http://pk-sejahtera.org/modules/news/article.php?mn=8&storyid=2819

Kamis, 27 Januari 2005 11:48 WIB  (Terbaca: 13)

Tafsir AlQur-an
Tabiat Ahlul Kitab (2)

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab
(Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal
anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka
menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui" (QS Al-Baqarah:146).

Dalam ayat ini kita masih diingatkan oleh Al-Qur'an untuk mengetahui
lebih jauh lagi tentang sifat-sifat ahli kitab, baik Yahudi maupun
Nasrani. Pada ayat ini sekali lagi Allah menggambarkan bahwa mereka
tidak beriman kepada Rasulullah Muhammad Saw., padahal mereka itu
benar-benar mengenal Rasulullah Saw. Kenalnya ahli kitab kepada
Rasulullah Saw. sedemikian jelas, sehingga Allah Swt. gambarkan
sebagaimana kenalnya mereka kepada anak mereka sendiri.

Pada awal ayat, Allah mengatakan, "Alladziina aatainahumul kitaaba
ya'rifuunahu" (Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah Kami beri
Al-Kitab Taurat dan Injil mengenalnya). Walaupun nama Muhammad tidak
disebutkan di sini, namun dari sifatnya dapat kita pahami bahwa yang
dimaksud dengan "ya'rifuunahu" disini adalah Rasulullah Saw.

Dari segi "balaghatil Qur'an" (bahasa Al-Qur'an), ada hal khusus yang
ditampakkan oleh Allah Swt. Allah Swt. memilih lafadz "ya'rifuunahu"
dan bukan "ya'lamuunahu", padahal artinya sama-sama mengenal.

Apa maksud Allah dengan penggunaan kalimat tersebut? Ternyata ada
perbedaan pengertian antara "al-`ilmu" dan "al-ma'rifah" dalam
pemakaiannya. "Al-ilmu digunakan untuk mengetahui sesuatu yang tidak
kelihatan (ma'nawi), sementara lafadz "al-ma'rifah" itu digunakan
untuk mengenali sesuatu yang kelihatan fisiknya (hisiy), yang berarti
pengenalan itu sangat jelas. Penggunaan kalimat seperti ini juga
digunakan Allah Swt. dalam QS Al-Muthaffifin ketika Allah
menggambarkan bagaimana keadaan penduduk surga, Allah mengatakan,

"Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang
penuh kenikmatan" (QS Al-Muthaffifin: 24).

Gambaran kesenangan hidup penduduk surga itu dapat dilihat dari wajah
mereka. Ini artinya dapat dikenali dari sesuatu yang bersifat fisik,
karena memang wajah mereka memang kelihatan. Jadi lafadz "al-ma'rifat"
itu digunakan untuk mengenali sesuatu yang benar-benar jelas. Oleh
karena itu ketika Allah Swt. menggunakan kalimat "ya'rifuunahu" ini
karena orang-orang ahli kitab tersebut benar-benar mengenal Rasulullah
Saw., sebagaimana melihat segala sesuatu yang nampak jelas secara
fisik. Pengenalan ahli kitab ini karena kenabian Rasulullah Saw. sudah
diterangkan dalam kitab suci mereka yaitu dalam Taurat dan Injil.

Subhanallah, Allah selalu menggunakan kalimat yang sesuai dengan
tujuannya. Penggunaan lafadz ini menunjukkan bahwa pengertian atau
pemahaman itu sangat jelas, dan tidak ada subhat sedikitpun. Kita
paham bahwa tidak ada orang yang samar pada anaknya, kecuali kalau
sudah pikun.

Pengenalan Ahli kitab kepada Rasulullah Saw. digambarkan Allah Swt.
dengan menggunakan ungkapan kamaa "ya'rifuuna abnaa-ahum" (sebagaimana
mereka mengenal anak laki-laki mereka). Di sini Allah menggunakan
lafadz "abnaa ahum" (anak laki-laki), bukan "banaatihim' (anak
perempuan). Kalau kita perhatikan di masyarakat, biasanya mereka lebih
mengenal dan lebih dekat dengan anak laki-lakinya jika dibandingkan
dengan anak perempuannya. Kebutuhan orangtua kepada anak laki-laki
biasanya lebih tinggi daripada anak perempuan.

