4

 
 darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk mem-bersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan ma-nusia, agar manusia mengorientasikan kehidu-pannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kese-jatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat kesera-kahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesada-rannya agar bersedia berqurban untuk sesama-nya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.

Text Box: Bulletin ini diterbitkan oleh KangTaqi Foundation dan Komunitas Muslim Muda Alfikr [KOMMA] Blog: www.kommabogor.wordpress.comDengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, meng-asah kepekaannya dan menghidupkan hati nura-ninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasya-rakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Dua Ibadah penuh rasa cinta

Bagi kaum muda maupun tua, cinta adalah rasa paling berharga. Bagi seorang ibu, betapa pun jeleknya muka anaknya, misalnya, namun sang ibu tetap mencintainya sebagai darah dagingnya. Ia pun tetap mengurusinya penuh keikhlasan. Bagi seorang suami, cinta merupakan perekat dan pengikat hubungannya dengan sang isteri. Cinta berbeda dengan suka. Suka hanya bersifat tiba-tiba, instant (praktis), dan mudah hilang. Se-dangkan cinta merupakan kecocokan jiwa dan hati, selalu terbenam dalam hati, dan untuk men-jaganya diperlukan pengorbanan penuh keikh-lasan.

Manusia sebagai makhluq, diciptakan oleh Allah Swt. Sebagai makhluq, kita senantiasa meng-hambakan diri kepadaNya penuh cinta dan keikhlasan. Bahkan, dengan kecintaan Ibrahim kepada Allah Swt., ia ikhlas mengorbankan putra yang dicintainya. Padahal, di satu sisi Ibrahim mencintai putranya (karena umur 80an tahun baru dkaruniai utera), dan di sii lain ia harus membuktikan kecintaannya pada sang Khaliq. Akibat engorbanannya itu, ia dijuluki Khalilullah.

Haji dan qurban, merupakan dua ibadah pem-buktian kecintaan dan keikhlasan kita kepada sang Khaliq. Ingat, tidak akan pernah ada kata cinta tanpa ada pengirbanan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Sekjen KOMMA

Simak Tahsin Alquran

bersama KANG TAQI di Radio 106 Mars FM setiap Malam Ahad,

pukul 19.10 s.d. 20.00 WIB

1

 
IBADAH QURBAN DAN HAJI; BUKTI CINTA MAKHLUQ KEPADA KHALIQ

Oleh KANG TAQI*)

Sejak pertengahan November 2008 ini, calon jama’ah haji asal Indonesia mulai berbondong-bondong mendatangi kota Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah rukun Islam kelima. Sabtu, 29 Desember ini pun merupakan awal dari bulan Dzulhijjah (bulan yang memiliki fungsi waktu untuk berhaji) 1429 hijriah. Alhasil, sepuluh hari selanjutnya merupakan hari raya Idul Adha atau Idul Qurban.

Pada bulan penuh agung tersebut, setidaknya ada dua ibadah yang menjadi ritual umat Islam, yaitu: ibadah haji dan ibadah qurban.

Haji menurut bahasa ialah berkunjung, karena dalam ibadah ini seorang muslim mengunjungi dua masjid agung nan mulia: Masjid al-Haram (baitullah, tempat beradanya ka’bah) di Makkah dan Masjid an-Nabawiy di Madinah. Dalam al-Quran terdapat surat khusus yang membahas prosesi ibadah haji, seperti ihram, tawaf, sa’i, wuquf di Arafah, dan mencukur rambut. Surat itu ialah surat al-Hajj (surat ke-22 dalam al-Quran).

Salah ayat dari surat al-Hajj yang secara pasti menegaskan perintah berhaji ialah ayat ke-27. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerja-kan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Q.S. al-Hajj [22] 27).

Pada ayat tersebut secara eksplisit (tersurat), bahwa haji merupakan ibadah yang disyaria’tkan kepada yang mampu (lihat QS. Ali Imran [3] : 97). Ini pula sesuai dengan bunyi salah satu hadits nabi tentang pondasi Islam (H.R. Muslim tentang rukun Islam).

Melaksanakan ibadah haji bagi umat Islam di Indonesia merupakan ibadah bagi kalangan ekonomi menengah ke atas, karena biaya untuk menyelenggarakannya pun terbilang mahal. Biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun lalu saja mencapai U$D 2.959,1 (sekitar Rp 28.000.000). Meskipun ada orang menengah ke bawah yang melaksanakan haji, mungkin ia menjual rumahnya (HAJI HALIMAH; Haji Hasil Menjual Rumah), mungkin ia menjual sawah (HAJI WAHYU; Haji Menjual Sawah yang layu), bahkan bisa jadi mereka hasil gusuran tanah (HAJI MANSUR; Haji karena Rumah-Bangunan tergusur). Namun, di antara mereka ada pula yang berhaji hingga berkali-kali, ini karena diberangkatkan haji atas biaya dinas atau dihajikan (HAJI KOSASIH = Haji Ongkos dapat ngasih atau HAJI ABIDIN = Haji atas biaya dinas).

Itulah ibadah yang terbilang unik dan menarik. Bahkan, untuk menjalankan ibadah haji, tidak sedikit yang menabung bertahun-tahun, atau ada pula yang membaca wirid dan surat-surat tertentu. Tapi, ada anekdote yang menarik, menurut seorang teman, ada surat yang paling manjur dan bisa membawa kita pergi haji. Surat yang harus dibaca itu ialah surat tanah kemudian dijual. 

Hikmah Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah klasik dan masih bertahan hingga saat ini. Pada dasarnya, prosesi dalam ibadah haji merupakan hasil dari simbolisasi perjalanan heroik Nabi Ibrahim, Nabi Ismail (‘alaihimaa al-Salaam), dan Sayyidatuna Hajar. Sebagai contoh, sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah), merupakan gambaran sejarah ketika Siti Hajar (ibunda Isma’il) mencari air minum untuk anaknya itu.

2

 
Hajar adalah isteri kedua dari Nabi Ibrahim As. Ia dinikahi karena isterinya yang pertama belum membuahkan putra. Nabi Ibrahim pun menikahi Hajar, yang merupakan pelayannya. Setelah Ibrahim mempunyai putra dari Hajar, ia pun membawa isteri dan putranya ke kota Makkah. Di sana, keduanya ditinggalkan dengan diberi bekal makan dan minum secukupnya. Saat Isma’Il kecil menangis kehausan, sang ibu pun berlari-lari mencari air. Ia pun bolak-balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak tujuh balik. Inilah bukti bahwa prosesi ibadah haji merupakan ibadah simbolisasi dari perjuangan Nabi Ibrahim As dan keluarganya.

Sekarang timbul pertanyaan, mengapa ibadah haji mencontoh perilaku sejarah Nabi Ibrahim? Karena Ibrahim As merupakan bapak para Nabi dan bapak monoteisme, yang mengajarkan ke-tauhidan kepada Allah Swt.

Text Box: Ingin berkonsultasi tentang keagamaan, media dan psikologi komunikasi? Silakan kirimkan konsultasi melalui layanan SMS 085694261297Ada hikmah lainnya yang menarik. Sejak para tamu-tamu Allah meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya. Di sana tak ada lagi diskriminasi karena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun status sosial. Yang ada hanyalah pertunjukan secara komunal keber-samaan dan yang memegang peranan dalam pertunjukan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang di antara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah idadah hajinya. Rasulullah s.a.w. menegaskan dalam sabdanya : Haji adalah wuquf di Arafah. (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Bagaimana hikmah bagi yang tidak melaksana-kan ibadah Haji? Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, ada sebuah hikmah yang tak kalah penting. Tatkala di antara kita mengantarkan sanak-saudara-handaitolan untuk berangkat haji, seakan-akan mereka akan meninggalkan kita selamanya. Isak tangis dan haru pun mewarnai kepergiannya. Kita pun serasa tidak merelakan kepergiannya. Bahkan, seorang anak yang masih berusia delapan tahun, ketika ia akan ditinggalkan sang ibu pergi haji, sang anak pun menangis tak henti-hentinya. Apa maksudnya? Ini menandakan betapa rasa ikhlas kita sedang diuji. Ikhlas-kah kita ketika ditinggal-kan orang-orang tercinta untuk berhaji? Dan seberapa besar pula rasa cinta para calon jama’ah haji terhadap Putra, sehingga mereka ikhlas meninggalkan orang-orang tercinta? Ingat, tiada kata cinta tanpa pengorbanan penuh keikhlasan.

IBADAH QURBAN

Setiap ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturun-kanNya. Hikmah-hikmah Allah sendiri tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)

3

 
Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkap-kan dalam Al-Quran:

“… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta. Demikianlah Kami telah menunduk-kan unta-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Al-Hajj, [22]:36)

Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka meng-hidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap putranya yang memenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti putranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).

Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nahar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggaris-kan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintah-kan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebaha-giaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia mem-berikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.

Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi kebera-daannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)

Di samping itu semua, Hari Raya Qurban-pun merupakan Hari Raya yang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahiq yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.

Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah

AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlas lah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelak-sanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalasan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)

Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah mene-gaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan