Ahmad Sarwat, Lc

FIQIH

politik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1


 


 

 

 

 

 

Judul Buku

Fiqih Politik

 

Penulis

Ahmad Sarwat

 

Penerbit

DU CENTER

 

Cetakan

Pertama
Kedua
Ketiga

Keempat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3


 

 

 

 

 

Daftar Isi

Pengantar                                                             5

Menegakkan Syariat Islam                             7

Tuduhan Terhadap Politik Islam                15

Dakwah Parlemen                                         25

Demokrasi                                                       45

Oposisi                                                              51

Koalisi                                                              59

Demonstrasi                                                   77

Shalat dan Demo                                            81

Bom Syahid dan Bunuh Diri                       87

Wanita dan Politik                                       109

Akhlak                                                            121

Kudeta                                                            133

Jamaah Muslimin dan Khilafah               139

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4


 

 

 

 

 

Pengantar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Pertama

Menegakkan Syariat Islam

 

 

 

 

 

 

Sejak jatuh khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924
oleh perskongkolan jahat Yahudi Internasional, umat Islam
tidak lagi memiliki pemimpin yang melindungi mereka dari
serangan musuh-musuhnya. Yang lebih memprihatinkan,
banyak di antara umat Islam menjadi korban bulan-bulanan
ide pemikiran sekuler. Salah satu yang paling berbahaya
adalah keyakinan bahwa Islam dengan aplikasi syariahnya
tidak relevan lagi. Mereka meragukan bila syariat Islam

diterapkan, bagaimana dengan agama lain      ? Bagaimana

dengan   kebebasan   beragama      ?   Bagaimana   dengan

demokrasi ? Apakah pemeluk Kristen tidak marah ?

Banyak   orang   lupa   bahwa   syariat   Islam   adalah
penyempurnaan  dari  syariat  Yahudi  dan  Nasrani.  Jadi
mereka tahu bahwa hukum pembunuh itu harus diqishash,
perompak itu disalib, pencuri dipotong tangan, pezina
dirajam, bahwa khamar, anjing dan riba itu haram.

Semua itu tidak asing karena telah ada dalam kitab suci
mereka (Taurat dan Injil). Tetapi ketika terjadi kemerosotan
pengamalan agama dan pemalsuan Taurat dan Injil besar-
besaran oleh para pendeta dan rahib mereka, maka hukum

 

7


 

 

 

 

 

itu diputar-balik. Mereka telah menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.

Esensinya, penegakan syariat Islam itu juga penegakan
syariat mereka. Lalu apa masalahnya ? Masalahnya mereka
adalah kaum yang ingkar dan membangkang pada Allah.

Kenyataan   yang   terjadi   dalam   catatan   sejarah
menunjukkan betapa besarnya peranan syariat Islam bagi
kesejahteraan umat manusia, bukan saja muslimin tetapi
seluruh  pemeluk  agama.  Paling  tidak  ada  lima  sisi
kehidupan yang mengalami kerusakan yaitu : Kebebasan
beragama, kebebasan berpikir, keselamatan nyawa manusia,
keamanan   harta   benda,   dan   keselamatan   keturunan
manusia.

1. Kebebasan Beragama

 

Dalam  sejarah  kaum  Islam,  tidak  pernah  terjadi
pemaksaan untuk mengubah agama dan keyakinan. Lebih-
lebih membunuh seseorang atau menghancurkan rumah
ibadah.

Lihatlah  Mesir  dan  Syam,  sampai  sekarang  orang Kristen tetap hidup aman damai dan tenang. Juga India, padahal kaum Muslimin ketika itu berkemampuan untuk menghabisi semua keyakinan bukan Islam. Tetapi, tidak pernah  terjadi  pemaksaan  mengubah  agama  seseorang. Karena itu penduduk India non-muslim jumlahnya masih tetap melebihi kaum Muslimin.

Bandingkan dengan Andalusia. Tadinya di sana ada
berjuta-juta  kaum  Muslimin.  Lalu  mereka  dijajah  oleh
penguasa Katolik. Apa yang terjadi? Tidak ada seorang
Muslim pun tersisa. Mereka hanya diberi tiga pilihan, masuk
Kristen, diusir pergi dari negeri itu atau dibunuh.

Pemaksaaan agama bukan hanya terhadap umat Islam tetapi juga antara sesama aliran dalam sebuah agama.

 

8


 

 

 

 

 

Di Inggris, jika di antara rakyat ada yang berbeda aliran
mazhabnya   walaupun   sesama   pemeluk   kristen,   akan
ditangkap dan diadili. Bila dalam pengadilan dia bertaubat
dan  pindah  aliran,  akan  diberikan  ampunan  berupa
membunuhnya dengan pedang. Bila tidak bertaubat, maka
dia dibakar hidup-hidup.

Patrik Yoshua (656 H) berkata, `Orang Arab (Islam)
yang   menancapkan   kekuasaannya   di   dunia   telah
memperlakukan  kami  dengan  adil.`  Makarios,  seorang
Patnik   Anthokia   juga   mengatakan, `Semoga   Tuhan

melestarikan    pemerintahan    Turki.    Mereka    hanya mengambil pembayaran pajak. Tetapi tidak mengusik-usik persoalan agama. Malah mereka memelihara orang-orang Nashrani, Yahudi dan Samirah dengan adil`.

Dewasa  ini,  yang  disebut  sebagai  era  kebebasan beragama, kita mendapatkan sebaliknya. Kebebasan agama terampas secara keji. Sehingga para pemeluk agama sendiri merasa  tidak  aman  dalam  memelihara  agama  mereka. Apalagi memelihara agama orang lain.

Negara-negara sosialis memaksakan ajaran Markisme
yang atheistik dan melarang penyebaran agama. Sebaliknya

di       negara-negara       kapitalis,       pemerkosaan       dan

pemberangusan kebebasan beragama ini dilakukan kadang
dengan  terang-terangan  dan  kadang  dengan  sembunyi-
sembunyi. Operasi pembantaian kaum MusIimin Eryteria
dan  pembunuhan  Malcolm  X  sebagai  bukti  kejahatan
mereka yang menghantui ke dalam ingatan kita.

Tegasnya, orang tidak akan dapat memelihara agamanya kecuali Islam hadir di tengah-tengahnya. Tanpa Islam tidak akan ada kebebasan beragama.

 

2. Kebebasan berfikir dan penghargaan pada akal manusia

 

 

9


 

 

 

 

 

Hanya   dengan   tegaknya   Islam,   manusia   dapat memelihara  akalnya.  Dan  kebaikan  akal  hanya  dapat dijamin dengan dipraktekkannya hukum Islam. Bila Islam tidak diterapkan, maka kita lihat fenomena :

a.  Inkonsistensi Ilmu dan Kenyataan.

Di zaman kemajuan ini malah terjadi hal yang tidak
logis. Ilmu berada di satu kutub dan kenyataan berada di
kutub   lain.   Misalnya,   ilmu   mengatakan,   khamar   itu
berbahaya dan merusak, tetapi kenyataannya semua negara
membolehkannya. Ilmu menyatakan bahwa rokok merusak,

tetapi       kenyataan      menunjukkan       seluruh       dunia

menggalakkannya. Ilmu membuktikan bahwa perzinahan dapat merusak sex dan keturunan, tetapi dunia malah menghalalkanmnya. Dan ilmu membuktikan bahwa wanita berbeda   dengan   pria,   tetapi   para   feminis   malah menjadikannya sama dengan kaum lelaki.

b.  Issue dan Gosip

 

Di zaman rasionalisme ini kebohongan tersebar tanpa
batas baik di majalah, surat kabar, radio dan televisi. Desas-
desus dan gosip merajalela tanpa kontrol. Mereka tahu
bahwa itu gossip tetapi mereka suka. Hingga mata acara
yang paling favorit di TV kita adalah gossip bintang dan
selebritis. Dan tabloid yang paling tinggi tirasnya juga yang
berthema serupa.

c.  Manipulasi

 

Kini sudah menjadi hal lumrah manipulasi bukti untuk
membenarkan tindakan kriminal. Politik menjadi piranti
dusta dan penipuan. Mark-up biaya suatu proyek sudah
membudaya karena semua pihak ikut kecipratan. Untuk

 

10


 

 

 

 

 

mendukung   semua   kebejatan   tersebut   digunakanlah berbagai disiplin ilmu yang dimanipulir.

 

d.  Antara Barat dan Timur

Ada dua keadaan yang memperburuk akal manusia : di
masyarakat  komunis  berfikir  dianggap  satu  kejahatan.
Sedangkan di Barat, anda bebas berbicara meski tidak
masuk akal.

e.  Rumah Sakit Jiwa

 

Fenomena perusakan akal manusia ini banyak terlihat.
Dan beberapa statistik menelanjangi hakikat kebobrokan
ini.  Tingkat  kecerdasan  di  dunia  semakin  menurun.
Sedangkan angka penyakit jiwa (gila) di dunia meningkat.
Dale Carnegi mengatakan, `Kenyataan-kenyataan objektif
melukiskan separuh jumlah keluarga yang berada di rumah-
rumah  sakit  kita,  disibukkan  oleh  orang-orang  yang
berpenyakit saraf dan gila`.

 

3. Keselamatan Jiwa Manusia

Dalam Islam, hak hidup adalah hak suci manusia.
Tetapi situasi dunia akan menunjukkan kebalikannya. Dunia
sekarang,  yang  dinilai  sebagai  dunia  peradaban,  telah
menyaksikan kekejian yang seratus persen biadab.

Di Rusia saja, untuk mewujudkan komunisme, telah
terbunuh 19 juta orang. Setelah komunisme berkuasa, telah
terhukum secara keji sekitar 2 juta orang dan sekitar 4 atau

5 juta orang diusir dari Rusia. Apa artinya angka-angka tersebut?

 

 

11


 

 

 

 

 

  Apa arti semua pembantaian orang-orang kulit hitam di
      Amerika dan Afrika Selatan?

  Ingat pembantaian suku bangsa Indian oleh koboi
     
Amerika

  Ingat pembantaian suku Aborigin di Australia

  Ingat   pembantaian   rakyat   vietnam   oleh   tentara
     
Amerika.

  Ingat peledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

  Ingat pembantaian muslim Bosnia dan Kosovo oleh
     
Serbia.

  Ingat pembantaian terhadap Muslim India.

  Apa artinya bom atom dan hidrogin?

  Apa artinya perang dunia?

Semua itu menunjukkan bahwa jiwa manusia sudah tidak ada harganya di dunia sekarang ini.

Tetapi, jika Islam hadir secara nyata di tengah-tengah percaturan dunia, maka tidak akan terjadi pembunuhan manusia tanpa haq. Karena. membunuh tanpa hak diancam dengan Qisas atau -bila mendapat maaf- membayar diyat yaitu 100 ekor unta. Jangankan nyawa manusia, binatang pun sangat diperhatikan dalam Islam.

4. Keamanan Harta Benda Manusia

 

Suatu fenomena historis tentang pemeliharaan harta
benda ini terjadi ketika Abu `Ubaidah bin Jarrah merasa
tidak   mampu   melindungi   penduduk   Nashrani,   ia
mengembalikan jizyah (upeti) kepada mereka. Atau lihatlah
ketika   khalifah   Umar   bin   Abdul   Aziz   berhasil
mengentaskan  kemiskinan  secara  nyata -bukan  slogan

murahan- hingga tidak ada lagi rakyat di negeri itu yang
miskin dan berhak menerima zakat. Ini jelas satu era
keadilan yang sukar ditemukan dalam sejarah manusia.

 

12


 

 

 

 

 

Mereka adalah masyarakat baru yang tidak didapati di dunia yaitu masyarakat yang menjamin seluruh tonggak hidup dan eksistensi manusia.

Di dalam masyarakat komunis tidak dibenarkan hak
pemilikan. Dan di dalam masyarakat kapitalis secara lahiriah
memang menjaga harta manusia, tapi hakikatnya ia mencuri
harta tersebut dengan jalan riba, penimbunan, eksploitasi,
menghancurkan hak-hak kaum fuqara` dan orang-orang
miskin dan melakukan jalan culas yang keji. Harta manusia
tidak akan dapat terpelihara oleh manusia kecuali dengan
Islam.

5. Keturunan

 

Memelihara keturunan juga merupakan salah satu dari lima keperluan asasi manusia. Dan pemeliharaan ini dapat melestarikan keturunan manusia.

Manusia tidak akan mampu memelihara keturunannya
kecuali dengan tegaknya Islam. Dan apabila kaum Muslimin
memerintah dunia, maka keturunan manusia akan lestari
dan terpelihara. Penelitian sederhana berkenaan keturunan
ini menjelaskan ke mana keturunan manusia ini meluncur?

 

  Pemerintahan militer Prancis terus menerus kekurangan
     
pemuda-pemuda yang laik menjadi sukarelawan dari
     
segi  kesehatan  badan. 75  ribu  orang  tentara  yang

terpaksa harus diberhentikan dan dimasukkan ke rumah
sakit karena mengidap penyakit kotor (spilis). Dalam
satu tangsi tentara ada 242 orang terjangkit penyakit

kotor   ini.   Penyakit   ini   akan   mempengaruhi keturunannya secara mengerikan.

  Fenomena seperti ini terjadi pula di kalangan pemuda-
      pemuda    Amerika.    Presiden    Amerika    pernah
     
mengumumkan, lebih satu juta dari sekitar enam juta

 

13


 

 

 

 

 

pemuda Amerika yang harus mengikuti wajib militer tidak  laik  menjadi  tentara.  Hal  itu  menunjukkan merosotnya  sumber  daya  manusia  Amerika  secara umum akibat kehidupan seks bebas yang digelutinya dan penyakit kelamin.

  Ada sekitar 30 sampai 40 ribu anak mati karena korban
     
penyakit kotor orang tuanya dalam setiap tahunnya.

  Hakim Lancy (?) mengatakan, `Di Amerika sekurang-
      kurangnya satu juta kehamilan dalam satu tahun dan
     
beribu-ribu anak lahir langsung dibunuh`.

  Yang menarik bahwa di Jerman gadis-gadis akan merasa
     
malu jika ketika menikah masih perawan. Dan alat-alat
     
pencegah kehamilan tersedia di setiap pinggir jalan.

Sesungguhnya  keturunan  manusia  tidak  akan  dapat
terpelihara   sempurna   kecuali   dengan   diberlakukannya
ajaran Islam.

Tanpa Islam, manusia akan kehilangan kemanusiaannya.
Tanpa    Islam,    manusia    hidup    seperti    binatang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Kedua

Tuduhan Terhadap Politik Islam

 

 

 

 

 

 

Diantara yang tuduhan yang sangat menusuk dunia politik  Islam  adalah  tuduhan  dari  kalangan  orientalis tentang  masa  awal  perkembangan  Islam  yang  dinilai tercoreng dan berdarah-darah.

Lalu muncul stigma yang sangat jauh dari realita yang
terbentuk sedemikian rupa dan terus ditumbuh suburkan
oleh para sejarawan dan para pengamat. Intiya bisa ditebak
dengan mudah, yaitu ingin menyatakan bahwa Islam tidak
mampu memimpin dunia, tidak tepat bila harus masuk ke
panggung politik, tidak sejalan dan sejiwa dengan semangat
keimanan. Rupanya para sejarawan dan ilmuwan barat itu
ingin memisahkan politik dan agama sebagaimana yang
pernah terjadi pada peradaban mereka.