Ahli kitab ini begitu mengenal Rasulullah Saw. Hal ini bisa dilihat
dari, pertama, karena Allah menggunakan lafadz al-ma'rifah yang
berarti mengenal sesuatu yang kelihatan fisiknya (sangat jelas).

Kedua, diumpamakan seperti orang yang mengenal anaknya sendiri dengan
penggunaan lafadz "ya'rifuuna abnaa-ahum" yang menunjukkan tidak
adanya keraguan sama sekali.

Ketiga, penggunaan lafadz "abnaa ahum bukan banaatihim".

Akan tetapi walaupun sudah sedemikian jelasnya pengetahuan dan
pengenalan ahli kitab kepada Rasulullah Saw., tetapi mereka tetap
mengingkari kenabian Rasulullah. Mengapa Ahli Kitab ini kafir atas
kenabian Muhammad Saw? Jawabannya adalah karena totalitas hidup mereka
yang dikendalikan oleh hawa nafsunya, bukan kepada Allah Swt. Hal ini
telah Allah tegaskan pada ayat sebelumnya yaitu ayat 145 yang telah
dibahas.

Ayat ini Allah tutup dengan mengatakan, "Wa inna fariiqan minhum
layaktumuunal haqqa wahum ya'lamuun (dan sesungguhnya sebagian di
antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui).

Sifat-sifat ahli kitab yang lain adalah tidak mau mengakui suatu
kebenaran. Namun ada hal yang harus kita perhatikan di sini. Dalam
lanjutan ayat ini, Allah menggunakan lafadz fariiqan minhum (sebagian
dari mereka), bukan kulluhum (seluruhnya). Mengapa Allah menggunakan
lafadz fariiqan minhum, karena realitas sejarah membuktikan bahwa di
antara ahli kitab pada waktu itu ada yang beriman kepada Rasulullah
Saw. Beberapa orang Yahudi dan Nasrani yang benar-benar mengikuti
kebenaran, ketika mereka mengetahui bahwa Muhammad Saw. adalah
Rasulullah, mereka menyatakan keimanannya kepada beliau. Dari Yahudi
umpamanya ada Abdullah bin Salam yang adalah seorang ulama Yahudi.
Dari Nasrani umpamanya ada Sidq Ahrufi.

Penggunaan lafadz fariiqon minhum (sebagian dari mereka), menunjukkan
keobyektifan Al-Qur'an. Sekalipun dulunya mereka adalah ahli kitab
yang selalu memusuhi umat Islam, tetapi ketika mereka beriman kepada
Allah dan RasulNya, mereka adalah saudara kita. Islam tidak mengenal
adanya balas dendam. Makanya Allah menggunakan lafadz fariiqon minhum.
Disini kita ditunjukkan kedalaman makna Al-Qur'an sampai dalam
pemilihan lafadznya.

Jadi, sebagian dari ahli kitab itu menyimpan kebenaran tentang
kenabian Rasulullah Saw. dengan menolak beriman walaupun mereka
mengetahuinya. Kekafiran Ahli Kitab ini menegaskan bahwa ilmu saja
tidak cukup. Ahli kitab itu lebih tahu tentang kebenaran kenabian
Muhammad Saw. daripada Quraisy maupun suku yang lainnya, tetapi tetap
saja mereka tidak beriman. Ilmu yang dimiliki Ahli Kitab tersebut
tidak bermanfaat walaupun sekedar untuk dirinya sendiri.

Oleh karena itu kita diajarkan untuk berdo'a kepada Allah dengan
memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat, karena ada ilmu yang
tidak bermanfaat seperti ilmunya ahli kitab ini tidak memberikan
manfaat apaun, bahkan malah menjadikannya kafir. Wallahu a'lam
bishshawab. (Syamsu Hilal)