MUHASABAH  BAGI  PARA  KADER  PKS

Dari : Ustad Nabiel Al Musawa

"MEREKA MERASA BERJASA DG KEISLAMAN MEREKA, KATAKANLAH : JANGANLAH KALIAN MERASA BERJASA DG KEISLAMAN KALIAN, KARENA ALLAH-LAH YG TELAH BERJASA KEPADA KALIAN KARENA TELAH MENUNJUKKAN KALIAN KEPADA JALAN2 KEIMANAN JIKA KALIAN ADALAH ORANG2 YG BENAR." (QS Al-Hujurat, 49:17)

PKS sbg Partai Kader memang tidak sama dengan partai2 lainnya, orang yg bisa dipromosikan menjadi pengurus pada strata2 tertentu haruslah telah melewati masa2 pengkaderan selama masa bertahun2 dan telah mencapai kriteria kelulusan pada setiap level tsb dg sangat rinci dan belum mampu ditandingi oleh sistem organisasi manapun termasuk orgenisasi intelijen (demikianlah yg diakui sendiri oleh BIN).

Oleh karena itu para pengamat dari luar ataupun para "aktifis karbitan" yg bisanya berteriak2 dari luar dan "merasa paling berjasa" kepada partai ini tentunya tidak mampu membayangkan bagaimana sulitnya masa2 pengkaderan yg telah dibangun oleh para pendiri harokah dakwah ini selama masa lebih dari 20 tahun dari rumah ke rumah dan dari satu tempat kost ke tempat kost lain.

Para "aktifis karbitan" yg merasa telah "ikut berjuang" untuk partai itu juga tidak pernah tahu berapa kader2 generasi pertama yg sampai drop-out dari kuliahnya karena tugas2 dakwah, berapa kader2 yg terpaksa berjalan puluhan kilometer atau harus keluar masuk hutan di pulau2 di Nusantara ini demi membuka lahan dakwah baru, berapa kader yg setiap malam terkulai kepala2 mereka di meja kerjanya karena lelah membahas dan memikirkan maslahat untuk ummatnya, dan berapa pula kader yg telah menghabiskan semua miliknya yg paling berharga demi membangun fondasi harokah ini.

Para kader generasi awal tsb bukanlah orang yg hidup berkecukupan, namun tidak pernah kemudian mereka mempertanyakan kenapa harus berjuang habis2an seperti itu? Atau apa yg akan didapat dari perjuangan ini nantinya? Atau kami sudah berjuang sehingga partai ini besar maka sekarang giliran partai dong yg memperhatikan dan membesarkan kami? Atau meragukan para qiyadahnya,jangan2 mereka telah keluar dari khittah dakwah ini setelah berkuasa?

Suka dan duka yg telah bersama2 ditempuh dalam perjuangan dakwah; airmata yg telah ditumpahkan pada sujud2 yg khusyu' di akhir2 malam mendoakan kemenangan ummat ini dg tulus; uang, harta-benda, fikiran dan perasaan dan entah sudah tidak terhitung lagi apa yg dimiliki yg telah dg segala ketulusan diberikan bahkan jiwapun jika diminta pastilah akan diberikan demi tegaknya ummat ini; semua catatan perjalanan, kesan dan waktu yg telah dilewati bersama itu tentunya tidak akan pernah bisa difahami oleh kader2 yg belum memahami apa arti sebuah perjuangan dakwah di dalam Islam dan apa arti sebuah keikhlasan sehingga mampu mengangkat sebuah peradaban dari ummat yg
sudah seperti buih yg terbawa banjir.

"DAN DIANTARA ORANG2 BERIMAN ITU ADA RIJAL YG MENEPATI JANJINYA KEPADA ALLAH, DIANTARA MEREKA ADA YG TELAH WAFAT DAN DIANTARA MEREKA ADA PULA YG MASIH MENUNGGU2 (SAAT PERJUMPAAN DG RABB-NYA), NAMUN MEREKA SEDIKITPUN TIDAK PERNAH MENGUBAH JANJINYA." (QS Al-Ahzab, 33:23)

Lalu permasalahannya apakah ke-tsiqahan kita kepada qiyadah dakwah ini berarti kita tdk boleh bertanya atau memberikan kritik? Apakah ketaatan kepada para leader partai ini membuat kita menjadikan kita hanya bisa manut tanpa reserve? Tentunya akal yg sehat akan menjawabnya tidak demikian. Bagaimana mungkin sebuah gerakan dakwah yg telah mampu membangun sebuah sistem yg demikian sempurna, sehingga outputnyapun telah terlihat dg jelas kemana2 sebagai generasi muda Islam yg unik, intelektual, militan namun
santun dan moderat dan telah pula menjadi perhatian secara nasional dan internasional akan berlaku demikian?!

Permasalahannya adalah ketidakfahaman dikalangan sebagian besar kader di tingkat grassroot ttg berapa besar tantangan untuk sebuah perjuangan di pentas politik? Seberapa besar kekuatan2 yg bermain dan mampu "memutih" atau "menghitamkan" seseorang atau sekelompok orang? Seberapa jauh poros2 yg berbeda bisa menjadi bersatu ketika melihat sebuah musuh bersama (Islam)? Seberapa besar dana yg dialirkan baik skala nasional maupun skala global untuk memporakporandakan soliditas kader serta melumatkan sama sekali
kekuatan2 yg dapat "mengganggu" kepentingan bersama mereka yg telah
terbangun selama puluhan tahun?

Materi2 ttg Ghazwul Fikri, Ma'na Jahiliyah, Qadhiyyatul Ummah, Marahilu Dakwah, dll sebenarnya sudah dipersiapkan oleh harakah untuk menjelaskan fenomena ini dikalangan kader dakwah sehingga jika masanya hal itu tiba diharapkan kader dapat memiliki manna'ah (imunitas) untuk menangkal hebatnya makar yg akan terjadi pada gerakan dakwah ini, namun memang tataran konsep akan sangat jauh berbeda dg jika hal tsb sdh ada di depan mata, apalagi jika hal tsb menimpa pada generasi kader yg tidak sempat berinteraksi secara
mendalam dg tarbiyyah.

"DAN SESUNGGUHNYA MEREKA TELAH MEMBUAT MAKAR YG AMAT BESAR, DAN DISISI ALLAH-LAH BALASAN MAKAR MEREKA ITU, DAN SESUNGGUHNYA MAKAR MEREKA ITU DAPAT MELENYAPKAN GUNUNG2 KARENA AMAT BESARNYA." (QS Ibrahim, 14:46)

Hendaknya seorang kader yg ingin mengetahui bagaimana konspirasi hebat yg ingin melumatkan dakwah ini menemui dan bertanya pd anggota legislatif PKS di tingkat terendah (kabupaten/kota/kotamadya), cobalah minta waktu kunjungan pd mereka, kumpulkan masyarakat lalu minta agar dikunjungi oleh aleg PKS di wilayahnya tsb karena hal itu adalah hak masyarakat terhadap aleg di daerahnya, tanyakan apa yg sdh diperbuat oleh kader tsb dan bagaimana konspirasi yg menimpa mereka di DPRD tsb. Lalu bayangkan oleh antum, kalau di tingkat itu saja demikian hebat rekayasa para aleg lain dan kekuatan PEMDA dsb bermain dlm ber-KKN, lalu husnuzhan-lah di tingkat DPR-RI tentunya akan lebih dahsyat dan lebih kejam lagi kekuatan yg bermain.

Dan hendaklah para kader memahami bhw dlm dunia politik informasi itu berubah dalam hitungan jam bahkan menit, sehingga jangankan antum yg di bawah, para qiyadah yg paling ataspun seringkali ketinggalan informasi,bukan karena tdk dibuat mekanismenya namun bagaimana sempat bekerja kalau setiap jam atau menit harus membuat laporan ke para kader di bawah. Demikian pula perkembangan informasi itupun seringkali bertolak-belakang, info yg masuk dan diputuskan pada pagi hari maka di siang hari partai harus membuat kebijakan yg sebaliknya, sorenya mungkin berubah lagi. Belum lagi tidak
semua info bisa disampaikan secara tertulis karena akan memiliki
delik-yuridis walaupun peristiwa tsb kelihatan di depan mata kepala sendiri.

Lalu kenapa tidak diekspos di media? Inipun perlu pembahasan tersendiri, tidak semua media mau memuat dari PKS, cobalah antum ke Aceh lalu antum saksikan sendiri ribuan kader kita yg berjuang disana, apakah ada media yg meliput? Tidak, karena itu hanya akan membesarkan PKS 2009 nanti. Ttg BBM?! Yg pertama kali menyuarakan sikap adalah PKS (coba antum lihat tulisan mas Untung/Ketua Fraksi PKS di majalah SAKSI bbrp terbitan yg lalu), lalu kemudian menjadi suara Komisi-VIII DPR. Kasus mas Irwan juga sebenarnya sudah basi, DPW PKS Sumbar sudah lama membuat klarifikasi namun ketika mas
Irwan dicalonkan sebagai Cagub baru ICW mengeksposnya. Tahukah antum bhw dlm PILKADA saat ini di puluhan daerah (Tk I dan Tk II) kita sdh mampu mengusung para kader2 kita untuk bertarung dg partai GOLKAR dg peluang kemenangan yg signifikan?

Mari kita semua ber-istighfar atas kelalaian kita selama ini(terutama para kader yg memposisikan diri sebagai the-outsider, banyak omong tanpa hasil)sementara para kader lainnya disibukkan untuk terus membangun jaringan demi memenangkan dakwah ini. Sampaikanlah kritik dan pertanyaan dg santun dan penuh hormat kepada para qiyadah yg telah berjuang tanpa lelah demi kemenangan ummat ini. Dan di atas semua itu jika syaithan masih membisiki antum juga, cobalah antum bersikap fair, bandingkan dg partai atau organisasi lainnya baik segi kualitas atau kuantitas, mana sih yg lebih
bermasalah? Kita tidak pernah merasa para qiyadah atau ikhwah kita itu suci,ada juga kader yg karena tergoda syaithan menjadi tergelincir, namun sdh ada mekanisme partai melalui Dewan Syariah yg dg sistemnya yg jelas dan tegas mengatasi hal tsb. Lalu apakah adil jk karena satu dua hal yg nampak belum sempurna kita menggugat dan mencaci-maki seluruh partai kita sendiri?

"WAHAI RABB KAMI AMPUNILAH KAMI DAN SAUDARA2 KAMI YG TELAH MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN DAN JANGANLAH ENGKAU JADIKAN DALAM HATI KAMI KEDENGKIAN TERHADAP ORANG2 YG BERIMAN.." (QS Al-Hasyr, 59:10)

 

 

 

 

 

 

 

Terima Kasih Malaysia

Oleh Riswandha Imawan

KETEGANGAN di wilayah Ambalat antara Indonesia dan Malaysia bisa menjadi pengobat derita bangsa Indonesia. Kompleksitas nuansa krisisnya secara efektif mampu "menampar" jati diri bangsa Indonesia. Ada arogansi negara makmur ke negara melarat, ancaman imperialisme ekonomi, sampai ke kesempatan untuk mengekspresikan "balas dendam" rakyat atas impitan masalah sosial, ekonomi, dan politik selama ini. Namun, bila dikelola secara tepat, krisis ini bisa menjadi awal kebangkitan bangsa Indonesia.

Bila benar pernyataan Juru Bicara Departemen Luar Negeri (Jubir Deplu) Marty Natalegawa bahwa pelanggaran wilayah sudah sering dilakukan Malaysia meski sudah diprotes berulang kali (Kompas, 27/2/2005), sampai mengirim pesawat pengintai B200T Super King terbang 300 kaki pada jarak 1000 yard di lambung kiri buritan KRI Wiratno, ini pelecehan terhadap harga diri bangsa Indonesia. Seharusnya pesawat yang masuk wilayah udara kita sejauh enam mil laut pada 3 Maret 2005 itu ditembak.

Namun, kita tidak bereaksi. Akibatnya, penghinaan lebih serius terjadi. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meninjau lokasi 8 Maret 2005, dua kapal Malaysia-KD Paus dan KD Pari-mendekati posisi kapal Presiden pada jarak dua mil laut (3,2 km). Sekali lagi, tidak ada reaksi apa pun atas insiden ini.

Mengapa Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bereaksi? Bukankah tugas TNI menjaga kedaulatan wilayah negara? Kita sedih bila mengingat ganasnya aparat keamanan terhadap rakyat sendiri. Menghadapi demonstrasi, tanpa sungkan mereka menghajar rakyat dengan pentungan dan tendangan. Bahkan, tidak jarang main tembak.

Sungguh ironi, aparat keamanan hanya berani terhadap rakyatnya sendiri yang justru harus mereka lindungi. Saat berhadapan dengan lawan nyata, yang sepadan, yang merugikan kehidupan rakyat, keberingasan dan ketegasan mereka hilang entah ke mana.

Rasanya kita perlu menggaungkan kembali pernyataan yang sering dikemukakan Presiden SBY saat menjadi Danrem Pamungkas: In crucial things, unity. In important things, diversity. In all things, dignity. Apa pun yang terjadi, jangan sampai mengorbankan jati diri. Sayang, semangat ultraliberal, yang diyakini elite pengendali negara ini, membuat kehilangan jati diri seolah ongkos sepadan bagi upaya perbaikan ekonomi kita.

LOKUS masalahnya kian terbuka. Ada tiga perusahaan minyak raksasa beroperasi di sana. Shell dan UNOCAL (AS) serta ENI (Italia). Menarik disimak, Shell awalnya ingin masuk kawasan Ambalat melalui Indonesia. Setelah ditolak, mereka masuk melalui Malaysia. Artinya, di sini ada persaingan para kapitalis untuk mengeruk 700 juta sampai satu miliar barrel minyak dan 400 triliun kaki kubik gas yang ada di sana. Fakta ini mengkhawatirkan. Jangan-jangan ketegangan yang terjadi adalah antara kekuatan ekonomi kapitalis yang (selalu) enggan berhadapan secara langsung.

