http://pk-sejahtera.org/modules/news/article.php?storyid=2821
Kamis, 27 Januari 2005 16:04 WIB (Terbaca: 59) 

Taujihat
Cermin Akhirat
Syamsu Hilal

"Ikhwaanuna yudzakiruunana bil aakhirah, wa ahluuna yudzakkiruunana bid
dun-ya" (saudara kami mengingatkan kami kepada akhirat, sedangkan keluarga
kami mengingatkan kami kepada dunia).

Sekitar tahun 1990-an, kami sering pergi ke puncak untuk melakukan daurah.
Di tengah perjalanan, seorang di antara kami berkata, "Mari kita lupakan
sejenak permasalahan dunia. Selamat tinggal qadhaya (permasalahan)." Usai
daurah, di tengah perjalanan pulang, dia berkata, "Selamat datang qadhaya."

Mungkin ucapan itu hanya sekedar kelakar. Tapi, kalau kita mau menyelami
sedikit saja, kita akan mendapatkan butir-butir mutiara yang sangat
bernilai.

Di masa Rasulullah Saw., ada seorang sahabat bernama Hanzhalah. Usai
mengikuti majelis ilmu yang dipimpin Rasulullah Saw., ia berkata, "Munafiq
Hanzalah, munafiq Hanzhalah." Abu Bakar Ra. bertanya, "Mengapa engkau
mengucapkan kata-kata itu." Hanzhalah menjawab, "Saya memang munafiq. Ketika
berada bersama-sama Rasulullah Saw., iman saya naik. Tapi, ketika jauh dari
Rasulullah Saw. iman saya turun." Ternyata perasaan Abu Bakar pun sama
dengan perasaan Hanzhalah.

Hanzhalah merasakan betapa berada di tengah-tengah Rasulullah Saw. dan para
sahabatnya lebih memiliki nilai ruhiyah ketimbang di tempat lainnya. Kita
pun, mungkin, memiliki perasaan yang sama seperti Hanzhalah. Apalagi ketika
problem dunia makin kompleks, anak-anak makin banyak dan besar-besar. Tambah
besar pula biaya yang harus kita sediakan untuk mereka.

Perasaan seperti itu juga pernah dialami oleh Al-Hasan. Simaklah ungkapan
hikmahnya, "Ikhwaanuna yudzakiruunana bil aakhirah, wa ahluuna
yudzakkiruunana bid dun-ya" (saudara kami mengingatkan kami kepada akhirat,
sedangkan keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia).

Al-Hasan selalu merasakan ruhiyahnya meningkat bila bertemu dengan
ikhwah-nya, sebaliknya bila ia kembali ke tengah-tengah keluarganya. Memang,
tidak semua keluarga selalu menyeret dan mengalihkan pandangan para aktifis
dakwah kepada dunia. Akan tetapi, secara nyata kita pun merasakan bahwa
problema yang ada di rumah sebagian besar berkisar seputar dunia. Biaya
sekolah yang mahal, harga-harga sembako yang terus naik, biaya transportasi
yang membengkak, sampai masalah biaya kontrak rumah yang kian membebani
pikiran (bagi yang berstatus "kontraktor").

Hanzhalah dan Al-Hasan masih beruntung, lantaran bila hati dan pikirannya
sedang kusut mereka bisa mendatangi saudara (ikhwah) lainnya untuk bercermin
dan menstabilkan ma'nawiyah. Bayangan saya, ketika Hanzhalah bercermin pada
Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang terbayang adalah jiwa zuhud, wara`, dan
kesederhanaan hidupnya. Bila bercermin kepada Utsman bin 'Affan, yang
terbayang adalah sifat pemalu dan tawadhu'-nya. Dan bila bercermin kepada
Umar bin Khaththab, maka bangkitlah semangat keberaniannya. Setiap sahabat
memiliki kelebihan dan keistimewaan yang dapat dijadikan cermin untuk
seantiasa menjaga dan meningkatkan stabilitas ruhiyah.

Suasana saling bercermin juga pernah ada pada masa Khalifah Umar bin Abdul
Aziz. Pada masa itu, seorang ikhwah bila bertemu dengan ikhwah lainnya fokus
yang diperbincangkan adalah sekitar tilawah dan hafalan Al-Qur`an, puasa
sunnah, Qiyamullail, aktifitas dakwah, dan aktifitas ibadah lainnya. Bukan
fokus pada masalah-masalah seputar rumah, kendaraan, pekerjaan, perusahaan,
jabatan, istri, dan anak-anak.

Kalau pada masa Rasulullah Saw., Khulafaur Rasyidin, dan Khalifah Umar bin
Abdul Aziz, seorang Mukmin menjadi cermin bagi Mukmin lainnya. Seorang
ikhwah menjadi cermin bagi ikhwah lainnya. Bagaimana dengan kita? Tentu saja
sulit mencari ikhwah yang sempurna dan ideal untuk dijadikan cermin. Tetapi,
cermin itu harus ada. Cermin akhirat, bukan cermin dunia. Kalau ikhwah tidak
lagi mengingatkan kita kepada akhirat, tidak ada lagi yang bisa dijadikan
cermin, lalu kepada siapa lagi kita harus bercermin? Wallahu a'lam
bishshawab.