Kali ini mereka ingin hal itu ingin mereka paksakan
pada dunia Islam dengan membuat beragam analisa, kajian,
studi dan literatur yang intinya memojokkan masa kejayaan
Islam, yaitu sejak dari masa shahabat dan salafus shalih.

 

15


 

 

 

 

 

Kesan  berpecah  dan  saling  membunuh  hingga  darah
tercecer  dimana-mana  demi  singgasana  dan  kekuasaan
selalu lekat dalam benak putera-putera Islam. Harapannya
adalah agar generasi Islam tidak lagi pernah berpikir untuk
masuk  ke  dunia  politik  dan  memimpin  negara  dan
peradaban.

Memang tidak bisa dipungkiri adanya fakta adanya sedikit keretakan pada generasi umat Islam di masa itu. Namun yang tidak benar adalah analisa bahwa perpecahan dan  perbedaan  pendapat  adalah  bersumber  dari  nafsu serakah dan haus darah yang dimiliki oleh generasi Islam pertama.  Yaitu  generasi  yang  oleh  Rasulullah  adalah generasi terbaik sesudah generasi beliau.

Padahal   Al-Quran   telah   menyebut   mereka   para shahabat sebagai orang-orang yang diredhai.

Orang-orang  yang  terdahulu  lagi  yang  pertama-tama  dari
golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka  dengan  baik,  Allah  ridha  kepada  mereka  dan
merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya
selama-lamanya.   Mereka   kekal   di   dalamnya.   Itulah
kemenangan yang besar.(QS. At-Taubah : 100).

Justru analisa yang menyebutkan bahwa rusak dan
pecahnya umat Islam ini berasal dari generasi shahabat
perlu   dipertanyakan  motivasinya.   Karena   kalau  anda
bayangkan, seandainya generasi yang paling baik sudah
dianggap menyeleweng, bagaimana dengan generasi lainnya
?

Padahal generasi itu adalah generasi yang langsung
dibina  oleh  tangan  Rasulullah  SAW,  dengan  keringat,
airmata dan darah beliau. Bahkan Rasulullah SAW telah
ridha  atas  mereka  dan  mereka  ikut  bersama  dakwah
Rasulullah bukan sebulan atau dua bulan, tapi banyak dari

 

16


 

 

 

 

 

mereka  yang  sejak  masa  awal  turunnya  wahyu  dibina
langusng oleh manusia paling mulia di dunia ini.
     
Analisa itu ibarat khanjar (belati) bermata dua. Disatu sisi seolah menawarkan studi kritik sejarah yang seolah ilmiyah dan histioris, namun di belakangnya ada mata khnjar yang tajam itu siap menghujam aqidah dan fikrah umat Islam.

Sayangnya, `studi historis` seperti inilah yang justru
dilakukan oleh sebagian kalangan yang akrab dengan dunia
kampus, sebagiannya bahkan menyandang gelar akademis
yang lumayan, sebagian bahkan menyebut diri sebagai
`mujaddid`. Sayangnya dibalik analisa itu ada sebuah cacian
yang mereka bungkus dengan ungkapan `kritik historis` itu,
biasanya justru bernuansa `kritik ilimyah`.

Misalnya kasus tahkim (arbitrase), kasus ini paling sering
diangkat untuk menjatuhkan dan mencaci maki sebagian
shahabat serta untuk mendiskreditkan mereka. Sayangnya,
hampir semua kritik sejarah ini mengacu hanya sampai
analisa para mustasyrikin (orientalis) yang penuh dengan

bumbu zhanussau`.

Sedangkan sumber sejarah Islam yang paling asli dan
merupakan sebuah report yang paling valid dan dipercaya,
hampir-hampir tidak pernah disentuh. Jadi analisa itu tidak
lebih hanya nukilan dari nukilannya nukilan nukilan. Merka
yang mengangkat diri sebagai kritikus sejarah itu sama sekali
belum pernah membaca literatur asli dari peristiwa di masa
shahabat itu. Bahkan menyentuhnya pun belum pernah.Jadi
bagaimana mau jadi kritikus kalau yang keluar hanya hanya
kata orang.

Faktor Kerancuan Sejarah Dalam penulisan Sejarah

 

Ada dua pihak yang sangat berperan untuk mewarnai
dan menggambar lembaran buku sejarah. Pertama adalah

 

17


 

 

 

 

 

sejarawannya itu sendiri atau disebut dengan muarrikh. Kedua adalah nara sumber yang memberi masukan kepada penulis sejarah atau yang sering disebut ihkbari. Keduanya ini menjadi unsur penting dalam penulisan sejarah, apabila salah satu atau malah keduanya error atau mengalami distorsi, maka tampilan sejarah yang akan muncul bisa menjadi sedemikian buruknya.

1. Sejarawan

 

Dari sisi muarrikh, kita mengenal ada beberapa tipe. Ada yang jujur dan proporsional dan ada yang sejak awal memang telah berpihak. ·

a. Sejarawan Yang Niatnya Tidak Benar

 

Misalnya Al-Ya`qubi, Al-Mas`udi dan lainnya. Mereka
ini  memang  berusaha  memberi  warna  tertentu  untuk
menjatuhkan citra seorang shahabat dan meninggikan yang
lainnya. Berita yang diterimanya dari informan (ikhbari)

diterimanya bulat dan langsung ditelan masuk perut.

b. Sejarawan Yang Jujur dan Selektif

 

Tetapi ada juga yang jujur dan menyeleksi kabar yang
diterimanya, terutama bila dianggap bertentangan dengan
Quran dan Sunah. Diantaranya adalah Abu Bakar Ibnul
Arabi yang menulis kitab fenomenal Al-`Awashim minal
Qawashim dan juga Ibnu Katsir yang menulis Al-Bidayah
Wan- Nihayah. ·

 

c. Sejarawan Tipe Kolektor

 

 

18


 

 

 

 

 

Selain itu ada juga yang memang menuliskan begitu saja
apa yang mereka dapat tentang sejarah, sebagai bahan
mentah  untuk  dikaji  ulang.  Bukan  untuk  konsumsi
masyarkat luas tapi untuk para ahli yang meneliti ulang
dengan berpedoman pada metodologi ilmiyah yang akurat.
Diantara mereka yang termasuk dalam kategori ini antara
lain adalah At-Thabari dengan kitabnya yang sangat populer
yaitu Tarikhur Rusul wal Muluk

 

2. Pemberi Informasi

Dari sisi para pemberi informasi (ikhbari) juga ada tipe-
tipe yang membedakan satu sama lain diantara mereka. Ada
yang tsiqah dan ada juga yang tidak tsiqah. Yang tidak
tsiqah ini terkadang berani berbohong dan memalsu sejarah
seenak  kepntingan  dirinya  sendiri.  Kira-kira  kasusnya
hampir mirip dengan pemalsuan hadits demi kepentingan
kelompok.

Hanya saja, bila di dalam dunia hadits telah lahir
gerakan kritik hadits yang dahsyat sehingga bisa dengan
mudah memilah hadits yang benar dan yang palsu, memang
dalam dunia tarikh (sejarah) Islam, hal itu belum lagi

terbangun dengan mantap.

Latar  belakangnya  ada  banyak,  diantaranya  adalah memang   pada   masa   awal   dahulu   kebutuhan   atas periwayatan sejarah belum terlalu dominan. Umat Islam mesih  dihadapkan  kepada  hal  yang  lebih  utama  yaitu menyelesaikan masalah pemalsuan hadits.

Selain itu memang pada masa lalu para orientalis belum
segencar sekarang dalam menyerang ajaram Islam, sehingga
pemikiran  yang  menyimpang  dari sejarah Islam masih
dibilang tidak ada. Dan tambahan lagi, bahwa umat Islam di
masa lalu masih kuat pemahamannya atas sejarah mereka

 

 

19


 

 

 

 

 

sendiri,  sehingga  hampir-hampir  tidak  ada  persoalan dengan masalah penyelewengan sejarah.

Sedangkan pada hari ini, orientalis telah mengarahkan
moncong senjatanya ke dalam sejarah Islam dan mengacak-
acak isinya sehingga menjadi sebuah cerita kriminal dan
peperangan. Dan sayangnya, umat Islam selama ini masih
belum selesai membuat sistem penyaringan dan seleksi
sejarah Islam sebagaimana dalam dunia hadits. Sehingga
bila kurang dalam dan ahli dalam masalah sejrah, bisa saja
seseroang  terjebak  untuk  ikut-ikutan  dakwah  orientalis
dalam    mencoreng    sejarah    Islam    bahkan    ikut
mendikreditkan para shahabat yang mulia.

Nampaknya justru hal itulah yang terjadi sekarang. Di
banyak pusat pengajran dan pendidkan Islam terutama
perguruan   tinggi   Islam,   justru   paling   sering   terjadi
penghujatan atas diri para shahabat dan tuduhan zhalim ke
dalam  sejarah  Islam.  Rupanya  cakar  dan  kuku  para
orientalis kali ini benar-benar menghujam sehingga banyak
yang termakan dengan tipu daya mereka dan ditipu mentah-
mentah. Sungguh hal yang sangat tragis, karena dengan
mencaci maki para shahabat itu mereka malah meras sudah
menjadi   ilmuwan,   pakar   dan   kritikus.   Padahal   para
orientalis   betepuk   tangan   menabuh   genderang,   para
ilmuwan  muslim  yang  harus  menari  di  bawah  irama
gendang mereka. Sungguh tragis memang.

Bekal dan Pegangan

 

Sekedar untuk bekal dan pegangan agar kita tidak terjebak dalam penipuan bergaya murahan ini, maka ada beberapa  hal  yang  perlu  diketahui  untuk  mematahkan serangan orientalis ini. ·

a. Adanya tokoh provokator dalam sejarah

 

20


 

 

 

 

 

Diantaranya adalah tokoh Abdullah bin Saba`, seorang
Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Peran
orang ini sangat besar dalam memberi provokasi umat
Islam  yang  tinggal  di  wilayah-wilayah  yang  jauh  dari
Madinah, dimana mereka masih baru saja masuk Islam dan
belum lagi paham benar dengan ajaran Islam. Tokoh yang
satu ini telah melakukan perjalanan  panjang dari  satu
tempat ke temapt lainnya hany untuk memrpovokasi umat
Islam. Sayangnya oleh para gembong orientalis, tokoh ini
diusahakan agar dihapus dari catatan sejarah, agar seolah
yang bikin onar itu memang para shahabat sendiri.

Padahal  bukti  keberadaannya  tidak  bisa  dipungkiri
dalam sejarah. Tangan kotor Ibn Saba` ini jelas kelihatan
nyata tatkala dia berhasil memprovokasi penduduk Mesir
untuk membunuh Khalifah Utsman bin Affan ra. Namun
ketika rombongan pembunuh Utsman dari Mesir bertemu
langsung  dengan  Khlaifah  Utsman  dan  mendapatkan
penjelasan, mereka pun sadar bahwa mereka telah ditipu
mentah-mentah oleh Ibnu Saba`.

Tapi Ibnu Saba` tidak kehabisan akal, dia membuat surat palsu seolah-olah Utsman memerintahkan kepada gubernur   Mesir   untuk   membunuh   rombongan   ini. Akhirnya   untuk   kedua   kalinya   mereka   tertipu   dan mengepung rumah Khalifah Utsman.

b. Jaringan Kerja Yang Rapi

Dalam kerjanya, Ibnu Saba` yang mantan Yahudi ini
ternyata tidak sendirian, dia berhasilmengkader SDM yang
tangguh  dari  kalangan  mawali (bekas  budak)  untuk

menjalankan manhaj dan harakahnya. Para mawali ini pun dulunya masuk Islam hanya sekedar menyelamatkan diri sebagai tawanan perang. Kerja mereka menghembuskan provokasi dan berita miring seputar diri khalifah Utsman dan mencari-cari kelemahannya.

 

21


 

 

 

 

 

Misalnya  issue  nepotisme,  korupsi  dan  bermegah-
megahan yang ditujukan kepada kepribadian beliau dan
keluarganya. Termasuk issue pergantian gubernur yang
tadinya dipegang oleh shahabat senior menjadi para orang
muda. Namun semua tuduhan kosong itu berhasil ditepis
oleh Ustamn dan oleh para shahabat lainnya yang tahu
betul apa yang terjadi.

Sehingga para penuduh pun tahu persis dan sadar
bahwa berita yang mereka terima itu tidak lain hanyalah
provokasi rendahan. Sehingga hanya mereka yang benar-
benar bodoh dan tinggal di wilayah pinggiran jauh dari
informasi saj yang mudah termakan dengan isapan jempol
seperti itu. ·

c. Objek Provokasi

Ibnu Saba` beserta prajurit mawali nya benar-benar
pandai mencari mangsa untuk objek provokasinya. Mereka
tidak mungkin berhasil kalau menyebarkan provokasi di
pusat-pusat peradaban dan pemerintahan. Karena umat
Islam ini umumnya melek berita dan paham betul tentang
keshalehan Khalifah yang mereka cintai itu. Sebaliknya,
objek provokasi ditujukan kepada orang-orang marginal,
miskin, lemah, papa, dan hidup susah. Dahulu mereka
adalah orang Badui dengan temperamen kasar, nekad, tidak
kenal basa-basi dan berpikir pragmatis (pikiran pendek).

Sehingga tindakan mereka anarkis dan sama sekali tidak berdasarkan logika dan kajian yang matang. Dengan mudah mereka main hunus pedang untuk urusan yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Saran

Sekedar  saran,  kami  anjurkan  anda  memperbanyak
membaca buku yang menelanjangi orientalisme, khususnya
yang berbicara masalah pembelaan terhadap umat Islam.

 

22


 

 

 

 

 

Salah satu buku yang anda bisa baca adalah karya Prof.
Dr.   Muhammad   Amhazun   yang   judulnya   Tahqiq
Mawaqifus shahabah Fil Fitnah. Alhamdulillah buku ini
sudah diterjemahkan oleh Dr. Daud Rasyid MA dengan
judul   Fitnah   Kubro,   Tragedi   pada   masa   shahabat,
(Klarifikasi sikap serta analisa historis dalam perspektif ahli
hadits dan Imam al-Tabari). Buku setebal 500-an halaman
itu insya Allah dpat mematahkan email yang anda terima
secara tuntas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

23


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Ketiga

Dakwah Parlemen

 

 

 

 

 

 

Dakwah melalui parlemen memang terkadang kurang menguntungkan bila dilihat dari satu sisi, namun bila dilihat secara menyeluruh, ada potensi-potensi yang masih bisa digarap. Tentunya perlu juga hitung-hitungan antara modal dan keuntungan yang akan didapat.

Semua itu tergantung iklim politik yang berkembang di
suatu negara. Juga dengan kesiapan SDM dakwah itu
sendiri. Semua itu perlu dikaji dengan cermat dan objektif
dengan  melibatkan  semua  elemen  umat  Islam  yang
mengerti strategi dakwah secara luas dan komprehensip.
Hasilnya adalah sebuah majelis syuro yang melahirkan
ijtihad jama`i dari umat Islam.

Bahkan bila perlu, bisa saja dilakukan jajak pendapat
atas untung ruginya dakwah di parlemen. Pastilah hasil jajak
pendapat  itu  melahirkan  pro  dan  kontra.  Hasil  jajak
pendapat ini penting untuk dipelajari secara cermat oleh

 

25


 

 

 

 

 

para  penentu  kebijakan  dakwah,  agar  segala  resikonya
sudah bisa diperhitungkan sejak awal sebelum melangkah.
Selain itu pengalaman dari saudara kita di berbagai belahan
dunia  juga  bisa  dijadikan  salah  satu  rujukan  penting,
mengingat mush-musuh Islam itu biasa bergerak secara
internasional juga.

