,RIHLAH MUQODDASAH
Perjalanan Suci Menuju Ridlo Robbi
H.Abu Royhan
 

 

 

 

 

 

 

 


Panduan Ibadah Haji
 

 

 

 


KBIH MUSLIMAT NU HDWR BANTUL

YOGYAKARTA

 

 

 

 

 

BAGIAN I

KEUTAMAAN IBADAH HAJI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEUTAMAAN HAJI

DAN ANJURAN MENUNAIKANNYA

 

Hadits hadits berikut ini menerangkan bahwa haji itu melebur dosa dosa sebelumnya, dan menjadikan orang yang melakukannya bagaikan bayi yang baru lahir dari ibunya.

: , , : , : , , : : : , : : , : , ,

 

Dari Amr ibnil Ash Radliyallahu anhu : Ia berkata :

Ketika Allah jadikan Islam didalam hatiku, aku datang menghadap Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam.

Lalu aku katakan : Ulurkan tanganmu aku ingin ber baiat dihadapanmu,

Beliau mengulurkan tangannya, lalu aku sambut dengan tanganku.

Beliau bertanya : Apa maumu hai Amr?

Aku jawab : Aku ingin berbaiat.

Tanya Beliau : untuk apa kau baiat?

Jawabku : Agar aku diampuni

Kemudian beliau bersabda : Tidakkah kamu tahu bahwa Islam itu meleburkan dosa dosa sebelumnya, Hijrah itu juga menhancurkan dosa dosa sebelumnya, demikian pula haji itu meluluhkan dosa dosa sebelumnya, (HR.Muslim).

, : :

Dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu, Ia berkata :

Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, telah bersabda : Barang siapa mendatangi rumah ini, dia tidak berbuat buruk, dan tidak berbuat fasiq, maka ia akan kembali seperti hari saat ibunya melahirkannya (HR.Bukhari Muslim).

:

Dari Umar Radliyallahu anhu :

Barang siapa mendatangi rumah ini, tiada motifasi selain untuk shalat didalamnya, maka ia kembali sebagaimana ia lahir dari ibunya. (HR.Said bin Manshur).

: , ,

Di dalam riwayat lain :

Barang siapa mendatangi rumah ini, tiada tujuan lain kecuali kepadanya, kemudian ia thawaf dengan thawaf yang sesungguhnya, maka ia akan bersih dari dosa dosanya, seperti pada hari ibunya melahirkannya .

(HR.Said bin Manshur). Al Qira .hal : 29

: , , , : , , :

,

 

Dari Abu Musa Al Asyari, ia berkata :

Seseorang bertanya : Hai Abu Musa, aku ingin menunaikan hajji, tetapi keadaanku lemah dan pikun, apakah ada amal lain yang membandinginya ?

Jawab Abu Musa: Apakah kamu mampu memerdekakan budak mukminah sebanyak 70 orang dari keturunan Ismail. (HR.Abdur Razaq dalam Musnadnya).

 

: : : . : . : : . : ,

Dari Abi Dzarr :

Beberapa orang telah melewatinya, lalu ia bertanya : Kamu sekaliyan dari mana ?

Mereka menjawab : dari Makkah.

Ia Tanya lagi : Apakah dari Rumah tua itu ?

Jawab mereka : Ya, betul.

Tanyanya lagi : Apakah anda berdagang atau belanja ? Jawab mereka : Tidak,

Kemudian ia berkata : Teruslah kalian beramal. Adapun dosa dosa yang telah lalu, sungguh telah diampuni. (HR.Said).

 

: , ,

 

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda :

Akan datang suatu masa pada manusia, para hartawan dari ummatku berhajji hanya untuk pesiar, Kelas menengah mereka untuk berdagang, Ahli Qurranya untuk pamer dan cari perhatian, orang orang faqir untuk minta minta.

(HR.Abul Farj).

Al Qira .hal : 31

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. HAJI MENGHAPUSKAN DOSA DOSA

YANG TERDAHULU DAN YANG KEMUDIAN

 

: : ,

Dari Abdullah , Ia berkata :

Aku mendengar Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa yang menunaikan hajji dengan tujuan mencari keridlaan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa dosanya yang telah lalu dan yang kemudian, dan ia akan memberikan syafaat kepada orang orang yang mendoakannya

 

: : ,

 

Dari Jabir bin Abdillah Radliyallahu anhu, ia berkata :

Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa menunaikan nusuknya (hajji), sementara orang orang lain aman (tidak pernah tersakiti) dari ucapan dan perbuatannya, maka akan diampuni dosa dosanya yang terdahulu dan yang kemudian.

: :

 

Dari Mujahid, ia berkata :

Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam berdoa :

Ya Allah ampuni dosa dosa orang yang menunaikan ibadah hajji, dan orang orang yang dimohonkan ampun olehnya. (HR. Ibnul Hajji dalam Mansaknya).

3. HAJI ADALAH AMAL YANG PALING UTAMA SETELAH BERIMAN DAN BERJIHAD

: : , : ǿ : . : ǿ :

Dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu.:

Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya : Amal apakah yang lebih utama ?

Beliau menjawab :

Iman kepada Allah dan Utusannya.

Beliau ditanya lagi : Kemudian amal apa lagi ?

Beliau menjawab : Berperang dijalan Allah.

Pertanyaanya lagi : Lalu amal apa lagi ?

Jawab beliau : Lalu hajji yang mabrur .

(HR.Bukhari dan Muslim). Al Qira .hal : 31

: , , : : , ,

Dari Maiz At Tamimi, bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : Amal apakah yang lebih utama? Nabi menjawab : Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan berjuang dijalan Allah.

Kemudian gemetarlah betis orang itu.

Lalu katanya : Terus apa lagi ?

Beliau bersabda :

Amal yang lebih utama dari semua amal kecuali sesamanya, adalah hajji yang baik, hajji yang baik.

(HR.Al Hafidh Abul Farj di kitab Matsiril Gharam).

 

, .

: , : . : . , : : , , : , , , , , , , , .

 

Didalam kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa keutamaan hajji itu melebihi amal amal fisik (badaniyah) yang lain. Setelah beriman dan berperang di jalan Allah.

Tentang masalah ini ada tiga pendapat.

Pertama : Shalat lebih utama, karena hadits Nabi Sallallahu alaihi wa sallam :

Ketahuilah bahwa sebaik baik amalmu adalah shalat,

dan sabda Nabi : Shalat adalah sebaik baik tujuan.

Kedua : Puasa lebih utama, karena hadits Nabi Sallallahu alaihi wa sallam :

Tiada yang menyamainya, Puasa adalah untukKu, dan Aku sendirilah yang akan membalasnya

Ketiga : Hajji adalah amal yang paling utama, sebagaimana keterangan terdahulu..

 

Abu Syatsa berkata :

Pernah aku merenungkan tentang amal amal kebaikan, ternyata shalat itu mencurahkan segenap tenaga fisik. Demikian pula ibadah puasa, Shadaqah itu mencurahkan harta, tetapi hajji mencurahkan keduanya, tenaga dan harta benda. Oleh karenanya aku berpendapat, bahwa hajji itu amal yang lebih utama.

Maka tak pernah ada pungutan bea untuk berulang kali masuk Makkah, juga tak ada pajak pembelian budak untuk dibebaskan (dimerdekakan) juga pembelian domba untuk qurban. Bahkan tak pernah ada pungutan biaya apapun, pada segala sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. .(Al Qira .hal : 33)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. HAJI MABRUR

: : , ( )

Dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda : Umrah sampai umrah adalah tebusan bagi dosa dosa antara keduanya, dan hajji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga (HR.Al Bukhari dan Muslim).

: , , : .( )

 

Dari Aisyah Radliyallahu anha ia berkata :

Wahai Rasulallah Sallallahu alaihi wa sallam , aku berpendapat bahwa jihad itu adalah amal yang paling utama, bolehkah kami ikut berperang ?.

Rasulullah menjawab : Akan tetapi jihad yang lebih utama adalah haji yang mabrur.

(HR.Al Bukhari dan Muslim).

: : , : , , : .

Dari Aisyah Radliyallahu anha, ia berkata pada Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam :

Wahai Rasulallah, apakah diperkenankan kami ikut berperang bersama Paduka ?

Rasulallah Sallallahu alaihi wa sallm menjawab :

Tetapi sebaik baik dan sebagus bagus perang adalah haji, haji yang mabrur, Lalu Aisyah berkata :

Tak pernah lagi aku meninggalkan hajji semenjak aku mendengar sabda ini dari Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam (HR.Al Bukhari dan Muslim).

: . : , : , : ,

 

Dari Jabir dari Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda :

Hajji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga

Para shahabat lalu bertanya:

Wahai Rasulallah, bagaimanakah kemabruran hajji itu?

Rasulallah menjawab: Memberikan makan dan menyebarkan salam. (HR.Imam Ahmad).

Adz Dzahabi menambahkan : Baik ucapannya.

Penjelasan :

Yang dimaksud hajji mabrur adalah hajji yang tidak dicampuri dengan perbuatan dosa. Satu riwayat mengatakan, hajji mabrur adalah hajji yang diterima.

Riwayat lain mengatakan : hajji mabrur adalah hajji yang tidak ada riya pamer, tidak pula mencari perhatian juga tidak bercampur dengan perbuatan keji dan fasik didalamnya.

Riwayat lain mengatakan, bahwa hajji mabrur itu tanda tandanya adalah ; setelah melakukan ibadah hajji semakin bertambah kebaikannya. Dan setelah pulang hajji juga tidak mengulang kembali melakukan kemashiyatan.

Ada ucapan : Semoga hajinya mabrur. Dan Semoga Allah menjadikannya mabrur.

Diriwayatkan dari Hasan Al Bashri , tentang haji mabrur, : Hendaknya setelah pulang menunaikan ibadah hajji menjadi semakin zuhud didunia, semakin cinta terhadap akhirat. Sabda Nabi :

tiada balasan baginya kecuali surga

Maksudnya adalah bahwa, balasan itu bukan sekedar tebusan atau diampuninya dosa dosa, akan tetapi juga pasti Allah menyampaikannya ke sorga oleh sebab hajjinya. Al Qira .hal : 34

 

Dari Ibnu Umar ia berkata :

Pernah datang seorang laki laki dari kaum Anshar kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, ia berkata :

Wahai Rasulallah, aku ingin menanyakan beberapa masalah,

Nabi bersabda : Duduklah,

Lalu datang pula seseorang dari Tsaqif , ia berkata : Wahai Rasulallah ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Jawab Rasulullah : Kamu telah keduluan orang Anshari ini.

Orang Anshari itupun berkata : Orang ini adalah orang asing, ada hak bagi orang ini untuk di dahulukan, silahkan Paduka mulai dengan orang asing ini.

Rasulallah pun menghadapi orang Tsaqif itu, Lalu bersabda : Jika kau ingin, aku akan ceritakan apa yang akan kau tanyakan, dan jika kau bertanya tentu aku akan menjawabnya. Orang itu berkata : Ceritakanlah kepadaku tentang apa yang akan aku tanyakan .Kemudian Nabi bersabda : Kau datang kepadaku untuk bertanya tentang ruku, sujud, shalat dan shiyam.

Orang Tsaqif itu berkata : Demi Dzat Yang telah mengutus Paduka membawa kebenaran, betul, apa yang Paduka katakan tidak luput sedikitpun dengan apa yang ada dihatiku.

Kemudian Nabi bersabda : Ketika kamu ruku letakkan kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu, dan bukalah jari jemarimu, lalu berhentilah, sehingga masing masing anggaota tubuh ada pada posisinya. Dan ketika kamu bersujud, maka tekanlah dahimu. Jangan seperti burung mematuk (jawa : nothol). Shalatlah kamu pada watu pagi dan sore.

Orang Tsaqif itu bertanya : Hai Nabiyallah, Bagaimana apabila aku melakukan shalat pada waktu siang antara keduanya ?Nabi menjawab : Bolehlah kamu shalat pada saat itu. Dan berpuasalah kamu setiap bulan pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas. Lalu orang Tsaqif itu berdiri.

Rasulallah kemudian menghadapi orang Anshari,

Lalu bersabda : Jika kau inginkan akan aku ceritakan kepadamu tentang kedatanganmu untuk bertanya, dan jika kau ingin bertanya kepadaku tentang sesuatu, akupun akan menjawab pertanyaanmu.

Orang itu lalu berkata : Tidak. Hai Nabiyallah, Tetapi ceritakanlah kepadaku tentang kedatanganku dan pertanyaanku.

Nabi bersabda : Bukankah kedatanganmu kepadaku untuk bertanya kepadaku tentang hajji ? Pahala apa bagi hajji ketika keluar dari rumahnya? Dan apa pula baginya ketika ia berdiri di padang Arafah ? Apa pahala baginya ketika ia melempar jumrah? Dan apa pula baginya ketika ia mencukur rambut dikepalanya? Dan juga apa baginya ketika ia menunaikan akhir thawafnya di Baitullah ?.

Orang itu pun menjawabnya : Wahai Nabiyyallah, Demi

Dzat yang mengutus Paduka membawa kebenaran, tak salah sedikitpun dari apa yang ada didalam hatiku.

Lalu Nabi menerangkan, sesungguhnya pahala baginya ketika ia keluar dari rumahnya, kendaraan yang dinaikinya tidak melangkah satu langkah kecuali Allah mencatat baginya satu kebaikan. Atau dihapuskannya dari dosa dosa satu kejelekan. Dan ketika ia wukuf di Arafah, sesungguhnya Allah turun di langit dunia, kemudian berfirman kepada para Malaikat : Lihatlah hamba hamba ini mereka datang kepadaKu dengan rambut acak acakan dan berdebu, saksikanlah aku telah mengampunkan dosa dosanya. Walaupun dosa dosanya sebanyak tetesan air hujan dari langit, dan sebanyak hamparan butir butir pasir.

Ketika ia melempar jumrah, ia tak tahu kehilangan hartanya diambil orang, ia pasti akan dibalas di hari kiyamat kelak.

Ketika ia mencukur rambut kepalanya, maka dari setiap helai rambut yang berguguran dari kepalanya, baginya akan mendapat nur cahaya dihari kiyamat. Dan ketika ia menunaikan akhir thawafnya di Baitullah, ia keluar dari dosa dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya.

Dari Anas bin Malik, ia berkata :

Pernah aku bersama Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam di masjid Khaif, kemudian datanglah dua orang, satu orang dari kaum Anshari yang lain dari Tsaqafi, keduanya memberi salam dan menyapa Beliau, dan katanya: Kami datang kepadamu wahai Rasulullah, untuk bertanya kepada Paduka.

Beliau lalu bersabda : Jika kalian kehendaki akan aku ceritakan kepada kalian tentang kedatangan dan apa yang akan kalian tanyakan. Atau jika kalian ingin aku harus diam, silahkan kalian bertanya. Kedua orang itupun berkata : Ceritakan kepada kami, biar kami semakin tambah iman /yakin (rawi ragu). Orang Anshar itu kemudian mengatakan pada orang Tsaqafi, bertanyalah kepada Rasulullah. Dijawab oleh orang itu, Silahkan anda dulu yang bertanya kepada beliau. Aku tahu kau lebih berhak untuk bertanya lebih dulu.

Orang Anshar itupun lalu berkata :

Ceritakanlah kepada kami ya Rasulallah.

Nabi bersabda :

Bukankah kedatanganmu kepadaku untuk bertanya kepadaku tentang : Keluarmu dari rumahmu menuju Baitilharam, dan harta bendamu yang kau keluarkan untuk kepentingan itu bukan ? Dan tentang thawafmu di Baitullah serta hartamu untuk itu? Dari shalatmu dua rakaat setelah thawaf juga hartamu untuk bekal kesana? Dan dari Syaimu antara Shafa dan Marwah, juga hartamu untuk itu? Dan tentang wukufmu ketika sore di padang Arafah juga harta mu? Tentang lemparan jumrah dan hartamu untuk itu?

Juga qurbanmu dan hartamu untuk qurban itu? Dan tentang cukur rambut kepalamu serta hartamu untuk biaya itu? Serta thawafmu di Baitullah setelah itu semua dan hartamu ?

Orang Anshar itupun lalu berkata : Betul, Demi Dzat Yang mengutusmu membawa kebenaran, sungguh itulah perkara yang ingin aku tanyakan dengan kehadiranku ini.

Rasulullah bersabda :

Sungguh kamu ketika keluar dari rumahmu menuju Baitil Haram, tidaklah ontamu menapakkan dan mengangkat kakinya, kecuali Allah menulis satu kebaikan bagimu dari setiap langkah, dan Allah menghapus setiap kesalahan dan Allah mengangkatmu satu derajat dari setiap langkah.

