IMAN

 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh …..


Sebelum kita membahas masalah iman, mari kita lihat apa pendapat Alqur'an tentang iman :


"Orang-orang Badwi itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu."

(Al Hujuraat:14 )


Iman yang benar mempunyai ciri tersendiri yang digambarkan oleh Alquran . ia tertegun dan terharu tatkala nama Allah disebut…dan bahkan ia terdorong ingin meluapkan kegembiraan dan kerinduannya dengan menjerit seraya bersujud dan menangis. Bergetar hatinya dan bertambahlah imannya tatkala nama Allah disebut. Ia selalu menjaga hatinya agar tidak lalai akan Allah (dzikrullah). Ia akan selalu berbisik ke dalam lubuk hatinya tatkala menghadapi persoalan dan kesulitan di dunia. Karena disitulah Allah meletakkan ilham sebagai pegangan untuk menentukan sikap. Sehingga kaum yang beriman akan selalu terjaga dalam hidayah dan bimbingan Allah swt.


"Suatu musibah tidak akan menimpa seseorang kecuali atas izin Allah. dan barang siapa yang beriman kepada Allah, tentu Dia akan menunjuki "hatinya" . dan Tuhan Maha Mengetahui segala-galanya" (At Taghabun: 11)

"Keimanan telah ditetapkan Allah kedalam "hatinya" serta dikokohkan pula Ruh dari diri-Nya."

(Al Mujaadilah:22)

"Dan kami tunjang pula mereka dengan petunjuk , dan Kami teguhkan hati mereka." (Al Kahfi:13-14)

"Dialah yang telah menurunkan ketentraman di dalam hati orang-orang yang beriman supaya bertambah keimanan di samping keimanan yang telah ada." (Al Fath: 4)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka , dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada tuhannya mereka bertawakkal." (Al Anfaal:2)

"… apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah, maka mereka menjerit dengan bersujud dan menanngis" (Maryam:58)


Kalau anda perhatikan ungkapan ayat-ayat di atas, tidak ada kalimat yang menunjukkan suatu bentuk perintah (amar) maupun larangan (nahy). Kemudian pada ayat yang menunjukkan pengakuan orang Arab Badwi tentang keimanan-nya, Allah membantah pendapat orang Arab Badwi tersebut dengan menyangkal bahwa: kalian belum bisa dikategorikan beriman, karena iman itu adanya di dalam hati dan mempunyai ciri-ciri tersendiri, ... tetapi katakan ya Muhammad bahwa kalian baru bisa dikategorikan orang yang tunduk kepada hukum-hukum islam (quuluu Aslamna – katakanlah kami telah tunduk).


Kemudian Allah melanjutkan pernyataannya kepada orang-orang yang telah merasa berislam, karena seakan-akan orang-orang Badwi itu merasa telah memberikan kenikmatan atau kesenangan kepada Nabi Muhammad dengan masuknya kelompok mereka kepada agama Islam … mereka telah merasa bangga, karena telah berislam untuk Muhammad ….

 

 

 

"Mereka merasa telah memberi ni'mat kepadamu dengan keislaman mereka. katakanlah; jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al Hujuraat:: 17) 


Kejadian dan pengakuan orang Arab Badwi itu merupakan tamparan buat kita, yang mengaku beriman ternyata diluar dukaan kita belum di kategorikan beriman oleh Allah. karena tanda iman itu belum kita rasakan … kita belum merasakan bagaimana lezatnya iman itu ... bagaimana raranya mendapat bimbingan hati kita menuju iman itu, dan banyak lagi tanda-tanda karunia itu yang belum kita sandang …


Selama ini kita disibukkan dengan perdebatan masalah fikih yang tak kunjung selesai, majelis-majelis pengajian hanya membicarakan larangan dan perintah Allah , akan tetapi kita tidak pernah membicarkan bagaimana mendapatkan hal (keadaan iman) bukan retorika belaka … Rasa iman adalah pengalaman bathin setiap individu yang seharusnya lebih di prioritaskan, karena Allah tidak menerima hati orang yang munafik dan tidak ikhlas.

