak ingat. Dan
hukumannya adalah 80 kali cambuk. (HR. Ad-Daruquthuni,
Malik).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali ra. berkata,Rasulullah SAW mencambuk peminum khamar sebanyak 40 kali. Abu bakar juga 40 kali. Sedangkan Utsman 80 kali. Kesemuanya adalah sunnah. Tapi yang ini (80 kali) lebih aku sukai. (HR. Muslim).

 

Sedangkan Imam Asy-Syafi`i ra. berpendapat bahwa hukumannya adalah cambuk sebanyak 40 kali.

 

Dasarnya adalah sabda hadits Rasulullah SAW :

 

 

 

64


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Dari Anas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mencambuk kasus minum khamar dengan pelepah dan sandal sebanyak 40 kali. HR. Bukhari, Muslim, Tirmizy, Abu Daud).

 

Alat untuk memukul

Para ulama mengatakan bahwa untuk memukul peminum
khamar, bisa digunakan beberapa alat antara lain : tangan

kosong, sandal, ujung pakaian atau cambuk.

 

 

 

Hukum-hukum yang terkait dengan khamar

 

Haram meminumnya

Khamar itu baik sedikit maupun banyak hukumnya haram untuk diminum. Kecuali dalam keadaan darurat. Rasulullah SAW bersabda,Khamar itu diharamkan baik sedikit atau banyak. Dan juga diharamkan mabuk akibat meminum apa saja. (HR. Al-`Uqaili)

 

Yang menghalalkannya diancam menjadi kafir

Keharaman khamar itu sudah jelas dan qath`i. Sehingga tidak bisa ditawar-tawar lagi hukumnya. Sehingga para ulama mengatakan bila ada orang yang mengatakan bahwa khamar itu halal diminum, maka orang tersebut termasuk orang yang kafir. Sebab Allah telah menyebutkan bahwa khamar itu najis, perbuatan syetan dan harus dijauhi, sebagaimana yang telah difirmankan dalam surat Al-Maidah : 91.

 

Haram memilikinya.

65


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Seorang muslim bukan saja haram untuk meminum khamar,
tapi sekedar memiliki atau menyimpannya sebagai koleksi pun
haram. Bahkan menerima hadiah cendera mata dalam bentuk
khamar pun haram hukumnya. Termasuk juga menjual atau
membelinya.

Rasulullah SAW bersabda,Wahai penduduk Madinah,
sesungguhnya Allah tabaraka wa ta`ala telah menurunkan
pengharaman khamar. Maka siapa yang menulis ayat ini dan
masih memilikinya janganlah meminumnya dan jangan pula
menjualnya. Tapi buang saja di jalan-jalan kota Madinah. (HR
Muslim)

 

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW
bersabda,Sesunggunya minuman yang diharamkan untuk
meminumnya maka diharamkan juga menjualnya. (HR.

Ahmad, Muslim, An-Nasai)

 

Yang merusaknya tidak wajib mengganti

Bila seorang muslim masih memiliki khamar, maka bila
dirusak atau dibuang oleh seroang muslim lainnya, tidak perlu
menggantinya. Namun bila khamar itu milik non muslim, maka
wajib menggantinya bila merusaknya atau menumpahkannya.

 

Najis

Khamar itu selain haram untuk diminum, juga hukumnya
najis. Bahkan mazhab Al-Hanafiyah menyatakan bahwa khamar
itu bukan sekedar najis, tapi najis mughallazhah atau najis berat.
Sehingga bila terkena pakaian sebesar uang satu dirham, wajib
untuk dicuci. Hal itu didasarkan pada dalil Al-Quran dimana
Allah menyebutkan najis.

 

66


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa khamar itu najis karena secara tegas telah dilarang dan harus dijauhi. Meski yang dimaksud dengan kata-kata najis dalam ayat tersebut bukan najis hakiki tapi najis maknawi. Namun ayat itu juga mewajibkan untuk menjauhi khamar. Dalam hadits dijelaskan tentang najisnya khamar ini :

Dari Abi Tsa`labah ra,Kami bertetangga dengan ahli kitab.
Mereka memasak babi dalam panci mereka dan minum khamar
dalam wadah mereka. Rasulullah SAW bersabda,Bila kalian
punya yang selain dari milik mereka maka makan dan minum
bukan dari panci dan bejana mereka. Tapi bila tidak ada lainnya,
maka cucilah dengan air baru boleh dimakan dan diminum.
HR. Ad-Daruquthuni).

 

Peminumnya wajib dihukum dengan hukuman hudud yaitu

80 kali menurut jumhur ulama

 

Dilarang hadir atau duduk di suatu majelis yang terhidang
khamar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

67


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Minuman Bebas Alkohol

 

 

 

 

 

 

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini kita sebagai konsumen dihadapkan dengan berbagai pilihan makanan dan minuman. Begitu beragamnya makanan dan minuman ini membuat saya seringkali bingung apakah makanana dan minuman ini dikategorikan hala atau haram.

