http://pk-sejahtera.org/modules/news/article.php?mn=8&storyid=2808
 
Selasa, 25 Januari 2005 16:16 WIB (Terbaca: 54)  
 
Tafsir AlQur-an
Tabiat Ahlul Kitab 
 
“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan
Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat 
(keterangan),
mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti
kiblat mereka, dan sebagian dari mereka pun tidak mengikuti kiblat 
sebagian
yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka 
setelah
datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan
orang-orang yang dholim” (QS 2:145).
 
Ayat ini menjelaskan tentang pengingkaran ahli kitab untuk mengikuti
kiblatnya kaum Muslimin. Kalau kita perhattikan pada ayat lain, 
sebenarnya
Ahli Kitab inijelas-jelas mengenal Rasulillah Saw. Dalam QòòS Ash-Shaf 
Allah
Swt. berfirman:
 
“Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai bani Israil,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang
turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan 
(datangnya)
seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad 
(Muhammad)".
Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti 
yang
nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata" (QS 61:6)
 
Ayat 6 dari QS Ash-Shaaf di atas menggambarkan bahwa sebelum Rasulullah
Muhammad Saw. diutus menjadi seorang Rasul pun, sebenarnya Ahli Kitab 
ini
mengetahui tentang akan diutusnya Muhammad sebagai Rasul. Namun 
demikian,
ketika Rasulullah Muhammad Saw. di utus kepada seluruh manusia, mereka
mengingkarinya. Mereka tidak mau mengikutinya. Mengapa mereka tidak mau
mengikuti Rasulullah, padahal mereka tahu tentang kebenaran kerasulan
Muhammad Saw.?
 
Ahli Kitab mengetahui tentang kebenaran kerasulan Muhammad Saw., bahwa
beliau benar-benar utusan Allah. Tetapi mereka tidak mengakui 
kiblatnya,
tidak mengakui kebenarannya, tidak mengikuti jalan hidupnya, seperti 
yang
tercantum pada awal ayat ini Wala-in ataitalladziina uutul kitaaba 
bikulli
aayatin maa tabi’uu qiblatak (Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan 
kepada
orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan 
Injil),
semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu). 
 
Kenapa mereka melakukan hal ini? Jawabnya adalah karena mereka tidak 
beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya. Tindakan yang dilakukan ahli kitab (Yahudi 
dan
Nasrani) ini bukan karena mereka tidak tahu, bukan karena mereka tidak
punyai ilmu. Mereka tahu bahwa Rasulullah Saw. itu utusan Allah, jelas 
dalam
kitab mereka diterangkan hal tersebut. Kenapa sampai tidak beriman, 
kenapa
mereka berbuat kerusakan, kenapa tidak menerima hidayah ? Jawabannya 
adalah
bahwa yang tidak dipunyai oleh Yahudi dan Nasrani (ahli kitab) adalah 
bahwa
mereka tidak bisa lepas dari hawa nafsunya (‘adamu tajrid ‘anil hawa), 
tidak
bisa lepas dari kepentingan pribadinya. Totalitas hidupnya bukan di 
jalan
Allah Swt. Jadi ketika seseorang totalitas hidupnya tidak diserahkan 
kepada
Allah, walaupun dia tahu tentang suatu kebenaran, dia tidak mau
mengikutinya. Pemahaman yang baik tentang hal ini sangat penting bagi 
kita
agar ketika kita menghadapi seseorang atau suatu masyarakat yang 
seperti
orang-orang ahli kitab ini, kita tidak tertipu olehnya.
 
Mengukur seseorang dari pengetahuannya semata tidak cukup (al-’ilmu 
wahdahu
laa yakfi) ilmu saja tidak cukup. Buktinya adalah Yahudi dan Nasrani 
lebih
tahu dan lebih mengenal tentang Muhammad daripada yang lainnya, tetapi
mereka tidak beriman kepada Rasulullah Saw. Kenapa? Karena totalitas
hidupnya bukan untuk Allah, sehingga ketika Allah menentukan Muhammad
sebagai Rasulnya, mereka tidak bisa menerimanya. Mereka tidak bisa
melepaskan dirinya dari hawa nafsunya, daripada kepentingannya. Ini
merupakan pelajaran bagi kita untuk senantiasa mengingatkan diri kita 
dan
masyarakat kita agar tidak menjadikan tingginya ilmu yang dimiliki oleh
seseorang sebagai standar ketinggian. 
 