Adapun shalatmu dua rakaat setelah selesai thawaf sama dengan memerdekakan budak dari keturunan Ismail. Adapun syaimu dari Shafa dan Marwah, maka itu menyamai 70 budak yang kau bebaskan. Adapun wukufmu disore Arafah, sesungguhnya Allah telah turun di langit dunia kemudian membanggakan kamu sekalian pada para malaikat, lalu berfirman : Inilah hamba hambaKu mereka datang kepadaKu dengan rambut umal dan berdebu, mereka datang dari segala penjuru dan tempat yang jauh, mereka hanya berharap rahmat dan ampunanKu. Andaikan dosa dosa mereka itu banyaknya menyerupai butir butir pasir, atau bagaikan tetesan air hujan, atau bagaikan buih buih dilautan, akan Aku ampuni semuanya. Bertebaranlah wahai hamba hambaKu, dengan penuh ampunan bagimu, dan orang orang yang kalian berikan syafaat.

Adapun lemparan jumrahmu, maka diampunkan dari setiap lemparan kerikil yang kau lemparkan, dosa dosamu yang besar dari sekalian dosa besar, yang seharusnya dibalas penuh dengan siksa yang sangat berat. Sedangkan qurbanmu menjadi simpanan bagimu disisi Tuhanmu. Adapun cukur rambut kepalamu, adalah satu kebaikan bagimu dari setiap helai rambut yang kau potong dan akan menghapuskan setiap kesalahan.

Orang Anshar itu bertanya lagi :

Wahai Rasulallah, bagaimanakah apabila dosanya lebih sedikit dari itu semua ?

Rasulullah menjawab: Kalau begitu, kebaikanmu itu akan menjadi simpanan bagimu.

Adapun thawafmu di Baitullah setelah selesai semuanya (maksudnya adalah thawaf ifadlah) maka sesungguhnya, ketika itu tiada lagi dosa bagimu. Malaikat akan mendatangi dan melindungi seraya berkata: Lakukanlah yang belum selesai, niscaya akan diampuni dosa dosamu yang telah lampau.

 

 

 

 

5. HAJI ADALAH JIHAD

 

Diriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu anhu , dari Rasulillahi Sallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda :

Ada jihad besar, ada jihad kecil, dan jihad bagi perempuan adalah hajji dan umrah (HR.An Nasai).

 

, : , : , : : . : ( )

 

Diriwayatkan dari Utsman bin Sulaiman, dari nenekna yaitu Ibu dari ayahnya. Ia berkata :

Seseorang datang menghadap Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, lalu ia berkata : Aku ingin berperang fi sabilillah, lalu Nabi bersabda : Maukah kau aku tunjukkan perang yang didalamnya tiada duri dan senjata tajam? Orang itupun menjawab : ya, lalu Nabi bersabda : Hajji di Baitullah. (HR.Said bin Manshur).

 

: ,

 

Diriwayatkan dari Umar, ia berkata :

Ketika kamu letakkan alas kaki di punggung kuda, lalu kau persiapkan bekal untuk bepergian Hajji dan Umrah, maka itu berarti telah melakukan satu diantara dua jihad.

(HR.Abu Dzarr).

 

 

 

Hajjinya Orang Yang Belum Pernah Hajji Itu Lebih Utama Dari Pada Berperang

: : , , ,

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda :

Hajji sekali bagi orang yang belum hajji itu lebih baik dari pada sepuh kali berperang. Dan berperang bagi orang yang telah hajji itu lebih baik dari pada hajji sepuluh kali. Berperang di lautan itu lebih baik dari pada sepuluh kali perang di darat. Barang siapa yang melewati lautan seakan ia melewati seluruh jurang. Adapun kompas penunjuk arah mata angin ditengah laut itu lebih baik dari pada darah yang

tertumpah.

: : .

 

Diriwayatkan dari Umar, ia berkata :

Haji pertama kali yang aku lakukan, dimana aku belum

pernah melakukannya, itu lebih aku sukai dari pada enam atau tujuh kali berperang (HR.Abu Dzarr).

Orang Yang Berhajji Dan Umrah Adalah Tamu Allah.

: : : , , . : .

Dari Abi Hurairah radliyallahu anhu ia berkata :

Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam telah bersabda:

Tamu Allah itu ada tiga :1. Orang yang berperang, 2. Orang yang sedang menunaikan ibadah hajji, 3. Orang yang sedang melakukan umrah(HR. An Nasaiy dan Ibnu Hibban)

didalam kitab Taqasimul anwa dengan tambahan redaksi : Apa bila mereka memohon tentu Allah akan memenuhi permohonannya.

: : , , , , : ,

Dari Ibnu Amr ia berkata : Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam telah bersabda:

Orang orang yang sedang menunaikan ibadah hajji, dan Orang orang yang sedang melakukan umrah adalah tamu Allah, Apa bila mereka memohon tentu Allah akan memenuhi permohonannya, apa bila mereka berdoa tentu Allah akan mengijabahinya, apa bila mereka mengeluarkan biaya tentu Allah akan menggantinya. Demi Dzat yang jiwa Abil Qasim dalam kekuasaannya, Tiada seseorang yang membaca tahlil, dan tiada orang yang membaca takbir, di suatu tempat mulia diantara beberapa tempat mulia, kecuali akan membaca tahlil pula apa yang ada di depannya, juga membaca takbir sehingga ia menempuh perjalanan yang terjauh (tempat terakhir perjalanannya yang telah ia tempuh). (HR.Tamam Ar Razi dalam kitab ; Fawaid).

 

6. IJABAH DOA ORANG YANG HAJJI

DAN UMRAH

: : , , , , , ,

Dari Ibnu Abas radliyallahu anhu ia berkata :

Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam telah bersabda:

Ada lima doa yang tak kan tertolak, doanya orang yang menunaikan hajji sampai ia keluar, doanya orang yang sedang berperang sampai ia pulang, doa orang yang teraniyaya sampai ia tertolong, doa orang yang sedang sakit sampai ia sembuh dari sakitnya, dan doa seseorang kepada saudaranya ketika ia dalam bepergian.

Adapun dari lima macam doa itu yang lebih cepat mendapatkan ijabah adalah doa seseorang kepada saudaranya ketika ia dalam bepergian.

(Hadits shahih dari Said bin Jubair dari Ibnu Abas).

 

: ,

Dari Ali Bin Abi Thalib, dari Nabi Sallallahualaihi wa sallam beliau bersabda :

Barang siapa yang menginginkan dunia dan akhirat, hendaklah ia datang ke Baitullah, Tidaklah seseorang yang datang kepada rumah ini (Baitullah), memohon kepada Allah untuk urusan dunia kecuali Allah tentu akan memberinya. Dan tiada seseorang yang datang kerumah ini memohon kepada Allah untuk urusan akhirat kecuali Allah pasti akan menyimpannya di akhirat.

: , : ,

Dari Salim bin Abdullah bin Amr , dari Ayahnya : Pernah suatu ketika Umar minta izin kepada Nabi Sallallahualaihi wa sallam untuk melakukan umrah, Beliaupun mengizinkannya, bahkan beliau bersabda : Jangan lupakan aku dalam doamu, atau ikut sertakan aku dalam doamu(HR.Abu Dzarr al Harawi) Al Qira .hal : 40

Bersalaman Dengan Haji Dan Minta Doa

: : ,

Dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulillah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda :

Apabila kamu ketemu dengan orang yang sedang pulang hajji maka berilah salam dan bersalamanlah kamu kepadanya, mintalah doa agar kau dapat ampunan sebelum ia masuk rumahnya karena permohonan ampunannya pasti dikabulkan. (HR.Imam Ahmad).

 

Pahala Hajji dan Umrah secara berturut turut,

: :

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata, Rasulillah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda :

Lakukanlah secara berturut turut antara hajji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan menghapuskan dosa dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi, emas dan perak, dan bagi hajji yang mabrur tiada balasannya kecuali surga

(HR. At Turmudzi, ini hadits hasan shahih).

: , ,

 

Diriwayatkan dari Umar RA. Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda :Berturut turutlah antara hajji dan umrah, karena mengurutkan antara keduanya akan menyebabkan tambahnya umur dan rizki, dan membersihkan dosa dosa bagaikan perapian menghilangkan karat dari besi. (HR.Ibnu Abi Khaitsumah).

Penjelasan.

Sabda Nabi : Berturut turutlah yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam firmanNya : maka berpuasa dua bulan berturut turut masudnya dua ibadah nusuk antara hajji dan umrah itu berurutan, satu ibadah dikuti ibadah yang lain, baik umrah dahulu lalu hajji atau sebaliknya. Al Qira .hal : 40

7. KEUTAMAAN HARTA

YANG DIGUNAKAN UNTUK HAJJI

 

Di depan telah dijelaskan bahwa:

Orang orang yang sedang menunaikan ibadah hajji, dan Orang orang yang sedang melakukan umrah adalah tamu Allah ,

Dan sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam:

Apabila mereka berinfaq tentu Allah akan menggantinya

 

: : .

Diriwayatkan dari Buraidah, ia berkata, Rasulillah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda : Harta yang digunakan untuk biaya ibadah hajji bagaikan harta yang dibelanjakan dijalan Allah, satu dirham mendapat pahala tujuh ratus kali lipat (HR.Ibnu Abi Syaibah dan Imam).

:

Dari Aisyah RA. Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda kepadanya tentang umrahnya : Sesungguhya pahala bagimu, itu seukur dengan seberapa kesulitanmu dan seberapa harta yang kau keluarkan untuk perbekalanmu (HR.Ad Daraquthni).

: : : ,

Dari Aisyah RA. Ia berkata : Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Ketika seseorang keluar dari rumahnya untuk berhajji maka ia senantiasa dalam perlindungan Allah, Apa bila ia meninggal sebelum menunaikan ibadah hajjinya, maka tetaplah pahalanya dijamin Allah. Dan apa bila ia selamat sampai menunaikan ibadahnya, maka seluruh dosa dosanya diampuni Allah baik dosa yang terdahulu maupun yang kemudian. Harta yang dikeluarkan untuk perbekalannya, satu dirham untuk tujuan ini menyamai empat puluh juta yang digunakan selain hajji.

(HR.Al Hafdz Al Mundziri ).Al Qira .hal : 43

 

Nafkah Yang Baik Untuk Ibadah Haji.

: , : . : . , , , , , , , : , . : , , ,

Dari Abi Hurairah, Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa bermaksud menuju rumah ini (Baitullah) dengan bekal dari usaha yang haram, berati ia pergi meninggalkan rumahnya bukan untuk taat kepada Allah. Ketika ia berteriak keras membaca talbiyah, dan meletakkan kakinya pada tempat penyangga kaki lalu berangkatlah ia diatas kendaraannya, lalu ia ucapkan : Labbaik Allahumma labbaik,maka ada seruan dari langit : Tidak perlu labbaik labbaikkerjamu cari harta haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram, perbekalanmu juga haram . Pulanglah kamu membawa dosa dosamu dan bukan pahalamu, rasakan kejelekan yang telah kau lakukan.

Tetapi apa bila seseorang berangkat hajji dengan harta yang halal, ia letakkan kakinya pada tempat penyangga kaki lalu berangkatlah ia diatas kendaraannya, Dan ia ucapkan : Labbaik Allahumma labbaik, maka ada seruan dari langit : Labbaik wa sadaik. Telah kau penuhi kwajibanmu, kendaraanmu halal, pakaianmu halal, perbekalanmu juga halal, Kembalilah pulang kamu dengan baik, dan tanpa dosa, mulailah kembali bekerja.(HR. Abu Dzarr).

: : : , : ,

 

Dari Umar, ia berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda :

Ketika seseorang yang menunaikan ibadah hajji dengan harta yang tidak halal dan ia ucapkan kalimah talbiyah : Labbaik Allahumma labbaikAllah Azza wa Jalla pun menjawab : Tidak perlu labbaik labbaikamalmu ini tertolak tak kan diterima.

(HR.Al Hafidh Abul Farj dalam kitab Matsiril Gharam).

, , : : , , , , , ,

Hadits diriwayatkan dari Makhul hadits ini marfu sampai Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda Ada empat macam harta, yang tak akan diterima untuk empat macam ibadah :

1. Nafkah dari hasil pengkhiyanatan,

2. dari hasil pencurian,

3. dari hasil memperdaya,

4. dari harta anak yatim.

Digunakan untuk hajji ,umrah , shadaqah maupun jihad.

: : , : .

Hadits diriwayatkan dari Ahmad bin Abi Al Hawari. Dari Abi Sulaiman Ad Darani, Ia berkata, telah sampai kepadaku bahwa beliau pernah bersabda :

Barang siapa menunaikan ibadah hajji dari harta yang tidak halal, lalu ia membaca talbiyah, Allah Azza wa Jalla akan menjawabnya, Tidak perlu labbaik labbaikamalmu ini tertolak tak kan diterima akan kembali didepanmu. (HR.Al Hafidh Abul Farj). Al Qira .hal : 44

: : : , , , .

 

Hadits diriwayatkan dari Abi Umamah dan watsilah bin Asqa mereka berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, bersabda :

Ada empat macam orang yang Allah pasti memberikan pertolongan kepada mereka,

1. Orang yang berperang,

2.Orang yang melakukan perkawinan,

3. Budak mukatab ,

4. Orang yang menunaikan ibadah haji.

, : ,

Hadits diriwayatkan dari Amr bin Yasar Al Makky , ia berkata : Bahwa onta yang dikendarai untuk menunaikan ibadah hajji, itu akan di berkahi sampai empat puluh induknya, dan apa bila onta itu dikendarai untuk berhajji sampai tujuh kali, maka niscaya Allah akan menggembalakan onta itu kelak ditaman sorga. Al Qira .hal : 45

 

8. WAJIBNYA HAJI

: : ,

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Masud, ia berkata :

Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu alai wa sallam bersabda : Islam itu ditegakkan atas lima perkara : Bersaksi bahwa : Tiada tuhan yang disembah kecuali Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, Menegakkan shalat, Menunaikan zakat, Menunaikan hajji ke Baitullah, Puasa di bulan Ramadlan.(HR.Bukhari, Muslim).

: :

Hadits diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata :

Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam telah bersabda:

Sesungguhnya Allah itu telah mewajibkan hajji pada kamu sekalian, maka berhajjilah .

: :

Hadits diriwayatkan dariIbnu Abbas, ia berkata : Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam bersabda: Tiada istilah tidak mampu hajji dalam Islam. (HR.Abu Dawud).

Penjelasan :

Seseorang tidak mampu menunaikan ibadah hajji, lalu tidak berhajji, sehingga tidak ada istilah ini di dalam Islam. Sharurah artinya tidak mampu hajji. Konon artinya tidak pernah diucapkan bahwa : orang yang tidak mampu hajji disebut sharurah menurut ajaran Islam. Tetapi dahulu istilah ini diucapkan dizaman jahiliyah. Hal ini di dasarkan atas hadits riwayat Ibnu Masud, Ia berkata :

,

Jangan sekali kali seorang muslim mengucapkan : aku tidak punya kemampuan menunaikan ibadah hajji, karena orang Islam itu tidak ada yang tidak mampu berhajji.

Dikatakan pula bahwa Sharurah orang yang memutuskan diri untuk tidak menikah, seperti halnya pendeta Nashrani, oleh sebab itulah Sharurah dilarang dalam Islam. (HR. Imam Turmudzi).

: : : : : : : :

 

Diriwayat kan dari Ibnu Abas ia berkata :

Ketika Nabi Ibrahim Alaihis salam selesai membangun Kabah, beliau kata : telah selesai aku membangunnya. Allah berfirman ; Undanglah manusia untuk mendatanginya. Nabi Ibrahim menjawabnya : Wahai Tuhanku, apakah sampai suaraku pada mereka ?

Allah katakan : Undanglah mereka , sampai atau tidak itu urusanku. Lalu Nabi Ibrahim mengundang mereka : Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan ataskamu sekalian menunaikan hajji ke Rumah tua (Kabah).Maka sampailah seruan itu kepada seluruh penduduk langit dan bumi, merekapun memenuhi undangan itu datang ke Kabah dengan ucapan ; Labbaik, labbaik ; aku datang memenuhi undanganmu. (HR. Abu Dzarr).

: : , : : ,

Diriwayat kan dari Imam Mujahid : Ia berkata :

Nabi Ibrahim Alaihis salam pernah katakan ditempat ini :

Wahai sekalian manusia penuhilah perintah Tuhanmu. Maka disambutlah seruan itu, mereka datang dengan mengucapkan : Labbaik Allahumma labbaik ; Aku datang memenuhi panggilanmu, Maka sampai hari ini siapapun yang menunaikan ibadah hajji, berarti ia telah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim Alaihis salam.

Diriwayat kan dari Abi Said, ia berkata :

Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Salam tentang peninggalan yang terdapat pada Maqam Ibrahim. Ia menjawab : Allah Taala berkehendak menjadikan maqam Ibrahim sebagai tanda tanda kebesaran Allah. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim agar ia memanggil manusia menunaikan ibadah hajji , ia berdiri dia atas maqam (suatu tempat), . Maka tempat itu menjadi sangat tinggi melebihi bukit bukit disekitarnya, dan lebih mulia dari segala yang ada dibawahnya. Lalu Ibrahim memanggil : Wahai sekalian manusia penuhilah perintah Tuhanmu. mereka datang memenuhi panggilannya dengan mengucapkan : Labbaik Allahumma labbaik ; Aku datang memenuhi panggilanmu.Maka jadilah bekas kedua telapak kakinya ditempat itu (disebutlah maqam ibrahim) karena kehendak Allah. Kemudian Ibrahim memandang kearah kanan dan kiri, seraya mengucap : Penuhilah perintah Tuhanmu.Ketika telah selesai Ibrahim memenuhi perintah Allah memanggil sekalian manusia, Allah menjadikan tempat itu (Kabah) sebagai qiblat. Lalu Ibrahim melakukan shalat menghadap kearah pintu Kabah, dan Kabah inilah sampai sekarang menjadi qiblat, arah menghadap ketika shalat sampai kapan pun Allah menghendaki. Al Qira .hal : 59-60.

