DEWAN PENGURUS WILAYAH

PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

SULAWESI SELATAN

Jl.Perintis Kemerdekaan KM. 9 Ruko Puri Kencana Sari No. 5b Telp. 0411-591316

 

Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim AS.

Khutbah Iedul Adha 1427



.

.- - .


Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.


Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar 4 juta jamaah haji dari seluruh dunia sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.


Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga akhir zaman. Shalawat dan salam semoga tercurah pula kepada kekasih Allah Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya, bapak para nabi dan pejuang aqidah tauhid yang menjadi teladan kita sepanjang zaman.


Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.


Hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah Swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarga Siti Hajar dan Ismail as. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad Saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah Swt berfirman:

 



Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS 60:4).

 

 

Dalam kesempatan khutbah ini marilah kita bersama sama mencoba menggali nilai-nilai keteladanan dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia serta mengambil hikmah dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di tanah suci, Semoga keteladanan itu menjadi refleksi bagi kita bangsa Indonesia yang masih terus berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar yang menghantui kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Pertama, Keluarga Nabi Ibrahim as memberikan perhatian yang lebih besar terhadap generasi yang memiliki iman yang mantap dan aqidah yang kuat, generasi yang memiliki kommitmen yang kuat untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kebenaran. Inilah yang menjadi kerinduan Nabi Ibrahim as pada usianya semakin tua. Kerinduannya pada generasi pelanjut perjuangan menjadi harapan yang terus menerus dimohonkan kepada Allah Swt agar kiranya Allah swt menganugerahkan kepadanya keturunan yang shaleh. Ya Allah karuniailah aku keturunan yang sholeh

 

Mari kita melihat potret generasi muda kita sekarang yang cukup memperihatinkan. Kasus tayangan adegan gulat gaya bebas ala smack dawn hanyalah puncak gunung es pengaruh media terhadap anak-anak kita. Kalau kita meruntut ke belakang kita akan memperoleh fakta-fakta : pada tahun 2002 di Jakarta anak-anak menghabiskan sekitar 30-35 jam di depan pesawat TV selama seminggu. Artinya setiap hari anak menonton TV selama 5 jam; suatu masa yang sangat berharga. Apa yang ditonton? Karena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas, maka mereka menonton apa saja: mulai dari acara gosip selebritis, berita kriminal berdarah-darah, sinteron remaja yang penuh dengan kekerasan dan seks dicampur mistis, film dewasa, penampilan grup musik yang berpakaian seksi dan seronok, sampai kepada sinetron berbungkus agama yang menampilkan rekaan hantu, iblis, siluman, dan seterusnya.

 

Sebuah survey yang dilakukan pada tahun 2002 menunjukkan hampir 40 % remaja pernah berhubungan seks di luar nikah. Data BKKBN mengungkapkan : 1,6 juta orang melakukan aborsi setiap tahun. Penelitian lain dari Pusat Informasi Keluarga Berkualitas mencatat: di Indonesia terjadi 2,5 juta aborsi setiap tahunnya, 30 % dilakukan oleh remaja. Menurut PKBI Wonosobo, 1/3 remaja puteri di Wonosobo telah hamil di luar nikah. Sedangkan di Yogyakarta setiap bulan ada 30 anak kos yang hamil. Di Palembang tercatat 20% mahasiswi melakukan hubungan seks pranikah. Di Surabaya, 6 dari 10 gadis, tidak perawan lagi. Dalam catatan Dr. Boyke Dian Nugraha diperkirakan 20 -15 persen remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Lalu, bagaimmana dengan sekarang? Tentu jumlahnya semakin bertambah, sehingga kasus video clips perselingkuhan seorang wakil rakyat dengan seorang artis dangdut hanyalah segelintir kasus yang terekspose ke permukaan yang menggambarkan tragedi kemaksiyatan yang melanda bangsa ini.

 

Belum lagi jika kita melihat kasus kekerasan terhadap anak didik sebagaimana terjadi di Sungguminasa (Gowa) dan beberapa daerah di tanah air kita. Kasus kekerasan dalam keluarga seperti yang terjadi di Probolinggo; seorang anak yang tega membunuh ibu kandung dengan cara memukul kepalanya dengan besi. Di Jawa Pos juga diberitakan bagaimana seorang ayah menghamili anak kandungnya sendiri. Ada pula seorang isteri yang batok kepalanya dipukul dengan palu sebanyak 20 kali hingga nyaris hancur padahal sang isteri baru 42 hari melahirkan anak pertamanya. Kasus seorang selebritis yang terkapar di sebuah kamar hotel saat berkencan dengan teman prianya dan menengguk narkoba sampai over dosis yang diduga penyebab kematiannya perlu menjadi pelajaran agar lebih berhati-hati terhadap putra-putri dan generasi muda kita.

 

Oleh karena itu, satu hal yang harus kita ingat bahwa keluarga adalah benteng utama dan pertama dalam penjagaan generasi, para orang tua, terutama para ibu adalah sekolah pertama bagi pendidian generasi, sebagaimana satu ungkapan mengatakan: al ummu madrasatul ula (ibu adalah sekolah dan pendidik pertama).

 

Kita harus menyadari bahwa anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus kita syukuri. Mari kita perhatikan, tidak sedikit suami isteri yang sudah lama berumah tangga dan mendambakan lahirnya sang anak belum juga dapat karena Allah belum memberikan amanah tersebut pada keluarga itu. Tidak sedikit orang tua yang menginginkan punya anak laki-laki tapi yang lahir ternyata perempuan atau menginginkan anak perempuan tapi yang lahir justeru anak laki-laki, begitulah seterusnya. Sebagai anugerah dari Allah Swt, maka setiap orang tua harus mensyukuri kehadiran sang anak, apapun jenis kelaminnya dan bagaimanapun keadaan anak itu.

 

Hal lain yang harus mendapat perhatian kita : anak adalah generasi pelanjut yang tidak boleh disia-siakan, yang harus dididik dengan sebaik-baiknya sebagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar telah mendidik anaknya Ismail dengan sedemikian baik. Sebagai seorang ibu, Siti Hajar memberikan perhatian kepada anaknya Ismail dengan begitu baik sehingga meskipun ia harus mencari rizki yang dalam hal ini adalah mencari air, ia pergi hingga ke bukit shafa, namun ia khawatir pada anaknya, maka iapun berjalan kembali untuk melihat anaknya, ketika dilihat anaknya dalam keadaan baik, iapun menuju Marwa, inilah yang kemudian disebut dengan sai dari shofa ke Marwa. Disamping itu, Allah Swt juga mengabadikan perhatian dari orang tua yang begitu besar kepada anaknya dengan apa yang disebut dengan hijr Ismail, yang berarti pangkuan Ismail, suatu tempat yang begitu mulia yang disitulah dahulu Ismail dipangku, diasuh, dididik dan dibesarkan oleh ibunya Siti Hajar.

 

Untuk bisa melahirkan generasi yang shaleh, yang harus shaleh terlebih dahulu adalah kita sebagai orang tuanya, tidak bisa orang tua mendambakan anaknya menjadi shaleh bila ia sendiri tidak shaleh. Untuk menjadikan anak-anak kita cinta mesjid, maka kita orang tualah yang harus mengajak mereka ke mesjid.

 

 

 

 

Untuk menjadikan anak kita rajin sholat, maka kita para orang tualah yang harus menunjukkan kedisiplinan dalam sholat. Kalau kita menginginkan anak-anak berkata lemah lembut, maka kitalah yang harus lebih dulu berbicara dengan lemah lembut, Hal ini karena mendidik anak harus dimulai dengan keteladanan yang baik, karenanya bagaimana mungkin orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik kalau ia tidak bisa memberi contoh yang baik.



Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.


Hikmah kedua yang harus kita petik dari ibadah haji yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin sekali seumur hidupnya adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan. Hal ini bukan hanya bagi mereka yang sedang atau sudah menunaikan ibadah haji, tapi seluruh kaum muslimin. Karenanya kemarin kita disunnahkan untuk puasa Arafah yang terkait langsung dengan wuquf di Arafah bagi sekitar empat juta jamaah haji. Oleh karena itu bila ibadah haji yang hanya berlangsung beberapa hari para jamaah harus membekali dirinya dengan ketaqwaan kepada Allah Swt, apalagi dengan kehidupan kita yang berlangsung bertahun-tahun, Allah Swt berfirman:

 

(Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkatan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS 2:197)


Taqwa yang menjadi bekal untuk menjalani kehidupan ini merupakan sesuatu yang sangat penting, karenanya Allah memerintahkan agar taqwa menjadi pakaian rohani kita (libasut taqwa), taqwa hendaknya selalu melekat dalam jiwa setiap muslim. Kita tentu merasa terhina karena tidak mengenakan pakaian jasmaniyah seperti baju, celana, gamis, sarung yang layak, tidak berbusana, tidak menutup aurat dihadapan orang banyak apalagi di depan orang yang kita hormati,

 

 

 

Karenanya perlu kita sadari betapa terhinanya seorang manusia di sisi Allah, karena dia tidak bertaqwa, meskipun pakaian jasmani yang dimiliki dan dikenakannya sangat bagus dengan harga yang sangat mahal sekalipun. Betapa terhinanya suatu bangsa yang mengesampingkan nilai-nilai taqwa, sekalipun seluruh penjuru negerinya dipenuhi dengan bangunan yang tinggi dan megah.

 

Dalam kondisi masyarakat dan bangsa yang sulit, seharusnya ketaqwaan yang diperkokoh, karena dengan ketaqwaan akan ada jalan keluar dari setiap persoalan, termasuk persoalan ekonomi sedangkan bila banyak urusan yang sulit dilaksanakan, maka Allah Swt akan memudahkannya.

 

 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.


Ketiga yang menjadi pelajaran dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah keharusan mempertahankan dan memperkokoh idealisme sebagai seorang mumin yang selalu berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar, apapun keadaannya dan bagaimanapun situasi serta kondisinya.
Begitulah memang yang telah ditunjukkan Nabi Ibrahim as dan keluarganya dengan hujjah, argumentasi dan alasan yang kuat. Dalam sejarah Nabi Ibrahim kita dapati beliau menghancurkan berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat di sekitarnya, saat itu Ibrahim adalah seorang anak remaja, hal ini tercermin dalam firman Allah Swt yang menceritakan soal ini:

 

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim (QS 21:58-60).



 

 

 

 

 

Untuk mempertahankan idealisme itu, Ibrahim bahkan siap untuk terus berjuang sampai mati meskipun harus berjuang di wilayah yang lain, ia menyebut dirinya sebagai orang yang pergi kepada Allah Swt, Tuhannya yang Esa, dalam hal ini Nabi Ibrahim menyatakan dihadapan orang-orang kafir:

 

Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku (QS 37:99).

 

Oleh karena itu, idealisme yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia masih muda belia, tapi bandingkanlah dengan suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah Swt untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. Maka Ibrahimpun melaksanakan perintah Allah Swt yang terasa lebih berat dari sekedar menghancurkan berhala-berhala dimasa mudanya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan di negeri kita, jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi padahal dahulu sangat ditentangnya. Jangan sampai ada generasi yang semasa menjadi aktivis mahasiswa menjadi penentang pergaulan bebas dan narkoba, tetapi setelah berkuasa dan punya keduddukan terhormat justru mereka yang melakukan perselingkuhan, perzinaan dan pengguna narkoba.

 

Dalam kehidupan kita sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak istiqomah sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik, karena itu Rasulullah Saw mengingatkan dalam satu haditsnya:


: .

 

Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan kalau orang lain berbuat baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya (HR. Tirmidzi).

 

 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.


Dari uraian khutbah kita yang singkat pada pagi ini, dapat kita simpulkan bahwa sebagai seorang muslim kita sangat dituntut untuk menunjukkan komitmen atau keterikatan kita kepada Allah Swt dengan nilai-nilai Islam yang telah diturunkan-Nya sebagai apapun kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, karenanya Rasulullah Saw berpesan kepada kita agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt dimanapun kita berada. Akhirnya marilah kita tutup ibadah shalat Id kita pada pagi ini dengan sama-sama berdoa:

.

 

 


Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, sayangi mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sejak kami masih kecil. Ya Allah, ampuni juga dosa kaum muslimin dan muslimat baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.


.

Ya Allah ya Tuhan kami, telah banyak dosa dan kezaliman yang kami lakukan, ampunilah kami ya Allah, betapa hinanya kami manakala Engkau tidak mengampuni kami.


.

Ya Allah ya Tuhan kami, tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa melaksanakannya. Ya Allah ya Tuhan kami, tunjukkan kepada kami yang bathil itu bathil, yang salah itu salah dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa menjauhinya.

 


.

Ya Allah Ya Tuhan kami, jadikanlah jamaah haji kami yang kini telah menunaikannya di Tanah Suci, haji yang mabrur, sai yang diterima, dosa yang diampuni, amal shaleh yang diterima dan usaha yang tidak mengalami kerugian


.

Ya Allah, baikkanlah kesudahan segala urusan kami, jauhkanlah dari kehampaan dan kehinaan di dunia dan siksa di akhirat.


.

Ya Allah rukunkan dan damaikanlah semua pemimpin umat Islam, tolonglah Islam dan kaum muslimin, tolonglah kalimat-Mu untuk tetap tegak sampai hari kiamat.

 

.


Ya Allah, jauhkanlah kami dari kesulitan ekonomi, bencana, wabah, perbuatan keji dan munkar serta melanggar aturan, serangan dan ancaman yang bermacam-macam, keganasan dan segala ujian, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dari negara kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri Islam pada umumnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.

 

.

Ya Allah, anugerahkanlah kami kehidupan di dunia yang baik dan akhirat yang baik serta hindarkan kami dari azab neraka.

 

 

.