Pengaturan samawi

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis

 

C. PENGATURAN SAMAWI (ORGANISATION CELESTE)
 
Yang kita dapatkan dalam Qur-an  tentang  pengaturan  samawi
pada pokoknya mengenai sistem matahari, tetapi disamping itu
terdapat isyarat-isyarat tentang fenomena-fenomena  di  luar
sistem  matahari  yang  pada  zaman  modern  ini sudah dapat
diungkapkan oleh ilmu pengetahuan.
 
Terdapat dua ayat penting yang ada hubungannya dengan  orbit
matahari dan bulan.
 
Surat 21 ayat 33:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan Dialah yang telah menciptakan malam
          dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dan
          keduanya itu beredar di dalam garis edarnya."
 
Surat 36 ayat 40:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan
          dan malampun tidak dapat mendahului siang.
          Masing-masing beredar pada garis edarnya."
 
Dengan ayat tersebut,  telah  disebutkan  suatu  fakta  yang
sangat  pokok,  yaitu  adanya  orbit  untuk  bulan dan untuk
matahari;   dan    isyarat    tentang    berpindah-pindahnya
benda-benda  tersebut  dalam  angkasa (space) dengan gerakan
khusus.
 
Di samping itu ada  suatu  hal  negatif  yang  nampak  dalam
pembicaraan  ayat-ayat  tersebut; diterangkan bahwa matahari
pindah diatas orbit,  tetapi  orbit  itu  tidak  diterangkan
hubungannya  dengan  bumi.  Pada  waktu  Qur-an  diwahyukan,
manusia mengira bahwa matahari pindah tempat bersama  dengan
bumi  seperti keduanya terikat satu dengan lainnya. Gambaran
itu  adalah  sistem  geocentrisme  yang   tersiar   semenjak
Ptolomeus  pada  abad  II  SM, dan tetap dianut orang sampai
munculnya Copernicus pada abad XVI. Konsepsi Ptolomeus  yang
diterima  orang pada zaman Nabi Muhammad, tak tersebut dalam
Qur-an, baik dalam ayat ini atau ayat lainnya
 
ADANYA ORBIT BAGI BULAN DAN MATAHARI
 
Yang diterjemahkan dengan "orbit" adalah  kata  bahasa  Arab
"Falak." Banyak penterjemah Perancis mengartikannya sebagai:
Sphere. Memang itu arti dasar. Dr. Hamidullah menterjemahkan
dengan "orbit ."
 
Kata tersebut telah menimbulkan kesulitan kepada ahli tafsir
Qur-an pada zaman dahulu,  karena  mereka  itu  tidak  dapat
menggambarkan  perputaran bulan dan matahari; oleh sebab itu
mereka mempunyai gambaran yang kurang tepat atau malah  sama
sekali  salah  tentang  peredaran  bulan  dan matahari dalam
angkasa. Si Hamzah Boubekeur (seorang  ulama  Maroko)  dalam
terjemahan Qur-an yang ia lakukan menyebutkan bermacam-macam
tafsiran tentang falak seperti semacam axis (poros)  seperti
batang  dari  besi dan suatu kitiran berkeliling sekitarnya;
sphere samawi, orbit, alamat  zodiak,  kecepatan,  gelombang
...  Kemudian  ia  menambahkan  kata-kata  ahli  tafsir yang
masyhur al Tabari dari abad X-XI; "Kita  harus  tutup  mulut
jika  kita  tidak tahu." Hal tersebut menunjukkan bahwa pada
waktu itu manusia belum dapat mengerti arti: orbit, daripada
matahari  dan  bulan.  Sudah  tentu,  jika  kata "Falak" itu
menunjukkan  sesuatu  tentang  astronomi  pada  zaman   Nabi
Muhammad,   penafsiran   ayat-ayat   tersebut   tidak   akan
menimbulkan kesulitan.  Hal  tersebut  berarti  bahwa  dalam
Qur-an  terdapat  idea-idea  baru  yang  baru  beberapa abad
kemudian menjadi jelas.
 
1. ORBIT UNTUK BULAN.
 
Pada zaman kita sekarang ini banyak orang  sudah  mengetahui
bahwa  bulan  sebagai  satelit  bumi  berputar keliling bumi
setiap  29  hari.  Tetapi  perlu  diadakan  koreksi  tentang
kebulatan   orbit   oleh  karena  astronomi  modern  memberi
excentriq15 kepada orbit bumi dan orbit  bulan.  Karena  itu
maka  jarak  antara bumi dan bulan yang diperkirakan 384.000
km, itu hanya merupakan jarak pertengahan.
 