 


Iman adanya dirasa, bukan pada banyaknya ilmu, banyaknya kitab, dan bukan kepada orang yang berpakaian seperti orang bertakwa, semua bukan ukuran seorang beriman. Karena iman itu bisa dirasakan dan di nikmati kelezatannya, ibarat orang yang merasakan percintaan dengan kekasihnya…..rasa cinta itu menyelimuti hatinya dan fikirannya. Iman itu tidak bisa di nyatakan dalam forum tertentu karena iman itu berkembang dan berkurang …. Jika anda mendapatkan karunia iman itu, maka anda akan merasakan tuntunan berbuat baik, berbuat ikhlash, berbuat khusyu, berbuat pasrah, berbuat rindu kepada Allah, hati anda akan terpaut tak bisa dilepas…saat shalat maupun diluar shalat….

Iman ini bukan saya yang mengajarkan, akan tetapi datanglah kepada Allah dengan sikap yang tunduk dan berniat belajar seperti Rasulullah mengajarkan kepada Muaz bin Jabal

 

Ya Allah …ajarilah saya bagaiman ingat kepada Engkau

Ya Allah…ajarilah saya bagaimana bersyukur kepada Engkau

Ya Allah …ajarilah saya bagaimana beribadah yang baik dan khusyu' 

 

Untuk mendapatkan karunia iman, Rasulullah telah menunjukkan jalan termudah bagi ummatnya.

Tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seseorang maka dia akan mendapatkan kelezatan iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari yang lain, dan mencintai seseorang ikhlas karena Allah, serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci kalau ia dicampakkan kedalam api neraka (Muttafaqun alaihi dari hadist Anas, disepakati oleh Bukari Muslim)


Seperti apa yang telah diajarkan Rasulullah kepada shabat yang sangat dicintai-nya Muaz bin Jabal … beliau hanya berpesan … belajarlah kepada Allah ! 


Mari kita praktekkan sikap hadir ini agar kita mendapatkan iman yang benar…

Bismillahirrahmanirrahim 

Asy hadu anlaa ilaha illallah wa asy hadu anna Muhammadarrasulullah

Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Panggillah nama Allah (tidak perlu dengan hitungan)

Ya Allah …ya Allaah …ya Allaah … kami hadir … tuntunlah kami … bimbinglah kami … ampunilah kami …

Ya Allah ajarilah kami untuk selalu hadir kepada Engkau … ajarilah kami bermakrifat kepada Engkau …

Ya Allah … Ya Allah … (teruskan jangan berhenti ... hubungkan rasa kesambungan kepada Allah dengan dihantar rasa cinta)…. Usahakan sampai anda mendapatkan respons berupa rasa yang merasuk kedalam jiwa anda, … biasanya lembut mengalir sejuk … dan menuntun untuk bersujud … berdzikir, dan berserah … biarkan tuntunan itu sampai anda mengerti, jangan anda lawan … relakan tubuh dan jiwa  anda hanya kepada Allah Tuhan kita !!


Kalau sampai anda mendapatkan respons … insya Allah … iman itu akan mengalir dengan sendirinya tanpa dibebani perasaan capai, rasanya enak dan tenang sekali … anda akan sering menangis tatkala disebut nama Allah ... ketika shalat ... membaca Alquran … hati menjadi lembut … dan jiwa anda tidak putus-putusnya selalu hadir kepada Allah … seperti mengalirnya rasa rindu kepada ayah-ayah kalian …


Keadaan ini telah dirasakan rekan-rekan yang telah mencoba mempraktekkan bertawajjuh kepada Allah …dengan serius …


Demikian mudah-mudahan Allah membukakan hidayah untuk kita …Lakukan setiap habis shalat … atau menjelang malam ….


Disarankan anda membaca buku Berguru Kepada Allah bab Patrap ( dzikrullah )


Salam
Abu sangkan

 

http://www.dzikrullah.com/bpm_34_iman_030304.htm

 

 

 


DIMANA ALLAH?

 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh …..


Alqur'an didalam mengungkapkan suatu masalah yang konkrit, misalnya hukum rajam, hukum jinayat, hukum waris, hukum syariat mu'amalat, dijelaskan Dengan kalimat yang bukan majaz ... yaitu muhkamat artinya sudah jelas, tidak perlu ditafsirkan lagi.seperti shalatlah kamu, dan bayarlah zakat , dst...


Akan tetapi kalau sudah mencakup persoalan ghaib ... tentang Allah, syurga, dan neraka, ... serta perasaan, maka Alqur'an menggunakan kalimat perumpamaan ... metafora ... yang biasa disebut mutasyabihaat..


Ada kelemahan bahasa manusia jika mengungkapkan rasa, sehingga Rasulullah ketika menjelaskan masalah syurga-pun tidak menjelaskan keadaan sebenarnya ... beliau hanya memberikan gambaran bahwa syurga itu indah dan nikmat, dibawahnya ada air susu dan madu mengalir, ada buah-buahan ,korma, anggur dan arak....setelah itu beliau memberikan penjelasan ... keadaan syurga itu tidak pernah terdengar oleh telinga ... tidak bisa terbayangkan oleh Pikiran ... dan tidak pernah terlintas dihati. Artinya bukan seperti apa yang digambarkan oleh Rasulullah ... (lihat gambaran syurga dalam surat Yaasin ayat:55-57)


Bagaimana Rasulullah akan menjelaskan sesuatu, atau keadaan yang didunia Ini tidak ada. Bagaimana beliau akan memperbandingkan sesuatu yang tidak ada didunia. Apa jadinya kalau syurga itu seperti apa yang telah kita bayangkan tadi ... mirip dengan apa yang kita rasakan ... Hal ini juga terjadi kepada kita, ketika dihadapkan persoalan ungkapan rasa misalnya, hatiku telah bersemi lagi ... mendidih rasa hatiku tatkala melihat orang kafir itu membantai kaum muslim Bosnia ... perampok itu tergolong pembunuh berdarah dingin .... dan banyak lagi ungkapan rasa yang tidak tertampung dan terwakili oleh kosa kata bahasa verbal ....


Namun demikian, kita sudah memahami maksudnya tanpa harus menafsirkan kalimat tersebut, sebab kalau kita mencoba menafsirkan ungkapan itu maka akan terjadi kesalah fahaman yang pasti akan menyimpang, sehingga wajarlah Rasulullah tidak pernah menafsirkan atau memberikan keterangan hal tersebut berupa 'foot note' dalam Alqur'an, sebab para sahabat sudah mengerti Maksudnya tanpa harus bertanya apa maksudnya. Misalnya ada orang berkata " saya mau pergi ke rumah sakit" pasti anda tidak akan mengernyitkan mata karena bingung..khan ? Jangan ditafsirkan dengan mengatakan "rumah kok sakit"


Begitu pula tentang keberadaan Allah bahkan wujud Allah ... Allah Mempergunakan kalimat mutasyabihat dalam menerangkan keadaan diri-Nya, seperti dalam firman-Nya :


" ... Allah adalah cahaya langit dan bumi" (QS. An Nur: 35)
" ... hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku Ciptakan dengan kedua tangan-Ku ..." (QS. As Shaad:75)
"maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari..." (QS. Al Fushilat 12)
" ... Allah meliputi segala sesuatu" (QS. Al Fushilat 54)
"Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasana-Nya sebelum itu berada diatas air" (QS. Al Hud:7)


Didalam buku Berguru Kepada Allah pada 'Bab Membuka Hijab', telah saya tulis & jelaskan tentang pertanyaan dimana, dan seperti apa Allah swt ?


Firman Allah:


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku ini dekat ..." (QS. Al Baqarah :186)
".. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya" (QS. Qaaf:16)
" ... ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu" (QS. Al Fushilat 54)
" ... kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah .. "(QS. Al Baqarah:115)



Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat diatas, dimengerti bukan untuk ditafsirkan, melainkan sebagai batasan fikiran melalui konsepsi manusia. Bukan hal yang sebenarnya, sebab Allah tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu (QS. As syura: 11), bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata manusia dan tidak bisa dijangkau oleh fikiran manusia akan tetapi Allah Maha Melihat segala yang kelihatan (QS. Al An'am : 102-103)


Seperti yang pernah saya katakan, bahwa Allah mentasybihkan dan meminjam kata-kata yang dimiliki manusia untuk memudahkan berdialog dan memberikan pengertian dalam bentuk bahasa manusia dan ilmu, sebab kalau kita menterjemahkan dengan kata sebenarnya maka akan ada benturan-benturan yang saling bertentangan ... 

Mari kita perhatikan firman Allah dibawah ini:

"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasananya sebelum itu berada diatas air" (QS. Hud:7)

"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara mereka dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam diatas singgasana-Nya"(QS. Sajdah :4)


Bukankah syirik, untuk memberikan tafsiran yang menggambarkan bahwa Allah memerlukan singgasana dan bahwa singgasana itu seakan-akan terapung diatas air dan juga seakan-akan Allah sesudah membuat langit dan bumi berserta isinya naik kembali ke tahta-Nya ?


Alangkah anehnya, jika dikatakan Allah dalam menciptakan langit dan bumi beserta isinya memerlukan waktu enam hari/masa ? Padahal bumi dan matahari belum tercipta! Apa yang menjadi patokan waktu, ... padahal ruang pun tidak ada. Namun demikian, saya akan sedikit berikan gambaran masalah penciptaan alam dan persoalan waktu ...


Bilamana maha ledakan (big bang) itu terjadi ? Dari pengetahuan kita mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta, diperkirakan peristiwa itu terjadi antara sepuluh sampai lima belas miliar atau ribu juta tahun yang lalu. Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat dihitung kembali suhu alam semesta sesaat sesudah ledakan itu terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kodmos melebihi seratus juta juta juta juta derajat, karena kerapatan materi yang sangat tinggi pula. Orang tidak pula dapat menamakan keadaan alam semesta pada waktu itu. Kerapatan tinggi pada suhu rendah membentuk benda padat, kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas, tetapi kerapatan materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat tinggi, ilmuwan pun tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya sebagai "sop kosmos" suatu fluida.


Inilah yang disebut dalam ayat 7 surat Hud dengan "air". Kata-kata " singgasana-Nya berada diatas air (sebelum bumi dan langit diciptakan), oleh karena mengandung makna bahwa pemerintahan atau peraturan Allah ditegakkan atas fluida kosmos itu. Pada saat itu materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah. dan mereka mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu, jadi pada saat diciptakan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-hukum alam sebagai sunnatullah Dengan erlakunya hukum-hukum alam ini maka semua makhluk, baik ruang kosmos, atom molekul, partikel dan seluruh materi yang tersusun sebagai benda mati atau hidup, matahari, bumi, bintang dan sebagainya, berjalan sepanjang waktu sesuai dengan ketetapan hukum-hukum tersebut, ... tidak satupun yang menyimpang kecuali izin Allah.


Kitapun dapat mengerti apa makna yang terkandung dalam surat Sajadah ayat 4, dimana dinyatakan bahwa setelah melewati fase 'sop kosmos', Allah menciptakan langit dan bumi beserta segenap isinya, dalam enam hari dan menegakkan kekuasaan atau pemerintahan-Nya sekaligus sejak awal penciptaan.


Kita semua mengetahui apa yang disebut ruang secara intuitif, yaitu suatu volume berdimensi tiga yang dapat ditempati oleh suatu benda. Tiap benda didalam ruang itu mempunyai tempat yang dalam ilmu pengetahuan alam, ditunjukkan oleh apa yang disebut koodinat ruang. Kita juga mengetahui apa yang dimaksud dengan kata-kata waktu, ... ia memberikan urutan ketika berlangsung gejala gejala di dunia ini ... "kemarin" mendahului "sekarang", dan "sekarang" lebih awal dari "besok". Didalam sains, kita mengatakan bahwa gejala-gejala itu membuat koordinat waktu. jadi semua gejala alamiah memiliki koordinat ruang dan waktu, karena mereka terjadi pada tempat-tempat dan pada urutan waktu masing-masing. Orang mengatakan bahwa gejala-gejala alam itu berjalan melalui kontinuum ruang dan waktu, sebab orang beranggapan bahwa suatu gejala diikuti oleh gejala-gejala lanjutannya dalam suatu rangkaian yang tak terputus, berlanjut atau kontinu. Kecuali itu pengertian kontinuum ruang-waktu mengandung makna, bahwa ruang dan waktu merupakan satu kebulatan yang tak terpisah satu sama lain.


Kalau dulu waktu yang lamanya satu detik 'disini' dianggap sama panjang dengan 'disana' dalam semesta ini, sekarang terbukti tidak demikian halnya. Apabila seorang astronot membawa pencatat waktu kesebuah planet diangkasa, bintang yang sangat dekat misalnya, ... atau membawanya dalam pesawat ruang angkasa yang super cepat, misalnya dengan tingkat laju yang mendekati kecepatan cahaya, maka pencatat waktu yang identik yang berada dibumi akan dapat menunjukkan dengan mudah satu detik pada astronot itu lebih lama jangka waktunya dibanding satu detik dibumi. Kenyataaan yang baru ditemukan dan dipahami para ilmuwan dalam abad ke 20, sebenarnya telah disebut dalam Alqu'an pada ayat 5 surat As Sajdah :


"Dia mengatur perintah dari langit sampai ke bumi, kemudian para malaikat naik menghadap pada-Nya dalam satu hari yang ukuran lamanya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu"


Mudah-mudahan kita diberi kefahaman atas ilmu-ilmu_Nya yang tersembunyi maknanya


Untuk lebih jelasnya coba anda ulangi membaca buku Berguru Kepada Allah pada Bab Membuka Hijab, disitu dijelaskan "dimana Allah dan apa itu zat" 


Wassalam,

Abu Sangkan


Tuhan Menyiksa Dirinya?

Bagaimana caranya merasakan adanya Rohani yang sejati.

Itu soal yang sederhana sekali. Ada prinsip yang aktif yang menyebabkan badan bergerak. Apabila prinsip itu tidak ada, maka badan tidak bergerak lagi, jadi harus ada sesuatu di dalam badan yang menyebabkan badan itu bergerak. Itu bukan konsep yang sulit sekali. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah prinsip yang aktif itu ? Pertanyaan ini merupakan hakikat filsafat.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita mulai mulai dengan pertanyaan lain, "bagaimana sifat sang roh di dalam badan ??", kemudian "bagaimana membedakan antara badan yang masih hidup dan badan yang sudah mati ?".

Badan selalu mati.

Badan seperti mesin besar yang terbuat dari unsur-unsur alam yang mati, sama seperti mesin-mesin yang dibuat manusia (misalnya tape recorder), yang ketika anda sebagai orang yang masih hidup menekan tombol 'play', maka mesin itu bekerja. Bedanya, di dalam badan ada prinsip yang aktif (daya hidup). Selama daya hidup tersebut tetap berada di dalam badan, badan bergerak dan kelihatannya hidup. Misalnya kita semua mempunyai kekuatan untuk bicara, kalau saya meminta supaya salah seorang diantara teman-teman datang kemari, dia akan datang, tetapi kalau prinsip yang aktif meninggalkan badannya, walaupun saya memanggilnya selama beribu-ribu tahun, dia tidak akan datang !!