 

 

 

 

 

9. KWAJIBAN HAJI HANYA SEKALI.

 

: : , , . : , : , : , , .

 

 

 

Dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu ia berkata :

Rasulullahi Sallallahualaih wa sallam pernah menasehati aku dan bersabda: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu sekalian menunaikan hajji, maka tunaikan ibadah hajji.

Seseorang bertanya : Apakah hajji itu harus ditunaikan setiap tahun, ya Rasulallah ?

Beliaupun diam tidak menjawabnya, sampai orang itu mengulangi pertanyaannya tiga kali, Kemudian beliau katakan : Apabila aku katakan ya niscaya menjadi wajib hajji setiap tahun, dan kamu sekalian tidak akan mampu.

Lalu beliau bersabda : Ambillah apa yang aku tinggalkan pada kamu sekalian, Orang orang dahulu sebelum kamu binasa itu lantaran mereka terlalu banyak bertanya, dan mereka juga selalu menentang nabi nabinya, Maka manakala Nabi memerintahkan kamu tentang sesuatu, lakukanlah perintah itu sebatas kemampuanmu, dan apapun yang dilarang bagi kamu sekalian tinggalkanlah.

(HR.Bulhari dan Muslim). Al Qira .hal : 60

: , , , , : ( ) , : , . ( )

Imam An Nasai berkata daei hadis riwayat Ibnu Abas : Apabila aku katakan ya niscaya menjadi wajib hajji setiap tahun , kemudian kamu sekalian tak akan memenuhinya dan tak akan mampu menunaikannya. Akan tetapi hajji itu cukup sekali, Dan imam Nasai menambahkan dalam riwayat yang lain : Barang siapa yang menambahnya lebih dari sekali menunaikan ibadah hajji, maka itu sebagai hajji tathawwu; sunnat dan amal kebaikan. Pendapat Imam Nasai ini diikuti pula oleh Imam Abu Daud.

Adapun Imam Turmudzi meriwayatkan dari Shahabat Ali, ketika turun ayat ini :

Menunaikan hajji adalah kwajiban bagi manusia terhadap Allah, bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Q S. Ali Imran 97).

Para shahabat bertanya : Apakah setiap tahun ? Nabi menjawab : Tidak ! Andai saja aku katakan ya niscaya menjadi wajib hajji setiap tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat : Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal hal yang jika diterangkan kepadamu, niscata menyusahkan kamu......

(QS. Al Maidah 101).

Penjelasan :

Para ulama sepakat bahwa tiada kewajiban menunaikan ibadah hajji kecuali sekali saja, kewajiban datang ke Baitullah hanya sekali saja sepanjang umur, sehingga ada kemampuan berulang ulang datang ke Baitullah.

Sabda Nabi : Andai saja aku katakan ya niscaya menjadi wajib hajji setiap tahun.

Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya agama disyariat atas rayu dan ijtihad Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, hanya saja tentang ini masih menjadi polemik diantara para ulama . Adapun Sabda Nabi : lakukanlah perintah itu sebatas kemampuanmu ini diambil dari firman Allah : Bertaqwalah kamu kepada Allah sebatas kemampuanmu.

Tetapi ayat ini telah di nasakh oleh ayat : Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya , Pendapat lain mengatakan bahwa ayat ini justru menjelaskan ayat terdahulu, karena taqwa yang sesungguhnya adalah ketaatan seorang hamba terhadap apa yang di perintahkannya. Dan tak mungkin ia diperintahkan kecuali sebatas kemampuan. Atas dasar firman Allah :

Allah tidak sekali kali menjadikan untuk kamu agama suatu kesempitan. (QS. Al Hajj : 78).

Inilah dalil bahwa sesuatu yang ketentuan hukumnya tak diturunkan adalah ibahah.

Al Qira .hal : 61-62

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10. SUNNAT DAN ANJURAN SEGERA MENUNAIKAN HAJI

 

: : : .

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam bersabda: Barang siapa hendak menunaikan ibadah hajji , maka segeralah

.(HR. Imam Ahmad , Abu Dawud ).

Imam Ahmad, At Thahawi dan Al Baihaqi menambahkan :Karena seseorang mungkin saja jatuh sakit, hartanya hilang, atau datang suatu kebutuhan . (HR. Abu Dzarr).

: : , :

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam bersabda: Segeralah tunaikan hajji (maksudnya hajji yang fardlu), karena seseorang tidak tahu sesuatu yang akan terjadi.

(HR. Imam Ahmad dan Al Baihaqi).

Al Baihaqi menjelaskan ; misalnya sakit atau kebutuan mendadak.

: : , : :

Dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu ia berkata : Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam bersabda: Berhajjilah kamu sekalian sebelum kamu dihajjikan (artinya dihajjikan karena sudah mati). Para shahabat bertanya : Bagaimana keadaan hajji? Nabi menjawab : Orang orang Arab itu berhajji hanya duduk duduk di dasar jurang tak seorangpun melakukan ritual hajjinya.

(HR. Ad Daraquthni dan Abu Dzarr).

: : , , : , : , .

Diriwayatkan dari Al Haris bun Suwaid, ia berkata : Aku mendengar Ali Radliyallahu anhu berkata : Berhajjilah kamu sekalian sebelum kamu tidak dapat melakukan hajji Seakan aku melihat budak Habsi yang bengkok kakinya, sedang ditangannya sebuah kapak, ia ingin menghancurkan batu batu besar dengan kapaknya.

Lalu aku tanyakan: Apakah yang kau katakan itu pendapatmu ? atau kau dengar dari Rasulullah Sallallahualaihi wasallam ?

Ali pun menjawab : Demi Dzat yang menumbuhkan biji, dan membebaskan jiwa, ini bukan pendapatku tetapi aku mendengar dari Nabi Sallallahualaihi wa sallam.

(HR.Abu Dzarr).

Perintah yang terkandung dalam hadits ini adalah perintah sunnat, hal itu dikuatkan oleh hadits yang pertama ,

sabda Nabi tersebut mengandung perintah sunnat secara pasti, tidak dapat dibawa kepada makna wajib, karena perintah itu tidak lepas dari dua makna, mungkin bagi orang itu wajib menunaikan hajji, atau hajji itu wajib baginya.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hajji itu boleh ditunda adalah ; Imam Syafii, Imam Ats Tsauri, Imam Auzai dan Imam Muhammad bin Hasan. Mereka beralasan perintah wajib hajji itu diturunkan pada tahun ke enam Hijriyah menurut Qaul shahih dan asyhar, tetapi ada yang mengatakan tahun kesembilan, ini di tashhih oleh Syaikh Iyadh. Demikian pula Nabi Sallallahualaihi wa sallam mengakhirkan sampai pada tahun ke sepuluh hijrah, dikuti pula oleh para shahabat yang kaya kaya seperti Utsman bin Affan, Abdur Rahman bin Auf dan sebagainya, padahal tidak mungkin Nabi terpaksa menunda oleh karena suatu udzur, meskipun pelaksanaan itu tak sesuai dengan perintah asalnya atau dhahirnya. Itu tak mungkin bagi Nabi dan para shahabatnya. Andaikan menunaikan hajji dengan segera itu wajib, niscaya Nabi Sallallahualaihi wa sallam memberi penjelasan pada para sahabatnya. Karena memberikan penjelasan terlambat setelah lewat waktu yang dibutuhkan itu tidak boleh. Sementara udzur (halangan) penentang dari orang orang musyrik jelas sudah tiada sejak peristiwa fathu Makkah tahun ke delapan Hijriyah. Alasan lain yang dapat dikatakan tentang penundaan pelaksanaan hajji untuk tidak dipandang sebagai suatu pengingkaran terhadap hajinya orang orang musyrik dan thawaf mereka dengan telanjang.

Imam Syafiiy berkata : Perintah wajib hajji itu, diturunkan kepada Nabi Sallallahualaihi wa sallam setelah beliau Hijrah dan membedah kota Makkah pada bulan Ramadlan dan meninggalkan Makkah pada bulan Syawal, dan menjadikan khalifah di Makkah Atab bin Asid. Baru kemudian diperintahkan hajii itu kepada kaum muslimin oleh Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam, sementara beliau berada di Madinah dan mampu untuk menunaikan hajji beserta para istri istrinya dan para shahabatnya secara umum. Kemudian beliau Sallallahualaihi wa sallam mengutus Abu Bakar pada tahun kesembilan Hijriyah untuk menunaikan hajji. Padahal beliau mampu juga melakukannya pada saat itu. Tetapi tidak beliau lakukan juga istri istri dan para sahabatnya, baru pada tahun ke sepuluh.

Maka dari itu kita mengambil dasar hukum bahwa kwajiban hajji itu hanya satu kali seumur hidup, permulaannya adalah masa baligh, sampai pada akhir usia sebelum matinya. Abu Yusuf, Imam Malik dam Imam Ahmad berpendapat bahwa hajji itu wajib dengan segera. Menurut Imam Karakhi : Pendapat ini adalah madzhab Abu Hanifah. Mereka beralasan dengan haditsnya Ali dalam memberikan tafsir istithaah yang akan kita bahas nanti pada bab berikutnya.

Al Qira .hal : 63.

 

 

 

 

 

 

 

11. SUNNAT BERUSAHA UNTUK HAJI

KE BAITIL HARAM SETELAH GUGURWAJIBAN.

, : :

Hadits diriwayatkan dari Abi Hurairah Radliyallahu anhu, dari Nabi Sallallahualaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah Azza wa Jalla telah berfirman : Sesungguhnya seseorang telah Aku berikan kesehatan, dan telah Aku berikan rizki yang lapang, tetapi ia tak mau berkunjung kepadaKu, setelam waktu lima tahun, niscaya orang itu terhalang dari rahmatKu

(HR. Abu Dzarr Al Harawi).

(Allah Azza wa Jalla telah berfirman ) : hadits ini berarti maksudnya adalah hadits qudsi , Nabi hanya meriwayatkan dengan redaksi dari Nabi sendiri tetapi makna adalah dari Allah.

. : :

 

Hadits diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, hadits Abi Said Al Khudri dengan redaksi sebagai berikut : Sungguh Allah telah berfirman : Sesungguhnya seorang hamba telah Aku karuniai kesehatan fisiknya, dan Aku karuniai kehidupan yang lapang, dan waktu pun berlalu, lima tahun melewatinya, ia tak mau datang berkunjung kepada Ku, niscaya orang itu terhalang dari rahmatKu . (HR.Al Hafidz Abu Hatim bin Hibban).

Menurut Imam Ibnu Wadlah : datang berkunjung kepadaKu maksudnya adalah datang ke Baitullah untuk menunaikan hajji.

Demikian keterangan dari Ibnul Hajji dalam kitab Taqosimil Anwa. Al Qira .hal : 64

12. SYARAT SYARAT WAJIB.

: ǿ : . : ,

 

Hadits diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi Sallallahualaihi wa sallam, pernah melihat seseorang yang tua renta dituntun oleh kedua anaknya, Nabi bertanya : Ada apa dengan orang ini? Para shahabat menjawab : Ia bernadzar untuk berjalan kaki . Nabi pun bersabda : Bahwa Allah tak akan menyiksa diri orang ini karena kekayaannya, tetapi Allah memerintahkan untuk naik kendaraan. (HR.Al Bukhari).

: : :

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia bercerita bahwa seseorang datang menghadap Nabi Sallallahualaihi wa sallam, dan ia bertanya :

Hai Rasulallah, apakah yang mewajibkan hajji ?

Nabi menjawab : Bekal dan mampu menempuh perjalana.

(HR. At Turmudzi ia berpendapat hadits hasan).

 

Tafsir istithaah dari firman Allah :

: : , :

Hadits diriwayatkan dari Ali Alaihis salam : Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang memiliki bekal dan mampu menempuh perjalanan yang dapat menyampaikannya ke Baitullah, dan ia tak menunaikan hajji, maka sebaiknya ia mati dengan memilih cara Yahudi atau Nashrani, demikian itu karena Allah telah berfirman : Menunaikan hajji adalah kwajiban manusia terhadap Allah, bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (QS.Ali Imran : 97). (HR.ImamTurmudzi). Al Qira .hal : 65.

: : :

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia bercerita bahwa seseorang datang menghadap Nabi Sallallahualaihi wa sallam, dan ia bertanya : Hai Rasulallah, apakah yang dimaksud as sabiil itu ? Nabipun menjawab : yang dimaksud dengan mengadakan perjalanan adalah memiliki bekal dan mampu menempuh perjalanan. (HR.At Turmudzi)

: : , : :

Hadits diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, ketika Allah menurunkan firman Nya : : Menunaikan hajji adalah kwajiban manusia terhadap Allah, bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah

seseorang bertanya kepada Rasulullah :

Hai Rasulallah, apakah yang dimaksud as sabiil itu ? Beliau menjawab : yang dimaksud dengan mengadakan perjalanan adalah memiliki bekal dan mampu menempuh perjalanan. (HR.Ad Daraquthni).

:

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : Barang siapa yang memiliki harta 300 dirham, maka wajib baginya menunaikan hajji dan haram bagi dia menikah dengan budak budak perempuan.

, : : , . : :

Diriwayatkan dari Dhohak, ia berkata :

Yang dimaksud dengan as sabiil adalah perbekalan , jika seseorang pemuda yang perkasa hendaklah ia mempekerjakan dirinya untuk memenuhi kebutuhan makan dan pulangnya, hingga ia memenuhi ibadah hajjinyaLalu ditanyakan kepada Dhohak : Apakah hamba hamba itu di paksa untuk melakukan perjalanan yang tak mampu mereka mengerjakannya ?

Jawab Dhohak : Apa bila seseorang mereka itu punya harta niscaya ia akan memenuhinya meskipun harus berjalan dengan merangkak.

( Kedua hadits ini riwayat Saidbin Manshur).

Al Qira .hal : 66

 

13. TIDAK WAJIB

MENCARI HUTANG UNTUK HAJI

: : , :

Hadits diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: aku pernah bertanya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, tentang seseorang yang belum hajji, apakah ia wajib mencari hutang untuk menunaikan ibadah hajji? beliau menjawab: Tidak. (HR.Al Baihaqi).

, : : : , ,

Hadits diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Sabith, ia berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa mati sebelum ia menunaikan ibadah hajji, hajji secara Islam, padahal tiada sesuatu yang menghalanginya, baik sakit lumpuh, penguasa yang jahat, maupun kebutuhan yang sangat memaksa, maka sebaiknya ia mati dengan cara apapun yang ia mau, secara Yahudi atau Nasrani.

(HR. Said bin Manshur).

: , , , ,

 

Diriwayatkan dari Umar bin Khatthab, ia berkata :

Hendaklah ia mati secara Yahudi atau Nasrani, hendaklah ia mati secara Yahudi atau Nasrani, hendaklah ia mati secara Yahudi atau Nasrani, seseorang yang mati dan ia belum menunaikan hajji, padahal ia mampu melaksanakannya, punya bekal dan perjalanan aman. (HR. Abu Dzarr).

 

Para ulama dan ilmuwan telah sepakat bahwa seseorang yang sehat secara fisik dan ia mampu membayar ongkos perjalanan yang layak, juga memiliki bekal untuk keberangkatan dan pulangnya, keadaan perjalanan juga aman, maka wajib atas orang tersebut menunaikan hajji. Tetapi barang siapa yang tidak memiliki cukup bekal juga ongkos kendaraan, meskipun ia mampu berjalan dan menempuh perjalanan, meskipun ia punya pekerjaan dapat berusaha dengan pekerjaannya, bagi orang tersebut tidak berkwajiban untuk menunaikan ibadah haji .

(Al Qira .hal : 67-68).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN II

 

MANASIK HAJI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. HUKUM IBADAH HAJI

Haji dan Umrah hukumnya fardlu ain bagi setiap orang yang memiliki kemampuan, karena firman Allah

Menunaikan hajji adalah kwajiban bagi manusia terhadap Allah, bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah

(Q S. Ali Imran 97).

Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah

Juga kesepakatan para ulama tentang wajibnya haji dan umrah. Tidak wajib bagi orang yang berkemampuan untuk menunaikan hajji kecuali hanya sekali seumur hidup, itupun tidak dengan segera. Berdasarkan hadits shahih:

: : : :

Dari Abi Hurairah radliyallahu anhu ia berkata:

Rasulullahi SAW. pernah menasehati aku, dan bersabda:

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu sekalian menunaikan haji, maka tunaikan ibadah haji.

