http://pk-sejahtera.org/modules/news/article.php?mn=8&storyid=2823
Kamis, 27 Januari 2005 18:10 WIB (Terbaca: 38) 

Materi Kaderisasi
Ma'rifatullah
Syamsu Hilal

"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?' Tentu mereka
akan menjawab, 'Allah'. Maka betapakah mereka dapat dipalingkan dari jalan
yang benar" (QS Al-Ankabut: 61).

Pada sebuah pertandingan bola voli antar-RT memperingati hari proklamasi di
bilangan Mampang Jaksel, seorang penonton, sebut saja Nico, merasa jengkel
melihat ulah seorang bapak setengah baya yang menyandera bola voli dengan
cara mendudukinya. Karuan beberapa jenak pertandingan sempat terhenti. Bola
voli itu disandera akibat smash salah seorang pemain di seberang net tepat
mengenai tubuh bapak yang dikenal bernama Haji Mugni.

Panitia hanya diam saja. Melihat pemandangan itu, Nico yang baru sebulan
tinggal di sebuah rumah kontrakan dekat lapangan bola voli, langsung
mendekati Haji Mugni yang belum dikenalnya. Nico mengumpat kesal sembari
merebut bola voli yang diduduki Haji Mugni, lalu melemparkannya ke tengah
lapangan. Pertandingan voli dilanjutkan kembali. Haji Mugni diam saja.
Panitia salut dengan keberanian Nico. Setelah kejadian itu, salah seorang
panitia membisikkan sesuatu ke telinga Nico. Aneh. Wajah Nico langsung
pucat. Selidik punya selidik, rupanya panitia itu baru saja memberi tahu
bahwa orang yang bernama Haji Mugni itu adalah seorang jawara yang disegani.

Begitulah Nico, lantaran belum mengenal (ma'rifah) Haji Mugni ia berani
menentang Haji Mugni. Tapi setelah diperkenalkan oleh seseorang, siapa
sesungguhnya Haji Mugni, muncullah rasa takutnya. Sama halnya dengan seorang
anak balita yang "berani" menyentuh api atau memegang kabel listrik
bertegangan tinggi. Tindakan itu sama sekali bukan tindakan berani, tapi
sekali lagi karena faktor ketidaktahuan.

Dalam Islam, orang-orang yang "berani" melanggar ketentuan Allah, apakah itu
shalat, puasa, atau zakat, dalam beberapa kasus hal itu disebabkan lantaran
mereka belum ma'rifah kepada Allah dalam arti sesungguhnya. Ini mirip dengan
kisah orang-orang kafir Quraisy pada masa Rasulullah Saw. yang apabila
ditanyakan kepada mereka siapa yang menurunkan hujan dari langit dan yang
menumbuhkan pepohonan dari bumi, mereka akan menjawab Allah. Tapi, bila
mereka diperintahkan untuk meng-Esa-kan Allah dan menjauhi penyembahan
berhala, mereka akan mengatakan bahwa penyembahan berhala yang mereka
lakukan adalah warisan budaya leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.

Dalam Islam, mengenal Allah (ma'rifatullah) adalah persoalan penting dan
wajib, karena hal ini menyangkut aqidah.

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah melainkan Allah dan
mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tempat
tinggalmu" (QS Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah Swt. menggunakan fi'il amr (kata kerja perintah) yang
berarti wajib setiap Muslim untuk ma'rifah kepada Allah.

Kenal bukan hanya sekedar tahu. Kita tahu Bush Presiden Amerika Serikat,
tapi kita baru kenal Bush setelah membaca dan melihat sepak terjangnya yang
angkuh, arogan, hobi berperang, dan menindas umat Islam lewat televisi dan
media cetak. Dari informasi-informasi tersebut, akhirnya kita menyimpulkan
bahwa kezaliman Bush harus segera dihentikan. Inilah konsep ma'rifah yang
sebenarnya. Ma'rifah adalah sebuah proses perpikir yang menghasilkan
tindakan, baik berupa pernyataan maupun sikap.

Imam Ghazali menyatakan bahwa ma'rifah adalah sebuah tingkatan kecerdasan,
yaitu mengumpulkan dua atau lebih informasi untuk menghasilkan sebuah
kesimpulan. Dan dari kesimpulan itulah muncul tindakan atau sikap. Bukan
ma'rifah namanya bila apa yang diketahuinya tidak menghasilkan tindakan.
Seseorang yang mengaku mengenal Allah, tapi tidak menghasilkan ketundukkan,
ketaatan, loyalitas, dan penghambaan kepada Allah, sesungguhnya dia berlum
ma'rifah kepada Allah.

Seseorang yang sedang jatuh cinta akan selalu memikirkan kecantikan,
kebaikan, kelembutan, dan keramahan kekasihnya. Memikirkan hal-hal semacam
itu sudah cukup membahagiakan hatinya. Selain itu, ia pun akan selalu
menjaga jangan sampai kekasihnya benci dan menjauhi dirinya. Oleh karenanya,
ia akan selalu tampil baik, sopan, ramah, murah hati, dan lembut di depan
kekasihnya. Kalaupun ia memiliki sifat buruk, maka di hadapan kekasihnya ia
akan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan sifat-sufat buruk tersebut.
Orang yang tengah jatuh cinta, biasanya selalu berusaha untuk menyelami
sifat dan hobi sang kekasih dan sedapat mungkin berusaha untuk mendekatkan
diri dengan sifat dan hobi kekasihnya itu, meskipun sebenarnya sifat dan
hobinya berbeda.

