Penciptaan Alam (2/3)

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis

 

Timbulnya  binatang-binatang,  menurut  Kitab Kejadian,
bermula    dengan    binatang-binatang     laut     dan
burung-burung.   Menurut   Bibel,   adalah   pada  hari
keesokannya bahwa bumi  dihuni  oleh  binatang-binatang
(kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);
 
Sudah  terang  bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita
akan  membicarakan  hal  tersebut  pada  bagian  ketiga
daripada  buku  ini.  Setelah adanya kehidupan di laut,
daratan  dihuni  oleh  binatang-binatang.   Di   antara
binatang-binatang  yang  hidup  diatas  bumi, ada suatu
jenis reptil (binatang melata)  yang  dinamakan  pseudo
suchiens   yang  hidup  pada  periode  kedua  dan  yang
dikirakan   menjadi   asal   burung-burung.    Beberapa
sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan
ini. Tetapi binatang-binatang  darat  tidak  disebutkan
oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah
munculnya burung-burung, oleh karena  itu  maka  urutan
munculnya  binatang  darat  dan burung-burung tak dapat
diterima.
 
Ayat 24 sampai 31
 
24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan
    kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada
    yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap
    dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.
 
25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar
    di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang
    yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang
    yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka
    dilihat Allah itu baiklah adanya.
 
26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia
    atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya
    segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang
    di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi
    dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.
 
27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya
    yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka
    dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.
 
28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya
    kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan
    penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia,
    dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan
    segala unggas yang di udara dan segala binatang yang
    menjalar di atas bumi.
 
29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah
    memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang
    berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon
    yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.
 
30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan
    segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada
    nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala
    tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah
    demikian.
 
31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang
    dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya.
    Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke
    enam."
 
Ini adalah gambaran selesainya penciptaan  alam.  Dalam
gambaran  itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang
hidup   yang   tidak   disebutkan    sebelumnya,    dan
mengingatkan  kepada  bahan makanan yang bermacam-macam
yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.
 
Kesalahannya, sebagai yang  telah  kita  lihat,  adalah
dalam  menempatkan  munculnya  binatang-binatang  darat
sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas
bumi   di  tempatkan  secara  benar  sesudah  munculnya
makhluk-makhluk hidup yang lain.
 
Riwayat  penciptaan  alam  selesai  dengan  tiga   ayat
pertama dari fasal II.
 
1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta
    dengan segala isinya.
 
2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah
   disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya
   itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu
   dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.
 
3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu
   serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari
   pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan
   menyempurnakan dia.
 
4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
   itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
   langit dan bumi. "
 
Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:
 
Pertama mengenai arti kata-kata. Teks  tersebut  adalah
terjemahan  dari  Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama
berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan  bumi
serta  dengan  segala isinya." Perkataan terakhir dalam
bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al  Kitab  Yerusalem
berbunyi  "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan
segala bala tentaranya.
 
Ayat kedua mengandung  kata,  berhentilah  ia  daripada
pekerjaannya.  Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah,
sebagai terjemahan Ibrani "chabbat."  Dan  sampai  hari
ini,  hari  Sabtu  merupakan  hari istirahat bagi orang
Yahudi.
 
Sudah terang bahwa  "istirahat"  yang  dilakukan  Tuhan
setelah  bekerja  keras  selama  enam hari adalah suatu
legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya.  Kita
harus  ingat  bahwa  riwayat penciptaan Tuhan yang kita
bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau
tradisi  pendeta-pendeta,  yakni  tradisi  yang ditulis
oleh  para  pendeta  atau  juru  tulis  yang  merupakan
pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada
waktu pengasingan di Babylon, pada  abad  VI  SM.  Kita
mengetahui  bahwa  para  pendeta mengolah versi Yahwist
dan  Elohist  daripada  Kitab   Kejadian,   menyusunnya
menurut  selera  mereka,  dan  menurut  adat  kebiasaan
mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan
oleh  R.P.  de  Vaux.  Kita telah membicarakan segi ini
pada lain tempat.
 
Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah  lebih  tua
beberapa  abad  daripada  teks  Sakerdotal,  dan  tidak
menyebutkan bahwa Tuhan  beristirahat  setelah  bekerja
keras  enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks
Sakerdotal.  Penulis  teks  Sakerdotal  membagi   waktu
penciptaan  alam  dalam hari-hari yang disamakan dengan
hari-hari  seminggu   yang   biasa   serta   menekankan
istirahat   hari   Sabtu   yang   mereka   rasa   harus
dipertahankan kepada  pengikut-pengikut  mereka  dengan
mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari
Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini,
maka  riwayat  penciptaan  alam disajikan dengan logika
keagamaan  yang  semu,  yang  hasil-hasil  penyelidikan
ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.
 
Menyelipkan  hari  ke  tujuh  (daripada  hari-hari satu
minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud
agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti
yang dilakukan oleh pengarang  sumber  Sakerdotal,  tak
dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang,
semua orang tahu bahwa terciptanya  alam,  termasuk  di
dalamnya  bumi  tempat  hidup  kita telah terjadi dalam
tahap waktu  yang  sangat  panjang,  yang  penyelidikan
ilmiah  belum  dapat memastikan walaupun secara "kurang
lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga
daripada  buku  ini, yakni pada waktu kita membicarakan
tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.
 
Seandainya riwayat penciptaan alam selesai  pada  malam
hari  yang  ke  6,  dan tidak menyebutkan hari ke tujuh
atau Sabat waktu Tuhan  beristirahat,  atau  seandainya
kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai
enam periode seperti yang  tersebut  dalam  Al  Qur-an,
riwayat  Sakerdotal  tetap  tak  dapat  diterima karena
urutan  periode-periode  tersebut  sangat   kontradiksi
dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.
 
Dengan   begitu   maka   riwayat  Sakerdotal  merupakan
konstruksi imaginatif yang lihay yang  mempunyai  suatu
tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu
kebenaran.
                                       (bersambung 3/3)


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille   Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta

 

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis