IMPIN UMAT ADALAH PUNCAK PRESTASI RABBANI MANUSIA DI DUNIA

Posted by: Editor on Monday, April 24, 2006 - 04:17 AM

Tarbiyah Islamiyah

Al-Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc.
Staf Kaderisasi DPP PK-Sejahtera

Adalah seorang ustadz yang sehari-hari mengajar para mahasiswa di perguruan tinggi. Suatu saat ia mendapatkan "anugrah" untuk menjadi seorang pejabat yang lumayan tinggi kedudukannya. Karena inilah ia "meninggalkan" dunia mengajarnya. Seorang ustadz lain berkomentar: "kenapa ia meninggalkan medan juang ajar mengajar dan menerjunkan diri dalam dunia politik? Dunia ajar mengajar lebih maslahat bagi Islam dan kaum muslimin!".

MEMIMPIN UMAT ADALAH PUNCAK PRESTASI RABBANI MANUSIA DI DUNIA

Oleh : Al-Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (Dia ber- kata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Q.S. Âli `Imrān [3]: 79)

Ikhwati fillah ...

Kalau kita tengok sejarah kaum muslimin, paling tidak di negeri ini, kita akan menemukan bahwa sebagian besar pejuang dan pahlawan negeri ini adalah kaum muslimin. Lihat misalnya: Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar dan lain-lain.

Bukan hanya para pejuang yang sebagian besar muslim, bahkan, slogan atau syi`ar yang diangkat pun adalah slogan dan syi`ar agama. Misalnya: Pangeran Diponegoro mengangkat dirinya sebagai khalīfatullāh fi ardhihi, juga bergelar: sayyidin panotogomo (pemimpin yang menata kehidupan beragama).

Termasuk juga saat perjuangan revolusi kemerdekaan. Melalui radio yang ada pada waktu itu, Bung Tomo selalu mengumandangkan takbir Allāhu Akbar untuk memanggil kaum muslimin terjun ke medan perjuangan, membangun dan memompa semangat mereka, dan hasilnya bisa kita baca dalam kisah-kisah heroik perjuangan arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945. Saking hebatnya daya juang mereka inilah, tanggal ini ditetapkan sebagai hari pahlawan Republik Indonesia.

Akan tetapi, pasca perjuangan ini, banyak kiai berserta para santrinya "kembali" ke pesantren, untuk mengurus pendidikan agama (Islam), kembali kepada kegiatan belajar dan mengajar, "menyerahkan" urusan kepemimpinan umat ini kepada "orang lain". Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk membenarkan atau men-justifikasi hal ini, di antaranya adalah bahwa urusan kepemimpinan umat itu adalah bagian dari politik dan politik itu kotor, sudah seyogyanya agama dijauhkan dan "dibersihkan" atau dijaga kebersihannya dari hal-hal yang kotor.

Ada satu kisah lagi yang menarik untuk kita renungkan :

Adalah seorang ustadz yang sehari-hari mengajar para mahasiswa di perguruan tinggi. Suatu saat ia mendapatkan "anugrah" untuk menjadi seorang pejabat yang lumayan tinggi kedudukannya. Karena inilah ia "meninggalkan" dunia mengajarnya. Seorang ustadz lain berkomentar: "kenapa ia meninggalkan medan juang ajar mengajar dan menerjunkan diri dalam dunia politik? Dunia ajar mengajar lebih maslahat bagi Islam dan kaum muslimin!".

Dua kisah di atas, dan juga kisah-kisah lainnya menggambarkan bahwa ada dikotomi antara dunia ajar mengajar agama (Islam) dengan dunia politik, seakan kita yang selalu berusaha menolak pola pikir sekularisme dengan gigih, sering sekali terjebak pada prilaku sekularisme itu sendiri saat bersikap, berkomentar dan menyetel kehidupan kita dengan cara mendikotomikan dua kehidupan tersebut.

Ikhwati fillah ...

Ayat yang kita kutip di atas menegaskan bahwa tidak ada seorang ulama` yang menguasai ilmu kitab Allah, atau mendapatkan hikmah dari Allah SWT, atau diangkat menjadi nabi dan rasul, kecuali mereka menyeru kepada kaumnya agar mereka menjadi manusia-manusia rabbānī.

Secara eksplisit, sifat manusia rabbānī -sebagaimana dimaksud oleh ayat 79 surat Âli `Imrān adalah mereka yang secara kontinyu dan rutin (istilah Arabnya: tajaddud wa al-istimrār) melakukan dua hal, yaitu :

1.Dirāsat al-kitāb (mengaji, belajar dan mengkaji kitab Allah SWT), dan
2.Ta`līm al-kitāb (mengajarkan kitab Allah SWT).

Namun, ada satu kajian yang sangat menarik yang dilakukan oleh Imām al-Mufassirīn (pemimpin para ahli tafsir), yaitu Ibnu Jarīr al-Thabarī (224 - 310 H).

Dalam kitabnya; Jāmi` al-Bayān fī ta'wīl Al-Qur'ān, vol. 3, hal. 351 - 354 (Kairo: Dār al-Taufīqiyah), setelah ia menjelaskan beragam pendapat `ulama' dalam hal ini, ia sampai kepada kesimpulan sebagai berikut :

I. Rabbānī adalah level atau mustawā yang lebih tinggi dari sekedar al-fiqh (memahami agama) dan al-`ilm (ilmu atau penguasaan kitab Allah).

II. Rabbānī seseorang yang menggabungkan antara al-fiqh dan al-`ilm dengan:
1. Al-Bashira bi al-siyāsah (melek, bahkan, sangat melek politik)
2. Al-Bashira bi al-tadbīr (melek, bahkan, sangat melek terhadap manajemen, dan kepemimpinan)
3. Al-Qiyām bi syu-ūn al-ra`iyyah wa mā yushlihuhum fī dun-yāhum wa dīnihim (melaksanakan dan menjalankan segala urusan rakyat dan segala hal yang membawa kemaslahatan mereka, baik dalam kehidupan dunia mereka maupun kehidupan agama mereka). (lihat hal. 353).

Dengan demikian, Rabbānī adalah sandaran manusia dalam al-fiqh, al-`ilm dan berbagai urusan agama dan dunia (lihat pada halaman yang sama).

Ibnu Jarīr al-Thabarī menyandarkan kesimpulannya pada dua hal, yaitu :

(1). Sandaran bahasa dan

(2). Sandaran kepada salaf.

Secara bahasa kata Rabbānī adalah bentuk nisbat dari kata Rabbān. Sedangkan kata Rabbān adalah bentuk mubālaghah (hiperbolis) dari kata Rābbī, yaitu isim fā`il dari fi`il rabba - yarubbu yang artinya adalah seseorang yang mentarbiyah manusia, dalam arti mengurus segala kemaslahatan urusan mereka, menumbuh kembangkannya dan melaksanakan atau menjalankan segala urusan itu untuk mereka.

Ibnu Jarīr -rahimahullāh- tidak hanya menyandarkan pendapatnya kepada kajian bahasa semata, akan tetapi, ia juga merujuk kepada salaf al-shālih. Dalam hal ini ia merujuk kepada perkataan Mujāhid (21 - 102 H), seorang murid handal Ibn `Abbas -radhiyāllāhu `anhu- dan juga seorang ulama' tābi`in yang menjadi rujukan utama dalam tafsīr Al-Qur'ān. Mujāhid berpendapat bahwa Rabbānī adalah level di atas al-ahbār (para `ulama').

Dengan pendapatnya ini, Ibnu Jarīr tidak berarti menafikan adanya pendapat-pendapat lain tentang maksud rabbānī, akan tetapi, justru ia mengadopsi pendapat-pendapat yang ada.

Terkait hal ini ia berkata yang artinya:

"Seorang yang `āLIM FIQIH dan HIKMAH adalah bagian dari al-mushlihīn (pembaharu, orang-orang yang membawa dan mendatangkan mashlahat), ia adalah seseorang yang mentarbiyah segala urusan manusia dengan cara mengajarkan segala macam kebaikan kepada mereka, juga menyeru mereka kepada segala hal yang membawa kemaslahatan bagi mereka, dengan demikian, ia adalah SEORANG YANG PENUH HIKMAH yang BERTAQWA KEPADA ALLAH SWT, ia adalah SEORANG WALI (PENGUASA, PEMIMPIN) yang mengurus segala urusan manusia agar berjalan di atas minhaj yang menjadi pilihan ORANG-ORANG YANG ADIL yang memperbaiki segala urusan manusia dengan cara melaksanakannya di tengah-tengah mereka, urusan yang mendatangkan kemaslahan dan manfaat dunia dan akhirat mereka [1].
(lihat pada halaman yang sama dari kitab Ibn Jarir).

Ikhwati fillah ...

Bila kajian Ibnu Jarīr ini kita kaitkan dengan tarikh (sejarah), kita akan mendapati bahwa tidak ada seorang nabi kecuali ia menjadi pemimpin umat, bukan sekedar pemimpin "agama", akan tetapi juga pemimpin duniawi mereka, lihat misalnya nabi Yusuf -`alaihi al-salām-, ia pernah menjadi menteri yang mandatangkan kemakmuran bagi penduduk Mesir dan sekitarnya, lihat pula nabi Dāwūd dan nabi Sulaimān -`alaihimā al-salām-, dan lihat pula nabi kita Muhammad -shallallāhu `alaihi wa sallam-

Lihat pula kisah Abū Bakat al-Shiddīq, `Umar bin al-Khaththāb, Utsmān bin al-`Affān, `Alī bin Abī Thālib -radhiyallāhu `anhum-, yang pernah menjadi khalīfah dan amīr al-mukminīn. Juga banyak sahabat nabi yang "puncak kariernya" pernah menjadi gubernor (wālī), semuanya ini menjelaskan bahwa mereka tidak hanya mengurus kehidupan "agama" manusia, akan tetapi juga mengurus "dunia" mereka.

Dan sebagai penutup taujih ini, marilah kita renungkan, kita hayati dan kita amalkan do`a qur'ānī ini:

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqān [25]: 74).