Salah satunya adalah minuman ringan Green Sand yang
berbandrol Bebas Alkohol ini masih membuat saya
kebingungan. Hal ini didasarkan pada dahulu produk Green
Sand mengandung alkohol +/- 2% yang berarti haram untuk
dikonsumsi. Namun sekarang minuman Green Sand berubah
kemasan dengan menonjolkan bandrol Green Sand bebas
Alkohol.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah minuman
Green Sand various rasa dengan label "bebas alkohol" ini halal
untuk dikonsumsi atau masih meragukan atau tetap haram?

Demikian pertanyaan saya, terimakasih atas perhatiannya. Wassalamu'alaikum Wr Wb

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita memang seringkali melihat iklan merek minuman yang
selama ini dikategorikan sebagai khamar, tapi tegas sekali
menyebutkan bahwa kandungan alkoholnya 0%. Iklan seperti
ini tentunya sangat membingungkan. Sebab produk tersebut

 

69


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

 

selama ini dikenal sebagai khamar (minuman keras), kenapa tiba-tiba memajang tulisan besar Alkohol 0%?

Apakah berarti produk minuman itu bukan khamar?

Tidak jelas, tetapi pesan yang mungkin banyak ditangkap
seolah ingin menghilangkan mitos bahwa produk tersebut
bukan termasuk khamar, lantaran sudah tidak mengandung
alkohol.

Lalu bagaimana sikap kita dengan klaim ini?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menegaskan bahwa Bir Bintang dan Green Sand yang sekarang ini berkampanye menyatakan bahwa kandungan minuman produk mereka tidak mengandung Alkohol adalah tetap haram.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan, di antaranya

1. Masalah tidak terdeteksinya kadar Alkohol itu bukan
berarti jaminan bahwa minuman itu sudah 100% tidak ada
Alkoholnya.

Tidak terdeteksinya alkohol pada alat yang digunakan
Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika,
Majelis Ulama Indonesia (LP-POM MUI) bisa jadi dikarenakan
limit deteksi alat yang dimiliki lebih tinggi dari kandungan
alkohol yang mungkin ada dalam kedua minuman tersebut.

Adapun alat yangdi gunakan memiliki limit deteksi 0,1% atau

1 ppm. Sehingga jika hasil pengukuran kemudian didapatkan tidak terdeteksi, maka bukan berarti produk tersebut tidak mengandung alkohol. Boleh jadi kandungan alcoholnya di bawah 0.1 persen.

2. Alasan lain adalah dasar yang mengacu kepada Fatwa MUI
no 4 tahun 2003. Disebutkan dalam fatwa itu, "Tidak boleh
mengkonsumsi dan menggunakan makanan/minuman yang
menimbulkan rasa/aroma (flavor) benda-benda atau binatang
yang diharamkan."

70


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Untuk kasus Bintang Zero, adanya proses pengimitasian terhadap barang haram sehingga akan mengajarkan konsumen muslim untuk menyukai sesuatu yang haram. Sedangkan pada Green Sands, proses pembuatannya sama sekali tidak berbeda dengan pembuatan bir, di mana pada tahap akhir ada usaha untuk menghilangkan alkohol.

Dengan demikian, iklan itu sama sekali tidak membuat produk itu menjadi halal dikonsumsi. Produk itu tetap haram, karena jati dirinya tetap khamar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

71


 


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Marsmallow

 

 

 

 

 

 

Assalamualaikum,

Saya adalah guru di sebuah SD Islam. Dua hari yang lalu, anak-anak didik saya mendapat katering yang salah satu itemnya adalah makanan kecil berupa mars mallow. Saya cukup kaget, sebab pernah baca bahwa mars mallow mengandung minyak babi. Apalagi pada kemasan makanan itu tidak ada tanda halalnya dan berupa tulisan Cina.

Ketika saya konfirmasi lagi ke guru lain dan wakil kepsek,
mereka masih ingin bukti bahwa mars mallow itu halal atau
haram, sedangkan artikel tentang mars mallow, tidak saya
simpan.

Mohon ustadz jelaskan bagaimana sebenarnya mars mallow
itu. Dan bagaimana caranya supaya saya bisa meyakinkan rekan-
rekan di sekolah supaya tidak mengkonsumsi suatu yang
syubhat. Mereka memang banyak yang belum tahu. Walaupun
sekolah saya sekolah Islam terkenal tapi perhatian ke arah
makanan halal dan haram, agak kurang. Seperti masih ada yang
menjadikan Hoka-hoka Bento sebagai komsumsi anak-anak.
Terima kasih untuk jawabannya.

jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kekhawatiran anda itu barangkali karena banyak tulisan yang
cenderung berhati-hati dalam masalah kehalalan makanan. Salah
satunya barangkali apa yang ditulis di Republika oleh Ir. Muti

73


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Arintawati MSi, auditor LP POM MUI. Intinya beliau
mengingatkan kepada kita agar berhati-hati mengkonsumsi
makanan yang mengandung gelatin. Dan menurutnya,
marshmallow yang beredar di negeri kita, adalah hasil impor
dari luar negeri, yang tidak ada jaminan gelatinnya bukan dari
babi.