Ini adalah hal yang mudah difahami, tetapi justru apa yang merupakan prinsip yang aktif itu ? jawaban atas pertanyaan itu merupakan awal sejati pengetahuan ruhani. Tetapi bagaimana caranya kita akan menjadi sadar akan prinsip ini .. sebagai pengalaman langsung bukan hanya sebagai kesimpulan intelektual ?

Mudah sekali saya kira untuk memahami hal tersebut diatas, apabila kita sadar bahwa tubuh kita adalah sebuah benda mati seperti benda-benda lainnya, karena terbuat dari unsur-unsur alam semesta ini. Ketika saya meninggalkan tubuh ini, ketika tubuh saya mati dan dimakan ulat dan kemudian lenyap tak berbekas, saya tidak merasakan apa-apa. Mengapa saya tidak merasakan sakitnya tubuh yang dimakan ulat tadi ?? hal ini mirip peristiwa yang terjadi kepada Sayyidina Ali tatkala beliau melakukan shalatnya dengan 'khusyu' dan sebatang anak panah yang tertancap pada badannya dicabut, beliau tidak merasa sakit.

Apakah atau siapakah yang tersiksa ??

Mari kita memasuki kefahaman ilustrasi dari kehidupan rohani kita. Saat kita berada di sebuah ruangan yang bersuhu dingin, kemudian kita pindah kesebuah ruangan panas, atau masuk keruangan yang gelap dan yang terakhir adalah ruangan terang . Setelah itu keluarlah dari ruangan-ruangan tersebut.

Pertanyaannya adalah, tahukah ruangan dingin itu bahwa dirinya dingin ??, tahukah ruangan panas bahwa dirinya panas ??, tahukah ruangan gelap dan terang itu atas keadaannya ?? jawabnya tidak tahu . Agar ruangan itu tahu (merasakan) bahwa dirinya dingin, panas, gelap harus ada yang aktif yang bisa memberikan informasi bahwa dirinya dingin atau panas !! yaitu AKU. sang AKU yang aktif itu, bukan yang tersiksa, bukan yang kepanasan, bukan yang kegelapan, karena AKU bukan ruangan-ruangan itu. Lalu siapa yang terang, siapa yang gelap, siapa yang dingin, siapa yang panas ?? Kalau ruangan itu mengembalikan kepada yang aktif itu, maka ruangan itu tidak merasakan apa-apa, tidak ada dingin, tidak ada panas, dan tidak ada gelap dan terang, seperti halnya ruangan badan ini yang kalau dicubit terasa sekali sakitnya, akan tetapi jika anda meninggalkan badan ini apakah melalui shalat khusyu', pingsan atau mati, maka anda tidak merasakan kesakitan lagi. Lalu siapa yang merasa kesakitan tadi ??

Mengapa saya yang sakit, lalu tidak merasa sakit jika saya tinggalkan badan ini ?. Apa yang menjadi prinsip sehingga pengertian inna lillahi wa inna ilahi raaji'uun mudah difahami dengan sederhana ?.

Manusia terbuat dari ekstrak tanah setelah disempurnakan bentuk kejadiannya , maka dihembuskan Ruh-Ku , Ruhani dari Tuhan. sebagaimana firman Allah dalam surat Al hijr 28-29 . :