Karena itu keputusan untuk masuk ke dalam dakwah
parlemen tidak diambil dengan cara tergesa-gesa, namun
hasil dari ijtihad jama`i yang cukup panjang dan teliti.

Bila   ternyata   hasil   syuro   itu   cenderung   kepada pentingnya kita masuk ke dalam parlemen dan menurut perhitungan manfaat lebih besar dibandingkan kerugiannya, maka  bismillah.  Namun  bila  hasil  ijtihad  jama`i  itu cenderung kepada tidak masuk parlemen, maka kita perlu mundur teratur dan legowo.

Jadi semua masukan itu perlu dikaji secara mendalam dan kontiniu dan mungkin saja terjadi perubahan keputusan pada masa berikutnya. Disinilah pentingnya suatu ijtihad terutama yang bersifat jama`i.

Ikut   Pemilu   Haram   Sebab   Haram   Menegur Pemimpin Terang-Terangan ?

Diantara alasan mereka yang anti dengan pemilu dan demokrasi
adalah tentang haramnya haramnya mengkritik pemimpin secara
terang-terangan. Menurut mereka, mengkritik pemimpin harus
dilakukan   dengan   sembunyi2 (digambarkannya   dengan

menggandeng tangan pemimpin itu dan menasehatinya), dan bila pemimpin itu tidak mendengarkan, umat wajib bersabar.

Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, sebab bukankah
ketika Umar bin Al-Khattab sedanbg berkhutbah di muka
umum,  tiba-tbia  ada  seorang  wanita  yang  berdiri  dan
memprotes  atas  apa  yang  dikatakannya ?  Apa  yang

dilakukan seorang Umar yang gagah perkasa yang syetan

 

26


 

 

 

 

 

pun lari terbirit-birit kalau Umar lewat         ? Apakah dia

mengatakan bahwa wanita itu tidak beradad dan tidak menjalankan sopan santun ?

Tidak, sekali lagi tidak. Umar malah mengatkan tanpa sungkan dan malu di hadapan khalayak umum bahwa dirinya salah dan wanita itu benar.

Di lain peristiwa, ketika tahu bahwa Umar bin Khatab
memakai pakaian yang menutupio tubuhnya, padahal jatah
setiap orang sama dalam menerima bahan pakaian, umat
Islam pun bertanya kepada Umar tentang ketidak-adilan ini
yang mereka rasakan. Maka berdirilah Abudllah bin Umar
menjelaskan bahwa dia telah menyerahkan pakaian jatahnya
untuk ayahnya, sebab tubuh ayahnya itu jauh lebih besar
dan jatah pakaian yang diterimanya tidak bisa menutupi
auratnya.

Bahkan di masa lalu, ketika Musa diperintahkan untuk
datang   kepada   Fir`aun,   tidak   ada   aturan   yang
mewajibkannya  untuk  merahasiakan  peringatannya  itu.
Musa tidak pernah datang kepada Firaun dengan diam-
diam.  Tetapi  beliau  datang  dengan  kepada  tegak  dan
mengatakan,`Wahai Firaun, kamu telah melampaui batas`.

Dan Musa berkata: `Hai Fir`aun, sesungguhnya aku ini

adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama aku`. (QS.Al-Araf : 104)

Pergilah kepada Fir`aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas".(QS. Thaha : 24)

Dialog Musa dengan Firaun itu adalah dialog terbuka
dan disaksikan oleh pembesar-pembesar negara. Bahkan
dalam   dialog-dialog   itu,   sesekali   Firaun   berusaha

 

27


 

 

 

 

 

mempengaruhi  majelis  dengan  melontarkan  pertanyaan kepada mereka.

Berkata  Fir`aun  kepada  orang-orang  sekelilingnya: `Apakah kamu tidak mendengarkan?` Jadi baik pemimpin muslim apalagi yang bukan muslim, berhak untuk ditegur di depan umum. Sebab dengan demikian, maka pemimpin itu tahu bahwa dirinya salah.

Meski demikian, tidak salah juga bila dalam rangka
menegur itu dilakukan dengan cara yang baik. Namun
sebagai orang yang dipilih oleh rakyat, maka rakyat pun
perlu tahu apa yang telah dilakukan oleh pemimpinnya.
Dan  sang  pemimpin  harus  selalu  siap  mendengarkan
keluhan rakyatnya. Tidak boleh berdalih dan sembunyi dari
tanggung-jawab.

Lagi  pula  pemilu  itu  bukan  sekedar  urusan  tegur
menegur penguasa, lebih dari itu adalah sebuah majelis
dimana rakyat punya hak untuk memilih pemimpin yang
baik yang siap menjalankan hukum Allah SWT di muka
bumi  ini.  Kalau  tidak  ikut  pemilu  dan  membiarkan
panggung kekuasaan diisi oleh orang zalim, zindik dan
munafik, maka pastilah yang tidak ikut memilih pemimpin
yang baik itu ikut menanggung dosa sosial. Sebab mereka
lari dari medan jihad yang ada di depan mata, hanya karena
kekurang luasan wawasan mereka.

Anggapan Bahwa Kegagalan FIS dan Refah Sebagai Bukti Salahnya Dakwah Lewat Parlemen

Sebagian saudara kita bersikukuh tidak ikut pemilu karena
dianggap bukan cara Islam, Mereka berdalih bahwa tujuan yang
baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula bukan
dengan cara yang tdk sesuai syariat. Bahkan mereka juga
mencontohkan kegagalan perjuangan umat Islam lewat partai di
berbagai negara seperti partai FIS di Aljazair & REFAH di

 

28


 

 

 

 

 

Turki. Menurut mereka umat Islam disana kini hancur bukan
semata mata kudeta, tetapi karena mereka telah masuk sistem
kafir.

Pendapat seperti itu jelas menyalahi pendapat umumnya
para ulama muslimin dan juga para tokoh pergerakan dunia
Islam. Sebab kegagalan FIS dan REFAH bukan karena
umat Islam main api dengan politik, melainkan memang
demikianlah   sebenarnya   wajah   musuh   Islam   dalam
menghadapi gerakan Islam ketika sudah sampai pada taraf
Aplikasi syariat Islam.

Sedangkan kalau umat Islamnya masih anteng dan
tenang-tenang saja di forum seminar, diskusi atau lembaga-
lembaga  dakwah,  maka  semua  itu  belum  lagi  terlalu
mengkhawatirkan bagi musuh Islam. Selama belum ada
gerakan  pembentukan  negara  Islam,  maka  belum  ada
manuver yang berarti.

Namun ketika sudah berbentuk partai, maka tentu saja
sudah tidak main-main lagi. Sebab bila partai Islam itu
menang, artinya apa ? Artinya negara itu menjadi negara
Islam secara syah, demokratis dan diakui secara jujur oleh
masyarakat dunia, bukan dengan cara kudeta. Dan dalam
konsep negara Islam, pembentukan negara itu memng tidak
harus dengan kudeta, melainkan dengan mengukuti alur
yang memang diakui oleh masyarakat disitu. Sebaliknya,
kudeta itu identik dengan kerusuhan dan cheos. Dan Islam
berusaha menghindari hal itu.

Musuh Islam Kebakaran Jenggot

Namun kita bisa lihat bagaimana musuh-musuh Islam
merasa kebakaran jenggot ketika melihat geliat umat Islam
berhasil  memenangkan  pemilu  di  banyak  negeri.  Itu
menunjukkan   bahwa   tidak   ada   lagi   alasan   untuk
menerapkan sistem sekuler di negara itu. Terbukti secara

 

29


 

 

 

 

 

syah, meyakinkan, formal, ilmiyah dan masuk akal bahwa
rakyat hanya menghendaki terbentuknya negara Islam yang
menerapkan hukum Allah SWT. Anda dan teman Anda itu
seharusnya  bangga  bila  melihat  apa  yang  telah  bisa
dipersembahkan oleh saudara kita di Al-Jazair dan Turki
itu, bukannya malah ikut kebakaran jenggot seperti musuh-
musuh Islam.

Kemenangan FIS dan REFAH itu adalah bukti bahwa
ternyata   umat   Islam   itu   masih   ada   dan   ternyata
terbentuknya negara Islam itu sudah tidak bisa dibendung
lagi.

Sampai disini kita tahu bahwa kemenangan itu sudah
ada dalam genggaman tangan. Hanya saja, musuh Islam
tidak rela kalau melihat Islam bisa membentuk negara
sendiri dan berdaulat. Maka mulailah mereka main kasar
dan menginjak-injak hukum yang mereka buat sendiri.
Pembatalan FIS dan pembubaran REFAH itu contoh nyata
bagaimana musuh Islam menghalalkan segala cara untuk
menghancurkan Islam. Membunuh, membantai, menculik,
menyiksa, memenjarakan dan segala macam seni azab telah
mereka gelar di mata dunia.

Upaya Memojokkan Partai Islam

Begitu banyak upaya yang telah dilakukan oleh mereka
yang tidak suka dengan kemenangan partai-partai ISlam di
berbagai negara. Diantaranya adalah menghasud saudara
muslimin di berbagai negara untuk menyalahkan gerakan
Islam dan memojokkan partai Islam yang tadinya sudah
menang.

Dan sayangnya tidak sedikit dari umat Islam yang
menjadi salah satu korban hasutan itu, sadar atau tidak
sadar. Fenomenanya adalah bukan ikut prihatin dengan
kekejaman musuh, malah menyalahkan partai Islam dan

 

 

30


 

 

 

 

 

mengatakan bahwa partai itu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

Seruan  Para  Ulama  Untuk  Mendukung  Dakwah Lewat Parlemen

Apa komentar para ulama tentang masuknya muslimin

ke    dalam    parlemen         ?      Dan    apakah    mereka

membid`ahkannya ?

Ternyata anggapan yang menyalahkan dakwah lewat
parlemen itu keliru, sebab ada sekian banyak ulama Islam
yang justru berkeyakinan bahwa dakwah lewat parlemen itu
boleh dilakukan. Bahkansebagiannya memandang bahwa
bila hal itu merupakan salah stu jalan sukses menuju kepada
penegakan syariat Islam, maka hukumnya menjadi wajib.

Diantara para ulama yang memberikan pendapatnya
tentang kebolehan atau keharusan dakwah lewat parlemen
antara lain :

1.  Imam Al-`Izz Ibnu Abdis Salam

2.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

3.  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

4.  Muhammad Rasyid Ridha

5.  Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa`di : Ulama
     
Qasim

6.  S yaikh Ahmad Muhammad Syakir        : Muhaddis

Lembah Nil

7.  Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi

8.  Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

9.  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin

10. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani

11. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan

12. Syaikh Abdullah bin Qu`ud

13. Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-`Asyqar

14. Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq

 

31


 

 

 

 

 

Kalau diperhatikan, yang mengatakan demikian justru
para ulama yang sering dianggap kurang peka pada masalah
politik praktis. Ternyata gambaran itu tidak seperti yang kita
kira  sebelumnya.  Siapakah  yang  tidak  kenal  Bin  Baz,
Utsaimin, Albani, Asy-Syinqithi, Shalih Fauzan dan lainnya
?

Pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Fatwa Pertama

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdul Aziz
bin Baz tentang dasar syariah mengajukan calon legislatif
untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan hukum Islam
atas  kartu  peserta  pemilu  dengan  niat  memilih  untuk
memilih para da`i dan aktifis sebagai anggota legislatif.
Maka beliau menjawab :

Rasulullah  SAW  bersabda  bahwa  setiap  amal  itu
tergantung pada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa
yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk
masuk  ke  parlemen  bila  tujuannya  memang  membela
kebenaran serta tidak menerima kebatilan. Karena hal itu
memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah
SWT.

Begitu juga tidak ada masalah dengan kartu pemilu yang
membantu   terpilihnya   para   da`i   yang   shalih   dan
mendukung  kebenaran  dan  para  pembelanya,  wallahul
muwafiq.

Fatwa Kedua

Di  lain  waktu,  sebuah  pertanyaan  diajukan  kepada
Syeikh Bin Baz : Apakah para ulama dan duat wajib

melakukan amar makruf nahi munkar dalam bidang politik ? Dan bagaimana aturannya ?

 

 

32


 

 

 

 

 

Beliau menjawab bahwa dakwah kepada Allah SWT itu mutlak  wajibnya  di  setiap  tempat.  Amar  makruf  nahi munkar pun begitu juga. Namun harus dilakukan dengan himah, uslub yang baik, perkataan yang lembut, bukan dengan cara kasar dan arogan. Mengajak kepada Allah SWT di DPR, di masjid atau di masyarakat.

Lebih jauh beliau menegaskan bahwa bila dia memiliki
bashirah dan dengan cara yang baik tanpa berlaku kasar,
arogan, mencela atau ta`yir melainkan dengan kata-kata
yang baik.

Dengan mengatakan wahai hamba Allah, ini tidak boleh
semoga   Allah   SWT   memberimu   petunjuk.   Wahai
saudaraku, ini tidak boleh, karena Allah berfirman tentang
masalah ini begini dan Rasulullah SAW bersabda dalam
masalah itu begitu. Sebagaimana firman Allah SWT :

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl
: 125).

Ini adalah jalan Allah dan ini adalah taujih Rabb kita. Firman Allah SWT :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati   kasar,   tentulah   mereka   menjauhkan   diri   dari sekelilingmu. (QS. Ali Imran : 159)

Dan  tidak  merubah  dengan  tangannya  kecuali  bila
memang mampu. Seperti merubha istri dan anak-anaknya,
atau  seperti  pejabat  yang  berpengaruh  pada  sebuah
lembaga.  Tetapi  bila  tidak  punya  pengaruh,  maka  dia
mengangkat masalah itu kepada yang punya kekuasaan dan

 

33


 

 

 

 

 

memintanya untuk menolak kemungkaran dengan cara yang baik.

Fatwa Ketiga

Majalah Al-Ishlah pernah juga bertanya kepada Syeikh
yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Saudi Arabia. Mereka
bertanya tentang hukum masuknya para ulama dan duat ke
DPR, parlemen serta ikut dalam pemilu pada sebuah negara
yang tidak menjalankan syariat Islam. Bagaimana aturannya
?

Syaikh Bin Baz menjawab bahwa masuknya mereka
berbahaya, yaitu masuk ke parlemen, DPR atau sejenisnya.
Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya namun bila
seseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan
kebenaran atau mengarahkan manusia kepada kebaikan,
mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan
harta, maka dia telah masuk untuk membela agam Allah
SWT,  berjihad  di  jalan  kebenaran  dan  meninggalkan
kebatilan.   Dengan   niat   yang   baik   seperti   ini,   saya
memandang  bahwa  tidak  ada  masalah  untuk  masuk
parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari
kebaikan dan pendukungnya.

Bila dia masuk dengan niat seperti ini dengan berbekal
bashirah  hingga  memberikan  posisi  pada  kebenaran,
membelanya dan menyeru untuk meninggalkan kebatilan,
semoga   Allah   SWT   memberikan   manfaat   dengan
keberadaannya hingga tegaknya syariat dengan niat itu. Dan
Allah SWT memberinya pahala atas kerjanya itu.

Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia atau
haus   kekuasaan,   maka   hal   itu   tidak   diperbolehkan.
Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah, akhirat,
membela kebenaran dan menegakkannya dengan argumen-
argumennya, niscaya majelis ini memberinya ganjaran yang
besar.

 

34


 

 

 

 

 

Fatwa Keempat

Pimpinan Jamaah Ansharus sunnah Al-Muhammadiyah
di Sudan, Syaikh Muhammad Hasyim Al-Hadyah bertanya
kepada Syaikh bin Baz pada tanggal 4 Rabi`ul Akhir 1415

H. Teks pertanyaan beliau adalah :

Dari   Muhammad   Hasyim   Al-Hadyah,   Pemimpin
Umum Jamaah Ansharus-Sunnah Al-Muhammadiyah di
Sudan kepada Samahah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,
mufti umum Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Hai`ah
Kibar Ulama wa Idarat Al-buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta`.

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Saya mohon fatwa atas

masalah                                  berikut                                  :

Bolehkah   seseorang   menjabat   jabatan   politik   atau
adminstratif pada pemerintahan Islam atau kafir bila dia
seorang yang shalih dan niatnya mengurangi kejahatan dan
menambah  kebaikan ?  Apakah  dia  diharuskan  untuk

menghilangkan semua bentuk kemungkaran meski tidak
memungkinkan baginya ? Namun dia tetap mantap dalam
aiqdahnya, kuat dalam hujjahnya, menjaga agar jabatan itu
menjadi sarana dakwah. Demikian, terima kasih wassalam.

Jawaban :

Wa `alaikumussalam wr wb. Bila kondisinya seperti
yang Anda katakan, maka tidak ada masalah dalam hal itu.
Allah SWT berfirman,`Tolong menolonglah kamu dalam
kebaikan`. Namun janganlah dia membantu kebatilan atau
ikut  di  dalamnya,  karena  Allah  SWT  berfirman,`Dan
janganlah  saling tolong dalam dosa dan permusuhan`.
Waffaqallahul jami` lima yurdhihi, wassalam wr. Wb.

Bin Baz

Wawancara Dengan Syaikh Muhammad bin Shalih Al`Utsaimin

 

 

35


 

 

 

 

 

Pada bulan Oktober 1993 edisi 42, Majalah Al-Furqan Kuwait mewawancarai Syaikh Muhammad bin shalih Al`Utsaimin, seorang ulama besar di Saudi Arabia yang menjadi banyak rujukan umat Islam di berbagai negara. Berikut ini adalah petikan wawancaranya seputar masalah hukum masuk ke dalam parlemen.

Majalah Al-Furqan :. Fadhilatus Syaikh Hafizakumullah,
tentang hukm masuk ke dalam majelis niyabah (DPR)

padahal negara tersebut tidak menerapkan syariat Islam
secara menyeluruh, apa komentar Anda dalam masalah ini ?
     
Syaikh Al-`Utsaimin : Kami punya jawaban sebelumnya yaitu   harus   masuk   dan   bermusyarakah   di   dalam pemerintahan. Dan seseorang harus meniatkan masuknya itu  untuk  melakukan  ishlah (perbaikan),  bukan  untuk

menyetujui atas semua yang ditetapkan. Dalam hal ini bila
dia mendapatkan hal yang bertentangan dengan syariah,
harus ditolak. Meskipun penolakannya itu mungkin belum
diikuti dan didukung oleh orang banyak pada pertama kali,
kedua kali, bulan pertama, kedua, ketiga, tahun pertama
atau tahun kedua, namun ke depan pasti akan memiliki
pengaruh yang baik. Sedangkan membiarkan kesempatan
itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang yang jauh
dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat. Tidak
selayaknya bersikap seperti itu.

Majalah Al-Furqan :. Sekarang ini di Majelis Umah di
Kuwait ada Lembaga Amar Ma`ruf Nahi Munkar. Ada yang
mendukungnya tapi ada juga yang menolaknya dan hingga
kini masih menjadi perdebatan. Apa komentar Anda dalam
hal ini, juga peran lembaga ini. Apa taujih Anda bagi
mereka yang menolak lembaga ini dan yang mendukungnya
?

Syaikh Al-Utsaimin : Pendapat kami adalah bermohon
kepada Allah SWT agar membantu para ikhwan kita di
Kuwait kepada apa yang membuat baik dien dan dunia

 

36


 

 

 

 

 

mereka. Tidak diragukan lagi bahwa adanya Lembaga Amar
Makmur Nahi Munkar menjadikan simbol atas syariah dan
memiliki hikmah dalam muamalah hamba Allah SWT. Jelas
bahwa lembaga ini merupakan kebaikan bagi negeri dan
rakyat. Semoga Allah SWT menyukseskannya buat ikhwan
di Kuwait.

Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996   Majalah   Al-Furqan   melakukan   wawancara kembali dengan Syaikh Utsaimin :

Majalah  Al-Furqan.  Apa  hukum  masuk  ke  dalam parlemen ?

Syaikh Al-`Utsaimin: Saya memandang bahwa masuk ke
dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang
bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau
memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang
shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat
kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala`.

Sedangkan   masalah   sumpah   untuk   menghormati
undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah unutk
menghormati undang-undang selama tidak bertentangan
dengan  syariat.  Dan  semua  amal  itu  tergantung  pada
niatnya dimana setiap orang akan mendapat sesuai yang
diniatkannya.

Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-

orang bodoh, fasik dan sekuler adalah perbuatan ghalat
(rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah,
seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini,
pastilah kami akan katakan wajib menjauhinya dan tidak
memasukinya.   Namun   keadaannya   adalah   sebaliknya.
Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar
di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali
memang   benar-benar   mengausai   masalah,   memahami
kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin
dia punya kemampuan yang baik dalam berargumentasi,

 

37


 

 

 

 

 

berdiplomasi  dan  persuasi,  hingga  membuat  anggota parlemen   lainnya   tidak   berkutik.   Dan   menghasilkan kebaikan yang banyak.

(lihat majalah Al-Furqan - Kuwait hal. 18-19)

Jadi kita memang perlu memperjuangakan Islam di
segala lini termasuk di dalam parlemen. Asal tujuannya
murni untuk menegakkan Islam. Dan kami masih punya 13
ulama lainnya yang juga meminta kita untuk berjuang
menegakkan Islam lewat parlemen. Insya Allah SWT pada
kesempatan lain kami akan menyampaikan pula. Sebab bila
semua dicantumkan disini, maka pastilah akan memenuhi
ruang ini. Mungkin kami akan menerbitkannya saja sebagai
sebuah buku tersendiri bila Allah SWT menghendaki.

Pendapat Imam Al-`Izz Ibnu Abdis Salam

Dalam kitab Qawa`idul Ahkam karya Al-`Izz bin Abdus
Salam tercantum : Bila orang kafir berkuasa pada sebuah
wilayah  yang  luas,  lalu  mereka  menyerahkan  masalah
hukum kepada orang yang mendahulukan kemaslahatan
umat  Islam  secara  umum,  maka  yang  benar  adalah
merealisasikan   hal   tersebut.   Hal   ini   mendapatkan
kemaslahatan  umum  dan  menolak  mafsadah.  Karena
menunda  masalahat  umum  dan  menanggung  mafsadat
bukanlah hal yang layak dalam paradigma syariah yang
bersifat kasih. Hanya lantaran tidak terdapatnya orang yang
sempurna untuk memangku jabatan tersebut hingga ada
orang yang memang memenuhi syarat.

Dari  penjelasan  di  atas  dapat  dipahami  menurut
pandangan imam rahimahullah, bahwa memangku jabatan
di bawah pemerintahan kafir itu adalah hal yang diperlukan.
Untuk merealisasikan kemaslahatan yang sesuai dengan
syariat Islam dan menolakmafsadah jika diserahkan kepada
orang kafir. Jika dengan hal itu maslahat bisa dijalankan,

 

 

38


 

 

 

 

 

maka tidak ada larangan secara sya`ri untuk memangku jabatan meski di bawah pemerintahan kafir.

Kasus ini mirip dengan yang terjadi di masa sekarang ini dimana seseorang menjabat sebagai anggota parlemen pada sebuah pemeritahan non Islam. Jika melihat pendpat beliau di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi anggota parlemen diperbolehkan.

Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Dalam kitab Thuruq Al-Hikmah, Ibnul Qayyim Al-
Jauziyah (691- 751 H) dalam kitabnya atturuq al hukmiyah
menulis :

Masalah ini cukup pelik dan rawan , juga sempit dan
sulit. terkadang sekelompok orang melewati batas, meng
hilangkan  hak-hak,dfan  mendorong  berlaku  kejahatan
kepada  kerusakan  serta  menjadikasn  syariat  itu  sempi
sehingga  tidak  mampu  memberikan  jawaban  kepada
pemeluknya. dan menghalangi diri mereka dari jalan yang
benar,  yaitu  jalan  untuk  mengetahui  kebenaran  dan
menerapkannya.sehingga  mereka  menolak  hal  tersebut,
pada hal mereka dan yang lainnya tahu secara pasti bahwa
hal itu adalah hal yang wajib diterapkan namun mereka
menyangkal bahwa hal itu bertentangan dengan qowaid
syariah .

Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai yang
dibawa rosulullah, yang menjadikan mereka berpikir seperti
itu  kurang  nya  mereka  dalam  memahami  syariah  dan
pengenalan  kondisi  lapangan  atau  keduanya,  sehingga
begitu mereka melihat hal tersebut dan melihat orang-orang
melakukan halyang tidak sesuai yang dipahaminya, mereka
melakukan   kejahatan   yang   panjang,   kerusakan   yang
besar.mka permasalahannya jadi terbalik.

Di   sisi   lain   ada   kelompok   yang   berlawanan
pendapatnyadan  menafikan  hukum  allah  dan  rosulnya.

 

39


 

 

 

 

 

kedua  kelompok  diatas  sama-sama  kurang  memahami
risalah  yang  dibawa  rosulnya  dan  diturunkan  dalam
kitabnya, pada hal allah swt telah mengutus rasulnya dan
menurunkan kitabnya agar manusia menjalankan keadilan
yang dengan keadilan itu bumi dan langit di tegakkan. bila
ciri-ciri keadilan itu mulai nampak dan wajahnya tampil
dengan beragam cara mak itulah syariat allah dan agamanya.
allah swt maha tahu dan maha hakim untuk memilih jalan
menuju keadilan dan memberinya ciri dan tanda . mak
apapun jalan yang bisa membawa tegaknya keadilan maka
itu  adalah  bagian  dari  agama,  dan  tidak  bertentangan
dengan agama.

Maka tidak boleh dikatakan bahwa polotik yang adil itu
berbeda  dengan  syariat,  tetapi  sebaliknya  justru  sesuai
dengan syariat , bahkan bagian dari syariat itru sendiri. kami
menamakannya sebagai politik sekedar mengikuti istilah
yang Anda buat tetapi pada hakikatnya merupakan keadilan
allah dan rosulnya

Imam yang muhaqqiq ini mengatakan apapun cara
untuk melahirkan keadilan maka itu adakah bagian dari
agama dan tidak bertentangan dengannya.jelasnya bab ini
menegaskan bahwa apapun yang bisa melahirkan keadilan
boleh dilakukan dan dia bagian dari politik yang sesuai
dengan syariah. dan tidak ada keraguan bahwa siapa yang
menjabat sebuah kekuasaan maka ia harus menegakkan
keadilan yang sesuai dengan syariat. dan berlaku ihsan
bekerja  untuk  kepentingan  syariat meskipun  di  bawah
pemerintahan kafir.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan

Syekh   Shaleh   Alfauzan   ditanya   tentang   hukum
memasuki parlemen. Syekh Fauzan balik bertanya: `Apa itu

parlemen?`  Salah  seorang  peserta  menjawab       `Dewan

legislatif   atau   yang   lainnya`   Syekh:      `Masuk   untuk

 

40


 

 

 

 

 

berdakwah didalamnya?` Salah seorang peserta menjawab:
`Ikut  berperan  serta  didalamnya`  Syekh : `Maksudnya

menjadi anggota di dalamnya?` Peserta :`Iya`.

Syekh: `Apakah dengan keanggotaan didalamnya akan
menghasilkan  kemaslahatan  bagi  kaum  muslimin?  Jika
memang  ada  kemaslahatan  yang  dihasilkan  bagi  kaum
muslimin   dan   memiliki   tujuan   untuk   memperbaiki
parlemen ini agar berubah kepada Islam, maka ini adalah
suatu  yang  baik,  atau  paling  tidak  bertujuan  untuk
mengurangi   kejahatan   terhadap   kaum   muslimin   dan

menghasilkan    sebagian    kemaslahatan,        jika      tidak

memungkinkan kemaslahatan seluruhnya meskipun hanya
sedikit`.

Salah seorang peserta:    `terkadang didalamnya terjadi

tanazul (pelepasan) dari sejumlah perkara dari manusia`.

Syekh :`Tanazul yang dimaksud adalah kufur kepada Allah atau apa?`.

Salah seorang peserta :`Mengakui `.

Syekh :`Tidak boleh. adanya pengakuan tersebut. Jika
dengan  pengakuan  tersebut  ia  meninggalkan  agamanya
dengan   alasan   berdakwah   kepada   Allah,   ini   tidak
dibenarkan. Tetapi jika mereka tidak mensyaratkan adanya
pengakuan terhadap hal-hal ini dan ia tetap berada dalam
keislaman akidah dan agamanya, dan ketika memasukinya
ada kemaslahatan bagi kaum muslimin dan apa bila mereka
tidak menerimanya ia meninggalkannya, apa mungkin ia
bekerja untuk memaksa mereka? Tidak mungkin kan untuk
melakukan   hal   tersebut.   Yusuf   as   ketika   memasuki
kementrian kerajaan, apa hasil yang ia peroleh ? atau kalian
tidak tahu hasil apa yang di peroleh Nabi Yusuf as?.

Atau  kalian  tidak  tahu  tentang  hal  ini,  apa  yang
diperoleh Nabi Yusuf ketika ia masuk, ketika raja berkata
kepadanya : `Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang
yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya disisi kami` Nabi

 

41


 

 

 

 

 

Yusuf  saat  itu  menjawab:    `Jadikan  aku  bendaharawan

negara karena aku amanah dan pandai`. Maka beliau masuk
dan hukum berada ditangannya. Dan sekarang dia menjadi
raja mesir, sekaligus nabi. Jadi bila masuknya itu melahirkan
sesuatu yang baik, silahkan masuk saja. tapi kalau hanya
sekedar menyerahkan diri dan ridho terhadap hukum yang
ada   maka   tidak   boleh.   Demikian   juga   bila   tidak
mendatangkan maslahat bagi umat Islam, maka masuknya
tidak  dibenarkan.  Para  ulama  berkata: `Mendatangkan

manfaat dan menyempurnakannya, meski tidak seluruh
manfaat, tidak boleh diiringi dengan mafsadat yang lebih
besar`.

Para ulama mengatakan bahwa Islam itu datang dengan
visi  menarik  maslahat  dan  menyempurnakannya  serta
menolak mafsadah dan menguranginya. maksudnya bila
tidak bisa menghilangkan semua mafsadat maka dikurangi,
mendapatkan  yang  terkecil  dari  dua  dhoror,  itu  yang
diperintahkan.  Jadi  tergantung  dari  niat  dan  maksud
seseorang  dan  hasil  yang  diperolehnya.  bila  masuknya
lantaran haus kekuasaan dan uang lalu diam atas segala
penyelewengan yang ada, maka tidak boleh. tapi kalau
masuknya demi kemaslahatan kaum muslimin dan dakwah
kepada jalan Allah, maka itulah yang dituntut. Tapi kalau
dia harus mengakui hukum kafir maka tidak boleh, meski
tujuannya mulia. seseorang tidak boleh menjadi kafir dan
berkata `Tujuan saya mulia, saya berdakwah kepada Allah ,`
tidak tidak boleh itu.`

Salah   seorang   peserta:    `Apa   yang   menjadi   jalan

keluarnya?`

`Jalan keluarnya adalah jika memang didalamnya ada
maslahat bagi kaum muslimin dan tidak menghasilkan
madharat bagi dirinya, mak hal tersebut tidak bertentangan.
Adapun jika tidak ada kemaslahatan didalamnya bagi kaum
muslimin   atau   hal   tersebut   mengakibatkan   adanya

 

42


 

 

 

 

 

kemadorotan   yaitu   pengakuan   ayitu   engakuan   akan kekufuran,   maka   hal   tersebut   tidak   diperbolehkan` (Rekaman suara)

Syaikh Abdullah bin Qu`ud

Sebagian orang-orang meremehkan partai-partai politik
Islam yang terdapat di sejumlah negara-negara Islam seperti
Aljazair, Yaman, Sudan dan yang lainnya. Mereka yang ikut
didalamnya dituduh dengan tuduhan  sekuler  dan lain-
lainnya. Apa pendapat Anda tentang hal tersebut? Sikap
atau  peran  apa  yang  harusnya  dilakukan  oleh  kaum
muslimin untuk menyikapi kondisi tersebut ?.

Jawaban : Akar persoalan dari semua itu adalah adanya
dominasi sebagian para dai terhadap yang lainnya. Dan saya
berpendapat bahwa seorang muslim yang diselamatkan
Allah dari malapetaka untuk memuji Allah dan bersyukur
kepada-Nya  serta  berdoa  untuk  saudara-saudaranya  di
Sudan, Aljazair, Tunisia dan negara-negara lainnya, ataupun
bagi kaum muslimin yang berada di negeri-negeri yang
jelas-jelas kafir.

Dan jika hal tersebut tidak memberikan manfaat kepada
mereka, aku berpendapat minimal jangan memadhorotkan
mereka.   Karena   sampai   sekarang   tidak   ada   bentuk
solidaritas yang nyata kepada para dai tersebut padahal
mereka telah mengalami berbagai ujian dan siksaan.

Dan  kita  wajib  mendoakan  kaum  msulimin  dan
manaruh simpati kepada mereka di setiap tempat. Karena
seorang mokmin adalah saudara bagi muklmin yang lainnya,
jika mendengar kabar yang baik mengenai saudaranya di
Sudan, Aljazair, Tunisia atau dinegeri mana saja maka
hendaknya ia merespon positif dan seakan-akan ia berkata:
`Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya
mendapat kemenangan yang besar` (QS. An-Nisaa : 73).

 

 

43


 

 

 

 

 

Dan apa bila mendengar malapetaka yang menimpa
mereka, maka hendaklah ia mendoakan untuk saudarnya-
saudaranya yang sedang diuji di negeri mana saja, supaya
Allah melepaskan mereka dari orang-orang yang sesat dan
menjadikan kekuasaan bagi kaum muslimin dan hendaklah
ia memuji Allah karena telah menjaga dirinya.

Jangan sampai ada seseorang yanga bersandar dengan
punggungnya di negeri yang aman lalu mencela orang-orang
atau   para   dai   yang   berjuang   demi   Islam   dibawah
kedholiman dan kesewenag-wenangan dan intimidasi. Tidak
diragukan lagi bahwa hal ini merupakan tindakan yang tidak
fair. boleh jadi engkau akan mendapat ujian jika Anda tidak
merespon dengan perasaan Anda apa yang dirasakan oleh
kaum muslimin yang sedang mengalami ujian dari Allah..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

44


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Keempat

Demokrasi

 

 

 

 

 

 

Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya
bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah
dipecah-pecah  oleh  penjajah  menjadi  negeri  kecil-kecil
dengan   sistem   pemerintahan   yang   sekuler.   Namun
mayoritas   rakyatnya   Islam   dan   banyak   yang   masih
berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan
pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan
kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena
mereka  menerapkan  sistem  hukum  yang  bukan  Islam
dengan   format   sekuler   dengan   mengatasnamakan
demokrasi.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu
juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua
unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran
Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa
hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya

 

45


 

 

 

 

 

yang dapat kami sebutkan antara lain adalah : · Prinsip
syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski
bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan
suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam
syariat Islam.

Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang
secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro. ·
Memberi  suara  dalam  pemilu  sama  dengan  memberi
kesaksian   atas   kelayakan   calon. ·   Termasuk   adanya

pembatasan masa jabatan penguasa. · Sistem pertanggung-
jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat.

Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan
dengan  syariat  Islam,  yaitu  bila  pendapat  mayoritas
bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek
penipuan, pemalsuan dan penyelewengan para penguasa
serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama
dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya
ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum
Allah SWT.

Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam

dunia        perpolitikan,        masing        penguasa        akan

mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya  berbeda-beda  atau  malah  bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

Sebagai   contoh,   dahulu   Soekarno   menjalankan
pemerintahannya  dengan  gayanya  yang  menurut  lawan
politiknya  adalah  tiran,  namun  dengan  tenangnya  dia
mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan
menamakannya dengan demokrasi terpimpin. Setelah itu
ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai
rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan

 

46


 

 

 

 

 

bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan  para  tiran  rejim  lainnya  yang  nyata-nyata berlaku   zali   dan   memubunuh   banyak   manusia   tapi berteriak-teriak   sebagai   pahlawan   demokrasi.   Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

Demoktasi : Istilah Yang Sedang Ngetrend

Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah
sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh
para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa
pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau
jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara
yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar
dari demokrasi itu sendiri.

 

Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari
masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa
pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi
yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu
sendiri. Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di
Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang
dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-
sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di
Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak
reformasi.

 

Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku
dipasaran  meski -bisa  jadi-  tak  ada  satu  pun  yang

menjalankan prinsipnya. Maka tidak ada salahnya pula bila
pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh
Islam   melakukan   analisa   tentang   pemanfaatan   dan
pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-

 

47


 

 

 

 

 

masing.   Lalu   mereka   pun   melakukan   evaluasi   dan

pembahasan        mendalam        tentang        kemungkinan

memanfaatkan   sistem   yang   ada   ini   sebagai   peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

 

Hal    itu    mengingat    bahwa    untuk    langsung
mengharapkan  terwujudnya  khilafah  Islamiyah  dengan
menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin
masih  banyak  yang  merasa  risih.  Begitu  juga  untuk
mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya
untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan
mudah terlaksana. Jadi tidak mengapa kita sementara waktu
meminjam istilah-istilah yang telanjur lebih akrab di telinga
masyarakat  awam,  asal  di  dalam  pelaksanaannya  tetap
mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam.

 

Ulama Menggunakan Istilah Demokrasi

Bahkan  sebagian  dari  ulama  pun  tidak  ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al`Aqqad yang menulis buku `Ad-Dimokratiyah fil Islam`. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-
langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah.
Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan
perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak
proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola
pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya
orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang
ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia
perpolitikan.

 

48


 

 

 

 

 

Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara
yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang
untuk `mengislamisasi`   wilayah   kepemimpinan   dan
mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau
untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai
politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya
untuk   memperjuangkan   hukum   Islam   dan   berbasis
masyarakat Islam. Partai harus ini menawarkan konsep
hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat
didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam.

Dan  di  atas  kertas,  hampir  dapat  dipastikan  bisa
dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas.
Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan
dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah
yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

Umat  Islam  sebenarnya  mayoritas  dan  seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri.

Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang
terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya
tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh
penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa
dan umat Islam selalu jadi mangsa. Kesalahannya antara
lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik
dan pemilu itu bid`ah.

Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih
dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti
Islam. Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai
Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum
Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang
membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada

 

 

49


 

 

 

 

 

partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.

Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah

Karena itu peluang untuk merebut kursi di parlemen
adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk
menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi
dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang untuk
menegakkan syariat Islam di negeri sendiri dan membentuk
pemerintahan Islam yang iltizam dengan Al-Quran dan
Sunnah. Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya
jalan  untuk  menegakkan  Islam,  karena  politik  yang
berkembang saat ini memang penuh tipu daya.

 

Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS
memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih
kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti
tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya
menguasai parlemen.

Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang
taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar
kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan
multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah
hukum Islam. Selain itu dakwah lewat parlemen harus
diimbangi  dengan  dakwah  lewat  jalur  lainnya,  seperti
pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan
ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta
menyiapkan kekuatan ekonomi.

 

Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya

Islam,          bukan           sekedar          berbid`ah           ria.

 

 

50


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Kelima

Oposisi

 

 

 

 

 

 

Oposisi  dalam  bahasa  Inggris;  opposition.  Dalam
bahasa  Latin:  oppositus,  opponere, (memperhadapkan,

membantah,  menyanggah,  menentang)  menurut  pakar
hukum dan politik diartikan sebagai kubu partai yang
mempunyai pendirian bertentangan dengan garis kebijakan
kelompok yang menjalankan pemerintahan. Oposisi bukan
musuh, melainkan sparing patner dalam percaturan politik.

Dalam demokrasi, oposisi dianggap sesuatu yang sangat diperlukan, sehingga oposisi dalam parlemen melembaga secara resmi. Sebab oposisi menjalankan suatu fungsi yang sangat  vital  dan  penting  yaitu  check  and  balances, mengontrol pemerintah yang didukung mayoritas, menguji kebijakan   pemerintah   dengan   menunjukkan   titik-titik kelemahannya, mengajukan alternatif.

(Lihat,  B.N.  Marbun,  SH.,  dalam  Kamus  Politik,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,1996, hal. 455-456, John M.

 

51


 

 

 

 

 

Echols dan Hasan Shadili dalam Kamus Inggris-Indonesia,
Gramedia, Jakarta, 1992, hal. 407, Lorens Bagus dalam

Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta 1996, hal. 754)

Dalam  wacana  politik  Islam,  oposisi     (mu`aradhah)

ditinjau  dari  dua  aspek;  doktrin  kultural  dan  institusi struktural.  Aspek  doktrin  kultural,  menekankan  bahwa oposisi bukan sekedar hak asasi, melainkan juga suatu kewajiban syari`ah dan tanggung jawab moral.

Seluruh nash (teks) al-Qur`an dan Sunnah Nabi serta
arahan   para   Khulafa`   Rashidun   membawa   kepada
konsekuensi logis mendorong umat Islam kepada sikap
oposisi  yang  loyal (loyal  opposition),  konstruktif  dan

reformatif.

Karena, fokus dasar perintah syari`ah adalah Amar
Ma`ruf dan Nahi Mungkar (memerintahkan kebaikan dan
mencegah  kemungkaran)  yang  diistilahkan  oleh  Imam
Ghozali dalam Ihya `Ulumuddin (vol. II/265) sebagai `top
sentral ajaran Islam` (al-Quth al-A`dzam Liddin) yang

ditengarai oleh Saefuddin AF. Isma`il telah dihapuskan dari
konteks budaya politik praktis kontemporer dan hanya
terbatas pada seruan dan himbauan moral sosial. (Tajdid
Siyasi, hal. 364)

Berbagai krisis peradaban umat Israel bahkan menjadi bangsa  terkena  kutukan  Allah,  adalah  karena  mereka meninggalkan tugas penting kontrol moral ini.

Allah Berfirman: `Mereka satu sama lain tidak saling melarang   tindakan   munkar   yang   mereka   perbuat. Sesungguhnya  amat  buruklah  apa  yang  selalu  mereka perbuat itu`. (QS.Al-Maidah:79)

Ini kebalikan watak Islam yang menjadikan amar ma`ruf dan nahi mungkar sebagai budaya dan mental umatnya sebagai modal pembentukan masyarakat madani berjaya yang Khairu Ummah (QS. Ali Imran:104, 110)

 

 

52


 

 

 

 

 

Karenanya,   Nabi   saw   dalam   berbagai   haditsnya
senantiasa   memperingatkan   umatnya   untuk   tidak
mendiamkan apalagi melegitimasi kemungkaran, bahkan
beliau mendorong umat Islam untuk siap berdiri di garda
terdepan  dalam  perjuangan  menentang  segala  bentuk
kedzaliman.

Malik bin Nabi, filosuf Al-Jazair mengomentari hadits
`Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran,
hendaklah  merubahnya  dengan  tangannya,  bila  tidak
mampu dengan lisannya, bila tidak mampu dengan hatinya,
dan itu selemah-lemah iman.` (HR. Muslim, Ashab Sunan,
Ahmad) mengatakan bahwa misi setiap muslim bukan
sekedar mennjadi penonton dan pengamat terhadap realitas
sejarah, akan tetapi berperan merubah alur peristiwa dengan
mengembalikannya   kepada   jalur   kebaikan   seoptimal
mungkin.(Tajdid Siyasi:72)

Pengalaman historis menurut sejarawan Inggris, Lord
Action membuktikan bahwa manusia yang mempunyai
kekuasaan cenderung menyalahgunakan kekuasaannya, dan
manusia yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan
bersikap otoriter dan menyalahgunakannya. Oleh karenanya
perlu dibatasi yakni dengan kontrol hukum dan pembatasan
kekuasaan yang disemangati amar ma`ruf nahi mungkar
sesuai  dengnan  prinsip  dasar  sharing  of  power  dan
checkand balances.

Nabi SAW bersabda:

`Kalian benar-benar serius melakukan amar makruf nahi mungkar atau Allah benar-benar akan kuasakan orangorang jahat atas kalian, lalu orang-orang terbaik kalian berdo`a (istighotsah)   dan   tidak   akan   dikabulkan.` (HR.Tirmidzi, Tabrani, Bazzar)

`Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul
Muthalib  dan  orang  yang  menghadapi  penguasa  lalim
dengan memerintahkan kebaikan dan mencegahnya dari

 

53


 

 

 

 

 

kemungkaran,  lalu  penguasa  itu  membunuhnya.`     (HR.

Hakim)

Bahkan    Nabi    menganggap    keberanian    sikap
mengemukakan   kebenaran   kepada   penguasa   lalim
merupakan jihad paling utama.
`Menyatakan kebenaran

kepada penguasa yang lalim merupakan jihad yang paling utama.` (HR. Ibnu Majah).

Dalam   implemnetasinya,   para   sahabat   bersama
Rasulullah Saw dan generasi salaf sangat komit dengan
doktrin oposisi yang dijiwai semangat amar ma`ruf nahi
munkar ini, dan hal itu bukan menjadi hal yang tabu serta
asing bagi budaya sosial politik mereka. Abu Bakar Ash-
Shiddiq sebagai pemerintah pertama sepeninggal Nabi Saw,
adalah pelopor gerakan oposisi rakyat terhadap pemerintah
dalam mengawasi roda pemerintahan, mengevalusuasi dan
meluruskannya.