Seseorang bertanya : Apakah hajji itu harus ditunaikan setiap tahun, ya Rasulallah ?

Beliaupun diam tidak menjawabnya, sampai orang itu mengulangi pertanyaannya tiga kali, Kemudian beliau katakan : Apabila aku katakan ya niscaya menjadi wajib hajji setiap tahun, dan kamu sekalian tidak akan mampu.

(HR.Bukhari dan Muslim).

Juga berdasarkan hadits riwayat Suraqah bin Malik :

: :

Aku pernah bertanya pada Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam : Wahai Rasulallah, umrah yang telah aku lakukan ini hanya untuk tahun ini atau untuk selamanya ?

Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam menjawab ; untuk selamanya, umrah termasuk haji, sekali untuk selamanya sampai hari qiyamat.

(HR.Daraquthniy dengan sanad yg shahih).

2. SYARAT WAJIB HAJI.

Haji itu wajib hukumnya apabila terpenuhi lima syarat, yaitu:

1. Islam. 2. Berakal. 3. Baligh. 4. Merdeka. 5. Istithaah.

1. Islam.

Karena haji itu ibadah yang membutuhkan niyat, sedang orang kafir bukan orang ahli niyat.

Dan perintah Allah itu bukan untuk orang kafir, sehingga orang kafir tidak dituntut untuk melakukan syariat agama, maka haji tidak wajib baginya juga tidak syah baginya.

2. Berakal

3. Baligh.

Orang gila dan anak kecil, keduanya tidak dituntut karena bukan mukallaf. Maka haji tidak wajib bagi keduanya. Berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhu.

: : , ,

Hadits diriwayatkan dari Nabi Sallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda :

Pena itu diangkat dari tiga orang : 1. Dari orang yang tidur sampai ia bangun. 2. Dari anak kecil sampai ia mencapai usia baligh. 3. Orang gila sampai ia sembuh dan berakal.

(HR.abu Daud, Ibnu Majjah dan At Turmudzi).

 

4. Merdeka.

Hamba sahaja atau budak tidak wajib baginya menunaikan ibadah haji, karena ia tak memiliki harta, bahkan dirinya dan harta yang dihasilkannya adalah milik tuannya. Sedangkan haji itu ibadah yang membutuhkan waktu beberapa hari, untuk menunaikan ibadah itu tentu makan waktu yang tersia sia bagi tuannya.

Penulis kitab Al Mughni mengatakan : Apa bila seorang anak atau seorang hamba menunaikan haji, haji kedua orang itu sah, tetapi belum cukup memenuhi kwajibannya.

Sebagaimana hadits riwayat dari Ibnu Abas Radliyallahu anhu, Ia berkata :

: ( )

 

Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam, beliau bersabda

Apabila seorang anak menunaikan ibadah haji, kemudian ia mencapi usia baligh, maka baginya wajib menunaikan haji lagi. Demikian pula seorang hamba yang menunaikan ibadah haji, kemudian ia di merdekakan, maka baginya wajib menunaikan haji lagi. (HR. Al Baihaqi).

 

5. Istithaah.

Artinya memiliki kemampuan, untuk mewujudkan perbekalan, dan mampu menempuh perjalanan, atau membayar ongkos kendaraan berangkat sampai pulangnya, setelah cukup

membayar hutang dan memenuhi nafkah untuk orang yang menjadi tanggungannya. Disamping itu ia juga mampu menempuh perjalanan, artinya sanggup mengendarai kendaraan dengan kondisi fisik yang tidak dipaksakan.

Menurut kitab Al Mughni dan Ulama Syafiiyah istithaah itu bekaitan dengan 5 hal, yaitu:

1) Cukup bekal,

2) Kendaraan,

3) Fisik yang sehat,

4) Aman di jalan,

5) Mampu berbuat.

Cukup bekal artinya mampu mengadakan biaya untuk perbekalan berangkat sampai pulangnya dengan cukup, setelah terpenuhi kewajiban nafkah bagi orang yang menjadi tanggungannya. Sedangkan untuk kendaraan disyaratkan bahwa tersedia transportasi dengan ongkos yang layak, kalaupun tersedia kendaraan tetapi harus dengan membayar ongkos yang sangat mahal diatas kelayakan, maka gugurlah wajibnya haji.

 

Kesehatan fisik termasuk menjadi syarat istithaah. Artinya fisik yang kuat dan mampu menempuh perjalanan artinya tahan dalam perjalanan dengan tanpa dipaksakan.

Aman dijalan artinya kondisi aman dalam rentang waktu perjalanan maupun selama menunaikan manasik, dari segala macam gangguan yang mengancam keselamatan jiwa, harta benda maupun fisik dan kehormatannya. Adapun kemampuan berbuat sangat di butuhkan karena haji adalah ibadah fisik, meskipun harus dengan bantuan orang lain yang menarik ongkos untuk pelayanannya, dan ia mampu membayarnya. (Al Mughni : 16)

3. HUKUM ORANG YANG LEMAH.

Yang dimaksud orang yang lemah adalah orang yang secara fisik tidak sanggup menunaikan haji karena usia tua dan telah pikun, atau lumpuh, atau sakit yang tak dapat diharapkan kesembuhannya. Bagi orang ini wajib menunaikan ibadah haji dengan peran pengganti, artinya melakukan haji dengan digantikan oleh orang lain untuk dia, apabila ia mampu membayar dengan hartanya, atau oleh orang lain untuknya, atau orang yang melakukan secara suka rela jika ada. Sebagaimana hadits shahih riwayat Ibnu Abas RA.

: , , . : , ,

: ""

 

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahuanhu, ia berkata:

Pernah suatu ketika Fadl bin Abas memboncengkan Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam, tiba tiba datang seorang perempuan dari qabilah Khatsam, lalu Fadl bin Abas memandanginya, ia pun memandang Fadl bin Abas, kemudian Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam memalingkan muka Fadl bin Abas ke arah yang lain. Kemudian perempuan itu bertanya: Wahai Rasulullah, haji adalah kwajiban dari Allah bagi hamba hambanya, orang tuaku sudah renta dan pikun, tak sanggup lagi bertahan diatas kendaraan, apakah boleh aku tunaikan haji untuknya ? Beliaupun menjawab : ya boleh , hal itu terjadi pada waktu haji wada.(HR.Bukhari dan Muslim).

Adapun bagi orang yang telah berkemampuan untuk menunaikan ibadah haji, dan ia tidak melakukannya sampai ia mati, padahal sesungguhnya ia mampu, maka tidak gugur kwajiban baginya, dan wajib untuk dia mengqadla dengan mengambil dari tirkahnya. Berdasarkan hadits shahih dari Buraidah :

: :

 

Hadits diriwayatkan dari Buraidah, ia berkata : Telah datang seorang perempuan kepada Nabi Sallallahu alaihi wasallam, lalu ia bertanya: Wahai Rasulullah, Ibuku telah meninggal, padahal ia belum berhaji ?

Nabipun menjawabnya: Tunaikanlah haji untuknya . (HR. Muslim).

 

 

4. MENUNAIKAN HAJI UNTUK ORANG LAIN.

 

Disyaratkan bagi orang yang melakukan badal haji bahwa ia telah menunaikan kewajiban haji untuk dirinya, sebagai mana hadits tentang hal ini sbb:

, : , : : , , : : , : , , ,

 

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahuanhu, ia berkata: Bahwa Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam, mendengar seseorang mengucapkan: Labbaika an Syibramah Ya Allah terimalah haji ini dari Syibramah,

Beliau lalu bertanya : Siapa Syibramah itu ? Ia menjawab : Ia saudaraku, atau kerabatku.

Beliau lalu bertanya lagi: Apakah kau telah berhaji untuk dirimu sendiri ? Ia menjawab: Belum. Kemudian Nabi katakan: Tunaikan hajji untuk dirimu dahulu, baru kau lakukan untuk Syibramah. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

 

5. RUKUN RUKUN HAJI.

Rukun haji ada 5, yaitu:

1. Ihram.

2. Wukuf.

3. Thawaf Ifadlah.

4. Sai.

5. Tahallul.

 

1. Ihram.

Yaitu niyat masuk haji, atau umrah atau kedua duanya bersamaan, karena hadits : Amal itu syah hanya dengan niyat . Disunnatkan mengucapkan lafal niyat ihram, dengan mengucapkan :

Kemudian membaca talbiyah.

Ihram ada 3 macam, ialah:

1.      Ifrad yaitu ihram hanya untuk haji, setelah selesai haji, baru kemudian ihram untuk umrah pada tahun yang sama. Haji ini oleh para ulama dipandang sebagai yang paling afdlal.

 

2.      Tamattu yaitu ihram untuk umrah dari miqot / tempatnya lalu masuk Makkah, setelah selesai pekerjaan umrahnya, baru ihram untuk haji dari Makkah pada saat datang hari Arafah.

Haji Tamattu ini harus memenuhi syarat 5.

1.      Bukan orang yang datang dari Masjidil Haram, artinya bukan orang yang datang dari tanah Haram dari jarak yang dekat, yang tidak boleh mengqashar shalat.

2.      Mengerjakan umrah lebih dulu baru kemudian mengerjakan haji.

3.      Umrah itu harus dilakukan pada bulan haji, yaitu bulan Syawal, Dzulqadah, atau bulan Dzulhijjah sebelum hari Arafah.

4.      Tidak boleh kembali ke miqat Haji atau ke jarak yang setara dengan permulaan ihram haji. Sebagaimana miqat miqat yang telah ditentukan oleh Nabi atau jarak yang setara dengan miqat terdekat.

5.      Haji dan umrahnya dilakukan oleh satu orang tidak boleh salah satunya dilakukan oleh orang lain, dengan cara mengupah atau cara apapun, kecuali udzur misalnya meninggal.

3. Qiran, yaitu ikhram untuk haji dan umrah secara bersamaan, berarti amal amal umrah itu termasuk dalam amal haji.

Masing masing dari ketiga macam cara ini diperbolehkan, karena hadits Nabi :

: , .

Hadits diriwayatkan dari Aisyah Radliyallahu anha, ia berkata: Pernah aku bepergian menyertai Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, pada tahun pelaksanaan haji wada, diantara kami ada orang yang membaca talbiyah (melakukan ihram) untuk umrah, diantara kami ada orang yang membaca talbiyah untuk haji dan umrah, diantara kami ada orang yang membaca talbiyah untuk haji, dan Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam membaca talbiyah untuk haji saja. Adapun orang yang membaca talbiyah untuk umrah, maka orang itu halal ketika datang di Baitullah (Bertahalul setelah thawaf qudum), adapun orang yang membaca talbiyah untuk haji atau mengumpulkan antara haji dan umrah secara bersamaan, maka mereka belum halal sebelum datang hari nahar (setelah melempar jumrah aqabah). (HR.Bukhari dan Muslim). (Al Mughni : 94)

 

Larangan bagi orang yang sedang ihram.

Bagi muhrim (orang yang sedang ihram) diharamkan baginya 10 perkara.

 

1.      Memakai pakaian berjahit

2.      Menutup kepala bagi laki laki, dan menutup muka bagi perempuan.

3.      Menyisir rambut kepala, meminyaki dan ,

4.      Mencukurnya.

5.      Memotong kuku

6.      Me makai bau bauan yang harum (parfum).

7.      Membunuh hewan buruan

8.      Akad Nikah

9.      Bersetubuh.

10.  Melakukan pebuatan yang membangkitkan syahwat.

 

Larangan ini masing masing dasar hukum dan penjelasannya adalah sebagai berikut :

1.                                                                                          1. Memakai pakaian berjahit

2. Menutup kepala bagi laki laki, dan menutup muka bagi perempuan.

Kedua larangan ini didasarkan atas hadits Nabi:

 

, : : ,

 

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abas ra., ia berkata: Bahwa seseorang bertanya kepada Nabi sallallahualaihi wa sallam: Pakaian apakah yang boleh dipakai oleh seorang yang tengah berihram? Beliaupun menjawab: Janganlah orang orang yang sedang ihram itu memakai pakaian gamis dan sorban, celana dan tutup kepala, juga jangan memakai khuf (Kaos sepatu) kecuali bagi orang yang tak menemukan sandal, bolehlah memakai sepatu, tetapi hendaknya memotong bawah dua mata kaki. dan janganlah memakai pakaian yang dilumuri zafaron atau parfum.

Al Bukhari menambahkan : Janganlah seorang wanita memakai penutup muka, dan jangan pula memakai sarung tangan (HR.Bukhari dan Muslim).

3.      Menyisir rambut kepala, meminyaki dan

4.      Mencukurnya.

Menyisir rambut dikhawatirkan akan merontokkan rambut , dan juga di seyogyakan haji itu acak acakan rambutnya dan juga berdebu ketika ihram sebagai mana dalam hadits yang panjang riwayat Jabir RA tentang fadlilah wukuf di Arafah. Adapun larangan mencukur rambut kepala sebagai mana firman Allah:

Janganlah kamu mencukur rambut kepalamu sebelum korban sampai ditempat penyembelihannya.

(QS. Al Baqarah: 196).

 

 

5.      Memotong kuku

6.      Me makai bau bauan yang harum (parfum).

Larangan memotong kuku ini disamakan dengan mencukur rambut, sedang memakai parfum sebagaimana hadits terdahulu :

dan janganlah memakai pakaian yang dilumuri zafaron atau parfum.

Hadits riwayat Ibnu Abas tentang seseorang yang ihram, meninggal karena disepak ontanya kemudian hal itu di sampaikan kepada Rasulullah SAW.

 

:

tentang hal itu disampaikan kepada Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda : Mandikanlah orang ini, dan bungkuslah dengan kain kafan tetapi jangan ditutup kepanya, juga jangan pakai bau bauan yang harum, karena orang ini kelak akan di bangkitkan dalam keadaan ihram, riwayat lain mengatakan : dalam keadaan bertalbiyah

(HR.Bukhari dan Muslim).

 

 

7.      Membunuh hewan buruan

Karena firman Allah:

Dan diharamkan atas kamu menangkap binatang buruan darat, selama kamu dalam keadaan ihram

(QS. Al Maidah : 96)

 

8.      Akad Nikah

Dilarang bagi orang yang sedang ihram menikah atau menikahkan orang lain baik sebagai wali maupun sekedar wakil, apabila ia menikahkan maka nikahnya batal. Berdasarkan hadits:

 

: :

Hadits diriwayatkan dari Utsman bin Affan Radliyallahuanhu, ia berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda :

Orang yang ihram itu tidak boleh menikah dan menikahkan, juga tidak boleh melamar. (HR. Muslim).

9.      Bersetubuh.

10.  Melakukan pebuatan yang membangkitkan syahwat.

Karena firman Allah :

Barang siapa yang telah menetapkan niatnya pada bulan itu akan mengerjakan haji, maka tida boleh berbuat yang tak senonoh (bersetubuh), dan tidak boleh berbuat fasiq dan juga berbantahan didalam haji.

(QS. Al Baqarah : 197)

2. Wukuf.

Rukun haji yang ke dua adalah Wukuf di Arofah, wajib bagi muhrim datang ke padang Arofah meski hanya sebentar dan hanya lewat, Karena hadits :

: ) )

Orang orang dari penduduk Nejd mendatangi Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam, ketika itu Nabi ada di padang Arofah, mereka bertanya kepada Nabi, lalu beliau memerintahkan seseorang untuk menyampaikan seruan : Hajji itu Arofah, Barang siapa yang datang pada malam hari pada waktu berkumpul di Arofah sebelum terbit fajar, berarti ia telah mendapatkan haji (HR. Abu Dawud). Al Qira .hal : 390

Waktu wukuf itu masuk sejak tergelincir matahari pada hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijjah). Karena hadits Nabi Sallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau wukuf setelah tergelincir matahari, (HR.Muslim) dan juga telah bersepakat umat Islam sejak zaman Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, bahwa Waktu wukuf itu berakhir ketika terbit fajar yang kedua dari hari Nahar. Karena hadits Nabi Sallallahu alaihi wasallam,

Hajji itu Arofah, Barang siapa yang datang pada malam hari pada waktu berkumpul di Arofah sebelum terbit fajar, berarti ia telah mendapatkan haji ".(HR.Abu Dawud).

Sunnat sunnat wukuf.

Sunnat sunnat wukuf itu banyak, antara lain :

1. Mengumpulkan waktu antara siang dan malam.

2. Wukuf di tempat terbuka dengan menghadap qiblat.

3 . Memperbanyak doa dan dzikir.

4. Wukuf dilakukan dalam keadaan suci.

5. Wukuf dengan menaiki kendaraan.

6. Melakukan dua khutbah

7. Wukuf dilakukan dalam keadaan tidak berpuasa

Penjelasan masing masing sebagai berikut :

1. Mengumpulkan waktu antara siang dan malam.

Dengan melakukan wukuf sejak tergelincir matahari, sampai pada terbenamnya matahari.

Ini didasarkan atas hadits Riwayat Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhu :

 

Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhu berkata :

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam wukuf di Arofah kemudian berangkat meninggalkan Arofah setelah terbenam matahari (HR.At Turmudzi).

