Pesene mbah yai biyen

"Lee awakmu cekelono 3 perkoro iki Lee....,
1. nyedek o karo poro wong sholeh
2. ngaji selalu di lakoni senajan dewean
3. jama'ah.
ojo sampek awakmu ninggal 1 wae teko 3 perkoro iki, gowoean sampek mati"

1. bersama dengan orang-orang sholeh.
adalah anugrah yg besar bagi orang-orang yang mengharap kemulyaan dunia akhirat dengan jalan sering duduk bersama dalam 1 majlis dg orang sholeh, karna dg begitu kita akan mudah mengenali diri termasuknya pengakit hati. di dekat orang sholeh kita akan mudah tersentuh dan malu berbuat salah, seperti halnya kita jarang sekali berucap SUBHANALLAH di deket orang sholeh walaupun hanya sekedar gaya lisanpun ikutan nyeplos kebaikan, minimal kita tidak akan berkata kotor di dekatnya, dari yang biasanya berkata asal-asalan,

dg sering berhadapan langsung dg para alim kita lambat laun akan hilang kebiasaan buruk yang ada, dg sering ngobrol bersama mereka minimal kita berkurang kebiasaan buruk kita, dengan begitu nur kesejukan akan merasuki diri kita tanpa kita sadari,

berbeda dg orang yg enggan dan jauh dari orang alim, kita akan seenak hati kita bicara karna merasa bebas dan tidak ada yg kita sungkani, sungguh terapi Inerbeauty yg gratis, mungkin hanya bermodal rokok ketika kita bersua bersama mereka, kita akan teraliri daya kekuatan NUR Allah masuk mulus di dalam diri hingga terpancar ketenangan kesejukan juga kebijaksanaan.

2. NGAJI
pernah mendengar katanya sih itu hadits,
"tidak akan menjadi baik apabila orang itu tidak mau ngaji"
walaupun dia KYAI, HAJI, BUPATI, Prof, DR, ketika sudah merasa cukup dg ilmunya maka itu adalah kesombongan terselubung tanpa kita sadari. kadang kita merasa sudah benar dan kelihatannya saja benar dg dalih perbuatan kita berdasarkan dalil/i'tibar kitab-kitab, tapi tanpa sadar kita telah mendahulukan nafsu/Ego ketimbang ketundukan.

ngaji berarti di sini artinya ada guru ada murid, dan kita yang menjadi murid atau pendengar, misalkan dalam sebuah acara tabligh akbar, atau pengajian rutin, bukan ngaji namanya jika kita hanya bertindak sebagai pengajar/ustadz/pembaca kitab saja, melainkan ngaji adalah duduk manis di hadapan sang pengajar.

kita semua tahu bahwa sebuatn kyai,profesor adalah pangkat yg di berikan manusia yg itu artinya bukan pasti pengakuan yg kuasa, maka NGAJI adalah pokok dari ilmu yg di transfer pada kita. jadi ngaji dg tadarus/nderes Qur'an it tidak sama dolor....

3. jama'ah
adalah kemunitas kebaikan yang bisa berarti sholat jama'ah, perkumpulan-perkumpulan, jam'iyah, silaturrahim, gaul, hijrah

kaku dan keras kepala ketika adalah orang yg tidak kenal orang umum dan mau berkumpul dg yang lain, pendek pandangan dan pola pikirnya, karna dg jam'iyah kita akan tahu bagaimana menggapai rohmad, rohmad yg berarti bentuk kasih sayang dalam memposisikan diri sebagai makluk, bila kita jadi tokoh maka kita akan tahu bagaimana mendidik ummat, bila kita jadi orang biasa kita akan tahu mewujudkan diri sebagai jama'ah.

tanda KERIFAN menurut dawuh syeh Syihabuddin semarang, adalah "bisa merubah bahasa agama menjadi bahasa rakyat, dg tanpa meninggalkan dasar aqidah, fiqh, thoriqoh,"

dan pesan kyai terakhir, kunci ketiga-tiganya adalah NGAJI....
 

 

Benar pesan orang sepuh

"duduk diam di samping penjual dedeg/katol tanpa beli pun badan wajah mendadak jadi kotor dan bisa jadi bersin-bersin, tapi bila kita duduk manis dekat penjual minyak wangi tanpa beli kita ikutan wangi"

begitu juga bila kita yang masih pada masa transisi kehidupan antara lemah dan kadang juga hilang sama sekali bila kita sering berkumpul dengan orang-orang yang kacau maka lama-kelamaan kitapun ikutan jadi kacau.namun bila kita sering berkumpul bersua bersama orang-orang yang baik, lama-kelamaan kita akan ikut menjadi baik.

memang benar teman dan lingkungan itu sangat berpengaruh pada diri kita, baik itu tingkah laku maupun fikiran juga hati serta emosionalism dalam dada kita, sering kita bergaul dengan ahli kebaikan maka lambat laun kebaikan itu akan menular dalam diri kita, orang payah teman dan lingkungan kita, payah juga diri kita.

lalu bagaimana apakah seorang santri harus menghindar dari anak-anak nakal (misalnya)

jawab.
bila hati kita masih di penuhi dengan syahwad-syahwad khofi maka sebaiknya menghindar, namun bila hati kita sudah kuat dan di niatkan untuk mengentas mereka maka gauli mereka yg masih tersesat jalan untuk kita entas pada tempat yg menjadikan mereka luntur keburukannya berubah jadi baik.

karna harus ada santri yg turun ke jalan untuk menjadi kail mereka-mereka yang tersesat jalan.

bukan karna slogan kumpuli yg baik-baik lalu kita menafiqkan mereka yg lemah, dan mencibir mereka yang katanya anak nakal pemabok, gak pernah sholat dll. tapi rangkul mereka untuk kita arahkan kepada hal yg baik,

adalah tugas seorang santri manfaatkan ilmu untuk membina yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak tahu agama menjadi tahu, yang tidak kenal Allah wa rosuluhu menjadi cinta dan taat.

dawuh yai Masduri almarhum
"tanda kemanfaatan ilmu adalah ketika ia mampu menyampaikan bahasa agama menjadi bahasa rakyat, sehingga mereka menjadi semangat mendalami ilmu agama"

pemahaman kami pada dawuh beliau adalah gak perlu banyak dalil, ta'bir/ibarot ketika ada orang awam bertanya masalah hukum,

kalau bukan santri yg mau turun ke bawah lalu siapa....???
adalah kesalahan besar jika menunggu kesadaran mereka tanpa ada yang menjemput bola...