Kalau seseorang atau sekelompok orang tahu banyak tentang suatu 
kebenaran
tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut, bahkan melakukan
penyimpangan-penyimpangan, sangat mungkin ilmu sudah mereka miliki. 
Tetapi
mereka tidak bisa melepaskan dari pengaruh hawa nafsunya sehingga 
totalitas
hidupnya tidak diserahkan kepada Allah Swt. Yang ada adalah 
kepentingannya,
dan demi memenuhi kepentingannya tersebut mereka mau melakukan apa 
saja.
Kalau sudah demikian, tidak ada artinya kebenaran yang diketahuinya, 
karena
penyimpangan-penyimpangan tetap saja dilakukan.
Inilah hikmah ketika kita berbicara tentang Ahli Kitab. Fenomena ahli 
kitab
ini adalah fenomena tentang lapisan masyarakat yang terpelajar, apa itu
guru, apa itu mahasiswa, apa itu tokoh masyarakat, yang melakukan
pelanggaran dan penyimpangan. Sekali lagi penyebabnya bukan karena 
mereka
tidak mengetahui, tetapi karena lebih mementingkan untuk mempertahankan
kedudukannya dan kepentingannya itu.
 
Mungkin juga ini berkaitan dengan diri kita. Banyak umat Islam yang 
sudah
tahu ini halal, ini haram, ini wajib, ini harus, tetapi kenapa kita 
sampai
masih berbuat maksiyat. Kenapa masih banyak pelanggaran yang dilakukan 
umat
Islam? Pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian umat Islam tersebut
menunjukkan bahwa pada dirinya ada ketidakberesan. Kita belum bisa
melepaskan seluruh pengaruh hawa nafsu kita. Bukankah orang yang minum
munuman keras, mereka tahu kalau minum minuman keras itu haram? Mereka 
tahu.
Tetapi kenapa mereka masih mau minum dan mabuk-mabukan? Tidak lain 
karena
hawa nafsunya telah mendominasi dirinya.
 
Orang yang korupsi atau kolusi, bukankah mereka itu terpelajar? 
Bukankah
ketika mereka masih jadi pelajar atau mahasiswa ikut demonstrasi anti
korupsi atau kolusi? Tetapi ketika dia yang berkesempatan untuk 
melakukan
korupsi dan kolusi, kenapa dia korupsi juga? Bukan berarti dia tidak 
tahu
yang halal dan yang haram, akan tetapi hawa nafsu dan kepentingannya 
yang
mendominasi dirinya.
 
Dalam realita sekarang kenapa dakwah kepada orang-orang yang sudah 
pernah
belajar Islam kadang-kadang lebih sulit daripada yang sama sekali belum
pernah belajar Islam. Kenapa? Kisah tentang Ahli Kitab ini dapat kita
jadikan rujukan untuk menjawab dan menganalisa realita tersebut. Orang 
yang
pernah belajar Islam, baik di Pesantren atau di Perguruan Tinggi, 
mereka
merasa seolah-olah ilmu yang didapatkannya telah cukup baginya untuk 
selamat
dari adzab Allah. Orang-orang seperti ini kadang-kadang merasa lebih 
pintar
daripada yang mendakwahi. Orang-orang yang mempunyai pandangan semacam 
ini
sulit untuk menerima kebenaran yang dikemukakan orang lain. Ketika
menghadapi orang yang demikian, kita disuruh berjidal atau berdebat 
seperti
kata Allah dalam surat An-Nahl ayat 125:
 
"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang 
baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu
Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari 
jalan-Nya dan
Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS
An-Nahl 125).
 