 

2. Wukuf di tempat terbuka dengan menghadap qiblat.

Karena Nabi Sallallahu alaihi wasallam melakukan wukuf dengan menghadap qiblat, dan menjadikan perut ontanya di tempat terbuka. (HR.At Turmudzi).

3 . Memperbanyak doa dan dzikir.

Nabi Sallallahu alaihi wasallam, bersabda :

:

 

Sebaik baik doa adalah doa di hari Arofah, dan sebaik baik doa yang aku ucapkan juga para Nabi sebelum aku adalah : Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wahuwa alaa kulli syain qadiir

(HR.Bukhari dan Muslim).

4. Wukuf dilakukan dalam keadaan suci.

Supaya orang yang sedang wukuf itu dalam kondisi sebaik baik keadaan.

5. Wukuf dengan menaiki kendaraan.

Ini mengikuti wukuf yang dilakukan oleh Nabi Sallallahu alaihi wasallam melakukan nya dengan naik kendaraan. (HR.Bukhari dan Muslim).

 

6. Melakukan dua khutbah.

oleh imam kemudian berjamaah shalat dhuhur danAshar dengan jama taqdim .

Karena ada hadits Nabi yang shahih riwayat dari Jabir.

 

7. Wukuf dilakukan dalam keadaan tidak berpuasa

Sebagaimana hadits Nabi riwayat dari Ibnu Abas :

, , ,

 

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahuanhu, ia berkata :Sungguh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam di Arofah tidak berpuasa, Umul Fadhl telam mengirim susu kepada beliau dan dim,inumnya.

(HR.At Turmudzi) Al Qira hal : 404

 

 

 

3. Thawaf Ifadlah.

Thawaf ifadlah adalah satu rukun diantara rukun rukun haji, sehingga haji itu tidak syah tanpa melakukan thawaf ifadlah. Waktunya sejak malam hari Nahar sampai akhir usia. Karena telah disepakati oleh para ulama dengan mengambil dasar firman Allah :

Hendaklah mereka melakukan thawaf di Baitullah rumah tua itu.

Wajib Wajibnya Thawaf

Wajibnya Thawaf itu ada 7, yaitu:

1. Harus suci dari dua hadats.

2. Harus suci dari najis, baik tubuh, pakaian maupun tempatnya

3. Menutup aurat

4. Baitullah berada di sebelah kiri orang yang thawaf.

5. Mulai thawaf dari Hajar Aswad

6. Thawaf dilakukan tujuh kali putaran.

7. Thawaf di dalam masjid dan diluar Kabah, Syadzarwan serta Hajar Aswad.

Penjelasan dan dasar masing masing sebagi berikut :

1. Harus suci dari dua hadats.

Karena hadits shahih riwayat Aisyah RA.

Hadits diriwayatkan dari Aisyah Radliyallahu anha, bahwa : Sesuatu yang dilakukan pertama kali oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ketika dating di Makkah adalah wudlu kemudian thawaf di Baitullah

( HR.Bukhari,Muslim)

 

2. Harus suci dari najis, baik tubuh, pakaian maupun tempatnya

Karena hadits shahih riwayat Ibnu Abas RA.

:

Thawaf di Baitullah itu shalat, hanya saja Allah memperbolehkan bicara didalamnya.

(HR.Bukhari, Muslim).

3. Menutup aurat

Berdasarkan hadits shahih :

:

Hadits diriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu anhu ia berkata : Pernah Abu Bakar mengutus aku untuk melakukan haji sebagimana yang diperintahkan oleh Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam, sebelum haji wada bersama satu rombongan, mereka menyeru orang orang pada hari Nahar, agar setelah tahun itu tidak ada lagi orang musyrik yang ikut haji, dan tidak boleh thawaf di Baitullah

orang yang telanjang. (HR.Bukhari, Muslim). Al-Qira .hal : 265.

4. Baitullah berada di sebelah kiri orang yang thawaf.

Orang yang thawaf berada di arah kanan Kabah, berarti Kabah berada diarah kiri orang yang thawaf lalu memutar kearah kiri, seperti hadits berikut ini :

Hadits diriwayatkan dari Jabir :

Bahwa Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam ketika datang di Makkah, terus mendatangi Hajar Aswad dan mengusapnya, kemudian berjalan disebelah kanan Baitullah, tiga kali putaran dengan lari kecil dan berjalan empat kali. (HR. Muslim)

 

5. Mulai thawaf dari Hajar Aswad

Orang yang thawaf harus menempatkan dirinya ketika memulai thawaf dengan keseluruh tubuhnya tepat menghadap kearah Hajar Aswad. Ini wajib dilakukan oleh orang yang thawaf seperti halnya orang yang shalat wajib menghadap kearah Kabah. Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Umar RA.

:

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallahu anhuma, ia berkata : Aku pernah melihat Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam ketika datang di Makkah, beliau menusap Hajas Aswad pada permulaan thawafnya, kemudian berjalan cepat tiga kali putaran dari tujuh kali putaran (HR.Bukhari dan Muslim).

 

6. Thawaf dilakukan tujuh kali putaran.

Satu kali putaran dihitung dari Hajar Aswad sampai Hajar Aswad. Berdasarkan hadits :

:

Hadits diriwayatkan dari Jabir, ia berkata :

Pernah aku bepergian bersama Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam, sehingga ketika datang di Makkah beliau thawaf tujuh kali kemudian shalat . (HR. Muslim).

 

7. Thawaf di dalam masjid dan diluar Kabah, Syadzarwan serta Hajar Aswad.

Sadzarwan adalah pondasi Kaabah yang ada didasar Kabah selebar tembok kabah sedikit keluar, setinggi dua pertiga dzira. Berdasarkan firman Allah :

Hendaklah mereka thawaf di Baitullah rumah tua itu.

Orang yang thawaf itu tidak dikatakan didalam Kabah kecuali kalau bagian tubuhnya ada di dalamnya, asalkan tidak berarti Orang yang thawaf itu tidak dikatakan didalam Kabah. Karenanya tidak syah thawaf di dalam derah hijir Ismail dan diatas Sadzarwan, karena hijir Ismail dan Sadzarwan termasuk bagian dari Baitullah.

 

Sunnat sunnat Thawaf.

Sunnat sunnat Thawaf itu banyak, antara lain

1. Thawaf hendaknya dengan jalan kaki

2. Mengusap Hajar Aswad lalu menciumnya

3. Mengusap rukun Yamani.

4. Memperbanyak membaca doa dan dzikir.

5. Berjalan cepat pada tiga putaran pertama bagi laki laki dan berjalan biasa empat kali putaran yang akhir.

6. Dekat dengan Baitullah.

7.      Shalat dua rakaat setelah selesai thawaf di dekat maqam Ibrahim.

Penjelasannya masing masing sunnat Thawaf adalah sebagai berikut :

1. Thawaf hendaknya dengan jalan kaki

Meski untuk perempuan , karena hadits riwayat Jabir terdahulu. Apa bila thawaf dilakukan dengan kendaraan karena udzur juga diperbolehkan dan tidak

makruh karena terpaksa.

2. Mengusap Hajar Aswad lalu menciumnya

Berdasarkan hadits riwayat shahabat Umar bin Khaththab RA:

:

Sesungguhnya Umar Radliyallahu anhu mencium Hajar Aswad kemudian berkata : Demi Allah, sungguh aku tahu bahwa kamu itu hanya batu, andaikan aku tidak melihat Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam mencium kamu, aku tak akan pernah menciummu.(HR.Bukhari dan Muslim)

Apa bila tidak dapat menciumnya karena jarak yang tidak dekat, juga karena padat dan banyaknya jamaah sehingga harus berdesakan, maka cukuplah berisyarat dengan tangan saja kemudian menciumnya, tak perlu memaksakan harus mendekat hajar hanya untuk mencium kalau ternyata menyakitkan bagi orang yang lemah. Seperti Nabi pernah memperingatkan sahabat Umar untuk jangan berdesakan .

: ,

 

Dari Said bin Musayyab, dari Umar : Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wasallam pernah berkata kepada Umar: Hai Umar kamu ini seseorang yang kuat, tetapi jangan mendesak untuk mendekat kepada Hajar Aswad, itu menyakitkan orang yang lemah, kalau kau dapati keadaan luang, usaplah hajar Aswad, jika tidak cium sajalah tanganmu dan bacalah takbir dan tahlil.

(HR. Ahmad dan Baihaqi).

 

3. Mengusap rukun Yamani.

Tetapi tidak sunnat menciumnya, cukup dengan mencium tangan setelah mengusap. Sebagai mana hadits berikut :

,

 

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallahu anhuma, bahwa : Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam tak pernah ketinggalan selalu mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad setiap putaran thawafnya, dulu Nabi melakukannya. (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Nasai).

4. Memperbanyak membaca doa dan dzikir.

Adapun doa yang paling afdlal adalah :

Berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Saib RA:

: :

 

Dari Abdullah bin Saib RA, ia berkata :

Aku pernah mendengar Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam berdoa diantara dua rukun (Sudut Kabah) dengan doanya : Robbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar

(HR. Abu Dawud dan Nasai).

 

5. Berjalan cepat pada tiga putaran pertama bagi laki laki dan berjalan biasa empat kali putaran yang akhir.

Sebagaimana hadits riwayat Jabir terdahulu.

6. Dekat dengan Baitullah.

Untuk bertabarruk dan juga mempermudah untuk dapat mengusap dan mencium Hajar Aswad dan Rukun Yamani seperti keterangan hadits terdahulu.

8.      Shalat dua rakaat setelah selesai thawaf di dekat maqam Ibrahim.

Karena hadits shahih riwayat Jabir :

Hadits diriwayatkan dari Jabir Radliyallahu anhu, bahwa : Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam thawaf di Baitullah tujuh kali kemudian shalat di belakang maqam Ibrahim dua rakaat (HR.Muslim).

4. Sai.

Rukun haji yang ke empat adalah sai antara bukit Shafa dan Marwah. Berdasarkan hadits

:

Bahwa Rasulullahi Sallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda : Hai manusia bersailah karena sai itu benar benar diwajibkan atas kamu sekalian.

(HR. Daraquthni dan Al Baihaqi).

 

Hal hal yang wajib dalam Sai.

Sai dilakukan harus memenuhi tiga hal yang wajib bagi sai.

1.      Memulai dari Shafa.

2.      Sai dilakukan tujuh kali.

3.      Sai harus dilakukan setelah thawaf rukun atau thawaf qudum

 

Keterangan hal hal yang wajib dalam Sai adalah :

1.      Memulai dari Shafa.

Mulai sai dari Shafa pada hitungan ganjil dan berakhir di Marwah, dan berakhir di Shafa untuk hitungan genap. Berdasarkan hadits Nabi :

: :

 

Sesungguhnya Nabi Sallallahualaihi wa sallam telah bersabda : Mulailah dengan apa Allah memulainya. Yaitu firman Allah : Bahwa sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk tanda tanda kebesaran Allah (HR.Muslim).

 

2. Sai dilakukan tujuh kali.

Dengan hitungan berangkat satu kali dan kembali dihitung satu kali sehingga pulang pergi dihitung dua kali, ini dilakukan dengan menempuh jarak antara Shafa dan Marwah secara penuh. Sai dilakukan dengan kaki menginjak bukit Shafa tempat memulai dan sampai berakhir pada kaki menginjak bukit Marwah, jika ini tidak dilakukan meskipun kurang hanya sejengkal maka sai nya tetap tidak syah. Karena hadits dari Jabir:

:Sesungguhnya Nabi Sallallahualaihi wa sallam melakukan sai tujuh kali bermula dari Shafa dan berakhir di Maewah . (HR.Muslim).

 

3. Sai harus dilakukan setelah thawaf rukun atau thawaf qudum.

Tiada sai kecuali setelah thawaf, jika sai dilakukan sebelum thawaf maka saainya tidak syah. Karena Nabi Sallallahualaihi wa sallam melakukan sai setelah thawaf. Sebagai mana hadits yang menerangkan tentang hal ini :

:

"Bahwa Nabi Sallallahualaihi wa sallam melakukan sai setelah thawaf, seraya bersabda : Hendaknya kamu sekaliyan mengambil pelajaran dari aku tentang ibadah hajimu (HR.Muslim).

Sunnat Sunnat Sai.

Sunnat sunnat sai itu banyak, antara lain :

1.      Naik di bukit Shafa dan Marwah.

2.      Membaca dzikir dan doa.

3.      Berjalan biasa pada permulaan dan penghabisan, dan jalan cepat di tengah

4. Dalam keadaan suci

5. Berurutan antara satu bagian dengan bagian selanjutnya.

Kesunatan kesunatan itu didasarkan atas hadits hadits sebagai berikut :

1.      Naik di bukit Shafa dan Marwah.

Karena hadist shahih riwayat Abu Hurairah RA:

Hadits diriwayatkan dari Jabir Radliyallahu anhu, bahwa : Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam memulai sai di Shafa kemudian naik, sehingga beliau melihat Baitullah, demikian pula Nabi melakukan seperti itu di Marwah. (HR.Muslim).

2. Membaca dzikir dan doa.

Karena hadist shahih riwayat Jabir :

: , ( )

Hadits diriwayatkan dari Jabir Radliyallahu anhu, bahwa : Rasulullahi Sallallahualaih wa sallam dahulu ketika berdiri di Shafa membaca takbir tiga kali, kemudian membaca :

Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ala kulli syain qadiir

Al Qira hal : 366

Beliau membaca itu tiga kali dan berdoa, demikian pula Beliau lakukan seperti itu di Marwah. (HR.Muslim).

3.      Berjalan biasa pada permulaan dan penghabisan, dan jalan cepat di tengah.

Karena hadist shahih riwayat Jabir RA :

Rasulullahi Sallallahualaihi wa sallam turun dari bukit Shafa menuju ke Marwah, dengan berjalan cepat sehingga ketika kedua kakinya tegak, sampai ketika kita naik berjalan biasa, sehingga ketika sampai di Marwah beliau lakukan seperti yang dilakukan di Shafa (berjalan cepat). (HR.Muslim).

 

4. Dalam keadaan suci.

Disunatkan melakukan sai dalam keadaan suci dan menutup aurat, bila sai dilakukan dengan keadan aurat terbuka, hadats, atau junub atau haid atau kena najis itu tetap shah. Karena hadits sabda Nabi kepada Aisyah RA. yang ketika itu dalam keadaan haid :

Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang sedang haji, hanya saja jangan kau lakukan thawaf di Baitullah.

(HR.Al Bukhari dan Muslim). Al Idlah 260.

5. Berurutan antara satu bagian dengan bagian

selanjutnya.

Melakukan sai tidak dengan dipisahkan dengan perbuatan lain kecuali karena udzur, antara hitungan satu dengan selanjutnya dilakukan secara berkesinambungan dan terus terusan, meskipun seandainya dipisah dengan perbuatan lain juga tetap syah, misalnya istirahat, mengambil air wudlu, berbincang bingcang dan sebagainya. Termasuk seandainya disaat tengah melakukan sai di kumandangkan iqamat untuk shalat berjamaah fardlu, maka sebaiknya dihentikan dulu sainya , setelah selesai jamaah dapat diteruskan lagi. Ini tidak

makruh dilakukan karena termasuk lilhajah.

Sebagaimana keterangan dalam hadits :

 

Dari Ibnu Umar Radliyallahu anhu, Ia sedang sai antara Shafa dan Marwah, kemudian berhenti untuk mengambil air wudlu , lalu kembali lagi meneruskan sainya. Al Qira hal : 374

 

6. Tahallul. (halqu).

Rukun ke lima dari rukun haji adalah Tahallul atau halqu, yaitu mencukur rambut, sedikitnya menggunting tiga helai rambut kepala, karena firman Allah :

Niscaya mereka memasuki Masjidil Haram Insya Allah dalam keadaan ama, mereka mencukur rambut kepalanya, dan mengguntingnya, tiada sesuatu yang kamu takuti

(QS. Al Fath: 27).

Juga hadits Nabi :

: , : ,

Sesungguhnya Nabi Sallallahualaihi wa sallam berdoa :

Ya Allah berilah rahmat orang orang yang mencukur rambutnya, Shahabat lalu usul :

wahai Rasulullah, juga orang orang yang menggunting rambutnya, Nabi Sallallahualaihi wa sallam berdoa :

Ya Allah berilah rahmat orang orang yang mencukur rambutnya.,

Baru yang ke empat kalinya Nabi berdoa :

Ya Allah berilah rahmat orang orang yang mencukur rambutnya, dan orang orang yang menggunting rambutnya.

(HR.Bukhari dan Muslim).

Mencukur rambut maupun hanya mengguntingnya keduanya mencukupi, sebagaimana ucapan Ibnu Abbas: Jika niyatnya mencukur rambut, bercukurlah, jika tidak niyat mencukur, bolehlah mencukur atau menggunting saja.

Bagi perempuan cukup dengan menggunting saja tidak perlu dengan cukur, bahkan cukur bagi perempuan dilarang oleh Nabi. Karena hadits Nabi :

:

Hadits diriwayatkan dari Ali Radliyallahu anhu, bahwa : Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam melarang perempuan mencukur rambutnya (HR. At Turmudzi).

