Syarat Diterimanya Ibadah
 
Manusia diciptakan oleh Allah swt dengan satu tujuan, yaitu untuk 
ibadah
kepada-Nya. Ibadah dalam terminologi Islam mengandung makna yang sangat
luas. Ia meliputi seluruh perbuatan positif yang dilakukan oleh manusia
untuk kemaslahatan diri, keluarga, masyarakat, alam hewani, alam 
nabati,
maupun jagad semesta.
 
Yang dimaksud dengan positif di sini adalah positif menurut pandangan 
Allah
dan Rasul-Nya, karena pandangan kita tentang baik dan buruk terhadap 
sesuatu
belum tentu sesuai dengan pandangan Allah dan Rasul-Nya.
 
Manusia yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, manusia yang
menggunakan akalnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,
manusia yang mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta, manusia yang
bersahabat terhadap alam sekitarnya, semuanya dapat bernilai ibadah.
 
Meskipun demikian, tidak semua perbuatan positif dalam pandangan kita
bernilai ibadah di sisi Allah. Ada orang yang nyata-nyata telah 
melakukan
sesuatu yang bernilai ibadah di mata manusia, tetapi ditolak sebagai 
ibadah
oleh Allah swt. Ada orang yang berjihad di jalan Allah, ada orang yang
membaca Al Qur’an dengan tajwid yang baik, ada orang yang suka 
berinfaq;
ternyata ditolak oleh Allah swt pada hari pertanggungjawaban di padang
mahsyar. Tetapi ada orang yang hanya memberikan sereguk air kepada 
seekor
anjing yang kehausan menjadi salah satu pertimbangan Allah untuk 
memasukkan
orang tersebut ke surga-Nya.
 
Kriteria diterimanya Ibadah
 
Secara umum, ibadah akan diterima oleh Allah apabila memenuhi dua 
kriteria
utama, yaitu :
 
1. Melakukan perbuatan positif dengan niat ikhlas untuk Allah swt.
 
2. Melakukan perbuatan tersebut sesuai dengan contoh Rasulullah saw, 
atau
sejalan dengan ajaran Islam.
 
Dua kriteria ini mutlak harus dipenuhi, dan apabila salah satu dari dua
kriteria ini tidak terpenuhi maka perbuatan itu tidak bernilai ibadah 
di
mata Allah swt. Jika ada orang yang dengan ikhlas melakukan sholat 
subuh
empat rakaat karena menganggap dua rakaat terlalu sedikit, tidak 
bernilai
ibadah di sisi Allah karena tidak memenuhi kriteria kedua. Rasul secara
tegas mengajarkan dan mencontohkan bahwa sholat subuh hanya dua 
raka’at.
Sebaliknya, ada orang yang melaksanakan ibadah sudah sesuai dengan 
ajaran
dan perintah Islam seperti contoh di pendahuluan tulisan ini, ternyata
ditolak oleh Allah gara-gara tidak ikhlas untuk-Nya, tetapi dengan 
tujuan
untuk mendapatkan gelar-gelar duniawi di hadapan manusia, agar disebut
mujahid, qari’ , atau dermawan.
 
Karenanya, menjadi penting bagi kita untuk menelusuri lebih jauh dua
kriteria di atas agar seluruh perbuatan positif kita bernilai ibadah di 
mata
Allah swt.
 
 
Ikhlas
 
Allah memerintahkan seluruh manusia untuk beribadah dengan 
mengikhlaskan
niat hanya untuk-Nya. Setiap hari kita keluar rumah dengan tujuan 
mencari
nafkah untuk kebutuhan diri dan keluarga agar dapat membeli makanan 
yang
halal dan thayyib, pakaian yang layak , memiliki tempat tinggal yang
memadai, memenuhi biaya pendidikan untuk anak-anak dll. Jika niat kita
mencari nafkah agar makanan yang kita makan dapat membuat tubuh kita 
sehat
dan kuat untuk melaksanakan perintah Allah, pakaian yang kita beli 
untuk
menutup aurat yang diperintahkan Allah, tempat tinggal yang kita miliki
untuk melaksanakan perintah Allah,maka setiap usaha kita tersebut akan
bernilai di sisi Allah. Tetapi kalau kita bekerja hanya sekedar sebuah
rutinitas untuk memenuhi kebutuhan duniawi, maka kita hanya mendapatkan
dunia, dan tidak mendapatkan ganjaran di sisi Allah. 
 
Niat di dalam Islam menempati posisi kunci. Sebuah kerja yang sama yang
dilakukan oleh dua orang yang berbeda akan membuahkan hasil yang 
bertolak
belakang gara-gara niat, meskipun di mata manusia mungkin hasilnya 
sama.
Karenanya Rasulullah saw bersabda :
 
ÅäãÇ ÇáÃÚãÇá ÈÇáäíÇÊ , æÅäãÇ áßá ÇãÑíÁ ãÇ äæì , Ýãä ßÇäÊ åÌÑÊå Åáì Çááå
æÑÓæáå ÝåÌÑÊå Åáì Çááå æÑÓæáå , æãä ßÇäÊ åÌÑÊå Åáì ÏäíÇ íÕíÈåÇ Ãæ ÇãÑÃÉ
íäßÍåÇ ÝåÌÑÊå Åáì ãÇ åÇÌÑ Åáíå ( ãÊÝÞ Úáíå ) 
 
“Sesungguhnya semua amal itu tergantung niat, dan setiap orang 
tergantung
dengan niatnya. Apabila hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka 
hijrahnya
diganjar sesuai dengan niat hirahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Tetapi
apabila hijrahnya dengan niat untuk mendapatkan dunia atau untuk 
menikahi
seorang wanita, maka dia akan mendapatkan sesuai dengan niatnya”. 
(Muttafaq
alaih)
 