Ahli tafsir mengatakan bahwa berdakwah dengan berjidal ini, seperti 
kata
Allah billati hiya ahsan itu ditujukan kepada ahli kitab, dan 
orang-orang
yang berilmu tetapi mereka tidak mau mengikuti dakwah ini. Kenapa tidak
dengan nasehat? Karena nasehat sangat tepat jika ditujukan bagi orang 
yang
tidak tahu. Nasehat memang untuk semua manusia, tetapi nasehat akan 
mudah
diterima bagi orang yang memang tidak tahu. Bagi orang yang sudah tahu
tentang sesuatu tetapi dia tidak mau mengamalkan kebenaran yang
diketahuinya, caranya harus dengan wajadilhum billati hiya ahsan 
(berjidal
dengan cara yang ahsan).
 
Ketika Ahli Kitab tidak mau mengikuti Rasulullah Saw., apa sikap 
beliau? Apa
beliau harus mengalah? Tidak. Allah mengatakan wamaa anta bitaabi’in
qiblatahum (dan tidaklah kamu mengikuti kiblat mereka). Dalam ilmu 
lughoh
jumlah yang berbunyi wamaa anta bitaabi’in qiblatahum ini disebut 
jumlatul
ismiyat yang artinya tetap eksis dan kontinyu. Ini mengandung arti 
bahwa
jangan sekali-kali kita mengikuti kiblatnya Ahli Kitab. Moral kehidupan 
kita
jangan sampai meniru Ahli Kitab. Pesan Allah ini yang belum kita 
laksanakan.
Sistem ekonomi kita meniru mereka, sistem politiknya dan sistem
pendidikannya kita meniru mereka. Sisi yang lainnya dalam hidup kita 
yang
lainnya juga banyak meniru mereka. 
 
Dalam bidang pendidikan misalnya, jika kita bicara Islam dari jaman 
Rasul
sampai jaman generasi yang menjadikan Islam sebagai petunjuk hidupnya, 
tidak
ada sekolah yang ikhtilat, yang mencampurkan antara laki-laki dan 
perempuan.
Terhadap realita yang berbeda dengan sistem dalam Islam itu, mungkin 
kita
beralasan bahwa keadaan sekarang bisa disebut darurat. Kita berpikiran 
jika
antara laki-laki dan perempuan dipisah nanti gurunya banyak, 
menggajinya
bagaimana? Dalam hal ini kita menggunakan alasan darurat untuk sikap 
kita
yang demikian. Tetapi ketika disebut darurat, sesuatu yang darurat itu 
ada
batasnya, dan tidak berlangsung terus menerus. Tidak bisa sampai mati 
kita
masih menggunakan alasan darurat. Dalam aturan Islam, ketika kita
diperbolehkan makan bangkai karena kita lapar, setelah kita makan dan 
sudah
cukup menghilangkan lapar, kita tidak diperbolehkan meneruskan makan 
dengan
alasan darurat. 
 
Umat Islam yang tidak memahami ayat semacam ini sangat mudah terjebak
mengikuti cara hidup Ahli Kitab. Dalam pendidikannya, ekonominya, 
sosialnya,
dan sebagainya. Padahal jelas-jelas Allah mengatakan wamaa anta 
bitaabi’in
qiblatahum (janganlah kalian mengikuti kiblat mereka). Allah menegaskan 
ini
tidak kebetulan. Bukan berarti kalau nanti suatu saat kita mengatakan 
bahwa
kondisinya lain, kita boleh mengikuti mereka. Tidak ada begitu.
 
Sebaliknya Allah mengatakan wamaa ba’dhuhum bitaabi’in qiblata ba’dh
(sebagian mereka tidak mau mengikuti sebagian yang lain). Ini penegasan
Allah berikutnya. Jangankan kita, sebagian mereka saja tidak mau 
mengikuti
sebagian yang lain. Yahudi dan Nasrani pada dasarnya selalu ribut, 
hanya
kita tidak mengetahui. Sebenarnya kepentingan-kepentingan Yahudi dan 
Nasrani
sering bertabrakan. Dalam melakukan lobi-lobi di Amerika misalnya, 
mereka
selalu “cakar-cakaran”. Demikian pula dalam banyak hal lainnya. Hanya 
ketika
menghadapi Islam mereka bersatu. Walaupun ketika mereka sedang 
memperebutkan
kepentingan mereka masing-masing, ketika itulah mereka tidak akan 
mengikuti
yang lain.
 
Selanjutnya Allah Swt. mengatakan wala inittaba’ta ahwaa-ahum min ba’di 
maa
jaa-aka minal ‘ilmi innaka idzal laminazhzhoolimiin (Dan sesungguhnya 
jika
kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu yaitu
Al-Qur’an, Al-Islam, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan
orang-orang yang zholim). Lanjutan ayat ke 145 dari QS Al-Baqarah ini
mengatakan jika Rasulullah Saw. saja, kalau beliau mengikuti selera 
Ahli
Kitab, hawa nafsu Ahli Kitab, sekalipun beliau seorang Rasul, sekali 
saja
Muhammad mengikuti ahli kitab, beliau termasuk orang yang zalim. 
Apalagi
kita yang tidak ada hubungan darah dengan Rasulullah Saw. Ini artinya 
bahwa
dalam Islam tidak ada basa-basi. Siapapun yang menentang ajaran Allah, 
dia
adalah zalim. 
 
Ini pernyataan yang tegas dari Allah yang harus kita taati. Kita jangan 
suka
berstrategi untuk menyiasati aturan Allah ini. Kita tidak usah takut 
manusia
akan lari jika kita mentaati aturan Allah ini. Makanya , kita jangan 
sampai
mengatakan “Pak, mereka tidak mau ikut kalau kita begitu.... Pak, kalau 
kita
tidak begini nanti tidak diterima masyarakat”, dan perkataan-perkataan 
yang
sejenis dengan itu. Kita harus ingat pesan Allah. Dakwah ini dilakukan
dengan mengikuti jalan Allah, bukan untuk mengikuti selera masyarakat.
Memang boleh kita mempertimbangkan sesuatu untuk kemashlahatan, 
sepanjang
hal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang digariskan oleh 
Allah
Swt. Tetapi jika yang terjadi adalah bahwa pertimbangan kita tersebut
bertentangan dengan prinsip yang digariskan Allah, maka ini sangat 
dilarang.
Kita sekarang ini terlalu banyak membuat kebijakan-kebijakan tanpa
memperhatikan dasar-dasar aqidah yang digariskan Allah. Ini harus kita
rubah. Jadi kita berdakwah itu untuk menuju jalan Allah Swt. 
 
Jadi standar dalam dakwah kita adalah Islam, bukan selera masyarakat.
Mungkin kita bertanya, bahwa jika kita selalu berpegang pada prinsip 
yang
digariskan Allah malah sulit diterima masyarakat. Siapa bilang? 
Rasulullah
Saw. juga ketika berdakwah, awalnya memang tidak diterima masyarakat. 
Tetapi
beliau tetap berpegang pada prinsip yang digariskan Allah. Dan hasil 
yang
dicapai Rasulullah, dengan izin Allah sedemikian menakjubkan. Ini 
menegaskan
agar nilai yang kita anut harus tetap. Nilai yang kita pegang itu 
adalah
ajaran Allah Swt., bukan selera masyarakat. Jika selera yang dianut 
oleh
masyarakat tidak sesuai dengan ajaran Allah, akan menjerumuskan kita 
kepada
kedholiman.
 
Ketika Allah menurunkan jumlatan ismiyat ini tidak kebetulan, tetapi 
Allah
memilih dengan hikmah, supaya ummat Islam itu jangan sedikitpun 
mengikuti
jalan yang dibentangkan oleh Yahudi. Ketika Umar bin Khathab Ra. 
menjadi
kholifah, beliau berusaha untuk merapikan masalah kenegaraan seperti
administrasi negara (bukan berarti sebelumnya tidak rapi, tetapi 
sebelumnya
belum sempurna sehingga perlu disempurnakan). Ketika Umar Ra. akan
mengadakan pembenahan, beliau membutuhkan orang-orang yang ahli dalam 
tata
negara. Suatu saat gubernurnya menawarkan seorang kristen yang ahli 
tata
negara untuk bekerja di idaroh (di kantor kenegaraan), karena orang ini 
ahli
dalam administrasi. 
 
Apa kata Umar bin Khathab? Apa beliau mengatakan, “Wah Anda baik, Anda
betul-betul bisa mencari orang yang kita butuhkan, karena pada 
tahun-tahun
ini kita butuh ahli semacam ini”. Tetapi apa kata Umar? Beliau berkata,
“Apakah kalau orang kristen itu mati, kita tidak lagi dapat bekerja? 
Saya
tidak mau menerima semua ini”. Begitu kata Umar. Padahal orang kristen 
itu
benar-benar ahli dan negara sedang membutuhkan. Itupun Umar bin Khothob
menolaknya. Betapa Umar betul-betul mmemahami dan mengamalkan isi ayat 
ini.
 
Secara umum kita katakan, bahwa tidak mungkin mereka, orang-orang 
kristen
itu bekerja tanpa pamrih. Pasti dia mempunyai tujuan-tujuan tertentu. 
Mana
ada orang kristen yang bekerja dia tidak mencari posisi untuk 
mendakwahkan
agamanya? Karena thabi’ah ma’rakah (karakter peperangan) antara haq dan
bathil itu tidak pernah selesai. Ketika al-haq sedang eksis, al-bathil
datang. Dia tidak akan merasa aman, merasa terganggu. Mereka pasti
yataharrak (bergerak), maka orang jahiliyah selalu bergerak. Oleh 
karena itu
jika ada orang beriman yang tidak berdawah, berarti dia tidak 
mengetahui
thobi’atul haq (hakekat kebenaran). Cacing saja ketika kita pegang dia
bergerak, padahal mau kita selamatkan, kita pindah pada air yang 
bersih.
Justru ketika kita masukkan cacing tersebut ke dalam air kolam yang 
bersih
dia tidak betah, karena sudah biasa di tempat yang kotor. Kehidupan 
cacing
ini contah bagi kita. Kita mengajak mereka (orang-orang yang kotor itu)
supaya dia bersih dari dosa, supaya dia baik. Tetapi ketika kita tarik
kepada sesuatu yang bersih, dia bergerak, dia menggeliat dan melawan. 
Dia
akan tetap mempertahankan eksistensi kebathilannya. Inilah pelajaran
berharga dari Allah yang harus kita perhatikan. Wallahu a’lam 
bishshawab. 

 

http://pk-sejahtera.org/modules/news/article.php?storyid=2806

Selasa, 25 Januari 2005 12:51 WIB

Materi Kaderisasi
Kebenaran dan Kebatilan
Oleh: Syamsu Hilal

Dan katakanlah, "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap".
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap" (QS Al-Isra:
81).

Al-haq adalah kebenaran mutlak yang datang dari Allah Swt. Allah adalah
sumber kebenaran dan kepastian. Sementara kebenaran yang berasal dari
manusia, sesungguhnya merupakan refleksi dari adanya fitrah dan atau
interaksi manusia itu dengan ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliyah
(Al-Qur`an) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam
semesta, termasuk yang ada pada diri manusia itu sendiri). Dengan demikian,
bila kita berpihak kepada kebenaran (al-haq), maka sesungguhnya kita
berpihak kepada Allah Swt. Dan bila kita menjadi pendukung kebenaran, maka
sama artinya kita menjadi pendukung atau penolong Allah (ansharullah).
Setelah kita meyakini Allah Swt. sebagai sumber kebenaran, langkah
selanjutnya adalah memperjuangkan kebenaran itu hingga menjadi eksis di muka
bumi. Inilah penegasan Allah Swt. dalam firman-Nya,

"Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu" (QS Al-Baqarah: 147).

Jadi, sekali lagi, kebenaran (al-haq) hanya berasal dari satu sumber, yaitu
Allah Swt. Kebenaran (al-haq) yang berasal dari Rasulullah Saw. pada
hakikatnya juga bersumber dari Allah Swt.
Karena Rasulullah Saw. hanyalah
penyampai risalah dan firman Allah kepada umat manusia. Dengan demikian,
sesuatu yang dianggap benar oleh manusia atau sekelompok manusia, akan
tetapi tidak bersandar pada hukum dan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, maka
hal itu bukanlah kebenaran (al-haq). Bahkan bila sesuatu yang dianggap benar
oleh manusia atau sekelompok manusia itu bertentangan dengan hukum dan
ketentuan Allah dan Rasul-Nya, maka yang demikian itu adalah kebatilan
(al-bathil).

Kalau kebenaran (al-haq) itu bersumber dari Allah Swt. lalu diperjelas oleh
Rasul-Nya, maka ketika terjadi perselisihkan pendapat tentang suatu masalah
di antara manusia, mestilah rujukannya adalah Allah dan Rasul-Nya, agar
tidak menimbulkan fitnah, kebencian, permusuhan, pertikiain, dan peperangan.
Penyelesaian perselisihan yang merujuk kepada hukum buatan manusia, selalu
akan menimbulkan masalah dan perselisihan baru yang spektrum dampaknya dapat
makin meluas. Karena hukum buatan manusia memiliki ciri inkonsistensi, mudah
ditarik ulur, dan multiinterpretasi, penerapannya tergantung kepada siapa
yang hendak dimenangkan. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya
yang lain,

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya, dan ulil
amri di antara kamu. Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS An-Nisa`: 59).

Di sisi lain ada al-bathil -- lawan al-haq - yaitu segala sesuatu yang
bersumber dari selain Allah dan Rasul-Nya. Al-bathil adalah segala sesuatu
yang bertentangan dengan ketentuan dan hukum Allah. Firman Allah Swt.,

"Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia
mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya
kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang
merugi'" (QS Al-Ankabut: 52).

Kebatilan juga segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat bagi kehidupan
manusia di dunia dan di akhirat, sebagaimana dijelaskan oleh Allah Swt.
dalam firman-Nya,

"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di
lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang.
Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan
atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah
membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan
hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat
kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan" (QS Ar-Ra'd: 17).

Dalam ayat ini, al-haq (kebenaran mutlak) diumpamakan sebagai barang tambang
(besi, baja, perak, emas, dan lain-lain) yang bermanfaat bagi manusia.
Sedangkan al-bathil diibaratkan buih yang mengapung dan akan lenyap lantaran
tak bermanfaat untuk manusia.

Al-haq dan al-bathil adalah dua makhluk Allah yang tidak akan pernah bertemu
dalam satu tempat dan selalu bertolak belakang. Al-haq adalah musuh abadi
al-bathil. Keduanya selalu bertarung sejak manusia pertama (Nabi Adam As.)
diciptakan Allah, dan akan selalu berperang sampai datang hari kiamat.
Perseteruan al-haq dan al-bathil akan selalu ada mewarnai kehidupan manusia
di muka bumi ini. Di barisan al-haq ada para nabi dan rasul, syuhada, dan
orang-orang shalih, sedangkan di barisan al-bathil ada iblis, syetan,
sebagian jin, orang-orang kafir, musyrik, dan munafik.

Peperangan antara al-haq dan al-bathil terjadi dalam lingkup kecil, yaitu
dalam qalb -- jantung, tapi kita sering menyebutnya hati - manusia seperti
dijelaskan Allah Swt.,

"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya" (QS Asy-Syams: 7-10).

Fujur sebagai salah satu benih al-bathil dan taqwa sebagai satu-satunya
benih al-haq telah tertanam di dalam qalb manusia sejak manusia itu
diciptakan. Fujur dan taqwa akan selalu berperang saling mengalahkan dan
saling mendominasi.

Dalam lingkup yang paling luas, peperangan antara al-haq dan al-bathil
diwakili oleh hizbullah (golongan Allah) dan hizbusysyaithan (golongan
syetan). Hizbullah adalah kelompok manusia pembela Allah, sedangkan
hizbusysyaithan adalah kelompok manusia pembela dan pemuja setan. Dan dalam
konteks kehidupan manusia, pertarungan antara al-haq dan al-bathil
direpresentasikan oleh Mukmin sebagai pendukung al-haq dan Yahudi dan
Nasrani sebagai pendukung al-bathil. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt.
melalui firman-Nya,

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu (orang-orang
Mukmin) hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya
petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'. Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah
tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu" (QS Al-Baqarah: 120).

Tentu saja dalam menjalankan misi sesatnya, Yahudi dan Nasrani, menggunakan
berbagai macam sarana. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuannya, termasuk berdusta, menipu, meneror, menyiksa, dan cara-cara keji
lainnya. Di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, proyek
penyesatan dan pemurtadan yang dilakukan hizbusysyaithon tampak jelas
terlihat. Mereka berupaya keras untuk menjauhi umat Islam dari Al-Qur`an dan
As-Sunnah, agar ajaran sesat dan ajaran bathil yang mereka paksakan tidak
mendapat tantangan.

Kuku-kuku hizbusysyaithon telah menancap kuat di Irak, Afghanistan, Kuwait,
Palestina, dan beberapa negeri Islam lainnya. Tak terkecuali Indonesia.
Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, terpuruk tak berdaya oleh
jerat lembaga dunia yang dikuasai Yahudi dan Nasrani, seperti CGI, IMF,
World Bank, PBB. Sampai-sampai pesawat dan kendaraan tempur yang dibeli dari
Barat dan sudah menjadi hak Indonesia sepenuhnya, tidak boleh digunakan
untuk memerangi kaum separatis yang ingin melepaskan dari NKRI.

Meski Allah Swt. menjanjikan kemenangan bagi pendukung al-haq dan
menghancurkan para pendukung al-bathil, namun pertempuran antara al-haq dan
al-bathil tetap dalam bingkai sunnatullah. Sunnatullah mengatakan yang kuat
mengalahkan yang lemah dan yang terorganisasi akan melumpuhkan yang tidak
terorganisasi. Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Al-haq yang
tidak terorganisasi akan dapat dikalahkan oleh al-bathil yang diorganisasi".


Dengan demikian, kemenangan yang dijanjikan Allah Swt. harus diperjuangkan
dan dijalani sabab-musababnya. Umat Islam tidak bisa berdiam diri sambil
berpangku tangan menunggu datangnya kemenangan yang dijanjikan Allah.
Sunnatullah kemenangan al-haq atas al-bathil harus ditempuh melalui jihad
fii sabiilillaah. Oleh karena itu, para mujahidin Palestina tidak
henti-hentinya berjuang dan berjihad melawan pendukung al-bathil yang
diwakili oleh Israel-AS beserta antek-anteknya. Jihad tiada henti itu akan
terus berkobar hingga Israel-AS beserta sekutunya merasakan pahitnya
kematian dan getirnya kekalahan. Begitulah sunnatullah yang berlaku atas
para nabi dan rasul serta para salafush shalih yang memperjuangkan al-haq.

Peperangan al-haq dan al-bathil dalam konteks peradaban, pada beberapa sisi
kehidupan manusia telah meruntuhkan nilai-nilai akhlak dan moral. Ketika
gelombang al-bathil menggulung al-haq dan norma-norma kebaikan terdistorsi,
sekelompok orang lebih bangga bila disebut sering keluar masuk kafe, dan
merasa rendah diri bila disebut sering keluar masuk masjid. Sebagian lainnya
lebih suka disebut sebagai orang yang pernah meniduri sepuluh wanita.
Sebaliknya, wajahnya tampak muram bila ada yang mengatakan bahwa dia
melakukan poligami.

Dalam lingkup keluarga, tidak sedikit orangtua yang merasa bangga bila anak
gadisnya pandai berjoget. Sementara, pada saat yang sama, mereka tidak
merasa sedih melihat anaknya tidak bisa membaca Al-Qur`an atau sekedar
mengucapkan kata Allah dengan pengucapan yang benar. Sebagian orangtua
sangat bangga menyaksikan anaknya menjadi putri Indonesia atau bahkan miss
univers. Tapi, mereka tidak mengapresiasi anaknya yang menjadi aktifis
dakwah di kampus atau di sekolah.

Persiapan Diri Menuju Kemenangan Al-Haq
Dalam QS Al-Isra` ayat 78-80, Allah Swt. menjelaskan beberapa persiapan
pribadi yang harus dilakukan oleh setiap Mukmin agar al-haq dapat
menghancurkan al-bathil.

Pertama, mendirikan shalat lima waktu. Allah Swt. berfirman,

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan
(dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan
(oleh malaikat)" (QS Al-Isra`: 78).

Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa shalat adalah tiang agama, siapa yang
mendirikan shalat berarti menegakkan agama, dan yang meninggalkan shalat
berarti meruntuhkan agama. Dalam hadits lain, Beliau Saw. juga menjelaskan
bahwa salah satu fungsi shalat adalah sebagai penghapus dosa.

"Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan rumah salah seorang
daripadamu, lalu ia mandi daripadanya lima kali sehari, apakah masih tersisa
kotoran di badannya?" Sahabat menjawab, "Tidak". Maka demikianlah shalat
lima waktu. Allah menghapus dengannya dosa-dosamu" (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, shalat lima waktu yang telah ditentukan waktu-waktunya akan
membuat setiap Mukmin yang mendirikannya berdisiplin dalam hal pemanfaatan
waktu. Shalat mengajarkan 'amal jama'i (bekerja secara terencana dan
terorganisasi). Makmum harus mengikuti imam.
Dan imam harus bersedia ditegur
makmum bila melakukan kesalahan dan kekeliruan. Dengan demikian, para
prajurit al-haq memiliki sikap disiplin untuk selalu membela agama Allah dan
senantiasa membersihkan diri dari segala sesuatu yang berorientasi dunia.

Kedua, melaksanakan shalat Tahajjud sebagai ibadah tambahan agar Allah Swt.
meninggikan derajat orang-orang beriman. Allah Swt. berfirman,

"Dan pada sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah
tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang
terpuji" (QS Al-Isra`: 79).

Rasulullah Saw. menjelaskan ada saat-saat dimana doa seorang hamba selalu
dikabulkan oleh Allah Swt., salah satu di antaranya adalah pada sepertiga
malam terakhir. "Pada waktu malam, ada saat tiada seorang Muslim yang dapat
menemukannya lalu ia sedang meminta kepada Allah sesuatu kebaikan, melainkan
pasti akan diberi-Nya, baik kebaikan soal dunia maupun akhirat. Dan saat itu
adalah pada tiap malam" (HR Muslim). Dengan demikian, pendukung al-haq akan
senatiasa yakin akan kemenangan yang dijanjikan Allah Swt.

Ketiga, selalu merujuk pada hukum dan ketentuan Allah dalam menjalankan
semua aktifitas kehidupan. Allah Swt. berfirman,

"Dan katakanlah, 'Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan
keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku
dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong'" (QS Al-Isra`: 80).

Ayat ini bisa dipahami bahwa setiap Muslim harus memulai dan mengakhiri
setiap aktifitas dengan benar (shidq). Benar dalam arti sesuai dengan
ketentuan dan hukum Allah Swt. dan Rasul-Nya. Allah Swt. menurunkan
Al-Qur`an kepada manusia sebagai manhajul hayah (pedoman dan petunjuk
kehidupan) dan mengutus Rasulullah Saw. sebagai sosok yang harus diteladani.
Hanya dengan inilah nashrun minallah (pertolongan Allah) ada datang.

Keempat, menyusun bairisan dengan rapi. Ini amat penting, mengingat Ali bin
Abi Thalib berkata, "Kebenaran (al-haq) yang tidak diorganisasi dengan rapi,
dapat dikalahkan oleh kebathilan yang diorganisasi dengan rapi."

Syarat ini pun diperintahkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, "Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh" (QS
Ash-Shaff: 4).

Ayat di atas lalu dipertegas oleh ucapan Ali bin Abi Thalib, yang tentunya
didasari oleh pengalamannya dalam berdakwah, menegaskan bahwa para penegak
dan pejuang kebenaran harus bersatu padu dalam memerangi kebathilan, karena
kebathilan yang ada sekarang ini merupakan kebathilan yang diorganisasi
dengan rapi dan kuat.

Setelah keempat prasyarat di atas terpenuhi, barulah Allah Swt. memenuhi
janji-Nya. "Dan katakanlah, 'Yang benar telah datang dan yang bathil telah
lenyap'.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap" (QS
Al-Isra: 81).

Inilah janji Allah Swt. kepada para pendukung al-haq. Kebatilan tidak dengan
serta merta lenyap sebelum ada upaya dan usaha dari umat Islam untuk
memeranginya dengan persiapan diri yang kokoh dan pengorganisasian gerakan
dakwah yang rapi dalam satu barisan. Semoga Allah Swt. menjadikan kita para
pendukung al-haq. Wallahu a'lam bishshawab.