Di  atas,  kita  telah  melihat  bahwa  Qur-an   menonjolkan
faedahnya  mengamati gerak bulan untuk mengukur waktu (Surat
10 ayat 5, termuat pada  permulaan  bab  ini)  sering  orang
mengkritik  sistem  perhitungan  yang sudah kuno ini. Mereka
katakan tidak praktis tidak ilmiah jika dibandingkan  dengan
sistem  yang  didasarkan  atas  peredaran  bumi  di  sekitar
matahari  yang  dapat  kita   lihat   dengan   jelas   dalam
penanggalan Yulius.
 
Kritik tersebut memerlukan dua penjelasan:
 
 a) Qur-an, hampir 14 abad yang lalu, berbicara kepada
    penduduk Jazirah Arab yang biasa memakai perhitungan bulan.
    Perlu Qur-an bicara dengan mereka dalam bahasa yang mereka
    fahami dan tidak mengacaukan kebiasaan mereka untuk mengukur
    tempat dan waktu, apalagi kebiasaan itu memang cukup
    memenuhi kebutuhan. Kita tahu bahwa penghuni-penghuni Sahara
    biasa mengamati langit dengan petunjuk bintang-bintang atau
    mengetahui waktu dengan perantaraan tahap-tahap bulan, yaitu
    cara yang paling sederhana dan paling meyakinkan bagi
    mereka.
    
 b) Jika kita kesampingkan para spesialis dalam hal ini, kita
    dapat mengatakan bahwa pada umumnya orang tidak mengetahui
    persesuaian yang sempurna antara kalender Yulius dan
    kalender Bulan, 235 bulan lunar (perhitungan bulan) sama
    dengan 19 th. Yulius yang terdiri daripada 365.25 hari;
    lamanya tahun kita yakni 365 hari tidak benar betul, karena
    ia memerlukan koreksi setiap 4 th. (tahun kabisat). Dengan
    kalender Bulan, segala sesuatu terulang tiap 19 tahun
    Yulius. Ini namanya cyclus meton. Meton adalah seorang
    astronom Yunani yang pada abad V S.M. menemukan persesuaian
    total antara kalender Matahari dengan kalender Bulan.
 
2. YANG MENGENAI MATAHARI
 
Adanya orbit lebih sukar diamati,  oleh  karena  kita  biasa
menganggap bahwa sistem matahari diatur di sekitar matahari.
Untuk memahami ayat Qur-an, kita harus  menyelidiki  situasi
matahari  dalam  galaksi  kita  dan  menggunakan hasil-hasil
daripada Sains modern.
 
Galaksi  kita  memuat  jumlah  yang  sangat  besar  daripada
bintang-bintang  yang  dibagi  menurut suatu disk (bundaran)
yang tengahnya lebih  tebal  daripada  pinggirnya.  Matahari
menduduki tempat yang jauh daripada pusat disk tersebut.
 
Oleh  karena  galaksi  berputar  sendiri dengan axis sebagai
pusatnya, maka matahari itu beredar sekitar  pusat  tersebut
menurut   orbit   putaran.   Astronomi  modern  sudah  dapat
menghitung beberapa perincian. Pada tahun 1917 Shapley telah
mengatakan  bahwa  jarak  antara  matahari dan pusat galaksi
adalah 10 kiloparsecs; ini berarti dalam kilometer  angka  3
ditambah  dengan  17  nol.  Untuk  memutari dirinya sendiri,
galaksi dan matahari memerlukan 250 miliun tahun, dan  dalam
gerak  ini  matahari bergeser dengan kecepatan 250 kilometer
tiap detik.
 
Itulah gerakan orbit matahan yang disebutkan oleh Qur-an  14
abad  yang  lalu,  adanya  orbit  serta  bintang-bintang  di
dalamnya  telah  dibuktikan  kebenarannya   oleh   Astronomi
modern.
 
PETUNJUK KEPADA PERGESERAN BULAN DAN MATAHARI
DALAM ANGKASA (SPACE) DENGAN GERAK PRIBADI
 
Soal ini tidak disinggung dalam terjemahan-terjemahan Qur-an
yang  dilakukan  oleh  ahli-ahli sastra. Karena mereka tidak
mengerti astronomi, mereka menterjemahkan kata  bahasa  Arab
yang  menunjukkan  pergeseran  dengan  salah  satu arti kata
tersebut, yaitu berenang. Hal ini terjadi  dalam  terjemahan
Perancis  dan  dalam terjemahan Inggeris yang sangat populer
yaitu  terjemahan  Yusuf  Ali.   Kata   bahasa   Arab   yang
menunjukkan  pergeseran  dengan  gerak  pribadi  adalah kata
kerja sabaha (yasbahuna dalam kedua ayat); arti  kata  kerja
itu  mengandung  pergeseran  dengan gerak pribadi dari benda
yang bergeser. Hal itu  dinamakan  "berenang"  jika  terjadi
dalam air, dan dinamakan bergeser dengan gerakan anggautanya
jika pergeseran itu terjadi di atas bumi.  Untuk  pergeseran
dalam angkasa, orang tidak dapat menunjukkan maksud tersebut
kecuali dengan memakai arti  yang  asli.  Dengan  cara  ini,
rasanya tak ada kekeliruan, karena pertimbangan-pertimbangan
berikut:
 
Bulan  berputar  sekitar  dirinya  sendiri  dalam  waktu  ia
melakukan edaran sekitar bumi, kira-kira 29.5 hari, sehingga
ia menunjukkan wajah yang sama kepada penglihatan kita.
 