Karenanya Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan niat dan menjaga 
niat
melakukan seluruh perbuatan positif hanya untuk-Nya. Allah berfirman :
 
æóãóÇ ÃõãöÑõæÇ ÅöáøóÇ áöíóÚúÈõÏõæÇ Çááøóåó ãõÎúáöÕöíäó áóåõ ÇáÏøöíäó
ÍõäóÝóÇÁó (ÇáÈíäÉ : 5)
 
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” 
(Al
Bayyinah :5)
 
Dia juga memerintahkan kita untuk tidak menyia-nyiakan sedekah dengan 
caraa
menyebut-nyebutnya. Allah berfirman : 
 
íóÇÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÁóÇãóäõæÇ áóÇ ÊõÈúØöáõæÇ ÕóÏóÞóÇÊößõãú ÈöÇáúãóäøö
æóÇáúÃóÐóì ßóÇáøóÐöí íõäúÝöÞõ ãóÇáóåõ ÑöÆóÇÁó ÇáäøóÇÓö
(ÇáÈÞÑÉ : 264)
 
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan 
sipenerima),
seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia” 
(Al
Baqarah : 264)
 
Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan :
 
 
óÚäú ÃóÈöí åõÑóíúÑóÉó ÞóÇáó ÞóÇáó ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ 
Úóáóíúåö
æóÓóáøóãó ÞóÇáó Çááøóåõ ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇáóì ÃóäóÇ ÃóÛúäóì ÇáÔøõÑóßóÇÁö 
Úóäú
ÇáÔøöÑúßö ãóäú Úóãöáó ÚóãóáðÇ ÃóÔúÑóßó Ýöíåö ãóÚöí ÛóíúÑöí ÊóÑóßúÊõåõ
æóÔöÑúßóåõ (ÑæÇå ãÓáã)
 
 
 
“Dari Abi Hurairah RA.berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ta’ala
berfirman : “ Aku adalah Dzat Yang berserikat Yang paling tidak
berkepentingan dengan serikatnya. Barangsiapa yang melaksanakan amal 
yang
menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku akan tinggalkan dia dan
serikatnya”.
 
Inti dari keikhlasan adalah mengkhususkan setiap kata, aktivitas, dan
jihadnya, semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya. 
Semboyan
orang yang ikhlas adalah firman Allah :
 
 
 
Þá Åä ÕáÇÊí æäÓßí æãÍíÇí æããÇÊí ááå ÑÈ ÇáÚÇáãíä , áÇ ÔÑíß áå æÈÐáß ÃãÑÊ 
(ÇáÃäÚÇã : 162-163)
 
 
 
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, adalah
karena Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu baginya dan demikian
itulah yang diperintahkan kepadaku” (Al An’am : 162-163) 
 
 
Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW dan Ajaran Islam
 
Tujuan diutusnya Rasul selain sebagai pembawa berita gembira (basyir) 
dan
penyampai peringatan (nadzir), beliau juga diutus untuk ditaati dan
dijadikan uswah (contoh) bagi pengikutnya. Salah satu bukti kecintaan 
kita
terhadap Nabi adalah dengan mengikuti ajarannya. 
 
Allah berfirman :
 
Þá Åä ßäÊã ÊÍÈæä Çááå ÝÇÊÈÚæäí íÍÈÈßã Çááå æíÛÝÑ áßã ÐäæÈßã (Âá ÚãÑÇä : 
31)
 
“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. (Ali Imran :31)
 
Allah juga berfirman :
 
áÞÏ ßÇä áßã Ýí ÑÓæá Çááå ÃÓæÉ ÍÓäÉ áãä ßÇä íÑÌæ Çááå æÇáíæã ÇáÂÎÑ æÐßÑ 
Çááå
ßËíÑÇ
( ÇáÃÍÒÇÈ : 21)
 
 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang 
baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan 
(kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21)
 
Dalam banyak hal, Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk 
mengikuti
perbuatannya. Rasulullah bersabda :
 
ÕáæÇ ßãÇ ÑÃíÊãæäí ÃÕáí
 
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”
 
Rasulullah saw bersabda tentang tata-cara haji :
 
ÎÐæÇ Úäí ãäÇÓßßã
 
“Ambillah dariku untuk manasik kalian”.
 
Dalam masalah ibadah, mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh 
Rasulullah
adalah keharusan mutlak. Sedangkan dalam masalah mu’amalat dan 
pergaulan
sesama manusia, sebuah perbuatan positif baru akan bernilai ibadah jika
sesuai dengan ajaran Islam setelah berniat yang ikhlas untuk Allah swt.
 
 
Renungan
 
Setelah mempelajari dua kriteria di atas, mari kita merenung tentang
perbuatan-perbuatan positif kita sebelum ini, apakah sudah bernilai 
ibadah
atau belum. Kalau sudah, mari kita jaga dan tingkatkan kualitas ibadah 
kita.
Tetapi kalau ternyata kebanyakan perbuatan kita hanya untuk tujuan 
jangka
pendek, yaitu dunia, maka segeralah kita mengubah haluan hidup, untuk 
hidup
hanya buat ibadah sebagaimana diperintahkan.
 
Saudaraku !
 
Berhati-hatilah dengan penyakit riya’ yang menyelusup ke dalam hati 
untuk
menghancurkan sendi-sendi keikhlasan, karena ia lebih halus dari semut 
hitam
yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam. Dunia yang 
mengajarkan
kita tampil tidak apa adanya hari ini sangat mudah mengancam nilai 
ibadah
kita, dan mencampakkan kita ke neraka. 
 
Wallahu a’lam bishawab. 
 
www.ikadi.org