Dan (ingatlah) , ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat " sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya Ruh (ciptaan-Ku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Pada mulanya, manusia adalah sebuah bentuk yang diciptakan dari unsur tanah yang tidak mempunyai daya apa-apa. Manusia adalah sebuah benda yang tidak hidup, tidak aktif, tidak mampu merasakan apa-apa, tidak kuasa, tidak pandai dan tidak kaya !! sehingga kita sering menyebut laa haula wa quwwata illa billah, tiada daya upaya kecuali kekuatan Allah semata. Mari kita perhatikan unsur-unsur tubuh kita yang sebenarnya . Apakah benar unsur-unsur itu mati ?. tidak ada apa-apanya jika tidak ada Ruh yang bergerak ….perhatikan satu unsur dalam tubuh kita, yaitu atom-atom kecil yang menjadi bagian tubuh kita yang tersusun menjadi sebuah senyawa dan molekul. Ia bergerak dengan teratur, …..sebuah atom memiliki sebuah inti yang terdiri dari proton-proton yang bermuatan positif dan neutron-neutron netral (tidak bermuatan) yang disekelilingnya berputar electron yang bermuatan negatif. Pemandangan tiga dimensi dari atom tersebut menunjukkan electron-electron yang sedang mengelilingi inti pada kecenderungan satu sama lain. Benda-benda kecil itu bergerak dengan teratur dalam sebuah hukum gerak yang hidup dan terencana . Ia tidak kuasa mengikuti gerak yang memaksa dirinya. Suka tidak suka ia harus mengikuti gerak itu. Jika sebuah matahari ataupun bumi merupakan kumpulan dari atom-atom, maka semua jagat raya ini bergerak dalam satu aturan yang sama, dan dalam gerak yang sama. Sebagaimana disebutkan dalam Alqur'an : kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati. ( QS: Fushilat :11 )

Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan pengaturan Sang Hidup, Dan peraturan yang telah ditetapkan Allah itu tidak akan berubah selamanya.

Terkait dengan persoalan bahasan utama kita yaitu bagaimana Allah meniupkan roh-Nya kepada tubuh manusia, yang pada hakikatnya adalah sebuah kumpulan atom-atom yang bergerak dan hidup. Mungkinkah istilah meniupkan dihapuskan, untuk menghilangkan kesan bahwa ruh itu dihembuskan seperti halnya udara yang ditiupkan kedalam balon karet?. karena kata tersebut hanya merupakan kata bantu untuk memudahkan dan menyederhanakan bahasa yang agak rumit di jelaskan (mutasyabihat).

Bukankah pengertian kita sekarang mulai berkembang? Siapa sebenarnya yang menggerakkan alam semesta, atau atom-atom dalam tubuh kita ?, tidak ada lagi istilah keluar masuknya roh manusia yang seakan rohani itu ditiupkan.

Pengertian inilah yang pertama kali saya ingin ungkapkan agar kita menjadi mudah memahami apa itu kesadaraan rohani. Dengan pemahaman tersebut kita menyadari bahwa rohani kita bukan lagi berada di dalam tubuh ini akan tetapi meliputi tubuh dan alam semesta (berada di dalam dan diluar sekaligus).

Kesimpulan bahwa yang digerakkan, dihidupkan, dirasakan, dimatikan, di kembang biakkan , adalah materi-materi itu …sehingga mereka menjadi merasakan bergerak, berperasaan, sakit, senang …dst. Dengan demikian kalau kita ingin terbebas dari semua rasa tadi maka kita harus mengembalikan segala sifat itu kepada yang memiliki-Nya, Inna lillahi wa inna ilahi raaji'uun …..Sesunggguhnya Kami, berasal dari Allah dan sesungguhnya Kami semua kembali kepada-Nya.

Catatan :
Materi ini, sebenarnya dibahas melalui tahapan yang agak lama dan melalui proses pengajaran spiritual yang kontinyu, sehingga untuk yang belum sempat mengikuti 'pengajaran' rohani, biasanya tidak mudah untuk memahaminya. Pembahasan ini merupakan pengalaman rohani, bukan sekedar pembahasan seperti di bangku kuliah dan biasanya diajarkan melalui kerohanian yang hening dan mendalam….... bertambah 'terang' rohani anda semakin mudah memahami bahasan ini.

http://www.dzikrullah.com/bpm_29_tuhan_menyiksa.htm