: ,

 

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahuanhu, ia berkata :Bahwa RasulullahSallallahu alaihi wasallam, bersabda tak perlu mencukur rambut bagi perempuan cukuplah dengan menggunting. (HR. Abu Dawud).

 

 

 

 

Cara Memotong Rambut Bagi Perempuan Dan Ukurannya.

Bagi perempuan cara memotong rambutnya dengan membuka mihramahnya lalu dikumpulkanlah sedikit rambutnya dan dipotong sedikit saja kira kira sepanjang jari telunjuk. Seperti hadits Nabi :

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallahu anhuma, bahwa : Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam bersabda :Dikumpulkanlah rambut perempuan lalu diambil kira kira sepanjang jari telunjuk

:

 

Diriwayatkan dari Athaia berkata: Diambil kira kira 3 jari dikumpulkan atau 4 jari

:

 

Diriwayatkan dari AthaIa berkata: Digunting dari rambut perempuan kira kira dua ruas jari Al Qira hal : 457

 

6. WAJIB HAJI.

Wajib haji ada enam

1. Mabit di Muzdalifah

2. Melempar Jumrah Aqabah.

3. Melempar 3 Jumrah pada hari hari tasyriq

4. Mabit di Mina pada malam hari tasyriq.

5. Ihram dari Miqat.

6.Thawaf Wada.

 

Keterangan wajib haji itu adalah sebagai berikut :

 

1. Mabit di Muzdalifah

Mabit yaitu bermalam dengan menghadiri di Muzdalifah meskipun hanya sebentar setelah memasuki tengah malam kedua, dari malam Nahar tanggal 10 bulan Dzul ahijjah. Cukup sebentar meski hanya lewat saja. Berdasarkan hadits Nabi :

Hadits diriwayatkan dari Jabir Radliyallahu anhu, bahwa : Rasulullah Sallallahualaihi wa sallam datang di Muzdalifah kemudian shalat Maghrib dan Sya di Muzdalifah, lalu berbaring sampai terbit fajar, kemudian shalat shubuh (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits ini disunatkan melakukan shalat Magrib dan Isya dengan jama ,Nabi melakukan dengan mengqashar shalat Isya, seperti hadits berikut :

: , :

Hadits diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallahu anhumabahwa: Rasulullah SAW. melakukan jama antara shalat Maghrib dan Isya , diantara keduanya tidak melakukan shalat apapun, Nabi melakukan shalat Maghrib dengan tiga rakaat, dan Isyadua rakaat (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi: diantara keduanya tidak melakukan shalat apapun, artinya tidak ada shalat sunat diantara kedua shalat itu (Al Qira .hal : 420).

 

2. Melempar Jumrah Aqabah.

Melempar Jumrah Aqabah ini pada hari Nahar dengan tujuh batu kecil, dengan membaca takbir setiap lemparan, sebagai mana hadits Nabi :

Sesungguhnya Nabi Sallallahualaihi wa sallam mendatangi Jumrah pada hari Nahar, kemudian melemparnya dengan tujuh batu kerikil, disertai dengan membaca takbir untuk setiap kerikilnya, kerikil itu besarnya menyerupai kerikil khadzaf diambil dari Bathnul wadi (dari dalam jurang) kemudian Nabi kembali. (HR.Muslim).

Waktu melempar Jumrah Aqabah.

Waktu melempar jumrah Aqabah itu diperbolehkan sejak tengah malam Nahar (malam tanggal 10 Dzulhijjah). Berakhir sampai akhir hari tasyriq, dan tiada dam bagi yang melempar sampai akhir tasyriq. Kalau lewat hari tasyriq baru dikenakan wajib dam.

Permulaan waktu lempar jumrah Aqabah diperbolehkan sejak tengah malam Nahar ini berdasarkan hadits :

: , ,

Hadits diriwayatkan dari Aisyah Radliyallahu anha, ia berkata : Pernah Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam mengutus Ummu Salamah pada malam Nahar, lalu Ummu Salamah melempar jumrah sebelum fajar, lalu meneruskan perjalanan dan berangkat. Dan pada hari itu Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam berada di sisinya

(HR.Abu Dawud) Al Qira .hal : 433)

Adapun waktu yang afdlal untuk melempar jumrah ini adalaah waktu dhuha yaitu setelah terbit matahari sedikit meninggi sampai tergelincir matahari. Sebagai mana Nabi melakukannya :

: ,

Jabir berkata : Pernah aku melihat Rasulullahi Sallallahu alaihi wa sallam melempar jumrah pada waktu dhuha hari Nahar sendiri, dan melempar pada hari setelah itu (hari tasyriq) setelah tergelincir matahari (HR. Muslim).

Imam An Nawawi dalam Al Idlah membagi waktu lempar jumrah Aqabah menjadi 4 :

a.      Waktu masuknya dengan datangnya nishful lail (tengah malam) hari Nahar.

b.      Waktu fadlilah antara naiknya matahari setelah terbit sampai tergelincirnya.

c.       Waktu ikhtiyar sampai terbenam matahari hari Nahar.

d. Waktu jawaz, sampai akhir hari tasyriq yang tiga hari. Al Idlah : 311

Cara melempar Jumrah Aqabah.

Hendaklah berdiri di bawah jumrah, menjadikan Makkah disebelah kirinya dan Mina disebelah kanan, menghadap Aqabah, kemudian melemparnya. Hal ini sesuai hadits Ibnu Masud sebagai berikut:

, , :

 

Diriwayatkan dari Ibnu Masud, Sesungguhnya ia telah melemparjumrah Kubra (Aqabah) menjadikan Baitullah di arah kirinya, dan Mina disebelah kanannya, kemudian melempar dengan tujuh kerikil. Dan katanya :

Demikian itulah cara Nabi melempar, yang kepada beliau telah diturunkan surat Al Baqarah. (HR. Al Bukhari).

Untuk dapat dianggap cukup melempar jumrah ini harus memenuhi syarat 8,

1.      Wajib secara sengaja melempar bertujuan melempar jumrah.

2.      Wajib melempar dengan cara yang dapat disebut melempar.

3.      Kerikil harus jatuh mengenai jumrah yang dilempar.

4.      Yang dilemparkan harus batu.

5.      Lemparan itu harus dilakukan dengan tangan.

6.      Melempar harus dengan tujuh batu kerikil satu persatu.

7.      Batu kerikil belum dipakai untuk melempar.

8.      Melempar dilakukan harus setelah masuk waktu.

(Al Mughni : 273)

 

3. Melempar 3 Jumrah pada hari hari tasyriq

Wajib melempar tiga jumrah pada setiap hari tasyriq masing jumrah dengan tujuh lemparan batu kerikil, sehingga setiap hari tasyriq harus menyiapkan 21 kerikil untuk tiga jumrah, secara berurutan dari jumrah ula, jumrah wustha dan jumrah aqabah.

Kewajiban melempar jumrah ini didasarkan atas hadits

:

Diriwayatkan dari Ibnu Umar:

Dahulu ia pernah melempar jumrah dunya (jumrah yang pertama) dengan tujuh kerikil, seraya membaca takbir mengiringi setiap kerikil, kemudian ia berjalan kedepan menuju tempat yang rata, dan berdiri menghadap kearah kiblat cukup lama dan berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian melempar jumrah wustha, dengan mengambil arah kiri lalu menuju tempat yang rata dan berdiri menghadap kearah kiblat cukup lama dan berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian melempar jumrah aqabah, dari Bathnul wadi, dan ia tidak berhenti didekatnya lalu kembali. Kemudian ia berkata : Demikian itu aku lihat Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam melakukannya.(HR. Al Bukhari).

 

Waktu melempar 3 jumrah pada hari tasyriq

Melempar jumrah di hari tasyriq ini hanya syah jika dilakukan setelah masuk waktu tergelincirnya matahari, berdasarkan hadits Nabi riwayat Jabir terdahulu .

: ,

Shahabat Jabir berkata :Aku pernah melihat Rasulullahi Sallallahu alaihi wasallam melempar jumrah pada waktu dhuha (pagi menjelang siang) di hari nahar, dan Rasulullah melempar pada hari setelah itu (hari tasyriq) setelah tergelincir matahari (HR. Muslim).

Juga hadits lain riwayat Ibnu Umar :

: ,

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ia berkata : Dulu pernah kami berjaga waktu, maka ketika matahari telah tergeliuncir kami melempar .(HR. Al Bukhari).

Waktu melempar ini sampai terbenamnya matahari, tetapi pelaksanaannya dapat di tunda sampai akhir hari tasyriq, dan tiada kwajiban membayar dam meskipun mengakhirkan sampai akhir hari tasyriq. Apa bila seseorang meninggalkan melempar pada siang hari, maka dapat melakukannya pada malam hari, atau pada waktu yang tersisa dari hari hari tasyriq. Baik ia meninggalkan karena lupa atau sengaja apa lagi kalau karena udzur, dan ini tetap di sebut ada bukan qadla. Apa bila meninggalkan lemparan hari pertama maka ia susulkan pada hari kedua wajib secara tertib, melempar untuk hari yang telah dilewatkan baru melempar untuk memenuhi lemparan hari itu. Demikian pula seandainya meninggalkan lemparan jumrah aqabah pada hari Nahar yang telah lalu, maka dapat ditunaikan pada hari tasryiq juga secara tertib, karena hari Nahar dan hari tasyriq semuanya adalah seperti waktu ikhtiyar bagi waktu shalat. Artinya ada keluasan untuk melakukan sebelum sampai batas akhir waktu, yaitu akhir hari tasyriq .

Manakala seseorang meninggalkannya sampai keluar hari tasyriq , maka wajib bagi orang tersebut membayar denda dam (Al Idlah : 361)

Kewajiban melempar jumrah pada hari yang ketiga menjadi gugur bagi yang ingin meninggalkan Mina pada hari tasyriq kedua, ini disebut nafar awwal, meskipun ini diperbolehkan tetapi menyempurnakan sampai hari ketiga yang disebut nafar tsani adalah lebih afdlal, sebagai mana keterangan Ibnu Hajar Al Haitami dalam Syarhul Idlah:

Nafar awwal ini meskipun diperbolehkan, tetapi menunda keberangkatan sampai hari yang ke tiga adalah lebih utama.

(Syarh al Idlah 412).

Allah berfirman tentang hal ini :

,

Barang siapa yang tergesa gesa dengan hanya dua hari saja di Mina maka tiada dosa baginya, dan barang siapa yang menunda sampai tiga hari juga tiada dosa baginya

Nafar awwal ini oleh harus memenuhi dua syarat :

1.      Hendaknya berangkat meninggalkan Mina sebelum terbenam matahari pada hari tasyriq kedua, kalau sampai matahari terbenam ia belum berangkat maka baginya wajib mabit lagi dan melempar jumrah pada hari ketiga.

Hendaknya berangkat meninggalkan Mina setelah zawal (matahari tergelincir) jika ia berangkat sebelumnya maka belum menggugurkan mabit malam ketiga. Juga melempar jumrah hari keduanya tidak syah, dan tetap wajib melempar jumrah untuk hari yang ke tiga.

Al Qira .hal : 538

 

Cara melempar Jumrah pada hari tasyriq.

Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Umar yang telah disebutkan di depan, tata cara melempar jumrah pada hari hari tasyriq ini dapat di gambarkan sebagai berikut

1. Memulai dari jumrah ula yaitu jumrah pertama disebut juga dengan jumrah sughra, jumrah yang mengiringi masjid Khaif.

2        Mengambil arah kanan dari jumrah ula, atau jumrah ula berada di sebelah kirinya dengan menghadap kiblat.

3. Melempar dengan tujuh batu kerikil, disertai bacaan takbir untuk setiap kerikilnya.

4.      Kemudian berjalan kedepan, sampai jumrah ula berada arah belekangnya, Menghadap kearah kiblat membaca tahmid, takbir dan tahmid serta berdoa dengan mengangkat kedua tangannya.

5.      Kemudian mendatangi jumrah ke dua, yaitu jumrah wustha mengambil arah kiri dari jumrah wustha, berarti jumrah berada di sebelah kannanya,

lalu melemparnya.

6.      Kemudian berjalan kedepan, menghadap kearah kiblat membaca tahmid, takbir dan tahmid serta berdoa dengan mengangkat kedua tangannya seperti yang dilakukan pada jumrah ula.

7.      Kemudian mendatangi jumrah Aqabah, dengan menghadap kiblat, lalu berdiri mengambil arah Makah di sebelah kannanya dan Mina di sebelah kirinya. Kemudian melemparnya, seperti dilakukan pada kali yang pertama.

8.      Langsung kembali tidak berhenti berdoa didekatnya. (Al Mughni : 273)

 

4. Mabit di Mina pada malam hari tasyriq.

Bermalam di Mina pada malam malam hari tasyriq termasuk wajib haji yang harus dilakukan. Caranya dengan mendatangi Mina pada malam hari dengan sebagian besar waktu malam nya harus berada di Mina atau datang di Mina setelah tengah malam. Karena Nabi melakukan hingga menjadi dasar wajib mabit bagi kita, seperti hadits :

:

Diriwayatkan dari Aisyah RA. Ia berkata: Bahwa Rasulullahi Sallallahu alaihi wa sallam berangkat pada akhir hari Nahar setelah shalaat dhuhur, kemudian kembali ke Mina, dan bermalam di Mina beberapa malam hari tasyriq dan pada siang harinya melempar jumrah setelah matahari tergelincir. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

 

Karena mabit ini hukumnya wajib maka bagi yang meninggalkan, tidak melakukan mabit di Mina ini baginya wajib membayar dam, bagi yang meninggalkan mabit satu malam dikenakan denda satu mud makanan (6 ons) atau satu dirham uang. Untuk meninggalkan mabit dua malam maka wajib bayar 2 mud, jika tiga malam keseluruan tidak melakuakan mabit, maka dikenakan wajib dam . (Al Idlah : 358)

Tetapi ada pula yang berpendapat mabit di mina itu tidak wajib, hanya sunnat saja, maka bagi yang meninggalkan denda mud atau pun dam hukumnya juga sunnat. Mabit dipandang tidak wajib ini atas dasar hadits Nabi :

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallahu anhuma, bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam memberi dispensasi kepada para penjaga air dari keluarganya untuk bermalam di Makkah pada malam malam hari tasyriq .

(HR. As Syafii). Al Qira .hal : 544

 

Manakala mabit di Mina itu wajib tak mungkin Nabi memperbolehkan Abas mabit di Makkah hanya karena tugas pengairan. (Al Mughni : 289)

5. Ihram dari Miqat.

Pengertian Ihram telah terdahulu pada pembahasan awal.

Sedang Miqat menurut arti kata adalah batas, sedang menurut pengertian menurut istilah (terminology) adalah tempat dan waktu ibadah.

Adapun untuk ibadah haji mempunyai dua miqat.

1.Makani, 2. Zamani.

1. Miqat Makani.

Dalam hal ini orang terbagi menjadi dua,

a. Orang yang berdomosili di Makkah ( Al Makki ).

Maka bagi orang yang berdomosili di Makkah atau orang yang tinggal di dalam wilayah miqat, barang siapa yang ada di Makkah, maka miqat hajinya adalah Makkah itu sendiri, berarti ia mulai ikhram dari rumahnya. Yang lebih afdlal ia mulai ihram dari masjid terdekat dengan rumah tinggalnya. Bagi yang tempat tinggalnya diluar Makkah yaitu antara Makkah dan miqat, maka miqatnya adalah negaranya sendiri seperti punduduk Jeddah.

b.      Orang yang berdomosili dan datang dari luar Makkah Yaitu orang yang tidak mukim di Makkah dan tempat tinggalnya diluar miqat. Maka miqatnya ada 5 Sebagaimana hadits Nabi :

, , , ,

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahu anhuma, Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, telah menentukan miqat , Dzal hulaifah untuk penduduk Madinah, Juhfah untuk penduduk Syam, Qarnul manazil untuk penduduk Nejd, Yalamlam untuk penduduk Yaman. Miqat miqat itu untuk penduduk wilayah itu, juga untuk penduduk daerah lain yang hendak haji dan umrah melintasi miqat miqat itu. Dan bagi orang orang yang tidak melintasi miqat miqat itu tempatv ihramnya adalah dari mana ia berangkat, hingga penduduk makkah pun berihram dari Makkah.

(HR.Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallahu anha, Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, telah menentukan miqat Dzatu Irqin bagi penduduk Iraq. (HR. Muslim).

Miqat yang ditentukan oleh Nabi bagi penduduk luar Makkah berdasarkan dua hadits diatas ada lima miqat, penjelasannya sebagai berikut,

1.      Dzul Hulaifah

Disebut juga Biir Ali atau Abyar Ali.

Miqat bagi orang yang menuju Makkah dari Madinah dan orang orang yang lewat tempat ini dari Madinah. Ini merupakan miqat yang paling jauh dari Makkah, disana ada masjid yang dari tempat Nabi mulai ihram. Jarak dari kota Makkah kurang lebih 450 Km. Dari sebelah utara.