Matahari  beredar  sekitar  dirinya  sendiri   dalam   waktu
kira-kira   25  hari.  Terdapat  keistimewaan  edaran  untuk
khatulistiwa dan kutub-kutub.  Kita  tak  akan  membicarakan
perincian   ini,   akan  tetapi  bintang  itu  pada  umumnya
mengandung gerak edar.
 
Jadi jelas bagi kita bahwa Qur-an terdapat nuansa kata kerja
yang  menunjukkan gerak pribadi daripada matahari dan bulan.
Gerak daripada dua benda samawi telah dibuktikan adanya oleh
hasil-hasil  Sains  modern,  dan  kita  tidak dapat mengerti
bagaimana  seorang  yang  hidup  pada  abad  VII  M.   dapat
mengetahuinya, walaupun orang itu yang pandai pada waktunya,
dan sudah terang Muhammad bukan orang yang paling pandai.
 
Kadang-kadang  orang  membandingkan   berita   Qur-an   yang
dikuatkan  oleh Sains modern dengan contoh-contoh ahli pikir
zaman kuno yang mengumumkan fakta-fakta yang kemudian diakui
kebenarannya  oleh  Sains.  Mereka tidak dapat sampai kepada
fakta-fakta itu dengan jalan  deduksi;  mereka  itu  memakai
cara  berfikir  filsafat.  Sebagai contoh mereka menyebutkan
pengikut-pengikut  Pythagoras  yang  pada   abad   VI   S.M.
mempertahankan  teori  peredaran  bumi  di  sekitar  dirinya
sendiri dan gerak planet  memutari  matahari;  Sains  modern
membenarkan teori tersebut.
 
Jika  kita mengikuti kasus para pengikut Pythagoras, menjadi
mudahlah bagi kita untuk  mengatakan  suatu  hipotesa  bahwa
Muhammad  adalah  seorang  ahli  fikir  yang  istimewa, yang
dengan dirinya  sendiri  dapat  mengkhayalkan  hal-hal  yang
kemudian   diungkapkan   oleh  Sains  modern  beberapa  abad
sesudahnya.
 
Jika kita berbuat begitu, kita lupa menyebutkan  aspek-aspek
lain  tentang hasil-hasil pemikiran para filsuf itu dan lupa
pula menyebutkan kekeliruan-kekeliruan besar terdapat  dalam
karya-karya  mereka. Misalnya saja, para pengikut Pythagoras
mempertahankan teori yang mengatakan  bahwa  matahari  tetap
(tidak  bergerak) dalam angkasa, bahwa matahari adalah pusat
alam dan tak  ada  organisasi  samawi  sekelilingnya.  Sudah
menjadi  kebiasaan  untuk menemukan pada filsuf-filsuf besar
di zaman kuno itu  suatu  campuran  daripada  pendapat  yang
benar  dan  pendapat  yang  salah  tentang kosmos. Hendaknya
gemerlapan yang diberikan  oleh  konsep-konsep  yang  sangat
maju kepada karangan-karangan manusia itu jangan sampai pula
melupakan kita kepada konsep-konsep  yang  salah  yang  juga
diwariskan   oleh   mereka.   Di  sinilah  perbedaan  antara
karangan-karangan para filsuf tersebut dengan Qur-an. Qur-an
menyebutkan bermacam-macam persoalan yang sesuai dengan ilmu
pengetahuan modern, dan sama  sekali  tidak  mengandung  hal
yang   bertentangan   dengan   Sains   yang   sudah   diakui
kebenarannya pada waktu ini.
 
URUTAN-URUTAN ANTARA SIANG DAN MALAM
 
Pada waktu manusia menganggap bahwa bumi itu pusat alam  dan
matahari  itu  bergerak  di  sekitar  bumi, siapa yang tidak
menyebutkan matahari dalam membicarakan  urut-urutan  antara
siang dan malam? Tetapi hal semacam itu tidak terdapat dalam
Qur-an. Qur-an  membicarakan  urut-urutan  siang  dan  malam
sebagai benkut:
 
Surat 7 ayat 54:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dia menutupkan malam kepada siang yang
          mengikutinya dengan cepat."
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar)
          bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan siang
          dan malam itu, maka dengan serta merta mereka
          berada dalam kegelapan."
 
Surat 31 ayat 29 :
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya
          Allah memasukkan malam kedalam siang dan
          memasukkan siang kedalam malam, dan Ia mudahkan
          (perjalanan) matahari dan bulan? Tiap-tiap suatu
          berjalan hingga satu tempat yang ditentukan ..."
          
Surat 39 ayat 5:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan
          siang atas malam."
 
Ayat pertama tidak memerlukan penjelasan. Ayat  kedua  hanya
memberi  gambaran.  Ayat  ketiga  dan  keempat dapat menarik
perhatian  tentang  penggulungan  malam  kepada  siang   dan
penggulungan siang kepada malam.
 
Penggulungan  (enrouler,  bahasa  Perancis) seperti terdapat
dalam terjemahan R. Blachete nampaknya melupakan  terjemahan
yang  paling  baik  untuk kata kerja bahasa Arab "kawwara. "
Arti dasar daripada kata kerja itu ialah rnenggulung  serban
berbundar-bundar  di  atas  kepala.  Dalam  kata  lain, arti
menggulung itu tetap ada.
 
Apakah yang sesungguhnya terjadi di  angkasa?  Seperti  yang
telah  dilihat  dan diambil fotonya oleh astronout-astronout
Amerika dari pesawat  luar  angkasa  mereka,  jauh  daripada
bumi, mulai daripada bulan umpamanya, matahari itu menyinari
secara terus menerus (kecuali dalam keadaan gerhana). Separo
bumi  yang  berhadapan dengannya, sedangkan yang separo lagi
dalam kegelapan. Bumi berputar sekitar dirinya  sendiri  dan
pada waktu itu pancaran sinar tetap berlangsung; satu bagian
(zone) yang diterangi dan merupakan  separo  bumi  melakukan
putaran  sekeliling  bumi  selama 24 jam, sedang yang separo
lagi yang dalam gelap menyelesaikan  perputaran  pada  waktu
yang  sama.  Perputaran  yang terus menerus antara siang dan
malam dilukiskan  dalam  Qur-an  secara  sempurna.  Hal  ini
sekarang  dengan  mudah dapat dimengerti manusia oleh karena
kita mempunyai ide tentang  "diam"  (fixedness)nya  matahari
yang  relatif  serta  ide  tentang  peredaran  bumi.  Proses
penggulungan yang terus-menerus,  dengan  penetrasi  (masuk)
yang  juga  secara terus menerus, dari satu bagian ke bagian
yang lain telah digambarkan oleh  Qur-an,  seakan-akan  pada
waktu  Qur-an  diwahyukan  orang sudah mengetahui bahwa bumi
itu bulat. Pada hakekatnya, pada  waktu  itu  manusia  belum
mengetahui hal tersebut.
 
Kita  perlu  memberi  tambahan  terhadap  pemikiran  tentang
urut-urutan  siang  dan  malam.  Tambahan  itu  ialah  bahwa
beberapa  ayat  Qur-an menyebutkan beberapa timur dan barat.
Hal ini adalah sekedar diskriptif, oleh karena fenomena  ini
dapat  dilihat  dari pengamatan yang sederhana. Hal tersebut
saya cantumkan di sini dengan maksud untuk  menunjukkan  apa
yang dikandung oleh Qur-an selengkap mungkin
 
Umpamanya, dalam surat 70 ayat 40:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki
          timur dan barat."
 
dan Surat 55 ayat 17:
                                              [Tulisan Arab]
 
Arinya: "Tuhan dua timur dan dua barat."
 
Dalam surat 43 ayat 38, jarak dua  timur  menunjukkan  jarak
yang sangat besar antara dua tempat.
 
Orang   yang   mengamati  terbit  dan  terbenamnya  matahari
mengetahui  benar  bahwa  matahari  teibit   pada   beberapa
tempat-tempat  yang  berlainan  di  timur,  dan  terbenam di
beberapa tempat  yang  berlainan  di  barat  menurut  musim.
Tanda-tanda   yang  diambil  dari  beberapa  ufuk  (horizon)
menunjukkan   titik-titik   yang   paling   berjauhan   yang
menunjukkan   dua   timur   dan  dua  barat  dan  di  antara
tempat-tempat itu terdapat-titik-titik pertengahan sepanjang
tahun.  Fenomena  yang  disebutkan  di  sini dapat dikatakan
tidak  penting.  Tetapi  yang  perlu   diperhatikan   adalah
mengenai soal-soal lain yang dibahas dalam fasal ini, dimana
didalamnya fenomena-fenomena astronomi yang disebutkan dalam
Qur-an adalah sesuai dengan pengetahuan modern.


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille   Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta

 

| Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis