Infus Bagi Orang yang Berpuasa

Deskripsi Masalah
Menurut ilmu kedokteran, INFUS adalah memasukkan cairan ke dalam tubuh dengan jarum infuse melalui pembuluh darah balik (vena) kemudian ke jantung dan dipompa sehingga menyebar ke seluruh jaringan/sel-sel tubuh. Dalam anatomi tubuh, di dalam usus besar terdapat banyak jaringan pembuluh
darah yang menyerap sari-sari makanan, kemudian dikirim ke jantung untuk disebarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah arteri.Kemudian darah yang sudah tidak membawa sari makanan kembali lagi ke jantung melalui pembuluh darah balik (vena). Melihat keadaan tersebut, berarti ada hubungan langsung antara usus besar dengan pembuluh darah.
Di dalam Kitab al-Bajuri I/291 dijelaskan bahwa, yang membatalkan puasa bukan hanya masuknya sesuatu melalui lubang tubuh yang terbuka permanen (المنفتح اصالة), tapi juga yang melalui lubang tubuh yang terbuka insidentil (المنفتح عرضا), seperti kantong otak yang terluka. Di dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa, istilah جوف bukan hanya untuk rongga tubuh yang mempunyai kekuatan merubah makanan (قوةإحالة الغذاء والدواء), tapi jalan yang menuju ke rongga tersebut (طريقا للذي يحيل الغذاء) juga termasuk جوف , seperti kantong kencing (مثانة), kantong otak (خريطة الدماغ). Benda apapun yang masuk ke rongga tersebut melalui luka/tusukan yang disengaja dapat membatalkan puasa.
Pertanyaan:
a. Dapatkah pembuluh darah yang dimasuki jarum infus dimasukkan dalam kriteria جوف , mengingat berhubungan erat dengan usus besar, sehingga apakah bisa dikatakan (طريقا للذي يحيل الغذاء) dan apabila ditusuk dengan jarum apakah juga termasuk (المنفتح عرضا)? Sebagai perbandingan, saluran kencing/susu احليل)) saja dimasukkan kriteria جوف.
b. Apabila tidak, mohon dijelaskan!. Apabila ya, berarti orang puasa yang diinfus, puasanya batal. Kenyataannya melalui jarum infus orang menghabiskan beberapa liter cairan. Jadi apabila pembuluh darah sekedar disamakan dengan pori-pori kulit (المسام) mungkin kurang bisa diterima.
Jawaban :
a. Tidak dapat dimasukkan dalam kriteria جوف.
b. Pembuluh darah tidak dapat dikategorikan lubang tembus (منفذ) yang menuju جوف karena masuknya sesuatu ke dalam tubuh yang dapat membatalkan puasa apabila masuk melalui منفذ baik melalui lubang tubuh yang terbuka permanen (المنفتح اصالة) ataupun yang terbuka insidentil (المنفتح عرضا). Oleh karena itu masuknya cairan melalui pembuluh darah dapat disamakan dengan masuk melalui pori-pori tubuh karena keduanya bukan merupakan منفذ sehingga tidak membatalkan puasa.
Referensi :
1. al-Bajuri, Juz I, Hal. 290-291
2. Fathu al-Wahhab, Juz I, Hal. 120
3. Syarwani, Juz III, Hal. 403
4. Yas’alu_nak fi al-Dien wa al-Hayah, Juz IV, Hal. 140-141
5. Hawasyi al-Madaniyah, Juz II, Hal. 176
وعبارته :
1. وثانيها ما وصل عمدا الى الجوف المنفتح أو غير المنفتح كالوصول من مأمومة الى الرأس. قوله الى الجوف المنفتح أي اصالة انفتاحا ظاهرا محسوسا فلا يضر وصول الكحل من العين أو الدهن أو ماء الاغتسال وان وجد له اثرا بباطنه بتشرب المسام وهي ثقب الجسد جمع سم بتثليث السين والفتح افصح لان ذلك ليس من منفذ مفتوح انفتاحا ظاهرا محسوسا لان انفتاح المسام لا يحس وقوله غير المنفتح أي اصالة فلا ينافى أنه منفتح عرضا بواسطة جرح ولذلك جعلوا المنفتح قيدا ليخرج ما وصل من المسام ويدل على كون المراد ذلك قوله كلوصول من مأمومة الى الرأس فان المأمومة بالهمز جرح يصل الى خريطة الدماغ قفد صدق على ذلك أنه منفتح عرضا -الى ان قال- قوله الى ما يسمى جوفا أي وان لم يكن فيه قوة احالة الغداء والدواء كحلق ودماغ وباطن اذن وبطن واحليل ومثانة بمثلثه وهي مجمع البول لكن لا بد ان يكون شأنه أن يحيل ذلك أو طريقا للذي يحيله بخلاف نحو داخل ورك وفخد اهـ (الباجوري، جـ1، صـ 290-291)
2. وترك وصول عين لا ريح ولا طعم من ظاهر من منفذ مفتوح جوف من مر اي غير جاهل معذور ذاكرا مختارا وإن لم يكن فى الجوف قوة تحيل الغذاء أو الدواء كحلق ودماغ وباطن أذن وإحليل وبطن ومثانة بمثلثة وهي مجمع البول وقولي من من زيادتي على الأصل فلا يضر وصول دهن أو كحل بتشرب مسام جوفه كما لا يضر اغتساله بالماء وإن وجد له اثرا بباطنه بجامع أن الواصل اليه ليس من منفذ وإنما هو من المسام جمع سم بتثليث السين والفتح افصح اهـ (فتح الوهاب، جـ 1، صـ 120)
3. وشرطه الواصل كونه فى منفد مفتوح فلا يضر وصول الدهن بتشرب المسام وهي ثقب لطيفة جدا لا تدرك كما لوطلي رأسه او بطنه به وان وجد أثره بباطنه كما لو وجد أثر ما اغتسل به ولا الاكتحال وان وجد لونه فى نحو نحامة وطعمه بحلقه اذ لا منفذ من عينه لحلقه فهو كالواصل من المسام. (شروانى، جـ 3، صـ 403)
4. السؤل: هل يجوز حقن المريض الصائم؟ وهل يجوز الاعتماد على التقويم فى تجديد مواعيد الصيام مثل اول رمضان وعيد الفطر لأننا نعتمد فى حياتنا اليومية على هذا التقويم؟
5. الجواب: يباح للصائم أخذ الحقن أثناء صومه لا يفسد الصوم بذلك سواء أكانت الحقنة تحت الجلد أو فى الوصلات أو فى سائر الجسم وسواء أكانت للتداوي أو للتخدير وفى أي موضع من البدن فالحقن بجميع انواعه لا تفطر وقد نص فقهاء الحنفية على ان ما يدخل الجسم اذا لم يصل الى الجسم أو الدماغ أو وصل الى احدهما عن طريق المسام لا يفطر الصائم وقد أفتت بذلك لحتة الفتوى فى الأزهر الشريف سنة 1948. وقال فى فتواها ان ما وصل الى الجوف من غير المنافذ الطبيعية لا يفطر لأنه أرفق بالناس وعليه لا يفطر الصائم بالحقن المعروفة الأن بجميع انواعها سواء أكانت للدواء أو الفداء يصل بها الى الجوف ام لا، اما اذا لم يصل فالأمر ظاهر وان وصل فانما يصل من منفذ عارض خلقي. (يسئلونك فى الدين والحياة، جـ 1، صـ 140-141)
6. ولا يضر بتشرب المسام بالدهن والكحل والاغتسال فلا يفطر بذلك وان وصل جوفه لأنه لما لم يصل من منفذ مفتوح كان فى حيز العفو. (حواشى المدانية، جـ2، صـ 176)

 

Membawa Mushaf Bagi Siswi Yang Haidl

Diskripsi masalah

Membaca dan membawa mushaf haram hukumnya atas wanita yang sedang haid. Membaca dan menulis merupakan bagian utama dari kegiatan proses belajar dan mengajar (ta’lim wat-ta’allum) di madrasah berlaku umum untuk semua murid (siswa dan sisiwi) tak terkecuali siswi yang sedang haid. materi pelajaran agama Islam yang pada umumnya memuat ayat Al-Quran menimbulkan masalah tersendiri bagi siswi yang sedang haid di saat ia membaca dan menulis karena mendapat tugas dari guru atau sedang ujian.

Pertanyaan:

a. Ketika siswi sedang haid bolehkah ia membawa buku/kitab yang sebagian isinya adalah ayat Al-Quran?

b. Wajibkah dia menolak tugas dari guru untuk membaca ayat Al-Quran?

c. Apa yang harus dia perbuat di saat dia harus menulis ayat Al-Quran karena sedang mengikuti ujian?

d. Wajibkah guru/sekolah membuat kebijakan khusus untuk siswi-siswi yang sedang haid terkait pelajaran yang melibatkan aktifitas membaca dan menulis Al-Quran?

Jawaban 3 a:

Siswi yang sedang haid membawa atau menyentuh buku pelajaran yang berisi Al-Quran diperbolehkan menurut pendapat ashoh (lebih Shahih). Adapun membawa atau menyentuh mushaf yang dijilid menjadi satu dengan selain mushaf ditafsil :

1. Boleh jika mushafnya lebih sedikit dari pada yang lain (bukan mushaf).

2. Tidak boleh jika mushafnya lebih banyak atau sama dengan yang lain.

المجموع ج 2 ص 86

(تنبيه) يحل للمحدث حدثا أكبر أن يذكر القرآن وغيرها كمواعظه واخباره واحكامه لابقصد القران كقوله عند الركوب (سبحان الذي سخرلنا …. الخ) أي مطيقين, وعند المصيبة ( انا لله وانا اليه راجعون ) وما جرى به لسانه بلا قصد فان قصد القران وحده اومع الذكر حرم وان اطلق فلا …. الى ان قال ..اما اذا قرأ شيئا لاعلى قصد القران فيجوز

“(peringatan): halal bagi orang yang berhadats besar menyebutkan ayat Al-Quran dan selainnya, seperti memberi nasehat, mengabarkan, dan menghukumi bukan dengan tujuan membaca Al-Quran. Sebagaimana ucapannya ketika naik kendaraan: (سبحان الذي سخرلنا …الخ ) dan ketika tertimpa musibah (نا لله وانا اليه راجعون ) dan apa saja yang di ucapkan lisannya tanpa bertujuan membaca Al-Quran. Apabila bertujuan membaca Al-Quran saja, atau disertai dengan tujuan berdzikir maka haram hukumnya. Bila muthlaq (tidak bertujuan apa-apa) maka tidak haram”.

Jawaban 3 c:

Siswi yang sedang haid ketika harus menulis Al-Quran harus menghindari jangan sampai menyentuh tulisannya.

فتاوى الامام النووي 21

(مسألة) هل يجوز تمكين المميز من كتابة القران فى اللوح وحمله وحمل المصحف وهو محدث اوجنب وكيف تتصور الجنابة فى حقه؟ وهل للبالغ كتابة القران وهو محدث او جنب وكذالك المرأة؟ (الجواب) يجوز تمكين الصبي المميز من ذالك وتتصور جنابته بالوطء سواء أولج او أولج فيه غيره واما البالغ من الرجال او النساء فلايجوز له كتابة القران الا ان يكتبه بحيث لايمس المكتوب فيه ولا يحمله بان يضع بين يديه في حال الكتابة.

Te

 

Pengelolaan Zakat Kontemporer

DESKRIPSI MASALAH

Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang harus dipenuhi oleh orang-orang (kelompok) muslim yang kaya yang mempunyai harta dalam batas 1 nishob (seukuran emas 96 kg) dan dalam kurun waktu 1 haul (1 tahun). Zakat berfungsi untuk menyucikan harta dan jiwa disamping untuk membantu meringankan beban orang-orang yang dalam hal kehidupan duniawi kurang diuntungkan; lebih tegasnya untuk kelompok masyarakat miskin.

Secara umum zakat dikelola dengan menyerahkan harta zakat berupa uang) dari orang-orang yang wajib zakat (Muzakki) kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (Mustahiq). Akan tetapi secara khusus, saat ini ada trend pengelolaan zakat yang pendistribusiannya bukan dalam bentuk uang, namun dalam bentuk program. Program pendistribusian zakat kontemporer (saat ini) dilakukan dalam bentuk pemberian beasiswa kepada peserta didik miskin (seperti yang dilakukan Yayasan Dompet Dhuafa), atau dalam bentuk lain yang tujuannya memang ingin memfasilitasi kelompok-kelompok masyarakat miskin dalam beragam dimensi yang ada.

Pengelolaan zakat saat ini juga terkadang diwujudkan dalam bentuk pemberian lahan usaha atau wujud-wujud lain yang tidak diberikan dalam bentuk uang. Problemnya, terkadang calon penerima bantuan itu harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya, surat keterangan miskin dari aparat setempat. Celah ini yang kemudian mengilhami orang untuk mencari surat keterangan miskin, padahal sebenarnya ia tidak miskin. Hal-hal ini yang akan diajukan untuk ditemukan jawabannya dalam bahtsul masail.

PERTANYAAN

Dalam tinjauan fiqih Islam, bagaimanakah hukumnya penyaluran zakat yang dikelola bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk program, seperti pemberian beasiswa atau lahan usaha atau yang lain?
Bagaimanakah hukumnya menerima dana bantuan beasiswa atau bantuan lahan usaha dari lembaga pemerintah atau non pemerintah yang mana sumber dana tersebut berasal dari pengelolaan dana zakat?
Adakah dalam sejarah Islam upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah Muslim dalam pengelolaan penyaluran zakat yang tidak diwujudkan dalam bentuk uang?

JAWABAN

PENDAHULUAN

Zakat merupakan salah satu sendi pokok ajaran Islam, disamping Syahadat, Sholat, Puasa dan Haji. Zakat dan Sholat dirangkai dalam satu perintah dalam Al-Qur’an sebagai perlambang dari keseluruhan ajaran Islam, betapa banyaknya perintah menmgerjakan Sholat yang diiringi dengean perintah membayar Zakat dalam Al-Qur’an antara lain (Q.S. Al-Baqooroh 43) “Dirikanlah sholat dan bayarkanlah zakat, dan ber ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”,

Zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda. Pertumbuhan dan perkembangana usaha manusia yang mendatangkan hasil dan keuntungan membawa pengaruh pula terhadap pertumbuhan dan perkembangan zakat. Seseorang yang memenuhi syarat-syarat, yaitu setiap muslim yang mempunyai kekayaan tertentu dan terlah sampai pada batas Nisobnya, wajib mengeluarkan zakatnya.

Para pengusaha yang sukses apakah melalui usaha pertanian, perkebunan, perhutanan, peternakan, periknan, pertambangan, perindustrian, perdangan dan jasa atau usaha lainnya, harus menyadari bahwa didalam kekayaannya itu ada sebagian milik orang lain yang harus diberikan kepada yang berhak menerimanya melalui zakat bila telah sampai nisobnya. Dan jika belum sampai nisobnya mengamalkan, mengamalkan sunnah melalui Infaq dan Sodaqoh :

“Dan pada harta-harta mereka, ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. ( Ad Dzariyat 19)

Hadits Abi Hurairah. Imam Malaik Fil Muwatto’ 1/277 , Imam Bukhori Fil Zakat 1463-1464 Imam Muslim Fil Zakat 982.

سنن أبى داود – (ج 5 / ص 130)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِى عَبْدِهِ وَلاَ فِى فَرَسِهِ صَدَقَةٌ ».

Dari Abi Hurairah RA. Rosululloh SAW. Bersabda:” tidak ada kewajiban bagi Muslim untuk mengeluarkan sodaqoh (zakat) dalam budak yang ia miliki dan kuda (kendaraan),”

Dalam kitab Majmu’ Juz 5 hal. 303. dijelaskan karena keduanya hanya untuk Zinah (perhiasan) dan transportasi harian, bukan untuk An-Nama’ (budidaya / meraup keuntungan).

PEMBAGIAN ZAKAT

Zakat mempunyai kehususan, zaitu dari ummat Islam oleh umat Islam dan untuk umat Islam dengan sasaran khusus, seperti tersebut dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 60, bahwa yang berhak menerima harta zakat (Mustahiq )adalah : Fakir, Miskin, Amil, Muallaf, Ghorimin, Sabilillah dan Ibnu Sabil.

Betapa pentingnya ibadah zakat bagi kesejahteraan umat, Ibadah yang bersifat individual tetapi mempunyai dampak social kemasyarakatan yang amat luas. Itulah sebabnya betapa pentingnya menumbuhkan kesadaran umat untuk membayar zakat, disamping itu, agar zakat lebih berdaya guna dan berhasil guna, perlu pengelolaan yang sebaik-baiknya.

BEBERAPA PENDAPAT TENTANG SEBAGIAN ASNAF.

Al-Fuqoro’

كفاية الآخيار جز 1 ص 197

وحد الفقير هو الذي لا مال له ولا كسب أو له مال أو كسب ولكن لا يقع موقعاً من حاجته كمن يحتاج إلى عشرة مثلاً ولا يملك إلا درهمين، وهذا لا يسلبه اسم الفقر، وكذا ملك الدار التي يسكنها والثوب الذي يتجمل به لا يسلبه اسم الفقر،

Definisi Faqir : Orang yang tidak punya harta dan tidak punya pekerjan, atau; punya harta dan pekerjaan akan tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhannya, seperti orang yang kebutuhan harian 10.000 namun hanya mampu meraih 2000, maka hal ini tetap dinamakan Faqi, begitu pula punya rumah dan pakaian tetapi kebutuhannya selalu tidak mencukupi itu juga tetap dimakan Faqir ( Kifayatul Ahyar I / 197)

Pendapat lain Tentang orang mencari Ilmu , boleh menerima zakat :

كفاية الآخيار جز 1 ص 197

ولو قد ر على الكسب إلا أنه مشتغل بالعلوم الشرعية ولو أقبل على الكسب لا نقطع عن التحصيل حلت له الزكاة على الصحيح المعروف،

“Jika orang mampu bekerja, namun dia disibukkan dengan Ilmu Syari’at (belajar/mengajar ngaji) jika dia disibukkan dengan pekerjaan maka tidak akan hasil Ilmu. Baginya boleh menerima Zakat menurut Qoul Shohih Al-Ma’ruf” ( Kifayatul Ahyar I / 197).

Dalam Kitab Al-Majmu’ VI / 177 dikatakan:

المجموع جز 6 ص 177

ولو قدر على كسب يليق بحاله إلا أنه مشتغل بتحصيل بعض العلوم الشرعية بحيث لو أقبل على الكسب لانقطع عن التحصيل حلت له الزكاة لأن تحصيل العلم فرض كفاية.

“Para Ulama’ berkata : jika dia mampu bekerja sesuai dengan martabatnya, namun dia disibukkan dengan mencari sebagian Ilmu Syariat, sekira dia bekerja maka akan sulit menghasilkan Ilmu, maka halal baginya mendapat Zakat, karena melakukan Fardlu Kifayah.” (Al-Majmu’ VI / 177)

Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin (Roddul Muhtar) III / 358, Menyamakan kedudukan orang mencari Ilmu dengan orang yang perang. Dan juga memperbolehkan pemberian zakat kepada anak kecil, ketika anak itu orang tuanya tidak mampu (Roddul Muhtar III/224).

PENGELOLAAN ZAKAT

Pada dasarnya pembayaran zakat dilaksanakan sesuai dengan harta yang dizakati, begitu juga pembagiannya sehingga harta zakat tersebut sudah menjadi hal yang baku tidak bisa dikembangkan macam-macamnya, hal ini sesuai dengan pendapat madzhab Syafi’i.

Imam Ibnu Hajar dari Madzhab Syafi’ie menyarankan jika ingin memberikan zakat dengan bentuk lain (diberdayakan) agar Taqlid (mengikuti) pendapat yang memperbolehkan. Ibnu Ziyad berkata dalam Ftwanya, mengutip Fatwa Imam Al-Bulqini yang memperbolehkan pemberian zakat dalam bentuk lain asalkan lebih bermanfaat bagi Mustahiqqin (Penerimanya).

Lihat Bughyah al-Mustarsyidin Hal. 109

بغية المسترشدين ص 109

(مسألة): أفتى البلقيني بجواز إخراج الفلوس الجدد المسماة بالمناقير في زكاة النقد والتجارة وقال: إنه الذي أعتقده وبه أعمل وإن كان مخالفاً لمذهب الشافعي، والفلوس أنفع للمستحقين وأسهل، وليس فيها غش كما في الفضة المغشوشة، ويتضرر المستحق إذا وردت عليه ولا يجد لها بدلاً اهـ. ويسع المقلد تقليده لأنه من أهل التخريج والترجيح، لا سيما إذا راجت الفلوس وكثرت رغبة الناس فيها، وقد سلف البلقيني في ذلك البخاري وهو معدود من الشافعية، فإنه قال في صحيحه باب العروض في الزكاة،

“Al Bulqini memberi fatwa dengan diperbolehkannya mengeluarkan mata uang baru dalam zakat emas-perak dan perdagangan., uang tersebut dikenal dengan manaqir. Al Bulqini berkata: Inilah yang saya yakini dan saya amalkan, meski tidak sesuai dengan madzhab Syafii, (karena) uang lebih bermanfaat dan praktis bagi penerima zakat, dan dalam membayar zakat dengan uang tersebut tidak akan terjadi kerugian sebagaimana dalam perak pecahan, dan mustahik akan merasa dirugikan ketika tidak ditemukan pengganti uang. Dalam hal ini siapapun diberi keleluasaan untuk mengikuti pendapat Al Bulqini karena dia termasuk ulama ahli takhrij dan tarjih dalam madzhab Syafii, terlebih ketika mata uang sedang ramai diperdagangkan dan digandrungi oleh banyak orang. Sebelum Al Bulqini, Imam Bukhari berpendapat seperti itu di dalam kitab Shahihnya, sementara beliau termasuk pengikut madzhab Syafiiyah.”

Dalam kitab Majmu’ Juz VI / 164 dijelaskan, bahwa bagi pengelola zakat atau Imam tidak diperkenankan menasarufkan (mendayagunakan) zakat tanpa seizin mustahiqnya terlebih dahulu. Oleh sebab itu maka ada celah helah hokum apa bila harata zakat itu akan diberdayakan, maka harus jelas jumlahnya berapa yang kekmudian diikrarkan kepada calon penerimanya. Hal ini yang perlu disikapi dan menjadi perhatian.

المجموع جز 6 ص 164

قال المصنف رحمه الله تعالى: ولا يجوز للساعي ولا للإمام أن يتصرف فيما يحصل عنده من الفرائض حتى يوصلها إلى أهلها، لأن الفقراء أهل رشد لا يولي عليهم، فلا يجوز التصرف في مالهم بغير إذنهم

“Tidak boleh bagi pengelola zakat atau pemerintah untuk mengelola harta zakat sehingga telah diberikan kepada pihak penerimanya. Karena orang-orang faqir orang yang mandiri (dalam hal pengelolaan) dan tidak boleh untuk diatur orang lain. Dengan demikian siapapun tidak boleh mengelola harta mereka tanpa seizing mereka.”

بغية المسترشدين ص 105

ويجوز تقليد هؤلاء في نقلها ودفعها إلى شخص واحد، كما أفتى به ابن عجيل وغيره،

Dan diperbolehkan mengikuti pendapat para ulama dalam hal memindah zakat (ke daerah lain) atau memberikan harta zakat kepada satu orang, seperti yang difatwakan oleh Ibnu Ujail dan yang lain.

المحموع جز 6 ص 172

وقال الحسن البصري وعطاء وسعيد بن جبير والضحاك والشعبي والثوري ومالك وأبو حنيفة وأحمد وأبو عبيد : له صرفها إلى صنف واحد. قال ابن المنذر وغيره: وروي هذا عن حذيفة وابن عباس . قال أبو حنيفة : وله صرفها إلى شخص واحد من أحد الأصناف

“Abuhanifah berpendapat; boleh baginya menasarufkan zakat pada seorang dari salah satu Asnaf yang berhak menerima.”

Melihat Ibarat diatas, maka praktek untuk mendapatkan izin dari mustahiq tidak harus semua mustahiq (yang berhak menerima) zakat mengizini, bahkan salah satu dari mereka menerima dan kemudian mengizini untuk dikembangkan agar lebih meluas itu bisa jadi dan itu sah-sah saja.

PENERIMAAN BANTUAN DARI DANA ZAKAT

Penerimaan bantuan dari dana zakat yang dikelola oleh pemerintah maupun lembaga lain bagi Mustahiqnya (Asnaf Tsamaniyah) atau yang disamakan boleh saja. Namun jika dana tersebut untuk pembangunan maka tidak boleh kecuali menurut Imam Al-Qoffal yang memperbolehkan dana zakat digunakan untuk kemaslahatan umum.

تفسير الرازي جز 16 ص 89

نقل القفال في «تفسيره» عن بعض الفقهاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المساجد،

“Imam Qaffal mengutip dalam tafsirnya dari sebagian ulama fiqih yang memperbolehkan penyaluran (alokasi) harta zakat ke semua bentuk kebaikan, seperti untuk mengkafani mayat, membangun benteng dan membangun masjid.”

SEJARAH ISLAM DALAM PENYALURAN ZAKAT

Pemikiran tentang penyaluran zakat dengan bentuk yang disesuaikan kebutuhan mustahiq zakat, telah terjadi pada masa-masa dahulu, seperti Imam Hanafi dengan konsep zakat yang di uangkan dan Imam Al-Bulqini dengan konsep zakat berupa qimah (kurs).

المحموع جز 6 ص 180-181

المسألة الثانية: في قدر المصروف إلى الفقير والمسكين، قال أصحابنا العراقيون وكثيرون من الخراسانيين: يعطيان ما يخرجهما من الحاجة إلى الغني، وهو ما تحصل به الكفاية على الدوام. وهذا هو نص للشافعي رحمه الله، واستدل له الأصحاب بحديث قبيصة بن المخارق الصحابي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: «لا تحل المسألة إلا لأحد ثلاثة، رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، أو قال سداداً من عيش، ورجل أصابته فاقة حتى يقول ثلاثة من ذوي الحجى من قومه: لقد أصابت فلاناً فاقة فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، أو قال سداداً من عيش، فما سواهن من المسألة يا قبيصة سحت يأكلها صاحبها سحتاً» رواه مسلم في «صحيحه»، والقوام والسداد بكسر أولهما، وهما بمعنى.

قال أصحابنا: فأجاز رسول الله صلى الله عليه وسلّم المسألة حتى يصيب ما يسد حاجته فدل على ما ذكرناه. قالوا: وذكر الثلاثة في الشهادة للاستظهار لا للاشتراط قال أصحابنا: فإن كان عادته الاحتراف أعطى ما يشتري به حرفته أولا آلات حرفته، قلت قيمة ذلك أم كثرت، ويكون قدره بحيث يحصل له من ربحه ما يفي بكفايته غالباً تقريباً. ويختلف ذلك باختلاف الحرف والبلاد والأزمان والأشخاص. وقرب جماعة من أصحابنا ذلك فقالوا: من يبيع البقل يعطى خمسة دراهم أو عشرة، ومن حرفته بيع الجوهر يعطى عشرة آلاف درهم مثلاً إذا لم يتأت له الكفاية بأقل منها. ومن كان تاجراً أو خبازاً أو عطاراً أو صرافاً أعطى بنسبة ذلك، ومن كان خياطاً أو نجاراً أو قصاراً أو قصاباً أو غيرهم من أهل الصنائع أعطى ما يشتري به الآلات التي تصلح لمثله، وإن كان من أهل الضياع يعطى ما يشتري به ضيعة أو حصة في ضيعة تكفيه غلتها على الدوام.

قال أصحابنا: فإن لم يكن محترفاً ولا يحسن صنعة أصلاً ولا تجارة ولا شيئاً من أنواع المكاسب أعطي كفاية العمر الغالب لأمثاله في بلاده ولا يتقدر بكفاية سنة

“Masalah Kedua tentang kisaran harta yang diberikan kepada fakir miskin. Menurut ulama Iraq dan khurasan (Iran), mereka diberikan harta zakat sehingga mereka terlepas dari kemiskinannya, yaitu untuk mencukupi kebutuhan selama hidupnya. Ini sesuai pendapat Imam Syafii. Pendapat tersebut berdasarkan hadis Qabishah bin Mukhariq bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Meminta-minta tidak boleh kecuali bagi tiga orang, yaitu orang yang terbebani tanggungan, maka boleh baginya untuk mengemis hingga dia mendapatkannya dan tidak meminta lagi. Atau orang yang hartanya hilang karena musibah, maka boleh baginya untuk mengemis hingga memenuhi kebutuhannya. Atau orang yang jatuh miskin, dan menurut tiga orang yang pandai dia memang jatuh miskin, maka boleh baginya untuk mengemis hingga memenuhi kebutuhannya. Selain yang tiga itu, wahai Qabishah, adalah harta haram yang dimakan oleh pemiliknya”. Ulama Syafiiyah berkata: dengan demikian Rasul Saw memperbolehkan meminta-minta hingga bias memenuhi kebutuhannya. Ashabus Syafii berkata: Jika mustahiq tersebut terbiasa dengan kerja, maka penyaluran zakat untuk orang tersebut dibelikan untuk keperluan atau alat-alat pekerjaanya, baik harganya murah atau mahal, dan kadar yang diperoleh sekira bias diambil keuntungan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya secara wajar. Dan pemberian itu jelas berbeda antara jenis pekerjaannya, tempat, masa dan pelakunya. Para ulama memberi sebuah gambaran dalam hal ini: Bagi penjual bawang merah diberi zakat antara 5-10 dirham. Bagi penjual mutiara diberi zakat 1000 dirham, jika memang harus menerima sekian banyaknya. Sementara pedagang, pengrajin roti, pembuat minyak wangi atau penukar uang, diberikan sesuai dengan profesinya. Sedangkan bagi penjahit, panadai besi dan pekerja lainnya diberikan zakat untuk membeli peralatan pekerjaannya tersebut. Bagi orang-orang yang menganggur maka dibelikan sebidang tanah yang bias diambil keuntungannya secara terus-menerus. Dan jika penerima zakat tersebut sama sekali tidak memiliki keterampilan dalam bidang pekerjaan apapun, maka dia diberi zakat yang bias mencukupi usia rata rata manusia (sekitar 60 tahun), dan tidak dapat diperkirakan dengan batas satu tahun.”

SOLUSI NAHDLIYIN (LBM NU Jawa Timur)

 

Kepercayaan dan Cara Menguburkan Ari-Ari

Bagi masyarakat Nusantara, Islam tidak lagi dipandang sebagai ajaran asing yang harus difahami sebagaimana mula asalnya. Islam telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan keseharian, mulai dari cara berpikir, bertindak dan juga bereaksi. Sehingga Islam di Nusantara ini memiliki karakternya tersendiri. Sebuah karakteristik yang kokoh dengan akar tradisi yang mendalam. Yang dibangun secara perlahan bersamaan dengan niat memperkenalkan Islam kepada masyarakat Nusantara oleh para pendakwah Islam di zamannya.Diantara tradisi yang hingga kini masih berlaku dalam masyarakat Islam Nusantara, khususnya di tanah Jawa adalah menanam ari-ari setelah seorang bayi dilahirkan dengan taburan bunga di atasnya. Atau dengan menyalakan lilin di malam hari. Apakah Islam pernah mengajarkan hal yang demikian?

Menanam ari-ari (masyimah) itu hukumnya sunah. Adapun menyalakan lilin dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya haram karena dianggap sebagai tindakan membuang-buang harta (tabdzir) yang tak ada manfaatnya.

Mengenai anjuran penguburan ari-ari, Syamsudin Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj menerangkan

وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا.

“Dan disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya”.

Sedangakn pelarangan bertindak boros (tabdzir) Al-bajuri dalam Hasyiyatul Bajuri berkata:

(المُبَذِّرُ لِمَالِهِ) أَيْ بِصَرْفِهِ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ (قَوْلُهُ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ) وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَيْهِ لاَ عَاجِلاً وَلاَ آجِلاً فَيَشْمَلُ الوُجُوْهَ المُحَرَّمَةَ وَالمَكْرُوْهَةَ.

“(Orang yang berbuat tabdzir kepada hartanya) ialah yang menggunakannya di luar kewajarannya. (Yang dimaksud: di luar kewajarannya) ialah segala sesuatu yang tidak berguna baginya, baik sekarang (di dunia) maupun kelak (di akhirat), meliputi segala hal yang haram dan yang makruh”.

Namun seringkali penyalaan lilin ataupun alat penerang lainnya di sekitar kuburan ari-ari dilakukan dengan tujuan menghindarkannya dari serbuan binatang malam (seperti tikus dkk). Maka jika demikian hukumnya boleh saja.

 

KEPUTUSAN HASIL BAHTSUL MASAIL MUSYKER PWNU JATIM. KOMISI C

1. Kreteria Faham Keagamaan Sempalan

Diskripsi Masalah

Konflik di akar rumput (masyarakat lapis bawah) sering dipicu oleh klaim faham keagamaan tertentu dianggap sesat, menyimpang atau berperilaku bid’ah. Seringkali sulit diupayakan titik temu karena masing-masing kelompok menganggap dirinya benar.

Pertanyaan
a.Adakah kriteria normatif syar’i guna memastikan bahwa faham keagamaan tertentu sesat, menyimpang atau tergolong bid’ah, baik pada aspek aqidah, ibadah, perilaku keagamaan dan tradisi budaya yang dilestarikan ?

Rumusan Jawaban :

Ada, manakala sebuah aliran itu tidak sesuai dengan ruh/nafas quran, alhadits, ijma’ ataupun atsar maka disebut bid’ah dlolalah/sesat.

Dasar Pengambilan Hukum:

Sulam al Taufiq Halaman 4
ان كل اعتقاد او فعل او قول يدل علي استهانة او استخفاف بالله او كتبه رسله او ملائكته او شعائره او معالم دينه او احكامه او وعده او وعيجه كفر

Al Milal wa al Nihal Halaman 9
واخبر النبي عليه السلام : ستفترق امتي علي ثلاث و سبعين فرقة الناجية منها واحدة والباقون هلكي قيل ومن الناجية؟ قال اهل السنة والجماعة قيل وماالسنة والجماعة ؟ قال: ما أنا عليه اليوم واصحابي

Al Kawkab al Azhar Sharh al Fiqh al Akbar Halaman 32
(فصل) واعلموا أن اجماع علماء الأمة علي حكم الشيء بالصحة او الفساد فهو حق مقطوع به لايجوز مخالفهم ويجب علينا اتباعهم وقال النبي صلي الله عليه واله وسلم: من فارق الجماعة قدر شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

Ianat al Thalibin 1 halaman 313
وقال ابن حجر في فتح المبين؛ في شرح قوله: «من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد» ، ما نصه: قال الشافعي رضي الله عنه: ما أحدث وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة، وما أحدث من الخير ولم يخالف شيئاً من ذلك فهو البدعة المحمودة.

Bughyat al Musytarsyidin halaman 106
ومنها من حكم بإيمانه لا يكفر إلا إذا تكلم أو اعتقد أو فعل ما فيه تكذيب للنبي في شيء مجمع عليه ضرورة، وقدر على تعقله، أو نفي الاستسلام لله ورسوله، كالاستخفاف به أو بالقرآن

Roudloh al Thalibin X halaman 64
وكذا من جحد جواز بعثة الرسل أو أنكر نبوة نبي من الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم أو كذبه أو جحد آية من القرآن مجمعا عليها أو زاد في القرآن كلمة واعتقد أنها منه أو سب نبيا أو استخف به أو استحل محرما بالإجماع كالخمر واللواط أو حرم حلالا بالإجماع
—— ————————–

 

b.Kecenderungan mengkafirkan (takfiri) yang bersifat terbuka, atau bithanah/taqiyyah, menuduh tidak kaffah bila belum menformalkan syari’at, mungkinkah dieliminasi lewat solusi al-taqribu bayna al-madzahib wa al-thaifiyah ?

Rumusan Jawaban :

Tafsil : dalam hal aqidah tidak mungkin, hal-hal yang bersifat furu’iyah masih mungkin dilakukan taqrib bainal madzahib.
Dasar Pengambilan Hukum

Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuaitiyah I halaman 2835
ما يجب على المسلمين تجاه أهل البدعة- يجب على المسلمين من أولي الأمر وغيرهم أن يأمروا أهل البدع بالمعروف وينهوهم عن المنكر ويحضّوهم على اتّباع السّنّة والإقلاع عن البدعة والبعد عنها.لقوله تعالى: {ولْتَكُنْ منكم أُمّةٌ يَدْعون إلى الخيرِ وَيَأْمرون بالمعروفِ ويَنْهَونَ عن المنكَرِ وأولئكَ هُمُ المفلحون} ولقوله تعالى: {والمؤمنونَ والمؤمناتُ بعضُهمْ أَوْلياءُ بعضٍ يَأْمُرونَ بِالمَعْروفِ ويَنْهَوْن عن المنكَرِ}.- مراحل الأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر لمنع البدعة.أ- التّعريف ببيان الصّواب من الخطأ بالدّليل.ب- الوعظ بالكلام الحسن مصداقاً لقوله تعالى: {اُدْعُ إلى سبيلِ ربّك بالحِكْمَةِ والمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ}.ج- التّعنيف والتّخويف من العقاب الدّنيويّ والأخرويّ بيان أحكام ذلك في أمر بدعته. د- المنع بالقهر مثل كسر الملاهي وتمزيق الأوراق وفضّ المجالس. التّخويف والتّهديد بالضّرب الّذي يصل إلى التّعزير وهذه المرتبة لا تنبغي إلاّ للإمام أو بإذنه لئلاّ يترتّب عليها ضرر أكبر منها.وللتّفصيل يرجع إلى مصطلح » الأمر بالمعروف والنّهي عن المنكر«معاملة المبتدع ومخالطته»- إذا كان المبتدع غير مجاهرٍ ببدعته ينصح ولا يجتنب ولا يشهّر به لحديث الرّسول :« مَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللّهُ في الدّنيا والآخرة. وأمّا إذا كان مجاهراً بشيءٍ منهيٍّ عنه من البدع الاعتقاديّة أو القوليّة أو العمليّة- وهو يعلم ذلك – فإنّه يسنّ هجره وقد اشتهر هذا عند العلماء.

Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuaitiyah VIII hal 102
والبطانة اصطلاحا : خاصة الرجل المقربون الذين يفضي إليهم بأسراره

Bughyat al Musytarsyidin 128
مسألة: ي): من القواعد المجمع عليها عند أهل السنة أن من نطق بالشهادتين حكم بإسلامه وعصم دمه ومالـه، ولم يكشف حالـه، ولا يسأل عن معنى ما تلفظ به. ومنها أن الإيمان المنجي من الخلود في النار التصديق بالوحدانية والرسالة، فمن مات معتقداً ذلك ولم يدر غيره من تفاصيل الدين فناج من الخلود في النار، وإن شعر بشيء من المجمع عليه وبلغه بالتواتر لزمه باعتقاده إن قدر على تعقلـه. ومنها من حكم بإيمانه لا يكفر إلا إذا تكلم أو اعتقد أو فعل ما فيه تكذيب للنبي في شيء مجمع عليه ضرورة، وقدر على تعقلـه، أو نفي الاستسلام للـه ورسولـه، كالاستخفاف به أو بالقرآن. ومنها أن الجاهل والمخطىء من هذه الأمة لا يكفر بعد دخولـه في الإسلام بما صدر منه من المكفرات حتى تتبين لـه الحجة التي يكفر جاحدها وهي التي لا تبقى لـه شبهة يعذر بها

Mafahim Yajibu an Tushohhah halaman 5
يخطئ كثير من الناس أصلحهم الله في فهم حقيقة الأسباب التي تخرج صاحبها عن دائرة الإسلام وتوجب عليه الحكم بالكفر فتراهم يسارعون إلي الحكم علي المسلم بالكفر لمجرد المخالفة حتى لم يبق من المسلمين علي وجه الأرض إلا القليل ونحن نتلمس لهؤلاء العذر تحسينا للظن ونقول لعل نيتهم حسنة من دافع واجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولكن فاتهم أن واجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لابد في أدائه من الحكمة والموعظة الحسنة وإذ اقتضى المجادلة يجب أن تكون بالتي هو أحسن –إلي ان قال- وقد انعقد الإجماع علي منع تكفير أحد من أهل القبلة إلا بما فيه نفي الصانع القادر جل وعلا أو شرك جلي لايحتمل التأويل أو إنكار النبوة أو إنكار ماعلم من الدين بالضرورة أو إنكار متواتر أو مجمع عليه ضرورة من الدين.

———–

 

c. Budaya ngelarung sesajen, memasang tumbal, tidak melewati gunung pegat dan sejenisnya, apakah berlawanan dengan aqidah ?

Rumusan Jawaban :

Budaya di Indonesia sebelum Islam banyak sekali, maka senafas dengan hadits nabi “inni bu’itstu li utammima makaarimal akhlaq” dimana tersirat didalamnya pengakuan terhadap budaya/akhlaq sebelum diutusnya nabi, maka selama meyakini bahwa muatsirnya adalah Allah, melestarikan budaya tersebut tidak bertentangan dengan aqidah, dengan catatan :
a.budaya yang dalam proses pelaksanaannya mengandung unsur tabdzir maal harus diluruskan kearah yang dibenarkan oleh syara’ (misal larung dijadikan sodaqah fuqara dll).
b.Bila ada indikasi perilaku/proses ritualnya menunjukkan keyakinan bahwa muatsirnya selain Allah maka tidak dapat ditolelir.

Dasar Pengambilan Hukum

Ghoyat Talkhis al Murad min Fatawa Ibn Ziyad I halaman 149
مسألة): إذا سأل رجل آخر: هل ليلة كذا أو يوم كذا يصلح للعقد أو النقلة؟ فلا يحتاج إلى جواب، لأن الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجراً بليغاً، فلا عبرة بمن يفعله، وذكر ابن الفركاح عن الشافعي أنه إن كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله، ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا، والمؤثر هو الله عز وجل، فهذا عندي لا بأس به، وحيث جاء الذم يحمل على من يعتقد تأثيرالنجوم وغيرها من المخلوقات، وأفتى الزملكاني بالتحريم مطلقاً، وأفتى ابن الصلاح بتحريم الضرب بالرمل وبالحصى ونحوها، قال حسين الأهدل: وما يوجد من التعاليق في الكتب من ذلك فمن خرافات بعض المنجمين والمتحذلقين وترّهاتهم لا يحل اعتقاد ذلك، وهو من الاستقسام بالأزلام، ومن جملة الطيرة المنهيّ عنها، وقد نهى عنه عليّ وابن عباس رضي الله عنهما.

Bushro al Karim halaman 703
ويحرم الذبح تقربا الى سلطان او غيره عند لقائه لما مر فإن قصد الإستبشر بقدومه فلا بأس او ليرضى غضبانا جاز لأنه لايتقرب به الى الغضبان بحلاف الذبح لنحو الصنم ولو ذبح للجن حرم الا انة قصد التقرب الى الله ليكفيه شره فيسن بل لو ذبح لا بقصد التقرب الى الله ولا الى الجن بل لدفع شرهم فهو كالذبح لإرضاء غضبان أفاده في الروض وشرحه ونقل في الأخيرة عن ابي محرمة وغيره الحرمة ولكن ما مر عن شرح الروض من عدمها هو القياس كما مر

Hamisy Fath al Wahhab II halaman 15
ومنها الإستعانة بالأرواح الأرضية بواسطة الريا ضة وقراءة العزائم الى حيث يخلق الله تعالى بمص ذلك على سبيل جرى العادة بعض خوارق وهذا النوع قالت المعتزلة انه كفر لأنه لا يمكن معه معرفة صدق الرسل عليهم الصلاة والسلام للإلتباس ورد بأنه العادة الإلهية جرت بصرف المعارضين للرسل أن اظهار خارق ثم التحقيق ان يقال ان كان من يتعاطى ذلك خيرا متشرعا في كامل ما يأتى ويدر وكان من يستعين به في الأرواح الخيرة وكانت عزائمة لا تخالف الشرع وليس لما يظهر على يده من الخوارق ضرر شرعي على احد فليس ذلك من السحر بل من الأسرار والمعونة وإلا فهو حرام ان تعلمه ليعمل به بل يكفر ان اعتقد حل ذلك فان تعلمه ليتوقاه فمباح وإلا فمكروه

Qodlo’ al Adab halaman 441
والضابط فى إضاعة المال أن يكون لا لغرض دينى ولا دنياوى. فمتى انتفى هذان الغرضان من جميع وجوههما حرم قطعا قليلا كان المال أو كثيرا. ومتى وجد واحد من الغرضين وجودا له مال وكان الإنفاق لائقا بالحال ولا معصية فيه جاز قطعا. إهـ.

Siroj al Thalibin I halaman 110
ومن الأول ايضا ماعم به الإبتلاء من تزيين الشيطان للعامة تخلية حائط اي بأن يخلقوه بالخلوق وهو نوع من الطب او تخليط عمود وتعظيم نحو عين او حجر او شجرة لرجاء شفاء او قضاء حجاة وقبائح في هذا ظاهرة غنية من الإيضاح والبيان اهـ.

Siraj al Thalibin I halaman 58
اما وضع الطعام والأزهار في الطروق والمزارع اوالبيوت لروح الميت وغيره في الأيام الممعتادة كيوم العيد ويوم الجمعة وغيرهما وكل ذلك من الأمور المحرمة ومن عادة الجاهلية ومن عمل اهل الشرك.

2. Kekerasan Atas Nama Agama
Diskripsi Masalah
Stigma “atas nama agama” muncul karena kelompok pelaku kekerasan terdiri atas komunitas beragama. Motif dilakukan tindak kekerasan antara lain pelecehan lambang kebesaran agama (pembakaran mushaf Al-Qur’an), reaksi atas penyimpangan ajaran (Ahmadiyah, Syi’ah, teologi Lia Eden), faham keagamaan yang eksklusif (LDII, Pengamal Shalawat Wahidiyah), pembelaan diri (MTA) dan motifasi lain. Pelaku mengatasnamakan tindakannya sebagai bentuk respon terhadap kemungkaran. Contoh praktisnya pembakaran lokalisasi PSK yang legal, sweeping tempat hiburan malam dan warung makanan di siang hari Ramadhan, perusakan tempat ibadah aliran sesat, penumpahan cairan legen, usaha menggagalkan aktifitas organisasi kelompok yang berseberangan. Tindakan reaktif itu lebih didorong oleh sikap pihak berwajib (aparat keamanan) terkesan membiarkan, melindungi atau menfasilitasi dan lamban mengambil sikap.
Pertanyaan
Apakah batas suatu maksiat tergolong “kemungkaran” dan pada bentuk mana layak ditindak dengan kekerasan ?
Rumusan Jawaban :

Kemungkaran adalah segala bentuk perbuatan yang dilarang oleh syariat. Kemungkaran yang boleh ditindak dengan kekerasan adalah kemungkaran yang tidak bisa dihentikan dengan cara persuasif. Merubah kemungkaran dengan cara kekerasan itu harus dengan cara yang tidak menimbulkan kemungkaran baru.
Dasar Pengambilan Hukum
1.إحياء علوم الدين الجزء 2ص 324
الأول كونه منكرا ونعني به أن يكون محذور الوقوع في الشرع وعدلنا عن لفظ المعصية إلى هذا لأن المنكر أعم من المعصية إذ من رأى صبيا أو مجنونا يشرب الخمر فعليه أن يريق خمره ويمنعه وكذا إن رأى مجنونا يزني بمجنونة أو بهيمة فعليه أن يمنعه منه وليس ذلك لتفاحش صورة الفعل وظهوره بين الناس بل لو صادف هذا المنكر في خلوة لوجب المنع منه وهذا لا يسمى معصية في حق المجنون إذ معصية لا عاصي بها محال

2.الفقه الإسلامي وأدلته الجزء 8 صـ 473
والمنكر: هو كل معصية حرمتها الشريعة سواء أوقعت من مكلف أم غير مكلف ، فمن رأى صبياً أو مجنوناً يشرب خمراً فعليه أن يمنعه ويريق خمره، ومن رأى مجنوناً يزني بمجنونة أو يأتي بهيمة، فعليه أن يمنع ذلك ، وعرف الغزالي المنكر: بأنه كل محذور الوقوع في الشرع
.
3.إسعاد الرفيق ~الجزء الأول صـ 66-67
(وقهره على) ترك (ذلك) والإتيان بالواجب عليه إن كان تاركا له لكن لامطلقا بل (إن قدر ) المنكر أو الآمر (عليه) أى على ذلك التغيير وما ذكر معه ويجب عليه أن يتوقى فى نحو إراقة الخمر وكسر آلة اللهو الكسر الفاحش إلا إذا لم ترق إلابه أو خشى أن يدركه الفساق ويمنعوه فيفعل حينئذ ما لا بد منه ولو بحرق وغرق وللإمام ذلك مطلقا زجرا وتعزيرا وله فيمن لاينكف بخشن الكلام أن يضربه بنحو يده فإن لم ينكف إلا بشهر سلاح منه وحده أو مع جماعة فعل ذلك لكن بإذن الإمام على المعتمد

4.بغيةالمسترشدين~صـ 251-252
الرابع : نفس الاحتساب وله درجات : التعريف ، ثم الوعظ بالكلام اللطيف ، ثم السب والتعنيف ، ثم المنع بالقهر ، والأولان يعمان سائر المسلمين ، والأخيران مخصوصان بولاة الأمور ، زاد ج : وينبغي كون المرشد عالماً ورعاً وحسن الخلق ، إذ بها تندفع المنكرات وتصير الحسبة من القربات ، وإلا لم يقبل منه ، بل ربما تكون الحسبة منكرة لمجاوزة حدّ الشرع ، وليكن المحتسب صالح النية ، قاصداً بذلك إعلاء كلمة الله تعالى ، وليوطن نفسه على الصبر ، ويثق بالثواب من الله تعالى

 

KEPUTUSAN HASIL BAHTSUL MASAIL MUSYKER PWNU JATIM. KOMISI B

1. Pemberian Calon Untuk Pemilih
Deskripsi Masalah :

PILPRES, PILKADA, PILLEG, bahkan pemilihan ketua NU, ternyata telah menjadi kesempatan yang menguntungkan bagi kader, tokoh masyarakat dan orang yang punya hak pilih, untuk mencari keuntungan mendapatkan uang. Mereka yang menerima berdalih sebagai shadaqah, hibah, atau hadiah, dan untuk yang tidak mau menerima, karena menganggap pemberian itu termasuk risywah.
Pertanyaan:
a.Adakah hal yang membedakan antara hibah, shadaqah, hadiah dan rosywah?
b.Katagori apakah pemberian seorang calon kepada mereka, mengingat mereka memberinya bertujuan agar terpilih (jadi)?

Jawaban a:

Ada perbedaan antara hibah, shadaqah, hadiah, dan risywah, yaitu:
Hibah: Adalah sebuah pemberian dengan bertujuan untuk mendapatkan sebuah pahala atau untuk menolong orang yang membutuhkan dengan disertai sighat (serah terima).

Shadaqah: Sebuah pemberian dengan tujuan untuk mengharapkan pahala atau bertujuan untuk menolong orang yang membutuhkan dengan tanpa disertai sighat.

Hadiah: Adalah sebuah pemberian yang bertujuan untuk memulyakan pada seorang yang diberi dengan tanpa disertai sighat.
Risywah: Adalah sebuah pemberian yang dimaksudkan untuk membenarkan sebuah hal yang batil atau membatalkan sesuatu yang haq.

Dasar Pengambilan Hukum:
روضة الطالبين ج 11 ص 144
فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة

إعانة الطالبين ج 3 ص 144
( والحاصل ) أنه إن ملك لأجل الاحتياج أو لقصد الثواب مع صيغة كان هبة وصدقة وإن ملك بقصد الإكرام مع صيغة كان هبة وهدية وإن ملك لا لأجل الثواب ولا الإكرام بصيغة كان هبة فقط وإن ملك لأجل الاحتياج أو الثواب من غير صيغة كان صدقة فقط وإن ملك لأجل الإكرام من غير صيغة كان هدية فقط فبين الثلاثة عموم وخصوص من وجه

حاشية الجمل ج 5 ص 349
( قوله وحرم قبوله هدية إلخ ) مثل الهدية الضيافة ، وهل يجوز لغير القاضي ممن حضر ضيافته الأكل منها أو لا فيه نظر ، والأقرب الجواز لانتفاء العلة فيه ، ومعلوم أن محل ذلك إذا قامت قرينة على رضا المالك بأكل الحاضرين من ضيافته ، وإلا فلا يجوز لأنه إنما أحضرها للقاضي ، ويأتي مثل ذلك التفصيل في سائر العمال ، ومنه ما جرت العادة به من إحضار طعام لشاد البلد أو نحوه من الملتزم أو الكاتب ا هـ ع ش على م ر ، وسائر العمال مثله في نحو الهدية لكنه أغلظ ولا يلتحق بالقاضي فيما ذكر المفتي ، والواعظ ، ومعلم القرآن والعلم لأنه ليس لهم أهلية الإلزام ، والأولى في حقهم إن كانت الهدية لأجل ما يحصل منهم من الإفتاء والوعظ والتعليم عدم القبول ليكون عملهم خالصا لله تعالى ، وإن أهدي إليهم تحببا وتوددا لعلمهم وصلاحهم فالأولى القبول ، وأما إذا أخذ المفتي الهدية ليرخص في الفتوى فإن كان بوجه باطل فهو رجل فاجر يبدل أحكام الله تعالى ، ويشتري بها ثمنا قليلا ، وإن كان بوجه صحيح فهو مكروه كراهة شديدة ا هـ شرح م ر وقوله وسائر العمال إلخ منهم مشايخ البلدان والأسواق ، ومباشر الأوقاف ، وكل من يتعاطى أمرا يتعلق بالمسلمين ا هـ ع ش عليه

إحياء علوم الدين ج 2 ص 155
الخامس أن يطلب التقرب إلى قلبه وتحصيل محبته لا لمحبته ولا للأنس به من حيث انه أنس فقط بل ليتوصل بجاهه إلى أغراض له ينحصر جنسها وان لم ينحصر عينها وكان لولا جاهه وحشمته لكان لا يهدي إليه فإن كان جاهه لأجل علم أو نسب فالأمر فيه أخف وأخذه مكروه فإن فيه مشابهة الرشوة ولكنها هدية في ظاهرها فإن كان جاهه بولاية تولاها من قضاء أو عمل أو ولاية صدقة أو جباية مال أو غيره من الأعمال السلطانية حتى ولاية الأوقاف مثلا وكان لولا تلك الولاية لكان لا يهدي إليه فهذه رشوة عرضت في معرض الهدية إذ القصد بها فى الحال طلب التقرب واكتساب المحبة ولكن الأمر ينحصر فى جنسه

اتحاف السادة المتقين ج 6 ص 160-161
قال التقي السبكي الهدية لا يقصد بها إلا استمالة القلب والرشوة يقصد بها الحكم الخاص مال القلب أم لم يمل فإن قلت العاقل إنما يقصد استمالة قلب غيره لغرض صحيح أما مجرد استمالة القلب من غير غرض أجر فلا قلت صحيح لكن استمالة القلب له بواعث منها أن ترتب عليه مصلحة مخصوصة معينة كالحكم مثلا فههنا المقصود تلك المصلحة وصارت استمالة القلب وسيلة غير مقصود لأن القصد متى علم بعينه لايقف على سببه فدخل هذا في قسم الرشوة و منها أن ترتب عليه مصالح لا تنحصر إما أخروية كالأخوة في الله تعالى و المحبة وقيل ثوابها و ما أشبه ذلك لعلم أو دين فهذه مستحبة و الإهداء لها مستحب و منه اأن تكون دنيوية كالتوصل بذلك إلى أغراض له لا تنحصر بأن يكون المستمال قلبه صاحب جاه فإن كان جاهه بالعلم والدين فذلك جائز و هل هو جائز بلا كراهة أو بكراهة تنزيه اقتضى كلام الغزالي في الإحياء الثاني و مراد ه في القبول في الهدية وهو صحيح لأنه قد يكون أكل بعلمه أو دينه أما الباذل فلايكره له ذلك وإن كان جاهه بأمر دنيوي فإن لم يكن ولاية بل كان له وجاهة بمال أو صلة عندالأكابر و يقدر على نفعه فهذا لايكره الإهداء إليه لهذا الغرض و أما قبوله فهو أقل كراهة من الذي قبله بل لا تظهر فيه كراهة لأنه لم يأكل بعلمه و لا دينه و إنما هو أمر دنيوي ولم يخرج من حد الهدية فلا كراهة (فإن كان جاهه لولاية تولاها من قضاء أو عمل أو ولاية صدقة أو جباية مال أو غيره من الأعمال السلطانية حتى ولاية الأوقاف مثلا وكان لولا تلك الولاية لكان لايهدي إليه فهذه رشوة عرضت في معرض الهدية إذ القصد بها في الحال طلب التقرب و اكتساب المحبة و لكن لأمر ينحصر في جنسه إذ ما يمكن التوسل إليه بالولايات لايخفي وآية أنه لا ينبغي المحبة أنه لو ولي في الحال غيره لسلم المال إلى ذلك الغير فهذا مما اتفقوا على أن الكراهة شديدة واختلفوا في كونه حراما و المعنى فيه متعارض فإنه دائر بين لهدية المحضة وبين الرشوة المبذولة في مقالبة جاء محض في غرض معين و إذا تعارضت المشابهة القياسية وعضدت الأخبار و الآثار أحدهما تعيين الميل إليه ) وعبارة السبكي في فصل المقال وإن كان جاهه ولاية ولم يقصد حكما منه و إنما قصد استمالة قلبه عسى أن ينتفع به و في مهماته و ينا ل بمحبته خيرا فهذا محل التردد يحتمل أن يقال إنه هدية لكونه ليسله غرض خاص ويحتمل أن يقال هو رشوة لكون المهدى إليه في مظنة الحكم فاستدل الغزالي بحديث ابن اللتبية على التحريم ويكون هذا وإن كان القصد استمالة القلب من قصد خاص خرج من قسم الهدية ودخل في قسم الرشوة بالحديث والذي أقوله أن هذا قسم متوسط بين الهدية والرشوة صورة حكما وإن حكمه أن يجوز القبول ويوضع في بيت المال و حكم ما سواه من الهدايا يؤخذ ويتملكه المهدى له وحكم الرشوة أن لا يأخذ بل يرد إلى صاحبها وإنما صار حكم القسم المتوسط هكذا بالحديث وسراه أنه بالنسبة إلى صورته جاز الأخذ لأغراض المعطى عنه وعد متعلق قصده بعوض خاص و بالنسبة إلى معناه وأن المعطى له نائ عن المسلمين حعلت للمسلين بأن كان وليا عاملا أو قاضيا وإن كان عامل الصدقة جعلت في الصدقات الذي هو نائب عن أصحابها فإن قلت فإذا كان المهدى إليه غير حاكم قلت إن كان نائبه أو حاجبه أو من ندبه وولاه اتصال الأمور و ما أشب ذلك فهو مثله وعلى الجملة كل من تولى ولاية يتعين عليه ذلك الفعل فيها أو يجب وإن لم يتعين كما إذاكان اثنان في وظيفة يحرم على كل منهما أن يأخذ على شغل مما يجب أو يحرم فإن قلت فإن كان مما لايجب و لا يحرم بل يجوز هل يجوز الأخذ عليه قلت هذا في حق المتولى عزيز فإنه يحب عليه رعايةالمصالح فمتى ظهرت مصلحة في شيئ وحب ومتى ظهر خلافها حرم ومتى أشكل وجب النظر فأين يوجد في فعل القاضى ونحوه ممن يلي أمور المسلمين مما يتخير بين فعله وتركه على سبيل التشهى وإن فرض ذلك فيحرم الأخذ عليه أيضا لأنه نائب عن الله تعالى في ذلك الفعل فكما لا يأخذ على حله لايأخذ على فعله وأعني بهذا ما يتصرف فيه القاضي غيرالأحكام من التولية و نحوها فلا يجوز أن يأخذ من أحد شيأ على أن يوليه نيابة قضاء أو مباشرة وقف أو مال يتيم وكذلك لا يجوز له أن يأخذ شيئا على ما يتعاطاه من العقود والفروض والفسوخ وإن لم تكن هذه الأشياء أحكاما بمعنى أنها ليست تنفيذا لما قامت به الحجة بل انشاء تصرفات مبتدأة ولكن الأخذ عليها يمتنع كالحكم لأنه نائب فيهاعن الله تعالى كما هو نائب في الحكم عنه

Jawaban b:
Pemberian tersebut terkategorikan risywah jika bertujuan harus memilih calon tersebut. Dan jika tidak bertujuan demikian maka hukumnya muhtamil antara risywah dan hadiah.

Dasar Pengambilan Hukum:
إحياء علوم الدين ج 2 ص 155
الخامس أن يطلب التقرب إلى قلبه وتحصيل محبته لا لمحبته ولا للأنس به من حيث انه أنس فقط بل ليتوصل بجاهه إلى أغراض له ينحصر جنسها وان لم ينحصر عينها وكان لولا جاهه وحشمته لكان لا يهدي إليه فإن كان جاهه لأجل علم أو نسب فالأمر فيه أخف وأخذه مكروه فإن فيه مشابهة الرشوة ولكنها هدية في ظاهرها فإن كان جاهه بولاية تولاها من قضاء أو عمل أو ولاية صدقة أو جباية مال أو غيره من الأعمال السلطانية حتى ولاية الأوقاف مثلا وكان لولا تلك الولاية لكان لا يهدي إليه فهذه رشوة عرضت في معرض الهدية إذ القصد بها فى الحال طلب التقرب واكتساب المحبة ولكن الأمر ينحصر فى جنسه

المبسوط ج 5 ص 222
(قال) وإذا جعلت المرأة لزوجها جعلا على أن يزيدها في القسم يوما ففعل لم يجز وترجع في ماله لأنها رشته على أن يجور والرشوة حرام , وهذا بمنزلة الرشوة في الحكم وهو من السحت ; فلهذا تسترد ما أعطت وعليه التسوية في القسم , وكذلك لو حطت له شيئا من المهر على هذا الشرط , أو زادها الزوج في مهرها , أو جعل لها جعلا على أن تجعل نوبتها لفلانة فهذا كله باطل ; لأنها بهذا لا يملك الزوج شيئا فلا تستوجب عليه المال بمقابلته ولأنها أخذت الرشوة على أن ترضى بالجور وذلك حرام , فكان الجعل مردودا

العمال والحكام ص 71
ليس المحكم كالقاضي في تحريم أخذ الرزق ونحزه على الحكم كما صرح به ابو الحسن الجوري بضم الجيم وبالراء في شرح مختصر المزني عن ابن سريج حيث قال لو رضي رجلان برجل من الرعية يحكم بينهما في خصومة بينهما ولم يكن حاكما منصوبا للحكم بين الناس ولا سلطانا جاز له أخذ الجعل عليه والفرق بينه وبين الحهكم المنصوب للناس أن الحاكم قد نصب للقيام بهذا الغرض وهذا لذي اختاره لم يلتزم الحكم ولا الحكم بينهما مفروض عليه وقد اختلف العلماء – الى أن قال- ووجه الفرق أن القاضي فيه وصفان الوجوب وكونه نائبا عن الله تعالى في الحكم والالزام به فأخذه أجرة في مقابله أو هدية فيه بيع عدل الله الذي أوجبه بحطام الدنيا كما مر بسطه في الطرف الأول من طرفي الرشوة واما العالم فليس فيه ذلك فلم يحرم أخذه المقابل على أنه لا تهمة تتطرق اليه بالأخذ الجائز بخلاف القاضي.

رد المحتار ج 5 ص 373-374
( قوله : وفيها إلخ ) أي في التتارخانية وهذا مخالف لما ذكره أولا فيها في حق الإمام ويؤيد الأول ما مر عن الفتح من أن تعليل النبي صلى الله عليه وسلم دليل على تحريم الهدية التي سببها الولاية وكذا قوله وكل من عمل للمسلمين عملا حكمه في الهدية حكم القاضي ا هـ . مطلب في حكم الهدية للمفتي واعترضه في البحر بما ذكره الشارح عن التتارخانية وبما في الخانية من أنه يجوز للإمام والمفتي قبول الهدية وإجابة الدعوة الخاصة ثم قال إلا أن يراد بالإمام إمام الجامع : أي وأما الإمام بمعنى الولي فلا تحل الهدية فلا منافاة وهذا هو المناسب للأدلة ؛ ولأنه رأس العمال قال في النهر : والظاهر أن المراد بالعمل ولاية ناشئة عن الإمام أو نائبه كالساعي والعاشر ا هـ . قلت : ومثلهم مشايخ القرى والحرف وغيرهم ممن لهم قهر وتسلط على من دونهم فإنه يهدي إليهم خوفا من شرهم أو ليروج عندهم وظاهر قوله ناشئة عن الإمام إلخ دخول المفتي إذا كان منصوبا من طرف الإمام أو نائبه ، لكنه مخالف لاطلاقهم جواز قبول الهدية له وإلا لزم كون إمام الجامع والمدرس المنصوبين من طرف الإمام كذلك إلا أن يفرق بأن المفتي يطلب منه المهدي المساعدة على دعواه ونصره على خصمه فيكون بمنزلة القاضي لكن يلزم من هذا الفرق أن المفتي لو لم يكن منصوبا من الإمام يكون كذلك فيخالف ما صرحوا به من جوازها للمفتي فإن الفرق بينه وبين القاضي واضح فإن القاضي ملزم وخليفة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في تنفيذ الأحكام فأخذه الهدية يكون رشوة على الحكم الذي يؤمله المهدي ويلزم منه بطلان حكمه والمفتي ليس كذلك وقد يقال : إن مرادهم بجوازها للمفتي إذا كانت لعلمه لا لإعانته للمهدي بدليل التعليل الذي نقله الشارح فإذا كانت لإعانته صدق عليها حد الرشوة لكن المذكور في حدها شرط الإعانة وقدمنا عن الفتح عن الأقضية أنه لو أهداه ليعينه عند السلطان بلا شرط لكن يعلم يقينا أنه إنما يهدي ليعينه فمشايخنا على أنه لا بأس به إلخ وهذا يشمل ما إذا كان من العمال أو غيرهم . وعن هذا قال في جامع الفصولين القاضي لا يقبل الهدية من رجل لو لم يكن قاضيا لا يهدي إليه ويكون ذلك بمنزلة الشرط ثم قال أقول : يخالفه ما ذكر في الأقضية إلخ ، قلت : والظاهر عدم المخالفة ؛ لأن القاضي منصوص على أنه لا يقبل الهدية على التفصيل الآتي فما في الأقضية مفروض في غيره فيحتمل أن يكون المفتي مثله في ذلك ، ويحتمل أن لا يكون والله سبحانه أعلم بحقيقة الحال ، ولا شك أن عدم القبول هو المقبول ورأيت في حاشية شرح المنهج للعلامة محمد الداودي الشافعي ما نصه قال ع ش : ومن العمال مشايخ الأسواق والبلدان ، ومباشرو الأوقاف وكل من يتعاطى أمرا يتعلق بالمسلمين انتهى قال م ر في شرحه : ولا يلحق بالقاضي فيما ذكر المفتي والواعظ ، ومعلم القرآن والعلم ؛ لأنهم ليس لهم أهلية الإلزام ، والأولى في حقهم إن كانت الهدية ، لأجل ما يحصل منهم من الإفتاء والوعظ والتعليم عدم القبول ليكون علمهم خالصا لله تعالى ، وإن أهدي إليهم تحببا وتوددا لعلمهم وصلاحهم فالأولى القبول وأما إذا أخذ المفتي الهدية ليرخص في الفتوى فإن كان بوجه باطل فهو رجل فاجر يبدل أحكام الله تعالى ، ويشتري بها ثمنا قليلا ، وإن كان بوجه صحيح فهو مكروه كراهة شديدة انتهى ، هذا كلامه وقواعدنا لا تأباه ، ولا حول ولا قوة إلا بالله وأما إذا أخذ لا ليرخص له بل لبيان الحكم الشرعي ، فهذا ما ذكره أولا وهذا إذا لم يكن بطريق الأجرة بل مجرد هدية ؛ لأن أخذ الأجرة على بيان الحكم الشرعي لا يحل عندنا ، وإنما يحل على الكتابة ؛ لأنها غير واجبة عليه والله سبحانه أعلم.

الفتاوي الشرعية المسيرة تأليف الشيخ أحمد حسن مسلم ص 239
مانصه (دفع النقود للإنتخاب) السؤال بعض المرشحين للإنتخاب يدفعون النقود لمجموعاته من الناس من أجل إغراء الناخبين به فهل هذه رشوة ؟ الجواب أن إعطاء النقود إغراء للناخب فيبذل صوته لمن يعطيه نقودا عمل خبيث ضار بالأخلاق وضار بمصلحة الوطن وبمصلحة الفرد الناخب والمرشح معا ويعطي صورة في الخارج تسئ إلى سمعة الوطن والمواطنين وحكم ذلك في التنزع أنه يعتبر رشوة لأنه شراء لضمائر الناس و في السنة لعن الراشي المرتشي (الوسيط)

حواشي الشرواني ج 10 ص 138
وسائر العمال مثله في نحو الهدية لكنه أغلظ هذا ماأفتى به جمع و اعتمده السبكي وقول البدر بن جماعة بالحل لهم ضعيف جدا مصادم للحديث المشهور ” هدايا العمال غلول ” (قوله وسائر العمال) هل منهم ناظر الوقف ؟ اهـ سم عبارة ع ش ومنهم مشايخ الأسواق والبلدان و مباشر الأوقاف وكل من يتعاطى أمرا يتعلق بالمسلمين اهـ (قوله وسائر العمال مثله إلخ) و ل ايلتحق بالقاضي فيما ذكر المفتي والواعظ ومعلم القرآن والعلم لأنهم ليس لهم أهلية الإلزام

حاشية الجمل ج 5 ص 349
( قوله وحرم قبوله هدية إلخ ) مثل الهدية الضيافة ، وهل يجوز لغير القاضي ممن حضر ضيافته الأكل منها أو لا فيه نظر ، والأقرب الجواز لانتفاء العلة فيه ، ومعلوم أن محل ذلك إذا قامت قرينة على رضا المالك بأكل الحاضرين من ضيافته ، وإلا فلا يجوز لأنه إنما أحضرها للقاضي ، ويأتي مثل ذلك التفصيل في سائر العمال ، ومنه ما جرت العادة به من إحضار طعام لشاد البلد أو نحوه من الملتزم أو الكاتب ا هـ ع ش على م ر ، وسائر العمال مثله في نحو الهدية لكنه أغلظ ولا يلتحق بالقاضي فيما ذكر المفتي ، والواعظ ، ومعلم القرآن والعلم لأنه ليس لهم أهلية الإلزام ، والأولى في حقهم إن كانت الهدية لأجل ما يحصل منهم من الإفتاء والوعظ والتعليم عدم القبول ليكون عملهم خالصا لله تعالى ، وإن أهدي إليهم تحببا وتوددا لعلمهم وصلاحهم فالأولى القبول ، وأما إذا أخذ المفتي الهدية ليرخص في الفتوى فإن كان بوجه باطل فهو رجل فاجر يبدل أحكام الله تعالى ، ويشتري بها ثمنا قليلا ، وإن كان بوجه صحيح فهو مكروه كراهة شديدة ا هـ شرح م ر وقوله وسائر العمال إلخ منهم مشايخ البلدان والأسواق ، ومباشر الأوقاف ، وكل من يتعاطى أمرا يتعلق بالمسلمين ا هـ ع ش عليه

إعانة الطالبين الجزء3 صـ 144
( والحاصل ) أنه إن ملك لأجل الاحتياج أو لقصد الثواب مع صيغة كان هبة وصدقة وإن ملك بقصد الإكرام مع صيغة كان هبة وهدية وإن ملك لا لأجل الثواب ولا الإكرام بصيغة كان هبة فقط وإن ملك لأجل الاحتياج أو الثواب من غير صيغة كان صدقة فقط وإن ملك لأجل الإكرام من غير صيغة كان هدية فقط فبين الثلاثة عموم وخصوص من وجه.
الحاوي الكبير في الفقه الشافعي ج 20 ص 352
والقسم الثالث: أن يهدي إليه من لم يكن يهاديه قبل الولاية، فهذا على ثلاثة أضرب: أحدها: أن يهدي إليه من يخطب منه الولاية على عمل يقلده، فهذه رشوة تخرج من حكم الهدايا، يحرم عليه أخذها، سواء كان خاطب الولاية مستحقاً لها، أو غير مستحق. وعليه ردها، ويحرم على باذلها إن كان غير مستحق للولاية. وإن كان مستحقاً لها، فإن كان مستغنياً عن الولاية حرم عليه بذلها، وإن كان محتاجاً إليها لم يحرم عليه بذلها.

2. Zakat Tanaman Karet dan Kelapa Sawit
Deskripsi Masalah:

Zakat adalah harta yang di ambil dari orang kaya untuk fuqara’, masakin dan lain-lain, namun dalam kitab Syafi’iyyah tidak hanya melihat sisi kekayaan saja, tetapi juga melihat jenis hartanya, yaitu mawasyi (ternak), zuru’ (tanaman biji-bijian), tsimar (buah-buahan), naqdain (emas-perak), ma’dan (tambang emas-perak), rikaz (emas-perak peninggalan sebelum Islam) dan tijarah (perniagaan). Sementara tanaman semisal karet, kelapa sawit dan semacamnya hasilnya melebihi jenis-jenis harta zakat di atas.

Pertanyaan:

Tanaman karet dan kelapa sawit bila diwajibkan zakat, dikategorikan zakat apa? Berapa nishab dan kadar zakatnya?

Jawaban:

Masuk dalam kategori zakat zuru’ dan tsimar (tanaman dan buah-buahan), yang tidak ada nishabnya, dan kadar zakatnya adalah 1/10 (10%) atau 1/5 (5%). Hal ini berdasarkan pendapat Imam Abu Hanifah.

Dasar Pengambilan Hukum:

المجموع شرح المهذب ج 5 ص 456

فرع في مذاهب العلماء في هذه المذكورات مذهبنا أنه لا زكاة في غير النخل والعنب من الأشجار ولا في شيء من الحبوب إلاّ فيما يقتات ويدخر ولا زكاة في الخضراوات، وبهذا كله قال مالك وأبو يوسف ومحمد . وقال أبو حنيفة وزفر: يجب العشر في كل ما أخرجته الأرض إلاّ الحطب والقصب الفارسي والحشيش الذي ينبت بنفسه، وقال العبدري : وقال الثوري وابن أبي ليلى : ليس في شيء من الزروع زكاة إلاّ التمر والزبيب والحنطة والشعير وقال أحمد : يجب العشر في كل ما يكال ويدخر من الزرع والثمار. فأما ما لا يكال كالقثاء والبصل والخيار والبطيخ والرياحين وجميع البقول فليس فيها زكاة، وأوجب أبو يوسف الزكاة في الحناء وقال محمد: لا زكاة وقال داود : ما أنبتته الأرض ضربان: موسق وغيره، فما كان موسقاً وجبت الزكاة فيما بلغ منه خمسة أوسق ولا زكاة فيما دونها، وما كان غير موسق ففي قليله وكثيره الزكاة. وأما الزيتون فقد ذكرنا أن الصحيح عندنا أنه لا زكاة فيه، وبه قال الحسن بن صالح وابن أبي ليلى وأبو عبيد . وقال الزهري والأوزاعي والليث ومالك والثوري وأبو حنيفة وأبو ثور : فيه الزكاة. قال الزهري والليث والأوزاعي : يخرص فتأخذ زكاته زيتاً. وقال مالك : لا يخرص بل يؤخذ العشر بعد عصره وبلوغه خمسة أوسق، وأما العسل فالصحيح عندنا لا زكاة فيه مطلقاً، وبه قال مالك والثوري والحسن بن صالح وابن أبي ليلى وابن المنذر وروينا هذا عن ابن عمر وعمر بن عبد العزيز، وقال أبو حنيفة والأوزاعي : إن وجد في غير أرض الخراج ففيه العشر. وقال أحمد وإسحاق . يجب فيه العشر سواء كان في أرض الخراج أو غيرها ونقله ابن المنذر عن مكحول وسليمان بن موسى والأوزاعي وأحمد وإسحاق وشرط أبو يوسف ومحمد في وجوب زكاته أن يبلغ خمسة أوسق، وأوجبها أبو حنيفة في قليله وكثيره.

بغية المسترشدين ج 1 ص 199

فائدة: مذهب أبي حنيفة وجوب الزكاة في كل ما يخرج من الأرض إلا الحطب والقصب والحشيش، ولا يعتبر عنده النصاب، ومذهب أحمد تجب فيما يكال أو يوزن ويدخر من القوت ولا بد من النصاب، ومذهب مالك كالشافعي اهـ قلائد.

إثمد العينين في بعض اختلاف الشيخين ص 47-48

(مسألة): أفاد أيضاً أن مذهب أبي حنيفة وجوب الزكاة في كل ما خرج من الأرض إلا حطباً أو قصباً أو حشيشاً، ولا يعتبر نصاباً، وعند الإمام أحمد فيما يكال أو يوزن أو يدخر للقوت، ولا بد من النصاب عند مالك كالشافعي، اهـ قلائد باقشير.

المذاهب الأربعة ج 1 ص 616

وحكم زكاة الزرع والثمار هو أنه يجب فيها العشر إذا كانت خارجة من أرض تسقى بالمطر أو السيح أي الماء الذي يسيح على الأرض من المصارف ونحوها ونصف العشر إذا كانت خارجة من أرض تسقى بالدلاء ونحوها … إلى أن قال … وسواء كان قليلا أو كثيرا فلا يشترط فيها نصاب ولا حولان حول إهـ.

الدر المختار شرح تنوير الأبصار ج 2 ص 355

(و) تجب في (مَسْقى سماء) أي مطر (وسيح) كنهر (بلا شَرْط نصاب) راجع للكل (و) بِلا شَرْط (بقاء) وحَوَلان حول، لأنَّ فيه مَعْنى المُؤْنة، ولذا كان للإِمَام أَخْذه جَبْراً، ويُؤْخذ من التَّركة ويجب مع الدَّين وفي أَرْض صغير ومَجْنون ومكاتب ومأذون ووقف، وتَسْميته زكاة مجاز (إِلاَّ في) ما لا يقصد به اسْتِغْلاَل الأَرْض (نَحْو حطب وقَصَب) فارسي (وحشيش) وتبن وسعف وصَمْغ وقَطْران وخطمي وأشنان وشجر وقُطْن وباذنجان وبزر وبطيخ وقثاء، وأدوية كحلبة وشونيز حتى لو أشغل أَرْضه بها يجب العُشْر.

حاشية رد المحتار على الدر المختار ج 2 ص 355

قوله: (بلا شرط نصاب) فيجب فيما دون النِّصاب بشرط أن يبلغ صاعاً، وقيل نصفه، وفي الخضروات التي لا تبقى وهذا قول الإمام، وهو الصَّحيح كما في «التُّحْفة»؛ وقالا: لا يجب إلاَّ فيما له ثمرة باقية حولاً بِشَرْط أن يبلغ خمسة أوسق إن كان مما يوسق، والوسق ستون صاعاً كل صاع أربعة أمناء، وإلاَّ فحتى يبلغ قيمة نصاب من أَدْنى الموسوق عند الثاني، واعتبر الثالث خمسة أمثال مما يقدر به نوعه، ففي القطن خمسة أحمال، وفي العَسَل أفراق، وفي السكر أمناء. وتمامه في «النَّهْر». قوله: (وحولان حول) حتى لو أخرجت الأرض مراراً وجب في كل مرَّة، لإِطْلاق النصوص عن قيد الحول، ولأنَّ العُشْر في الخارج حقيقة فيتكرر بتكرره، وكذا خراج المقاسمة لأنه في الخارج، فأما خراج الوظيفة فلا يجب في السنة إلاَّ مرَّة، لأنه ليس في الخارج بل في الذمة.

 

3. Talangan Haji
Deskripsi Masalah :

Pada akhir-akhir ini sebagaimana kita ketahui bersama, pelayanan ibadah haji oleh KBIH bekerjasama dengan Bank, telah memanjakan para calon jamaah haji melalui dana talangan haji yang cukup memberikan kemudahan bagi para calon jamaah haji guna mendapat kuota haji. Namun di sisi yang lain ada permasalahan yang perlu dikaji, terutama mengenai uang yang disyaratkan oleh pihak Bank tentang adanya ujroh sesuai dengan kapasitas uang talangan dan masa pelunasan pembayaran pendaftaran haji.

Pertanyaan :

a. Bagaimana menurut pandangan fiqih melihat masalah talangan haji oleh pihak Bank?

b. Bolehkah menurut fiqih pihak pengelola haji menjual kuota haji?

c. Apakah dikenakan wajib zakat mal, bagi calon jamaah haji yang sudah menyetor sebesar Rp 25. 000. 000,-?

 

Jawaban a:

Dengan melihat deskripsi di atas, maka menurut pandangan fiqih masalah talangan haji oleh pihak Bank tidak terdapat transaksi ijarah, sehingga tidak dibenarkan ada istilah ujrah, tetapi merupakan jenis bunga Bank yang hukumnya ditafsil sesuai dengan keputusan MUKTAMAR.

Dasar Pengambilan Hukum:

بغية المسترشدين ص 129 وكذا غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد ص 129

(مسألة): إعطاء الربا عند الاقتراض ولو للضرورة بحيث إنه إن لم يعطه لم يقرضه لا يدفع الإثم، إذ له طريق إلى حل إعطاء الزائد بطريق النذر أو غيره من الأسباب المملكة، لا سيما إذا قلنا بالمعتمد إن النذر لا يحتاج إلى القبول لفظاً. قلت: وهذا أعني النذر المذكور في هذه والاستئجار في التي قبلها إن وقع شرطهما في صلب العقد أو مجلس الخيار أبطلا وإلا كره، إذ كل مفسد أبطل شرطه كره إضماره كما في التحفة، وهذه الكراهة من حيث الظاهر، أما من حيث الباطن فحرام، كما نصّ عليه الفحول المتقون من العلماء الجامعين بين الظاهر والباطن كالقطب الحداد وغيره، إذ كل قرض جرّ ربحاً فهو ربا، فانظره في شرح الخطبة لباسودان.

رسائل ابن عابدين ج 2 ص 117

(وحاصله) ان ما ذكروا في حيلة اخذ المقرض ربحا من المستقرض بأن يدفع المستقرض الى المقرض ملعقة مثلا ويستأجره على حفظها في كل شهر بكذا غير صحيح لأن الاجارة مشروعة على خلاف القياس لأنها بيع المنافع المعدومة وقت العقد وإنما جازت بالتعارف العام لما فيها من احتياج عامة الناس اليها وقد تعارفوها سلفا وخلفا فجازت على خلاف القياس وصرح في الذخيرة بأن الاجارة جازت لتعامل الناس انتهى ولا يخفى أنه لاضرورة الى الاستئجار على حفظ ما لايحتاج الى حفظه بأضعاف قيمته فانه مما يقصده العقلاء ولذا لم يجز استئجار دابة ليجنبها أو دراهم ليزين بها دكاته كما صرحوا به أيضا فتبقى على أصل القياس ولا يثبت جوازها بالعرف الخاص فان العرف الخاص لا يترك به القياس في الصحيح على أن هذا العرف لم يشتهر في بلدة بل تعارفه اهل بخارى دون عامتهم ولا يثبت التعارف بذالك . وأما مسئلة زيادة السنجات فان كان المراد بها أن كل احد من اهل تلك البلدة يزيد في سنجته ما أراد فالمنع منه ظاهر وان كان المراد أن يتفقوا على زيادة خاصة فوجه المنع والله تعالى أعلم أنه يلزم منه الجهالة والتغرير اذا اشتروا بها من رجل غريب يظنها على عادة بقية البلاد.

فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين في باب الدين ج 3 ص 2

قال شيخنا ابن زياد : لا يندفِعُ إِثْمُ إِعطاءِ الرِّبا عندَ الإِقْتِراضِ للضُّرورَة ، بحيُثَ أَنه إِن لم يعطِ الرِّبا لا يَحْصُلُ لَهُ القَرْض. إذ له طَريق إِلى إعطاءِ الزائِدِ بِطَريقِ النَّذْرِ أَوْ التَّمْلِيكِ، لاسيما إذا قُلنا النَّذر لا يحتاجُ إِلى قبولٍ لفظاً على المعتمد. وقال شيخنا: يندفع الإِثمُ للضَّرورةِ.

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج 3 ص 2

وقال سيدنا الحبيب عبد الله بن الحداد : إياكم وما يتعاطاه بعض الجهال الأغبياء المغرورين الحمقاء من استحلالهم الربا في زعمهم بحيل أو مخادعات ومناذرات يتعاطونها بينهم، ويتوهمون أنهم يسلمون بها من إثم الربا، ويتخلصون بسببها من عاره في الدنيا، وناره في العقبى، وهيهات هيهات، إن الحيلة في الربا من الربا ، وإن النذر شيء يتبرر به العبد، ويتبرع وويتقرب به إلى ربه، لا يصح النذر إلا كذلك، وقرائن أحوال هؤلاء تدل على خلاف ذلك، وقد قال عليه الصلاة والسلام: «لا نذر إلا فيما ابتغى به وجه الله» … إلى أن قال … فهو بالنسبة إلى أحكام الدنيا وظواهرها لا غير. فأما بالنسبة إلى أحكام الباطن، وأمور الآخرة فلا.

كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار ج 1 ص 398-399

وكل ما أمكن الانتفاع به مع بقاء عينه صحت إجارته ، إذا قدرت منفعته بأحد أمرين: مدة أو عمل)

القياس عدم صحة الإجارة، لأن الإجارة موضوعة للمنافع وهي معدومة، والعقد على المعدوم غرر لكن الحاجة الماسة داعية إلى ذلك، إذ الضرورة المحققة داعية إلى الإجارة، فإنه ليس لكل أحد مسكن، ولا مركوب، ولا خادم، ولا آلة يحتاج إليها، فجوزت لذلك كما جوز السلم وغيره من عقود الغرر

 

Jawaban b:

Pihak pengelola haji tidak berhak dan tidak sah menjual kuota haji, karena kuota haji tidak termasuk mabi’ yang bisa diperjualbelikan. Jika ada jamaah haji yang meninggal atau mengundurkan diri maka jamaah yang antri di belakangnya yang berhak untuk menggantikan (الأسبق فالأسبق). Sedangkan yang terjadi saat ini, ketika ada tambahan biaya bagi pengganti maka hukumnya adalah risywah (suap).

 

Dasar Pengambilan Hukum:

السياسة الشرعية في إصلاح الراعي والرعية ص 17

فإن عدل عن الأحق الأصلح إلى غيره، لأجل قرابة بينهما، أو ولاء عتاقة أو صداقة، أو موافقة في بلد أو مذهب أو طريقة أو جنس، كالعربية والفارسية والتركية والرومية، أو لرشوة يأخذها منه من مال أو منفعة، أو غير ذلك من الأسباب، أو لضغن في قلبه على الأحق، أو عداوة بينهما، فقد خان الله ورسوله والمؤمنين، ودخل فيما نهي عنه في قوله تعالى: {يا أيها الذين آمنوا لا تخونوا الله والرسول وتخونوا أماناتكم وأنتم تعلمون}. ثم قال: {واعلموا أنما أموالكم وأولادكم فتنة، وأن الله عنده أجر عظيم}. فإن الرجل لحبه لولده، أو لعتيقه، قد يؤثره في بعض الولايات، أو يعطيه ما لا يستحقه، فيكون قد خان أمانته، كذلك قد يؤثره زيادة في ماله أو حفظه، بأخذ ما لا يستحقه، أو محاباة من يداهنه في بعض الولايات، فيكون قد خان الله ورسوله، وخان أمانته.

مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ج 3 ص 101

قوله تعالى: {إنَّ الله يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إلَى أَهْلِهَا} ، فهي وإن نزلت في ردّ مفتاح الكعبة إلى عثمان بن طلحة فهي عامة في جميع الأمانات.

 

Jawaban c:

Uang setorang 25.000.000,- yang disetorkan untuk pendaftaran haji tidak wajib dikeluarkan zakatnya karena belum mencapai nishab. Sedangkan status uang tersebut masih tergolong milik.

Dasar Pengambilan Hukum:

الحاوي الكبير في الفقه الشافعي ج 4 ص 66

وأما قولهم إنه لما لم يعتبر في المستفاد النصاب لم يعتبر فيه الحول، فينكسر عن اتباع ماشيته بمال قد زكاه، فلا يجب عندهم أن يضمه إلى حول ماشيته، ويستأنف حوله من يوم ملكه، فكان الحول معتبراً وإن لم يكن النصاب معتبراً، على أن الفرق بين النصاب والحول، أن النصاب اعتبر ليبلغ المال قدراً يتسع للمواساة، وهذا حاصل بوجود ما استفاده، والحول اعتبر ليتكامل فيه نماء المال، وهذا غير حاصل بوجود ما استفاده حتى يحول حوله.

أسنى المطالب شرح روض الطالب ج 2 ص 389

(بَابُ الْخُلْطَةِ) (وَهِيَ نَوْعَانِ خُلْطَةُ شَرِكَةٍ) وَتُسَمَّى خُلْطَةَ أَعْيَانٍ وَخُلْطَةَ شُيُوعٍ وَذَلِكَ (حَيْثُ كَانَ الْمَالُ مُشْتَرَكًا) بِإِرْثٍ أَوْ شِرَاءٍ أَوْ نَحْوِهِ (وَخُلْطَةَ جِوَارٍ) بِكَسْرِ الْجِيمِ أَفْصَحُ مِنْ ضَمِّهَا وَتُسَمَّى خُلْطَةَ أَوْصَافٍ (وَ) ذَلِكَ حَيْثُ (مَالَ كُلُّ مُتَمَيِّزٍ) إي (مُعَيَّنٍ) فِي نَفْسِهِ وَإِنْ لَمْ يَتَمَيَّزْ عُرْفًا (لَكِنَّهُمَا مُتَجَاوِرَانِ كَمُجَاوَرَةِ مِلْكِ الْوَاحِدِ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ فَيُزَكَّيَانِ زَكَاةَ الْمَالِ الْوَاحِدِ) لِمَا فِي خَبَرِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسٍ وَلا يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ وَلا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ خَشْيَةَ الصَّدَقَةِ نَهَى الْمُلاكُ عَنْ التَّفْرِيقِ وَعَنْ الْجَمْعِ خَشْيَةَ وُجُوبِهَا أَوْ كَثْرَتِهَا وَنَهَى السَّاعِي عَنْهُمَا خَشْيَةَ سُقُوطِهَا أَوْ قِلَّتِهَا وَالْخَبَرُ ظَاهِرٌ فِي خُلْطَةِ الْجِوَارِ وَمِثْلُهَا خُلْطَةُ الشُّيُوعِ بَلْ أَوْلَى

 

KEPUTUSAN HASIL BAHTSUL MASAIL MUSYKER PWNU JATIM. KOMISI A

1. Penggabungan Panen Dalam Zakat
Deskripsi Masalah:

Zaid menanam padi tanggal 1 Muharram 1432, panen bulan Jumadal Ula 1432 dengan penghasilan total beras tiga (3) kwintal. Pada bulan Rajab 1432 menanam lagi, bulan Dzulqa’dah 1432 panen dengan penghasilan tiga (3) kwintal (panen 1 dan 2 belum satu nishab). Kemudian Dzulhijjah 1432 menanam lagi, panen jatuh pada Rabi’uts Tsani 1433 dengan penghasilan beras 6 kwintal. Jika panen terakhir ini dijumlahkan dengan panen kedua sudah mencapai satu (1) nishab, namun sudah di tahun yang lain. Pada bulan Jumadal Ula 1433 menanam lagi, panen pada bulan Syawwal 1433 dengan penghasilan empat (4) kwintal.

Pertanyaan:

a.Berapakah zakat yang harus dikeluarkan?
b.Penggabungan panen dalam satu tahun (haul), apakah dihitung antara tanggal menanam, panen atau buduww al-shalah (layak panen)?
Jawaban:

a.Menurut Pendapat yang kuat (ashoh) bahwa panen satu tahun digabungkan jadi satu, maka yang wajib di keluarkan zakatnya menurut pendapat yang benar adalah hasil panen satu, dua, tiga dan empat, sebagaimana fatwa Syekh Abbdulah bin Ahmad Bamakhromah, Syekh Baqusyair dan Syekh Ali Bayazid.
b.Khilaf, menurut pendapat Ashoh dihitung dari hari panennya, pendapat kedua di hitung dari hari tanam.

Referensi:

1. Hasyiah Qulyubi II hal 23

( وزرعا العام يضمان ) وذلك كالذرة تزرع في الخريف والربيع والصيف .( والأظهر ) في الضم ( اعتبار وقوع حصاديهما في سنة ) وإن كان الزرع الأول : خارجا عنها ، فإن وقع حصاد الثاني بعدها فلا ضم لأن الحصاد هو المقصود ، وعنده يستقر الوجوب والثاني : الاعتبار بوقوع الزرعين في سنة وإن كان حصاد الثاني خارجا عنها لأن الزرع هو الأصل والحصاد فرعه وثمرته ، والثالث : الاعتبار بوقوع الزرعين والحصادين في سنة لأنهما حينئذ يعدان زرع سنة واحدة بخلاف ما إذا كان الزرع الأول أو حصاد الثاني خارجا عنها وهي اثنا عشر شهرا عربية .والرابع : الاعتبار بوقوع أحد الطرفين الزرعين أو الحصادين في سنة وفي قول : إن ما زرع بعد حصاد الأول في العام لا يضم إليه ، ومنهم من قطعبالضم فيما لو وقع الزرع الثاني بعد اشتداد حب الأول .والأصح أنه على الخلاف ولو وقع الزرعان معا أو على التواصل المعتاد ثم أدرك أحدهما والآخر بقل لم يشتد حبه فالأصح القطع فيه بالضم ، وقيل على الخلاف .
قوله : ( وقوع حصاديهما ) هو المعتمد والمراد دخول وقت الحصاد لا وجوده بالفعل . والمعتمد في الثمار اعتبار وقت الاطلاع لا الجداد . قال بعضهم : والحكمة في ذلك أن كلا من الحصاد والاطلاع ليس باختيار المالك , ولذلك لم يعتبر كون الزرع واقعا من المالك ولا بقصده

 

2. Al Majmu’ Sharh al Muhadzdzab V halaman 515

قال المصنف رحمه الله تعالى (فإن اختلفت أوقات الزرع ففي ضم بعضها إلى بعض أربعة أقوال (أحدها) أن الاعتبار بوقت الزراعة فكل زرعين زرعا في فصل واحد من صيف أو شتاء أو ربيع أو خريف ضم بعضه إلى بعض لأن الزراعة هي الأصل والحصاد فرع فكان اعتبار الأصل أولى (والثاني) أن الاعتبار بوقت الحصاد فإذا اتفق حصادهما في فصل ضم أحدهما إلى الآخر لأنه حالة الوجوب فكان اعتباره أولى (والثالث) يعتبر أن تكون زراعتهما في فصل واحد وحصادهما في فصل واحد لأن في زكاة المواشي والأثمان يعتبر الطرفان فكذلك ههنا (والرابع) يعتبر أن يكون من زراعة عام واحد كما قلنا في الثمار).
(الشرح) : هذه الأقوال مشهورة وقد اختصر المصنف المسألة جدا وهي مبسوطة في كتب الأصحاب وقد جمعها الرافعي رحمه الله تعالى ولخص متفرق كلام الأصحاب فيها فقال لا يضم زرع عام إلى زرع عام آخر في إكمال النصاب بلا خلاف واختلاف أوقات الزراعة لضرورة التدريج كمن يبتدئ الزراعة ويستمر فيها شهرا أو شهرين لا يقدح بل كله زرع واحد ويضم بعضه إلى بعض بلا خلاف ثم الشيء قد يزرع في السنة مرارا كالذرة تزرع في الخريف والربيع والصيف ففي ضم بعضها إلى بعض عشرة أقوال أكثرها منصوصة أصحها عند الأكثرين إن وقع الحصادان في سنة واحدة ضم وإلا فلا وممن صححه البندنيجي (والثاني) إن وقع الزرعان والحصادان في سنة ضم وإلا فلا واجتماعهما في سنة أن يكون بين زرع الأول وحصد الثاني أقل من اثني عشر شهرا عربية كذا قاله إمام الحرمين والبغوي (والرابع) إن وقع الزرعان والحصادان في سنة أو زرع الثاني وحصد الأول في سنة ضم وإلا فلا وهذا ضعيف عند الأصحاب (والخامس) الاعتبار بجميع السنة أحد الطرفين إما الزرعين أو الحصادين (والسادس) إن وقع الحصادان في فصل واحد ضم وإلا فلا (والسابع) إن وقع الزرعان في فصل واحد ضم وإلا فلا (والثامن) إن وقع الزرعان والحصادان في فصل واحد ضم وإلا فلا والمراد بالفصل أربعة أشهر (التاسع) أن المزروع بعد حصد الأول لا يضم كحملي شجرة (والعاشر) خرجه أبو إسحاق أن ما بعد زرع سنة يضم ولا أثر لاختلاف الزرع والحصاد قال ولا أعني بالسنة اثني عشر شهرا فإن الزرع لا يبقى هذه المدة وإنما أعنى بها ستة أشهر إلى ثمانية هذا كله إذا كان زرع الثاني بعد حصد الأول فلو كان زرع الثاني بعد اشتداد حب الأول ففيه طريقان (أصحهما) أنه على هذا الخلاف (والثاني) القطع بالضم لاجتماعهما في الحصول في الأرض.

 

3.Bughyat al Musytarsyidin dan Hasyiyah Ahmad Ibn Umar Assyathiri III hal 29

فائدة : حاصل كلامهم في انضمام الزروع بعضها إلى بعض أنه إذا زرع صيفاً ثم شتاء وكمل الأول بالثاني وكان حصادهما في عام واحد زكاهما بالاتفاق ، فلو زرع صيفاً آخر وكان حصاده مع الثاني في عام ومجموعهما نصاباً لم يضم الثالث إلى الثاني عند عبد الله بلحاج وابنه أحمد وعبد الله بن عمر مخرمة ، ويضم إليه عند عبد الله بن أحمد مخرمة وصاحب القلائد وعلي بايزيد وهو الصواب ومقتضى كلام الأصحاب ، اهـ منتخب اهـ من خط بعضهم. واشترط في التحفة والفتح في التمر كون القطع في عام واحد أيضاً كالزرع ، وخالفه في الإمداد والنهاية والمغني والإرشاد ، فاشترطوا كون الإطلاع في عام لا القطع.
( قوله : وكان حصادهما في عام واحد ) ولو تواصل بذر الزرع عادة بأن امتد شهرا أو شهرين متلاحقا عادة فذلك زرع واحد ، وإن لم يقع حصاده في سنة واحدة فيضم بعضه إلى بعض ، وأما إن تفاصل البذر بأن اختلف أوقاته عادة فإنه يضم أيضا بعضه إلى بعض لكن بشرط وقوع الحصادين في عام واحد أي : في اثني عشر شهرا عربية سواء أوقع الزرعان في سنة واحدة أم لا اهـ عبد الحميد عن الكردي والنهاية والمغني وباعشن

 

4.Qalaid al Kharaid Lil Faqieh Abdullah Muhammad Ba Qushair al Hadrami al Syafii I hal 213

أفتى أبو مخرمة بأن من زرع ذرة في صيف ثم أخرى في الشتاء وتم مجموعهما نصابا ثم في أول الصيف الآخر ذرة لم تبلغه أنها إن بلغته مع ذرة الشتاء قبلها وكان حصادهما يجمعه سنة عددية وجبت زكاتها وإلا فلا أي فلا يعتبر للأخيرة ضم الأولى معها وإن إعتبرنا ضمها الى الثانية لكونهما في سنة ويشبه هذا ما سبق في النخل ومثله يؤخذ من هنا ضم الثاني الى الثالث لتكملة النصاب في الثالث فيه إن تم به

 

 

2. Madrasah Di atas Tanah Masjid

Deskripsi Masalah :

Ketika tanah di halaman masjid masih luas, sementara kegiatan belajar membutuhkan lahan guna pendirian gedung madrasah. Atas kesepakatan takmir masjid, maka dibangunlah madrasah di atas lahan masjid yang masih tersisa. Setelah madrasah menjadi maju dan mempunyai penghasilan yang melimpah, tidak sadar kalau berdiri di atas tanah masjid. Selama ini, tidak pernah memberi kontribusi pada masjid, sehingga takmir masjid merasa dirugikan, karena para tenaga pendidik dan murid selalu menggunakan fasilitas masjid, seperti WC, kamar mandi, dan lain sebagainya. Akan lebih terasa lagi, ketika madrasah di negerikan.
(PCNU Kota Malang)

 

Pertanyaan :

a.Bagaimana hukum membangun gedung madrasah di atas tanah masjid ?

Jawaban:

Hukum membangun madrasaah di atas tanah milik masjid atau wakaf untuk masjid, tidak boleh kecuali jika sesuai dengan syarat waqif atau uruf yang berlaku.

 

بغية المسترشدين ص 65 دار الفكر

لا يجوز فعل نحو حوض فيه مما يغير هيئة المسجد، إلا إن شرطه الواقف في صلب الوقف متصلاً به كأن يقول: وقفت هذه الأرض مسجداً بشرط أن يفعل فيها حوض للماء مثلاً، أو اطردت عادة موجودة في زمن الواقف علم بها بفعل نحو الحوض.

 

بغية المسترشدين ص : 174 (دار الفكر)
(مسألة ب) وظيفة الولى فيما تولى فيه حفظه وتعهده والتصرف فيه بالغبطة والمصلحة وصرفه فى مصارفه هذا من حيث الإجمال وأما من حيث التفصيل فقد يختلف الحكم فى بعض فروع مسائل الأولياء -إلى أن قال- وتجوز بل تجب عليه المعاوضة فى ملك المسجد إن رأى المصلحة كأن كانت أرض المسجد لا تحرث أو تحرث نادرا فرغب فيها شخص بأرض تحرث دائما ويكون بصيغة المعاوضة أولى فيكتب فى الصيغة أما بعد فقد صار الزبر الفلانى المحدد بكذا لمسجد كذا من فلان بالمعاوضة الشرعية المستكملة للشروط والأركان فصار الزبر المذكور ملكا من أملاك المسجد قطعا قلاطا وتعوض فلان المذكور فى مقابلة ذلك ما هو ملك المسجد المذكور وهو الزبر الفلانى بحدوده الأربعة على لسان القيم والولى شرعا على المسجد المذكور فلان بن فلان وذلك بعد ظهور الغبطة والمصلحة وله أن يقاسم عن المسجد كسائر التصرفات

 

اعانة الطالبين. ج . 3. ص: 171 دار الفكر.
تنبيه حَيْثُ أَجْمَلَ الواقِفُ شَرْطَهُ، اتُّبِعَ فيه العُرْفَ المطَّرَد في زَمَنِهِ ــــ لأنه بمنزلة شَرْطِهِ ــــ ثمَّ ما كان أقْرَبُ إلى مقاصِد الواقفِين ــــ كما يَدلُّ عليه كلامُهم ومن ثم امْتنَعَ في السِّقايات المسْبَلَة على الطُّرُقِ غيرَ الشُّرْبِ ونَقْلِ الماءِ مِنْهَا ولو للشُّرب. وبحث بعضهم حُرْمَةَ نحو بُصاقٍ وعَسْلَ وَسَخ في ماء مُطَهّرة المَسْجدِ، وإن كثر.
(قوله: حيث أجمل الواقف شرطه) أي جعله مجملاً، أي غير واضح الدلالة، كما إذا قال وقفت هذا على من يقرأ على قبر أبي الميت، وأطلق القراءة ولم يعينها بقدر معلوم ولا بسورة معينة، فيعمل بالعرف المطرد في زمنه، كما تقدم(قوله: اتبع فيه) أي في شرطه المجمل أو في الوقف، فالضمير يصح رجوعه للأول وللثاني، وقوله في زمنه، أي الواقف. وفي التحفة، وظاهر كلام بعضهم اعتبار العرف المطرد الآن في شيء فيعمل به، لأن الظاهر وجوده في زمن الواقف، وإنما يقرب العمل به، حيث انتفى كل من الأوّلين. اهــــ. والمراد بالأولين، العرف المطرد في زمنه، وما كان أقرب إلى مقاصد الواقفين (قوله: لأنه) أي العرف المطرد في زمنه، (وقوله: بمنزلة شرطه) أي الواقف (قوله: ثم ما كان أقرب الخ) أي ثم إذا فقد العرف المطرد، اتبع ما كان أقرب إلى مقاصد الواقفين. (قوله: ومن ثم امتنع الخ) أي من أجل أنه يتبع ما كان أقرب إلى مقاصد الواقفين إذا فقد العرف المطرد: امتنع في السقايات، أي التي لم يعلم فيها قصد الواقف غير الشرب، وامتنع نقل الماء منها، ولو للشرب، وذلك لأن الأقرب إلى قصد الواقفين، الشرب فيها فقط.

 

 

b.Perjanjian bentuk apa yang seharusnya dilakukan antara pihak masjid dan madrasah, sekira tidak melanggar hukum syar’i ?

 

Jawaban

Belum ditemukan solusi yang tepat dalam madzhab Syafi’i yang memungkinkan untuk membiarkan keberadaan madrasah tersebut. Akan tetapi, menurut sebagian ulama madzhab Hanbali, jika sebagian besar masyarakat sekitar masjid menyetujui bagian dari masjid di alih fungsikan sebagai madrasah, maka hukumnya boleh. Dengan demikian, jika masarakat sekitar masjid dalam diskripsi masalah, sepakat untuk membiarkan keberadaan madrasah karena dipandang membawa maslahat bagi masyarakat sekitar, maka hukumnya boleh bagi pengurus masjid untuk melanjutkan keberadaan madrasah tersebut.

 

Referensi

مطالب أولي النهى شرح غاية المنتهى. ج. 4. ص 375

(وَيَجُوزُ رَفْعُ مَسْجِدٍ) إذَا (أَرَادَ أَكْثَرُ أَهْلِ مَحَلَّتِهِ) أَيْ: جِيرَانِهِ (ذَلِكَ) ; أَيْ: رَفْعَهُ (وَجُعِلَ) تَحْتَ (سُفْلِهِ سِقَايَةٌ وَحَوَانِيتُ) يُنْتَفَعُ بِهَا نُصَّ عَلَيْهِ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُد ; لِمَا فِيهِ مِنْ الْمَصْلَحَةِ, وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ يَجُوزُ لِجُنُبٍ وَنَحْوِهِ جُلُوسٌ بِتِلْكَ الْحَوَانِيتِ ; لِزَوَالِ اسْمِ الْمَسْجِدِيَّةِ

 

HUKUM MENGKONSUMSI KEONG SAWAH/TUTUT/KO’OL (b. madura)

Di Sebagian daerah yang penduduknya berpenghasilan minus, telah terbiasa mengkonsumsi hewan sawah yang bentuknya mirip keong, penduduk sekitar memberinya nama Ko’ol (Madura)
Pertanyaan:
Bolehkah mengkonsusi Keong Sawah/ Ko’ol (Madura) tersebut?
Jawaban:
Keong sawah (Pila ampullacea) adalah sejenis siput air yang mudah dijumpai di perairan tawar Asia tropis, seperti di sawah, aliran parit, serta danau. Hewan bercangkang ini dikenal pula sebagai keong gondang, siput sawah, siput air, atau tutut. Bentuknya agak menyerupai siput murbai, masih berkerabat, tetapi keong sawah memiliki warna cangkang hijau pekat sampai hitam. Sebagaimana anggota Ampullariidae lainnya, ia memiliki operculum, semacam penutup/pelindung tubuhnya yang lunak ketika menyembunyikan diri di dalam cangkangnya. Hewan ini dikonsumsi secara luas di berbagai wilayah Asia Tenggara dan memiliki nilai gizi yang baik karena mengandung protein yang cukup tinggi.
Adapun hukum mengkonsumsinya adalah halal (sesuai keputusan Bahtsul Masail PCNU Kab. Probolinggo) sesuai keterangan dari kitab Al-Madzahibul Arba’ah Juz II Halaman 3
فلا يجوز اكل الحشرات الضارة… اما إذا اعتاد قوم اكلها ولم تضرهم وقبلتها انفسهم, فالمشهور عندهم انها لاتحرم ( المذاهب الاربعة, الجزء ٢ ص ٣ )

 

PC LBM NU Kab. Probolinggo

Editor: Sulaiman

 

Hukum Membeli Jatah Arisan

Sabtu, 10 Maret 2012 | 23:21 WIB

Hamid dan Hamdan keduanya menjadi anggota arisan. Pada suatau giliran jatuh di tangan Hamid, lalu giliran tersebut oleh Hamdan dibeli, kemudian setiap undian Hamid ikut lagi.

Pertanyaan:

Bagaimana membeli giliran arisan seperti contoh di atas?

Jawaban:

Boleh dengan aqad jual beli yang jelas, seperti Hamdan membayar sejumlah uang untuk membeli hak giliran Hamid dan giliran Hamid diterima seluruhnya oleh Hamdan karena termasuk transaksi بيع الإستحقاق. Haram/tidak boleh apabila dengan aqad/cara hutang piutang untuk mendapatkan selisih keuntungan karena termasuk dalam كل قرض جر نفعا

Dasar Pengambilan Hukum:

1. Bughyatu al-Mustarsyidin, Hlm. 135

إِذِ الْقَرْضُ الْفَاسِدُ الْمُحَرَّمُ هُوَ الْقَرْضُ الْمَشْرُوْطُ فِيْهِ النَّفْعُ لِلْمُقْرِضِ. هَذَا إِنْ وَقَعَ فِى صُلْبِ الْعَقْدِ وَإِنْ تَوَاطَأَ عَلَيْهِ قَبْلَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِى صُلْبِهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ عَقْدٌ جَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ كَسَائِرِ حِيَلِ الرِّبَا اْلوَاقِعَةِ لِغَرَضٍ شَرْعِيٍّ.

“Karena hutang piutang yang rusak (tidak sah) dan diharamkan, ialah hutang menghutangi yang ada syarat menarik keuntungan bagi yang menghutangi. (letak keharaman ini) apabila persyaratan tadi masuk/terjadi bersamaan di dalam satu aqad (transaksi) namun jika hanya kebetulan saja dengan aqad sebelumnya. Dan persyaratan tadi tidak disebutkan dalam aqad atau memang bukan aqad, maka diperbolehkan dengan hukum makruh. Seperti halnya merekayasa barang riba dilakukan bukan untuk tujuan syara’”.

2. Al-Bajuri, Juz I, Hlm. 340

وَالْبُيُوْعُ جَمْعُ بَيْعٍ وَاْلبَيْعُ لُغَةً مُقَابَلَةُ شَيْءٍ بِشَيْءٍ فَدَخَلَ مَا لَيْسَ بِمَالٍ كَخَمْرٍ وَأَمَّا شَرْعًا فَاَحْسَنُ مَا قِيْلَ فِى تَعْرِيْفِهِ أَنَّهُ تَمَلُّكُ عَيْنٍ مَالِيَةٍ بِمُعَاوَضَةٍ بِإِذْنٍ شَرْعِيٍّ أَوْ تَمَلُّكُ مَنْفَعَةٍ مُبَاحَةٍ عَلَى التَّأْبِيْدِ بِثَمَنٍ مَالِيٍّ فَخَرَجَ بِمُعَاوَضَةٍ اْلقَرْضُ وَبِإِذْنٍ شَرْعِيٍّ الرِّبَا وَدَخَلَ فِى مَنْفَعَةٍ تَمَلُّكُ حَقِّ الْبِنَاءِ (قَوْلُهُ وَدَخَلَ فِى مَنْفَعَةٍ الخ) … ِلأَنَّ الْمَنْفَعَةَ تَشْمُلُ حَقَّ الْمَمَرِّ وَوَضْعَ اْلاَخْشَابِ عَلَى الْجِدَارِ… إِلَى اَنْ قَالَ قَوْلُهُ تَمَلُّكُ حَقِّ الْبِنَاءِ وَصُوْرَةُ ذَلِكَ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ بِعْتُكَ حَقَّ الْبِنَاءِ عَلَى هَذَا السُّطْحِ مَثَلاً بِكَذَا وَالْمُرَادُ بِالْحَقِّ اْلاِسْتِحْقَاقُ.

ومثله ما فى إعانة الطالبين الجزء الثالث صحيفة ۳۰ والفتاوى الكبرى لابن حجر الجزء الثالث صحيفة ۲٣.

“Buyu’ itu menjadi jama’ dari mufrod bai-in. Bai’ menurut bahasa adalah bandingan (pengganti) sesuatu dengan sesuatu yang lain, maka termasuk di dalamnya adalah sesuatu, meskipun bukan termasuk harta benda, seperti khomer (minuman keras). Adapun menurut syara’ (bai’) adalah (dengan definisi yang lebih baik dikatakan) memberikan milik atas benda yang bernilai dengan saling menukar, dengan ijin yang dianggap boleh syara’. Atau memberikan milik atas kemanfaatan yang mubah (boleh) untuk selama-lamanya dengan tsaman (harga) yang bernilai harta. Kata-kata mu’awadhoh (saling menukar) itu mengecualikan Qordlu (menghutangi). Kata-kata ijin secara syara’, itu mengecualikan riba dan termasuk di dalam kemanfaatan adalah memberikan milik atas hak guna bangunan”.

3. I’anatu al-Thalibin, Juz III, Hlm. 30

4. Fatawi al-Kubra li Ibni Hajar, Juz III, Hlm. 23

(Hasil Bahts Masail PWNU Jatim 1986 di PP.Asembagus Situbondo)

 

Hukum Alat Bantu Seksual

Selasa, 6 Maret 2012 | 11:47 WIB

Akhir – akhir banyak sekali dijumpai di toko-toko alat kelamin buatan sebagai pelampiasan nafsu seksual seperti : Penis elektrik, boneka elektrik dan alat bantu lainnya.

1. Bagaimana hukum menggunakan alat-alat tersebut?
2. Apakah termasuk zina kalau alat digunakan ?

Jawab

1. hukum menggunakan alat-alat tersebut HARAM
2. Jika alat-alat tersebut digunakan tidak termasuk zina, (pelakunya tidak wajib Di HAD tapi wajib di TA’ZIR yang ditentukan Hakim ). Karena yang disebut Zina ialah memasukkan hasyafah yang asli dan masih melekat, atau kira-kiranya bagi yang tidak mempunyai hasyafah, kedalam farji orang yang masih hidup yang diharamkan dan tidak ada syubhat.

Dasar Pengambilan :

1. Kitab Syarah Sullam Taufiq Halaman 76-77

ومن معاصى الفرج الزناواللواط الى ان قال…….والاستمناع بيد غيرالحليلة ( شرح سلم التوفيق ص ۷۶- ۷۷ )

2. Kitab I’anatu Tholbin Juz 4 hal. 142

(قوله زنى بايلاج حشفة ) اي ادخال حشفة ولابد ان تكون فيها اصلية ومتصلة فخرج ايلاج غيرالحشفة كاصبعه اوالحشفة الزائدة ولو احتمالا كما لو اشتبه الاصلي بالزائد او المنفصلة فلا حد فى جميع ما دكر لانه لا يسمى زنا ( اعانة الطالبين الجزء الرابع ص ۴۲ ۱)

* Oleh: Sulaiman

 

Presiden Soekarno Menurut Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan Indonesia pada 1945, Pemerintah menghadapi persoalan yang kompleks, termasuk semangat sebagian kelompok untuk membentuk negara di luang bingkai Republik Indonesia. Salah satu kelompok tersebut adalah Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di bawah pimpinan SM. Kartosuwiryo.DI/TII berusaha merealisasikan cita-cita Negara Islam Indonesia.

Persoalan pemerintahan lainnya adalah Presiden Soekarno yang harus mengangkat pegawai yang menangani urusan yang langsung berkaitan dengan masalah keagamaan seperti wakaf, waris, pernikahan dan lain-lain. para kiai di Indonesia berpandangan bahwa urusan itu harus ditangani oleh pejabat berwenang yang diangkat oleh kekuasaan yang sah perspektif hukum Islam.

Atas berbagai problem tersebut muncul kesimpangsiuran penguasa negeri di mata masyarakat. Pertanyaan mendasar muncul, apakah Presiden RI, Ir. Soekarno adalah sah? Muktamar NU pada 1947 di Madiun memutuskan bahwa Ir. Soekarno adalah Kepala Negara Republik Indonesia sebagai waliyyu al-amri ad-dharuri bi as-syaukah (pemegang pemerintahan yang bersifat darurat dengan kekuatan dan kekuasaan).  Salah satu landasan fiqh yang digunakan adalah:

قال الغزالى / واجتماع هذه الشروط متعذر في عصرنا / لخلو العصر عن المجتهد المستقل / فالوجه / تنفيذ قضاء كل من ولاه سلطان ذو شوكة / وان كان جاهلا او فاسقا لئلا تتعطل مصالح المسلمين.  // قال الرافعي وهذا احسن (كفاية الاخيار جز ٢ ص١١٠)

Memilih lokasi Muktamar di Madiun sungguh menarik, mengingat saat itu Partai Komunis Indonesia (PKI) tengah menuai simpati besar dari sebagaian rakyat Indonesia.

(sumber: ahkamul fuqaha Nahdlatul Ulama, 1926–2010)

 

Kiai Arwani: Masjidil Haram Tetap Paling Utama

Rabu, 14 Desember 2011 | 20:14 WIB

“Di Masjidil Haram terdapat Ka’bah yang itu adalah kiblat salat dan tawaf,” tegas Gus Ar di Jakarta, Jum’at, 4 Nopember 2011.

Gus Ar menambahkan, beberapa nash menunjukkan bahwa Masjidil Haram adalah yang paling utama. Sebaliknya, tidak ditemukan nash yang bisa dijadikan untuk mensejajarkan masjid-masjid lain di Kota Mekkah dengan Masjidil Haram.

Terkait fenomena berdesak-desakan sesama jamaah haji karena ingin beribadah di Masjidil Haram, Gus Ar menyarankan adanya solusi lain. Salah satunya dia meminta agar Pemerintah Arab Saudi melibatkan seluruh negara Islam dalam perumusan mekanisme ibadah haji.

“Operator pelaksanaan  ibadah haji tetap Arab Saudi, tapi regulasinya yang seharusnya dibicarakan bersama-sama,” pungkas santri KH. Sahal Mahfudz.

Sebelumnya, Grand Mufti Syaikh Abdul Aziz al-Asheikh mengeluarkan pernyataan yang menganggap masjid-masjid di Kota Mekkah memiliki keutamaan yang sama dengan Masjidil Haram. Ini disampaikan untuk menghindari fenomena berdesak-desakan antar jemaah haji, yang dianggap sangat membahayakan.

Redaktur        : Emha Nabil Haroen
Kontributor    : Samsul Hadi

http://www.nuprobolinggo.or.id/category/bahtsul-masail/