Dalam pidato pengangkatannya setelah dibai`at rakyat

sebagai                khalifah                beliau                berkata:

`Sesungguhnya  aku  telah  diangkat  sebagai  pemerintah kalian dan saya mengakui bukan orang terbaik kalian. Maka jika saya berbuat baik dan bijak, hendaklah kalian dukung. Jika saya berbuat jelek, hendaklah kalian luruskan.` (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, vol.VI/264)

Demikian halnya Amirul Mukminin, Umar bin Khathab menyerukan:

`Wahai rakyatku, siapapun yang melihat penyimpangan
pada diriku, maka hendaklah ia meluruskannya.` (Abdul
Aziz Badri, Al-Islam bainal `Ulama` wal Hukkam, hal. 59)

Semua itu bukan retorika dan basa-basi politik, tetapi
benar-benar terimplementasi secara konsekuen. Pada saat
umat Islam membebaskan daerah Irak, Syam dan Mesir
pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab, timbullah
gerakan oposisi di kalangan militer yang ikut membebaskan
daerah tersebut terhadap kebijakan Umar tentang otonomi

 

54


 

 

 

 

 

dan   eksistensi   daerah   pembebasan   yang   tidak   akan
dibagikan kepada pasukan pembebasan mengingat proyeksi
ke depan. Dengan sabar dan bertawakal kepada Allah
akhirnya masalah tersebut dapat diselesaikan dengan damai
dan mufakat. Begitu Abu Bakar dibai`at sebagai Khalifah,
sebagian sahabat menolak untuk memberikan bai`at dan
ikut dalam pemerintahannya serta memilih menjadi oposisi
diantaranya   adalah   Sa`ad   bin`Ubadah.   Dan   hal   itu
dilindungi oleh Abu Bakar.

(Lihat, Dr. Muhammad `Ammarah dalam Al-Islam wal Muaradhah As-Siyasiyah, pada majalah Al-`Arabi, edisi Nopember 1992)

Bahkan dalam prakteknya, barisan oposisi justru kerap
dipelopori oleh tokoh ulama besar yang sadar politik dan
menjaga independensi institusi keulamaan untuk tetapo
dipercaya umat sebagai panutan yang membendung arus
sekulerisasi dalam pemerintahan. Diantaranya adalah Sa`id
bin Musayyib di Madinah, sebagaimana diriwayatkan ahli
sejarah Islam klasik Adz-Dzahabi, dimana beliau menolak
kesertaan dalam pemerintahan dan memberikan bai`ah
kepada Abdul Malik bin Marwan pada masa pemerintahan
Umawiyah.  Meskipun  sempat  disiksa  dengan 60  kali

cambukan, dan pada kesempatan lain ditawari insentif serta suap 30.000 dinar, namun beliau tetap konsisten menolak untuk menjadi kroni pemerintah.

Suatu kali Umar bin Hubairah seorang gubernur pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik, memanggil para ulama seperti Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin dan Sya`bi. Dia meminta fatwa berkitan dengan instruksi Yazid yang serba dilematis diungkapkannya:

`Jika saya melaksanakannya, saya takut akan merusak
imanku. Namun jika saya menolak saya mengkhawatirkan
keamanan diriku.` Maka para ulama itu menasehatinya
dengan lembut dan berpesan agar tetap komitmen dalam

 

55


 

 

 

 

 

ketakwaan kepada Allah dan menentang penguasa yang menyimpang dari kebenaran.

Imam Ghazali dalam Ihya`-nya      (vol.II/295) banyak

mengungkap mentalitas elit umat dan ulama yang tetap
konsisten bersikap oposisi dan menjaga jarak agar dapat
mengontrol   eksekutif   diantaranya   adalah   sikap   tegas
Thawus Al-Yamani terhadap penguasa Hisyam bin Abdul
Malik, Sufyan Tsauri terhadap Abu Ja`far Al-Manshur,
Fudhail bin `Iyyadh terhadap Harun Ar-Rasyid yang terang-

terangan                      mengatakan                      kepadanya:

`Jauhilah korupsi terhadap hak rakyat, karena Rasulullah
saw bersabda: `Barang siapa yang menipu rakyat tidak akan
mencium bau surga`.`. Demikian pula sikap oposisi loyal
Abu Yusuf terhadap Harun Ar-Rasyid yang memberikan
alternatif kebijakan fiskal yang islami kepadanya, seraya
menasehatinya untuk takut kepada Allah dalam amanat dan
hak  rakyat.`,  disamping  itu  nama-nama  Abdullah  bin
Zubair, Imam Nawawi, Al-`Izz bin Abdus Salam, dan Ibnu
Taimiyah  terkenal  sebagai  tokoh  barisan  oposisi  dari
kalangan ulama dari berbagai generasi.

Persolannya   adalah   dalam   realitas   politik   kita,
implementasi wacana oposisi perlu adanya reposisi dan
reaktualisasi  yang  terkait  dengan  kelembagaan.  Sebab,
terjadi semacam ambiguitas makna legislatif yang harusnya
semua anggota dewan legislatif bersikap oposisi terhadap
eksekutif karena itu sudah menjadi fungsinya, tidak perlu
dikotomi, yang duduk di parlemen dari unsur dan partai
manapun entah yang berkuasa ataupun tidak berkuasa.
Idealnya adalah partai yang berkuasa cukup menjadi MPR
di samping duduk di eksekutif pemerintahan, bila tidak mau
menjadi oposisi di legislatif.

Sehinggga,      DPR    adalah    sebagai    perwujudan
institusional struktural bagi barisan oposisi eksekutif yang

 

 

56


 

 

 

 

 

berfungsi   mengontrol,   mengawasi   dan   meluruskan kebijakan pemerintah.

(Lihat, Prof. Miriam Budiarjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik   dan   Inu   Kencana   dalam   Pengantar   Ilmu Pemerintahan)

Adapun etika oposisi yang harus dipegang oleh semua
pihak adalah etika amar ma`ruf dan nahi mungkar, di
samping  etika  perbedaan  mendapat (Fiqhul  Ikhtilaf).

Karena, tujuan oposisi adalah meluruskan, memberikan in-
put   posistif   dan   memperbaiki,   bukan   menjatuhkan.
Diantara landasan moral oposisi adalah sebagaimana yang
dirangkum Yusuf Al-Qardhawi dalam Fiqh Ikhtilaf-nya
(hal. 181)  dan  oleh  Imam  Ghozali  dalam  Ihya`-nya
(vol.II/270) adalah:

 

1.      Ikhlas karena Allah serta demi kemaslahatan umat

dan bangsa bukan karena nafsu.

2.      Meninggalkan  fanatisme  terhadap  individu,  partai

maupun golongan.

3.      Berprasangka  baik  dan  positif  thinking  terhadap

orang lain.

4.      Tidak menyakiti dan mencela

5.      Menjauhi debat kusir dan ngotot tanpa argumentasi

logis.

6.      Dialog dengan cara sebaik-baiknya.

7.      Bersikap adil dalam menilai dan bersikap

8.      Memperhatikan skala prioritas (strata bobot penting

masalah)  masalah  dan  memakai  fiqh  muwazanah

(Pertimbangan masak sisi maslahat dan madharat).

9.      Mengedepankan persatuan dan menjauhi perpecahan

10.    Arif, dewasa dan bijaksana serta mampu mengontrol

emosi (QS.AN-Nahl:125).

 

 

 

57


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Keenam

Koalisi

 

 

 

 

 

 

 

a.  Latar Belakang Masalah

Tidak  sedikit  pertanyaan  yang  dilontarkan  sebagian
orang tentang masalah kompromi politik yang dilakukan
pergerakan Islam. Salah satunya syubhat tentang adanya
kecederungan bahwa pergerakan Islam sudah menyimpang
dari jati diri aslinya. Yang dahulu punya jarak, terpisah dan
mandiri dengan penguasa sekuler, kini berubah menjadi
semakin berkompromi dengan pusat kekuasaan yang nota
bene  sekuler.  Padahal  secara  prinsip  tidak  apa  yang
diterapkan penguasa negeri-negeri Islam tidak berkesusaian
dalam sistem Islam bahkan di banyak negeri telah terjadi
permusuhan terbuka.

 

59


 

 

 

 

 

Namun kira-kira selama 25 tahun terakhir, ada gejala
yang menunjukkan anomali. Banyak pergerakan Islam di
dunia ini kini cenderung aktif masuk ke parlemen dan
melakukan koalisi yang dengan beragam kekuatan yang ada.
Padahal secara umum sebenarnya cenderung berseberangan
aqidah dan fikrah.

Pertanyaan   itu   antara   lain   berbunyi    :    Bukankah

berkompromi  dengan  pemerintahan  non  Islam  berarti
melanggar prinsip aqidah terutama masalah al-wala' wal
bara' ?  Bukankah selama ini para pendahulu pergerakan
Islam lebih dikenal sebagai orang-orang yang dimusuhi
penguasa dan mengumandangkan jihad melawan kekuatan
sekuler ?

Lalu mengapa sekarang ini ada kecenderungan untuk
'bermain mata' dengan para penguasa itu ? Bahkan di

berbagai negeri malah ikut masuk ke dalam parlemen, membuat  partai  formal  dan  terlibat  dalam  bagi-bagi kekuasan dengan kekuatan lain atau dengan pemerintahan yang notabene dulu mereka musuhi ?

Untuk  itu  pada  kajian  fiqh  kali  ini,  kami  ingin

mengetengahkan   sebuah   tema   yang   kira-kira   bisa memberikan gambaran dan wawasan tentang fenomena ini.
     
Selain itu tentu saja kami akan utarakan bagaimana sesungguhnya hukum berkoalisi itu sendiri dipandang dari sisi syariah dan juga refleksi pengalaman Rasulullah SAW dalam memanage pergerakan Islam.

b.  Tentang Perubahan Pendekatan

Perubahan  pendekatan  dalam  pergerakan  memang
diakui ada. Dan hal itu sebenarnya wajar-wajar saja sebagai
sunnatullah. Dan sunnatullah itu pula yang telah membawa
umat kepada kondisi demikian. Bila kita menatap horizon
pergerakan Islam di abad 20 hingga memasuki abad 21 ini,

 

 

60


 

 

 

 

 

sebenarnya umat Islam sedang berada pada fase ketiga dari beberapa fase sebelumnya.

Seperti  dijelaskan  oleh  Syeikh  Muhammad  Munir
Ghadhban, dimana beliau mencermati tiga fase pergerakan
yang telah dilalui oleh umat Islam di dua abad terakhir ini. i

Fase pertama pergerakan Islam bercirikan pemahaman
Islam secara komprehensif dalam kedudukannya sebagai
aqidah, syariah dan pedoman hidup. Yang menjadi issue
utamanya  adalah  menampilkan  Islam  sebagai  sebuah
konsep hidup yang kaffah, syamilah, mutakamilah. Hasan
Al-Banna termasuk salah satu tokoh yang eksis pada fase
ini.

Fase   kedua   ditandai   dengan   semakin   kerasnya
penindasan  terhadap  aktifis  Islam  di  berbagai  negara.
Negeri-negeri Islam dikuasai pemimpin sekuler represif
yang rajin melakukan penindasan kepada para aktifis Islam.
Sehingga   fase   kedua   ini   diwarnai   dengan   gejolak
kemarahan, protes dan semangat anti thghut dari para
aktifisnya. Pergerakan Islam di masa ini mengalami sikap
yang cenderung represif dan hubungan yang panas dengan
para penguasa. Sayyid Qutub menjadi icon pada fase ini.
Terutama dengan kitab-kitab beliau seperti Zhilal, Ma'alim
Fit Thariq, Hazad- Din, Al-Mustaqbal li Hazad-din yang
mengantarkan beliau kepada syahidnya.

Fase ketiga ternyata cenderung berbeda dengan dua fase
sebelumnya. Pada fase ini pergerakan Islam di berbagai
negeri telah berhasil menghimpun pengikut yang kuat baik
dari segi kualitas maupun kuantitas. Sehingga semakin
membuat kekuatan kafir berpikir ulang untuk melancarkan
penetrasi secara pisik. Mereka mulai bersikap lebih terbuka,
berkompromi dan memberikan peluang kepada pergerakan
Islam untuk berperan lebih jauh dalam kekuasaan. Salah
satu keuntungannya adalah bahwa pergerakan Islam bisa
mendapatkan  tujuannya  dengan  baik  tanpa  memakan

 

61


 

 

 

 

 

korban dan berdasarkan kepada prinsip-prinsip politik yang
benar. Dengan kata lain dengan menggunakan kekuatan
untuk tujuan mulai yang tidak mengandung anarkisme.

Kondisi seperti pada fase ketiga ini sebenarnya pernah terjadi di masa Rasulullah SAW, sehingga membuat para ulama yang konsern pada pergerakan mencoba menyajikan dasar-dasar   pendekatan   syariah   atas   batasan-batasan berkompromi dengan kekuatan-kekuatan lain. Paling tidak kita mengetahui bahwa koalisi kekuatan pernah terjadi di masa dakwah generasi pertama.

c.  Pengertian Koalisi

Di  dalam  Kamus  Umum  Bahasa  Indonesia  yang dimaksud dengan koalisi adalah bla. Dan yang dimaksud dengan kompromi adalah …..

Sedangkan dalam bahasa Inggris, koalisi berasal dari
kata  cooalition  yang  maknanya  adalah  penggabungan,
persatuan, persekutuan dan perserikatan. (Jhon Echols :

Kamus Inggris Indonesia).

Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Al-Hilf atau
At-Tahaluf.   Al-Hilfu   makna   etimologisnya   adalah
perjanjian.

Ibnul  Atsir  dalam  An-Nihayah  fi  Gharibil  Hadits menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tahaluf adalah mengikat atau janji untuk dalam saling tolong, saling bantu dan dan berkesepakatan.ii

 

 

d.  Dalil-dalil Tentang Koalisi Al-Quran Al-Kariem

Al-Quran Al-Kariem memungkinkan terjadinya koalisi
antara kekuatan Islam dengan kekuatan di luar Islam,

 

 

62


 

 

 

 

 

asalkan tidak bertabarakan dengan aiqdah dan syariah serta
memang dimungkinkan terjadi kerja sama dan saling tolong.
      Diantaranya adalah firman Allah SWT berikut ini :
     
Dan tolong-menolonglah kamu dalam  kebajikan dan  takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.(QS. Al-Maidah : 2)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,
sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian

yang lain. Mereka menyuruh  yang ma'ruf, mencegah dari
yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
mereka ta'at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan
diberi  rahmat  oleh  Allah;  sesungguhnya  Allah  Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 71)

Bahkan mencari titik temu dengan non muslim atau dengan ahli kitab pun sesungguhnya telah diisyaratkan oleh Al-Quran Al-Kariem dan dimungkinkan bisa syarat dan kondisinya terpenuhi.

Allah SWT berfirman :

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah  kepada suatu kalimat  yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak  sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri ".(QS. Ali Imran : 64)

As-Sunnah An-Nabawiyah

Dari  Anas  bin  Malik  ra  berkata,"Rasulullah  SAW  telah
melakukan perjanjian (mempersekutukan) antara Quraisy dan

kaum  Anshar  di  rumahku."(HR.  Muslim  Bab  Muaakhah
16/82).

 

63


 

 

 

 

 

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda,"Tolonglah saudaramu baik dalam keadaan menzhalimi
maupun  dizhalimi".  Seseorang  bertanya,"Ya  Rasulullah,  saya
menolongnya bila dizhalimi, bagaimana bila menolongnya ketika dia
sedang  menzhalimi  orang  lain ?".  Beliau  menjawab,"Kamu

menghalangi atau melarangnya dari berbuat zhalim, itulah cara menolongnya". (HR. Bukhari ).

Dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda,"Darah seorang muslim sederajat satu
sama lain. Yang lemah diantara mereka dapat memberi jaminan
(kepada yang lain). Yang jauh diantara mereka dapat melindungi
yang lainnya dan mereka adalah tangan atas kaum muslimin yang
lain (HR. Abu Daud Kitabul-jihad bab fi sariyah al ahlil askar).

e.  Strategi Koalisi Yang Dikembangkan Rasulullah
     
SAW

Dengan  Abu  Thalib  Menghadapi  Makar  Pemuka
Quraisy

Dalam  sirah  nabawiyah,  kita  mendapatkan  kondisi
medan   dakwah   yang   berubah-ubah   seiring   dengan
perjalanan waktu dan usia kekuatan dakwah. Namun di
setiap saat, bila memang memungkinkan dan dalam koridor
yang benar, al-hilf seringkali dimanfaatkan oleh beliau
SAW.

Misalnya ketika masih di Mekkah, Rasulullah SAW dan
para  shahabatnya  mendapatkan  tekanan  baik  berupa
penyiksaan, pemboikotan bahkan percobaan pembunuhan.
Namun beliau bisa memanfaatkan posisi pamannya Abu
Thalib untuk membela dan melindunginya. Ini sebenarnya
salah satu bentuk al-hilf yang berhasil dimanfaatkan oleh
sebuah gerakan dakwah untuk melakukan proteksi terhadap
tekanan musuhnya.

Sebagai sesama keturunan Bani Hasyim, Rasulullah
dilindungi  oleh  pamannya  cukup  sangat  disegani  di

 

64


 

 

 

 

 

Mekkah.  Meski hingga akhir hayatnya tidak sempat masuk
Islam, namun perlindungannya kepada Rasulullah SAW
tidak perlu diragukan lagi. Salah satu diantara kalimat
jaminan keamanan yang disampaikan kepada Rasulullah
SAW adalah,"Demi Allah, aku akan selalu bersamamu dan
menjagamu.   Akan   tetapi   aku   tidak   mampu   untuk
meninggalkan agama Abdul Mutthalib". Ini terjadi saat
dakwah  Islam  masih  berada  pada  fase  pertama  dari
pertumbuhannya.

Pada kali kedua ketika para pemuka Qurasisy sudah
tidak punya lagi sisa kesabaran, mereka mendatangi lagi
Abu Thalib dan memkasanya untuk menghentikan aktiftas
dakwah Muhammad SAW. Namun sekali lagi, paman yang
amat   menyayangi   keponakannya   ini   dengan   tegar
menyampaikan  jawaban  yang  keponakan,"Demi  Allah,
seandainya mereka meletakkan matahari di kananku dan
bulan di kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, pastilah
tidak  akan  kulakukan.  Hingga  Allah  SWT  menangkan
dakwah ini atau aku mati bersamanya". Lalu Abu Thalib
berkata kepada Rasulullah SAW,"Keponakanku, pergilah.
Katakan apa yang kamu sukai , demi Allah aku tidak akan
menyerahkanmu kepada siapapun".

b. Lepas Dari Pemboikotan 3 tahun

Manfaat  al-hilf  sekali  lagi  terbukti  efektif  untuk
melepaskan diri dari makar muqatha'ah (pemboikotan) yang
dilancarkan oleh musryrikin Mekkah kepada Bani Hasyim
yang notabene di dalamnya ada Rasulullah SAW. Makar ini
sempat membuat Rasulullah SAW, para shahabatnya dan
tentunya Bani Hasiym sendiri menderita selama tiga tahun
di Syi'ib Ali. Mereka diboikot dari hak-hak untuk bisa
berjual beli, menikah dan lain-lainnya sampai Bani Hasyim
menyerahkan Muhammad SAW.

 

 

65


 

 

 

 

 

Namun   Bani   Hasyim   merasa   wajib   melindungi
Rasulullah  SAW  meski  pun  resikonya  mereka  harus
menderita berkepanjangan. Mereka bersikeras tidak akan
mengorban  seorang  Muhammad  dari  kalangan  mereka
sendiri meskipun seluruh Bani Hasyim harus menerima
resikonya. Akhirnya penderitaan ini membuat para pemuka
dari qabilah yang memiliki ikatan persaudaraan dengan Bani
Hasyim ikut memberikan rasa solidaritas mereka. Para
pemuka dari qabilah lain merasa kasihan dan marah atas
perilaku tidak manusiawi itu dan berupaya untuk merobek-
robek  surat  perjanjian  yang  digantungkan  di  ka'bah.
Meskipun ternyata Allah SWT telah mengutus prajuritnya
yang berupa rayat untuk memakan surat pemoikotan itu.
Namun ini merupakan salah satu faktor penting ketika al-
hilf memberikan manfaat yang positif melepaskan gerakan
dakwah dari problem seriusnya.

Kalau dahulu pada masa awal dakwah, namun setelah hijrah ke Madinah kondisi sedikit berubah. Umat Islam saat itu telah memiliki kekuatan yang mulai diperhitungkan oleh lawan maupun kawan. Bargaining position sudah mulai eksis, tinggal bagaimana beliau memainkan posisi strategis ini dengan terobosan-terobasan cerdasnya.

 

Koalisi Ketika Hijrah Ke Habasyah

Saat umat Islam dalam keadaan terdesak dan tidak
mampu menahan tekanan keras dari musyrikin Mekkah,
Rasulullah   SAW   memerintahkan   beberapa   shahabat
dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib untuk mencari suaka
perlindungan  ke  raja  Habasyah,  An-Najasyi.  Padahal
Rasulullah SAW tahu bahwa An-Najasyi adalah seorang
pemeluk agama nasraniyah yang kala itu sudah marak
dikenal menuhankan dan menyembah Nabi Isa as.

 

 

66


 

 

 

 

 

Namun pada bulan Rajab tahun kelima dari nubuwah,
beliau tetap mengutus para shahabat ke kerajaan itu dan
meminta perlindungan dari orang-orang kafir penyembah
nabi Isa as. Sebab saat itu, An-Najasyi adalah alternatif yang
bisa diperhitungkan untuk membela dan menahan kejaran
kafir Quraisy. Meski sempat terhambat lantaran Amr bin
‘Ash pimpinan utusan Quraisy meminta agar Allah SWT-
Najasyi menangkap pelarian dari Mekkah itu hingga terjadi
dialog yang amat fenomenal tentang konsep Isa menurut
Islam dan Nasrani, akhirnya Ja’far bin Abi Thalib dan
teman-temannya bisa meyakinkan An-Najasyi bahwa Islam
tidak memusuhi Nasrani, bahkan memuliakan nabi Isa as
meski tidak sampai menuhankannya. Bahkan dalam dialog
itu, para shahabat tetap tidak ruku’ kepada raja karena bagi
mereka merupakan larangan dalam agama.

An-Najasyi puas dengan diplomasi itu dan menolak permintaan Amr bin Ash yang saat itu masih belum masuk Islam.   Bahkan   dengan   berlinang   air   mata   hingga membasahi jenggotnya, An-Najasyi menjamin keamanan muslimin untuk tinggal di negerinya.iii

 

Koalisi Dalam Perjalanan Hijrah

Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, selain
mengatur  strategi  dengan  sesama  pendukung  dakwah,
beliau  SAW  pun  banyak  memanfaatkan  kesepakatan
dengan non muslim demi kepentingan dakwah. Paling tidak
kita bisa mencatat Suraqah bin Malik dan Abdullah bin
‘Uraiqith, dua orang kafir yang berjasa dalam proses hijrah
Nabi SAW.

Suraqah   bin   Malik   telah   berhasil   menemukan
Rasulullah SAW dan Abu Bakar, namun kudanya terjungkal
beberapa   kali   dan   membuatnya   ketakutan.   Saat   itu
Rasulullah  SAW  meminta  Suraqah  untuk  merahasikan

 

67


 

 

 

 

 

bahwa   dirinya   bertemu   dengan   Nabi   kepada   kaum musyrikin Mekkah. Dan permintaan itu disanggupi Suraqah yang sudah kalah mental. Akhirnya Suraqah pulang dan tetap merahasiakan keberadan Rasulullah SAW.

Abdullah bin Uraiqith berjasa dalam perjalanan hijrah
menuju Madinah, sebab Rasulullah SAW dan Abu Bakar
tidak menggunakan jalan umum yang biasa dipakai kafilah
dagang, namun beliau melewati pesisir barat. Untuk itu
dibutuhkan seorang penunjuk jalan yang mahir membaca
arah perjalanan di gurun lepas tanpa rambu-rambu. Dan
orang itu adalah seorang non muslim yang dikenal dengan
nama Abdullah bin ‘Uraiqith. Meski seorang non muslim,
namun   Rasulullah   SAW   mempercayakan   keselamatan
perjalanannya kepadanya, sebab Abdullah bin ‘Uraiqith

adalah seorang amat profesional di bidangnya.

 

  Koalisi Dalam Piagam Madinah

Diantara bentuk-bentuk koalisi yang paling fenomenal
dalam sejarah Rasulullah SAW adalah Piagam Madinah.
Piagam ini intinya adalah sebuah kesepakatan bersama
untuk hidup damai dan saling berdampingan, saling bantu
dan saling bela sesama warga Madinah dengan pihak non
muslim.

Dengan adanya Piagam Madinah ini, maka makar dari
pihak yahudi berhasil ditekan sejak awal. Sama sekali yahudi
tidak bisa berkutik atau melakukan permusuhan dengan
terang-terangan  seperti  yang  dahulu  pernah  dilakukan
musyrikin Mekkah. Kecuali jalan satu-satunya hanya dengan
mengkhianati isi perjanjian itu dengan resiko diperangi
secara pisik dan diusir ke luar dari Madinah. Sebab tahun
kedua setelah hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, umat
Islam sudah memiliki angkatan perang yang tangguh yang
berhasil membungkam kesombangan musyrikin Mekkah di
lembah Badar. Sehingga yahudi di Medinah harus berpikir

 

68


 

 

 

 

 

seribu kali untuk bermain-main dengan isi perjanjian        /

Piagam Madinah itu.

Dan ketika pengkhianatan itu benar-benar terjadi di
kemudian  hari,  hasilnya  adalah  terusirnya  yahudi  dari
Madinah.

 

  Perjanjian Hudaibiyah

Koalisi   yang   juga   tidak   kalah   fenomenal   adalah
perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada tahun ke-8 hijriyah
yang  isinya  adalah  perjanjian  damai  selama 10  tahun.

Dengan perdamaian itu, maka dakwah Islam bisa lebih tersebar  ke  berbagai  negeri  tanpa  harus  mengalami ancaman dan gangugan dari musyrikin Mekkah.

Bahkan justru banyak dari warga Mekkah yang diam-
diam  telah  masuk  agama  Islam.  Bahkan  dalam  masa
perjanjian ini, Khalid bin Walid dan Amr bin Ash yang
selama ini dikenal sebagai tokoh yang paling berbahaya
malah masuk Islam.

f.   Hukum Berkoalisi

Pada hakikatnya, ummat Islam tidak pernah memusuhi
mereka yang masih belum beriman. Sehingga pendekatan
seorang   muslim   kepada   non   muslim   tidak   selalu
pendekatan permusuhan dan peperangan. Koalisi dengan
pihak lain dalam batas tertentu mungkin saja dilakukan,
untuk mendapatkan manfaat yang baik. Sebab pintu ke arah
itu memang ada dan tersedia dalam pandangan syariah,
demikian  juga  dari  teladan  yang  dilakukan  para  nabi
terdahulu.

Hal-hal yang memungkinkan dibenarkannya koalisi itu antara lain adalah :

1.  Islam  agama  yang  damai  dan  bisa  berdampingan
     
dengan non Islam. Memang benar ada sebagai pendapat
      ulama yang mengatakan bahwa hubungan Islam dengan

 

69


 

 

 

 

 

bukan Islam itu pada dasarnya adalah peperangan (as-
ashlu  ar-harb).  Namun  pendapat  ini  disandingkan
dengan  pendapat  lainnya  yang  memandang  bahwa
pendekatan  yang  paling  dasar  adalah  perdamaian.
Sehingga syiarnya adalah alashlu as-silmu. Sebab selama
seorang muslim tidak diperangi dan tidak dicelakakan
oleh orang lain, maka tidak ada alasan untuk memulai
peperangan. Apalagi secara bahasa, makna Islam itu
salah satunya adalah perdamaian dan keselamatan.

Rasulullah SAW telah bersabda :

Seorang muslim itu adalah orang yang memiliki kriteria dimana
orang lain merasa aman dari lidah dan tangannya. (HR. Bukhari)

Sehingga   dengan   pihak   non   muslim   pada   dasarnya
dibenrkan  untuk  berdamai,  bekerjasama,  saling  tolong
bahkan saling bela selama tidak ada prinsip-prinsip yang
terlanggar, baik dari sisi aqidah, fikrah maupun syariah.
2.
Syariah  Islam  memberikan  kedudukan  kepada  non
     
muslim dan hak-haknya secara baik. Misalnya hak untuk
     
hidup,  hak  untuk  mendapatkan  perlindungan  dari
      negara  dengan  konsekuensi  membayar  jizyah,  hak
     
untuk bisa beribadah sesuai dengan keyakinan serta
     
menjalankan ibadah di dalam rumah-rumah ibadah
     
khusus mereka. Bahkan diharamkan bagi umat Islam
     
untuk  mengganggu,  merusak  apalagi  merobohkan
     
rumah-rumah ibadah itu.

3.   Bahkan orang-orang non muslim pun mendapatkan hak

dari harta zakat mal dari baitul mal muslimin. Patrik
Yoshua (656 H) berkata, "Orang Arab (Islam) yang
menancapkan    kekuasaannya    di    dunia    telah
memperlakukan kami dengan adil." Makarios, seorang
Patnik Anthokia juga mengatakan, "Semoga Tuhan
melestarikan   pemerintahan   Turki.   Mereka   hanya
mengambil pembayaran pajak. Tetapi tidak mengusik-
usik persoalan agama. Malah mereka memelihara orang-

 

70


 

 

 

 

 

orang Nashrani, Yahudi dan Samirah dengan adil".
Bahkan ketika Abu 'Ubaidah ibnul-Jarrah merasa tidak
mampu    melindungi    penduduk    Nashrani,    ia

mengembalikan jizyah (upeti) kepada mereka

4.  Bahkan dahulu seorang nabi Yusuf as pun menjadi
     
seorang menteri yang menangani masalah logistik di
     
negeri yang diperintah bukan dengan hukum Islam. Di
      dalam   Al-Quran   Al-Kariem,   Allah   SWT   telah
     
menceritakan  bahwa  seorang  Nabi  yang  tugasnya
     
menyampaikan risalah dan menegakkan hukum Allah
     
SWT, telah menjadi seorang pengemban amanat di
     
sebuah negara yang nota bene bukan negara Islam.

Dan raja berkata:  "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih
dia sebagai orang yang rapat kepadaku".  Maka tatkala raja telah
bercakap-cakap dengan dia, dia berkata:  "Sesungguhnya kamu
hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai
pada sisi kami". Berkata Yusuf:  "Jadikanlah aku bendaharawan
negara ; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi
berpengetahuan".  Dan demikianlah Kami memberi kedudukan
kepada Yusuf di negeri Mesir;  pergi menuju kemana saja ia
kehendaki di bumi Mesir itu.  Kami melimpahkan rahmat Kami
kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-
nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf : 54-
56)

5.  Rasulullah  SAW  dalam  hidupnya  tidak  lepas  dari
     
berkoalisi dengan non muslim. Sejak sebelum diangkat
      menjadi nabi, beliau sudah aktif dalam Hilful Fudhul,

yaitu     koalisi     antar      berbagai      kabilah     untuk

mempertahankan diri bersama dari musuh mereka.