Beliau menuliskan bawa bahan utama yang digunakan untuk
membuat marshmallow modern adalah gelatin, putih telur, gula
atau sirup jagung, dan flavoring. Letak kekhawatirannya ada
pada gelatin, yang menurutnya banyak yang terbuat dari babi.

Jika gelatin berasal dari babi maka sudah jelas statusnya
menjadi haram. Akan tetapi meskipun berasal dari sapi, cara
penyembelihannya perlu diketahui untuk memastikan
kehalalannya. Menurut beliau, kewaspadaan terhadap produk
marshmallow ini semakin perlu dipertinggi karena pada
kenyataannya, produk marshmallow yang beredar di pasaran
Indonesia masih merupakan produk impor. Jenis gelatin yang
digunakannya jarang dinyatakan secara jelas. Sementara,
penggunaan gelatin ikan pada produk marshmallow masih
sangat terbatas.

Ada beberapa produk marshmallow untuk vegetarian yang
menggunakan gelatin ikan atau bahkan membuatnya secara
tradisionil menggunakan bahan baku akar marshmallow. Akan
tetapi sayangnya produk-produk vegetarian tersebut tergolong
mahal.

Sikap beliau sebagai auditor memang perlu kita hargai. Dan kita yakin bahwa niat dan tujuannya baik, yaitu mengingatkan kita agar terjaga dari mengkonsumsi dari memakan makanan yang haram. Sebagai petugas, beliau sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

Kaidah Fiqih

 

 

74


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Di sini kami akan memberikan ulasan singkat tentang kaidah
fiqih dalam masalah kehalalan makanan. Hukum halal tidaknya
suatu makanan, berbeda dengan hukum ibadah ritual atau
mahdhah.

Prinsip dasar ibadah ritual adalah segala bentuk ibadah ritual
itu haram dikerjakan, kecuali bila ada dalil yang
memerintahkannya. Segala gerakan shalat itu haram, kecuali bila
ada dalil shahih dari Rasulullah SAW untuk melakukannya.

Sedangkan masalah di luar ibadah ritual, termasuk masalah
kehalalan makanan, prinsipnya terbalik. Segala makanan itu
halal hukumnya, kecuali yang disebutkan keharamannya. Kalau
logikanya mengikuti logika ibadah ritual, maka hanya sedikit
sekali yang boleh dimakan umat Islam. Sebab kalau tidak ada
keterangan yang menghalalkannya di dalam Al-Quran atau As-
Sunnah, hukumnya haram.

Lalu bagaimana kita boleh makan mangga, rambutan, pisang, jeruk, nasi, lontong, bakmi, pecel dan tahu gejrot, sementara tidak ada satu pun hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW pernah memakannya?

Demikian juga dengan makanan hewani, kalau semua harus
disebutkan di dalam Al-Quran, tentu kita tidak bebas memilih
makanan.

Karena itu, ketahuilah bahwa dalam masalah makanan dan
kehalalannya, prinsipnya sederhana. Yaitu asal hukum semua
makanan itu halal, kecuali yang disebutkan keharamannya.

Gelatin Babi dalam Pandangan Ulama Dunia

Ada satu informasi menarik yang perlu juga kita pahami.
Bahwa keharaman gelatin babi ini ternyata tidak sepenuhnya
disepakati para ulama. Ada yang menyatakan haram seperti LP-
POM MUI, namun nyatanya ada juga para ulama dunia yang
menghalalkannya. Jadi hukumnya masih boleh dibilang ikhtilaf
di antara para ulama.

75


 

 

 

Fiqih Kuliner : Ahmad Sarwat, Lc

 

Menarik untuk kita kaji fatwa para ulama yang tertuang dalam
Rekomendasi Muktamar ke VII Munadzomah Al-Islamiyyah
dalam bidang ilmu kedokteran di Kuwait. Para ulama itu
menyebutkan bahwa bila babi sudah mengalami proses
perubahan jati diri (istihalah), maka bisa menjadi halal.

Muktamar yang digelar dari tanggal 22-24/12/1415

bertepatan dengan 22/24/5/1995 adalah muktamar para ulama kaliber dunia yang duduk bersama membahas hal-hal yang berkaitan dengan zat-zat yang diharamkan dan najis yang terdapat dalam makanan dan </