Seperti itulah seharusnya orang yang mengaku ma'rifah kepada Allah. Mari
kita resapi sebuah teladan tentang ma'rifatullah seorang anak manusia.
Ketika menuruni sebuah lembah, Umar bin Khaththab yang ditemani salah
seorang sahabatnya bertemu dengan seorang anak yang tengah menggembalakan
ratusan ekor kambing milik tuannya. Umar ingin menguji ma'rifatullah anak
tersebut dengan medesaknya agar mau menjual seekor saja dari kambing
gembalaannya. "Juallah kepadaku salah seekor kambing yang engkau gembalakan
itu," pinta Umar. "Aku tidak berhak menjualnya, karena kambing-kambing itu
milik tuanku," jawab si penggembala. "Katakan saja pada tuanmu bahwa salah
seekor kambing hilang diterkam srigala," uji Umar. Dengan tegas si
penggembala berkata, "Aku bisa saja mengatakan salah seekor kambing milik
tuanku hilang atau mati diterkam srigala. Mungkin ia akan mempercayai
alasanku, tapi bagaimana dengan Allah? Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha
Mengetahui?" Mendengar jawaban itu, Umar menangis terharu. Lalu beliau
membebaskan penggembala itu dengan cara menebusnya.

Perhatikanlah! Orang yang ma'rifah kepada Allah meyakini bahwa setiap gerak
langkahnya, ucapannya, dan getaran hatinya selalu diawasi oleh Allah, karena
Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi. Semut hitam yang berjalan di atas
batu hitam di malam kelam tak luput dari pengawasan-Nya. Sehelai daun kering
yang jatuh dari pohonnya di tengah hutan belantara tak lepas dari
perhitungan-Nya. Sebutir debu yang diterbangkan angin di tengah padang pasir
yang luas ada dalam kuasa-Nya. Deburan ombak di tengah samudera ada dalam
genggaman-Nya.

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia
bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan
segala apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa
yang naik kepadannya. Dan Dia besamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah
Maha Melihat apa kamu kerjakan" (QS Al-Hadid: 4).

Dengan keyakinan seperti ini, mereka tidak berani melanggar perintah dan
larangan Allah. Mereka tidak berani memakan harta yang bukan miliknya,
mereka tidak berani berdusta, dan mereka tidak berani melangkah di luar
garis yang telah ditetapkan oleh Allah. Setiap pelanggaran akan ada dosa,
dan setiap dosa akan berujung pada siksa api neraka. Ma'rifatullah akan
melahirkan rasa takut pada siksa Allah.

Renungkanlah! Orang yang mengenal Allah dengan pengenalan yang mendalam,
yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Betapa banyak nikmat yang
telah Allah berikan kepada manusia, tapi sering tidak disadari oleh manusia.
Kita sering memuji-muji indahnya pemandangan alam yang terhampar di depan
mata, tapi kita jarang memuji Pemberi mata kita. Kita sering kagum mendengar
suara gemercik air mengalir dari bebatuan, tapi jarang sekali kita mengagumi
kepada Pencipta telinga kita. Kita sering merasakan nikmatnya aneka makanan
yang disajikan, tapi kita lupa pada Pemberi lidah.

Apa yang akan kita rasakan seandainya Allah me-nonfungsi-kan mata kita?
Bagaimana sekiranya Allah mencabut pendengaran kita? Dan apa yang kita
rasakan bila Allah menghilangkan daya kecap lidah kita? Semua itu mudah bagi
Allah. Dan kita dapat menanyakan hal itu kepada orang-orang yang telah
kehilangan nikmat-nikmat tersebut.

Ma'rifatullah semestinya melahirkan rasa cinta dan ketergantungan kepada
Allah. Ma'rifatullah seharusnya memunculkan berbagai macam harapan, kiranya
Allah mempertahankan dan menambah semua nikmat dan karunia yang telah Ia
berikan.

Ma'rifah kepada Allah dapat kita lakukan dengan cara memikirkan dan
menganilisis semua ciptaan Allah di jagat raya ini. Rasulullah Saw.
bersabda, "Tafakkaruu fi khalqillaah, walaa tafakkaruu fi dzatillaah."
Pikirkanlah ciptaan-ciptaan Allah, dan jangan pikirkan tentang Dzat Allah.
Al-Qur`an banyak mendorong kita untuk mendayagunakan potensi akal kita untuk
mengenal Allah.

"Kami telah memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka
bahwa Al-Qur`an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu)
bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS Fushshilat: 53).

Sementara itu, kebodohan (jahl), kesombongan (takabbur), penyimpangan, dan
kezaliman adalah penyakit-penyakit yang dapat menghambat seseorang untuk
ma'rifah kepada Allah. Jauhilah sifat-sifat tersebut. Semoga Allah
menjernihkan hati dan pikiran kita dan menjauhkan diri kita dari
penyakit-penyakit yang dapat menghambat proses ma'rifah kita kepada Allah.
Wallahu a'lam bishshawab.