6.  Meski kesertaan Rasulullah SAW dalam perjanjian ini
     
sebelum   diangkat   menjadi   nabi,   namun   belia
     
berkata,”Aku   pernah   mengikuti   perjanjian   yang
      dikukuhkan  di  rumah  Abdullah  bin  Jud’an,  suatu
     
perjanjian  yang  lebih  aku  sukai  dari  keledai  yang

 

71


 

 

 

 

 

terbagus. Andaikata aku diundang untuk perjanjian itu
     
semasa Islam, tentu aku akan memenuhinya.”
 7.
Praktek kehidupan negara Islam Madinah menunjukan
      bahwa umat Islam hidup berdampingan dengan orang-
      orang kafir, termasuk dalam mengurus masalah negara.
     
Rasulullah SAW telah menyepakati Piagam Madinah
     
yang   mengikat   semua   penduduk   Madinah   meski
      berbeda agama untuk hidup bersama dan melakukan
     
saling bela dan saling tolong.

8.   Demikian juga selama masih di Mekkah, beliau SAW

tidak pernah lepas dari berkoalisi dengan pihak-pihak lain yang saat itu masih belum memeluk Islam. Selama kolaisi itu tidak merugikan dan tidak melanggar batas koridor yang ditetapkan.

9.   Para ulama hari ini pun bisa memahami pentingnya

berkoalisi serta masuk ke dalam sistem yang nyata-nyata bukan   Islam,   asalkan   tujuannya   memang   untuk kepentingan Islam.

Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan
Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara dengan
Syaikh Utsaimin. Majalah Al-Furqan bertanya kepada ulama
beasr itu tentang hukum masuk ke dalam parlemen ? Syaikh
Al-'Utsaimin menjawab,”Saya memandang bahwa masuk ke
dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan
untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau memasukkan
kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam
lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan
dan semakin jauh dari bala. Sedangkan masalah sumpah untuk
menghormati  undang-undang,  maka  hendaknya  dia  bersumpah
unutk  menghormati  undang-undang  selama  tidak  bertentangan
dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya
dimana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniatkannya.

 

 

 

72


 

 

 

 

 

g.  Koalisi Yang Diharamkan

Namun  meski  ada  banyak  contoh  kasus  dimana Rasulullah SAW dan para shahabat mampu memanfaatkan agenda  koalisi  dengan  non  muslim  atau  lawan-lawan lainnya, bukan berarti umat Islam bebas untuk melakukan koalisi begitu saja. Paling tidak, ada beberapa prinsip utama yang perlu diperhatikan agar koalisi itu bisa dibenarkan secara aqidah dan syariah Islam.

Secara umum, ketentuan atau syarat agar sebuah koalisi itu bisa diterima adalah :

1.         Tidak melanggar aqidah dan syariah Islam.

Sebab aqidah dan syariah Islam adalah prinsip dasar
yang tidak boleh dikorbankan begitu saja atas nama sebuah
kepentingan. Justru sebeuh pergerakan Islam itu bertujuan
untuk menegakkan aqidah dan syariah, jadi bagaimana
mungkin  bila  dalam  perjalannya  harus  mengorbankan
aqidah dan syariah.

Ketika Ja’far berdiplomasi dengan An-Najasyi, beliau
tetap tidak mau ruku’ kepada sang raja. Sebab Islam
melarang manusia ruku dan sujud kepada selain Allah SWT.
Jadi urusan ini sudha masuk wilayah aqidah, tidak boleh
dikorbankan hanya karena alasan diplomasi atau koalisi.

2.         Koalisi  yang  memungkinkan  musuh-musuh

Islam menekan dan merugikan umat Islam.

Ketika  Rasulullah  SAW  menandatangani  perjanjian Hidaibiyah, sebagain shahabat melihat bahwa klausul demi klausul agak cenderung menguntungkan pihak musyrikin Mekkah. Namun sesungguhnya Rasulullah SAW melihat ada peluang yang tidak terbaca oleh lawan bahkan oleh kawan sekalipun. Maka beliau menyetujui perjanjian yang sekilas keilhatan berat sebelah.

Barulah setelah itu, semua shahabat mengerti bahwa di
balik   semua   klausul   itu,   umat   Islam   justru   sangat
diuntungkan.  Misalnya  tentang  perdamaian  selama 10

 

73


 

 

 

 

 

tahun.   Ini   menjadi   sangat   positif   ketika   terbentang
kesempatan luas untuk berdakwah ke seluruh penjuru dunia
tanpa harus merasa terancam serangan musyrikin Mekkah.

Atau ketika perjanjian itu melarang orang Madinah yang
lari ke Mekkah untuk dikembalikan, maka di balik itu ada
keuntungannya. Yaitu Rasulullah SAW bisa menyusupkan
orang untuk masuk ke Mekkah dan memantau terus segala
gerak gerik dan strategi musyrikin Mekkah. Selain itu
mereka pun bisa berdakwah dan menyebarkan Islam di
Mekkah, sebuah hal yang semenjak hijrah hampir mustahil
terjadi.

Dan ketika perjanjian itu mengharuskan pelarian dari
Mekkah  yang  masuk  Madinah  untuk  dikembalikan  ke
Mekkah, justru posisi Madinah menjadi aman dari infiltrasi
dan penyusupan pihak Mekkah. Di sisi lain, mereka yang
masuk Islam dan lari dari Mekkah dan dilarang masuk
Madinah bisa membangun koloni baru di luar kedua kota
itu. Dan ini tentu menjadi kekuatan baru yang tidak diduga-
duga sebelumnya.

3.         Koalisi  yang  bisa  menimbulkan  pemikiran

yang menyimpang dari syariat Islam

Namun   bila   koalisi   yang   dibangun   hanya   akan
berdampak negatif dan menimbulkan penyimpangan dari
pemikiran yang lurus serta fikrah yang Islami, maka koalisi
seperti itu menjadi tidak ada gunanya. Bahkan malah hanya
akan menimbulkan korban-korban baru di pihak Islam.

Maka  berkoalisi  dengan  pihak  yang  secara  serius melakukan penyesatan fikrah Islam tidaklah bisa diterima. Sebab   alih-alih   akan   mendapatkan   manfaat,   justru penyimpangan fikrah itu bisa merusak nama dan citra sebuah pergerakan Islam.

4.         Koalisi yang melahirkan perbedaan pendapat

dan pertentangan di dalam tubuh umat Islam serta

 

 

74


 

 

 

 

 

munculnya fitnah-fitnah yang menggoncangkan dunia
Islam.

Bisa  jadi  dalam  sebuah  koalisi  yang  secara  zahir
kelihatan   menguntungkan   pihak   Islam,   justru   dalam

pelaksanaannya    yang    terjadi        sebaliknya.     Bahkan

menimbulkan  perpecahan  dan  perbedaan  pendapat  di kalangan sesama umat Islam.

Politik belah bambu yang selam ini rajin digencarkan
pihak penguasa di dunia Islam telah bercerita kepada kita
bagaimana kekuatan Islam berhasil dipecah-pecah. Sebagian
elemen umat diangkat dan dirangkul oleh penguasa dan
sebagian elemen lainnya diinjak, persis teknik membelah
bambu.

Koalisi sebagian elemen Islam dengan pihak lain yang seperti  ini  hanya  akan  melahirkan  fitnah  dan  sumber perpecahan serta kecemburuan di antara barisan umat Islam. Sehingga faktor ini perlu diperhatikan secara cermat agar tidak menjadi bumerang yang mencelakakan tubuh umat Islam sendiri secara keseluruhan.

5.         Koalisi Yang Memposisikan Pergerakan Islam

Sebagai Alat dan Asset Belaka

Koalisi yang dibangun antara pergerakan Islam dengan pihak lain tentu harus diperhitungkan segi manfaatnya. Apakah yang akan diperoleh dan apa yang harus diberikan. Sesuaikah harga yang ditawarkan dengan yang manfaat yang akan   diterima.   Dan   sejauh   mana   jaminan   bahwa kesepakatan itu akan dijalankan.

Bila pengamatan sejarah pergerakan dan dinamika sosial
politik menyebutkan bahw berkoalisi dengan pihak tertentu
hanya akan menjadikan pergerakan Islam sebagai asset dan
alat politk belaka, maka tentu saja hal ini bukan koalisi yang
bisa diterima. Apalagi bila hanya memanfaatkan suara umat
untuk mendukung pihak lain itu dengan konsekuensi yang

 

 

75


 

 

 

 

 

tidak sepadan, maka hanya akan menimbulkan frustasi dan rasa tidak percaya di dalam tubuh sendiri.

Dalam kenyataannya, kasus inilah yang paling sering
terjadi di dunia Islam pada umumnya. Bagaimana potensi
kuantitas umat Islam dijadikan semata-mata asset yang
dimanfaatkan pihak lain yang sama sekali tidak punya
kepentingan   terdapat   tegaknya   Islam.   Atau   menjadi
dagangan politik belaka yang digambarkan seperti orang
yang mendorong mobil mogok, bila sudah hidup mesinnya,
maka yang mendorong ditinggal di belakang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

76


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Ketujuh

Demonstrasi

 

 

 

 

 

 

Demonstrasi   sebagaimana   yang   disebutkan   dalam
kamus besar Bahasa Indonesia mengandung dua makna.
Pertama, pernyataan protes yang dikemukakan secara masal
atau unjuk rasa. Kedua, peragaan yang dilakukan oleh
sebuah lembaga atau kelompok, misalnya demo masak,
mendemonstrasikan   pencak   silat   dan   lain-lain.   Tapi
barangkali pertanyaan yang dimaksud adalah demo dalam
pengertian pertama, yang biasa disebut juga unjuk rasa.

Dalam wacana Islam demonstrasi disebut muzhoharoh,
yaitu sebuah media dan sarana penyampaian gagasan atau
ide-ide yang dianggap benar dan berupaya mensyi`arkannya
dalam bentuk pengerahan masa. Demonstrasi merupakan
sebuah  sarana  atau  alat  sangat  terkait  dengan  tujuan
digunakannya   sarana   atau   alat   tersebut   dan   cara
penggunaannya.   Sebagaimana   misalnya   pisau,   dapat

 

77


 

 

 

 

 

digunakan untuk berjihad, tetapi dapat juga digunakan untuk mencuri.

Sehingga niat atau motivasi sangat menentukan hukum demonstrasi. Rasulullah saw. Bersabda:

Sesungguhnya amal-amal itu terkait dengan niat. Dan
sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan
niatnya.  Maka  barangsiapa  hijrahnya  karena  Allah  dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya itu mendapatkan keridhoan
Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena
dunia, maka akan mendapatkannya, atau karena wanita
maka ia akan menikahinnya. Maka hijrah itu sesuai dengan
niatnya` (Muttafaqun `alaihi).

Demonstrasi dapat bernilai positif, dapat juga bernilai
negatif. Demonstarsi dapat dijadikan komoditas politik
yang berorientasi pada perolehan materi dan kekuasaan,
dapat juga berupa sarana amar ma`ruf nahi mungkar dan
jihad. Dalam kaitannya sebagai sarana mar ma`ruf nahi
mungkar dan jihad, demonstrasi dapat digunakan untuk
melakukan perubahan menuju suatu nilai dan sistem yang
lebih baik.

Allah SWT. Berfirman:

`Dialah   yang   telah   mengutus   Rasul-Nya    (dengan

membawa) petunjuk (Al Qur`an) dan agama yang benar
untuk  dimenangkan-Nya  atas  segala  agama,  walaupun
orang-orang musyrik tidak menyukai`(QS At-Taubah 33
dan As-Shaaf 9)

`Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk  dan  agama  yang  hak  agar  dimenangkan-Nya
terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi`
(QS Al-Fath 28). Dan jika kita merujuk pada Al-Qur`an,
As-Sunnah, Siroh Rasul saw. Dan Kaidah Fiqhiyah, maka
kita   dapatkan   kaidah-kaidah   secara   umum   tentang
muzhoharoh.

I. Al Qur`an

 

78


 

 

 

 

 

`Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan
apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)

kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-
orang  selain  mereka  yang  kamu  tidak  mengetahuinya;
sedang   Allah   mengetahuinya.   Apa   saja   yang   kamu
nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)`
( QS Al-Anfaal 60).

`Tidaklah  sepatutnya  bagi  penduduk  Madinah  dan
orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka,
tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak
patut (pula)  bagi  mereka  lebih  mencintai  diri  mereka
daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah
karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan
kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak

suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang
kafir,  dan  tidak  menimpakan  sesuatu  bencana  kepada
musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang
demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan
mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan
tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah,
melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena
Allah  akan  memberi  balasan  kepada  mereka (dengan

balasan)  yang  lebih  baik  dari  apa  yang  telah  mereka kerjakan` (QS AT-Taubah 120-121)

II. Hadits Rasul saw.:

`Seutama-utamanya jihad adalah perkataan yang benar terhadap penguasa yang zhalim` (HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Tabrani, Al-Baihaqi, An-Nasa`i dan Al-Baihaqi).

`Barangsiapa  melihat  kemungkaran,  maka  rubahlah
dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya, dan

 

 

79


 

 

 

 

 

jika tidak mampu, dengan hatitnya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman`(HR Muslim).
      III. Sirah Rasul saw.:

-Nabi   saw.   Dengan   para   sahabatnya   melakukan
demonstrasi  meneriakkan  dan  menyerukan  tauhid  dan
kerasulan Muhammad saw. Di jalan-jalan sambil menelusuri
jalan Mekkah dengan tetap melakukan tabligh dakwah. -
Rasulullan saw. Dan para sahabatnya sambil melakukan
Thawaf Qudum setelah peristiwa Hudaibiyah melakukan
demo memperlihatkan kebenaran Islam dan kekuatan para
pendukungnya (unjuk rasa dan unjuk kekuatan) dengan
memperlihatkan pundak kanan ( idhthiba`) sambil berlari-
lari kecil. Bahkan beliau secara tegas mengatakaan saat itu:`
Kita tunjukkan kepada mereka (orang-orang zhalim) bahwa
kita (pendukung  kebenaran)  adalah  kuat (tidak  dapat

diremehkan dan dimain-mainkan)`.

IV. Kaidah Fiqhiyah

Sesuatu hal yang tidak akan tercapai dan terlaksana
kewajiban kecuali dengannya, maka hal tersebut menjadi
wajib.

Sehingga dalam hal ini suatu tujuan yang akan ditempuh
dengan   mengharuskan   menggunakan   sarana,   maka
pemakaian sarana tersebut menjadi wajib. Dan demonstrasi
adalah sarana yang sangat efektif dalam melaksanakan
kewajiban amar ma`ruf nahi mungkar, dakwah dan jihad.
Dengan  demikian  kami  cenderung  mengatakan  bahwa
demonstrasi sebagai sebuah sarana harus dilakukan untuk
mencapai tujuan-tujuan dakwah, amar ma`ruf nahi mungkar
dan jihad demi meneggakkan nilai-nilai kebenaran dan
keadilan.  Memberantas  kezhaliman  dan  kebatilan.  Dan
umat  Islam  harus  mendukung  setiap  upaya  kebaikan
dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai Islam demi
kejayaan Islam dan kemashlahatan umat.