Terlepas dari spekulasi ini, kekayaan sumber daya alam ini amat dibutuhkan Malaysia untuk memelihara tingkat kemakmuranya. Faktor inilah yang membuat Malaysia seakan bisa mendiktekan kehendak kepada elite Indonesia yang hilang jati dirinya. Simak saja. Para pemimpin kita enggan membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional, enggan pula berperang.

Mengapa? Karena kemampuan diplomasi kita amat rendah. Masih segar dalam ingatan gagalnya diplomasi mempertahankan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, maupun Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita enggan berperang karena embargo peralatan militer yang dilakukan AS membuat kita tidak yakin memiliki cukup amunisi untuk bertempur dalam waktu lama.

Realita ini menunjukkan, betapa lemahnya kepemimpinan di Indonesia saat ini. Bahkan membuktikan bahwa keruntuhan nasionalisme terjadi pada para elite, bukan rakyat seperti gambaran selama ini. Saat para elite tidak berani bersikap, rakyat justru tegas menyatakan siap berkorban demi keutuhan wilayah NKRI. Tanpa senjata, hanya berbekal ilmu bela diri, rakyat siap membela tiap jengkal Tanah Air kita.

Meski ada elite yang tertawa melihat reaksi rakyat, karena mustahil melawan senjata modern hanya dengan ilmu bela diri, namun sikap rakyat adalah sikap patriot yang tidak rela harga diri bangsanya diinjak-injak. Justru mereka yang menertawakan reaksi rakyat itu yang bisa disebut-maaf-"pelacur politik" yang tidak paham makna nasionalisme.

Lagu sendu yang didendangkan anak rakyat, seolah tak mampu menembus relung kesadaran para elite akan perlunya mempertahankan dan memperkokoh wawasan jati diri bangsa Indonesia. Anak rakyat bernyanyi, "Hamparan kebun kelapa sawit di Sumatera, menjanjikan bekal hari esok, namun sayang bukan kami punya. Hutan yang lebat di Kalimantan dan Papua, di mana flora dan fauna yang eksotik berada menghibur hati, tapi bukan kami punya. Laut yang luas, kaya akan ikan dan minyak bumi yang melimpah, itu pun bukan kami punya. Lalu apa yang tersisa bagi kami untuk menapaki hari-hari ke depan?"

TERIMA kasih Malaysia. Tindakan Anda menyatukan kesadaran bangsa Indonesia yang terkoyak-koyak. Tatkala bangsa yang besar ini harus rela melihat anak rakyatnya dicambuki, dikejar bak binatang liar. Saat anak bangsa datang ke Malaysia dalam kemiskinan dan pulang dalam kemelaratan, ditimpa impitan kehidupan yang kian keras mengikuti kenaikan harga BBM saat kembali dari pengusiran. Tatkala aparat hanya berani memerangi rakyat sendiri. Maka sadarlah kita, mengharap perubahan datang dari kalangan elite sama dengan mengharap matahari terbit dari barat.

Temuan Prof Tadjudin Noer Effendi membuktikan, kekerasan sosial tidak terjadi di saat negeri kita tepat di titik pusar krisis ekonomi, karena kemampuan rakyat menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Artinya, para elite harus menyadari, pemerintahlah yang tergantung kepada rakyat, bukan sebaliknya. Tetapi haruskah kesadaran ini datang setelah "ditampar" Malaysia?

Negara jiran yang pernah demikian takut akan sikap ekspansionis Indonesia karena mengenal konsep kekuasaan Mandala telah menggugah kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya pembangunan ekonomi di daerah terpencil, khususnya perbatasan dengan negara lain. Ketimpangan kemakmuran antara Jakarta dan daerah, khususnya di perbatasan, mengisyaratkan rendahnya kemampuan manajerial pemimpin mengurus negara.

Karena itu, di balik arogansinya menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia, Malaysia menyisakan pesan, "Indonesia bukan sekadar Jakarta". Inilah titik tolak membangun Indonesia baru yang memiliki dignity.

Meski demikian, mengapa hal sepele ini harus datang dari Malaysia dengan cara yang tidak kita sukai?

Riswandha Imawan Guru Besar Fisipol UGM

 

 

Senin, 14 Maret 2005  20:58:00
Israel Berencana Serang Fasilitas Nuklir Iran
Laporan: Indah Wulaningsih

London-RoL -- Israel berencana menyerang fasilitas nuklir Iran. Mengutip pernyataan sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, Sunday Timesdalam edisi Ahad (13/3), menyebutkan Israel telah mempersiapkan serangan militer apabila semua jalur diplomasi untuk menghentikan program nuklir Iran tertutup.

Sumber ini mengatakan otorisasi bagi penyerangan itu telah diberikan Sharon dalam sebuah pertemuan rahasia yang digelar di peternakannya di Negev bulan lalu. Rencana yang disusun pihak militer itu terdiri dari gabungan serangan darat dan udara. Serangan ini akan melibatkan pasukan elit Israel, Shaldaq atau Kingfisher dan jet tempur F-16 dari skuadron ke-69 yang dilengkapi dengan bom penetrasi bunker. Sumber ini mengatakan rencana serangan atas fasilitas nuklir Iran di Natanz ini telah didiskusikan dengan sejumlah petinggi militer Amerika Serikat (AS).

Times juga menyebutkan selama beberapa bulan terakhir ini militer Israel telah menggelar latihan simulasi perang dengan target fasilitas nuklir Iran. Kemungkinan serangan militer Israel ke Iran ini tidak terlalu berlebihan karena Israel pernah melakukan hal yang sama ke Irak. Hampir seperempat abad lalu, pesawat tempur Israel menyerang fasilitas nuklir Irak di Osirak.

Mengenai kemungkinan ini bakal terulang di Iran, Wakil Perdana Menteri Shimon Perez dengan tegas dan singkat menampiknya. ''Saya pikir tidak akan terjadi,'' tegas Perez. Namun Menteri Luar Negeri  Silvan Shalom mengindikasikan sebaliknya. Shalom mengatakan keyakinannya bahwa jalur diplomasi sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran. Namun Shalom juga memperingatkan bahwa pikiran bahwa Iran mempunyai bom nuklir tidak hanya mendatangkan mimpi buruk bagi dunia tetapi juga bagi Israel.


Subject: JARINGAN-JARINGAN ZIONIS DI MEDIA MASSA
Importance: High

Semua yang Bisa Dibaca, Ditonton, Didengar
JARINGAN-JARINGAN ZIONIS DI MEDIA MASSA

Koneksi Yahudi (Jewish Connection) dikenal tersebar merata di berbagai bidang.Mulai dari bidang perdagangan, film dan hiburan sampai media massa.
Rata-rata semua besar dan berpengaruh.

Rupert Murdoch, seorang Yahudi Australia menguasai puluhan penerbitan diseluruh dunia. Ada nama Julius Reuter, seorang pembangun kantor berita terkemuka di Inggris, Reuters. Termasuk kantor berita lain seperti Associated Press, The
United Press International, dan International News Service.

Mantan wartawan Jawa Pos biro Washington DC, Djoko Susilo yang pernah tinggal di Amerika selama 4 tahun mengaku bila hampir semua media massa yang berpengaruh di Amerika semuanya dipegang orang-orang Yahudi.

?Kalau ditarik benang merahnya, sebenarnya seluruh media di Amerika Serikat mempunyai satu titik temu. Yakni, semua media di AS dimiliki orang-orang Yahudi dan simpatisan Israel,? katanya.

Jew Watch, sebuah lembaga pengawas bagi komunitas Yahudi Amerika (Keeping a Close Watch on Jewish Communities & Organizations) dalam edisi Website mengungkapkan beberapa media berpegaruh di Amerika di bawah kontrol komunitas Yahudi.

Dalam artikelnya yang berjudul; ?Jewish Controlled Press: Newspapers in USA (Pers di Bawah Kontrol Yahudi: Koran-koran di Amerika Serikat)?, Jew Watch mengelompokkan beberapa raja media di bawah kontrol Yahudi.

Tiga koran paling prestisius dan berpengaruh di Amerika; The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post. Ketiga media berpengaruh di AS ini juga di bawah kontrol Yahudi.

The New York Times yang didirikan tahun 1851 dari Henry J Raymond dan George Jones ini kini dipegang oleh Maz Frankel (Redaktur Pelaksana) dan Joseph Lelyveld (Pimpinan Umum). Keduanya adalah orang Yahudi. Di bidang media massa
internasional di Amerika, surat kabar! The New York Times yang terbit sejak tahun 1841 dan The Washington Post, keduanya didominasi orang Yahudi.

Konsumen kedua surat kabar ini terutama pejabat penting Amerika yang berkompeten menggariskan arah dan strategi politik Amerika. Karenanya, kedua surat kabar tersebut dinilai sangat besar pengaruhnya terhadap setiap kebijakan pemerintah Amerika yang diambil.

Selain di Amerika Serikat, orang-orang Yahudi juga mendominasi industri pers di berbagai negara. The Times (Inggris) dikuasai juga oleh orang Yahudi dan menjadi semakin terkenal setelah diambil alih Yahudi asal Australia, Rupert Murdoch. Ada
juga The Daily Express, The News Chronicle, The Daily Mail, The Observer yang disetir kelompok Zionis.

Keempat media besar tersebut berada di Inggris. Ada juga The Mirror grup misalnya, sempat dikuasai oleh Robert Maxwell yang terkenal mempunyai koneksi erat dengan Mossad. Koran The Sun dan The Times yang dimiliki Rupert Murdoch, mantan warga Australia yang pern! ah mendapat hadiah Bintang David, sebuah penghargaan tertinggi yang disampaikan oleh warga Yahudi-Israel.

Selain itu ada juga Majalah Time, Newsweek, U.S. News & World Report. Di bawah payung perusahaan Time Warner Communication yang dipimpin seorang Yahudi bernama Gerald Levin, Majalah mingguan Time, mencapai sirkulasi hampir 4,1 juta.
Newsweek, di bawah orang Yahudi bernama Katherine Meyer Graham telah memiliki sirkulasi mencapai hampir 3,2 juta eksemplar.

Selain di media massa, orang-orang Yahudi juga menguasai dunia
broadcasting. Di Amerika terkumpul dalam tiga perusahaan besar. Antara lain; juga berusaha menguasai bidang pertelevisian seperti American Broadcasting Companies (ABC),
Columbia Broadcasting System (CBS), dan National Broadcasting Company (NBC)semuanya di bawah kontrol Yahudi.

Ketiga stasiun televisi ini dinilai menjadi acuan bagi pemirsa di Amerika,Eropa, dan Kanada. Lewat media seperti ini pula kelompok Zionis biasa mema! nfaatkan berita dan penyiaran untuk kepentingan mereka dalam meng-counter setiap berita yang menyudutkan gerakan Zionis. Terutama jika menyangkut
tindakan kekerasan Israel terhadap bangsa Palestina di tanah pendudukan.

Dominasi kelompok Yahudi tidak hanya sampai di situ. Di industri perfilman internasional mereka juga memiliki pengaruh besar. Perusahaan film Fox Company milik William Fox, Golden Company (Samuel Golden), Metro Company (Lewis Mayer), Warner & Bross Company (Harny Warner), serta Paramount Company milik Hod
Dixon, merupakan perusahaan film yang punya pengaruh besar di bidangnya.

Bukan hanya itu, di AS hampir 90% pekerja film mulai dari sutradara, produser, editor, artis, dan krunya adalah orang-orang Yahudi. Luasnya keterlibatan orang-orang Yahudi di industri ini membuktikan bahwa mereka sangat
mendominasi perfilman Amerika dan bahkan dunia.

Juga konglomerat hiburan terbesar saat ini seperti Walt Disney Company, dipimpin oleh seorang Ya! hudi bernama Michael Eisner (CEO), Disney memiliki beberapa anak perusahaan dibidang stasiun televisi. Misalnya Walt Disney Television, Touchstone Television, Buena Vista Television.

Untuk film, Walt Disney memiliki Walt Disney Picture Group yang dikepalai oleh Joe Roth, seorang keturunan Yahudi. Termasuk juga Touchstone Pictures, Hollywood Pictures, and Caravan Pictures. Disney juga memiliki Miramax Films.

Menyudutkan Arab dan Islam
Melalui industri film, insan film Yahudi berusaha mempengaruhi cara pandang masyarakat dunia melihat Yahudi dan dunia Islam. Di Hollywood, hampir semua perusahaan film dimiliki kaum Yahudi. Dan jangan kaget bila semua film produksi Hollywood hampir bisa dipastikan selalu menyiratkan pesan anti Arab dan Islam.

Lihat saja, William Fox (Fox Company), Samuel Golden (Golden), Lewis Mayer(Metro), Harny Warner (Warner & Bross) dan Hot Dixon (Paramount), semuanya keturunan Yahudi. Di AS 90% pekerja film mulai dari sutradara, produser, editor, artis sampai kru film adalah Yahudi.

American Film Magazine, (edisi Mei 1990) pernah menominasikan 10 Bos Dunia Hiburan Top di Amerika. Sepuluh orang itu antara lain; Time Warner Communications (Steven J. Ross), Walt Disney Co. (Michael D. Eisner), NBC (Robert C. Wright), Paramount Communications (Martin S. Davis), CBS (Laurence A.
Tisch), 20th Century Fox Fil! m Corp. (Barry Diller), Columbia Pictures Entertainment (Victor A. Kaufman), Viacom Inc. (Sumner Redstone), Capital Cities/ABC (Thomas S. Murphy), and MCA Inc. (Lew Wasserman).

Dari 10 Top Entertainment CEOs yang tertera di atas, delapan diantaranya? Ross, Eisner, Davis, Tisch, Diller, Kaufman, Redstone, and Wasserman- semuanya adalah orang Yahudi. Hanya dua dari 10 CEO entertainment yang non-Yahudi.

Pada 1998 ini, Paramount dan Disney masing-masing mengeruk lebih dari USD 1 miliar, lalu 20th Century Fox dengan USD 730 juta, disusul Sony dan Warner Bros masing-masing mendekati angka USD 700 juta. Sementara itu, Universal Studio harus menerima lebih sedikit, USD 330 juta.

Majalah Forbes (edisi 1997), pernah mendaulat Steven Spielberg, sutradara Yahudi sebagai entertainer terkaya 1997. Dengan pendapatan 313 juta dollar AS dalam periode 1996-1997. Kekayaan sutradara-produser mashur yang mencuat lewat film
Jurassic Park dan The Lost World itu mengungguli pembawa! acara kondang Oprah Winfrey.

Para milyuner Hollywood inilah yang kabarnya selalu menyokong semua dana utama pada setiap kampanye dan pemilihan calon presiden Amerika Serikat.

***
Umumnya, hampir semua produksi Hollywwod selalu menyudutkan dunia Arab. Islam dan Arab selalu menjadi bulan-bulanan film-film Hollywood.

Dalam film `Excodus' (1960), Hollywood menceritakan tentang kebrutalan orang-orang Arab yang membunuh gadis Yahudi berumur 15 tahun yang diperankan oleh Jil Hayworth, dalam film ?Cast a Giant Shadow' (1966), digambarkan beberapa orang-orang Arab tengah menertawakan dan memelototi gadis-gadis Israel yang
sedang berpakaian mini dan seksi. Film `Network' (1976, meraih empat Academy Awards), sedang menggambarkan seorang komentator dan penyiar TV ?yang ketika itu mengomentari perang suci? dengan menyebut orang-orang Arab adalah kelompok fanatik abad pertengahan (the mediaval fanatic) yang harus dikontrol
Amerika.

Pada film Black Sunday (! 1977), menggambarkan kepahlawanan warga Israel yang sedang menyelamatkan rencana pembunuhan penonton Superbowl (sebuah olah raga yang banyak digemari di AS) dan Presiden Amerika Serikat dari ancaman terorist Arab.

Hollywood selalu menggambarkan Arab dan Islam sebagai sesuai yang selalu berkonotasi `buruk' dan `kotor'. Lihatlah film Iron Eagle (1986) dan film `Death Before Dishonor' (1987). Bagaimana Islam digambarkan seolah-olah kotor, tidak bertuhan rendah.

Dalam sebuah film animasinya yang berjudul Aladdin (1992), salah satu tema lagunya dengan nada cukup mengejek Islam dengan sebutan Arab adalah bangsa bar-bar, ?It's barbaric, but hey, it's home?.

Masih cukup banyak film-film produksi Hollywood yang merendahkan martabat Islam dan dunia Arab. Sebut saja misalnya; film ?True Lies? (1994), menggambarkan seorang teroris berkebangsaan Arab yang membawa senjata nuklir. Film yang dibintangi aktor kekar Arnold Swazenneger sedang memerangi teroris Crimpson Jihad; da! lam film Executive Decision (1996); dan film Kazaam (1996),
semuanya sama, membuat stereotype bahwa Arab adalah teroris. Masih ada juga gambaran (images) betapa buruknya bangsa Arab dan orang-orang Muslim dalam film Not Without My Daughter dan The Siege. Propaganda anti arab dan Islam juga terdapat
dalam film Iron Eagle, Delta Force, dan Top Gun yang dibintangi aktor Tom Cruise.

Dalam sebuah studi tahun 1994, yang berjudul, Sacred Chain: A History of The Jews, Norman F. Cantor, salah seorang Profesor dari New York University mengemukakan hampir semua produksi dan distribusi film-film Hollywood secara penuh dipegang para imigran Yahudi. Dan masih mendominasi secara penuh,
?terutama? para di top level kebijakan. Karena tidak heran bila semua film produksi Hollywood senantiasa dengan sengaja menyudutkan Islam dan dunia Arab.

Pencitraan yang buruk tentang Arab dan dunia Islam memang bukanlah monopoli film Hollywood. Berbagai stasiun televisi yang cukup berpengaruh! di Amerika pun punya kecenderungan yang sama. Dalam sebuah studinya tentang `The TV Arab, Arab-America', Jack G. Shaheen, seorang profesor emeritus dari jurusan
jurnalistik siaran di Southern Illionis University meneliti tentang pencitraan terhadab Arab oleh semua stasiun jaringan televisi Amerika Serikat.

Dr. Shaheen, seperti dikutip Abdullah Mohammad Sindi, dalam The Journal of Historical Review, (Volume 17, No. 5, October 1998), menunjukkan bahwa telah ada bias pencitraan tentang Arab. Dr. Shaheen menunjukkan lebih dari 100 program televisi, dari total hampir 200 episode, diantaranya hiburan populer, komedi, drama, film dokumenter, berita, olah raga dan agama, termasuk ditambahi
dengan wawancara dengan beberapa sumber eksekutifnya, produser, penulis naskah.
Hasilnya menunjukkan bahwa semua mencintraan bahwa Arab adalah sesuatu yang sangat buruk dan hina.

Dampak pencitraan yang sembarangan itu memang tidak main-main. Beberapa saat terjadinya pengeboman! gedung Alfred Murrah di Oklahoma City (1995), beberapa reporter CNN, termasuk seperti Wolf Blitzer langsung menyebut teroris Arab lah pelakunya.

Termasuk juga penyiar CBS, Connie Chung dengan mengatakan, ?Sumber resmi pemerintah AS pada CBS mengatakan bahwa pelakunya adalah terotis Timur Tengah?.
Pendapat senada bahkan juga resmi diucapkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Walaupun kemudian pelaku yang tertangkap ternyata Timothy Mc Veigh, seorang pengikut David Koresh, toh gara-gara berita menyudutkan itulah, masyarakat muslim Amerika langsung mendapat teror dan perlakuan buruk dari semua
rakyat Amerika.

Di jalan, di bus, kereta dan tempat umum lainnya, Muslim mendapatkan perlakuan yang buruk. ?Kamu bukan orang Amerika?, ?Go out from US?,?Pulanglah ke negaramu?, ?Kalian Bangsa Arab yang Kotor?, dan berbagai umpatan buruk lainnya.

Tahun 1996, seperti yang dihimpun Ketua Lingkungan Islam Amerika Utara, telah terjadi 160 kali pembakaran tempat ibadah ! umat Islam di seluruh AS. Serta 10 surat ancaman yang dikirim dari kota Birmingham, Inggris.

Menurut catatan CAIR, (Council on American-Islamic Relations Washington, DC), lembaga yang mengkampanyekan Hak-hak Islam di Amerika), sampai tahun 1997 telah terjadi 280 kasus yang merugikan umat Islam AS. Bentuknya macam-macam, misalnya
teror dan kekerasan anti-Muslim, diskriminasi, bias dan pelecehan.

Akibat pencitraan yang membabi buta itulah, pernah seorang aktor gaek Hollywood, Marlon Brando mengkritik para pemilik dan industri Hollywood. Dalam sebuah wawancaranya dengan Larry King, Marlon Brando, pemeran utama dalam film The Godfather itu pernah mengkritik habis-habisan tabiat orang Yahudi di Hollywood.
industri film raksasa AS itu, baik secara terang-terangan ataupun terselubung, telah menjadi alat para pemodal Yahud untuk mengkampanyekan anti-Arab dan Islam.

Mereka adalah orang-orang Yahudi, yang menurut Brando, memang menguasai modal industri film ters! ebut. Kritik Brando ini rupanya membuat panas kuping orang Yahudi di Amerika. Dampaknya tidak tanggung-tanggung, munculnya ancaman pembunuhan terhadap aktor gaek itu.

Repotnya, menurut Dr Edward Said dalam bukunya The Pen and The Sword (1994), di Israel kini tumbuh subur bisnis yang menyediakan pemain-pemain pembantu yang siap memainkan peran sebagai orang Arab atau orang Islam yang berkepribadian
jahat. Para figuran ini, tentu saja cukup mahir berbahasa Arab.

Tentu saja, hingga kini, profesi ini menjadi lahan baru yang menguntungkan propaganda Yahudi dan Israel. Adalah sebuah kenyataan, bila konspirasi Yahudi dan Hollywood ini sebagai sebuah kesengajaan untuk menyudutkan Islam.

[Cholis Akbar, dari berbagai sumber]
Source : hidayatullah.com

IRWAN PRAYITNO DAN SEMANGAT BERWIRAUSAHA

Oleh: Yesi Andesba*

* ANak DESa SaniangBAka

Pejabat sementara PKS, Tifatul Sembiring, dalam
tulisanya di majalah Saksi menyebut-nyebut semangat
berwirausahanya orang-orang Minang yang luar biasa.
Dimanapun ada kerumunan manusia, dapat dipastikan di
situ ada orang Minang. Teman yang berasal dari Flores
sampai terheran-heran, "Di kampung saya kok bisa ada
orang Minang" ujarnya penuh tanda tanya...

Seharusnya kita tidak perlu heran dengan militannya
orang Minang dalam berusaha, bukankah ini adalah
sunnah rasul kita tercinta? saya justru heran dengan
orang yang hidup hanya mengandalkan gajinya saja,
padahal gajinya itu kecil (kalo besar sih nggak
apa-apa). Ingat, pertumbuhan ekonomi Nasional dan
Islam khusnya tidak bisa tanpa dana, tanpa market,
tanpa usaha, tanpa investasi dan tanpa kerja keras.
Kita harus kaya!!! (bukan karena saya akhwat matre
lo).

Di tengah lirik sana-lirik sini parpol, telah muncul
satu nama memecah harap cemas masyarakat Sumbar akan
calon pemimpin masa depan. Saya sepakat dengan
pencalonan pak Irwan Prayitno dalam Pilkada Sumbar.
Pengusaha dan pendidik asal Minang ini sangat pantas
menduduki kursi no ciek dan memimpin Sumbar. Beliau
tidak memiliki cacat politik dan juga sosial (walau
saya sempat kecewa sedikit pada beliau karena suatu
hal, tapi itu wajar dan dapat dimengerti)

Adzkia, icon usahanya di Sumbar dan beberapa Propinsi
tetangga menjadi inspirasi dan sumber nafkah banyak
kelaurga. Jika Sumbar di pimpin olehnya, saya yakin
akan kembali mekar bunga-bunga bangsa yang kabarnya
sekarang layu dan tak jua hendak berkembang di Sumbar.


Kombinasi politikus, religius, pendidik, pengusaha
menurut saya adalah semangat baru bagi pemimpin dalam
menciptakan iklim bernegara dan bermasyarakat di
tengah kebencian kita pada sistem yang telah berurat
dan berakar dengan KKN dan ketidak profesionalan.

Saatnya kebebasan kita memilih, kebeningan hati dan
pilihan bernurani akan memberi arti bagi negeri ini
yang masyarakat dan kedaulatanya terhina karena
ketidakberdayaan pemimpin melindungi, mengayomi,
melayani dan memfasilitasi rakyat dan negaranya.

Walahualam

Andesba, orang Minang yang merindukan pemimpin yang
adil dan mensejahterakan.


"Bersihkan hati, sucikan jiwa, raih kemenangan"

Yesi Elsandra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 WASIAT HASSAN AL-BANNA

Tarikh: 10/29/2001 9:55:04 AM

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang..

1)Wahai kawanku,
Segeralah tunaikan solat di awal waktu
Dikala mendengar azan
Usahakanlah semampu terdaya.
Ini membuktikan kesungguhan anda.
Di situ ada sumber kejayaan
Di situ ada sumber pertolongan
Di situ ada sumber taufiq
Perhatikanlah banyak perintah ayat al-Quran.
…dimulakan dengan menyebut solat di awalnya
Perhatikanlah Tuhan mensyariatkan solat…
Juga di medan perang. Walaupun…
Di saat genting dan cemas.

2)Wahai kawanku,
Bacalah al-Quran dan cuba memerhati mesejnya
Selalulah berzikir dan cari ilmu walaupun sedikit
Kurangilah dengan masa yang tidak bertujuan
Sesungguhnya al-Quran adalah
sumber asli lautan ilmu
Sumber hidayah kepada anda dan saya
Bacalah al-Quran, kelak ia memberi syafaat.
Sentiasalah membaca, menghafal dan…
Cuba hayati mesej arahannya.
Selalu berzikir, berzikir dan terus berzikir!!!
Di sini ada ketenteraman
Di sini ada kedamaian
Di sini ada kesalaman
Jadilah hamba yang sejahtera.

3)Wahai kawanku,
Dorongkanlah diri untuk menguasai
Bahasa al-Quran
Mulakan dulu walaupun sepatah perkataan
Sebenarnya anda telah lama bermula
Iaitu sejak anda solat setiap hari
Sebut dulu walaupun tak faham.
Antara mala petaka pertama menimpa umat kita…
Ialah kecuaian menguasai bahasa agamanya.
Juga mengutamakan bahasa pasar,
Ayuh !!! Apa tunggu lagi??????
Bukalah ruang walaupun seminit !!!

4)Wahai kawanku,
Usahlah bertarung idea tanpa adabnya!!!
Berdebatlah jika kiranya berbuahkan kebaikan
Awasilah pertengkaran
Kerana di sana ada unsur lain membisikkan?
Syaitannnn namanya !!!

5)Wahai kawanku,
Senyumlah selalu tapi bersederhanalah
dalam ketawa !!!
Rasulullah s.a.w adalah
yang paling banyak senyum
Beliau ketawa kena pada tempatnya
Tapi berpada-pada sahaja, wahai kawan !
Plato juga berharap agar pementasan hiburan…
Yang tidak bermutu terlalu banyak ketawa bodoh
Hanyalah disaksikan oleh golongan abdi
Dan orang upahan asing!
Begitu juga Aristotle berpendapat
Supaya golongan belia ditegah daripada
menyaksikan hiburan-hiburan yang membolehkan
perbuatan ketawa berlebih-lebihan.
supaya tidak menular.
Keburukan dalam diri!!!

6)Wahai kawanku,
Seriuslah selalu dan berguraulah berpatutan
Tanpa serius, hilanglah kesungguhan !!!
Tanpa bergurau, tawarlah kehidupan
Kata seorang penyair :
Berikan kerehatan pada jiwamu
Yang sibuk dengan berfikir
Ubati dengan bergurau
Tapi,
Kalau mengubatinya dengan bergurau
Mestilah dalam batas
Seperti kau masukkan garam
ke dalam gulai.

7)Wahai kawanku,
Kawallah nada suaramu
Setakat yang diperlukan
oleh pendengar di depanmu
Janganlah jadi seperti orang bodoh.
Bahkan menyakit hati orang lain pula!!!
Luqman El-Hakim juga
mencela orang yang tidak pandai
menjaga nada suara pada tempatnya.
Itulah katanya suara keldai!!!
Surah al-Isra' memberi tip kepada kita…
Jangan keraskan suramu dalam solat
Tapi jangan pula merendahkannya
Carilah jalan tengah di antara keduanya.

8)Wahai kawanku,
Usahlah umpat mengumpat
Usahlah merendah-rendahkan pertubuhan lain
Bercakaplah jika ada unsur kebajikan
Ayuh!!! Hindarilah…mengumpat!
Tidak sekali mencabuli jemaah-jemaah lain!!!
Perkatakanlah kebaikan demi kebajikan bersama.
Sukakah anda memakan daging pasti anda suka!!
Tapi sukakah anda memakan daging kawan anda
yang telah mati?? Sekali-kali tidak!!!
Begitulah dosa orang yang mengumpat.
Bertaubatlah jika anda mengumpat
Tapi mesti minta ampun terhadap orang umpatanmu
bersama!!!
Boleh mengumpat…apabila ada tujuan syarie.
-untuk menuntut keadilan apabila dizalimi
-untuk menghapuskan kemungkaran
-kerana memberi amaran kepada Muslim tentang kejahatan
-kerana mengisytiharkan kefasikan dan kejahatan.

9)Wahai kawanku,
Luaskanlah interaksimu dengan umat manusia
Sekalipun mereka tidak diminta berbuat demikian!!!
Salam kasih sayang adlah untuk semua
Salam kemesraan adalah untuk sejagat.
Hulurkanlah, hulurkanlah salam perkenalan…!
Lihatlah pensyariatan ibadah haji.
Pelbagai bangsa datang berkunjung!!!
Pelbagai lapisan datang berkunjung!!!
Pelbagai darjat datang berkunjung!!!
Sama-sama menjunjung obor suci
Tidak mengenali tapi tak sepi.

10)Wahai kawanku,
Maksimumkanlah faedah waktu anda dan
Tolonglah orang lain
supaya manfaatkan masa.
Hadkanlah masa penunaiannya.
Biasakan hidup berjadual di hadapan.
Bijaksanakanlah menggunakan waktu anda!
Bersegeralah, kerana…
Sabda Nabi s.a.w bermaksud :
"Bertindak segeralah melakukan amal…"
(Diulang 7 kali..)
Sayanglah masa saudaramu!!!
Hormatilah waktu mereka!!!
Usahlah berbicara meleret-leret…
Tanpa haluan dan noktahnya.

 

Syaikh Hasan al-Banna

      Saya  berjanji  :  Akan  berusaha  untuk  penghidupan  saya  dan
      berhemat  untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan
      menyisihkan  sebagian  dari  usaha  itu  untuk kegiatan-kegiatan
      kebajikan.  Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan
      bermanfaat  serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri
      dan  negara  Islam  lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba
      dalam  semua  urusan  dan  tidak melibatkan diri dalam kemewahan
      yang diatas kemampuan saya.

Dilahirkan  di  desa  Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M.
Ayahnya,  Syaikh  Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits.
Sejak  masa  kecilnya,  Hasan  al  Banna sudah menunjukkan tanda-tanda
kecemerlangan  otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan
kecil  telah  menghafal separuh isi Al Qur'an. Sang ayah terus menerus
memotivasi  Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil
mendisiplinkan  kegiatannya  menjadi empat. Siang hari dipergunakannya
untuk  belajar  di  sekolah. Kemu dian belajar membuat dan memperbaiki
jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur
digunakannya  untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan
mengulang-ulang  hafalan  Al  Qur'an ia lakukan selesai shalat Shubuh.
Maka  tak  mengherankan  apabila  Hasan  al  Banna  mencetak  berbagai
prestasi  gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna
telah menghafal seluruh Al Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya
dengan  predikat  terbaik  di  sekolahnya  dan  nomor  lima terbaik di
seluruh  Mesir.  Pada  usia  16  tahun,  ia telah menjadi mahasiswa di
perguruan tinggi Darul Ulum. Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil.

Selain  prestasinya  di  bidang  akademik,  Beliau juga memiliki bakat
leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan al Banna selalu
terpilih  untuk  menjadi  ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan
pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i'dadiyah (semacam SMP),
beliau  telah  mampu  menyelesaikan  masalah  secara  dewasa, kisahnya
begini :

Suatu  siang,  usai  belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan
melewati  mushalla  kampung.  Hasan  berada  di antara mereka. Tatkala
mereka  berada  di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat
itu,  murid-murid  segera  menyerbu  kolam  air tempat berwudhu. Namun
tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang
dianggap  masih  kanak-kanak  itu.  Rupanya,  ia  khawatir kalau-kalau
mereka  menghabiskan  jatah  air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu
berlarian  menyingkir  karena  bentakan  sang imam, sementara sebagian
kecil  bertahan  di  tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna
lalu  mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup
dengan  satu  ayat  Al Qur'an, "Dan janganlah kamu mengusir orang yang
menyeru  Tuhannyya  di  pagi  hari  dan  di petang hari, sedang mereka
menghendaki keridhaan-Nya"(QS: Al-An'aam :52).

Kertas  itu  dengan  penuh  hormat  ia  berikan kepada Syaikh Muhammad
Sa'id,  imam  mushalla  yang  menghardik kawan-kawannya. Membaca surat
Hasan  al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya
sikapnya   berubah  terhadap  "rombongan  anak-anak  kecil"  tersebut.
Sementara  para  murid  pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat
wudhu  setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu
berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla!

Pada  usia  21  tahun,  beliau  menamatkan studinya di Darul 'Ulum dan
ditunjuk  menjadi  guru di Isma'iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin
dengan  kelakuan  Inggris  yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah
sebuah  masa  di  mana  umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat.
Kekhalifahan  Utsmaniyah  (di  Turki),  sebagai pengayom umat Islam di
seluruh  dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan.
Sementara  kaum  penjajah  mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya.
Bahkan  di  Turki  sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di
negaranya.  Puluhan  ulama  Turki  dijebloskan ke penjara. Demikianlah
keadaan  dunia  Islam  ketika  al  Banna  berusia muda. Satu di antara
penyebab  kemunduran  umat  Islam  adalah bahwa umat ini jahil (bodoh)
terhadap ajaran Islam.

Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia
kepada   Allah,   mengajak  manusia  untuk  memberantas  kejahiliyahan
(kebodohan).   Dakwah   beliau   dimulai  dengan  menggalang  beberapa
muridnya.  Kemudian  beliau  berdakwah  di  kedai-kedai  kopi. Hal ini
beliau  lakukan  teratur  dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan
yang  didirikannya "Al Ikhwanul Muslimun", bekerja keras siang malam :
menulis  pidato,  mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll.
Dakwah beliau yang luhur mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam
Mesir.  Tercatat  kaum  muslimin  mulai  dari  golongan  buruh/petani,
usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.

Pada  masa  peperangan  antara  Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an),
beliau  memobilisasi  mujahid-mujahid  binaannya. Dari seluruh Pasukan
Gabungan  Arab,  hanya  ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi,
yaitu pasukan sukarela Ikhwan ! Mujahidin sukarela itu terus merangsek
maju,  sampai  akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah
Mesir.  Amerika  Serikat,  sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom
Mesir  jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah
sebuah  tragedi  yang  membuktikan  betapa pengecutnya manusia. Ribuan
mujahid  Mesir  ditarik  ke  belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa ?
Oleh  pasukan pemerintah Mesir ! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin
yang  ikhlas  ini  lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan
beberapa  waktu  setelah  itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul
Muslimin  menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh
musuh-musuh Allah.

Dakwah  beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia
memproklamasikan  kemerdekaannya,  Hasan  al  Banna  segera menyatakan
dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat
M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan :
M.  Natsir  di  kemudian  hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah
kembali menjadi negara kesatuan).

Syahidnya  Hasan  al Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah
menjadi  kehendak  Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam
tidak  akan  pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga
berusaha memadamkannya.

Mereka   ingin   memadamkan   cahaya   (agama)   Allah   dengan  mulut
(ucapan-ucapan)  mereka,  dan  Allah  tetap  menyempurnakan cahaya-Nya
meskipun orang-orang kafir benci. QS. Ash-Shaff : 8

Masa-masa  sepeninggal  Hasan  al Banna, adalah masa-masa penuh cobaan
untuk  umat  Islam  di  Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa,
dijebloskan  ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di
perintah  oleh  Jamal  Abdul  Naseer, seorang diktator yang condong ke
Sovyet.  Banyak  pula  murid  beliau  yang  terpaksa mengungsi ke luar
negeri,  bahkan  ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang
disesali.  Bagi  mereka  di  mana  pun  adalah bumi Allah, di mana pun
adalah  lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat
tidaklah  terlepas  dari  jerih  payah  mereka.  Demikianlah, siksaan,
tekanan,   pembunuhan  tidak  akan  memadamkan  cahaya  Allah.  Bahkan
semuanya  seakan-akan  menjadi  penyubur  dakwah itu sendiri, sehingga
dakwah Islam makin tersebar luas.

Di  antara  karya  penerus  perjuangan  beliau yang terkenal adalah Fi
Dzilaalil  Qur'an  (di  bawah lindungan Al Qur'an) karya Sayyid Quthb.
Sebuah   kitab   tafsir  Al  Qur'an  yang  paling  berbobot  di  jaman
kontemporer  ini.  Ulama-ulama  kita pun menjadikannya sebagai rujukan
terjemahan  Al  Qur'an  dalam  Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah :
Al-Qu'an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar
karya  seorang  ulama  Indonesia  Buya  Hamka.  Mengenal  sosok beliau
akanlah  terasa  komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan
beliau.  Berikut  ini  adalah  prinsip-prinsip  yang senantiasa beliau
pegang teguh dalam dakwahnya:

Saya  meyakini  : Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad
SAW  junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat
manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an
itu  Kitabullah.  Islam  itu  perundang-undangan  yang  lengkap  untuk
mengatur kehidupan dunia akhirat.

Saya berjanji : Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan
berpegang  teguh  dengan  sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi
dan para sahabat yang mulia.

Saya meyakini : Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari
sendi Islam.

Saya  berjanji  :  Akan  menjadi  orang yang istiqomah yang menunaikan
ibadah   serta  menjauhi  segala  kemunkaran.  Menghiasi  diri  dengan
akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih
dan  membiasakan  diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya.
Mengutamakan  kekeluargaan  dan  kasih  sayang  dalam  berhukum dan di
pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan
selalu  mengumandangkan  syiar-syiar  islam  dan  bahasanya.  Berusaha
menyebarkan  ilmu  pengetahua  n yang bermanfaat untuk seluruh lapisan
umat ini.

Saya  meyakini  :  Seorang  muslim  dituntut untuk bekerja dan mencari
nafkah,  di  dalam  hartanya  yang  diusahakan  itu  ada haq dan wajib
dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.

Saya  berjanji  :  Akan  berusaha  untuk penghidupan saya dan berhemat
untuk  masa  depan  saya.  Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan
sebagian  dari  usaha  itu  untuk  kegiatan-kegiatan  kebajikan.  Akan
menyokong  semua  proyek  ekonomi  yang  islami,  dan bermanfaat serta
mengutamakan  hasil-hasil  produksi  dalam  negeri  dan  negara  Islam
lainnya.  Tidak  akan  melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan
tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya.

Saya meyakini : Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya,
diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka.

Saya  berjanji  :  Akan  bekerja  untuk  itu dengan segala upaya. Akan
menyiarkan  ajaran-ajaran  islam  pada  seluruh  keluarga saya, dengan
pelajaran-pelajaran  islami.  Tidak  akan memasukkan anak-anak saya ke
sekolah  yang  tidak  dapat  menjaga  aqidah  dan  akhlak mereka. Akan
menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak
berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pad
ajaran islam.

Saya  meyakini  :  Di  antara  kewajiban  seorang  muslim menghidupkan
kembali    kejayaan   Islam   dengan   membangkitkan   bangsanya   dan
mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat
manusia.  Tugas  seorang  muslim  mendidik  masyarakat  dunia  menurut
prinsip-prinsip islam.

Saya  berjanji : Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini
selama   hidupku   dan  mengorbankan  segala  yang  saya  miliki  demi
terlaksananya misi (risalah) tersebut.

Saya  meyakini  : Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat
dalam  satu  aqidah  islam,  bahwa  islam yang memerintahkan pemelukya
untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia.

Saya berjanji : Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan
persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa
di antara golongan-golongan mereka.

Saya  meyakini  :  Sesungguhnya  rahasia kemunduran umat islam, karena
jauhnya  mereka dari ”dien” (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari
perbaikan   itu   adalah   kembali   kepada   pengajaran   Islam   dan
hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja
untuk itu.


Tim penulis :

Kurniawan Supriyadi
Bondan Halim Winartomo
Sumber :

Sabili No. 11/ Th. I 9 Juni 1989
Ishlah No.
Ishlah edisi khusus awal tahun 1995
Bincang-bincang dengan DR. Ing. M. Ali Al-Mahjiry, Islamisches Zentrum Nürnberg

 

Monday, January 31, 2005 - 03:30 PM (30 Reads)
Ma’iyatullah dan Optimisme Kader Da’wah  
 
 
 www.pks-jakarta.or.id    
  
 
Dengan asma-Nya kita selaku manusia mengetahui sesuatu serta dapat
membaca dan menulis, lalu kepada-Nya kita akan kembali. Bagi manusia
yang dikaruniai Allah SWT kesadaran, proses itu tidak boleh hanya
terjadi secara fisik dan alami belaka. Apalagi bagi kita yang telah
dikaruniai keimanan. Dengan penuh kesadaran imani kita harus memulai
setiap aktivitas dalam hidup ini dengan asma Allah SWT, kita menjalani
keseharian dengan syariah Allah SWT dan mengarahkan keseluruhan hidup
ini kepada husnul khatimah dan mardhatillah.
 
Bila suatu saat kita lupa terhadap Allah SWT, menjalankan suatu 
kegiatan
atau program dengan nama selain Allah SWT, tidak memastikan bahwa apa
yang kita kerjakan telah sesuai dengan syariat-Nya, tidak menajamkan
perspektif bahwa kerja kita insya Allah diridhai-Nya. Dalam situasi
demikian kita tidak lebih baik dari posisi seorang anak yang melupakan
orang tuanya. Atau, seorang mandataris suatu Negara yang lupa terhadap
rakyatnya selaku pemberi mandat. Atau, sebuah benda yang jatuh lalu
hancur karena lepas dari porosnya. 
 
Nisyanullah, yakni lupa terhadap Allah mengakibatkan lupa diri. Lupa
bahwa dirinya adalah seorang mukmin, seorang kader dakwah, bahkan
seorang murabbi, lupa bahwa dirinya adalah seorang suami dan seorang
bapak dari sejumlah anak yang mendambakan sentuhan kehalusan dan kasih
sayang. Kemudian melakukan pelbagai penyimpangan (kefasikan) yang
berakhir dengan kerugian dan kehancuran. Allah SWT mengingatkan agar
manusia jangan pernah sesaat pun lepas dari-Nya dan lupa terhadap- Nya
karena akibatnya akan fatal.
“Dan janganlah kamu sekalian seperti orang-orang yang lupa terhadap
Allah sehingga karenanya mereka lupa terhadap diri mereka sendiri,
mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (Q.S 59/Al-Hasyr: 19).
 
Di saat manusia lupa diri akibat lupa terhadap Allah tapi Allah tetap
mengontrol dan menatapnya di manapun dan kapan saja.
“Dan Dia tetap bersamamu (mengawasimu) dimanapun kamu berada dan Allah
Maha menatap apa yang kamu kerjakan” (Q.S 57/Al Hadid: 4)
 
Saudara-saudaraku sekalian
Jika kita selalu bersama Allah menghadirkan-Nya saat kita berpikir,
berkarsa, dan berkarya, bahkan waktu kita marah sekalipun. Maka Dia
niscaya menyertai kita dengan bimbingan-Nya, lindungan-Nya,
pertolongan-Nya, rahmat-Nya, dan ampunan-Nya saat kita salah.
Ma’iyatullah telah diberikan kepada Rasul-Nya SAW dalam situasi yang
sulit. Tetapi bukan secara gratis tanpa investasi ‘amal jihadi’. Adalah
Siti Khadijah RA sebagai saksi atas kepatutan ma’iyatullah untuk
Rasul-Nya. Sebagaimana penuturannya,
 
“Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan engkau. Sebab engkau
gemar bersilaturahim, suka menolong orang lemah, membela orang yang
dizhalimi, menyantuni orang tak punya, serta tampil membela kebenaran”.
 
Sebuah Hadits Qudsi riwayat Syaikhani menyebutkan bahwa Allah 
berfirman,
“Tidak ada amal hamba-Ku yang lebih Aku sukai kecuali menjalankan
apa-apa yang telah aku perintahkan. Dan ketika hamba-Ku tidak
henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnat sehingga Aku
mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Aku yang menjadi
(menjaga) telinganya yang dengan telinga itu ia mendengar, Aku menjadi
matanya yang dengan mata itu ia melihat, Aku menjadi tangannya yang
dengannya ia memukul dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia
melangkah. Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku
mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat lagi kepada-Ku sehasta
niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku
dengan berjalan maka Aku akan datang kepadanya sambil berlari”.
 
Tidak ada imajinasi yang paling baik dan indah daripada memikirkan
ciptaan Allah SWT dan ayat-ayatnya.Tidak ada kata yang lebih indah dari
menyebut asma Allah SWT, laa ilaaha illallah, subhanallah atau
astaghfirullah. Tidak ada nama yang lebih baik dari Abdullah. Tidak ada
sumber kekuatan dan energi yang lebih dahsyat daripada laa haula wala
quwwata illa billah.
 
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah
Kesertaan (ma’iyyah) Allah SWT menuntut kita terlebih dulu memposisikan
diri secara tepat. Bukan semata-mata sebagai makhluk Allah SWT, tetapi
sebagai hamba bahkan junud (prajurit-Nya) yang bersiap dan sigap untuk
melaksanakan setiap perintah-Nya dalam kerangka mewujudkan Islam 
kaaffah
dalam kehidupan pribadi, keluarga, kemasyarakatan, kebangsaan dan
antarbangsa.
 
Jika bukan sebagai prajurit Allah SWT maka posisi manusia –disadari 
atau
tidak- adalah sebagai prajurit iblis (junudu iblis). Kita harus
memposisikan diri sebagai prajurit Allah SWT di setiap lini kehidupan
dan setiap jengkal dari bumi Allah ini. Insya Allah Dia akan
menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang shalih sebagai bagian dari
hasil perjuangan, melalui istikhlaf dan tamkin sebagai mekanisme legal
dalam agama Allah. Kita harus memastikan bahwa komunitas kita adalah
hizbullah. Sebab, hanya komunitas inilah yang pantas diberikan
kemenangan sejati oleh-Nya.
 
Al-Imam As-Syahid Hasan Al Banna pernah mengajukan suatu pertanyaan
besar, “Apa modal kita untuk meraih kemenangan agama ini? Jawabannya
adalah modal dan bekal yang sama yang pernah dimiliki assalafus shalih
di bawah pimpinan Muhammad SAW, Yaitu lima segi keimanan yang meliputi:
Pertama, kemenangan itu akan diraih sebagai hadiah dari Allah SWT 
dengan
all out membela agama- Nya.
Kedua, kemenangan itu dapat diraih melalui keampuhan minhaj Islam yang
kita anut.
Ketiga, kemenangan itu dapat diraih dengan kekuatan ukhuwwah yang kita
kuduskan.
Keempat, kemenangan itu merupakan buah keyakinan kita akan besarnya
imbalan serta pahala perjuangan di jalan Allah.
Kelima, keimanan bahwa kita telah memilih jama’ah yang tepat sesuai
kodratnya untuk menyelamatkan dunia.
 
Kita kokohkan keimanan tentang kelima prinsip tersebut dengan kesabaran
dalam berjama’ah yang berusaha merealisasikan minhajun nubuwwah, jalan
yang ditempuh Rasulullah SAW dan sahabat beliau dalam kesolidan ukhuwah
demi membela dienullah. Kita pun harus berbuat yang ihsan dalam 
kerangka
‘amal jama’I, bukan asal berbuat apalagi saling mengandalkan. Sesudah
itu, kita bertawakkal kepada Allah SWT dan menyerahkan kepadaNya untuk
menentukan saat dan bentuk hasil perjuangan yang akan 
dicapai/diberikan.
Sebab, Allah SWT beserta orang-orang yang sabar. Dia bersama orangorang
yang berbuat ihsan. Dan mencintai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya.
 
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

 

Kewajiban Bergabung dengan Jamaah Muslimin
 
Publikasi: 10/03/2005 09:29 WIB
 
Allah memerintahkan untuk berjama'ah dan jangan berpecah belah
(berfirqoh-firqoh) sebagaimana juga diperintahkan oleh Rasulullah,
"'alaikum bil Jama'ah waiyyakum bil furqoh ", Berarti ada "Al-Jama'ah"
yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk iltizam di dalamnya. mohon
ustadz jelaskan ciri-ciri "al-jama'ah" yang tertera dalam ayat atau
hadits tersebut secara lebih rinci lagi!
 
Abuazi
 
Jawaban:
 
Assalamu 'alaikum Wr. Wb. 
 
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala
Rasulillah, Waba'du
 
Tentang pengertian jama'atul muslimin ini banyak sekali telah dibahas
oleh para ulama. Meski redaksinya berbeda-beda namun tetap ada satu
benang merah yang bisa ditarik dari kesemua pengertian itu. Jamaatul
Muslimin adalah jamaah ahlul halli wal 'aqd, dimana mereka itu 
berhimpun
di bawah naungan seorang khalifah dan ummat ber-ittiba' kepadanya.
Pengertian ini adalah kesimpulan dari Asy-syatibi ketika mengumpulkan
semua hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan masalah jamaah.
Pendapat ini pun dikuatkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar penulis kitab Fathu
Bari.
 
Allah SWT berfirman: 
 
"Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Allah dan janganlah berpecah
belah." (QS Ali Imran: 103) 
 
Rasulullah SAW bersabda, 
 
"Ikatan Islam itu kelak akan terlepas satu persatu. Setiap ikatan yang
lepas akan mempengaruhi ikatan berikutnya dan begitulah seterusnya. 
Yang
paling dahulu terlepas adalah masalah hukum dan paling akhir adalah
masalah shalat." (HR. Ahmad dan Hakim). 
 
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal darah seorang muslim yang
bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah
Rasulullah, kecuali dengan 3 hal: jiwa dibalas dengan jiwa, janda yang
berzina dan orang yang keluar dari agamanya dan melepaskan diri dari
jamaah." (HR Bukhari Muslim).
 
Umar bin al-Khataab pernah berkata, "Tidak ada Islam kecuali dengan
jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan imarah, tidak ada imaroh 
kecuali
dengan taat."
 
Syeikh Husein bin Muhsin bin Ali Jabir menuliskan dalam kitabnya yang
fenomenal "At-Thariq ila Jama'atil Muslimin", bahwa pada hari ini
jama'atul muslimin sebagaimana dalam pengertian etimoligis dan
pengertian syar'i tidak ada atau belum ada. Yang ada adalah jamaah dari
jamaah-jamaah muslimin seperti Ihkwanul Muslimin, Ansharussunnah, 
Jamaah
Tabligh, Hizbut Tahrir dan dan jamaah-jamaah lainnya.
 
Secara syar'i dan tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada 
masing-masing
jamaah yang sudah ada, kewajiban untuk ikut kepada salah satu jamaah 
ini
tidak bisa disamakan dengan kewajiban untuk ikut ke dalam jamaah
muslimin yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Sebab
masing-masing jamaah itu bukanlah jamaah muslimin yang dimaksud. Bahwa
jamaah-jamaah itu nantinya akan membentuk diri menjadi sebuah jamaatul
muslimin yang dimaksud, semoga saja hal itu terjadi tidak lama lagi.
Tentu hal ini menjadi dambaan setiap muslim di abad ini untuk bisa
menyaksikan terbentuknya jamaah muslimin, setelah hilang selama 
beberapa
lama dari muka bumi.
Indikasinya ketiadaan jamaah muslimin seperti yang disebutkan oleh
Rasulullah SAW bisa dilihat dengan mudah bahwa kita pada hari ini tidak
punya khilafah yang tanpa batas-batas geografis. Yang ada sekarang
adalah negeri kecil-kecil hasil kerjaan para penjajah setelah berhasil
menumbangkan khilafah Islamiyah terakhir yaitu Khilafah Utsmani. 
 
Memang benar bahwa negeri kecil-kecil itu penduduknya mayoritas muslim,
tapi sejak awal berdiri, negeri kecil-kecil ini tidak pernah disiapkan
untuk menjadi negara Islam, meski hanya sekedar menerapkan hukum Islam
saja. Bahkan dalam perjalanannya, justru para penguasa negeri
kecil-kecil ini adalah tiran yang kejam dan sadis yang kerjanya
membantai ulama dan umat Islam. Jadi tidak ada kamus hukum Islam,
apalagi khilafah. Karena itu memang benar bahwa saat ini di dunia Islam
tidak ada atau tepatnya belum ada jamaatul muslimin. 
 
Dengan demikian, menjadi kewajiban umum bagi umat Islam untuk
mewujudkannya dengan langkah panjang dan matang. 
 
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Ahmad Sarwat, Lc.
 
---------------------------------------
 
Berjilbab Dulu atau Memperbaiki Hati Dulu?
 
Publikasi: 10/03/2005 08:47 WIB
Jilbab, Hati Dulu atau Kepala Dulu
 
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Bapak ustadz yang terhormat,
 
Saya ingin bertanya perihal jilbab. Saya mempunyai seorang teman yang
bertanya mengenai jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab akan tetapi ia
bingung apakah harus siap dan memperbaiki hati terlebih dahulu sebelum
memakai jilbab atau langsung aja memakai jilbab dan urusan hati sambil
berjalan?
 
Terima Kasih,
 
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
Fahru
 
Jawaban :
 
Assalamu 'alaikum Wr. Wb. 
 
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala
Rasulillah, Waba'du
 
Antara hati dan perbuatan sebenarnya sama-sama penting, sehingga tidak
perlu dipilih mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Lagi 
pula,
sulit untuk menilai urusan hati atau membuat standarisasinya. Kalau
alasan belum mau pakai jilbab karena hatinya ingin diberesi dulu,
sebenarnya agak mengada-ada. Sebab siapa yang akan menilai bahwa hati
seseorang sudah bersih dan baik? Dan bagaimana cara menilainya? Lalu
sampai kapankah hatinya sudah bersih dan siap untuk pakai jilbab?
 
Sebenarnya kewajiban memakai jilbab tidak pernah mensyaratkan seseorang
harus bersih dulu hatinya. Kewajiban itu langsung ada begitu seorang
wanita muslimah masuk usia akil baligh. Dan satu-satunya tanda bahwa 
dia
sudah wajib memakai jilbab adalah tepat ketika dia mendapat haidh
pertama kalinya. Saat itulah dia dianggap oleh Allah SWT sudah waktunya
untuk memakai jilbab. Tidak perlu menunggu ini dan itu, karena 
kewajiban
itu sudah langsung dimulai saat itu juga. Sebagaimana sabda Rasulullah
SAW kepada anak wanita Abu Bakar ra, Asma' binti Abu Bakar ra.
 
Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Asma', seorang wanita bila telah haidh
maka tidak boleh nampak darinya kecuali ini dan ini. Rasulullah SAW
memberi isyarat kepada wajah dan tapak tangannya."
 
Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa bila sudah bersih hatinya, atau
bila sudah baik perilaku atau hal-hal lain, namun secara tegas beliau
mengatakan bila sudah mendapat haidh. Artinya bila sudah masuk usia 
akil
baligh, maka wajiblah setiap wanita yang mengaku beragama Islam untuk
menutup auratnya. Dan uaratnya itu adalah seluruh tubuhnya kecuali 
wajah
dan kedua tapak tangan. 
 
Ketentuan ini juga diperkuat dengan firman Allah SWT di dalam Al-Quran
Al-Kariem tentang kewajiban memakai kerudung yang dapat menutupi 
kepala,
rambut, leher dan dada. 
 
Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung kedadanya..." (QS. An-Nur : 31)
 
Namun bukan berarti kalau sudah pakai kerudung, boleh berhati jahat 
atau
buruk. Tentu saja seorang wanita muslimah harus berhati baik, berakhlaq
baik dan berperilaku yang mencerminkan nilai keimanan dirinya. Tapi
semua itu bukan syarat untuk wajib pakai jilbab. Sebab keduanya adalah
kewajiban yang tidak saling tergantung satu dengan yang lainnya.
 
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Ahmad Sarwat, Lc

 

Hukum Perang Sesama Muslim
 
Publikasi: 14/03/2005 11:28 WIB
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Pak Ustadz yang terhormat,
 
Seperti kita ketahui akhir-akhir ini bangsa kita sedang bergolak untuk
siap berperang melawan negara tetangga. Yang ini saya tanyakan,
seandainya pecah perang bagaimana hukumnya? apalagi kita sesama muslim.
Kemudian bagi yang gugur apa yang bersangkutan dianggap meninggal 
karena
Allah?
 
Terimakasih atas jawabannya.
 
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Yanto
 
Jawaban :
 
Assalamu 'alaikum Wr. Wb. 
 
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala
Rasulillah, Waba'du
 
Memang bisa dimengerti kegalauan hati sebagian rakyat Indonesia 
sekarang
ini. Kita baru saja kehilangan Sipadan dan Ligitan, TKI kita banyak
mengalami masalah di negeri Jiran itu hingga kasus gaji yang tidak
dibayar serta beragam penangkapan dan pemulangan secara sepihak,
sekarang blok Ambalat pun nyaris akan lepas juga. Apalagi berita yang
sampai kepada kita adalah masuknya kapal milik negeri jiran itu ke
wilayah yang mereka klaim sebagai wilayah mereka.
 
Namun dari segi akhlaq seorang muslim dengan sesama muslim lainnya 
tentu
berbeda dengan bila dengan orang kafir yang berstatus memusuhi. Setiap
muslim dengan muslim lainnya bersaudara, karena itu sebagai saudara,
tentu bukan pada tempatnya bila segala persoalan diselesaikan dengan
konfrontasi bersenjata. 
 
Allah SWT memang menyatakan bahwa mungkin saja ada dua pihak yang
bersengketa meski sama-sama muslim. Tindakan yang harus diambil bila 
hal
itu terjadi adalah upaya untuk mendamaikan dan menetapkan perjanjian.
Barulah bila perjanjian yang telah dibuat itu kemudian dilanggar oleh
salah satu pihak, maka pihak yang melanggar itu harus diperangi.
Perhatikan firman Allah SWT berikut ini :
 
"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar
perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu
kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah
surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu
berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku
adil."(QS. Al-Hujurat : 9)
 
Apalagi posisi Malaysia sebagai tetangga negara kita, maka negara itu
punya hak yang harus kita penuhi sebagai tetangga. Minimal kita wajib
bersikap lebih baik kepada siapapun yang menjadi tetangga kita sendiri.
Bahkan meskipun tetangga itu non muslim. Dalam salah satu riwayat
disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadikan hubungan baik dengan 
tetangga
sebagai syarat dari keimanan seseorang. 
 
Dari Abi Syraih Al-Adawi bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan
tetangganya". (HR. Bukhari).
 
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, janganlah menyakiti tetangganya". (HR
Bukhari)
 
Perang bukanlah jalan yang boleh diambil pertama kali untuk
menyelesaikan masalah, sebab perang itu akan sangat besar mengambil
energi negara yang sudah sangat miskin ini. Apalagi peperangan ini 
hanya
akan terjadi di tengah laut, yang notabene kita malah tidak punya 
armada
yang cukup untuk memenangkan peperangan ini, paling tidak bila dihitung
di atas kertas.
 
Maka jalan perundingan adalah jalan yang paling baik dan paling
realistis buat kita semua. Namun tentu saja harus dengan jaminan bahwa
argumentasi kuat dan tak tergoyahkan. Kalau pun terjadi apa-apa, perlu
disiapkan kompensasi yang menguntungkan buat negeri ini. Sebuah
kompensasi yang barangkali justru sangat berguna buat kita semua untuk
menyelesaikan problema kita. 
 
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Ahmad Sarwat, Lc
 
---------------------------------
 
Mengikuti Pendapat Mazhab yang Paling Ringan
 
Publikasi: 14/03/2005 08:58 WIB
Assalamualaikum Warahmatullah.
 
Maaf, saya ingin bertanya seputar madzhab. Bolehkah kita mengambil yang
ringan-ringan saja dalam madzhab? Misalnya dalam bab sholat, kita
gunakan madzhab Syafii, bab haji kita gunakan madzhab Hambali. Atau,
setiap ada masalah agama, dan kita diberitahukan tentang perbedaan
pendapat dalam masalah tersebut, apakah kita diperbolehkan mengambil
pendapat yang teringan buat kita?
 
Jazakumullah,
Wassalamualikum.
Latifah Munawarah
 
Jawaban:
 
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala
Rasulillah, Waba'du
 
Para ulama menetapkan bahwa pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi
setiap muslim untuk mengikuti hanya satu imam atau satu mazhab saja.
Karena tidak pernah ada nash yang memerintahkan untuk itu. Mereka
mengatakan bahwa seorang muslim tidak diwajibkan untuk berpegang kepada
satu imam saja dalam semua masalah dan kejadian dalam kaitannya dengan
hukum syariah. Tetapi tetap dibolehkan bila dia ingin bertaqlid kepada
hanya salah satu di antara mujtahid/mazhab itu.
 
Bila dia berpegang teguh pada sebuah mazhab fiqih tertentu, maka tidak
ada kewajiban baginya untuk terus menerus beriltizam kepada pendapat
yang ada dalam mazhab itu. Dia dibolehkan untuk berpindah kepada
sebagian dari pendapat mahzab lainnya. Dasar dari masalah ini adalah
bahwa para ulama ushul tidak pernah mendapati perintah Allah SWT dan
Rasul-Nya yang mewajibkan manusia untuk berpegang tegus hanya kepada
satu mazhab saja. Yang ada hanyalah perintah untuk bertanya kepada 
siapa
pun yang memang memiliki keahlian dalam masalah syariat. 
 
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang
Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl: 43) 
 
Selain itu, para shahabat Rasulullah SAW pun tidak pernah diwajibkan
untuk bertanya kepada satu orang saja di antara ulama mereka. Mereka
bertanya kepada siapa saja yang diantara para shahabat itu yang 
dianggap
lebih mengerti dan lebih mengetahui. Tanpa harus ditetapkan pada satu
sosok atau satu kelompok. 
 
Selain itu, mewajibkan seseorang untuk boleh ikut kepada pendapat satu
orang saja justru membuat agama ini menjadi sempit dan menambah beban.
Padahal tersedianya sekian banyak mazhab pada hakikatnya adalah nikmat,
fadhilah dan rahmat bagi umat Islam. 
 
Meski demikian, kita juga tidak mengingkari adanya pendapat sebagian
dari ulama ushul yang mewajibkan seseorang untuk berpegang kepada satu
mahzab saja. 
 
Dalilnya adalah bahwa seseorang wajib mengikuti apa yang menurutnya
lebih rajih atau lebih mendekati kebenaran. Dan bila seseorang sudah
yakin bahwa mazhab yang dianutnya itu yang paling rajih, maka tidak
boleh baginya mencari pendapat di luar mazhabnya. 
 
Untuk argumentasi mereka ini, kita bisa menjawab bahwa tidak ada
kewajiban bagi kita untuk harus selalu mengambil pendapat yang rajih.
Terkadang untuk suatu kondisi darurat tertentu, kita masih dibolehkan
untuk mengambil pendapat yang tidak rajih. 
 
Dan mengenai kebolehan mengambil yang marjuh (mafdhul) dan meninggalkan
yang rajih (afdhal), ada beberapa ketetapan para ulama ushul yang dapat
kami himpuan, antara lain Al-Qadhi Atho' bin Hamzah. Beliau berkata,
"Seorang qadhi boleh berpindah keluar mazhabnya oleh sebab dharurat.
As-shahkafi menyatakan dalam nash Ad-Dur al-Mukhtar, "Seorang qadhi
dibolehkan mengerjakan amal yang kurang masyhur dalam mazhabnya bila
Sultan menetapkan hal itu. Di dalam Al-Mi'raj 'an Fakhril Ummah
disebutkan tentang kebolehan amal dan ataw dengan perkataan yang dha'if
dalam keadaan dharurat. Ad-Dasuqi al-Maliki berkata, "Dibolehkan 
beramal
dengan yang dhaif bagi seseorang untuk masalah dirinya atau bagi juga
dalam fatwa bila dipastikan adanya kedharurat oleh mufti itu."
 
Hukum memilih pendapat dari sekian mazhab para ulama dalam masalah ini
talfiq atau mengambil dari sekian banyak mazhab berbeda pendapat 
tentang
bagaimana seharusnya. 
 
a. Boleh Memilih Pendapat Mana Saja yang Dikehendakinya 
 
Pendapat ini dikemukakan oleh kebanyakan Ahhabus Asy-Syafi'i dan
dikuatkan oleh Asy-Syirazi, Khatib Al-Baghdadi, Ibnu Shibagh, Al-Aamidi
dan Al-Baqillani. 
 
Dasarnya adalah ijma' para shahabat atas kebolehan hal itu dan mereka
pun juga mempraktekkannya. Para shahabat sepakat bahwa setiap muslim
boleh mengambil pendapat yang mafdhul (kurang kuat) dengan meninggalkan
yang lebih kuat. Sehingga bagaimana mungkin bila shahabat 
mempraktekkan,
tetapi kita malah dilarang? 
 
b. Mengambil Pendapat yang Paling Berat 
 
Sebaliknya, kalangan Al-Hanabilah dan Ahli Zhahir justru mewajibkan 
kita
untuk mencari pendapat yang paling berat. 
 
c. Mengambil Pendapat Yang Paling Ringan 
 
d. Mengikuti Pendapat yang Menggunakan Riwayat daripada Ijtihad 
 
Ini adalah pendapat Ar-Rafi'i. 
 
e. Mengikuti Pendapat yang Paling Umum dari Mazhab 
 
f. Bila Menyangkut Hak Allah, Maka Boleh Mengambil yang Paling Ringan 
 
Dan sebaliknya, bila menyangkut hak manusia maka harus mengambil
pendapat yang lebih berat. Ini dikemukakan oleh Abu Manshur 
al-Maturidi. 
 
g. Berijtihad Sendiri Bila Ada Perbedaan Pandangan di Antara Mazhab 
 
Ini adalah pendapat As-Sam'ani, juga sejalan dengan pandangan 
Asy-Sya'bi
dalam Al-Muwafaqaat dan juga dekat dengan pandangan Al-Ka'by. 
 
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
 
Ahmad Sarwat, Lc.

 

http://www.ikadi.org/modules/news/article.php?mn=2&storyid=58
   
Kamis, 03 Maret 2005 15:00 WIB

Tafakkur
Tekad yang Kuat Karakter Generasi Salafush Sholeh

Apabila kita mencoba sejenak mengkaji ulang sejarah perjalanan hidup
Rasulullah, saw dan para sahabatnya yang mulia, pasti kita akan banyak
mendapatkan sifat himmah ‘aliyah (tekad yang sangat kuat) pada amal mereka
dan menemukan tujuan yang demikian mulia yang tengah mereka cari dan mereka
wujudkan itu. Tentunya tekad mereka ini bukanlah hanya sekadar angan-angan
tanpa amal kerja yang nyata. Tapi lebih merupakan gandengan cita-cita dengan
amal konkret dan kesungguhan penuh sampai salah seorang dari mereka mencapai
cita-cita mulianya itu.

Perhatihkan baik-baik sirah tentang Rabi’ah bin Ka’ab. Apa yang ia cari kala
itu? Apa pula yang sedang diinginkan dan diburu sahabat senior Abu Hurairoh
dan Ibnu Abbas radiyalahhu’anhum?

Itulah nilai-nilai positif yang seharusnya dikejar manusia, baik dengan
menggunakan hatinya, lisannya maupun amalnya. Tanpa hal itu, sudah barang
tentu ia akan tenggelam dalam buaian mimpinya dan dibayang-bayangi oleh
kebebasan berfikirnya akan angan-angan kosong nan tak berarti tersebut.

URGENSI TEKAD YANG KUAT

Ketika mengerjakan segala persoalan pasti kita membutuhkan sebuah kekuatan
himmah (tekad) yang maksimal untuk menyelesaikannya. Berarti kalau kadar
sesuatu itu besar, maka energi tekad untuk menghadapinyapun harus dan besar
tinggi pula.

Mimsyad Dainuri pernah mengatakan: “Kalau anda memiliki himmah yang sangat
kuat, maka pertahankanlah ia. Karena himmah untuk bertindak itu adalah
bahasa mukaddimah (pengantar) bagi segala sesuatu / persoalan. Maka
barangsiapa yang himmahnya lurus dan dapat tersalurkan secara baik dan
proporsional, sudah bisa dipastikan semua amal kerjanyapun akan ikut membaik
(dengan izin Allah).”

Sedangkan Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, pernah juga mengatakan tentang
himmah ini, katanya: “Orang yang sedang menempuh sesuatu harus benar-benar
memiliki himmah yang akan memperjalankan kerjanya itu, meninggikan kualitas
amalnya dan ilmu yang akan menerangkan mata hatinya dan menunjuki
langkahnya.”

Setidaknya ada beberapa sisi yang harus diperhatihkan bagi orang-orang yang
sedang merealisasikan himmahnya, yaitu:

1. Banyak persoalan-persoalan yang oleh sebagian manusia merupakan hal yang
sangat mustahil untuk dilakukan (bersifat khayal) atau sulit direalisasikan,
ternyata bisa terwujud dan terselesaikan dengan baik, yang. Contohnya sbb:
§ Rasulullah telah berhasil membangun sebuah generasi unggulan dan mulia
untuk dipersembahkan bagi seluruh manusia, membina para kader militan,
qur’anian dan unik dalam jangka waktu 23 tahun lamanya.
§ Lihat Abu Bakar As Shiddiq, dalam waktu yang kurang dari 2 tahun lamanya
berhasil menumpas fitnah yang dihembuskan dan dikobarkan kaum murtaddin
(kaum yang keluar dari Islam setelah wafatnya Rasulullah) dan mengembalikan
jazirah Arab ke pangkuan Islam. Bahkan sebelum beliau wafatpun, para
prajurit yang berada di bawah komandonya berhasil menguasai benteng kerajaan
Romawi.
§ Diikuti sahabat Abu Hatim –rahimahullah- saat ia mengatakan: “Kami pernah
bepergian suatu waktu ke Abdullah bin Maslamah, yang merupakan tokoh ulama
terkemuka Abad ke-2. Kemudian kami minta kesediaan beliau untuk mengajarkan
kami kitab Al-Muwahtho’. Beliau lalu berkata: “Boleh, silahkan kalian datang
kemari siang hari.” Kami merasa keberatan dengan tawaran beliau itu, lalu
kami katakan: “Wah, kami punya ta’lim bersama Hajjaj bin Minhal siang itu.”
Abdullah lalu bertanya kembali: “Di luar waktu itu?” Kami jawab: “Kami juga
ada pengajian dengan Abu Hudzaifah An Nahdi. Abdullah terus bertanya: “Kalau
ba’da Ashar, bagaimana, kalian bisa?” Kami jawab: “Lagi-lagi kami ada ta’lim
bersama ‘Arim Abu Nu’man.” Akhirnya Abdullah memutuskan di waktu malam untuk
mendatangi kami mengajarkan ilmu-ilmu agama.


Kalau kita bayangkan orang yang biasa-biasa saja pasti akan merasakan
keberatan jika ditawari pekerjaan-pekerjaan semacam itu. Bahkan juga mungkin
sebagian lainnya menganggap pekerjaan itu adalah hal yang sangat mustahil
untuk dilakukan. Akan tetapi bagi kalangan ahlul himmah (orang-orang yang
memiliki tekad dan semangat yang berkobar), yang sudah menggantungkan
cita-cita besar dan tujuan yang mulia, pekerjaan itu bukanlah hal yang sulit
dan tidak mungkin tidak bisa diwujudkan.

Nah, sebagai contoh bagi kita setidaknya ada beberapa macam
aktivitas-aktivitas kebaikan yang harus kita kerjakan dengan penuh himmah,
yakni:
- Dalam menuntut ilmu,
- Dalam beribadah dan zuhud,
- Dalam dakwah di jalan Allah dan proyek-proyek dakwah lainnya yang demikian
banyak dan menunggu.

2. Menjauhi Hal-hal yang tidak berguna dan kurang bermanfaat.

Imam Ibnul Jauzi pernah berkata: “Banyak sudah saya saksikan sebagian besar
manusia menghabiskan umurnya dengan sia-sia dan tidak berguna. Apabila malam
tiba, anda akana menyaksikan sebagian besar mereka menghabiskan waktu-waktu
malam dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali seperti
mengunjungi mal-mal, tempat keramaian orang ataupun berseliwerang di
tempat-tempat maksiat. Siang harinya, mereka ini tidak segan-segan untuk
membunuh waktunya itu dengan tidur. Antara pagi dan siang mereka menyesaki
pasar-pasar untuk nongkrong atau sekedar menghibur diri. Sedikit sekali saya
melihat orang-oramg yang memahami makna hidup ini dengan benar dan
mempersiapkan diri untuk berangkat ke negeri akhirat. Karena itu,
bersegeralah, wahai saudaraku, sebelum kesempatan tersebut berlalu dan
berpaculah terus dengan waktu yang ada.”

Kita tidak tahu apa kira-kira yang akan dikatakan Ibnul Jauzi andai beliau
mengetahui kondisi generasi Islam sekarang, baik yang tua-tuanya maupun
kawula mudanya, yang bodohnya ataupun yang terpelajarnya yang menghabiskan
waktu-waktu luang mereka di pinggir-pinggir jalan dan warung–warung
remang-remang penuh hura-hura. Mereka itu sama sekali tidak menganggap
penting dan berharganya arti dan makna kehidupan.

Selanjutnya mari kita simak perjalanan singkat Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi.
Ia adalah salah seorang ulama penganut madzhab Hambali yang hidup di abad
ke-6 Hijriyyah. Diceritakan bahwa beliau tidak pernah melewati masa hidupnya
tanpa membawa manfaat yang berarti. Lihat, selepas sholat fajar (shubuh)
beliau langsung membaca al-Qur’an. Terkadang membaca beberapa buah hadits.
Kemudian beliau beranjak untuk berwudhu dan sholat sunnah hingga menjelang
waktu zuhur. Kemudian ia tidur sejenak dan melaksanakan sholat zuhur dan
lantas mulai beraktivitas kembali, menyimak hafalannya ataupun menulis
sampai datang waktu maghrib. Jika hari itu beliau berpuasa, ia manfaatkan
waktu maghribnya untuk berbuka. Jika tidak, ia isi waktu antara maghrib dan
Isya dengan sholat. Selanjutnya ia tidur selepas sholat Isya hingga
pertengahan malam atau lebih. Lalu bangun untuk melaksanakan sholat tahajjud
sampai menjelang waktu fajar. Kemudian tidur sebentar sampai waktu fajar
menyingsing. Begitulah seterusnya. Dan itulah kebiasaan hidupnya
sehari-hari.

Himmah ‘aliyah yang perlu digaris bawahi pada kisah tersebut ialah bahwa
Imam Abdul Ghani sama sekali tidak futur (patah semangat) hanya karena
lantaran tidak mendapatkan taushiyah ataupun nasehat dari orang lain selama
sehari atau dua hari.

Sementara Muwaffiquddin pernah menuturkan tentang kisah dirinya. Katanya:
Al-Hafidz Abdul Ghani bisa dikatakan sebagai penghimpun ilmu dan amal.
Dialah kawan dekatku semenjak kecil dan di saat menuntut ilmu. Dalam hal
kebaikan, beliau adalah orang yang paling terdahulu melaksanakannya di
banding aku. Dan aku sendiri jarang sekali bisa membalap aktivitas
kebaikannya.

Sungguh, orang-orang yang memiliki himmah aliyah pasti akan selalu
memanfaatkan waktunya sehingga menghasilkan buah yang memuaskan. Ia evaluasi
semua detik-detik hidup dan hari-harinya. Jauh dari sikap menyia-nyiakan
waktu.

3. Selalu berkawan Ahlu Himmah Aliyah.

4. Menghambakan dirinya hanya kepada Allah saja.

Mereka ini adalah manusia yang selalu melepaskan dirinya dari menuruti hawa
nafsunya. Ia adalah makhluk Allah yang tidak mudah tunduk kepada kemauan
penguasaan realita yang ada. Bahkan sebaliknya, ia berusaha untuk berbuat
merubah apa saja sesuai dengan hukum agama yang diyakininya. Dalam kamus
hidupnya tidak ada sama sekali yang namanya bertekuk lutut kepada kaum
kafir. Namun sebaliknya justru ia sendiri akan terus bangkit menyuarakan al
haq hingga panji-panji Islam berkibar di seantero jagat raya ini.

BISAKAH KITA BISA MENYUARAKAN PRINSIP YANG KITA ANUT?

Sekali lagi, seorang muslim, siapapun dia pasti tidak akan mampu mengangkat
suaranya dengan leluasa, kecuali setelah ia mengenal betul beberapa sarana
dan sebab-sebab berikut:

1. Mujahadah (Penuh kesungguhan). Inilah sebab pertama bagi kita agar bisa
sampai ke tingkat yang lebih tinggi. “Dan orang-orang yang
bersungguh-sungguh di jalan kami, pastilah akan Kami tunjukkan jalan-jalan
itu untuk mereka. sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat
baik.”(29:69) Melalui menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah, swt,
cukuplah itu bagi kita untuk membanggakan seluruh amal sholeh kita. Begitu
pula membuat ketika planning-planning dakwah yang jelas. Semua ini pasti
sangat membutuhkan mujahadah (kerja keras), kesabaran penuh, bahkan (kalau
perlu) bergadang bermalam-malam lamanya dan memusatkan seluruh pikiran.
Ibnul Qoyyim pernah mengatakan: “Aku kenal siapa-siapa yang sedang sakit
karena pusing atau demam. Para penulis itu selalu terlihat ada kitab di
dekat kepalanya saat ia tidur yang menandakan ia adalah orang yang kutu
buku. Apabila kebetulan ia sedang terjaga, ia baca kitabnya itu. Sebaliknya
jika ia diserang rasa kantuk yang berat ia letakkan kitabnya itu.”

2. Berdoa yang khusyu dan bergantung kepada Allah, swt. Sudah menjadi
keharusan memang bagi kita untuk selalu memupuk dan meningkatkan tekad dan
kemauan keras kita. Dan salah satu sarana yang harus ditempuh untuk itu
adalah melalui doa yang tulus/ ikhlas, penuh rasa ketundukan di waktu sahur,
antara adzan dan iqomat, pada hari jum’at dan di setiap momen-momen penting
yang penuh dengan keberkahan.

3. Menyadari kekurangan himmah diri sendiri. Inilah yang harus kita sadari.
Sehingga kita akan senantiasa meningkatkan kualitas pribadi kita tanpa ada
rasa putus asa dan patah semangat.

4. Membaca sejarah generasi salafus sholeh terdahulu. Imam Ibnul Jauzi
pernah mengatakan: “Hendaklah kalian selalu memperhatihkan / mengambil
pelajaran sejarah umat terdahulu dan menelaah kisah-kisah mereka. Dengan
memperbanyak membaca kisah-kisah hidup mereka kita bisa lebih cermat dalam
mengambil ibrah.”

5. Sering-sering bergaul dengan orang yang memiliki karakter himmah yang
tinggi.

6. Menjauhi orang-orang yang tidak memiliki himmah yang kuat. Masing-masing
orang pasti lebih paham terhadap dirinya sendiri dan apa-apa yang paling
mempengaruhi dirinya. Namun yang harus kita waspadai dalam hal ini adalah:
- Tidak berkawan dengan orang-orang yang banyak menganggur dan mengejar
hidup dunia serta tidak memiliki himmah sama sekali.
- Tidak bergaul dengan mereka yang sibuk mengumpulkan harta dunia untuk
tujuan yang tidak jelas dan tidak benar.
- Tidak berkawan dengan orang yang gemar dan berlebih-lebihan menikmati
hal-hal yang dibolehkan. Apalagi jika sesuatu yang serba boleh itu sudah
menjadi kesibukan utamanya.


Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah agar kiranya Dia menguatkan
himmah dan iradah kita serta memberikan pertololongan-Nya bagi diin kita
yang mulia ini, amien. Wallahu’A’lam Bish Showab.

 

http://www.ikadi.org/modules/news/article.php?mn=2&storyid=57

Kamis, 03 Maret 2005 14:57 WIB

Tadabbur
Anugerah Allah Swt. Atas Kaum Quraisy

Keutamaan surah ini disebutkan dalam hadits gharib dari Ummu Hani' binti Abu
Thalib bahwa Rasulullah Saw. berkata; "Allah Swt. memuliakan kaum Quraisy
dengan tujuh perkara; "sesungguhnya aku (Muhammad Saw.) dari mereka,
kenabian ada pada mereka, hijabah ada pada mereka, tugas siqayah (memberikan
minuman dan pelayanan bagi peziarah dan tamu baitullah; Ka'bah)
dianugerahkan kepada mereka, Allah Swt. memenangkan mereka atas pasukan
gajah (pimpinan Abrahah), mereka menyembah Allah Swt. sepuluh tahun dimana
kaum lain tidak ada yang menyembah-Nya (pada saat itu) dan Allah Swt.
menurunkan surah Quraisy kepada mereka, kemudian Rasulullah Saw. membaca
surah ini secara lengkap". (HR. Baihaqi)

Surah ini sangat erat hubungannya dengan surah sebelumnya yaitu surah
al-fiil, sehingga Ubay bin Ka'ab tidak memisahkan antara kedua surah ini dan
menjadikan keduanya satu surah. Dalam surah ini Allah Swt. menyebutkan
keagungan nikmat-Nya atas penghancuran pasukan gajah untuk menjaga
kelestarian dan keamanan kafilah dagang kaum Quraisy. Pada zaman jahiliyah
atas karunia Allah Swt., kafilah dagang Quraisy tidak diganggu sedikitpun
karena mereka dianggap sebagai ahli Baitullah dan pelayan-pelayan Ka'bah.

Kaum Quraisy adalah keturunan dari An-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin
Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Rasulullah Saw. bersabda; " sesungguhnya
Allah Swt. memilih dari keturunan nabi Isma'il a.s.; Bani Kinanah, dan
memilih dari Bani Kinanah; kaum Quraisy, kemudian Allah Swt. memilih dari
Quraisy; Bani Hasyim dan (akhirnya) memilih diriku (Muhammad Saw.) diantara
Bani Hasyim". (HR. Shahih Bukhori dan Muslim)

Mereka dinamakan Quraisy karena beberapa hal, sebagaimana disebutkan dalam
pendapat-pendapat berikut ini;

1. karena mereka bersatu dan berhimpun kembali setelah tercerai-berai.
2. karena mereka para pedagang yang menggantungkan kehidupannya dari
perniagaan dan jual beli.
3. karena mereka memeriksa setiap orang yang berhaji dan berziarah ke
Baitullah.
4. karena ada seekor binatang laut yang paling kuat dan dinamakan dengan
Qursy, sehingga nama Quraisy terambil dari situ.

Demikianlah beberapa gambaran tentang kaum Quraisy, kaum yang melahirkan
seorang nabi dan rasul penutup, namun pernah menjadi musuhnya nomor wahid
sebelum mereka mendapat hidayah dari Allah Swt.

Tajuddin Pogo, M.A.

 

http://pk-sejahtera.org/modules/news/article.php?mn=1&storyid=2964

Sabtu, 12 Maret 2005 14:00 WIB (Terbaca: 65) 

Berita
Pejuang Wanita Bukan Hanya Wanita Yang Berkiprah di luar Rumah

PKS Online : 8 Wanita harus jujur dengan potensi yang dia miliki. Ketika dia
bekerja di arena publik harus berkontribusi untuk masyarakat. Bila wanita
didomonasi oleh faktor domestiknya, jangan dipaksa untuk berada di arena
publik. Semantara kalau dia punya potensi sebagai wanita yang aktif di
publik, itu juga tidak boleh di tahan. Harus ada pendidikan berkelanjutan
bagi wanita. Setelah menikah, dia tidak harus langsung terjun ke rumah
tangga secara langsung dengan seabrek agenda rumah tangganya

PKS Online : 8 Maret 2005, wanita di seluruh dunia merayakan hari Women's
Day. Banyak isu yang diangkat para wanita di dunia dalam merayakan hari
tersebut, mulai dari tuntutan kesetaraan dalam memperoleh pendidikan,
kesehatan, hak waris hingga hak yang sama dalam mengurus rumah tangga.
Bagaimana seharusnya wanita memposisikan dirinya? Berikut adalah paparan
salah seorang Perempuan PKS yang berkiprah sebagai anggota DPR RI peridoe
2004-2009 , Yoyoh Yusroh. Berikut adalah petikan wawancara PKS online dengan
wanita yang duduk di komisi VII yang menangani bidang agama, sosial dan
pemberdayaan perempuan.


8 Maret lalu, perempuan di dunia merayakan hari Women's Day. Apa tanggapan
Ustazah tentang hal tersebut ?

Kalau saya melihat isunya sekarang itukan tentang Baijing . Artinya setelah
10 tahun Baijing mengadakan Kongres, bagaimana isu dan progresnya. Mereka
melihat beberapa negara yang sukses melakukan aksi-aksinya. Ada yang
mendapat rapot minim seperti Indonesia, Indonesia dikatakan rapotnya merah.

Apa yang menyebabkan Indoensia mendapatkan rapot merah?

Mereka melihat dari sisi pendidikan perempuan, kesehatan dan diskriminasi.
Kalau isu pendidikan kita setuju . Kita kan memang harus meningkatkan
pendidikan kaum perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.
Kalau perempuan baik, dia bisa mempengaruhi masyarakat yang lain.

Kesehatan juga demikian, baik kesehatan reproduksi, maupun kesehatan
perempuan secara umum. Kita setuju untuk ditingkatkan kualitasnya. Nah
diskriminasi, yang paling mereka sorot adalah masalah ekonomi. Dikatakan
perempuan kurang mendapatkan kesempatan ekonomi, dan masalah sipil-sipil
lainnya seperti pernikahan lintas agama. Nah ini yang perlu kita cermati.
Mereka punya standar membolehkan, tapi kitakan juga punya aturan, yang juga
aturan ini untuk kemaslahatan umat secara keseluruhan.

Mengapa kita tidak mengiginkan adanya pernikahan campur? Ya karena menikah
itukan dalam satu ikatan yang kuat antara pria dan wanita dalam satu rumah
tangga. Seharusnya keyakinannya harus sama dari yang paling dalam. Bila yang
paling dalamnya sama, yang lainnya mudah untuk disamakan. Tapi kalau yang
dalamnya itu berbeda , maka sulit sakali melakukan hubungan yang harmonis
dalam rumah tangga.

Selanjutnya yang juga menjadi sorotan mereka adalah masalah hak waris,
mereka ingin hak waris perempuan dan laki-laki adalah sama. Mereka ingin
juga adanya kesetaraan dalam rumah tangga, mereka tidak setuju kepala rumah
tangga itu laki-laki. Intinya mereka menginginkan khususnya di Indoensia, UU
perkawinan tahun 1974 itu direvisi. Karena disitu mengatakan, kalau tidak
salah pasal 30nya, lelaki itu menjadi kepala rumah tangga. Mereka menganggap
ini hal yang tidak dialogis.

Pendapat Ustazah tentang tuntutan kaum feminis yang menginginkan adanya
kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal?

Kalau saya tidak setuju, karena bagaimana pun ada implikasinya. Masalah
tuntutan kesetaraan gender ini, implikasi sosialnya adalah rusaknya tatanan
sosial yang ada. Kita sebagai umat Islam punya satu sikap sendiri. Aturan
yang terbaik adalah aturan yang dibuat oleh Allah. Kita sudah punya aturan
yang sangat kuat yang bisa dilaksanakan oleh manusia dimanapun berada,
terutama tatanan masyarakat. Kalau tananan yang sudah diatur oleh Allah
dicoba untuk diacak-acak oleh mereka, implikasinya kerusakan sosoal yang
sangat berat.


Kenyataan yang kita jumpai, sebagian besar perempuan menempati berbagai
sektor lapangan kerja dengan alasan untuk aktualsasi diri dan juga alasan
humanis yaitu untuk meringankan beban orang tua dan keluarga. Bagaimana
tanggapan Ustazah, mengingat kodrat perempuan dalam Islam adalah di sektor
domestik?

Saya pikir wanita harus jujur dengan potensi yang dia miliki. Artinya
dimanapun kalau dia optimal dia tetap borkontribusi. Ketika dia bekerja di
arena publik harus berkontribusi untuk masyarakat, meningkatkan kualitas
bangsa, kualitas umat, berkerja sesuai aturan tidak membuang-bunag waktu.
Sebagai wanita karir di luar rumah, dia sudah menghilangkan hak anak dan
suaminya, jangan lagi waktunya dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak
berguna. Jadi pada saat dia ke luar rumah, betul-betul bekerja sesuai dengan
amanah, dan cepat kembali ke rumah untuk melaksanakan tugas-tugas
domestiknya, sebagai ibu dan istri. Jadi peran wamita diluar itu peran
kontributif.

Masalah pekerjaan itu bukan hanya masalah jenis seksualitasnya, tapi masalah
fungsinya. Kalau kita mentolelir kaum perempuan untuk bekerja di luar, itu
dalam hal-hal tertentu, misalnya dalam mengembangkan kualitas dirinya, itu
dibolehkan. Tapi bukan berarti semua wanita harus keluar rumah. Ini
tegantung pada potensi yang Allah berikan. Bila wanita didomonasi oleh
faktor domestiknya, jangan dipaksa untuk berada di arena publik. Semantara
kalau dia punya potensi dari Allah sebagai wanita yang aktif di publik, itu
juga tidak boleh di tahan. Karena dia akan mewakili kaumnya dan dia juga
tetap akan melaksanakan aktifitas sesuai dengan koridor syariat.

Di dalam rumah pun kalau dia bisa optimal, menciptakan anak-anak sholeh, itu
juga kontribusi. Bagaimana rumah tangganya rapih dan bagus. Dan dia juga
harus bisa melakukan kontributif di sekitar rumah, misalnya menolong
tetangga-tetangga yang membutuhkan.

Bagaiman merubah pola pikir masyarakat saat ini yang mengatakan bahwa wanita
yang berada di luar rumah itu yang memiliki potensi lebih dari wanita yang
berada di dalam rumah?

Ini masalahnya pemikiran semua, dan harus disosialisasikan ke semua, bahwa
yang menjadi pejuang wanita bukan hanya yang berada di luar rumah, tapi saat
wanita dapat melahirkan anak-anak sholeh, bisa membuat kelurga dan
masyarakat disekitarnya juga menjadi merasa aman dan nyaman juga pahlawan
wanita. Dan ini harusnya diangkat oleh media, bahwa pahlawan-pahlawan yang
tidak mendapatkan tanda jasa itu banyak. Karena profesi sebagai ibu rumah
tangga adalah profesi strategis. Bukan hanya wanita karir yang strategis.
Justru dari rumah inilah kita bisa melahirkan generasi yang bisa menjadikan
kontributor peradaban.

Saya berharap wanita yang berada di rumah juga bisa meningkatkan potensinya
melalui media yang ada di rumahnya. Jadi sebagai ibu rumah tangga wanita
tetap cerdas, tetap punya kepedulian sisial dan akan-anak yang dirumahanya
juga anak-anak yang berkualitas.

Bagaimana memberi pemahaman kepada wanita-wanita yang berkiprah di rumah
bahwa mereka juga seorang pahlawan, karena banyak wanita super sebalum
menikah, namun tenggelam setelah menikah. Dan Apa yang harus dilakukan agar
potensi dirinya tetap berkembang?

Ini perlu lembaga, media, masyarakat, pemerintah secara terpadu melakukan
peningkatan kualitas kaum perempuan. Perempuan itukan tidak bisa dengan
sendirinya mampu mengenal dirinya, atau memberdayakan dirinya, jadi dibantu
oleh sistem yang bisa membuat wanita terdidik dan berkualitas.

Harus ada pendidikan berkelanjutan bagi wanita. Setelah menikah, dia tidak
harus langsung terjun ke rumah tangga secara langsung dengan seabrek agenda
rumah tangganya, tapi harus ada juga waktu-waktu tertentu bagi wanita untuk
melakukan pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Misalnya dari
media televisi. Karenanya, telivisi itu jangan hanya menyuguhkan dangdut
atau sinetron, tapi juga siaran pendidikan untuk perempuan, jadi ilmu mereka
bertambah.

Bagaimana memberikan pemahaman kepada para feminis yang memiliki wacana
bahwa wanita dalam Islam adalah kaum yang termajinalkan. Mereka beranggapan
banyak hak wanita yang diabaikan dalam Islam?

Saya pikir ini masalah referensi. Kalau mereka mau membaca referensi wanita
Islam sejak jaman Nabi sampai sekarang, sebenarnya mereka tidak akan
berpendapat miring seperti itu. Karena kita tahu bagaimana kiprah wanita di
masa Rosul, meraka tidak hanya boleh aktif di bidang sosial, tapi politik
dan militer pun mereka dibolehkan oleh Rosul. Wanita di masa sahabat dan
tabi'in, mereka tampil sebagai hakim, sebagai ahli keuangan. Dan sampai
sekarang, kalau kita melihat pertemuan Women Muslim Union, itu wanita dari
berbagai negara berkumpul dari bebagai latar belakang keilmuan. Mereka ada
yang berlatar belakang penasehat presiden di Sudan, ada yang rektor, hakim,
anggota dewan, ada menteri perhubungan dari Iran. Di Badan Antariksa Amerika
(NASA) itu muslimah banyak, tapi tidak pernah dipublikasikan.

Sebenarnya wanita terlihat secara Internasional, mereka berkiprah sesuai
dengan potensi masing-masing. Hanya saja, publikasi yang kurang. Saya lihat
memang upaya barat untuk memarjinalkan perempuan sangat sistematis, tanpa
melihat fakta yang ada. (Ningsih)

 

Assalamualaikum

Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan
lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah
masuk., wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan
masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita
yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh
langsung ngapalin juz'amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan
gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak
disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak
harus baik.dll). Kemudian, si guru ngajarin ayat "wabil waalidaini
ihsaana/Al Isra:23" dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna
rungu), misalnya, "walidaini", isyaratnya bikin kumis dan bikin keru
dung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat
itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu
pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini dilakukan
selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru
kemudian mulai menghapal juz'amma.

Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas,
sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis,
pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali
seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai
dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll. Habis baca doa,
anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya
guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya.
(Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati
kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak
melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2
anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .

Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan
terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, "Mama, itu israf (mubazir)!"
(Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A'raf :31 "kuluu washrabuu
walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an).
Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk "Innal
hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan
kejahatan" (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa
tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk
"Mama, ghibah ya?" (soalnya, dia sudah belajar ayat "laa yaghtab
ba'dhukum ba'dhaa"/Mujadalah:12). Anak saya (dan anak2 lain, sesuai
penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2
itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri
mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah
diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31), mereka langsung minta sama ibunya
untuk dipakaikan jilbab. Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji
nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat "limaa
taquuluu maa laa taf'alun" (As-Shaf:2).dia langsung bilang "Nanti nggak
gitu lagi Ma.!" Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya
tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!

Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti
ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran.
Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran.
Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman
Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak
dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban
berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya
dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada
mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini
bahwa agama kitalah yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2
merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah
dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah
(dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya
juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke
sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah
ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis,
hehehe...mamanya nakal ya?).

Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan
oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama
pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh
juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan,
coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua,
dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini..), dan mampu bercakap-cakap
dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia
akan menjawab "Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa"(Al
Baqarah:168). Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit
lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun. Keberhasilan anak2 Sayyid
Thabathabi itu benar-benar fenomental (bahkan anak pertamanya diberi
gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah
universitas di Inggris), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran
untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran. Setiap anak penghapal
Quran dihadiahi pergi haji bersama orangtuanya oleh negara dan setiap
tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al
Quran (jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan
dari sekolah2 lain). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini (kata salah
seorang guru) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang
ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang
Iran itu beda/ lain daripada yg lain).

Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa
metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan
anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan
yang selaras dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara
membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak. Selain itu, menurut guru
di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang
menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak
balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak
yang masuk ke sana ketika usia SD. Selain itu, menghapal Al Quran
lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak
cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).

Nah.segitu dulu pengalaman saya. Mudah2an ada manfaatnya.
Wassalam.