2.      Al Juhfah .

Sekarang merupakan padang tandus, dekat dengan Rabigh yang dipakai miqat oleh penduduk Syam, Syiria, Libanon, Palestina, Mesir, Sudan dan negara negara bagian barat Jazirah Arab, Juga dipakai miqat bagi orang yang tidak lewat Madinah. Jarak dari Makkah kurang lebih 187 Km kearah barat laut, dari Juhfah sampai Rabigh kira kira 17 Km.

3.      Qarnul Manazil.

Disebut juga dengan nama as Sail.

Miqat bagi penduduk Nejd, juga memulai ihram di tempat ini orang orang yang datang dari Khulaij, Irak, Iran dan lain lainnya. Merupakan sebuah bukit disebelah timur Makkah yang menonjol kearah Arafah, jarak dari kota Makkah kurang lebih 75 Km.

4.      Yalamlam.

Miqat bagi penduduk Yaman, dan orang orang yang melewatinya. Terletak disebelah selatan kota Makkah dengan jarak kurang lebih 120 Km. Juga ihram dari tempat ini orang orang Malaisia, Cina, India, Indonesia dan orang orang dari Asia tenggara.

5.      Dzatuirqin.

Sebuah tempat disebelah utara kota Makkah, berjarak kira kira 94 Km. Menjadi miqatbagi penduduk negara Iraq.

Ini merupakan miqat yang telah ditentukan oleh Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, yang menjadi miqat bagi orang orang yang melewatinya baik bagi orang yang bertempat tinggal di sekitar itu atau bertempat tinggal di daerah lain yang melintasinya.

Barang siapa yang menempuh perjalanan baik di darat maupun di laut, yang dia tidak melewati miqat yang lima tadi, maka hendaklah ia memulai ihram ketika dia berada ditempat yang se jarak dengan miqat terdekat. Demikian pula orang yang menempuh perjalanan melalui udara hendaklah ia niat ihram sejak berada ditempat sepadan dengan miqat . Jika ia tak mengetahui arah miqatnya hendaklah berhati hati dengan sejak dari tempat yang masih jauh. Untuk dapat diyakini bahwa ia mulai ihram masih di luar miqat, sehingga ia tidak melewati miqat kecuali dalam keadaan ihram. Sedang ihram sebelum miqat adalah diperbolehkan. Dan sebaliknya ihram setelak lewat miqat itu adalah larangan. (Al Mughni : 61-63)

Miqat Makani bagi penduduk luar Makkah miqat haji adalah juga untuk miqat umrah.

Untuk ihram umrah bagi penduduk Makkah adalah di daerah halal terdekat. Maka hendaknya orang yang ingin umrah sedang ia berada di Makkah, ia keluar dari daerah haram ke daerah halal terdekat dan memulai ihram disana. Daerah halal terdekat (Adnal hil) ialah Tanim atau Jiranah. Seperti hadits Nabi :

.

 

Hadits diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Bakar bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Abdur Rahman pergi bersama Aisyah untuk umrah dari Tanim. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

 

Hadits diriwayatkan dari Muharrisy Al Kaby , bahwa : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam melakukan umrah dari Jiranah pada waktu malam hari, kemudian aku menunggu kehadirannya, dan aku lihat beliau putih seputih perak, karena semalaman melakukan umrah sampai pagi beliau tetap berjaga. (HR. Ahmad).

Berdasarkan hadits tersebut bahwa miqat umrah untuk orang yang berada di Makkah adalah adnal hill.

( daerah halal terdekat ).

Menurut Imam Syafii yang lebih baik bagi orang yang ada di Makkah, jika ingin melakukan umrah hendaknya keluar dan berihram dengan mengambil miqat di Jiranah. Karena Nabi Sallallahu alaihi wa sallam melakukan umrah dari sana, kemudian Tanim. Karena Nabi memerintahkan Aisyah melakukan umrah dari Tanim, kemudian Khuddaibiyah, Karena beliau juga ketika menghendaki masuk umrah dari sana, juga bertahallul dan shalat di Khuddaibiyah. Al Qira .hal : 623

 

1.      Miqat Zamani.

Waktu pelaksanaan haji telah ditentukan oleh Allah, sehingga tidak dibenarkan ihram haji kecuali pada bulan haji, karena firaman Allah:

Waktu haji itu adalah bulan bulan yang telah diketahui (QS.Al Baqarah 197)

Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bulan bulan dalam ayat itu adalah Syawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah. Perbedaan mereka hanya pada bulan Dzulhijjah apakah seluruhnya masduk bulan haji, ataukah hanya sepuluh hari pertama yang masuk bulan haji.

Imam Syafii berpendapat bahwa waktu haji itu adalah bulan Syawal, Dzulhijjah, dan sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun malam Nahar menurut madzhab Syafii dipandang sebagai waktu yang masih boleh untuk ihram, karena malam itu masih boleh wukuf. Kecuali kalau sudah lepas fajar hari nahar belum ihram, maka berarti telah lewat saat ihramnya, sehingga tidak mendapat haji. Oleh karenanya orang yang ihram pada malam nahar dan dapat wukuf pada malam itu sebelum terbit fajar, maka syah hajinya. Dalam Al Mukhtashar Imam Syafii berkata :

,

Bulan haji adalah bulan Syawal, Dzulqadah dan sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah yaitu sampai hari Arafah, barang siapa tidak dapat ihram hingga fajar hari Nahar, berarti ia tak mendapat haji ( Al Mukhtashar : VII / 143 ).

Ihram untuk haji yang dilakukan sebelum miqat, artinya sebelum masuk bulan haji, dikalangan para ulama ada dua pendapat:

1.      Menurut Imam Malik, Imam Hanafi dan Ahmad tetap dipandang syah, asal ihramnya terus sampai bulan haji.

2.      Ihramnya tetap jadi sebagai ihram umrah, ini menurut Imam Syafii.

Pendapat yang kedua ini beralasan bahwa , firman Allah:

Pada ayat ini yang dimaksudkan adalah waktu ihram, karena haji itu tidak butuh waktu berbulan bulan. Tetapi ihramnya dapat dilakukan sepanjang bulan haji. Jika ihram dilakukan sebelum masuk waktunya, maka jatuhnya sebagai ihram umrah. Seperti orang yang shalat, sebelum masuk waktu maka shalat itu jatuh sebagai shalat sunnat.

Ibnu Umar berkata : Bulan bulan haji itu adalah : bulan Syawal, Dzulqadah dan sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.

Pernyataan Ibnu Umar ini dipertegas oleh Ibnu Abbas :

: ( )

Diriwayatkan dari Ibu Abbas ia berkata :Tidak seyogyanya bagi seseorang berihram untuk hajji kecuali pada bulan bulan hajji, atas dasar firman Allah :

Jadi sangat berbeda antara miqat Makani dan miqat Zamani, sebab kalau miqat Makani tidak menjadi masalah kalau melakukan ihram sebelum masuk miqat, bahkan untuk mengambil sikap hati hati tak jarang mengambil miqat jauh sebelum melintasi miqatnya. Lain sekali dengan miqat Zamani yang harus ditepati , artinya tidak dibenarkan melakukan ihram untuk haji dengan dimulai sebelum masuk waktunya. Kalu ihram haji dilakukan sebelum masuk waktu bulan hajji, maka hajinya tidak syah, dan hanya sebagai umrah.

 

6.      Thawaf Wada.

Thawaf Wada adalah thawaf yang dilakukan para jamaah haji ketika akan berangkat pulang meninggalkan tanah suci Makkah. Thawaf ini wajib dikerjakan karena termasuk wajib haji, sehingga wajib membayar dam bagi yang meninggalkannya. Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh shahabat Ibnu Abbas RA. :

: :

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahu anhuma, bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seseorang berangkat pulang sebelum sebelum mengakhiri dengan berthawaf di Baitullah (maksudnya Thawaf wada) (HR.Muslim).

Perintah dalam hadits ini oleh mayoritas ulama terutama Imam Madzhab yang empat, Abu Hanifah, Imam Ahmad, Imam Syafii kecuali imam malik telah diartikan sebagai perintah wajib. Oleh karena Nabi memberikan rukhshah (dispensasi) kepada wanita yang sedang haid dan tidak mewajibkannya, ini menunjukkan bahwa thawaf wada ini hukumnya wajib. Karena rukhshah itu tidak pernah ada kecuali dari sesuatu yang hukumnya wajib.

Adapun waktu melaksanakannya adalah setelah selesai seluruh amalan haji, dan setelah pulang dari Mina, dan ketika menghendaki berangkat meninggalkan Makkah supaya akhir dari rangkaian ibadahnya adalah thawaf di Baitullah, kecuali bagi perempuan yang sedang haid, karena Nabi memberikan keringanan . Seperti hadits :

:

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyallahu anhuma, Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam perintah kepada orang orang agar mengakhiri kegiatannya dengan berthawaf di Baitullah, hanya saja Nabi memberikan keringanan bagi wanita yang sedang haid (tidak perlu thawaf wada)

.( HR. Al Bukhari ).

Bagi perempuan yang tidak melakukan thawaf wada karena haid tidak dikenakan dam, karena memang merupakan rukhsah sebagaimana hadits tersebut. Adapun bagi seseorang yang setelah berthawaf wada datang waktu shalat fardlu, kemudian ia melakukan shalat fardlu, maka tidak harus mengulang mengerjakan thawaf wada.

Diriwayatkan dari Atha, ia berkata: Ketika seseorang mengerjakan thawaf wada, lalu datang waktu shalat fardlu, ia lalu shalat, mengherankan jika ia mengulang thawaf wada

Thawaf wada adalah bagian dari manasik haji bukan manasik umrah, berdasarkan beberapa alasan pertimbangan sebagai berikut :

1.      Bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan supaya akhir ibadah haji itu ada pada Baitullah, padahal sebelumnya Nabi melakukan umrah empat kali, dan ketika itu tidak memerintahkan pada para shahabat supaya melakukan thawaf wada Hal ini menunjukkan bahwa thawaf wada itu termasuk sebagian manasik haji bukan termasuk bagian manasik umrah.

2.      Mayoritas ulama berpendapat bahwa seseorang yang mengerjakan haji dan meninggalkan thawaf wada maka baginya wajib membayar dam, lain halnya dengan umrah. Ini juga menunjukkan bahwa thawaf wada termasuk manasik haji.

3.      Andai kata thawaf wada merupakan ibadah tersendiri bukan merupakan bagian manasik haji, tentu diperintah untuk mengerjakannya bagi setiap orang yang ingin meninggalkan Makkah. Tetapi ternyata tidak diperintahkan bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji.

4.      Bagi orang yang meninggalkan Makkah, atau orang yang datang ke Makkah, ketika ia meninggalkannya tidak diperintahkan menyembelih dam karena meninggalkan thawaf wada , lain halnya dengan orang yang menunaikan haji. Ini menunjukkan bahwa thawaf wada termasuk bagian manasik haji.

5.      Imam Malik meriwayatkan dalam kitab Muwatha dari Abdullah bin Umar :

: ,

Umar bin Khaththab pernah berkata : Janganlah seseorang yang menunaikan haji berangkat meninggalkan Makkah sampai ia mengerjakan thawaf di Baitullah, karena akhir dari ibadah haji adalah thawaf di Baitullah.

Bagi siapakah thawaf wada itu wajib.

Para ulama tidak berbeda pendapat tentang orang yang tinggal berdomisili di Makkah baik yang berasal dari sekitar Makkah atau dari luar, bahwa ia tidak berkwajiban mengerjakan thawaf wada. Adapun orang yang ingin meninggalkan Makkah menuju ke tempat tinggal asalnya baik tempat tinggalnya dari tanah haram maupun dari luar tanah haram, baginya wajib mengerjakan thawaf wada . Hanya saja ada ulama yang berpendapat bahwa bagi penduduk yang tinggal didalam miqat, atau kurang dari masafatul qashri baginya tidak ada kwajiban untuk menunaikan thawaf wada , tetapi para pengikut Imam Syafiiy secara mutlaq mewajibkan thawaf wada bagi yang ingin meninggalkan Baitullah. (Al Mughni : 176)

7. SUNNAT SUNNAT HAJI.

Sunan sunat haji adalah selain rukun rukun dan wajib dari serangkaian ibadah haji, Sunnat haji itu banyak sekali, antara lain :

Thawaf Qudum

Thawaf Qudum hukumnya sunnah bagi setiap orang yang berihram pada permulaan masuk Makkah , hendaknya jangan mengawali ibadahnya dengan selain thawaf ini, sebagaimana Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ketika masuk Masjidil Haram tak pernah melakukan sesuatu sebelum melakukan thawaf di Baitullah. Thawaf ini sebagai pengganti tahiyatul masjid . Jika thawaf ini dilakukan oleh haji yang melakukan haji ifrad , maka thawaf ini disebut thawaf qudum. Jika thawaf ini dilakukan oleh haji yang melakukan haji qiran atau tamattu maka thawaf ini di sebut thawaf umrah, dan hukumnya tidak sunnat lagi tetapi wajib, dan diteruskan dengan sai dan tahallul. Berarti orang yang mengerjakan thawaf umrah ini tidak perlu melakukan thawaf qudum. Dasar pelaksanaan thawaf ini adalah hadits Nabi sebagai berikut :

Hadits diriwayatkan dari Aisyah Radliyallahu anha, bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam memulai sesuatu ketika datang di Makkah dengan berwudlu kemudian thawaf di Baitullah ( HR. Al Bukhari dan Muslim).

Membaca Talbiyah

Hukumnya sunnat membaca talbiyah hingga tidak ada kwajiban membayar dam bagi yang meninggalkannya. Adapun lafadl tabiyah itu berdasarkan riwayat Abdullah bin Umar adalah sebagai berikut :

: , ,

Hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallahu anhuma, bahwa Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ketika sampai didekat masjid Dzilhulaifah, beliau membaca talbiyah Labbaikallahuma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innalhamda wan nimata laka wal mulka laa syarika laka.

(HR.Bukhari ,Muslim).

Disunnatkan pula setelah selesai bacaan talbiyah menambahkan bacaan shalawat kepada Nabi dan doa memohon ampunan dan sorga serta memohon perlindungan dari murka Allah dan siksa neraka. Sebagaimana hadits:

,

Hadits dari Huzaimah bin Tsabit dari ayahnya, bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam apa bila selesai membaca talbiyah, beliau berdoa memohon kepada Allah ampunan dan keridlaanNya serta memohon perlindungan dari siksa neraka dengan rahmatNya

(HR. As Syafii, Daraquthni dan Imam Baihaqi).

Diriwayatkan pula oleh Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq, katanya :

Disukai bagi seseorang setelah selesai membaca talbiyah supaya membaca shalawat atas Nabi Sallallahu alaihi wa sallam. (HR.Ad Daraquthni). (Al Mughni : 85)

Adapun tatacara membaca talbiyah yang di ikuti dengan bacaan shalawat dan doa doa, adalah dengan membaca talbiyah secara sempurna dan di ulang tiga kali, kemudian membaca shalawat atas Nabi , dan baru kemudian membaca doa memohon ridla dan surga serta memohon perlindungan agar terhindar dari murka Allah dan siksa neraka, dan juga diikuti dengan doa yang sangat umum tentang permohonan kebaikan dunia akhirat. ( Ianatuth Thalibin II : 310 )

Susunan selengkapnya sebagai berikut :

, , , , 3 * * * * * * * * * *

Disunnatkan pula memperbanyak membaca talbiyah dan senantiasa membacanya setiap waktu dan keadaan sehingga orang yang sedang junub dan perempuan yang sedang haid, baik dalam keadaan duduk, berdiri, berbaring, baik diatas kendaraan ataupun dalam keadaan yang bagaimanapun dianjurkan memper-banyak bacaan talbiyah.

Tempat dan saat membaca Talbiyah.

Bagi muhrimin dianjurkan memperbanyak membaca talbiyah pada tempat dan saat saat tertentu, sebagai pernyataan dan pendapat Imam Syafii berikut ini :

, ,

Sangat disukai bagi para muhrimin memperbanyak talbiyah pada saat saat :

1.Setelah selesai shalat fardlu,

2. Ketika menuruni lembah,

3. Ketika menaiki pendakian,

4. Ketika berjumpa dengan rombongan lain,

5. Ketika diatas kendaraan,

6. Ketika turun dari kendaraan.

Demikian pendapat Imam Syafii.

Disunnatkan pula membaca talbiyah dengan suara yang keras, sebagaimana hadits Nabi dari Khalad bin Saib al Anshari dari ayahnya :

: , ,

Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam telah bersabda : Pernah malaikat Jibril datang kepada ku, ia menyuruh aku, agar aku perintahkan shahabat shahabatku supaya mereka mengeraskan dn menyaringkankan suaranya ketika membaca talbiyah

(HR. Imam Malik, Imam Syafii , Abu Dawud, An Nasai dan Turmudzi).

Hadits lain juga menyebutkan tentangsunnahnya membaca talbiyah dengan suara nyaring

: : " , " . : , :

Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radliyallahu anhu bahwa : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam di tanya : Hajji yang bagaimana yang paling afdlal ? Beliau menjawab : Haji yang paling afdlal adalah haji yang Ajj dan Tajj. (HR.At Turmudzi dan Ibnu Majjah). Al Qira .hal :171

Dan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Ajj adalah membaca talbiyah dengan suara nyaring. Sedangkan yang dimaksud dengan Tajj adalah menyembelih hewan qurban.

Adapun bagi perempuan tidak disunnatkan membaca talbiyah dengan suara keras, cukup dengan suara sekedar didengar diri sendiri. Sebagaimana riwayat Ibnu Abas tentang hal ini :

: , :

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyalllahu anhuma Janganlah perempuan mengeraskan suara ketika ber talbiyah

Ibnu Umar meriwayatkan :

Tidak diperkenankan bagi wanita wanita itu membaca talbiyah dengan suara mereka yang keras

 

Waktu membaca Talbiyah

Bacaan talbiyah bagi para muhrimin ini waktunya sejak mulai ihram sampai hari nahar, ketika melempar jumrah aqabah. Berdasarkan hadits Nabi :

: .

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyalllahu anhuma, ia berkata : Bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam senantiasa membaca talbiyah sampai beliau melempar jumrah aqabah (HR.Jamaah).

Adapun bagi mutamir (orang yang ihram umrah) membaca talbiyah sampai mengawali thawaf, baik ia dapat mengusap hajar aswad atau tidak. Berdasarkan hadits Nabi:

:

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyalllahu anhuma, dari Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : Orang yang umrah hendaknya membaca talbiyah sampai ia memulai thawaf, baik ia dapat menyentuh hajar aswad ataupun tidak (HR.Imam Syafii).

Hadits yang semakna hanya sedikit redaksi yang beda , diriwayatkan oleh Abu Daud dari sumber yang sama, bahwa membaca talbiyah sampai ketika menyentuh Hajar Aswad, tentu maksudnya sama ketika mengawali mengerjakan thawaf meskipun tidak menyentuhnya.

:

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abas Radliyalllahu anhuma, dari Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : Orang yang umrah hendaknya membaca talbiyah sampai ia menyentuh hajar aswad.(HR.Abu Daud).

MUHIMMAH

TERTIB PERJALANAN

DAN PELAKSANAAN IBADAH HAJI TAMATTU'

( GELOMBANG I )

 

01. RUMAH

02. BANTUL

03. SOLO

04.  BANDARA KING ABDUL AZIZ / BANDARA MADINAH

1.      Menunggu di ruang Air Port

2.      Pemeriksaan Paspor Hajji (PPH)

3.      Pemeriksaan Barang

4.      Menuju ruang istirahat

5.      Menerima Katering

6.      Berangkat menuju Hotel Pemondokan (Maktab) di Madinah Dengan bus yang telah disediakan, dari bandara King Abdul Aziz diperlukan waktu 6 - 8 jam.

05.        KOTA MADINAH

1.      Istirahat di Hotel (Maktab)

2.      Sholat Arba'in ( 40 shalat fardlu / 8 hari ) di Masjid Nabawi dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah.

3.      Ihrom umroh.

Persiapan sebelumnya.

a.      Memotong rambut / kuku

b.      Mandi untuk ihrom Umroh dan Wudlu'

( )

c.       Memakai wangi-wangian dan bersisir rapi.

d.      Memakai pakaian Ihrom Pria / Wanita

e.       Berangkat menuju Bir'Ali (Dzul Hulaifah).

06. BI'R ALI

1. Berwudlu bila batal

2.      Sholat sunnah Ihrom

( )

3. Niat umroh,

/

4. Membaca talbiyah, sholawat dan do'a.

, , , , 3 * * * * * * * * * *

07.  MAKKAH

 

1.      Istirahat di Hotel Pondokkan (Maktab)

2. Menuju Masjidil Harom lewat Babussalam

3. Thawaf

4. Berdo'a di Multazam

5. Shalat sunnah thawaf dibelakang Maqom

Ibrohim,

kemudian berdoa

6.      Mengambil air zam-zam kemudian berdo'a lalu diminum

7.      Sa'i

8.      Tahallul / menggunting rambut. ( halku )

9.      Tanggal 8 Dzulhijjah Ihrom Haji

a.      Mandi Ihrom

( ) dan Wudlu

b.      Memakai pakaian Ihrom Pria / Wanita

c.       Sholat sunnah Ihrom

( )

d. Niat berhaji,

/

  1. baca talbiyah, sholawat dan do'a

, , , , 3 * * * * * * *

* * *

 

  1. Berangkat menuju Arofah disertai membaca Talbiyah

08. ARAFAH

1. 8 Dzul Hijjah malam 9 menginap di Arafah

2. 9 Dzul Hijjah siang Ba'da Zawal / ba'da dhuhur Wuquf ( Barjama'ah shalat dhuhur dan ashar dengan jama' ta'dim kemudian khatib membacakan khutbah wukuf lalu berdo'a bersama )

3.            Sesudah Maggrib / Isya' menuju Mudzalifah

09. MUZDALIFAH

1. Mabit (menginap) sampai lewat tengah

malamMencari kerikil 7 x 10 = 70 butir

2. Menuju Mina setelah lewat tengah malam.

10. MINA

1.      Melontar Jumroh Aqobah dimulai lewat tengah malam 10 Dzul Hijjah

2.      Tahallul awwal / memotong rambut

3.      Memotong dam dan qurban di Mina apabila mungkin

4.      Mabit / menginap di Mina setiap malam Tasyriq .

5.      Tanggal 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah ( hari Tasyriq ) melempar Jamroh Ula, Wusto, Aqobah, waktunya mulai setelah Dhuhur sampai tengah malam.

6.      Tanggal 13 Dzul Hijjah berangkat kembali ke Makkah disebut Nafar Tsani.

11. KEMBALI KE MAKKAH

1. Thawaf Ifadloh , Sa'i dan Halku/ tahallul.

2 Menunggu pemberangkatan pulang

3. Thawaf Wada' bila akan pulang ( tanpa sa'i )

12. MADINATUL HUJJAJ

1. Menginap di Madinatul Hujjaaj kurang lebih

sehari semalam.

2. Pengurusan Paspor dan ziarah ke tempat tempat

bersejarah.

3. Katering disediakan

4. Berangkat menuju Air Port / Bandara King Abdul Aziz

13.        BANDARA KING ABDUL AZIZ

Kembali

1.      Pemeriksaan dan Penimbangan Barang

2.      Pemeriksaan Paspor Haji (PPH)

3.      Naik pesawat udara menuju tanah air.

 

14. DATANG DI TANAH AIR

Apabila sudah tiba dikampung halaman

1. Sholat sunnah tahiyatul masjid

2. Sholat sunnah liqudumissafar

3. Setelah selesai shalat berdo'a:

. .

DO'A

* * * * * * * * * * * * * * *

 

 

DOA PULANG HAJI

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

DOA PULANG HAJI

ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ALA SAYYIDINA MUHAMMAD * WA ALA ALIHI WA ASH HABIHI AJMAIN * ALHAMDULILLAHIROBBIL ALAMIN * ROBBANA TAQOBBAL MINNA * INNAKA ANTASSAMIUL ALIM * WATUB ALAINA INNAKA ANTAT TAUWABUR ROHIM * ALLAHUMMA ROBBANA DHOLAMNA ANFUSANA * WA ILLAM TAGHFIR LANA * WA TARHAMNA LANAKUNANNA MINAL KHOSYIRIN * ALLAHUMMAGHFIRLANA DZUNUBANA * WALIWA LIDAINA * WALIMASYAYIKHINA * WALI MUALLIMINA * WA LIMAN AHABBA ILAINA * WA LIJAMIIL MUMININA WAL MUMINAT * WAL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT * AL AHYA I MINHUM WAL AMWAT * ALLAHUMMAJAL HAJJANA HAJJAN MABRURO * WASAYAM MASYKURO* WADZAMBAM MAGHFURO * WATIJAROTAL LANTABUUR * YA ALIMA MA FIS SHUDUR * AKHRIJNA MINADZ DZULUMATI ILANNUUR * ALLAHUMMA YASSIRLANA * WALIMAN HADLORO BAITANA * HADLOROL MAKKATAL MUKARROMAH * WAL MADINATAL MUNAWWAROH * LI ADA I MANASIKIL HAJJI WAL UMROH * WA ZIYAROTI KHOIRIL BARIYYAH * SAYYIDINA MUHAMMADIN SOLLALLOHU ALAIHI WASALLAMA MAAL YUSROH * WAS SALAMAH WASSAADAH * WASSAKINATI WALAFIYAH * MARROTAN BADA MARROH * KARROTAN BADA KARROH * SANATAN BADA SANAH * ALLOHUMMARZUQNA ILMAN NAFIA * WAAMALAN SHOLIHAN MAQBULA * WARIZQON WASIAN HALALAN THOYYIBA * ALLOHUMMARZUQNA HUSNAL KHOTIMAH * WANAUDZU BIKA MIN SU IL KHOTIMAH * ALLOHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD * SHOLATAN TUBALLIGHUNA BIHA HAJJA BAITIKAL HAROM * WAZIYAROTA HABIBIKA WAROSULIKA SAYYIDINA MUHAMMADIN ALAIHI AFDLOLUS SHOLATI WAS SALAM * FI SHIHHATIN, WA AFIYATIN, WASALAMATIN WALUTH FIN WA BULUGHIL MAROM * WAALA ALIHI WASHOHBIHI WABARIK WASALLIM * ROBBANA ATINA FIDDUNYA HASANAH * WA FIL AKHIROTI HASANAH * WAQINA ADZABANNAR * WA ADKHILNAL JANNATA MAAL ABROR * YA AZIZU YA GHOFFAR * WASHOLLALLOHU ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WAALA ALIHI WASHOHBIHI AJMAIN * SUBHANAROBBIKA ROBBIL IZZATI AMMA YASHIFUN * WA SALAMUN ALAL MURSALIN * WALHAMDULILLAHIROBBIL ALAMIN *

DOA PULANG HAJI

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH LAGI MAHA PENYAYANG

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Ya Allah limpahkan kesejahteraan, keselamatan dan keberkahan kepada Junjungan Nabi Muhammad, beserta keluarga dan seluruh shahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Dengan memuji atas segala karunia, cukup bertambah nikmat Nya.

Ya Tuhan kami, bagi Mu segala puji, yang pantas bagi Keagungan Dzat Mu, Kemulyaan dan keAgungan keKuasaan Mu.

Ya Allah terimalah amal kami, Sungguh Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Dan terimalah taubat kami, Sungguh Engkau Penerima taubat dan Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami, jika tak Kau ampuni kami, dan tak Kau rahmati kami, niscaya kami termasuk orang orang yang merugi.

Ya Allah ampunilah dosa dosa kami, kedua orang tua kami, guru guru kami, orang orang yang mendidik kami, orang orang yang menyayangi kami, dan semua orang beriman laki dan perempuan, semua orang Islam laki laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah mati.

Ya Allah jadikanlah haji kami sebagai haji yang mabrur, saiy yang diterima, dosa yang diampuni, niaga yang terpelihara.

Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, keluarkanlah kami dari kegelapan menuju alam yang terang.

Ya Allah, mudahkanlah kami, dan orang orang yang datang kerumah kami, untuk berkunjung ke Makkah bumi Mulia, dan Madinah yang penuh cahaya, untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Dan ziarah kemakam makhluk terbaik, junjungan kami Nabi Muhammad SAW, dengan kemudahan, keselamatan, kesejahteraan, ketenangan dan sehat sentaosa.

Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, amal shalih yang diterima, rizki lapang, yang halal dan baik.

Ya Allah, berilah kami husnul hatimah (akhir kehidupan yang baik), dan lindungi kami dari syuul khatimah (akhir kehidupan yang tidak baik).

Ya Allah limpahkan rahmat kesejahteraan, keselamatan dan keberkahan kepada Junjungan Nabi Muhammad, dengan rahmat Mu pula sampaikan kami haji ke Baitil Haram, dan berziarah kemakam kekasih dan utusan Mu, baginya sebaik baik kesejahteraan dan keselamatan, dalam keadaan sehat wal afiyat, selamat, dan tercapai tujuan.

Beserta keluarga dan shahabatnya, limpahkan keberkahan dan kesejahteraan.

Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat, dan lindungi kami dari siksa neraka, masukanlah kami kedalam surga, beserta orang orang yang baik, Wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun.

Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada Junjungan Nabi Muhammad. Dan segenap keluarga dan seluruh shahabatnya .

Maha Suci Tuhanmu, Pemilik Keperkasaan dari apa yang mereka katakan.

Kesejahteraan semoga terlimpah atas para utusan,

Dan Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

SHOLAT JANAZAH

 

1. NIYAT

2. TAKBIR 1. DAN MEMBACA AL FATIHAH

 

3. TAKBIR KE : 2.

DAN MEMBACA " SHOLAWAT ".

* * * * * * *

 

4. TAKBIR KE : 3 DAN MEMBACA DOA

 

* * *

* * * * * * * * * *

5. TAKBIR KE : 4. LALU BERDOA,

* * * * *

6. MEMBACA " SALAM ".

ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WA BAROKATUH

 

SHOLAT JANAZAH RINGKAS

1. NIYAT

USHOLLI 'ALA MAN SHOLLA 'ALAIHIL IMAM MA'MUMAN LILLAHI TA'ALA

 

2. TAKBIR 1 : ALLAHU AKBAR

DAN MEMBACA " AL FATIHAH ".

 

3. TAKBIR KE 2 : ALLAHU AKBAR

DAN MEMBACA " SHOLAWAT ".

* *

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD

WA 'ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD.

 

4.      TAKBIR KE 3 : ALLAHU AKBAR

DAN MEMBACA " DO'A "

* * * * * *

ALLAHUMMAGHFIR LAHU , WARHAMHU , WA'AFIHI , WA'FU 'ANHU, WA AKRIM NUZULAHU , WA WASSI' MADKHOLAHU,

 

5. TAKBIR KE 4 : ALLAHU AKBAR

LALU BERDO'A,

* * *

ALLAHUMMA LAA TAHRIMNA AJROHU, WALAA TAFTINNA BA'DAHU, WAGHFIR LANA WALAHU.

 

6.MEMBACA " SALAM " :

ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLAH

DAFTAR ISI

BAGIAN I

KEUTAMAAN IBADAH HAJI

 

1. KEUTAMAAN HAJI DAN ANJURAN 2

2. HAJI MENGHAPUSKAN DOSA DOSA YANG TERDAHULU DAN YANG KEMUDIAN 7

3. HAJI ADALAH AMAL YANG PALING UTAMA

SETELAH BERIMAN DAN BERJIHAD 9

4. HAJI MABRUR 13

5. HAJJI ADALAH JIHAD 21

6. IJABAH DOA ORANG YANG HAJI DAN

UMRAH 25

 

7. KEUTAMAAN HARTA YG DIGUNAKAN

UNTUK HAJI 29

8. WAJIBNYA HAJI 36

9. KWAJIBAN HAJI HANYA SEKALI

10. SUNNAT DAN ANJURAN SEGERA

11. SUNNAT BERUSAHA HAJI KE BAITIL HARAM

SETELAH GUGUR KWAJIBAN

12. SYARAT SYARAT WAJIB

13. TIDAK WAJIB MENCARI HUTANG UNTUK HAJI

BAGIAN II

MANASIK HAJI

1. HUKUM IBADAH HAJI

2. SYARAT WAJIB HAJI

3. HUKUM ORANG YANG LEMAH

4. MENUNAIKAN HAJI UNTUK ORANG LAIN

5. RUKUN RUKUN HAJI

1. Ihram.

Larangan bagi orang yang sedang ihram

2. Wukuf.

Sunnat sunnat wukuf.

3. Thawaf Ifadlah.

Wajib Wajibnya Thawaf

Sunnat sunnat Thawaf.

4. Sai.

Hal hal yang wajib dalam Sai.

Sunnat Sunnat Sai

5. Tahallul. (halqu).

6. WAJIB HAJI

1. Mabit di Muzdalifah

2. Melempar Jumrah Aqabah.

3. Melempar 3 Jumrah pada hari hari tasyriq

4. Mabit di Mina pada malam hari tasyriq.

5. Ihram dari Miqat.

6. Thawaf Wada.

Bagi siapakah thawaf wada itu wajib.

7. SUNNAT SUNNAT HAJI

Thawaf Qudum

Membaca Talbiyah

Tempat dan saat membaca Talbiyah

Waktu membaca Talbiyah

MUHIMMAH

TERTIB PERJALANAN DAN PELAKSANAAN

IBADAH HAJI TAMATTU' ( GELOMBANG I )

DOA PULANG HAJI

SHALAT JANAZAH

SHOLAT JANAZAH RINGKAS

DAFTAR ISI

 

 

 

 AN NIDA'
 

 

 


Panduan
 HAJI & UMROH
 

 

 

 

 

 


KBIH MUSLIMAT NU HDWR BANTUL

YOGYAKARTA